Sedjarah Perdjuangan Pemuda Indonesia
Cleaned OCR text (Good (0.921); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
=== [PDF page 1] ===
Tn 0235.43
SEJARAH
PERJUANGAN PEMUDA
INDONESIA
Disusun oleh:
Panitia Penyusun
Biro Pemuda Departemen P.D. & K.
P.N. BALAI PUSTAKA
JAKARTA
1965
=== [PDF page 2] ===
Penerbit:
P.N. Balai Pustaka
Percetakan:
Balai Pustaka
BP. NX 1:18
Hak Pengarang dilindungi oleh Undang?
=== [PDF page 3] ===
Motto:
?Hanya bangsa yang dapat memetik pelajaran dari masa yang silam, dan cakap mempergunakan pengalaman-pengalamannya dalam menghadapi masa depan,
dapatlah bangsa itu menjadi bangsa yang besar”.
Ir. SUKARNO
(dikutip dari ”Lukisan Revolusi Indonesia”)
=== [PDF page 4] ===
[Blank page]
=== [PDF page 5] ===
P.Y.M. Presiden/Panglima Tertinggi Republik Indonesia nimpi esar Revolusi Indonesia Dr. Ir. Sukdrno >’ GOBBIE
=== [PDF page 6] ===
[Blank page]
=== [PDF page 7] ===
YM. Menteri P.D. & K Prof. Dr. Priyono
Digitized by Goog le
=== [PDF page 8] ===
[Blank page]
=== [PDF page 9] ===
SAMBUTAN.
Sepanjang pengetahuan saya buku tentang sejarah perjuangan Pemuda Indonesia yang berusaha mencakup seluruh sejarah itu dari mulai timbulnya pergerakan pemuda, yaitu pada zaman kita masih dijajah oleh kolonialisme Belanda, sampai kita dapat mengkonsolidasi dan membulatkan kemerdekaan kita yang telah kita rebut kembali, baru pertaria kali ini ditulis. Tapi justru karena baru pertama kali ditulis, lagi pala berusaha mencakup seluruh sejarah perjuangan pemuda kita, mungkin sekali didalam buku ini masih terdapat kekurangan-kekurangan.
Karena itu khalayak ramai yang membaca buku ini diminta untuk mengajukan kritik-kritik yang membangun dan yang berdasarkan kenyataankenyataan obyektip.
Maksud daripada penerbitan buku ini ialah pertama-tama untuk memberi kesempatan kepada pemuda-pemuda kita untuk memberikan pertanggungan-jawab tentang peranan yang diambilnya dalam perjuangan Rakyat Indonesia kearah pembebasan Tanah-Air dari belenggu koloniaiisme/imperialisme dan dalam usaha pembangunan Bangsa dan Tanah-Air dalam segala bidang.
Salah suatu hal yang mungkin dirasakan sebagai kekurangan oleh sesuatu pihak ialah bahwa tiap-tiap penulisan sejarah itu mempunyai dasar pendirian yang tertentu dan apa yang dimasukkan kedalam tiap-tiap buku sejarah adalah hal-hal yang oleh penulis dianggap cukup penting.
Bicara mengenai hal yang terakhir ini saja, karena penilaian atau "evalution” terhadap sesuatu kejadian adalah tergantung daripada penulis, maka untuk menjaga supaya penilaian atas kejadian-kejadian dalam Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia itu diadakan scobyektif mungkin, telah diusahakan susunan Panitia buku sejarah ini yang scluas-luasnya, yang didalamnya terdapat Pemuda-pemuda dari sebanyak mungkin golongan yang representatif.
Apakah “evalution” mercka itu benar, mungkin generasi yang akan datanglah yang pada umumnya akan dapat menentukannya, karena generasi yang sekarang ini mungkin masih mempunyai sikap
=== [PDF page 10] ===
yang sangat emosional terhadap sejarahnya sendiri. Maklumlah jika ada sesuatu cabang ilmu yang tidak dapat dilepaskan dari emosi, maka cabang ilmu itu adalah sejarah, sekurang-kurangnya sejarah yang mengenai bangsa, tanah-air atau golongan orang yang berkepentingan.
Jika kita sudah menginsyafi kenyataan ini, maka pembaca akan bersikap lebih obyektif terhadap usaha penulisan buku sejarah ini.
Bagaimanapun juga, pembaca buku ini akan memberi pengetahuan kepada pemuda-pemuda kita akan kekuatan-kekuatan, tetapi juga akan kelemahan-kelemahan, daripada perjuangan pemuda kita dihari kemarin. Memang menurut perasaan saya, pelajaran yang dapat kita ambil dari tiap-tiap sejarah ialah mendapatkan contoh-contoh dari hal-hal yang harus kita hindari.
Harapan kami, pimpinan Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan yang didalamnya masuk Biro Urusan Pemuda, ialah agar supaya buru sejarah ini menjadi dorongan bagi pemuda-pemuda kita generasi sekarang dan generasi yang akan datang untuk berjuang lebih baik lagi daripada pemuda-pemuda kita dari zaman yang sudah lampau atau hampir lampau. Dengan perkataan berjuang lebih baik itu yang saya maksud pertama-tama ialah diperkuatnya persatuan antara organisasi-organisasi pemuda dari semua golongan NASAKOM atas dasar tujuan yang sama, yaitu ikut serta memperkokoh kedaulatan Republik Indonesia dan ikut serta menjadikan Ibu Pertiwi menjadi ibu sejati bagi seluruh rakyat pekerja dan rakyat jelata Indonesia dan bukannya menjadi ibu sejati daripada kaum kapitalis dan penghisap lain-lainnya, tetapi tetap menjadi ibu tiri bagi seluruh rakyat pekerja dan rakyat jelata.
Sebagai kenyataan telah kita ketahui bersama, bahwa pemuda itu pada umumnya mempunyai daya pendorong yang besar dan mempuniai intuisi yang lebih murni daripada kaum tua. Karena itu dalam tiap-tiap revolusi sudah wajarlah bahwa pemuda mengambil peranan sebagai pendorong dan pendobrak. Hanya oleh karena kaum tua biasanya telah banyak mempunyai pengalaman, yaitu pengalaman tentang perjuangan kerakyatan, maka kombinasi daya pendorong-pendorong dari kaum muda dan pengalaman dari kaum tua biasanya dapat menyelamatkan sesuatu revolusi. Tentu saja kita bicara tentang kaum muda dan kaum tua yang progresif-revolusioner dan bukannya tentang orang-orang reaksioner, baik muda maupun tua.
10
=== [PDF page 11] ===
Harapan yang bertanda tangan dibawah ini ialah, bahwa seluruh Pemuda Indonesia yang sungguh-sungguh setuju dengan sosialisme Indonesia, jadi dengan sendirinya bermoral sosialis, dalam persatuan dan kesatuan yang lebih erat lagi akan terus berjuang bersama-sama dengan rakyat patriotik untuk kebahagiaan seluruh Rakyat dan Bangsa Indonesia pada khususnya, umat manusia pada umumnya.
Jakarta, 31 Desember 1963.
Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan,
Priyono
11
=== [PDF page 12] ===
[Blank page]
=== [PDF page 13] ===
KATA-PENGANTAR
Sudah lama menjadi perencana dan pemikiran Biro Pemuda Departemen Pendidikan Dasar dan Kebudayaan untuk dapat membukukan Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia, dimana dapat dicantumkan segala dokumentasi mengenai kegiatan dan kehidupan pemuda dan gerakan pemuda Indonesia. Buku Sejarah Perjuangan Pemuda seperti ini dirasakan perlunya bukan hanya untuk dijadikan bekal dalam pelaksanaan kerja sehari-hari dalam melaksanakan program kerja Biro Pemuda, bukan pula hanya untuk dijadikan bahan dalam ikutsertanya gerakan pemuda Indonesia dalam kegiatan-kegiatan kepemudaan dan masyarakat secara nasional dan internasional, tetapi lebih dari itu, pengalaman perjuangan pemuda sepanjang sejarahnya ini sangat diperlukan dalam mengikuti langkah-langkah perkembangan gerakan pemuda yang dinamis, terutama pada masa akhir-akhir ini.
Dalam menghadapi peristiwa-peristiwa ini, selalu dirasakan kekurangan bahan perbandingan yang telah terkumpul lengkap, yang bisa ditimba sari-patinya untuk dapat dijadikan bahan dalam melanjutkan langkah-langkah kegiatan pemuda yang kian hari kian maju dengan pesatnya, kian hari kian tinggi prestasinya dalam memberikan sumbangannya untuk penyelesaian tugas-tugas revolusi Agustus 1945.
—— Karenanya dalam kesempatan penerbitan pertama dari Buku Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia ini, kami merasa mendapat kehormatan untuk dapat menyatakan rasa terima 'kasih kami yang mendalam kepada Y.M. Menteri Pendidikan Dasar dan Kebudayaan Bapak Priyono, yang telah memberikan perhatian, dorongan dan segala kemudahan hingga selesainya penyusunan buku ini.
Kami merasakan dan menginsafi sepenuhnya bahwa penulisan Buku Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia bukanlah pekerjaan yang ringan. Penyusunan ini menuntut tanggung jawab. Karena hakekatnya penulisan sesuatu sejarah adalah pembuatan sejarah itu sendiri. Berhubung dengan itu tugas berat, tetapi besar artinya dan mulia ini kami serahkan kepada tokoh-tokoh pemuda, yang karena pengertiannya, karena pengalamannya, karena approakhnya secara langsung kami harapkan dapat menuangkan segala sesuatunya secara lengkap dan menyeluruh. Dengan surat keputusan Menteri Pendidikan Dasar dan Kebu-
13
=== [PDF page 14] ===
dayaan tertanggal 16 Pebruari 1961 No. 9/1961; 10 April 1961 No.
35/1961; 19 Juni 1961 No. 5/1961 dan SK. Kepala Biro Pemuda Departemen P.D. dan K. tanggal 2 Mei 1961 No 1/1961 beserta perubahan-perubahannya telah terbentuk sebuah Panitia Penyusun yang anggauta-anggautanya terdiri dari Saudara-saudara: Geno Susanto merangkap Ketua, Margono Ongko, Waluyo, Yubaar Ayub, Letnan Kolonel Suyono Hadisusanto, Ridwan Bazar, Karna Rajasa, Hikmatullah, Sarwoko, Usman Ali Harun, Anwar Nasution, L.D. Paat, Bambang Kusnohadi, Haji M. Effendi, Ny. Fransisca Supriyo Fangiday dan Sumarjo, sedangkan sebagai seketarisnya telah kami tugaskan kepada Saudara-saudara: Budiman Sudarsono dan Amir Hamzah.
Dengan selesainya tugas yang telah dilakukan oleh Panitia Penyusun tersebut, hingga tersusunnya buku ini kami sampaikan penghargaan sctinggi-tingginya dan ucapan terima kasih. Juga kepada segenap pimpinan organisasi pemuda, pemimpin dan pemuka masyarakat serta semua fihak yang dalam penyusunan ini telah memberikan bantuan dengan memberikan bahan-bahan, nasehat dan pendapatnya yang sangat berharga, disampaikan ucapan terima kasih.
Maksud penyusunan Buku Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia ini adalah untuk menulis peranan pemuda Indonesia dalam perjuangannya yang heroik, yang patriotik dan yang selalu diilhami oleh sifatsifat pemuda yang segar, terbuka dan dinamis. Dan kenyataan telah memberikan pembuktiannya bahwa perjuangan bangsa dan rakyat Indonesia adalah untuk menegakkan kemerdekaan bagi tanah air, bangsa dan rakyat Indonesia, perjuangan gigih tidak pantang mundur terhadap imperialisme, kolonialisme dan feodalisme. Karenanya sepanjang sejarah, gerakan pemuda Indonesia selalu menjunjung tinggitinggi panji-panji perlawanan terhadap kekangan dan hisapan imperialisme, kolonialisme dan feodalisme. Kenyataan ini akan datang.
Bukan sekedar sebagai pembanding, bukan pula sekedar untuk menjadi pencerminan daripada kekuatan gerakan pemuda selama ini, tetapi untuk dijadikan landasan bagi perjuangan pemuda Indonesia mewujudkan hari depannya yang gemilang, yalah Sosialisme Indonesia.
Bangsa dan rakyat Indonesia sangat bangga akan peranan dan sumbangan yang telah diberikan oleh pemuda Indonesia, sebagaimana tercantum dalam sejarah ini tidaklah berhenti dengan ini. Penulisan sejarah yang berarti juga pembuatan sejarah itu sendiri menuntut dari kita semua, pemuda Indonesia tugas-tugas lebih berat pada masa-masa yang mendatang ini. Berhubung dengan itu menjadi kewajiban dari kita pemuda Indonesia, khususnya generasi yang akan datang untuk
14
=== [PDF page 15] ===
berpijak pada tradisi revolusioner yang telah diletakkan dalam perjuangan pemuda Indonesia selama ini, dapat membuat sejarahnya sesuai dengan tuntutan dan tugas-tugas revolusi Agustus 1945.
Buku penerbitan pertama ini kami yakin belum dapat dikatakan sempurna.
Masih banyak kekurangan, walaupun Panitia Penyusun sudah berusaha sekuat-kuatnya dengan mempergunakan segala kesempatan dan kemungkinan yang ada, untuk selengkap mungkin mengumpulkan bahan dan fakta. Karena memang menjadi maksud dan tujuan Biro Pemuda Departemen P.D. dan K. untuk menjadikan sejarah perjuangan pemuda Indonesia berdasarkan atas pendapat penulisan peranan pemuda Indonesia sendiri, maka kami mengundang semua fihak khususnya pimpinan organisasi pemuda untuk memberikan pendapat dan penambahan bahan-bahan, sehingga memungkinkan penyempurnaan pada penerbitan kedua nanti..
Dengan ucapan terima kasih atas pengertian, kerja-sama dan bantuan yang selama ini telah diberikan dalam penyusunan buku ini, kami serahkan Buku Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia.
Jakarta, akhir Desember 1963
BIRO PEMUDA
DEPARTEMEN PENDIDIKAN DASAR DAN
KEBUDAYAAN
Kepala,
SUTOYO ARCUNDATHA
15
=== [PDF page 16] ===
[Blank page]
=== [PDF page 17] ===
KATA PENDAHULUAN
Sejarah Gerakan Pemuda Indonesia adalah sejarah gerakan orang muda Indonesia yang bertujuan untuk memperjuangkan, merebut, mempertahankan serta mengisi kemerdekaan bangsa Indonesia dalam susunan kenegaraan yang berbentuk republik kesatuan yang demokratis, untuk menciptakan masyarakat yang adil dan makmur, bebas dari penghisapan dan penindasan manusia atas manusia, yaitu masyarakat sosialis di Indonesia.
Sudah tentu, karena pemuda itu adalah sebagian dari rakyat Indonesia, yaitu yang lazimnya terdiri dari orang muda yang telah mencapai batas umur dari 14 sampai dengan 21 tahun, maka gerakannya tak dapat dipisahkan dari gerakan rakyat Indonesia, gerakan nasional Indonesia. Hal ini dapat dilihat: pertama, dari saat kelahiran gerakan pemuda itu sendiri, kedua, dari azas gan tujuan gerakan pemuda: ketiga, dari jalan mencapai tujuannya, keempat, dari bentuk organisasi serta perkembangannya.
Karena itu, gerakan pemuda tak dapat dilepaskan atau berdiri sendiri dalam gerakan nasional, dalam gerakan rakyat Indonesia. Maju mundur, timbul tenggelamnya dipengaruhi atau mendapat pengaruh yang besar dari gerakan nasional, gerakan rakyat Indonesia. Tetapi, namun demikian itu tidak berarti bahwa gerakan pemuda tidak mempunyai sifat berdiri sendiri dalam gerakan nasional. Gerakan pemuda kecuali dipengaruhi atau mendapat pengaruh, sebaliknya juga dapat mempengaruhi bahkan dapat juga mendorong maju gerakan nasional, gerakan rakyat Indonesia. Hal ini adalah sesuai dengan sifat-sifat pemuda yang dinamis dan militan, yang selalu gembira, jujur dan yang penuh cita-cita, yang suka akan perubahan dan kemajuan, yang suka menerima pandangan dan ide-ide yang baru. Karena pemuda memiliki sifat-sifat seperti itu maka didalam gerakannya sering memainkan peranan merangsang maju gerakan nasional rakyat Indonesia.
Karena itu dalam menelaah atau menulis sejarah gerakan pemuda tak dapat dipisahkan dari gerakan rakyat, gerakan nasional itu sendiri.
Sejarah Perjuangan 2 | 12
=== [PDF page 18] ===
Tetapi juga harus dihindarkan penjalinan begitu saja hingga bisa menghilangkan sifat berdiri sendiri serta pengaruh yang dimainkannya.
Cara penelaahan dan penulisan yang seperti ini, yang sesuai dengan kenyataan obyektif yang diusahakan didalam buku ini.
Kecuali itu, bahkan yang terpenting dalam penulisan buku Sejarah Perjuangan Pemuda ini ialah dimaksudkan agar para pemuda dari generasi sekarang dapat memperoleh pelajaran yang bermanfaat dari pengalaman dan pelajaran dari gerakan pemuda yang mendahuluinya agar dapat terus menunaikan tugas generasinya mencapai cita-cita sebagaimana yang telah dirintis, diperjuangkan oleh pemuda dari generasi yang lampau dan yang ternyata kini masih menjadi tugasnya sendiri. Belajar dari pengalaman yang lama, baik yang berhasil maupun kesalahan dan kekurangannya adalah sesuatu yang sangat penting, karena masa kini adalah hasil dari masa lampau dan masa depan adalah hasil dari masa kini. Mempelajari sesuatu dari masa lampau dengan kritis dapat memudahkan menunaikan tugas dan memecahkan masalah masa kini, dan sukses-sukses masa kini dapat mempercepat datangnya masa berikutnya yang lebih baik, yang dapat mendekati atau mencapai tujuan yang menjadi cita-cita pemuda.
Sudah tentu penulisan Sejarah Pemuda 'yang demikian ini adalah suatu tugas, suatu pekerjaan yang tidak mudah dilaksanakan, pekerjaan yang amat sukar. Banyak kesukaran yang harus dihadapi dan iang belum mungkin sekaligus dapat diatasi semuanya. Kesukaran mendapatkan bahan-bahan yang diperlukan, terutama yang mengenai masa lampau adalah kesukaran yang terutama. Hal ini karena pertama-tama, pada umumnya organisasi pemuda yang ada belum mempunyai kebiasaan secara teratur untuk mengumpulkan, mencatat semua kegiatannya sendiri serta peristiwa-peristiwa yang penting yang terjadi pada suatu ketika serta sikapnya terhadap masalah-masalah itu. Kedua, bahwa tidak semua kegiatan pemuda itu terorganisasi secara memusat, terutama diluar Jawa yang discbabkan ketiadaan atau pengekangan demokrasi dimasa yang lampau. Ketiga, karena tidak semua kegiatan pemuda itu diberitakan dalam surat-kabar yang ada, terutama pada masa lampau karena sebagian besar surat-kabar adalah milik dan menjadi trompet penjajahan. Dan keempat, yang tidak kurang pentingnya, bahwa sampai kini belum ada tenaga ahli yang khusus melakukan research (penelitian) secara cermat terhadap sejarah pemuda serta menuliskannya. Sampai penulisan yang sekarang ini juga belum dilakukan oleh.enaga seperti itu.
18
=== [PDF page 19] ===
Untuk mengatasi kesulitan ini panitia penyusun buku Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia, mendapatkan bantuan dan bahan-bahan yang telah dikumpulkan oleh Musyawarah dan Seminar-seminar Sejarah Perjuangan Pemuda di Yogyakarta, di Medan, di Kalimantan Barat, di Bali dan lain-lain.
Diantaranya hasil seminar ini ada juga yang telah tersusun sebagai naskah buku Sejarah Perjuangan Pemuda Indonesia, seperti di Bali.
Kecuali bahan tersebut, panitia penyusun juga dipermudah dengan bahan yang telah dikumpulkan oleh petugas dan anggota panitia dari tokoh-tokoh dan 'bekas tokoh-tokoh pemuda seperti antara lain Chaerul Saleh, Supardo, Suyono Atmo, Sutomo, Isnaeni, Sujono, Pak Kasur, Ny. Sutarman, Supeno dsb. — Juga oleh panitia pernah sekali diadakan pertemuan dengan sementara ahli sejarah seperti Dr Sucipto Wiryo Suparto, Drs. Y.B. Ave, Mayor Sapia dlsb.
Kecuali tokoh-tokoh pemuda dari berbagai kalangan dan golongan, panitia juga pernah menghubungi tokoh nasional seperti Bapak Ali Sastroamijoyo S.H. Bapak Idham Chalid, Bapak Aidit dan lain-lain untuk mendapat saran-sarannya.
Sebagaimana sudah kami terangkan diatas bahwa dalam menulis ini panitia berpedoman pada keobyektipan dalam mengemukakan dan menilai fakta-fakta serta mempertimbangkan nilai pendidikan bagi generasi muda sekarang. Untuk dapat membantu mencapai maksud ini maka panitia membagi penulisan ini dalam 5 periode, yaitu:
1. Periode tahun 1908 -— 1928: 2. Periode tahun 1928 — 1942:
3. Periode tahun 1942 — 1945: 4. Periode tahun 1945 — 1950: dan 5. Periode tahun 1950 — 1960.
Dasar pembagian ini ialah terjadinya peristiwa-peristiwa penting yang mempengaruhi secara kwalitatif gerakan pemuda itu sendiri. Dengan cara
periodisasi seperti ini makin tampak dengan jelas hubungan antara gerakan pemuda dengan gerakan rakyat pada umumnya.
Walaupun demikian juga masih tampak kesulitan-kesulitan yang besar yang dihadapkan pada panitia penyusunan buku ini. Karena itu hasil yang telah dicapai oleh panitia dalam menyusun buku ini tidak
19
=== [PDF page 20] ===
dapat dikatakan sudah sempurna, lengkap dan terhindar dari kesalahar serta kekurangan. Karena itu adalah menjadi tugas kita bersama untuk memberi sumbangan guna menyempurnakan baik isi maupun bahan fakta agar selanjutnya dapat kita cetak lagi suatu buku Sejarah Perjuangan Pemuda yang benar-benar memadai dengan sumbangan pemuda dalam gerakan nasional, dalam gerakan rakyat itu sendiri. Kami yakin bahwa kesadaran serta tanggung jawab seperti ini ada pada kita semuanya.
dan buku yang memadai itu dapat terbit dalam masa akan datang yang tidak terlalu-lama. |
Pendapat, kritik, sumbangan pikiran dan lain-lain dari pihak manapun yang berminat sangat kami nantikan dan hargakan.
Semoga buku ini dapat mencapai maksudnya.
20
=== [PDF page 21] ===
PERIODE — I
KEBANGKITAN NASIONAL
DALAM KALANGAN PEMUDA
=== [PDF page 22] ===
[Blank page]
=== [PDF page 23] ===
Dalam menelaah sejarah gerakan pemuda sebagai bagian dari gerakan nasional, gerakan rakyat Indonesia, pertama-tama orang harus mempelajari, memperhitungkan keadaan peri-kehidupan, sosial ekonomi pada masa gerakan itu berlangsung.
Keadaan sosial ekonomi ini merupakan salah satu faktor yang menentukan yang menjadi landasan bagi lahirnya, berlangsungnya, sifat dan watak dari gerakan itu. Karena itu dalam menelaah masa kebangkitan nasional dalam kalangan pemuda pada periode I ini, pertama-tama perlu memeriksa keadaan sosial ekonomi yang bagaimanakah yang melahirkan kesadaran dan kebangkitan serta perkembangan dari gerakan itu. Untuk memberi gambaran tentang keadaan sosialekonomi itu kita mulai dengan membicarakan keadaan Indonesia pada zaman penjajahan Belanda dalam periode ini.
INDONESIA MENJADI NEGERI
JAJAHAN IMPERIALIS
Setelah beberapa abad kaum kolonialis Belanda melakukan perampasan, penindasan terhadap rakyat Indonesia, maka pada pertengahan abad ke-19 dinegeri Belanda tertumpuk sejumlah kapital partikulir.
Negeri Belanda yang kecil bisa menjadi negara kaya-raya pada zamannya. '
Seiring dengan perpaduan kapital industri dan bank, negeri Belanda berubah dari negeri kapitalis lama menjadi negeri kapitalis modern — kapitalis monopoli. Perubahan ini terjadi disekitar akhir abad ke-19 dan awal abad ke-20.
Tanah jajahan negeri Belanda yang utama ialah Indonesia, dan karena itu maka Indonesialah yang pertama-tama menjadi sasaran bagi penanaman kapital lebih itu. “Tanah jajahan Indonesia berubah fungsinya, yaitu bukan lagi hanya sebagai tempat perampokan dan pengambilan bahan mentah, tetapi juga menjadi tempat untuk penanaman kapital, sumber tenaga murah dan pasar penjualan barang hasi industri negeri Belanda.
Kapital yang ditanami di Indonesia pada pokoknya ditanam dalam produksi pertanian, dan perdagangan hasil pertanian, sedangkan yang ditanam diindustri, transport dan lain bidang perusahaan hanya merupakan bagian yang kecil.
23
=== [PDF page 24] ===
Hal ini disebabkan karena kapitalis monopoli Belanda hanya berusaha untuk memperoleh bahan mentah, sedangkan perusahaan yang lain hanya merupakan perusahaan yang membantu.
Untuk dapat melayani perusahaan dan badan administrasi kolonialnya dengan tenaga murah, pada permulaan abad ke-20 Belanda menjalankan politik etik. Dengan politik ini dibukalah sekolah-sekolah untuk anak Indonesia yang hanya dididik untuk menjadi pegawai-pegawai dan buruh murah yang mempunyai kecakapan tehnis, administrasi yang sederhana.
Sebagai akibatnya maka timbullah suatu lapisan baru dalam masyarakat Indonesia yaitu kaum buruh dan kaum intelek Indonesia. Lahirnya lapisan ini kemudian memainkan peranan yang sangat penting dalam timbul dan berlangsungnya gerakan nasional Indonesia umumnya dan gerakan pemuda Indonesia khususnya.
KEBANGKITAN NASIONAL RAKYAT INDONESIA
Sepajang sejarah kemajuan masyarakat, rakyat yang tertindas selalu berjuang untuk kebebasannya. Demikian juga rakyat Indonesia dalam menghadapi berbagai penindasan dan penghisapan selalu melakukan perjuangan untuk kebebasannya.
Dalam perjuangan ini ide-ide baru selalu timbul yang menyatakan tuntutan jamannya, untuk menerangi jalan perjuangan itu. Rakyat Indonesia yang selalu berjuang terhadap semua penindasan, pengekangan, dan ketidak adilan sosial, juga mengemukakan ide-idenya yang maju sesuai dengan syarat jamannya. |
Dalam masa tanam paksa perjuangan rakyat Indonesia mendapatkan bentuk pernyataan dalam surat-surat dan tulisan? Douwes Dekker dengan nama samaran Multatuli. Surat” dan tulisan-tulisan itu mencerminkan cita-cita demokratis dari rakyat Indonesia. Demikian juga dalam masa peralihan Indonesia dari tanah jajahan kapitalisme lama ke-xapitalisme modern, yang dalam penghisapannya berjalin dengan sisa-sisa feodalisme. Ide demokratis Indonesia dalam masa ini dicerminkan secara terus terang dalam surat-surat Kartini kepada teman-temannya dinegeri Belanda yang kemudian dibukukan dengan judul “Sehabis Gelap Datanglah Terang”.
Juga ide progresip dari rakyat negeri lainnya dalam diyaman modern ini mempunyai pengaruhnya terhadap perjuangan rakyat Indonesia.
Ide-ide ini semua memberikan inspirasi yang tidak ketiil dalam proses kebangkitan nasional rakyat Indonesia, terhadap gerakan pemudanya.
Terhadap penghisapan kapitalisme modern — imperialisme, rakyat
24
=== [PDF page 25] ===
Indonesia menyadari nasibnya scbagai bangsa tertindas, dan bangkit melakukan perlawanan. Perlawanan ini pada permulaannya berjalan secara spontan, tak kentara, dan tidak terorganisasi, tetapi lambat laun ia berkembang mendiadi perlawanan yang sadar, terang-terangan dan terorganisasi secara modern.
Sesuai dengan lahirny1 berbagai lapisan masyarakat, terutama kaum buruh dan kemudian kaum intelektuil bangsa Indonesia, suatu lapisan yang langsung dan sadar akan penindasan yang dilakukan oleh pemerintah kolonial Belanda, maka terbentuklah organisasi perlawanan dari kalangar mereka. Pada permulaan perlawanan modern ini kaum buruh dan pegawai-pegawailah yang pertama-tama mengorganisasi diri dalam Serikat-serikat Sekerja. seperti Staats Spoor (SS) Bond pada tahun 1905.
Post Bond pada tahun 1605, Cultuur Bond pada tahun 1907, Suiker Bond tahun 1908, Vereeninging van Spoor en Tram Personeel (VSTP)
pada tahun 1908 dan kemudian menyusul lain-lainnya.
Peristiwa yang terjadi baik di Indonesia maupun diluar Indonesia pada tahun 1905 — 1907 mempunyai pengaruh yang besar terhadap perjuangan rakyat Indonesia. Pada tahun 1903 terjadi krisis ekonomi dunia kapitalis dan pada tahun 1904—1905 terjadi perang Jepang — Rusia dimana Rusia mengalami kekalahan.
Krisis ekonomi disusul dengan perang ini makin membawa kesengsaraan bagi rakyat pekerja di Rusia, dan makin memperdalam pertentangan sosial dalam negeri Rusia Tsar pada waktu itu. Sebagai akibatnya meletuslah revolusi 1905 di Rusia. Revolusi ini, karena berbagai kelemahan dan kekurangan, mengalami kekalahan. Namun demikian revolusi ini dapat menggoncangkan sendi kekuasaan Rusia yang imperialis, dan sistim kapitalisme dunia. Revolusi ini juga menggugah rakyat tertindas negeri-negeri lain untuk melakukan perjuangan yang lebih tegas.
Ini terbukti dengan mulai timbulnya gerakan-gerakan pembebasan nasional seperti di Turki, di India, di Mesir dan lain-laimnya.
Di Indonesia, peristiwa ini juga mempunyai pengaryhnya yang besar. Apa lagi Indonesia sebagai negeri jajahan yang menjadi sumber bahan mentah, juga terkena krisis ekonomi kapitalis yang membawa akibat makin tertekannya kehidupan rakyat.
Dengan dipengaruhi oleh gerakan revolusioner yang timbul dimanamana, dan di Indonesia sendiri oleh ide-ide demokratis yang dicetuskan Kartini, didorong oleh organisasi Serikat Sekerja yang telah ada, kemelaratan dan diskriminasi terhadap rakyat Indonesia, seorang Dokter pensiun Mas Wahidin Sudiro Husodo mengadakan perjalanan keliling di Jawa untuk mempropagandakan ide demokratisnya, yaitu hendak meningkatkan
25
=== [PDF page 26] ===
derajat rakyat Indonesia dengan melalui pendidikan. Dengan pendidikan yang maju putera Indonesia supaya dapat menduduki jabatan yang sama dengan orang Belanda di Indonesia. Gema propaganda ini mendapatkan sambutan yang agak luas dikalangan pelajar dan pegawai yang maju sesuai dengan syarat jamannya. Untuk merealisasi ide ini pemuda pelajar STOVIA (Schooi Tot Opleiding van Inlands Artsen — Sekolah Dokter Jawa) di Jakarta, yaitu R. Sutomo, R. Gunawan Mangunkusumo, Suraji, dibantu oleh Suwardi Suryaningrat (Ki Hajar Dewantoro), Saleh, Gumbreg dan Sarwono serta kawan-kawannya mengambil inssiatif mendirikan organisasi "Budi Utomo” (Usaha Suci).
Budi Utomo mempunyai dasar kebudayaan, yaitu Jawa Raya dan bersemboyan ”Jawa Maju”.“ Walaupun organisasi ini mempunya dasar kebangsaan yang terbatas, namun ia merupakan suatu organisasi yang modern dari bangsa Indonesia, ia mengemukakan ide-ide dan tuntutan yang maju, yang demokratis dari rakyat Indonesia. Karenanya.
lahirnya Budi Utomo ini merupakan pertanda dari kebangunan nasional rakyat Indonesia.
Namun demikian, organisasi yang lahir ini belum juga dapat
menjadi alat penghimpun dari rakyat Indonesia yang hendak bangkit melawan, karena ia hanya mempunyai dasar kebudayaan. Keadaan sosial rakyat Indonesia tak dapat dijawab hanya dengan meningkatkan kebudayaan. Pedagang-pedegang bangsa Indonesia yang sedang tumbuh mengalami penindasan dan diskriminasi yang besar dari sistim pemerintah kolonial. Dari kalangan mereka ini juga mulai timbul perlawanan yang memerlukan organisasi. Mereka mulai mendirikan organisasi kaum dagang. Seorang pedagang yang juga menjadi redaktur surat kabar bahasa Indonesia di Bandung, Raden Mas Tirtoadisuryo, pada tahun 1909 mendirikan perhimpunan dagang Indonesia dengan nama Serikat Dagang Islamyah” di Jakarta, pada tahun 1911 mendirikan "Serikat Dagang Islam” di Bogor, dan kemudian dalam tahun itu juga bersama-bersama dengan seorang pedagang batik di Solo, yaitu Mas Haji Samanhudi mendirikan "Serikat Dagang Islam” di Solo. Organisasi ini dalam waktu singkat mendapat sambutan rakyat yang luas, dan menjadi organisasi besar yang cabang-cabangnya tersebar luas dinusantara kita. Karena makin luasnya organisasi ini maka pada tahun 1912 namanya diubah menjadi Serikat Islam. Juga dalam tahun ini, yaitu pada tanggal 18 Nopember 1912 berdirilah organisasi Muhamadiyah.
# Lihat buku ”De Nationalistiskhe Beweging in Nederlandskh-Indie” Y. Th. Petrus Blumberger, hl. 19.
26
=== [PDF page 27] ===
Suatu langkah yang penting dalam sejarah pergerakan rakyat Indonesia ialah lahirnya Indiskhe Party yang dipimpin oleh Douwes Dekker (Setiabudi), Dr. Cipto Mangunkusumo dan Suwardi Suryaningrat pada tahun 1912. Organisasi ini penting karena pertama, ia adalah partai politik yang pertama di Indonesia, kedua, ia menghimpun semua golongan bangsa Indonesia, dan ketiga ia yang pertama kali mengajukan tuntutan ”Indonesia lepas dari negeri Belanda”, dengan semboyan "Hindia untuk Hindia”. Sebagaimana diterangkan didepan, di Indonesia sudah lahir lapisan baru lainnya yaitu kaum buruh. Lapisan ini, kecuali mempunyai organisasi berdasarkan sosi-sosi: ekonomi, Serikat Sekerja, pada tahun 1914 melahirkan organisasi politiknya — Indiskhe Sosial Demokratiskhe Vereniging (ISDV) atau Perhimpunan Sosial Demokrat Hindia (PSDH).
Perhimpunan ini mempuniai tujuan menyebarkan Marxisme dan menuntut Indonesia Merdeka.
Akibat Perang Dunia I kehidupan ekonomi rakyat makin memburuk.
dan hal ini menyebabkan makin meningkatnya perjuangan nasional melawan penjajahan. Juga janji palsu pemerintah Belanda untuk membentuk parlemen di Indonesia yang terkenal dengan “janji November” (November belofte) membuat marah rakyat Indonesia.
Kemenangan revolusi Oktober 1917 di Rusia sebagaimana ditandaskan oleh Dr. Ir. Sukarno“ menjiwai perjuangan kemerdekaan nasional rakyat.
Dalam proses meningkatnya perjuangan rakyat Indonesia ini, pada tahun 1920 ISDV dilebur menjadi Perserikatan Komunis Hindia (pada tahun 1924 diubah menjadi Partai Komunis Indonesia). Kelahiran Partai ini mempunyai arti yang sangat penting dalam perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia, karena: ia merupakan Partai yang teguh melawan penjajahan: bertujuan untuk mencapai Indonesia merdeka dan sosialisme di Indonesia, dan ia mempuniai kader-kader yang berani dalam memimpin perdiuangan rakyat Indonesia.
Pemerintah kolonial Belanda sansat takut terhadap PKI dan karenanya dilakukan penangkapan, pengekangan, provokasi dan lain-lain.
Akibat dari ini pada tahun 1926 — 1927 meletuslah pemberontakan rakyat Indonesia 'ang pertama di Diawa dan Sumatera selama sebulan.
Pemberontakan ini gagal, tetapi ia menggoyahkan dasar kekuasaan pemerintah kolonial Belanda dan karena itu meninggalkan bekas yang dalam pada gerakan rakyat Indonesia.
» Baca brosur "Revolusi Oktober dan Perjuangan Kemerdekaan Rakyat Negeri-negeri Timur” Ir. Sukarno.
27
=== [PDF page 28] ===
Pada masa itu juga berdiri organisasi-organisasi yang lain. ')' Kaum terpelajar Indonesia dalam usahanya untuk menghubungkan ilmu dengan masyarakat mendirikan organisasinya sendiri, dengan berbentuk klub studi, dan yang di Bandung dinamakan ”Algemeene Studie Club” yang dipimpin oleh seorang insinyur muda Sukarno dan lain-lainnya. Pada tahun 1926 suatu organisasi Islam didirikan — Nahdlatul Ulama, yang mempunyai kegiatan dalam lapangan sosial.
Pada bulan Juli 1927, setelah pemberontakan nasional pertama ditindas, kaum intelektuil yang patriotik dan demokratis yang tergabung dalam Algemeene Studie Club mendirikan partai politik — Perserikatan Nasional Indonesia, yang kemudian diubah namanya — Partai Nasional Indonesia. Tujuan partai ini sebagaimana diterangkan oleh pendirinya Ir. Sukarno dalam bukunya “Sarinah”: “Imperialisme Belanda pada waktu itu baru saja mengamuk tabularasa dikalangan kaum Komunis.
Partai Komunis Indonesia dan Serikat Rakyat dipukulnya, dengan hebatnya, ribuan pemimpinnya dilemparkan dalam penjara Yan dalam pembuangan di Boven Digul. Untuk meneruskan perjuangan revolusioner saya mendirikan Partai Nasional Indonesia” “.
Tujuan P.N.I. sebagaimana dinyatakan dalam ' Beginsel Program”'- nya ialah: ”mengubah struktur kehidupan masyarakat Indonesia:
menghapuskan ketergantungan politik, mengakhiri pemerintahan Belanda:
Indonesia lepas dari negeri Belanda....” "".
Dalam mencapai tujuannya P.N.I. berusaha menggalang persatuan yang luas dan mengadakan massa aksi. Karena itu pemerintah kolonial Belanda juga sangat takut terhadap P.N.I.
Diluar negeri oleh Tan Malaka salah seorang buangan politik Pemerintah Hindia Belanda bersama dengan Jamaludin Tamin dan Subakat pada bulan Jul. 1927 didirikan P.A.R.I., singkatan dari ”Proletariat Aslia Republik Internasional” atau biasa disebut Partai Republik Indonesia. Partai ini didirikan di Bangkok secara ilegal.
Peristiwa ekonomi. sosial dan politik sepanjang masa dus puluh tahun inilah yang sangat mempengaruhi perkembangan perjuangan dan organisasi perjuangan pemuda. Hal ini dapat kita lihat dari vcristiwaperistiwa yang terjadi, serta hubungan peristiwa itu satu sama Jain dalam proses pertumbuhan dan perkembangan perjuangan pemuda pada masa ini.
* Dari buku ”Sarinah” Ir. Sukarno, hal. 265 — 266.
** Dari buku ”De Nationalistiskhe Beweging in Nederlandskh-Indie” Y. Th. Petrus Blumberger, hl. 206.
=== [PDF page 29] ===
LAHIR DAN PERKEMBANGANNYA BERBAGAI
ORGANISASI PEMUDA
Sebagaimana sudah dijelaskan diatas, perjuangan dan organisasi perjuangan pemuda itu mendapatkan pengaruh yang besar dari perjuangan dan organisasi perjuangan nasional Indonesia, dan tidak terlepas dari keadaan yang ditimbulkan oleh politik devide et impera kolonialisme-imperialisme Belanda.
Budi Utomo, walaupun sifatnya sendiri bukan organisasi pemuda, pendiri-pendirinya adalah pemuda-pemuda, seperti Sutomo, R. Gunawan Mangunkusumo dan lain-lainnya. Juga, mereka yang dihimpun dalam Budi Utomo adalah pemuda dari sekolah menengah, sekolah guru, sekolah yang sederajat dengan itu, disamping yang lain-lain. Namun demikian, Organisasi pemuda yang sesungguhnya baru berdiri tujuh tahun setelah berdirinya Budi Utomo, yaitu pada tanggal 7 Maret 1915. Ini berarti bahwa organisasi pemuda baru berdiri setelah adanya organisasi massa seperti Serikat Sekerja, S.I. dan organisasi politik seperti Indiskhe Party dan I.S.D.V.:
Organisasi pemuda yang pertama ialah ”Tri Koro Dharmo” yang kemudian berganti nama menjadi Yong Java. Yong Java ini kemudian berkembang menjadi organisasi pemuda yang utama dan mempunyai pengaruh besar dalam proses sejarah perkembangan organisasi pemuda.
Contoh yang diberikan oleh pemuda dari suku bangsa Jawa ini kemudian memberi inspirasi pada pemuda dari suku bangsa yang lain, terutama pada pelajar-pelajar sekolah menengah dan sekolah vak. Dalam waktu yang singkat setelah Tri Koro Dharmo didirikan.
berdirilah organisasi pemuda Sumatera dengan nama “Yong Sumatranen Bond” (Himpunan Pemuda Sumatera) pada tahun 1917, dan yang pada tahun berikutnya disusul dengan berdirinya “Yong Minahasa”
(Pemuda Minahasa) ”Yong Ambon” (Pemuda Ambon) dan "Yong Celebes” (Pemuda Sulawesi).
Sesuai dengan tingkat perkembangan kesadaran nasional pada masa itu, dimana ekonomi alamiah yang didesak oleh ekonomi barang dagangan imperialis masih meninggalkan sisa-sisanya, maka sifat kesukuan masih
129
=== [PDF page 30] ===
Panji 1rikoro Dharmo
Digitized by Goog le
=== [PDF page 31] ===
juga menonjol kedepan. Disamping organisasi pemuda yang sudah ada masih juga timbul penggolongan dikalangan organisasi pemuda sendiri diatas dasar kesukuan dan keagamaan.
Karena itu tak lama setelah “Yong Sumatranen Bond” berdiri, pemuda dari suku Batak juga mendirikan organisasinya sendiri dengan nama ”Yong Bataks Bond” (Himpunan Pemuda Batak). Sebagian pemuda yang tergabung dalam "Yong Java” yang beragama Islam memisahkan diri dengan mendirikan organisasi ” Yong Islamieten Bond”
(Himpunan Pemuda Islam).
Walaupun dalam tingkat perkembangan ini terdapat banyak organisasi pemuda dari berbagai suku bangsa, namun ide menuju persatuan makin tumbuh dengan suburnya.
Hal ini sesuai dengan proses perkembangan kesadaran nasional dimana orang sudah merasa bahwa hanya persatuan daerah, persatuan dari pemuda sesukunya saja tidak dapat mencapai cita-cita yang luhur, untuk mengejar kemajuan tanah air. Karenanya pemuda-pemuda itu juga mencari jalan untu): mempersatukan diri dalam suatu organisasi nasional yang demokratis, baik dengan jalan fusi dari berbagai organisasi maupun dengan federasi dari berbagai organisasi pemuda.
Untuk memahami bagaimana perkembangan ini berlangsung sangatlah baik kalau diutarakan atau dipaparkan perkembangan setiap organisasi pemuda dalam hubungan satu sama lain serta dalam memperjuangkan cita-citanya. '
YONG JAVA
Setelah mendapat dorongan dan inspirasi dari organisasi nasional yang telah ada, pemuda Inaonesia dari suku Jawa mulai merasa bahwa dirinya sebagai bagian dari anggota masyarakat tak juga mau ketinggalan dengan bagian masyarakat yang lain. Setelah mengalami pemikiran, perenungan dan usaha yang agak lama, pada tgl. 7 Maret 1915, sejumlah pemuda pelajar yang dipelopori oleh pemuda intelektuil lulusan STOVIA, antara lain Raden Satiman Wiryosanjoyo, mengadakan suatu rapat bertempat digedung pertemuannya Budi Utomo, Gang Kweni di Jakarta untuk mendirikan suatu organisasi pemuda.
Setelah mengalami suatu pertukaran-pikiran pemuda-pemuda menyetujui ide perlu adanya suatu organisasi pemuda tersendiri. Maka lahirlah suatu organisasi pemuda yang bersifat nasional yang pertama — Tri Koro Dharmo (Tiga Tujuan Suci), yang dipimpin oleh Satiman
31
=== [PDF page 32] ===
Wiryosanjoyo sebagai ketua, Sunardi (Wongsonegoro) wakil ketua.
Sutomo sebagai sekretaris dan anggota-anggota pengurus lainnya ialah:
Muslikh, Musodo, Abdul Rachman.
Berdirinya organisasi ini ber- ae arti suatu pertanda yang pasti dari "!
kebangkitan nasional dalam kalangan pemuda, berarti kesadaran nasional mulai merangsang dan mendapatkan bentuk yang tersendiri didalam kalangan pemuda.
Azas dan tujuan dari organisasi pemuda yang baru lahir itu, sebagaimana dinyatakan dalam anggaran dasarnya fasal 2 mengemukakan: 1) menimbulkan pertalian antara murid-murid Bumi putra pada sekolah menengah.
dan kursus vak keguruan: 2) menambah pengetahuan umum bagi anggota-anggota: 3) membangkitkan dan mempertajam perasaan buat segala bahasa dan kebudayaan Indonesia ". Sesuai de- Dr Satiman Wiryo Sanjoyo ngan tiga azas inilah maka orga- Pendiri dan salah seorang nisasi itu dinamakan Tri Koro ketua Trikoro Dharmo Dharmo.
Organisasi ini memang sebagaimana dinyatakan dalam azasnya, masih sangat terasa adanya dasar kebudayaan Jawa Raya, suatu dasar yang menjadi persoalan pada waktu itu. Organisasi pemuda ini menghimpun pemuda-pemuda, kecuali dari suku Jawa juga pemuda-pemuda dari suku Sunda, Madura dan Bali, sesuai dengan pengertian Jawa Raya pada waktu itu.
Namun demikian pendiri organisasi pemuda ini Dr. Satiman juga sudah menyadari akan sifat terbatasnya organisasinya. Dalam majalah Tri Koro Dharmo No.3 beliau menyatakan bahwa “perkumpulan Tri Koro Dharmo harus memakai sifat buat sementara, supaya dikemudian boleh menjadi suatu perkumpulan buat pemuda-pemuda Indonesia seumumnya”.
“ Gedenkbuk Yong Java, hl. 26..
32
=== [PDF page 33] ===
Masih dalam majalah itu juga beliau menulis "bahwa dengan lahirnya perkumpulan Tri Koro Dharmo haruslah dipikirkan suatu perkara yang penting yaitu: mencari pertalian dan persaudaraan dengan bangsa dari pulau lain buat memperkokoh rakyat Indonesia” # (garis bawah — penyusun).
Tri Koro Dharmo dalam waktu yang sangat singkat telah berkembang mempunyai cabang-cabang diberbagai kota besar di Jawa. Seiring dengan makin meluasnya organisasi ini, maka nama serta ketentuan dalam anggaran rumah tangganya sendiri terasa menjadi penghalang.
Karena itu dalam kongresnya yang pertama di Solo pada tahun 1918, nama Tri Koro Dharmo diganti dengan ”Yong Java” untuk memudahkan
kerja-sama dengan saudara-saudara dari Pasundan, Bali dan Lombok.
Walaupun nama Tri Koro Dharmo telah diganti menjadi Yong
Java, namun azas dan tujuannya sama seperti yang tercantum dalam anggaran dasar Tri Koro Dharmo. Karena itu dalam perkembangannya juga masih sangat terasa azas kebudayaan Jawa Raya dengan berintikan kebudayaan Jawa Tengah.
Yong Java ini pada pokoknya bergerak dalam lapangan kebudayaan, pendidikan dan olah raga. Dalam lapangan kebudayaan mengadakan kegiatan-kegiatan dalam lapangan seni musik dan seni tari Jawa. Dalam lapangan pendidikan ia mengadakan dana belajar (studie fonds) yang dinamakan ”nationale fonds” dan kemudian diubah menjadi ”Yong Java Studie Fonds”, dan dalam lapangan olah raga ia terutama mengorganisasi kepanduan dengan nama Yong Java Padvinderiy (Pandu Pemuda Jawa).
Organisasi Yong Java serta kepanduannya tersebar luas di Jawa.
Dr Sutopo
salah seorang ketua Yong Java Pada tahun 1922, yaitu pada kongresnya di Solo, anggotanya sudah
mencapai 2.000 orang. Pemimpinnya antara lain ialah Dr. Satiman Wiryosanjoyo, yang pernah menjadi ketua pada tahun-tahun 1915 — 1916 — 1917 dan kemudian menjadi anggota kehormatan, Suhardi
* Gedenkbock Yong Java, hl 43.
Sejarah Perjuangan 3 33
=== [PDF page 34] ===
Aryotejo (ketua pada tahun 1917 — 1918), Dr. Sukiman Wiryosanjoyo (ketua tahun 1918 — 1915), Dr. Sutopo (ketua tahun 1919 — 1920), Dr. Mukhtar Atmosuparjo (ketua tahun 1921 — 1922), Sugandi Pringgoatmojo (ketua tahun 1922), Dr. Ma'amun (ketua tahun 1923), Raden Sam (ketua tahun 1923—1924), Sumarto (ketua tahun 1925), Mr. Sunardi Jaksodipuro (Wongsonegoro) (ketua tahun 1926), Dr Gularso Astrokusumo (ketua tahun 1927), Dr Sarwono Prawiroharjo (ketua tahun 1923), Kuncoro Purbopranoto (ketua yang terakhir tahun 1929). Sedangkan barisan kepanduan antara lain d.pimpin oleh almarhum Muwardi. |
Organisasi Yong Java adalah non-politik dan juga tidak memperkenankan anggotanya mengambil bagian aktif dalam politik. Hal ini ditegaskan lagi dalam kongres ke II dalam bulan Mei 1922 di Solo, dan kongres luar biasa Desember 1922 yang menetapkan bahwa Yong Java tidak mencampuri aksi atau propaganda politik. Namun demikian, meningkatnya perjuangan kemerdekaan nasional pada tahun-tahun 1920 dan selanjutnya maka pidato yang bersifat politik selalu terdengar diberbagai kongresnya, bahkan pada tahun 1926, dengan tanpa dinyatakan, Yong Java juga ikut dalam politik.
Sifat non-politik yang berlebih-lebihan bisa menimbulkan aspek kurang baik bagi Yong Java. Misalnya, dalam kongresnya di Yogya pada bulan Desember 1924, ketika seorang pemuda Darsono mengadakan pidato politik, dimana ia memberikan penjelasan tentang perjuangan kemerdekaan, maka pelindung organisasi — Mangkunegoro ke VII, memberi tekanan dengan isyarat bahwa kalau organisasi itu ikut dalam
politik dia akan meletakkan jabatan- 5 nya sebagai pelindung. Contoh lain
Se adalah ditolaknya usul ketuanya, Sam,
Mr. Sunardi Joksodipuro yang menyarankan, dengan tidak
(Wongso Negoro) mengubah dasar-dasar Yong Java,
Salah seorang ketua Yong Java — agar diadakan pembagian anggota dalam golongan, yaitu: 1 anggota
muda-muda yang berumur dibawah 18 tahun, yang tidak boleh mencampuri politik, 2. anggota yang berumur 18 tahun keatas, yang secara per-
34
=== [PDF page 35] ===
seorangan boleh ikut dalam gerakan politik; dalam hal ini dibantu dan dipimpin oleh,,anggota-angota luar biasa” yang akan merupakan golongan ketiga dalam Yong Java ".
Usul Raden Sam ini sebenarnya berasal dari Haji Agus Salim. Hal ini terbukti dari pidato Haji Agus Salim "Islam dan Yong Java”, yang membentangkan bahwa dasar Yong Java dianggapnya semata-mata bersifat nasionalis, dan menjauhkan pemuda pelajar dari agama Islam. Anggotaanggota Yong Java yang tadinya menyokong usul Raden Sam, setelah mendengar pidato Agus Salim, menentang usul itu, Karena usaha mereka gagal, maka sebagian anggota Yong Java yang berhaluan Islam, membentuk organisasinya sendiri — Yong Islamieten Bond.
Walaupun tak d'perkenankan ikut dalam politik, namun anggotaanggota Yong Java yang menjadi siswa Sekolah Guru (Kweekskhool)
di Gunung Sahari Jakarta ikut mogok belajar.
Pengaruh perjuangan nasional yang makin meningkat juga makin terasa dalam tahun 1925 keatas. Sejak tahun ini Yong Java terpaksa mencrima tuntutan jamannya, dan dalam kongresnya di Bandung pada tanrgal 26 Desember 1925 — 2 Januari 1926, azas organisasi diubah seperti yang tercantum dalam fasal 3 Anggaran Dasar yang berbunyi:,,meng.
usahakan agar anggota perkumpulan nanti tersedia buat menolong membangunkan Jawa Raya dan menguatkan perasaan diantara bangsa Indonesia supaya kelak sampai ke Indonesia — Merdeka” ",
Juga olkh ketuanya RT. Jaksodipuro dijelaskan bahwa tujuan organisasinya tidak pernah hanya membangun Diawa Raya saja, tetapi kelak kemudian hari sampai Indonesia Merdeka. Tan Kongres juga memutuskan un- ~ iw
tuk membagi anggota menjadi anggo- PP ta biasa (18 tahun atau lebih) dan ca- Kuncoro Purbopranoto lon anggota (umur dibawah 18 tahun). Salah seorang ketua Yong Java
| * Dari buku: ”Sejarah Gerakan Rakyat Indonesia”
Mr. A.K. Pringgodigdo, hl. 112.
** Gedenkbuk Youg Java, hl. 27. °
=== [PDF page 36] ===
Yang belakangan ini tidak boleh mengunjungi rapat-rapat anggota tetapi boleh ikut dalam bagian olah raga, kesenian dan kepanduan. Dengan ini Yong Java akan dapat turut dalam politik. Sementara itu Mr. Singgih menegaskan bahwa dalam negeri-negeri merdeka pelajar-pelajar berlomba-lomba berpolitik, apalagi di negeri-negeri yang yum merdeka, hal demikian lebih diperlukan.
Perubahan inipun belum mencukupi tuntutan jamannya. Hal ini disedari sendiri oleh ketua Yong Java, Kuncoro Purbopranoto, yang mengakui bahwa ”perubahan inipun belumlah mencukupi rasa yang terkandung dalam hati sanubari anggota-anggota perkumpulan, karena pintu Yong Java masih belum terbuka sama sekali untuk menerima saudara-saudara kita seluruh Indonesia” “.
Dalam Kongres Pemuda Indonesia yang pertama, bekas ketua Yong Java, Sumarto mengusulkan untuk mendirikan satu organisasi pemuda di Indonesia. Yong Java mengambil bagian yang aktif dalam usaha melaksanakan usul ini. Namun demikian jalan untuk menyatukan diri dengan fusi atau federasi, hingga kongresnya di Semarang pada tanggal 26 — 31 Desember 1927, belum juga terpecahkan. Yong Java juga ambil bagian aktif dalam Kongres Pemuda tahun 1928, dan kemudian juga ikut ambil bagian aktif terselenggaranya fusi antara berbagai organisasi pemuda untuk membentuk satu organisasi pemuda.
Perasaan kesadaran satu tanah air, satu bangsa dan satu bahasa yang berkobar dikalangan pemuda mendorong Yong Java untuk segera menetapkan pendirian dengan tegas. Dalam Kongresnya pada tanggal 25 — 31 Desember 1928 di Yogyakarta diambil keputusan untuk menyetujui jalan fusi dalam menyatukan organisasi pemuda.
Dalam kongresnya yang terakhir, Kongres ke XII yaitu pada tanggal 23—29 Desember 1929 di Semarang, Yong Java setelah menunaikan tugas jamannya, pada tanggal 27 Desember 1929 tengah malam, dibubarkan dan menyerahkan seluruh bagian-bagian dan cabang-cabangnya kepada Komisi Besar Indonesia Muda, dengan dana belajar (studie fonds), kepanduan dan 25.000 anggota.
YONG SUMATRANEN BOND (Himpunan Pemuda Sumatera)
Dengan didorong oleh berdirinya organisasi Tri Koro Dharmo, pemuda dari suku Sumatera juga menyadari perlunya ada organisasi bagi pemuda Sumatera tersendiri.
“ Gedenkbuk Yong Java, hl. 28.
36 '
=== [PDF page 37] ===
pave
— uot
upsognquiag sassuoy y4vp unsuvuay-sunuay
Digitized by Google
=== [PDF page 38] ===
Maka setelah melalui usaha yang ulet, sejumlah kurang lebih 150 orang pemuda Sumatera yang sedang belajar disekolah mencngah di Jakarta, padi tanggal 9 Desember 1917 mendirikan organisasinya sendiri yang diberi
nama "Yong Sumatrancn Bond” ~ UB se (Himpunan Pemuda Sumatera). | Kant By Organisasi pemuda-pemuda Su- « | or na matera ini dalam waktu singkat | LO aes.
berkembang dengan tiepat dan | mean
eo * & Py s s 4: eens 1
mempunyai cabang-cabangnya di | £” 5 Jakarta, Bogor, Serang, Sukabumi, Bandung, Purworedio, Pa- Moh. Yamin salah seorang Pendiri dang dan Bukit Tinggi. Sebagai Pon ANE
caban”-cabang yang utama ialah Jakarta dan Padang. Hingga tahun 1918 Yong Sumatranen Bond telah mempunyai anggota 500 pemuda.
Tujuan Yong Sumatranen Bond ini sebagaimana dinyatakan dalam Anggaran Dasarnya, adalah sbb.: 1. Mempererat ikatan antara pemudapemuda pelajar Sumatera, dan membangkitkan perasaan bahwa mereka dipanggil untuk menjadi pemimpin dan pendidik dari bangsanya:
2. Membangkitkan perhatian anggota-angotanya dan orang luaran untuk menghargai pakaian, kesenian, bahasa, kerajinan, pertanian dan sejarah Sumatera. Usaha yang dilakukan untuk mencapai tujuan ini antara lin ialah: a. menghilangkan perasaan prasangka ras dikalangan orang Sumatera $ b. memperkuat perasaan saling membantu 3 c. bersama mengangkat derajat rakyat Sumatera dengan jalan menggunakan alat propaganda-kursus, ceramah-ceramah dan lain-lainnya *.
Organisasi Yong Sumatrenen Bond juga memberi perhatian kepada kaum wanita. Sebagai hasil dari kegiatannya di Padang lahir suatu gerakan Wanita yang bertujuan untuk menanam pengertian dasar bagi kesehatan mendidik anak-anak dan diri sendiri, juga kewajiban sebagai ibu dan isteri, juga membangkitkan kesadaran dan perasaan keindahan dengan jalan ceramah-ceramah dan lain-lainnya.
Langkah yang praktis untuk menanamkan rasa cinta akan daerahnya adalah putusan untuk mengadakan Kongres pertamanya di Padang, yang
* Dari buku "De Nationalistiskhe Beweging in Nederlandskhe-Indie” Y. Th. Petrus Blumberger, bl 175.
=== [PDF page 39] ===
dilangsungkan dalam bulan Juli 1919. Walaupun demikian, pengurus besar organisasi ini tetap di Jakarta, tempat berkumpul sebagian besar pelajar-pelajar Sumatera. Pemimpin Yong Sumatranen Bond yang silih berganti, antara lain terdiri dari pemuda-pemuda Muhamad Hatta, A.K. Gani, Muhamad Yamin, dan lain-lainnya.
Seiring dengan pertumbuhan kesedaran nasional, maka organisasi pemuda Sumatera Yong Sumairanen Bond ini berganti nama menjadi Pemuda Sumatera. Pemuda Sumatera juga ambil bagian aktif dalam
kongres pemuda tahun 1928 dan kemudian meleburkan diri kedalam Indonesia Muda (1.M.).
GERAKAN PEMUDA DI MINANGKABAU
Kebangkitan nasional dikalangan pemuda bukan hanya tercermin dengan berdirinya Yong Sumatranen Bond, tetapi juga terwujud dengan timbulnya organisasi pemuda di Minangkabau sendiri. Sumatera Barat atau sebagai lazimnya juga disebut daerah Minangkabau, adalah salah satu daerah yang maju dipulau Sumatera. Didaerah ini, disamping terdapat sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah ko:onial Belanda yang sedikit jumlahnya, terdapat dua sekolah Islam yang modern, yaitu perguruan "Sumatra Thawalib” dan "Diniyyah School”, yang pertama dipimpin oleh Sekh Dr. Karim Amarulah dan Sekh A. Hamid Hakim, sedangkan yang kedua dipimpin oleh Zainudin Labai El Yunusy. Kedua perguruan ini bertempat di Padang Panjang, dan dikunjungi oleh pemuda-pemuda dari segala penjuru tanah air yang berminat belajar disekolah Islam.
Banyak tenaga pengajar dalam kedua perguruan ini terkenal progresif. Banyak pemimpin-pemimpin progresif pada waktu itu dilahirkan dari kedua perguruan ini, sehingga di kedua perguruan tersebut menjadi pusat gerakan progresif.
Kesadaran nasional yang bangkit dikalangan pemuda, dalam waktu yang singkat merangsang pula dikalangan pemuda pelajar dalam kedua perguruan itu. Pada tahun 1921, pelajar di Diniyyah School mengadakan pertemuan dan berhasil mendirikan suatu organisasi "Persatuan Muridmurid Diniyyah School”. Organisasi ini bertujuan: 1. mempersatukan murid-murid dan pelajar-pelajar Islam terutama dari Diniyyah School:
2. memajukan pelajaran agama Islam; 3. memberi bantuan dan tuntunan bagi anggota-anggotanya untuk lebih maju dalam pendidikannya: 4. memperhatikan keadaan sosial dari anggota-anggotanya.
39
=== [PDF page 40] ===
Pengurus organisasi ini silih berganti sesuai dengan perkembangan organisasi dan perjuangannya. Pertar a yang terpilih sebagai pengurus antara lain ialah: Jured Luthan sebagai ketua, Ayun Sabiran sebagai Sekretaris, Mu'az Mukhtar Yahya, H.N. Thaher sebagai komisaris.
Persatuan Murid Daniyyah School mempunyai majalahnya sendiri yang diberi nama ”Tunas Daniyyah” dibawah asuhan Dewan Redaksi Jured Luthan, Ayun Sabiran, dan Tajudin M.S. Pada tahun 1927 majalah ini mengubah namanya menjadi "SUARA MURID”.
Dalam tahun berikutnya pengurus P.M.D.S. berganti dan terdiri dari pemuda: M. Yatim Latif sebagai ketua, Jamaluddin Ibrahim sebagai Sekretaris, dan anggota pengurus lainnya Jamarin, Jamaluddin Basir, dan Darwissah.
P.M.D.S. ini sejak berdirinya sudah menjadi perhatian pemerintah kolonial Belanda, karena organisasi ini lahir sebagai cetusan ide progresif _ pada jamannya. Tidak jarang, guru dari Daniyyah School yang pada “ umumnya juga menjadi pengasuh organisasi pemuda itu, dipanggil oleh penguasa setempat untuk diminta keterangannya tentang organisasi itu.
Juga sekali peristiwa pernah terjadi bahwa dalam pertemuan dengan guru-guru Daniyyah School, asisten residen Padang Panjang mengemukakan bahwa segala keruwetan sebenarnya berpusat pada P.M.D.S. itu.
Tidak jarang penguasa setempat memberikan tekanan dan intimidasi terhadap P.M.D.S. Namun demikian, pemuda-pemuda itu dengan gigih melanjutkan kegiatan organisasinya.
P.M.D.S. adalah organisasi yang menghimpun pelajar-pelajar Pemuda dari rakyat yang luas yang belum terorganisasi. Seiring dengan meningkatnya kesadaran nasional dalam kalangan pemuda, maka sangat terasa perlu adanya organisasi pemuda yang dapat menghimpun pemudapemuda dari kalangan rakyat yang luas itu. Dan karena itu, maka kecuali organisasi pemuda P.M.D.S., pada tahun 1924 dengan berpusat di Padang Panjang juga berdiri suatu organisasi pemuda yang bersifat umum, yaitu "BARISAN MUDA”.|
Organisasi pemuda ini menghimpun semua pemuda dengan tidak membedakan pendidikan, dan kedudukan sosialnya. Dalam waktu yang sangat singkat sekali Barisan Muda meluas, baik keanggotaan maupun organisasinya.
Dalam salah satu pertemuan wakil Barisan Muda dari berbagai tempat di Sumatera Barat yang mengambil tempat di salah satu Sekolah Rakyat di Padang Panjang, telah disahkan berdirinya organisasi it"
40
=== [PDF page 41] ===
beserta Anggaran Dasar dan Rumah Tangganya. Pertemuan juga mcmilih pengurus Barisan Muda Sumatera Barat yang terdiri dari pemuda revolusioner ) Rustam sebagai ketua, Leon Salim sebagai Sekretaris, Moh. Thaib sebagai bendahara, Nazarudin, Or. Juncid, M. Dunoa, Bustami sebagai komisaris. |
Barisan Muda juga mempunyai majalahnya sendiri, dengan diberi nama ”SIGNAAL”. Sedangkan lagu-lagunya yang terkenal antara lain lagu revolusioner ”Ditimur Matahari Mulai Bercahaya”. Barisan Muda menghimpun banyak murid sekolah-sekolah yang didirikan oleh pemerintah kolonial Belanda, seperti H.I.S. (Hollandskhe Inlandskhe School), murid-murid sekolah rakyat yang menggunakan bahasa daerah, dan pelajar Sumatra Thawalib dan Daniyyah School. Juga surau dan langgar-langgar menjadi tempat berkumpul pemuda Islam yang menjadi anggota Barisan Muda. Pemimpin Barisan Muda ini juga kerapkali mengadakan pertemuan didesa-desa atau negeri. Pidato-pidato pemuda-pemuda yang baru berumur belasan tahun ini sangat menarik perhatian pendengar-pendengarnya yang tua-tua..
Dalam tahun 1925 organisasi Barisan Muda diubah menjadi organisasi kepanduan yang diberi nama: "INTERNATIONALE PADVINDERIY ORGANISATIE” atau disingkat (I. P. O.).
Dengan dirubahnya organisasi Barisan Muda menjadi organisasi kepanduan, maka pengurus-pengurusnya juga diubah sbb.: Amirkhan sebagai Ketua, Leon Salim sebagai Penulis, M. Yunus Kocek sebagai Bendahara, Jamaluddin Ibrahim, Nazarudin, Asasudin Kimin, Saidin Basyir sebagai Komisaris-komisaris.
Dengan berdirinya I.P.O. ini maka dimana-mana kelihatan anak-anak pandu dengan berkacu merah berlatih baris dan berolah raga, mengadakan rapat umum yang juga dihadiri oleh orang-orang tua. Pidato berapi-api yang penuh dengan semangat patriotisme muda ini meresap dihati orangorang tua. |
Pemuda yang menjadi anggota kepanduan I.P.O. ini juga mempunyai peranan yang besar dalam pemberontakan tahun 1927 yang meletus di Sumatera Barat. Pemuda-pemuda ini ikut serta membuat senjata, granat, menjadi penghubung dan lain-lain. Dengan pemberontakan ini banyak pemimpin-pemimpin pemuda baik dari Daniyyah School maupun dari I.P.O. ditangkap, dipenjarakan dan ada pula yang dibuang ke Digul.
Sedangkan ada juga yang menghindarkan diri dari penangkapan dengan perg' kelain daerah atau keluar negeri. Mereka yang masih tinggal tak menghentikan kegiatannya walaupun sementara waktu terpaksa tidak dapat dengan terang-terangan. i
41
=== [PDF page 42] ===
Dengan semangat pemuda yang patriotik pemuda yang tidak tertangkap berusaha untuk melanjuikan dan menghidupkan organisasinya.
Pada pertengahan tahun 1927, dengan bertempat diruangan sekolah Daniyyah School dijalan Pasar Usang, Padang Panjang, sebelas pemuda - mengadakan pertemuan dan mengadakan sumpah untuk meneruskan perjuangannya. Mereka ini ialah pemuda: M. Yunus Kocek, Leon Salim, Hasan Yunus, Zubir Adin, Hasannudin, Luthan Gani, Malik Nuh, Junaid Samad, Mahyudin Tarek, D. Damanhuri, dan Baheramsyah Tamin dan lain-lain.
Sebenarnya dalam pertemuan itu diundang 30 orang tetapi ternyata yang sanggup datang hanya 11 orang pemuda. Tetapi tekad mercka itu dalam waktu yang singkat diikuti oleh pemuda-pemuda yang lain. Mereka mengadakan kegiatan-kegiatan dalam olah raga, mengadakan pertemuanpertemuan untuk mendengarkan cerita-cerita kepahlawanan, mengadakan klub-klub musik, mengadakan taman bacaan dan lain-lain.
Dalam waktu kurang lebih tiga bulan usaha mereka ini telah meluas dan mulai membangkitkan daya juang dalam kalangan pemuda. Dalam waktu yang singkat P.M.D.S. berdiri lagi dibanyak sekolah Daniyyah School. Pada pertengahan tahun 1927 P.M.D.S. berhasil mengadakan kongresnya, yang memilih pengurus-pengurusnya baru yang terdiri dari:
Munis Rah'mv sebagai Ketua, Baheramsyah sebagai Sekretaris, Luthan Gani, Dhaniar Zainudin, Latif sebagai anggota pengurus.
Dalam melakukan kegiatan organisasi P.M.D.S. juga mengadakan kongres-kongres dalam tahun 1928, 1929 dsb.-nya. Pengurus-pengurusnya juga silih berganti dipilih oleh Kongres sesuai dengan perkembangan dan keadaannya..
PEMUDA INDONESIA
NEDERLAND
Sifat dinamis dari pemuda bukan hanya tercermin dari peristiwaperistiwa gerakan pemuda ditanah airnya sendiri, tetapi juga pada pemuda-pemuda yang diluar negeri. Pemuda Indonesia yang sedang belajar diluar negeri juga tak hendak ketinggalan dengan pemudapemuda yang berada ditanah airnya.
Seiring dengan berdirinya Budi Utomo, yang dipelopori oleh pemudapemuda pelajar STOVIA, juga pemuda-pemuda pelajar dinegeri Belanda yang mengikuti dan mengalami secara langsung perkembangan-
42
=== [PDF page 43] ===
Pendiri-pendiri Pemuda Indonesia di Nederland, Dari kiri kekanan: G. Mangunkusumo, Moh. Hatta, 1. Kusuma Sumantri, R. Sastro Mulyono dan R.M. Sartono.
pergerakan demokratis di Eropa, mendirikan organisasinya sendiri yaitu Indiskhe Vereeniging (Perhimpunan Hindia) pada tahun 1908. Pada tahun 1922, sesuai dengan perkembangan pergerakan ditanah air, namanya diubah menjadi Indonesiskhe Vereeniging, yang pada tahun.
1924 diubah menjadi Perhimpunan Indonesia atau disingkat dengan P.I.
Azas dan tujuan P.I. sebagaimana yang dinyatakan dalam ”Beginsel Verklaring” pada tahun 1925, yaitu suatu peraturan dasar yang telah mengalami beberapa kali perubahan, adalah sebagai berikut: 1. hanya dengan dirinya merasa sebagai orang Indonesia, dapat menyisihkan pertentangan grup, dapat mematahkan kekuasaan yang berkuasa: 2. tujuan bersama kemerdekaan Indonesia memerlukan adanya suatu kesadaran, berdasarkan kekuatannya sendiri mengadakan aksi massa yang bersifat nasional 3. ikut sertanya semua lapisan rakyat Indonesia kedalam perhimpunan perjuangan kemerdekaan ini adalah syarat yang sangat mutlak untuk mencapai tujuan itu 4. masalah yang menentukan dan yang terpokok dalam setiap masalah kenegaraan ialah pertentangan kepentingan antara yang berkuasa dan yang dikuasai. Kecenderungan politik dari yang berkuasa ialah mengaburkan dan menutupi masalah ini harus dijawab dari pihak yang dikuasai dengan mempertajam dan menekankan semua
43
=== [PDF page 44] ===
Digitized by Google
Kenang-kenangan anggota-anggota P.I. di Den Haag bulan Juni 1924
=== [PDF page 45] ===
pertentangan ini: 5. karena adanya pengaruh yang merusak dan demoralisasi dari yang berkuasa terhadap jiwa dan raga kehidupan Indonesia, perlu adanya usaha untuk menormalisasi perbandingan jiwa dan materiil ".
Dalam program kerjanya antara lain dinyatakan: a. lebih intensif mempropagandakan dasar organisasi, tak terkecuali di Indonesia; b.
membawa persoalan Indonesia kedalam gelanggang internasional, c.
membangkitkan perhatian anggota-anggotanya terhadap masalah-masalah internasional dengan jalan ceramah-ceramah, perjalanan belajar d. usaha keuangan untuk berbagai tujuan, dan lain-lain **.
Dalam usahanya untuk mempopulerkan perjuangan rakyat Indonesia digelanggang internasional, dan seraya itu juga menarik perhatian dan sokongan dari kekuatan progresif internasional, P.I. ambil bagian aktif dalam organisasi internasional. Ia menjadi anggota dari Liga Anti Kolonial (Pebruari 1927), dan juga mengirimkan utusan-utusan keberbagai sidang organisasi internasional yang progresif.
Pemimpin Perhimpunan Indonesia antara lain terdiri dari Iwa Kusuma Sumantri, L.B. Sitanala, Mohamad Hatta (pada tahun 1929 dipecat oleh P.I.), Mr. Sastromulyono, Sartono, Nasir Pamuncak, Ali Sastroamijoyo, D. Mangunkusumo, A.IL.Z. Mononutu, Surono, Moh.
Nasir, Amir, Moh. Yusuf, Abdulmajid, Maruto Darusman, Setiajit dan lain-lainnya. Mereka ini silih berganti memimpin P.I.
. Kemudian karena di Nederland juga timbul berbagai organisasi pelajar Indonesia lainnya, maka dibentuklah suatu badan yang dapat menyatukan mereka, yaitu Rukun Pelajar Indonesia, dengan disingkat — Rupi. Pemimpin-pemimpin Rupi antara lain ialah Sunito, Sujarwo Condronegoro, Maruto Darusman dan lain-lain.
Perhimpunan Indonesia mempunyai pengaruh yang besar dalam proses perkembangan gerakan nasional dan gerakan pemuda ditanah air Indonesia. Pengaruh P.I. ini antara lain tampak dalam hal penggunaan nama Indonesia, misalnya nama Perserikatan Komunis Hindia pada tahun 1920 diubah menjadi Partai Komunis Indonesia pada tahun 1924. Ia juga mendorong lebih matangnya kesadaran nasional rakyat Indonesia.
Dalam organisasi pemuda ia terutama mendorong pemuda-pemuda pelajar di Jakarta untuk mendirikan organisasinya sendiri.
“ Dari buku "De Nationalistiskhe Beweging in Nederlandskh-Indie” Y. Th. Petrus Blumberger, hl. 188.
idem, hl. 189.
45
=== [PDF page 46] ===
Utusan Pemuda-pemuda Indonesia dalam salah satu pertemuan internasional anti — fasis di Paris — al: Sujarwo Condronegoro dan Suripno
Ini disebabkan karena P.I. melakukan perjuangan yang ulet dalam menyebarkan ide-ide revolusioner, ide Indonesia Merdeka, dan dalam usaha merealisasi ide itu. Untuk menyebarkan ide-ide itu P.I. juga, menyelundupkan” majalah-majalah dengan melalui burua-buruh laut ke Indonesia. Mereka juga membantu perjuangan pelaut-pelaut Indonesia.
Pemuda-pemuda pelajar Indonesia diberbagai negeri lain, seperti di Mesir (Kairo), India (New Delhi), di Jepang (Tokio), di Amerika juga mendirikan organisasinya sendiri. Di Kairo organisasi mereka ini mula-mula dinamakan Jamiah Chairian yang dipimpin antara lain oleh Mochtar Luthfie, Abdul Kahar Muzakar, dan yang pada tahun 1927 berubah namanya menjadi Perkumpulan Pemuda Indonesia Malaya (Perpindom), di New Delhi namanya Persindom, di Mekah namanya Pertindom, di Bagdad namanya Makindom.
Pengaruh Perhimpunan Indonesia yang disebabkan sikap politiknya yang tegas menuntut Indonesia Merdeka, lepas dari negeri Belanda, sangat besar di Indonesia. Pelajar-pelajar ibukota Indonesia Jakarta yang waktu itu bernama Batavia, yang sadar akan tugas jamannya mengikuti
jejak Perhimpunan Indonesia. '
46
Digitized by Goog le
=== [PDF page 47] ===
Pada tahun 1925 sejumlah pemuda pelajar di Jakarta mendirikan semacam lingkaran, yang berkembang hingga pada tahun 1926 berbentuk organisasi dengan nama “Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (P. P. P.1.).
Azas dan tujuan P.P.P.I. sangat menyerupai azas dan tujuan P.I.
di Nederland ialah: Berdasarkan pertentangan kolonial dan bercita-cita mendidik anggotanya untuk menyadari kewajibannya kemudian dalam masyarakat, yaitu: ”Berjuang untuk kemerdekaan bangsa Indonesia Raya Merdeka”. P.P.P.I. mempunyai kegiatan yang besar dalam mempersatukan organisasi pemuda Indonesia. Ia adalah pengusul untuk menyatakan organisasi Pemuda dengan jalan fusi yang diterima oleh banyak organisasi pemuda yang besar di Indonesia.
Peranan memimpin dari P.P.P.I. ini karena umumnya anggota PPPI. juga menjadi anggota-anggota organisasi pemuda lainnya.
P.P.P.I. juga mempunyai peranan yang besar baik dalam kongres ke-II Pemuda-pemuda Indonesia, maupun kegiatan pemuda dalam tahun berikutnya.
YONG — ISLAMIETEN — BOND (Himpunan Pemuda Islam)
Dalam perkembangan organisasi pemuda pada tingkat pertama ini juga berlangsung proses penggolongan berdasarkan aliran agama. Pemuda yang beragama Islam yang semula bergabung dalam Yong Java merasa dirinya lebih tepat kalau mendirikan organisasinya sendiri. Pemisahan ini antara lain disebabkan karena usul Raden Sam, Ketua Yong Java pada waktu itu, untuk membagi anggota biasa menjadi dua golongan, seperti yang sudah diterangkan didepan, tidak diterima. Sementara dari pemuda-pemuda itu berusaha mendirikan organisasi yang berdasarkan kepercayaan agama Islam.
Dalam suatu ”manifes” yang dicdarkan pada tanggal 1 Januari 1925 di Jakarta, menyerukan kepada pemuda Islam untuk membentuk satu organisasinya sendiri yang berdasarkan agama Islam. Dalam manifest itu juga dinyatakan bahwa organisasi baru itu bertujuan untuk memperdalam pengetahuan agama Islam dan mengeratkan persatuan dikalangan kaum Muslimin. Juga dinyatakan bahwa yang diperkenankan menjadi anggota organisasi itu ialah pemuda-pemuda yang berumur 14-30 th.
Pada hari-hari pertama terbentuknya organisasi itu, sudah terdaftar 250 anggota di Jakarta. Dan tak lama kemudian juga didirikan bagian wanitanya dengan nama Yong-Islamietiskhe Meisyes Bond. Di daerah-
=== [PDF page 48] ===
daerah lain seperti di Solo, Yogya dan Madiun juga dilakukan propaganda untuk mendirikan organisasi ini. |
Tujuan Yong Islamieten Bond ini sebagaimana yang dinyatakan dalam Anggaran Dasarnya yang telah disahkan dalam Kongresnya yang pertama ialah: 1. mempelajari dan mendorong hidupnya kembali agama Islam; 2. memupuk dan menaikkan simpati terhadap pemeluk agama Islam dan pengikut-pengikutnya disamping kesabaran terhadap golongan lain: a. mengorganisasi kursus-kursus Islam, darma-wisata, sport dan dengan menggunakan alat agama Islam, 4. meningkatkan kemajuan jasmani dan rokhani anggota-anggotanya dengan jalan menahan diri sendiri dan sabar.
Untuk mencapai tujuan ini dilakukan berbagai usaha yang antara lain: a. mengorganisasi kursus-kursus Islam, darma-wisata, sport dan kesenian, b. mengadakan ceramah-ceramah dan perdebatan, mendirikan klub studi dan perdebatan c. menerbitkan majalah, buku dan brosur, mendirikan bibliotik dan lain-lain jalan. "
Yong Islamieten Bond melangsungkan Kongresnya yang pertama pada bulan Desember 1925 di Yogyakarta. Kongres ini masih menggunakan bahasa Belanda. Kongres ini juga dihadiri oleh tokoh-tokoh gerakan nasional, antara lain H.O.S. Cokroaminoto, Suryopranoto, Dwijosewoyo, Suwardi Suryaningrat, Haji Agus Salim, Haji Fahrudin dari Muhammadiyah, dan Mirza Wali Ahmad Beiy seorang propagandis gerakan Ahmadiyah.!
Raden Sam, Ketua Y.I.B. antara Jain menganjurkan agar dalam mempelajari agama Islam orang menggunakan intelek, dan harus mempelajarinya dengan kritis dan jangan menerima saja tanpa pengertian.
Organisasi ini tidak mencampuri politik praktis, tapi anggota?nya diperbolehkan ikut dalam gerakan politik, Y.I.B. sendiri berusaha me:
ningkatkan pengertian politik anggota-anggotanya.
Seiring dengan meningkatnya gerakan rakyat Indonesia, maka pengaruh Sosialisme juga merasuk kedalam kalangan kaum Islam. Kaum kolonialis Belanda berusaha keras untuk memecah persatuan masional rakyat Indonesia termasuk persatuan gerakan pemuda Indonesia. Dalam hubungan ini perlu disebut kongres Y.I.B. tahun 1926 dimana Haji Agus Salim memberikan ceramah tentang ” Islam dan Sosialisme”. Setelah kongres ini, hubungan antara Y.I.B. dengan organisasi pemuda lainnya makin kurang erat.|
“ Dari buku "De Nationalistiskhe Beweging in Nederlandskh-Indie” Y. Th. Petrus Blumberger, hl. 173.
48
=== [PDF page 49] ===
Yong Islamieten Bond tidak mendukung ide ikut fusi untuk mendirikan satu organisasi Pemuda Indonesia. Pemimpin-pemimpin Y.I.B. yang diputuskan oleh kongres tersebut antara lain terdiri dari Raden Sam, Wiwoho, dan lain-lainnya.:
Dengan berdirinya Yong Islamieten Bond ini mendorong pemudapemuda dari agama lain membentuk organisasinya sendiri-sendiri. Dalam tahun berikutnya berdirilah organisasi Pemuda Muhamadiyah, Pemuda Kristen, dan Pemuda Katholik, dan juga kemudian lahir organisasi Pemuda Muslimin yang didirikan pada tahun 1928.
BERBAGAI ORGANISASI PEMUDA LAINNYA.
Kelahiran Tri Koro Dharmo, bukan hanya mendorong pemuda dari suku Sumatera berorganisasi, tetapi juga menjadi perangsang dan pendorong pemuda-pemuda dari suku bangsa lain untuk segera mendirikan organisasinya sendiri.
Dikalangan pemuda-pemuda dari suku bangsa yang lain, terutama yang sedang belajar di Jawa, setelah mengetahui manfaatnya organisasi pemuda Tri Koro Dharmo dalam usaha mengeratkan persatuan antara pemuda-pemuda, maka tumbuhlah hasrat dan kesadaran untuk membentuk organisasinya sendiri. Pemuda dari suku Ambon, Minahasa dan Sulawesi segera berusaha terbentuknya organisasi mereka sendiri.
Tahun 1918 — 1919 adalah tahun kelahiran organisasi-organisasi mereka ini. Dalam tahun ini berdirilah organisasi pemuda Minahasa
“dengan nama ”Yong Minahasa”, organisasi Ambon dengan nama ” Yong Ambon” dan organisasi pemuda Sulawesi dengan nama ”Yong Celebes”, Juga dalam tahun berikutnya lahir organisasi pemuda dari suku Batak, dengan nama ”Yong Batak”.
Azas dan tujuan organisasi pemuda-pemuda ini umumnya sama dengan azas dan tujuan Tri Koro Dharmo (Yong Java) dan Yong Sumatranen Bond. Kekhususannya ialah, bahwa mereka menyatukan dan mengeratkan ikatan pemuda pelajar dari suku mereka masing-masing.
Organisasi pemuda ini umumnya berpusat di Jawa, karena di Jawalah pemuda-pemuda dari suku itu belajar disekolah menengah.
Ini tidak berarti bahwa pengaruh kegiatan organisasi mereka hanya di Jawa, tetapi sampai juga didaerah kelahiran mereka masing-masing, didaerah suku bangsa mereka. Hal ini terbukti dengan terbentuknya grup-grup pemuda yang maju diberbagai daerah yang mendukung ide-ide untuk mengeratkan persatuan, meningkatkan derajat kebudayaan dari pemuda-pemuda suku bangsa mereka masing-masing.
Sejarah Perjuangan 4. 49
=== [PDF page 50] ===
Dalam tahun 1920-an, juga berdiri sebuah organisasi pemuda dari suku Sunda yang berkedudukan di Jakarta — "Sekar Rukun”. Pada pokoknya azas dan tujuannya sama dengan organisasi pemuda yang telah ada lainnya.:
Di Jakarta, yang pada waktu itu terkenal juga dengan nama Batawi timbul organisasi Pemuda Batawi, yang dipimpin antara lain oleh pemuda Husni Thamrin. '
Kecuali itu, pada tahun 1920 juga ber.
diri organisasi pemuda dari golongan Kristen, yaitu Muda Kristen Jawi (M.K.D.). Muda Kristen Jawi ini menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa pengantar pergaulan, dan seiring dengan meningkatnya gerakan dan kesadaran nasional M.K.D. mengubah namanya menjadi Perkumpulan-perkumpulan Pemuda Kristen (P.P.P.K.) dan menggunakan bahasa Indonesia. Dalam kongresnya pada tahun-tahun setelah sumpah pemuda, juga menyanyikan lagu Indonesia Raya, hal Husni Thamrin salah seorang nana mendapat tentangan dari Zending
pendiri Pemuda Betawi Belanda.
Tumbuh dan perkembangan organisasi pemuda itu mempunyai peranan yang penting dalam meningkatkan kesadaran nasional dalam kalangan pemuda khususnya dan gerakan rakyat dikalangan suku bangsasuku bangsa di Indonesia. Karena dengan melalui merekalah ide persatuan, dan ide perjuangan kemerdekaan sampai pada rakyat, pemuda suku mereka masing-masing.
Organisasi pemuda ini didalam perkembangan selanjutnya juga mendukung ide terbentuknya satu organisasi pemuda Indonesia, dan akhirnya banyak diantaranya yang bersama-sama dengan Yong Java dan Yong Sumatranen Bond meleburkan diri kedalam Indonesia Muda.
HASRAT BERSATU DIKALANGAN BEMUDA
Segala sesuatu senantiasa mengalami perubahan dan perkembangan dari yang sederhana ke yang pelik, dari yang kurang sempurna menjadi sempurna dan lebih sempurna dsb. Demikianlah juga perkembangan organisasi pemuda di Indonesia.
Mula-mula berdiri organisasi pemuda nasional yang pertama 'Tri Koro Dharmo (Yong Java) kemudian disusul lahirnya berbagai organisasi
50
=== [PDF page 51] ===
pemuda dari berbagai sukubangsa, selanjutnya dengan didorong oleh makin meningkatnya perjuangan nasional rakyat Indonesia pada tahun 1920 keatas, maka tumbuhlah ide persatuan d.kalangan pemuda yaitu meningkatnya kesadaran perlu adanya satu organisasi pemuda.
Sebenarnya adanya satu organisasi pemuda bagi seluruh pemuda Indonesia sudah disadari jauh sejak tahun pertama didirikan Tri Koro Dharmo. Pendiri organisasi ini Dr. Satiman Wiryosanjoyo, pernah mengemukakan bahwa "perkumpulan Tri Koro Dharmo harus memakai sifat buat sementara, supaya dikemudian hari boleh dirubah menjadi suatu perkumpulan buat pemuda-pemuda Indonesia seumumnya”.
Tahun-tahun 1920 — 1926 — 1927 adalah terkenal sebagai tahun percobaan dan serangan pertama rakyat Indonesia terhadap imperialisme Belanda. Hal ini ditandai dengan makin serunya perlawanan yang terwujud dalam pemogokan-pemogokan buruh, pemberontakan tani, dan protes-protes dari berbagai golongan rakyat.
Sebagai akibat penindasan, tekanan, dan provokasi yang dilancarkan oleh pemerintah kolonial Belanda, maka meletuslah pemberontakan rakyat Indonesia pada bulan Nopember 1926 di Jawa, dan pada bulan Januari 1927 di Sumatera.
Meningkatnya perjuangan rakyat Indonesia ini sudah tentu mempunyai gema dan pengaruhnya terhadap organisasi pemuda Indonesia.
Bemuda Indonesia makin menjadi matang dalam politik dan organisasi, mereka mengemukakan tuntutannya makin terang yaitu Indonesia Merdeka. Dalam bidang organisasi mereka makin menyadari perlunya ada satu organisasi pemuda bagi seluruh pemuda Indonesia yang seazas agar makin dapat menyatukan kekuatannya guna mencapai cita-citanya.
Ide mempersatukan organisasi pemuda ini dilaksanakan dalam Kongres I Pemuda Indonesia pada tanggal 30 April 1926 s/d 2 Mei 1926 di Jakarta.
Kongres ini dihadiri oleh wakil-wakil dari organisasi-organisasi pemuda Yong Java, Yong Sumatra. Yong Ambon. Yong Minahasa. Yong Islamieten Bond, dan Yeugd-vereeniging van Theosofen (Himpunan Pemuda Teosofi)..
Kongres ini diselenggarakan oleh suatu komite yang dibentuk sebelumnya dan bertugas membentuk badan sentral yang bertujuan: a. memajukan faham persatuan kebangsaan, b. mengeratkan hubungan antara semua perkumpulan-perkumpulan pemuda kebangsaan. * Jalan untuk
“ Dari buku ”Sejarah Pergerakan Rakyat Indonesia”
Mr. A.K. Pringgodigdo, hl. 116.
51
=== [PDF page 52] ===
menyatukan organisasi pemuda dengan fusi ataukah federasi menjadi persoalan yang cukup menarik dan hangat.
Suatu usul dari Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia (P.P.P.I.)
yang menghendaki fusi antara semua organisasi pemuda menjadi satu organisasi yang bersifat penghimpunan massa muda Indonesia, mendapat sambutan dan diperdebatkan dengan hangat sekali. Namun demikian persoalan jalan penyatuan ini belum juga mendapatkan kebulatan.
Kongres ini juga mencerminkan makin matangnya kesadaran politik pemuda-pemuda. Pidato-pidato dan atau ceramah politik terdengar melantang. Seorang mahasiswa dari Sekolah Tinggi Hukum anggota F.P.P.I.
dalam ceramahnya memberikan lukisan tentang perkembangan gerakan rakyat Indonesia. Penceramah ini menekankan bahwa "orang tidak boleh hanya mempunyai perasaan Yong Java atau Yong Sumatra, tetapi harus mempunyai perasaan Indonesia Muda”. Penceramah-penceramah lain juga ada yang mengemukakan masalah emansipasi wanita, dan mengecam poligami. Dalam memperdebatkan masalah ini banyak pembicara yang mengecam pengekangan adat-istiadat kolot. Raden Ajeng Kartini oleh para pembicara mendapat penghargaan yang tinggi sebagai wanita pertama yang memelopori gerakan wanita modern.
Ceramah yang diadakan pada malam ketiganya membicarakan pentingnya bahasa Indonesia sebagai alat pembentuk persatuan Indonesia. Dalam ceramah yang mempersoalkan agama dalam gerakan nasional, pembicara menekankan pentingnya persatuan antara pemuda dari berbagai agama didalam perjuangan.
Walaupun dalam Kongres ini belum menghasilkan kebulatan tentang jalan menyatukan organisasi pemuda, namun Kongres telah memperkuat ide persatuan dikalangan pemuda dan lebih membuat matang pemuda Indonesia dalam perjuangan kemerdekaan nasional.
Usaha untuk menyatukan organisasi pemuda tidak berhenti dengan Kongres ini. Pertemuan-pertemuan pertukaran pikiran selalu diadakan untuk mendapatkan jalan yang sebaik-baiknya. Dalam usaha untuk mendapatkan jalan ini maka pada tanggal 15 Agustus 1926 diadakan pertemuan lagi. Yang hadir dalam pertemuan ini ialah wakil Yong Java, Yong Sumatra, Sekar Rukun, Yong Batak, Yong Minahasa, Verceniging voor Ambonskhe Studeerenden, Yong Islamieten Bond cabang Jakarta, dan Komite Kongres I Pemuda. Pertemuan ini bertempat di Gedung bioskop ”Java”. Yang dibicarakan dalam pertemuan ini ialah usul Yong Java untuk mengadakan badan federasi antara organisasi-organisasi pemuda.
Dengan gigih pemuda-pemuda berusaha terus untuk mendapatkan jalan mempersatukan diri. Pada tanggal 20 Pebruari 1927 di Jakarta
52
=== [PDF page 53] ===
pengurus besar organisasi pemuda Yong Java, Yong Sumatra, Sekar Rukun, Yong Batakse Bond, Yong Islamieten Bond, Yong Ambon, Yong Minahasa, Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, berkumpul lagi untuk membicarakan lagi ide penyatuan organisasi pemuda dengan fusi sebagaimana diajukan dalam rencana program kerja Yong Java. Pertemuan kali inipun belum mencapai kebulatan.
SUMPAH PEMUDA JAWABAN PATRIOTIK TERHADAP
KOLONIALISME BELANDA
Peristiwa-peristiwa yang terjadi ditanah air sekitar tahun-tahun 1927, 1928 dan mulai terasanya kemacatan ekonomi kapitalis yung makin menekan kehidupan rakyat Indonesia, mempunyai pengaruh yang besar dalam mempercepat kematangan kesadaran nasional dalam kalangan pemuda Indonesia. |
Pemberontakan nasional pada tahun 1926 — 1927 yang ditindas oleh pemerintah kolonial Belanda, memberikan kesan yang dalam pada hati para pemuda. Mereka makin menyadari siasat pemerintah kolonial Belanda untuk mengadu domba para pemuda, dan dengan demikian makin menyadari betapa penting arti persatuan dalam menghadapi lawan.
Kelahiran Perserikatan Nasional Indonesia pada bulan Juli 1927 sebagai penjelmaan dari Algemeene Studie Club, yang kemudian menjadi Partai Nasional Indonesia, mempunyai pengaruh yang penting pada gerakan pemuda. Demikian juga berdirinya kembali organisasi-organisasi kaum buruh dan bangkitnya kembali aksi-aksi pemogokan-pemogokan mempunyai pengaruh penting dan memberikan inspirasi serta keberanian kepada pemuda-pemuda. Sejumlah pemuda di Bandung, antara lain pemuda Sugiono (K.R.T. Yosodiningrat), dengan dibantu oleh Algemeene Studie Club, yang kemudian menjadi P.N.I., pada permulaan tahun 1927 mendirikan suatu organisasi pemuda — Yong Indonesia dan yang pada bulan Desember tahun itu juga, namanya dirubah menjadi Pemuda Indonesia.
