Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-00123

Biographical Sheets: Njonja Umi Sardjono and Others, 1956/57

Cleaned OCR text (Fair (0.842); proof-reading: whole text (Claude, Oct 2026)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Kementerian Penerangan. (1956–1957). [Biographical sheets of Nyonya Umi Sarjono, Sarikun Adisupadmo, Sarimin Reksodiharjo, Sutan Saripada Mulia, Sarkawi bin Achmad Dakhlan and Sarmidi Mangunsarkoro] [Unpublished biographical records, including "Riwayat hidup Konstituante dari aslinya" forms]. Kementerian Penerangan. PDF: 01 Primary Sources/1.3 Sukarno Speekhes and Government Publications/Kementerian Penerangan (1956 to 1957) - Biographical Sheets, Nyonya Umi Sarjono and Others.pdf PDF PAGES 1 to 7 of 7. Text from the PDF text layer where present, otherwise Tesseract OCR (ind+eng); OCR errors remain. === [PDF page 1] === No. Anggota: 86. A. Terpilih di daerah pemilihan: Jawa Timur. Dari daftar: PKI. Alamat daerah: — Alamat Jakarta: Jl. Matraman 119-A. Nama: Nyonya Umi Sardjono (Ny. Sukisman). B. Dilahirkan: pada tanggal 24 Desember 1923 di Salatiga. C. Pendidikan: belajar sendiri. D. Pengalaman. I. Pekerjaan: 1. Tahun 1944 pegawai Kantor Telefon Bagian Administrasi 3 di Semarang. 2. Tahun 1946-1947 Kepala Bagian Wanita Biro Perjuangan Daerah IV (Kediri). 3. Tahun 1951-1953 Anggota Komisi Jaminan Sosial Buruh Wanita, Kementerian Perburuhan. II. Pergerakan dan Kepartaian: 1. Tahun 1938 anggota Surya Wirawan, kemudian Parindra. 2. Tahun 1943-1945 anggota Gerakan Kemerdekaan Anti-Fasis di Jawa Timur; bulan Februari sampai September 1945 tinggal di penjara. 3. Tahun 1947 menjadi anggota PBI (Partai Buruh Indonesia) daerah Kediri dan Pengurus Besar. 4. Tahun 1950 menjadi Wakil Ketua GERWIS. 5. Tahun 1954 menjadi Ketua GERWANI (Gerakan Wanita Indonesia). III. Perwakilan: Tahun 1945-1949: a. Menjadi anggota KNI Cabang Blitar. b. Menjadi anggota KNI Daerah Kediri. Tahun 1947 menjadi anggota KNI Pusat, mewakili Partai Buruh Indonesia. [Catatan cetak di kaki halaman tidak terbaca:] [Unreadable] === [PDF page 2] === Sumber: Kempen [?] Riwayat Hidup Konstituante dari Aslinya Anggota No. 179 [?] Nama: Sarikun Adisupadmo Partai: P.N.I. Dilahirkan di: Kadipuro (?), Karanganyar, Solo, 3 Juli 1924. Tempat tinggal: Kp. Dosoman No. 67, Pati. Pendidikan: 1. S.R.; 2. Mulo "Mardi Rahayu" Solo [?]; 3. Sekolah Guru Solo tahun 1944. Pekerjaan: 1944-1950 guru Sekolah Rakyat di Winong dan Pati. 1950-1954 Penilik Pendidikan Masyarakat Kawedanan Jakenan. 1954-kini Penilik Pendidikan Masyarakat Kawedanan Pati. Pergerakan: 1939-1942 anggota pimpinan Surya Wirawan [?] (waktu masih belajar), cabang Solo. 1944-1946 pimpinan Barisan Pelopor, kemudian Barisan Banteng Kecamatan Winong (Pati). 1945-1946 Ketua Komite Nasional Indonesia Kecamatan Winong. 1950-kini Sekretaris I P.P.N.I. Cabang [Pati]. 1948-kini pimpinan Pemuda Demokrat cabang Pati. 1954-kini Koordinator Pemuda Demokrat Karesidenan Pati, merangkap anggota Pengurus D.P.D. Jawa Tengah. Ekonomi/Sosial: 1953-kini [anggota] harian "Kuang Fo" [?] di Semarang. 1954 pendiri koperasi simpan pinjam "Marhaen" di Jakenan. 