Bali Post, 12 Mei 2000: kisah korban penyerangan kantor PDI
Cleaned OCR text (Fair (0.836); proof-reading: whole text (Claude, Oct 2026)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
Halaman 10
Di Bawah Naungan Pangkat Jenderal
Ada Jenderal yang Dikorbankan
Cerita Mereka
SEMUA orang tentu setuju jika peristiwa berdarah 27 Juli 1996, atau Peristiwa Sabtu Kelabu, disebut sebagai tragedi. Waktu itu, kantor DPP PDI di Jalan Diponegoro, Jakarta Pusat, diserang, diobrak-abrik, dan diambil alih oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Konon mereka dibekingi aparat keamanan. Pengambilalihan kantor DPP PDI itu akhirnya "melebar" menjadi kerusuhan yang menyebabkan ratusan orang menjadi korban, puluhan rumah dan mobil terbakar.
Peristiwa itu tentu saja sangat membekas di hati para korban. Sandra F[Unreadable]tasari Putri dan Marihot Napitupulu, dua pendukung Mega, yang saat peristiwa itu meletup sedang [Unreadable] kantor DPP PDI [Unreadable] begitu mencekam [Unreadable] pengalaman pahit [Unreadable].
Menurut Sandra, yang istri dari mantan Kapolsek Jakarta Pusat M[Unreadable] Muhammad Jayuli (alm), saat insiden terjadi ia sempat menyaksikan pembantaian yang dilakukan oleh ratusan oknum aparat keamanan dari berbagai kesatuan, di antaranya kesatuan dari Polda Metro Jaya, PHH, dan Brimob. Pada saat terjadi penyerangan pertama ke kantor PDI, ia sempat [Unreadable] karena kena lemparan batu dan benda keras dari aparat keamanan. Namun [Unreadable]. Pada kedua kalinya, ia malah nyaris menjadi sasaran karena aparat mengira Sandra adalah Ketua Umum PDI Megawati Sukarnoputri. [Unreadable] dituduh sebagai PKI [Unreadable].
"Waktu itu leher saya kena tebas parang. Tetapi karena waktu itu saya berada di dapur, saya dapat membela diri dengan berlindung di balik jendela dapur," katanya. Akan tetapi, aparat itu tidak menyerah begitu saja, dia malah terus menyerang Sandra dengan mengarahkan parang tersebut ke arahnya. Tapi penyerangan itu berhenti karena ada salah seorang aparat yang berteriak, "Jangan dia itu istrinya Kapolsek [Unreadable]". Setelah mendengar teriakan itu, aparat itu lalu menghentikan penyerangan. "Yang jelas saat itu saya ber[Unreadable]," ujarnya seraya menyakin[kan] [Unreadable] bahwa aparat keamanan waktu itu [Unreadable] yang berteriak atau anak buah dari suami saya, ucap Sandra.
Penyiksaan terhadap Sandra pun tidak berhenti sampai di situ. Saat dibawa ke salah satu ruangan di Polda Metro Jaya, dia juga disuruh menanggalkan semua pakaian di hadapan dua orang pria dan satu orang polwan. [Unreadable] juga disuruh berputar-putar di hadapan aparat yang biadab itu, tanpa alas [Unreadable]. Sandra juga ditanya [Unreadable] apakah ia anggota Gerwani [Unreadable] sebagai Ketua PDI [Unreadable] berkali-kali [Unreadable].
Cerita Marihot Napitupulu lain lagi. Ia mengaku jelas-jelas melihat kebiadaban aparat keamanan saat terjadinya insiden. Diungkapkannya, jauh hari sebelum penyerangan kantor PDI, terjadi [Unreadable]. Diakuinya, waktu itu ia sempat [Unreadable] saat melihat seorang aparat yang membawa dan memutar-mutar parangnya, sambil memerintahkan pada anak buahnya untuk membunuh semua orang pengikut PDI [Unreadable].
[fragment from adjacent column:] Pernyataan bahwa kasus ini sudah [Unreadable] sejumlah jenderal yang diduga terlibat dalam peristiwa berdarah 27 Juli 1996, [Unreadable] telah diperiksa pihak kepolisian. Mungkinkah mereka — para jenderal itu — [Unreadable] nantinya terjerat hukum? Sejauh mana pangkat jenderal dapat menaungi mereka, [Unreadable] ancaman peradilan? [Unreadable] DPP PDI [Unreadable] setidaknya semua orang tahu siapa yang diperiksa [Unreadable] tentu mempunyai [Unreadable] menjadi penanggung jawab kalau dirinya terlibat. [Unreadable] Disebutnya kebanyakan [Unreadable] sampai KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) sebagai contoh. "Gus Dur sendiri sudah menyatakan akan [Unreadable]." Ini artinya ada indikasi bahwa pemerintah tidak [Unreadable] Soeharto [Unreadable]. Kata dia, pihak kepolisian yang [Unreadable] belum terlibat [Unreadable] pakar hukum [Unreadable] Dr. Usep Ra[Unreadable] [Unreadable] menutup-tutupi. [Unreadable] Mendagri Yogie SM [Unreadable] Syarwan Hamid [Unreadable] Sutiyoso [Unreadable] Pangdam Jaya [Unreadable] Kasad Jenderal Hartono [Unreadable] Pangab Feisal Tanjung [Unreadable] Kabais Syamsir Siregar [Unreadable]. Ketua TPDI Petrus Selestinus [Unreadable]: "[Unreadable] Ketidaklaziman tersebut mengindikasikan tidak adanya persentuhan institusi [Unreadable] aksi saling lempar tanggung jawab [Unreadable]. Kalau tidak terlibat, untuk apa saling lempar," kata Petrus. [Unreadable] Hal senada diungkapkan Kadispen Polri Brigjen Pol. Dadang G[Unreadable].
[Unreadable: remaining column text of this article is too garbled to reconstruct; page-bottom classified advertisements (Bali) removed as non-article text]