Tujuan "Pemuda Indonesia” sebagaimana yang tercantum dalam anggaran dasarnya, ialah: ” memperluas dan memperkuat ide kesatuan Nasional Indonesia” “. P.I. berusaha mencapai tujuan ini dengan jalan: ”Kerja sama dengan organisasi pemuda: mendirikan organisasi kepanduan; melakukan usaha bersama sport 5 menerbitkan majalah
“* Dari buku "De Nationalistiskhe Beweging “in Nederlandskh Indie” Y. Th. Petrus Blumberger, hl. 393.
=== [PDF page 54] ===
dan tulisan-tulisan ) menyelenggarakan rapat-rapat dan lain-lain”?.
Organisasi ” Pemuda. Indonesia” juga meluas dan mempunyai cabangcabangnya di Yogya, Solo, Surabaya dan Jakarta.
Berdirinya "Pemuda Indonesia” lebih mempercepat penyatuan organisasi pemuda. Makin lebih matangnya kesadaran nasional dikalangan pemuda tercermin dalam pertemuan pengurus-pengurus organisasi organisasi pemuda pada tanggal 23 April 1927. Pertemuan ini dihadiri oleh pengurus Yong Sumatranen Bond, Yong Batak, Yong Ambon, Yong Minahasa, Yong Indonesia, Yong Java dan Perhimpunan Pelajar- Pelajar Indonesia. Pertemuan ini membahas persoalan-persoalan yang diajukan Yong Java dalam pertemuan tanggal 20 Pebruari 1927 yang belum mendapatkan kebulatan. Walaupun dalam pertemuan ini masih juga belum tercapai kebulatan yang penuh tentang jalan penyatuan, namun hasil pertemuan ini sudah lebih maju, dan dapat meletakkan dasar-dasar untuk melancarkan usaha selanjutnya.
Keputusan-keputusan ini yang terpenting, antara lain ialah: a. Indonesia Merdeka narus menjadi ideal segala anak Indonesia: b. Segala perserikatan pemuda harus berdaya upaya menuju mempersatukan diri dalam satu perkumpulan “#.
Tahun-tahun sejak berdirinya P.N.I. adalah merupakan tahun kebangunan kembali kegiatan gerakan nasional sejak pemberontakan tahun 1926 — 1927 ditindas oleh pemerintah kolonial Belanda. Tekad pemuda-pemuda untuk lebih menyatukan diri dalam perlawanan guna menghadapi kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, dan untuk mencapai Indonesia Merdeka makin menjadi kuat. Untuk menyatukan kebulatan tekad atas inisiatif Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, pemudapemuda Indonesia mengadakan Kongresnya ke II yang dilangsungkan pada tanggal 26 — 28 Oktober 1928 di Jakarta.
Kongres ini dihadiri oleh wakil-wakil dari organisasi pemuda:
Perhimpunan Pelajar-Pelajar Indonesia, Pemuda Sumatra, Pemuda Indonesia, Yong Batakse Bond, Sekar Rukun, Pemuda Kaum Batawi, Yong Islamieten Bond, Yong Java, Yong Ambon, Yong Celebes, dan lain-lainnya.
Utusan kongres ini datang dari berbagai pelosok tanah air. Pemimpin pemuda yang ikut mempelopori Kongres Pemuda ini adalah antara lain:
Rusmali, Yusupadi, Mokoginta, Moh. Yamin, A.K. Gani, Sudiman, Moh.
* Dari buku "De Nationalistiskhe Beweging in Nederlandskh Indie” Y. Th. Petrus Blumberger, hl. 393.
** Dari buku ”Gedenbuk” Yong Java, hl. 325.
54
=== [PDF page 55] ===
Tamsil, Mr. Wongsonegoro, sedangkan yang menjadi sekretaris kongres ialah Kaca Sungkono.
Kongres yang dipimpin oleh Sugandi, ketua P.P.P.I. mempersoalkan acara pokok yaitu: Masalah persatuan dalam organisasi Pemuda.
Para peserta kongres dengan hangat memperdebatkan masalah itu sesuai dengan semangat pemuda, tetapi juga dengan penuh toleransi, yang menunjukkan bahwa semangat persatuan menjiway seluruh jalannya kongres. Ide-ide untuk mencapai Indonesia Merdeka, mengusir kolonialisme Belanda dengan menggunakan
(massa aksi revolusioner mempunyai pengaruh besar yang menentukan dalam kongres ini.
Sebagai pernyataan diterima ideide itu, pada sidangnya yang terakhir
Wage Rudolf Supratman yaitu pada tanggal 28 Oktober 1928.
Peniypta' Lagu Ingonena Raya dengan penuh kesungguhan dan kekhidmatan pemuda-pemuda itu menyatakan sumpahnya bahwa mereka berbangsa satu, bertanah air satu dan berbahasa satu, yang lengkapnya berbunyi sebagai berikut:
— Kita putera dan puteri Indonesia mengaku berbangsa satu, bangsa Indonesia
— Kita putera dan puteri Indonesia mengaku bertanah air satu, tumpah darah Indonesia |
— Kita putera dan puteri Indonesia berbahasa satu, bahasa Indonesia.
Sebagai pernyataan akan kebangggaan pemuda-pemuda sebagai patriot muda yang bertanggung jawab untuk memulyakan nusa dan bangsa, dalam kongres itu dinyanyikan untuk pertama kali dimuka umum ”Lagu Indonesia Raya” yang selanjutnya menjadi lagu kebangsaan dan dikibarkan bendera Sang Merah Putih. Adapun naskah asli lagu Indonesia Raya itu adalah sbb.:
55
=== [PDF page 56] ===
Ja di pandu i bu ku. In do
aku ber di ri
ne sia ke bang sa an ku, Bang sa dan ta nah a irku Ba ri
dup
In do ne sia bersa tu. Hi
lah ki ta ber se ru:
u,ra'yat ku sem
lah ta nahku! Hi dup lah ne gri ku! Bang sa }
wa-nya! Ba ngun lah ji we nyal Ba ngun lah ba dan nya Un tuk
In donesia Ra ya! Indo nesia Ra ya Mer Ce ka, Mer de kaiTa neh
ka, Kor de ka! HI Gup lah In do ne sia Ra ya!
=== [PDF page 57] ===
Indonesia Raya
Indonesia, tanah airkoc.
Tanah tumpah darahku
Disanalah aku berdiri,
'Menjadi Pandu Ibuku,
Indonesia kebangsaanku
Kebangsaan tanah airku,
Marilah kita berseru,
Indonesia bersatu,
Hiduplah tanahku,
Hiduplah negeriku,
Bangsaku jiwaku, semua.
Bangunlah Rakyatnya,
Bangunlah badannya,
Untuk Indonesia Raya
Penutup.
Indonesia, Indonesia,
Mulya, mulya,
Tanahku, negriku yang kucinta, Indonesia, Indonesia,
Mulya, mulya,
Hiduplah Indonesia Raya.
Lagu kebangsaan ”Indonesia Raya” ini diciptakan oleh seorang komponis muda Wage Rudoif Supratman, yang ketika itu baru mencapai umur 25 tahun. Lagu ini diciptakannya berdasarkan inspirasi lagu-lagu revolusioner yaitu lagu Marseillaise — Lagu Kebangsaan Perancis, dan lagu Internasionale, lagu klas buruh internasional, suatu lagu yang juga menjiwai pemberontakan rakyat Indonesia tahun 1926. Dengan menggunakan daya cipta revolusioner yang tinggi pemuda Supratman telah menciptakan lagu yang menjiwai gerakan kemerdekaan nasional rakyat Indonesia.
57
=== [PDF page 58] ===
Dengan Sumpah Pemuda, dan lagu Kebangsaan Indonesia Raya ini gerakan pemuda, gerakan nasional mendapatkan sumber inspirasi juang yang tak kunjung kering dan memberikan suatu gairah kehidupan juang yang baru.
Kebulatan tekad rakyat dan pemuda Indonesia sebagai bangsa
Indonesia yang berjuang untuk mencapai kemerdekaan nasional dinya- '
takan dan diakui resmi dengan kekuatan kongres.
Kebulatan tekad pemuda Indonesia sebagai generasi muda dari bangsa Indonesia yang berjuang melawan kekuasaan kolonial Belanda, pemuda-pemuda Indonesia telah memberikan jawaban yang tepat, jawaban yang patriotik, ialah kebulatan dalam organisasi dan kebulatan tekad serta tindakan. Kejadian ini merupakan suatu peristiwa sejarah yang menandakan dan menunjukkan suatu taraf baru dalam gerakan pemuda, karena dengan itu Pemuda Indonesia mempunyai suatu pegangan yang sama didalam perjuangan, serta memiliki suatu senjata baru yaitu panji persatuan dan persekutuan itu sendiri.
58
=== [PDF page 59] ===
PERIODE — II
MENINGKATNYA KESADARAN
NASIONAL
DARI
PEMUDA
=== [PDF page 60] ===
[Blank page]
=== [PDF page 61] ===
JAMAN ”MELESET”, PASANG DAN KONSOLIDASI
PERJUANGAN RAKYAT INDONESIA
Sifat, watak dan bentuk gerakan Pemuda dalam periode ini tak
dapat “dilepaskan dari syarat jamannya, yaitu syarat ekonomi, politik dan keadaan internasional. Krisis ekonomi yang terjadi pada tahun 1929 — 1932 adalah suatu krisis ekonomi yang berat yang pernah terjadi pada jaman imperialis sebelum perang dunia ke-II. Indonesia sebagai suatu negeri jajahan imperialis yang fungsi pokoknya untuk memperoleh bahan-bahan mentah, gejala krisis sudah terasa pada tahuntahun menjelang terjadinya krisis itu sendiri. Pasar bahan-bahan mentah yang dihasilkan di Indonesia makin kendor. Kelebihan produksi @pabrik-pabrik negeri-negeri kapitalis tak terjual karena rendahnya.
daya beli rakyat-rakyatnya. Perusahaan kapitalis menopoli Belanda mulai mengurangi produksinya dan menekan kehidupan kaum buruhnya.
Kehidupan rakyat makin tertekan dan makin buruk.
Tekanan terhadap kehidupan rakyat yang makin bertambah buruk, pemecatan yang sewenang-wenang, pengangguran yang meluas terjadi terus dalam masa krisis itu sendiri. Ekonomi menjadi macet, dan malapetaka yang hebat menimpa rakyat Indonesia. Kelaparan dan penyakit busung lapar mengamuk dan menuntut banyak korban dari penduduk. Kaum tani banyak yang makan bonggol pisang. Tahun-tahun sesudah jaman ”Meleset” ini lewat, tak juga merupakan tahun yang dapat memberi harapan bagi rakyat Indonesia. Perusahaan kapitalis Belanda tak juga mampu berjalan menurut kapasitetnya semula, dan karenanya pengangguran tak juga berkurang. Ekonomi kapitalis tak mampu bangun kembali seperti sebelum terjadi krisis itu, bahkan baru ‘aja akan bangun sudah mulai ditimpa krisis lagi pada tahun 1937.
Negeri-negeri kapitalis dalam menghadapi kesulitan ekonomi dan sosial ni memilih jalan untuk mendirikan kekuasaan fasis dan petualangan perang untuk mengatasinya. Negeri-negeri kapitalis mempersiapkan perang, dan pada tahun 1939 mulailah meletus perang sebagai permulaan perang dunia ke-II.
Rakyat Indonesia, termasuk pemudanya dalam menghadapi keadaan tkonomi yang makin memburuk, makin sadar bahwa semuanya ini adalah akibat dari sistim kolonial, akibat Indonesia sebagai tanah jajahan.
61
=== [PDF page 62] ===
Walaupun pemerintah kolonial baru saja mengamuk menindas pemberontakan rakyat 1926/1927, namun hal ini tak membuat rakyat takut. P.N.I. berdiri untuk melanjutkan perjuangan revelusioner, kata Ir. Sukarno. P. N. I. dengan giat melakukan kegiatan mempropagandakan tujuan perjuangan rakyat Indonesia untuk mencapai Indonesia Merdeka sekarang juga, lepas dari negeri Belanda. Propaganda P.N.I.
yang mencerminkan tuntutan dan hasrat rakyat Indonesia memainkan peranan untuk memobilisasi, mengorganisasi dan mempersatukan rakyat Indonesia yang hendak berlawan.
Rapat umum yang diselenggarakan P.N. I. selalu mendapatkan kunjungan rakyat yang berjejal-jejal. Rakyat Indonesia menyambut pidato Ir. Sukarno dengan tepuk tangan dan teriakan yang riuh sekali, pertanda persetujuan dan kesanggupan mereka mendukung ide perjuangan untuk mencapai Indonesia Merdeka, dengan segala akibat?nya.
Pemerintah kolonial Belanda sangat ketakutan terhadap kegiatan P.N.I. yang mendapat sambutan dan diikuti rakyat ini. Apalagi dengan terjadi krisis ekonomi maka propaganda revolusioner P.N.I. itu makin mendapat sambutan lebih hangat dari rakyat. Pada tanggal 29 Desember 1929 pemerintah kolonial Belanda melakukan penangkapan-penangkapan terhadap pimpinan P.N.I. dan pada tanggal 18 Agustus 1930 mereka dihadapkan didepan pengadilan di Bandung. Didepan pengadilan ini Ir. Sukarno melakukan pembelaan yang gigih terhadap P.N.I., terhadap dirinya dan kawan-kawannya yang dituduh ”mengacaukan ketertiban umum” oleh pemerintah kolonial Belanda. Pidato pembelaan didepan pengadilan ini terkenal dengan nama “Indonesia Menggugat”. Dengan pidato pembelaan ini Ir. Sukarno dari seorang tertuduh menjadi seorang penuduh terhadap semua kejahatan, penindasan yang dilakukan oleh kaum kapitalis monopoli. Namun demikian, karena pengadilan adalah alat kekuasaan pemerintah kolonial Belanda, maka beliau dijatuhi hukuman penjara 4 tahun. Pidato pembelaan ini makin merangsang daya juang rakyat Indonesia, pemuda Indonesia.
P.N.I. oleh pemimpin-pemimpin yang tidak ditangkap dibubarkan pada permulaan bulan April 1931. Tetapi sebulan kemudian, yaitu pada tanggal 30 April 1931, oleh bekas pemimpin P.N.I. yang maju, didirikan organisasi baru ”Partai Indonesia” dengan disingkat Partindo. Sayap konservatif bekas anggota P.N.I. kemudian mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia dengan disingkat P.N.I.
Tahun 1933 adalah tahun ledakan yang menggetarkan syaraf kaum kolonial Belanda, karena tahun ini penuh dengan pemberontakan-pemberontakan. Sebagai akibat beban pajak yang berat dan tindakan se.
62 '
=== [PDF page 63] ===
wenang-wenang dari alat kekuasaan pemerintah kolonial Belanda maka kaum tani diberbagai tempat mengadakan pemberoniakan. Juga akibat dari politik menekan kehidupan kaum buruh dengan menurunkan upahnya maka terjadilah demonstrasi-demonstrasi dan pemogokan-pemogokan.
Salah satu tindakan aksi yang bersih yalah pemberontakan anak-buah kapal perang Belanda "Zeven Provinsien”, atau ' Kapal Tujuh”. Dalam pemberontakan ini kelasi Indonesia dan Belanda bersama merebut kekuasaan dan menawan semua opsir Belanda. Pemberontakan d'tindas dengan kekerasan dan kelasi-kelasi itu dijatuhi hukuman berat. Namun demikian pemberontakan ini memberikan semangat perlawanan rakyat Indonesia.
Sementara itu, Ir. Sukarno, yang telah selesai menjalani hukumanaya keluar dari penjara, memilih Partindo sebagai tem»atnya, dan melakukan kegiatan mempropagandakan Indonesia Merdeka. Karena ketakutan Belanda terhadap pemimpin rakyat ini maka pada tahun 1934 diadakan lagi penangkapan terhadap pemimpin Partindo dan Pendidikan Nasional Indonesia. Ir. Sukarno ditangkap lagi dan dibuang ke Endeh- Tak lama setelah terjadinya peristiwa imi Musso, salah seorang pemimpin P.K.I. yang pernah meninggalkan Indonesia, dengan menyamar kembali ketamah airnya. Musso bersama dengan teman-temannya menyusun organisasi P.K.I. kembali untuk memimpin perjuangan rakiat Indonesia. Tetapi pemerintah kolonial Belanda yang sangat ketakutan terhadap perlawanan rakyat Indonesia itu, selalu memasang cetiungukcecunguk dan P.I.D.-nya untuk mengetahui gerakan rakyat dibawah tanah. Jejak Musso telah tercium oleh Belanda, dan karena itu Musso meninggalkan Indonesia lagi.
Pemimpin P.K.I. pada tahun 1937 ditangkap dan dibuang ke Digul.
tetapi mereka yang tidak tertangkap meneruskan perjuangannya.
Sebenarnya jauh sebelum ini pemimpin gerakan rakyat Indonesia, telah melihat adanya bahaya fasisme sedang mengancam membakar dunia.
Di Asia bahaya fasisme Jepang mengancam rakyat Asia. Hal ini terbukti dalam suatu polemik antara Ir. Sukarno dengan Drs. Mohamad Hatta, tentang "Barang murah”. Ir. Sukarno dalam surat kabar ”Fikiran Rakiat”.
1933 menulis: '”...., Awaslah, awas bahwa barang-barang itu adalah barangnya stelsel yang sebenarnya musuh kamu, barangnya stelsel syaitan yang didalam hakekatnya tiada maksud lain melainkan mengeksploitasi tiap-tiap tenaga yang kini masih ada dalam bahumu dan tubuhmu. Awaslah, awas didalam bathin kamu, didalam politik kamu, didalam aksi kamu, imperialisme Twente dan imperialisme Japan harus tetap kamu persyaitankan, tetap kamu kutuk!”.
63
=== [PDF page 64] ===
Awaslah, awas, sekarang barang Japan itu murah, sekarang barangbarang Japan itu seakan-akan meringankan nasibmu, tetapi nanti, kalau imperialisme Japan itu sudah menang, persaingannya dengan imperialisme Belanda, nanti kalau ia sudah menggagahi sendiri seluruh pasar dibenua Timur ini, nanti kalau tidak ada konkurensi lagi dari barat, nanti ia menaikkan harga barang-barangnya itu, mereka naikkan harga barangbarangnya itu memberatkan nasibmu sampai kepada dasar-dasarnya kamu punya kantong dan dasar-dasarnya kamu punya bakul nasi.
2... Ingatlah selamanya, bahwa ”rachmat” itu adalah ”rakhmatnya” stelsel belorong yang bathinnya berisi racun bagi kelas proletar dan Marhaen semuanya”..
Juga dalam surat kabar Partai Indonesia (Partindo) Indonesia Berjuang” pada tahun 1935 kita jumpai suatu artikel yang ditulis dengan nama samaran Ganda yang mencanangkan bahaya agresi Jepang.
Artikel itu berjudul ” Politik Harakiri Jepang”.
Dalam menghadapi suatu keadaan baru ini dan untuk melanjutkan perjuangan mencapai Indonesia Merdeka, rakyat Indonesia mendirikan suatu organisasi yang baru — Gerakan Rakyat Indonesia, dengan disingkat Gerindo pada tanggal 24 Februari 1937. Organisasi ini antara lain dipimpin oleh Mr. Sartono, A.K. Gani, Mr. Amir Syarifuddin dan lain-lainnya.
Dalam perkembangan perjuangannya Gerindo mengajukan serentetan politik anti fasis.
Dalam menggalang: persatuan nasional untuk menghadapi bahaya agresi fasis gerakan nasional mempersatukan kekuatannya. Untuk menggalang kekuatan ini pada tahun 1939 didirikan Gabungan Politik Indonesia dengan disingkat G.A.P.I. dan dilangsungkan Kongres Rakyat Indonesia. Baik tuntutan G.A.P.I. maupun Kongres Rakyat pada pokoknya berarti: Indonesia Parlemen Penuh, dibentuknya pemerintah yang bertanggung jawab kepada Parlemen, Milisi.
Rakyat Indonesia menyadari bahwa tuntutan ini adalah tuntutan yang lebih lunak dari pada Indonesia Merdeka sekarang juga, karena ia adalah suatu tuntutan yang bersifat demokratis untuk menghadapi bahaya agresi fasis yang mengancam rakyat Indonesia dan harus dilawan bersama-sama.
PEMUDA INDONESIA BERUSAHA MEREALISASI
IDE PERSATUAN PEMUDA.
Dengan berhasilnya Kongres ke II Pemuda-pemuda Indonesia yang
* Dari buku ”Di Bawah Bendera Revolusi”
Ir. Sukarno, hl. 242 — 243.—
64.
=== [PDF page 65] ===
Digitized by Goog le
Sejarah Perjuangan
65
R. Sudiman,
RM. Yusupadi Danuhadiningrat.
Komisi Besar Indonesia Muda (I.M). Dari kiri kekanan: (berdiri) Adnan Gani, Asaat, Krung Raba Nasution, Moh. Tamzil, (duduk) Mr. RT. Wongsonegoro, Moh. Yamin, R.M. Purbopranoto (ketua),
=== [PDF page 66] ===
melahirkan sumpah pemuda dan Lagu Kebangsaan Indonesia Raya, maka
pemuda Indonesia mempunyai pegangan dan landasan yang sama dan kuat dalam perjuangannya. Usaha merealisasi ide persatuan lebih dipermudah dengan adanya landasan idiil yang sama itu. Usaha untuk menyatukan organisasi pemuda dengan sungguh-sungguh dilaksanakan setelah Kongres ke II ini. Dalami Kongres ke II Pemuda Indonesia yang dilangsungkan pada tanggal 24—28 Desember 1928 di Jakarta masalah jalan ”fusi” atau ”federasi” diajukan sebagai salah satu masalah yang utama.
Setelah mengalami perdebatan yang hangat, jalan fusi diterima dengan perbandingan suara 5 lawan 2 dari 7 cabang-cabangnya yang menghadiri kongres.
Dalam Kongres Pemuda Indonesia ini juga Cokroaminoto dan Ir. Sukarno memberikan wejangannya. Dalam wejangan itu Cokroaminoto menekankan perlunya ada organisasi pemuda yang satu, sedangkan Ir. Sukarno dalam pidato wejangannya antara lain mengutarakan tugas wanita terhadap tanah airnya. Salah seorang pembicara lainnya menekankan pentingnya persatuan wanita Indonesia. Kongres ditutup dengan pertunjukan tonil dan menyanyikan bersama-sama lagu Indonesia Raya.
Sementara itu Yong Java dalam Kongresnya ke XI yang diadakan pada tanggal 15—31 Desember 1928 di Yogyakarta telah menerima jalan untuk menyatukan organisasi pemuda dengan fusi. Putusan ini juga dikawatkan kepada kongres Pemuda Indonesia. Dengan diterimanya prinsip ini oleh Yong Java sebagai salah satu organisasi pemuda yang terbesar dan berpengaruh pada waktu itu, mempercepat dan melancarkan jalannya usaha untuk mempersatukan organisasi pemuda.
Jejak untuk menempuh jalan fusi segera juga diikuti oleh Pemuda Sumatra dalam putusannya pada pertengahan bulan Pebruari 1929 dan kemudian oleh Yong Celebes. Dengan demikian maka jalan kepersatuan organisasi pemuda sudah dilempangkan, dan saat kelahiran organisasi yang satu tinggal menanti harinya. Karena prinsip fusi sudah diterima oleh 4 organisasi pemuda, maka soalnya tinggal pelaksanaan fusi itu. Untuk ini pada tanggal 23 April 1929, wakil organisasi pemuda Yong Java, Pemuda Sumatra, Pemuda Indonesia mengadakan pertemuan di Jakarta. Pertemuan itu juga mereka namakan Sidang fusi yang pertama.
Sidang fusi dengan suara bulat menyetujui untuk membentuk Komisi Besar. Tugas Komisi Besar ini ialah melaksanakan fusi diantara organisasi pemuda. Disamping Komisi Besar juga dibentuk Komisi Kecil yang bertugas untuk menyusun Anggaran Dasar dan Rumah Tangga organisasi baru yang akan lahir itu. Organisasi baru itu dinamakan “Indonesia Muda”. Kedua Komisi telah menyelesaikan tugasnya pada bulan Oktober
66
=== [PDF page 67] ===
1929. Soalnya tinggal menyelenggarakan kongres persatuan, yang juga akan mengesahkan organisasi pemuda yang baru beserta Anggaran Dasarnya.
Sementara ini, yaitu pada bulan Desember 1929, Yong Java melangsungkan kongresnya yang terakhir di Semarang. Dalam Kongresnya ini telah disetujui pembubaran organisasi Yong Java dan penyerahan cabangcabangnya pada Komisi Besar "Indonesia Muda”.
Saat terakhir usia organisasi-organisasi pemuda yang hendak meleburkan diri, yang berarti juga saat-saat menjelang kelahiran organisasi pemuda yang baru adalah penuh kesibukan bagi pemuda-pemuda.
Pemuda-pemuda didalam hatinya berdebar-debar, tetapi yang penuh dengan keyakinan dan harapan, bekerja keras untuk menyongsong kelahiran organisasi baru, suatu organisasi yang diharapkan sanggup menjadi penyatu semua pemuda Indonesia yang berjuang untuk mencapai cita-citanya yang luhur, Indonesia Merdeka yang demokratis, adil dan makmur.
INDONESIA MUDA (I. M.) SIMBUL
KEMENANGAN PERSATUAN
Setelah melalui perjuangan yang agak lama, jalan menyatukan organisasi-organisasi pemuda dengan fusi akhirnya mendapatkan kemenangan. Pembubaran organisasi-organisasi pemuda: Pemuda Indonesia, Yong Java, Pemuda Sumatra berlangsung pada tahun 1929 — 1930, dengan mengadakan kongres-kongres pembubaran.
Dalam pembubaran ini Yong Java menyerahkan cabang-cabangnya kepada Komisi Besar dengan cara yang simbolis, yaitu dengan tanda penyerahan sebuah keris dilampiri kain hijau yang dironce dengan bunga melati.
Pada tahun 1930 lahirlah organisasi persatuan dari pemuda-pemuda Indonesia — Indonesia Muda. Juga pada tahun itu Yong Celebes (Pemuda Sulawesi) dan Sekar Rukun meleburkan diri kedalam Indonesia Muda.
Setelah usaha peleburan ini selesai, Indonesia Muda mengadakan kongresnya yang pertama pada tanggal 20 Desember 1930 sampai tanggal 2 Januari 1931 bertempat digedung Habiproyo, Solo. Kongres ini dipimpin oleh “Komisi Besar” sebagai pengurus sementara ” Indonesia Muda”. Komisi ini dipimpin oleh Kuncoro Purbopranoto yang membuka kongres dengan pidato "Arti Gerakan Pemuda di Indonesia”. Dalam pidatonya ini Kuncoro Purbopranoto menerangkan bahwa gerakan
67
=== [PDF page 68] ===
eo Pemuda adalah gejala yang menupakan produk baru dalam jaman modern ini, Dalam gerakan pemuda terdapatlah masalah-masalah kesatuan, nasionalisme, dan kebudayaan. Indonesia adalah satu negeri, satu bangsa, satu sejarah sejak dahulu kala. Tiga dasar inilah, menurut Kuncoro sebagai dasar dari lahirnya Indonesia Muda, *.’
Pemuda Moh. Yamin memberikan laporannya tentang Anggaran Dasar sebagai hasil dari Komisi Kecil. Pembicara ini juga menerangkan bahwa kekuatan dari idee nasional terletak Sukarni salah seorang kesatuan tanah air, rakyat dan bahasa. Moh.
bekas ketua Indonesia Yamin memberikan tekanan pada suatu azas
Muda (1.M.) bahwa organisasi itu tidak boleh ikut serta dalam politik, sedangkan anggota-anggotanya tidak diperkenankan ikut serta dalam politik.
Setelah mengalami diskusi yang lama, maka Anggaran Dasar dan Azas "Indonesia Muda” ditetapkan sebagai berikut: a). Tujuan organisasi ini ialah: memperkuat perasaan persatuan diantara pemudapemuda pelajar Indonesia, membangkitkan dan membangunkan kesadaran mereka bahwa mereka dari satu rakyat dan tanah air dan akhirnya sampai ke Indonesia Raya, bb). Kecuali mereka mengakui dan meningkatkan kebudayaan dari grup-grup khusus penduduk Indonesia, baik jiwa dan raga, organisasi akan berusaha untuk meningkatkan kebudayaan kesatuan, serta membiasakan diri menggunakan bahasa kesatuan, bahasa Indonesia 5 c). Organisasi ini akan berusaha untuk mencapai tujuan dengan jalan: 1. membangkitkan kesadaran dan memperkuat perasaan menghargai satu sama lain, persatuan diantara semua anak-anak Indonesia, memperkuat kerja sama dengan organisasi pemuda Indonesia yang lain dan organisasi-organisasi pemuda yang dasarnya tidak bertentangan dengan "Indonesia Muda”, 2. menerbitkan organ dan tulisan-tulisan lainnya ) 3. mengadakan rapat-rapat dan kursus-kursus, terutama untuk memperluas bahasa Indonesia, untuk memberantas buta huruf: 4. mengorganisasi sport dan lain-lain:
5. membangkitkan perhatian terhadap negeri dan rakyat Indonesia oleh orang asing 3 6. semua jalan yang tidak dilarang oleh undang-undang;
* Lihat buku ”De Nationalistiskhe Beweging in Nederlandskh Indie” Y. Th. Petrus Blumberger, hl. 410.
68
=== [PDF page 69] ===
d). Organisasi ini tidak ikut campur dalam politik, anggota-anggotanya dilarang ikut campur dalam politik “€. Semboyan Indonesia Muda ialah:
satu Tanah air, satu Bangsa, dan satu Bahasa.
Dalam kongres ini juga berbicara Mr. R.T. Wongsonegoro yang menjelaskan tentang "Arti dari Kesatuan Indonesia Dilihat Dari Segi Peradaban”. Dalam akhir katanya, dia mengharapkan agar dengan melalui "Indonesia Muda” Indonesia Raya yang ideal dapat dicapai.
Pada malam berikutnya diadakan sidang khusus mengenai ”Keputrian Indonesia Muda” sebagai bagian dari Indonesia Muda. Keputrian Indonesia Muda ini terdiri dari 17 cabang, antara lain 2 cabang diluar Jawa yaitu di Padang dan Palembang. Pemimpin dari Keputrian Indonesia Muda ini ialah Ny. Abdulrakhman. Dalam membuka rapat “Keputrian Indonesia Muda” Ny. Abdulrakhman menjelaskan tentang gerakan emansipasi wanita dilihat dari berbagai pandangan. Juga pernah memimpin,,Keputrian Indonesia Muda.” Suharya, Sudaseni dll.
Pada malam terakhir tahun 1930 diselenggarakan rapat umum yang kedua dari Indonesia Muda. Dalam rapat ini dijelaskan bahwa Indonesia Muda mempunyai 24 cabang dan grup, yang antara lain terdapat 4 di Sumatra, dan 2 di Sulawesi. Juga didirikan satu dana belajar yang diambil dari dana-dana organisasi yang meleburkan diri kedalam Indonesia Muda./
Pada tanggal 31 Desember 1930 ditengah malam diadakan upacara yang khidmat berdirinya Indonesia Muda dalam mana lagu kebangsaan “Indonesia Raya” dinyanyikan dan penetapan berdirinya Indonesia Muda dibacakan. Pemimpin Kongres menyatakan lahirnya Indonesia Muda.
Anggaran Dasar dan Rumah Tangga dinyatakan berlaku dari mulai tanggal 1 Januari 1931, dan bendera organisasi ialah Merah-Putih, dan sebagai ketua Indonesia Muda yang pertama dipilih Suwaji Prawiroharjo, seorang mahasiswa Sekolah Tinggi Hukum di Jakarta.
Dalam malam terakhir dari kongres dipertunjukkan sandiwara Dewi Tara suatu simbul Ibu Indonesia.
Dengan lahirnya organisas: Pemuda Indonesia Muda ini merupakan suatu langkah baru dalam sejarah gerakan pemuda. Hanya sayang Indonesia Muda pada permulaannya hanya menghimpun pemuda pelajar dari sekolah menengah, dengan demikian Indonesia Muda mempunyai sifat terbatas. Namun demikian Indonesia Muda mendorong lebih lanjut kematangan kesadaran politik pemuda-pemuda Indonesia.
"8 Lihat buku ”De Nationalistiskhe Beweging in Nederlandskh Indie” Y. Th. Petrus Blumberger, hl. 411.
69
=== [PDF page 70] ===
Segera setelah kongres, Pimpinan Pusat Indonesia Muda mengadakan rapat dan pertemuan dimana-dimana. Dalam pertemuan itu selalu digunakan bahasa Indonesia sebagai ganti dari bahasa Belanda atau bahasa daerah. Dengan ini juga makin mematangkan semangat nasional Indonesia. '
Indonesia Muda dalam waktu yang singkat berkembang luas. Ia menghimpun pemuda-pemuda pelajar sekolah menengah. Tetapi dalam perkembangannya dibatasi oleh ketentuan-ketentuan Anggaran Dasarnya yang menyatakan: a. hanya menghimpun pemuda pelajar sekolah menengah; b. sebagai organisasi ia melarang anggota-anggotanya ambil bagian aktif dalam politik.
Ketentuan yang kedua ini diambil sebagai usaha untuk menyelamatkan diri berhubung dengan situasi politik pada waktu itu, yaitu saat pemerintah kolonial Belanda melakukan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin P.N.I.
Seiring dengan kebangkitan kembali gerakan rakyat Indonesia, jiwa revolusioner mulai masuk kedalam tubuh Indonesia Muda. Pada kongresnya dalam bulan Desember 1932 di Surabaya, T Indonesia Muda menerima anggota-anggota da- BA. ri pemuda-pemuda biasa. Putusan ini disambut gembira oleh pemuda-pemuda umumnya. Aksi-
Gumulyo salah seorang asi politik juga dilakukan oleh I.M. maupun bekas ketua Indonesia aga.
Muda (I.M.) oleh anggotanya secara perorangan. Indonesia Muda secara aktif membantu dan ikut serta melancarkan perjuangan menentang “Ordonansi Sekolah Liar” (Wilde Schoolen Ordonantie), dan menganjurkan anggotanya untuk mendaftarkan diri sebagai guru cadangan, kalau sampai terjadi penangkapan terhadap guru-guru yang membangkang mematuhi ”Ordonansi” tersebut.
I.M. juga mempunyai kegiatan yang luas dalam kebudayaan, kesenian, olah raga dan lain-lain. Sangat terkenal juga kejayaan kesebelasan I.M.
Yogyakarta. Juga usaha lain, seperti menolong korban Merapi, dan lainlain usaha sosial selalu mendapatkan perhatian dari I.M.
I.M. juga kerap kali mengadakan aksi serentak untuk mengadakan rapat-rapat disemua cabang-cabangnya, misalnya pada bulan Agustus 1932 I.M. mengadakan aksi serentak di 30 tempat. Aksi yang sama juga diadakan dalam tahun-tahun berikutnya. Pada tahun 1941 Pengurus Besar I.M. menginstruksikan cabang-cabang untuk mengadakan aksi serentak mengadakan rapat memperkuat persatuan. Kerap kali rapat-
70'
=== [PDF page 71] ===
rapat seperti itu dilarang atau diberhentikan ditengah-tengah oleh polisi kolonial Belanda. Seperti dalam aksi rapat serentak yang diadakan pada bulan Nopember 1941 di Bogor, menjelang ambruknya pemerintah kolonial Belanda. Sewaktu pembicara Nn. Netty Awibowo menjelaskan masalah demokrasi, rapat dibubarkan oleh polisi. Karena kegiatannya, Indonesia Muda dianggap oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai ”perkumpulan politik”. Pemerintah kolonial mengadakan larangan bagi siswa sekolah menengah, seperti Mosvia, sekolah-sekolah guru untuk menjadi anggota-anggota Indonesia Muda.
Majalah Indonesia Muda yang terbit pada bulan Mei 1936 karena memuat karangan yang dikutip dari majalah P.P.P.I., dibeslah oleh pemerintah kolonial. Juga kongresnya yang akan diadakan pada bulan Juli 1936 di Jakarta dilarang oleh pemerintah kolonial.
Berhubung dengan keadaan yang seperti ini, maka dalam kongresnya yang ke-IV di Surabaya menegaskan bahwa Indonesia Muda adalah:
organisasi pemuda dan akan bertindak sesuai dengan ini. I.M. waktu itu hanya mempunyai anggota 1.646 orang dan 38 cabang, diantaranya ada 20 cabang mempunyai bagian keputrian, dan 7 persiapan cabang.
Bagian keputrian diputuskan untuk tidak mempunyai pengurus besarnya sendiri, tapi langsung dipimpin oleh pengurus besar I.M., sedangkan setiap cabang diadakan bagian wanita. Kongres juga memutuskan untuk memajukan olah raga dengan mengadakan pertandingan-pertandingan pada setiap diadakan konferensi-konferensi daerah, mempergiat pemberantasan buta huruf dan lain-lain.
Dalam Kongresnya ke-VII, yang diadakan di Bandung pada bulan Desember 1937 diputuskan antara lain untuk mengajukan permintaan kepada pemerinah kolonial agar mencabut larangan-larangan bagi siswa sekolah menengah untuk menjadi anggota I.M. Juga diputuskan untuk mengadakan komite persiapan Kongres Nasional Pemuda.
Indonesia Muda, sesuai dengan perkembangan jamannya memainkan peranan yang positif serta besar dalam gerakan pemuda. Ia mengambil bagian aktif dalam kongres Pemuda ke-III tahun 1939, dan telah mendidik pemuda dalam perjuangan melawan bahaya agresi fasis dan menyambut Indonesia Merdeka. Tokoh-tokoh yang pernah menjadi pemimpin Indonesia Muda antara lain: Budi Suseteyo, Sukarni, Sukerelyo, Ruslan Abdulgani, Sugmo Hadinoto.
Tahun 1930 juga merupakan tahun Kongres bagi organisasi pemuda. Kecuali Kongres Indonesia Muda juga P.P.P.I. dan Yong Islamieten Bond mengadakan kongresnya. Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia, yang mempunyai pengaruh besar dikalangan gerakan pemuda Indo-
71
=== [PDF page 72] ===
nesia, pada tanggal 20—30 September 1930 mengadakan kongresnya di Jakarta, Kongres P.P.P.I. ini antara lain mengambil keputusan yang menyatakan bahwa: a. tugas untuk mencapai Indonesia Merdeka adalah tugas yang terhormat bagi putra-putra Indonesia; b. dalam mencapai tujuan ini harus dipegang teguh persatuan ) c. dengan kesadaran untuk menjadi tiang masyarakat, diwajibkan kepada anggota-anggota, masing-masing menurut keyakinannya, untuk mengabdi dan mempertahankan negerinya sebagai kesatria.
Dalam tahun ini, yaitu pada tanggal 24 — 28 Desember 1930 Yong Islamieten Bond beserta organisasi kepanduannya, Natipy, melangsungkan kongresnya yang ke-VII di Jakarta. Kongres ini bertujuan untuk mempelajari Islam, untuk mendidik dan memperkuat simpati dari golongan Islam dan pengikut-pengikutnya. Kerja sama antara organisasi pemuda yang ada antara lain dilangsungkan dalam suatu. badan-penghubung ”Badan Permufakatan” yang bersifat setempat atau sedaerah.
SULUH PEMUDA INDONESIA
Lahirnya Indonesia Muda (I.M.) adalah suatu langkah yang maju, suatu realisasi ide persatuan dalam organisasi pemuda. Tetapi sebagai organisasi baru yang dilahirkan dalam syarat yang lebih maju, pada permulaannya mempunyai kelemahan-kelemahan seperti telah diterangkan didepan yang menyebabkan kurang memuaskan massa pemuda yang sedang berjuang untuk mencapai cita-citanya Indonesia Merdeka. Sebagai cetusan 'ketidak puasan terhadap organisasi pemuda yang telah ada, oleh sejumlah pemuda di Malang didirikan organisasi Suluh Pemuda
Suluh Pemuda Inonesia atau yang disingkat S.P.I. ini didirikan pada tanggal 27 September 1930 di Malang oleh sejumlah pemuda yang dalam perkembangan selanjutnya berada dibawah pengaruh dan pendidikan politik dari Pendidikan Nasional Indonesia, P.N.I. Promotornya ialah pemuda-pemuda Legimo dan Krisubanu yang kemudian dalam kongres S.P.I. di Malang juga dipilih sebagai pimpinan Pegurus Besar.
S.P.I. berazas ”Kerakyatan”, dan bertujuan untuk mencapai masyarakat yang adil dan makmur. Untuk mencapai tujuan ini S.P.I.
mengadakan pendidikan dikalangan anggota-anggotanya dengan kesadaran nasional, kebenaran serta kesanggupan berjuang. Dalam melakukan pendidikan ini S.P.I. berorientasi kepada teori-teori yang diajarkan oleh
=== [PDF page 73] ===
i Pendidikan Nasional Indonesia. S.P.I. juga mempunyai majalahnya sendiri yang diberi nama ”Suluh”. '
Berbeda dengan Indonesia Muda, S.P.I. menghimpun pemuda dari segala lapisan yang luas. Karena itu kelahiran S.P.I. ini mendapatkan sambutan yang hangat dari kalangan pemuda. Dalam waktu yang singkat S.P.I. meluas organisasinya dan tambah anggota-anggotanya. Cabangcabangnya ialah di Malang dengan dipimpin oleh pemuda Legimo dan Krisubanu, di Surabaya dipimpin oleh pemuda-pemuda Sudiono, Slamet, Sadmoko dan Riaupassi; di Tuban oleh pemuda Siroj, A. Wahab, Widarsono; di Bojonegoro oleh pemuda Kasrin dan lain-lainnya, di Kertosono dan Kediri dipimpin oleh pemuda Tasmijan dan Widarto:
di Blitar dipimpin oleh pemuda Sukarlan dan lain-lainnya 4 di Madiun dipimpin oleh pemuda Sutarto (Almarhum Kolonel Sutarto, Komandan Divisi Panembahan Senopati): di Purworejo oleh pemuda Pramono;
di Cirebon dipimpin oleh pemuda Suratman di Jakarta dipimpin oleh pemuda Sundoro dan Rahim; di Bandung dipimpin oleh pemuda Onda. Kecuali ini juga masih terdapat cabang di Magelang, Bogor, Sukabumi dan di Kalimantan (Barabai).
S.P.I. melakukan kegiatan bukannya hanya mendidik anggota-anggotanya tetapi juga kegiatan dalam lapangan kebudayaan, kesenian, olah raga dan lain-lainnya. Kecuali itu S.P.I. juga melakukan kegiatan politik, seperti ikut ambil bagian aktif dalam menentang ordonansi Sekolah Liar bersama dengan massa organisasi pemuda yang lain. Ordonansi ini dirasakan oleh S.P.I. bukan hanya merupakan penindasan kolonial terhadap bidang kebudayaan nasional, tetapi langsung menyangkut perguruan?
partikelir dimana pada umumnya kader-kader dan anggota-anggota S.P.I.
belajar. Dalam melakukan aksi menentang ordonansi ini S.P.I. membangkitkan kesadaran dan semangat berlawan dan berkorban kepada anggotanya dan jika perlu untuk masuk penjara kolonial dan lain-lainnya.
Rapat-rapat umum diadakan dimana-mana, surat protes juga dikirimkan oleh cabang-cabang S.P.I. Dalam aksi ini pemuda Sutaryo, anggota pengurus cabang S.P.I. Semarang dikenakan hukuman 7 hari penjara.
dan pemuda Siroj pimpinan cabang Tuban terpaksa ”menghilang”
untuk menghindari penangkapan polisi terhadap dirinya dan memimpin perlawanan ditempat lain.
Karena kegiatannya yang bersifat menentang kekuasaan kolonial Belanda ini maka S.P.I. juga ditakuti oleh pemerintah kolonial, dan bersamaan itu mendapatkan pengawasan yang keras. S.P.I. juga dikenakan larangan berapat (Vergader Verbod).
Dalam keadaan menghadapi tekanan yang berat ini, S.P.I. mengada-
73
=== [PDF page 74] ===
kan kongresnya yang ke-II dalam tahun 1933 di Yogyakarta. Kongres mengambil keputusan: 1. walaupun menghadapi tekanan yang keras S.P.I. akan melanjutkan perjuangannya 2. menyusun organisasi yang demikian rupa rapinya, yang menjamin militansi gerak dalam menghadapi berbagai macam tekanan, pengejaran dan penangkapan P.I.D., 3. mengintensifkan pendidikan kader, dengan cara dalam jumlah yang kecil; 4. majalah S.P.I. "Suluh” perlu diperkuat dan diusahakan terbitnya lebih teratur.
Untuk pemimpin kegiatan S.P.I. dalam syarat situasi yang baru ini maka dipilihnya pengurus besar yang baru, yang terdiri dari pemudapemuda: ketua, Sukarno; wakil ketua, Syamsu Harya Udaya: anggota pimpinan, Sukarlan, Suratin Tarsiyah, Sukardi (Perot) dan lain-lain.
Tempat kedudukan Pengurus Besar yang menurut Kongres ke-I berada di Malang, oleh Kongres ke-II diputuskan dipindah di Yogyakarta.
Walaupun ada larangan rapat namun Pengurus S.P.I. secara aktif menjelaskan kepada anggota-anggotanya semua putusan kongresnya, dan mendidik anggota-anggotanya agar melanjutkan perjuangannya.
Dalam 'melakukan kegiatan ini banyak pemimpin S.P.I. yang dikenakan "larangan rapat” dan dihukum, seperti pemuda Suyadi dari cabang Solo, dikenakan hukuman 7 hari penjara dan denda Rp. 25,— (rupiah Belanda), pemuda Sundoro dari cabang Jakarta dikenakan hukuman 3 bulan penjara, dan pemuda Winayadi ketua S.P.I. cabang Yogyakarta dikenakan hukman 3 bulan penjara.
Majalah ”Suluh” dapat terbit beberapa kali. Dalam penerbitannya yang ketiga ”Suluh” dikenakan pelanggaran pers (pers delict), dan dilakukan penangkapan-penangkapan terhadap diri pemuda Sudoyo sebagai penulis salah satu artikel yang dikenakan ”pelanggaran” itu, dan pemuda Sukardi (Perot) sebagai penanggung jawab majalah ”Suluh”. Mereka yang ditangkap ini setelah meringkuk dalam penjara Wirogunan — Yogyakarta, selama 6 bulan, dibebaskan tanpa diajukan dimuka pengadilan. Juga Slamet Sugoro ditangkap dengan alasan yang tidak terang dan setelah ditahan beberapa lama, akhirnya tanpa diajukan dimuka pengadilan di tawan ke Digul..
Dalam menghadapi penangkapan ini kader S.P.I. tak juga menghentikan kegiatannya. Pendidikan kepada anggota-anggota terus dilanjutkan, dan memperoleh hasil yang baik. Dengan pendidikan ini S.P.I. telah menghasilkan banyak kader yang selanjutnya ternyata setia mengabdi kepada usaha revolusi, seperti Abdulrakhman (meninggal di Surabaya karena siksaan Kempctei Jepang) Pramono, Alipringgo, dan lain-lainnya.'
74
=== [PDF page 75] ===
Achirnya karena makin beratnya tekanan, dari pemerintah kolonial S.P.I. tak dapat melakukan kegiatannya lagi. Kongres S.P.I. yang sedianya akan dilangsungkan pada tanggal 24—25 Desember 1934 tak dapat dilangsungkan. Dengan ini S.P.I. praktis juga menjadi suatu organisasi terlarang walaupun tidak dinyatakan demikian. Namun demikian kader S.P.I. masih meneruskan kegiatannya sedapat mungkin secara perseorangan dalam mengabdikan diri kepada usaha mencapai cita-citanya, Indonesia yang Bahagia.!!
PERSATUAN PEMUDA RAKYAT INDONESIA (PERPRI)
Ketidak puasan pemuda pada umumnya terhadap organisasi pemuda yang sudah ada bukan hanya tercermin dengan 'berdirinya S.P.I.
tetapi juga dengan berdirinya organisasi pemuda yang lain-lain, yang bersifat lebih radikal.
Untuk merealisasi ide mempersatukan pemuda tanpa membedakan
“lapisan, kedudukan sosial dan pendidikannya, oleh sejumlah pemudapemuda revolusioner di Yogyakarta yang antara lain terdiri dari pemuda?
Mantoro Tirtonegoro, Mokhamad Sunarman, Sahudoro, S.W. Logiono, Kotot Sukardi, Utomo dan Suryo, pada tahun 1931 mendirikan organisasi pemuda yang baru. Organisasi
pemuda yang baru ini pada permulaannya bernama ” Persatuan Pemu-
Armunanto salah seorang bekas tokoh Perpri
da Mataram”. Pengurus-pengurusnya terdiri dari semua pendiri'nya.
Untuk merealisasi ide perlunya ada organisasi pemuda yang dapat menghimpun massa pemuda yang luas, maka nama organisasi dalam tahun itu juga diubah menjadi ” Persatuan Pemuda Rakyat Mataram”
sedangkan susunan pengurusnya disempurnakan sbb.: ketua, Mantoro Tirtonegoro $ Sekretaris, Sukahar: Bendahara, Utomo: Komisaris, S.W. Lagiono, Sudaryo, Kotot Sukardi, Sahudoro.
75
=== [PDF page 76] ===
"Persatuan Pemuda Rakyat Mataram” berusaha keras untuk meluaskan sayapnya. Pada waktu liburan sekolah bulan Juli 1931 pemuda?
ini disebarkan keberbagai daerah di Jawa Tengah untuk menjelaskan dan menerangkan tujuan organisasi. Mereka yang disebarkan ini antara lain ialah: Sutomo Johar Arifin, Sudimulyono, Ismail Wijoyo, Dastirin Siti Suwarni dan Darmiyati ke Semarang, Sarli Angkoro, Sumarno Imbram dan lain-lain ke Magelang, Bambang Setiawan dan lainlainnya ke Purwodadi, Trubus dan lain-lain ke Magelang, Husein, Sarwono dan lain-lain ke Purworejo. Mereka ini berhasil membentuk persiapan cabang diberbagai daerah itu.
Setelah berdiri persiapan cabang ini maka pada permulaan tahun 1930 diadakan konferensi besar di Yogyakarta yang dihadiri utusan semua persiapan cabang. Dalam konferensi ini diputuskan: 1. nama organisasi diubah menjadi ” Persatuan Pemuda Rakyat Indonesia” dengan disingkat PERPRI, 2. tujuan organisasi ”Mencapai Indonesia yang Sempurna”
dengan mempersatukan semua lapisan pemuda, 3. sebagai lambang organisasi yang menyatukan semua organisasi pemuda ini ditetapkan:
Gambar Kesatuan PENA dengn ARIT: 4. azas organisasi ialah:
Persatuan, Kebangsaan, Kerakyatan. Azas perjuangannya: Radikal Revolusioner yang bersendi pada keteguhan iman dan kesucian hati.
Untuk mencapai tujuan tersebut dilakukan usaha-usaha: a. mendidik anggota-anggotanya supaya pemuda yang berjuang untuk tanah air dan bangsanya, dengan jalan mengadakan kursus-kursus pengetahuan umum, bahasa asing dan pemberantasan buta huruf b. mengadakan bagian yang dinamakan K.B. (Kesehatan Badan) yang bertugas untuk mendidik anak-anak dikampung dan desa-desa dalam olah raga dan berbaris, c. mengadakan kerja sama dengan berbagai organisasi pemuda dalam kegiatan sosial, pendidikan dan lain-lain.
Konferensi Besar ini juga memilih pengurus besar sementara yang terdiri: Ketua I, Sutomo Johar Arifin, Ketua II, Muhamad Sunarman; Sekretaris I, Mantoro Tirtonegoro, Sekretaris II, Cipto Laso (Abdul Gafar Miftah) Bendahara, Sudi Mulyono, Pembantu-pembantu:
Dastirin Siti Suwarni, Darmiyati (Ny. Hadiprabowo), Sahudoro.
Sedangkan untuk memperhatikan dan memelihara daerah Yogyakarta khususnya ditugaskan kepada S.W. Lagiono, Sudaryo, Subarsono, Utomo, dan Kotot Sukardi. Pengurus Besar PERPRI berkedudukan di Yogyakarta.
PERPRI kerap kali mengadakan rapat umum dimana kejahatan?
pemerintah kolonial dibeberkan dan ide perlawanan dipropagandakan.
Karena azas dan tujuannya serta sepak terjangnya yang memperlihatkan sifat anti kolonial itu, maka PERPRI dalam waktu yang singkat
76
=== [PDF page 77] ===
mendapatkan simpati yang cukup luas dari kalangan pemuda dan organisasinyapun makin menjadi luas. Fitnahan, tekanan dan usaha pemecah belahan dari pemerintah kolonial Belanda tidak membuat pemuda itu menjadi mundur bahkan sebaliknya memupuk pemuda dan kaderkadernya makin menjadi berani dan gigih melawannya. Banyak pemuda revolusioner yang masuk PERPRI.! |
Dalam pengawasan yang keras itu, PERPRI melangsungkan Kongresnya yang pertama dikota Semarang pada tahun 1932 yang dikunjungi semua wakil dari daerah-daerah. Kongres mengesahkan semua putusan-putusan konferensi besar dan menambah pimpinan pengurus Besar dengan pemuda-pemuda antara lain: Ngahadmo (Armunanto)
Mohamad Sudrajat, S.W. Lagiono, Sumedi. Kongres juga memutustuskan agar pengurus besar menerbitkan majalah yang diberi nama »Revolusioner”.
Sesuai dengan azas dan tujuannya, maka PERPRI sudah sejak Konferensi Besar di Yogyakarta banyak melakukan kegiatan politik.
Aktivitet ini antara lain yang menonjol ialah ikut sertanya PERPRI dalam perjuangan menentang Ordonansi Sekolah-Sekolah Liar bersama dengan organisasi pemuda lainnya. Sebagai hasil dari perlawanan rakyat termasuk pemudanya yang gigih itu maka Pemerintah Belanda terpaksa mundur dan tidak melaksanakan ordonansi itu. PERPRI juga mengadakan rapat-rapat yang bersifat umum untuk mengobar-ngobarkan semangat perlawanan terhadap pemerintah kolonial Belanda.
Pada tahun 1933 majalah,,REVOLUSIONER” dikenakan pelanggaran pers (pers delict). Pemimpin redaksinya dikenakan hukuman ma- Sing-masing: Sutomo Johar Arifin 1 tahun, Sudimulyono dan Cipto Lasso masing-masing 6 'bulan. Dalam keadaan mengalami tekanan-tekanan dan pemimpin-pemimpin Pengurus Besar masih dalam penjara ini PERPRI mengadakan konferensinya di Magelang. Dalam Konferensi ini pemuda Mantoro Tirtonegoro dan Mohamad Sunarman minta non aktif untuk sementara waktu dengan alasan menghadapi ujian sekolah.
Konferensi memilih pengurus besar baru yang terdiri dari pemuda: ketua, Ngahadmo (Armunanto): Sekretaris, Sahudoro » Penerangan, Mohamad Sudrajat dan Cipto Lasso; Bendahara, Joko Hasan Komisaris:
S.W. Lagiono, Sumedi, Dastirin Siti Suwarni. '
Putusan yang lain dari konferensi ini ialah: meluaskan pekerjaan sosial dikota maupun didesa, meluaskan anggota dengan mengutamakan memasukkan pemuda tani, mempererat hubungan dengan organisasi pemuda lainnya.
Dengan maksud untuk mencapai Kongres ke-II PERPRI mengada-
77
=== [PDF page 78] ===
DMSIS UDWIJ, S2A8UOY UDSUDU3Y-3UDUOY NYUNG
Digitized by Goog le
=== [PDF page 79] ===
kan konferensinya lagi di Yogyakarta pada akhir 1933. Konferensi ini — memutuskan untuk mengadakan kongres ke-II di Solo pada tahun 1934.
Kongres antara lain: 1. tidak mengubah susunan pengurus besar;2. menyempurnakan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga, 3. mengesahkan cabang-cabang baru.
Sebulan sesudah kongres, PERPRI dikenakan,,larangan berapat”
(Vergader Verbod) dengan alasan PERPRI mengadakan kongres secara ilegal. Tuduhan ini telah dibantah oleh ketua Pengurus Besar, Ngahadmo. Dua bulan sesudah ini pemerintah kolonial Belanda menangkap pemuda-pemuda Ngahadmo, Mantoro Tirtonegoro, Muhamad Sunarman, Sahudoro, Joko Hasan, Dastirin Siti Suwarni dan beberapa pemuda anggota Indonesia Muda, seperti Pandu Kartowiguno, Sukarni, Salam Siswapi, Saleh Rais dan lain-lain. Setelah mereka ditahan selama satu tahun dengan tanpa proses, mereka dilepaskan, tetapi PERPRI dinyatakan oleh pemerintah kolonial Belanda sebagai organisasi terlarang dan harus dibubarkan. Juga anggota PERPRI yang mengajar disekolah dikenakan larangan mengajar.
Karena makin sulitnya keadaan dimana hampir semua pengurus dan kader PERPRI diawasi maka organisasi ini praktis tidak dapat melakukan aktivitasnya. Anggota PERPRI selanjutnya melakukan kegiatan?
perseorangan dan tersebar diberbagai daerah. Karena kegiatannya ini banyak pemimpin dan kader PERPRI pada pertengahan dan akhir tahun 1936 ditangkap seperti: Sumarno, Sunarno, dan Mufandi ditangkap di Yogyakarta Sudi Mulyono dan lain-lain di Semarang; Saleh Rais di Bandung, dan masih banyak lagi diberbagai tempat. Ngahadmo tidak ditangkap dan masih dapat melanjutkan kegiatannya. Mereka yang ditangkap itu setelah ditahan kurang lebih 11 bulan, dilepaskan, kecuali Sudi Mulyono dan Saleh Rais yang terus ditawan ke Digul.
PEMUDA PELAJAR TAMAN SISWA
'(P.P.T.S.)
Sementara berbagai organisasi pemuda berdiri, pemuda-pemuda dari Perguruan Taman Siswa juga berusaha mendirikan organisasinya sendiri sesuai dengan sifat-sifat Taman Siswa. Organisasi pelajar Taman Siswa ini diberi nama Pemuda Pelajar Taman Siswa dengan disingkat PP.T.S., yang berdiri pada tanggal 29 Juni 1933 dengan berpusat di Yogyakarta. P.P.T.S. berazaskan: 1. kebangsaan yang seluas-luasnya dengan mengingat hak kemanusiaan: 2. kemerdekaan diri yang dibatasi oleh tertib dan damai: 3. persaudaraan yang berarti: sebangsa, setanah
19
=== [PDF page 80] ===
Rapat Besar (Kongres) PBMTS — 18 — 19 Juli 39 di Yogyakarta
air, senasib, sependidikan dan secita-cita 4. persamaan yang tidak bertentangan dengan keadaan dan kodrat alam.
Dari azas dasar yang tersebut diatas maka jelaslah bahwa P.P.T.S.
bertujuan mempertinggi, memperdalam semangat dan jiwa kebangsaan guna mewujudkan persatuan didalam kalangan Pemuda Pelajar Taman Siswa khususnya dan Pemuda Indonesia umumnya.!;
Dengan berdasarkan azasnya ini P.P.T.S. juga ambil bagian aktif dalam gerakan pemuda Indonesia umumnya dan pelajar khususnya.
P.P.T.S. ikut serta ambil bagian dalam gerakan menentang berbagai
Badan Pusat PPTS — 37 — 38 dibawah pimpinan Sdr. I Sudayat
80
Digitized by Goog le
=== [PDF page 81] ===
”Ordonansi Sekolah Liar, ikut serta aktif dalam aksi-aksi menentang pengekangan, ikut serta aktif dalam menentang gerakan dari kaum fasis Belanda yang bernama “Anti Inlander”, dan gerakan menentang bahaya agresi fasis Jepang.
Kecuali ini P.P.T.S. juga mempunyai kegiatan dalam kesenian dan olah raga sebagaimana gerakan pemuda pelajar pada umumnya. Dalam melakukan kegiatan kebudayaan ini P.P.T.S. juga ikut serta mengorganisasi latihan-latihan tari daerah, pencak silat, musik dan lain-lain.
Dengan melalui pendidikan seperti ini maka P.P.T.S. ikut ambil bagian dalam meningkatkan kesadaran politik nasional pada pemuda?
terutama para anggotanya sendiri. Karena dasar-dasar pendidikan Taman Siswa sendiri dan ditambah kegiatan P.P.T.S. ini maka pemuda-pemuda pelajar lulusan Taman Siswa umumnya tidak mempunyai cita-cita untuk menjadi pegawai negeri pemerintah kolonial Belanda, dan melakukan pekerjaan partikelir. Hal ini makin memperkuat barisan menentang kekuasaan Belanda dalam masa itu, dan melahirkan pemimpin yang mempunyai kesadaran politik nasional, yang patriotik.
Pemimpin Pemuda Pelajar Taman Siswa antara lain ialah: Syamsu Harya Udaya, Suwardi, Supardo, Suwarti, Srikaton, Isnaeni, Jaenap, Surip, Tahir. Husein, Sukardi, Abu dan lain-lainnya.
PEMUDA MELAWAN
' KEKANGAN-KEKANGAN PENDIDIKAN
“Tahun-tahun krisis, pada satu pihak merupakan tahun-tahun makin meningkatnya kesadaran nasional dalam kalangan pemuda, pada pihak lain juga merupakan tahun-tahun dalam mana pemerintah kolonial mengadakan kekangan-kekangan yang berat dan makin memperlihatkan sifat-sifatnya yang kejam. Serentetan pengekangan dilakukan terhadap gerakan nasional baik gerakan politik maupun gerakan pendidikan.
. Pengekangan ini dijalankan dalam bentuk larangan belajar atau yang terkenal dalam “School Verbod” pada tahun 1930. Larangan ini permulaannya ditujukan terhadap pemuda-pemuda yang menjadi anggota Indonesia Muda, dan kemudian juga pada anggota-anggota organisasi pemuda lainnya. Ketakutan pemerintah Belanda terhadap peranan gerakan pendidikan nasional, terhadap sekolahan yang didirikan oleh kaum nasionalis yang progresip makin terasa sekali terutama dalam tindakan pembatasannya terhadap sekolahan-sekolahan itu.
Pada umumnya sekolah-sekolah swasta, terutama Taman Siswa, yang diusahakan oleh orang progresif memainkan peranan yang penting dalam
Sejarah Perjuangan 6, 81.
=== [PDF page 82] ===
mendidik putra-putri Indonesia dengan semangat patriotisme, semangat cinta tanah air dan ide progresif untuk mencapai Indonesia Merdeka.
| Tindakan pengekangan pemerintah kolonial Belanda terhadap sekolah-sekolah swasta dinyatakan pada tanggal 17 September 1932 dalam bentuk suatu undang-undang yang ”mengatur” sekolah-sekolah ”liar” yang terkenal dengan nama ”Wilde Schoolen Ordonantie”. Walaupun dalam kata-kata undang-undang ini menyatakan mengatur tetapi kalau dilihat keseluruhan undang-undang imi membatasi dan membekukan sekolahsekolah swasta, terutama Taman Siswa. Tepat pada hari mulai berlakunya undang-undang ini, yaitu pada tanggal 11 Nopember 1932, Ki Hajar Dewantoro salah seorang pemimpin terkemuka dalam gerakan pendidikan nasional dan ketua umum Taman Siswa mengirimkan surat kawat protes dan yang menyatakan perlawanan kepada Gubernur Jendral pemerintah kolonial Belanda yang 'bunyinya sebagai berikut:
Gubernur Jendral Buitenzorg “.
Paduka Yang Mulia. Ordonansi, yang dikeluarkan secara tergesagesa dan dijalankan dengan paksaan menyentuh tulang sendinya masyarakat dan adab sesudah dibatalkannya rencana pengajaran, membuktikan kebingungan dan kegetaran pemerintah, salah mengerti dan salah raba yang sangat berbahaya terhadap kepentingan vital dari rakyat.
Perkenankanlah saya memperingatkan bahwa mahluk yang tidak berdayapun mempunyai perasaan dasar untuk menangkis bahaya untuk menjaga diri dan demikianlah juga mungkin kami karena terpaksa akan mengadakan perlawanan yang gigih dengan diam.
Ki Hajar Dewantoro.
Pada tanggal 3 Oktober 1932, Ki Hajar Dewantoro juga mengirimkan surat kepada semua pimpinan gerakan rakyat yang menjelaskan bahayanya ordonansi itu serta sikap Taman Siswa. Dapat dikatakan semua organisasi dan pimpinan organisasi gerakan nasional menyokong sikap Taman Siswa dan ikut serta mengadakan perlawanannya. Demikian juga pemuda-pemuda Indonesia.
Ordonansi itu dirasakan sebagai suatu tindakan yang juga sangat merugikan kepentingan pemuda Indonesia, disamping melukai perasaan nasionalnya, karenanya pemuda-pemuda tak dapat bersikap acuh tak acuh. Pemuda-pemuda yang tergabung dalam berbagai organisasi, seperti
* Dari buku "Taman Siswo 30 tahun” hl. 231. '
82
=== [PDF page 83] ===
kedalam PERPRI, S.P.I., I.M.K.R.I. (Ikatan Muda Kristen Indonesia), P.P.T.S., S.B.M.T.S., dan lain-lainnya bangkit serentak mengadakan perlawanan dengan mengadakan berbagai aksi. Rapat-rapat umum diadakan untuk menjelaskan dan memprotes sifat jahat dari ordonansi itu. Dalam aksi ini tidak sedikit pemuda yang ditahan, disiksa atau dikenakan hukuman jabatan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Namun demikian semangat patriotik dan heroik tak dapat dipatahkannya, dan perlawanan berlangsung terus. Sebagai hasil dari kegigihan perjuangan pemuda-pemuda ini bersama dengan gerakan nasional lainnya, akhirnya pada tanggal 13 Pebruari 1933 ordonansi itu dicabut.
Tetapi pemerintah kolonial tetap berusaha untuk membatasi dengan segala jalan kegiatan perguruan nasional. |
Pada tahun 1934 diadakan peraturan larangan mengajar yang terkenal dengan,,Onderwiys Verbod”. Dengan peraturan ini pemerintah kolonial Belanda membuat jaring-jaring pembatasan yang keras terhadap perguruan nasional. Guru yang mengajar pada perguruan nasional progresif dikenakan berbagai peraturan yang keras. Polisi ikut campur-tangan dalam pengajaran. Macam-macam pertanyaan diajukan kepada murid-murid, dan juga diadakan Penggeladahan terhadap rumah-rumah sekolah, rumah-rumah guru, dan juga dirumah muridnya. Segala macam alasan dicari untuk melarang guru-guru mengajar. Tidak sedikit guru yang dikenakan,,Onderwiys Verbod” itu, demikian juga tidak sedikit sekolah-sekolah yang ditutup karenanya.
Pemuda-pemuda Indonesia menganggap peraturan ini adalah tindakan yang tidak adil, tindakan yang kejam dan harus dilawan. Berbagai organisasi pemuda mengadakan rapat-rapat untuk menjelaskan peraturan itu dan memobilisasi pendapat umum untuk menentangnya.
— Organisasi pemuda itu juga memobilisasi anggota-anggotanya untuk siap menggantikan guru-guru yang dikenakan peraturan itu. Tidak sedikit pemuda juga melakukan berbagai-bagai perlawanan terhadap wujud pengekangan yang ‘ain seperti penghapusan tunjangan anak, surat angkutan cuma-cuma bagi anak-anak yang sekolah dari anak-anak pegawai negeri, dan lain sebagainya. Pendeknya dalam menghadapi kekangan ini pemuda juga mengambil bagian yang aktif melawan. Perjuangan untuk
menentang berbagai pembatasan ini dianggap oleh pemuda sebagai bagian dari perjuangan untuk mencapai cita-citanya Indonesia Merdeka.
Dan karena itu pemuda-pemuda gigih melakukan perlawanan hingga dikurangi atau dihapuskannya kekangan itu. Perlawanan ini sebaliknya juga mendidik pemuda-pemuda mempertebal kesadaran nasional dan meningkatkan keberanian serta daya juangnya.
83
=== [PDF page 84] ===
PERSATUAN PEMUDA (PERDA)
Kalau kita tilik perkembangan organisasi pemuda sejak tahun 1930, maka tampak bahwa setelah berlangsung proses konsentrasi sebagai realisasi ide persatuan dalam organisasi pemuda, timbul proses diferensiasi yang disebabkan oleh: a. masih kurang puasnya pemuda-pemuda pada umumnya terhadap organisasi pemuda yang telah ada, yang disebabkan sifat keterbatasan organisasi itu pada mulanya: b. pengaruh dibubarkan Partai Nasional Indonesia, dan timbulnya dua partai baru, yaitu Partindo dan P.N.I. Merdeka: c. akibat tekanan dari pemerintah kolonial Belanda sehingga organisasi pemuda yang ada tak dapat melakukan aktivitasnya secara wajar: d. adanya usaha dari berbagai golongan untuk mendirikan organisasi pemuda. |
Diferensiasi dalam organisasi pemuda ini dapat dilihat dari timbulnya “berbagai organisasi pemuda baik yang bersifat nasional maupun yang bersifat kedaerahan seperti: 1. Persatuan Bekas Murid Taman Siswa (PBMTS) didirikan pada tahun 1930. Azasnya: menentukan nasib berdasarkan kekeluargaan dan pendidikan, rasa kekeluargaan dan kesejahteraan. PBMTS menjaga kemurnian azas dan sendi Taman Siswa, mengusahakan berdirinya cabang-cabang Taman Siswa diseluruh Indonesia. PBMTS juga menaburkan rasa kebangsaan, menyediakan gedung Taman Siswa untuk berapat bila pemuda-pemuda hendak mengadakan rapat dan lain-lain 2. PERPRI dan S.P.I. seperti yang sudah diterangkan didepan: 3. Putri Marhaen di Yogyakarta, yang azasnya Marhaenisme dan usahanya memberantas buta huruf dan mengadakan kursus-kursus untuk meningkatkan kesadaran wanita. Organisasi ini dipimpin oleh Almarhum Sri Panggihan dan S.K. Trimurti. Achirnya organisasi ini dilarang oleh pemerintah kolonial Belanda: 4. Sangkoro Mudo, di Yogyakarta, suatu organisasi untuk memperkuat keturunan Sultan Hamengku Buwono I. Usahanya: mempelajari dan memajukan kesenian Jawa, menyokong aksi menentang,,Wilde Schoolen Ordonansi”. Pengurusnya “antara lain Senirimawen, Hertog, Sudarisman (Mr. Purwokusumo);
5. Mudo Kristen Jawi, yang bertujuan untuk memperkuat rasa persaudaraan antara pemuda-pemuda Kristen. Organisasi ini antara lain dipimpin oleh Sunardi; 6. Pemuda Walfadri, yang pusatnya di Karang Kajeng Yogyakarta dibawah pimpinan H. Hani; 7. Juga pemuda-pemuda diber.
bagai daerah yang merasa kepentingannya belum tertampung dalam organisasi pemuda yang telah ada atau yang belum sempat menggabungkan diri pada organisasi pemuda yang telah ada, juga masih mendiri-
=== [PDF page 85] ===
kan organisasi sendiri, seperti Yong Kebumen, Yeugd van Sriwijaya dll.
Kecuali itu masih banyak organisasi pemuda diberbagai tempat,
daerah dan sekolahan-sekolahan. Dapat dikatakan bahwa hampir disemua sekolah menengah pelajarnya mendirikan organisasi tersendiri.
. Walaupun pemuda-pemuda ini terpecah menjadi berbagai organisasi pemuda, namun semangat persatuan tetap menyala dalam dada pemuda-pemuda Indonesia. Pemuda-pemuda itu yakin bahwa tanpa persatuan tidak mungkin ada kekuatan yang dapat digunakan mencapai cita-citanya.
Dengan didorong oleh semangat persatuan ini, pada tahun 1933 di Yogyakarta dibentuk badan untuk mempersatukan aksi-aksi organisasi pemuda dengan nama,,Badan Permufakatan Pemuda Indonesia”, Pembentukan badan ini dipelopori oleh organisasi-organisasi Pemuda: Indonesia Muda (I.M.) Yong Islamieten Bond (Y-I-B.), Sangkoro Mudo, Mudo Kristen Jawi. Pengurusnya terdiri dari Sudarisman (Mr. Purwokusumo) sebagai ketua, Jodi (Mr. Gondokusumo) sebagai wakil ketua, Ashan (Poncowinoto) sebagai sekretaris dan Sumardi (almarhum Dr. Sumardi) sebagai bendahara.
Dalam perkembangan selanjutnya, walaupun sudah ada badan seperti ini, namun belum juga dapat memenuhi kebutuhan perjuangan pemuda. Per-
Se _ juangan pemuda selalu maju dan Ham kl ~~~" berkembang, demikian juga keperluan
Bekas ketua,,Barisan Pemuda adanya organisasi yang dapat memenuhi Gerindo” Wikana kebutuhan perjuangan pemuda sesuai
dengan tingkatannya sangat terasa sekali, terutama setelah timbulnya berbagai organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan. Karena itu pemuda-pemuda berusaha untuk membentuk organisasi seperti itu. |
Pada bulan September 1933, atas usaha pimpinan Indonesia Muda diadakan pertemuan bersama diantara organisasi-organisasi pemuda.
Pertemuan ini dilangsungkan di Bandung. Atas usul Indonesia Muda, pertemuan ini menyetujui membentuk suatu badan federasi untuk
85
=== [PDF page 86] ===
memperkuat dan memajukan gerakan pemuda. Badan federasi ini diberi nama,,Gabungan Pergerakan Pemuda Indonesia”, dengan disinngkat Gapindo.
Untuk menyatukan pemuda didaerah-daerah atas usaha Indonesia Muda pada tahun 1936 berdirilah suatu badan yang dapat menggabungkan dan mempersatukan aksi pemuda dengan nama,,Persatuan Pemuda” dengan disingkat,,PERDA”.
PERDA mempunyai azas kekeluargaan dan bertujuan melatih pemuda-pemuda berorganisasi dan bertanggung jawab atas pendapatnya.
Adapun usaha yang dilakukan ialah: a. menerbitkan majalah »Suara Merdeka”: b. mengadakan,,Club Debat” untuk membulatkan pengertian para anggota-anggotanya. PERDA tidak memnunyai pengurus pusatnya, karena ia merupakan badan federasi yang bersifat kedaerahan.
Namun demikian adanya PERDA ini merupakan suatu langkah maju dalam organisasi pemuda pada waktu itu, karena ia dapat mempertemukan pemuda-pemuda diberbagai daerah yang disebabkan karena tekaman dan pemerintah kolon'al Belanda terpaksa mendirikan berbagai organisasi yang bersifat setempat. Dengan badan itu maka aksi pemuda dapat terkoordinasi. Ini membuktikan bahwa walaunun bagaimana usaha kaum kolonialis untuk memecah persatuan pemuda, namun semangat persatuan tetap menjiwai pemuda-pemuda Indonesia baik dalam lapangan organisasi maupun dalam aksi-aksi.
BARISAN PEMUDA GERINDO
Dalam perkembangan perjuangan pemuda, sebagaimana juga perkembangan perjuangan nasional rakyat Indonesia tidak berjalan lurus, tetapi belak-belok dan tidak jarang melalui tebing yang sangat curam dan penuh rintangan yang sangat berbahaya yang dipasang oleh pemerintah Belanda. Dalam menghadapi kemajuan gerakan pemuda yang progresif dan revolusioner pemerintah kolonial Belanda menggunakan tipu muslihatnya yang licin, seperti memukul, menangkap, memenjarakan dan menawan pemimpin-pemimpin serta kader-kadernya yang aktif. Demikianlah yang terjadi disekitar tahun 1934 — 1935. Bersamaan dengan penangkapan dan penahanan pimpinan nasional Indonesia pada waktu itu seperti Ir. Sukarno, Mohamad Hatta, dan lain-lainnya, pemimpin organisasi pemuda yang progresif juga ditangkap. Dengan penangkapan ini pemerintah kolonial berusaha untuk melumpuhkan gerakan nasional, gerakan pemuda. Dengan ditangkap, ditahan dan ditawannya beberapa pemimpin pemuda yang revolusioner maka seolah-olah
86°
=== [PDF page 87] ===
terdapat keadaan kosong. Organisasi pemuda yang ada, karena larangan rapat dan ancaman-ancaman pemerintah kolonial Belanda, maka tak dapat bergerak dan bertindak. ° |
Tetapi hukum gerak dan gerakan itu sendiri selalu dapat menerobos semua kekangan yang ada. Satu atau beberapa organisasi pemuda dapat — dilumpuhkan dilarang atau dibatasi namun daya juang itu selalu mendorong semua orang untuk mencari dan mendapat bentuk organisasi sesuai dengan jaman dan keadaannya. Patah tumbuh hilang berganti dan demikianlah kenyataan sejarah membuktikan. Partindo dan P.N.I.
Merdeka dilarang hingga tak lagi dapat bergerak, namun pemimpin-pemimpinnya yang masih mempunyai jiwa juang selalu mencari dan membangun organisasi yang baru yang sesuai dengan syarat keadaannya.
Atas usaha-usaha Mr. Sartono, Mr. Amir Syarifudin, A.K. Gani dan lain-lainnya pada tahun 1937 dapat didirikan organisasi baru, Gerakan Rakyat Indonesia dengan disingkat GERINDO.
Pemimpin GERINDO juga sadar akan pentingnya peranan pemuda. dalam gerakan nasional, dan karena itu dalam kongres yang pertama pada tanggal 20 s/d 24 Juli 1938 diputuskan untuk mendirikan orgasasi pemuda GERINDO dengan nama Barisan Pemuda Gerindo.
Azas dari pemuda Gerindo ini sama dengan azas Gerindo itu sendiri.
Ia adalah pendukung dan pelaksana putusan-putusan GERINDO. Pemimpin-pemimpin pemuda GERINDO ini antara lain ialah pemudapemuda: Wikana sebagai ketua (kemudian diganti oleh Ismail Wijaya), A.M. Hanafi sebagai sekretaris umum, Huta Barat, Ridwan Bazar, Sukisman, Abdul Rakhim, dan lain-lainnya sebagai komisaris. Juga pemuda Sutrisno, Fatah Yasin, Syarifullah dan lain-lain pernah menjadi pemimpin Pemuda GERINDO.
Pemimpin Pusat Pemuda Gerindo berkedudukan sama dengan kedudukan tempat kedudukan Gerindo itu sendiri, yaitu di Jakarta, cabangnya umumnya didirikan dimana ada cabang Gerindo, yaitu dikota besar di Jawa dan dikota penting di Sumatra — Palembang, Medan dan Bukit Tinggi Sumatra Barat.
Berbeda dengan organisasi pemuda yang pernah ada, Barisan Pemuda Gerindo ini memakai pakaian seragam dril coklat dengan sepatu lars pendek dan berpeci coklat. Kegiatannya kecuali dilapangan kebudayaan, sport, kesenian dan sosial juga dalam lapangan politik. Dalam lapangan politik barisan pemuda Gerindo ikut menerangkan dan menjelaskan tuntutan demokratis yang bersifat anti fasis: a. Indonesia berparlemen penuh: b. supaya dibentuk pemerintah yang bertanggung jawab kepada Parlemen: c. milisi Indonesia.
87
=== [PDF page 88] ===
Barisan pemuda Gerindo juga mengadakan latihan-latihan kemiliteran terhadap anggota-anggotanya, untuk bersiap siaga menghadapi agresi militer fasis Jepang ke Indonesia.
Untuk memobilisasi pendapat umum Barisan Pemuda Gerindo metigadakan berbagai rapat umum, baik yang besar maupun yang kecil di kampung-kampung. Tidak jarang dalam rapat- rapat itu bentrok dengan alat-alat kekuasaan Belanda.
Untuk menyusun kekuatan anti fasis, Barisan Pemuda Gerindo mengambil ‘bagian yang aktif dalam menggalang persatuan dalam kalangan pemuda dan organisasi pemuda yang telah ada. Ia juga ambil bagian dalam pertemuan tokoh-tokoh pemuda pada bulan Maret 1938 di Yogyakarta, dan ikut serta dalam Kongres Pemuda bulan Desember 1939- di Yogyakarta. Ia juga pelaksana yang aktif dari putusan kongres ini yang antara lain ikut mendirikan ” Persatuan Pemuda” di daerah?.
Dengan demikian maka Barisan Pemuda Gerindo menempati kedudukan dan mempunyai peranan yang penting dalam sejarah gerakan pemuda dalam menuntut kemerdekaan dan persiapan melawan agresi fasis Jepang ke Indonesia.::
BERBAGAI ORGANISASI PELAJAR DAN
PERKEMBANGANNYA
Dalam uraian didepan sudah jelas bahwa pelajar di Nusantara kita ini mempunyai peranan yang besar dalam gerakan pemuda, baik sumbangannya dalam mematangkan kesadaran nasionalnya, kesadaran politik dikalangan pemuda maupun dalam organisasi. Sesuai dengan proses 'kristalisasi dalam perjuangan dan pembentukan organisasi massa pemuda, dimana memang tidak mungkin menggabungkan berbagai macam pemuda dari berbagai lapangan hanya dalam satu organisasi pemuda saja, maka pemuda-pemuda pelajar juga mendirikan organisasinya sendirt yang menghimpun khusus pemuda-pemuda pelajar, pada tahun 1925, dan yang kemudian disusul dengan berdirinya Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (P.P.P.I.):
P.P.P.I. sebagaimana sudah juga diterangkan didepan adalah nerkumpulan para pelajar sekolah tinggi atau mahasiswa, jadi yang umurnya antara pemuda dan orang tua, yang sudah tidak lagi pantas berada dalam organisasi pemuda biasa. Kekhususan P.P.P.I. dibandingkan dengan organisasi pemuda lainnya, ialah bahwa P.P.P.I. terang mempunyai haluan politik, organisasi yang dapat menjadi tempat berlatih bagi pemimpin-pemimpin kemerdekaan tanah air. Hal ini juga ditegaskan dalam
88
=== [PDF page 89] ===
kongresnya pada tanggal 20 — 23 September 1930 di Jakarta. Kongres ni menetapkan azas dan tujuan P.P.P.I. sebagai berikut:,,Usaha mencapai Indonesia Merdeka adalah kewajiban yang terluhur buat anak negeri Indonesia, dalam mencapai cita-cita suci tadi persatuan selalu harus diutamakan. Insyaf menjadi tiang Masyarakat Indonesia, masingmasing anggota (menurut keyakinan dan kecakapannya sendiri) mewajibkan diri bekerja dengan sesungguhnya, berbakti pada dan membela bangsa dan tanah air”. " Karena sifat-sifat ini maka P.P.P.I. tidak ikut dalam kongres fusi antara organisasi pemuda pada tahun 1930.
Dalam langkah-langkah perjuangannya P.P.P.I. memperlihatkan banyak mengambil bagian dalam aksi-aksi politik. Misalnya, aksi politik pada tanggal 12 Agustus 1932 untuk memprotes upacara pendirian patung peringatan jendral kolonial van Heuts! P.P.P.I: mengadakan rapat umum untuk memprotes itu, dan rapat itu menyetujui suatu mosi untuk minta kepada semua organisasi dan pers di Indonesia agar menyampaikan kepada segenap rakyat Indonesia bahwa pendirian patung peringatan Van Heutz itu menjadi pendorong untuk memperkuat persatuan Indonesia guna mencapai Indonesia Merdeka.
Dalam bulan September 1932 P.P.P.I. mengadakan kongresnya ke ITI di Jakarta. Kongres menetapkan sebagai program kerja P.P.P.I.
ialah: 1. menyiarkan dan memasukkan azas dan cita-cita organisasi dalam dada rakyat seluruhnya: 2. menyelidiki aksi-aksi kaum imperialis dan peraturan-peraturan pemerintah 3.mengumumkan hasil: penyelidikan tadi: 4. mencari hubungan dengan luar negeri.
Dalam rapat tahunan yang diadakan pada tanggal 15 s/d 16 Desember 1934 walaupun menghadapi keadaan pemerintah kolonial menangkapi dan mengasingkan pemimpin gerakan nasional, semua pidato yang diucapkan oleh pemimpin P.P.P.I. memperlihatkan semangat per- Gyuangan yang tidak kendor.
P.P.P.I. juzsa mempunyai majalahnya sendiri. Dalam majalah ini kerapkali memuat artikel-artikel revolusioner yang sangat menakutkan pemerintah kolonial. Juga tidak jarang penulis artikel ini harus memikul resikonya, yaitu memasuki rumah penjara. Sebuah artikel yang dimuat dalam majalah P.P.P.I. tahun 1932 menyebabkan penulisnya, seorang pelajar sekolah hakim tinggi dihukum penjara 1”2 tahun. Jufa suatu artikel yang lain yang dimuat dalam majalahnya dalam tahun 1936 menyebabkan beberapa anggotanya ditangkap polisi. —
. * Dari buku De Nationalistiskhe Beweging ‘in Nederlandskh Indie” Y. Th. Petrus Blumberger, hl. 414.1
89
=== [PDF page 90] ===
Walaupun menghadapi banyak kesulitan, namun dalam perkembangan selanjutnya P.P.P.I. juga terus setia terhadap azasnya dan memainkan peranan yang penting dalam gerakan pemuda dan gerakan nasional.
Dalam tahun 1939 P.P.P.I. juga menjadi anggota Kongres Rakyat Indonesia yaitu sebuah badan yang didirikan oleh kongres partai-partai politik di Indonesia tahun 1939. Dalam suatu rapat Kongres Rakyat Indonesia, P.P.P.I. mengajukan usulnya bahwa sekiranya pemerintah kolonial mengabaikan sama sekali tuntutan Indonesia berparlemen, semua kumpulan yang bergabung dalam GAPI yang anggotanya duduk dalam badan-badan perwakilan supaya keluar dari dewan itu. Usul utusan P.P.P.I. ditolak oleh sidang dan karenanya utusan P.P.P.I. meninggalkan sidang tetapi tidak mengundurkan diri sebagai anggota.
Disamping melakukan aksi-aksi politiknya, P.P.P.I. juga mengadakan kerja sama dengan berbagai organisasi mahasiswa yang tidak berhaluan politik, untuk kepentingan bersama lapangan ilmu pengetahuan aan kehidupan kemahasiswaan. ©
Pemerintah kolonial Belanda dan kaum reaksi umumnya sangat takut dengan aksi-aksi serta pengaruh P.P.P.I. yang makin hari makin bertambah meluas bukan hanya dalam kalangan mahasiswa tetapi juga dalam kalangan pemuda pada umumnya. Mereka berusaha untuk memecah P.P.P.I. dan memecah persatuan mahasiswa umumnya, dengan mendirikan berbagai organisasi mahasiswa yang umumnya bersifat moderat atau organisasi dansa-dansa.
Di Bandung dengan bantuan profesor-profesor Belanda pada tahun 1933 didirikan organisasi mahasiswa dengan nama Unitas Studiosorum Indonesiensis atau U.S.I. Sebagai jalan untuk membelokkan mahasiswa | dari perjuangan politik, organisasi baru itu berpendapat bahwa pelajar-pelajar sekolah tinggi sebaiknya hanya bbelajar, mencari ilmu, mempertinggi kesenian saja dan jangan berpolitik. Jadi U.S.I. dalam memenggal mahasiswa-mahasiswa dari perjuangan politik mengajukan prinsip, ilmu untuk ilmu, belajar untuk belajar, bukan ilmu dan belagyar untuk mengabdi pada usaha perjuangan kemerdekaan tanah air.
U.S.I. juga aktif mengorganisi dansa-dansa dan apa yang mereka namakan kegiatan kebudayaan barat yang tidak lain dari kebudayaan yang dangkal dan cabul. Tetapi usaha pemerintah kolonial memecah gerakan mahasiswa dengan mendirikan U.S.I. masih dirasa kurang hasilnya.
Karena itu dengan maksud politik yang sama beberapa orang mahasiswa pada tahun 1936 mendirikan Studenten Islam Studieclub atau S.I.S.
Mereka mengatakan bahwa maksud didirikan organisasi ini untuk menambah pengetahuan tentang agama Islam dikalangan pelajar-pela-
90
=== [PDF page 91] ===
jar sekolah tinggi. Juga dengan maksud yang sama berdirilah Indonesikhe Vroweliyke Studenten Vereniging atau I.V.S.D. yang khusus untuk mahasiswa-mahasiswa putri. Dengan adanya berbagai organisasi ini maka kaum reaksi dapat memecah mahasiswa-mahasiswa Indonesia kedalam 3 atau 4 organisasi.
Walaupun sudah diketahui adanya usaha pemecah belahan dari pemerintah kolonial dan kaum reaksi, namun P.P.P.I. selalu berusaha untuk menyatukan mahasiswa dalam berbagai aksi-aksi yang dapat disatukan.
Karena kecuali aksi yang bersifat politik masih ada masalah-masalah yang aapat menemukan mereka satu sama lain dalam hal kehidupan keilmuan sendiri, dalam kehidupan kemahasiswaan, dan berbagai kehidupan sosial lainnya. Untuk melakukan kerja sama dalam lapangan ini atas usaha P.P.P.I. pada tanggal 22 Pebruari 1940 di Jakarta diadakan pertemuan antara pemimpin P.P.P.I., U.S.I. dan I.V.S.D. Pertemuan ini menghasilkan suatu pernyataan bersama yang isinya menuntut agar jumlah akademisi orang Indonesia dalam jabatan-jabatan pemerintah harus ditambah. |
Dalam perkembangan selanjutnya juga kerap diadakan pertemuanpertemuan untuk mencari persamaan pendapat dalam menghadapi masalah-masalah praktis dan urgen. Dengan jalan ini usaha pemecah belahan dapat dipatahkan, dan persatuan dapat diwujudkan.
PEMUDA INDONESIA MENGHADAPI AGRESI JEPANG.
. KONGRES KE III PEMUDA-PEMUDA INDONESIA.
Bahaya agresi fasisme Jepang ke Indonesia makin hari makin sangat terasa, terutama setelah berkuasanya kaum militeris fasis di Jepang. Hal ini juga telah diketahui dan disadari oleh pemimpin gerakan nasional prada waktu itu. Gerakan Kemerdekaan Nasional telah mengajukan serentetan tuntutan yang bersifat demokratis terhadap pemerintah kolonial Belanda. Tujuan terpokok dari gerakan nasional dalam menghadapi bahaya agresi Jepang ini, pada pokoknya ialah: 1. dibentuknya parlemen penuh, yang mengganti Volksraad, dan yang anggotanya dipilih menurut peraturan tertentu hingga rakyat secara adil dapat diwakili 2. dirubahnya direktur-direktur Departemen menjadi Kementerian yang bertanggung jawab kepada parlemen tersebut, 3. mengadakan milisi dan agar selekasnya pemerintah mengadakan persetujuan dengan kaum pergerakan memperkuat tenaga, moral Indonesia.
Kecuali tuntutan pokok ini, gerakan nasional Indonesia juga mengajukan tuntutan-tuntutan lainnya, tuntutan yang menjadi dasar ker-
191
pooper,
ek OR KR AE Em fae
=== [PDF page 92] ===
ja sama dengan pemerintah Belanda untuk menghadapi musuh bersama itu. Tuntutan-tuntutan, petisi atau mosi yang diajukan oleh semen-.ara anggota Dewan Rakyat (Volksraad) pada waktu itu seperti: 1. Pes tisi Sutarjo, yang diajukan pada tanggal 15 Juli 1936, yang:isinya minta, agar diadakan perundingan antara wakil-wakil Hindia Belanda dengan Nederland dalam kedudukan yang sama untuk menyusun- sebuah rencana, agar Hindia Belanda dalam waktu sepuluh tabun, se-kurang?- nya dalam waktu yang dianggap cukup lama diberikan kedudukan kemerdekaan dalam batas-batas undang” dasar. Petisi ini baru diberi jawaban penolakan pada tanggal 16 Nopember 1938. 2. Mosi Wiwoho, yang diajukan pada. bulan Pebruari 1940. Masi ini minta agar pemerintah mengadakan perundingan dengan pemerintah agung 'haca pemerintah Nederland) tentang ketata-negaraan Hindia Belanda berdasarkan artikel 1 Undang-Undang Dasar.
Pemuda Indonesia pada waktu itu juga sudah mulai sadar akan bahaya agresi fasis ke Indonesia. Namun demikian, belum juga ada suatu kesatuan sikap karena adanya berbagai pengaruh pandangan politik padanya. Adanya pandangan dan berbagai sikap ini, terutama adalah karena akibat penindasan, 'pengekangan dan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin organisasi pemuda yang telah ada, dan banyaknya organisasi-organisasi pemuda diberbagai daerah. Pada masa ini terdapat organisasi pemuda seperti Indonesia Muda, Pemuda Islam Indonesia, Pemuda Muhammadiyah, Pemuda Perserikatan Ulama, Pemuda Persatuan Islam, Ansor Nadlatul Ulama, Persatuan Pergerakan Pemuda Kristen, Mudo Katolik, Yayasan Obor Pasundan, Pakempalan Kawulo Ngayogyakarto Mudo (Perkumpulan Rakyat Ngayoyakarta Mudo), Per.
satuan Pemuda Taman Siswa, Persatuan Pemuda Tehnik, Putra-putri Cirebon, Yeugd Organisatie Sriwijaya (Organisasi Pemuda Sriwijaya), Minangkabau. Muda, Kebangsaan Sulawesi.dan lain-lainnya. Adanya berbagai organisasi pemuda ini tidak berarti bahwa dasar perjuangan pemuda yang telah diletakkan dalam kongres ke II Pemuda-pemuda Indonesia luntur, atau ketiadaan perasaan, kesadaran akan persatuan, tetapi terutama karena 'keadaan politiklah yang memaksa mereka mengadakan organisasi-organisasi yang demikian itu. Hal ini dapat dibuktikan bahwa disamping mereka itu menjadi anggota organisasi lokal, setempat, umumnya mereka masih juga menjadi anggota organisasi seperti Indonesia Muda, Barisan Pemuda Gerindo dan lain?.
Dengan dijiwai oleh kesadaran akan adanya bahaya agresi fasis Diepang gerakan pemuda dengan dipelopori oleh pemuda-pemuda yang telah terdidik dalam perjuangan kemerdekaan berusaha untuk mengga-
92
=== [PDF page 93] ===
lang persatuan dikalangan pemuda baik dalam menunaikan tugas dewasa itu maupun dalam bentuk organisasi. Dengan dipelopori oleh organisasi pemuda Indonesia Muda, Barisan Pemuda Gerindo dan bersama dengan organisasi pemuda lainnya diadakan pertukaran pikiran, pertemuan baik bersifat perseorangan maupun secara organisasi. Salah satu pertemuan yang penting ialah pertemuan diantara tokoh-tokoh organisasi pemuda, yang diadakan di Jakarta pada bulan Maret 1938. Pertemuan ini antara lain membicarakan masalah tugas-tugas pemuda pada masa itu dan kemungkinan untuk melangsungkan kongres pemuda yang ke III. Mereka yang hadlir dalam pertemuan itu dapat menyetujui ide ini. Untuk mempersiapkan dan membulatkan tekad terlaksananya kongres itu, pada tanggal 24 Desember 1938 diadakan konferensi yang dihadliri oleh utusan dari 11 organisasi pemuda. Konferensi secara bulat menyetujui diadakan kongres, dan untuk menyongsong kongres, organisasi-organisasi pemuda itu mengadakan kegiatan bersama dalam lapangan sosial dan kebudayaan.
Usaha untuk mengadakan kongres ke III ini memang sudah diadakan pada tahun 1936 tetapi tidak mendapat izin dari pemerintah kolonial Belanda.
Sebagaimana sudah diterangkan didepan, jauh sebelum ini juga telah dibentuk,,Persatuan Pemuda” (PERDA). Dalam tahun 1939 telah terbentuk 14 PERDA, yaitu di Jakarta, Cilimus, Cirebon, Bandung, Togyakarta, Surakarta, Surabaya, Tegal, Jember, Klaten, Semarang dan 3 lagi diluar Jawa, yaitu Donggala, Palembang dan Menado.
