Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-00162

Hari Ibu Tahun 1961 (Titik Abdullah Husein), Tri Bakti Wanita No. 8, 1962

Cleaned OCR text (Fair (0.87); proof-reading: whole text (Claude, Oct 2026)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

=== [PDF page 1] === [Unreadable] === [PDF page 2] === [Unreadable] dewan-dewan kota dll., agar kepada wanita kita diberi hak pilih yang penuh, yaitu hak untuk memilih dan dipilih. Keputusan-keputusan yang diambil oleh kongres tahun 1941 menunjukkan dengan nyata telah jauh meningkatnya semangat dan kedudukan perjuangan wanita dalam arti yang luas. Sekaligus dicerminkan hasrat wanita kita untuk turut aktif dalam lapangan politik, dan ini berarti bahwa wanita tidak lagi hanya menjadi penonton dan pasif saja. Mereka sadar bahwa nasib golongan dan masyarakatnya itu ditentukan oleh ketegasan dan kegiatannya sendiri, dan dengan demikian kaum wanita menunjukkan kemampuannya untuk bertanggung jawab penuh terhadap masyarakatnya, dan terhadap negaranya. Masa pendudukan Jepang merupakan lembaran hitam dalam sejarah perjuangan wanita kita. Segala kegiatan dihentikan oleh penjajah Jepang tanpa kecuali. [Unreadable] perkumpulan [Unreadable] bentukan Jepang yang diberi nama fujinkai itu tidaklah mendapat tempat dalam hati wanita kita yang benar-benar sadar akan tanggung jawab perjuangan bangsa. Walaupun hidup dalam ancaman dan tindakan sewenang-wenang, semangat nasional yang sudah tertanam kuat-kuat itu tidak dapat dipatahkan sama sekali, hal mana dapat dibuktikan bahwa fujinkai itu [Unreadable] malahan dipakai sebagai alat untuk [Unreadable] dan menjalankan aksi-aksi [Unreadable]. Sejarah HARI IBU itu sudah dipahami secara luas oleh masyarakat kita, yaitu pada pokoknya mengandung isi untuk menguatkan semangat nasional [Unreadable]. Kongres Perempuan yang pertama dilangsungkan di kota Yogyakarta dari tanggal 22 - 25 Desember tahun 1928. Kongres Wanita yang pertama itu meletakkan dasar-dasar pokok perjuangan wanita Indonesia untuk masa-masa yang mendatang dan selanjutnya, yaitu untuk aktif mendampingi kaum pria dalam perjuangan nasional merebut dan mempertahankan kemerdekaan [Unreadable]. Hari Ibu Internasional [Unreadable] dalam jiwanya hanya mengenang dan menghormati jasa-jasa kaum Ibu, pengabdian kaum Ibu kepada keluarga masing-masing saja, jadi mempunyai sifat perseorangan. Tidak demikian halnya dengan Hari Ibu kita [Unreadable] 22 Desember, setiap tahun kita peringati, setiap tahun kita [Unreadable] dan rayakan, bukanlah sekadar hanya untuk dikenang atau diperingati sebagai suatu kebiasaan, melainkan [Unreadable] mengandung unsur penghargaan terhadap jasa-jasa Ibu sehari-hari yaitu sebagai Ibu-Ratu rumah tangga, [Unreadable]. [Unreadable] semangat [Unreadable] meledak dengan diproklamirkannya kemerdekaan bangsa dan negara Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. [Unreadable] Pada masa pendudukan Belanda wanita-wanita pejuang kita tetap membantu [Unreadable] perjuangan bangsanya [Unreadable] merebut Irian Barat [Unreadable] bersenjata selama hampir lima tahun [Unreadable] pergolakan [Unreadable]. Bagi kita, wanita Indonesia, penjajahan [Unreadable] HARI IBU itu merupakan peristiwa-peristiwa sejarah dalam hidup perjuangan wanita kita [Unreadable] === [PDF page 3] === [Unreadable] kini berada [Unreadable] oleh Belanda [Unreadable] mengambil sikap keras lawan keras mengenai masalah Irian Barat, sedang di bagian lain kita dihadapkan pada suatu [Unreadable] dari dalam, yaitu sampai di manakah kita sebagai bangsa dan negara yang telah lebih dua