Bali Post, 11 Agustus 2002: cerpen 'Ngaben' (I Wayan Artika)
Cleaned OCR text (Fair (0.854); proof-reading: whole text (Claude, Oct 2026)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
Halaman 10 — Bali Post — Minggu Wage, 11 Agustus 2002
APRESIASI
Ngaben
Cerpen I Wayan Artika
[...] "[Unreadable]," kujawab singkat pertanyaan Putu Arini. Matanya menatap tak [Unreadable] peta ini, tetapi ke mataku. [Unreadable] masa kecilku. Kami pasti penasaran, Putu [Unreadable] "[Unreadable] dengan daerah itu?" [Unreadable] pancingan itu Putu Arini [Unreadable] penjelasanku. [Unreadable] Selatan Buleleng. Gunung itu [Unreadable]. "Ya, apa [Unreadable] desa yang ikan [Unreadable] meneteskan air mata [Unreadable]." [Unreadable] airmata karena [Unreadable] terharu, namun [Unreadable].
(Bersambung ke hal. 15)
BUKU
Apa Sebenarnya Persoalan Dasar Pendidikan Kita?
Judul: Pembelajaran di Era Serba Otonomi — Pendidikan Hanya Menghasilkan Pembelajar? [sic: title as printed, partly legible]
Penulis: Andreas Harefa
Tebal: 133 halaman
Penerbit: Kompas, 2001
Mengawali tulisan dalam buku ini, Andreas Harefa menyetujui pendapat Sindhunata (dan Peter Drost) dalam arti [Unreadable]: kehidupan sosial yang sehat [Unreadable] pernyataan Sindhunata pada [Unreadable]. [Unreadable] yang perlu diingat adalah [Unreadable] bukan "bentukan" orangtua [Unreadable] mereka tumbuh apa adanya sesuai dengan potensinya. Karena itulah les-les paksaan [Unreadable] menghafal. Selain mendidik anak, orangtua pun harus juga dididik. Tanpa itu mustahil pendidikan berhasil. Orangtua haruslah menjadi manusia pembelajar. Adanya kenakalan remaja tentu juga akibat orangtua yang belum menjadi manusia pembelajar. [Unreadable] Penulis buku best seller "Menjadi Manusia Pembelajar" itu [Unreadable] mutu pendidikan kita. [Unreadable] Andreas Harefa benar-benar mewakili kesesakan jiwanya terhadap mutu pendidikan [Unreadable]. Bangsa kita benar-benar menghadapi persaingan global. Penulis mengambil contoh elite politik sekarang [Unreadable]. Memang konsep yang disodorkan bagus. Sayang, penulis belum memberikan bagaimana caranya melakukan [Unreadable]. Pembaca yang menjadi masyarakat pembelajar atau kreatif tentu akan berusaha mencarinya. [Unreadable] Walaupun tidak sepenuhnya benar, sekurang-kurangnya dapat mengingatkan para guru untuk menjadi manusia pembelajar, karena tugas utamanya mengajar. Tanpa itu mustahil tugasnya akan berhasil. Menjadi guru bukanlah sekadar mencari nafkah, melainkan memikul tanggung jawab yang besar dalam membentuk manusia [Unreadable] hingga anak menjadi dewasa secara mental. [Unreadable] Buku ini perlu dibaca [Unreadable] birokrat pendidikan, orangtua, kepala sekolah [Unreadable] Komite Sekolah [Unreadable] Manajemen Berbasis Sekolah [Unreadable] beriman, berilmu, dan [Unreadable]. [Unreadable] IGK Tribana (Hal. 15)
Kontradiksi Kehidupan dan Otokritik Perempuan
Catatan atas Cerpen "Ibuku" dan "Sepotong Tubuh"
[Unreadable] telanjang [Unreadable] kaumnya. [Unreadable] Aku sebagai perempuan [Unreadable] menginternalisasikan diri dengan [Unreadable] tokoh utama, tetapi juga ibu [Unreadable] dalam cerita. Ibu yang diposisikan sebagai ibu pertiwi. "Ibu tidak pernah menangis. Beratus-ratus perempuan [Unreadable] pergi, memandang ibu [Unreadable]." [Unreadable] Mewakili kaumnya, ia mencoba melakukan perlawanan [Unreadable] protes yang amat kasar (sarkasme) [Unreadable]. Dituju[kan] tidak hanya kepada [Unreadable] lelaki yang selama ini [Unreadable]; kaumnya [Unreadable] merupakan bentuk otokritik terhadap diri[nya] sendiri [Unreadable]. [Unreadable] Secara keseluruhan, cerpen ini mengangkat fenomena perempuan sebagai wacana. Sebuah wacana yang diperjuangkan oleh cerpenis wanita dengan tokoh serba wanita. Pemilihan tokoh seperti ini jelas merupakan bentuk otokritik terhadap perjuangan emansipasi wanita, melakukan kritik terhadap diri sendiri. Inilah keunggulan cerpen ini [Unreadable]. [Unreadable] Cerpen Oka Rusmini ini sudah sampai pada kontemplasi tingkat tinggi — mula sarira, semua ikatan duniawi dilepaskan. [Unreadable] "Hanya perempuan tolol yang selalu mengeluh [Unreadable]." [Unreadable] "Kalau kau menang, itulah nikmatnya menjadi perempuan!" [Unreadable] Nyoman Tingkat [Unreadable]
Lomba Cerpen Bali Post 2002
SERANGKAIAN HUT ke-54 pada 16 Agustus 2002, Bali Post kembali menggelar "Lomba Cerpen Bali Post 2002". Lomba ini sekaligus untuk memberi kegiatan kreatif kepada [Unreadable] penulis Bali Post terutama [Unreadable] dalam penulisan cerita pendek (cerpen), dan untuk meningkatkan kualitas cerpen yang dimuat Bali Post Minggu.