Dengan berdasarkan PERDA-PERDA ini, Pengurus Besar Indonesia Muda yang diketuai Suyono Hadinoto dan yang diberi kekuatan oleh konferensi Pemuda, mengadakan Kongres Pemuda yang ke III di Yogyakarta pada tanggal 23 — 26 Desember 1939. Kongres ini bersamaan dengan dilangsungkannya Kongres Rakyat Indonesia di Jakarta. Kongres 'ke III Pemuda Indonesia ini dihadliri oleh utusan dari 9 PERDA dan "22 organisasi Pemuda.
Kongres berlangsung dalam suasana yang hangat dan penuh semamgat pemuda. Pidato yang bersemangat mengecam pengekangan yang diadakan oleh pemerintah kolonial Belanda. Achirnya kongres mengambil 'keputusan antara lain: 1. mengadakan aksi penambahan pengajaran:
"2. memberantas buta huruf, 3. agar bahasa Indonesia lebih digunakan “oleh umum sebagai bahasa percakapan, 4 menuntut agar dicabutnya larangan bagi siswa menengah untuk menjadi I.M., S.P.I. dan lain?;
"5. mendirikan fonds untuk pemuda./
Kongres juga berhasil membentuk suatu badan yang dapat mengikordinasi dan memimpin kegiatan organisasi pemuda yang ada. Badan
93
=== [PDF page 94] ===
pabungan yang ber-cita-cita? mengangkat martabat nusa dan bangsa ini bersifat federasi. Badan ini bernama,,Persatuan Gerakan Pemuda Indonesia”
dengan disingkat PERPINDO, dan berpusat di Jakarta. Yang menjadi anggota pimpinan dari badan ini ialah semua pengurus besar organisasi pemuda yang ada, sedangkan menjadi pimpinan hariannya diserahkan pada suatu badan sekretariat di Jakarta yang terdiri dari Pengurus Besar Indonesia Muda. Sedangkan untuk daerah masih menggunakan badan gabungan yang telah ada yaitu PERDA.
Sebagai langkah pertamanya PERPINDO dan PERDA berusaha untuk mengadakan mobilisasi massa pemuda. Untuk maksud ini diada- Lannya rapat umum terbuka pada tanggal 8 Pebruari 1940 dalam mana
dianjurkan dan diterangkan perlu adanya persatuan dikalangan pemuda. |
Selanjutnya PERPINDO dan PERDA juga mengambil peranan aktif dalam menyokong, mempropagandakan tuntutan demokratis dari gerakan nasional rakyat Indonesia.
Kongres ini walaupun telah mengambil beberapa putusan yang maju, namun putusan-putusan itu belum sepenuhnya memenuhi tuntutan jamannya. Masalah bahaya agresi fasis Jepang ke-Indonesia, serta ba gaimana cara untuk menanggulangi bahaya itu dengan mempersatukan serta memobilisasi pemuda-pemuda Indonesia belum juga secara terang.
terangan dijadikan acara dalam kongres itu. Dengan demikian, maka hingga mendekatnya agresi Jepang ke-Indonesiapun pemuda-pemuda pada umumnya belum cukup terbangkitkan secara politik dan ideologis untuk melawan agresi fasisme Jepang itu.
Inilah sebabnya maka pada masa itu pemuda sebagai keseluruhan, dan secara nasional juga masih belum dapat memberi andil yang diperlukan dalam mempersiapkan perlawanan terhadap fasisme Jepang.
BELANDA MENYERAH
Bahaya agresi Jepang ke Indonesia bukan hanya mengancam rakyat Indonesia tetapi juga mengancam warga negara Belanda di Indonesia.
Pada waktu itu, gerakan kemerdekaan nasional rakyat Indonesia dengan melalui Gabungan-gabungan Politik Indonesia (GAPI) telah mengajukan tuntutan demokratis yang masuk akal, sebagai landasan untuk menggalang kerjasama yang luas guna mempersiapkan perlawanan terhadap agresi fasis Jepang.
Namun demikian politik dan sikap pemerintah kolonial Belanda dari sejak semulanya tidak memperlihatkan niatnya untuk menyiapkan dan melakukan perlawanan dengan sungguh-sungguh. Pemerintah kolonial
94
LA na 0.
=== [PDF page 95] ===
merasa lebih takut terhadap gerakan nasional rakyat Indonesia dari pada terhadap sesama imperialisme, walaupun yang belakangan ini dapat merugikan kepentingannya sendiri. Dalam menghadapi tuntutan demokratis yang masuk akal dari rakyat Indonesia, pemerintah kolonial Belanda berusaha dengan segala jalan untuk mengelakkan. Bahkan terhadap tuntutan yang sangat ringan menurut ukuran gerakan nasionalpun ditolaknya.
Suatu jawaban terhadap tuntutan rakyat Indonesia itu ialah dibentuknya komisi Visman yang diputuskan pada tanggal 14 September 1940. Tugas komisi ini tidak lebih dari pada menyelidiki dan mengumpulkan bahan-bahan untuk menetapkan sikap kemudian hari. Hasil komisi ini diumumkan beberapa hari menjelang bertekuk lututnya pemerintah kolonial Belanda. Juga pidato radio Ratu Yuliana yang sedang lari ke Inggris yang diucapkan pada tanggal 10 Mei 1941 tidak lain dari pada bernada penipuan sebagai pidato pemerintah pelarian saja.
Sikap yang khianat dari pemerintah kolonial Belanda juga diperihatkan dalam sikapnya terhadap Atlantic Charter (Piagam Atlantik)
yaitu suatu piagam sebagai hasil perundingan antara pemerintah Amerika dan Inggris yang masing-masing diwakili oleh Roosevelt dan Churkhil pada tanggal 10 s/d 13 Agustus 1941. Dalam fasal 3 Atlantic Charter menyatakan bahwa ”Mereka (yang menanda tanganinya) akan menghormati hak tiap-tiap bangsa untuk memilih bentuk pemerintahan, dibawah mana mereka itu akan hidup yang mereka kehendaki, supaya hak-hak kedaulatan dan pemerintahan sendiri akan dikembalikan kepada mnereka yang dengan kekerasan dirampas hak-hak kedaulatan serta pemerintahannya sendiri”. Pemerintah kolonial Belanda menganggap bahwa dirinya tidak terikat oleh piagam itu. |
Justru pada saat dekat serbuan Jepang ke Indonesia, yaitu pada bulan-bulan pertama tahun 1942, pemerintah kolonial Belanda melakukan penangkapan terhadap pemimpin Indonesia. Mereka yang ditangkap ini antara lain terdapat A.M. Sipahutar, S.K. Trimurti, Wikana, Asmara-.hadi, Inu Kertapati, Pandu Kartawiguna, Imam Puspowinoto, Syamsuri, Isa St. Manteri, Sidik Kertapati dan lain?. Mereka ini dimasukkan kamp tawanan di Garut dan disiapkan untuk dilarikan ke Australia dengan melalui pelabuhan Cilacap. Niat ini gagal karena pelabuhan Cilacap dibom Jepang. *
*) Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 | — Sidik Kertapati, hl. 6
95
=== [PDF page 96] ===
Karena politik dan sikap pemerintah kolonial Belanda seperti itu maka dalam menghadapi agresi fasis Jepang rakyat dan pemuda Indonesia masih dalam keadaan tidak cukup termobilisasi baik dalam pikiran, politik maupun organisasi. Maka tidak mengherankan kalau Jepang dapat dikatakan menduduki Indonesia tanpa ada perlawanan yang berarti dari serdadu kolonial Belanda. Serdadu kolonial Belanda menghadapi serangan Jepang patah moralnya dan cepat melemparkan pakaian seragam serta senjatanya atau mengangkat tangan. Bahkan tidak sedikit komandan militernya yang lari meninggalkan posnya tanpa memberikan pimpinan perlawanan seperti halnya Komandan Militer kota Palembang. /
Dengan politik pertahanannya yang pasif serta sepihak ini, maka tidak mengherankan bahwa serdadu dan pemerintah kolonial Belanda hanya dapat bertahan selama 3 bulan saja dari sejak pernyataan perangnya yang tampaknya gagah-gagahan. Achirnya pada tanggal 1 Maret 1942 tentara Jepang mendarat di Banten, Indramayu dan Tuban.
Bangunan kolonial yang didirikan diatas penyembelihan, pembunuhan, penyiksaan, penghisapan yang kejam terhadap rakyat Indonesia selama beberapa ratus tahun ambruk untuk selama-lamanya, suatu keambrukan yang sama sekali tak pernah dimimpikan oleh kaum kolonialisme Belanda.
Sebagai lambang keambrukan itu, pada tanggal 7 dan 8 Maret 1942 distasiun udara Kalijati, Panglima tentara Belanda yang merangkap Panglima tentara Sekutu di Hindia Belanda Ter Poorten dan Gubernur Jendral Baron Carda Starkenborgh Stakhower, menanda tangani penyerahan tanpa syarat atas nama pemerintah kolonial Belanda kepada Panglima tentara agresor fasis Jepang Jendral Imamura. Ini berarti bahwa nasib rakyat Indonesia dan warga Belanda di Indonesia diserahkan mentah-mentah kepada kaum fasis Jepang untuk dirampok, disiksa, dibunuh, diperkosa dan lain-lain. '
Dengan penyerahan ini rakyat Indonesia, Pemuda Indonesia me:
nyaksikan bahwa kekuasaan kolonial yang tampaknya kokoh, megah dan zarang dapat juga ambruk. Dan ini memberi inspirasi kepada para pemudanya bahwa kalau dirinya bersenjata, berorganisasi, bersatu dan berkesadaran nasional juga dapat menggunakan senjata itu untuk mengambrukkan bangunan kolonial yang mana saja. Peristiwa ini juga sekaligus membuka suatu lembaran sejarah yang baru bagi rakyat dan pemuda Indonesia dalam perjuangannya, suatu lembaran sejarah yang akan menentukan hari esok dalam mewujudkan cita-citanya, walaupun pemuda-pemuda juga sadar bahwa ujian berat masih harus dihadapi dan dilaluinya.
96
=== [PDF page 97] ===
PERIODE— III
PERLAWANAN PEMUDA INDONESIA
TERHADAP
PENDUDUKAN FASIS JEPANG (1942—1945)
=== [PDF page 98] ===
plupnd uny4oyoludw Dsyodip yun) uinpy
Digitized by Goog le
=== [PDF page 99] ===
PENINDASAN FASIS JEPANG DAN
PERLAWANAN RAKYAT
Periode ini adalah periode yang sangat sulit bagi gerakan nasional Indonesia, termasuk bagi gerakan pemudanya. Tetapi masa ini juga merupakan suatu masa ujian yang menuntut keberanian, keuletan, dan kecerdikan dari pemimpin-pemimpin gerakan nasional dan pemimpinpemimpin pemuda.
Bahwasanya ia merupakan suatu periode yang sangat sulit dan metupakan ujian dapat ditilik dari keadaan ekonomi, politik, sosial dan lain-lain dalam hubungan kepentingan Jepang terhadap Indonesia dalam rangka melancarkan perang agresinya. Jepang adalah satu-satunya negeri di Asia yang perkembangan kapitalismenya sudah tinggi, sudah mencapai kapitalisme-modern, imperialisme. Sejak pada awal abad 19 Jepang menjadi negeri imperialis, usaha merebut pasar diluar negeri, merebut tanah jajahan sudah dimulai dengan melakukan perang agresinya. Pada tahun 1904 ia merebut daerah Rusia di Timur Jauh, sehingga mengakibatkan pecahnya perang Rusia-Jepang (1904-1905).
Pada tahun 1910 jazirah Korea diduduki dan pada tahun itu juga memaksa Tiongkok untuk memberi hak” istimewa padanya. Pada tahun 1931 Jepang mencaplok Mancuria, daerah timur-laut Tiongkok.
Dengan direbutnya Mancuria ini Jepang memperoleh dasar materiil yang kuat, karena daerah itu kaya dengan biji besi dan batu bara, sebagai bahan-bahan yang penting untuk meneruskan agresinya. Dalam tahun berikutnya kaum militer fasis berkuasa di Jepang, dan rencana agresi ke Asia Tenggara dipersiapkan dan mulai dilakukan. Syanghai diserbu dan didudukinya pada tahun 1935. Nafsu agresif ini kemudian terkenal dengan,,memorandum Baron Tanaka”. Indonesia sebagai salah satu negeri jajahan Belanda yang kaya akan bahan-bahan mentah menjadi inceran utama dari Jepang. Bahan-bahan strategis scperti minyak, karet, timah sangat menggiurkan Jepang. Delegasi yang resminya untuk mengadakan perundingan perdagangan dengan pemerigtah kolonial Belanda Gikirimkannya pada bulan September 1940 dan bu lan. Januari 1941.
Kedua delegasi itu menemui kegagalan dalam usah: ya, sebagaimana sudah dapat diterka sebelumnya, karena tuntutan-tuntitan untuk mendapatkan hak-hak istimewa Jepang.
/ 99
eo pereer vy aearerrr reve
=== [PDF page 100] ===
Dengan menggunakan kesempatan kemajuan agresi sekutunya, fasis Jerman di Eropa, yang didalam waktu singkat dapat menduduki negeri-negeri Eropa yang juga mempunyai jajahan di Asia. Jepang pada tanggal 1 Desember 1941 menyatakan perang terhadap Inggris dan Amerika. Dalam menggerakkan agresi militernya ke selatan pada bulan?
permulaan tahun 1942, yaitu pada tanggal 1 Maret 1942 Jepang mulai menyerang Indonesia, dan pada tanggal 9 Maret Belanda menyerah tanpa syarat.
Sebagai negeri fasis yang sedang melakukan pcrang agresinya, Jepang sangat memerlukan bahan-bahan mentah, bahan-bahan strategis. Pendudukannya terhadap Indonesia sudah tentu didasarkan atas politik untuk memperoleh bahan materiil dan tenaga manusia untuk,,memenangkan”
perangnya.
Untuk memudahkan mencapai maksud itu, Jepang setelah mengambil oper kekuasaan dari pemerintah kolonial Belanda, membagi Indonesia dalam 3 kekuasaan pendudukan militernya yaitu: 1. Jawa dan Madura diduduki dan dikuasai oleh Tentara ke XVI, dengan bermarkas besar di Jakarta, sebagai ibukota. 2. Sumatra dan Malaya yang diduduki oleh Tentara ke XXV dan bermarkas besar di Singapura, tetapi untuk pemerintahannya Sumatra ada sendiri, yaitu pemerintah pendudukan militer yang berpusat di Bukit Tinggi. 3. Kalimantan, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku dan Irian Barat diduduki oleh Angkatan Laut yang berpusat di Makasar.
Untuk mengkordinasikan pemerintah pendudukan antara Angkatan Darat dan Angkatan Laut ini, dibentuklah suatu,,Badan Penghubung”
yang dipimpin oleh seorang opsir tinggi Angkatan Laut fasis Jepang, Laksamana Muda Maeda. Kantor Badan Penghubung ini berada di Jakarta.
Dengan alat kekuasaan ini, Jepang melakukan perampokan dan perampasan terhadap kekayaan rakyat Indonesia. Persediaan bahan yang sewaktu Belanda menyerah, masih tersimpan dipabrik-pabrik dan gudang”
diangkutnya ke Jepang dan medan perang. Milik dan penghasilan kaum tani seperti padi, ternak, hewan piaraan, perhiasan, dirampas atau dipaksa untuk disetorkan dengan cara paksaan kepada pemerintah pendu- Gukan fasis Jepang. Rakyat dipaksa untuk menjadi romusha — kerja paksa tanpa dibayar. Kaum tani dipaksa menanami tanah garapannya dengan tanam-tanaman yang diperlukan untuk perang. Rel-rel kereta api diangkut untuk membuat jalan kereta api Siam-Birma guna kepentingan militernya. Banyak wanita-wanita dan gadis-gadis diperkosa dan ditipu untuk disekolahkan ke Jepang yang pada kenyataannya diangkut keme-
100 |
=== [PDF page 101] ===
dan perang sebagai umpan nafsu kebinatangan serdadu-serdadunya.
Rakyat diharuskan bersekerai (memberi hormat dengan membongkokkan badan) ketempat istana raja Jepang—Tokio. Waktu jampun harus disesuaikan dengan waktu Tokio. Juga pemuda-pemuda pelajar digundul dan diharuskan meninggalkan bangku sekolah selama beberapa hari tiap-tiap minggu guna melakukan kerja yang dinamakan Kinrohosi.
Akibat dari perampokan, perampasan dan penindasan yang sangat kejam ini maka kemelaratan, kelaparan menimpa rakyat dengan luar biasa. Rakyat tak dapat lagi membeli pakaian, dan dalam keadaan setengah telanjang. Penyakit busung lapar menjalar dimana-mana, dan penyakit kudis, frambosia menghinggapi hampir setiap orang. Banyak orang yang mati kelaparan dipinggir jalan disamping yang mati dibunuh oleh pedang samurai Jepang.
Untuk mengambil hati rakyat Indonesia, jauh sebelum melakukan agresinya, Jepang sudah melakukan propagandanya yang luas terhadap Indonesia. Radio Tokio terus menerus mempropagandakan apa yang dinamakan cita-cita,,Kcmakmuran Bersama Asia Timur Raya”, dan siaran itu selalu dimulai dan ditutup dengan lagu Indonesia Raya. Selama agresinya dimulai, siaran-siaran itu diintensifkan dan bahkan sebelum pendaratannya di Indonesia terlebih dahulu disebarkan dari udara bendera Jepang dan Indonesia yaitu: Hinomaru dan Merah Putih, dan yang dibelakangnya dibubuhi kalimat,,Satu Warna Satu Bangsa”.
Tetapi tindakan pemerintah fasis Jepang sendiri telah membuka segala kebohongannya. Pada tanggal 10 Maret 1942 pemerintah pendudukan fasis Jepang mengeluarkan maklumat yang melarang kegiatan politik dan mengadakan pembicaraan tentang pemerintahan. Kemudian untuk menegakkan kepercayaan terhadap rakyat Indonesia, bahwa serangan agresi Jepang itu bukan untuk menjajah, dan sekaligus untuk menyalurkan, menggunakan dan mengontrol kegiatan rakyat Indonesia, maka pada tanggal 19 Maret diadakan kampanye gerakan,,Tiga A”
yaitu: Pimpinan Asia — Nippon. Pelindung Asia — Nippon. Cahaya Asia — Nippon.
Gerakan,,Tiga A” ini pimpinannya dipegang oleh H. Syimitzu seorang ahli propaganda militeris fasis Jepang, dan Mr. Syamsudin, salah seorang bekas pemimpin pemuda Parindra (Surya Wirawan). Siaran radio dan suratkabar-suratkabar menyerukan agar rakyat membantu dan menyambut gerakan itu. '
Walaupun demikian, gerakan ini tak juga dapat meluas sebagaimana yang diharapkan. Karena ternyata tak dapat memenuhi harapannya, maka akhirnya pada tanggal 20 Nopember 1942 gerakan ini dibubarkan
101
=== [PDF page 102] ===
dan didirikan gerakan baru yaitu Pusat Tenaga Rakyat atau disingkat Putera. Putera ini didirikan pada tanggal 9 Maret 1943, dan dipimpin oleh Ir. Sukarno, Drs. Moh. Hatta, Ki Hajar Dewantoro dan Kyai Haji Mansur, yang juga terkenal dengan »Empat Serangkai”. Usaha Putera
adalah memusatkan segala tenaga untuk menyiapkan Kemerdekaan Indonesia sebagai anggota Kemakmuran Asia Timur Raya. Putera yang oleh Jepang dimaksudkan untuk mencapai maksudnya sendiri yaitu memobilisasi kekuatan rakyat Indonesia untuk mendukung aksi-aksi militer agresinya, digunakan olkh pemimpin-pemimpin Indonesia yang progresif untuk menggembleng semangat mencapai Indonesia Merdeka. Karena itu Jepang merasa bahwa adanya Putera tidak sepenuhnya menguntungkan baginya.
Pada akhirnya Putera dibubarkan, dan pada tanggal 1 Maret 1944 didirikan organisasi baru,,Jawa Hooko Kai” atau Himpunan Kebaktian Rakyat. Organisasi ini dipimpin sendiri oleh Gunseikan-Gubernur Jepang dan wakilnya Somubuco (kepala bagian umum). Ir. Sukarno ditempatkan sebagai pemimpin Kantor Besar sedangkan Drs. Moh. Hatta sebagai penanggung jawab pimpinan harian di kantor pusat.
Walaupun gerakan model Jepang selalu berganti rupa dan bentuknya, namun semua usaha fasis ini tak pernah mendapat sambutan yang antusias dan meresap dihati rakyat. Bahkan kerapnya pergantian gerakan ini makin membuka kedok sebenarnya dari maksud jahat fasisme Jepang.
Rakyat Indonesia adalah rakyat yang heroik. Ia tidak pernah tinggal diam dalam menghadapi tekanan, perampokan, perampasan dan penindasan, tetapi senantiasa berlawan. Demikian juga dalam menghadapi perampokan dan penindasan fasis Jepang ini. Perlawanan yang diamdiam dan terbuka berlangsung silih berganti. Kaum tani di Pancur Batu, Kabupaten Deli Serdang, untuk membela tanahnya yang dirampas Jepang melakukan pemberontakan yang terkenal dengan,,Pemberontakan Aron”.
Setahun kemudian, kaum tani didesa Kandang Haur, Indramayu, karena dipaksa menyetorkan padinya pada tanggal 3 Oktober 1943 memberontak dan dapat memenggal leher beberapia serdadu fasis Jepang. Dengan sebab yang sama, pada tanggal 14 Februari 1944 kaum tani di desa Sukamanah, Singaparna juga melakukan pemberontakan.
Suatu pemberontakan yang sangat menyulitkan Jepang yalah pemberontakan Peta, Prajurit Pembela Tanah Air, pada tanggal 14 Februari 1945 di Blitar. '
Pemberontakan-pemberontakan ini walaupun berakhir dengan dapat ditindas oleh fasis Jepang namun ia selalu memberikan inspirasi yang
102
=== [PDF page 103] ===
kuat terhadap semangat berlawan rakyat dan pemuda Indonesia. Pemudapemuda Indonesia makin yakin bahwa dirinya bersama dengan rakyat Indonesia yang luas pasti juga dapat menggulingkan kekuasaan teroris militeris fasis Jepang yang sangat dibenci rakyat itu.
ORGANISASI PEMUDA BUATAN JEPANG.
KEGIATAN PEMUDA-PEMUDA REVOLUSIONER DALAM
MENGGUNAKAN ORGANISASI INI.
Pemerintah pendudukan militeris fasis Jepang bertugas membantu sekuat tenaga untuk memenangkan perang agresinya dan karena itu segala daya upaya diarahkan kesitu. Dalam melakukan daya upaya menggerakkan moril dan materiil untuk menjamin kemenangan perangnya kepada pemuda, pemuda harus digerakkan untuk kepentingannya.
Untuk menggerakkan ini kaum fasis Jepang sudah tentu tidak akan dapat bersandar kepada organisasi pemuda nasional yang telah ada, terutama yang bersifat progresif dan revolusioner, seperti organisasi pemuda yang. tergabung dalam Perpindo, Perda, atau Kongres Pemuda Islam.
Organisasi-organisasi pemuda ini umumnya mempunyai sifat anti fasis, karena itu pelarangan kegiatan politik yang diumumkan pada bulan pertama sejak berkuasanya pemerintah pendudukan militeris fasis itu juga berarti ditujukan untuk melarang kegiatan dan berlangsungnya organisasi-organisasi pemuda. Organisasi pemuda juga menjadi organisasi terlarang dan dibubarkan.
Dalam usaha untuk menggerakkan pemuda guna kepentingannya, Jepang mendirikan berbagai organisasi pemuda baik untuk pemuda umumnya maupun untuk pemuda pelajar khususnya dan yang bersifat militer atau semi militer.
Pada tanggal 7 Appril 1943 Jepang mengumpulkan beberapa tokoh-tokoh pemuda untuk diminta membentuk organisasi pemuda. Didalam pertemuan itu Jepang menyodorkan konsepsi organisasi pemuda dan meminta agar tokoh-tokoh pemuda itu menerimanya. Konsep Jepang ini tidak mendapat sambutan baik oleh tokoh-tokoh itu. Jepang terus berusaha untuk mendirikan organisasi pemuda sendiri.
Organisasi pemuda yang pertama-tama didirikan oleh Jepang yalah »Pemuda Asia Raya”. Organisasi pemuda ini sebenarnya adalah bagian dari gerakan,,Tiga A”. Pada tanggal 11 September 1943 bekas organi-
"103
=== [PDF page 104] ===
sasi-organisasi Surya Wirawan dan Laskar P.A.I. (Persatuan Arab Indonesia) dilebur kedalam Pemuda Asia Raya tersebut. Tetapi nasib getakan,,Pemuda Asia Raya” ini sama dengan nasib gerakan,,Tiga A”.
Ia tidak mendapatkan sambutan dari massa pemuda secara hangat, karena mereka masih sangsi akan kegunaan atau kemanfaatan organisasi itu. Karena itu organisasi pemuda ini-hanya dibeberapa kota di Jawa Barat dan hanya menghimpun beberapa ratus pemuda saja. Achirnya organisasi pemuda ini karena tidak dapat mencapai maksudnya, setelah Gerakan Tiga A formil dibubarkan, maka iapun 'bubar dengan sendirinya.
Tahun 1943 adalah tahun kedua pendudukan militeris fasis Jepang di Nusantara kita. Tetapi tahun ini adalah juga tahun yang menentukan bagi nasib perang agresi fasis, karena disemua front pertempuran kemajuan serangan militeris fasis Jepang sudah mulai dapat dihentikan dan bahkan sudah mulai terasa tekanan dari kekuatan Sekutu. Keadaan yang demikian ini memaksa pemimpin militeris fasis Jepang untuk berfikir bagaimana mempertahankan apa yang telah direbutnya dengan jalan memperkuat garis depan agar dapat mempertahankan dan memukul serangan balas Sekutu serta membuat garis belakang sedemikian rupa hingga dapat memperkuat kedudukan garis depannya. Indonesia adalah salah satu daerah garis belakang. Tugas untuk mengerahkan segala kekuatan fisik dan mental digaris belakang di Indonesia diserahkan kepada pemerintah pendudukan militeris fasis yang berada disini.
Dalam lapangan menggerakkan pemuda, kaum militeris fasis setelah gagal dengan menggunakan gerakan,,Pemuda Asia Raya”, pada tahun 1943 mendirikan organisasi pemuda yang baru,,Gemblengan Pemuda Asia Raya” atau disingkat Gempar. Gempar ini adalah suatu organisasi pemuda yang menjadi bagian dari Putera. Namun demikian Gempar ini juga tidak dapat memenuhi maksud Jepang, karena banyak pemuda-pemuda revolusioner menggunakannya sebagai saluran kegiatannya.
Dalam keadaan yang demikian itu pemimpin-pemimpin Putera mendesak kepada pemerintah pendudukan Jepang agar melatih pemudapemuda Indonesia dalam rangka mempertahankan daerahnya masingmasing. Tetapi usul itu tidak diterimanya dan sebagai gantinya pada bulan April 1943 didirikannya organisasi pemuda yang bernama Secinendan atau Barisan Pemuda.
Seinendan ini bertujuan:,,meyakinkan pemuda di Jawa sehingga mereka dengan giat bekerja sama dengan pemerintahan -pendudukan militer Jepang dan memberi bantuan untuk membangun Lingkungan Kemakmuran Bersama di Asia Timur Raya.
Seinendan ini dipimpin oleh pelatih-pelatih bangsa Indonesia dan
104
=== [PDF page 105] ===
untuk memilih mercka diadakan seleksi yang sangat keras. Pemimpin Seirendan ini mula-mula dilatih di Jakarta (Seinen Kurenkho) dibawah pimpinan Jepang dan setelah selesai mereka kembali ketempatnya masing-masing untuk melatih kepala barisan di masing-masing Karesidenan.
Setelah latihan dasar setiap Karesidenan selesai maka mereka dikembalikan di Kabupaten dan Kotapraja. Detasemen dibentuknya kalau perlu disetiap desa, apabila jumlah pemuda ditempat itu ada 500 orang.
Juga dipabrik-pabrik atau ditempat kerja lainnya dibentuk cabangcabang Seinendan. Latihan militer yang diberikan kepada pemuda-pemuda ini yalah: Berbaris dan menggunakan senapan dari sebatang kayu, memadamkan kebakaran, menjaga bahaya udara, menjaga serangan udara dan perlindungan bahaya udara, olahraga dan pendidikan umum, disamping mempelajari bahasa dan lagu-lagu Jepang. Sebagai badan tertinggi yang mencakup dan memimpin semua barisan Seinendan di Keresidenan didirikan Gabungan Seinendan seluruh Jawa yang dalam bahasa Jepangnya diberi nama Jawa Rengo Seinendan. Yang menjadi kepala Seinendan di Jawa yalah Gunseikan (Gubernur Militer) dan wakil kepalanya yalah Somubuco (Kepala Departemen Umum) dan Naimubuco (Kepala Departemen Dalam Negeri).
Pemuda yang boleh menjadi anggota Seinendan ini yalah pemuda yang telah mencapai umur 14-25 tahun. Setiap anggota membayar iuran 1 sen, resminya dia tidak memakai pakaian seragam, tetapi dalam perkembangannya setiap keresidenan membuat pakaian seragamnya sendiri.
Disamping organisasi pemuda yang sudah ada ini Jepang juga masih berusaha untuk mengerahkan orang dewasa dan orang tua dalam barisan jaga keamanan didesa dan kampung-kampung. Barisan ini diberi nama Keibodan. Keibodan dipimpin oleh kepala desa atau kampung.
Barisan Keibodan ini diperintah dari Kaisatsuku (Kepolisian) yang pelaksananya diserahkan kepada kepala Keibodan.
Disamping barisan pemuda semi militer yang bersifat umum itu, pelajar-pelajar yang disamping belajar mendapat latihan-latihan militer juga tersusun dalam suatu organisasi yang disebut Gakuto Tai.
Perkembangan front pertempuran makin hari makin memperlihatkan kesuraman bagi kekuatan agresor fasis. Baik difront lautan di Pasifik ' maupun difront daratan Asia, kekuatan militeris fasis Jepang selalu mendapatkan pukulan mundur. Kemajuan tentara sekutu di Pasifik makin hari makin mendekati kepulauan Nusantara kita. Dengan demikian Jepang makin merasakan terancam kekuasaannya.
Dalam menghadapi ancaman serangan balas dari Sekutu yang demikian itu maka pemerintah pendudukan militer fasis melakukan politik
105
=== [PDF page 106] ===
untuk menggerakkan kekuatan rakyat Indonesia semaksimal mungkin untuk ikut melawan, mempertahankan dan kalau perlu, melakukan perang gerilya yang bertahan lama terhadap Sekutu. Untuk mencapai maksud ini Perdana Menteri Jepang — Toyo berjanji, yang jucapkan pada tanggal 16 Duni 1943 di Tokio, akan mengikut-sertakan penduduk pulau Jawa dalam pemerintahan di Jawa. Janji ini kemudian diulangi sewaktu kunjungannya 'ke Jawa.
Janji Toyo ini kemudian diulangi lagi dalam bentuk yang tampaknya lebih tegas dan mengandung harapan oleh Koiso (pengganti Toyo)
pada tanggal 7 September 1944. Janji ini menyatakan akan memberikan kemerdekaan kepada Indonesia pada kelak kemudian hari. Yang dimaksudkan dengan,,kelak kemudian hari” yalah bila perang agresi Jepang sudah mendapat kemenangannya.
Dikalangan pemuda, Jepang makin mengintensifkan latihan kemiliteran dan organisasi kemiliterannya. Disamping organisasi pemuda yang sudah ada, Jepang juga menyetujui usul pimpinan Putera untuk mendirikan barisan pemudanya sendiri yaitu Barisan Pelopor Istimewa. Kecuali itu, juga didirikanlah barisan-barisan yang lain seperti: Barisan Banteng, Barisan Berani Mati dan lain sebagainya.
Barisan Pelopor ini dipimpin oleh Dr. Muwardi, Sudiro, Suratno dan lain-lain. Sedangkan Barisan Pelopor Istimewa dipimpin oleh Sudiro, Is lan, Supeno, Ir. Sukirman dan lain-lainnya.
Pemuda-pemuda Indonesia yang telah dididik dalam berbagai organisasi pemuda yang progresif dan revolusioner pada masa sebelumnya, memasuki organisasi buatan Jepang ini dengan tujuannya sendiri. Mereka memasuki organisasi pemuda buatan Jepang untuk menghimpun kekuatan massa pemuda, mendidik mereka dengan semangat anti fasis, dan dengan ide-ide mencapai Indonesia Merdeka. Karena itu maka pemuda-pemuda ini dalam memasuki organisasi-organisasi pemuda buatan Jepang, selalu memilih dan memperkuat organisasi yang mungkin dapat digerakkannya. Barisan Pelopor, Barisan Pelopor Istimewa.
Barisan-barisan Banteng dan beberapa lagi adalah organisasi-organisasi yang banyak dimasuki oleh pemuda-pemuda progresif. Banyak kader pemuda yang dihasilkan sebagai buah hasil pekerjaan pemuda-pemuda progresif telah mempunyai pendidikan perjuangan sebelumnya.
Sikap pemuda Indonesia ini tercermin dengan jelas dalam pembentukan,,Barisan Banteng”, yaitu organisasi pemuda yang berdirinya dipelopori oleh pemuda-pemuda didikan Menteng 31. Barisan Banteng ini menghimpun pemuda-pemuda dari umur 13-15 tahun. Dalam waktu yang singkat sekali Barisan Banteng sudah meluas. Di Jakarta saja anggota-
106°
=== [PDF page 107] ===
iho sedang dilatih
Digitized by Goog le
=== [PDF page 108] ===
nya sudah mencapai 10.000 pemuda. Barisan Banteng, disamping memberikan latihan-latihan kemiliteran, juga mengajarkan, menyanyikan lagu-lagu revolusioner seperti:,,Ditimur Matahari Mulai Bercahaya”, »Lihatlah Bendera Kami”,,,Indonesia Raya” dan lain-lain.
Sekali peristiwa, anggota Barisan Banteng sedang berbaris melalui Kramat dan menyanyikan lagu-lagu revolusioner sebagai salah satu aksi untuk menentang fasis Jepang, dihentikan oleh polisi dan pimpinannya ditahan. Pemuda-pemuda semuanya mendatangi kantor polisi dan minta agar pimpinannya dikeluarkan. '
Dengan berdirinya Putera dengan Barisan Pemudanya yang banyak dipimpin oleh kaum nasionalis yang gigih memperjuangkan Kemerdekaan Indonesia maka Jepang merasa kurang dapat mempercayainya.
Jepang kuatir kalau Putera ini dapat menghimpun segenap rakyat dan pemudanya dan menyatukan serta mendidik semangat revolusioner kepadanya. Karena itu Jepang perlu mengimbangi, yaitu mendirikan organisasi yang lebih dapat dipercayainya.
Dalam usahanya ini Jepang menggunakan sentimen dan perasaan keagamaan dari rakyat Indonesia. Pemerintah pendudukan Jepang mendatangkan seorang haji dari Jepang yang bernama Haji Munia Inada, dan mengubah Majelis Islam Ala Indonesia (M.LA.I.) menjadi Masyumi, Majclis Syura Muslimin Indonesia.
Dengan demikian Jepang menjalankan juga politiknya pemecahbelah sebagaimana juga dijalankan oleh kaum kolonialis pada umumnya. Tetapi tujuan ini tidak sepenuhnya tercapai, karena banyak pemimpin-pemimpin Islam yang teguh bersemangat anti fasis, seperti Zainul Arifin, Anwar Harsono Cokroaminoto, Wahid Hasyim, Aruji Kartawinata dan lain-lain. Juga banyak tokoh-tokoh pemuda Islam yang bersemangat anti fasis masuk berbagai organisasi pemuda dan ikut menggalang kekuatan guna melawan fasis Jepang, mereka mengadakan latihanlatihan kyai-kyai, dan memobilisasi pemuda progresif untuk memasuki organisasi Hisbullah, Peta dll.
Bentuk perlawanannya antara lain — mereka menolak membungkuk ke Tokio dengan alasan-alasan, bahwa itu bertentangan dengan ajaran agama Islam.
Sebagai alat perlengkapan yang penting dari Masyumi, maka diditikanlah organisasi pemuda scmi militer yang bernama Hisbullah, yang berarti Tentara Allah pada tanggal 8 Desember 1944, yaitu tak lama setelah Barisan Pelopor berdiri.
108
=== [PDF page 109] ===
BARISAN BERSENJATA HEIHO DAN PETA
Didepan sudah diterangkan bahwa politik Jepang terhadap Indonesia yalah mengerahkan maksimal mungkin baik bahan-bahan keperluan perang maupun tenaga manusia dan moril. Dalam mengerahkan tenaga manusia semaksimal mungkin untuk,,membantu” tentara fasis Jepang dalam melakukan perang agresinya, sejak bulan-bulan pertama setelah pendaratan di Indonesia, Jepang sudah mengerahkan pemuda Indonesia untuk memasuki Heiho, yaitu suatu barisan bersenjata yang bertugas membantu tentara fasis Jepang. Permulaannya dicari terlebih dulu bekas-bekas KNIL dan marine-marine karena dianggap mereka telah mendapat pendidikan militer dari Belanda. Kemudian dalam rangka perluasannya, ditarik pemuda-pemuda pada umumnya. Pada saat permulaan memang tidak banyak pemuda-pemuda yang dapat dikerahkannya untuk masuk Heiho, tetapi selanjutnya juga tidak kecil jumlahnya.
Heiho, adalah barisan yang langsung dibawah pimpinan tentara fasis Jepang dan yang berfungsi membantu. Karena itu pimpinan seluruhnya berada ditangan orang Jepang, sedangkan orang Indonesia hanya menjadi pembantu pelaksana. Pangkat tertinggi yang dapat dicapai untuk Heiho yalah opsir rendah (Syotaico), sedangkan mereka ini semuanya harus tunduk dan memberi hormat kepada serdadu-serdadu biasa Jepang.
Heiho juga dibagi menjadi Heiho laut, Udara dan Polisi Militer (Kempeiho). Perlakuan serdadu-serdadu Jepang terhadap Heiho ini sangat jelek, kasar. Mereka bisa ditempeleng semau-maunya, diberi hukuman berat bila melakukan sedikit,,kesalahan”, dihina, dsb.-nya.
Sedangkan jaminan yang diterimanya seperti makan, pakaian, tidur dan lain-lain jauh lebih jelek dari pada serdadu Jepang. Dalam pekerjaan heiho-heiho harus bekerja lebih keras dengan uang saku lebih sedikit dari pada serdadu-serdadu Jepang. Latihan-latihan kemiliteran umumnya hanya diberikan secara elementer sesuai dengan fungsinya sebagai pembantu. Mereka dikirimkan kemedan pertempuran seperti ke- Birma, Siam, Morotai, Timur dsb.-nya dan tidak sedikit yang menjadi korban.
Karena perlakuan yang kasar dan jelek ini maka tidak sedikit perlawanan yang dilakukan oleh heiho, baik secara diam-diam maupun secara terbuka.
Karena sifatnya yang hanya sebagai pembantu, maka Heiho tak banyak dapat menarik perhatian pemuda, walaupun Jepang dengam
1 109
=== [PDF page 110] ===
Peta sedang dilatih segala cara mempropagandakannya. Dengan demikian maka dilihat dari sudut strategi, Jepang masih merasa belum cukup tersedianya tenaga yang langsung dapat dipergunakan untuk melakukan peperangan yang bertahan lama dalam perang pertahanannya. Hal ini makin dapat dirasakan, setelah memasuki tahun 1943. Dalam tahun ini strategi ofensip tentara fasis Jepang sudah mulai macet, "kemajuan” serangannya sudah terhenti dan sudah merubah menjadi kedudukan bertahan bahkan serangan-balas dari Sekutu sudah makin terasa. Dengan demikian, maka. pemerintah pendudukan Jepang berusaha untuk mengintensifkan pengerahan tenaga pertahanan semaksimal mungkin dan dengan berbagai macam jalan. Organisasi militer dan semi militer yang telah diciptakan masih dirasakan kurang cukup untuk melakukan pertahanan ”tota?” yang direncanakannya. Dalam keadaan yang demikian ini Jepang menerima usul Gatot Mangkuprojo dan bupati-bupati yang minta "agar pemuda Indonesia diberi kesempatan membela tanah airnya”.
Pada tanggai 3 September 1943, pemerintah pendudukan militer Jepang mengeluarkan undang-undang untuk membentuk “Pasukan Sukarela Tentara Pembela Tanah Air”, yang dalam bahasa Jepangnya dinamakan ”Kyodo Boui Guyu Gun”, atau bahasa Indonesianya disingkat PETA. Dasar politik Jepang terhadap PETA ini dapat dilihat juga dalam bunyi pasal-pasal pendahuluan undang-undang itu sbb.: 1. Mengingat semangat yang berkobar-kobar serta juga memenuhi keinginan yang
110
Digitized by Goog le
=== [PDF page 111] ===
sangat dari 50 juta penduduk di Jawa, yang hendak membela tanah airnya dengan sendiri, maka bala tentara Dai Nippon membentuk tentara Pembela Tanah Air, yakni pasukan sukarela untuk membela Tanah Jawa dengan penduduk aslinya, yalah berdiri atas dasar cita-cita membela Asia Timur Raya bersama-sama. 2. Pasukan Sukarela Pembela Tanah Air ini, dibentuk dengan penduduk asli yang memajukan diri untuk kewajiban membela tanah airnya, dan ditempatkan didalamnya sejumlah opsir Nippon sebagai pendidik. 3. Pasukan Sukarela Tentara Pembela Tanah Air termasuk dibawah pimpinan Saiko Sikikan dan wajib menerima perintahnya. 4. Pasukan Sukarela Tentara Pembela Tanah Air harus insyaf akan cita-cita dan kepentingan pekerjaan pembela tanah air, serta wajib turut membela tanah airnya dalam Syu (Karisidenan)
masing-masing terhadap negeri Sekutu, dibawah pimpinan Balatentara Dai Nippon.
Dari sini dapat diketahui bahwa Peta bukan lain dari pada barisan daerah yang didirikan Jepang untuk digunakan melawan serangan Sekutu dalam perang mempertahankan daerahnya masing-masing dibawah pimpinan fasis Jepang. Tetapi Peta berbeda dengan Heiho yang menjadi bagian tentara Jepang, sedangkan Peta hanya dilatih oleh opsir Jepang dibawah pimpinan panglima tentara pendudukan Jepang Saiko Sikikan. Jadi barisan Peta berada langsung dibawah opsir putera Indonesia yang telah dilatih dan mendapat didikan militer dari Jepang.
Opsir Peta mendapat latihan dasar selama tiga bulan di Sekolah Pendidikan Perwira Tentara Pembela Tanah Air dikota Bogor. Lama pendidikan hanya 3 bulan dan sekolah ini telah dipakai 3 angkatan hingga tahun 1944. Pendidikan ini hanya merupakan pendidikan dasar tentang ilmu kemiliteran, susunan, siasat perang dan bertempur, pengetahuan ilmu senjata, dan lain-lainnya.
Opsir yang telah dilatih ini kembali ketempatnya masing-masing dan ditugaskan untuk menyiapkan pasukan bersenjata dikaresidenannya masing-masing. Umumnya kepala barisannya, yaitu Daidanconya, dipilihkan oleh Jepang orang yang lunak yang dapat menjamin bahwa senjata yang telah ditangan Peta tidak digunakan untuk melawan Jepang sendiri.
Dengan didirikannya Peta ini banyak pemuda-pemuda progresif yang masuk. Mereka menggunakan kesempatan ini untuk mendapatkan latihan militer dan menguasai senjata untuk menyusun kekuatan yang mungkin selanjutnya dapat digunakan untuk melawan penumbangan Jepang sendiri. Gerakan anti fasis Jepang masuk tubuh anggota Peta dan rencana-rencana pemberontakan juga pernah diadakan disementara
=== [PDF page 112] ===
barisan. Suatu pemberontakan yang bersifat anti fasis Jepang dari kalangan Peta meletus pada tahun 1945 di Blitar.
Juga dalam menjelang hari proklamasi '45, elemen-elemen progresif dalam Peta mengambil bagian aktif untuk menyongsong proklamasi seperti Peta di Rengas Dengklok dibawah pimpinan Umar Bahsan yang pada waktu itu menjabat sebagai kepala barisan (Syodanco). Didaerah Purwokerto dengan dibawah pimpinan Daidanco Sudirman, dapat mempertahankan diri dari perlucutan Jepang dan menjadi angkatan bersenjata Republik Indonesia yang pertama lengkap persenjataannya dan teratur. |
Barisan-barisan pemuda baik yang bersifat militer dan semi militer ini sampai saat terakhir Jepang menyerah ada:
Peta: 37.000 orang
Heiho: 35.000,,
Hisbullah: 50.000,,
Seinendan: 500.000 — 600.000 orang.:
Kaibodan: 1.280.000 orang
Gakutotai.: 50.000,,
Barisan Berani Mati: 50.000,,
Pelopor: 80.000,,
Ini baru merupakan angka-angka yang mencakup barisan yang didirikan di Jawa karena dipulau-pulau luar Jawa berada dibawah pemerintah pendudukan militer yang tersendiri. Pemerintah pendudukan militer diluar Jawa itu juga mengadakan berbagai organisasi pemuda yang sama sifatnya dengan di Jawa. Karena itu jumlah sesungguhnya masih jauh lebih besar dari angka-angka ini.
GOLONGAN GRUP DAN TOKOH.
Sudah diterangkan bahwa pada hari-hari pertama sejak tentara fasis Jepang mengambil oper kekuasaan Belanda di Indonesia telah dikeluarkan maklumat yang melarang kegiatan berpolitik dari gerakan rakyat serta pemuda yang progresif dan revolusioner. Pemerintah pendudukan militer fasis Jepang bukan hanya melarang kegiatan politik, tetapi juga melakukan penangkapan dan pembunuhan terhadap tokoh nasional dan pemimpin Partai yang telah terkenal atau disangka mempunyai peranan penting dalam gerakan anti fasis, Pada bulan 'Nopember 1942, yaitu delapan bulan setelah pemerintah pendudukan militer dapat mengkonsolidasi dirinya, maka dilakukan penangkapan terhadap pemimpin-pemimpin gerakan anti fasis, tokoh-tokoh pemuda di
112!
=== [PDF page 113] ===
Surabaya yang terkenal sebagai pusat gerakan anti fasis. Tidak kurang dari 230 orang ditangkapi. Diantara mereka yang ditangkap pada waktu itu terdapat Sukayat, Abdul Rokhim, dan kemudian Azis dari pimpinan P.K.I. dibawah tanah, pemuda-pemuda Fatah Yasin, Syaifullah, Sudisman, Cugito, Sukarno dan lain-lainnya. Beberapa bulan kemudian yaitu pada bulan-bulan pertama dari tahun 1943 juga ditangkap Pamuji, Ketua P.K.I., Mr. Amir Syarifudin pemimpin Gerindo, dan kemudian juga
ditangkap Dr. Kayadu, Prof. Dr. Mukhtar, Mr. Sumanang, Mangun- |
sarkoro, Dr. Susilo, Sudoyo, Dr. A.K. Gani, Inspektur Polisi R.M. Mutoro aan beberapa pimpinan P.S.I.I. di Palembang, antara lain A.S. Macik, Hamsyah, Nuncik dan lain-lain. Bahkan akhirnya Jepang juga menangkap Ir. Moh. Sofwan dan K.H. Hasyim Asy'ari dari pimpinan N.U.
Diantara mereka yang ditangkap ini, ada yang meninggal dunia dalam tahanan sebagai akibat siksaan yang luar biasa, seperti Sukayat, Abdul Rokhim, Azis, Pamuji, Syaifullah dan lain-lain, sedangkan Prof. Dr.
Mukhtar dibunuh di Jakarta dan Dr. Susilo dibunuh di Pontianak, bersama dengan pembunuhan masal didaerah ini. Mr. Amir Syarifudin dijatuhi hukuman mati, tetapi sebagai hatsil dari perjuangan kawankawannya, terutama Bung Karno, diubah menjadi hukuman seumur hidup.
Dengan penangkapan, pembunuhan seperti ini kaum militeris fasis Jepang memberi tekanan yang berat terhadap gerakan nasional rakyat Indonesia. Walaupun demikian, tokoh-tokoh bekas pemimpin partai politik, pemuda dan massa organisasi lainnya memainkan peranan penting dalam kehidupan politik, dan umumnya menjadi pusat lingkaran-lingkaran gerakan anti fasis, gerakan kemerdekaan. Perkembangan perjuangan politik makin berseluk-beluk dan lingkaran yang berpusat pada beberapa tokoh yang ada tidak lagi dapat memuaskan massa progresif dan revolusioner. Apalagi sementara tokoh-tokoh itu ternyata sikapnya kurang tegas, ragu-ragu atau memang sudah tenggelam dalam kepercayaan pada Jepang. Dalam keadaan ini: maka timbullah golongan-golongan, grup"
dan tokoh-tokoh sebagai tempat perjuangan-perjuangan berlingkar, untuk membicarakan segala sesuatu yang bersangkutan dengan perjuangannya. Lingkaran seperti ini memang mempunyai peranan yang tidak kecil dalam “usaha -perjuangan " kemerdekaan, perjuangan melawan fasis Jepang. Lingkaran ini bukan hanya terbentuk di Jakarta, tetapi hampir disemua kota besar dan seolah-olah terpisah satu sama lain:
Tetapi tokoh-tokoh dan grup'grup serta kegiatannya ini tidak dapat dipisahkan dari syarat sejarah terbentuknya, tidak dapat dipisahkan dari keadaan perjuangan rakyat Indonesia umumnya, dalam melawan fasisme
Sejarah Perjuangan 8 113
=== [PDF page 114] ===
dan ketiadaan partai atau organisasi yang dapat menghimpun massa luas dalam perjuangan melawan fasisme.
Golongan-golongan, grup-grup dan tokoh-tokoh yang terbentuk sejak tahun 1943 yalah: 1. Golongan Sukarni, yalah golongan dari pemuda?
yang bekerja di Sendenbu (Bagian Penerangan Jepang). Sukarni adalah salah seorang bekas anggota pimpinan Indonesia Muda, dan pada tahun 1934 termasuk salah seorang yang dicari oleh Belanda dan sempat menghilang. Sesaat sebelum perang Pasifik pecah, dia ditangkap di Balikpapan dan dibawa kemudian kembali ke Jakarta.
Pada masa pendudukan Jepang Sukarni bekerja di Sendenbu.
Yang termasuk dalam grup Sukarni ini yalah pemuda-pemuda Adam Malik, Pandu Kartowiguno, Maruto Nitimiharjo, yang memang sejak masa Belanda mempunyai hubungan satu sama lain.
Politik Jepang di Sendenbu yalah menarik pemuda revolusioner sebanyak mungkin untuk dijadikan alat propagandanya. Politik Jepang ini digunakan oleh grup Sukarni untuk mendirikan semacam institut pendidikan pada triwulan terakhir tahun 1942. Institut ini diberi nama ”Angkatan Baru Indonesia” dengan bertempat di Menteng 31 Jakarta.
“Pengurus Asrama pendidikan ini yalah Sukarni, Chaerul Saleh, A.M.
Hanafi, dan Ismail Wijaya.
Sedangkan yang mengajar antara lain yalah Bung Karno, Mr. Amir Syarifudin, Mr. Sunaryo, Drs. Moh. Hatta, Mr. Subarjo dan lain-lainnya.
Mata pelajarannya yalah soal-soal ”politik” dan pengetahuan umum.
Institut "Angkatan Baru Indonesia” lebih terkenal dengan nama ”Asrama Menteng 31”, tempat, dimana Jepang mau mencoba mencetak kader-kader bagi pengisi aparat propagandanya. Mereka yang masuk asrama Menteng 31 ini umumnya terdiri dari pemuda-pemuda yang telah dapat pendidikan politik dari berbagai-bagai organisasi politik dan organisasi-organisasi pemuda dan mahasiswa seperti Suluh Pemuda Indonesia (S.P.I.), Gerindo (Gerakan Rakyat Indonesia). Pemuda Gerindo, Surya Wirawan, Indonesia Muda, Perhimpunan Pelajar-pelajar Indonesia (P.P.P.I.) dan lain-lainnya.
Oleh karena itu, sukar bagi Jepang untuk menyuntikkan faham ”kemakmuran bersama di Asia Timur Raya”. Apalagi diantara pengajarpengajarnya mereka secara terus-menerus mengajarkan faham politik yang bersifat anti fasis, disamping ilmu pengetahuan umum. Ditambah lagi oleh Bung Karno diberikan ajaran-ajaran yang berisi ide revolusioner untuk mencapai Indonesia Merdeka. 2
Pelajar-pelajar dari Asrama Menteng 31 terus-menerus berhubungan dengan massa rakyat dan saling hubungan inilah yang menimbulkan:
114
=== [PDF page 115] ===
inspirasi untuk mengorganisasi mereka dan mengadakan massa-aksi. Pada permulaan tahun 1943 mereka mulai mengorganisasikan pemuda-pemuda antara umur 12 dan 15 tahun yang bertempat tinggal disekitar Asrama Menteng 31. Organisasi ini diberi nama Barisan Banteng dan simbulnya adalah Kepala Banteng, lambang non-koperasi pada waktu penjajahan Belanda.
Untuk tidak menimbulkan sakwasangka pada pihak penguasa, maka pada pemuda-pemuda itu diajarkan baris secara militer disamping menyanyikan lagu-lagu perjuangan seperti: ”Ditimur matahari mulai bercahaya”, "Lihatlah bendera kami”, Indonesia Raya” dan lain-lainnya.
Sebagai pembangkit semangat perjuangan dipergunakan senapan tiruan sebagai ganti bedil. Senapan tiruan dibuatnya dari bambu, yang ujung atasnya diruncingkan dan dicat merah putih sebagai lambang kenasionalan Indonesia.)
Dalam waktu yang singkat sekali Barisan Banteng ini mendapat perhatian yang mengesankan. Dari jumlah permulaan yang hanya tidak lbih dari 12 orang menjadi lebih dari 10.000 orang dikota Jakarta.
: Dari barisan yang tadinya hanya terdiri dari pemuda-pemuda disekitar “ Asrama Menteng 31, kemudian meluas hampir diseluruh pulau Jawa
terdapat simpatisan-simpatisannya dan cabang-cabangnya.
Lambat laun Barisan Banteng ini merupakan bibit yang subur bagi benih-benih perlawanan terhadap fasisme Jepang. Pemimpin-pemimpinnya adalah diantaranya Chalid Rosyidi, Salam Siswapii, Jamhari Jaya, DN. Aidit,. Ridwan Bazar dan lain-lainnya.
Disamping aktivitas-aktivitas lainnya, perlu kiranya dikemukakan disni tentang usaha pemuda-pemuda Menteng 31 mengorganisasikan buruh pengendara becak dengan nama "Persatuan Buruh Kendaraan” (P.B.K).
Nama ini sengaja bermakna luas, karena ada. dikandung maksud, juga buruh kendaraan diluar becak akan dicoba dipersatukan disini.
Juga kaum majikan becak telah ”tertarik” kepada P.B.K. ini dan memberikan kelonggaran-kelonggaran sewa serta menyediakan sekedar Cyaminan-jaminan sosial seperti pengobatan.gratis dsb. Organisasi ini dipimpin oleh Suparjan, Kusno, Kusnandar, DN. Aidit dan lainlainnya lagi.
Karena usaha-usaha pemuda? Angkatan Baru Indonesia” ini dianggap membahayakan kekuasaan Jepang, maka baik Barisan Banteng maupun Persatuan Buruh Kendaraan dibubarkan Jepang.
Walaupun demikian, usaha-usaha pemuda ini telah membuktikan militansi pemuda, yang selanjutnya akan menjadi salah satu kekuatan “nasional yang dapat membalik jungkirkan Jepang sendiri.
115
=== [PDF page 116] ===
Pemuda-pemuda dari Asrama Menteng 31 juga pada pertengahan tahun 1943 pernah mengambil inisiatif untuk menyelenggarakan suatu Konferensi Pemuda Indonesia. Konferensi ini diadakan di Gedung Menteng 31 kamar muka dan dihadiri oleh eksponen-eksponen bekas organisasi P.M.I. (Pemuda Muslimin Indonesia atau lebih dikenal Pemuda P.S.IL.I.), Pemuda-pemuda Anshor, Surya Wirawan, Pemuda Gerindo, P.P.P.I. dan tokoh-tokoh lainnya seperti Harsono Cokroaminoto, Dr. Sutarman dan Ny. Sutarman.
Selain Pimpinan Angkatan Baru Indonesia seperti Sukarni, Chaerul ' Saleh, A.M. Hanafi dan Ismail Wijaya tampak hadir hampir semua penghuni Asrama Menteng 31 diantaranya Parjono, Jamhari Jaya, Ridwan Bazar, M.H. Lukman, Kusnan dan D.N. Aidit sebagai orangorang pengambil inisiatif.
Walaupun dalam pertukaran pikiran terdapat suasana tegang tetapi pendiskusian tentang masalah gerakan pemuda dan fasisme Jepang mendapat pengolahan yang serius. Tidak jarang terdengar cetusan”
yang revolusioner tentang penting adanya suatu gerakan pemuda sebagai pendobrak kemerdekaan Indonesia.
Juga pemuda-pemuda Menteng 31 ini aktif dalam gerakan"
dibawah tanah untuk melawan fasisme Jepang. Bahkan dalam persiapan Proklamasi 17 Agustus 1945 pemuda-pemuda Menteng 31 ini merupakan tulangpunggung dan pelaksana yang setia.
Malahan pada permulaan bulan Agustus 1945 pemuda-pemuda Menteng 31 ini bersama-sama dengan golongan-golongan dan grup-grup lainnya pernah mengadakan siaran-siaran radio dengan pemancar gelapnya berpindah-pindah dari satu tempat ketempat lainnya dalam kota Jakarta.
Pemancar gelap ini dinamakan siaran dari "Radio Indonesia Merdeka”.
Program siarartnya selain siaran musik dengan lagu-lagu gembira dan bersemangat, juga diadakan siaran-siaran yang maksudnya untuk mengadakan perlawanan terhadap Jepang.
— Siaran Radio Indonesia Merdeka ini jauh sesudah diproklamasikan Indonesia Merdeka, yakni hingga dekat akhir tahun 1946 masih berkumandang diudara. Tempat siarannya yang terakhir adalah kota Krawang dibawah pengawasan Pesindo Cabang Krawang.
. Orang-orang yang menyelenggarakan siaran gelap ini adalah:
Chaerul Saleh, Pandu Kartawiguno, Wiwoho, Kusnandar, A.B. Lubis, Subagyo, A.M. Hanafi, Adam Malik, Ridwan Bazar dan masih banyak lagi nama-nama pemuda-pemuda revolusioner lainnya. |
Radio Indonesia Merdeka inilah sebetulnya dapat dikatakan yang menjadi pelopor dari pada Radio Republik Indonesia sekarang ini.
118
=== [PDF page 117] ===
2. Grup Subarjo, atau yang terkenal grup Angkatan Laut (Kaigun).
Subarjo, yang pada masa Jepang mendapatkan 'kedudukan yang tinggi dikalangan angkatan laut fasis Jepang yaitu sebagai kepala bagian Urusan Politik pada Markas Besar Angkatan Laut menjadi salah satu pusat lingkaran. Yang termasuk dalam lingkaran ini yalah Mr. Maramis, Dr. Samsi, Dr. Buntaran, Mr. Budiarto, Mr. Gatot dan lain-lainnya.
Mr. Subarjo mempunyai kantor sendiri dan banyak orang dari pergerakan lama yang bekerja sama dengannya, seperti: Sudiro (mbah Diro), Chaerudin, Joyopranoto, Wikana dll. |
Dalam menjalankan politik memecah-belah, Angkatan Laut juga berusaha menarik pemuda-pemuda pada pihaknya sendiri. Untuk ini Angkatan Laut Jepang memerintahkan Mr. Subarjo untuk membuat suatu balai pendidikan untuk pemuda-pemuda. Oleh Mr. Subarja pimpinan penyelenggaraan asrama _ "Indonesia Merdeka” diserahkan kpada Wikana.
Nama asrama pendidikan ini "Asrama Indonesia Merdeka”.
Wikana dan kawan-kawannya berusaha mengontrol sebanyak mungkin unit-unit dari pada organisasi ini melalui orang-orang yang memegang posisi (kedudukan) penting dan untuk mempengaruhi anggota-anggota asrama Indonesia Merdeka dengan sikap-sikap anti fasis Jepang, terutama untuk mempersiapkan pemberontakan melawan Jepang pada saat serangan Sekutu sudah datang.
Yang dididik dalam asrama ini yalah pemuda-pemuda dari berbagai daerah, sedangkan mata pelajaran pada pokoknya adalah pendidikan ”politik”. Yang mengajar, disamping pembesar Angkatan Laut Jepang.
juga terdapat Bung Karno, Drs. Moh. Hatta, Sutan Syahrir dan lain”nya.
Asmara ini dalam derajat tertentu mempunyai arti penting bagi gerakan pemuda, karena pendidikan dalam asrama ini juga terdapat ide revolusioner, ide perjuangan kemerdekaan dari Bung Karno. Walaupun Jepang juga ikut mengajar, namun tidak jarang pemuda-pemuda itu berani membantah, dan sekali peristiwa pemuda-pemuda itu sampai berani mengeroyok guru Jepang yang mengajar ilmu militer.
3. Golongan pelajar dan mahasiswa. Undang-undang yang melarang kegiatan politik dari pemerintah pendudukan militer Jepang juga menyangkut organisasi pelajar-pelajar dan mahasiswa-mahasiswa Indonesia. P.P.P.I. dan organisasi pelajar lainnya terpaksa bubar, namun jiwa persatuan dan perjuangan yang telah ditanam oleh pendahulupendahulunya yang menjadi tradisi baik tak lenyap dari pelajar dan mahasiswa-mahasiswa Indonesia. Pelajar-pelajar dan mahasiswamahasiswa tetap setia kepada tradisi revolusionernya. Sudah sejak
117
=== [PDF page 118] ===
masa permulaan kekuasaan fasisme Jepang di Indonesia mereka melakukan perlawanan. Suatu peristiwa yang menunjukkan semangat perlawanan anti fasis dikalangan pelajar dan mahasiswa yalah sewaktu dibukanya sekolah tinggi kedokteran atau Ika Dai Gaku di Jakarta pada tahun 1942. Dalam suatu masa perpeloncoan Jepang dengan paksa menggunduli calon-calon mahasiswa tetapi mahasiswa Indonesia itu membangkang dan melawan, karena tindakan ini dirasakan sangat menghina. Tetapi Jepang dengan paksa masih melanjutkan tindakannya. Dengan demikian maka makin meningkatkan kemarahan ' mahasiswa itu hingga menimbulkan protes dan "demonstrasi”, dan kadang-kadang sampai “terjadi gumul antara mahasiswa yang hanya “bersenjatakan buku itu dengan pihak Jepang yang bersenjatakan bedil dan pedang. Dalam suatu peristiwa pergundulan, di Boxlaan mahasiswa Subandrio dan beberapa orang temannya mendapat pukulan keras dari
Seiring dengan makin meningkatnya kemarahan serta perlawanan rakyat terhadap Jepang, kesadaran untuk berlawan diantara mahasiswa itu juga makin meningkat. Dalam protes ini timbullah lingkaran-lingkaran diantara mahasiswa-mahasiswa itu. Diantara mereka yang merupakan elemen-elemen aktif dalam lingkaran itu antara lain yalah Chaerul Saleh, Johan Nur, Darwis, Kusnandar, Subadio, Eri Sudewo, Suroto Kunto, Muyyo, Sugiono, Tajuludin, Cut Rahman, Husnan, Zus E.A. Ratulangi, dan masih banyak lagi lainnya. Diantara mereka ini banyak yang mengambil bagian yang aktif dalam mendorong persiapan proklamasi dan dalam detik-detik proklamasi kemerdekaan 1945.
4. Gerakan Indonesia Merdeka, yang disingkat dengan Gerindom.
Gerindom ini didirikan oleh sejumlah pemuda-pemuda revolusioner ketika Putera dibubarkan dan didirikannya Jawa Hooko Kai. Disalah satu ruang belakang Gedung Menteng 31 berkumpul sejumlah pemudapemuda untuk mendiskusikan sebab-sebab mengapa Jepang membubarkan Putera dan mendirikan Jawa Hooko Kai. Dalam pertukaran pikiran itu, pemuda-pemuda tsb. mengambil kesimpulan bahwa ”Jepang akan bertindak lebih ganas lagi, dan oleh karena itu titik berat perjuangan pemuda melawan fasisme haruslah berpindah keperjuangan dibawah tanah, memperkuat perjuangan ilegal anti fasis yang sudah ada”.
Gerakan Indonesia. Merdeka berusaha untuk menghimpun gundukan pemuda revolusioner dan menghubungkannya dengan gerakan kaum tani, buruh dan perjuangan pemuda dalam organisasi-organisasi bersenjata buatan Jepang. "
Pedoman-pedoman kerja Gerindom ”Menggalang sel organisasi
118
=== [PDF page 119] ===
aa aa an
dan membangun kekuatan”. Susunan organisasi Gerindom terdiri dari Dewan Politik dan eksekutif (pelaksanaan). Dewan Politik terdiri dari D.N. Aidit, Lukman dan Suko, sedangkan dewan eksekutifnya terdiri dari Suko, Syamsudin dan Sidik Kertapati. Gerindom mempunyai hubungan luas dengan angkatan revolusioner yang lebih tua, seperti Mr. Moh. Yusuf, Samudra, Bahri, Kamal, Jalil dan lain-lainnya.
Dalam melakukan aktivitetnya, anggota dan pimpinan Gerindom tak juga lepas dari pengawasan dan penangkapan Jepang. Pada awal tahun 1945 salah seorang kader Gerindom, Syahbudin tertangkap dan seorang lagi Adnan Aras dapat menghindari penangkapan kaki-tangan Kempetai dengan melompat dari tram. Aiditpun terpaksa menyingkir dari Jakarta dengan menggunakan surat keterangan palsu dari Sendenbu yang diperoleh dari Chaerul Saleh.
Dalam menyongsong proklamasi, Gerindom juga mengambil bagian aktif dan mencetak poster "Indonesia Merdeka” lukisan Affandi yang menggambarkan pemuda Indonesia mematahkan rantai penjajahan.
Juga pamflet-pamflet yang bersifat memobilisasi massa dicetak dan dicdarkan dalam jumlah puluhan ribu.
5. Lingkaran seperti ini juga terbentuk dalam kalangan kaum buruh, antara lain dikalangan kaum buruh kereta api yang terkenal mempunyai tradisi revolusioner. Diantara grup dalam kereta api, grup yang di Jakarta mempunyai arti penting, karena ia berada -diibukota yang sewaktuwaktu dapat memberi dan membawa berita keberbagai tempat di Jawa, terdapat pemuda-pemuda dan orang-orang tua dari pergerakan: lama seperti Asmodiharjo, Cokropuspito, Legiman Haryono, Sukirman, Mansur Lubis, Suharyono, Alinur, Ambas, Zulkipli, B.S. Amir, Gurdali, Sutarman, Suwarno, Rahmat dan lain-lainnya. Kecuali grup kereta' api, juga ada.grup tram kota Jakarta yang berlingkar disekitar pemuda Nyono, dan lain-lainnya. Juga dikalangan buruh pelabuhan, listrik dan lain-lainnya terbentuk grup dan lingkaran seperti ini.
Grup dan lingkaran dalam kalangan pemuda-pemuda buruh i ini memainkan peranan yang penting dalam perlawanan terhadap Jepang, karena mereka dapat melakukan berbagai sabotase untuk merusak atau menghambat berbagai usaha militeris Jepang.:
Kecuali grup atau lingkaran yang tersebut diatas, masih banyak lingkaran lainnya seperti grup dari bekas pemimpin Pendidikan Nasional, yaitu Syahrir. Drs. Moh. Hatta dan lain-lainnya. Juga diberbagai daerah dan kota terdapatlah grup seperti ini. Grup-grup seperti ini telah memainkan peranan yang penting dalam keadaan perjuangan melawan Jepang, dan dalam menyongsong mempercepat proklamasi kemerdekaan Indonesia.
119
=== [PDF page 120] ===
Grup-grup yang banyak jumlah dan ragamnya dan yang berbagai macam motifnya itu, pimpinannya kerap bertemu dalam pertemuan yang diadakan oleh Angkatan Muda.
Perlu dicatat disini, bahwa golongan-golongan, grup-grup itu beserta anggota-anggotanya dan tokoh-tokoh lainnya kira-kira 12 bulan sebelum Froklamasi 17 Agustus 1945, untuk mengkonsolidasi dan mengontrol persatuan dan kesatuannya, pernah mengadakan rapat di Jalan Gambir Selatan disebelah Kantor Balai Kota dan membentuk suatu gerakan aksi yang diberi nama "Angkatan Baru”.
Diantara pemimpin-pemimpin Angkatan Baru ini tercatat nama B.M. Diah, A.M. Hanafi, dan Syarif Thayeb. Sebagai gerakan aksi, Angkatan Baru telah menjalankan fungsinya dengan baik.
Disamping aktivitas golongan-golongan, grup-grup dan tokoh-tokoh tersebut diatas, ada juga aktivitas segolongan warganegara Indonesia keturunan asing (Tionghoa) didaerah Jawa Tengah dan Jawa Timur yang maju kemuka turut menjadikan gerakan perlawanan terhadap fasisme Jepang.
Gerakan perlawanan ini dilakukan secara dibawah tanah. Sungguhpun demikian tampak tindakan-tindakannya yang positif dalam rangka untuk melindungi kepentingan golongan mereka sendiri dan perjuangannya, turut berusaha menumbangkan kekuasaan penguasa -militer fasis Jepang disini dan bersama-sama dengan golongan-golongan dan grupgrup lainnya melaksanakan cita-cita untuk mencapai suatu Negara Indonesia yang merdeka dan bersatu. '
Gerakan ini bernaung dibawah kibarannya panji-panji Angkatan Muda Tionghoa. Jauh sebelum masa pendudukan Jepang, pemimpinpemimpin mereka sudah juga aktif dalam pergerakan-pergerakan nasional (P.T.I.) dan mencita-citakan suatu Negara Indonesia Merdeka yang berlandaskan pada Tri-dasar Satu Nusa, Satu Bangsa, dan Satu Bahasa.
dan Dwi-lambang Nasional: Lagu Kebangsaan,,Indonesia Raya” dan Bendera nasional Sang Merah Putih.
Jadi golongan inipun sudah merasakan dirinya sebagai anak negeri ini, anak kandung ibu pertiwi Indonesia. Pemimpin-pemimpin mereka yang terkemuka diantaranya adalah Liem Kun Hian, Uci Gwee Hwat, Siauw Giok Can, Dr. Coa Sik Ien dil.
Juga dari golongan dari keturunan asing lainnya seperti Arab dan golongan keturunan Belanda mempunyai aktivitas-aktivitasnya. Dari golongan keturunan Arab nama-nama seperti: Baswedan, Baraba dan Saleh Mahfud cukup dikenal. Demikian juga dari golongan keturunan Belanda nama" seperti P.F. Dahler, Mr. Blaw, Wens dll. cukup dikenal.
120
=== [PDF page 121] ===
. ANGKATAN MUDA
Organisasi Pemuda ini didirikan pada pertengahan tahun 1944.
Angkatan Muda bersifat semi resmi, artinya ia adalah organisasi yang
didirikan dengan dukungan Jepang, tetapi tidak resmi menjadi organi-.
sasi yang langsung dipimpin oleh Jepang. Yang ikut aktif campur tangan dalam mendirikan organisasi pemuda ini yalah H. Simizu.
Latar belakang didirikannya organisasi ini yalah bahwa pada tahun 1944 makin terasa benar pengaruh kegiatan dibawah tanah yang bersifat anti Jepang. Pemuda-pemuda makin meningkat kesadaran nasionalnya, dan makin meningkat kebenciannya terhadap fasis Jepang. Kegiatan untuk mengorbankan semangat anti fasis ini makin terasa.
Kegiatan ini memang melibatkan banyak sekali tokoh-tokoh pemuda.
Jepang yang selalu memberi perhatian besar terhadap gerakan dibawah tanah dengan melalui orang-orang bekas P.I.D. Belanda, dan melalui Kempeitainya serta yang dibantu 'oleh orang-orang yang bekerja dalam barisan propagandanya, dapat mencium dan mengetahui hal ini. Jepang beranggapan bahwa organisasi pemuda yang ada saja belum dapat menampung atau menyalurkan segala kegiatan pemuda itu. Karena itu mereka mendorong dan ikut mendirikan suatu organisasi pemuda yang baru, yang menurut perhitungannya dapat digunakan untuk lebih mengetahui kegiatan anti Jepang dibawah tanah, untuk mengukur kekuatan pemuda, untuk menyalurkan guna kepentingan Jepang kalau dapat, dan yang terpenting untuk memperoleh nama-nama pemimpin-pemimpin pemuda yang anti fasis itu agar memudahkan mengadakan apa yang mereka namakan pembersihan.,,Pembersihan” memang sudah mereka rencanakan, bukannya hanya menyangkut tokoh gerakan "nasional yang umum '
letapi juga terhadap gerakan pemuda. '!
Organisasi pemuda Angkatan Muda ini memang meluas dan berdiri hampir disetiap kota besar di Jawa. Tetapi organisasi ini tidak jelaa sifatnya, dan hanya menghimpun gundukan-gundukan pemuda, atau hanya dijadikan tempat bertemu tokoh-tokoh pemuda. Banyak juga pcmuda revolusioner yang masuk dalam organisasi ini misalnya di Jakarta organisasi pemuda ini dipimpin oleh Sukarni, Chaerul Saleh dan lainlainnya, di Surabaya dipimpin oleh Ruslan Abdulgani, Krisbanu, Sutomo dil, di Solo oleh Harsono, Suwarti dan lain-lain, di Semarang oleh S.
Karno dan lain-lamnya, di Cirebon oleh Drajat, di Yogyakarta oleh Mr.
Kadarisman Purwokusumo, Adisumarto dan lain-lain.
"Walaupun organisasi ini sengaja digunakan oleh Jepang untuk mencapai maksudnya seperti diterangkan diatas, namun pemuda-pemuda
121
at i take
Fg ha Phas aeeese
es ge
marc as
Mer vrgsaytac tes
=== [PDF page 122] ===
tak banyak menghiraukan. Semangat Pemuda yang meluap kerap kali meledak dalam rapat atau konferensi.yang diadakan oleh Angkatan Muda. DO,
_ Pada bulan Mei 1945 atas inisiatif Angkatan Muda Bandung yang antara lain dipimpin oleh Jamal Ali, Hamid dan M. ‘Taher diadakan suatu konferensi yang bersifat nasional. Konferensi ini bertempat dibekas villa,,Isola”, sebelah utara kota Bandung ( Villa ini sekarang digunakan asrama putri F.K.I.P., U.N.P.A.D.). Perhatian pemuda-pemuda terhacap konferensi ini. besar sekali, dan hampir. semua daerah yang. penting di Jawa mengirimkan wakilnya. Konferensi ini dikunjungi oleh lebih dari seratus pemuda sebagai wakil dari berbagai daerah atau kota yang penting di Jawa. Diantara sekian banyak pemuda dan pemudi itu antara lain terdapat Harsono, Suwarti dan Suharti dari Solo, S. Karno dari Semarang, Drajat. dari Cerebon, Suryono (Pak Kasur) dari Surabaya.
Adi Sumarto dan.Mr. Kadarisman Purwokusumo dari Yogyakarta, Nona Ratulangi, Ana Makruf, Syamsudin, DN. Aidit, Chaerul Saleh, Sidik Kertapati dari Jakarta. Juga hadlir dalam konfrontasi itu H..Simizu dan Kaneko. ' pn
. Dalam konferensi ini, walaupun ditunggu dan diamati oleh fasi Jepang, namun cetusan.dari ledakan semangat yang berkobar dari pemuda tak juga dapat ditahan. Saat ini adalah untuk pertama kalinya dalam suatu konferensi yang sifatnya setengah resmi,,Lagu Indonesia Raya” dinyanyikan tanpa didahului atau diiringi oleh lagu Jepang Kimigayo, dan bendera Kebangsaan Indonesia Merah Putih berkibar tanpa Hinomaru disampingnya. Pemuda yang selalu bersifat terang-terangan dalam konferensi membuka semua isi hatinya tentang kemerdekaan tanah ' airnya, tanpa menghiraukan segala akibatnya yang mungkin timbul katenanya. Masalah,,apakah kemerdekan itu harus berkat: perjuangan atau harus diterima sebagai hadiah kemurahan hati,,Saudara tua” Da Nippon, bagi sebagian besar utusan pemuda-pemuda itu makin menjadi matang dan maxin terang. Bagi mereka ini masalah janji Jepang »Indonesia Merdeka dikelak kemudian hari” berubah menjadi ejekan bahwa,,Indonesia Merdeka dikelak kemudian hari”. Dan kerja romusha yang selama itu diartikan sebagai kerja bakti terhadap,,saudara tua”
Cinyatakan sebagai:.remuk rusak”. Memang ada dari sementara utusan iang agaknya sengaja disuruh dan dibayar oleh Jepang yang dalam p'dato dan -percakapannya melemparkan. tuduhan dan mencap. semua hasrat pemuda yang luhur untuk mencapai Indonesia Merdeka dengan perjuangan:,,itu semua komunis.........”. Tetapi. hasutan komunistophobi ini dapat disapu dalam beberapa kalimat oleh pidato wakil Ang-
122
=== [PDF page 123] ===
katan Muda Semarang S. Karno yang menyatakan,,Sudah, sudah sau- “Gara...... buat apa banyak bicara. Soalnya terang benderang. Kita cuma mau merdeka sekarang juga titik”.
Achirnya konferensi mengambil kesimpulan yang seirama dengan semangat,,Merdeka sekarang juga tanpa menunggu hadiah dari Nippon”, dan mengirimkan serombongan utusan menemui Bung Karno yang pada waktu itu sedang beristirahat di Sukabumi untuk menyampaikan laporannya.:
Untuk menutupi mukanya yang jahat, dua orang wakil pemerintah militeris fasis yang resmi itu terpaksa menyatakan bahwa: diapun akan bisa menerima azas anti fasis asalkan itu juga berarti anti Amerika.
Tetapi pernyataan itu hanya menjadi olokan belaka oleh pemuda-pemuda itu. Dalam suatu pertunjukan yang diadakan pada malam perpisahan pemuda M. Taher menyindir ucapan mereka itu dengan kata-kata yang tajam:,,Sekalipun Kaneko dan Simizu disini memakai sarung dan peci, tetapi dalam hatinya tetap Jepang jua..... 21)
"Walaupun konferensi ini diizinkan oleh Jepang dengan maksudnya sendiri namun putusan-putusannya mencerminkan semangat jamannya dan mempunyai pengaruh yang tidak kecil. Ia memberi semangat kepada pemuda untuk makin yakin bahwa kemerdekaan hanya dapat dicapai dengan perjuangan dan bukan sebagai hadiah.
Untuk itu pemuda harus melanjutkan perjuangannya. Sejak konferensi,,Isola” ini keadaan dalam negeri makin bergolak. Indonesia Raya makin mendesing lagi dimana-mana, dan Merah Putih selalu dikibarkan dalam banyak kesempatan.tanpa menghiraukan segala larangan dari militeris fasis Jepang. Dalam dada pemuda makin mendidih darah perjuangan yang hangat dan makin menggetarkan tubuhnya, saat beraksi tinggal menanti. wa:
PEMBERONTAKAN PETA BLITAR
Didepan: sudah diterangkan bahwa politik fasis Jepang terhadap Indonesia yalah menjadikannya sebagai daerah belakang perang yang harus dikeduk semaksimal mungkin semua kekayaan dan tenaga manusianya untuk menjamin kemenangan perangnya.- Berdasarkan politik inilah pemerintah pendudukan militer fasis Jepang bekerja. Kekayaan rakyat dan bumi.Indonesia dirampoknya hingga betul,,remuk rusak” sebagai
") Sekitar Proklamasi 17: Agustus 1945 — Sidik Kertapati, hl. 61.
123
id Ai taka
GU NaI Ss adi
eae gee tates mwvuUwvittwir
ayes.
VCrail
=== [PDF page 124] ===
dinyatakan oleh pemuda-pemuda dalam konferensi Angkatan Muda di Bandung pada bulan Mei 1945.
Dalam menghadapi perampokan perampasan dan penindasan ini,
rakyat dan pemuda Indonesia yang mempunyai tradisi patriotik dan heroik
tak juga tinggal diam dan menyerah. Walaupun pada masa permulaan Jepang masuk tampaknya sebagian rakyat Indonesia seolah-olah menyambut, namun begitu perampokan dan penindasan Jepang terasa, begitu perlawanan dimulai. Pada tanggal 26 Juli 1942, yaitu empat bulan setelah Jepang berkuasa di Indonesia, kaum tani di Pancur Batu, kabupaten Deli Serdang, Sumatra Timur memberontak, pemberontakan itu terkenal dengan,,pemberontakan Aron”. Setahun kemudian, yaitu pada tanggal 3 Oktober 1943 kaum tani didesa Kandang Haur, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, memberontak. Empat bulan kemudian.
yaitu pada tanggal 14 Pebruari, kaum tani didesa Sukamanah, Singaparna dibawah pimpinan Kyai Zainul Mustafa, Kyai Emas dan lain-lain memberontak. Tidak sedikit korban yang jatuh pada kedua pihak. Pemberontakan dapat ditindas oleh tentara Jepang dan polisi, dan Kyai Mustafa gugur dalam perlawanan itu. Dua bulan kemudian rakyat Indramayu.
didistrik Karangampel, dibawah pimpinan seorang haji yang berpengaruh memberontak, tetapi pemberontakan ditindas. Tiga bulan kemudian meletus pemberontakan yang lebih keras, yaitu dilakukan oleh rakyat dan kecamatan Lohbener dan Sindang yang dipimpin oleh haji Madriyas.
haji Kartiwa, Kyai Srengsang, Kyai Kusen, Kyai Mukasan dan lain-lain Berbulan-bulan tentara Jepang dan polisi menindas pemberontakan itu Gan pemimpin-pemimpinnya yang sudah ditangkap ditembak dalam penjara tanpa proses.
Suatu pemberontakan yang seru dan yang menggetarkan kekuasaan pendudukan militer fasis Jepang yalah pemberontakan Peta Blitar yang
ieletus pada tanggal 24 Pebruari 1944.
Di Kabupaten Blitar, keresidenan Kediri, Jawa Timur, ada satu Daidan (Batalyon) Peta dibawah pimpinan Daidanco Surachman. Daidan ini terdiri dari 4 Cudan (kompi) yang masing-masing dipimpin oleh Cudanco (kompi komandan) Suhud, Hasan Nawawi, Cipto Harsono dan Suyatmo dan masing-masing kompi terdiri dari 3 Syodan (pasukan).
Pasukan dipimpin oleh seorang Syodanco (kepala Pasukan) yaitu:
Kompi I. Pasukannya dipimipn oleh Syodanco (Kepala pasukan)
Kusdi, Mulyoharjono, Sujono.
Kompi II. Pasukannya dipimpin oleh Syodanco Mujiat, Sunyoto, Suparjo. ©
Kompi III. Pasukannya dipimpin oleh Supriyadi, Muradi, Sukarni,
124
aap
=== [PDF page 125] ===
sedangkan Kompi IV. pasukannya dipimpin oleh Abiyat, Sukiyat, dan Suwarno. Karena Kabupaten Blitar ditunjuk sebagai daerah serangan
musuh, maka Peta didaerah itu ditugaskan untuk membuat perbentangan:
dan melakukan latihan-latihan yang sangat berat. Untuk menunaikan tugas ini ditugaskan serombongan pelatih-pelatih Jepang yang terdiri dari 4 orang opsir dan 4 orang bintara yang dipimpin oleh seorang kapten yang bernama Obayasi.
Latihan-latihan yang harus dilakukan oleh Peta itu sangat berat, tambah lagi prajurit-prajurit Peta itu harus ikut membuat perbentengan dipantai selatan yang berbatasan dengan hutan rimba. Untuk melakukan pekerjaan ini maka cudan-cudan Peta itu ditempatkan sesuai dengan tujuannya, yaitu Cudan I di Jolosutro, dengan membuat perbentengan di Wonosari, Gunung Tengger dan Wedi Ireng: Cudan II di Serang dengan perbentengannya di Selo Alit, dan Serit: Cudan III di Tambak dengan perbentengannya di Sebon Dulit, Pasetran Gondomayit dan kemudian perbentengan yang kedua di Ngantang, dan y yang akhirnya ke Tuban.
Dalam waktu membuat perbentengan ini Peta dapat mengetahui penghidupan dan perlakuan terhadap romusha-romusha, dan kepedihan k:dup rakyat luas sehari-hari. Lagi pula perlakuan pelatih Jepang sangat kasar dan menyakitkan hati baik terhadap prajurit, bintara dan perwira Peta. Mereka suka mencaci maki, memukul dan ' mencampuri urusan pimpinan dengan semena-mena saja hingga menambah perasaan jengkel diantara opsir-opsir Peta. Keadaan. demikian menimbulkan kejengkelan, kemarahan dan dendam yang dalam dikalangan prajurit-prajurit, bintara-bintara dan opsir-opsir Peta. Mereka ingin segera mengakhiri keadaan seperti ini. Kesadaran nasional. yang makin mendalam dikalangan anggota-anggota Peta telah mengetok hati sanubarinya mereka untuk tidak lagi memperkenankan keadaan seperti ini berlangsung terus menerus. Achirnya meledaklah dendam hati mereka itu.dalam bentuk pemberontakan bersenjata yang terkenal dengan pemberontakan Peta Blitar.
Pada pertengahan bulan Oktober 1944 beberapa.opsir Peta antara lain Syodanco Supriyadi, Muradi, Sukadi dan lain-lainnya dan beberapa Budanco: Sunanto, Sukeni dan Tarmuji, berkumpul dan menyatakan tekad untuk mengangkat senjata. dan memberontak terhadap Jepang.
Diantara mereka mengadakan pembagian tugas untuk menghubungi penjabat-penjabat batalyon-batalyon lain dan untuk memberi penjelasan kepada anak buah batalyon Blitar. Selama sebulan mereka telah mengbubungi batalyon-batalyon seperti Tulung Agung, Kediri, Lumajang,
125
pea that”... —a. XX
Dana. ana
1 MET
ge rr
=== [PDF page 126] ===
Supriyadi
salah seorang yg memimpin Pemberontakar.
Mereka yang berontak diadili"
Trenggalek, Yogyakarta dan Malang. Mereka merencanakan pada bulan Januari 1945 akan diadakan latihan bersama antara daidan Blitar dengan 10 daidan lainnya. Dalam pada itu agaknya pihak Jepang telah mulai membau rencana-rencana ini. Daidan Blitar pada tanggal 19 Januari 1945 dikirim ke Tuban dengan tugas membantu daidan disana membuat benteng dipantai utara. Dalam pemberangkatan ini pelurupeluru tidak dibawakan dan baru dikereta api peluru-peluru itu dibagikan. Tidak lama kemudian mereka disuruh kembali ke Blitar lagi dengan alasan pekerjaan telah selesai.
Sekembali mereka di Blitar, mereka mengadakan rapat yang ke 4 kalinya, dimana Supriyadi menjelaskan bahwa pihak Kempetai telah mencium rahasia ini. Pada tanggal 9 Pebruari 1945 Supriyadi meningyalkan asrama dan dalam waktu 5 hari kemudian, yaitu pada tangga!
13 Pebruari 1945 kembali ke asrama dan mengadakan perundingan diruangan perwira jaga minggu dengan syodanco-syodanco Muradi, Suparyono, dan Budanco Sunanto. Perundingan ini mengambil keputusan untuk mulai mengajar Jepang. Dalam gerakan ini untuk pertama kalinya ikut 3 barisan dan selanjutnya akan dihubungi daidan-daidan yang ' lain. Setelah itu mereka kembali ketempat tidurnya masing-masing de-
126
=== [PDF page 127] ===
ngan tetap berpakaian seragam untuk siap melaksanakan serangan pada.
csok harinya.
Hari Rabu pada tanggal 14 Pebruari 1945, jam 3. 00 pagi, suatu hari dan saat yang bersejarah dimana meletus pemberontakan pemudapemuda yang bersenjata dalam Pasukan Sukarela Tentara Pembela Tanah Air di Blitar.
Pagi itu Supriyadi menilpon Bupati dan Walikota untuk memberi-
| tahu bahwa akan diadakan latihan. Setelah gudang dibuka dan senjata
serta pekurunya di-bagi'kan, kemudian disiapkan, maka dimulailah tembakan mortir berat kehotel Sakura, yang sedang penuh orang Jepang. Sementar4 itu pasukan Peta mulai bergerak dan semua orang Jepang di Blitar dibinasakan. Setelah itu satuan-satuan Peta menuju tempat yang telah ditetapkan. Markas Besar Jepang di Jawa Timur setelah menerima berita tentang meletusnya pemberontakan Blitar tenggelam dalam berbagai tafsiran, sedangkan Markas Besar Jepang. di Jakarta stelah mendengar masalah ini bertindak sesuai dengan keadaan umum peperangan dimana kekalahan Jepang sudah dapat dipastikan. Markas Besar militer Jepang mengambil siasat untuk memencilkan persoalan ini, hingga daidan-daindan lain tidak perlu mengetahui, disamping memberi tekanan hingga Peta yang memberontak menyerah. Baru setelah itu akan diadakan perhitungan lain.
Untuk menindas pemberontakan ini Jepang mengerahkan pasukanpasukannya dari Malang dengan dibantu oleh pasukan-pasukan tank dari Kohara Butai yang berkedudukan di Surabaya untuk mengadakan operasi-operasi. Oprasi ini dipimpin oleh kolonel Katagiri yang berumur 60 tahun, dan telah banyak pengalaman bertempur selama perang dunia ke | dan II.
Tetapi berhubung dengan adanya kekalutan perwira-perwira Jepang yang takut akan datangnya pasukan-pasukan Sekutu kepulau-pulau Indonesia, maka pihak pimpinan militer Jepang berusaha sedapat mungkim mencegah pertempuran dengan pasukan-pasukan Peta yang memberontak itu agar dengan demikian Jepang tidak akan membuang banyak © korban dan dapat menggunakan pasukan-pasukannya untuk melawan tentara Sekutu jika mereka telah mulai mendaratkan pasukan-pasukannya ke pulau Jawa..
Ketiga kesatuan tentara Peta tsb. diatas masing-masing dipimpin oleh syodanco-syodanco Supriyadi, Muradi, dan Suparyono. Pasukan yang dipimpin oleh Supriyadi di Kali Putih, yang sambil mengundurkan diri terus mengadakan perlawanan-perlawanan terhadap. pasukan-pasukan Jepang yang terdiri dari tank-tank dan barisan-barisan yang bersenjata 127
=== [PDF page 128] ===
berat dan jauh lebih kuat. Sedangkan pasukan-pasukan yang dipimpin oleh syodanco Muradi dan Suparyono bertahan di Panataran dan Ngancar yang dipandang sebagai tempat-tempat yang strategis untuk suatu posisi bertahan karena batu-batu yang besar dan pohon-pohon yang lebat.
Didalam pengejaran tentara Jepang terhadap ketiga kesatuan itu, Jepang menga'ami kesulitan-kesulitan karena perlawanan pasukan-pasukan Peta teramat gigih sehingga kemajuannya sangatlah lambat.
Pasukan Peta mempergunakan cara-cara yang sangat berani dalam mempertahankan diri, dan tidak gentar menghadapi tekanan-tekanan tentara Jepang yang jauh lebih kuat persenjataannya dan lebih besar jumlahnya. Lebih-lebih perlawanan pasukan yang dipimpin oleh Supriyadi yang dengan semangat bertempur yang amat tinggi terus melakukan perlawanan dari jarak yang amat dekat, sehingga masing-masing pihak telah mempergunakan alat-alat senjata tajam dalam pertempuran di Kaliputih. Hampir seluruh pasukan yang dipimpin oleh Supriyadi gugur sisanya mengundurkan diri kegunung Kelud dan tidak bersedia menerima tawaran Jepang untuk berunding, yang telah mereka ketahui sebagai tipu muslihat Jepang. Supriyadi sendiri tidak pernah kembali sampai saat seluruh api pemberontakan dapat dipadamkan oleh Jepang.
Dari kedua belah pihak, baik Jepang maupun pihak pasukan-pasukan Peta yang dipimpin oleh Supriyadi sama-sama jatuh korban yang seimbang.
Pengalaman pahit dalam menghadapi Supriyadi ini nampaknya memberi pelajaran kepada Kolonel Katagiri, bahwa Jepang harus membayar beratus-ratus bahkan mungkin beribu-ribu korban jiwa, jikalau operasi-operasi terhadap pasukan-pasukan Peta yang memberontak itu terus dijalankan dengan mengadu kekuatan. Maka dari itu di Markas pertahanan Jepang diadakan perundingan antara opsir-opsir Jepang dari Rvo dan Sireibu Toba Jawa Bo-Ei dengan opsir-opsir yang datang dari Jakarta guna membicarakan siasat yang mereka anggap »lebih ekonomis” untuk mengakhiri perlawanan pasukan-pasukan Peta itu. Diantara opsir-opsir yang datang dari Jakarta terdapat antara lain H. Shimizu dan shidokan-shidokan (pelatih-pelatih) bangsa Jepang yang pernah melatih perwira-perwira Peta yang memimpin pemberontakan itu, termasuk, Pembantu Letman Yuda yang dalam latihan perwira di Bogor pernah melatih Shodanco Muradi. Pemimpin-pemimpin militer itu memutuskan untuk mencari jalan menemui Muradi dan Suparyono.
Dengan mengadakan cara-cara perundingan ini Jepang mengharapkan bahwa pasukan-pasukan Peta dapat dibujuk untuk menyerah.
128
=== [PDF page 129] ===
H. Shimizu dan Letnan Muda Yuda dengan dibantu oleh beberapa orang anggota Yugeki Tai (pasukan-pasukan gerilya), ditugaskan untuk kontak dengan Shodanco Muradi dan Shodanco Suparyono. Dan setelah mereka dapat bertemu, Shimizu meminta agar pasukan-pasukan Peta mau kembali keinduk kesatuannya masing-masing dan menghentikan perlawanan mereka dengan janji bahwa Jepang akan bersedia menimbang dan memenuhi apa saja yang menjadi tuntutan pasukan-pasukan Peta itu. Muradi dan Suparyono bersedia memenuhi janji Jepang itu dengan mengajukan syarat-syarat sebagai berikut: 1. Senjata-senjata mereka tidak akan dilucuti. 2. Pasukan-pasukan Peta yang mengadakan perlawanan itu tidak akan dituntut. 3. Mereka tidak akan diminta untuk membayar segala ganti kerugian berhubung dengan kerusakan-kerusakan akibat perlawanan mereka itu. 4. Opsir-opsir Jepang harus mau meng:
kormati opsir Peta dan segenap prajurit Peta, dan sanggup tidak akan mengulangi perbuatan serdadu-serdadu Jepang yang sewenang-wenang terhadap anggota-anggota Peta. 5. Bendera mobil opsir-opsir Peta seperti yang telah diputuskan harus dilaksanakan dan diakui oleh tentara Jepang. |
Jikalau syarat-syarat yang diajukan oleh pasukan-pasukan Peta itu tidak dipenuhi maka mereka akan memilih jalan meneruskan perlawanan.
Dalam perundingan itu Shimizu menyatakan akan meneruskan syarat-syarat yang diminta oleh pasukan-pasukan Peta itu kepada atasannya, dan dia sendiri menyatakan bahwa syarat-syarat itu pasti diterima. Kolonel Katagiri sendiri menyatakan menerima syarat-syarat itu. Malahan Katagiri tidak tanggung-tanggung dalam memainkan sandiwaranya itu, dengan menyerahkan pedang samurainya kepada Muradi, suatu perbuatan yang menurut adat istiadat Jepang berarti dia telah menyerahkan jiwa dan raganya, seolah-olah untuk meyakinkan bahwa Katagiri akan memegang teguh kesanggupannya dan berjanji bahwa apa yang telah disetujui bersama dalam perundingan itu akan dipenuhi.