windu merdeka ini, mempunyai kemampuan dan kecakapan untuk menciptakan suatu masyarakat yang benar berkeadilan sosial, aman, dan bebas dari segala tekanan, [Unreadable] diliputi oleh dua perjuangan yang sama pentingnya, yang satu tak lebih penting dari lainnya. Dan kedua-duanya perjuangan itu, yaitu perjuangan merebut Irian Barat dan perjuangan menciptakan negara, masyarakat dan kehidupan yang adil dan makmur, harus kita [Unreadable] dan harus kita [Unreadable]. [Unreadable] pada dewasa ini, di mana kehidupan sulit melingkungi kita [Unreadable] makin membubungnya harga kebutuhan yang pe[nting] [Unreadable] perasaan dan jiwa kita sebagai ibu dan pengatur rumah tangga! Bagaimanapun [Unreadable] harus kita jaga, jangan sampai keadaan hidup yang serba sukar dan sulit ini menghilangkan kepercayaan masyarakat akan datangnya kehidupan [Unreadable]. Dalam menghadapi pertikaian keras lawan keras mengenai soal Irian Barat antara kita dengan Belanda, maka wanita kita dengan organisasinya wajib aktif dalam [Unreadable] penyusupan dan pembentukan Home Front yang kuat. Wanita pejuang kita mulai dari yang terpelajar, sampai yang biasa, dan yang terlatih dalam pelbagai kejuruan seharusnya sekarang mulai menyiapkan diri untuk bergabung ke dalam front pertahanan nasional, baik untuk di garis muka maupun untuk di garis belakang. [Unreadable] Irian Barat [Unreadable] masa sulit dewasa ini [Unreadable] akan dapat kita atasi. [Unreadable] Oleh karena satu syarat untuk berhasilnya sosialisme adalah dukungan sukarela dari rakyat banyak, maka untuk menyampaikan dukungan itu harus lebih dulu dibangkitkan kepercayaan [Unreadable] rakyat banyak dan rasa apati dan putus asa akan [Unreadable]. Mereka harus digerakkan dan dihidupkan jiwa dan perhatiannya terhadap hal-hal yang langsung mengenai kepentingan dan kehidupan sehari-hari [Unreadable]. [Unreadable] hal-hal atau usaha yang hanya menambah gengsi negara saja atau untuk cita-cita yang abstrak, karena hal-hal itu tidak langsung dirasakan sebagai hal-hal yang mengenai kehidupan sendiri. Maka di sinilah ada lapangan kerja bagi wanita yang ingin turut serta membina masyarakat sosialis, yaitu untuk turut membantu menciptakan iklim psikologis dan kemudian untuk bersama-sama dengan pekerja-pekerja sukarela lainnya dan dengan kerja sama dengan petugas-petugas pemerintah, memberi bantuan yang konstruktif kepada rakyat setempat; yaitu bersama-sama dengan rakyat itu merencanakan dan melaksanakan proyek-proyek dan usaha-usaha perbaikan nasib mereka. Maka akan timbul hasrat untuk mengatur dan memperbaiki sendiri kehidupannya dalam lingkungannya sendiri; akan tumbuh pula zelfwerkzaamheid; kegembiraan kerja dan kepercayaan pada diri sendiri. Dan dengan demikian rakyat banyak akan turut serta dalam pembinaan masyarakat baru dalam arti yang sesungguh-sungguhnya; melalui [Unreadable] [Unreadable] keluarnya Komando Rakyat yang diucapkan oleh Presiden Sukarno pada tanggal 19 Desember 1961 pada Rapat Raksasa Merebut Irian Barat di Yogyakarta, tepat pada hari peringatan diserbunya Yogyakarta oleh Belanda. [Unreadable] HARI IBU tahun 1961 ini kita jadikan permulaan langkah baru perjuangan wanita Indonesia dengan keyakinan [Unreadable] Irian Barat [Unreadable]. Sekali lagi, kita teruskan perjuangan ini, dan [Unreadable] Hari Ibu 1961 memang ha[rus] [Unreadable]; "Bis gelap, pasti terbit terang" [Unreadable] [Unreadable] Pemimpin Besar Revolusi [Unreadable] Indonesia itu harus dilaksanakan [Unreadable] untuk wanita, dan dimulai tepat pada Hari [Unreadable] [Unreadable] [Unreadable]! [Unreadable] Indonesia!