Bali Post, 23 April 2000: wawancara Ida Ayu Sutiti Wirati Diwangkara
Cleaned OCR text (Fair (0.872); proof-reading: whole text (Claude, Oct 2026)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
Bali Post, Halaman 3
Minggu Wage, 23 April 2000
Ida Ayu Sutiti Wirati Diwangkara: Wanita Bali Maju karena Tantangan Zaman
[Unreadable] ketika kaumnya masih banyak yang belum mengenal pendidikan. Tekadnya memajukan kaum wanita (putri) di Bali mendorongnya memperjuangkan berdirinya Sekolah Kepandaian Putri.
TOKOH wanita Bali yang satu ini boleh dibilang sudah berpikiran modern dan berpikir jauh ke depan. Ida Ayu Sutiti Wirati Diwangkara (71), istri Ida Bagus Oka Diwangkara, ibu dari Ida Bagus Putu Baskara dan Ida Bagus Dinakara, ini kelahiran Denpasar, 25 November 1929. Sosok "Kartini" Bali yang berpendirian teguh ini memulai karirnya sebagai guru Sekolah Kepandaian Putri Ujungpandang (1950), lantas guru Sekolah Kepandaian Putri (SKP) Negeri Bandung (1951) sambil kuliah di [Unreadable], kemudian Sekolah Guru Kepandaian Putri (SGKP) Singaraja sambil merangkap [Unreadable]; kemudian ia menjabat Kepala SKP Negeri Denpasar. Tahun 1960 menjadi Kepala Sekolah Guru [Unreadable] Kesejahteraan [sic: Kesejahteraan] Keluarga Nusa Tenggara. Selain di dunia pendidikan, dia juga aktif dalam dunia politik, di antaranya sebagai anggota Dewan Perwakilan Rakyat Gotong Royong (DPRGR) Badung (1960–1967), DPRD Bali (1987–1992), dan anggota MPR RI (1992–1997). Kini setelah pensiun, istri [Unreadable] dengan lima cucu ini menghabiskan waktunya untuk bermasyarakat. Bagaimana suka-duka dan liku-liku perjuangannya? Bagaimana pula pandangannya terhadap [Unreadable] wanita, terutama wanita Bali? Ikuti perbincangan Bali Post dan Global FM 99,15 [Unreadable].
[Unreadable: the interview itself. The text consists of four newspaper columns interleaved line by line and cannot be separated reliably. Legible themes include: her being engaged to a man chosen by others and her marriage to Ida Bagus Oka Diwangkara; her studies in Ujungpandang and Bandung and her return to Bali in 1954; the founding of the Sekolah Kepandaian Putri/SKKA in Denpasar (Kedaton) and the dispute over its legal basis; her years in the DPRGR Badung and her view on women's emancipation, the role of men in the household and Kartini; and, at the end, her pilgrimage (tirtayatra) to India with Prof. Dr. dr. L.K. Suryani, with reflections on the Mahabharata, Kurukshetra and bathing in the Yamuna and Ganges rivers. Photo captions: "Tampak Ida Ayu Sutiti (berdiri ...)". Interview closes: "Minggu 23 April 2000".]