Demikianlah, maka pada akhirnya pasukan-pasukan Peta yang telah memulai perlawanannya terhadap pasukan-pasukan Jepang itu memberikan kepercayaan yang penuh kepada janji-janji Jepang, dan mereka menghentikan perlawanannya dan kembali keinduk pasukannya masing-masing.:
Tetapi imperialis Jepang adalah tetap sebagai imperialis yang berpembawaan penipu dan curang. Pemimpin militer Jepang di Jakarta memerintahkan agar kepada anggota-anggota Peta yang memberontak itu dilakukan tuntutan pidana militer sebagaimana mestinya dan
Sejarah Perjuangan 9 | 129
use uaa ahi take
“Sean Yed
wee
Or year ote IL
=== [PDF page 130] ===
memerintahkan kepada kempeitai (polisi militer) untuk melaksanakan perintah itu.
Keputusan pimpinan militer Jepang ini sangat mengejutkan ang:- gauta pasukan Peta yang telah kembali itu, terutama Muradi dan Suparyono. Mereka bermaksud memulai lagi perlawanan mereka, tetapi keadaan sudah terlambat. Mereka telah digiring dalam lingkaran kepungan tentara Diepang yang jauh lebih kuat, hingga setiap perlawanan bukan hanya berarti kekalahan mereka, tetapi juga akan meminta pengorbanan penduduk sipil yang ada disekitarnya yang tidak ikut campur dalara peristiwa pemberontakan ini.
Pemuda-pemuda Peta Blitar dengan tenang menghadapi proses pengadilan militer Jepang dan satu persatu diperiksa dan dijatuhi hukuman. Perwira-perwira yang memimpin pemberontakan pada tanggal 8 Maret dibawa ke Jakarta dan pada tanggal 16 April,,Pengadilan”
militer Jepang di Jakarta dibawah pimpinan Kolonel Yamamoto memutuskan hukuman mati terhadap pahlawanan-pahlawanan pemberontakan di Blitar, yaitu: 1. Cudanco Dr. Ismail 2. Shodanco Muradi.
3. Shodanco Suparyono. 4. Budanco Sunanto. 5. Budanco Sudarmo.
6. Budanco Hilir. 7. Budanco Puji. 8. Budanco Amin. 9. Budanco Sukardi. #) '
Terhadap putusan ini ada sementara perwira Jepang yang merasa keberatan dan mengajukan protesnya. Dan berhubung dengan adanya keberatan-keberatan dari beberapa opsir Jepang yang masih memiliki akal,,sehat-sehat maka Budanco-budanco Puji, Amin dan Sukardi telah dirobah hukuman mati atas dirinya, menjadi hukuman seumur hidup.
Sedangkan selebihnya menjalani hukuman mati pada bulan Juni 1945.
Diantara mereka yang mendapatkan hukuman penjara kemudian ada yang meninggal dipenjara Cipinang dan Sukamiskin karena penganiayaan Jepang adalah: Shodanco Sumadi, Shodanco Sunarjo, Budance Atmaja, Budanco Sukaeni.
Pemberontakan Peta Blitar dapat ditindas dan pahlawan-pahlawannya dihukum mati. Namun demikian pemberontakan telah dapat meng:
goncangkan dasar kekuasaan fasis Jepang di Indonesia, dan menghembuskan angin perlawanan dan keberanian terhadap rakyat serta pemudapemuda Indonesia. Perasaan benci, dendam sangat menyesaki dada pemuda. Saat-saat ledakan untuk memberi balasan yang setimpal sangat dinantikan.!
*) Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 — Sidik Kertapati, hl. 91
130
=== [PDF page 131] ===
JEPANG BERTEKUK LUTUT
Sejak hari pertama dicetuskannya perang agresi fasis, sudah dapat diperhitungkan bahwa peperangan itu akan berakhir dengan kehancuran dan bertekuk lututnya fasisme Jerman, Italia dan Jepang. Karena perang ini adalah perang yang tidak adil, perang perampokan yang dilakw kan oleh dan untuk kepentingan grup kecil kaum kapitalis monopoli yang paling reaksioner, yang paling haus akan darah dan n'awa untuk menyambung dan memperpanjang hidupnya sendiri. Negeri fasis itu harus berhadapan dengan semua negeri demokratis, berhadapan dengan semua kekuatan demokrasi, kekuatan 1yinta damai diseluruh dunia, termasuk dalam negerinya sendiri. Walaupun pada saat pertama negeri-negeri itu melakukan tindakan serangan dengan..perang” kilatnia atau yang terkenal dengan nama..blitzkrieg”, dan seolah-olah tak ada kekuatan yang dapat menahannya namun justru..perang kilatnia” ini memi.iktikan keterbatasan kekuatan sebenarnya dari negeri fasis itu send:i, suatu keterbatasan ini disebabkan karena. 1. Ia harus menghadapi kekuatan demokrasi yang besar dan luas, 2. Keterbatasan sumber dan potensi ekonomi perang bagi negeri itu sendiri, - 3. Ekonomi perang militeris fasis yang membawa beban berat bagi rakyat pekerja pasti menimbulkan perlawanan.
Keterbatasan kekuatan dan kepastian kekalahannya itu sudah dapat dilihat beberapa tahun setelah dicetuskannya perang agresi itu sendiri.
Setengah tahun sejak Jepang menyerah Pearl Harbour yaitu pada bulan Juni 1912 dalam pertempuran dilaut Midway, 4 kapal induk Jepang dapat dihancurkan Sekutu, sedangkan serangannya keselatan dapat dihentikan oleh Armada Amerika di Laut Koral. Keadaan ini mengakibatkan Jepang tak lagi dapat melakukan serangan yang berarti dalam tahun 1942, dan bahkan dalam memasuki tahun 1943 dan dalam tahun ini situasi peperangan sudah berubah. Gerak maju dari serangan fesis baik di Eropa maupun di Asia sudah berbalik menjadi posisi bertahan dan bahkan serangan balas dari Sekutu mulai dirasakan.
Kedudukan bertahan pada batas yang telah dicapai berubah menjadi mundur dan bertahan. Serangan balas di Pasifik dilakukan dari beberapa jurusan yaitu dari selatan dibawah pimpinan Jenderal Mc.
Arthur dan dari utara dibawah pimpinan Ch. Nimits. Pada tahun 1943 telah direbut dan diduduki kepulauan Solomon, Cilbert dan Marshall, sedangkan pasukan yang dipimpin Mc. Arthur maju sampai!aut Irian, kemudian melompat ke Rabaul dan pada permulaan tahun 1944 terus menyerbu ke Irian Utara.
131
=== [PDF page 132] ===
Dimedan Pasifik Timur pulau Saipan dan Guam, Karolina dapat direbut, dari mana Pilipina dapat digempur dari udara, Tahun 1945 dibuka dengan pendaratan dipulau Luzon dan setelah pertempuran yang seru akhirnya pada tanggal 14 Pebruari 1945 Manila dapat direbut oleh tentara Amerika. Sementara itu tentara Inggris menyerbu Birma. Mandalai jatuh pada tgl. 30 September 1944 dan Rangoon pada tanggal & Mei 1945.
Dalam masa ini, Tentara Merah Sovyet Uni yang sejak tahun 1943 dapat memukul mundur serangan fasis Jerman, telah mengusir tentara fasis Jerman dari wilayah Uni Sovyet. Berturut-turut negeri-negeri Eropa Timur dan Selatan dibebaskan dan akhirnya semua kekuatan fasis Jerman dapat dihancurkan hingga jatuhnya Berlin. Tentara fasis Jerman menyerah pada tgl. 8 Mei 1945. Setelah itu Uni Sovyet memusatkan semua kekuatan tentaranya untuk menghancurkan kekuatan Jepang. Sementara itu, yaitu setelah ternyata tentera merah Uni Sovyet sudah siap menghancurkan tentara fasis Jepang, pada tanggal 6 Agustus 1945 mereka menjatuhkan bom atom di Hiroshima. Dan pada tanggal 8 Agustus 1945, setelah kekuatan tentara Merah sudah dipusatkan diperbatasan Mongolia, Sovyet menyatakan perang kepada Jepang. Dalam waktu yang singkat tentara Merah bersama dengan tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok dan Korea dapat menghancurkan kekuatan tentara pilihan Jepang — Pasukan Kwantung (Kwantung Army) dan membebaskan Monggolia, Tiongkok Timur Laut dan Korea.
Nasib kekalahan Jepang hanya tinggal menanti saatnya. Pada tanggal 9 Agustus 1945 Amerika menjatuhkan bom atomnya yang ke II di Nagasaki. Puluhan ribu penduduk sipil yang tidak berdosa menjadi korban dan masih ribuan yang menderita cacat sebagai akibat debu radio aktif. Dengan demikian Amerika memaksa Jepang menyerah langsung padanya, dengan memperhubungkan kelak dapat dijadikan pangkalan srateginya sendiri. Achirnya kekuatan fasis Jepang yang tampaknya garang dan merasa dirinya tak dapat dikalahkan oleh siapapun juga, pada tanggal 15 Agustus 1945 bertekuk lutut menyerah tanpa syarat.
Dengan ini maka gugurlah segala impian fasis Jepang untuk membentuk «lingkungan kemakmuran Asia Timur Raya”.
Dengan menyerahnia itu tentara pendudukan Jepang tak lagi berkuasa di Indonesia, dan hanya tinggal sebagai,,polisi” sekutu, yang berarti tak ada lagi kekuasaan di Indonesia. Rakyat Indonesia, termasuk pemudanya yang telah mendapatkan pendidikan dalam perjuangan untuk mencapai kemerdekaan nasional selama hampir setengah abad dan yang telah
132
=== [PDF page 133] ===
menjadi militan, tak juga menyia-nyiakan kesempatan yang baik ini.
Pemuda-pemuda Indonesia mengambil bagian yang aktif untuk memproklamasikan kemerdekaan bangsa Indonesia dan membentuk suatu pemerintahan sendiri yang berbentuk Negara Kesatuan Republik Indonesia.
3 wha Sam
GU MAh ODP Ai
YAH E TOGA AE NU LAN
=== [PDF page 134] ===
[Blank page]
=== [PDF page 135] ===
PERIODE—IV
PEMUDA INDONESIA BERJUANG
UNTUK MEREALISASI
DAN
MEMPERTAHANKAN
PROKLAMASI
KEMERDEKAAN INDONESIA
=== [PDF page 136] ===
[Blank page]
=== [PDF page 137] ===
TARAF BARU BAGI PERJUANGAN
KEMERDEKAAN INDONESIA..
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia membuka suatu periode baru bagi sejarah pergerakan kemerdekaan nasional Indonesia. bagi perjuangan pemuda. Ia memberi tugas baru bagi rakyat Indonesia. Tugas itu yalak merealisasi proklamasi kemerdekaan Indonesia, menegakkan negara Re:
publik Indonesia serta mempertahankan proklamasi kemerdekaan Indonesia dan Republik Indonesia dalam menghadapi serangan musuh, baik yang sudah ada didalam negeri maupun yang datang dari luar, dan ikut juga mengisi kemerdekaan itu.
Didalam negeri, rakyat Indonesia menghadapi alat kekuasaan Jepang yang masih bersenjata lengkap dan diberi tugas scbagai,,polisi Sekutu”, menghadapi kaum reaksioner serta bekas tawanan serdadu Beanda yang bersikap bermusuhan terhadap Republik Indonesia yang dipersenjatai oleh Jepang atau Sekutu. Dari Yuar negeri rakyat Indonesia menghadapi tekanan dari Sekutu (baca: Inggris — Belanda) dan yang ternyata kemudian melakukan serangan terhadap R.I. Karena itu tugas merebut kekuasaan dari tangan fasis Jepang, melucuti senjata serdadu Jepang dan menekan kaum reaksioner lainnya serta melawan intervensi Sekutu dan agresi Belanda, menjadi tugas utama dari rakyat Gan pemuda Indonesia. Semangat rakyat dan pemuda Indonesia dalam menunaikan tugas baru ini sangat tinggi, dan mereka dengan tidak mengenal kepentingan diri sendiri telah melakukan tindakan-tindakan yang heroik dan patriotik.
Untuk menjalankan pemerintahan dari negeri yang baru ini, tersusunlah suatu kabinet. Kabinet pertama ini tidak mampu sepenuhnya memberi pimpinan terhadap rakyat yang sedang herevolusi karena kekurangan-kekurangan yang ada pada tubuhnya sendiri. Kabinet-kabinet se- 'landiutnia diuga menjalankan politik dan tindakan-tindakan yang kurang tlocok dengan tuntutan revolusi. Dalam melondiaknya semangat dan tindakan revolusioner rakyat Indonesia pemerintah Indonesia menempuh dialan tomnromis yang terwudiud dengan diadakannya perundinganperundingan dan persetujuan-persetujuan yang merugikan, bahkan dapat melikwidasi revolusi. Perundingan dan persetujuan-persetujuan seperti Linggarjati pada tahun 1946, perundingan dan persetujuan
137
YA EC ATI TD NVS IL NI 1 IIA) po 0023 Li baka
=== [PDF page 138] ===
Renville pada tahun 1948 adalah perundingan dan persetujuan semacam itu. Rakyat yang luas, termasuk pemudanya, tidak puas terhadap sikap yang kompromis itu.,
Kaum imperialis, Bersama dengan kaum reaksioner dalam negeri, menggunakan keadaan yang mercka rencanakan dan ciptakan itu untuk memecah belah kekuatan, menimbulkan pertentangan-pertentangan @engan tujuan untuk memperlemah kekuatan revolusi. Untuk mercapai tujuan ini, kaum imperialis yang dibantu oleh kaum reaksioner dalam negeri melakukan berbagai tindakan dan provokasi sehingga akhirnya menimbulkan,,Madiun affair’. Dengan demikian Revolusi dilumpuhkan can jalan lempang dibuka untuk menghancurkan Republik Indonesia sebagaimana yang diusahakan kaum imperialis. Perang agresi kolonial dilancarkan (perang agresi kolonial ke I tahun 1947 dan perang agresi kolonial ke II tahun 1948) dan sementara pemimpin Indonesia ditangkap dan ditawan Belanda..
Dalam menghadapi berbagai perang agresi kolonial Belanda ini rakyat dan pemuda Indonesia dengan tekad yang bulat, dan semangat heroik serta patriotik yang tinggi, gigih melakukan perlawanan dengan berbagai bentuknya, Perang gerilya bersama dengan rakyat dilakukan oleh angkatan bersenjata kita. Pabrik-pabrik, perusahaan-perusahaan, bangunan-bangunan, jembatan-jembatan dirusak dan d:bumi-hanguskan.
Kekuatan kolonial Belanda tidak bisa cukup mendapatkan orang yang dapat dijadikan alatnya sebagaimana yang diharapkan. Dengan demikian.
maka maksud mereka semula tidak dapat tercapai, dan ditambah lagi bahwa beban ekonomi dan finansiil yang sangat berat tak dapat dipikulnya. Kecuali itu kekuatan progresif diluar negeri berpihak pada rakyat Indonesia dan memberi kecaman serta perlawanan yang tidak kecil terhadap Belanda. Kekuatan kolonial Belanda yang tampaknya berhasil dapat melakukan agresinya, tetapi sebenarnya berada dalam kedudukan yang sangat sulit baik dalam lapangan militer, politik maupun ekonomi.
Usaha untuk memulihkan kekuasaan kolonial tak dapat dicapainya.
Dalam keadaan seperti inilah kaum imperialis Belanda dengan dibantu oleh Amerika dan kaum rcaksioner dalam negeri yang takut terhadap kemenangan perlawanan rakyat berusaha untuk mengadakan kompromis yang sangat merugikan revolusi Indonesia. Perundingan yang kompromis mereka lakukan dan menelorkan Persetujuan Rum-Royen, yang kemudian disusul sebagai kelanjutannya dengan perundingan dan persetujuan yang terkenal buruknya — Konferensi Meja Bundar, atau K.M.B. pada tahun 1949, di Amsterdam, negeri Belanda. Perjanjian yang kompromis dan yang hakekatnya melikwidasi revolusi ini sangat
138
=== [PDF page 139] ===
merugikan rakyat dan negara Indonesia. Dan karena itu mendapatkan perlawanan yang gigih dari rakyat dan pemuda Indonesia.
Pasang surut gelombang revolusi seperti inilah juga mempunyai pengaruh besar terhadap perjuangan dan organisasi perjuangan pemuda Indonesia selama periode ini. Namun demikian, pemuda Indonesia yang setia terhadap tradisi perjuangannya yang revolusioner, tidak hanya hanyut tenggelam dalam pasang surutnya revolusi, tetapi mempunyai peranan yang besar dalam melempangkan jalannya revolusi sesuai dengan syarat yang ada dan kemampuannya pada waktu itu. Besar kecilnya peranan pemuda ini dapat kita lihat sejak dari permulaan dicetuskannya proklamasi itu sendiri hingga menghadapi berbagai agresi perang kolonial sebagaimana yang dipaparkan berikut ini.
SEKITAR PROKLAMASI KEMERDEKAAN
| 17 AGUSTUS 1945.
Berita-berita tentang kekalahan Jepang telah membangkitkan semangzt para pemuda. Tokoh-tokoh pemuda berbagai golongan berkumpul dan merencanakan 'engkah-langkah serta aksi-aksi bersama untuk menghadapi kekalahan Jepang dan pelaksanaan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. |
Hari-hari menjelang Proklamasi Kemerdekaan Indonesia 17 Agus tus 1945 ditandai oleh suasana dan udara politik yang penuh dengan kegiatan-kegiatan revolusioner. Berita-berita kekalahan Jepang oleh pemuda-pemuda revolusioner di Jakarta segera disebarkan keseluruh pelosok kota Jakarta, terutama rakyat dipinggiran kota. Demikian juga pemuda di kota-kota Jain yang dapat menangkap berita dari siaran radio berusaha menyiarkan dengan cepat seluas mungkin.
Sejumlah pemuda-pemuda di Jakarta pada tanggal 15 Agustus 1945, pukul 7 malam menyelenggarakan suatu pertemuan rahasia bertempat diruang belakang dikebun bekas Institut Bakterologi Pegangsaan yang dipimpin oleh tokoh pemuda-mahasiswa Chaerul Saleh dan yang dihadiri al. oleh tokoh-tokoh pemuda, Wikana, D.N. Aidit, Arman Syah, Johar Nur, Parjono, Abubakar, Sudewo, Subadio, Suroto Kunto dll.
Pertemuan pemuda-pemuda itu mengambil kesimpulan-kesimpulan yang tepat mengenai arti sejarah dari kekalahan militer fasis Jepang, dan tiba kepada pendirian secara bulat bahwa kemerdekaan Indonesia adalah hak dan soal rakyat Indonesia, yang harus dinyatakan dengan @jalan proklamasi. Sikap para pemuda itu akan disampaikan oleh suatu Gelegasi kepada Bung Karno dan Drs. Moh. Hatta dengan tuntutan agar
139
par stem ewes eee ww ew —- -—
Q- sama La aa & Boh ot» S0. ad. name
=== [PDF page 140] ===
kedua tokoh nasional ini segera melaksanakan keputusan tersebut dengan menyatakan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada esok harinya, tgl.
16 Agustus 1945.
Pertemuan menunjuk pemuda-pemuda Wikana, D.N. Aidit, Subadio dan Suroto Kunto sebagai delegasi. Pukul 9.00 malam hari itu juga delegasi menemui Bung Karno dan Drs. Moh. Hatta, di Pegangsaan Timur 56, dimana sudah berkumpul juga tokoh lain seperti Mr.
Subarjo, Mr. Iwa Kusumasumantri, Joyopranoto, Dr. Samsi, Dr. Buntaran dil. Didalam perundingan yang kemudian terjadi, Bung Karno meminta pertimbangan-pertimbangan terlebih dahulu dari pemimpinpemimpin nasional terkemuka lainnya. Drss Moh. Hatta yang bertindak atas nama tokoh-tokoh yang ditemui pemuda itu. menyampaikan jawaban kepada delegasi pemuda meminta penangguhan saat pernyataan Proklamasi sampai pemberitahuan resmi penaklukkan Jepang dan setelah mendengar pertimbangan pembesar-pembesar Diepang. Untuk membicarakan jawaban Drs. Moh. Hatta itu pada malam itu para pemuda dan pelajar untuk mengadakan rapat yang diperluas, tepat pada pukul 24.00 bertempat di Cikini 71. Dalam ranat itu delegasi meniampaikan laporan hasil pertemuan dengan Bung Karno dan Drs. Moh. Hatta.
Sebagai diawahan, para pemuda dan peladiar dengan tegas menolak prinsip Kemerdekaan sebagai pemberian hadiah Jepang” dan bertekad bulat mencapai Kemerdekaan,,dengan perjuangan dan pengorbanan sendiri.”
Peristiwa-peristiwa yang kemudian timbul susul-menyusul merupakan detik-detik kepahlawanan pemuda yang penuh ketegangan revolusioner.
Rengasdengklok: kemerdekaan »hasil perjuangan rakyat Indonesia”.
Segera selesainya pertemuan tengah malam di Cikini 71, berangkatlah utusan-utusan yang terdiri dari pemuda Chaerul Saleh dan Dr. Muwardi, Sukarni dan Yusup Kunto, masing-masing kerumah kediaman Bung Karno di Pegangsaan Timur 56 dan Drs. Moh. Hatta di Miyakodori (sekarang Jalan Diponegoro), untuk melaksanakan keputusan rapat.
Dipagi-pagi buta tanggal 16 Agustus dalam suasana kesibukan-kesibukan dan persiapan pemuda-pemuda yang menyebar kepelosok-pelosok kota dan desa-desa dipinggir. kota Jakarta. maka berangkatlah rombongan Bung Karno dan Drs. Moh. Hatta meninggalkan kota Jakarta dengan dikawal sepasukan Peta dibawah pimpinan shodanco (Kepala pasukan) Singgih, menuju Rengasdengklok untuk diajak mempersiap kan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.
140
=== [PDF page 141] ===
Mengapa justru desa Rengasdengklok dipilih sebagai tempat persiapan proklamasi Kemerdekaan Indonesia? Desa Rengasdengklok terkenai karena semangat anti fasis perwira-perwira bintara-bintara dan prajurit-prajurit Peta yang selama pendudukan Jepang mengadakan perlawanan bawah tanah yang dipimpin oleh shodanco Umar Bahsan.
Didesa Rengasdengklok juga gagasan-gagasan mengenai perjuangan bersenjata melawan Jepang dilahirkan oleh perwira-perwira Peta. Desa Rengasdengklok yang pertama-tama pagi-pagi, ketika proklamasi Kemerdekaan Indonesia masih merupakan rencana persiapan, atas perintah Umar Bahsan, menurunkan dan membakar bendera Jepang dan menaikkan bendera nasional Sang Merah Putih.
Sementara suasana ibu kota makin hangat diliputi kesibukan-kesibukan dan kegiatan-kegiatan pemuda yang hilir-mudik menerjunkan diri ditengah-tengah massa rakyat untuk memberikan penjelasan tentang situasi, dan memobilisasinya untuk menyambut keadaan yang akan datang.
Kaum buruh dan pegawai kantor, mahasiswa dan pelajar dihubunginya dan dipersiapkan terhadap Kemerdekaan yang bakal diproklamasikan itu.
Pertemuan-pertemuan rahasia berjalan terus. Dikamar bola Kebon binatang diadakan pembicaraan-pemhicaraan antara wakil-wakil pemuda disatu pihak dan wakil-wakil Peta dilain pihak untuk mengadakan aksi bersama. Keputusan ini kemudian tidak mempunyai effek sedikitpun, karena dengan tidak menghiraukan keputusan bersama itu Mr. Kasman Singodimejo daidanco membatalkan ikut sertanya Peta dan Heiho didalam aksi bersama itu, karena “tidak ada perintah dari atasan”
(perintah ”balatentara Dai Nippon”) “.
Para pemuda mengalami bahwa prinsip mencapai kemerdekaan "dengan perjuangan sendiri” dan tidak sebagai ”hadiah” merupakan suatu perjuangan tersendiri. '
Disalah satu ”markas” pemuda lainnya disatu ruangan belakang gedung Gambir, Prapatan 60, tokoh-tokoh pemuda didatangi oleh pimpinan Kaigun Jepang, yang ketika mendengar berita bahwa Bung Karnce dan Drs. Moh. Hatta telah ”dilarikan” oleh para pemuda, segera menghubungi pimpinan pemuda dan memintanya agar "pergolakan” yang sudah dimulai itu jangan sampai berdarah.
Juga ditempat yang sama datang Mr. Subarjo dan kawan-kawannya untuk menawarkan kerjasama, yang tentu saja diterima oleh para pemuda. Kemudian dikctahuilah bahwa tawaran kerjasama itu adalah
“ Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 Sidik Kertapati, hl. 83.
1141
YA LV ADLN NULL ADI Le IAI B0000 8 te one
=== [PDF page 142] ===
terutama suatu usaha untuk dapat menghubungi kedua pemimpin nasional di Rengasdengklok, untuk memberi penjelasan bahwa Jepang benar-benar telah menyerah kepada Sekutu.
Di Balai agung (balai kota) sekelompok kaum revolusioner dipimpin oleh Suwiryo tekubetsu sico (balaikota-istimewa) dan Dahlan Abdulah wakil ketiga, dengan diam-diam mempersiapkan pemerintah kota bangsa sendiri. Suatu rapat rahasia yang diadakan pada malam hari 16 Agustus dirumah Suwiryo untuk mempersiapkan "suatu pesta perayaan tanpa bendera Jepang dan hanya dengan bendera besar Merah Putih” dilapangan Ikada esok harinya, digerebeg oleh Jepang. Segera Suwiryo merobah rencana dan tempat menyelenggarakan ”pesta” menjadi berpindah ke Pegangsaan Timur 56.
Sementara itu di Rengasdengklok perjuangan antara dua prinsip:
Proklamasi Kemerdekaan atas dasar kekuatan dan perjuangan sendiri atau kemerdekaan sebagai ”hadiah” melalui perundingan mencapai puncaknya dengan kedatangan Mr. Subarjo, Sudiro dan Yusuf Kunto pada hari sorenya.,
Pada pukul 4.00 sore tepat perundingan bersejarah berlangsung
antara Bung Karno, Drs. Moh. Hatta, Mr. Subarjo dan Sukarni dengan disaksikan oleh kedua perwira Peta, yalah Subeno cudanco dan Umar Bahsan shodanco.
Perundingan berlangsung dalam suasana dan dengan latar belakang kesiap-siagaan rakyat bersenjata dibawah pimpinan Peta dan tekad bulat pemuda untuk merebut kemerdekaan dengan kekuatan dan perjuangan bangsanya sendiri — sedang kekalahan Jepang merupakan kenyataan yang tak dapat dibantah. Dalam keadaan demikianlah, maka diambil kesimpulan yang sangat menentukan bagi Revolusi Kemerdekaan bangsa Indonesia, bahwa Proklamasi Kemerdekaan akan dinyatakan pada malam hari itu juga di Jakarta.
Proklamasi ditandatangani.
Pelaksanaan keputusan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, sebagai mana telah ditetapkan didalam rapat pemuda dan pelajar di Cikini 71 maupun dalam perundingan di Rengasdengklok, sampai saat-saat terakhir ternyata masih menghadapi berbagai rintangan. Rintangan terbesar adalah adanya pertimbangan diajak berunding atau tidaknya pihak Jepang dalam melaksanakan pernyataan Proklamasi. Achirnya, setelah melalui musyawarah yang lama dan berkat rasa tanggung-jawab yang besar yang diperlihatkan tokoh-tokoh pemuda selama perundingan itu, maka pcristiwa
142'
=== [PDF page 143] ===
Naskah Proklamasi
Bendera Pusaka Merah Putih dinaikkan di Pegangsaan Timur 56 Jakarta
Digitized by Google
=== [PDF page 144] ===
penandatanganan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dapat dilaksanakan tanpa didahuui perundingan dengan ataupun disaksikan oleh pihak Jepang, tepat pada pukui 5.00 pagi 17 Agustus 1945.
Penandatanganan dilakukan oleh Bung Karno dan Drs. Moh. Hatta
Calam suasana yang khidmad, hening dan sepi. Diperingati arwah-arwah pahlawan yang telah jatuh dan berkorban selama penjajahan Belanda dan penindasan Jepang.
Proklamasi Kemerdekaan
Indonesia dinyatakan.
17 Agustus 1945 jam 10.00 pagi tepat ”....... Perjuangan kemerdekaan ada naiknya dan ada turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju arah cita-cita. Nampaknya saja kita menyandarkan diri kita kepada Jepang, tetapi hakekatnya kita menyusun tenaga dan kekuatan sendiri.... Kalau sekarang tiba saatnya' mengambil nasib dalam tangan sendiri — maka kita akan berdiri dengan kuat dan santosa.... Sekarang tiba saat itu untuk menyatakan kebulatan tekad kita....” # Demikian pidato singkat Bung Karno mengantarkan pernyataan Proklamasi di Pegangsaan Timur 56.,
KAMI BANGSA INDONESIA DENGAN INI
MENYATAKAN KEMERDEKAAN INDONESIA.
HAL-HAL YANG MENGENAI PEMINDAHAN
KEKUASAAN DAN LAIN-LAIN, DISELENGGA-
RAKAN DENGAN CARA SAKSAMA DAN DA-
LAM TEMPO YANG SESINGKAT-SINGKATNYA.
Jakarta, 17 Agustus 1945
Atas nama Bangsa Indonesia.
Sukarno — Hatta
Bendera kebangsaan Sang Merah Putih dinaikkan, berkibar diudara disaksikan oleh beribu pasang mata....
" Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945 Sidik Kertapati — hl. 93 — 94.
144
=== [PDF page 145] ===
ada ancaman atau kekuatan yang dapat menggoyangkan tekad pemuda
dan rakyat Indonesia untuk tetap membela dan mengisi Proklamasi
Kemerdekaan itu dengan tenaga, perjuangan dan darahnya sendiri.
Sesudah 15 menit Kemerdekaan Indonesia dinyatakan oleh Bangsa
: Indonesia sendiri, agresi dan intervensi sudah menampakkan diri hendak ' mengancam Proklamasi, dalam bentuk penyerbuan serdadu Kempeitai
kawa»
ketempat Proklamasi untuk mencegah dan membatalkannya. Tetapi tidak
PERJUANGAN MEMBELA DAN
MENGISI PROKLAMASI
Penyiaran dan pemberitahuan berita Proklamasi Kemerdekaan kepada segenap bangsa Indonesia maupun kepada dunia internasional, merupakan tugas penting, yang terutama dijalankan oleh pemuda dan mahasiswa sudah sejak pagi-pagi hari Proklamasi. Sekalipun usaha perma untuk merebut gedung radio di Gambir Barat 4 dan 5 oleh pemuda?
Raja Cut Rachman, Rahadi Usman dan Ridwan yang hanya ber enjatakan pistol, gagal karena kebocoran rencana, namun pada malam narinya, berhasillah berita Proklamasi disiarkan melalui penyiaran wartaterita dalam negeri maupun luar negeri. Hal ini berkat usaha para vekerja yang bersemangat anti Jepang dibagian peniiaran. onerator
“maupun dibagian telegraf dan stenotipis didinas monitoring dijalan
Siliton, seperti misalnya Bahtiar Lubis, Sumajit, Herawati Diah, Suryoipuro, M.S. Simandiuntak dan lain-lain. Tidak hanya melalui radio, iyuga melalui kantor berita Domci, pekerja Indonesia memberikan umbangannya kepada berhasilnya penyiaran berita Proklamasi. Bahkan tembok gedung-gedung, tram kota, gerbong-gerbong kereta api Jakarta- Surabaya dan Jukarta-Bandung dijadikan alat-alat penyiaran yang amat berguna yang membawakan slogan-slogan revolusi, baik dalam bahasa Indonesia maupun bahasa Inggris, yang dicat atau ditulisi: ” Merdeka atau mati”, "Sekali Merdcka tetap Merdeka”, “Indonesia, never again the lifeblood of any nation”, dll.
Tidak hanya di-ibukota Jakarta, tetapi disemua pelosok tanah air.
dimana berita proklamasi dapat ditangkap atau dimana rakyat bangkit hendak menumbangkan sisa-sisa kekuasaan Jepang yang sudah menyerah kalah itu, maka pemuda-pemudalah yang menjadi salah satu kekuatan
pendorong dibelakang semua usaha-usaha untuk mengisi dan membela
kemerdekaan yang sudah diproklamasikan itu. Segala sesuatu yang penting untuk mengisi Proklamasi itu mereka lakukan dengan tak ragu-vagu, dan
Sejarah Perjuangan 10 145
aa.. 4. as. mana ke eek a tan
=== [PDF page 146] ===
Rapat Raksasa Ikada dijaga keras oleh serdadu-serdadu fasis Jepang
Digitized by Google
=== [PDF page 147] ===
sering pula dengan menumpahkan darah yang tak sedikit. Pemuda?
buruh dengan bekcrjasama yang erat dengan eemen-elemen buruh revolusioner dan pekerja-pekerja patriotik lainnya berhasil merebut jawatan-jawatan kereta-api dan alat-alat pengangkutan lainnya seperti motor-motor dan trem-trem listrik beserta lapangan terbang, dan menjadikan ” Milik Republik Indonesia”. Dihampir semua kota-kota besar di Jawa, Sumatra, Bali dan di Sulawesi bentrokan-bentrokan bersenjata terjadi antara rakyat serta pemuda-pemuda berbambu-runcing dengan pasukan-pasukan tentara Jepang ataupun serdadu kempeitai.
Pembentukan aparat Pemerintah Negara Republik Indonesia.
Sehari sesudah pengumuman proklamasi berdirinya Negara Republik Indonesia, berbagai tindakan diambil untuk menyusun aparat Pemerintahan. Demikianlah pada tanggal 18 — 19 Agustus dalam sidang pertama Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia disyahkannya Undang-undang Dasar dan dipilihnya Ir. Sukarno sebagai Presiden dan Drs. Moh. Hatta sebagai wakil-Presiden yang menurut Undang-undang Dasar memegang kekuasaan pemerintahan. Peranan aktif yang diambil tokoh-tokoh pemuda di Jakarta, terutema didalam mengusahakan bentuk-bentuk pertahanan dan organisasi ketentaraan yang efektif, menunjukkan betapa besar kewaspadaan poli.ik dan rasa tanggung-jawab pemuda terhadap penyelamatan dan penyempurnaan Proklamasi Kemerdekaan Bangsa Indonesia.
Adalah terutama karena takoh-tokoh pemuda di Panitia Persiapan Kemerdekaan, yang dalam suatu pertemuan dengan Bung Karno, Drs. Moh.
Hatta. Mr. Subard'o dan Syahrir pada tanggal 19 Agustus, mendesak keras agar Peta dan Heiho segera dirubah dan direorganisasi menjadi modal pertama tentara kebangsaan. Ditegaskan juga oleh tokoh-tokoh pemuda itu, bahwa kecenderungan,,berunding” dapat membahayakan proklamasi, karena dengan membiarkan status Peta dan Heiho tergantung tak tertentu, maka dapatlah kedua bekas aparat penindasan pemerintahan fasis Jepang digunakan untuk menindas Proklamasi. Didorong oleh desakan tokoh-tokoh pemuda, maka Presiden Sukarno menandatangani dekrit pertama, dimana ditetapkan bahwa Peta dan Heiho dijadikan angkatan bersenjata R.I. Namun dapat disayangkan, bahwa pasukan-pasukan Peta dan Heiho yang seharusnya dijadikan modal pertama angkatan bersenjata R.I. sudah terlebih dahulu dilucuti senjatanya. Sikap bimbang Gari para daidamyo yang dipengaruhi oleh kekuatiran bahwa Peta dan
147
=== [PDF page 148] ===
Heiho yang bersenjata yang kemudian dijadikan bibit pertama Angkatar:
Perang Republik Indonesia dapat dianggap Sekutu sebagai "pasukan liar”
menjadi sebab pokok dari keputusan panitia kccil Panitia Persiapan Kemerdekaan untuk membubarkan Peta dan Heiho. Panitia kecil itu beranggotakan Otto Iskandardinata, Mr. Kasman Singodimejo dan Abdulkadir yang diketuai oleh Abdulkadir. Keputusan tersebut, segera diikuti oleh perlucutan umum terhadap pasukan-pasukan Peta diseluruh Jawa. Hanya dibeberapa tempat, seperti didaerah Purworejo yang dipimpin oleh Sudirman (kemudian dipilih menjadi Panglima Besar), karena sikapnya yang tegas dan kesiap-siagaannya dapat mempertahankan senjata-senjata dalam formasi yang lengkap, bebas dari perlucutan Jepang. '
Tak mengherankan bahwa Badan Keamanan Rakyat (B.K.R.) yang dibentuk pada tanvgal 22 Agustus, belum bersifat tentara akan tetap!
baru merupakan organisasi massa yang bersenjatakan bambu runcing dan golok kecuali dibeberapa tempat yang dapat mempertahankar senjata atau segera dapat melucuti senjata Jepang. Dengan pengorbanan-pengorbanan yang sangat besar dipihak rakyat dan pemuda, maka barisan-barisan bambu runcing dan golok inilah yang kemudian tumbuh dan berkembang didalam pertemuan berdarah melawan Jepang, Belanda dan Inggris, dan berangsur-angsur menyerupai tentara yang bersenjatakan brengun, stengun, tomygun dan lain-lain senjata modern.
Atas usul tokoh-tokoh pemuda antara lain Sukarni, Wikana pada tanggal 29 Agustus dibentuk suatu Komite Nasional, yang disamping Presiden turut bertanggung-jawab didalam soal-soal pemerintahan.
Seminggu sesudah pelantikan Komite Nasional Pusat, yaitu pad:
tanggal 5 September Kabinet Republik Indonesia pertama dibawah pimpinan Presiden Sukarno sendiri dibentuk, dan kemudian menyusu!
pembentukan pemerintahan didaerah-daerah.
Perlawanan Senjata.
Ditengah-tengah suatu keadaan, dimana pemerintahan, dan dimana rakyat dan pemuda harus membela negara dan bangsanya tanpa senjata, maka pada tanggal 8 September 1945 mendaratlah rombongan ” Alied Misson” (Perutusan Sekutu) dibawah pimpinan Mayor A.G. Greenhalgh.
Di Tanjung Priok telah tiba kapal perang Inggris ” Cumberland”
dengan rombongan pertama yang besar dari Sekutu dibawah pimpinan Laksamana Muda W.R. Patterson. Ikut serta berlindung pasukan-pasukan dibawah Inggris adalah Ch. O vander Plas, bekas Gubernur Hindis
148
=== [PDF page 149] ===
SN AA PAN PANEN OTT MT Eo EP OTT ET
Bendera Belanda Merah Putih Biru diturunkan dan disobek birunya, tinggal Merah Putihnya dikibarkan lagi di Tunjungan Surabaya
Belanda di Jawa Timur dan arsitek pertama politik pemecah-belah pemerintah kolonial Hindia Belanda, sebagai Kepala NICA (Nederlands Indies Civil Administration) ~
Pada tanggal 29 September jam 10.00, tiga divisi AFNEI (Allied Force Nederlands East Indies) mulai mendarat di Jakarta dibawah pimpinan panglima besar Letnan Jendral Sir Philip Christison.
Dari tiga divisi itu dipencar untuk daerah Jakarta sendiri 1 divisi, untuk Surabaya 1 divisi dan untuk Sumatra 1 divisi. Dalam rombongan ini membonceng markas besar Tentara Belanda dengan 1 Kompi tentara Knil, dikenal dengan sebutan tentara Nica.
Dengan mendaratnya pasukan-pasukan Inggris dan Belanda, merajalelalah provokasi-ysrovokasi militer, pembunuhan-pembunuhan dan teror.
Serdadu-serdadu Belanda yang berpakaian dan bersenjata Inggris dengan kurangajar menurunkan bendera Merah-Putih, dan menggantikannya dengan bendera Belanda. Rakyat dipaksa menelan lencana-kaleng Merah Putih, ditembaki. kampung-kampung dibakar. Tiga hari sesudah pen- Garatan pasukan-pasukan imperialis pertama di Jakarta, berkorbarlah pertempuran-pertempuran pertama antara pasukan-pasukan Belanda dan Jepang disatu pihak dengan rakyat dan pemuda Indonesia.
Tidax hanya di ibukota Jakarta, tetapi diseluruh tanah air berkecamuklah perlawanan rakyat yang tak mengenal menyerah. Rakyat dan pemuda yang hanya bersenjatakan golok, bambu runcing dan beberapa senapan repertir tua. Masa itu mulai dikenal dengan masa,,bersiap”
rakyat Indonesia.
Pada tanggal 19 September terjadi insiden berdarah di Surabaya
149
=== [PDF page 150] ===
Perlawanan Rakyat di Surabaya terhadap intervensi,,Sekutu”.
yang terkenal dengan insiden bendera di Horel Yamamoto. Pada hari itu seorang bekas tawanan berang. kavien Belanda Plugman, menurunkan bendera Merah Putih diatas Hotel Yamamoto di D''en Tundiumgan dan menggantinya dengan bendera Belanda Merah-Putih-Birn. Peristiwa ini menimbulkan kemarahan yang sangat besar dipihak rakyat dan pemuda Indonesia, bendera Belanda diturunkan, kain birunya disobek dan dibuang: sisa Merah Putih dikibarkan ker bu! diudara. Pengacau Belanda Plugman mati di ujung bambu runcing.
Pada tanggal 23 September perutusan Sekutu” datang pula di Surabaya dengan membawa tugas dari Laksamana Muda Patterson. Tetapi ternyata yang datang itu adalah orang-orang Belanda yang menyaru sebagai
150
Digitized by Goog le
=== [PDF page 151] ===
orang-orang Inggris, yalah Kapten angkatan laut Belanda Huyer, letnan kolonel Rulofsen, letnan-letnan Timmer, Hulsen dan Residen Maassen.
Mereka ini mengadakan hubungan dan dilindungi oleh Tentara Jepang yang sedang dipusatkan di Surabaya. Tidak lama sesudah insiden bendera di Hotel Yamamoto, rakyat dan pemuda Surabaya yang sudah terbangkit perasaan marah dan sakit hatinya, mulai melakukan perlucutan-perlucutan terhadap Jepang, dan mempersiapkan diri untuk menghancurkan benteng terakhir dari kekuasaan fasisme Jepang dikota Surabaya, yalah markas kempeitci di bekas gedung Raad van Yustitie.
Pada hari yang bersejarah itu, pasukan-pasukan kempeitei dengan licik sekali mengibarkan bendera putih tanda menyerah, dan dengan menyembunyikan diri dibelakang tembok-tembok besar, mereka kemudian menembaki rakyat pemuda, yang atas tanda menyerah itu menyerbu ke gedung itu. Jalan besar didepan gedung kempeitei menjadi merah karena darah rakyat dan pemuda yang mengalir. Hanya setelah ultimatum rakyat, bahwa markas kempettei akan habis dihancurkan, maka menyerah kalahlah pasukan-pasukan Jepang. Dengan demikian pada permulaan Oktober itu seluruh Kota Surabaya sudah sepenuhnya berada ditangan rakyat.
Pada tanggal 25 Oktober Brigade Infantri India yang ke 49 dari tentara Inggris mu!ai berlabuh dipelabuhan Tanjung Perak. Kedatangan tentara Inggris disambut dengan penuh curiga oleh rakyat dan pemerintah kota Surabaya. Suatu delegasi pemuka-pemuka Pemerintah dan rakyat Surabaya yang tecuiri dari Dr. Sugiri, Bambang Suprapto dan Ruslan Abdulgani pada hari sorenya menemui Komandan Tentara Sekutu dipelabuhan untuk inerundingkan segala sesuatu sekitar kedatangan mereka di Surabaya. Perundingan tidak menghasilkan apa-apa, sebaliknya delegasi mendapat kesan, seakan-akan dibelakang alasan resmi kedatangan Brigade ke 49 itu tersembunyi maksud yang sesungguhnya, yalah menduduki kota Surabaya dan merapangkan jalan bagi kembalinya kekuasaan Belanda dibumi Indonesia yang sudah merdeka. Pada esok harinya tanggal 26 Oktober 1945 suatu delegasi dipimpin oleh Dr. Mustopo menghubungi Tentara Sekutu, yang akhirnya melahirkan persetujuan a.l.: 1). Pengakuan terhadap kekuasaan R.I. dan 2). Tentara Sekutu tidak akan memboncengkan tentara Belanda dan NICA. Tetapi pada malam har:
itu juga Tentara Sekutu melanggar persetujuan, dan satu peleton dari "Field Security Section 611” (bagian dinas rahasia) dipimpin olkh kapten Shaw mendobrak penjara kota dan melepaskan agen NICA kapten
P.Y.G. Huver dan kaki tangannya. Peristiwa ini sangat menyakiti hati rakyat dan pemuda Indonesia, dan pada esoknya hari tanggal 27 Oktober
151
=== [PDF page 152] ===
suasana amat tegang, sedangkan keadaan ”bersiap” meliputi seluruh kota Surabaya. Ketegavgan dan kesiap-siagaan rakyat mencapai puncaknya, ketika pada sore hari tanggal 27 Oktober pesawat-pesawat Inggris menjatuhkan ribuan surat-surat sebaran yang berisi perintah agar yakyat Indonesia menyerahkan semua senjatanya tanpa syarat dan mengosongkan pangkalan angkatan laut dan darat yang sudah dikuasai rakyat Indonesia sejak tanggal 22 Agustus. Siapa yang tidak mematuhi perintah itu akan dihukum mati. Setelah sikap khianat dari Tentara Inggris itu menjad:
kenyataan, maka segera pimpinan organisasi bersenjata Barisan Pemberontakan Rakyat Indonesia (B.P.R.I.) yang mempunyai peranan 'besar didalam bulan-bulan pertama pecahnya Revolusi Kemerdekaan di Surabaya dan pimpinan organisasi Pemuda Republik Indonesia (P.R.I.)
mengambil keputusan untuk memutuskan segala musyawarah dengan pihak Sekutu dan mempersiapkan diri untuk bertempur.........
Pukul 4.00 sore tanggal 28 Oktober meletuslah pertempuran yang hebat dan dahsyat antara barisan pemuda dan rakyat Indonesia dengan tentara Inggris-Incia. Kesatuan-kcsatuan Angkatan Laut R.I. yang sebagian besar terdiri dari para pemuda yang telah bekerja dalam kalangan Angkatan Laut Jepang sebagai tukang atau pegawai administrasi dan para pemuda bekas Kaigun-Heiho, dengan semangat menyala-nyala menghantam dacrah pelabuhan yang diduduki oleh Tentara Inggris dengan peluru-peluru meriam-meriam pantay yang mereka kuasai disekitar Kedung Cowek (Surabaya Timur Laut). Pasukan-pasukan darat merekapun tersebar disescnap sektor pertempuran yang menuju langsung kejurusan lautan.
Pada sore hari kedua, beberapa pesawat terbang Inggris melayanglayang diudara untuk menjatuhkan bahan-bahan yang dibutuhkan oleh pasukan-pasukan mereka. Sebagian besar parasut-parasut yang dijatuhkan itu berisi mitralyur-mitralyur dan peluru-peluru yang masih baru, dapat direbut oleh rakyat dan pemuda Indonesia. Dalam beberapa hari saja, pasukan-pasukan Indonesia berhasil menguasai sepenuhnya kedudukan dan situasi pertempuran dan mendesak tentara Inggris terus kepantai.
Di Jakarta berita-berita tentang situasi pertempuran di Surabaya telah memaksa letnan diendral Sir Philip Christison, panglima besar Tentara Pendudukan Sekutu untuk meminta bantuan perantaraan Presiden Sukarno. Atas dasar itu Bung Karno sendiri, Wakil Presiden Drs.
Moh. Hatta dan Menteri Penerangan Mr. Amir Syarifudin disertai jendral mayor D.C. Hawthern, berangkat dengan pesawat terbang kc Surabaya. Dalam perundingan yang kemudian terjadi antara pihak
152
=== [PDF page 153] ===
Indonesia dengan pemimpin-pemimpin Inggris, tercapailah gencatan senjata yang bersifat sementara. Tetapi sesudah keberangkatan rombongan Bung Karno, maka persetujuan bersama yang sudah tercapai itu, pada tanggal 30 Oktober dilanggar lagi oleh pihak Inggris Ghurka, dan didalam pertempuran-pertempuran yang berkobar lagi dengan lebih dahsyat maka tewaslah brigadir jendral A.W.S. Malaby oleh peluru 'kesasar” dari pihaknya sendiri.
Di Bandung, pada tanggal 10 Oktober 1945 terjadilah bentrokan yang pertama antara rakyat, pemuda dengan Jepang yang juga menjadi alat Belanda, di gedung kempeitai di Hectsyaweg (sekarang Jalan Sultan Agung). Setelah bentrokan ini, Jepang yang masih bersenjata lengkap, mengadakan patroli kekampung-kampung dan mengadakan penggeledahan yang menambah marahnya rakyat. Semangat pemuda makin meluap dan bertekad untuk merampas alat kekuasaan serta senjata dari tangan Jcpang. Mereka tak memikirkan akibat dari tekadnya. Siang malam, dalam hujan lebatpun mereka mengadakan aksi memperkuat barisan. Pertempuran mulai berkobar.
Di Semarang, persiapan untuk menyongsong kemerdekaan sudah berlangsung pada hari-hari sebelum Proklamasi diumumkan. Tanggal 15 Agustus 1945 utusan pemuda dari Jakarta datang di Semarang dan pada tanggal 16 Agustus 1945 disalah satu ruangan rumah sakit ”Purusara”
diselenggarakan pertemuan yang dipimpin antara lain oleh S. Karno.
Sebagai hasil pertemuan ini dibentuk Markas Angkatan Muda dengan bertempat dirumah S. Karno di Jalan Gendong 1124. Angkatan Muda inilah yang kemudian mendorong bergerak untuk merebut semua diawatan dan perusahaan Jepang. Pada Oktober 1945 dengan didorong oleh pemuda yang tergabung didalam Angkatan Muda senjata Jepang dapat dilucuti dan diserahkan kepada B.K.R. (Badan Keamanan Rakyat).
Angkatan Muda juga menawan Belanda Ik. 400 orang. Dalam perlucutan senjata ini barisan penempur Jepang Kido Butai, yang belum terlucuti pada tanggal 14 Oktober 1945 mengadakan serangan terhadap pemuda-pemuda dan yang pertama diserang yalah markas dijalan Mugaan, Pandanaran. Pertempuran ini berlangsung selama lima hari lima malam dan karena itu terkenal dengan sebutan "Pertempuran 5 hari”.
Dengan hanya bersenjatakan bambu runcing dan golok dan beberapa pucuk senjata api yang dapat direbut, rakyat dan pemuda membela diri dengan berani, tetapi tak dapat mencegah jatuhnya beribu-ribu korban rakyat yang tak bersalah. Beribu-ribu pemuda gugur dalam pertempuran mempertahankan Proklamasi ini, namun demikian tak mengendorkan semangat pemuda bahkan warna merah darah yang membasahi bumi
153
=== [PDF page 154] ===
ibu pertiwi ini makin membajakan tekad pemuda ” Merdeka atau Mati”.
Baru pada tanggal 20 Oktober setelah pendaratan pasukan? Inggris.
pertempuran-pertempuran dengan pihak Jepang menjadi reda. Pada tanggal 28 Oktober 1945 oleh rakyat Semarang diletakkan batu pertama untuk Tugu Pemuda ditengah-tengah simpang tiga alun-alun Semarang, sebagai peringatan terhadap kepahlawanan pemuda yang telah gugur. Tetapi tak lama kemudian, pertempuran-pertempuran berkobar kembali, kali ini dengan pasukan-pasukan Inggris dan Belanda. Tidak saja di Semarang,
tetapi juga di Ambarawa dan Magelang dan sepanjang jalan yang.
menghubungi kota-kota ini. Disinipun kedatangan Bung Karno saja, pada tanggal 1 dan 2 Nopember, yang dapat meredakan pertempuranpertempuran dan menghasilkan gencatan senjata.
Di Yogyakarta, setelah mendengarkan Proklamasi, pemuda-pemuda bersama 1nassa rakyat yang luas bangkit untuk merebut kekuasaan dari tangan Jepang dengan bersenjatakan golok dan bambu-runcing.
Perundingan-perundingan dengan tentara Jepang dilakukan agar mereka menyerahkan senjatanya, kepihak pemuda. Gelagat Jepang tidak menyerahkan senjatanya, dan karena itu pemuda-pemuda dengan seia sekata bertekad mielucuti senjata Jepang dan jika perlu, dengan kekerasan.
Pada tanggal 16 Oktober 1945 malam pemuda disemua kampung ”bersiap” dan berkumpul mengepung pusat tentara Jepang di kota Baru.
Jam 4 pagi, karena Jepang menolak ultimatum pemuda, maka pusat:
tentara Jepang itu terpaksa diserbu dengan kekerasan. Mitraliyur Jepang diarahkan kepihak rakyat dan puluhan pemuda yang jatuh menjadi korban. Namun demikian, mereka sedikitpun tak gentar menghadapinya. Barisan pemuda dan rakyat makin memperkuat kepungannya dan akhirnya pada esok harinya, tanggal 17 Oktober 1945 jam 10.30 tentera Jepang yang garang dan biadab itu terpaksa bertekuk lutut didepan rakyat pemuda Indonesia dan bendera putih dikibarkan diatas pusat itu.
Jepang dilucuti dan ditawan.
Di Solo, setelah mendengar bahwa pemuda di Yogyakarta telah berhasil melucuti senjata Jepang, maka pada malam tanggal 10 Oktober 1945 pemuda mengirimkan delegasinya untuk meminta agar tentara Jepang menyerahkan senjatanya kepihak pemuda. Pemuda tak sabar menunggu hasil perundingan yang gelagatnya akan ditolak Jepang.
Pemuda-pemuda mengepung Markas Kempeitai, dan pada pagi harinya Kempeitai menyerah kalah.
Di Palembang, setelah Proklamasi terdengar maka pemuda-pemuda segera mengorganisasi diri dalam berbagai organisasi. Dan dengan demikian maka terwujudlah sesuatu kekuatan yang dapat mendukung dan
154
=== [PDF page 155] ===
merealisasi Proklamasi. Maka sejak akhir bulan Oktober 1945 dimulai aksi merebut senjata dan melucuti tentara Jepang. Pertempuran berlangsung dimana-mana, di Pendopo, di Sekayu, di Mangunjaya dan juga di kota Palembang. Senjata Jepang direbut dan markasnya dijadikan markas pemuda, sedangkan orang-orang Jepang ditawan.
Suatu pericmpuran yang seru juga terjadi dalam melucuti senjata Jepang di Palembang pada tanggal 9 Oktober 1945. Pemuda yang makin bertambah berani karena makin tambahnya keyakinan atas kekuatannya, telah menggerebeg tangsi Jepang baik pada siang hari dan malam hari.
Karena tekanan kekuatan rakyat dan pemuda inilah, maka banyak barisan tentara Jepang yang dengan “sukarela” menyerahkan senjatanya.
Dengan berhasilnya aksi perlucutan ini maka makin kuatlah persenjataan di kalangan barisan rakyat dan barisan pemuda. Tetapi, dalam keadaan yang demikian ini, Tentara Sekutu yang lengkap dengan badan pemerintahannya NICA mendarat pada tanggal 12 Oktober 1945 dibawah pimpinan Letnan Kolonel Carmikhell. Politik berunding yang kompromis dan yang kurang disertai dengan kewaspadaan, mengakibatkan Belanda dengan membonceng Sekutu dapat mengkonsolidasi diri dan akhirnya dapat mendesak kekuatan Repubrik ui Palembang.
Di Sumatra Barat, setelah berita Proklamasi diterima oleh pemuda' yang bekerja dikantor berita ”Domei”, maka mereka mengambil bagian aktif menyiarkannya. Pemuda segera membentuk organisasinya dan memulai bertindak mendorong dan dibentuknya pemerintahan. Sewaktu pemuda belum juga sempat melucuti tentara Jepang, maka mendaratlah tentara Sekutu yang juga memboncengkan tentara Belanda di Sumatra Barat. Insiden-insiden mulai terjadi. Tindakan Sekutu makin merajalela. Gedung percetakan Negara Republik Indonesia di Kampung Tionghoa dihancurkannya dengan dinamit. Berpuluh pemuda ditangkap, ditawan dan disiksa. Berpuluh rumah rakyat dibakar. Pemuda-pemuda sadar bahwa tindakan ini melanggar kedaulatan Republik Indonesia.
melanggar kehormatan bangsa yang telah merdeka. Pemuda menjadi lebih marah karena tindakan Tentara Sekutu yang makin hari makin kejam dan biadab. Keadaan makin menjadi panas. Bentrokan senjata tak dapat dihindari untuk membela kehormatan negara dan bangsa Indonesia. Pertempuran terjadi diberbagai tempat, seperti di Simpang Haru, Rimbo Kaluang, Batu Busuk dan lain-lain. Bentrokan-bentrokan dengan tentara Jepang dan Sekutu ini juga terjadi di Riau daratan dan Diambi. Pemuda-pemuda dengan heroik mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, mempertahankan milik dan kekayaan negara Indonesia yang telah dapat direbutnya dari fasisme Jepang.
155
=== [PDF page 156] ===
Di Medan, walaupun pada mulanya berita Proklamasi agak samar?
diterima, namun pemuda-pemuda mulai mempersiapkan diri menyongsong berita yang lebih jelas lagi. Sewaktu berita yang lebih jelas dibawa oleh Mr. Teuku Mohamad Hassan yang tiba dari Jakarta pada tanggal
27 September 1945, pemuda dengan penuh antusiasme menyambut dan
menyiarkan berita itu seluas mungkin. Dalam usaha untuk menyusun
kekuatan, pemuda-pemuda di Medan pada tanggal 23 September 1945 '
berkumpul di Fusi Dori No. 6 (sekarang Jalan Jakarta) untuk menyusun organisasinya Barisan Pemuda Indonesia. Kemudian untuk membulatkan tekad dari semua golongan maka pada tanggal 30 September
1945 diadakan lagi pertemuan antara pemuda dan pimpihan rakyat lainnya. Dalam pertemuan ini diikrarkan bersama untuk menegakkan pernyataan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Setelah pertemuan ini semangat makin menggelora, bendera Merah-Putih berkibar dimanamana, dan dimana-mana ditempelkan seruan dan semboyan yang dapa!
membangkitkan semangat. Sementara itu berita pendaratan Tentara Sekutu dalam waktu yang singkat telah tersiar. Rakyat serta Pemuda juga sudah mempunyai perasaan curiga, jangan-jangan dengan pendaratan itu kemerdekaan yang telah diproklamirkan akan diperkosania.
Untuk membulatkan dan memobilisasi seluruh rakyat dalam menghadap!
semua kemungkinan maka pada tanggal 6 Oktober dilangsungkan pawai raksasa yang belum pernah terjadi sebelumnya. Dalam pawai ini dibawa panji dan semboyan-semboyan yang berisikan pernyataan tekad serta kehendak rakyat Indonesia, seperti "Down with imperislism”, "We wani peace and order”, "We arc a free nation and never again the life blood of any nation”, dsb.-nya.
Pada tanggal 10 Oktober 1945 tentara Inggris dibawah pimpinan ' Brigadir Jenderal T.E.D. Kelly mendarat di Medan dan tentara Belandapun ikut memboncengnya. Dalam waktu singkat sebagai provokasi mulai terjadi. Pada tanggal 23 Oktober 1945 seorang serdadu Belanda merampas dan meng-injak-injak lencana merah-putih yang melekat dibaju
seorang anak Indonesia yang sedang berjalan di Jalan Bali. Seorang:
pemuda yang mengetahui hal ini tak membiarkan penghinaan ini berlalu.
Pemuda ini menghunus pisau dari pinggangnya dan terjadilah perkelahian dengan senjata tajam. Sewaktu mobil yang dinaiki 2 orang Belanda melepaskan tembakan sehingga mengenai seorang Indonesia hingga tewas, keadaan makin menjadi panas dan dalam waktu yang singkat rakyat telah mengepung tempat itu. Kedatangan tentara Jepang membikin keadaan makin lebih panas. Sementara seorang pemuda Achmad Tohir dapat menentramkan keadaan. Tetapi tak lama kemudian
156
ne mm
=== [PDF page 157] ===
tangsi serdadu Belanda di Jalan Bali diserbu rakyat, dan pemuda dengan bersenjatakan bambu runcing dan golok. Juga Hotel Siantar, sarang serdadu Belanda, diserbu pemuda dan dibakar. Banyak serdadu Belanda yang tewas dan ditawan pemuda-pemuda.
Walaupun setelah ini pemuda menghadapi tekanan dari tentara Inggris dengan maklumatnya yang menyatakan bahwa pemuda tak boleh bersenjata, namun justru sebagai jawabnya latihan-latihan kemiliteran makin diperluas dan diperhebat. Kesatuan-kesatuan perjuangan pemuda tumbuh dengan cepatnya.
Di Aceh, yang letaknya diujung Barat Daya dari Nusantara kita, pemuda-pemudanya tak juga ketinggalan dengan daerah lainnya.
Walaupun berita tentang Proklamasi terlambat diterimanya, namun serentak setelah mendengarkan berita itu pemuda bangkit menyusun kekuatannya dengan mendirikan organisasi — Ikatan Pemuda Indonesia dan kemudian diubah menjadi Barisan Pemuda Indonesia, yang dipimpin oleh pemuda A. Hasymy dll. Pemuda dengan penuh antusiasme menyebarkan berita Proklamasi dan pada tanggal 18 Oktober 1945 berhasil merebut surat kabar "Semangat Merdeka” dari tangan Jepang. Surat kabar ini selanjutnya terbit dengan memuat artikel-artikel yang dapat membangkitkan semangat pemuda, semangat rakyat Acch. Keadaan yang hampir sama terjadi juga di Tapanuli. Pemuda Tapanuli setclah dapat menangkap berita Proklamasi segera menyambutnya dengan membentuk organisasinya dan melakukan kegiatan untuk mengibarkan bendera Merah-Putih dimana-mana.
Di Kalimantan, berita Proklamasi hanya sayup-sayup terdengar. Baru setibanya pemuda A. Hamidan dan A. Rivai di Banjarmasin dari Jakarta, berita itu menjadi pasti. Surat kabar Bornco Simbun yang terbit di Banjarmasin dan Kandangan segera menyiarkan berita itu.
Namun demikian berita ini tak dapat tersiar luas merata, karena kekangan-kekangan Jepang. Tak lama kemudian, yaitu 17 September 1945 Tentara Sekutu (Australia) mendarat di Kalimantan. Diantara mereka terdapat dua orang yang memihak kepada perjuangan yang adil rakyat Indonesia. Kedua orang Australia tsb. yang bernama Charles Foster dan Victor Litle, berhasil menemui pemimpin rakyat setempat Hadhariah, dan menyampaikan pamflet yang dibuat di Australia yang isinya berbunyi:
"bahwa Indonesia telah merdeka dan mengajak segala lapisan dan golongan, pegawai-pegawai, polisi-polisi dan sebagainya bersatu padu dan supaya menolak kedatangan NICA”.
Pamflet ini secara luas disebarkan diseluruh Kalimantan oleh pemuda-pemuda Kalimantan. Setelah ini suasana menjadi hangat,
157
=== [PDF page 158] ===
orang-orang terkemuka asyik mendiskusikan pamflet itu. Tapi bersamaan dengan itu NICA menjadi garang dan menangkap Hadhariah M. dan teman-temannya. Sementara ini organisasi perjuangan d'uga te.ah dibangun, sekalipun bergerak dibawah tanah. Suasana makin hari makin panas, terutama karena tindakan kejam serdadu NICA. Pada tanggal 1 Nopember 1945, dua orang serdadu Belanda dikro'ok sambai mati di Pasar Baru. Sejak saat ini kelompok pemuda dengan bersend aiakan senjata scadanya mulai bersiap untuk menyerbu tangsi Be:anda. Beberapa usaha penyerbuan telah gagal, dan berakhir dengan penangkapan pemimpin organisasi perlawanan itu oleh NICA. Sekatipan denih.ar. n0xa lahan itu hanya bersifat sementara, dan tak lama kemudian me-etusiah massa perlawanan pemuda dan rakyat Kalimantan yang penuh hero:snie.
Di Bali, walaupun letaknya pulau ini berdekatan denran D'awa, namun sebagai akibat masih berkuasanya Jepang maka berita Pok au masi juga terlambat didengar pemuda-pemuda dan rakiat umumnia. Segera setelah mendengar berita Proklamasi, pemuda mempersiapkan pendirian suatu organisasi perjuangan. Tak lama kemudian, taitu dalam bulan Oktober 1945, Tentara Sekutu mendarat di Singarad'a. Bendera Merah Putih diturunkan dan dirobek-robek o!eh Tentara Sekutu. perkuwa mana menimbulkan kemarahan pemuda. Bendera Belanda yang berkibar dipelabuhan diturunkan oleh pemuda-pemuda, birun'a disobek, dan merahputihnya dikibarkan kembali. Insiden bendera ini membawa korban «eorang pemuda Merta yang mati ditembak serdadu Belanda. Di Lombok, Sumbawa, Timur dll. kepulauan Nusa Tenggara berita Prok'amasi umumnya sangat terlambat kedengaran rakyat dan tak danat terscbar luas.
Hal ini disebabkan karena dalam keadaan tentara D'epang ma-h berkuasa penuh, Tentara Sekutu yang tidak lain adalah tentara Bs:inda, mendarat di pulau-pulau itu. Dengan demikian maka baik pen taran berita Proklamasi maupun aksi pemuda mendapat tekanan dan rintangan yang berat sekal. Namun semangat patriotik pemuda dapat menerobos segula' tekanan dan rintangan penjajah: di Sumba. pada hari-hari permiaan setelah berita Proklamasi didengarnya, scorang beras Heho. berhasil mengibarkan bendera Merah-Putih dipelosok terpencil tanah air kita itu.
Di Makasar, Sulawesi Selatan. berita resmi Proklamasi dbawa oh Dr. Ratulangi, Pada tanggal 24 September mendaratlah Tentara Sekutu yang diwakili oleh tentara Australia. Didalam tentara ini dosa bersembunyi opsir Belanda, lengkap dengan anggota-anggota pemerintahan yang akan ditegakkannya di Indonesia. Mereka mendialankan siasat dengan mendatangi orang-orang yang dianggap “setia” padanya. Mereka menggunakan senjata memecah-belah dengan meniup-niupkan berita
158 '
=== [PDF page 159] ===
bahwa Republik yang diumumkan itu hanyalah ” Republik Sukarno- Hatta” dengan beberapa "orang Jawa” sebagai pembantunya. Proklamasi itu adalah "bikinan Jepang” dan sebagainya. Siasat ini diiringi oleh Belanda dengan penembakan-penembakan pada bulan Oktober terhadap rakyat Indonesia yang berani memakai lencana Merah-Putih.
Dan-sesuai dengan politik devide-et-impera maka yang digunakan untuk melakukan penembakan-penembakan itu adalah bangsa Indonesia sendiri, yalah dari suku Ambon. |
PEMBANGUNAN ORGANISASI
PERJUANGAN PEMUDA
Untuk menunaikan tugas revolusi diperlukan adanya organisasi rakyat dan organisasi pemuda yang sanggup menghimpun potensi massa pemuda yang luas. Karena itu pemuda-pemuda dari kaum buruh, tani, wanita, pelajar dan lain-lainnya dalam waktu yang singkat. mendirikan organisasinya. Organisasi perjuangan pemuda tumbuh dengan cepat diberbagai daerah.
Di Jakarta, dengan bermarkas di Menteng 31, yang pada hari-hari permulaan Proklamasi memainkan peranan yang sangat penting, organisasi pemuda pertama, yaitu Angkatan Pemuda Indonesia (A.P.I.) dibentuk.
Tujuan A.P.I. sebagaimana tercantum di peraturan dasar yalah:
Memperteguh Negara Kesatuan Republik Indonesia yang berdasarkan Kedaulatan Rakyat, dengan memperjuangkan masyarakat yang berdasarkan sama-rata sama-rasa. Pemimpin A.P.I. terdiri dari Ketua Wikana;
anggota-anggota Chaerul Saleh, D.N. Aidit, Darwis, A.M. Hanafi, Kusnandar, Johar Nur, Chalid Rasyid.
Bersama dengan berdirinya A.P.I. di Jawa Tengah (Semarang) di dirikan: Angkatan Muda Republik Indonesia (A.M.R.I.) dibawah pimpinan pemuda-pemuda Ibnu Parna, B. Suprapto, S. Karno dll. Di Yogyakarta didirikan Pemuda Pelopor Nasional (P.P.N.) yang tidak lama kemudian namanya di ganti GERPRI, yaitu Gerakan Pemuda Republik Indonesia dibawah pimpinan pemuda-pemuda SW. Lagiono, Mantoro Tirtonegoro, Hudoyo dll. Di Jawa Timur (Surabaya) didirikan P.R.I.
yaitu Pemuda Republik Indonesia dibawah pimpinan pemuda-pemuda Sumarno, B. Kaslan, Ruslan Wijayasastra dan lain-lain. Azas dan tujuan tidak jauh berbeda dengan azas tujuan A.P.I. Kecuali itu, pemuda-pemuda dari berbagai jawatan, kepercayaan agama dan daerah juga mendirikan organisasinya masing-masing, seperti Ikatan Pelajar
159
=== [PDF page 160] ===
Indonesia, Persatuan Pemuda Putri Indonesia, Barisan Pelopor, Angkatan Pemuda Kereta Api, Angkatan Pemuda Listrik dan Gas, Angkatan Muda Pos Telegrap dan Tilpon, Angkatan Muda Kebaktian Rakyat, Gabungan Gerakan Pegawai Angkatan Muda, Pemuda Indonesia Maluku, Angkatan ' Muda Buruh, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Persiapan Pemuda Kristen Indonesia, Angkatan Muda Kehutanan, Pemuda Barisan Tani, dan lain-lam. |
Juga pemuda diluar Jawa tak ketinggalan dengan teman-temannya di Jawa. Setelah menangkap siaran dari Jakarta atau ulangan dari siaran radio di kota lain, mereka berusaha dengan secepat mungkin menggalang kekuatan membentuk organisasi untuk merealisasi dan mem pertahankan Proklamasi itu. Mereka mengorganisasi diri kedalam organisasi yang sesuai dengan syarat-syarat, keadaan dan kemungkinan yang ada didaerah itu.
Di Kalimantan pemuda-pemuda membangun organisasinya yaitu:
Persatuan Rakyat Indonesia (P.R.I.), Barisan Pemuda Rakyat Indonesia, yang dipimpin antara lain oleh F. Mahani, Abdulrakhman Nur, Abdul Mutalib Syukur dll. Barisan Pemuda Republik Indonesia Kalimantan (B.P.R.I.K.) yang dipimpin antara lain oleh: M. Ruslan, Nadariah M., Abdulkadir dll. Gerakan Rakyat Mempertahankan Republik Indonesia (G.R.M.R.I.) yang dipimpin antara lain oleh: Hasan Basuki, Baderun H.A., Jangga dll. Barisan Pelopor Pemberontak Kalimantan Indonesia (B.P.P.K.I.) yang dipimpin antara lain oleh: M. Yusi, Jantera. Hamsi dll. Pemuda Penyongsong Republik Indonesia (P.P.R.I.) yang dipimpin antara lain oleh: Mozanie Ranu, Jayadi, Saman dil. Gerakan Rakyat Pengajar Pembela Indonesia Merdeka yang antara lain dipimpin oleh:
Abdul Hamidan, Ys. Antenas, M. Idris, dil.
Di Palembang pemuda mengorganisasi diri kedalam “Barisan Pelopor Republik Indonesia” (B.P.R.I.), Angkatan Muda Minyak (API Minyak)
Angkatan Pemuda Indonesia (A.P.Y.) Kereta Api; di Lampung, kedalam Angkatan Pemuda Indonesia (A.P.I.). Di Sumatra Barat, pemuda mengorganisasi diri kedalam Balai Penerangan Pemuda Indonesia dan kemudian kedalam Pemuda Republik Indonesia (P.R.I.). Di Riau mula-mula pemuda mengorganisasi diri kedalam Pemuda Indonesia (P.I.) dan yang kemudian berubah menjadi Pemuda Republik Indonesia (P.R.I.) yang dipimpin Basrul Jamal, Zalik Azis, Razak Kali, Yahia, Zakaria Y.U.
Siregar, “dll.-nya. Di Tanjung Pinang pemuda-pemuda tidak sempat mendirikan organisasinya sendiri karena kekuasaan Belanda segera meng: ' gantikan kekuasaan Jepang. Namun demikian banyak pemuda-pemuda yang tergabung kedalam Padan Kebangsaan Riau (B.K.I.LR.) yang di-
160
=== [PDF page 161] ===
Atas: Pada suatu peristiwa Pembentukan Tentara Republik Indonesia Bawah: Laskar Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi (Kris)
pimpin oleh: Dr. Ilyas. Di Jambi pemuda tergabung kedalam Angkatan Pemuda Indonesia (A.P.I.) yang dipimpin oleh: Dr. Supardi, Abunjadi.
Abdullah Kartowirono, dll. Di Medan pemuda tergabung kedalam Barisan
Pemuda Indonesia (B.P.I.) yang dipimpin oleh A. Tohir, Abdul Malik Munir, dll. Di Aceh pemuda-pemudanya mula-mula tergabung kedalam Ikatan Pemuda Indonesia yang selanjutnya diubah menjadi Barisan Pemuda Indonesia (B.P.I.) yang dipimpin antara lain oleh: Ali Hasymi, Syekh Markhaban, Tuanku Hasim, Tengku Abdul Jalil dll. Di Tapanuh pemuda-pemuda tergabung kedalam Pemuda Republik Indonesia. Di Bah pemuda-pemudanya mula-mula mendirikan organisasi Angkatan Muda
Sejarah Perjuangan 11 161
Digitized by Goog le
=== [PDF page 162] ===
Indonesia (A.M.I.) tetapi yang kemudian diubah menjadi Pemuda Republik Indonesia (P.R.I.) yang dipimpin antara lain oleh: Matiwijaya Kesuma, Cokordo Agung, Ida Bagus Tantra, Made Sughita dll.
Di Lombok pemuda-pemuda belum sempat membentuk organisasi pemudanya, tetapi sebagian besar pemuda tergabung kedalam Badan Keamanan Rakyat (B.K.R.): sedangkan di Sumbawa pada mula-mulanya pemuda masih sempat membentuk organisasinya sendiri Angkatan Muda Indonesia yang dipimpin antara lain oleh: M. Tayeb. Tetapi keadaan didaerah
diluar pulau Jawa dan Sumatra sangat berlainan sekali. Organisasi”
pemuda lebih banyak merupakan satuan-satuan perjuangan yang semuanya hampir tujuannya sama, yalah merugikan tentara Belanda dengan jalan sabotase, menggempur iringan-iringan musuh, menyergap dengan tiba-tiba, tegasnya perlawanan gerilya. Diantara organisasi-organisasi pemuda ini terdapat Kris Muda dibawah pimpinan Andi Kalangan dari Mandar, Gapis (Gabungan Pemuda Indonesia Sulawesi) dibawah pimpinan Idris dari Sopeng, Kris Sulawesi dipimpin oleh Andi Bommeng dar Azis, Ganggawa dibawah pimpinan A. Rachman dari Pare-pare dan banyak lainnya lagi.
Karena Revolusi Agustus 1945 ini adalah revolusi bersenjata, melawan kontra revolusi dan agresi bersenjata, maka pada umumnya organisasi pemuda itu 'bersenjata atau mempunyai barisan bersenjatanya sendiri. Organisasi pemuda seperti Pesindo, Hisbullah dan lain-lain mempunyai barisan bersenjatanya yang berbentuk laskar. Lahir juga pada waktu itu organisasi pemuda yang bersifat militer yang anggota-anggotanya terdiri dari pelajar-pelajar yang kemudian menjadi Tentara Pelajar (T.P.), Tentara Republik Indonesia Pelajar (T.R.I.P.), Tentara Geni Pelajar (T.G.P.) Mobilisasi Pelajar (MOBPEL) dan lain-lain. Perkembangan kesatuan-kesatuan pelajar bersenjata ini pada kemudian harinya melalui Kongres Pelajar Pejuang (Bersenjata) Seluruh Indonesia di Kaliurang pada tahun 1955 terbentuk menjadi Seketariat Bersama Kongres Pelajar Pejuang Seluruh Indonesia. Organisasi perlawanan rakyat yang bersenjata seperti B.K.R., Laskar Rakyat, Laskar Minyak, Laskar Merah, Laskar Buruh dan lain-lain, anggota-anggotanya juga sebagian terbesar terdiri dari pemuda-pemuda.
Kongres Pemuda Indonesia ke-I.
Di Yogyakarta.
Pengalaman perjuangan rakyat dan pemuda Indonesia sejak semula telah memberikan pelajaran bahwa kesatuan tekad adalah syarat mutlak untuk mencapai kemenangan. Kini setelah rakyat dan pemuda Indonesia
162
=== [PDF page 163] ===
berhasil memproklamasikan kemerdekaan, dan harus membelanya di tengah-tengah serangan penjajah, pemuda-pemuda menyadari betapa perlu dipersatukannya berbagai organisasi pemuda. Tanpa persatuan ini tak mungkin perjuangannya dikordinasi dan sebaliknya bahkan mempermudah musuh-musuh untuk memecah belah kekuatan pemuda. Untuk merealisasi maksud ini, pemuda-pemuda dibawah dentuman meriam, mortir dan bom angkatan perang Inggris, melangsungkan kongresnya yang pertama setelah Proklamasi Kemerdekaan pada tanggal 9—11 Nopember 1945 di,,Balai Mataraman”, Yogyakarta. Kongres ini juga merupakan kongres yang keempat pemuda Indonesia.
Kota Yogyakarta pada waktu itu mendidih Sutiyatna Ketua Umum oleh darah dan semangat muda yang me-nyala’.
Badan Pusat PPTS Kota yang kuno dan terkenal tradisi-tradisi.
feodal menjadi muda kembali karena gelora pemuda yang merangsang oleh tekad perjuangan untuk membela kemerdekaan. "Merdeka atau Mati”, “Hancurkanlah imperialisme” adalah semboyan-semboyan yang sepanjang hari menjelang dan selama kongres menggelegar diudara disahut oleh pemuda-pemuda yang membanjiri jalan-jalan di kota Yogyakarta. Mereka berpakaian,,perjuangan”, berambut panjang, mengenakan sepatu lars, pistol atau golok dipinggang, celana hijau luntur merosot kesebelah.... Maka hitam dengan cahaya sorotan tajam menentang dunia. Yah, begitulah si pemuda tahun '45 bagaikan atiuh tak acuh, sombong, menantang, tetapi didalam dada bergejolak rasa gandrung akan kemerdekaan tanah air dan bangsanya yang sedang menderita oleh karena agresi buas imperialis- Dalam hatinya masih tergores dalam derita dan jeritan wanita-wanita dan kanak-kanak dijalan-jalan dikota Semarang, Jakarta, Surabaya yang dicincang dan dibunuh oleh serdadu-serdadu Jepang, Belanda dan Inggris. Mereka menuntut keadilyan, kemerdekaan, persatuan.....
Kongres pemuda ini dihadiri oleh organisasi pemuda, yaitu Angkatan Pemuda In-ionesia, Angkatan Muda Republik Indonesia, Pemuda Republik Indonesia, Gerakan Pemuda Jawatan Kereta-api, Angkatan Muda Jawatan Gas dan Listrik, Angkatan Muda Jawatan P.T.T., Ikatan Pelajar Indonesia, Masyarakat Pelajar Perguruan Tinggi, Kebaktian Rakyat Indonesia Sulawesi, Angkatan Pemuda Indonesia Maluku, Pemuda Kristen Protestan Indonesia, Pemuda Katholik Indonesia, Ga-
163
=== [PDF page 164] ===
Bung Karno berpidato didepan kongres Pemuda Seluruh Indonesia pada bulan November 1945
Rapat Raksasa penutupan kongres Pemuda Seluruh Indonesia tahun 1945 di Yogyakarta
Digitized by Goog le
=== [PDF page 165] ===
bungan Gerakan Pegawai Angkatan Muda, Pemuda Andalas, Angkatan Muda Indonesia Kalimantan, Gerakan Pemuda Islam Indonesia, Barisan Pelopor Republik Indonesia, Angkatan Muda Guru, Pemuda Putri Indonesia, Pemuda Republik Indonesia Aceh, Pemuda Republik Indonesia Andalas, Angkatan-Muda Indonesia Surabaya, Serikat Pelajar Indonesia, Gerakan Pemuda Minyak, Gabungan Angkatan Muda Indonesia, Gabungan Pemuda Islam Indonesia, Angkatan Pemuda Republik Indonesia Andalas Barat, Angkatan Kantor Pusat Pemerintahan Republik Indonesia.
Seluruh utusan berjumlah 400 orang yang antara lain datang dari Sumatra 166 orang, Maluku 25 orang, Nusatenggara 18 orang, Kalimantan 11 orang dan Sulawesi 9 orang.
Hari pembukaan kongres dihadiri oleh Bung Karno sebagai Presiden Republik Indonesia, Drs. Moh. Hatta sebagai Wakil Presiden, Menteri Penerangan, Menteri Dalam Negeri, Menteri Sosial dan Menteri P.P.U.
Dalam kongres pertama ini Bung Karno memberikan amanatnya.
Pada tanggal 10 Nopember, tepat pada hari pertama kongres.
meletuslah di Surabaya pertempuran yang terdahsyat yang pernah dialami sejarah perlawanan rakyat dan pemuda Indonesia dalam perjuangan membela kemerdekaan tanah airnya. Tepat pukul 6.00 pagi 10 Nopember berakhirlah waktu ultimatum yang dikeluarkan oleh panglima tentara Inggris di Jawa Timur, jendral mayor E.C. Mansergh kepada rakyat Indonesia di Surabaya dan Jawa Timur yang berisi perintah meletakkan dan menyerahkan senjata dan mengangkat kedua belah tangan diatas kepala untuk akhirnya menandatangani suatu penierahan tanpa syara:
pada tanggal 9 Nopember. Yang sangat mengiris hati para pemuda adalah terutama fasal-fasal dari ultimatum yang hina itu yang berbunyi sbb.:
”'Semua pemimpin Indonesia, termasuk pemimpin? Organisasi' pemuda, Kepala Polisi dan Kepala Radio Surabaya harus melaporkan diri di Bataviaweg pada tanggal 9 Nopember jam 18.00. Mereka harus datang berbaris orang demi orang dengan membawa senjata apapun saja yang mereka miliki. Senjata-senjata itu harus mereka letakkan disatu tempat 100 yard dari tempat pertemuan. Kemudian orang-orang Indonesia harus datang mendekat dengan tangan diatas kepala menyerah diri dan bersedia menandatangani pernyataan penyerahan tanpa syarat”. “
'Ultimatum yang amat menghina itu ditolak mentah-mentah oleh rakyat dan pemuda-pemuda Surabaya, tidak seorangpun yang datang pada jam dan tempat yang telah ditentukan oleh Inggris itu. Beberapa menit “ Dokumentasi Perdiuangan Pemuda
Indonesia — AM. Harjono, hl. 24.
165
=== [PDF page 166] ===
lewat pk. 6.00 tanggal 10 Nopember kota Surabaya diserang oleh tentara Inggris dari laut, udara dan darat.
Di Yogyakarta, di Balai Mataram dimana pemuda-pemuda Indonesia sedang bermusyawarah, ultimatum jendral mayor E.C. Mansergh yang dibawakan oleh kurir-kurir pemuda Kusnandar, Bus Effendi, dll. dari kota Surabaya dibacakan oleh pemuda Krissubanu, didalam suasana yang penuh ketegangan dan rasa terharu. Bersama itu juga peserta kongres menyatakan kemarahannya terhadap tindakan Sekutu itu dan memberikan sokongannya penuh kepada sikap heroik pemuda Surabaya.
Selama sepuluh hari rakyat dan pemuda Surabaya yang heroik bertempur melawan satu setengah divisi pasukan-pasukan Inggris dan Ghurka yang mendapat bala-bantuan bbaik dari udara maupun laut. Tiga perempat kota Surabaya menjadi puing. Beribu-ribu pemuda yang bersenjata dan Rakyat yang tidak bersenjata menjadi korban dari pemboman yang membabi buta dan sama sekali tidak ditujukan kepada obyek-obyek militer. Kota berhasil dikuasai oleh Inggris tetapi bukannya tanpa mengalami kekalahan-kekalahan yang besar pula yang sangat tidak seimbang dengan kekuatan darat, laut dan udara yang telah dikerahkannya untuk menghancurkan perlawanan rakyat dan pemuda Surabaya.
Tiga buah kapal-terbang, tank-tank Inggris dirusakkan dan dilumpuhkan, yang majupun bisa maju dengan lambat sekali. Tetapi kekalahan yang terbesar, kekalahan mana merupakan kemenangan gilang-gemiiang bagi rakyat dan pemuda Indonesia seluruhnya, bahkan bagi seluruh bangsa-bangsa yang berjuang melawan kolonialisme dan imperialisme, yalah bahwa satu setengah divisi pasukan-pasukan imperialis yang bersenjata modern dan berpengalaman, dengan bala-bantuan 50 kapal terbang dan 7 buah kapal perang tidak berhasil mematahkan semangat perlawanan rakyat dan pemuda yang sebagian besar hanya bersenjatakan bambu runcing dan golok dan sebagian kecil saja bersenjata api hasil pertempuran melucuti tentara Jepang. Pertempuran Surabaya meyakinkan kaum imperialis dan dunia internasional bahwa proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia adalah suatu kenyataan yang didukung oleh seluruh rakyat Indonesia dengan positif dan antusiasme yang besar, dengan tekad perjuangan dan kemauan berkorban yang tak mengenal batas dari pemuda. Inilah wujud kepribadian pemuda Indonesia sebenarnya.
Keputusan-keputusan Kongres.
Keputusan-keputusan yang diambil Kongres Pemuda I di Yogyakarta di samping sepenuhnya mencerminkan tekad pemuda untuk bersatu dan untuk memberikan sunibangan sebesar-besarnya kepada perjuangan
166
=== [PDF page 167] ===
menegakkan Proklamasi Republik Indonesia, melawan imperialisme dan kolonialisme, juga tidak melupakan menggariskan peranan aktif yang sudah merdeka itu. Wujud dari hasrat persatuan pemuda adalah ke-. putusan untuk mendirikan satu federasi pemuda dimana semua organisasi pemuda bergabung, yalah Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia (singkatan B.K.P.R.I.) yang dipimpin oleh sebuah Dewan Pimpinan Pusat yang terdiri dari: Pimpinan Umum Chaerul Saleh: Wakil Pimpinan Umum I Supardo; Wakil Pimpinan Umum II A. Bukhari; Penulis Mulya. Anggota-anggota lainnya ialah: 1 Supardo — A.P.I.; 2. Dr. E. Y.
Siregar — Pemuda Protestan; 3. Ny. Sutarman — Pemuda Putri Indonesia; 4. P. Suroso —- Pemuda Katholik; 5. Dr. Muwardi — Barisan Banteng Indonesia; 6. Udin — Pemuda Andalas; 7. Akiyuwen — Pemuda Maluku; 8. Ochid Mursidi — Angkatan Muda Guru; 9. Gusti Johan — Pemuda Kalimantan; 10. A. Ratulangi — K.R.LS; 11. Supeno — Pesindo. Untuk menyelenggarakan pekerjaan Dewan ini dibentuk Gua Dewan Pekerja, yaitu:
1. Dewan Pekerja Perjuangan yang dipimpin oleh: pemuda Sumarsono, Subiyanto Kusumo, Bambang Kaslan, Widarta, dll.
2. Dewan Pekerja Pembangunan yang dipimpin pemuda: Wikana, Harjono, Kusnandar, dil.
Keputusan-keputusan lain yang berupa program kegiatan-kegiatan meliputi perjuangan untuk terjaminnya hak-hak demokrasi, jaminan sosial bagi buruh dan wanita muda, hak belajar bagi semua pemuda dan lain-lain. Dalam menghadapi Tentara Pendudukan dan pendaratan personil NICA dan tentaranya, Kongres Pemuda Indonesia I mengajukan protesnya sbb.:
Protes Pemuda Indonesia.
Atas nama Kongres Pemuda Indonesia, Dewan Pimpinan Pusat Pemuda Indonesia memprotes kepada seluruh dunia akan pengeboman dan penembakan sewenang-wenang dari udara, lautan dan darat oleh tentara pendudukan Inggris terhadap kota Surabaya dengan tiada mengenal perikemanusiaan sehingga telah menyebabkan korban besar antara penduduk terutama anak-anak dan perempuan-perempuan yang dilakukan sejak tanggal 10 Nopember 1945, dengan tiada beralasan suatu apa.
Yogyakarta, 11 Nopember 1945
Dewan Pimpinan Pusat
Pemuda Indonesia. “
“ Dokumentasi Perjuangan Pemuda Indonesia — A.M. Harjono, hl. 40.
1167
=== [PDF page 168] ===
Kongres juga menyerukan agar tentara Pendudukan Serikat-segera menyelesaikan tugasnya dan meninggalkan Indonesia: mengenai pendaratan personalia dan tentara NICA pemuda Indonesia tidak bertanggung jawab atas akibat-akibatnya dan berseru agar mereka segera meninggalkan bumi Indonesia. Kepada P.B.B. dan rakyat serta pemuda sedunia.
Kongres menyatakan protes sekeras-kerasnya atas tindakan-tindakan Tentara Pendudukan Serikat yang telah melanggar batas-batas wewenangnya, dan menegaskan sikapnya untuk terus melawan setiap pelanggaran terhadap kemerdekaan tanah air rakyat dan pemuda Indonesia.
Kepada Pemerintah, Kongres mendesak agar dinas wajib militer segera dilaksanakan dan jangan dilakukan perlucutan senjata terhadap rakyat. Bahwa pemuda menyedari bahaya kecenderungan berunding — kompromis dengan imperialis dari Pemerintah, dapat disimpulkan dari salah satu keputusan Kongres lainnya yang menyatakan protes sekeraskerasnya terhadap pertemuan pemimpin-pemimpin Pemerintah Pusat dengan letnan gubernur Jendral Hindia-Belanda Dr. H. Van Mook.
Selama Kongres berlangsung, yaitu pada tanggal 10 November 1945.
tujuh organisasi pemuda yang seazas, yaitu 1. Angkatan Pemuda Indonesia, 2. Gerakan Pemuda Republik Indonesia — Yogyakarta, 3. Angkatan Muda Republik Indonesia — Semarang, 4. Angkatan Muda Kereta Api.
5. Angkatan Muda Gas dan Listrik, 6. Angkatan Muda Pos dan Telegram.
7. Pemuda Republik Indonesia mengadakan rapat dengan tujuan untuk menyatukan organisasinya.
Rapat tujuh organisasi pemuda tersebut memutuskan untuk melebur.
kan diri kedalam satu organisasi pemuda yang berazas tujuan sosialisme dan bermaksud menegakkan Republik Indonesia yang berdasarkan kedaulatan rakyat. Nama yang dipilih organisasi yang berfusi itu yalah ”Pemuda Sosialis Indonesia” dengan disingkat "Pesindo”. Pimpinannya terdiri dari Ruslan Wijayasastra, Krissubanu, Sudisman, Jalaluddin Yusuf, Subroto, Cugito, Wikana, Sukarno, Sujono dan Yettv Zain.
Dalam suasana berapi-api sebuah pesawat terbang yang bertanda Merah-Putih yang dikemudikan oleh pemuda Indonesia terbang rendah diatas kumpulan massa dengan menyebarkan pamflet yang berbuny!
?Indonesta, Indonesia Tanah Airku. Aku sungguh membelamu, Sampu tewas jiwaku” “:
Hal ini lebih menghangatkan semangat pemuda. Darah muda makin mendidih memanaskan tubuh-tubuh pemuda dan membakar semangai
* Buku Republik Indonesia Daerah Istimewa Yogyakarta, hl. 367.
168
=== [PDF page 169] ===
dan membangkitkan daya juang. Siapa berani menghalangi menggeloranya jiwa patriot-patriot muda ini pasti disisihkan tanpa mengenal ampun.
MASA ANTARA KONGRES I
DAN KONGRES II
Tidak hanya di Surabaya pemuda-pemudanya yang mencatat sejarah perlawanan anti kolonialisme/imperialisme yang heroik, juga kota-kota lainnya, seperti Bandung, Padang, Medan, Palembang, Menado di Sulawesi Utara dan Makasar di Sulawesi Selatan mengenal saat-saat yang penuh kepahlawanan didalam perjuangan membela Kemerdekaan Nasional Indonesia.:
+ Di Bandung pemuda-pemuda yang tergabung dalam organisasi
pemuda A.P.I. yang dipimpin antara lain oleh Astrawinata, Slamet Sumari, dll.: P.R.I. yang kemudian menjadi Pesindo yang dipimpin oleh Sutoko, Sujono, Mashudi dan lain-lain 5 Pasukan Istimewa Pemuda Indonesia Maluku yang dipimpin oleh Palaupesy dan lain-lain 4 Barisan Banteng Republik Indonesia yang dipimpin oleh Ido Garnido dan lain?;
Pasukan Istimewa dan lain-lainnya, yang tergabung dalam Markas Dewan Perjuangan Priangan (kemudian berubah menjadi Majelis Perjuangan Priangan). Pemuda-pemuda itu setelah melucuti senjata sebagian dari tentara Jepang, tak lama kemudian berhadapan dengan Tentara Sekutu. Dengan cara yang khianat pada tanggal 29 Nopember 1945 Tentara Sekutu memaksakan kepada Republik untuk menerima pembagian kota Bandung menjadi dua, yaitu Bandung Selatan, yang diduduki NICA, dan sebelah Utara, perbatasan rril kereta api yang ditentukan sebagai daerah Republik. Persentuhan senjata antara kekuatan Republik termasuk pemuda dengan tentara NICA terus menerus terjadi.
Suasana makin hari makin tegang. Achirnya pada tanggal 24 Maret 1946 panglima tentara Inggris (baca juga Belanda) dengan cara khianat dan biadab memberi ultimatum kepada semua kekuatan bersenjata Republik Indonesia untuk mengosongkan Bandung Utara dan menyingkir dengan garis jari-jari 11 km. Sejak pagi itu penduduk kota dan pasukan yang bersenjata terpaksa meninggalkan kota. Pemimpin-pemimpin organisasi pemuda dan badan perjuangan lainnya sepakat untuk membakar kota Bandung.
Pada tanggal 29 Maret 1946 malam kota Bandung menjadi merah karena nyala api, pertanda kemarahan rakyat: BANDUNG MENJADI
LAUTAN API. | |
169
=== [PDF page 170] ===
Api kota Bandung makin membakar dada pemuda dan makin meningkatkan semangat perjuangannya. Peristiwa pembakaran kota Bandung tak hanya membangkitkan semangat juang pemuda, tetapi telah memberikan ilham pula kepada beberapa pemuda Pesindo dalam menciptakan lagu perjuangan yang terkenal: ”Hallo-hallo Bandung”.
Hallo! hallo Bandung,
Ibu kota Periangan
Hallo! hallo Bandung
Kota kenang-kenangan
Sudah lama beta tidak berjumpa dengan kau Sekarang telah menjadi lautan api
Mari bung! rebut kembali!.
Lagu ini untuk pertama kalinya dinyanyikan dalam suatu pertemuan Dewan Pimpinan Pemuda pada suatu malam pada bulan April 1945 di Gedung Bioskop Majalaya. Lagu ini kemudian menjadi lagu perjuangan yang tidak hanya membangkitkan semangat pemuda Indonesia, tetapi juga menjadi terkenal dan digemari oleh pemuda-pemuda progresif diluar negeri.
