Berita Yudha, 28 September 1997: Monumen Pancasila Sakti, Lubang Buaya
Cleaned OCR text (Good (0.934); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
akna Dibalik:
thes.
Kuningan Ba
FOTO-FOTO: SANTO
Dalam tradisi umat Hindu di Bali ada "Hari
Kuningan” yang
dirayakan setiap enam bulan sekali (210 hari)
atau sepuluh hari setelah hari raya Galungan. Tidak saya di Bali, umat Hindu
di seluruh tanah air akan
merayakan hari Kuningan
sebagai rangkaian dari perayaan hari Galungan.
Hari raya Kuningan kali ini jatuh tepat pada Sabtu Kliwon wuku Kuningan,
27 September.
onumen Pancasila Sakti (MPS)
Lubang Buaya, adalah salah satu obyek wisata dibelahan Jakarta Timur sekaligus prasasti dimana ditempat tersebut telah terjadi kegiatan makar Partai Komunis Indonesia dan ormas-ormasnya
MINGGU
28 SEPTEMBER 1997
Gita hari suci atau hari-hari besar umat lain, pada hari Kuningan itu suasana dalam kehidupan masyarakat Hindu khususnya di Bali berbeda dengan hari-hari sebelumnya.
Selain disibukkan dengan persiapan membuat sesajen untuk dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa dan melakukan persembahyangan di tempattempat suci (pura), umat Hindu di Bali menganggap dalam masa sepuluh hari (Galungan dan Kuningan) sebagai hari
SUCI.
Oleh karena itu, masyarakat yang bekerja sebagai tenaga musiman atau buruh kasar enggan pergi bekerja ke luar desa sebelum hari Kuningan tiba. Tradisi semacam ini sudah berlangsung secara turun-temurun, bahkan, bagi mereka yang masih mempercayainya tentu saya tidak berani melanggarnya.
Satu bukti bahwa tradisi dan kepercayaan ini masih melekat dikalangan masyarakat Bali bisa dilihat dari banyaknya warga masyarakat kota yang mudik, termasuk para pembantu rumah tangga untuk merayakan hari Kuningan di kampung halamannya bersama keluarga.
Dengan demikian, tidak mengherankan jika sebuah keluarga di kota Denpasar misalnya yang mempunyai pembantu rumah tangga dari desa, khususnya yang warganya taat dengan tradisi seperti itu, tidak lagi kaget apabila pembantunya tidak mau datang kembali sebelum lewat hari Kuningan.
Kasus seperti ini diakui seorang ibu rumah tangga, Ny. Suwarti asal Malang, Jawa Timur yang memiliki pembantu rumah tangga asal Desa Seraya, Kabupaten Karangasem.
Menurut ibu dua orang anak itu, setiap menjelang Hari Galungan dan Kuningan, pembantu rumah tangganya selalu minta mudik untuk merayakan kedua hari besar tersebut di kampung halamannya beserta keluarga.
"Bagi saya, hal itu bisa, dimaklumi karena tradisi semacam. ini tidak saya terjadi di Bali. Hal yang sama juga terjadi di Jawa terutama setiap kali menjelang hari raya
Idul Fitri” katanya.
Terlepas apakah itu merupakan sebuah tradisi atau bukan, pertanyaan yang muncul adalah makna apa yang sesungguhnya terkandung di balik perayaan hari Kuningan, serta apa manfaat nya bagi kehidupan kini dan yang akan datang? Kenapa pula hari Kuningan dirayakan oleh umat Hindu?
Kemenangan Dharma
Menurut pengamat masalah agama Hindu di Bali, Drs. I Gede Sura, Kuningan dan Galungan merupakan hari raya besar bagi umat Hindu yang penuh makna
Secara umum, makna Hari Galungan dan Kuningan, kata Ketua Parisada Hindu Dharma Indonesia (PHDI) Bali itu adalah perayaan kemenangan “dharma (kebenaran) melawan adharma (kebatilan)”
Kemenangan dharma melawan adharma pada hari raya Galungan hendaknya dipegang teguh sebagai pedoman hidup.