Syarat Peserta:
- Lomba dibuka untuk umum, seluruh Indonesia.
- Naskah berbahasa Indonesia, asli karya sendiri, bukan terjemahan.
- Tema bebas.
- Naskah belum pernah dipublikasikan di media massa cetak maupun elektronik, dan tidak sedang diikutsertakan dalam sayembara lain.
- Panjang naskah maksimal 10 halaman kuarto, diketik 2 spasi.
- Naskah dikirim rangkap tiga.
- Peserta dapat mengirim lebih dari satu karya.
- Panitia tidak menerima kiriman naskah lewat e-mail.
Naskah bergilir dimuat: naskah yang dianggap cukup baik akan dimuat di Bali Post Minggu seperti biasa. Penulis mendapat honor pemuatan biasa.
Keputusan juri tidak dapat diganggu gugat.
Hak untuk menerbitkan cerpen dalam bentuk buku ada pada Penerbit Bali Post.
Batas pengiriman: Lomba diumumkan mulai Minggu, 14 Juli 2002. Naskah dikirim ke Redaksi Bali Post, Jln. Kepundung 67A, Denpasar 80232, selambat-lambatnya 16 Agustus 2002. Pengumuman pemenang: Minggu, 25 Agustus 2002.
Juara & hadiah: Dipilih 10 karya terbaik, masing-masing mendapat hadiah uang Rp 750.000. Diusulkan 10 cerpen terpilih dibukukan dan diterbitkan Bali Post. [Unreadable]
[fragment from adjacent column:] [Advertisement, Oxy Megastation, Jalan Nangka No. 33 Denpasar: "Satu-satunya di Indonesia! Bekas jerawat? Semua pasti lenyap! Injeksi oksigen murni (95–99%) ... microdermabrasi ... tanpa rasa sakit"; buka 09.00 s/d 19.00.] [Unreadable]
Minggu Wage, [11 Agustus 2002]
[Essay on banjar:] Tak ada yang lebih [Unreadable] selain banjarnya sendiri [Unreadable] yang hidup di perantauan [Unreadable] terhadap banjar senantiasa bergaul dengan banjar [Unreadable] ketenangan [Unreadable]. Maka ada fenomena di mana banyak orang [Unreadable] banjar. Orang-orang Bali ingat dengan banjarnya [Unreadable] banjar, ingat dengan kr[ama] [Unreadable]. Pelan-pelan hubungan ini terputus dengan banjar [Unreadable]. Jarak dengan banjar [Unreadable]. Inilah investasi untuk [Unreadable] takut kasepekan [Unreadable] mengusik. Banjar hadir mengingatkan warganya untuk [Unreadable] tanah kelahiran selalu [Unreadable] agar mereka kembali pulang, bukan pulang dengan [Unreadable]. [Unreadable] Banjar bukan semata sebuah [Unreadable] satukan. Namun lebih [Unreadable] untuk menjaga [Unreadable]. Di banjar [Unreadable] kulturalnya secara jujur [Unreadable] melihat manakala bale [Unreadable].
"Ngijeng" / "Putri cening ayu" [Unreadable] TERAMAT sederhana memang, [Unreadable] namun terasa sekali [Unreadable] komunikasi yang jujur dan [Unreadable] kultural yang [Unreadable]. Dialog liris antara [Unreadable] dengan cening ayu adalah sebuah transformasi budaya [Unreadable]. Betapa tidak, sangra[wi] sudah diperkenalkan [Unreadable]. Ngijeng adalah sebuah [Unreadable] budaya tentang [Unreadable]. [Unreadable] muda yang setia menjalani [Unreadable] jurusan [Unreadable] Bali, Fakultas Sastra Unud [Unreadable] ada sebuah laku ngiyeng [Unreadable] mereka tetap tulus dan [Unreadable]. [Unreadable] I Made Sujaya
Timah Pana [?] [Unreadable] yang mesti [Unreadable] ibu dan kanak-kanak [Unreadable] sejuk embun pagi [Unreadable]. Mestikah kita berbc[Unreadable]
PANTAI GOA LAWAH (poem; author partly legible: Dasna, Windu, Wal[Unreadable])
[Unreadable] udara mana memaintarikan nafas kita
menyelami pangkuan lembut pasir
ombak luruh memburu
laut meliuk-liuk menggurat-gurat garis lukisan
kemenangan di perapian bumi
yang telah terebut [Unreadable]
tembang kanak-kanak [Unreadable] dan mengenang
tentang kesetiaan [Unreadable]
pada nafas [Unreadable]
coba tembang gending tasbihkan di atas pasir
seperti kesetiaan kura-kura [Unreadable]
PERCUMBUAN
[Unreadable] kita meminang
menembang-nembang [Unreadable]
di sela-sela [Unreadable]
"tidur-tidurlah kekasih
jaga-jagalah kesadaran"
lalu kita berbagi sambil menari di perigi [Unreadable]
WIKARNA
bila bahasa semesta kehilangan kata-kata
saatnya aksara bicara
paseban ini menjelma[?] [Unreadable]