Pemuda Bandung melanjutkan perjuangannya dari luar kota.
Markas-markas perjuangan pindah ke Ciparai, Majalaya dan kemudian ke Garut. '
Di Jawa Tengah, setelah Kongres Pemuda yang pertama itu organisasi pemuda segera menyesuaikan diri dengan keputusan kongres itu.
Beberapa organisasi pemuda yang telah sepakat menyatukan organisasinya menjadi Pesindo, segera meleburkan diri. Sementara itu juga di Jawa Tengah berdiri berbagai organisasi pemuda seperti: Ikatan Pemuda Indonesia (I.P.I.). Pemuda Kristen Protestan Indonesia yang kemudian menjadi Persatuan Pemuda Kristen Indonesia (P.P.K.I.), Angkatan Muda Katholik Republik Indonesia (A.M.K.R.I.), Gerakan Pemuda Islam Indonesia (G.P.L.I.), Pemuda Putri Indonesia (P.P.I.), dan lain’.
Sesuai dengan keputusan kongres, berbagai organisasi pemuda itu semuanya tergabung didalam dan dikoordinasi kegiatannya oleh Dewan Pimpinan Pemuda (D.P.P.).
Sementara proses ini berlangsung, pada tanggal 18 Nopember 1945 tentara Inggris mendarat didaerah Semarang dalam mana tentara Belanda ikut memboncengnya. Tentara Inggris-Belanda mengadakan berbagai provokasi dan tindakan yang sangat menyakitkan hati rakyat dan pemuda.
Rakyat dan pemuda yang mempunyai harga diri dan bertekad membela
170 '
=== [PDF page 171] ===
Proklamasi tidak membiarkan hal-hal ini berlaku terus dan karenanya mereka mengadakan perlawanan yang sengit. Pertempuran berkobar sampai di Ungaran dan Magelang. Inggris, yang mendapat bantuan dari pasukan”
Jepang, dengan membabi-buta membomi penduduk yang tidak bersenjata. Tetapi rakyat dan pemuda Magelang tidak gentar. Pada tanggal 21 Nopember 1945, setelah dua hari dua malam bertempur, tentara Inggris- Belanda dapat dihancurkan dan diusir dari Magelang. Magelang dapat. dibebaskan kembali dan tentara Inggris-Belanda lari ke Ambarawa. Tentara Inggris-Belanda yang bernafsu untuk mengembalikan kekuasaan kolonialnya, dengan mata gelap pada tanggal 25 Nopember 1945 dengan menggunakan pesawat R.A.F. membom stasion-radio Solo dan Yogya dengan maksud agar rakyat Indonesia kehilangan alat yang dapat memancarkan peristiwa ini. Pemiboman diulangi pada tanggal 27 Nopember 1945 terhadap gedung Balai Pertemuan dan Sonobudoyo Yogyakarta serta gedung pemancar radionya. Perbuatan biadab ini tidak sedikitpun menggirikkan bulu roma pemuda Indonesia, bahkan makin menambah kemarahannya dan membulatkan tekadnya. Dengan semangat laksana,,Banteng Ketaton”, pemuda, tentara dan rakyat menghancurkan tentara Inggris- Belanda yang bersarang dibenteng Banyu Biru, suatu benteng yang kuat, dan dapat direbutnya. Sepuluh hari kemudian dibawah pimpinan Jendral Mayor Sudirman (Almarhum Panglima Sudirman), tentara Inggris- Belanda yang bersarang di Ambarawa dihancurkan, dan kota Ambarawa dibebaskan kembali. Sisa-sisa tentara mereka lari berantakan masuk kota Semarang. Dengan kemenangan-kemenangan ini kedudukan tentara Inggris-Belanda tinggal di Semarang saja. 4 Walaupun kota Semarang belum dapat direbut kembali, namun peristiwa ini menunjukkan bahwa rakyat dan pemuda Indonesia mempunyai kekuatan dan kemampuan yang besar yang sanggup menghancurkan kekuatan tentara kolonial.
Sejak saat ini maka pemuda Indonesia bersama dengan tentara dan lapisan rakyat yang luas ikut serta aktif bertempur digaris depan (front-depan) Semarang, yaitu dari Jrakah — Gunung Pati, Gunung Pati — Ungaran, Mranggen dan Genuk.
Di Sumatra Selatan, khususnya di Palembang, pemuda dengan heroisme yang besar tidak hanya melucuti senjata tentara Jepang, tetapi juga melawan kebiadaban serta intervensi tentara Inggris-Belanda.
Kota Palembang pada permulaan tahun 1946 diduduki oleh 2 Batalyon Tentara Sekutu yang dikepalai oleh Brigadir Jendral Hutkhinson. Mereka menimbulkan kekacauan dan melakukan perampokan, penculikan terhahadap rakyat dan kejahatan-kejahatan lain. Keadaan makin menjadi panas.
Persentuhan senjata, tembak-menembak makin hari makin kerap terjadi
171
=== [PDF page 172] ===
dan akhirnya meletuslah pertempuran di kota Palembang selama 3 hari, sejak tanggal 29 Maret 1946 hingga 31 Maret 1946. Rakyat, pemuda.
tentara, dengan semangat yang tinggi melawan Tentara Sekutu dan mengepungnya. Tanggal 2 April 1946 pertempuran ini disudahi setelah diadakan perundingan antara komandan Tentara Sekutu itu dengan Residen Palembang. Tentara Belanda makin lama makin bertambah banyak dan hingga bulan Oktober 1946 jumlah mereka mencapai 1366 orang yang tergabung dalam pasukan "Gajah Merah”. Persentuhan senjata yang praktis tidak pernah berhenti, kemudian memuncak menjadi suatu pertempuran 5 hari 5 malam dikota Palembang, yaitu dari ' 29/30 Desember 1946 hingga 3 Januari 1947. Pertempuran ini |
merayap hingga 13 Km. dari kata" Palembang." Pihak Belanda menggunakan senjata yang modern, berat serta melakukan pemboman yang hebat untuk menundukkan barisan rakyat dan pemuda yang telah bertekad "Sekali Merdeka tetap Merdeka”. Perlawanan rakyat dan pemuda yang gigih dan berani menyebabkan tidak kurang dari satu batalyon musuh dapat dibinasakan, dan puluhan pucuk senjata dapat direbut. Inilah keperwiraan pemuda Indonesia dalam menghadapi lawan kemerdekaan.
Juga pemuda di Sumatra Tengah setelah kongres pemuda, mencatar perlawanan yang gigih, dalam menghadapi Tentara Sekutu. Di Sumatra Barat, khususnya di Padang, pertempuran-pertempuran meletus di Simpang Haru, Rimba Kaluang, Batu Busuk, dan lain-lain tempat. Dalam pada itu pertempuran?” dahsyat melawan sisa-sisa serdadu Jepang berkobar di Lubuk Sikaping pada tanggal 5 Nopember 1945 dan di Sungai Tanang, di Batu Sangkar (Lintau) pada pgrtengahan bulan Desember 1945. Jepanc terpaksa menyerahkan senjatanya kepada tangan pemuda. Juga di Jambi, di Riau tidak sedikit perlawanan yang heroik yang telah dilakukan oleh pemuda dalam menghadapi Tentara Sekutu.
' Di Sumatra Timur dan Sumatra Utara pemuda-pemuda Indonesia bukan hanya melawan dan melucuti senjata tentara Diepang, ' tetapi juga melakukan perlawanan yang gigih terhadap pengkhianatan ule balang-ule balang. Sebagian besar ule balang-ule balang didaerah Aceh telah melakukan pengkhianatan terhadap R.I. Mereka menjadi tiang utama bagi pengembaliati kekuasaan kolonial. Mereka membentuk Markas Ule-balangnya di Lammerlo, yang dikepalai oleh Teuku Daud Cumbok dan kawan-kawannya. Markas Ule-balang ini membentuk barisan bersenjata liar, yang bertugas menculik, membunuh dan merampok. Mereka tidak mengindahkan pemerintah R.I. Pada tanggal 25 Oktober 1945 mereka memerintahkan untuk menangkap pemimpin-pemimpin rakya' dan pemuda. Tidak sedikit pemimpin rakyat, pemerintah dan pemuda
172
=== [PDF page 173] ===
teamed
BARA
Ngurah Rai beserta teman-temannya
yang ditangkap dan dibunuh. Hal ini makin membangkitkan kemarahan rakyat dan pemudanya. Achirnya rakyat dan pemuda Aceh bersatu bulat membentuk "Markas Besar Rakyat Umum” dan dengan memusatkan semua kekuatan, pada tanggal 13 Januari 1946, Markas Ule-balang dapat dihancurkan dan direbut. Kepala pengkhianat dihukum mati oleh pengadilan negeri atas tuntutan rakyat. Tetapi sisa-sisa Ule-Balang yang masih tersebar luas masih merupakan kekuatan gelap yang melakukan teror dan mengancam kekuasaan R.I. Dalam menghadapi pengkhianatan ini pemuda Indonesia di Aceh memperlihatkan kesanggupannya untuk membela Republik Indonesia yang telah diproklamasikan. Tanpa perjuangan rakyat dan pemuda yang heroik ini, tidak mungkin R.I. ditegakkan di Aceh. Inilah semangat pahlawan Teuku Umar yang tetap menjiwai pemuda-pemuda di Aceh. |
Di Bali, sejak terjadinya insiden-insiden bendera, suasana makin menjadi panas. Dalam keadaan demikian ini tentara Belanda mendarat di Tanur. Kota-kota diduduki, dan markas-markas badan perjuangan
173
=== [PDF page 174] ===
terpaksa berpindah kedesa. Kejahatan-kejahatan yang dilakukan Belanda menimbulkan kemarahan rakyat dan pemuda. Dalam bulan April 1946 berbagai badan perjuangan pemuda dan tentara melakukan serangan umum kedalam kota Den Pasar. Pertempuran sengit meletus, dan berlangsung mulai jam satu malam sampai jam empat pagi. Juga terhadap tangsi Belanda dilakukan serangan-serangan: seluruh kepulauan Bali menjadi satu medan pertempuran!. Perlawanan pemuda mencapai puncak keberaniannya dalam suatu pertempuran yang berlangsung pada tanggal 20 Nopember 1946 didaerah Marga Rana, yang dipimpin oleh pahlawan Ngurah Rai yang gugur dalam "perang puputan”. Tangsi polisi di kota Tabanan digerebeg pemuda dan angkatan bersenjata R.I.
Pertempuran ini banyak korban jiwa muda, tetapi heroisme dan patriotisme mereka yang gugur di Pulau Dewata ini, tetap abadi.
Di Lombok, walaupun pemuda-pemuda dipulau ini tidak sempat membentuk organisasinya, tetapi sewaktu Belanda mendarat, mereka berhadapan dengan perlawanan rakyat dan pemuda dalam berbagai bentuk. Organisasi perlawanan dibawah tanah seperti Kambing Hitam, Kucing Hitam, Banteng Hitam, Basmi dll. sangat ditakuti Belanda. Dalam usaha permulaan yang berani untuk menyerbu tangsi militer di Selong dibawah pimpinan Sayid Saleh, Haji M. Faisal Abdullah dan lain-lain, tak sedikit yang gugur, termasuk pemimpin-pemimpin pemuda tersebut diatas.
Didaerah-didaerah kepulauan Nusa Tenggara lainnya, tercatat perlawanan-perlawanan rakyat dan pemuda terhadap kembalinya kekuasaan penjajahan, walaupun berbeda-beda dalam bentuk dan caranya.
Di Makasar, pemuda dan rakyat Indonesia berjuang bergerilya dihutan-hutan dan digunung-gunung, mengadakan sabotase-sabotase dikota. Pada permulaan tahun 1946 serombongan pemuda Sulawesi di Jawa dengan berani menyeberangi lautan dan melakukan pendaratan?
dipantai disebelah utara kota Makasar. Kedatangan pemuda-pemuda ini menambah besar semangat perlawanan rakyat dan pemuda Sulawesi Selatan, sedangkan perjuangan bergerilya mendapat pimpinan yang sebaik-baiknya. Pendaratan pertama dipimpin oleh Lts. Andi Aupada dan Lts. Andi Sarifin.
Kalau disatu pihak rakyat dan pemuda Indonesia mempertahankan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia dengan mempertaruhkan seluruh jiwa dan masa muda mereka terhadap agresi, intervensi, dan teror putih, dipihak lain pemerintah Indonesia yang sejak 14 Nopember 1945 dipimpin oleh Sutan Syahrir, makin terjerumus dalam politik berunding dan kompromis. Perlawanan bersenjata yang mengamuk diseluruh tanah air memaksa pihak Belanda dan sekutu-sekutunya untuk memperhitung-
174
=== [PDF page 175] ===
kan kenyataan adanya satu revolusi Kemerdekaan yang meliputi 70 juta rakyat Indonesia (tafsiran penduduk Indonesia tahun 1945) dan berdirinya satu negara yang baru merdeka, bagaimanapun tidak lengkap peralatannya. Kenyataan-kenyataan itu memaksa mereka untuk berunding dengan pemimpin-pemimpin Pemerintah R.I.
Pada tanggal 3 Desember 1945 Menteri Pertahanan Belanda mengumumkan kesediaan Pemerintah Belanda untuk berunding dengan pihak Indonesia asal saja yang ditunjuk oleh pihak Indonesia sebagai utusannya yalah St. Syahrir. Kenyataan selanjutnya menunjukkan bahwa diplomasi Syahrir tidak didasarkan atas kekuatan dan perlawanan senjata rakyat Indonesia dan pemudanya, tetapi sebaliknya perlawanan senjata rakyat dan pemuda Indonesia ditundukkan kepada diplomasi St. Syahrir.
Pada akhir tahun 1945, hampir semua kota besar dan daerah sekitarnya di Sumatra dan Jawa yang diduduki pasukan-pasukan Belanda dan Inggris, pertempuran berjalan terus. Diluar Jawa dan Sumatra, yalah di Kalimantan, Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara, kecuali Bali, Minahasa di Sulawesi Utara, dan Sulawesi Selatan dimana pertempuranpertempuran berkobar terus, tentara Belanda-Australia sepenuhnya berkuasa.
Suasana politik yang ditimbulkan oleh tindakan-tindakan diplomasi Pemerintahan Syahrir amat berpengaruh terhadap perkembangan gerakan rakyat pada umumnya dan gerakan pemuda khususnya. Politik berunding yang kompromis itu tidak hanya membingungkan rakyat, tetapi juga menimbulkan keretakan dikalangan rakyat, antara mereka yang menyetujui politik Syahrir dan mereka yang tidak menyetujuinya. Juga gerakan pemuda tidak terhindar dari keretakan itu.
Salah satu usaha untuk mengatasi penyelewengan kompromis dan mempersatukan kembali segenap potensi nasional, adalah dibentuknya:
suatu organisasi massal Persatuan Perjuangan. Tetapi Persatuan Perjuangan tidak berhasil dalam usaha, baik untuk memulihkan kembali persatuan di kalangan rakyat maupun untuk mengoreksi politik Pemerintah, bahkan berbagai tindakannya tidak dapat disetujui oleh sebagian anggotaanggota dan pada hakekatnya telah menyebabkan bertambah dalamnya kekacauan politik. Demikianlah, maka Badan Kongres Pemuda dalam konferensi pertama pada tanggal 14 Maret 1946 yang dihadiri oleh segenap organisasi anggota, memutuskan untuk keluar dari Persatuan Perjuangan. Tak lama kemudian pada tanggal 23 Maret 1946, Chaerul Saleh keluar dari Badan Kongres Pemuda.
Badan Kongres Pemuda telah melihat kecenderungan kompromis yang amat meracuni udara politik dan sebagai akibatnya, bahaya keretakan
175
=== [PDF page 176] ===
dalam gerakan pemuda a.l. ditandai oleh keluarnya tiga organisasi pemuda dari Pesindo, yalah Angkatan Muda Kereta Api (A.M.K.A.), Angkatan:
Muda P.T.T. dan Angkatan Muda Gas dan Listrik, dan dengan keluarnya Chaerul Saleh dari Badan Kongres Pemuda. Badan Kongres Pemuda juga mengetahui bahaya politik kompromis yang dijalankan Pemerintah, dan terhadap hal ini diambil suatu Resolusi dalam rapat Presidium B.K.P.R.I. tanggal 21 April 1946, yang a.l. menekankan bahwa pemuda Indonesia tetap menuntut kemerdekaan Negara Kesatuan R.I. 10076 dan menyelesaikan persoalan perusahaan-perusahaan modal Belanda dengan berpegangan kepada fasal 33 U.U.D.-: '
Dalam suasana politik kompromis demikian dan dengan menghadapi bahaya keretakan-keretakan dibarisannya sendiri, Badan Kongres Pemuda tetap bekerja keras untuk melaksanakan tugasnya.
Dalam masa antara Kongres ke-1 dan II banyak pekerjaan dan usaha yang positif yang telah dilakukan, misalnya: mengadakan kursus kader, membuka pemancar "Gelora Pemuda”, mengerahkan dan mengorganisasi hiburan-hiburan ke front pertempuran. Pemuda-pemuda Jamal dan Marna Sulana dari Bagian Penerangan B.K.P.R.I: menciptakan wayang modern dari karton yang kemudian dikirim kedaerah-daerah.
Hari tanggal 10 Nopember dijadikan/diresmikan sebagai Hari Pahlawan Indonesia.
Kongres Pemuda Indonesia ke Il.
Untuk membulatkan persatuan, pemuda-pemuda Indonesia mengadakan kongresnya yang ke-II. di Yogyakarta pada tanggal 8 — 9 Juni 1946, Kongres ini juga merupakan Kongres ke-IV dari pemuda Indonesia.
Kongres mendapat perhatian besar dari Presiden Sukarno, Menteri Pertahanan Mr Amir Syarifuddin, dan Menteri Pemuda Wikana, Kongres mengambil berbagai putusan dan resolusi baik mengenai politik umumnya, sikap terhadap agresi Inggris-Belanda, maupun mengenai organisasi.
Kongres Pemuda ke-II tidak secara tegas menentukan sikap terhadap kecenderungan kompromis Kabinet Syahrir, namun berbagai keputusan kongres menggambarkan rasa tidak puas pemuda dengan politik yang ditempuh Kabinet Syahrir dalam menghadapi imperialis Belanda.
Kongres disamping mendesak "agar Pemerintah Republik Indonesia bertindak tegas terhadap Belanda sesuai dengan tindakan Belanda terhadap kita”, memperkuat tuntutan B.K.P.R.I. tertanggal 25 April 1946 yang berisi "pengakuan Kemerdekaan Negara Kesatuan R.I. 1004 sekarang juga.”
176
=== [PDF page 177] ===
Didalam sidang politik kongres a.l. memperkuat Resolusi Angkatan Muda Jawatan di Purwokerto tanggal 29 —30 yang a.l. menuntut stabilisasi Pemerintahan, mobilisasi umum dan keharusan keprajuritan (wajib militer). Disamping itu semua diadakan juga perubahan didalam susunan Badan Pimpinan yang terdiri dari Supardo, Bukhari, Supeno dan Warsono.
Ditengah-tengah 'kecenderungan kompromis dan keragu-raguan yang menghinggapi suasana politik dinegara R.I. yang merdeka itu, maka keputusan kongres untuk menuntut dilaksanakan mobilisasi umum dan wajib dinas militer merupakan suatu keputusan yang amat penting.
Keputusan ini membuktikan kewaspadaan yang tinggi yang hidup dikalangan pemuda revolusioner yang kemudian tidak mendapat bimbingan dan saluran yang wajar dari Pemerintah. Keputusan Kongres ke-Il.
yang dituangkan dalam bentuk “Resolusi” berbunyi sbb-: (dipersingkat):
I. Dimana negara kita dalam keadaan bahaya, dimana pula NICA nyata-nyata hendak memperkosa kemerdekaan kita dengan kekuatan militernya, laskar kita dengan sendirinya harus kuat, baik T.N.I.-nya, baik Laskar Rakyatnya maupun segenap Laskar pemudanya. Dimana belum ada: susunlah Laskarmu. Setiap tenaga muda yang sehat wajib ben latih militer. Para pemudi mengambil bagian aktif dalam lapangan P.P.P.K., barisan Palang Merah, dapur umum dan lain sebagainya.
II. Supaya segenap kekuatan dikoordinir dan dipersatukan dengan menyingkirkan nafsu golongan. Persatuan kita harus dipererat dan diperkuat untuk dapat merupakan satu front yang kuat dalam menangkis serangan-serangan dari pihak penjajah.
III. Penghambat dan perintang perjuangan termasuk: pemecah persatuan, perbuatan mata-mata, menimbun barang-barang yang amat dibutuhkan untuk perjuangan, korupsi dan anarki.
TV. Pemerintah harus dinamis dan revolusioner untuk dapat memimpin revolusi nasional dan sosial kita.
Kongres juga mengambil keputusan tentang pimpinan sbb.:
- Dewan Pimpinan Pusat Pemuda Republik Indonesia terdiri dari:
Pimpinan Umum, Supardo 4 Wakil Pimpinan Umum I, A. Bukhori:
Wakil Pimpinan Umum II, Supeno, Penulis, Warsono.. Sedangkan pimpinan Badan Pekerja — Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia yalah Pimpinan Umum — Sumarsono 5: Penulis I, Bambang Kaslan;;
Penulis II, Supardo.Y
Sebagai penutup kongres, pada tanggal 9 Juni 1946 diadakan rapat raksasa di Alun-alun di Yogyakarta, yang dikunjungi puluhan ribu orang.
Sejarah Perjuangan 12: 177
=== [PDF page 178] ===
HUBUNGAN DENGAN GERAKAN PEMUDA
PROGRESIF SEDUNIA
Perjuangan menentang kolonialisme yang heroik rakyat dan pemuda Indonesia telah menarik perhatian rakyat dan pemuda sedunia, terutama di Eropa, yang pada waktu sedang bangkit kembali dari puing-puing dan lembah kesengsaraan perang patriotik melawan fasisme Hitler selama Perang Dunia ke-II.
Kebencian terhadap fasisme sebagai sumber peperangan dan tekad untuk melenyapkan mendapat pernyataan didalam permusyawaratan pemuda sedunia yang diadakan di London pada tanggal 10 Nopember 1945. Konferensi London
Utusan pemuda ke kon- ini dihadiri oleh 437 utusan dan 148 peninjau ferensi Pemuda di Kal- dari 63 negara, dan mewakili 30 juta pemuda.
kuta tahun 1948 Konferensi ini merupakan pelaksanaan seruan yang dikeluarkan oleh Dewan Pimpinan Pemuda Sedunia, yang didirikan oleh wakil-wakil pemuda dari 29 negara dalam tahun 1942 di tengah-tengah dahsyatnya Perang Dunia ke-II. Sebagai hasil konferensi London pada tanggal 10 Nopember 1945 itu, maka terbentuklah Gabungan Pemuda Demokratis Sedunia (G.P.D.S.). Dalam konferensi ini pulalah lahir Sumpah Pemuda Sedunia yang berbunyi sbb.:
”?Kita datang kemari untuk menegakkan persatuan pemuda sedunia;
untuk menghormati kawan-kawan kita yang telah gugur, kita bersumpah agar tangan yang pandai, otak yang tajam dan semangat serta kegembiraan pemuda tak akan lagi disia-siakan didalam peperangan”.
Disamping itu, salah satu keputusan yang penting menyatakan sbb.:
”Permusyawaratan ini menyetujui dan mendukung perjuangan adil dari rakyat-rakyat negeri-negeri jajahan dan setengah jajahan untuk mencapai hak-haknya”.
Dalam konferensi London ini, pemuda Indonesia sudah pula diwakili oleh pemuda/mahasiswa Indonesia dinegeri Belanda yang tergabung -didalam Perhimpunan Indonesia. Tidak sedikit sumbangan yang diberikan oleh delegasi pemuda Indonesia yang dipimpin Suripno, didalam usaha untuk memberikan watak anti kolonialisme/imperialisme kepada keputusan-keputusan konferensi, dan memperkenalkan Revolusi 17 Agustus.
Kontak-kontak pertama ini dilanjutkan, ketika delegasi pemuda
178
=== [PDF page 179] ===
Indonesia yang langsung diutus dari tanah air oleh Badan Kongres Pemuda untuk menghadiri Inter Asian Relations Conference di New Delhi pada tanggal 26 Maret 1947 telah mengadakan pertemuan dengan delegasi G.P.D.S. yang terdiri dari Rayko Tomovic (Yugoslavia), Jean Lautissier (Perancis) dan Olga Cocotkina (U.R.S.S.). Delegasi Indonesia terdiri al. dari Hurustiati Subandrio (Pemuda Putri Indonesia), Siti Wahyuni (Pemuda Putri Indonesia), Yetty Zain (Pesindo), dan bertugas mewakili pemuda Indonesia didalam ”Asiatic Youth Meeting” yang diselenggarakan dalam rangka Inter Asian Relations Conference itu.
Persoalan-persoalan yang dibawa oleh delegasi Pemuda Indonesia ke ”Asiatic Youth Meeting” menunjukkan bahwa tradisi internasionalisme yang anti imperialisme/kolonialisme dan setia kawan internasional pada waktu-waktu permulaan Revolusi Kemerdekaan Nasional sudah sungguh?
disadari dan dijunjung tinggi oleh gerakan pemuda Indonesia. Persoalan-persoalan tsb. yang tidak masuk acara konferensi dan merupakan masalah-masalah baru dalam gerakan pemuda Asia pada umumnya, adalah berhubungan erat dengan perjuangan mcnentang kolonialisme untuk mempertahankan kemerdekaan nasional dan demokrasi, dan meliputi juga masalah-masalah gerakan pemuda dan hubungan dengan pemerintah serta pemuda dan hubungan dengan gerakan pemuda internasional.:
Kontak pertama dengan delegasi G.P.D.S. itu menghasilkan kemudian kunjungan delegasi pemuda itu ke Indonesia dalam bulan Mei 1947.
Mereka datang pada saat-saat, dimana suasana politik didalam negeri makin tegang dan meruncing karena tindakan-tindakan imperialis.Belanda, yang dengan menggunakan pasal-pasal persetujuan Linggarjati yang amat kompromis itu, hendak menegakkan kembali kekuasaan kolonial.
rya atas Indonesia, rakyat dan pemudanya. Kunjungan delegasi G.P.D.S.
yang pertama itu merupakan realisasi yang kongkrit dari keputusan konferensi Pemuda Sedunia di London.
Delegasi pertama Pemuda Indonesia ke ' Festival Pemuda Sedunia I di Praha.
Dalam bulan Juni 1946 ditengah-tengah memuncaknya persiapan?
imperialis Belanda untuk melancarkan perang agresi ke-I terhadap R.I., maka berangkatlah delegasi pertama pemuda Indonesia ke Perayaan Pemuda dan Pelajar Sedunia yang pertama di Praha. Delegasi terdiri dari Suripno, dan Sugiyono yang mewakili mahasiswa Indonesia dan Francisca Fangiday, yang mewakili pemuda Indonesia. Delegasi pemuda/
179
=== [PDF page 180] ===
Suripno, wakil Pemuda Sugiono wkl. Pemuda Indonesia di 1.U.S. pa- Indonesia di 1.U.S.
da tahun 1945 — 1947 1946 — 1947
mahasiswa Indonesia yang untuk pertamakali pula diselenggarakan, memperkenalkan perjuangan rakyat dan pemuda Indonesia untuk mempertahankan kemerdekaan nasionalnya dari cengkeraman kolonialisme/ imperialisme Belanda kepada beribu-ribu wakil-wakil pemuda dan - pelajar yang telah datang berkumpul dari Eropa dan Asia, dari Amerika dan Afrika. Delegasi Pemuda Indonesiapun tidak ketinggalan dalam memperkenalkan kesenian Indonesia kepada pemuda-pemuda luar negeri, berkat ikut sertanya pemuda/pelajar Indonesia yang belajar dinegeri Belanda dan tergabung dalam Perhimpunan Indonesia dan Rukun Pelajar Indonesia. Rombongan pemuda/pelajar Indonesia di Eropa ini a.l. diwakili oleh Tahi Tobing, Wayang Gondokusumo, Gde Winaya dan Ruth Sanu. Demonstrasi-demonstrasi dan rapat-rapat umum mengutuk imperialisme Belanda, gerakan pengumpulan obat-obatan dan uang selama festival, permintaan-permintaan untuk didaftarkan sebagai sukarelawan menunjukkan betapa tinggi rasa solidaritet pemuda dan pelajar sedunia dengan perjuangan kemerdekaan rakyat, pemuda dan pelajar Indonesia. Seruan yang dilancarkan oleh delegasi pemuda Indonesia ”Stop the war in Indonesia” merupakan genderang yang mengiringi dan memberikan corak kepada setiap pertemuan, baik ia merupakan rapat, diskusi, ataupun pertunjukan-pertunjukan berbagai macam ragam kesenian.
' Perjuangan. kemerdekaan rakyat dan pemuda Indonesia dalam tahun-tahun pertama Revolusi Indonesia telah memberikan inspirasi besar kepada gerakan pemuda dan pelajar sedunia, tidak hanya di Asia, tetapi juga di Eropa.!
180
=== [PDF page 181] ===
» MASA ANTARA KONGRES PEMUDA II DAN
KONGRES PEMUDA III
Keadaan organisasi pemuda dan persatuan pemuda setelah Kongresnya yang ke-II bukannya makin baik tetapi sebaliknya perpecahan makin menjadi-diadi, keadaan saling tidak mempercayai dan saling menuduh membuat perpecahan semakin mendalam.
Persetujuan Linggarjati (25 Maret 1947) dan kemudian disusul dengan persetujuan Renville (17 Januari 1948) yang kompromistis dan yang tidak sesuai dengan tuntutan revolusi serta semangat perlawanan rakyat termasuk pemudanya, mengakibatkan pertentangan yang tajam dan mendalam dikalangan pemuda khususnya dan rakyat umumnya, Pertentangan ini makin meruncing karena adanya usaha-usaha kaum imperialis dan kaum reaksioner untuk memperlemah potensi kekuatan revolusioner, agar memudahkan kaum imperialis menghancurkan R.I.
Republik Indonesia menghadapi komplotan
imperialis internasional
Pada awal tahun 1946 Presiden Sukarno dan Pemerintah R.I.
pindah ke Yogyakarta. Pada tanggal 19 Januari 1946 tiba di Indonesia Sir Arkhibald Clark-Kerr yang diutus oleh Pemerintah. Inggris untuk menjadi perantara didalam perundingan Indonesia-Belanda.
Perundingan pertama tidak resmi dimulai pada tanggal 10 Pebruari 1946 dimana Belanda diwakili oleh Dr. Hubertus Van Mook, bekas gubernur-jendral Hindia Belanda, dan Indonesia diwakili oleh St. Syahrir Gengan dihadiri oleh dutabesar Inggris Clark-Kerr. Usul Belanda untuk membentuk suatu ”democratic partnership” (“persekutuan demokrasi”)
antara Belanda dan Indonesia untuk suatu masa tertentu sampai saat "bangsa Indonesia sanggup menentukan secara bebas nasib politiknya sendiri” ditolak mentah-mentah oleh pihak Indonesia atas desakan rakyat Indonesia yang menuntut berunding atas dasar "pengakuan R.I. 10070”.
Pada tanggal 18 Maret 1946 May. Jen. D.C. Hawthorn, panglima pasukan-pasukan Inggris di Indonesia menerangkan bahwa tentara Inggris tidak akan ditarik dari Indonesia, sebelum kedudukan mereka diganti “oleh tentara Belanda.
Pada tanggal 23 Maret 1946 perundingan tak resmi diteruskan, dimana St. Syahrir mundur dari usul tuntutan semula dan mengemukakan
181
=== [PDF page 182] ===
usul kompromisnya sbb.: "pengakuan de facto kekuasaan R.I. atas Jawa, Madura dan Sumatra, kekuasaan de jure Belanda diseluruh Indonesia, sedangkan Indonesia, Belanda dan Suriname akan merupakan satu kesatuan politik”. Usul ini amat melemahkan posisi Indonesia didalam perundingan resmi yang diadakan dinegeri Belanda di Hoge Veluwe, dekat Arnhem, pada bulan April 1946. Delegasi Indonesia di wakili oleh Mr Suwandi — Menteri Kehakiman, Dr. Sudarsono — Menteri Sosial, Mr A.K. Pringgodigdo — Sekretaris Kabinet. Pihak Belanda di wakili oleh P.M. Willem Schermerhorn — Menteri Luar Negeri Y.H. Van Royen, bekas gubernur-jendral Dr. H. Van Mook, Menteri Seberang Y.H. Logemen dan Menteri Sosial W. Drees. Usul Syahrir yang amat kompromis itu, dan yang diterima dengan gembira oleh Van Mook dan Clark-Kerr, ditolak dalam perundingan-perundingan resmi di Hoge Veluwe. Dapat diketahui bahwa alasan penolakan sebagaimana dinyatakan oleh Menteri Sosial kepada Van Mook, yalah bahwa tak mungkin diadakan persetujuan dengan Indonesia, karena Indonesia bukan suatu negara yang mendapat pengakuan internasional sedangkan daerah kekuasaan R.I. meliputi hanya sebagian dari seluruh negeri. Perundingan Hoge Veluwe gagal.
Sementara Tentara Serikat berangsur-angsur menyerahkan daerah"
yang didudukinya kepada tentara Belanda. Pasukan-pasukan Belanda dengan melanggar segala keputusan-keputusan tentang gencatan senjata dan dengan tidak mengindahkan perundingan-perundingan yang sedang berjalan, terus mendarat diberbagai daerah Indonesia. Dalam bulan Maret 1946 Belanda mendaratkan di Bali 2000 orang serdadu dan di Jakarta 9 batalyon. Dimana-mana perlawanan-perlawanan rakyat berkobar dengan sengit. Pada tanggal 10 Juli 1946 Inggris secara resmi menyerahkan daerah de facto R.I. diluar Jawa, yalah Sumatra dan Madura, kepada Belanda. '
Pada tanggal 25 Agustus, wakil Inggris Lord Killearn mengulangi kembali usaha membawa serta Indonesia dan Belanda dimeja perundingan. Pada tanggal 14 September tibalah suatu delegasi Belanda yang disebut Komisi Jendral terdiri dari Prof. W. Schermerhorn, Ketua Partai Buruh Nederland dan ketua delegasi, serta anggota-anggotanya F. de Bur dan M. Van Poll, untuk membuka kembali perundingan dengan Indonesia. Tetapi, disamping pengiriman missi-missi perundingan, Belanda terus-menerus mengirimkan pasukan-pasukannya ke Indonesia a.l.
Divisi-7 Desember. Perundingan pendahuluan Komisi Jendral Belanda dengan pihak Indonesia dengan dihadiri oleh Lord Killearn dimulai tanggal 7 Oktober digedung Konsulat Inggris, dan pada tanggal 9 Oktober untuk sekian kalinya persetujuan gencatan senjata tercapai.
182
=== [PDF page 183] ===
Jaman "Persetujuan Linggarjati”
sampai Perang Agresi ke-I.
Perundingan-perundingan selanjutnya berpindah tempat dan seterusnya dilakukan di Linggarjati.
Demikianlah, maka kegiatan-kegiatan komplotan imperialis internasional disatu pihak, dan politik kompromis pemimpin-pemimpin Pemerintah R.I. yang dengan politik gencatan senjata telah melucuti dirinya sendiri, dipihak lain, telah menghasilkan suatu naskah persetujuan yang terkenal sebagai Naskah Persetujuan Linggarjati, yang ditandatangani pada tanggal 15 Nopember 1946.
Pokok-pokok Persetujuan Linggarjati adalah sebagai berikut:
Pemerintah Nederland mengakui kekuasaan de facto R.I. di Jawa dan Sumatra.
Pemerintah-pemerintah Nederland dan R.I. bekerjasama kearah pembentukan suatu negara federal yang demokratis dan berdaulat, Republik Indonesia Serikat (teks bahasa Inggris; United States of Indonesia) yang terdiri dari tiga negara, Republik Indonesia yang meliputi Jawa dan Sumatra, negara Kalimantan dan Negara Indonesia Timur.
Pemerintah-pemerintah Nederland dan R.I. bekerjasama kearah pembentukan Uni Nederland-Indonesia yang akan terdiri dari Nederland — termasuk Nederland, Suriname dan Kurasau dan Republik Indonesia Serikat, Uni mana akan dikepalai oleh ratu Nederland.
Uni Nederland Indonesia dan Republik Indonesia Serikat didirikan selambat-lambatnya pada tanggal 1 Januari 1949, Uni Nederland Indonesia mempunyai aparat-aparatnya sendiri untuk mengurus soal-soal yang merupakan kepentingan-kepentingan bersama bagi negara-negara anggota, khususnya soal-soal yang menyangkut urusan luar negeri, pertahanan dan kebijaksanaankebijaksanaan keuangan dan ekonomi yang tertentu.
Saling mengurangi kekuatan-kekuatan pasukan masing-masing, pengungsian secara berangsur-angsur pasukan Belanda dari daerah-daerah Republik selekas mungkin sesuai dengan pemeliharaan ketertiban umum: pengakuan oleh Republik atas semua tuntutan-tuntutan warganegara-warganegara asing untuk restitusi dan atas hak-hak serta milik-milik didalam daerah-daerah yang dikuasai oleh Republik.
183
=== [PDF page 184] ===
Tinta tandatangan diatas kertas naskah persetujuan belum juga kering, tetapi Belanda (baca Van Mook), dengan tidak menghiraukan dan dengan melanggar ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan itu, sudah mulai lagi menjalankan politik pemecah-belahnya. Pada tanggal 18 Desember 1946 oleh Dr Van Mook telah diadakan suatu konferensi di Den Pasar, yang terkenal sebagai Konferensi Den Pasar, yang kemudian berhasil mendirikan negara boneka "Negara Indonesia Timur”. Persetujuan Linggarjati memang menyebut akan didirikannya suatu negara federasi yang berdaulat yang a.l. termasuk juga ”Negara yang meliputi segenap pulau-pulau sebelah timur pulau Jawa dan Kalimantan sebelah tenggara”. Tetapi fasal yang bersangkutan dengan tegas menyatakan pula bahwa negara federasi demikian itu didirikan bersama-sama dengan pihak R.I. Bukan hanya politik pemecah-belah yang dijalankannya, tetapi penghancuran terhadap Republik Indonesia. Tahun 1947 membuka lembaran sejarahnya dengan pemboman kota Palembang pada tanggal 1 Januari 1947 oleh pesawat-pesawat Belanda, kemudian disusul oleh pemboman atas kota Medan. Pada tanggal 24 Januari, kota-kota Krian dan Sidoarjo di Jawa Timur diserbu oleh pasukan-pasukan Belanda yang menggunakan senjata-senjata berat dan yang kemudian berhasil menduduki kedua tempat tersebut. Persetujuan gencatan senjata dilanggar untuk sekian kalinya oleh Belanda. Kali ini juga hanya perintah penghentian tembak-menembak oleh Presiden Sukarno sebagai Panglima Tertinggi pada tanggal 15 Februari yang dapat menghentikan pertempuran-pertempuran.
Suasana agak tenang kembali lagi, dan dalam keadaan demikian maka berlangsunglah ratifikasi Persetujuan Linggarjati pada tanggal 25 Maret 1947 pukul 5.30 sore di Istana Riyswiyk di Jakarta. Segera sesudahnya, Inggris dan Amerika menyatakan pengakuannya de facto terhadap R.I. Sementara itu Belanda tampak amat sibuk dengan usahanya membentuk negara-negara bonekanya: pada tanggal 4 Mei dan 12 Mei didirikan berturut-turut ” Negara Pasundan” di Jawa Barat dan di Kalimantan Barat suatu “daerah istimewa” yang dikepalai oleh Sultan Hamid II.,
Suasana politik yang tampak agak mereda sesudah perintah penghentian tembak-merembak ternyata hanya luarnya saja. Didalamnya berbentroklah berbagai kekuatan: baik didalam tubuh Republik sendiri,.antara mereka yang pro-dan mereka yang kontra persetujuan Linggarjati, maupun dengan kekuatan-kekuatan imperialisme internasional yang hendak mempertahankan kekuatan kolonialnya atas Indonesia. Berbagai interprestasi yang berbeda-beda mengenai fasal-fasal Persetujuan Ling:
“184
=== [PDF page 185] ===
garjati dari pihak R.I. dan pihak Belanda, tidak menambah tenang keadaan, dan akhirnya meletuslah keluar dalam bentuk ultimatum Komisi Jenderal Belanda di Indonesia kepada Pemerintah R.I. pada tanggal 27 Mei 1948. Ultimatum tsb. mengandung ketentuan' sbb.: pengakuan de jure Belanda atas Indonesia sampai tanggal 1 Januari 1949. Sementara kekuasaan di Indonesia dipegang oleh sebuah pemerintahan peralihan dimana wakil Belanda mempunyai wewenang final yang menentukan.
Pemerintahan peralihan yang demikian inilah yang akan membentuk xerangka politik maupun lembaga-lembaga negara dari Republik Indonesia Serikat (bahasa Inggris United States of Indonesia) yang bakal didirikan pada tanggal 1 Januari 1949. Dalam masa peralihan seluruh urusan-urusan export-import dan divisen menjadi wewenang pemerintah peralihan. Sebuah gendarmeri bersama yang terdiri dari pasukan-pasukan indonesia dan Belanda dalam jumlah yang sama bertugas memelihara
[Unreadable]
$ keamanan dan ketertiban diseluruh Indonesia, termasuk daerah kekuasaan
de facto R.I.
Didalam usaha untuk menghindarkan suatu peperangan terbuka dengan Belanda akhirnya St. Syahrir pada tanggal 8 Juni menerima prinsip peralihan itu, dan pada tanggal 20 Juni menyetujui "kedudukan istimewa” de jure wakil Mahkota Belanda didalam pemerintah peralihan serta pengawasan Belanda atas hubungan-hubungan luar negeri Indonesia selama masa peralihan. Konsesi-konsesi tersebut diatas menyebabkan makin terpecah belahnya potensi nasional R.I., pertentangan-pertentangan yang mendalam, yang akhirnya menyebabkan bubarnya kabinet Syahrir.
Dalam keadaan krisis politik yang amat gawat ini Republik Indonesia tidak luput pula dari tekanan-tekanan imperialisme Amerika yang pada tanggal 22 Juni mengeluarkan suatu aide memoire yang berisi desakan kepada pihak R.I. untuk "segera bekerja sama” (bahasa Inggris "to cooperate without delay”) kearah pembentukan suatu pemerintahan federal peralihan untuk seluruh Indonesia. Hal mana memang sudah termuat didalam Persetujuan Linggarjati. Tetapi, aide memoire Ametika Serikat memuat ketentuan lebih jauh dari pada itu dengan menetap-
-kan inter-prestasi sbb.: ”persetujuan Linggarjati menentukan suatu
peralihan dari sekarang sampai 1 Januari 1949, dalam masa mana Belanda tetap berdaulat dan berkuasa penuh di Indonesia” (bahasa Inggris The Linggarjati Agreement specities an interin period from now until January 1, 1949, during which the Nederlands is to retain sovereignity and ultimate authority in Indonesia”).
Pada tanggal 3 Juli 1947 Mr. Amir Syarifuddin berhasil membentuk Kabinet baru yang berintikan 3 partai politik besar (Partai Sosialis, P.N.I
185
=== [PDF page 186] ===
her Magna ~
W. Monginsidi seorang pahlawan putra Sulawesi yang gugur sebagai akibat teror Westerling
Digitized by Google
=== [PDF page 187] ===
dan Partai Buruh) dan partai Islam P.S.LI. Tetapi, garis politik kompromis terhadap imperialis kolonialis Belanda yang amat celaka itu, juga tak luput dijalankan oleh kabinet Mr. Amir Syarifuddin. Sebuah nota tertanggal 8 Juli 1947 yang ditandatangani oleh Wakil P.M. Setiajit, memuat ketentuan-ketentuan sbb.: ' 1. Republik menyetujui kekuasaan de jure wakil Mahkota Belanda, menyetujui juga suatu pemerintahan peralihan yang terdiri dari wakil-wakil Mahkota dan wakil-wakil negara” Indonesia.
2. Republik menarik kembali permintaannya untuk mendirikan perwakilan-perwakilannya diibukota-ibukota diluar negeri selama masa peralihan.
3. Hak-hak orang asing atas perkebunan-perkebunan diakui oleh Pemerintah R.I.
4. Republik menyetujui usul-usul Belanda untuk mendirikan jawatan-jawatan federasi seperti pabean dan badan-badan ekonomi.
Tetapi, belum juga puas, pihak Belanda tetap menuntut suatu pengawasan bersama dan pimpinan bersama atas suatu gendarmeri Indonesia yang beroperasi didalam R.I. Terhadap tuntutan satu-satu ini, seluruh pimpinan pemerintahan R.I. bersikap bulat menolaknya!.
Demikianlah, maka pada tanggal 21 Juli 1947 meletuslah agresi.
kolonial I di Indonesia.
Perang Agresi Kolonial I.
Pada tanggai 21 Juli 1947 Republik diserang dari laut, udara dan darat oleh kaum kolonialis Belanda. Dalam waktu dua minggu saja sebagian besar Jawa Barat dan Jawa Timur, daerah-daerah minyak di Sumatra Selatan dan pelabuhan terpenting di Sumatra Barat jatuh ditangan kolonialis Belanda. Pasukan-pasukan Tentara Nasional Indonesia (T.N.I.) mengadakan perlawanan yang gagah berani terhadap kekuatan militer tentara kolonial Belanda yang jauh lebih besar, dan terhadap kedudukan-kedudukan militer strategis yang jauh lebih menguntungkan yang dibentuk selama perundingan-perundingan politik kompromis kabinet?
Syahrir dan Mr. Amir Syarifuddin dengan pelanggaran-pelanggaran berkali-kali terhadap gencatan senjata.
Juga kali ini sejarah perjuangan menentang imperialisme Republik Indonesia mencatat peristiwa-peristiwa yang penuh heroisme dari rakyat dan pemuda Indonesia didalam gerakan mundur ke gunung?
dan hutan-hutan. Sementara itu di forum internasional, baik kalangan
187
=== [PDF page 188] ===
pemuda dan mahasiswa sedunia maupun kalangan-kalangan negarawan terkemuka, telah mengutuk perang agresi kolonial Belanda I itu.
Pada tanggal 29 dan 30 Juli 1947, India dan Australia mengajukan masalah Indonesia kepada Dewan Keamanan P.B.B. Didalam peruebatan-perdebatan berikut, jelaslah bahwa imperialis tetap......
imperialis karena usul resolusi Australia yang moderat sekalipun (campur tangan P.B.B.) ditolak oleh Amerika Serikat dkk. Amerika Serikat mengajukan usul.kompromi, yang diterima oleh Dewan Keamanan pada tanggal 1 Agustus.1947. Resolusi-resolusi tersebut, memuat ketentuan?
sbb.: 1. Agar Belanda dan R.I. menghentikan permusuhan-permusuhan dan 2. Agar pertikaian-pertikaian diselesaikan dengan jalan arbitrase ataupun dengan cara-cara damai lainnya dan melaporkan kepada Dewan Keamanan tentang hasil-hasil usaha-usaha perdamaian itu.
Dilain. pihak, menjadi jelas pula, siapakah sebenarnya kawan”
R.I. yang sesungguhnya. Apabila disatu pihak imperialisme internasional menyokong kolonialisme Belanda dengan tuntutan penghentian permusuhan justru pada saat dimana pasukan-pasukan kolonial Belanda sudah dapat merebut kedudukan-kedudukan strategi baik militer maupun ekonomis yang fital di R.I. maka wakil negara-negara sosialis U.R.S.S. dan Republik Rakyat Polandia dengan gigih mempertahankan tuntutannya agar pasukan-pasukan Belanda ditarik mundur sampai tempat-tempat yang didudukinya sebelum dilancarkan serangan agresinya. Wakil U.R.S.S.
Gromyko didalam pidatonya mempertahankan pendiriannya bahwa ”perundingan apapun saja melalui arbitrase atau cara lain-lain yang dilakukan dalam keadaan dimana pasukan-pasukan dari pihak satu berada diwilayah pihak lain, tidak akan membantu didalam terciptanya persamaan diantara kedua belah pihak”.
Demikianlah, maka pada tanggal 3 — 4 Agustus 1947 perintah penghentian tembak-menembak dikeluarkan. Tetapi pihak Belanda juga melanggarnya. Betul, bahwa Belanda menghentikan operasi-operasi mereka ke ibu kota R.I. Yogyakarta, tetapi dalam pada itu mereka mengepung kantong-kantong R.I. didalam daerah-daerah luar yang telah mereka kuasai dan kemudian mengadakan aksi-aksi pembersihan terhadap pasukan-pasukan R.I. didaerah kantong-kantong itu.
Pada tanggal 14 Agustus, setelah Syahrir sebagai wakil pemerintah Indonesia tiba di Lake Success Amerika, dan kemudian mengeluarkan seruan agar P.B.B. mengirimkan suatu komisi untuk mengawasi pelaksanaan gencatan senjata dan diperbolehkan menyampaikan laporannya tentang situasi gencatan senjata di R.I. didepan Dewan Keamanan P.B.B., maka dengan melalui perdebatan-perdebatan yang sengit dan me-
188
=== [PDF page 189] ===
makan waktu lama, tercapailah suatu putusan-putusan berdasarkan resolusi Amerika Serikat yang mendapat sokongan dari semua anggota-anggota Dewan Keamanan, kecuali U.R.S.S., Polandia dan Suriah yang abstain.
Pada tanggal 12 September sebuah ” Komisi jasa-jasa baik” yang terdiri dari Belgia (pilihan Belanda), Australia (pilihan Republik), A.S. (ditunjuk oleh kedua pilihan) dibentuk, tetapi banu tiba di Indonesia akhir bulan Oktober. Sudah dari permulaan bekerjanya ” Komisi jasa-jasa baik” suatu situasi militer telah tercipta, dimana menurut "garis demarkasi Van Mook” (ditentukan secara unilateral pada tanggal 29 Agustus)
daerah R.I. dibatasi meliputi hanya k.l. sepertiga dari pulau Jawa, setengah dari Madura dan bagian paling tidak subur pulau Sumatra.
Keadaan militer yang tak seimbang itu dan sikap pasif yang diambil Dewan Keamanan terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terus menerus aan tanpa kenal malu yang dilakukan pihak Belanda, pada hakekatnya telah membuat ” Komisi Jasa-jasa Baik” tidak berdaya. Blokade ekonomi yang dilakukan Belanda terhadap Republik sudah jauh sebelum pecahnya perang agresi kolonial ke-I dan dengan lebih kejam lagi diteruskan selama perang agresi, telah menempatkan pihak R.I. dalam keadaan, dimana amat menyulitkan kalau tidak sama sekali menghentikan pemasukan bahan makanan, pakaian obat-obatan, begitu juga senjata, kedalam daerah R.I. yang sudah dipersempit itu, terutama di Jawa. Demikianlah, maka tiga bulan sesudah campur tangan P.B.B. belum juga tercapai suatu perielesaian, sedangkan pertempuran-pertempuran masih terus berkobar. Baru pada tanggal 8 Desember 1947 pertemuan pertama yang formil antara pihak Indonesia dan Belanda dengan dihadiri oleh ” Komisi Jasa-jasa Baik” dapat diselenggarakan dikapal perang Amerika Serikat “Renville”.
Perundingan-perundingan Renville dilakukan dengan mengambil sebagai dasar pembicaraan usul ” Komisi Jasa-jasa Baik” yang dalam fase pertama dapat diterima oleh pihak R.I. didalam keseluruhannya, tetapi tidak sepenuhnya dapat diterima oleh Belanda. Usul yang kedua lebih mendekati keinginan-keinginan Belanda. Usul mana memuat ketentuan gencatan senjata dengan "garis demarkasi Van Mook” sebagai garis perbatasan militer antara pihak yang bersengketa dengan syarat a.l.
bahwa dalam masa waktu tak kurang dari pada tiga bulan pihak Belanda akan menarik pasukan-pasukannya pada posisi-posisi sebelum tanggal 21 Juli 1947, dan pemerintah R.I. akan menguasai kembali daerah-daerah yang ditinggalkan itu.
Tetapi 12 fasal kontra usul Belanda dengan jelas memperlihatkan bahwa pada hakekatnya tak ada keinginan sama sekali pada pihak Belanda
189
=== [PDF page 190] ===
untuk melepaskan daerah R.I. dari cengkeraman kolonialisme. Kontra usul Belanda itu sama sekali tidak menyebut penarikan kembali pasukan' Belanda dan pemulihan kembali pemerintah R.I. di daerah-daerah yang didudukinya. Tak disinggung masalah perwakilan R.I. didalam pemerintahan sementara menjelang penyerahan kekuasaan, bahkan kata ” Republik Indonesia” saja tak disebut-sebut sama sekali. Dilain pihak kontrausul Belanda mengagung-agungkan prinsip "hak menentukan nasib sendiri dan pemilihan bebas bagi rakyat-rakyat untuk menetapkan sendiri hubungan politik macam apakah mereka menghendaki dengan Republik Indonesia Serikat kelak”. Maksud-maksud kolonial yang diselimuti prinsip-prinsip agung tadi segera membuka kedok yang sebenarnya ketika pada tanggal 29 Desember Van Mook membentuk ”negara” Sumatra Timur, salah satu daerah terkaya R.I. Pada tanggal 4 Januari 1948 pihak Belanda telah menyelenggarakan sebuah konferensi yang a.l. memutuskan pembentukan negara suatu pemerintahan federal peralihan menjelang berdirinya Republik Indonesia Serikat. Dalam pemerintahan tsb. R.I. akan memperoleh kedudukan yang jauh tak seimbang dan sangat lemah disamping sepuluh "negara” boneka lainnya. Dalam keadaan demikian Belanda pada tanggal 9 Januari memberikan suatu ultimatum kepada R.I., bahwa apabila pihak R.I. tidak menerima 12 fasal kontra-usulnya dalam 3 hari, maka Belanda akan bebas untuk bertindak.
Mengetahui, bahwa 12 fasal kontra-usul Belanda tidak akan dapat diterima oleh rakyat Indonesia, sehingga Pemerintah R.I. akan dipaksa untuk menolaknya, yang berarti akan bangkitnya kembali perlawanan bersenjata rakyat Indonesia, maka Komisi Jasa-jasa Baik didalam usaha untuk mencegahnya dan memenuhi sejauh mungkin tuntutan?
Belanda, memajukan 6 fasal usul tambahan. Enam fasal usul tambahan Komisi Jasa-jasa Baik pada hakekatnya tidak berbeda dengan 12 fasal kontra-usul Belanda, karena dalam hal inipun Republik Indonesia yang sudah amat dipersempit itu akan dipaksa untuk tunduk kepada perintah penghentian tembak-menembak dan menerima kenyataan duduk bersama dengan 10 "negara” boneka Indonesia dalam suatu pemerintahan peralihan federal. Disamping itu pelaksanaan prinsip plebisitpun masih dipertahankan, dengan perbedaan bahwa disini penduduk berbagai daerah di Jawa, Sumatra dan Madura dapat memilih hendak bergabung kedalam R.I. atau salah satu bagian ”negara” lainnya.
Dalam keadaan dimana kekuatan nasional R.I. terpecah-belah dan pasukan-pasukan R.I. dalam posisi militer yang sangat tidak menguntungkan disamping keadaan ekonomi yang amat gawat disebabkan blokade didarat dan dilaut oleh Belanda, dan dibawah tekanan wakil Amerika
190
=== [PDF page 191] ===
Serikat Graham didalam Komisi Jasa-jasa Baik, yang tidak menyembunyikan kemungkinan dalam hal Indonesia menolak ultimatum Belanda itu, Ameryka Serikat tidak akan menghalang-halangi Belanda untuk menyerang R.I., maka akhirnya pada tanggal 17 dan 19 Januari 1948 pimpinan Pemerintah R.I. menerima dan menandatangani Persetujuan Renville. Persetujuan ini adalah persetujuan kompromis yang sangat merugikan perjuangan kemerdekaan Rakyat, pemuda Indonesia.
: PERKEMBANGAN KEGIATAN
| GERAKAN PEMUDA
Dalam masa antara Kongres Pemuda Indonesia ke-II dan Kongres Pemuda Indonesia ke-III y yang meliputi periode 8 — 9 Juni 1946 sampai 3—5 Maret 1948, masalah-masalah politik terpenting dan menentukan bagi jalannya sejarah perjuangan kemerdekaan rakyat dan pemuda Indonesia, adalah pemandatanganan naskah persetujuan politik, yaitu Persetujuan Linggarjati dan Persetujuan Renville serta pecahnya Perang Agresi Kolonial ke-I.
Suasana politik yang ditimbulkan oleh kegiatan-kegiatan sekitar peristiwa-peristiwa tsb. diatas amat mempengaruhi dan tercermin didalam gerakan pemuda, yang terutama mendapat pernyataan yang jelas didalam perkembangan kegiatan-kegiatan Badan Kongres Pemuda Republik ' Indonesia.
Apabila didalam periode 1945 — 1946 gerakan pemuda ditujukan terutama untuk menegakkan Republik Indonesia dan membelanya dari serangan-serangan kontra-revolusi dari dalam maupun dari luar, maka periode pertengahan kedua tahun 1946 sampai dengan Maret 1948 ditandai oleh kegiatan-kegiatan untuk mengkonsolidasi baik tubuh gerakan pemuda itu sendiri, maupun negara dengan alat-alatnya. Dua corak kegiatan menonjol didalam periode itu, pertama aktivitas dalam bidang sosial dan pendidikan dan kedua, didalam bidang organisasi.
Dalam dokumen perjalanan organisasi Badan Kongres Pemuda Republik - Indonesia mengenai masa periode tersebut ini yang dibuat oleh pimpinan Badan Pekerja B.K.P.R.I. Sumarsono, tertanggal 26 Maret 1948, lercantum hal-hal penting tersebut.'
”Tingkatan kedua adalah tingkatan konsolidasi. Konsolidasi baik dalam lapangan organisasi kita sendiri, maupun konsolidasi negara dengan alatnya”. Disamping menyadari adanya ancaman "agresi musuh yang terus menerus”, dokumen itu meryebut bahwa "keadaan dalam negeri waktu ilu masih banyak sekali mengandung kelemahan-kelemahan seperti me-
Mm mem NN
191
=== [PDF page 192] ===
rajalelanya anarki, main republik kecil-kecilan, korupsi, birokrasi, anarkisindikalisme, serta belum adanya kesatuan komando dan pimpinan satu yang diakui seluruhnya”. Dalam hubungan ini B.K.P.R.I. mengusulkan al. "pembaharuan alat pemerintah yang sesuai dengan kepentingan dan perjalanannya revolusi”..
Dalam rangka menyusun pertahanan rakyat B.K.P.R.I. mengambil peranan yang aktif dalam ”menyelenggarakan agitasi serta propaganda untuk Palang Merah/dapur umum, ikut mengatur pengungsian, invaliden, menghibur para pahlawan, dan ikut serta pula mengatur soal-soal pertahanan dengan duduknya wakil-wakilnya dan Dewan Pertahanan Daerah”.
Dalam hubungan dengan pemerintahan, sejak kabinet Syahrir ke-II sampai dengan kabinet Amir, B.K.P.R.I. mempunyai wakilnya dalam kabinet yalah Menteri Negara Urusan Pemuda yang bertanggung jawab terhadap Badan Kongres Pemuda B.K.P.R.I.
Pekerjaan penerangan kepada massa dengan giat diselenggarakan oleh B.K.P.R.I., demikian juga pemberantasan buta-huruf, dan penyelenggaraan kursus-kursus.
Sebagai anggota Gabungan Pemuda Demokratis Sedunia (G.P.D.S.), B.K.P.R.I. mengambil bagian yang aktif didalam usaha membentuk front persatuan pemuda internasional yang anti — imperialisme dan anti — kolonialisme. Salah satu bukti solidaritas pemuda internasional adalah resolusi G.P.D.S. yang ditujukan kepada Dewan Keamanan U.N.O.
Gan pemerintah Belanda di Den Haag untuk segera menghentikan perang agresi kolonial di Indonesia, sedangkan organisasi pemuda yang tergabung dalam G.P.D.S., diwajibkan mendesak kepada pemerintahnya masing untuk bertindak kearah itu.
Dalam bidang organisasi B.K.P.R.I. selamanya berpegangan kepada dua pedoman: 1. Memegang teguh tujuan persatuan pemuda dalam B.K.P.R.I. Dalam hubungan ini dikemukakan bahwa “karena ingin memegang teguh pedoman persatuanmnya itu, maka sering terpaksa ada. soal-soal yang sengaja dihindari oleh organisasi kita, seperti umpamanya dalam menentukan sikapnya terhadap soal-soal Naskah Linggarjati, Naskah Renville, terhadap diplomasi pemerintah dan terhadap pembentukan kabinet dll. B.K.P.R.I. tidak menentukan sikapnya. Disinilah sering nampak seolah-olah ”Non aktivitet” dari B.K.P.R.I. terhadap soal-soal yang justru sangat penting dalam pandangan umum”. Tetapi, ditegaskan selanjutnya bahwa ” menentang imperialisme, mencapai cita"
demokrasi, adalah soal-soal politik yang harus pula dicapai dengan perjuangan politik yang tertentu”.
192
=== [PDF page 193] ===
Seterusnya dalam rangka menjaga keutuhan dan persatuan B.K.P.- R.I., diterangkan bahwa ”Keluarnya G.P.LI. dari B.K.P.R.I, amat disesalkan serta disayangkan. Akan tetapi B.K.P.R.I. tidak berhenti jalan, senantiasa ia berusaha agar organisasi-organisasi pemuda yang masih ada diluarnya, dapa: masuk dalam persatuannya. Sebagai usaha, B.K.P.R.I.dengan tidak mempersoalkan prestige atau lainnya lagi, telah mengulurkan tangannya untuk meminta dengan hormat atas dasar kesadaran serta kepentingan persatuan, agar G.P.I.I. yang telah meninggalkan rumah persatuan itu, masuk lagi kedalam Badan Kongres Pemuda. Demikianpun Pemuda Demokrat Indonesia yang baru berdiri setelah ketentuan dari Presidium B.K.P.R.I. justru untuk menyederhanakan organisasi”
pemuda serta berusaha ment:egah timbulnya organisasi-organisasi pemuda baru, namun sekalipun demikian, untuk dan atas nama persatuan, mereka diminta masuk pula dalam Badan Kongres Pemuda. Peraturan Umum dan Peraturan Chusus B.K.P.R.I. pun akan diperbaharui dan disesuaikan dalam kongres nanti, agar lebih membuka pintu bagi organisasi-organisasi pemuda yang masih diluar Badan Kongres Pemuda untuk masuk didalamnya dan bersatu dengan tenaga-tenaganya organisasi-organisasi pemuda lainnya”. Tetapi, bahwa B.K.P.R.I. tidak menghendaki persatuan tanpa dasar, tanpa tujuan, dengan tegas dinyatakan sbb.: "Akan tetapi keinginan akan persatuan yang demikian besarnya itu, dengan tegas dibatasi pula oleh putusan rapat Presidium sendiri yang merupakan satu pagar kuat, bahwa persatuan yang diinginkan itu bukan satu persatuan untuk bersatu belaka, melainkan persatuan untuk bersama-sama kerja, bersama-sama berjuang, bersama-sama mengerjakan pekerjaan/program yang sama, bukan persatuan menentang ataupun persatuan yang bersifat ”rontok” saja, tetapi terang satu persatuan yang hidun. persatuan bekerja”. 2. "Memegang teguh ”Soverenitet” dari B.K.P.R.I. selaku organisasi warga-negara dari Republik yang demokratis dan selaku gabungan organisasi-organisasi pemuda yang merdeka, tidak terikat oleh sesuatu partai atau instansi lain. Berdiri sendiri, tidak terikat oleh pemerintah, tidak pula menjadi bagian dari pergerakan-pergerakan lain, malah dalam peraturannya B.K.P.R.I. menutup pintu bagi sesuatu organisasi yang menjadi bagian sesuatu partai atau badan lain. Alasan-alasan inilah yang menyebabkan B.K.P.R.I. membatasi secara organisatoris hubungan? - dengan pemerintah”.
Aneka ragamnya kegiatan-kegiatan yang dapat digerakkan oleh B.K.P.R.I. menggambarkar: bagaimana dengan gairah dan semangat pemuda revolusioner tidak hanya menyerempet-nyerempet bahaya didalam baik perjuangan bersenjata maupun pembangunan negara, tetapi
Sediarah Perjuangan 13 1193
=== [PDF page 194] ===
bahkan menerjunkan diri didalamnya dengan kepercayaan besar kepada kemampuan diri sendiri. '
Apa saja yang tak termasuk lingkaran kegiatan pemuda: dari penyelenggaraan ”Studiefonds” dibawah pimpinan Ikatan Pelajar Indonesia (I.P.I.), pembentukan Panitia Utusan Keluar Negeri yang bersifat permanen dan al. beranggotakan Bus Effendi, Supardo dan Supeno, pendirian Panitia Kemerdekaan Setahun dimana a.l. salah satu acara adalah pertun- _ jukan sandiwara screntak yang sama lakonnya dan mengirimkan rombongan hiburan kemecdan pertempuran sampai kepada pengiriman delegasi-delegasi pemuda ke Inter-Asian Relation Conference di New Delhi, dalam kesempatan mana ”Aziatic Youth Meeting” diadakan, ke Festival Pemuda Sedunia I di Praha dan Konferensi Pemuda/ Mahasiswa Asia Tenggara di Kalkuta. Juga usaha-usaha gerakan penerangan terutama kepada rakyat yang dekat dengan front, usaha-usaha gerakan bersama untuk memupuk persatuan rakyat segenap lapisan, golongan, aliran dan untuk mematahkan serta memberantas infiltrasi, sabotase dan usaha kolone kelima dari pihak penjajah, membantu terlaksananya T.N.I. dan kesatuannya Komando scluruh angkatan perang R.I. serta menyelenggarakan pertahanan rakyat yang kuat dan ulet.
Bagaimana pula besar rasa tanggung jawab pemuda terhadap kesulitan-kesulitan ekonomi negara ternyata dari Resolusi Presidium B.K.P.R.I. tertanggal 19 Juli 1946 sekitar Pengumpulan Padi, yang mencanangkan adanya ”banyak kekacauan-kekacauan yang disebabkan oleh perbuatan kaum tengkulak, kurang koordinasi diantara jawatan?
dan badan-badan yang bersangkutan”. Karenanya, maka B.K.P.R.I. menyarankan agar pengumpuian padi dikerjakan oleh kooperasi-kooperasi rakyat dibawah pengawasan dan penerangan Pemerintah, Badan? Perwakilan dan organisasi-organisasi. '
Sutiyatna Ketua Umum
Badan Pusat P.P.T.S.
Sikap Terhadap Kabinet, Perundingan Indonesia Belanda Dan Naskah
Persetujuan Linggarjati.
“Badan Kongres Pemuda jangan turut terlibat (dalam soal Kabinet), karena soal kabinet adalah soainya partai-partai politik, yang harus
194
=== [PDF page 195] ===
dipentingkan yalah'soal "ricele makhtsvorming” guna menghadapi serangan musuh”. Demikianlah keputusan Rapat Presidium Badan Pekerja Kongres Pemuda pada tanggal 8 Agustus 1946. Dalam hubungan ini lebih jauh ditctapkan a.l. agar "soal kendaraan guna pertempuran diperhatikan betul” dan agar pemuda mempunyai wakilnya didalam Dewan Pertahanan Negara, juga agar "mulai sekarang difikirkan rencana untuk keluar tanah Jawa”.
"Tidak ikut berunding, karena perundingan adalah soalnya Pemenntah. Dalam pada itu Badan Kongres akan membantu Pemerintah dimana perlu. Menyetujui Supardo, Supeno, dan Maruto Darusman duduk dalam sub-komite bagian Politik”. Begitulah bunyinya keputusan rapat Presidium pada tanggal 10 —11 November 1946 di Yogya. Dan demikian juga, dalam nads yang sama, rapat Presidium B.K.P.R.I. pada tanggal 8 Dcscmber 1946 mengeluarkan keputusan bahwa Badan Kongres Pemuda sebagai badan gabungan (federatif) tidak menentukan sikap terhadap naskah Indonesia — Belanda. Tiap organisasi yang tergabung didalamnya menentukan sikap sendiri-sendiri.
Untuk lebih memperdielas sikapnya, pada tanggal 11 Desember, Badan Pekerja B.K.P.R.I. mengeluarkan Instruksi dan pengumuman yang pada pokoknya menyerukan agar pemuda jangan mudah terkena provokasi dan adu-domba antara mereka yang pro dan mereka yang kontra Persetujuan Linggarjati. Didalam keadaan yang serba ruwet dan genting ini, janganlah sckali-kali persatuan kita sebagai satu bangsa, scbagai satu nasion yang bersama-sama masih memperjuangkan dan bercita-cita: “Indonesia Merdeka yang bulat, kekal abadi”, terpecah belah ataupun diretakkan. Biarpun didalam keadaan yang bagaimana juga, persatuan kita itu adalah satu kekuatan dan siasat yang tak dapat ditinggalkan. Terlebih-lebih kita harus ingat bahwa musuh masih merajalela didalam rumah dan kanan-kiri kita. Belanda dan fihak penjajah akan ketawa dan mudah memecah kita, jikalau sampai terjadi perpecahan diantara bangsa Indonesia sendiri. Pemuda wajib menjaga kesadaran kita bersama yang harus insyaf akan bahaya perpecahan yang berarti rafyun bagi kita sendiri: "LEBIH BAIK KITA TENGGELAM
TETAPI TETAP BERSATU DARI PADA HIDUP TETAPI TER-
PECAH-BELAH”. Selanjutnya, dengan berpangkal tolak dari kenyataan bahwa Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia adalah suatu Badan Gabungan yang federaticf, maka B.K.P.R.I. mempersilahkan anggotanya masing-masing menentukan sikapnya sendiri-sendiri dan memperjuangkannya itu dengan jalan yang syah. “Tetapi”, demikian ditegaskan seterusnya. “Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia
195
=== [PDF page 196] ===
sebagai Persatuan Organisasi Pemuda telah membulatkan pendiriannya yang tegas didalam rapat Presidium yang terakhir, yaitu: ” Diterima atau ditolak” "naskah rencana persetujuan” oleh ”Majelis Permusyawaratan Rakyat” nanti, pemuda terus berjuang: Adalah memang kewajiban tiap-tiap pemuda terus mempelopori dan membimbing rakyat kearah kesempurnaan dan kebahagiaan masyarakatnya, walaupun didalam keadaan yang bagaimana juga. Pemuda tidak mesti meninggalkan gelanggang perjuangannya dan membiarkan rakyat berjuang sendiri.
Pemuda tetap akan berjuang bersama-sama dan untuk rakyat. Jadi, tegaslah, pemuda bersama-sama rakyat akan tunduk pada tiap putusan yang diambil oleh ”Majelis Permusyawaratan Rakyatnya”, tetapi pendiriannya telah pasti: "Dengan atau zonder "NASKAH”, revolusi berjalan terus dan PEMUDA tetap berjuang”.
Sikap B.K.P.R.I. untuk menghindarkan menentukan pendirian yang tegas terhadap masalah-masalah politik yang begitu menentukan bagi negara dan rakyat, demi menjaga persatuan pemuda, tak lain adalah cermin dari keraguan, kebimbangan dan dualisme politik pimpinan Revolusi dan Negara.
Menghindarkan dipersoalkannya oleh pemuda masalah” politik yang penting dan menentukan bagi negara dan bangsa, ternyata tidak dapat mencegah dan menghentikan proses keretakan yang sedang berlangsung diseluruh kehidupan negara termasuk gerakan pemuda. Karena, dengan
menghindarkan dipersoalkannya masalah-masalah seperti perundingan.
Indonesia-Belanda dan Naskah Persetujuan Linggarjati, maka tetap dibiarkan berkembang biak benih-benih keraguan, kebimbangan dan dualisme yang meracuni dan amat melemahkan tubuh negara R.I.
Pakaian Suluh Pendidikan” — “Tugu Peringatan Pahlawan.
Karena Pinjaman Nasional sudah mendekati penutupannya, maka pada bulan Juni 1946 pem-uda-pemuda membentuk ”pasukan”nya” guna mengerahkan tenaga pembelian Pinjaman Nasional. Pasukan-pasukan pemuda tersebut 'bekerja bersama dengan pamong-praja serta Bank Rakyat dan berkeliling mengedarkan obligasi-obligasi.
Bertepatan dengan 1 tahun berdirinya negara Republik Indonesia, pemuda giat mengumpulkan pakaian selama satu bulan (mulai tanggal 25 Juli 1946) untuk dibagikan kepada prajurit-prajurit yang telah
196
=== [PDF page 197] ===
gugur dan begitu juga kepada fakir miskin dan anak-anak yang terlantar.
Dalam usaha untuk r:engatasi kekurangan sekolah-sekolah lanjutan Badan Kongres Pemuda mengerahkan pembentukan bagian "Suluh Pendidikan” dalam D.P.P.? daerah dengan bantuan Ikatan Pelajar Indonesia dan Angkatan Muda Guru.
Sebagai penghargaan atas jasa-jasa ribuan pahlawan pemuda yang semenjak Proklamasi Kemerdekaan dan pecahnya revolusi dinegeri kita gugur sebagai bunga bangsa, maka pada tanggal 27 Agustus 1946, Badan Pekerja B.K.P.R.I. meminta kepada segenap D:P:P:”? daerah untuk mengusahakan berdirinya ' "Tugu Peringatan Bunga Bangsa” ditempatnya masing-masing, dengan bekerja sama dengan pemerintah-pemerintah daerah (jawatan.sosial).
” Padi untuk India”? — “Pakaian dari India”
Semangat solidaritas internasional yang hidup dikalangan pemuda berkenaan dengan bahaya kelaparan yang menimpa rakyat India, telah menggerakkan pemuda Indonesia untuk dengan aktif membantu Pemerintah dalam usaha pengerahan padi untuk India. Mereka bekerja sama erat dengan pamong-praja didaerah dan aktif membantu panitia pengerahan padi dikaresidenan, kabupaten dst.-nya. Dimana belum ada panitia, disitu pemuda dengan petunjuk serta persetujuan pamongpraja, membentuknya. Bukan itw saja, mercka mengawasi serta menjaga jangan sampai terjadi sabotase dalam usaha tersebut. Kegiatan solidaritas internasional ini telah memberikan pula ilham kepada seniman-seniman muda Indonesia sehingga '2hirlah sebuah lagu ”Padi untuk India” yang diciptakan oleh A. Alie, arsgota staf Badan Pekerja B. K.P.R.I. bagian Penerangan.
”PADI UNTUK INDIA” |
Padi untuk India, janji dari Pemerintah Indonesia Padi untuk India, kita Rakyat wajib turut berusaha Padi untuk India, ayo! kerahkan tenaga kita Memenuhi janji Negara, Padi untuk Saudara India Padi untuk India, tolong-menolong k’wajiban manusia Padi untuk India, dengan dasar peri-kemanusiaan kita Padi untuk India, berkat usaha rakyat semua
Sekarang telah tersedia, padi untuk Saudara India.
Kalau dalam pekerjaan pengerahan padi untuk India, pemuda ikut serta membantu secara aktif dan tulus ikhlas, maka sudah selayaknya
197
=== [PDF page 198] ===
kalau dalam pembagian bahan pakaian kepada rakyat (bahan pakaian sebagai penukarannya pada padi Indonesia) pemuda ingin membantu pula, supaya segala sesuatunya berjalan dengan baik dan adil.
Berhubungan dengan itu maka diserukan oleh Badan Pekerja kepada segenap D.P.D. untuk mengawasi cara pembagian bahan pakaian India itu yang akan dilakukan oleh "Panitia pengerahan padi” dari pemerintah melalui pemerintah daerah.
Konperensi pemuda berbagai
bangsa dan golongan
Untuk menggalang satu Front Pemuda dari berbagai bangsa. dan golongan ditanah air kita ini, maka Badan Koneres Pemuda Republik Indonesia telah melangsungkan "Konferensi Pemuda berbagai bangsa dan golongan” di Yogyakarta dengan mendapat perhatian besar sekali dari segenap wakil-wakil pemuda berbagai bangsa dan golongan Indonesia sini, serta pula dihadiri oleh Presiden, Panglima Besar dan lain-lain pembesar sipil serta militer. |
Pemuda Indonesia berpendirian bahwa herdasarkan tanggung dijawab yang besar yang terletak pada pemuda terhadap masyarakat Indonesia dikemudian hari, maka adalah kewajiban besar untuk menie!idiki secara mendalam dan memtecahkan persoalan-persoalan sekitar hubungan antara bangsa-hangsa dan golongan-golongan itu.
”Soal perhubungan dalam negara Repub!ik Indonesia dapat dipecahkan densan adanya keing'nan dari semua golongan untuk hidup bersama atas dasar persamaan hak dan kewajiban”, demikian bunyi pendirian
B.K.P.R.I.
Untuk menyelidiki dan memajukan perhubungan antara bangsabangsa dan golongan-go!ongan itu, Konperensi Pemuda pelbagai Bangsa dan Golongan memutuskar. untuk mendirikan suatu badan kontak dimana dudul: wakil-wakil Tionghoa, India, Filipina, Malaya, warsa-negara golongan Arab warga-negara peranakan Belanda, dan Indonesia. Badan kontak itu diberi nama:,,Ikatan Pemuda Pelbagai Bangsa dan Golongan”.
Membantu pengiriman O. R.I.
Untuk memudahkan dan menjamin pengirimannya uang Republik Indonesia (O.R.I.) yang dengan resmi diedarkan pada tanggal 31 Oktober — 1 November 1946 diseluruh Jawa dan Madura. Menteri Ke-
198
=== [PDF page 199] ===
uangan Surachman dengan putusannya No. M 593 tanggal 12 September 1946 mendudukan B.K.P.R.I., yang diwakili oleh Moh. Zain, dalam sebuah panitia yang berkewajiban mengatur segala sesuatu yang berhubungan dengan pengangkutan dan pengawalan uang Republik Indoncsia dari Yogyakarta, Solo dan Malang ke tempat-tempat lain. Lima anggota lainnya dari panitia tsb. adalah wakil Tentara Republik Indonesia, kantor pemberesan uang, polisi negara, jawatan kereta api dan pejabat pos.
»Berkat bantuan pemuda yang tergabung dalam B.K.P.R.I. maka panitia tsb. dapat menyelesaikan tugasnya dengan memuaskan sekali” demikianlah sebuah laporan B.K.P.R.I. masa itu berbunyi.
MENGHADAPI PERANG AGRESI KOLONIAL — I
PERINTAH PENGHENTIAN TEMBAK - MENEMBAK
PERSETUJUAN RENVILLE
Menghadapi agresi militer Belanda pada tanggal 20 malam 21 Juli 1947 yang dengan demikian telah melanggar perjanjian yang dibuatnya sendiri, maka pemuda Indonesia sebagai pendorong Proklamasi Kemerdekaan, dimana-mana saja segera menjalankan kewajibannya terhadap nusa dan bangsanya, melawan serangan militer Belanda dengan segala apa yang ada padanya. Tidak mengherankan, bahwa keganasan musuh terutama ditujukan kepada Pemuda Indonesia.
Tak terhitung jumlaknya mereka yang dalan menunaikan kewajibannya terhadap Ibu Pertiwi telah gugur bagaikan kusuma bangsa, tak terhitung pula jumlahnya mercka yang menjadi cacat seumur hidup karenanya, tak terhitung lagi yang mengalami lain-lain penderitaan karena perkosaan, penganiayaan dan kekejaman kolonialisme Belanda, namun segala sesuatu itu dipikulnya sebagai baktinya untuk menyelamatkan revolusi nasional kita ini, guna kemerdekaan negara dan rakyat In- Gonesia seluruhnya.
Dalam menghadapi perang agresi kolonial Belanda itu, Badan Pekerja B.K.P.R.I. pada tanggal 21 Juli 1947 menjelaskan dan meryerukan kepada seluruh pemuda Indonesia, dan terutama dalam B.K.
»Berkenaan dengan keganasan pihak Belanda makin memuncak, mendorong-dorong gendarmeri supaya dapat diterima oleh pihak Indonesia, pula menurut berita yang terakhir pada tanggal 20 Juli 1947 jam 11 malam, seluruh kantor dan jawatan-jawatan didaerah pen- Gudukan telah direbut oleh pihak Belanda, dan pada esok harinya pada tanggal sekarang ini juga dibeberapa daerah telah dijatuhi bom, pihak
199
=== [PDF page 200] ===
Belanda sudah tidak mengenal peri-kemanusiaan lagi, maka berkenaan
Cengan hal-hal tersebut diatas kepada seluruh pemuda-pemuda patriotpatriot negara dan bangsa terutama pemuda-pemuda yang tergabung
dalam Dewan Pimpinan Pemuda, diseluruh daerah dan kabupaten, kami instruksikan hendaknya supaya:
— siap sedia untuk menghadapi segala kemungkinan, dengan segala kekuatan yang ada didacrahnya masing-masing:
— mulai sckarang dan pada saat ini juga supaya seluruh tenaga pcmuda yang ada dalam daerah masing-masing dikerahkan guna membimbing seluruh rakyat untuk menghadapi pertempuran yang total terhadap agresi Belanda:
— semenjak nanti axan diumumkan oleh Dewan Pertahanan Negara maka seluruh pemuda didaerah masing-masing supaya membantu dengan segala aktivitet atas tugas yang diberikan oleh Dewan Pertahanan Daerah yang memegang pimpinan dalam keadaan negara menghadapi bahaya.
Demikianlah hendaknya pemuda patriotik negara dan bangsa memperhatikan sungguh-sungguh akan instruksi kami ini karena Belanda sendiri sekarang teiah mengumumkan perang dengan berpulas bermacammacam ragam.'
Sekianlah supaya SIAP-SIAP dan SEDIA menantikan panggilan tanah air”.
Disamping itu, Badan Pekerja B.K.P.R.I. mengirimkan radiogram kepada pemuda seluruh dunia dan kepada pemuda Islam sedunia sbb.:
I. Pada tanggal 20 Juli yl. sesudahnya dengan cepat dan terus menerus mengirimkan tentara kolonialnya kedaerah Republik dan sesudahnya memperkosa persetujuan Linggarjati, Belanda mulai serargan umum secara pengecut terhadap kota-kota, lapangan-lapangan terbang dan pelabuhan-pelabuhan Republik.
II. Pada tanggal 20 Juli yl. Belanda memulai perang kolonialnya yang klasik terhadap Republik Indonesia yang cinta akan damai, dan menyerang rakyat Indonesia.
III. Kita Bangsa Indonesia, cinta akan damai tetapi kitapun cinta akan kemerdekaan dan siap sedia untuk membela kemerdekaan kita sampai saat paling akhir.
IV. Kita percaya, bahwa perang kolonial Belanda akan menjadi permulaannya serentak perang kolonial di lain-lain tanah jajahan dan setenpah diajahan diseluruh dunia yang sudah rusak karena peperangan.
V. Oleh karena itu, kami Pemuda Indonesia dengan sangat menyerukan kepada pemuda-pemuda seluruh dunia yang progresif de-
200"
=== [PDF page 201] ===
mokratis dan cinta akan perdamaian termasuk juga mereka yang dinegeri Belanda, agar mendesak pemerintahan masing-masing untuk memaksa Belanda menghentikan perangnya dan menarik kembali tentara kolonialnya dari daerah Republik”.
Seruan B.K.P.R.I. disambut oleh pemuda progresif sedunia dengan berbagai macam pernyataan simpati kepada perjuangan rakyat dan pemuda Indonesia menentang kolonialisme Belanda dan pengutukan.
terhadap perang agresi kolonial yang dilancarkan Belanda terhadap Indonesia. Tidak itu saja, Gabungan Pemuda Demokratis Sedunia telah berhasil memobilisasi pemuda seluruh dunia untuk memboikot kapal-kapal Belanda yang mengangkut serdadu dan senjata ke Indonesia, dan untuk mengumpulkan obat-obatan.
Dalam menghadapi perintah penghentian tembak-menembak yang Gikeluarkan pada tanggal 4 — 5 Agustus 1947, B.K.P.R.I. tetap waspada.
Didalam radiogram yang ditujukan kepada segenap golongan kaum progresif serta demokratis umumnya, dan pemuda progresif dan demokratis khususnya, terutama yang tergabung dalam Gabungan Pemuda Demokratis Sedunia, diterangkan bahwa memang benar adanya perintah penghentian tembak-menembak. Tetapi ini tidak berarti pertikaian antara Indonesia dan Belanda sudah selesai. Oleh karenanya bantuan materil dan moril rakyat dan pemuda progresif sedunia terhadap perjuangan kemerdekaan rakyat dan pemuda Indonesia, yang masih tetap dalam ancaman kaum penjajah Belanda, tetap diharapkan.
Dalam hubungan dengan prinsip-prinsip,,Renville”” Badan Pekerja B.K.P.R.I. membatasi diri dengan memberikan petunjuk-petunjuk dan pedoman bekerja menghadapi rencana plebisit kepada D.P.P. —2 didaerah-daerah.
. Radio “Gelora Pemuda”
Bunga rampai aktivitas-aktivitas pemuda-pemuda dimasa revolusi bersenjata kiranya tak lengkap penggambarannya, apabila disini tak disebut pemancar radio,,Gclora Pemuda”. Sebuah siaran,,Gelora Pemuda” masa itu menyebut fakta-fakta sbb.:
»Pemancar Gelora Pemuda telah dibuka pada tanggal 1 Maret 1946 dengan gelombang 97 meter. Siaran diadakan 2 kali setiap hari: pagi dari jam 6.30 hingga diam 8.00, dan malam hari jam 18.00 hingga jam 22.00. Disampingnya siaran pidato-pidato untuk mengobarkan semangat perjuangan,.,Gelora Pemuda” pun tak lupa memberi selingan, berupa hiburan musik atau nyanyian. Kemudian dengan gelombang 40
201
=== [PDF page 202] ===
meter dapat meluaskan siarannya dengan memancarkan siaran keluar negeri dengan menggunakan bahasa Inggris dan Belanda”. Pada bullan Oktober 1947, gelombang pendek 40 meter mengalami banyak gangguan diudara lalu diubah menjadi 26,66 meter hingga (dengan diubahnya gelombang 97 meter jadi 51,7 meter) siaran dapat ditangkap dengan gelombang 26,66 dan 51,7 meter atau dengan freguentie II, 29 dan 5,8 magacycle. Siaran satu kali dan tiap-tiap hari Selasa dan Sabtu (19.30 — 20.00) direlay oleh R.R.I. Pusat di Yogyakarta dengan gelombang 52 meter diisi oleh pucuk pimpinan organisasi anggota B.K.P.R.I. Pada tiap-tiap hari Sabtu (20.40 — 20.45) diadakan siaran kedaerah Seberang. Lain dari pada itu,,Gelora Pemuda” menyediakan ruangan untuk jawatan penerangan D.P.P. Kowani, T.N.I. — Masyarakat bagian Wanita. Semboyan yang didengungkan diangkasa raya oleh ketua siaran Gelora Pemuda” waktu memperingati 2 tahun berdirinya pemancar tersebut, ialah:,,Sekali diudara, tetap diudara”.
Masa Persetujuan Renville sampai pecahnya Perang Agresi Kolonial ke-II.
Penandatanganan Persct'ijuan Renville menyebabkan jatuhnya Kabinet Mr. Amir Syarifuddin pada tanggal 23 Januari 1948 dan dibentuknya Kabinct-presidcntil Hatta dengan inti-inti partai P.N.I. — Masyumi pada tanggal 29 Januari 1943. '
Suasana politik yang sudah agak meruncing akibat penandatanganan Persetujuan Renville menjadi makin tegang dengan pelaksanaan pengakuan garis demarkasi,,van Mook”: pemindahan paksa 35.000 pemuda-pemuda bersendiata Tentara Nasional Indonesia dari daerahdaerah,,kantong” dibelakang garis demarkasi,,van Mook” kedaerah- Gaerah R.I., telah menimbulkan rasa kecewa dan sakit hati yang mendalam pada rakyat Indonesia umumnya, dan khususnya pada pemuda dan angkatan bersenjata. Kurang lebih 4.000 anggota pasukan-pasukan laskar rakyat tetap menolak dipindahkan. |
Jurang perpecahan makin mendalam.
Sementara itu Belanda dengan menyingkirkan sama sekali fasal-fasal Persetujuan Renville meneruskan politik pemecah belahnya dan mendirikan,,negara-negara” bonekanya didaerah-daerah yang didudukinya melalui apa yang mereka namakan,,plebisit”.
Dibawah tekanan bzyonet Belanda dan kekangan hak-hak demokrasi, melalui apa yang dinamakan,.plebisit”, berdirilah,, Negara Madura”
pada tanggal 21 Januari 1948. dan,,Negara Pasundan” di Jawa Barat pada tanggal 23 Januari 1948. Gerakan plebisit yang diketuai
202
=== [PDF page 203] ===
Se eee ANN 2
oleh Mr. Ali Budiarjo tidak berdaya, dan malahan dihalang-halangi melakukan tugasnya oleh pejabat-pejabat kolonial Belanda.
Protes-protes yang dilancarkan oleh pihak Pemerintah R.I. kepada Belanda dan Komisi Jas-jasa Baik, bahwa,,plebisit-plebisit” yang dilakukan Belanda tanpa pengawasan P.B.B., dengan tidak mengindahkan ketentuan masa waktu minimum 6 bulan,,perdebatan bebas dan merdeka” dan,,bebas berk impul, berbicara dan menyiar”, tak mendapat perhatian sama-sekali. "
Pada tanggal 9 Maret secara sepihak dan dengan menolak pengikut sertaan Republik Indonesia didalamnya, Belanda mendirikan,,pemerintahan” faderal peralihan yang menjalankan kekuasaan menjelang terbentuknya Negara Republik Indonesia Serikat. Secara sepihak dan berlawanan dengan Persetujuan Renville, Belanda menentukan sebagai syarat tercapainya persetujuan politik secara final antara R.I. dan Belanda. Tetapi. dengan alasan bahwa perundingan” politik tidak dapat dimulai sebelum perintah penghentian permusuhan berdasarkan Renville dipatuhi, Belanda menunda-nunda perundingan-perundingan politik tersebut tadi.
Suasana politik tidak mereda, bentrokan bersenjata terjadi berkali-kali.
Usaha-usaha oleh Komisi Tiga Negara (Komisi Jasa-jasa Baik) untuk membawa kedua pihak kemeja perundingan, terus mengalami kegagalan. Juga desakan-desakan kepada Dewan Keamanan P.B.B. untuk mengadakan intervensi, tidak membawa hasil apa-apa.
Berbagai usul K.T.N. ditolak mentah-mentah oleh Belanda, juga di Dewan Keamanan perdebatan masalah pertikaian Indonesia — Belanda tidak membawa penyelesaian apa-apa. Sebaliknya tidak berdayanya K.T.N. dan Dewan Keamanan terhadap sikap kepala-batu Belanda, mendorong Belanda untuk melantiarkan blokade ekonomi dan tekanan politik terhadap Republik Indonesia.
Pada bulan September 1948 K.T.N. sekali lagi mencoba untuk kembali perundingan atas dasar usul-usul Merle Gokhren, wakil Amerika Serikat yang baru. Usaha inipun gagal karena syarat-syarat pendahuluan yang dikemukakan kedua belah pihak tidak dapat diterima masing-masing pihak.
Perundingan-perundingan langsung pada tanggal 1 Nopember antara pihak Indonesia dan Belanda yang diwakili oleh Menteri luar Negeri Dr. D.U. Stikker dan Menteri Daerah-daerah Seberang Dr. Sassen juga terbentur kepada persoarn wewenang wakil Mahkota Nederland selama masa pemerintahan federal peralihan menjelang terbentuknya Republk Indonesia Serikat. Wewenang tsb. meliputi a.l. hak kekuasaan wakil Mahkota Nederland untuk mengirimkan pasukan-pasukan Belanda ke-
203
=== [PDF page 204] ===
daerah-daerah yang dianggap keruh. Tuntutan mana tak dapat diterima oleh pihak Republik Indonesia.
Pada tanggal 11 Desember 1948, Belanda memutuskan perundingan-perundingan dengan: Republik Indonesia dan pada tanggal 19 Desem-
_* ber Persetujuan Renville dinyatakannya tidak
1. berlaku lagi. Pada tanggal 19 Desember 1948,
|. pk. 5.30 pagi lapangan terbang Maguwo di Yog-
Le. |“ jakarta, diserang oleh pesawat-pesawat pembom eee Belanda dan beberapa jam lagi Ibu kota R.I.
Ir. Setiadi Ketua” Yogyakarta diserang dari udara dan darat. Pada Pesindo. hari itu juga Bung Karno, Drs. Moh. Hatta,
Syahrir dan hampir semua Menteri-menteri Kabinet ditawan oleh Belanda. Perang agresi kekolonial ke-II terhadap Indonesia mulai dilancarkan oleh kolonialisme Belanda.
yani 8
KONGRES PEMUDA INDONESIA KE-III
— Masa menjelang Kongres Pemuda Indonesia ke-III sesudah penandatanganan Persetujuan Renville ditandai oleh udara politik, kedalam dan keluar yang makin panas, pertentangan-pertentangan yang makin meruncing, keadaan ekcr.omi yang makin gawat karena blokade Belanda dan karena justru daerah,,sunplus” yang menjadi urat nadi penghidupan rakyat di Jawa, sebagian besar ada dibawah kekuasaan Belanda.
Badan Kongres Pem.uda Republik Indonesia dan lain-lain organisasi pemuda khususnya menyalami batu ujian yang seberat-beratnya. Persatuan pemuda sudah retak sama sekali., Disamping B.K.P.R.I. berdirilah 3 badan federasi baru, ialah K.N.I. Muda (Kongres Nasional Indonesia Muda), Front Nasional Pemuda dan P.P.M.I. (Persatuan Perhimpunanperhimpunan Mahasiswa Indonesia).
Bagaimanapun kerihnya suasana perpecahan pada waktu itu, pimpinan Badan Kongres Pemuda Republik Indonesia senantiasa berusaha agar organisasi-organisasi pemuda yang masih ada diluarnya dapat masuk persatuannya. Karena keinginan persatuan yang sedemikian ini, maka B.K.P.R.I. dengan tidak mempersoalkan prestise atau lainnya lagi, telah mengulurkan tangannya kepada G.P.L.I. yang telah lama meninggalkan perumahan persatuan B.K.P.R.I. dan Pemuda Demokrat Indonesia yang baru berdiri, untuk melaksanakan putusan rapat Presidiumnya pada 10—11 Februari 1948 yang a.l. berbunyi:
204.
=== [PDF page 205] ===
cee ene ee ama
Atas hasrat berdasarkan persatuan mengajak:
a. Gerakan Pemuda Islam Indonesia (G.P.L.I).
b-. Pemuda Demokrat Indonesia
untuk masuk Badan Kongres Pemuda.
Goodwill dari B.K.P.R.I. ini mendapat sambutan baik, sehingga calam Kongres Pemuda ke-III yang diadakan pada tanggal 3-4-5 April 1948 di Madiun tidak hania dikunjungi oleh utusan-utusan organisasi pemuda yang menjadi anggota B.K.P.R.I. tetapi juga nampak hadir wakil-wakil Pemuda Demokrat Indonesia, Himpunan Mahasiswa Islam (H.M.I.), Gerakan Pemuda Islam (G.P.I.I.) dan lain-lain gerakan pemuda diluar Badan Kongres Pemuda, sehingga Kongres meliputi hampir kannya kembali organisasi pemuda selama dasar politik untuk memperseluruh organisasi pemuda yang ada pada waktu itu.
Walaupun Kongres ini dapat dilangsungkan, namun dari permulaan telah mengalami banyak kesulitan dan berakhir dengan tidak dapat menyatukan organisasi dan kekuatan pemuda. Perbedaan dasar politik dari organisasi-organisasi pen:uda yang ada sudah menjadi demikian besar, ditambah lagi dengan adanya infiltrasi politik pemecah belah dari kaum imperialis dan kaum reaksioner, menyebabkan tidak mungkin dipersatusatukan itu tidak ada serta tiada ketegasan yang konsekwen melawan imperialisme.