Oleh karena itu, pada hari Kuningan umat Hindu diwajibkan menghaturkan puji syukur ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa
Ucapan puji syukur itu diwujudkan umat Hindu dalam bentuk “banten-banten” atau sesajen yang dipersembahkan kepada Tuhan Yang Maha Esa selaku pencipta dan pemelihara semua mahluk hidup yang ada di bumi. Sedangkan kekuatan batin yang diperoleh umat manusia diwujudkan dengan "tamiang, endong, kolem" yang merupakan simbol alat-alat untuk melindungi diri dari hal-hal yang tidak diinginkan. “Itulah makna perlengkapan sesajen yang digunakan oleh umat Hindu pada perayaan Kuningan,"
ujarnya.
Hal senada juga dikemukakan salah seorang tokoh dan pengamat masalah agama Hindu di Denpasar, Ida Bagus Ketut Oka. Menurut dia, hari Kuningan merupakan rangkaian dari hari raya Galungan yang secara sederhana dipahami sebagai hari kemenangan dharma melawan adharma.
Kemenangan dharma yang diperoleh sejak perayaan Galungan merupakan berkah Hyang Widhi (Tuhan Yang Maha Esa). Oleh karena itu, pada hari itu umat Hindu diwajibkan melakukan pemujaan terhadap para “pithara (roh leluhur) dan dewa” untuk memohon ke- santosaan dan kedirgayusaan serta perlindungan dan tuntunan lahir batin.
Secara tradisi, menurut Oka, hari Kuningan diyakini sebagai hari terakhir bagi para “dewa dan bhatara-bathari" berada di dunia, karena pada siang hari, sebelum tengah hari beliau telah kembali ke “kahyangan”
Untuk ucapan terimakasih dan syukur, umat Hindu lantas membuat persembahan dalam bentuk upakara (sarana) yaitu, “endong dan tamiang lengkap dengan kolemnya”.
Dari titik itulah umat Hindu diharapkan dapat merenungkan hari Kuningan sebagai hari ke sepuluh setelah Galungan bukan sekadar sebagai penutup rangkaian Galungan, melainkan lebih dalam lagi sebagai momentum puncak pencapaian pendakian kerohanian yakni” Ka-uninga-an dan Ka-ening-an”, # Sutha Sastradhinata
yaan
Monumen Pancasila Sakti Lubang Buaya
Saksi Bisu Dengan Nilai Edukatif
setelah Indonesia merdeka.
Monumen yang mulai dibangun pertengahan 1967 atas prakarsa Angkatan Darat (AD)
dan diresmikan Presiden Suharto tahun 1973 merupakan saksi sejarah yang dapat "berbicara" yang sarat dengan nilai edukatif,
Inspiratif dan rekreatif.
MPS yang dibangun dalam bentuk diorama, relief, gambar, patung-patung dan barang-barang peninggalan ke 7 pahlawan yang dikuburkan secara massal dalam sumur maut Lubang Buaya. Kesemuanya menggambarkan bagaimana penganiayaan di luar perikemanusiaan yang seakan-akan berbicara kepada kita agar tetap waspada terhadap upaya pihak manapun yang akan merongrong Pancasila dan pemerintah sah
Lebih dari itu, MPS seakan berperan sebagai “guru” yang bijak yang mengajarkan nilainilai perjuangan, patriotisme, loyalitas dan komitmen tanpa pamrih kepada Pancasila dan UUD 45
MPS Lubang Buaya juga menjadi sumber Inspirasi bagi kita dalam mengisi kemerdekaan dengan menggalakan pembangunan demi mencapai masyarakat adil-makmur dan aman sentausa di bawah naungan Pancasila nan sakti dan UUD 45. Peristiwa G390S PKI dan aksi penumpasannya oleh rakyat bersama ABRI yang terekam di MPS mendorong kita untuk melakukan koreksi dan instrospeksi secara terus menerus dalam perjalanan bangsa ini agar peristiwa serupa tak terulang lagi
MPS sebagai monumen bersejarah yang berpusatkan “Sumur Maut Lubang Buaya"
sebenarnya terdiri atas tiga obyek utama,
yaitu:
H Monumen Pancasila Sakti sebagai bangunan utama
Monumen Pancasila Sakti berisi tiga rumah bersejarah yaitu rumah penyiksaan - tempat 4 perwira yang diculik dalam keadaan hidup disiksa secara kejam oleh Gerwani hingga menghembuskan nafas terakhir, rumah pos komando - ruang rapat pasukan Pasopati sebelum melakukan penculikan terhadap sejumlah perwira tinggi AD dan rumah dapur Umum - tempat menyiapkan konsumsi bagi para sukarelawan PKI pada saat latihan kemiliteran,