1954 [pendiri] SMP "Pancasila" di Pati. Dalam lapangan pers: 1950-1952 koresponden harian Nasional yang terbit di Semarang. Pati, 3 Desember 1956. [ttd.] === [PDF page 3] === Sumber: Kempen [?] Sarimin Reksodiharjo Dilahirkan di Kalidesel, Wonosobo, pada tanggal 17 Juli 1905. Pendidikan: Osvia Magelang, Bestuursschool dan Bestuursacademie di Jakarta. Anggota partai: Partai Nasional Indonesia (P.N.I.). Kedudukan sekarang: Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sunda Kecil. Pekerjaan dan pengalaman yang lampau: Sejak tahun 1942-1946 ia memulai jabatannya dalam kepamongprajaan dengan pangkat A.I.B. Kemudian diangkat sebagai bupati di Keresidenan Banyumas, Semarang dan Pekalongan. Sejak tahun 1946-1952 ia pernah menjabat Kepala Bagian Agraria Kementerian Dalam Negeri R.I. di Purwokerto, Yogyakarta dan Jakarta, di samping tugasnya selaku Ketua Panitia Penghapusan Negara Sumatera Timur dan Ketua Panitia Pembentukan Propinsi Sumatera Utara di Medan. Pada bulan April 1952 diangkat sebagai pemangku jabatan Gubernur Kepala Daerah Sunda Kecil dan akhirnya sebagai Gubernur Kepala Daerah Propinsi Sunda Kecil. === [PDF page 4] === Riwayat Hidup Konstituante dari Aslinya Anggota No. 32. Nama: Sutan Saripada Mulia Partai: Masyumi Dilahirkan di: Panyabungan, Tapanuli Selatan, 26 Desember 1896. Tempat tinggal: Padangsidempuan. Pendidikan: S.R., Kweekschool, Hogere Kweekschool dan Hoofdacte. Pekerjaan: 1919-1942 guru H.I.S. Negeri 7 tahun, kemudian kepala H.I.S. Negeri. 1942-1947: 1. kepala S.R. Jepang; 2. kepala Sekolah Menengah Jepang; 3. kepala Pengajaran Tapanuli (berturut-turut di zaman Jepang); 4. kepala Pengajaran Tapanuli; 5. Ketua K.N.I. Tapanuli Selatan; 6. [pemimpin] Sekolah Menengah Sumatera Utara; 7. Kepala Bagian Umum Jabatan Pengajaran Sumatera Utara (di zaman R.I. Indonesia). 1947-kini kepala S.G.A. Negeri (selama 2 tahun merangkap kepala S.G.B. Negeri dan kepala S.M.A. Negeri di Padangsidempuan). 1950-kini Ketua D.P.R.D.S. Kabupaten Tapanuli Selatan. Bandung, 17 Nopember 1956. [ttd.] (St. Saripada Mulia) === [PDF page 5] === Sumber: Kempen [?] Nama: Sarkawi bin Achmad Dakhlan Tempat/tanggal lahir: Amuntai, 15 Desember 1907. Pendidikan: Osvia tahun 1928 di Makassar. Riwayat pekerjaan pada Pemerintah dan Partikelir: 1/8-1928 s/d 31/3-1932: mulai bekerja dalam kalangan Pamong Praja sebagai Gediplomeerd Inl. Bestuursambtenaar dan seterusnya, setelah melalui jabatan-jabatan Asisten Wedana dan Wedana. 1 Maret 1951: menjadi Bupati/Kepala Daerah Kabupaten Hulu Sungai Selatan. 1 Oktober 1954: menjadi Residen Kalimantan Selatan. 1/1-1957: a.i. Gubernur Kalimantan Selatan. Pengalaman pergerakan/partai: Sesudah Pemerintah Jepang masuk, S.K.I. Kemudian sesudah S.K.I. dibubarkan, memasuki N.U. Banjarmasin, 2 Oktober 1957. [ttd.] (Sarkawi) === [PDF page 6] === Riwayat Hidup Konstituante dari Aslinya Nama: Sarmidi Mangunsarkoro Partai: P.N.I. Dilahirkan di: Surakarta, 23 Mei 1904. Tempat tinggal: Jln. Yogya 37, Jakarta. Pendidikan: Sekolah Teknik Menengah; Sekolah Guru; pendengar Fakultas Hukum. Pekerjaan: 1926-1928 guru S.M.P. Taman Siswa Yogyakarta. 1928-1932 Pemimpin Umum Taman Siswa Jakarta. 1932-1940: a. Direktur Sekolah Guru dan S.M.A. Taman Siswa; b. Pemimpin Umum Taman Siswa Jawa Barat. 1941-1945: a. Anggota Komisi Pengarang Buku Pelajar Sekolah Menengah; b. Kepala Bagian Kebudayaan Kantor Besar Jawa Hokokai; c. Kepala Bagian Pendidikan Masyarakat [K.B.?]. 1945-kini: a. Sekretaris Komite Nasional Pusat; b. Anggota Badan Pekerja Komite Nasional Pusat; c. Menteri P.P. dan K. R.I.; d. Anggota D.P.R.S.; e. Anggota D.P.R. Pengalaman pergerakan: 1. Pergerakan Pemuda: dalam pimpinan "Jong Java" (Ketua Cabang Yogya) dan Pemuda Indonesia (anggota Pengurus Besar). 2. Pergerakan Kebudayaan: a. Ketua Badan Musyawarat Kebudayaan Nasional; b. Ketua Badan Pertimbangan Kebudayaan. 3. Pergerakan politik: mulai 1928 masuk P.N.I., kemudian anggota Pengurus Partindo, Gerindo, Ketua Serindo, Ketua Umum [...]