Keadaan demikian itu membuktikan bahwa potensi kekuatan dan crganisasi pemuda sudah lemah dan rusak. B.K.P.R.I. yang didirikan se- Lagai hasil Kongres kebulatan tekad tiga tahun yang lalu sudah tidak berdaya lagi.
Bagaimanapun juga besar usahanya pimpinan B.K.P.R.I. untuk menyelamatkan keutuhan persatuan pemuda dengan merubah sifat organisasinya menjadi,,nonpolitica?” serta,,nonreligious”, namun kehancurannya tak dapat dicegah lagi.
Beberapa organisasi pemuda bukan anggota B.K.P.R.I. mengajukan konsepsi yang pada hakekatnya berarti melikwidasi B.K.P.R.I. sebagai badan federatif menjadi suatu,,badan kontak” semata-mata, tanpa wewenang mengambil keputusan yang mengikat para anggotanya. Hal mana tidak dapat diterima oleh B.K.P.R.I.
Menurut konsepsi anggoa-anggota B.K.P.R.I. peserta kongres, ersatuan yang diinginkan B.K.P.R.I. itu adalah persatuan yang hidup, persatuan bekerja bersama-sama, bersama-sama berjuang dan bersama-sama mengerjakan pekerjaan program yang sama, bukan per- Satuan untuk sekedar bessatu belaka, persatuan yang mati, yang hanya bersifat,,kontak” saja.
205
=== [PDF page 206] ===
Demikianlah juga sifat,,non-political” dan,,non-religious” tidak berarti bahwa organisasi pemuda tidak mempunyai garis perjuangan politik serta mengasingkan diri dari pekerjaan-pckerjaan poliuk. D.K.
P.R.I. berpendapat bahwa perjuangan menentang imperalisme dan mencapai cita-cita demokrasi, adalah semuanya soal politik yang tidak boleh tidak 'harus dicapai dengan garis perjuangan yang tertentu.
Ketidak adanya persamaan pendapat dalam cara melaksanakan azas-azas persetujuan tersebut diatas, menimbulkan saling tidak percayamempercayai, dan mesrenggangkan kehendak akan bersatu.
Belum lagi kongrcs memperbincangkan soal-soal yang penting, baru sampai acara tata-tertib menentukan hak bersuara dan hak memutuskan, suasana dalam kongres sudah menjadi amat tegang.
Pihak organisasi pemuda bukan anggota B.K.P.R.I. mengusulkan supaya mereka diberi hak yang sama scperti organisasi anggota B.K.P.
R.I., dalam soal-soal hak bersuara dan memutuskan. Usul ini bagi B.K.
P.R.I. tidak berkeberatan asalkan mereka suka masuk lebih dahulu sebagai anggota B.K.P.R.I. Tetapi bagi organisasi-organisasi yang tetap belum menjadi anggota B.K.P.R.I. dalam kongres itu hanya berhak bersuara tetapi tidak berhak turut niemutuskannya.
Perselisihan pendapat ini menyebabkan gagalnya kehendak bersatu Gan organisasi-organisasi pemuda yang tetap diluar B.K.P.R.I. meninggalkan kongres serta mengeluarkan pernyataan bersama yang isinya tidak mengakui Kongres Pemuda yang ke-III ini sebagai Kongres Pemuda Indonesia, tetapi adalah Kongres B.K.P.R.I.
Hancurnya B.K.P.R.I.
Sesudah Kongres Pemuda ke-III dan menjelang bulan September 1948, sebelum Belanda mengadakan aksi militernya ke-II, persatuan dikalangan organisasi-organisasi pemuda terutama dalam B.K.P.R.I. hancur sama sekali. B.K.P.R.I. yang sudah menjadi lemah dan sudah mendekati liang kuburrya, jika tak boleh dikatakan habis riwayatnya menjadi tinggal namanya saja dikalangan dunia pemuda, setelah ia menjatuhkan skhorsing, yang kemudian disusul dengan pemecatan terhadap organisasi pemuda Pesindo, satu-satunya anggota yang aktif dan merupakan tulang-punggung yang kuat selama berdirinya B.K.P.R.I.
Persatuan dalam kalangan pemuda Indonesia pecah dan B.K.P.R.I.
pengikat-penghimpun persatuan pemuda Indonesia habis riwayatnya dan tenggelam bersama-sama dengan hanyutnya revolusi Indonesia.
206
=== [PDF page 207] ===
Lara Ae Ra —
$ mena
PERANG AGRESI KOLONIAL KE-II
Untuk kedua kalinya rakyat dan pemuda Indonesia mengalami agresi kolonial Belanda pada tanggal 18 Desember 1948.
Sesudah penangkapan Bung Karno dan sebagian besar Menteri?
Kabinet, pada tanggal 20 Desember, komandan tentara pendudukan Belanda mendesak kepada Presiden Sukarno, agar memberikan perintah kepada pasukan-pasukan Republik Indonesia untuk menghentikan perlawanan. Permintaan ini dengan tegas ditolak oleh Presiden, dan sebagai pembalasan maka pada tanggal 22 Desember, Presiden dan s»cbagian Menteri-menteri dibawa terbang, sebagian kepulau Bangka, dan scbagian xe Prapat di Sumatra Timur.
Masa perang agresi ke-II ini diselingi dengan perdebatan-perdebatan berkali-kali diforum P.B.B. mengenai masalah Indonesia. Berbagai usul penghentian tembak-menembak dan penarikan mundur kesatuan-kesatuan kedua pihak ketempat-tempat yang akan ditentukan, diterima, tetapi untuk sekian kali juga dilanggar, bahkan sama sekali diabaikan oleh Belanda.
Tahun 1949 dalam sejarah perjuangan kemerdekaan Indonesia dimulai dengan dijalankannya bahtera Negara Republik Indonesia tanpa pengemudi, tanpa pemerintah dan wilayah yang keseluruhannya telah didalam cengkeraman kolonialisme Belanda — tetapi dimana rakyat dan pemuda Indonesia bersatu kembali dipertempuran-pertempuran gerilya ailereng-lereng gunung, dihutan-hutan dan dikota-kota. Belanda yang yakin akan dapat menghancurkan Republik Indonesia dalam 1 bulan saja, ternyata amat salah perhitungannya. Perlawanan yang gigih dan sengit dari rakyat, pemuda dan tentara Indonesia merupakan suatu hal yang tak diduga-duga sama sekali.
Pada akhir bulan Januari 1949 tentara Belanda yang kekuatannya meliputi 145.000 orang sudah berada dalam posisi defensif. Kota-kota besar yang telah mereka kuasai, mengalami serangan-serangan yang hebat pada malam hari dari pasukan-pasukan tentara Republik Indonesia dan kesatuan-kesatuan gerilya Republik Indonesia. Hanya dengan tenaga dan pengorbanan yang besar, Belanda masih dapat menguasai berbagai pos yang kuat yang menghubungi kota-kota yang diduduki mereka.
Sementara itu, di Bukit Tinggi Pemerintah Darurat Republik Indonesia yang dipimpin oleh Mr. Syarifuddin Prawiranegara telah dibentuk.
Selama bulan-bulan Pebruari dan April serangan-serangan gerilya diseluruh front menghebat, tidak hanya di Jawa dan Sumatra, tetapi juga di Kalimantan. Divisi Siliwangi dan juga Divisi Sungkono, telah
207
=== [PDF page 208] ===
berhasil menyeberangi garis demarkasi Renville di Jawa Barat dan Jawa Timur.
Dari masa perjuangan yang penuh heroisme ini, menjadi amat terkenallah peristiwa penyerbuan 2.000 anggota T.N.I. ke Yogyakarta pada hari subuh tanggal 1 Maret. Selama 6 jam Yogya diduduki oleh tentara Republik Indonesia. Pertempuran-pertempuran berlangsung sampai pukul 5 sore. Hanya dengan dikerahkannya bantuan dari Semarang oleh Belanda, maka dibebaskannya Yogyakarta oleh T.N.I. dapat digagalkan. Waktu Yogya ditinggalkan oleh pasukan-pasukan T.N.I., Belanda melakukan pembersihan dan pembakaran terhadap rumah-rumah rakyat. Dari peristiwa inilah lahir ceritera yang menjadi terkenal "ENAM JAM DI YOGYA”. Peristiwa penyerbuan ini tidak hanya menggegerkan tentara dan pemerintah kolonial Belanda, tetapi juga dunia internasional dan amat berpengaruh terhadap posisi Republik Indonesia di Perserikatan Bangsa?.
Sekalipun usaha Belanda yang keras untuk me-nutupi-nutupi kenyataan yang sebenarnya sekitar perubahan situasi militer yang makin menguntungkan bagi pihak kesatuan-kesatuan tentara Republik Indonesia, namun akhirnya diketahui juga oleh dunia luar, tidak hanya di Indonesia sendiri, tetapi juga diluar negeri.
Perang kemerdekaan melawan kolonialisme Belanda yang dilakukan rakyat dan pemuda Indonesia telah menarik perhatian dunia internasional.
Dimana-mana terutama dinegeri-negeri Asia-Afrika, seperti Mesir, Pakistan, India, Sailon dan Birma, rakyat dan Pemerintah'nya melarang pendaratan-pendaratn pesawat-pesawat terbang Belanda. Begitu juga, kaum buruh dinegeri tersebut menolak untuk melayani kapal? Belanda yang berlabuh dipelabuhan-dipelabuhan negeri mereka. Terdesak oleh situasi militer yang makin memburuk bagi tentara Belanda, berkat perlawanan yang heroik dari rakyat dan pemuda Indonesia dan dengan alat-alat solidaritas internasional dan pendapat umum sedunia yang makin mengutuk keganasan perang agresi Belanda, maka akhirnya Belanda terpaksa juga menyetujui perundingan dengan Republik Indonesia, yang diadakan pada tanggal 14 April 1949 di Jakarta dibawah pengawasan U.N.C.I. (United Nations Comitte for. Indonesia, adalah nama baru bagi K.T.N. yang lama). Sesudah perundingan-perundingan yang lama dan menegang, dimana terasa lagi tekanan wakil Amerika Serikat didalam U.N.C.I., Merle Cokhran, maka pada tanggal 7 Mei penandatanganan dari apa yang dis namakan persetujuan RUM-ROYEN tercapai.
Persetujuan ini menimbulkan ketidak pengertian dan kebingungan dikalangan rakyat Indonesia, terutama dikalangan angkatan bbersenjata dan para gcrilyawan, yang merasa scakan-akan segala pertahan-
208
=== [PDF page 209] ===
an dan penderitaan itu sia-sia belaka. Mereka menolak untuk tunduk kepada keputusan-keputusan gencatan senjata dan meneruskan operasi"
militernya. Adalah terutama karena tekanan-tekanan militer oleh T.N.I. dan para gerilyawan-gerilyawan kita inilah, yang makin menghebat pada bulan-bulan April dan Mei, bahwa Belanda terpaksa juga tunduk kepada keputusan yang mengharuskan mengundurkan pasukan-pasukannya dari Yogyakarta dan sekitarnya. Demikianlah pada tanggal 30 Juni seluruh karesidenan Yogyakarta bersih dari serdadu Belanda, untuk kemudian digantikan oleh T.N.I.
Pada tanggal 6 Juli 1949 Bung Karno dan lain-lain Menteri Kabinet yang ditawan Belanda, kembali ke Yogyakarta dan masuknya dibawah sambutan yang hangat dan amat mengharukan dari rakyat Yogyakarta. Pada tanggal 13 Juli 1949 sidang pertama Kabinet Republik Indonesia sesudah pecahnya perang agresi kolonial ke-II, dibuka. Pemerintah Darurat yang selama dipimpin oleh Syarifuddin Prawiranegara menyerahkan kembali mandatnya kepada Pemerintah Pusat.
Pada tanggal 1 Agustus 1949 gencatan senjata disetujui antara Republik Indonesia dan Belanda, yang mulai berlaku pada tanggal 11 Agustus di Jawa dan 15 Agustus di Sumatra. Pada tanggal 23 Agustus Konperensi Meja Bundar di Den Haag dimulai antara Nederland, Republik Indonesia dan B.F.O. (Bestuur van Federaal Overleg) dengan dihadiri oleh wakil Pemerintah Amerika, Merle Cokhran.
PERSETUJUAN KOMPROMI
Puncak dari pada segala politik kompromi adalah, ketika pada tanggal 2 Nopember 1949, Konperensi Meja Bundar di Den Haag diakhiri dengan diterimanya Persetujuan K.M.B.
Berdasarkan keputusan-keputusan Konperensi Meja Bundar yang ditetapkan didalam Statut Uni, maka pada tanggal 27 Desember 1949 akan dilakukan apa yang dinamakan ”penyerahan kedaulatan Belanda atas Indonesia kepada Indonesia”. '
Menurut fasal-fasal Persetujuan K.M.B., Republik Indonesia diharuskan menyerahkan kembali segala milik konsesi asing kepada kaum imperialis Belanda. Ini berarti bahwa hak-hak kaum penjajah dipertahankan. Ini berarti, bahwa Indonesia tidak mempunyai hak menentukan atas sumber-sureber bahan mentah negeri. Semua tambang, sumber minyak, timah, sebagian perkebunan karet dll. adalah milik asing, dan kesemuanya ini mesti dikembalikan kepada kaum imperialis, menurut
Sejarah Perjuangan 4 209
=== [PDF page 210] ===
perjanjian K.M.B. Pemerintah Indonesia tidak berhak untuk mengadakan perjanjian-perjanjian dagang dan persetujuan-persetujuan dengan negeri-negeri lain secara bebas.
Disamping itu Republik Indonesia diharuskan membayar bunga dan hutang sejumlah 4 milyard gulden kepada Nederland. Kecuali Republik Indonesia harus menerima ketentuan pembiayaan Misi Militer Belanda, yang akan membangun Tentara Republik Indonesia menurut faham-fahamnya, angkatan laut Belanda juga tetap berada di Indonesia.
Keputusan-keputusan Persetujuan K.M.B.
| telah menimbulkan pertentangan-pertentangan baru, dimana disatu pihak Pemerintah Republik Indonesia
Subagio Reksodipuro SH yang telah menyetujui K.M.B. dan yang dipimpin oleh Drs. Moh. Hatta berhadapan dengan rakyat, kaum buruh dan tani yang merasa amat dirugikan olehnya. Demikianlah terjadi bentrokan-bentrokan antara pemerintah dengan kaum tani, yang berdasarkan K.M.B. harus menyerahkan tanah-tanah garapannya kepada bekas pemilik-pemilik perkebunan-perkebunan asing. Begitu juga timbullah ketegangan-ketegangan baru antara pemerintah dan kaum buruh sekitar sumber-sumber minyak, yang sudah direbut revolusi dan kini berdasarkan K.M.B. dituntut kembali oleh perusahaan-perusahaan minyak asing, seperti B.P.M.;
Mengenai suatu bagian wilayah syah Indonesia, ialah Irian Barat, Persetujuan K.M.B. menetapkan bahwa bagian syah Indonesia itu tidak akan termasuk dalam ”penyerahan kedaulatan”. Kedudukan Irian Barat akan ditentukan setahun kemudian.
Kaum mperialis Belanda berniat untuk mengadakan expansi kolonial secara besar-besaran didaerah yang langsung dijajahnya. Disamping itu didudukinya Irian Barat oleh Belanda merupakan ancaman yang terus menerus kepada Republik Indonesia. Letak daerah ini yang strategis membikinnya menjadi pusat intrik-intrik imperialis.
MENCARI JALAN BARU
BAGI PERJUANGAN PEMUDA
Kongres Pemuda Indonesia ke-III cukup menggambarkan sampai dimana perpecahan yang ada dikalangan organisasi pemuda. Kita sudah
210
=== [PDF page 211] ===
mengikuti bagaimana bahtera keorganisasian pemuda terombang-ambing oleh gelombang-gelombang dahsyat pertentangan-pertentangan politik yang mengamuk dan menghantam kehidupan nasional Republik Proklamasi.
Bagaimana pertentangan-pertentangan politik mencapai puncaknya ketika rakyat dan pemuda Indonesia berhadapan dengan rakyat dan pemuda Indonesia dalam suatu tragedi nasional yang terkenal sebagai "peristiwa Madiun”. Bagaimana persatuan yang sudah begitu retak karena politik kompromis dan dualistis menjadi pecah sama sekali, karena campur tangan dan tekanan imperialisme Amerika Serikat, telah digunakan sebaik-baiknya oleh kolonialisme Belanda, untuk menyerang kedua kalinya Republik Indonesia.
Perang agresi kolonial ke-II memberikan pelajaran yang pahit bagi rakyat dan pemuda Indonesia bahwa kita masih menghadapi musuh bersama, ialah imperialisme-kolonialisme yang ingin menjajah kembali Republik Indonesia.
Selama perang agresi ke-II, pemuda Indonesia bersatu kembali memanggul senjata untuk membela tanah air dan bangsa terhadap serangan-serangan penjajah. Pemuda Indonesia kembali bahu-membahu — bertempur mengusir imperialis, sampai kembalinya Republik Indonesia diibukota Yogyakarta.
Kita sudah mengetahui, bahwa berdasarkan Rum-Royen Statement daerah Republik ”Renville” berangsur-angsur ditinggalkan oleh tentara Belanda. Perundingan dimulai kembali dan pertempuran-pertempuran dihentikan. Mulai saat ini pemuda menyusun kembali organisasinya masing-masins. Pada saat itu di Jawa saja telah terdapat kl. 100 organisasi pemuda lokal, jadi belum temasuk organisasi pemuda yang berpusat di Yogyakarta.
Untuk mengadakan peninjauan dan penyusunan kembali organisasi?
pemuda, maka atas inisiatif pemuda Indonesia mengadakan Konperensi Femuda Seluruh Indonesia pada tanggal 14— 19 diibukota Yogyakarta.
Konperensi Pemuda Seluruh
Indonesia
Konperensi Pemuda Seluruh Indonesia diadakan didalam keadaan dimana disatu pihak negara Republik Indonesia belum sepenuhnya sembuh kembali dari luka-luka disebabkan dua perang agresi kolonial, dan pertentangan-pertentangan politik sebelum dan antara dua perang agresi kolonial yang telah mengamuk dalam tubuh Republik Indonesia.
211.
=== [PDF page 212] ===
Sedangkan dilain pihak, pemerintah Hindia Belanda masih menduduki bagian-bagian wilayah Indonesia, dimana kekangan hak-hak demokrasi telah menimbulkan suasana takut dan tegang.
Didalam daerah merdeka Republik Indonesia, sisa-sisa ketegangan dan curiga-mencurigai akibat pertentangan-pertentangan politik dengan puncaknya ” Peristiwa Madiun” — tidak membantu untuk menciptakan suasana yang tenang bagi penyelenggaraan suatu konperensi yang tujuan utama adalah peninjauan dan penyusunan kembali, pengorganisasian gerakan pemuda yang meliputi seluruh wilayah Indonesia.
Tetapi bagaimana juga, tradisi persatuan dari perjuangan anti imperialisme pemuda dan rakyat Indonesia, yang telah mendapat pernyataan didalam "Sumpah Pemuda” pada tanggal 28 Oktober 1928, telah banyak mengilhami jalannya konperensi Pemuda Seluruh Indonesia kearah menanggulangi pertentangan-pertentangan yang timbul selama konperensi itu.
Gagasan-gagasan yang berjiwa Revolusi Agustus 1945 yang dicetuskan oleh wakil-wakil pemuda Republik Indonesia, merupakan bahan?
yang kelax akan terbukti besar manfaat dan pengaruhnya terhadap perjuangan rakyat dan pemuda Indonesia dinegara-negara federal untuk kemerdekaan politik yang penuh kearah pembentukan negara kesatuan Republik Indonesia. Kelak, karena didalam ruangan konperensi pada saat konperensi diadakan, masih berbentroklah dan berlawanan satu dengan lain berbagai gagasan dan pandangan-pandangan yang masing-masing dipengaruhi oleh pengalaman-pengalaman dan kondisi-kondisi politiknya masing-masing. Konperensi terpecah terbagi dalam dua front, yang satu:
yang mewakili daerah merdeka dimana hak-hak demokrasi dapat berkembang secara bebas dan yang lainnya, yang mewakili daerah kekuasaan kolonialis Belanda, dimana tekanan bayonet dan penjara, serta rasa takut menguasai kehidupan politik. Disamping itu banyak tokoh-tokoh pemuda yang selama Revolusi Agustus 1945 memegang peranan aktif, baik didalam persiapan Proklamasi Kemerdekaan maupun didalam mempertahankan dan membela hasil-hasil Revolusi Agustus 1945 terhadap serangan-serangan imperialis dan kolonialisme, ataupun didalam usaha menyusun negara dan alat-alatnya, tidak hadir.
Antara mereka yang sedikit itu, yang hadir termasuk tokoh pemuda B.K.P.R.I., Supardo, dengan ulet dan bijaksana dapat mengatasi persoalan-persoalan yang timbul selama konperensi dan mencegah terulangnya kembali pengalaman nasib Kongres ke-III atas konperensi ini.
Pemrasaran-pemrasaran didalam konperensi adalah Tatang Machmud dan Sutomo. Konperensi mengambil keputusan antara lain sbb:
212
=== [PDF page 213] ===
Manifes Pemuda
Suatu sikap politik yang dikeluarkan oleh konperensi dan berbentuk ”Manifes” yang ditandatangani oleh S. Harnopijati, Supardo dan YV. Warow, berbunyi sbb.:
Konperensi Pemuda Seluruh Indonesia yang diadakan di Yogyakarta tanggal 14 sampai 18 Agustus 1949.
Sejalan dengan tingkat perjuangan yang dihadapi seluruh rakyat Indonesia pada waktu ini, maka kami yang bertanda tangan dibawah ini, perutusan dua puluh delapan organisasi pemuda dari seluruh Indonesia dengan ini menyusun pembaharuan organisasi pemuda diseluruh Indonesia dengan pedoman sebagai berikut: |
1. Dasar: Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945.:
2. Tujuan: Kesempurnaan negara Republik Indonesia yang Satu Merdeka dan berdaulat keluar dan kedalam, yang meliputi seluruh kepulauan Indonesia (termasuk Irian)
dan berdasarkan Pancasila.
3. Semboyan Perjuangan:'
Satu Bangsa ' — Bangsa Indonesia Satu Bahasa — Bahasa Indonesia Satu Tanah Air — Tanah Air Indonesia Satu Negara — Negara Indonesia
4. Lambang Kebangsaan:
Lagu Kebangsaan ialah Indonesia Raya Bendera Negara ialah Sang Merah Putih
Resolusi - Resolusi
Resolusi-resolusi yang diambil menuntut penarikan Belanda secepattiepatnya dari seluruh Indonesia dengan ketentuan waktu yang pasti dan selanjutnya dengan tegas menentang setiap usaha untuk mengadakan perang kolonial. Selanjutnya resolusi-resolusi itu menyatakan penghargaan terhadap pejuang-pejuang Indonesia yang ditawan Belanda dan mendesak kepada seluruh wakil-wakil rakyat Indonesia supaya memperjuangkan pembebasan mereka selekas mungkin.
Sebagai hasil konkrit konperensi, maka suatu Sekretariat Pemuda Indonesia didirikan, yang sifatnya adalah sebagai penghubung. Salah satu program usaha adalah penyelenggaraan suatu Kongres Pemuda
213
=== [PDF page 214] ===
Kongres Pemuda ke-IV — di Surabaya
Seluruh Indonesia yang lebih luas dengan tujuan pertama-tama menyusun kembali pergerakan dan organisasi pemuda Indonesia.
Sebagai pimpinan "Sekretariat Pemuda Indonesia” ditunjuk Subagio Reksodipuro sebagai Sekretaris I, Hersubeno sebagai Sekretaris II, Nasrun sebagai Sekretaris III.
Kongres Pemuda Indonesia ke-IV
Kongres Pemuda Indonesia ke-IV diadakan di Surabaya pada tanggal 8-15 Juni 1950. Kongres ini dihadiri oleh 225 orang utusan dan peninjau. 171 utusan mewakili 47 organisasi dan 54 peninjau dari 25 organisasi, diantaranya 14 Badan Federasi atau Badan Koordinator. Dari luar Jawa dan Madura hadir juga wakil-wakil pemuda dari Kalimantan, Sumatra, Sulawesi, Bali, Sumbawa dan juga wakil?
dari Perjuangan Pemuda Irian.
Kongres Pemuda Indonesia ke-IV ini membuka suatu lembaran baru dalam sejarah perjuangan pemuda Indonesia, khusus dilihat dari segi pengorganisasiannya. Untuk pertama kali dipersoalkan masalah penyederhanaan organisasi pemuda — yang gagasannya dituangkan dalam bentuk prasaran Moh. Isnaeni dari Pemuda Demokrat Indonesia. Suatu masalah yang amat mendesak, mengingat adanya ber-puluh-puluh organisasi pemuda lokal dan berpusat dan kurang lebih 15 badan-badan federasi organisasi
Aspek baru-lain lagi, adalah pembahasan suatu program kegiatan pemuda berdasarkan faktor-faktor obyektif dan konkrit didalam dan diluar negeri. Masalah tersebut erat sangkut-pautnya dengan dasar perjuangan
214
=== [PDF page 215] ===
pemuda, yang menjadi sorotan didalam kongrcs. Prasaran-prasaran mengenai kedua masalah terakhir ini diberikan oleh masing-masing Ir. Setiadi dari Pesindo dan Moh. Dahlan dari P.P.M.I. -
Penyederhanaan Organisasi
Pikiran-pikiran yang dikemukakan pemrasaran Moh. Isnaeni meliputi tiga pokok soal, yalah: 1. Arti gerakan pemuda. 2. Batas umur.
3. Kedudukan gerakan pemuda dalam masyarakat.
Mengenai arti gerakan pemuda dikemukakan terlebih dahulu pembagian-pembagian organisasi-organisasi pemuda menurut sifatnya, yalah politik, religieus, dan sosial kulturil. Dalam hubungan ini disinggung juga soal hubungan dengan partai-partai, apakah merupakan bagian atau terlepas samasekali.
Mengenai batas umur pemrasaran berpendapat bahwa perlu diadakan pembatasan umur bagi anggota-anggota organisasi pemuda, berdasarkan faktor-faktor psikologis dan sosiologis.
Kemudian mengenai kedudukan gerakan pemuda dikemukakan bahwa disamping “gerakan pemuda merupakan pelopor dan pendorong segala gerak aksi dalam masyarakat”, maka gerakan pemuda merupakan juga "taman pendidikan dan alam pendidikan ketiga didalam masyarakat disamping rumah, sekolah dan keluarga”.
Berdasarkan unsur-unsur tersebut diatas, perlu diadakan penggolongan menurut alirar-aliran sehingga organisasi pemuda yang azas dan tujuan sama atau hampir bersamaan, sebaiknya mengadakan peleburan, supaya merupakan satu organisasi yang masal dan kuat. Dengan demikian, menurut pemrasaran akan tercapai penyederhanaan susunan organisasi pemuda. -
Mengenai persoalan badan ikatan bagi organisasi-organisasi pemuda, Isnaeni menyarankan agar badan ikatan demikian didasarkan atas soal?
yang merupakan kepentingan bersama tiap-tiap gerakan pemuda. Pemuda yalah pelaksanaan dan realisasi Proklamasi 17 Agustus 1945.
“Tentang ”Program”
Setiadi dalam prasarannya tentang ” Program” berpendapat bahwa anakan kongres dan pemudanya menghadapi kedudukan yang jauh terbelakang pada keadaan ditahun 1945. Tidak laku lagi, tidak ada tempat lagi, ada kalanya kehilangan obyek. Habis manis sepah terapung Kanaunaan dan tidak acuh, orang menyelamatkan diri”. "Apa sebabnya”, bertanya pemrasaran, yang dijawabnya sendiri: ”Bukan karena perjuangan rakyat Indonesia telah selesai atau tiada pekerjaan yang dibutuh-
215
=== [PDF page 216] ===
kan. Melainkan justru karena perjuangan terlalu tiada arah. Bahaya besar harus kita ccgah disini terbawanya pemuda kepada suasana apathie (masa bodoh) tidak mau susah-susah. Semua itu anasir-anasir yang menerjunkan kita kepada anarsisme yang merusak sekali”.
Selanjutnya dibentangkan bagaimana dalam keadaan dan suasana demikian, kebudayaan imperialis memainkan peranannya "......... suatu kebudayaan yang meracuni jiwa pejuang dari rakyat dan pemuda Indonesia, yang membawa fikiran-fikiran dan perhatian mereka itu ke hal-hal melamun, khayal dan moreel ideologi rusak.
Adalah suatu kenyataan”, demikian Setiadi, bahwa kebudayaan Amerika bagian yang terjelek, kebudayaan paha dan pantat paling
Dahlan Ranuwiharja telanjang, merajalela dan merusak hati fikir-
Ketua umum PPMI an pemuda kita secara besar?'an dewasa ini.”
| Oleh pemrasaran dianjurkan agar pemuda Indonesia menentang dengan aksi-aksi dan demontrasi setiap usaha pemecah-belah, termasuk Irian Barat dari wilayah Indonesia, intrikintrik imperialisme melalui ”R.M.S.” (Republik Maluku Selatan), ”T.LN.” (Negara Indonesia Timur) dlsb.-nya.
Aksi-aksi solidaritet dengan perjuangan kemerdekaan nasional pemuda dan rakyat dinegeri-negeri jajahan dan setengah jajahan, begitu juga aktivitas-aktivitas yang perlu mendapat perhatian yang seksama dari kongres dan pemimpin-pemimpin pemuda.
Mencegah merajalelanya kebudayaan imperialis di Indonesia,
. tuntutan segera dibebaskanmya pemuda dan rakyat Indonesia dari penjara/konsentrasi kamp Belanda, kelonggaran-kelonggaran hak-hak demokrasi dan pendemokrasian pengangkatan-pengangkatan pada jabatan?
Pemerintah adalah soal-soal yang wajib diperbincangkan pemuda
Indonesia.
Dibawah judul Republik kita harus mempunyai arti bagi Rakyat”, Setiadi, selanjutnya mengemukakan pikiran-pikiran dalam rangka program usaha jangka panjang.
Dalam hubungan ini pemrasaran menganggap sebagai yang utama, yalah "Perluasan Pelajaran bagi Rakyat”. Menurut Setiadi tidak benarlah baik politis, sosiologis maupun ekonomis, apabila kebutuhan ini harus dikalahkan oleh "kekurangan begroting”. Sebagai kedua, dikemukakan usaha-usaha untuk memajukan kesehatan rakyat.
218
=== [PDF page 217] ===
Dasar Perjuangan Pemuda
Pokok-pokok fikiran yang dikemukakan pemrasaran Moch. Dakhlan sekitar masalah ini, adalah sbb.:
1. Dengan menunjukkan kepada Manifes Pemuda yang dilahirkan oleh Konperensi Pemuda Seluruh Indonesia di Yogyakarta, pemrasaran terutama menekankan kepada Proklamasi 17 Agustus 1945 sebagai dasar perjuangan pemuda.
2. Negara Kesatuan Republik Indonesia (termasuk Irian Barat)
berdasarkan Pancasila adalah dasar lain yang oleh pemrasaran dianggap perlu untuk dijadikan dasar perjuangan pemuda.
3. Sebagai dasar kerja-sama organisasi pemuda, pemrasaran menganjurkan untuk memegang teguh prinsip" "Sumpah Pemuda”.
Keputusan-keputusan Kongres
Persoalan-persoalan yang dibawa peserta-peserta didalam kongres, menggambarkan bahwa semangat anti-imperialis tetap menjiwai tekad bulat pemuda Indonesia untuk melanjutkan mengisi Kemerdekaan Indonesia Proklamasi tahun 1945. Kongres sendiri adalah manifestasi dari pada kebutuhan obyektif gerakan pemuda untuk bersatu. Pertentangan?
dan bentrokan-bentrokan antara gagasan satu dan lainnya, yang timbul selama kongres, pada umumnya menyangkut cara-cara perjuangan, dan tak dapat dihindarkan. Kongres Pemuda Indonesia ke-IV yang diadakan setelah gerakan pemuda mengalami masa tenggelamnya, terbentur kepada batu-karang peristiwa-peristiwa nasional yang berat dan tragis, mempunyai arti yang penting karena ia langkah pertama kearah penemuan kembali kepribadiannya sendiri. Kepribadiannya sebagai pemuda yang berjiwa revolusioner, patriotik, anti-imperialis dan anti-kolonialis, dan sebagai gerakan tak dapat dipisahkan dari gerakan rakyat Indonesia umumnya.
Keputusan-keputusan kongres sccara wajar mencerminkan persoalan-persoalan yang dibawa para anggota didalam kongres.
“Sebagai mukadimah kepada keputusan-keputusan kongres mengenai Program, kongres melahirkan pernyataan sbb.:
”Karena hasrat menggalang persatuan Indonesia guna menyusun kebulatan tekad tenaga dan fikiran untuk melanjutkan perjuangan bangsa, Kongres Pemuda Seluruh Indonesia di Surabaya pada tanggal 8 — 14 Juni 1950, menyatakan tetap berpegangan teguh pada Manifes Pemuda yang diputuskan dalam Konperensi Pemuda Seluruh Indonesia
217
=== [PDF page 218] ===
di Yogyakarta pada tanggal 14 — 18 Agustus 1949 dan memakai Manifes itu sebagai dasar kerjasama dan untuk menyempurnakan Manifes itu menegaskan sbb.:
1. Dasar Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 berarti sikap menentang segala sesuatu yang bersifat kolonial feodalistis, fasistis dan imperialistis, dalam segala bentuk.
2. Negara berdasarkan Pancasila, yang menjadi tujuan kita, berarti Negara yang melaksanakan demokrasi politik, demokrasi ekonomi dan demokrasi sosial. —
5. Dasar Proklamasi berarti tuntutan agar pokok-pokok dari Undang?
Dasar Republik Indonesia dilaksanakan, diantaranya pasal 27, 28 dan 33.
Program disamping meliputi usaha-usaha untuk Pemuda Buruh.
Pemuda Tani, Pemuda Pelajar dan Pemuda Tentara, menyangkut juga bidang politik, hak-hak azasi rakyat, kebudayaan dan ekonomi.
Pendidikan bagi pemuda buruh dan pemuda tani, dihubungkannya pengajaran dengan proses produksi dan masyarakat, merupakan tuntutan-tuntutan yang sampai maju, mengingat tingkat dan keadaan pemuda Indonesia pada waktu itu.
Keputusan-keputusan dalam bidang penarikan tentara asing dari wilayah Indonesia, sepenuhnya sesuai dengan kebutuhan-kebutuhan politik yang obyektif.
Pendirian kongres bahwa penyelenggaraan pemilihan umum, penghapusan pemerintahan militer menurut keadaan setempat dan pendemokrasian pemerintahan adalah syarat-syarat mutlak bagi perkembangan demokrasi secara wajar di Indonesia, membuktikan pengertian yang dalam para peserta kongres terhadap hak-hak azasi rakyat.
Tekad pemuda untuk ”mempelopori” tersusunnya ”kebudayaan nasional” dan untuk "mengambil bagian yang aktif dalam pembrantasan buta huruf” (setiap anggota organisasi pemuda membantu 5 orang yang — buta huruf selama 4 bulan sampai ia dapat membaca dan menulis) — adalah tanda kearah penyesuaian yang lebih wajar dari gerakan pemuda dengan kepentingan-kepentingan pemuda khususnya dalam bidang pendidikan dan kebudayaan.
Disamping keputusan-keputusan tersebut diatas, kongres juga menghasilkan 3 buah resolusi dan 4 buah mosi.
Pemuda menuntut peleburan daerah-daerah Sumatra Timur, Indonesia Timur dan Kalimantan Barat kedalam Republik Indonesia dan "tidak bertanggung-jawab atas keamanan dan ekses-ekses yang mungkin
218
NT an
eel ee
Te ne ce
=== [PDF page 219] ===
Rapat Raksasa Pembubaran Negara Jawa Timur — di Tambaksari Surabaya pada bulan Pebruari 1949.
timbul apabila tuntutan Kongres Pemuda tsb., tidak segera dilakukan”.
Kongres menyokong Seruan Komite Perdamaian Dunia.
Karena masih banyak tawanan-tawanan politik dan perang yang meringkuk dalam penjara Belanda, kongres mendesak Pemerintah agar membentuk suatu Komisi untuk khusus menyelidiki kejadian-kejadian tersebut.
Mengenai bentuk kerjasama, kongres memutuskan membentuk Badan Ikatan dengan nama Front Pemuda Indonesia. Demikianlah keputusan-keputusan Kongres Pemuda Indonesia ke-IV.
Dengan berakhirnya Kongres Pemuda Indonesia ke-IV yang diselenggarakan dari tanggal 8 — 15 Juni 1950, maka berakhirlah suatu periode dalam gerakan pemuda yang meliputi masa antara Proklamasi Kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945 sampai dengan masa K.M.B., akhir tahun 1949 awal tahun 1950, suatu periode dari revolusi fisik, dimana gerakan pemuda mengalami percobaan-percobaan fisik dan mental yang berat. Ia bagaikan laksana pohon bambu yang indah tuwes-langsing, tetapi kuat dan tak terpatahkan. Ia dapat dihantam badai dan taufan sampai tunduk memeluk bumi karena pukulan yang bertubitubi, tetapi ia tidak patah, ia tak takluk. Habis taufan, tegap ia berdiri kembali dan ia tetap mengabdi kepada Amanat Penderitaan Rakyat, kepada hari kemudian nusa, bangsa dan tanah air.
219
Digitized by Goog le
=== [PDF page 220] ===
PERANAN PEMUDA DALAM MEMBUBARKAN
NEGARA-NEGARA BONEKA
Dalam menghadapi kenyataan adanya negara boneka buatan kolonialis Belanda, Pemuda Indonesia dengan setia kepada Sumpah Pemuda tahun 1928 dan Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Agustus 1945, serta sesuai dengan putusan Kongres Pemuda bertekad untuk membubarkannya. Segera setelah terjadi apa yang dinamakan ”penyerahan kedaulatan”, pemuda Indonesia tak menyia-nyiakan waktu untuk melakukan aksinya. Pemuda-pemuda se-Jawa Timur, Surabaya khususnya, di Medan, di Sumatra Selatan dil. melakukan berbagai aksi untuk membubarkan negara boneka itu.
Di Jawa Timur, Surabaya khususnya aksi massa, termasuk pemudanya, sudah berlangsung sejak akhir tahun 1949. Ini dapat dilihat dari tuntutan berbagai golongan untuk membubarkan "Negara Jawa Timur”
.kuatan van der Plas dengan apa yang disebut "wali negaranya” R.T.P.
Achmad Kusumonegoro. Tuntutan dan resolusi-resolusi berturut-turut datang dari: P.N.I. Cabang Surabaya pada tanggal 1 Desember 1949;
Persatuan Kaum Buruh Pasuruan pada tanggal 5 Desember 1949: Front Pemuda Jember, Front Pemuda Situbondo dan Serekat Buruh Kereta Api Cabang Malang pada tanggal 11 Desember 1949: wakil rakyat Malang pada tanggal 15 Desember 1949: Gerakan Kedaulatan Rakyat Batu pada tanggal 17 Desember 1949 s Rukun Wanita Indonesia Pasuruan pada tanggal 18 Desember 1949: Konperensi Kilat Front Nasional Pemuda pada tanggal 19 Desember 1949: Serikat Sekerja Kecamatan Seluruh Distrik Gresik pada tanggal 23 Desember 1949: Serekat Buruh Jawatan Pekerjaan Umum Bondowoso, Jember, Tanggul, Lumajang, Kraksaan pada tanggal 25 Desember 1949: Rakyat Karang Ploso pada tanggal 28 Desember 1949 ) Rakyat Mojokerto pada tanggal 29 Desember 1949, Pegawai Kepenghuluan Kabupaten Mojokerto pada tanggal 30 Desember 1949 Rakyat Sidoharjo pada tanggal 3 Januari 1950 5 Rakyat Gunung Kendeng pada tanggal 6 Januari 1950 Persatuan Penghulu dan Pegawai Jawa Timur pada tanggal 7 Januari 1950 5 Persatuan Rakyat Jawa Timur pada tanggal 8 Januari 1950, Rakyat Pasuruan pada tanggal 9 Januari 1950: Rakyat Sidoharjo pada tanggal 13 Januari 1950.
Sebagai puncak dari aksi-aksi rakyat dan pemuda Jawa Timur diadakan aksi rapat raksasa dan demonstrasi yang diselenggarakan oleh berbagai pemuda di Surabaya seperti GERPRI, Ikatan Pemuda Bekas Tawanan, Pemuda Maluku dan lain-lain dan yang didukung oleh semua
220
mam mama mapan
TR aa aa LA Fn ea aa San aan M no Hn NN».
ME ne SE TT en A ee A —s~
=== [PDF page 221] ===
organisasi massa revolusioner. Setelah melalui berbagai pertemuan, rapat, dan diskusi, organisasi pemuda mendapatkan kebulatan bahwa tuntutan pembubaran negara boneka ”Jawa Timur” harus lebih digelorakan dengan mengadakan rapat-rapat raksasa dan demonstrasi-demonstrasi.
Rapat raksasa ini diselenggarakan pada awal bulan Februari 1950 dilapangan Tambaksari dan dihadiri oleh tidak kurang dari 250.000 orang. Pembicara utama dalam rapat ini ialah pemuda Semaun ketua Ikatan Bekas Tawanan, yang dalam pidatonya menyerukan semboyan ”Merdeka dengan jawaban Bulat!”. Dalam pidatonya dituntut supaya negara boneka ”Jawa Timur” bubar, dan Jawa Timur masuk langsung menjadi propinsi Negara Kesatuan Republik Indonesia. Juga dituntut agar semua wakil-wakil Jawa Timur dalam Parlemen R.I.S. ditarik, karena mereka adalah pilihan Belanda. Rapat raksasa ini diakhiri dengan demonstrasi menuju kerumah bekas kediaman "wali negara”
”Negara Jawa Timur”, untuk menyampaikan resolusi, tetapi penghuninya sudah meninggalkan tempat itu sebelumnya. Rakyat makin marah hingga perabot dalam rumah sebagian dirusak. Aksi yang sama juga berlangsung di Jember, dalam mana pembicara utamanya adalah Sajimo, wakil ketua Ikatan Pemuda Bekas Tawanan, yang kemudian ditahan selama satu 'bulan. Setelah protes-protes dilancarkan oleh berbagai organisasi pemuda, Sajimo dibebaskan.
Aksi-aksi ini juga mendapatkan rintangan pembela federalis dan bahkan dari sementara alat-alat kekuasaan Republik Indonesia sendiri.
Walaupun demikian, demi perjuangan rakyat yang gigih itu negara boneka Jawa Timur pada tanggal 25 Februari 1950 dibubarkan dan menjadi bagian dari daerah Republik Indonesia. |
Aksi rakyat dan pemuda yang sama juga berlangsung di Sumatra Timur untuk menuntut pembubaran negara boneka "Sumatra Timur”
yang dikepalai oleh apa yang dinamakan ”wali negara”nya Dr. Mansur.
Konferensi Pemuda Sumatra Timur yang dilangsungkan di Medan pada tanggal 26, 27 dan 28 Desember 1949 memutuskan untuk menuntut agar negara boneka "Sumatra Timur” dibubarkan dan kekuasaan Pemerintah Republik Indonesia dikembalikan di Sumatra Timur. Front Nasional Sumatra Timur dalam konferensinya pada tanggal 21 dan 22 Januari 1950 menyetujui resolusi menuntut dibubarkannya ”negara Sumatra Timur”. Resolusi ini komudian pada tanggal 11 Maret 1950 didukung oleh partai politik dan organisasi massa yang ada di Sumatra Timur.
Dalam kota Medan yaitu di Tanah Karo, Sumatra Tengah, Sumatra Timur Selatan, Langkat dan di Deli didirikan suatu gerakan yang diberi nama ”Aksi Tuntutan Rakyat?” dalam mana pemuda ikut serta aktif
221
=== [PDF page 222] ===
didalamnya. Pada tanggal 30 dan 31 Januari 1950 Aksi Tuntutan Rakyat di Pancur Batu mengadakan demonstrasi bersama dengan rakyat Tanah Karo sebanyak 85.000 orang pada tanggal 14, 15, 16, 17 Februari 1950 menuju ke Medan dengan membawa tuntutan yang sama. Penangkapan yang dilakukan oleh alat-alat negara Sumatra Timur tak juga mengendorkan semangat dan aksi rakyat bahkan makin meningkatkan keberanian rakyat termasuk pemudanya. Pada tanggal 16 Februari 1950 Aksi Tuntutan Rakyat Asahan Selatan dan Labuhan Ratu menyatakan tidak mengakui "Negara Sumatra Timur” dan hanya mematuhi Republik Indonesia. Achirnya suatu pernyataan yang bulat telah diambil dalam suatu Kongres Rakyat se-Sumatra Timur yang menuntut dibubarkan ”Negara Sumatra Timur” dan agar kekuasaan Republik Indonesia ditegakkan. Sebagai hasil dari perjuangan rakyat termasuk pemudanya di Sumatra Timur negara boneka "Sumatra Timur” menyerahkan kekuasaannya kepada pemerintah R.I.S. dan dengan demikian makin memudahkan melikwidasi negara boneka itu.
Aksi yang sama yang menyatakan tekad pemuda untuk melikwidasi negara-negara boneka van Mook terjadi dimana saja ada negara boneka itu dengan berbagai bentuk, cara dan jalan sesuai dengan keadaan
organisasi rakyat dan pemuda didaerah itu. Dan berkat perjuangan:
rakyat serta pemudanya yang tegas dan ulet pada tanggal 17 Agustus 1950, tepat pada hari peringatan 5 tahun Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, berkumandanglah suara Presiden Sukarno dari dalam gedung Dewan Perwakilan Rakyat, dijalan Dr Wahidin — Jakarta yang menyatakan pembubaran negara Republik Indonesia Serikat hasil K.M.B., dan dinyatakan berdirilah Negara Kesatuan Republik Indonesia. Ini adalah kemenangan pertama rakyat Indonesia termasuk pemudanya terhadap politik kompromi yang khianat. Suatu kemenangan yang akan disusul dengan kemenangan lainnya, asalkan pemuda tetap setia pada cita-citanya, tetap teguh ulet dalam melanjutkan perjuangan untuk mencapai Negara Kesatuan Republik Indonesia yang Merdeka Penuh, dan Demokratis.:
222
=== [PDF page 223] ===
PERIODE—V
PEMUDA INDONESIA BERJUANG
UNTUK
MENGKONSOLIDASI REPUBLIK INDONESIA
DAN DEMOKRASI
=== [PDF page 224] ===
[Blank page]
=== [PDF page 225] ===
INDONESIA MENJADI NEGERI YANG BELUM
MERDEKA PENUH
Proklamasi Kemerdekaan Indonesia Agustus 1945 yang terus diikuti dengan pembentukan pemerintahan Republik Indonesia, perlucutan senjata terhadap Jepang dan perlawanan terhadap agresi, serta diubahnya perusahaan asing menjadi milik Republik Indonesia, menandakan Indonesia menjadi suatu negeri yang merdeka penuh. Tetapi dengan surutnya gelombang revolusi untuk sementara yang disebabkan berbagai faktor sebagaimana sudah diterangkan didepan, terutama karena adanya perjanjian yang kompromis K.M.B., maka Indonesia berubah menjadi negeri yang belum merdeka penuh. Dengan diikat oleh perjanjian K.M.B., kabinet-kabinet yang menyusul silih-berganti tidak bisa tidak ter- Giri dari orang-orang yang sama sekali reaksioner. Perusahaan yang telah dimiliki pemerintah Indonesia harus dikembalikan kepada kaum kapitalis monopoli. Sebagian wilayah Indonesia yaitu Irian Barat tetap diduduki Belanda, dan Indonesia terikat dengan berbagai perjanjian yang dibuat kolonialis Belanda, sehingga pengaruh politik, ekonomi dan kebudayaan Belanda masih besar terhadap Indonesia. Sebagian besar tanah garapan kaum tani masih dikuasai oleh tuan tanah.
Akibat-akibat fatal dari K.M.B. juga tercermin dalam gerakan pemuda Indonesia. Ini terbukti: pertama, dengan kemunduran dalam.
persatuan didalam gerakan pemuda, kedua, timbulnya gejala umum yang mementingkan kedudukan golongan-golongan, klik-klik, atau perseorangan dari pada kepentingan-kepentingan revolusi: ketiga, timbulnya gerakan yang menyalah-gunakan sentimen-sentimen kesukuan dan kedaerahan yang kemudian menjadi gerakan separatis.
Keadaan ini menunjukkan bahwa ”Kewajiban-kewajiban Revolusi Indonesia ialah untuk membentuk suatu Republik kesatuan yang demokratis dimana Irian Barat juga termasuk didalamnya, dimana Kedaulatan ada ditangan rakyat dan dilakukan sepenuhnya oleh Majelis Permusyawaratan Rakyat (U.U.D. '45 fasal 1 ayat 2) dimana hak-hak azasi warga negara dijunjung tinggi dan membentuk masyarakat adil dan makmur, cinta damai dan bersahabat dengan semua negara didunia baru”, masih belum sepenuhnya tercapai. Keadaan ini meletakkan tugas kepada rakyat Indonesia dan pemuda Indonesia untuk melanjutkan
'«diarah Perjuangan 18 | 225
=== [PDF page 226] ===
perjuangan guna mencapai tujuan sebagaimana yang dicita-citakan semula. Perjuangan untuk membatalkan KMB menjadi tugas yang paling pokok bagi rakyat dan pemuda Indonesia dan menentukan sifat dan arah dari gerakan rakyat dan gerakan pemuda Indonesia.
Kecuali peristiwa nasional ini, perjuangan rakyat dan pemuda Indonesia juga ditentukan oleh syarat dan peristiwa-peristiwa internasional yang terjadi pada waktu ini. Suatu gejala internasionl yang penting pada masa ini ialah bahwa setelah selesainya Perang Dunia ke-II negeri imperialis tidak menghentikan industri perangnya, yang tetap dapat menjamin keuntungan yang tinggi bagi kaum monopoli industri senjata.
Negeri imperialis terus membuat ketegangan dalam hubungan internasional, berdaya upaya dan menciptakan berbagai keadaan untuk menimbulkan perang baru baik yang bersifat lokal maupun seluruh dunia. Umat manusia yang telah jemu menghadapi perang imperialis bangkit berjuang untuk menentang peperangan, menuntut perdamaian dunia, dan hidup bersahabat dengan rakyat berbagai negeri. Karena itu juga menjadi kewajiban rakyat dan pemuda Indonesia untuk ikut serta dalam perjuangan menentang bahaya perang yang dilancarkan kaum imperialis. Perjuangan untuk kemerdekaan nasional yang penuh tak dapat dipisahkan dengan perjuangan untuk membela perdamaian dunia.
Perjuangan untuk mencapai Indonesia yang merdeka penuh dan demokratis dalam tahun-tahun berikutnya juga telah mencapai hasil?
tertentu. Pada tahun 1955 dan 1956 pemerintah mengadakan pemilihan umum, rnasing-masing untuk D.P.R. dan Konstituante, yang adalah juga merupakan hasil perjuangan ini. KMB yang terkutuk itu, pada tahun 1956 secara formil dibatalkan oleh pemerintah Indonesia. Pada tahun 1957 juga diadakan pemilihan umum untuk DPRD-dprd dan dalam tahun itu juga Presiden Sukarno mencetuskan suatu gagasan untuk membentuk pemerintahan Gotong-Royong, yang terkenal dengan Konsepsi Presiden. Hasil tertentu dari perjuangan rakyat dan pemuda ini sangat tidak menguntungkan kaum imperialis dan agen-agennya. Mereka membentuk apa yang dinamakan dewan-dewan didaerah-daerah dengan menggunakan berbagai semboyan palsu tentang pembangunan daerah-daerah dll.
dan akhirnya memperlihatkan wajah jahat sebenarnya dengan memberontak terhadap kekuasaan yang sah Republik Indoncsia.
Peristiwa penting yang juga merupakan hasil perjuangan rakyat Gan pemuda Indonesia yang ikut mempengaruhi sifat perjuangan pemuda ialah diumumkannya Dekrit Presiden untuk kembali ke U.U.D. '45 pada tanggal 5 Juli 1959: pidato Presiden yang berjudul: Penemuan Kembali Revolusi Kita (Manipol), Jarek dan pidato-pidato lainnya yang
226
=== [PDF page 227] ===
disyahkan oleh lembaga kenegaraan kita yang tertinggi, M.P.R.S.: juga berbagai usaha dan gerakan, dan prinsip-prinsip pendidikan yang dilancarkan oleh pemerintah (Departemen P.D.
& K.) yang dilandaskan pada orientasi baru yang sesuai dengan semangat Manipol yaitu,,Pancawardana” mempunyai arti yang penting bagi gerakan pemuda, pelajar dan mahasiswa untuk
kepentingan penyelesaian revolusi.
Kesemuanya ini, dan kenyataan selanjutnya - juga, membuktikan bahwa perjuangan rakyat Slamet Sumari Cokro- — dan pemuda Indonesia selalu maju, berkem- Mardoio, Ketua, Umum bang dan selalu mendapatkan hasilnya setapak “ee demi setapak dan memberikan keyakinan akan
hari depan bagi kemenangannya.
— KEADAAN ORGANISASI PEMUDA PADA
PERMULAAN PERIODE INI
Dalam permulaan periode ini sangat dirasakan pengaruh kegagalan revolusi Agustus 1945 dalam kalangan organisasi pemuda. Perpecahan nasional akibat dari politik adu domba yang dijalankan oleh kaum imperialis dan yang dibantu oleh kaum reaksioner dalam negeri juga tercermin dalam organisasi pemuda. Organisasi pemuda terpecah menjadi berpuluh-puluh baik yang mempunyai pimpinan pusat maupun yang hanya bersifat lokal. Perpecahan dan timbulnya berbagai organisasi pemuda ini juga disebabkan karena akibat perang agresi kolonial Belanda, sehingga ”putusnya” hubungan dalam waktu sementara antara satu daerah dengan daerah lain sehingga terasa perlunya bagi pemuda diberbagai daerah untuk membentuk organisasinya sendiri yang bersifat lokal sebagai alat untuk meneruskan perjuangannya.
Organisasi pemuda baik yang mempunyai pimpinan pusat maupun yang bersifat lokal hingga pada akhir tahun 1950 dan awal 1951 adalah sebagai berikut:
Yang mempunyai pucuk pimpinan:
“1. A.P.P.I. (Angkatan Pemuda Pembangunan Indonesia) dengan pengurus pusatnya berkedudukan di Yogyakarta.
2. ACOMA (Angkatan Comunist Muda) yang berkedudukan di Solo.
. 227
=== [PDF page 228] ===
11.
12.
13.
14.
15.
16.
17.
18.
19.
20.
21.
22.
. I.P.P.I. (Ikatan Pemuda Pelajar Indone-
. LP.B.T. (Ikatan Pemuda Bekas Tawanan)
- M.K.I. (Muda Katholik Indonesia) ber-
. Pesindo (Pemuda Sosialis Indonesia) ber-
GERPRI (Gerakan Pemuda Republik Indonesia) berpusat di Surabaya.
G.P.I.I. (Gerakan Pemuda Islam Indonesia) berpusat di Yogyakarta.
Gerakan Pembela Proklamasi.
sia) berpusat di Yogyakarta..
berpusat di Surabaya.
K.P.N.I. (Kesatuan Pemuda Nasional Indonesia) berpusat di Den Pasar (Bali).
pusat di Yogyakarta.
Ahmada Chamid bekas
ketua Umum P.P. Geusat di.
p i Solo rakan Pemuda Ansor
Pemuda Demokrat Indonesia berpusat.
di Yogyakarta.
P.P.I. (Pemuda Putri Indonesia) berpusat di Yogyakarta.
P.P.K.I. (Persatuan Pemuda Kristen Indonesia) berpusat di Yogyakarta.
Pemuda Tani Indonesia berpusat di Yogyakarta.
P.I.I. (Pelajar Islam Indonesia) berpusat di Yogyakarta.
P.P.T.S. (Persatuan Pemuda Taman Siswa) berpusat di Kediri.
PERSIM (Pemuda Islam Indonesia Maluku) berpusat di Yogyakarta.
Pemuda Muslimin Indonesia, berpusat di Surakarta.
P.R.R.I. (Pemuda Republik Rakyat Indonesia) berpusat di Surabaya.
Persatuan Bekas Tawanan Pemuda (Pelebur dari P.P.R.I., G.R.I.M, P.R.I.) berpusat di Jakarta.
PERBETA pelebur dari GERPINDO berpusat di Jakarta.
Pemuda Indonesia Progresif berpusat di Medan.
Organisasi Pemuda didaerah-daerah:
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
G.P.I. (Gerakan Pemuda Indonesia), Palembang.
Pemuda Tanah Air Sumatra Selatan, Palembang.
G.P.R.I. (Gerakan Pemuda Republik Indonesia), Lombok.
PERPRI (Persatuan Pemuda Indonesia), Semarang.
C.M.B. (Consentrasi Mahasiswa Bandung), Bandung.
C.M.B. (Consentrasi Mahasiswa Bogor), Bogor.
P.P.R. (Persatuan Pemuda Rakyat), Jakarta.
H.M.D. (Himpunan Mahasiswa Jakarta), Jakarta.
228
=== [PDF page 229] ===
31. C.M. (Corp Mahasiswa), Yogyakarta.
32. T.R.LP. (Jawa Timur).
33. Angkatan Muda Pecinta Kemajuan, Tapanuli.,
34. Perhimpuanan Suhu Mena, Malang.
35. K.P.R.I. (Kesatuan Pemuda Republik Indonesia), Cirebon.
36. H.P.LI. (Himpunan Putra Islam Indonesia), Malang.
Kecuali adanya berbagai organisasi pemuda ini, juga ada berbagai badan kerjasama anta- — Sarwoko Salah seorang ra berbagai organisasi pemuda itu. Badan-badan tokoh P ersatuan Pemu- Kontak organisasi ini adalah sbb.: da Kristen Indonesia
SUMATRA:
1. Front Pemuda Indonesia Sumatra Utara, Sibolga.
2. Front Pemuda Indonesia Sumatra Selatan, Palembang.
KALIMANTAN:
3. Front Pemuda Perjuangan Kalimantan Barat, Pontianak.
4. Badan Kontak Pemuda Samarinda, Samarinda.
5. GAPIKA (Gabungan Pemuda Indonsia Kalimantan) Banjarmasin.
SULAWESI:.
6. Front Pemuda Makasar, Makasar.
JAWA TIMUR:
7. Front Nasional Pemuda Jawa Timur, Surabaya.
8. Front Pemuda Daerah Malang, Malang.
9. Contak Biro Pemuda Madiun, Madiun.
10. Front Nasional Pemuda, Madura.
11. Front Nasional Pemuda, Besuki.
12. Front Nasional Pemuda Sidoarjo, Sidoarjo.
13. Organisasi-organisasi Pemuda Ngawi, Ngawi.
14. Badan Koordinasi Daerah Kediri, Kediri.
JAWA TENGAH:.
15. Badan Koordinasi Pemuda Semarang, Semarang.
16. Front Nasional Pemuda Pusat Yogyakarta.
JAWA BARAT:
17. Front Nasional Pemuda Jakarta.
18, Badan Kontak Pemuda Indonesia Jakarta, Jakarta,
m2 25 EL nama lh
229
=== [PDF page 230] ===
19. Badan Penghubung Organisasi Pemuda Bandung, Bandung.
20. Badan Kontak Pemuda Jawa Barat, Bandung.
21. Badan Kontak Pemuda Cianjur, Cianjur.
22. Badan Penghubung Pemuda Indonesia Cirebon, Cirebon.
Disamping Badan Kontak Organisasi pemuda ini, masih ada banyak lagi organisasi-organisasi pemuda dan badan kontaknya yang bersifat lokal lainnya.
Adanya organisasi-organisasi pemuda dan badan-badan kerja sama pemuda yang banyak jumlahnya, menghadapkan gerakan pemuda kepada masalah-masalah yang amat mendesak, yaitu soal penyederhanaan organisasi dan soal bentuk persatuan dan kerja sama pemuda yang paling bermanfaat. Pengalaman-pengalaman revolusi Agustus telah mem-
" berikan pelajaran yang pahit tetapi berharga kepada pemuda, bahwa hanya dengan semangat persatuan yang tinggi, segala rintangan kearah pembentukan persatuan dan kerja sama dikalangan pemuda, dapat dikalahkan. Juga makin dalamnya kesadaran, bahwa tugas-tugas revolusi Agustus belum selesai, mengharuskan pemuda untuk meninjau kembali tubuh gerakan dan organisasinya serta menyesuaikannya dengan tuntutan penyelesaian revolusi itu.
Sesuai dengan dinamika jiwa pemuda, jiwa yang selalu mencari pembaruan untuk menghadapi jamannya, maka tuntutan itupun juga dihadapi dengan kesegaran jiwa mudanya. Walaupun penyesuaian ini tidak berjalan dengan garis yang lempang, namun proses ini berlangsung dengan ukuran keticpatan yang tidak sama bagi setiap organisasi pemuda, sesuai dengan kesadaran politik serta syarat-syarat yang ada pada masingmasing organisasi pemuda.
Dalam keadaan demikian, pada pertengahan tahun 1951 dilangsungkan Festival Pemuda dan Pelajar Sedunia yang ke-III di Berlin, ibukota Republik Demokrasi Jerman. Persiapan pengiriman delegasi pemuda dan pelajar Indonesia ke festival ini mendorong berbagai organisasi pemuda. bartemu dan bekerjasama. Panitia Nasional yang dibentuk meliputi berbagai organisasi pemuda. Seruan Panitia Nasional kepada pemuda dan pelajar serta mahasiswa umumnya disambut dengan hangat.
Dengan melalui banyak kesulitan, Indonesia berhasil menyusun suatu delegasi yang terdiri dari 63 orang yang dipimpin oleh Baharudin dan Iskandar Subekti. Komposisi delegasi ini luas, meliputi seniman muda, pelajar/mahasiswa, pemuda berbagai organisasi agama, pemuda buruh, pemuda tani dan lain-lain. Diantara mereka terdapat pelukis terkenal
230
=== [PDF page 231] ===
Henk Ngantung, Hendra dan Sujono, pianis muda Sudharnoto, penyair muda Hadi dan pengarang Ashar. Demikian juga mahasiswa Ashar Munandar, Sutamiah dll. Dengan melalui laut, dan darat, dengan naik kapal dan kereta api, dengan mengelilingi dua benua — akhirnya, rombongan pemuda Indonesia yang dibagi tiga dan masing-masing dibawah pimpinan Iskandar Subekti, Semaun dan Kusnadi: tiba di Berlin. Tak ada gunung, betapa tinggi, tak ada jurang, betapa dalam, tak ada lautan, betapa luas, tak ada tujuan, betapa jauhpun, yang tak dapat diatasi dengan tekad dan persatuan pemuda untuk menyatakan cita-cita akan dunia yang merdeka dan berbahagia, bersih dari imperialisme dan kolonialisme, serta persahabatan antara bangsa-bangsa. Delegasi ini diperkuat dengan pemuda-pemuda dan mahasiswa-mahasiswa yang sedang belajar dinegeri Belanda dan Cekoslowakia, antara lain Sunito, Go Gien Cuan, Slamet Sukoco, Y.B. Ave, Gde Winaya, Bintang Suradi dll.-nya. Delegasi Indonesia ini adalah delegasi besar yang pertama yang dapat dikirimkan oleh Indonesia sejak adanya festivalfestival dan dengan demikian juga lebih memperkenalkan nama dan rakiat Indonesia yang selama ini seolah-olah terputus dengan dunia luar sebagai akibat dari berbagai blokade dan propaganda politik anti Indonesia yang dilakukan kolonialis Belanda.
Berbagai pertunjukan kesenian yang disajikan oleh delegasi pemuda Indonesia mendapat perhatian yang besar dari segenap delegasi pemuda lainnya yang ikut serta dalam festival. Terutama tari-tarian yang dipertunjukkan oleh Sunardi, pameran lukisan, terutama yang berjudul "merpati 20” yang dilukis oleh dua puluh pelukis muda terkenal menimbulkan rasa kagum dan hormat. Sebagai pernyataan solidaritas anti imperialis, diadakan pertemuan-pertemuan persahabatan antara delegasi pemuda Indonesia dan delegasi pemuda Belanda. Setelah selesai mengunjungi festival delegasi Indonesia berkunjung ke Republik Demokratik Jerman dan ke Uni Sovyet. Sebagian delegasi menghadiri perayaan ulang tahun berdirinya R.R.T. pada tanggal 1 Oktober 1951. Kunjungan-kunjungan ini semuanya makin memperdalam persahabatan dan setia kawan antara pemuda Indonesia dengan pemuda-pemuda berbagai negeri itu.
Dalam saat pemuda Indonesia didalam negeri sedang berusaha untuk menggalang kekuatannya kembali, dan diluar negeri mereka sedang hangat mengikuti festival untuk memperkuat persahabatan pemuda seluruh dunia dalam rangka perdiuangan melawan kolonialisme dan untuk perdamaian, kaum reaksi dalam negeri yang selalu dihinggapi ketakutan terhadap gerakan rakyat, melakukan tindakan yang nekad dengan apa yang dinamakan "Razia Agustus Sukiman”. Alasan yang provokatif
231
=== [PDF page 232] ===
Kenangan dari sebagian Delegasi yang akan berangkat ke Festival Pemuda dan Pelajar di Berlin (RDD) tahun 1951
”penyerbuan terhadap pos polisi di Tanjung Periok” yang diciptakannya sendiri, menjadi dalih kaum reaksioner yang bersarang pada kabinet Sukiman, bahwa peristiwa itu adalah suatu pertanda ”kup” atau 'pemberontakan komunis”. Banyak pemimpin rakyat, termasuk pemuda ditangkap dan dijebloskan dalam penjara. Juga banyak diantara anggota delegasi ke festival yang sudah kembali ketanah air, ditangkap dan dimasukkan kedalam penjara.
Tetapi dalam menghadapi mengamuknya reaksi Sukiman pemuda?
sudah lebih mempunyai pengalaman dari pada masa yang lalu. Kekuatan progresif dalam kalangan pemuda menyadari bahwa razia ini tidak lain dari pada usaha kaum imperialis AS dan kaum reaksioner dalam negeri untuk memenangkan perjanjian ”Persetujuan Saling Bantu Keamanan” atau ” Mutual Security Agreement” yang hendak ditanda tangani oleh pemerintah Sukiman dengan Amerika Serikat di San Francisco.
Perjanjian ini berarti usaha untuk menancapkan kekuasaan imperialis AS di Indonesia. Lapisan progresif dari rakyat dan pemuda Indonesia sadar akan bahaya perjanjian ini, dan sekaligus sadar akan jahatnya razia Agustus itu. Karenanya mereka bangkit melakukan perlawanan.
Aksi-aksi menentang razia berlangsung dimana-mana. Pemuda menuntut supaya mereka yang ditangkap segera dibebaskan, demikian juga wanita?
muda yang terdiri dari anak-anak, istri-istri, saudara-saudara dan kekasih mereka yang ditangkap, melakukan aksi dengan berbagai bentuknya, menuntut agar mereka yang ditangkap segera dibebaskan.
Achirnya kekuatan progresif mendapat kemenangan, para tahanan
232
=== [PDF page 233] ===
dilepaskan dan kabinet Sukiman terjungkir karena tindakannya yang reaksioner itu. Kabinet baru terbentuk yang dipimpin oleh Mr Wilopo, suatu kabinet yang agak maju, yang mencerminkan imbangan-imbangan kekuatan yang ada dalam masyarakat waktu itu. Dengan terbentuknya kabinet baru ini maka lapisan progresif dari rakyat dan pemuda Indonesia agak merasa lega, karena kemungkinan gerak untuk menyusun kekuatan agak terbuka. Kemungkinan gerak yang walaupun tidak besar digunakan oleh pemuda dengan sebaik-baiknya. Usaha untuk menyatukan dan mengkonsolidasi organisasi berlangsung, demikian juga usaha untuk melanjutkan perjuangan menentang segala akibat fatal dari K.M.B. yang menempatkan Indonesia menjadi suatu negeri yang belum merdeka penuh.
Usaha untuk mengkonsolidasi, menyatakan dan menyederhanakan organisasi pada tanggal 26 Desember 1952 di Jakarta diadakan konferensi-konferensi, diskusi gabungan dsb.-nya. Untuk mengkonsolidasi crganisasi pada tanggal 26 Desember 1952 di Jakarta diadakan Kongres ke-I Pemuda Rakyat. Dalam kongres ini juga diselenggarakan perlombaan olahraga dan kesenian yang diikuti oleh rombongan dari berbagai daerah kepulauan Indonesia. Kongres juga dihadiri oleh utusan?
pemuda dari luar negeri. Dari pihak pemerintah Perdana Menteri Wilopo memberikan harapannya agar kongres dapat menimbulkan inisiatif dan aktivitas dikalangan pemuda untuk masalah yang dihadapi, terutama Galam lapangan sosial ekonomi. Dari Menteri Perhubungan diperoleh bantuan reduksi kepada para peserta yang naik pengangkutan darat, laut dan udara. Kementerian Perburuhan memberikan bantuan dispensasi kepada buruh-buruh muda yang menjadi utusan ke kongres. Sedangkan dari Kementerian Pendidikan Pengajaran dan Kebudayaan kongres mendapatkan dukungan moril.
Dalam tahun ini juga pemuda-pemuda Kristen dengan maksud menggalang persatuan Pemuda Kristen Seluruh Indonesia dalam satu organisasi mengadakan rapat gabungan yang dihadiri oleh wakil-wakil Pengurus Harian Majelis Pemuda Kristen dan Dewan Pimpinan Persatuan Kristen Indonesia. Pertemuan telah berhasil membentuk suatu panitia, yaitu: ”Panitia Persiapan Kesatuan Pemuda Kristen Seluruh Indonesia”, yang pada bulan Juli 1952 telah dapat melangsungkan kongres fusi Pemuda Kristen Seluruh Indonesia. Resepsi pembukaan Kongres Kesatuan Pemuda Kristen Scluruh Indonesia mendapat kunjungan, antara lain dari Menteri Kesehatan Dr. Leimena, Wk. Ketua I ' Parlemen Mr Tambunan dll. Presiden Sukarno menganjurkan agar dalam perjuangan untuk mencapai cita-citanya pemuda mengutamakan
233
=== [PDF page 234] ===
keikhlasan, kejujuran, cita-cita, dan kesucian batin, Kongres berhasil melahirkan suatu organisasi pemuda Kristen seluruh Indonesia, yang bernama Persatuan Pemuda Kristen Indonesia.
Juga dalam tahun ini GPII mengadakan kongresnya yang ke-VI digedung Pertemuan Umum. Kongres mengesyahkan berbagai resolusi dalam dan luar negeri yang antara lain menuntut diperbaikinya masalah jemaah haji. Demikian juga kalangan mahasiswa tak ketinggalan dalam mencari jalan mempersatukan berbagai organisasi pemuda mahasiswa. Dalam tahun ini juga diadakan pertemuan yang diselenggarakan oleh Komite Mahasiswa Progresif dengan wakil mahasiswa dari berbagai fakultas. Dalam pertemuan ini diadakan diskusi, untuk meninjau keadaan organisasi mahasiswa yang ada serta mempelajari kemungkinan-kemungkinan untuk mendirikan “organisasi mahasiswa yang progresif”. Alasan untuk membentuk organisasi pemuda ini yalah bahwa dengan organisasi yang sudah ada hingga saat ini masih dirasakan kurangnya hubungan antara mahasiswa dengan rakyat. Pertemuan ini walaupun belum menghasilkan bentuk organisasi yang konkrit namun telah memainkan peranan untuk mendorong menyatukan, atau untuk mendorong majunya usaha berbagai organi,asi mahasiswa dalam kerja samanya.
—. Dengan dijiwai oleh putusan Kongres Pemuda di Surabaya dan atas usaha pemuda untuk menyatukan, menyederhanakan dan mencari kerjasama antara berbagai organisasi pemuda, maka lambat laun terwujud apa yang dikehendaki, walaupun itu berjalan sangat lambat pada permulaannya.
Sementara pemuda berusaha untuk menggalang kekuatan kembali, pemerintah c.g. Kementerian P.P. & K. Jawatan Pendidikan Masyarakat memberikan perhatiannya yang besar terhadap masalah pemuda dengan mendirikan Panti Pemuda. Rencana mendirikan Panti Pemuda ini sudah Cimulai sejak tahun 1949, tetapi jalannya tidak selancar yang diharapkan, karena berbagai kesulitan baik tekhmis maupun politis terutama karena keadaan organisasi pemuda sendiri pada tahun-tahun itu. Untuk lebih mengintensifkan Panti Pemuda ini, pada tanggal 11 Maret 1952 oleh Jawatan Pendidikan Masyarakat dilangsungkan pertemuan yang dipimpin oleh Suyano Atmo sekku kepala Bagian Pemudanya dengan organisasi-organisasi pemuda yang ada di Jakarta untuk meluaskan Panti Pemuda. Tujuan yang utama bagi Pemuda ialah menjadikannya tempat mempertahankan semangat perjuangan pemuda agar tidak melupakan cita-cita gerakannya dalam masyarakat. Panti Pemuda ini kemudian dapat meluas terutama dikota-kota Nusantara ‘kita. Usaha-usahanya antara Jain adalah mengadakan sekolah-sekolah, pertemuan-pertemuan,
234
=== [PDF page 235] ===
kegiatan olahraga, gerakan membentuk regu kerja bakti membantu kaum tani, memberantas buta huruf dll.
Panti pemuda mempunyai peranan tertentu dalam lebih memperbaiki kerjasama antar berbagai organisasi pemuda dan mempererat tali perkawanan antara pemuda pada umumnya. Perlu dicatat bahwa sebagai hasil dari gerakan revolusioner pemuda yang menjadi kekuatan ”social-support dan social-control” terha-. 1s eee dap pemerintah, Kementerian P.P. & K.
ee ee... membentuk Dewan Pertimbangan Pemu- (0 aa SI da pada tahun 1953 guna membantu pe- Suyono Atmo salah seorang tokoh — kerjaan Bagian Pemuda dari Kemente-
Pemuda rian P.P. & K. Jawatan Pendidikan Masyarakat. Dewan Pertimbangan Pemuda ini terdiri dari Mr Sukarjo, Praptinah, Waluyo, Amir Hamzah Nasution, Supardo, Bambang Singgih, Sukatno, Sarwoko, Sudirjasastradipura, Abadi, Yubar Ayub, Sumarjo, Bachtiar Said dan Tatang Machmud.
Sedangkan ketuanya pertama dijabat oleh Supardo SH, disusul kemudian Mr. Sukarjo, Waluyo dengan wakilnya Praptinah dan sckretarisnya Geno Susanto. Walaupun usia Dewan Pertimbangan Pemuda hanya singkat — yaitu setahun, namun Dewan ini juga telah memberikan sumbangannya yang tertentu dalam mendekatkan Pemerintah dengan pemuda terutama dalam memahami masalah-masalah pemuda serta pemecahannya.
Kemungkinan-kemungkinan gerak yang ada juga digunakan oleh pemuda-pemuda untuk meningkatkan solidaritas internasional. Rakyat dan pemuda Indonesia mengerti apa arti campur tangan dan intervensi negeri asing terhadap masalah-masalah dalam negerinya sehingga dapat menimbulkan kegaduhan dan hanya menguntungkan bagi kaum imperialis.
Karenanya pemuda Indonesia tak hanya memperhatikan perjuangan dalam negerinya sendiri saja, tetapi juga perjuangan rakyat dan pemuda negeri lain. Tindakan agresi imperialis Perancis, Inggris dan Amerika di Mesir, Iran, Maroko, Vietnam, Korea dll. tak juga lepas dari perhatian pemuda Indonesia.
Untuk menyokong perjuangan rakyat dan pemuda di negeri-negeri itu, atas usaha suatu Panitia yang terdiri dari 13 organisasi pemuda di Jakarta dilangsungkan peringatan hari solidaritas internasional pemuda dan pelajar, dengan bertempat digedung Balai Pertemuan Umum.
235
=== [PDF page 236] ===
Panitia hari solidaritas internasional ini juga telah mengirimkan utusan yang terdiri dari 3 orang pemuda ke Kedutaan Perancis, Arnerika dan Inggris di Jakarta untuk menyampaikan pernyataan solidaritas pemuda Indonesia dengan perjuangan pemuda Mesir, Irak, Maroko, Vietnam dan Korea yang mengalami tekanan yang kejam dan ganas dari Inggris, Perancis dan Amerika. Di Kedutaan Inggris dan Perancis mereka diterima oleh pejabat-pejabat dari kedutaan itu, tetapi dikedutaan Amerika mereka ditolak, dan karenanya utusan pemuda itu mengajukan protes.
Tahun 1952 ini ditutup dengan usaha pemuda untuk lebih mempererat tali perhubungan dan kerjasama antara organisasi-organisasi pemuda. Pemuda-pemuda di Yogyakarta mengusahakan Pekan Pemuda di Yogyakarta. Usaha ini juga mendapat dukungan dari pemerintah c.g.
Bagian Pemuda Departemen P.P. dan K., dan dilangsungkan bertepatan dengan hari Pahlawan 10 Nopember 1952. Walaupun penyelenggaraannya mendapatkan beberapa kekurangan, terutama 'kekurangan-kekurangan materiil dan waktu persiapan serta tenaga yang harus dimobilisasi, namun pekan ini mendapatkan hasil yang baik terutama dalam bidang olah raga.
Dengan demikian pekan ini juga mempunyai peranannya tertentu dalam mendorong kerjasama antara berbagai organisasi pemuda. Pada penutupan tahun ini Pemuda Demokrat melangsungkan kongresnya di Surabaya, kongres untuk lebih mengkonsolidasi organisasinya. Kongres ini dilangsungkan dari tanggal 30 Nopember sampai 3 Desember 1952.
MELAWAN SISA-SISA PENDIDIKAN DAN
KEBUDAYAAN IMPERIALIS
Dalam menghadapi akibat fatal K.M.B. yang merestorasikan sistim kolonial dalam lapangan pendidikan dan kebudayaan, pemuda Indonesia selalu bertindak aktif menentangnya serta mengajukan saran-saran yang konstruktif. Sistim pendidikan di Indonesia, dengan adanya K.M.B. belum berubah atau belum banyak berubah dibanding dengan masa lampau.
Hal ini ditandai oleh kenyataan bahwa pendidikan belum demokratis, mata pelajarannya belum sesuai dengan keperluan revolusi Indonesia, jumlah sekolah yang amat terbatas, disamping berbagai pengaruh kebudayaan imperialis yang merusak, berkecamuk dan berkuasa di Indonesia. Dalam lapangan pendidikan dan kebudayaan, walaupun pemuda Indonesia ditinjau dari usianya merupakan obyek pendidikan, adalah anak didik, namun mereka bukan suatu obyek yang mati, yang pasif.
236
=== [PDF page 237] ===
yang dapat dikutak-kutik menurut apa kata atau kehendak dari pendidik, tetapi berkat pengalaman Revolusi 1945 mereka aktif dan kreatif. Mereka dapat memilih mana yang baik dan mana yang buruk, mana yang berguna dan mana yang tidak, mana yang harus diganti dan diubah mana yang dapat diwarisi, mana yang harus disimpan dan mana yang harus dibuang.
Pemuda, terutama pemuda-pemuda pelajar yang langsung merasakan akibat yang buruk itu, aktif mencari jalan keluar serta' menyumbangkan pikiran serta usul dan pendapat-pendapat guna perbaikannya. Diskusi?, tukar pikiran, dalam pembicaraan sehari-hari, sampai ke forum konferensi diselenggarakan untuk itu. Suatu usaha dan sumbangan besar untuk itu ialah dilangsungkannya diskusi besar tentang pendidikan oleh Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia pada tanggal 30 Januari s/d 1 Februari 1953 di Yogyakarta.
Diskusi besar dengan mendalam meninjau keadaan sekolah-sekolah rendah — negeri dan swasta, sekolah-sekolah menengah dan perguruan tinggi serta universitas-universitas. Komposisi murid berbagai lapisan masyarakat dan cara-cara penerimaannya, alat-alat dan bahan pelajaran, pengikut sertaan para pelajar dan mahasiswa didalam tanggung jawab kelangsungan kehidupan sekolah, kebebasan berorganisasi dan kebebasan dalam menerima suatu kepercayaan atau idiologi: masalah keseragaman. dalam sistim pelajaran, mutu sekolah-sekolah swasta:
masalah sekolah-sekolah vak, pengerahan tenaga mahasiswa dan pelajar untuk mengajar — terutama diluar Jawa, kesejahteraan pelajar, semua ini telah mendapatkan sorotan para pelajar dalam diskusi besar i.P.P.I.
Sebelum diskusi besar ini dilangsungkan sudah diadakan pertemuan antara Menteri P.P. dan K. dengan wakil-wakil organisasi pemuda di Jakarta pada tanggal 28 Januari 1953. Pertemuan yang mengambil sebagai acara "Masalah Pemuda dalam menghadapi masa depan” mempersoalkan beberapa scgi kehidupan pemuda, pendidikan, dan kebudayaan yang sedang berlaku waktu itu. Pertemuan dipimpin sendiri oleh Menteri F.P. dan K. dan dihadiri oleh organibasi-organisasi pemuda PII, FPII, Pemuda Rakyat, PRRI, Gerakan Mahasiswa Progresif, Pemuda Demokrat, PPI, Persatuan Pelajar Dimobilisan Pusat, GPII, PPRI, dan dari Kementerian P.P. dan K., hadlir wakil-wakil Bagian Pemuda Jawatan Pendidikan Masyarakat Singgih dan Geno Susanto dan dari Majalah Pemuda Sukarno.
Perhatian pemuda terhadap pendidikan bukannya terbatas hanya kepada kritik, pendapat atau usul-usul, tetapi juga sampai kepada mengambil langkah kongkrit yang mungkin dilakukan dengan mendirikan
237
=== [PDF page 238] ===
Peserta-peserta Kongres Pelajar Pejuang (Bersenjata) seluruh Indonesia pada bulan Januari 1955 di Kaliurang Yogyakarta.
berbagai Sekolah Rakyat sampai Menengah yang dapat membantu memenuhi kebutuhan pendidikan bagi pemuda. Juga terhadap kebudayaan pada umumnya pemuda bukannya bersikap acuh tak acuh dan membiarkan dirinya diracuni oleh berbagai macam kebudayaan dekaden, Mereka mengambil bagian aktif dalam menentang berbagai kebudayaan semacam itu. Hal ini, kecuali tercermin dalam berbagai keputusan kongres-kongres, konferensi-konferensi atau diskusi-diskusi pemuda, juga
terwujud dalam aksi-aksi perlawanan, seperti terhadap badan hubungam
kebudayaan Indonesia-Belanda, — Sticusa, terhadap diputarnya film Amerika "Desert Fox” yang merupakan Panen terhadap fasisme Jerman dan lain sebagainya.
Gerakan perlawanan terjadi antara lain di Yogyakarta pada tahun 1953 yang menuntut dilarangnya pemutaran film fasis itu digedung bioskop Luxor (Permata).
Demikian juga dalam bidang olah raga yang langsung menjadi kebutuhan pemuda, pemuda Indonesia juga mempunyai perhatian yang luas dan dalam sekali. Pemuda dan olah raga tak dapat dipisah-pisahkan, demikian juga para mahasiswa. Pada tanggal 25 sampai dengan 21 Desember 1953 di Bandung diadakan konferensi keolahragaan mahasiswa Indonesia yang menghasilkan suatu badan koordinasi keolah-ragaan
238
Digitized by Goog le
=== [PDF page 239] ===
mahasiswa (BKKMI). Badan ini mengkoordinir kegiatan olah raga dikalangan mahasiswa Indonesia.
Tahun 1953 adalah tahun dimana pemuda Indonesia mengadakan hubungan yang makin luas dengan pemuda diluar negeri, makin luas ikut serta melakukan kegiatan internasional yang progresif. Ini adalah sama sekali sesuai dengan tujuan gerakan pemuda Indonesia yang mengidam-idamkan dunia damai, persaudaraan antara bangsa-bangsa, serta kemerdekaan dan kemajuan sosial. Makin banyak organisasi pemuda Indonesia yang mengambil bagian dan ikut serta dalam berbagai konferensi, pertemuan-pertemuan festival-festival dan aksi-aksi yang bersifat internasional. Pada bulan Maret 1953 pemuda Indonesia ikut serta dalam konferensi internasional yang menelaah hak-hak pemuda, yang dilangsungkan di Wina, ibukota Ustria pada tanggal 22—27 Maret 1953.
Konterensi ini diikuti oleh pemuda dari berbagai negeri yang mewakili berbagai lapisan dan menghasilkan a.l. sebuah seruan kepada pemuda diseluruh negeri agar mereka membela hak-haknya untuk hidup yang layak dan syarat-syarat untuk mengembangkan bakat-bakatnya menjadi manusia masyarakat yang sempurna, serta untuk kehidupan yang damai dan persahabatan antara bangsa.
Festival Pemuda dan Pelajar Sedunia yang ke-IV yang diselenggarakan di Bukarest ibukota Rumania pada musim semi tahun 1953, men- Gapatkan kunjungan yang lebih besar lagi. Rombongan delegasi pemuda Indonesia kefestival ini terdiri dari 104 orang dibawah pimpinan Suyono Atmo. Delegasi meliputi golongan yang lebih luas seperti seniman, buruh, tani, mahasiswa, pemuda-pemuda pelajar. Dalam festival ini delegasi pemuda Indonesia mendapatkan sukses dalam perlombaan?
olahraga maupun kesenian.
Pada akhir Festival, Federasi Pemuda Demokratis Sedunia mclangsungkan Kongres Pemuda Sedunia di Bukarest. Pemuda Indonesia yang ikut serta dalam Kongres ini, yang diwakili a.l. oleh Suyono Atmo, Margono, dan Sutoyo Arcundatha. Kongres ini a.l. menghasilkan sebuah resolusi yang menyokong perjuangan pemuda dinegeri-negeri kolonial untuk kemerdekaan nasional.
Demikian juga dalam Kongres Pelajar Sedunia yang diselenggarakan Perhimpunan Pelajar Sedunia (I.U.S.) pada tanggal 27 Agustus sampai September 1953 di Warsawa ibukota Republik Rakyat Polandia, pemuda-pemuda pelajar Indonesia ikut serta dan yang diwakili a.l.
pemuda Mudoyo, C. Warouw, Suyono Atmo, dan Achmadi (Mayor).
Dalam usaha mempererat tali persahabatan dengan pemuda-pemuda sedunia, pemuda Indonesia juga ikut ambil bagian aktif dalam forum
239
=== [PDF page 240] ===
olahraga yang bersifat internasional. Seperti dalam Asian Student Games di Kalkuta pada bulan Februari 1954. Untuk menyambut Asian Student Games ini, di Indonesia dibentuk panitia khusus yang terdiri dari Sie Swan Po (PPMI), Marilli T.H. Silitonga (IPPI) dan Alex Marentek (G.M.D.). Kecuali ini masih banyak lagi forum-forum olahraga yang bersifat mternasional yang diikuti oleh pemuda-pemuda Indonesia.
MAHASISWA INDONESIA MELAWAN
PERS IMPERIALIS
Peranan pers imperialis, dan di Indonesia khusus pers Belanda sepenuhnya mengabdi kaum kolonialis Belanda. Dalam masa revolusi pers-pers itu, terutama yang berbentuk surat kabar yang terbit didaerah pendudukan Belanda semuanya bersuara mencaci-maki Republik Indonesia, mencaci-maki rakyat dan pemuda Indonesia, alat kekuasaan Republik Indonesia. Demikian juga setelah ”penyenahan kedaulatan”, peranan yang mengacau, yang memfitnah itu masih diteruskan.
”De Vrye Pers” salah satu dari surat kabar kaum kolonialis pada tahun 1954 memuat sebuah artikel iang bersifat menghina serta mengadu Gomba mahasiswa Indonesia, khususnya mahasiswa Negeri "Gajat Mada”, Yogyakarta. Dalam artikel yang berjudul: "Buken eisen ikennis van het Nederlands” (bahasa Indonesia: "Buku memerlukan pengetahuan dari Nederland”) mengatakan bahwa tidak mungkin, atau sulit bagi para mahasiswa yang tidak dapat berbahasa Belanda untuk mengikuti kuliah difakultas hukum, atau akan sia-sia belaka mengikuti kuliah-kuliah.
Juga dikatakan bahwa mahasiswa yang dapat berbahasa Belanda lebih pandai dari yang tidak dapat berbahasa Belanda.
Tulisan yang sangat menghina dan bersifat memecah-belah ini sangat menyakitkan hati, dan menyinggung perasaan nasional para mahasiswa dan pemuda umumnya. Para mahasiswa fakultas hukum ” Gajah Mada” pada tanggal 16 April 1953 bertindak secara demontratip melabrak ”Vriye Pers” dan merusak kaca kantor, mesin tik, meja dan alat-alat kantor lainnya. Dalam peristiwa ini 42 orang mahasiswa ditahan oleh yang berwajib..
Sebagai pernyataan solidaritas terhadap mahasiswa itu, di Surabaya pada tanggal 23 Agustus 1953, pemuda, pelajar, mahasiswa, wanita, mengadakan demontrasi. Demontrasi ini diikuti oleh tidak kurang dari 25.000 orang. Dengan demikian maka setia-kawan yang tadinya hanya dinyatakan dalam pembicaraan dari mulut kemulut, berkembang hingga
240
=== [PDF page 241] ===
terbentuknya suatu panitia aksi yang didukung segenap lapisan masyarakat dan sampai terjadinya demonstrasi.
Rapat umum yang diselenggarakan setelah demonstrasi i ini mengambil resolusi menuntut: 1. Dibebaskan 42 orang mahasiswa yang ditahan.
2, Menghapuskan bahasa Belanda. 3. Mengadakan Undang-undang Pers yang membatasi gerak pers asing. 4. Mempercepat pelaksanaannya Undang-undang nasional dengan membentuk dewan perancang Undangundang nasional.
Demonstrasi mahasiswa dan pelajar untuk pertama kali dilakukan bersama dengan rakyat yang luas. Demonstrasi ini juga sekaligus memberi didikan politik yang lebih dalam kepada mahasiswa-mahasiswa, lebih meningkatkan kesadaran nasionalnya dan semangat perlawanan terhadap alat sisa-sisa kolonialisme, termasuk semua undang-undang dan peraturan pemerintah sendiri. ‘
Memang masalah penggunaan bahasa Belanda itu sudah lama menjadi suatu masalah, tetapi yang hingga waktu itu masih gelap pemecahannya. Pemerintah belum bertindak melarang penggunaannya dalam kuliah-kuliah bahkan pemerintah sendiri mengharuskan dalam tahun 1954 kuliah-kuliah akan diberikan dalam bahasa Inggris. Ini berarti pemindahan dari berorientasi ke Belanda menjadi berorientasi ke Amerika, ini _ adalah langkah yang sangat mencelakakan mahasiswa. Disamping itu.
pada waktu itu, buku-buku masih didatangkan dari negeri Belanda, yang berarti memberi keuntungan jutaan rupiah kepada toko buku milik Belanda — Kolff dan Van Dorp. Ini merupakan antara lain wujud sisa-sisa kekuasaan kolonial Belanda dalam perguruan tinggi yang sangat merugikan bagi perkembangan kebudayaan nasional, serta menekan tokhani mahasiswa-mahasiswa.,
Achirnya Pengadilan Negeri Surabaya, atas instruksi Jaksa Agung dan yang sebelumnya mendapatkan desakan dari Komisariat Belanda di Jakarta, melangsungkan pemeriksaan. Pemeriksaan ini mendapat perhatian besar dari khalayak ramai teristimewa dari penduduk kota Surabaya. Wakil mahasiswa dari Jakarta, Yogyakarta, Malang ikut menyaksikan jalannya pemeriksaan. Juga seorang guru besar Universitas Negeri "Gajah Mada” Prof. Mr Mulyatno menghadiri. Dalam pemeriksaan perkara ini, mahasiswa mendapatkan kemenangan berkat perjuangannya yang gigih yang didukung oleh massa pemuda yang luas. Ini jusga merupakan suatu contoh sejarah, bahwa apabila alat-alat kolonialisme itu dilawan dengan kekuatan persatuan, maka pasti dapat dikalahkan, walaupun mendapat dukungan mau bantuan, dari alat-alat negara tertentu.
Sejarah Perjuangan 16 1241
=== [PDF page 242] ===
MEMBASMI KOMPLOTAN JAHAT
ANTI REPUBLIK
Mengacaukan, dan kalau dapat merobohkan Republik Proklamasi, demikian itulah usaha yang dilakukan oleh kaum imperialis, termasuk imperialis Belanda terhadap negara Republik Indonesia. Pengacauan ini merzka lakukan dalam bidang militer, sipil, keamanan, ekonomi, politik, kebudayaan, didaerah-daerah, dipusat, ya dimana saja. Mereka meninggalkan orang-orangnya dari berbagai kwalitas dan format baik yang sadar dan yang dibayar maupun yang hanya terbawa-bawa oleh hasutan provokasi, atau karena "kebelandis-kebelandisan”. Setelah ”penyerahan kedaulatan” kaum imperialis Belanda meninggalkan berbagai bom waktu yang berwujud gerombolan pengacau seperti apa yang dinamakan ge-. rombolan ”Republik Maluku Selatan”, APRA,. gerombolan Smith dan Yungskhlager, yang membantu gerombolan D.I. Kartosuwiryo dll.-nya.
Mereka juga meninggalkan banyak orang Belanda kolonial diberbagai departemen, jawatan dan badan kenegaraan serta partikelir. Gerombolan 'pengacau ini umumnya berada di Jawa Barat. Mengapa justru Jawa Barat yang dijadikan tempat pemusatari gerombolan ini?. Ini disebabkan karena: pertama, gerakan revolusioner didacrah ini relatif lemah, dengan demikian mereka masih dapat membujuk atau menggertak rakyat untuk menutupi maksud jahat dirinya yang sebenarnya: kedua, di Jawa Baratlah letak perkebunan-perkebunan milik Belanda yang luas yang dapat dijadikan sandaran untuk persediaan keperluan mereka, tempat bersembunyi dan sekaligus digunakan untuk menekan kaum buruh perkebunan tersebut s ketiga, karena di Jawa Baratlah ' letak ibukota Republik Indonesia yang memungkinkan mereka untuk memberikan tekanan kepada Pemerintah Republik Indonesia dan meng:
adakan perhubungan dengan kedutaan besar Belanda dan perwakilan asing tertentu di Jakarta. Juga karena letaknya dekat dengan ibukota yang merupakan kota pelabuhan, maka memudahkan mereka untuk menyelundupkan barang gelap seperti senjata, mesiu, dan lain-lain sebagainya. Dalam gerombolan inilah bersarang orang bekas tentara Belanda( KNIL), bekas anggota mata-mata dan pengacau Belanda IVG,
Mecreka ini melakukan segala macam kebuasan, perampokan, pembunuhan, penggarongan, perkosaan, penculikan dsb.-nya. Puluhan ribu penduduk yang tidak berdosa menjadi korban keganasannya, jutaan uang kekayaan negara yang dikorup melalui berbagai saluran untuk ke-
242
=== [PDF page 243] ===
pentingannya dan berbagai macam propaganda dengan melalui perguruan, surat kabar dll. mereka lakukan. Dalam menghadapi keadaan ini pemuda Indonesia yang telah terlatih dalam Revolusi Agustus 1945 tak mengendorkan perlawanannya. Pemuda Indonesia baik yang tergabung dalam tentara, dalam organisasi keamanan, dikampung-kampung dan desa-desa, dikantor-kantor dan diberbagai tempat ikut aktif membasminya.