Pada Monumen Pancasila Sakti juga terdapat tugu dan 7 patung pahlawan yang terdiri dari Mayjen Sutoyo, Mayjen DI Panjaitan,
Lecen S Parman, Jend A Yani, Lecen Suprapto, Lecen MT Haryono dan Kapten Pierre Tendean. Di bawahnya terdapat relief yang menggambarkan kekejaman PKI, penumpasan pengikut PKI dan pgpgangkatan Suharto sebagai pejabat Presiden RI
@ Museum Pengkhianatan PKI
Di sini pengunjung dapat menyaksikan 34 diorama yang menggambarkan kegiatan makar PKI sesudah Indonesia merdeka dan penumpasannya oleh rakyat bersama ABRI
Di museum ini juga terdapat tiga mozaik yaitu mozaik kekejaman PKI terhadap bangsa sendiri, mozaik penggalian dan pengangkatan janasah dan mozaik pengadilan terhadap gembang-gambong pemberontak PKI M Museum Monumen Pancasila Sakti
Di dalam museum ini terdapat 9 diorama antara lain tentang rapat persiapan pambarontakan PKI, latihan kemiliteran para sukarelawan PKI, penganiyaan di Lubang Buaya, pengamanan Lanud Halim Perdanakusumah, penggalian dan pengangkatan jenasah, proses lahirnya surat perintah sebelas Maret (Supersemar), Pelantikan Suharto sebagai pejabat Presiden RI dan tindak lanjut pelarangan PKI.
Di Museum ini juga terdapat ruang relik yang berisi barang-barang peninggalan para pahlawan revolusi dan ruang teater serta ruang pameran foto, 3
Daya tarik MPS sebagai tempat bersejarah ternyata memiliki nilai rekreatif. Di hamparan lahan bekas perkebunan Karet ini juga terdapat Pameran Taman. Di sini pengunjung dapat menikmati keindahan taman dan sekaligus melihat dari dekat mobil dinas A Yani, salah satu panser Saraceen yang mengangkut jenasah ke TMP Kalibata dan Toyota Mayjen Suharto. # peter sambut
menghargal para pahlawannya (peter sambut).
MPS Lubang Buaya,
Pantas Dikunjungi
onumen Pancasila Sakti (MPS) Lubang Buaya sebagai saksi sejarah yang sarat dengan nila edukatif, inspiratif dan rekreatil memang pantas dikunjungi, terutama oleh generasi muda sebagai harapan masa depan bangsa ini. Kunjungan ke MPS Lubang Buaya bukan hanya sebagai ungkapan penghargaan terhadap jasa para pahlawan yang rela mengorban jiwa dan raganya demi tegaknya Pancasila, tetapi sebagai momen untuk belajar dari dekat nilai kepahlawanan, patriotisme dan rasa cinta yang dalam terhadap Republik tercinta ini, Sayang, Image umum masyarakat bahwa tempattempat seperti monumen atau museum hanya berisi 2 barang-barang antik menyebabkan MPS kalah pamor “8 dengan Taman Mini Indonesia Indah (TMII) di Jakarta $”“, Timur atau Taman Implan Jaya Ancol (TWA) di Jakarta — Utara. Kanyataan itu mungkin dapat dipahami karena, kedua tempat rekreasi terbesar di DKI Jakarta tersebut menawarkan aneka hiburan yang menarik minat, Namun pengelola MPS optimis, minat warga untuk ~ datang mengunjungi MPS tak akan luntur. Sebagal saksi sejarah yang seakan-akan dapat berbicara, MPS selalu memanggil putra-putri bangsa untuk menimba Ilmu dan Inspirasi guna kesinambungan pembangunan menuju masyarakat adi-makmur dan aman-sentausa di bawah naungan Pancasila dan UUD 45, Buktinya, jika dibandingkan dengan monumen atau museum lain, jumlah pengunjung di MPS tergolong tinggi, terutama pada saat liburan sekolah. Dari data yang tercatat di bagian penerangan MPS, jumlah pengunjung terbanyak terjadi pada bulan Juni, Juli, Oktober dan Desembar = dengan jumlah pengunjung antara 37.000 - 43,000 Bs
yang para pelajar dan ee eS pan Jabotabek maupun luar en KO LN Pengelola MPS berharap minat dan Haa NA terutama generasi muda untuk mengunjungi MPS semakin meningkat dari tahun ke tahun. Sebab menurut orang bijak, bangsa yang besar adalah bangsa yang