. Karang-mengarang: pengarang buku-buku "Masyarakat Sosialis", "Politik Marhaenis", "Ilmu Adab dan Kemasyarakatan", "Kebudayaan Rakyat" dan lain-lain. Jakarta, 25 April 1957. [ttd.] === [PDF page 7] === Sumber: Kempen [?] Sarmidi Mangunsarkoro Dilahirkan tanggal 23 Mei 1904 di Solo. Pendidikan: H.I.S., Sekolah Teknik; ijazah Bangunan 1923; ijazah Pengairan 1924. Ketika ia masih pemuda ikut dalam gerakan pemuda "Jong Java" dan kemudian "Pemuda Indonesia". Ia ikut menyelenggarakan terlangsungnya "Nationaal Jeugdcongres" (Kongres Nasional Pemuda) kedua yang dilangsungkan di Jakarta, 28 Oktober 1928. Ketika menggabungkan diri dengan perguruan nasional, ia menjadi direktur Sekolah Menengah Atas yang bernama "Taman Dewasa Raya", dibuka tahun 1933-1942. Selain itu ia pun menceburkan diri dalam gerakan rakyat revolusioner yang bernama "Partindo" (Partai Indonesia), yang ketika itu dipimpin oleh Bung Karno. Sejak dulu sudah sering menulis dalam beberapa majalah seperti "Wanita", "Berita Keluarga" dari Taman Siswa, juga mendirikan majalah sendiri bernama "Kebudayaan dan Masyarakat". Ada sebuah risalah dikeluarkannya juga yang diberi nama "Penuntun Guru Nasional" dalam tahun 1935. Dalam tahun 1947 ia menulis "Sosiologi". Ketika bala tentara Jepang menduduki Indonesia, Taman Siswa di beberapa tempat dilarang oleh Jepang; Mangunsarkoro dipanggil ke pusat Pimpinan Taman Siswa (Majelis Luhur) untuk ikut duduk dalam pimpinan di Yogyakarta. Kemudian ia pergi lagi ke Jakarta karena tenaganya diperlukan oleh Pusat Tenaga Rakyat (Putera) yang akhirnya dimatikan oleh Jepang dan diubah menjadi Jawa Hokokai. Ia diserahi memimpin majalah "Indonesia Merdeka". Ketika Republik Indonesia berdiri, maka ia ikut aktif dalam Komite Nasional. Di antara orang yang menghendaki supaya pemerintah bersikap yang tegas, jangan ragu-ragu. Ketika didirikan partai politik Serikat Indonesia, maka ia ikut menjadi anggota pimpinan. Akhirnya partai ini dilebur dengan Partai Kedaulatan Rakyat Indonesia dalam kongres di Kediri tahun 1946, hingga berubah menjadi nama sekarang, yaitu Partai Nasional Indonesia. Ki Mangunsarkoro adalah terkenal sebagai seorang yang tidak mau kalau Republik Indonesia berkompromi dengan Belanda. Ketika Kabinet Sjahrir melangsungkan pembicaraan dengan Komisi Jenderal yang terdiri dari Prof. Schermerhorn, Dr. van Mook, van Poll, untuk menciptakan persetujuan Linggajati yang diparaf tanggal 15 Nopember 1946 dan ditandatangani tanggal 25 Maret 1947, ia menentangnya. Ketika Komite Nasional Pusat mengadakan sidang lengkapnya ke-V di Malang dari 25 Pebruari sampai Maret 1947, maka dialah antaranya yang beroposisi keras untuk menolak persetujuan Linggajati tsb. Juga dengan terjadinya "Renville Principles" yang ditandatangani tanggal 17 Januari 1948 oleh P.M. Amir Sjarifuddin almarhum dan Abdulkadir Widjojoatmodjo di kapal Renville, Mangunsarkoro menolak hasil itu. Ia beroposisi pula di Badan Pekerja K.N.P. Ketika ibu kota R.I. diduduki Belanda, ia beberapa kali keluar masuk kota dan desa untuk berhubungan dengan pihak gerilya di luar kota. Rupanya hal ini ketahuan oleh Belanda dan ia ditangkap, dipenjara di Wirogunan, Yogya. Waktu kabinet Hatta dibentuk setelah kembalinya Republik ke Yogya, ia masuk dalam kabinet sebagai Menteri Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan hingga saat demisioner. Dalam Kabinet Halim ia sebagai anggota [...] dipilih kembali untuk kursi P.P. dan K. Dalam Negara Kesatuan, Mangunsarkoro menjadi anggota D.P.R. Sementara, sebagai wakil dari partainya (P.N.I.).