Pemerintah KMB sejak semula tidak aktif membasmi gerombolan itu, sehingga tindakan pemuda dan rakyat umumnya, dapat dikatakan berdiri sendiri. Namun demikian perjuangan yang adil ini dapat membangkitkan kemauan baik dan simpati dari kalangan alat pemerintah yang patriotik. Gerombolan pengacau mulai ditindas oleh alat pemerintah, dan mulai dilakukan penangkapan terhadap anasir pengacau, terutama Belanda. Tindakan penangkapan ini mulai dilakukan pada permulaan tahun 1954, di Bandung, Jakarta dan beberapa tempat lainnya. Orang Belanda yang ditangkap itu pada umumnya adalah bekas KNIL, IVG dan ada pula yang bekerja di kementerian-kementerian, kejaksaan dll.
Tindakan ini terutama dilakukan secara intensif dan meluas sejak kabinet Ali Sastroamijoyo. Ini adalah tindakan yang tegas yang pertama kali sejak terbentuknya kabinet KMB. Tindakan penangkapan ini juga antara lain didorong oleh sikap Belanda di Indonesia yang sombong, sembrono dan provokatif. Hal ini terbukti dengan peristiwa penolakan direksi Hotel Simpang, Surabaya, atas permintaan tempat untuk Menteri Perekonomian yang pada waktu itu sedang berkunjung ke Jawa Timur pada bulan Januari 1954. Alasan yang digunakan untuk menolak ialah tidak ada tempat, tetapi setelah diperiksa scbenarnya masih banyak tempat. Sikap sombong dari Belanda penguasa Hotel Simpang ini menimbulkah kemarahan pemuda, dan Hotel Simpang "diserbu”. Achirnya pemerintah setempatpun mengambil tindakan dan Hotel Simpang diambil-alih serta dijadikan milik Kotapraja. |
Dalam melakukan tindakan untuk menindas gerombolan pengacau ini pemuda juga ambil bagian aktif dalam mencari keterangan, dan kalau perlu menunjukkan atau ikut menangkap mereka itu. Dengan jalan demikian maka tidak sedikit komplotan agen kolonial itu tertangkap dan diringkus dalam penjara. Kegiatan ini memuncak hingga dapat ditangkapnya kepala gerombolan pengacau Belanda Yungskhlager dan Smith.
Pemuda mengadakan aksi yang luas menuntut agar Yungskhlager segera diajukan kemuka pengadilan dan dihukum mati. Aksi ini juga mendapat dukungan luas dari segenap lapisan masyarakat. Rapat diada-
248
=== [PDF page 244] ===
kan diberbagai tempat. Pemuda menyokong sikap hakim Macngkom dari Pengadilan Negeri Jakarta yang menolak pembela Yungskhlager — Vaxz Empel dkk. Mr. Van Empel adalah salah seorang kepala mata? Belanda, yang sewaktu di Indonesia banyak menghukum pemuda pejuang. Untuk mendukung sikap Maengkom ini pada tanggal 12 Februari 1956 diadakan rapat yang didukung oleh 24 organisasi-organisasi pemuda diibukota yaitu: Pemuda Demokrat Indonesia, Pemuda Ansor, Pemuda Muslimin, Pemuda Pelajar Demobilisan, Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia, Corp Demobilisan Indonesia, Angkatan Pemuda Pembangunan Indonesia, IPPI Jakarta Raya, Persatuan Sekolah Guru, Persatuan Pelajar Taman Siswa, Pemuda Rakyat, Pemuda Tanah Air Indonesia, Pemuda Raya, Gerakan Mahasiswa Republik Indonesia, Persatuan Bekas Pediuang Bersenjata Seluruh Indonesia. Rapat Pemuda Anti-Pembela Van Empel dkk. ini diadakan di Gedung Pemuda Jakarta. Rapat mengambil ke.
putusan: 1. Menyokong sikap Hakim Maengkom yang menolak sikap Van Empel menjadi pembela Yungskhlager dkk. 2. Menuntut kepada pemerintah agar H.C. Belanda, Graaf Van Bevland dinyatakan sebagai persona non grata, karena bertanggung jawab atas pertemuan antara Yungkhlager dengan wakil Komisariat Tinggi Belanda di rumah Dr.
Mulder sebagaimana yang telah dibenarkan oleh Jaksa Sunaryo. 3. Me nuntut kepada pemerintah agar Mr. Bouman dan Van Empel segera dikeluarkan dari Indonesia karena mereka ini telah banyak menjatuhkan hukuman kepada pemuda nejuang dan kini mengatur pembelaan terhadap Yungskhlager. 4. Agar nyonya Bouman ditangkap dan ditahan sebagai jaminan, karena Mr. Bouman ternyata terlibat dalam aksi subversif di Indonesia. 5. Supaya saksi-saksi yang terlibat dalam aksi-aksi subversif yang dipimpin oleh Jendral Pereire di Indonesia, sebagaimana yang diterangkan dalam laporan resmi dari Komisaris Besar Sukarjo ditangkap dan dituntut didepan pengadilan. 6. Agar penanggung jawad perusahaan asing yang ternyata menyokong gerombolan pengacau dituntut dimuka pengadilan dan perusahaannya disita. 7. Agar Yungskhlager dan Smith dihukum mati.
Sebagai lanjutan tindakan penumpasan subversif asing, rapat itu juga menyetujui dibentuknya panitia penentang pembela Van Empel dkk., yang terdiri dari organisasi IPPI daerah Jakarta Raya sebagai ketua umum, Pemuda Demokrat sebagai Wk. Ketua I dan Persatuan Pelajar Demobilisan Wk. Ketua II, IPPI Perguruan Tinggi sebagai Sekretaris, Pemuda Rakyat sekretaris II, T.N. Endah (mahasiswa)
sebagai keuangan dan S.M.A. Kesatuan sebagai bendahara. Panitia ini mempunyai kantornya di Gedung Pemuda, Merdeka Utara 14 Jakarta.
244
=== [PDF page 245] ===
Dalam rangka gerakan menentang subversif asing ini dilancarkan berbagai rapat umum pemuda diberbagai daerah, seperti rapat umum pelajar dan mahasiswa yang dilangsungkan dialun-alun utara Yogyakarta pada tanggal 24 Agustus 1955, di Jakarta, di Surabaya dan lain-lain tempat. |
Achirnya pikiran sehat yang patriotik dari pemuda dan rakyat Indonesia mendapatkan kemenangan, dan kepala subversif asing Yungskhlager dan Smith dijatuhi hukuman mati, sedangkan agen-agen lainnya mendapat hukuman-hukuman berat.
Walaupun hukuman-hukuman ini belum sepenuhnya memenuhi harapan pemuda karena dosa-dosa mereka yang berat, namun hal ini adalah tindakan patriotik yang patut dipuji dari pengadilan Indonesia yang dilahirkan didalam Revolusi dan seharusnya menjadi alat Revolusi Indonesia dalam menghancurkan dan mengalahkan kontra revolusi.
Dari peristiwa ini tampaklah bahwa semangat patriotisme dan heroisme yang telah ditanam oleh Revolusi Agustus 1945 dalam dada pemuda dan rakiat umumnya tak menjadi pudar karena politik resmi yang kompromis.
Pemuda tetap mempunyai kemampuan, kesanggupan dan daya juang yang tinggi sesuai dengan sifat-sifat alamiahnya. Ini juga merupakan suatu tantangan jaman terhadap generasi tua yang sudah tenggelam dalam kepuasan, ketakmampuan, dan bahkan sementara ada yang merosot moralnya akibat ketidak teguhan imannya. Sejarah perjuangan akar tetap menguji kesemuanya ini dan masih menuntut kesanggupan yang lebih besar lagi dari pemuda-pemudanya.
PEMUDA INDONESIA MENDUKUNG
PEMILIHAN UMUM
Salah satu azas kenegaraan yang menjadi tujuan perjuangan pemuda adalah demokrasi, yaitu adanya sistim dan kehidupan demokrasi aalam masyarakat dan negara Republik Indonesia. Demokrasi yang diperjuangkan pemuda Indonesia bukannya demokrasi formil tetapi demokrasi riil, suatu sistim dan kehidupan demokrasi yang sesuai dengan keadaan masyarakat dan kehidupan rakyat Indonesia yang berjuang untuk melawan imperialisme, untuk kemerdekaan penuh dan demokratis sebagai jembatan untuk mencapai masyarakat sosialis Indonesia. In! | berarti bahwa yang diidam-idamkan oleh rakyat Indonesia bukanlah
245
=== [PDF page 246] ===
demokrasi seperti lazimnya berlangsung dinegara-negara barat, demokrasi yang liberal dan did jadikan | alat oleh kaum monopoli untuk menjajah rakyat Indonesia.
Menurut keadaan Indonesia pada masa itu, tuntutan demokrasi ini antara lain agar diadakan pemilihan umum untuk membentuk Parlemen atau Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante. Terbentuknya badan ini dalam mana duduk wakil rakyat yang dipilih dalam pemilihan umum merupakan perwujudan demokrasi di Indonesia. Rakyat Indonesia mempunyai harapan besar segera terbentuknya badan seperti ini, karena melalui badan ini rakyat dapat menjelmakan ide, pikiran dan cita-citanya secara legal untuk diketahui oleh umum, untuk diperjuangkannya.
agar diterima pemerintah dan dilaksanakannya.
Pemuda Indonesia yang mempunyai cita-cita tinggi dan yang terus menerus memperjuangkannya cita-citanya itu juga menyadari perlu adanya dan terselenggarakannya pemilihan umum guna membentuk ba- Gan-badan yang demokratis itu. Karenanya mereka ikut. aktif memperjuangkan agar segera diadakan pemilihan umum.
Dalam menghadapi rencana pemilihan u umum yang akan diadakan oleh pemerintah, pemuda Indonesia bukannya bersikap acuh tak acuh atau pasif, tetapi mereka menyambut dengan hangat dan bersedia mengambil bagian aktif dalam melaksanakannya. Sikap pemuda Indonesia ini juga tercermin dalam kongres-kongres mereka. Didalam kongres kongres, dan konferensi-konferensi mereka mulai mempersoalkan masalah ini. Yemuda Demokrat dalam Kongres ke V yang dilangsungkan pada tanggal 3 Desember 1952 di Surabaya juga telah mengajukan masalah ini dalam salah satu prasaran yang diajukan oleh Munadir. Dalam prasaran ini diajukan pendirian pokok Pemuda Demokrat dalam menghadapi pemilihan umum yang akan diselenggarakan pada tahun 1955 sbb.: 1. Pemuda Demokrat pada pokoknya ikut ambil bagian aktif mendorong terselenggaranya pemilihan umum untuk Konstituante dan Dewan Perwakilan Rakyat baik pusat maupun daerah-daerah. 2. Pemuda Demokrat beranggapan bahwa batas antara organisasi pemuda dengan partai politik ialah hanya terletak pada tidak turutnya duduk anggota Pemuda Demokrat sebagai wakil organisasi dalam dewan-dewan terxbut. Tetapi Pemuda Demokrat beranggapan perlu adanya tenaga muda dalam dewan-dewan itu.
Kecuali dalam kongres atau diskusi, juga banyak karangan yang ditulis dalam berbagai surat kabar, majalah atau siaran yang memper
246
=== [PDF page 247] ===
soalkan hubungan pemuda, organisasi pemuda dengan pemilihan umum yang akan datang itu. Tulisan ini umumnya menganjurkan agar para pemuda ikut bertanggung jawab dan ambil bagian aktif dalam penyelenggaraannya pemilihan umum. Dalam saat pelaksanaannya pemuda ikut aktif memberi penerangan kepada penduduk yang luas serta melakukan berbagai aktivitas dan tugas-tugas.
| Tanggung jawab pemuda terhadap pelaksanaannya pemilihan umum ini juga tercermin dalam kegiatan bersama antara berbagai crganisasi pemuda yang ada. Hal ini dapat dilihat pada hari menjelang cilangsungkannya pemilihan umum sendiri. Pada tanggal 16 September 1955 organisasi pemuda yang ada di Jakarta, yang 189 buah jumlahnya, berkumpul untuk membicarakan soal pemuda dan pemilihan umum.
Organisasi pemuda yang mengadakan pertemuan itu antara lain ialah Temuda Kristen Indonesia, Pemuda Demokrat, Pemuda Rakyat, Sekretariat Bersama Pelajar Pejuang Seluruh Indonesia dan lain-lainnya.
Juga dalam proses penyelenggaraan pemilihan umum ini Bagian Pemuda Jawatan P.M. Kementerian P.P. dan K: yang dijuru bicarai oleh pimpinannya Suyono Atmo, ambil bagian aktif dalam. memberikan penerangan, anjuran dan berbagai penjelasan baik melalui pidato radio yang periodik maupun melalui artikel-artikel yang dimuat dalam majalah »Pemuda” yang diterbitkan oleh P.P. dan K. Isi dari uraian Suyono Atmo itu pada pokoknya berkisar pada soal-soal: pertama, agar pemuda dengan aktif menggunakan hak pilihnya: kedua, agar pemuda membantu kelancaran pemungutan suara dan: ketiga, agar pemuda memahami tekhniktekhniknya baik untuk dirinya sendiri maupun untuk kepentingan umum.
Achirnya pada tanggal 29 September 1955, rakyat termasuk pemuda Indonesia memberikan suaranya dengan mencoblos tanda gambar yang ada dalam lembaran kertas pemilihan. Pencoblosan ini tidak hanya mempunyai sekedar arti teknis saja, tetapi mempunyai arti politik, sosiologis, pisikologis dan sekaligus simbolis. Bukankah si-pencoblos telah memberi kepercayaan menurut rasahati dan kesadarannya kepada Partai yang tanda gambarnya dicoblos, cita-citanya akan diwakili dan diperjuangkan oleh partai yang bersangkutan stu? Karenanya, hari pemilihan umum ini merupakan hari 'besar nasional, hari kegembiraan yang besar, sckaligus juga hari yang khidmat. Pada hari itu dari 80 juta penduduk, ada 43.104.464 pemilih yang terdaftar memberikan suaranya, dan terdapat 37.785.299 suara yang sah. Ini berarti bahwa pemilihan umum di Indonesia adalah pemilihan yang demokratis dan diikuti oleh bagian besar rakyat yang berhak memberikan suaranya. Hasil pemilihan umum ini mencerminkan imbangan yang ada dalam masyarakat Indonesia, dam
247
=== [PDF page 248] ===
menunjukkan bahwa pengaruh dari golongan demokratis merupakan bagian terbesar.
Penulihan D.P.R. ini, kemudian dilanjutkan dengan pemilihan untuk Konstituante. Hasil pemilihan umum untuk Konstituante ini makin memperkuat imbangan pengaruh golongan demokratis. Kedua pemilihan:umum ini mempunyai pengaruh yang besar sekali dalam perjalanan sejarah perjuangan rakyat dan pemuda Indonesia dalam mencapai cita-citanya Indonesia Merdeka yang demokratis, adil dan makmur. Pemuda Indonesia walaupun secara organisasi tidak ikut serta mencalonkan wakil dalam pemilihan ini namun umumnya banyak pemimpin organisasi pemuda yang dicalonkan oleh partai-partai politik ikut terpilih dalam pemilihan baik D.P.R. maupun Konstituante. Pemuda-pemuda atau tokoh-tokoh pemuda yang terpilih antara lain S.M.
Taher, Sukatno, Sukardi, Aminuddin Azis, Hardoyo, Istanto dll. Dengan demikian pemuda juga secara tidak langsung mempunyai wakilaya dalam badan-badan itu, yang memudahkan bagi mereka untuk mengajukan pikiran-pikirannya, guna diperjuangkan melalui badan-badan itu.
Pemilihan umum yang berlangsung dengan sukses dan Yimana pemuda-pemuda ikut ambil bagian aktif dalam pelaksanaannya bukanlat.
bcrjalan dengan lancar, tanpa perlawanan dari golongan reaksioner dan kaum 'imperialis. Sabotase, usaha untuk menunda dan menirdakan pemilihan umum sudah berlanzsung sejak hari-hari pertamanya. Dalam proses propaganda juga terdiadi berbagai provokasi yang mereka lakiikan untuk memancing peristiwa-peristiwa. Juga dalam saat-saat pemberian suara itu terjadi provokasi-provokasi dan insiden-insiden. Sebagai akibat dari berbagai insiden dan provokasi, terutama yang dilakukan oleh gerombolan DI/TTI dsb-nya, tidak sedikit petugas" pemilihan yang antara lain terdiri dari pemuda, yang menjadi korban. Diantara mereka yang menjadi korban, terdapat 93 orang gugur, dan 74 diculik, disamping terdapat yang luka-luka. Walaupun ada korban-korban yang jatuh.
sebagai akihat provokasi, namun berlangsungnya pemilihan umum ini mencerminkan kemenangan dari kekuatan demokrasi dari rak”. termasuk pemuda Indonesia, dan merupakan kekalahan dari kekwetan anti demokrasi, kekuatan imperialis serta musuh rakyat dan pemuda Indonesia Kejadian-kejadian sesudah pemilihan umum juga menunjukkan akan kebenaran hal ini. Usaha-usaha untuk meniatukan kekuatan nasiona!
yang demokratis termasuk kalangan pemudanya. makin mendapatkan perangsang, dan kerja-sama antara berbagai organisasi pemuda yang demokratis itu bertambah baik. Dengan demikian maka pemilihan umum telah mendorong lebih lanjut diperkuatnya barisan melawan imperialisme.
248
=== [PDF page 249] ===
Pembukaan Konferensi
Mahasiswa Asia-Afrika
di Bandung
Digitized by Google
=== [PDF page 250] ===
KONFERENSI MAHASISWA'
.ASIA AFRIKA
Dalam melakukan perjuangan untuk mencapai cita-cita Indonesia Merdeka yang demokratis, adil dan makmur, pemuda Indonesia menyadari perlunya kerja-sama internasional. Kesadaran ini terutama ditimbulkan oleh kenyataan bahwa musuh rakyat dan pemuda Indonesia adalah imperialisme, yang mempunyai watak internasional. Berbagai negeri imperialis berhubungan dan berjalin satu sama lain dalam melakukan eksploitasi dan penindasan terhadap rakyat dan gerakan rakyat termasuk gerakan pemudanya. Kaum imperialis internasional saling membantu dan saling menukar keterangan dan pengalaman.
Didepan sudah diterangtan bahwa perlunya hubungan dan kerjazama internasional ini sudah mulai diinsyafi oleh pemuda-pemuda Indonesia yang sedang belajar dinegeri Belanda yang tergabung dalam Pcrhimpunan Indonesia, dan sebagaimana juga telah dirintis oleh PPPI di Indonesia. Tradisi yang baik ini dilanjutkan oleh organisasi pemuda pada umumnya, baik sebelum Proklamasi Kemerdekaan maupun dalam masa perjuangan mempertahankan Proklamasi 1945. Dalam melanjutkan perjuangan untuk mencapai Indonesia Merdeka yang penuh, demokratis, adil dan makmur, perjuangan untuk menghabiskan sisa-sisa kekuasaan imperialisme, kebutuhan kerjasama internasional makin dirasakan mendesaknya. Terutama di Asia, baik di negeri-negeri yang politis dan ekonomis sudah merdeka, atau yang politis saja merdeka, maupun yang belum merdeka sama sekali, rakyat dan pemudanya menghadapi musuh bersama:
yalah imperialisme, kolonialisme dan neo-kolonialisme. Dalam perlawanan menghadapi musuh bersama ini, maka amat terasa perlu adanya kerjasama dan solidaritas bersama. Hal ini telah disadari dalam-dalam oleh pemuda dan pelajar se Asia sejak tahun-tahun pertama sesudah Perang Dunia II, yang tersimpul dari peristiwa konferensi Pemuda dan Pelajar Asia Tenggara di Kalkuta. Konferensi Bandung pada tahun 1955 yang melahirkan Dasa Sila, dan adalah suatu manifestasi dari solidaritas rakyat Asia-Afrika dalam perjuangan untuk mencapai kemerdekaan nasional yang penuh dan demokratis, untuk melenyapkan sisa-sisa kolonial isme dan neokolonialisme, juga merupakan dorongan yang kuat kearah kerjasama pemuda Asia-Afrika.
Keadaan inilah yang menjadi sumber inspirasi bagi pelajar dan mahasiswa Indonesia untuk menyelenggarakan Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika. Ide untuk menyzlenggarakan Konferensi Mahasiswa Asia:
250
=== [PDF page 251] ===
Afrika kemudian diterima oleh suatu sidang pengurus PPMI dalam bulan Mei 1952. Putusan“ini kemudian diperkuat oleh Kongres PPMI yang dilangsungkan pada bulan April 1953 di Tugu, Bogor. Untuk mengkongkritkan ide ini oleh Rajab Nasution, sebagai wakil ketua PPMI yang menghadiri sidang IUS di Warsawa ibukota Republik Rakyat Polandia, telah diadakan pembicaraan dengan wakil-wakil mahasiswa dari India, Iran, Libanon dan Irak, yang melahirkan pernyataan bersama yang ditandatangani pada tanggal 14 Oktober 1953. Pernyataan bersama ini a.l.
berbunyi sbb.:,
?1. Kami percaya bahwa mahasiswa dapat memainkan peranan penting dalam meningkatkan semangat harga-diri dan patriotisme, dalam memperjuangkan kemerdekaan nasional yang penuh, berdaulat dan meningkatkan kebudayaan nasional rakyat Asia, serta meningkatkan saling pengertian antara negeri-negeri Asia yang menghendaki hidup damai satu sama lain. |
”2, Kita telah memperhatikan dengan sungguh-sungguh syarat-syarat kehidupan yang buruk, kekurangan kebebasan pendidikan dibanyak negeri Asia dan adanya sisa-sisa dari kekuasaan kolonial yang masih tetap menekan kebebasan perkembangan sistim pendidikan yang patriotik dan demokratis dan usaha-usaha untuk memperbaiki keadaan ini” _
Dalan" pernyataan itu juga diutarakan pentingnya segera membentuk komite persiapan yang mempunyai tugas untuk menyiapkan konferensi dalam mana mahasiswa-mahasiswa Asia dapat sepenuhnya ikut serta dan mengenyam keuntungan dari padanya tanpa memandang perbedaan Politik, kepercayaan agama dan lain-lainnya. Pernyataan itu juga mengusulkan agar komite persiapan itu terdiri dari wakil?: Indonesia 2 orang: (yang akan ditentukan oleh Komite Persiapan Nasional), India 1 orang dari Federasi Mahasiswa India, Burma 1 orang dari Uni Federasi Mahasiswa Burma, Jepang 1 orang dari Federasi Mahasiswa Jepang Otomi, Pilipina 1 orang dari Dewan Mahasiswa Pilipina, Tiongkok 1 orang dari Federasi Mahasiswa Tiongkok, Iran 1 orang dari Uni Universitas Teheran, Libanon 1 orang dari Uni Nasional Mahasiswa Libanon.
Kongres PPMI yang dilangsungkan pada bulan Mci 1954 menganggap bahwa pernyataan itu adalah cukup untuk dijadikan tuntutan £una menyelenggarakan idc konferensi yang pernah diputuskan, dan menugaskan pada Badan Pekerja untuk mengambil langkah-langkah
“ Dari buku "The Asian-African Students Conference”, hl. 16.
251
=== [PDF page 252] ===
guna merealisasikannya. Sebagai tempat konferensi dipilihnya Bandung, Yang terkenal sebagai kota Asia-Afrika.
Untuk melancarkan persiapan konferensi, Komite Eksekutif PPMI “ mengadakan sidangnya pada bulan Mci 1954. Sidang memutuskan untuk memberi kekuasaan kepada Dulmanat wakil ketua PPMI untuk membentuk Komite Persiapan Konferensi Mahasiswa Asia. Selanjutnya setelah Sclalui usaha-usaha yang ulet, pada tanggal 11 Juli 1954 telah dibentuk Panitia Penerimaan di Bandung. Panitia ini didukung oleh organisasi anggota dan bukan anggota PPMI. Kemudian setelah melalui pertemuan berbagai organisasi mahasiswa, pada tanggal 22 November 1954 terbentuklah Panitia Persiapan Nasional Konferensi Mahasiswa se-Asia ( PPN- KMA), yang kemudian disempurnakan susunannya pada tanggal 10 Mei 1955. Panitia ini mempunyai tugas: 1. mempersiapkan Komite Persiapan Internasional. 2. Membuat persiapan penyelenggaraan Konferensi itu sendiri. 3. Menyusun acara untuk diajukan pada Panitia Persiapan Internasional. 4. Memilih dua wakil untuk ikut serta dalam sidang Panitia Persiapan Internasional. Panitia Persiapan Nasional ini mendapat perlindungan dari Presiden Sukarno, sedangkan Gubernur Jawa Barat, walikota Jakarta dan Bandung diangkat menjadi penasehatnya. Juga Presiden Universitas Indonesia. Airlangga, Universitas Islam Yogyakarta, Universitas Nasional, Universitas 17 Agustus setuju untuk diangkat menjadi ketua kehormatan. Dalam proses selanjutnya Panitia Persiapan Nasional mengalami perbaikan dengan ikut sertanya Dewan Mahasiswa Gajah Mada. Panitia Persiapan Nasional ini dalam usahania untuk membentuk Panitia Persiapan Internasional berhasil mengadakan pertemuan internasional dengan bertempat di Taruna-Giri-Puntiak. pada tanggal 24 s/d 26 September 1955. Pertemuan ini dihadiri oleh wakil-wakil mahasiswa dari Indonesia, India. Pilipina, R.R.T., sedangkan wakil dari Jepang dan Libanon datangnya terlambat.
Sidang Panitia Persiapan Internasional ini juga telah menietudiui seruan yang isinya antara lain menjelaskan sekali lagi tujuan konferensi yaitu: 1. Untuk membicarakan masalah dan kepentingan bersama guna memajukan kerjasama dalam lapangan kebudaiyaan. snort, beladiar dan kesejahteraan mahasiswa. 2. Untuk memajukan saling pengertian dan pengetahuan serta memperkuat hubungan persahabatan antara mahasiswa-mahasiswa. 3. Mendiskusikan kontribusi mahasiswa dalam memajukan perdamaian dan meredakan ketegangan-ketegangan internasional.
Pertemuan ini juga menyetudiui ide agar konferensi yang akan datang itu diperluas menjadi konferensi Mahasiswa Asia dan Afrika.
252
=== [PDF page 253] ===
Digitized by Google
Sidang Umum K.
di Bandung
M A.A
=== [PDF page 254] ===
Achirnya, setelah melalui berbagai usaha yang gigih dari mahasiswa Indonesia sebagai tuanrumah dari penyelenggaraan konferensi dan di dukung oleh pemuda pada umumnya serta lapisan progresif lainnya, konferensi Mahasiswa Asia-Afrika dapat terselenggarakan sesuai dengan rencananya, yaitu dari tanggal 30 Mei hingga tanggal 7 Juni 1956 dikota yang terkenal dalam sejarah, yaitu Bandung, ibukota Jawa Barat yang juga terkenal sebagai kota Asia-Afrika.
Konferensi dihadiri oleh wakil-wakil organisasi dari 26 negeri Asia Afrika, yaitu: Indonesia, Afganistan, Aljazair, Burma, Sailan, Tiongkok, Mesir, Iran, Jepang, Yordania, Kamerun, Republik Demokrasi Korea, Laos, Libanon, Madagaskar, Malaya, Marokko, Nepal, Pakistan, Sudan, Siria, Togo, Tunisia, Republik Demokrasi Vietnam, Afrika Barat dan Pilipina, tetapi menarik diri pada tanggal 3 Juni 1956 sebelum komunike terakhir dari sidang KMAA diumumkan. Konferensi berjalan lancar, walaupun ada berbagai usaha untuk menggagalkannya dari mesin reaksioner pesuruh imperialis, dan telah berakhir dengan sukses. Konferensi Mahasiswa Asia-Afrika ini telah mengambil keputusan sesuai dengan tujuan konfercnsi, dan yang sesuai dengan tuntutan jamannya.
Konferensi ini dengan dalam telah membahas dan mengambil keputusan tentang masalah-masalah keadaan sosial mahasiswa, fasilitas fasilitas dalam pelajaran, keadaan kesehatan dan kesejahteraan mahasiswa. Juga diputuskan masalah pendidikan dan kerjasama antara fakultas-fakultas guna memajukan dan meningkatkan mutu ilmu pengetahuan.
Tukar-menukar pengetahuan akademi, tukar-menukar pengalaman tentang kehidupan pendidikan, kehidupan kebudayaan negara Asia-Afrika, kerjasama olahraga, perjalanan film, dll., adalah perlu untuk memperkuat kerjasama perguruan tinggi dinegeri-negeri Asia-Afrika.
Perlu dicatat bahwa malam pembukaan konferensi ini mendapat sambutan yang meriah sekali baik dari Presiden Sukarno sendiri yang hadir dan memberi pidato restunya. maupun anggota kebinet dan Perdana Menteri Ali Sastroamijoyo serta berbagai kalangan yang luas lainnya.
Juga pemerintah-pemerintah dan kalangan luas lainnya dari negeri Asia Afrika berkenan memberi dukungan dan restunya sebagaimana yang dinyatakan dalam sambutan-simbutan dari: PM. Sailan, PM. RRT, PM. India, PM. Iran, PM. Nepal, PM. Republik Demokrasi Korea, PM. Republik Demokrasi Viernam, Menteri Pendidikan Republik Demokrasi Korea, Menteri Pendidikan Libiz, Menteri Pendidikan Yordania, Menteri Pendidikan Afganistan, Menteri Pendidikan Turki, Menteri Luar Negeri India, Menteri Pendidikan Republik Demokrasi Korea, Menteri
254
=== [PDF page 255] ===
Kesejahteraan Sosial Indonesia, Perwakilan Pilipina di Jakarta, dan lain-lainnya. Juga sarjana-sarjana, mahaguru-mahaguru serta mahasiswa dari negeri Asi-Afrika mengirimkan tilgram sambutannya, seperti dari Universitas Kabul, Afganistan, Uni Nasional Mahasiswa Afrika Selatan, Federasi Mahasiswa Tiongkok, dan lain-lainnya. Berbagai organisasi di Indonesia juga memberikan sambutan yang hangat serta dukungannya- — Dengan berhasilnya KMAA ini mempunyai arti yang besar dalam sejarah perjuangan pemuda di Asia Afrika umumnya dan pelajar serta mahasiswa khususnya, karena konferensi ini telah mendermakan realisasi lebih lanjut dari prinsip Dasa Sila Konferensi Asia Afrika di Bandung tahun 1955, telah mempersatukan pemuda dan mahasiswa Asia Afrika dalam melakukan perjuangan bersama untuk melikwidasi sisa-sisa kolonialisme dan untuk memperkuat usaha memelihara perdamaian dunia serta hubungan persahabatan dan saling mengerti antara rakyat, pemuda dan mahasiswa dinegeri Asia Afrika.;
Bagi pemuda dan mahasiswa Indonesia konferensi ini mempunyai arti penting: pertama, lebih mendorong, mempererat persatuan dan kerjasama antara mahasiswa dan pelajar khususnya dan pemuda umumnya; kedua, meningkatkan keyakinan akan kemampuan mengorganisasi ketiga, meningkatkan kesadaran politik dan daya juang untuk mencapai cita-citanya.
Ini semua adalah bukti, manifestasi makin bangkit dan bersatunya rakyat Asia Afrika termasuk pemuda dan mahasiswa untuk melikwidasi sisa-sisa terakhir kolonialisme guna membangun dunia baru dimana rakyat dapat hidup damai, bersahabat satu-sama lain, berpendidikan maju, dan hidup adil makmur.
PEKAN PERTEMUAN NASIONAL
PEMUDA
Ide untuk lebih mempererat persatuan dikalangan pemuda adalah ide yang selalu hidup dikalangan pemuda. Hal ini dapat dipahami, karena untuk mencapai cita-citanya pemuda selalu memperlakukan persatuan yang lebih erat dikalangannya sendiri, Disinilah dasar moral dan ide dari inisiatif untuk mengadakan Pekan Pertemuan Pemuda, atau yang terkenal dengan n3ma "Pekan Pemuda Indonesia”. Perlunya diadakan pekan pemuda ini ialah sangat terasa karena masih belum adania persatuan dikalangan pemuda seperti yang diperlukan sesuai dengan tingkat perjuangannya. Walaupun kerjasama, kontak-kontak tidak jarang diadakan terutama dalam menghadapi peristiwa-peristiwa
255
=== [PDF page 256] ===
nasional seperti mengirim delegasi keluar negeri, menghadapi subversif asing, menghadapi pemilihan umum, menyelenggarakan KMAA dil.-nya, tetapi ini semua masih dirasakan sangat kurang bila dilihat dari tuntutan tingkat perjuangannya.
Bahkan kerap kali terasa dipervesarkannya pertentangan-pertentangan perbedaan antara satu sama lain. Kaum imperialis bersama dengan kaum reaksioner dalam negeri selalu berusaha untuk-memecah belah persatuan nasional termasuk pemudanya.
Suparao. salah seorang Ha! ini lebih-lebih terasa setelah pernilihan tokoh Pemula umum DPR dan Konstituante. Kekalahan | kanm rentsioner sebagai tiang kemasiarakatan dari kaum imperialis di Indonesia dalam pemilihan umum itu membuat mereka mencari seribu satu akal untuk melakukan perpecahan nasional, untuk membatalkan semua hasil-hasil pemilihan termasuk pe merintahannya. Mereka berusaha untuk menumbangkan pemerintahan Ali Sastroamijoyo ke-II, suatu pemerintahan yang dibentuk sebagai hasil pemilihan umum. Mereka mulai menghasut beberapa tokoh pusat dan daerah yang reaksioner, terutama dalam kalangan militer untuk menyatakan ketidak puasan terhadap pemerintah Pusat. Mereka menggunakan tokohtokoh reaksioner dalam militer karena mereka mengetahui bahwa tokoh politik dengan melalui partai politik tertentu sudah tidak dapat digunakan untuk maksudnya. Hasutan-hasutan seperti pemerintah Pusat birokrasi, korupsi, Diawa sentris, tidak memperhatikan daerah dan lain-lain terus menerus memenuhi udara politik, baik dalam bentuk tertulis di-suratkabar-di-surat-kabar trompet mereka maupun dalam pidato atau ucapan dalam pertemuan-pertemuan. Mereka juga menyeret pemuda dalam usahanya untuk menimbulkan perpecahan ini. Banyak pemuda yang tidak sadar terhasut dari propaganda jahat itu dan menimbulkan kesulitan tertentu dikalangan pemuda. 0 Keadaan inilah yang mendorong orang untuk mencari jalan, mencari bentuk bagaimanalah menyemen persatuan lebih kokoh lagi dikalangan pemuda. Salah satu bentuk efektif, atau jalan yang realistis yang dapat dilaksanakan ialah sebagaimana yang diajukan oleh Ketua Yayasan Sentrum Pemuda, Mr Supardo, mengadakan pekan pertemuan untuk pemuda Indonesia.
Ide untuk mengadakan Pekan Pemuda dari Yayasan Sentrum Pemuee U Hi cian
256-
=== [PDF page 257] ===
da sebagaimana yang dikemukakan oleh ketuanya Mr Supardo, mempu- | nyai maksud yang sesuai dengan kebutuhan jamamnya, yaitn: 1. menimbulkan pengertian yang baik antara pemuda-pemuda dari segenap sukusuku bangsa Indonesia: 2. dijadikan alat guna menggalang persatuan dan persaudaraan dikalangan pemuda kita, 3. saluran guna memperdalam pengertian dikalangan pemuda dalam lapangan kebudayaan, olahraga dan soal-soal kemasyarakatan lainnya: 4. menjadi tempat titik pertemuan baik dalam pikiran maupun dalam usaha yang ditujukan kepada persatuan pemuda.
Untuk mencapai maksud tersebut Pekan Pemuda ini mengadakan
berbagai kegiatan dalam lapangan kebudayaan, olahraga serta soal-soal kemasyarakatan lainnya. Sedangkan bentuk-bentuknya ialah: pertunjukan-pertunjukan kesenian daerah dan permainan rakyat seperti: seni suara, seni tari, seni sastra, seui irama, seni lukis, seni pahat kerajinan - tangan dan hasil-hasil seni lainnya 5 demonstrasi kecakapan, dalam lapangan kebudayaan, olahraga, dan permainan rakyat karnaval pakaian daerah dan kebiasaan adat istiadat serta hasil usaha pemuda 5 pameran ' mengenai berbagai hasil seni dalam semua cabang-cabangnya: perlombazn/saiembara, dalam lapangan kebudayaan, dan olahraga: upacora, yang biasa diadakan oleh keadaan adat istiadat 5 pertemuan-pertemuan antara pemuda-pemuda untuk: a. bertukar pikiran mengenai perkembangan pemuda dan organisasi pemuda pada umumnya: b. bertukar “Pikiran mengenai kegiatan-kegiatan pemuda dalam lapangan kebudayaan dan olahraga 5 c. bertukar pikvan mengenai masalah kemasyarakatan pada umumnya. Kecuali itu, juga diadakan berbagai kegiatan yang dapat memberi kesempatan kepada pemuda untuk saling mengenal dengan berbagai macam alat perhubungan. Peserta-peserta dari Pekan Pemuda in! ialah: a. pemuda-pemuda baik yang berorganisasi dalam gerakan pemuda, organisasi kebudayaan, olahraga atau sebagai perseorangan, b. mereka yang perhatiannya ditujukan untuk mendorong pemuda dalam kegiatannya dalam lapangan kebudayaan dan olahraga.
Untuk menyelenggarakan Pekan Pemuda dibentuklah Panitia baik dipusat maupun didaerah-daerah. Panitia Pusat dinamakan Panitia Nasional Pusat Pekan Pemuda Seluruh Indonesia atau Panitia Pusat Pekan Pemuda, dan untuk tempat penyelenggaranya didirikan perwakilan Panitia Pusat.
Panitia Pusat ini terdiri dari: P.Y.M. Presiden Sukarno sebagai pelindung, Walikota sebagai anggota kehormatan, Ny. Utami Suryadarma, Prof. Dr. Bahder Johan, Prof. Dr. Priyono, Haryono, Sudargo, Sudarsono, Hamka, Harsono Cokroaminoto, Haryati Adnan, Intoyo, Wim Latumeten
Sejarah Perjuangan 17. 257
=== [PDF page 258] ===
Digitized by Google
Pembukaan Pekan
Pemuda Indonesia di Surabaya
=== [PDF page 259] ===
Sudaryo Cokrosiswoyo sebagai Dewan Pertimbangan, Mr. Supardo, dari Yayasan Sentrum Pemuda sebagai ketua: Sulaeman Dahlan dan Wartono dari Porpisi sebagai ketua I, Panggabean dari M.P.P. Front Pemuda Indonesia sebagai ketua II ) Achmad Patria dari Sekretariat Bersama Kongres Pelajar Pejuang Seluruh Indonesia sebagai ketua III; Sutoyo -Arcundatha dari Yayasan Sentrum Pemuda sebagai Sekretaris I Agus Sudomo dari Porpisi sebagai Sekretaris II 5 Iskhak dari M.P.P. Front Pemuda Indonesia sebagai Sekretaris III: Alinudin Nasution dari Yayasan Sentrum Pemuda sebagai Bendahari I; Chayat dari Porpisi sebagai bendahari II; Gunadisastra dari Gerakan Pemuda Pelajar Indonesia (GPPI) sebagai Bendahari ITI, sedangkan ketua seksi-seksinya terdiri dari Hartini dari PPI sebagai ketua seksi acara; Slamet Sumari dari APPI
sebagai Seksi Usaha 3 Suyono Atmo dari Yayasan Sentrum Pemuda sebagai ketua seksi Penerangan, Publisistik, Dokumentasi, Margono Ongko dari
PP. TRIP sebagai Penghubung. Pekan Pemuda ini €juga mendapaikan dukungan dari berbagai organisasi perseorangan. Dari oraganisasi: Yayasan Sentrum Pemuda, Porpisi, MPP Front Pemuda Indonesia, PPMI, Sekretariat Bersama Pelajar Pejuang Seluruh Indonesia, APPI, BPTI, Pemuda Nasional, Pemuda Rakyat, Pemuda Demokrat Indonesia, Pemuda Putri Indonesia, PPD, Muda Katholik Indonesia, Persatuan Pemuda Kristen Indonesia, IPPI, GPII, Gerakan Pemuda Ansor” PII, HMI, Gerakan Mahasiswa Progresif Indonesia, Gerakan Pemuda Revolusioner Indonesia, Gerakan Mahasiswa Sosialis, Gerakan Mahasiswa Jakarta, DPP, PP TRIP, Masyarakat Seniman Jakarta Raya, Liga Mahasiswa, Iwasesi, Ikatan Pencak Silat Indonesia, Persatuan Artis Film, Ansembl!e Tari dan Nyanyi Gembira, BMKN. Komite Olimpiade Indonesia Pusat, GAPPI, Indonesia Muda. Sedangkan dari perseorangan Ny. Utami Survadarma, Prof. Dr. Bahder Johan, Prof. Priyono, Prof. Dr. Slamet MuHono, Haryoto, Dargo, Sudarono, Sutarman, Hamka, Harsono Cokroaminoto, Haryati Adnan, Sudaryo Cokrosiswoyo, Maladi, Sudarmadi, Henk Ngantung dan Kotot Sukardi.
Mengenai tempat, dipilihnya Surabaya dan waktunya menurut rencana semula ialah tanggal 19 November 1956. Mengapa Surabaya dijadikan tempat diselenggarakan Pekan Pemuda untuk memperkuat persatuan itu?. Hal ini disebabkan karena kota Surabaya adalah kota Pahlawan yang melahirkan semangat pahlawan 10 November 1945.
Sebagaimana sudah diterangkar dalam bab ke-IV bahwa dikota Surabayalah meletus perlawanan pemuda, rakyat yang heroik melawan kaum agresor imperialis Inggris/Belanda, dalam mana pemuda dari semua lapisan
259
=== [PDF page 260] ===
bersatu padu. Karenanya Pengurus Yayasan Sentrum Pemuda memilih Surabaya yang secara abadi melambangkan heroisme dan persatuan ini sebagai tempat Pekan Pertemuan Pemuda.
Usaha untuk menyelenggarakan Pekan Pemuda ini mendapat sambutan hangat dari pemuda seluruh Indonesia. Pemuda diberbagai-bagai daerah Nusantara kita giat membentuk panitia-panitia daerah, dan menyelenggarakan berbagai pertemuan, mengadakan berbagai kegiatan baik dalam bidang olahraga dan kebudayaan maupun pertukaran serta mengumpulkan fikiran-fikiran untuk dijadikan bekal dibawa ke Pekan Pemuda. Kegairahan penyambutan terhadap Pekan Pemuda tercermin bahwa hingga dibukanya Pekan Pemuda itu telah terbentuk 19 panitia daerah termasuk Irian Barat. Setelah selesai dengan berbagai usaha persiapan yang intensif, Pekan Pemuda Seluruh Indonesia yang sedianya dimulai pada tanggal 10 November 1956, tetapi karena pertimbangan tehnis diundur, dibuka pada tanggal 3 sampai 9 Maret 1957.
Surabaya, pada hari minggu pagi tanggal 3 Maret 1957, sejak pagi-pagi pemuda-pemuda sudah mulai sibuk hilir mudik bersiap mengunjungi pembukaan Pekan Pemuda. Tepat jam 07.30 Pekan Pemuda dibawah nsungan Tugu Pah'awan dibuka. Presiden Sukarno berkenan memberi amanatnya, yang antara lain mengatakan bahwa "asal masing?
suku dari setiap peserta itu sesungguhnya laksana batu permata dari pada persatuan Indonesia”. Beliau mengatakan bahwa "mereka ini ke Surabaya untuk berkumpul itu hakekatnya mewakili suku masing-masing tetapi intinya adaiah mewakili Pemuda Indonesia”. Upacara pembukaan Pekan Femuda ini digenangi oleh lantan manusia- bukan hanya pemuda, tetapi seluruh lapisan penduduk, tua muda, lali dan wanita. Ketua Panitia Supardo SH memberikan pidato pembukaannya yang singkat dan disusul oleh sambutan singkat Waliketa Surabaia. | |
Pekan Pemuda berlangsung selama 1 minggu dengan baik. Semua acara yang telah ditetapkan o'eh panitia berjalari lancar. Selama satu minggu pcmuda dari berbagai suku bangsa, seluruh Indonesia dengan tidak membedakan aliran po'itiknia, kepercayaan agamanya telah berkumpul bertanding dalam olahraga saling berlomba mengadu keunggulan prestasinya masing-masing secara persaudaraan dan saling mempertunjukkan keseniannya masing-masing yang beraneka ragamnya menghias kota Taman Pahlawan yang membuat makin indahnya. Bhineka Tunggal Ika, terwujud jelas dalam Pekan Pemuda ini.
Dalam malam penutupan Pekan Pemuda ini diadakan pawai obor yang berangkat dari Balai Kota terus melewati Sindunegaraan, jalan Pemuda, Tunjungan, Tugu Pahlawan. Dalam pawai obor ini peserta?
260
=== [PDF page 261] ===
Pekan Pemuda memakai pakaian daerahnya masing-masing. Malam penutupan juga dihikmati dengan ikrar pemuda yang menyatakan kesetiaan terhadap tradisi persatuan pemuda, dan akan tetap memelihara tradisi persatuan itu.
Dengan dilangsungkannya Pekan Pemuda yang berhasil baik ini merupakan usaha besar dalam membantu untuk mempercepat penggalangan persatuan yang lebih baik, lebih erat dan lebih kuat, sebagai syarat yang diperlukan untuk melanjutkan perjuangan pemuda, per- Gyuangan seluruh rakyat Indonesia untuk mempertahankan kesatuan Republik Indonesia, yang demokratis. Hawa Pekan Pemuda adalah hawa segar yang ikut serta dibawa pulang pesertanya keberbagai daerah, dan meniup melalui pantai-pantai dan menyeberangi lautan keberbagai penjuru kepulauan Nusantara kita. 0
MENDUKUNG KONSEPSI
PRESIDEN
Pemilihan umum untuk Dewan Perwakilan Rakyat dan Konstituante yang berlangsung pada tahun 1955/1956 adalah suatu kemenangan besar bagi ide dan kekuatan demokrasi dalam masyarakat Indonesia, termasuk.
Galam kalangan pemudanya. Hasil pemilihan umum yang mencerminkan perimbangar dalam masyarakat dan yang secara menyolok memperlihatkan bahwa kekuatan demokrasi adalah kekuatan besar yang terus berkembang dapat mengalahkan kekuatan non-demokrasi, lawan demokrasi.
Ini berarti bahwa kekuatan reaksioner dalam masyarakat Indonesia, yang tercerminkan dalam pemilihan umum sangat labil, tidak kuat dan terus merosot. Dengan perimbangan ini maka sudah jadi kepastian mutlak bahwa kaum imperialis sudan tidak mungkin lagi menggunakan partai politik atau organisasi politik biasa untuk mencapai tujuan, memegang pemerintahan dengan jalan ”demokrasi”. Mereka melakukan berbagai intrik dengan menghambur-hamburkan tuduhan dan memfitnah PKI, sebagai salah satu partai besar yang keluar dari pemilihan umum, dengan maksud agar tidak terbentuk kabinet dalam mana PKI ikut serta. Mereka berusaha untuk menumbangkan kabinet Ali-Idham (Ali Sastroamijoyo — Idham Chalid) sebagai kabinet hasil pemilihan umum dimana partai Masyumi dan PSI tidak ikut serta. Kaum reaksi berusaha untuk mendirikan yunta-yunta militer sebagai lazimnya yang dipakai oleh kaum imperialis Amerika di negeri Amerika Latin, atau mendirikan diktator perseorangan, diktator alat kaum kapitalis monopoli.
Terhadap usaha kaum reaksi ini pemuda, yang ikut serta bertanggung Cyawab dalam terlaksananya pemilihan umum, tak juga acuh tak acuh.
261
=== [PDF page 262] ===
Berbagai organisasi pemuda memberikan pernyataan terhadap usaha kaum reaksioner, pernyataan yang isinya mendukung kabinet Ali-Idham,dan mengutuk usaha kaum reaksi itu. Hal ini dapat dilihat antara lain dalam pernyataan Pimpinan Pusat Pemuda Rakyat yang diumumkan pada tanggal 17 Januari 1957 yang dinyatakan "mendukung setiap jalan yang ditempuh untuk meneruskan dan diperkuatnya kabinet Ali-Idham tanpa Masyumi dan PSI. Dalam pernyataan itu juga dikemukakan ajakan kepada rakyat umumnya berjuang untuk mendorong pemerintah guna: 1). Melaksanakan programnya yang telah disetujui oleh Parlemen Secara bulat dengan mengadakan tindakan-tindakan tegas terhadap anasir?
sabot dan korup disemua alat pemerintahan yang menghalangi terlaksananya program tersebut, dan bertindak tegas terhadap aktivitas subversif asing anti Repub:ik. 2). Melaksanakan pembatalan KMB secara sungguh?
terutama dilapangan ekonomi dan keuangan dan melaksanakan pendemokrasian pemerintah disemua tingkatan untuk mengembangkan kekuatan rakyat. 3). Memperkokoh solidaritas anti kolonialisme dan kerjasama dengan negara Asia Afrika untuk memenangkan klaim nasional kita atas Trian Barat di PBB, serta kerjasama negara atas dasar saling: menguntungkan guna memelihara perdamaian dunia.
Juga diberl-agai tempat diadakan rapat yang mengambil resolusi untuk meniokong kabinet Ali- 'Ydham, seraya mengajukan saran dan tuntutannya. Dalam rapat yang diselenggarakan oleh Panitia Koordinator Persatuan Pemuda Salatiga — Jawa Tengah, yang terdiri dari 10 organisasi pemuda setempat yaitu Persatuan Pelajar Demobilisan, Permusyawaratan Pemuda Indonesia, Ikatan Warga CTN, Pemuda Rakyat, Perbepsi, Gerwani, ITVI, PPTS, IPPI, Persatuan Demobilisan Pelajar, yang dihadiri lebih kurang 7.000 orang menuntut agar pemerintah mengambil tindakan tegas terhadap kaum separatis, tidak menyetujui pelanggaran demokrasi, menuntut segera dixsitanya perusahaan? Belanda, dan segera diambil tindakan terhadap anasir subversif asing. Juga terhadap usaha separatis, yang hendak memisahkan diri dari RI seperti halnya dengan dinyatakan dalam kejadian dikalangan tentara di Sumatra Utara tetapi yang telah digagalkan oleh overste Jamin Ginting, pemuda?
memberi sokongannya.
Dalam menghadapi kaum reaksioner untuk menjatuhkan kabinet hasil pemilihan umum, suatu kabinet yang baik politik, personalia dan tindakannya lebih maju dari kabinet sebelumnya, rakyat termasuk pemuda Indonesia memberikan perlawanan yang gigih dan santer juga.
Kaum reaksi bukan hanya melakukan tekanan-tekanan dari luar kabinet tetapi juga beberapa elemen yang kurang teguh dalam kabinet sendiri
262"
=== [PDF page 263] ===
terkena hasutan mereka dan mulai goyah pendiriannya. Ini semua adalah tantangan jaman, tantangan terhadap demokrasi, terhadap rakyat yang telah memberikan suaranya, yang membeayai pemilihan umum itu sendiri.dan yang sekaligus menjadi penyelenggaranya. Dimana-mana rakyat, pemuda Indonesia aktif menyatakan pendapatnya bahwa mereka mempertahankan hasil pemilihan umum dan menuntut tindakan yang lebih maju dari kabinet Ali-Idham. Dalam proses perjuangan untuk membela hasil pemilihan umum serta dilaksanakan politik yang progresif dari serangan dan usaha merongrong oleh kaum reaksioner inilah, Presiden Sukarno memberikan jawaban yang menyatakan pendirian demokratis, jawaban yang terkenal dengan nama Konsepsi Presiden.
Konsepsi Presiden ini dinyatakan dalam bentuk pidato beliau sendiri pada tanggal 21 Februari 1957, Kamis malam jam 20.05, diistana negara, dihadapan kurang lebih 1000 orang, yaitu pemimpin-pemimpin partai, pemuka-remuka rakyat anggota Dewan Menteri, pembesar sipil dan militer. Dalam pidato ini Presiden Sukarno menyatakan ”bahwa Gemokrasi Barat tidak sesuai dengan jiwa bangsa Indonesia, yang menjadi sebab dari pada kesulitan-kesulitan karena jatuh-bangunnya kabinet selama ini, selama sebelas tahun merdeka. Sistim ketata-negaraan Indonesia yang didasarkan prinsip demokrasi Barat itu senantiasa menimbulkan dua kesulitan pada tiap-tiap pemerintahan yang dibentuk, yaitu kurangnya kewibawaan dan santernya oposisi, sehingga tak ada kabinet yang tahan lama”, Berdasarkan pikiran ini, Presiden Sukarno berpendapat ”sistim ketata-negaraan ini harus dirombak dan diganti dengan yang cocok dengan jiwa bangsa Indonesia, dengan menyusun suatu bentuk ketatanegaraan dimana alle leden van de familie aan de tafel zitten — aan de eettafel en aan de werktafel”. Untuk merealisasi gagasan ini Presiden Sukarno mengajukan konsep perlunya suatu KABINET GOTONG ROYONG dan kabinet ini menurut beliau harus didampingi oleh suatu dewan yang memberikan nasehat kepada kabinet ini baik diminta atau tidak. Dewan ini dinamakan DEWAN NASIONAL.
Konsepsi Presiden yang dinyatakan dalam suatu pidato yang kurang lebih satu jam lamanya ini disiarkan melalui Radio Republik Indonesia, keseluruh pelosok tanah air, dan dengan demikian dapat didengar dan diikuti oleh seluruh rakyat Indonesia yang dapat menangkapnya siaran itu. Karenanya konsepsi ini segera mendapatkan reaksi dari kalangan rakyat yang luas, termasuk pemudanya. Pemuda Indonesia yang juga ikut merasa kepahitan dari sistim yang lama yang tidak cocok dengan keadaan Indonesia. yang ikut juga giat untuk mencari jalan pemecahan sesuai dengan keadaan Indonesia, setelah mendengarkan Konsepsi Pre-
1263
=== [PDF page 264] ===
siden segera memberikan reaksinya, yang pada pokoknya sebagian besar menyokong sedangkan sebagian kecil yang menentangnya dan ada sebagian lain yang ragu-ragu pada permulaannya, tetapi dalam proses perkembangan selanjutnya ikut juga menyokongnya. Sokongan pemuda ini dapat kita lihat dari berbagai pernyataan yang diberikan oleh berbagai organisasi pemuda yang ada di Indonesia seperti: Dewan Pimpinan Pemuda Demokrat dalam siarannya pada bulan Februari 1957, menyerukan kepada seluruh anggotanya untuk mendukung serta ikut aktif dalam usaha-usaha bersama untuk mendukung Konsepsi Presiden: Dewan Pimpinan Pusat Tentara Geni Pelajar Brigade XVII dalam suatu pernyataannya mendukung Konsepsi Presiden, dan menganjurkan agar pemuda ikut menjaga keamanan kearah terlaksananya Konsepsi ) Rapat Umum Merah Putih yang diselenggarakan oleh Panitia Anti Gerakan Subversif Semarang yang dilangsungkan dialun-alun Semarang pada tanggal 26 Februari 1957 juga menyatakan dukungannya terhadap Konsepsi Presiden Ikatan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Merdeka dalam pernyataannya juga mendukung Konsepsi Bung Karno, karena konsepsi itu sesuai dengan watak 'bangsa Indonesia; Gerakan Mahasiswa Progresif dalam rapat plenonya tanggal 27 Februari 1957 yang khusus diadakan untuk membicarakan Konsepsi Presiden, mengambil keputusan untuk mendukung Konsepsi itu, serta bersedia melaksanakannya dengan segala akibat-akibatnya » juga Pimpinan Pusat Pemuda Rakyat menyatakan mendukung konsepsi. Disamping dukungan dari organisasi pemuda, Konsepsi itu juga mendapat dukungan luas dari berbagai organisasi massa maupun perseorangan. | | Untuk memperkuat dukungan terhadap Konsepsi Presiden ini, oleh berbagai organisasi pemuda yang telah menyatakan dukungannya dibentuk suatu organisasi, yang terdiri dari IPPI, TRIP, Korp Ex. TGP, Pemuda Rakyat, Pemuda Demokrat dll. yang diberi nama Panitia Pendukung Konsepsi Presiden. Panitia ini melakukan kegiatan yang besar dalam mendukung Konsepsi itu, serta mengadakan rapat umum di berbagai tempat dan daerah, seperti di Surabaya, Semarang, Yogyakarta, Jakarta dan ditempat-tempat lain. Aksi mencoreti tembok juga dilakukan yang isinya mendukung dan mendorong dilaksanakan Konsepsi Presiden. Di Jakarta pemuda dengan kegairahan muda bekerja siang malam, hilir mudik kesana kemari, sibuk menghubungi berbagai tokoh politik, gerakan massa dan tokoh gerakan nasional lainnya untuk meminta pendapatnya, mendorong mereka untuk menyetujui Konsepsi Presiden, membuat siaran dan lain-lain. Dalam peristiwa ini pemuda-pemuda Indonesia sekali lagi diuji apakah watak aslinya tidak luntur karena
264
=== [PDF page 265] ===
peredaran jaman. Ujian ini menunjukkan bahwa watak revolusioner pemuda watak mencari pembaruan selalu, watak berani dan bertanggung jawab, masih tetap dan terus menyala dalam dada pemuda. Pemuda?
dengan penuh antusias menyambut dan mendukung Konsepsi karena mereka merasakan bahwa ini adalah suatu ide yang maju, yang sesuai Gengan tuntutan keadaan.
Sementara aksi untuk mendukung Konsepsi Presiden terus berjalan, dan gema Pekan Pemuda di Surabaya masih terasa hangat, pemuda di Jakarta juga meneruskan usahanya mencari jalan memperkuat dengan adanya berbagai reaksi kaum separatis yang makin hari makin terasa mengamuknya untuk menimbulkan perpecahan Nasional dengan mulai membentuk Dewan-dewan partikelir. Dalam usaha untuk memecah belah | Gan menumbangkan kekuasaan Negara Republik Indonesia, mereka melakukan percobaan pembunuhan Presiden Republik Indonesia Ir. Dr.
Sukarno dan -melakukan penggranatan terhadap gedung Dewan Nasional SOBSI di Gang Tengah Jakarta, digedung Comite Central PKI di Kramat Raya 81, dirumahnya Sukendro. Juga aksi untuk menuntut agar Irian Barat dikembalikan kepangkuan Republik Indonesia berjalan santer dan hangat. Keadaan ini semua makin mendorong pemuda Indonesia mencari jalan lebih mempersatukan diri dalam bentuk kerjasama satu sama lain. Sementara keadaan ini berjalan, terbentuklah badan kerjasama pemuda, pelajar dan mahasiswa anti subversif asing dan kemudian dalam proses perjalanan perjuangan dibentuklah Badan Kerjasama Pemuda Militer atas instruksi Kepala Staf Angkatan Darat tanggal 5 Juli 1957. Terbentuknya BKSPM ini dalam arti tertentu mendorong memperbaiki kerjasama antara Pemerintah dengan pemuda.
Juga dalam proses perjuangan ini oleh pemerintah telah dibentuk Dewan Pertimbangan Pemuda yang terdiri dari 70 organisasi pemuda, pelajar dan mahasiswa. Peresmian Dewan Pertimbangan Pemuda ini dilakukan dengan pelantikan di Istana Negara pada tanggal 26 Juli 1962.
Dalam menghadapi kegiatan-kegiatan kaum separatis yang hendak memecah belah Republik Indonesia, Pemuda Indonesia sekali lagi menyatakan tekadnya dengan mengikrarkan sumpah ”Parca Prasetia Pemuda Indonesia”. Sumpah ini ditandatangani oleh 60 orang dari anggota?
Dewan Pertimbangan Pemuda dan staf pelaksana dari BKSPM cxecara khidmat pada tanggal 16 Agustus 1962, digedung yang bersejarah Pegangsaan Timur 56 (kini telah dibongkar dan didirikan gedung Pola Eembangunan) dalam ruangan dimana dulu juga ditandatangani naskah proklamasi kemerdekaan 1945. Isi sumpah Panca Presetia itu
265
=== [PDF page 266] ===
ialah: 1). Pemuda Republik Indonesia, pemegang hari depan rakyat kita, bersifat ksatria-tolerensi-musyawarah, setia kawan dan bertanggung jawab. 2). Kami Pemuda Republik Indonesia, setia dan taat pada sumpah pemuda 28 Oktober 1928. 3). Kami Pemuda Republik Indonesia tetap meneruskan cita-citanya proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945.
4). Kami Pemuda Republik adalah pelopor persatuan Bangsa Indonesia.
5). Kami Pemuda Republik Indonesia menjunjung tinggi agama, dan keyakinan masing-masing serta sedia berkorban untuk keluhuran Negara dan Bangsa Indonesia.
Sumpah ”Panca Prasetia Pemuda Indonesia” ini menunjukkan kebulatan tekad pemuda dalam mempertahankan Republik Indonesia 1945, suatu Republik yang didirikan dimana pemuda telah membayar dengan banyak korban, yang hendak dihancurkan oleh kaum separatis.
Sumpah setia terhadap Republik Proklamasi 1945 juga sekali lagi diikrarkan oleh Presiden Sukarno, berkenaan dengan peringatan berdirinya Republik Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1957 jam 24.00 tepat.
Dibawah naungan peristiwa-peristiwa sumpah setia ini, atas inisiatif berbagai organisasi pemuda dari berbagai golongan, seperti pelajar, mahasiswa, Veteran, dan lain-lain, yang juga mendapatkan bantuan dari badan pemerintahan seperti Badan Kerja Sama Pemuda Militer Daerah Jakarta Raya, Jawatan Penerangan Kotapraja Jakarta Raya, Kementerian Petera, Kementerian PPK, Kementerian Penerangan, Inspeksi Pendidikan Masyarakat daerah Jakarta Raya, dan dari berbagai organisasi lainnya, pada tanggal 1 sampai 10 Desember 1957 diadakan seminar pemuda Jakarta. Seminar pemuda Jakarta Raya ini didukung oleh 26 organisasi pemuda, yang antara lain seperti, Pemuda Muhamadiah, T.H.H.S.H., Ikatan Pemuda Maluku daerah Jakarta Raya, Persatuan Pemuda Sekolah Guru, Persatuan Pelajar Demobilisan dan lain-lain.
Seminar diikuti oleh wakil organisasi bertingkat daerah Jakarta Raya, wakil organisasi lokal Jakarta, wakil Badan Pemerintah, perseorangan yang dianggap oleh para pengambil inisiatif mempunyai keahlian dan pengalaman dalam soal kepemudaan. Dalam seminar ini dibahas soalsoal pengajaran, pendidikan, kebudayaan, kerokhanian, kejasmanian, kesehatan, kemasyarakatan yang masing” diantar oleh Prof. Dr. Bahder Johan. Presiden Universitas Indonesia, Mr Supardo, Sekretaris Jendral Kementerian Pengerahan Tenaga Rakyat (Petera), Moh. Said tokoh pendidikan Taman Siswa, Suyono Atmo Anggota Dewan Nasional wakil dari golongan pemuda, Prof. Ir. Roseno Anggota Persatuan Insinyur Seluruh Indonesia, kedua orang belakangan ini masing-masing mengantarkan masalah pemuda dan kemasyarakatan, pemuda dan tekhnik,
266
=== [PDF page 267] ===
Rubady Kepala Inspeksi Pendidikan Jasmani Jakarta Raya, mengantarkan pemuda dan kesehatan kejasmanian Geno Susanto Kepala Bagian Pemuda Pendidikan Masyarakat di Jakarta Raya mengantarkan masalah pengalaman hidup dan kehidupan pemuda ibukota.
Sesuai dengan sifatnya maka dalam seminar ini juga diadakan kegiatan olah raga dalam bentuk pertandingan-pertandingan olah raga yang ringan yang juga memudahkan pemuda dari berbagai organisasi bertemu dan berhubungan satu sama lain.
Dengan demikian maka seminar ini mempunyai arti penting dalam mendorong dan mempercepat usaha untuk mempererat dan memperkuat kerjasama pemuda, organisasi pemuda umumnya, khususnya diibukota yang mempunyai peranan penting dalam proses perjuangan.
MENUMPAS PEMBERONTAKAN
PRRI/ PERMESTA
Kaum reaksioner di Indonesia sudah sejak hari permulaan revolusi Agustus 1945 melakukan peranan yang negatif baik dalam persiapan, maupun setelah proklamasi kemerdekaan Indonesia diumumkan. Dalam melakukan kegiatan membela kepentingan kaum monopoli pada permulaannya mereka masih menggunakan kata-kata yang seolah-olah menggambarkan bahwa mereka membela kepentingan rakyat, membela Revolusi, tanah air, kemerdekaan dll. Tetapi dalam perkembangan sediarah rupa sebenarnya dari mereka makin nampak, makin tidak disukai dan makin terisolasi dari massa rakyat. Juga makin hari makin sulit bagi mereka untuk tetap menyembunyikan dalam kata-kata yang nampaknya bagus itu. Praktek revolusi yang nyata menguji kebenaran dari semua janji, kata-kata dan teori-teori mereka.
Pemilihan umum untuk D.P.R. dan Konstituante yang berlangsung pada akhir tahun 1955 memberikan keputusan permulaan dan bukti bahwa rakyat yang luas tidak mengikuti atau mempercayai mereka. Dalam menghadapi pemilihan umum ini, pada permulaannya mereka mempunyai harapan akan keluar dari pemilihan dengan dukungan suara yang memungkinkan mereka untuk memasuki kabinet dan pemimpinnya. Tetapi harapan ini kemudian menjadi pudar dan bahkan lenyap, karena suara yang mereka harapkan tidak tercapai, walaupun seluruh suara dari golongan mereka disatukan. Karena menghadapi jalan buntu yang demikian itu mereka dengan kenekadan orang yang putus harapan kaum reaksioner melakukan kegiatan untuk mengrongrong dan merusak hasil
" 267
=== [PDF page 268] ===
pemilihan umum, menyiapkan segala macam tindakan yang nekad, yaitu mendirikan dewan-dewan partikelir diberbagai daerah diluar Jawa, dimana mereka merasa mendapatkan dukungan suara yang banyak, seperti Dewan Banteng di Sumatra Barat, Dewan Gajah di Sumatra Utara, Dewan Garuda di Sumatra Selatan, Permesta di Sulawesi dan sebangsanya. Tindakan mereka ini sudah direncanakan sejak jauh hari, yaitu dari sejak apa yang mereka namakan reuni ex-divisi Banteng pada bulan November 1956 di Padang, Sumatra Barat. Tindakan ini adalah suatu langkah yang jelas bahwa mereka akan mendirikan apa yang dinamakan pemerintah tandingan setelah usaha untuk menggulingkan pemerintah pusat itu mereka lakukan dengan berbagai macam jalan. Mereka melakukan kegiatan aksi-aksi,,anti korupsi”, untuk menutup korupsi yang mereka lakukan sendiri,,,anti birokrasi” untuk menutupi segala macam birokrasi yang mereka ciptakan sendiri. Dalam usahanya unfuk menumbangkan pemerintah pusat, mereka menggunakan elemen-elemen reaksioner dalam militer untuk mencapai tujuannya. Mereka mengorganisasi kup dan pembunuhan-pembunuhan seperti 16 Oktober 1956, dimana mereka menggunakan resimen pertempuran angkatan darat ( RPKAD)
untuk menangkap pemimpin-pemimpin pemerintah Republik Indonesia.
Pada tanggal 13 Agustus elemen-elemen reaksioner dalam militer menahan Ruslan Abdulgani yang pada waktu itu sebagai Menteri Luar Negeri Republik Indonesia hendak berangkat ke PBB, untuk mengajukan masalah Irian Barat kedalam sidang umum PBB dimana sikap-sikap kaum imperialis akan ditelanjangi karenanya.
Perbuatan nekad ini kemudian disusul dengan tindakan yang lebih nekad, yaitu pada tanggal 16 Nopember 1956 Simbolon meng-kup kekuasaan di Sumatra Utara. Tindakan ini disusul lebih nekad lagi yaitu pada tanggal 20 Desember 1956 Achmad Husein secara tidak sah mengoper kekuasaan Gupernur Ruslan Mulyoharjo di Bukittinggi dan kemudian pada tanggal 22 Desember 1956 disusul dengan pernyataan Simbolon dengan melalui radio Medan bahwa dirinya melepaskan dari pusat untuk sementara (maksudnya sampai Hatta diserahi membentuk kabinet), tidak mengakui kabinet Ali-Idham dan mengambil oper kekuasaan diwilayah TT I. Tindakan Simbolon ini digagalkan oleh putusan pemerintah pusat yang memerintahkan pada overste Jamin Ginting atau Wahab Makmur mengoper kekuasaan dari tangan kaum separatis, pada tanggal 22 Desember 1956 itu juga. Tugas ini dilaksanakan dengan baik dan,.kerajaan” Simbolon dapat ditumbangkan hari itu. Peristiwa ini terkenal dengan nama ejekan,,kerajaan sehari” Simbolon, di Sumatera Utara.
Dalam melakukan kegiatan separatis ini kaum reaksioner juga'
268
a Sena
=== [PDF page 269] ===
menghasut pemuda-pemuda, karena mereka tahu bahwa tanpa pemuda tak mungkin mendapatkan kekuatan untuk melaksanakan maksudnya.
Mereka dapat menipu sebagian kecil pemuda yang masih belum cukup tinggi kesadaran politik nasionalnya. Sifat-sifat heroisme pemuda, hasrat untuk mengabdi kepentingan rakyat dan daerahnya digunakan dengan propaganda dan agitasi palsu tentang birokrasi pemerintah pusat, korupsi, Jawa sentris, Jawa mau menguasai suku-suku lain dll. Propaganda ini bisa termakan oleh pemuda-pemuda itu karena memang kenyataannya penyakit itu menghinggapi banyak penjabat pusat sudah sejak tahun sebelum pemilihan umum dan bahkan diciptakan oleh tokoh-tokoh reaksioner sendiri sewaktu memimpin pemerintahan.
Sebagai hasil dari tipu muslihat kaum separatis ini maka sejumlah pemuda di Makasar, pada tanggal 3 Agustus 1957, hari Minggu pagi mengadakan rapat dengan bertempat dibalai perwira Makasar membentuk apa yang dinamakan,,Pemuda Permesta”. Organisasi ini diketuai oleh seorang yang bernama A. Muin dan sekretarisnya A. Aziz, sedangkan organisasi yang menjadi pendukungnya ialah apa yang dinamakan,,Dewan Permesta Indonesia Timur”, Korps Pemuda Pembangunan, Pemuda Ichwanul Muslimin, Konsentrasi Pemuda Revolusioner Lompobatang.
Di Sumatra Barat organisasi pemuda yang mendukungnya ialah: Gerakan Mahasiswa Sosialis, GPII, dan lain-lain, sedangkan di Sumatra Selatan mereka juga mendapat dukungan organisasi pemuda yang sama. Dalam menghadapi kegiatan kaum separatis ini pemuda Indonesia yang setia terhadap sumpah pemuda, tidak bersikap bertumpang dagu menantikan apa yang terjadi. Latihan politik yang sudah mereka peroleh selama revolusi Agustus 1945 dan tekad mereka untuk mempertahankan, serta mengisi Republik proklamasi membangkitkan mereka untuk bertindak menghalangi, menggagalkan dan menumpas segala kegiatan kaum extrim kanan, yang hendak meneruskan politik pemecah belahan kaum kolonialis Belanda. Berbagai organisasi pemuda yang demokratis mengutuk segala kegiatan kaum separatis dan menuntut kepada pemerintah untuk segera mengambil tindakan melarang dan menangkapi pemimpin mereka. Pemuda di Sumatra Utara dengan antusias menyokong overste Jamin Ginting dan overste Wahab Makmur dalam melaksanakan tugas pemerintah pusat menggagalkan Cup Simbolon pada tanggal 22 Desember 1965, dan mengusir kaum separatis yang bersembunyi didalam militer yang hendak menggunakan militer untuk menentang pemerintah Pusat. Front Pemuda Sumatra Selatan dalam mobilisasi massa pemuda untuk mempertahankan kesatuan negara R.I. juga mendukung tindakan Jamin Ginting sebagaimana yang dinyatakan dalam pernyataannya yang diumumkan dalam
269
=== [PDF page 270] ===
minggu pertama bulan Januari th. 1957. Juga berbagai organisasi pemuda dari berbagai daerah menyatakan kemarahan terhadap kegiatan kaum extrimis kanan ini.'
Walaupun ada berbagai pernyataan ini kaum separatis masih terus melangsungkan kegiatannya bahkan mengambil bentuk yang amat kejam.
Sangat disayangkan bahwa pada permulaannya pemerintah R.I. mengambil sikap yang lunak terhadap mereka bahkan mengambil langkah-langkah yang bersifat memberi hati pada mereka dengan mengundangnya untuk melakukan berbagai musyawarah, dan memberi otorisasi keuangan yang mereka tuntut yang sudah nyata akan digunakan untuk membeayai kegiatan mereka menentang pemerintah pusat.
Kaum separatis menganggap sikap lunak pemerintah R.I. itu, suatu pertanda bahwa pemerintah pusat akan mudah digulingkan apabila dilakukan tindakan itu. Pada tanggal 9 Januari 1958 kaum separatis mengadakan rapat gelap di Sungai Dareh, di perbatasan Sumatra Selatan dan
Sumatra Teggah, yang dihadiri oleh Lubis, Simbolon, Dahlan Jambek, |
Moh. Natsir, Syafrudin Prawiranegara, Sumitro dll. Dalam rapat ini mereka mempersoalkan langkah yang hendak dilakukan. ©
Dalam dokumen yang diketemukan oleh alat kekuasaan R.I. dari Zulkifli Lubis dalam suatu razia yang dilakukan pada tanggal 6 Januari 1958 menyatakan bahwa kaum separatis sudah mengambil keputusan untuk mendirikan pemerintah pusat yang lain, menghantam pemerintah pusat dan memproklamasikan apa yang mereka namakan negara PRRI.
Selanjutnya mereka mengambil langkah untuk lebih memperkuat tuntutannya terhadap pemerintah Pusat dengan mengadakan rapat raksasa pada tanggal 6 dan 9 Januari 1958, yang menuntut agar kabinet Juanda bubar dan minta ‘kepada Presiden untuk menunjuk Hatta dan Ha mengkubuwono sebagai formatur dan Presiden kembali sebagai presiden konstitusionil. Rapat ini diselenggarakan oleh apa yang dinamakan Badan Aksi Rakyat Sumatra Barat” dan yang berbicara ialah Simbolon dan Dahlan Jambek. Mereka sekali lagi menegaskan sifat separatisnya terhadap pemerintah pusat dengan ancaman akan mendirikan pemerintah sendiri yang dikepalai oleh Syafrudin Prawiranegara dan akan melakukan hubungan dengan luar negeri. Dalam keadaan seperti ini pemimpin-pemimpin GPII sekali lagi memperlihatkan sikap yang menyokong kaum separatis dengan tuntutannya yang diajukan kepada penjabat Presiden Juanda sewaktu Presiden Sukarno sedang ke Jepang (Tokyo), yang minta agar pemimpin-pemimpin daerah diundang dan diajak berunding.
Sudah tentu yang dimaksudkan dengan pemimpin daerah ialah pemimpinpemimpin kaum separatis. Sementara itu Vence Sumual, salah seorang
270
=== [PDF page 271] ===
kepala kaum separatis yang dikirim keluar negeri oleh kaum pemberontak separatis, dengan melalui Warrow, menyampaikan,,ultimatum” tentang hasil rapat Sungai Dareh kepada Presiden yang pada waktu itu berada di Tokyo. Juga,,tokoh-tokoh” kaum separatis yang dikirim keluar negeri mengadakan kegiatan menentang R.I. berusaha mendapatkan bantuan dari negara lain terutama anggota Seato.
Pemuda Indonesia yang mengikuti keadaan yang makin memburuk, dimana kaum separatis makin mengintensifkan persiapannya untuk menentang Republik Indonesia, juga makin memperlipat gandakannya usaha-usahanya guna menggagalkan usaha kaum separatis itu. Pada tanggal 3 Februari 1958, Badan Kerjasama Organisasi-organisasi Pejuang Sumatra mengeluarkan pernyataan yang isinya menentang aksi kaum separatis dan menyerukan agar pemerintah waspada terhadap hal ini. Pada tanggal 15 Februari 1958, konferensi pers Sumual dan Des Alwi tokoh kaum separatis, di Manila — Pilipina, digagalkan oleh usaha-usaha pemuda Ade Hasan dan Bakri Iliyass Pemuda Indonesia yang sedang belajar di Jepang juga menyatakan kesetiaannya berdiri dibelakang Presiden Sukarno dan hanya mengenal satu pemerintah yang 'berpusat di Jakarta. Desakan-desakan dari berbagai organisasi massa yang demokratis makin santer, agar pemerintah mengambil tindakan yang tegas menindas kaum separatis itu. Pada tanggal 20 Februari 1958 Korps Pemuda Indonesia mendesak kepada pemerintah Republik Indonesia untuk segera menindas gerakan yang merugikan rakyat dan gerakan yang dapat meruntuhkan negara kesatuan Republik Indonesia, agar mengambil tindakan yang tegas dan berani terhadap siapa saja yang ber- Chianat kepada rakyat dan negara kesatuan Republik Proklamasi. Pernya-- taan seperti ini juga dikeluarkan oleh Himpunan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia Seberang yang berkedudukan di Surabaya. Pernyataan yang patriotik dan demokratis terus mengalir dari berbagai organisasi pemuda, seperti dari PP Pemuda Rakyat, dari DPP Ex TRIP, dari DP Ex. Tentara Geni Pelajar, dari Pemuda Demokrat, Pemuda Muslimin Indonesia dari SOBSI, dari BTI, Gerwani dll-nya.
Achirnya, dengan tekadnya yang kalap, kaum separatis s mengambil jalan nekad. Pada tanggal 10 Februari 1958 Achmad Husein dengan melalui radio Padang dan Bukittinggi menyiarkan apa yang mereka namakan,,Piagam Perjuangan untuk menyelamatkan Negara” yang berisi tuntutan dengan sangsi yang antara lain sebagai berikut: 1). Dalam waktu lima kali 24 jam kabinet Juanda supaya menyerahkan mandat kepada penjabat Presiden atau Presiden mencabut mandat kabinet Juanda. 2). Supaya Hatta dan Hamengkubuwono diberi tugas mem-
271
=== [PDF page 272] ===
bentuk kabinet. 3). Presiden supaya kembali kedudukannya sebagai Presiden Konstitusionil. | |
Bersama dengan saat "ultimatum” ini, pada tanggal 11 Februari 1958 pasukan-pasukan Husein menyerbu pangkalan udara Padang dengan kekuatan 1 batalyon (500 orang) yang pada waktu itu dijaga oleh.satu peleton (50 orang) dari anggota Angkatan Udara. Ini adalah tindakan kup yang menentang pemerintah Republik Indonesia, menentang seluruh rakyat Indonesia.
Terhadap ultimatum dan tindakan ini, rakyat, pemuda dan pemerintah Republik Indonesia memberikan jawabannya yang tegas. Pada tanggal 11 Februari 1958, PNI menyatakan menolak ultimatum, demikian juga Badan Kontak Organisasi” Pejuang Sumatra. KASAD menyatakan bahwa ultimatum itu melanggar sumpah jabatan dan sumpah prajurit. Letnan Kolonel Hasan Kasim penjabat Panglima TT I.
menyatakan bahwa tindakan itu berbahaya bagi keselamatan negara dan bisa mengakibatkan perang saudara. Kabinet Republik Indonesia dengan dijiwai semangat patriotik rakyat dan pemuda, dalam sidangnya tanggal 12 Februari 1958 mengambil keputusan: 1). menolak tuntutan Achmad Husein. 2). memecat Husein, Lubis, Jambek dan Simbolon.
Terhadap sikap Amerika yang turut serta menjadi arsitek dan pendukung pemberontakan itu Dr Subandrio, Menteri Luar Negeri Republik Indonesia, menyatakan bahwa Amerika Serikat turut campur tangan dalam negeri Indonesia. Pada tanggal 12 Februari 1958, KASAD memerintahkan untuk menangkap Simbolon, Lubis, Husein dan Jambek.
Achirnya dengan kenekadan yang kalap mereka memproklamasikan berdirinya apa yang mereka namakan Pemerintah Revolusioner Republik Indonesia (PRRI) pada tanggal 15 Februari 1958 di Padang. Ini adalah suatu tindakan khianat, suatu tantangan terhadap rakyat, pemuda Indonesia, pada seluruh kekuatan patriotik dan demokratis.
Dalam menghadapi tindakan separatis yang didalangi dan didukung oleh kaum imperialis, terutama irmperialis Amerika Serikat ini rakyat, dan pemuda Indonesia makin membulatkan tekadnya mendukung sikap pemerintah Republik Indonesia untuk menielamatkan Republik Proklamasi.
Berbagai organisasi pemuda dan rakyat meniatakan sikapnya, seperti, DPP Gerakan Pemuda Pelaksana Sumpah Pemuda untuk Pembebasan Irian Barat, PP Pemuda Rakyat, Pemuda Demokrat, Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia, PPMI, Badan Kerdiasama Organisasi Pejuang Sumatra, DPP Pemuda Nasional, Pemuda Republik Rakiat Indonesia, GP. Ansor, DP Mahasiswa Nasional, pengurus Corpvs Studiosorum Jakartaense (CSD), PP GGMI, Badan Kongres Amal, Perbata, Pemuda Muslimin
272
=== [PDF page 273] ===
Indonesia, PP TRIP, IPPI, dll. mendukung pemerintah R.I. Juga berbagai organisasi rakyat seperti SOBSI, BTI, Gerwani, dll. juga mendukung sikap pemerintah. Sementara keadaan ini berlangsung, Presiden Sukarno, yang sejak beberapa lama berkunjung ke Jepang, pada tang.
gal 16 Februari 1958 tiba di tanah air, setelah mempelajari keadaan ini lebih teliti, menyatakan bahwa,,Penyelewengan Padang, kita kahadapi dengan tegas, dan dengan segala kekuatan yang ada pada kita”, Juga pada hari itu pemerintah melarang organisasi-organisasi Dewan Banteng, De.
wan Garuda, Permesta.
Dalam menghadapi situasi genting sebagai akibat pengkhianatan Achmad Husein dkk. pemuda Indonesia bukan hanya berhenti dengan memberikan pernyataan tetapi juga berusaha melakukan mobilisasi umum untuk menumpas pembercntakan. Untuk menyatakan kesetiaannya ini pada tanggal 21 Februari 1958, 300 orang pemuda yang mewakili 14 organisasi pemuda menghadap Presiden dan diterimanya dihalaman tengah Istana Negara. Wakil organisasi Pemuda ini menyampaikan suatu pernyataan bersama, yang berisi kutukan bahwa tindakan Achmad Husein dkk itu sebagai pengkhianatan terhadap cita-cita Proklamasi 17 Agustus 1945, dan mendesak kepada Presiden Panglima Tertinggi agar segera mengambil tindakan yang tegas dan cepat untuk membasminya. Juga dinyatakan bahwa seluruh pemuda yang tergabung dalam 14 organisasi Pemuda bersedia dengan tegas dan konsekwen untuk ykut serta mengguung dan membasmi pengkhianat proklamasi 17 Agutsus 1945. Pemudapemuda yang menandatangani pernyataan ini ialah, Achmad dari Gerakan Pemuda Bekas Tentara Pelajar 5 Widarbo yang mewakili keluarga TRIP Jawa Timur; Sukiadi yang mewakili keluarga Bekas Tentara Peladiar, Ismail Kertasasmito yang mewakili PP TRIP Diawa Timur:
S. Wiaka yang mewakili. Gerakan Pelajar Pejuang Nusater.ggara;
Suharto Rebo yang mewakili Persatuan Demobilisan Pelajar: Suyatno yang mewakili Sekretariat Bersama Kongres Pelajar Pejuang Seluruh Indonesia 4 Agus Suparno yang mewakili tentara Pelajar Banyumas;
Sutarto Adinoto yang mewakili Ikatan Demobilisan Pegawai Kementerian Perdagangan: Sunardi yang mewakili Persatuan Pelajar Demobilisan:
Bambang Kusnahadi yang mewakili Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia: E. Sularso yang mewakili Pergerakan Pemuda Demokrat: Ojohan Maresenar yang mewakili Corps Pelajar Veteran R.I. pa
Kecuali ini pemuda-pemuda Indonesia juga melakukan berbagai usaha untuk memobilisasi anggotanya. PP TRIP juga pernah menghadap KASAD untuk menyampaikan daftar berisi nama 200 orang anggotanya yang bersedia dipanggil aktif kedalam tentara lagi untuk menumpas
Vejarah Perjuangan 18 273
=== [PDF page 274] ===
kaum pemberontak, tetapi sayang tak pernah dipanggil. Pemuda diberbagai daerah ramai mendaftarkan diri untuk masuk dinas militer guna menumpas pemberontak. Di daerah,,kekuasaan” kaum pemberontak sendiri perlawanan juga sudah mulai timbul sejak hari pertamanya. Di Sulawesi Tengah didaerah kekuasaan Permesta sampai tanggal 8 Februari 1957 saja sudah terdapat 12.000 orang pemuda yang meninggalkan kota yang merupakan penjara Permesta itu. Mereka masuk hutan untuk mengadakan perlawanan terhadap kekuasaan lalim dari Permesta..
Suasana daerah itu tidak tenteram, pemuda-pemuda putra daerah - tidak diperkenankan meninggalkan kota, toko-toko hanya dibolehkan buka sebentar, penangkapan dan penganiayaan merajalela. Semuanya ini mengingatkan orang kepada kekejaman fasis Jepang yang lalu. Juga di Sumatra Barat rakyat dan pemuda melakukan perlawanannya. Jauh sebelum kaum separatis memproklamasikan apa yang mereka namakan PRRI, rakyat dan pemuda-pemuda yang setia terhadap Republik Proklamasi sudah melakukan kegiatannya untuk menggagalkan pembentukan Dewan Banteng. Pada bulan Agustus 1957, demonstrasi protes meledak di Bukittinggi, kota yang dianggapn'a menjadi tiang kaum separatis Achmad Husein dkk-nya. Demonstrasi massa yang menyatakan protes dan perlawanan terhadap Dewan Banteng ini dipimpin oleh wan'ta-wanita muda, putri Minang, dari keluarga rakyat biasa yaitu Man'smar, Nadiar, Nilawar, dll. Dewan Banteng menangkap pimpinan denionstrasi Manismar dan Nadiar, serta menahannya dimarkas mereka. namun kaum demontran tidak bubar, menanti hingga Manismar keluar. Manismar tidak dibebaskan dan bahkan beberapa orang lagi ditarngkapnya. Kaum pemberontak juga melakukan pembunuhan yang kejam terhadap patriotpatriot yang mereka tawan, seperti di Situju mereka membakar kurang lebih 135 orang. Di Simun (Suliki) mereka menembak mati 17 orang, di Atar (Tanah Datar) mereka menembak mati kurang lebih 54 orang dan ditempat lain juga. Namun demikian rakyat tak juga menghentikan kegiatan perlawanannya, bahkan makin meningkat. Segera setelah proklamasi PRRI, pemuda-pemuda putra Minang membentuk gerilya untuk melawan, dan menumbangkan,,kekuasaan” PRRI. Pemuda-pemuda itu meninsealkan kota-kota merampas sendiata dari tanean alatalat pemerintah PRRI, dan membentuk pasukan perlawanan diberhagai
kecamatan. sampai kemarga-marga. Juga tidak sedikit pradiurit yang setia terhadap sumpah prajuritnya memisahkan diri dari rombongan gerombolan pemberrntak dan melakukan perlawanan terhadap kaum pemberontak antara lain dibawah pimninan Mayor Nurmatias. Kapten Bainal Dt Paduko Malano, Kapten Chotib Hassan, Kapten Makhyuddin,
274
=== [PDF page 275] ===
Kapten Johar Rivai, Letnan Bermawi, Sersan Mayor Bahar Kirai.
Berkat perlawanan inilah maka terdapat beberapa kecamatan dimana kekuasaan PRRI tidak dapat ditancapkan, dan kekuasaan R. I. tetap tegak. Bahkan disalah satu kecamatan Kabupaten Pariaman yang d.pertahankan oleh rakyatnya, karena bupatinya telah menyeberang ke PRRI, dan rakyat menghendaki adanya bupati lain maka dipilihnya sendiri bu.
pati, yaitu Abusamah. Sayang setelah PRRI ditumbangkan dan kekuasaan R.I. dapat ditegakkan kembali di Sumatra Barat, pemerintah pusat tidak mengakui bupati pilihan rakyat itu dan mengangkat orang lain untuk menduduki jabatan bupati.
Perlawanan yang sama juga berlangsung di Sumatra Selatan, sehingga Dewan Garuda tidak dapat memproklamirkan kekuasaan yang sama dengan yang terjadi di Sumatra Barat atau Sulawesi Utara. Singkatnya, perlawanan terhadap kaum pemberontak separatis adalah perlawanan nasional, perlawanan rakyat termasuk pemudanya. Karena adanya perlawanan yang sedemikian inilah maka tujuan mereka untuk menumbangkan pemerintah R.I. yang dipimpin oleh Presiden Sukarno mengalami kegagalan, dan akhirnya mereka sendrri yang dihancurkan.
Sudan diterangkan didepan bahwa dalam pemberontakan ini kaum imperialis terutama imperialis Amerika Serikat, memainkan peranan sebagai dalang utamanya. Mereka bukan hanya mendalangi politiknya, tetapi juga tindakan pemberontakan. Perlengkapan sendiata diberi dengan mecndropkan dan menggunakan danau Singkarak, Toba atau lainnya, sebagai pendaratan kapal terbang jenis Catalina.
Imperialis AS juga mensupply kapal terbang, dan mengizinkan lapangan kapal terbang Pilipina yang dikuasainya digunakan sebagai tempat untuk pangkalan membomi daerah Indonesia. Sebuah kapal Perang Angkatan Laut R.I. yang mengangkut prajurit dan bahan untuk membebaskan Menado dibomnya hingga tenggelam di Tarakan. Juga sewaktu pasukan-pasukan R.I. hendak membebaskan daerah Sumatra Tengah dengan melalui Riau daratan (Pakan Baru), AS menyatakan niatnya hendak menurunkan pasukan armada ke-VII yang juga menduduki Taiwan, ke Pakan Baru dengan alasan untuk menjaga keselamatan orang Amerika di Pakan Baru. Ini adalah alasan yang dicari-cari untuk ciampur tangan yang kasar terhadap urusan dalam negeri orane lain.
Orang Amerika yang bekerja diperusahaan pengeboran minyak Caltex, yang bertempat t'nggal di Rumbai, Pakan Baru, tidak sedikit yang membantu PRRI baik dengan keuangan, bahan-bahan. dan mengeunakan berbagai fasilitas untuk mengangkut senjata. Contoh-contoh lain tentang hubungan mercka dengan PRRI ini juga bisa dilihat dari peristiwa
275
=== [PDF page 276] ===
A.L. Pope, seorang penerbang militer warga negara AS yang melakukan pengeboman didaerah R.I., dan kapal R.I. Semua ini diakui sendiri.sewaktu Pope, yang karena pesawat terbangnya ditembak jatuh oleh pemburu AURI, dan diajukan dimuka pengadilan R.I. Bukan hanya ini. tetapi juga dari bukti yang dapat dikumpulkan menunjukkan bahwa uang R.I. yang dipalsukan PRRI/Permesta juga dicetak diluar negeri dengan bantuan AS. Kecuali itu juga sikap pemerintah AS tidak pernah mendukung R.I. dalam usahanya untuk menumpas pemberontakan. AS juga memberikan fasilitas kepada pimpinan pemberontak untuk leluasa bergerak didaerah yang menjadi pengaruhnya seperti Taiwan, Pilipina, bahkan ke Amerika sendiri. Juga Singapura, tempat benteng Inggeris menjadi pangkalan kaum pemberontak. Kapal terbang AS yang mendrop senjata kedaerah PRRI juga singgah di Singapura. Singapura, Kualalumpur juga menjadi tempat bersembunyi dan pertemuan antara pemimpin pemberontak PRRI/Permesta. Tetapi kekuasaan Inggris di Singapura tak pernah melarangnya. Semua ini menunjukkan bahwa yang ada dibelakang pemberontakan ialah imperialis AS, Inggris dan Belanda.
Walaupun pemberotakkan ini didukung oleh negeri imperialis yang kuat, namun rakyat Indonesia tak gentar sedikitpun dalam tekadnya untuk menumpas PRRI/Permesta dan semua Dewan-dewan Partikelir alat kaum pemberontak. Pemerintah R.I. dengan sepenuhnya sesuai dengan tuntutan dan tekad rakyat termasuk pemudanya pada bulan April 1958 mengirimkan pasukan APRI untuk membebaskan Sumatra Barat. Pada tanggal 16 April 1958, pasukan APRI yang diangkut oleh kapal perang ALRI, dan setelah kapal perang ALRI melepaskan tembakan kebukit kosong dipantai kota Padang, mendarat dengan selamat. Operasi dan pendaratan ini dipimpin oleh Kolonel Achmad Yani. Pasukan PRRI baik prajurit sampai opsirnya seperti A. Husein, Dahlan Jambek dll.
lari tunggang-langgang tanpa melakukan perlawanan. Inilah moral
"pahlawan” pengecut PRRI, yang berteriak setinggi langit seolah-olah dirinya pahlawan, namun setelah lawannya datang lari berantakan. Tak seorang yakin akan ”kepahlawanan”nya.
Kota Padang dibebaskan kembali, dan kemudian menyusul beberapa kota lainnya. Rakyat menyambut pembebasan ini, dan yang pa'ing pertama menyambut APRI adalah organisasi wanita revolusioner yang melawan PRRI, yaitu Gerakan Wanita Indonesia (GERWANI).
Tidak sedikit pemuda revolusioner ikut serta dalam APRI dalam membebaskan Sumatra Barat ini, dan tidak sedikit pula dari mereka yang gugur dalam penumpasan PRRI ini. Bumi persada ibu pertiwi menuntut kesetiaan dan pengorbanan putra-putranya yang baik. Dengan dibebaskan
276
=== [PDF page 277] ===
nya Padang ini, maka kekuatan pokok kaum pemberontak telah dipatahkan sedangkan sisa-sisanya yang lari kehutan tinggal menanti waktunya untuk ditumpas. Juga tak lama kemudian kekuatan Permesta dipatahkan oleh angkatan perang Republik Indonesia dan Sulawesipun dibebaskan kembali.
Dengan ditumpasnya PRRI/Permesta ini, maka kauni reaksioner di Indonesia kehilangan sandaran yang utama dalam kekuatan bersenjata, suatu kehilangan yang terus menerus bertambah dan yang tak mungkin dapat dipulihkan kembali. Ini mempunyai arti penting yang menentukan dalam perkembangan-perkembangan yang sangat menguntungkan kekuatan demokratis rakyat Indonesia, termasuk pemudanya.
PEMUDA DUKUNG "JALAN LAIN....”
Konsep ”jalan lain....” adalah suatu konsep yanz merupakan komando dari pemerintah Republik Indonesia terhadap rakyat, termasuk pemuda Indonesia untuk melakukan aksi-aksi lebih tegas setelah jalan berunding di PBB untuk menyelesaikan ”sengketa” Irian Barat tidak berhasil.
Masalah perjuangan mengembalikan Irian Barat kepangkuan kekuasaan R.I. adalah perjuangan yang sudah berlangsung sejak K.M.B. yang khianat itu ditandatangani. Sejak itu rakyat, termasuk pemuda Indonesia tak henti-henti, dan tak jemu-jemu terus memperjuangkan agar Irian Barat segera diserahkan kembali kekuasaan Republik Indonesia. Gerakan ini makin hari makin hangat, terutama setelah ternyata bahwa janji Belanda akan mengembalikan Irian Barat ke-kekuasaan' Republik setahun setelah “penyerahan kedaulatan” tak ditepati. Berbagai organisasi pemuda, atau perseorangan pemuda dalam berbagai kesempatan telah mengemukakan hal itu sebagai masalah, sebagai suatu tuntutan yang perlu segera dipecahkan. Masalah iny terasa hangatnya setelah perjanjian KMB secara formil dibatalkan oleh Pemerintah R.I. pada tahun 1955. Rakyat termasuk pemuda Indonesia menghendaki agar pembatalan itu bukan hanya formil, tetapi riil dilaksanakan termasuk dalam segala ikatan hubungan kolonial. Tuntutan pengembalian Irian Barat kedalam kekuasaan R:I. makin hangat lagi seiring dengan diajukan masalah itu kedalam forum PBB oleh wakil Indonesia, apa lagi setelah ternyata bahwa diajukannya masalah ini di PBB tidak mendapatkan korum suara yang diperlukan untuk dijadikan acara dalam sidang umum.
277
=== [PDF page 278] ===
. Dengan kegagalan ini pemerintah Republik Indonesia menyerukan "tempuh jalan lain..... ” pada rakyat Indonesia.
Pemuda Indonesia bersama dengan golongan lain ikut aktif menyokong sikap pemerintah Indonesia. Rapat massa diadakan diberbagai kota untuk mendukung sikap pemerintah. Pada tanygal 18 November 1957 mulai dilakukan aksi-aksi corat-caret diperusahaan dan rumah?
Belanda yang berbunyi ”Jika Belanda Ngotot kita Genjot”, "Usir Belanda dari Irian Barat”, “Sita Perusahaan Belanda” dan lain-lain. Aksi yang sama juga dilakukan di Jawa Timur, di Semarang, di Jakarta, di Medan dan kota lain. Demonstrasi Raksasa juga dilakukan diberbagai kota-kota besar seperti di Jakarta, Surabaya, Makasar, Pontianak, Medan dan Ambon dan lain-lain yang mengajukan tuntutan bahwa bila perjuangan Republik Indonesia di PBB gagal, maka pemerintah supaya segera memutuskan hubungan diplomatik dengan Belanda dan mensita semua modal Belanda yang ada di Indonesia. Delegasi Pemuda dan Pelajar juga dikirimkan keberbagai instansi peneriatah s2urti di Pontianak ke Gubernur, di Medan ke Gubernur Sumatra Utara, di Ambon ke Gubernur Maluku yang menyatakan tekad pemuda bahwa bila Belanda tetap ngotot dituntut agar pemerintah mengambil tindakan tegas.
Sewaktu ternyata sikap Belanda tetap ngotot. menolak mengembalikan Irian Barat ke Republik Indonesia, pemuda dan kalangan yang luas lainnya mengambil langkah yang tegas dan positif. Di Jawa Timur, khusus Surabaya, berbagai organisasi pemuda yang tergabung dalam BKSPM pada tanggal 2 Desember 1957 mengadakan pertemuan dengan pejabat-pejabat sivil, militer dan buruh untuk membicarakan instruksi.
guna melancarkan pemogokan disemua perusahaan Belanda. Semua yang hadir menyetujui aksi itu, dan malam harinya, yaitu pada tanggal 2 Desember 1957 jam 24.00 buruh-buruh perusahaan Belanda yang 50 buah jumlahnya mulai melancarkan aksi mogok, dan semua perusahaan Belanda tak berdaya menghadapi. Aksi pemogokan ini berlangsung dibanyak kota-kota besar diseluruh Indonesia dan betul-betul melumpuhkan semua perusahaan Belanda tidak hanya yang besar tetapi sampai periusahaan yang kecil.
Dukungan rakyat termasuk pemudanya terhadap ”jalan lain..... ”
yang diserukan pemerintah bukan hanya terbatas pala aksi-aksi mozok, tetapi juga ikut serta aktif dalam aksi ambil alih dan penggropyokan terhadap rapat-rapat gelap yang diselenggarakan Belanda. Tindakan ambil alih terhadap KPM di Jakarta yang dilakukan oleh kaum buruh sepenuhnya didukung oleh pemuda, juga tindakan amf?il alih seperti di Palembang, pemuda aktif bertindak untuk mengambil alih Gedung Sositet
278
=== [PDF page 279] ===
Harmoni, di Surabaya ikut aktif ambil alih gsdan7 Sbsitet B:landa di Simpang, di Jakarta bahkan pemudalah yang mendorong dan mengambil inisiatif ambil alih Gedung Sositet Harmoni. Di Balikpapan pemuda"
berhasil mengetahui diselenggarakan rapat gelap Belanda dikomp'ek B.P.M., dan digropyoknya. Sayang penggropyokan ini sudah agak terlambat sedikit hingga sewaktu pemuda-pemuda itu datang ditempat yang digunakan rapat, orang-orang Belanda itu sudah pada pergi dan tinggal 10 orang yang masih ditangkap dan diserahkan kepada yang berwajib.
Aksi untuk mendapatkan solidaritas internasional juga dilakukan oleh pemuda-pemuda. Dengan melalui Badan Kerjasama Pemuda Militer Pusat. pemuda mengirimkan telegram minta solidaritas dari WFDY, WAY, IUS, dan lain-lain.
Walaupun tindakan-tindakan ini mendapatkan rintangan yang besar dari kaum reaksioner, terutama dari kaum separatis namun rakyat Indonesia, pemuda Indonesia tak jura gentar, dan bahkan secali lagi memperlihatkan keberanian serta keteguhannya. Dengan aksi-aksi ini rakyat dan pemuda Indonesia menemukan kembali kepribadian revolusionernya.
MENDUKUNG DEKRIT PRESIDEN
DAN MANIPOL:
Sudah diterangkan didepan bahwa dalam memperjuangkan citacitanya pemuda Indonesia meyakini bahwa hal ini tak mungkin dapat dicapai dengan tidak menghiraukan apa yang terjadi disekitarnya, terutama mengenai nasib negaranya. Cita-cita pemuda untuk mencapai Indonesia Merdeka penuh, demokrasi, adil dan makmur, dalam mana terjamin siarat-syarat bagi pemuda untuk mengenyam masa muda yang bahagia, dalam mana pemuda-pemsda dapat mengembangkan bakatnya, mengembangkan pengetahuannya dan dapat menilih pererjrin yang disukai menurut bakat dan ketiakapannya, hanya mungkin apabila ada suatu sistim masyarakat dan sistim negara yang maju yang dapat mendiamin hal itu semua. Untuk mencapai kemajuan-kemadiuan ini'ah | pemuda Indonesia ikut ambil bagian aktif dalam pemilihan umum, ikut memperd'uangkan demokrasi, menumpas pemberontakan separatis dewan-dewan partikelir dan ikut serta a memperhatikan jalannya badanbadan kenegaraan.
Satu badan kenegaraan yang tertinggi, Konstituante, yang anggotanya dipilih dalam pemilihan umum tidak berdialan lantiar dalam menunaikan tugasnya untuk menyusun suatu Konstitusi Res Publica yang memberi arah
279
=== [PDF page 280] ===
dan dinamika perjuangan yang merupakan suatu manifestasi dari pada gelora dan gegap gempitanya perjuangan sebagaimana yang dinyatakan oleh Presiden Sukarno dalam pidato pembukaan sidang Konstituante.
Kegagalan badan ini dalam menunaikan tugasnya ialah disebabkan karena sikap Masyumi yang bersitegang hendak memaksakan Islam sebagai dasar negara. Perdebatan melantur yang tak nampakkan akhirnya, membuat badan Konstituante menjadi badan yang tidak ada gunanya sebagai alat revolusi.. Rakyat termasuk pemuda menjadi menyesal dan kesal melihat keadaan seperti ini. Berbagai pendapat dan saran disampaikan kepada Presiden agar mengambil sikap dan tindakan tegas yang diperlukan untuk mengatasi keadaan seperti ini. Untuk mengatasi kcadaan ini Presiden dan pemerintah Republik Indonesia pada tanggal 22 April 1959 menyampaikan amanat dan anjuran kepada badan Konstituante “ marilah kembali kepada Undang-Undang Dasar 1945”.
Seruan Presiden dan pemerintah untuk kembali ke Undang-Undang Dasar 1945 ini merupakan suatu pemecahan jalan buntu yang dihadapi Konstituante. Karena itu seruan ini mendapatkan dukungan luas dari rakyat termasuk pemuda Indonesia. Berbagai organisasi rakyat menyatakan sikapnya dengan berbagai jalan dan bentuk. Hal ini dapat dilihat dari serentetan peristiwa tentang masalah itu sbb.:
Pada tgl. 19 Maret 1959 Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia (IPPI)
menyatakan setuju mendukung sepenuhnya terhadap ide kembali ke Undang-Undang Dasar 1945. Pada tanggal 28 Maret 1959 di Bandung telah berdiri suatu organisasi yang bernama ”Aksi Pendukung UUD '45”
yang diketuai oleh Kosasih. Pada tanggal 4 April 1959 suatu panitia pusat pendukung kembali ke UUD '45 berdiri dan suatu delegasi dari Surabaya yang diketuai oleh S:D. Prayitno menghadap Presiden Sukarno untuk menyatakan dukungan rakyat terhadap ide kembali ke UUD '45. Pada tanggal 17 April 1959 delegasi Sumatra Selatan Mochtar Prabumangkunegara menyampaikan resolusi yang mendukung ide kembali ke UUD '45.
Pada tanggal 19 April 1959 lebih dari 20.000 orang penduduk Kupang mengadakan pawai dan mengambil resolusi untuk mendukung ide kembali ke UUD '45. Resolusi itu ditandatangani oleh wakil Partai?
seperti, PNI, Parkindo, PKI, Front Nasional dll. Demontrasi dan rapat yang diselenggarakan dengan maksud yang sama juga dilangsungkan di Padang (Sumatra Barat) pada tanggal 18 April 1959, di Sumbawa pada tanggal 14 April 1959, di Sumatra Selatan bahkan sudah dilangsungkan pada tanggal 26 Maret 1959, di Bogor pada tanggal 20 April 1959, di Pontianak pada tanggal 20 April 1959, di Yogyakarta pada tanggal 21 April 1959, di Palembang pada tanggal 21 April 1959, di Cianjur —
280
=== [PDF page 281] ===
Jawa Barat pada tanggal 20 April 1959, di Makasar pada tanggal 21 April 1959, di Bandung pada tanggal 21 April 1959, di Semarang pada ' tanggal 22 April 1959, di Padangpanjang pada tanggal 24 April 1959, di Bukittinggi pada tanggal 6 Mei 1959, di Ternate pada tanggal 10 Mei 1959. Di Jakarta sendiri suatu rapat buruh 1 Mei 1959 mengambil resolusi mendukung ide kembali ke UUD '45. Pendeknya dukungan terhadap ide ini luas sekali dari daerah-daerah, dari berbagai organisasi massa, partai politik, prajurit, polisi, veteran, pers dan lain-lainnya.
Tetapi anjuran yang mendapat dukungan luas ini tidak mendapat sambutan dan dukungan baik dari golongan Masyumi/PSI dan dengan demikian Konstituante menjadi badan yang tidak dapat memenuhi harapan rakyat. Karenanya maka pada tanggal 5 Juli 1959 Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi Angkatan Perang menyatakan | Dekritnya yang menetapkan berlakunya kembali UUD '45 sbb.:
KAMI PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/PANGLIMA
| TERTINGGI ANGKATAN PERANG
Menetapkan pembubaran Konstituante 5
Menetapkan Undang-Undang Dasar 1945 berlaku bagi segenap bangsa Indonesia dari seluruh tumpah darah Indonesia, terhitung mulai hari tanggal penetapan dekrit ini, dan tidak berlakunya lagi Undang?
Dasar Sementara.
Pembentukan Majelis Permusyawaratan Rakyat Sementara yang terdiri dari anggota-anggota Dewan Perwakilan Rakyat ditambah dengan utusan-utusan dari daerah-daerah dan golongan-golongan, serta pembentukan Dewan Pertimbangan Agung Sementara, akan “diselenggarakan dalam waktu yang sesingkat-singkatnya.
Ditetapkan di: Jakarta pada tanggal: 5 Juli 1959 Atas nama Rakyat Indonesia
PRESIDEN REPUBLIK INDONESIA/PANGLIMA
TERTINGGI ANGKATAN PERANG
SUKARNO
Empat hari kemudian, yaitu pada hari Kemis, tanggal 19 Juli 1959 Presiden Sukarno menyatakan terbentuknya Kabinet Kerja yang langsung dibawah pimpinan Presiden/Panglima Tertinggi, sebagai Perdana
281
=== [PDF page 282] ===
Menterinya dengan 'programnya: 1). memperlengkapi sandang pangan Rakyat; 2). menyelenggarakan Keamanan Rakyat dan Negara, 3).
melanjutkan perjuangan untuk menentang imperialisme ekonomi dan politik.
Keputusan kedua ini diambil sebagai pelaksanaan dari Dekrit kembali ke UUD '45. Ini berarti mengakhiri dualistis antara pimpinan Negara dengan Pimpinan Revolusi Presiden Republik Indonesia/Panglima Tertinggi dan p'mpinan Revolusi Dr. Ir. Sukarno. Karena keputusan ini adalah keputusan yang maju yang mencerminkan syarat jamannya, maka rakyat termasuk pemudanya dengan melalui berbagai organisasi dan perseorangan menyatakan sikapnya yang menyokong tindakan itu. Di Jakarta dan diberbagai kota besar lainnya pemuda melakukan aksi mencoret-coret tembok, dengan tulisan "dukung dekrit Presiden”, ”kembali ke UUD 1945” dll. Untuk memperkuat sikapnya mendakun7 keputusan Presiden, rapat dan pertemuan-pertemuan antara organisasi pemuda juga diadakan untuk mendukung dekrit ini. Hanya sementara organisasi pemuda seperti GPII dan GPSI. (Gerakan Pemuda Sosialis Indonesia) yang tidak memperlihatkan sikapnya yang aktif menyokong bahkan tampak adanya usaha-usaha untuk merintangi aksi-aksi pemuda yang menyokong dekrit itu:
Dalam keadaan gerakan masih hangat mendukung dekrit ini, pada tanggal 17 Agustus 1959 dalam pidato memperingati Hari Proklamasi Kemerdekaan Indonesia yang ke XIV kalinya, Presiden Republik Indonesia mengucapkan suatu pidato yang bersifat penyimpulan dari pengalaman perjuangan selama ini. Pidato Presiden yang berjudul "Penemuan Kembali Revolusi Kita” yang selanjutnya dinamakan Manifesto Politik Republik Indonesia dengan disingkat Maninol, kemudian oleh Dewan Pertimbangan Agung Republik Indonesia (DPA) diperinci lebih jelas.
Untuk memerinci ini oleh DPA dibentuk suatu komisi yang diketuai oleh DN. AIDIT, dan yang hasilnya disyahkan oleh sidang DPA pada tel. 25 September 1959. Manifesto Politik Republik Indonesia dan merunakan, penjelasan resmi dari Dekrit Presiden Panglima “Tertinggi tersebut.
Manifesto Politik ini memuat dua hal yang sangat dibutuhkan untuk melancarkan jalannya revolusi Indonesia yaitu: a). Persoalan-persoalan pokok dari pada Revolusi Indonesia. b). Program umum Revolusi- Indonesia.
Tentang persoalan-persoalan pokok revolusi Indonesia Manifesto Politik dengan jelas mencemsikakan apa yang menjadi: 1). Dasar/ tujuan dan kewajiban-kewajiban revolusi Indonesia. 2). Kekuatan sosial Revolusi Indonesia. 3). Sifat revolusi Indonesia. 4). Hari depan revolusi Indonesia dan 5). Musuh-musuh revolusi Indonesia.
282
=== [PDF page 283] ===
Tentang Dasar/Tujuan Dan Kewajiban? Revolusi Indonesia dikatakan dalam Manipol itu antara lain:
”Dasar dan tujuan revolusi Indonesia adalah kongruen dengan Social Concience of Man itu!. Keadilan Sosial, Kemerdekaan individu, Kemerdekaan Bangsa, dan lain sebagainya itu adalah pengejawantahan dari pada, Social Concience of Man itu. Keadilan dan Kemerdekaan adalah tuntutan budi nurani yang universil, karena itu janyanlah ada diantara kita yang mau mengamandir atau memodulir dasar dan tujuan revolusi kita ini” (Manifesto Politik hal. 14).
Kewajiban-kewajiban revolusi Indonesia yang terpenting ialah membebaskan Indonesia dari semua imperialis dan menegakkan tiga segi kerangka seperti disebut dalam Manifesto Politik yaitu: "Kesatu:
Pembentukan satu negara Republik Indonesia yang berbentuk negara kesatuan dan negara kebangsaan yang demokratis, dengan wi'ayah kekuasaan dari Sabang sampai Merauke”. "Kedua: Pembentukan satu masyarakat yang adil dan makmur materiil dan Sprituil dalam wadah negara kesatuan Republik Indonesia itu”.,,Ketiga: Pembentukan satu persahabatan yang baik antara Republik Indonesia dan semua negara didunia, terutama sekali dengan negara-negara Asia Afrika, atas dasar hormat menghormati satu sama lain dan atas dasar bekerja sama membentuk satu dunia yang bersih dari imperialisme dan kolonialisme menuju kepada perdamaian dunia yang sempurna”. (Manifesto Politik hal 71).
Tentang Kekuatan-kekuatan Sosial Daripada Revolusi Indonesia dikatakan antara lain:
Untuk memenangkan revolusi Indonesia kita harus dapat membangkitkan kekuatan revolusioner dalam masyarakat Indonesia. Dalam Manifesto Politik dikatakan, bahwa ”modal pokok bagi tiap-tiap revolusi nasional, menentang imperialisme kolonialisme ialah konsentrasi kekuatan nasional, dan bukan perpecahan kekuatan nasional (halaman 39).
Dengan ini jelaslah bahwa kekuatan sosial yang mendukung Revolusi Indonesia adalah kekuatan rakyat seluruh Indonesia, kekuatan seluruh bangsa yang menentang imperialisme kolonialisme. Orang-orang Indonesia yang tidak mendukung revolusi Indonesia adalah perkecualian, dan jumlah orang-orang yang aneh ini tidak banyak.
Dengan tidak mengurangi arti dari klas-klas dan golongan-golongan lain, sebagaimana sudah sering ditekan-tekankan oleh Presiden Sukarno, kaum buruh dan kaum tani. baik karena vitalnya maupun sangat banyak diumlahnya, harus menjadi kekuatan pokok dalam Revolusi dan harus mendiadi soko-ruru masiarakat yang adil makmur di Indonesia.
Tentang Sifat Revolusi Indonesia dinyatakan antara lain:
283
=== [PDF page 284] ===
Revolusi Indonesia sekarang bukanlah revolusi model revolusi Perancis tahun 1789, yang menghasilkan berdirinya sebuah Republik kapitalis, tetapi juga bukan model revolusi Rusia tahun 1917, yang telah mendirikan kediktatoran proletariat. Revolusi Indonesia mempunyai sifat yang multi komplek, mengenai segala bidang sesuai dengan keadaan masyarakat Indonesia pada waktu sekarang, yaitu "Revolusi Nasional menentang imperialisme-kolonialisme” (hal. 32). Jadi, walaupun Republik Indonesia bersifat multi-komplex, tetapi sifat nasional daripada Revolusi Indonesia adalah sangat menonjol. Disamping sifat nasionalnya, Revolusi Indonesia sebagaimana juga semua revolusi dizaman modern sekarang, adalah revolusi demokratis. Sifat demokratis dari pada Revelusi Indonesia dinyatakan oleh tugasnya menentang keterbelakangan feodal dan menentang otokrasi atau kediktatoran, baik militer maupun perseorangan.
Mengingat sifat revolusi Indonesia yang nasional dan demokratis, maka revolusi Indonesia adalah revolusi bersama dari semua klas dan golongan yang menentang imperialisme-kolonialisme. Pendeknya Revolusi Indonesia harus mendirikan kekuasaan Gotong Royong, kekuasaan demokratis yang dipimpin oleh hikmah kebijaksanaan, yang menjamin terkonsentrasinya seluruh kekuatan Nasional seluruh kekuatan Rakyat.
Tentang Hari Depan Revolusi Indonesia dinyatakan antara lain:
Hari depan revolusi Indonesia bukanlah kekapitalisme, dan sama sekali bukan menuju ke feodalisme.
Tentang hal ini Manifesto Politik menjelaskan bahwa hari depan revolusi Indonesia didahului oleh penemuan tujuan jangka pendek, dan tujuan jangka panjang: penjelasan itu berbunyi sebagai berikut:
(Manifesto Politik hal. 47).
»Tujuan jangka pendek yang saya hadapkan kepada saudara?
ialah: program kabinet kerja yang amat sederhana itu, sandang.
pangan, keamanan, melanjutkan perjuangan anti imperialisme ditambah dengan mempertahankan kepribadian kita ditengah-tengah tarikan kekanan dan kekiri, yang sekarang sedang berlaku kepada kita dalam pergolakan dunia menuju kepada satu imbangan baru. Dan tujuan kita jangka panjang ialah masyarakat yang adil dan makmur, melenyapkan imperialisme dimana-mana, dan mencapai dasar-dasar bagi perdamaian dunia yang kekal abadi”. |
Tentang Musuh-Musuh Revolusi Indonesia dinyatakan antara lain:
Bahwa musuh-musuh yang sebenarnya dari revolusi Indonesia adalah imperialisme disemua lapangan. Dalam Manifesto Politik jelas dinyatakan, bahwa kita melawan imperialis Belanda karena imperialis ini
284
=== [PDF page 285] ===
menjajah Irian Barat. Jelas juga dinyatakan, bahwa ” pengambilan alih perusahaan-perusahaan Belanda dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat adalah satu langkah yang amat penting sekali.
Musuh Revolusi Indonesia bukan hanya imperialis Belanda tetapi juga imperialis lain yang mencoba-coba memperdayakan Republik Indonesia, yang membantu kaum reaksioner dan menjalankan sabotase.
Tentang ini dikatakan dalam Manifesto Politik "Terhadap modal asing yang bukan Belanda ditegaskan bahwa mereka harus mentaati ketentuan-ketentuan Republik. Jangan mereka menjalankan peranan yang negatif. Jangan mereka memperdayakan Republik. Jangan mereka membantu gelapan-gelapan kepada kontra Revolusi, jangan mereka menjalankan sabotase-sabotase ekonomi” (hal. 61), jadi imperialis mana yang coba-coba memperdayakan Republik, yang membantu kontra Revoflusi atau 'yang menjalankan sabotase-sabotase ekonomi adalah musuh?
Rakya: Indonesia.
Dalam Manifesto Politik juga dijelaskan sebagai musuh-musuh rakyat Indonesia termasuk “golongan-golongan blandis”, golongan?
reformis, golongan konservatif, golongan kontra revolusioner, golongan?
bunglon dan cucunguk” (hal. 31). *
Dengan Manipol dan pedoman-pedoman pelaksanaannya maka rakyat dan pemuda Indonesia, revolusi Indonesia mempunyai program bersama, yang dapat dijadikan landasan bersama guna menyelesaikan tugas revolusi
KONGRES PEMUDA SELURUH
INDONESIA
Sepuluh tahun telah lalu sejak kongres Pemuda Seluruh Indonesia di Surabaya pada tahun 1950. Masa sepuluh tahun itu dilalui dengan pe- Nuh terjadinya peristiwa-peristiwa penting ditanah air, peristiwa-peristiwa yang membawa perubahan sangat penting baik dalam ekonomi, politik, sosial, kebudayaan. Peristiwa-peristiwa seperti berlangsungnya pemilihan umum, pembatalan perjanjian K.M.B., ambil alih milik kapitalis monopoli Belanda, penumpasan pemberontakan kontra revolusioner, dekrit “Presiden dan pidato Presiden pada tanggal 17 Agustus 1959 yang berjudul ”Manifesto Politik Repub!ik Indonesia” adalah peristiwa-peristiwa penting dan besar yang membawa perubahan penting dan besar pula dalam kehidupan masyarakat Indonesia. Sudah tentu perubahan, perkembangan dan kebudayaan ini semuanya tak dapat dipisahkan dengan per-
*). Singkatan dari Manipol yang dikutib dari buku Tubapi.
285
=== [PDF page 286] ===
juangan rakyat Indonesia termasuk pemudanya yang gigih dan terus menerus.
Tugas-tugas baru yang diajukan oleh peru- " bahan baru ini menuntut adanya organisasi dan | 1 cara kerja baru yang sesuai dengan perkembang- |. yan keadaan itu sendiri. Dengan adanya organisasi | pemuda yang banyak jumlahnya, apalagi adanya _ organisasi pemuda yang selama ini ternyata tidak S4 bekerja untuk persatuan dikalangan pemuda bahkan ikut serta menyokong pemberontakan kontra / revolusioner, sudah tentu tidak sesuai dengan tun- (d8 tutan keadaan.
Dengan adanya liberalisme dan ketiadaan program bersama diantara organisasi pemuda yang dapat dijadikan landasan untuk melakukan kerjasama membuat tak mungkin tertunaykannya tugas baru itu.
Memang sejak kongres Pemuda Seluruh Indonesia di Surabaya tahun 1950 berbagai organisasi pemuda sudah juga mengadakan kongresnya untuk mengkonsolidasi diri, seperti Pemuda Demokrat pada tanggal 3. Desember 1953, tanggal 7—11 Agustus 1954, 24—28 Nopember 1956, Kongres Persatuan Pemuda Kristen Indonesia (PPKI) pada tanggal 4 --- 6 Maret 1950, pada tanggal 15 — 18 Oktober 1951, 25 — 30 Juli 1958, Konzres Porpisi pada tanggal 2 Desember 1953: Kongres Pemuda Ansor pada bulan Agustus 1954: Kongres Pelajar Pejuang seluruh Indonesia pada tanggal 25 — 31 Dianuari 1955, Kongres-kongres IPPI tanggal 4 — 6 Maret 1950, tanggal 14 — 17 Oktober 1951, tanggal 23 — 27 Pebruari 1954 dan tanggal 25 — 30 Juli 1958: disamping itu juga lahir berbagai organisasi baru seperti Gerakan Mahasiswa Kristen Indonesia pada tanggal 9 Pebruari 1951: Pemuda Katholik pada tel. 14 Pebruari 1950 5 Persatuan Pelajar Demobilisasi pada tanggal 24—25 Diuli 1950 5 Front Pemuda Islam pada tanggal 8 April 1951: Gerakan Mahasiswa Nasional pada tanggal 22 Maret 1954: Gerakan Pemuda Pekas Tentara Pelajar pada tanggal 29 Maret 1956 5 Front Pemuda Katholik Republik Indonesia pada tanggal 1 Mei 1957 3 Gerakan Siswa Nasional pada tanggal 2 Dianuari 1959 dan masih banyak lainnya lagi.
Ini menunjukkan, bahwa disamping berlangsungnya proses konsolidasi juga tampal: adanya liberalisasi dengan berdirinya berbagai organisasi pemuda yang sebcnarnya hanya menambah jum!ah. |
Dengan adanya berbagai organisasi pemuda yang juga dihinggapi liberalisme ini sudah tentu mempunyai pengaruhnya pada kerjasama dan
Bambang Kusnohadi
. 286
=== [PDF page 287] ===
badan kerjasama yang telah ada. Badan kerjasama, seperti Front _ ltemuda Indonesia yang lahir sebagai hasil kongres Surabaya tak banyak dayanya. Sehari bersama dengan berdirinya Sekretariat Front Pemuda Indonesia, yaitu pada tanggal 9 Juli 1950, Muda Katholik dan GPII menyatakan keluar dari Front Pemuda Indonesia. Tidak berdayanya Front Pemuda Indonesia ini makin hari makin terasa apalagi dengan lahirnya berbagai federasi organisasi pemuda disamping Front Pemuda Indonesia seperti Perserikatan Perhimpunan-perhimpunan Mahasiswa Indonesia (PPMI), Front Pemuda Islam Indonesia (FPII) yang kemudian berubah menjadi Perserikatan Organisasi Pemuda Islam Seluruh Indonesia (PERPISI), Sekretariat Bersama Pelajar Pejuang Seluruh Indonesia, Front Pemuda Kristen Indonesia, Front Pemuda Katholik Republik Indonesia.
Adanya berbagai federasi pemuda ini maka sangat terasa sulitnya untuk mengkoordinasi atau melakukan kerjasama antara organisasi pemuda dalam melakukan aksi-aksi bersama. Karena itu sangat tcrasa perlu adanya penycderhanaan organisasi pemuda dan adanya suatu badan k-crdinasi atau federasi yang sanggup memimpin kerjasama diantara berbagai organisasi pemuda yang ada.
Dengan demikian - maka terasa sangat mendesaknya pula untuk diadakan Kongres Pemuda Seluruh Indonesia yang bertugas untuk membuiatkan dan memperbaharui semangat dalam menunaikan tugas pemuda sesuai dengan syarat-syarat perkembangan jamannia. Cctusan?
tentang hasrat ini sudah lama dirasakan dan dinyatakan. Berbagai tulisan yang menyatakan hasrat ini telah muncul diberbagai surat kabar dan majalah sejak tahun sebelumnya pemilihan umum. Bahkan pada tahun 1955 beberapa organisasi anggota Front Pemuda Indonesia mengambil inisiatif untuk mengadakan pertemuan di Panti Pemuda Bogor dalam riana tertictus pikiran untuk mengadakan kongres Pemuda Seluruh Indoncsia. Juga dalam tahun itu Front Pemuda Indonesia Jakarta mengadakan pertemuan dengan Front Pemuda Islam Indonesia dalam mana juga disinggung masalah untuk mengadakan Kongres Pemuda.
Tetapi agaknya syarat-syarat untuk itu masih kurang cukup tersedia atau belum tukup matang, hingga belum juga dapat terwujud, Hanya baru dalam tahun 1959 syarat ini tersedia. |
Keperiuan dan sifat mendesak diadakannya kongres pemuda ini juga diketahui dan dirasakan oleh Presiden Sukarno. Hal ini terutama karena Presiden Sukarno juga mengharapkan agar pemuda harus tetap merupakan sa'ah satu kekuatan yang dapat mendukung dan melaksanakan ide, gagasan beliau, terutama gagasan beliau yang terakhir yang telah
. 287
=== [PDF page 288] ===
resmi diterima menjadi haluan negara, yaitu Manifesto Politik Republik Indonesia. Untuk mendorong pemuda agar scgera mengadakan kongrcsnya Presiden Sukarno dalam tahun 1959 telah memberi dua komando yang penting kepada pemuda yaitu: 1). Pada Hari Sumpah Pemuda pada tanggal 28 Oktober 1959 di Surabaya dan 2). Pada Hari Pahlawan pada tanggal 10 Nopember 1959 di Yogyakarta. Komando yang pertama adalah komando untuk membasmi kebudayaan impcrialis dan menegakkan kebudayaan nasional, dan yang kedua adalah komando agar pemuda seiekas mungkin mengadakan kongres pemuda, dalam rangka pelaksanaan Manifesto Politik Republik Indonesia.
Sudah tentu komando Presiden ini mendapatkan sambutan hangat dari massa pemuda umumnya dan organisasi-organisasi pemuda khususnya. Dan segera setelah itu berbagai organisasi pemuda dengan sibuk dan hangat mengadakan pertukar pikiran, diskusi untuk mencari jalan bagaimana kongres itu harus di- ‘ selenggarakan. Kebulatan pendapat dan tekad tidak f ke terlampau sulit untuk dicapai. Mereka umumnya sepakat untuk segera menyelenggarakan kongres pada
: permulaan tahun 1960. Untuk ini perlu dibentuk S.M. Taher suatu panitia baik dipusat maupun didaerah-daerah.
Panitia Pusat dalam waktu yang singkat segera dibentuk yang terdiri antara lain dari ketua dan wakil-wakil ketua masing-masing S.M. Taher (Pemuda Demokrat), Aminuddin Azis (Gerakan Pemuda Ansor) dan Sukatno (Pemuda Rakyat) sekretaris I Urip Hartoyo (PPKI), sekretariat II Himawan (PPKRI ), sekretaris III Hasan Rangkuti (PPM1/ MMI), bendahara Dharilah (PPI). Sedangkan seksi-seksinya masing-masing dipimpin oleh Suwardi (FPI) ketua seksi penerangan. Margono (Pemuda Rakyat) ketua seksi pengangkutan, Tien Dauly (PPI) ketua seksi konsumsi, Ismail Hasan (GPII) ketua seksi persidangan, Abdul Madiid Tayib (Gerakan Pemuda Ansor) ketua seksi penginapan, Dance (FPKT)
ketua seksi olahraga/kesenian, Amir Husein (PORPISI) ketua seksi keyangan. Kecuali Panitia Pusat ini juga dibentuk sub Panitia Pelaksana di Bandung yang dipimpin oleh Tarwia Sutendy (Pemuda Demokrat), Abas Usman ( Pemuda Rakyat), Usman Hamim (GP. Ansor) dan M.O.
Kardina (GPIT).
Setelah melalui pekerdiaan persiapan yang berat, baik dipusat maupun didaerah-daerah, kongres Pemuda Seluruh Indonesia dapat dibuka di Bandung pada tanggal 14 Pebruari 1960 dan berakhir pada tanggal 21 Pebruari 1960. Kota Bandung yang sejuk dan nyaman
288 |
=== [PDF page 289] ===
Bunpung 1p
Digitized by Google
é Oy Uvoynqua, 7 "3
A Disauopuy Yyninyag vpnued sassuoy yngwag estaba h ea ESP ARS O28 trey ee Ee,
BP KAN meng tnya, ge te
E am. PIN» amNuamng fr
ayy
9 Cia Shei
Sejarah Perjuangan
va nee et ey a » Pa Fak
=== [PDF page 290] ===
hawanya selama seminggu menjadi hangat oleh semangat pemuda yang datang dari segala penjuru tanah air. Jumlah delegasi seluruhnya 3000 orang, diantaranya 2900 dari daerah-daerah. Mereka datang dan berkumpul dengan membawakan semangat persatuan serta hasrat untuk membulatkan tekad melaksanakan Manifesto Politik Republik Indonesia.
Karena itu, walaupun mereka datang dari tempat yang terpisah satu sama lain, tempat yang dipisahkan oleh rintangan-rintangan alam seperti lautan, sungai-sungai, hutan-hutan, gunung-gunung tanpa jalan manusia, namun jiwa persatuan dan Manipol telah meresapi dirinya dan menjadi landasan kuat untuk menggalang persatuan yang lebih kuat dikalangan pemuda.
Kongres diselenggarakan digedung DEPERNAS Bandung dan dibuka dengan amanat Presiden. Ikut bertindak memberikan prasarannya dalam kongres ini yalah Ruslan Abdulgani, Chaerul Saleh, Prof. Mr. Moh.
Yamin (Almarhum) tentang Pembinaan Bangsa Indonesia, Menteri Muda Agama Kyai Haji Wahib Wahab, tentang pembangunan Spirituil Rokhani: Menteri Inti Pertahanan Keamanan Jendral Nasution tentang Pemuda Dalam Melaksanakan Manifesto Politik Republik Indonesia di bidang Keamanan dan Pertahanan, disamping itu oleh Panitia Pusat disampaikan working paper yang masing-masing diajukan oleh S.M.
Taher soal keorganisasian 4 Aminuddin Azis soal Pembangunan Semesta;
Urip Hartoyo soal Pembangunan Spirituil 5 Himawan soal Pendidikan
Kebudayaan Sukatno soal Keamanan Sulaeman Dahlan soal Irian.
Barat. Kongres ini walaupun berlangsung dengan penuh ketegangan pemuda, tetapi yang juga penuh tolerensi pemuda, berakhir dengan sukses sesuai dengan harapan semula.
Kongres berhasil mengambil keputusan antara lain sbb.:
Mengenai organisasi, pemuda-pemuda sepakat untuk: Mendirikan sebuah federasi organisasi pemuda yang sudah mengalami penyederhanaan dalam jumlah anggota dan wilayah dan menyerahkan penyempurnaan badan-badan tersebut kepada presidium sementara yang memimpin kongres.
Mengenai pembangunan spirituil dan kerokhanian kongres antara lain mengusulkan kepada pemerintah: Supaya pemerintah memperbesar fonds Kepanduan: supaya mengadakan film-film pendidikan sebanyakbanyaknya, agar mengadakan panitia sensor yang melarang beredarnya film tontonan, buku”/tulisan-tulisan yang tidak susila dan mengandung unsurunsur anti agama supaya mempermurah harga alat-alat untuk kepentingan kemajuan pembentukan jasmani dan rokhani; meluaskan pendidikan dan pengetahuan serta kecintaan terhadap kebudayaan bangsa
290
ma ee Mana
=== [PDF page 291] ===
sendiri yang berarti menolak dengan tegas kebudayaan asing yang mau menguasai jalan kehidupan bangsa kita, baik disekolah-sekolah maupun dalam masyarakat umumnya.
Mengenai pembangunan semesta, kongres antara lain mengajukan usul agar pemerintah:'
Bidang produksi: dalam jangka pendek, adanya keharusan untuk mencukupi sandang pangan rakyat dengan harga yang sesuai dengan daya beli rakyat. Untuk keperluan produksi harus dinaikkan dimana pemuda dapat memberikan sumbangannya dengan jalan membentuk regu-regu kerja sukarela berdasarkan rencana tertentu (seperti operasi gerakan makmur dil.) yang pelaksanaannya diatur menurut ketentuan-ketentuan organisasi ) dalam jangka panjang, kegiatan ekonomi ditujukan kepada perombakan struktur agraris ke struktur ekonomi yang seimbang antara agraris dan industri.
Untuk itu diperlukan tenaga kerja yang terlatih dengan jalan menganjurkan kepada Pemerintah agar menyelenggarakan pendidikan kejuruan, dll.
Dalam bidang distribusi antara lain diputuskan agar ) barang?/ bahan?/jasa keperluan rakyat harus segera sampai ketangan mereka, pemuda dapat bertindak membantu alat-alat negara dalam mencegah penimbunan, spekulasi, korupsi, begitu juga aktif membantu penyaluran dan mengawasi harga.
Dalam bidang ekonomi antara lain diputuskan agar diadakan retooling, ordening mengenai organisasi dan personalianya. Dan berhubungan masih adanya kegiatan-kegiatan ekonomi kapitalis yang mempergunakan nama kooperasi maka pemuda harus aktif mensinyalirnya.
Dalam bidang keuangan segera ditentukan untuk mengatasi inflasi dengan mengurangi pengeluaran konsumtif negara disegala sektor dengan tidak mengurangi efisiensi 'kerja dalam taraf stabilisasi perekonomian dan pembangunan negara.
Dalam bidang agraris antara lain diputuskan agar segera diadakan undang-undang agraria yang progresif untuk menjamin pelaksanaan fasal 33 Undang-undang Dasar 1945: agar pemuda mempelopori kegiatan-kegiatan dan aksi-aksi untuk melaksanakan landreform, haruslah ada jaminan agar rakyat mendapatkan tanah untuk pertanian, agar pemuda dengan aktif menggiatkan pemberantasan ijon sampai keakar-akarnya.
Mengenai masalah perumahan rakyat diputuskan antara lain: agar
Aminuddin Azis |
291
=== [PDF page 292] ===
rakyat mendapatkan perumahan yang layak memenuhi syarat higienis dan pemuda harus mempelopori aksi-aksi agar pemerintah kotapraja daerah menjalankan suatu politik perumahan yang progresif. |
Dalam bidang keamanan dinyatakan bahwa segenap pemuda Indonesia siap sedia membantu bersama-sama dengan Angkatan Perang
"Republik Indonesia dan aparatur negara lainnya, untuk mempercepat pelaksanaan keamanan diseluruh wilayah Indonesia termasuk Irian Barat, dengan segala konsekwensinya. Disamping itu juga diajukan usul, agar diintensifkan organisasi keamanan rakyat dalam mana organisasi pemuda harus diikut sertakan, dan segera diadakan pembangunan.
Dalam melaksanakan perlawanan terhadap gerombolan kontra revolusioner diusulkan untuk menolak jalan kompromi.
Dalam lapangan kebudayaan diputuskan agar pemuda ikut aktif mengembangkan dan mempertinggi serta bertanggung jawab atas kebudayaan nasional yang membangun dalam arti kata harus berani dengan kritis mengoreksi unsur-unsur kebudayaan kita sendiri yang tidak sesuai dengan kepribadian kita 5 ikut aktif memberantas kebudayaan asing yang bertentangan dengan kepribadian Bangsa Indonesia secara nyata dan konsekwen: mengikut sertakan pemuda yang dapat dipertanggung jawabkan dalam Panitia Sensor Film, supaya mendesak kepada Pemerintah untuk meninjau kembali Peraturan Pajak Pengarang, supaya jawatan kebudayaan didaerah-daerah digiatkan daya kerjanya dan diperluas supaya diperbanyak Gedung-gedung Kesenian dan Gedung?
.Pertemuan: aktif membantu dan tidak bertentangan dengan kepribadian Nasional Indonesia. Sedangkan khusus untuk perjuangan membebaskan Irian Barat kongres mengambil keputusan antara lain, membentuk korps penerangan pemuda yang bertugas menggelorakan semangat perjuangan pembebasan Irian Barat dan menanamkan pengertian sedalam-dalamnya mengenai kedudukan Irian Barat kepada seluruh lapisan masyarakat menyiapkan pemusatan segenap potensi pemuda untuk siap sedia melaksanakan setiap komando Pemerintah guna membebaskan Irian Barat dari:
cengkeraman imperialis/kolonialis Belanda, mengadakan hubungan dengan organisasi luar negeri guna mendapatkan solidaritas dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat. Kongres juga mengajukan saran?
kepada Pemerintah supaya Pemerintah membuat rencana perjuangan pembebasan Irian Barat secara konkrit, yang dapat dilakukan dalam waktu singkat 5 menyempurnakan aparatur Pemerintah di Irian Barat dengan menempatkan tenaga-tenaga yang sanggup melaksanakan setiap langkah dalam rangka perjuangan pembebasan Irian Barat, menyelenggarakan pembangunan yang merata diseluruh daerah Irian Barat:
292
=== [PDF page 293] ===
menyempurnakan alat-alat perhubungan didaerah Irian Barat/Maluku;
meneruskan pengambil-alihan modal-modal Belanda termasuk modal yang ada dalam perusahaan campuran yang ada di Indonesia) hendaknya Pemerintah memberikan prioritas terhadap pelaksanaan wajib latih dan bela umum diwilayah Irian Barat, membentuk brigade Transmigrasi Pembangunan ke Irian Barat yang terdiri dari tenaga-tenaga muda yang militan dan revolusioner untuk segala bidang.
Tentang pembinaan Bangsa Indonesia Kongres memutuskan antara lain:
bahwa pemuda Indonesia tidak membenarkan adanya penjajahan dalam bentuk apapun dan dimanapun juga, karena kemerdekaan itu hak segala Bangsa. Pemuda Indonesia selalu berusaha secara aktif membantu setiap gerakan untuk mencapai kemerdekaan Bangsa dan Tanah air dari setiap Bangsa yang hingga kini masih meringkuk dibawah kekuasaan penjajahan, Pemuda Indonesia menyatakan mendukung dan sanggup menjadi pelopor dalam melaksanakan Manifesto Politik Republik Indonesia sebagai garis besar haluan Negara dll.
Dalam masalah umum, kongres antara lain mengambil keputusan yang menyatakan bahwa pemuda Indonesia mendorong segala macam usaha untuk mewujudkan Persatuan Nasional dan mengoreksi pimpinan-pimpinan revolusi yang tidak melaksanakan Manifesto Politik R.I. dengan landasan Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, azas dan dasar negara proklamasi 17 Agustus 1945; bahwa Pemuda Indonesia menyerukan agar sengketa yang timbul antara anggota Konferensi Asia- Afrika di Bandung diselesaikan dengan dasa sila secara damai dan perundingan 4 bahwa Pemuda Indonesia memprotes sekeras-kerasnya segala pelaksanaan dan penggunaan bom atom, peluru kendali, pembunuhan masal, dan menuntut penghentian percobaannya, menyokong sepenuhnya penggunaan tenaga atom untuk pembangunan dan maksud-maksud damai dll.
Kecuali kegiatan-kegiatan bersidang, delegasi kongres juga mengadakan kegiatan olahraga dan kesenian, yang makin menambah meriahnya suasana kongres, dan makin memudahkan usaha lebih mempersatu-
Sukatno
293
Digitized by Goog le
=== [PDF page 294] ===
kan pemuda seluruh Indonesia.
Kongres juga ditutup dengan rapat raksasa dalam mana juga diadakan upacara penyerahan putusan kongres kepada Presiden Sukarno.
Kongres Pemuda Seluruh Indonesia dengan putusan-putusannya ini mencerminkan tugas jamannya, tugas yang telah diletakkan kepada kongres itu sendiri, yaitu kongres untuk melaksanakan Manifesto Politik Republik Indoncsia. Ya juga merupakan kemenangan bagi kekuatan demokratis terhadap kekuatan anti-demokratis yang terwujud hendak melebur dengan paksa organisasi pemuda kedalam satu organisasi. Dengan Cemikian maka berhasilnya kongres ini merupakan suatu taraf baru bagi pemuda, dalam mana pemuda telah mengesyahkan program perjuangan yang pokoknya dijiwai Manifesto Politik Republik Indonesia, taraf dalam mana Pemuda-pemuda Indonesia mempunyai suatu badan Federasinya iang dapat memimpin dan mengkoordinasikan kegiatan perjuangan pemuda umumnya. Ini berarti bahwa pemuda akan dapat lebih positif dan lebih banyak memberikan sumbangannya sesuai dengan sifat kepemudaannya dalam rangka perjuangan Nasional Indonesia untuk mencapai Indonesia yang Merdeka Penuh, Demokratis, Adil dan Makmur, perjuangan sebagaimana dinyatakan dalam Manifesto Politik, yaitu untuk menentang imperialisme dan sisa-sisa kekuatan gelap lainnya, dan setelah itu menciptakan masyarakat sosialis Indonesia, masyarakat yang tidak ada penghisapan atas manusia. |
Dengan putusan-putusan ini juga berarti memberikan tugas kepada pemuda untuk dengan sungguh-sungguh dan sepenuh hati, dengan gigih terus berjuang untuk melaksanakan Manifesto Politik R.I. dan barang siapa ragu-ragu atau tidak melaksanakan berarti penyelewengan dalam menunaikan tugas pemuda, tugas revolusi, yang sudah disetujui bersama.
Pemuda Indonesia, sesuai dengan tradisi revolusionernya mempunyai keyakinan penuh, mempunyai optimisme revolusioner yang besar bahwa tugas itu pasti dapat terlaksana.
294
=== [PDF page 295] ===
KEPANDUAN
Kepanduan adalah salah satu bentuk organisasi pemuda, salah satu bentuk gerakan pendidikan yang ketiga, yaitu pendidikan dalam kehidupan masyarakat. Dasar ide yang diletakkan oleh pendirinya, Lord Robert Baden Pr-vell of Gilwell, seorang bekas Jenderal Kolonial Inggris yang:
bertahun-tahun telah mengabdikan diri sebagai tentara kolonial Inggris, dan yang pernah memimpin perang kolonial Inggris menindas dan merampok rakyat Afrika, yalah bahwa organisasi ini adalah organisasi sport yang bersifat kemiliteran, organisasi pendidikan sosial dengan dasar humanisme yang bercita-cita persaudaraan dan perdamaian. Sudah tentu ide ini mempunyai batas yang tak dapat dilampauinya sendiri yaitu humanisme, persaudaraan dan perdamaian yang tidak menyinggung dasar kolonialisme. Karena itu dasar ini tidak dapat memuaskan bagi gerakan kepanduan dinegeri jajahan seperti Indonesia, yang rakyatnya termasuk pemudanya berjuang untuk mencapai kemerdekaan nasionalnya.
Gerakan Kepanduan Indonesia tidak sama dengan gerakan kepanduan pada umumnya yang hanya berdasarkan ide Robert Baden Powell of Gilwell tsb., walaupun bentuknya mempunyai persamaan. Di Indonesia gerakan kepanduan mendapatkan pengaruh dari gerakan nasional umumnya dan gerakan pemuda khususnya, ia menjadi obyek pendidikan bagi organisasi perjuangan kemerdekaan rakyat Indonesia. Organisasi kepanduan yang tidak sesuai dengan tuntutan gerakan nasional pasti tidak dapat berkembang atau tenggelam lenyap tanpa bekas.
Kepanduan di Indonesia mulai berdiri sejak tahun 1912, yaitu 4 tahun sejak usaha pertama dari Baden Powell pada tahun 1908. Organisasi kepanduan ini adalah merupakan suatu cabang dari organisasi kepanduan dinegeri Belanda, dan hanya beranggota murid sekolah Belanda di Indonesia. Organisasi ini tidak mempunyai sangkut paut dan kepentingan untuk mengembangkan keanggotaan dari pemuda-pemuda Indonesia. Namun demikian organisasi ini mempunyai pengaruh terhadap dibentuknya. kepanduan-kepanduan putra-putra Indonesia sendiri. Penga.
ruh ini hanyalah merupakan dorongan, sedangkan kelahiran kepanduan yang terdiri dari putra-putra Indonesia adalah hasil dari dalam gerakan pemuda Indonesia sendiri.
Tak lama kemudian setelah berdirinya kepanduan itu, pada permu-
295
=== [PDF page 296] ===
laan tahun 1916 oleh Pangeran Aryo Adipati Mangkunegoro VII didirikan suatu organisasi kepanduan yang diberi nama ”De Yavankhe Padvinders Organisatie” (Organisasi Kepanduan Jawa) di Solo. Ditilik dari latihan-latihan yang dilakukan yang meliputi permainan adu kekuatan, tariantarian biasa dan tarian-tarian perang, pelajaran disiplin maka dapatlah diketahui bahwa organisasi ini dijadikan tempat untuk merekrut prajurit Mangkunegaran. Karena sempitnya dasar dan tujuan dari kepanduan ini maka ia tak dapat berkembang luas dan membekas yang dalam. Juga dalam tahun 1916 lahirlah organisasi pemuda yang mempunyai sifat sama — Teruna Kembang.
Setelah berdirinya beberapa organisasi kepanduan Belanda, maka oleh organisasi kepanduan kolonial Belanda itu didirikan suatu organisasi yang menghimpun kepanduan anak Belanda dengan nama "De Nederlandskhe Indieskhe Padvinders Organisatie. Organisasi kepanduan ini merupakan bagian organisasi kepanduan dinegeri Belanda, yaitu Nederlandskhe-Padvindery dan tidak mempunyai hubungan apapun dengan yang didirikan pada bulan Desember 1915 di Den Haag. Organisasi-organisasi kepanduan putra-putra Indonesia, bahkan ia merupakan perintang besar, reaksi besar bagi perkembangan organisasi kepanduan Indonesia.
Walaupun ada rintangan dan reaksi dari organisasi kepanduan Belanda, namun gerakan kepanduan dari putra-putri Indonesia sendiri maju dengan pesat seiring dengan maju dan berkembangnya organisasi pemuda umumnya. Setiap organisasi pemuda yang telah lahir, dan setiap organisasi gerakan nasional mempunyai bagian kepanduannya. Dengan demikian berdirilah organisasi kepanduan Yong Java yang diberi nama Yong Java Padvindery (YYP). Pada tahun 1924 PKI juga mendirikan suatu organisasi kepanduan yang diberi nama Internatsional Padvinder Organisasi (IPO) yang berkedudukan di Semarang. Kemudian juga menyusul lahir organisasi kepanduan dari Yong Islamieten Bond dengan nama Nasionale Islamietiskhe Padvindery (NATIPY) dan dari S.I..
dengan nama Serikat Islam Afdeeling Padvindery (SIAP) yang didalam kongresnya dari tanggal 2 — 5 Februari 1928 namanya diubah Serikat Islam Afdeeling Pandu (Serikat Islam Bagian Pandu), dari Algemeene Studi Club yang diberi nama Nasional Padvinders Organisatie (Organisasi Pandu Nasional) yang disingkat menjadi N.P.O. Kemudian menyusul lahir Al Kasyaaf van Wal Fadirie, dan terus disusul kepanduan dari Budi Utomo yaitu Nasional Padvinderiy (Kepanduan Nasional) dan kemudian Taman Siswa juga mendirikan kepanduannya sendiri yang diberi nama Siswo Proyo- Dengan demikian makin banyaklah organisasi kepanduan yang didirikan oleh putra-putra Indonesia sendiri. Makin meningkatnya
296
=== [PDF page 297] ===
kesadaran nasional dalam kalangan pemuda maka sangat dirasakan perlu adanya suatu badan yang dapat mengkoordinasi antara berbagai organisasi kepanduan ini. Dengan didorong oleh kesadaran ini pada tahun 1927 terbentuklah suatu badan federasi antara organisasi kepanduan Indonesia yang diberi nama,,Persaudaraan Antar Pandu Indonesia”
dengan disingkat P.A.P.I. yang dipimpin oleh Mr. Sunario. Organisasiorganisasi kepanduan yang menjadi anggota PAPI yalah IPO, YYP, NATIPIY, SIAP, Al Kasyaaf van Wal Fajrie, Nationale Padvinderiy, dan Siswo Proyo. Tujuan PAPI yalah untuk membentuk,,uni antara pengurus besar dari perkumpulan Kepanduan Indonesia”, untuk meningkatkan derajat serta saling memperkuat satu sama lain. Hanya kepanduan dari Muhamadiyah, Hizbulwathon, yang tidak masuk dalam PAPI.
Seperti diterangkan didepan bahwa gerakan kepanduan mendapat pengaruh yang besar dari gerakan nasional, dari gerakan pemuda umumnya, maka seiring dengan meningkatnya kesadaran kesatuan dalam gcrakan pemuda, juga mempunyai pengaruhnya terhadap kepanduan. Hal ini dapat dilihat bahwa dalam Kongresnya Yong Java yang diadakan pada, bulan Desember 1928, dalam mana Yong Java menerima prinsip fusi, maka juga diputuskan agar kepanduannya masih berdiri sendiri. Dalam kongres Yong Java Padvinderiy (YYP) pada tanggal 16—24 Juni 1929 telah diajukan suatu pemecahan yang prinsipil dalam menghadapi pengaruh persatuan. Putusan itu antara lain yalah: a). usul reorganisasi untuk memisahkan diri dari organisasi Yong Java dan mengubah namanya menjadi,,Pandu Kebangsaan”: b). untuk memperkenalkan apa yang telah dikerjakan oleh kepanduan ini maka akan dikirimkan utusan seorang pemimpin Pasukan, Mustafa, ke Eropa.
Kongres menerima usul yang diajukan oleh pimpinan YYP, dan dengan demikian maka YYP berubah namanya,,Pandu Kebangsaan”, yang akan menerima pemuda dari segala suku bangsa, Jawa, Sumatra, Kalimantan, Sulawesi, Maluku dll. Tetapi sifat berdiri sendirinya kepan-
. duan ini tak juga bertahan lama, karena gerakan Persatuan yang meng.
hendaki adanya fusi diantara kepanduan nasional berjalan dengan kerasnya. Kesadaran nasional untuk mempersatukan semua organisasi pemuda yang bersifat kedaerahan berlangsung dengan sukses. Keadaan ini mendorong organisasi-organisasi kepanduan yang ada untuk mengambil jalan menyatukan diri kedalam suatu organisasi kepanduan nasional.
Untuk mencapai maksud mempersatukan semua organisasi kepanduan yang masih bersifat kesukuan ini, pada tanggal 15 Desember 1929 di Jakarta dilangsungkan suatu konferensi yang dihadiri wakil-wakil semua pimpinan pusat dari berbagai organisasi kepanduan yang ada. Da-
297
=== [PDF page 298] ===
lam konferensi ini telah diambil suatu kesimpulan untuk menyatukan berbagai organisasi kepanduan yang berazaskan kebangsaan, dan dua untuk kepanduan yang berazaskan Islam. Pandu-pandu Kebangsaan dari yong Java, Indonesiskhe Nasional Padvinder Organisatie dan Pandu Indonesia, Pandu Pemuda Sumatra dari Yong Sumatra mempersatukan diri dengan nama,,KEPANDUAN BANGSA INDONESIA”, disingkat K.B.I. Dalam bulan Februari 1930 terbentuklah komisi untuk mempersiapkan fusi.
Dasar K.B.I. sebagaimana yang dinyatakan dalam Anggaran dasarnya yalah: 1). Kepanduan bertujuan untuk menyatukan semua lapisan pemuda, baik laki-laki maupun wanita kedalam suatu barisan besar dan kecil, untuk melaksanakan permainan kepanduan guna mempelajari kebaikan dan kesehatan. 2). Dengan permainan ini bermaksud untuk meningkatkan fikiran, kecerdasan dan watak pandu. 3). Kepanduan adalah suatu sport, yang bebas dari paksaan dan yang dapat menarik anak-anak sehingga mereka dapat memperoleh kesenangan. 4). Kepanduan mengatur permainan menurut waktunya, sehingga pemuda-pemuda dapat dengan mudah dan sehat mengerti dan menerima jiwa itu.
5). Kepanduan berusaha untuk mendidik pemuda-pemuda, baik laki-laki maupun wanita untuk menjadi manusia yang baik, yang bersiap baik kecakapan, fikiran, kecerdasannya dan 'badannya guna kepentingan rakyat, tanah air dan seluruh masyarakat.
Dasar K-B.I. ini pada pokoknya diambil dari dasar organisasi kepanduan sedunia. K.B.I. juga menggunakan buku-buku tuntutanan yang ditulis oleh,,Pandu Agung” Lort Baden Powell of Gillwell. Tetapi dalam prakteknya K.B.I. berbeda dengan dasar umum itu dalam hal bahwa organisasi kepanduan ini juga merupakan tempat untuk mendidik pemuda dengan jiwa kebangsaan dan bercita-cita mencapai Indonesia Merdeka. |
Berbeda dengan kepanduan yang berazaskan kebangsaan ini, kepanduan yang berazaskan Islam tidak mempersatukan diri dengan berfusi tetapi dengan federasi. Yang tergabung dalam federasi kepanduan Islam yalah Hisbul Wathon dari Muhamadiyah, SIAP dari Serikat Islam, Natipiy dari Yong Islamieten Bond dan Al Kasysyaf Wal Fajri. Kecuali ini masih ada beberapa kepanduan lainnya. Seperti Siswo Proyo dari Taman Siswa yang tetap berdiri sendiri. Kecuali organisasi kepanduan ini juga pada tahun 1933 berdirilah suatu organisasi kepanduan yang mempunyai dasar progresif yaitu Kepanduan Rakyat Indonesia. Organisasi kepanduan ini secara terang-terangan mendidik anggota-anggotanya dengan cita-cita Indonesia Merdeka. Karena itu dalam penangkapan tahun 1935 banyak
298
=== [PDF page 299] ===
pemimpin dari Kepanduan Rakyat Indonesia yang ikut ditangkap. Disamping ini juga oleh Parindra, pada tahun 1936 didirikan organisasi kepanduannya sendiri yang bernama Surya Wirawan.
Pada massa pendudukan militer fasis Jepang semua organisasi kepanduan juga merupakan organisasi yang tidak diperkenankan berdiri dan pemuda-pemuda hanya boleh masuk organisasi buatan Jepang, yang bertujuan untuk membantu Jepang dalam usaha melancarkan perang agresinya.
Gerakan kepanduan mulai bangun kembali pada tahun 1945, yaitu setelah proklamasi Kemerdekaan Indonesia diumumkan. Tetapi karena kegiatan umum berpusat pada penyusunan kekuatan bersenjata untuk menghadapi agresi imperialis Belanda maka gerakan kepanduan belum dapat berkembang. Kesulitan lain hingga belum memungkinkan kepanduan berkembang meluas lagi yalah, kesulitan politik dan ekonomi yang besar pada masa ini. Namun demikian pada bulan Desember tanggal 28 tahun 1945 mulai didirikan Pandu Rakyat di Solo dan pada tahun 1949 diusulkan dengan berdirinya Kepanduan Putra Indonesia.
Gerakan Kepanduan dapat benar-benar mulai berkembang lagi yalah sejak tahun 1950. Berbagai organisasi kepanduan yang sudah sejak tahun 1945 tidak aktif mulai diaktifkan kembali, dan bahkan timbul banyak organisasi yang lainnya. Hingga tahun 1954 di Indonesia sudah berdiri 71 organisasi kepanduan dan mempunyai anggota sebanyak 234.
682 orang pandu, yang terdiri dari 193.626 pandu futra dan 40.856 pandu putri, sedangkan pemimpinnya ada 15.505 orang. Diantara sekian banyak anggota pandu itu Pandu Hizbul Wathon adalah nomor satu(1)
dilihat dari jumlahnya, kemudian menyusul Pandu Ansor nomor dua (2), Pandu Rakyat Indonesia nomor tiga(3), Kepanduan Bangsa Indonesia nomor empat (4), Pandu Islam Indonesia nomor lima (5).
Jumlah anggota mereka masing-masing yalah: Hizbul Wathon 47.451 orang pandu, Pandu Ansor 46.320 orang pandu, Pandu Rakyat Indonesia 43.933 orang pandu, Kepanduan Bangsa Indonesia 22.318 orang pandu, Pandu Islam Indonesia 21.898 orang pandu.
Dengan banyaknya organisasi kepanduan yang ada maka sangat di.
rasakan perlunya ada suatu badan yang dapat mengatur kerjasama dan mengkoordinir kegiatan bersama. Keperluan akan adanya badan seperti ini sangat dirasakan bersama, karena itu pemimpin-pemimpin organisasi kepanduan pada sepakat mendirikan suatu badan yang bersifat federasi kepanduan seluruh Indonesia. Badan seperti ini didirikan pada tanggal 16 September 1951 yang diberi nama Ikatan Pandu Indonesia dengan disingkat IPINDO. Dari sekian banyak organisasi kepanduan yang terbesar
299
=== [PDF page 300] ===
seluruh Indonesia itu hanya 17 organisasi yang menjadi anggota IPINDO yaitu 1). Hizbul Wathon, 2). Ansor, 3). Pandu Rakyat Indonesia, 4). Kepanduan Bangsa Indonesia, 5). Pandu Islam Indonesia, 6). Serikat Islam Afdeling Pandu, 7). Al Asyor dari Perti, 8). Pandu Katholik, 9). Pandu Kristen, 10). Perserikatan Pandu-pandu, 11). Pandu Indonesia, 12). Pandu Republik Indonesia, 13). Perketi, 14). Al Irsyad, 15). Kepanduan Angkatan Muda Islam, 16). Al Wasyliyah, dan 17). Surya Wirawan.
Suatu langkah yang besar untuk mempererat kerjasama antara berbagai organisasi kepanduan di Indonesia yalah diadakan Jambore Nasional tepat pada hari peringatan 10 tahunnya Revolusi Nasional Indonesia, yaitu tanggal 17 Agustus 1955. Jambore Nasional ini adalah Jam.
bore yang pertama kalinya dan yang diikuti oleh 4.000 orang pandu dari segenap penjuru Nusantara kita. Jambore ini diadakan didesa Karang Teruna, Pasar Minggu — Jakarta. Jambore ini berlangsung dengan sukscs dan dapat mempererat tali ikatan persaudaraan antara pandu-pandu Indonesia yang datang dari berbagai suku bangsa dan mempunyai berbagai adat istiadat yang berbeda-beda, tetapi semua diikat oleh tali persatuan nasional Indonesia.
Walaupun sudah ada suatu badan federasi kepanduan, namun dalam proses peredaran masa badan ini masih dirasa kurang melakukan peranan memimpin kegiatan kepanduan. Karenanya dirasakan perlu untuk menyempurnakan badan ini. Untuk maksud itu pada bulan Mei 1960 diadakan pertemuan yang berhasil untuk mereorganisasi dan mengubah nama badan federasi kepanduan yang telah ada. Badan federasi yang baru ini diberi nama — Persatuan Kepanduan Indonesia, disingkat,,PERKIN- DO” sebagai ganti IPINDO. Anggota PERKINDO, kecuali bekas anggota IPINDO tambah K.P.I.
Makin majunya perjuangan rakyat Indonesia untuk: mencapai Indonesia yang Merdeka Penuh dan Demokratis, yang ditandai dengan dibatalkannya perjanjian KMB, adanya Konsepsi Presiden, ditumpasnya pemberontakan PRRI/Permesta, adanya Manipol dll, mempunyai pengaruhnya juga dalam gerakan kepanduan. Pengaruh Baden Powelisme dalam kepanduan tak dapat lebih lama menjadi dasar gerakan kepanduan di Indonesia, dan perlu segera dirubahnya.
Dalam mencari jalan untuk mengubah ini sangat besar arti kunjungan Presiden Sukarno kenegeri-negeri sosialis di Eropah Timur, dimana beliau menyaksikan sendiri keunggulan organisasi Pionir sebagai badan untuk mendidik anak-anak. Berdasarkan itu maka dalam rangka untuk melaksanakan konsepsi beliau, pada Presiden Sukarno timbul ide
300
=== [PDF page 301] ===
untuk merombak secara total dasar-dasar pendidikan kepanduan di In.
donesia. Lewat Menteri PDK. Prof. Dr. Priyono dan Suyono Atmo Anggota Dewan Nasional, Presiden menyampaikan idenya yang pertama-tama untuk memperbarui IPINDO. Tetapi usaha itu tidak berhasil sepenuhnya, karena penyatuan kepanduan saja belum dapat mengikis pengaruh Baden Powell. Untuk mewujudkan ide adanya organisasi anak-anak yang mampu menjadi tempat pendidikan yang Manipolis serta juga menjadi pendukung Manipol maka Presiden mencetuskan ide untuk mendirikan gerakan Pramuka.
Ide perubahan ini telah dinyatakan oleh Presiden Sukarno dalam amanatnya didepan pemimpin-pemimpin kepanduan pada tanggal 9 Ma-:
ret 1960. Untuk merealisasi ide ini pada tanggal 14 April 1961 ditetapkan suatu Keputusan Presiden Republik Indonesia nomor 121, untuk membentuk suatu Panitia Pembentukan Gerakan Pramuka yang terdiri dari:
1). Sri Sultan Hamengku Buwono sebagai Ketua merangkap anggota.
2). Prof. Dr Priyono sebagai anggota. 3). Brigadir Jenderal A. Saleh sebagai anggota. 4). Kolonel Achmadi sebagai anggota. 5). Mulyadi Joyomartono sebagai anggota.
Pada tanggal 20 Mei 1961, Pejabat Presiden Ir. Haji Juanda menetapkan keputusan Presiden Republik Indonesia nomor: 238 tahun 1961 tentang Gerakan Pramuka sebagai pengganti kepanduan. Dengan demikian di Indonesia hanya diperlukan adanya satu organisasi pemuda sebagai pengganti kepanduan, yaitu Pramuka.
Tetapi Gerakan Pramuka ini masih perlu disempurnakan baik pim.
pinannya maupun programnya, agar benar dapat memenuhi harapan Presiden Sukarno sebagai pencetus ide Pramuka sebagai tempat pendidikan anak-anak dengan jiwa Manipolis.
Kaum reaksi dalam negeri tidak berdiri sendiri dalam mempertahankan pandangan-pandangan kolot dalam pendidikan kanak-kanak. Kaum imperialis memberi bantuan besar pada mereka lewat bacaan, film, nyanyian ngak-ngik-ngok, cross boy-isme, penyebaran benih rasialisme dll.
Usaha mereka ini juga mendapatkan tantangan yang kuat baik dari orang tua anak, maupun dari pemuda-pemuda sendiri.
Karena gerakan Pramuka masih dirasakan kurang memenuhi kebutuhan akan pendidikan terhadap anak-anak, maka timbulah berbagai organisasi anak-anak lainnya untuk mengisi macam-macam kekosongan dalam waktu terluang bagi anak-anak, lahirlah Taman Kanak-kanak Melati, Taman Minggu Melati, Pioner Muda YFajar Harapan dll.
Pioner Muda Fajar Harapan menanamkan kepada anak-anak semangat patriotisme, cinta perdamaian, dan cinta serta hormat kepada rakyat
301
=== [PDF page 302] ===
dengan pertumbuhan jiwanya, dan merupakan usaha kelanjutan dari pada pendidikan Taman Kanak-kanak Melati.
pekerja dan mendorong mereka sesuai dengan cara-cara mereka sendiri memberikan sumbangan kepada perjuangan seluruh rakyat. Taman Minggu Melati dimaksudkan untuk mengisi tata-sibuk kanak-kanak sesuai Tumbuhnya organisasi kanak-kanak ini berarti memberikan sumbangan yang besar untuk memperkuat gerakan Pramuka. Oleh sebab itu diperlukan kerjasama saling bantu antara berbagai organisasi anak-anak di Indonesia.
302
=== [PDF page 303] ===
KATA SUSULAN
Dari uraian didepan dapat diketahui bahwa jangka waktu yang.
tercakup dalam seluruh periode itu ialah dari tahun sejak berdirinya organisasi pemuda yang pertama, yaitu sejak tahun 1915 sampai dengan kongres pemuda di Bandung tahun 1960. Dengan demikian maka hingga tulisan itu ditutup masih terdapat suatu masa pendek yang belum tercakup didalamnya. Dalam kata susulan ini dimaksud agar dapat memuat bagian yang belum tercakup itu secara umum dan sekaligus juga untuk menarik kesimpulan yang diperlukan guna memperoleh pelajaran yang berguna bagi Gerakan Pemuda Indonesia dalam mencapai cita-citanya.
Kongres Pemuda Seluruh Indonesia di Bandung pada tahun 1960, mempunyai arti yang sangat penting bagi perjuangan pemuda selanjut-
'nya. Karena kongres itu telah menerima program perjuangan yang pokoknya dijiwai Manipol, serta telah dengan sukses memperbaharui tekad serta persatuan guna melaksanakan programnya. Persatuan dan kerjasama yang baik, dan sikap serta aksi-aksi bersama makin terasa bertambah baik setelah kongres itu. Hal ini dapat dilihat antara lain dari sikap dan aksi pemuda terhadap peristiwa pembunuhan Patrice Lumumba, Perdana Menteri yang sah dari Pemerintahan Republik Konggo, terhadap perjuangan pembebasan Irian Barat, khususnya untuk melaksanakan Trikora, dll. Terhadap pembunuhan Lumumba yang dilakukan oleh komplotan kaum imperialis Belgia-Amerika yang disokong oleh imperialis Inggris dengan menggunakan bonekanya Kasavubu -— Combe, pemuda Indonesia melakukan aksi-aksi memprotes dan memberikan solidaritas yang tinggi terhadap perjuangan rakyat Konggo. Untuk maksud ini, pada tanggal 21 Februari 1961 telah diadakan rapat umum Mahasiswa di Aula Universitas Indonesia dalam mana Menteri P.D. dan K., Prof. Dr Priyono dan Dekan Fakultas Hukum Universitas Indonesia Prof. Suyono Hadinoto SH berbicara. Menteri Priyono dalam pidatonya antara lain menyatakan bahwa "mahasiswa Indonesia agar bertindak dalam setiap peristiwa yang berhubungan dengan perjuangan melawan imperialis dan kolonialis serta memberi solidaritetnya yang sebesar-.
besarnya”. Sedangkan Prof. Hadinoto antara lain menyatakan bahwa ”pembunuhan terhadap Lumumba sama dengan tindakan Westerling di Sulawesi Selatan”. Protes pemuda Indonesia juga dilanjutkan de-
303
=== [PDF page 304] ===
ngan berbagai demonstrasi seperti demonstrasi ke Kedutaan Belgia dan Amerika Serikat pada tanggal 18 Februari 1961, demonstrasi protes di Medan terhadap konsulat Belgia dan Amerika, rapat umum ” Lumumba”
di Jakarta pada tanggal 23 Februari 1961. Dalam rapat umum ini antara lain berbicara Ny. Dr Hurustiati Subandrio, M.H. Lukman, Manai Sophian, Zaifudin Zukri dan Sirajudin Abas yang kesemuanya mengutuk tindakan pembunuhan Lumumba. Rapat yang sama, juga diadakan di Surabaya, Semarang, Yogya, dll. kota. Rapat-rapat demonstrasi itu yang diadakan oleh berbagai organisasi pemuda, pelajar dan mahasiswa selalu membawa poster-poster, semboyan-semboyan yang antara lain berbunyi ”Tumpas Banditisme Belgia”, "Hukum mati pembunuh Lumumba”, “Ritul PBB”, ' Lumumba Patriot Rakyat Konggo”, "Kasavubu dan Combe alat imperialisme Amerika & Belgia”, dll.
Kebulatan dan keserampakan aksi pemuda ini juga diperlihatkan dalam perjuangan pembebasan Irian Barat dari kekuasaan kolonialisme Belanda, serta menyambut Tri komando Rakyat. TRIKORA yang diucapkan oleh Presiden dalam pidato beliau di Yogyakarta berbunyi sebagai
KOMANDO RAKYAT
»Kami Presiden/Panglima Tertinggi Angkatan Perang Republik Indonesia dalam rangka politik konfrontasi dengan pihak Belanda untuk membebaskan Irian Barat, telah memberikan instruksi kepada Angkatan Bersenjata untuk pada setiap waktu bebaskan Irian Barat Tanah Air — Indonesia dari belenggu kolonialisme Belanda.
Dan kini, oleh karena Belanda masih tetap mau melanjutkan kolonialisme ditanah air kita Irian Barat, dengan memecah belah Negara dan Tanah Air Indonesia, maka kami memerintahkan untuk melaksanakan Tri Komando sebagai berikut:
1. Gagalkan pembentukan,,Negara Boneka Papua” buatan kolonial.
2. Kibarkan Sang Merah Putih di Irian Barat Tanah Air Indonesia.
3. Bersiaplah untuk mobilisasi umum guna mempertahankan kemerdedekaan dan kesatuan Tanah Air dan Bangsa..
Semoga Tuhan Yang Maha Esa memberkati perjuangan kemerdedekaan Indonesia.\
Yogyakarta, 19 Desember 1961
Angkatan Perang Republik Indonesia
Sukarno
304
=== [PDF page 305] ===
Pemimpin Besar: Revolusi Indonesia Panglima Besar Komando Tertinggi Pembebasan Irian Barat.
Terhadap,,TRIKOMANDO RAKYAT” (TRIKORA) ini pemuda Indonesia dengan bulat mendukung dan segera melakukan aksi mobilisasi umum pemuda untuk siap dikirim ke Irian Barat. Scbagai pernyataan kesiapan pemuda ini, oleh Panitia Nasional Hari Sumpah Pemuda ke-33 menetapkan program untuk menyelenggarakan latihan militer dikalangan pemuda-pemuda yang terdiri dari anggota scrta pimpinan berbagai.organisasi pemuda. Latihan ini disclenggarakan bersama o'ch Front Pcmuda Pusat, Pengurus Besar Front Nasional, dan Angkatan Perang Republik Indonesia. Dalam waktu yang tidak lama pemuda Indoncsia dapat membentuk Batalyon-batalyon Pemuda yang terlatih dan siap untuk Gikirim ke Irian Barat mengusir Belanda. Kemarahan pemuda makin bertambah setelah mendengar peristiwa penyerangan Belanda tcihadap kapal-kapal ANGKATAN LAUT REPUBLIK INDONESIA (ALRI)
dikepulauan Aru sehingga menewaskan antara lain Komodor Laut Yos Sudarso. Mobilisasi berlangsung dengan pesatnya diseluruh pelosok tanah air dan dalam waktu yang singkat telah tersedia jutaan Sukarclawan Pembebasan Irian Barat yang terdiri dari Pemuda, pelajar dan mahasiswa.
Sementara dari mcreka ini telah dikirim atau didrop didaratan Irian Barat. Hal ini semua yang sangat menakutkan Belanda dan kaum imperialis lain yang mendukungnya.
Dalam rangka mobilisasi segala kekuatan untuk melaksanakan TRI- KORA, atas inisiatif Persatuan Mahasiswa Sedunia (IUS) dan persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) pada tanggal 15 Mci 1962 dengan mengambil tempat di Istana Olahraga Bung Karno, di Scnayan Jakarta, diselenggarakan pertemuan Setia Kawan Internasional Mahasiswa untuk Pembebasan Irian Barat dan kemudian Sidang Exsekutif PMS. Dalam pembukaan sidang ini Presiden Sukarno juga berkenan memberi amanatnya yang mendapatkan sambutan penuh dari para peserta.
Bambang Kusnohadi, sebagai wakil pemuda Indonesia berkcnan memmemberikan pidato uraian yang menjelaskan perjuangan rakyat Indonesia, termasuk pcmudanya untuk membebaskan Irian Barat. Atas dasar uraian dan pengertian ini sidang Exsekutif PMS memberikan dukungan sepenuhnya terhadap perjuangan pembebasan Irian Barat, dan bahkan dinyatakan bahwa PMS bersedia mecmobilisasikan pemuda diberbagai negeri apabila perlu untuk menjadi sukarelawan guna membebaskan
Sejarah Perjuangan 20.305
=== [PDF page 306] ===
Irian Barat. Ini semua adalah sokongan politik, moril yang kuat secara internasional bagi perjuangan pembebasan Irian Barat.
Juga perlu dicatat bahwa dalam perjuangan pembebasan Irian Barat, Indonesia sclalu mendapat sokongan aktif dari negeri Asia-Afrika yang anti imperialisme, dan negeri Sosialis, dari seluruh,,The New Emerring Forces”. Bantuan negeri sosialis, terutama bantuan dari Uni Sovyet, baik politik, moril dan materil sangat besar artinya dalam perjuangan ini.
Berkat perjuangan rakyat, pemuda Indonesia yang gagah berani dan bantuan dari,,The new emerging forces” itulah maka kaum kolonialis Belanda tcrpaksa menandatangani perjanjian dengan Indonesia untuk menyerahkan Irian Barat dengan melalui PBB. Pada tanggal | Mei 1963, PBB sudah dapat menyerahkan kekuasaan kepada Republik Indonesia.:
Kini Irian Barat sudah masuk kekuasaan Republik Indonesia, yang Ferarti bahwa wilayah Republik Indonesia sudah bulat dari Sabang sampai Merauke, dan Keadaan Darurat Perang yang terkenal dengan sebutan S.O.B. sudah dihapuskan berkat perjuangan rakyat dan pemuda Indonesia. Tetapi ini tidak berarti cita-cita pemuda telah tercapai. Tugas berat yang membentang dihadapan pemuda, sebagai bagian rakyat Indonesia ialah menggunakan kemerdekaan sebagai,,jembatan emas” untuk mencapai masyarakat yang adil dan' makmur. Hal ini bisa dicapai bila ada kekuasaan yang sesuai dengan ekonomi yang hendak dibangun, ekonomi nasional yang selanjutnya menuju sosialisme di Indonesia sebagaimana digariskan oleh Presiden Sukarno dalam Manipol dan Deklarasi Ekonomi. Kekuasaan itu sebagai dinyatakan oleh Bung Karno, yalah kekuasaan Gotong Royong, kekuasaan Front Nasional yang anti imperialis dan feodalisme dan yang berporoskan NASAKOM. Maka menjadi kewajiban pemuda yang terus memperjuangkan cita-citanya yang luhur untuk berjuang terus agar terwujudnya kekuasaan yang dic'ta-citakan Bung Karno yang memang sama sekali sesuai dengan tuntutan revolusi Indonesia. '
Sudah tentu kemajuan-kemajuan yang besar, serta sukses yang besar yang telah dicapai oleh pemuda Indonesia selama perjuangan hampir setengah abad ini mengandung banyak pelajaran yang berguna.
Kalau dilihat keseluruhannya dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa perjuangan pemuda Indonesia selama setengah abad ini menunjukkan kepada kita bahwa:
1. Pemuda, sesuai dengan usia dan sifat-sifatnya yang ingin mengejar kemajuan, yang berani, jujur dan militan selalu bergerak, ber-
=== [PDF page 307] ===
juang untuk mengejar cita-citanya yaitu mencapai dunia baru yang adil dan makmur, dunia yang damai dimana terdapat persahabatan antara rakyat dan pemuda seluruh dunia, dimana pemuda dapat mengenyam masa mudanya dengan penuh kebahagiaan, mengembangkan bakat dan kecerdasannya. Untuk inilah maka pemuda dengan setia pada sumpahnya berjuang gigih untuk mencapai Indonesia yang merdeka penuh, demokratis sebagai langkah untuk menciptakan masyarakat Indonesia yang adil dan makmur.
Didalam memperjuangkan cita-citanya, pemuda sebagai bagian dari rakyat Indonesia bukan hanya dipengaruhi arus perjuangan nasional umumnya, tetapi juga sebaliknya mempengaruhi perjuangan nasional umumnya. Sikap-sikap, tindakan dan langkah-langkah yang bersifat patriotik, heroik yang sesuai dengan tuntutan jamannya dapat mempengaruhi mendorong maju lebih pesat jalannya arus perjuangan nasional, seperti peristiwa Sumpah Pemuda tahun 1928, peristiwa kegiatan pemuda sekitar proklamasi kemerdekaan 1945, peristiwa sekitar mobilisasi pemuda untuk melaksanakan TRIKORA, dll.
Ini menunjukkan arti penting dan vitalnya gerakan pemuda dan massa pemuda di Indonesia dalam rangka perjuangan nasional umumnya.
Dalam bidang keorganisasian kita melihat adanya suatu proses konsentrasi yang menuju kepersatuan, dan deferensiasi yang kemudian berkembang lagi menjadi konsentrasi yang bersifat federatif.
Hal ini disebabkan karena kenyataan bahwa pemuda sebagai bagian dari rakyat Indonesia juga dipengaruhi oleh kedudukan sosial keluarganya, oleh hubungan sosialnya sendiri, oleh pendidikannya, oleh kepercayaan agama dsb-nya. Dari keadaan ini timbullah berbagai organisasi yang pasti dan diperlukan dari pemuda-pemuda kalangan rakyat pekerja, dari pelajar, mahasiswa, dan berbagai lapisan dan golongan, dan pemuda yang menganut berbagai kepercayaan agama dll. Organisasi pemuda seperti ini memang perlu untuk menghimpun massa pemuda dari kalangannya. Tetapi walaupun perlu adanya berbagai organisasi pemuda mereka semua harus dipersatukan oleh semangat perjuangan untuk mencapai Indonesia Merdeka yang penuh dan demokratis, dan karenanya dapat bersatu dan kerjasama dalam bentuk badan kerjasama atau badan federatif.
. Karena berbagai organisasi pemuda mempunyai programnya sendiri yang bisa berbeda satu sama lain, maka dalam melakukan kerjasama perlu adanya program bersama yang dapat disetujui bersama dan dijadikan landasan perjuangan bersama dan yang harus ditaati
. 307
=== [PDF page 308] ===
bersama. Program bersama seperti Sumpah Pemuda, Proklamasi Kemerdekaan R.I., Manipol ternyata telah memainkan peranan yang penting dalam menyatukan pemuda Indonesia, baik dalam organisasi maupun dalam tindakan. Sebaliknya ketiadaan pegangan, atau lepas dari pegangan program bersama yang patriotik dan demokratis iny maka persatuan bisa menjadi rusak dan kekuatan pemuda tak dapat disatukan dengan baik. Untuk mewujudkan persatuan ini pemuda harus berjuang melawan politik pemecah belahan dari kaum reaksioner dan kaum imperialis. Kecuali aksi bersama yang berdasarkan program bersama, perlu adanya solidaritas antar organisasi pemuda dalam memperjuangkan kepentingan khususnya yang adil dan yang sesuai dengan tuntutan sosial. Dengan demikian maka kerjasama dan persatuan bukan hanya berdiri diatas dasar yang umum tetapi konkrit dan hidup, yang mempererat kerjasama dan persatuan menjadi kuat dan kokoh. |
5. Dalam berjuang untuk mencapai cita-citanya pemuda Indonesia menghadapi musuh yang bersifat internasional, yaitu imperialisme, neo-kolonialisme, Karenanya untuk mengalahkan musuh bersama ini pemuda Indonesia bukan hanya perlu dan harus menggalang persatuan nasional, tetapi juga perlu harus menggalang persatuan internasional, persatuan antar bangsa, serta aksi bersama serta solidaritas bersama dalam memperjuangkan kepentingan bersama. Bagi pemuda Indonesia perlu dan harus memberi perhatian yang besar akan solidaritas terhadap perjuangan rakyat termasuk pemuda Asia, Afrika
.dan Amerika Latin dalam menghadapi usaha neo-kolonialisme. Perjuangan untuk menghalaukan dan mengalahkan neo-kolonialisme adalah syarat mutlak bagi suksesnya perjuangan untuk mencapai kemerdekaan nasional yang penuh dan demokratis.
6. Dalam perjuangan untuk kemerdekaan nasional yang penuh dan sosialisme di Indonesia maka bagi pemuda perlu menjadi seorang patriot yang sejati dan sekaligus menjadi seorang internasionalis Ini berarti bahwa bagi scorang pemuda Indonesia harus menjadi sc:
orang Manipolis sejati yang bercita-citakan sosialisme ilmu.
Inilah pengalaman dan kesimpulan dari perjuangan pemuda selama Setengah abad, yang melalui jalan berliku-liku, pasang surut serta korban yang besar. Menarik pengalaman serta menggunakan pengalaman ini untuk menuntun kegiatan pemuda selanjutnya adalah suatu cara untuk mempercepat datangnya kemenangan bagi perjuangan pemuda, dengan tidak perlu mengulangi segala kekurangan serta kesalahan dari masa si lam sebagaimana yang dinyatakan secara arif oleh Bung Karno yang ter
308
=== [PDF page 309] ===
tera dalam halaman muka buku ini bahwa:,,Hanya bangsa yang dapat memetik pelajaran dari masa silam, dan cakap mempergunakan pengalaman-pengalamannya dalam menghadapi masa depan, dapatlah bangsa itu menjadi bangsa yang besar”,
Demikianlah juga pemuda Indonesia, sebagai warga Bangsa Indonesia harus dapat menggunakan petunjuk Bung Karno yang arif ini, agar perjuangannya sampai ke-kemenangan.
Kemenangan bagi cita-cita pemuda Indonesia yang besar itu pasti tercapai karena pemuda Indonesia yang setia terhadap tradisi revolusionernya terus maju berjuang, untuk melawan dan melenyapkan segala keterbelakangan zaman
=== [PDF page 310] ===
[Blank page]
=== [PDF page 311] ===
BUKU YANG DIPAKAI UNTUK
MENYUSUN
Sejarah Indonesia. Jilid I, II. Sanusi Pane. Terbitan Perpustakaan Perguruan P.P. &. K. Jakarta th. 1956.
Indonesia. Jilid I. Ir. S. Y. Rutgers dan A. Huber. Terbitan,,Pegasus” Amsterdam th. 1937.
. Indonesia. Jilid II. Ir. S.Y. Rutgers. Terbitan,,Pegasus” Asmterdam
th. 1947.
Imperialisme Tingkat Tertinggi Kapitalisme. W.I. Lenin. Terbitan
— Yayasan,,Pembaruan” Jakarta th. 1958.
De Nationalistiskhe Beweging in Nederlands-Indie, Y. Th. Petrus Blumberger. Terbitan,,HD. Ceenk & Willink & Zoon” Haarlem th. 1935.
Sejarah Pergerakan Nasional Indonesia. Mr. Susanto Tirtoprojo Terbitan PT. Pembangunan Jakarta th. 1962.
Gedenbuk Yong-Java. Terbitan Pedoman Besar Yong-Java Jakarta th. 1930.
.Dibawah Bendera Revolusi. Ir. Sukarno. Terbitan Republik Rakyat
Tiongkok th. 1961.
Sarinah. Dr Ir. Sukarno. Terbitan,,Yayasan Pembangunan” Ja karta th. 1961.
The Communist Uprising of 1926—1927 in Indonesia. Harry Y Benda and Ruth T. MC Vey. Terbitan Cornell University Ithaca New York th. 1960.
. Overzikht van de Ontwikkeling der Nationalistiskhe Beweging in
Indonesia. Dr Y.M. Pluvier. Terbitan W. van Huve ss Gravenhagen th. 1953.
'De Communistiskhe Beweging in Nederlandskh-Indie. Y. Th. Petrus Blumberger. Terbitan HD. Ceenk & Willink & Zoon Haarlem th. 1935.
. Nationalism and Revolution in Indonesie. George Mc. Turman Kahin
Terbitan Cornell University Press Ithaca New York th. 1950.
The Left Wing in South East Asia. Virginia Thomson -— Richard Adloff Den Haag th. 1955
311
=== [PDF page 312] ===
19.
20.
21.
22.
23.
24.
25.
26.
27.
28.
29.
30.
31.
32.
33.
34.
35.
36.
37.
38.
39.
312
. Nederlands Indie Contra Japan. Terbitan De Kriygsgeskhiedkundige
Sectie van het Hoofdkwartier van de Generale Staff KNIL.
Japan's Colonialism and Indonesie. M.A. Azis. Terbitan Martinus
Niyhoff Den Haag th. 1955."
. A History of South East Asia. D.G.E. Hall. Terbitan Mac Millan &
Co Lth” London th. 1955.
Menuju Kemerdekaan. Sejarah Pergerakan Indonesia sampai th. 1942 D.M.C. Kokh. Terbitan Yayasan Pembangunan Jakarta th. 1951.
Sekitar Proklamasi 17 Agustus 1945. Sidik Kertapati. Terbitan Ya.
yasan Pembaruan Jakarta th. 1961.
Peta dan Peristiwa Rengasdengklok. Umar Bakhsan.
Perlawanan Bersenjata Terhadap Fasisme Jepang. Suhud Prawiroatmojo Kolonel T.N.I., Merdeka Press th. 1953.
Gerakan Anti Fasis. Wikana.
Indonesian Society in Transition. Prof. Wertheim. Terbitan Sumur Bandung th. 1955.
Sejarah Singkat Berdirinya Negara R.I. Prof. AG. Pringgodigdo Persiapan Kemerdekaan Indonesia. Ki Hajar Dewantoro.
Kejadian-kejadian Pada Sebelum dan Hari Proklamasi. B.M.
Diah. Terbitan Merdeka Press.
Buku,,Republik Indonesia” Kotapraja Jakarta Raya. Terbitan Kementerian Penerangan Republik Indonesia.
Buku,,Republik Indonesia” Propinsi Jawa Barat. Terbitan idem.
Buku,,Republik Indonesia” Propinsi Jawa Tengah. Terbitan idem..
Buku,,Republik Indonesia” Daerah Istimewa Yogyakarta. Terbitan idem.
Buku,,Republik Indonesia” Propinsi Jawa Timur. Terbitan idem
Buku,,Republik Indonesia” Propinsi Sumatra Selatan. Terbitan
idem.
Buku,,Republik Indonesia” Propinsi Sumatra Tengah. Terbitan idem.
Buku,,Republik Indonesia” Propinsi Aceh. Terbitan idem.
Buku,,Republik Indonesia” Propinsi Kalimantan. Terbitan idem.
Buku,,Republik Indonesia” Propinsi Nusa Tenggara. Terbitan idem Buku,,Republik Indonesia” Propinsi Maluku. Terbitan idem.
Kisah Gerilya Kalimantan: Kolonel H. Hasan Basri. Terbitan Yayasan Lektur Lembang Mangkurat Banjarmasin th. 1961.
Risalah Gerakan Pemuda. Harjito. Terbitan Pustaka Antara Jakarta 1952
=== [PDF page 313] ===
40.
41.
42.
43.
44.
45.
46.
47.
48.
49.
50.
51.
52.
54.
55.
56.
57.
58.
Kumpulan Majalah Revolusioner tahun-tahun 1946—1948.
Kumpulan Majalah,,Demokrasi” Surabaya tahun? 1949—1950.
Kumpulan Majalah,,Pemuda” tahun? 1951, 1952, 1953, 1954, 1955, 1956. Terbitan Jawatan Pendidikan Masyarakat Bagian Pemuda dari Kementerian Pendidikan, Pengajaran dan Kebudayaan.
Kumpulan Majalah,,Jawa Baru” tahun-tahun 1943, 1944, 1945.
Terbitan Jawa Siynbun Sya Jakarta.
Dokumentasi Perjuangan Pemuda Indonesia. A.M. Harjono. Terbitan Toko Buku,,Islamiyah” Medan th. 1950.
Pergerakan Pemuda Dalam Perjuangan Rakyat. Terbitan Intelect Baru th. 1950.
“Risalah Pemuda. Terbitan Badan Koordinasi Pemuda Indonesia
th. 1950.
Pergerakan Pemuda di Indonesia. Terbitan Kementerian Penerangan Republik Indonesia th. 1950.
Lukisan Revolusi. Terbitan Kementerian Penerangan Republik Indonesia th. 1949.!
14 April Hari Solidaritet Internasional Pemuda dan Pelajar Anti Fasis Franco Spanyol. Terbitan Generasi Baru Jakarta th. 1954.
Buku Peringatan Persatuan Pelajar Demobilisan. Terbitan Persatuan Pelajar Demobilisan th. 1955.
The Asian African Student' Contference. Terbitan The Indonesian National Preperatory Comittee For Asian-African Student' Conference. th. 1957.
Aktivitet Subversif di Indonesia Yungskhlager dan Schmidt. Terbitan Kementerian Luar Negeri Republik Indonesia.
. Seminar Pemuda Jakarta Raya. Terbitan Panitia Seminar Pemuda
Jakarta Raya th. 1957.
Manusia dan Masyarakat Baru Indonesia (Civics). Terbitan Departemen P.P. &. K. th. 1960.
Kembali Kepada Jiwa Proklamasi 1945. Notosutarjo. Terbitan Harian Pemuda Jakarta th. 1959. '
Tujuh Bahan Pokok Indoktrinasi. Terbitan Dewan Pertimbangan Asung Republik Indonesia th. 1961..
Re So Pim (Pidato Presiden th. 1961). Terbitan Departemen Penerangan Republik Indonesia. '
Tahun Kemenangan (Takem) Pidato Presiden pada th. 1962.
Terbitan idem.
313
=== [PDF page 314] ===
59.
60.
61.
63.
64.
65.
66.
67.
68.
69.
70.
71.
314
Menuju Persatuan Pemuda yang luas. Terbitan Yayasan Generasi Baru th. 1957.
Pemuda Pengawal Kemerdekaan Nasional Indonesia. Terbitan Ya.
yasan Generasi Baru th. 1957.
Taman Siswa 30 Tahun. Terbitan Taman Siswa. Yogyakarta th. 1956
- Program Kerja Sama Pemuda-Militer. Terbitan BKSPM th. 1957.
Sumbangan Pemuda Aceh pada Kongres Pemuda Seluruh Indonesia. Terbitan Penguasa Perang Daerah Aceh th. 1960.
Pengantar Kongres Pemuda Seluruh Indonesia. Terbitan Seksi Pe.
nerangan Panitia Pusat Kongres Pemuda Seluruh Indonesia th. 1960 Keputusan Kongres Pemuda Seluruh Indonesia di Bandung. Terbitan Sekretariat Panitia Kongres Pemuda Seluruh Daswati I. Jawa Tengah.
Pembebasan Irian Barat. Terbitan Departemen Penerangan Repub —
lik Indonesia th. 1962.!
5 Tahun Pandu Rakyat Indonesia. Terbitan Badan Penerbit Pandu Rakyat Indonesia Jakarta th. 1950.
Kumpulan Berita,,Antara” dari tahun 1951 sampai dengan tahun 1962. |
Kumpulan Surat-kabar”, Suluh Indonesa, Harian Rakyat, Merdeka, Duta Masyarakat, Warta Bhakti dari tahun-tahun 1951 sampai de.
ngan tahun 1962.
Bahan-bahan dari berbagai surat kabar tahun-tahun 1945—1948 yang terbit di Yogyakarta.
Keterangan dari berbagai tokoh yang bersangkutan.
=== [PDF page 315] ===
[Blank page]
Digitized by Google
=== [PDF page 316] ===
[Blank page]
=== [PDF page 317] ===
[Blank page]
Digitized by Google
=== [PDF page 318] ===
Percetakan
P.N. BALAI PUSTAKA
B. P. No. 131 — '64
=== [PDF page 319] ===
[Blank page]
Digitized by Google
=== [PDF page 320] ===
[Blank page]
=== [PDF page 321] ===
iin
3 9015
=== [PDF page 322] ===
[Cover/decorative page: dark marbled board cover]