Gerwani dalam Koreografi
Licensed or copyrighted source: rights remain with the author or publisher. OCR transcription for scholarly research.
Cleaned OCR text (Good (0.957); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
Suara lelaki yang menghakimi itu mengiringi gerakan gerakan liar seorang perempuan. Di panggung yang gelap tersebut, perempuan itu, sambil membungkukkan tubuh, menggapai gapai ke atas, ke kanan, dan ke kiri. Terkadang dia berdiri di atas meja dan menari nari di sana, lalu terjatuh dan menunduk.
Inilah salah satu adegan yang disuguhkan dalam pertunjukan tari bertajuk Cap Merah. Adegan tersebut menjadi penutup rangkaian acara pameran dan diskusi bertajuk Indonesia dan Dunia 1959 1966; Sebuah Dekade Penentu, yang digelar di GutheHaus, Menteng, Jakarta Pusat, 18 21 Januari lalu.
Cap Merah, yang digelar Jumat malam pekan lalu, merupakan karya koreografer muda Yosep Prihantoro Sadsuitubun dari Institut Kesenian Jakarta. Yosep adalah cucu Karel Sadsuitubun (K.S. Tubun), pengawal di rumah tetangga Jenderal Ahmad Yani yang turut terbunuh di malam pembunuhan sang Jenderal pada September 1965 itu. Namun agaknya ia gelisah.
Cap Merah terinspirasi oleh nasib para perempuan Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) pasca Gerakan 30 September 1965. Gerwani adalah salah satu organisasi perempuan modern pertama Indonesia yang aktif pada 1950 1960.
Gerwani selalu dikaitkan dengan kisah pembantaian jenderal jenderal di Lubang Buaya. Dongeng mengerikan tentang para perempuan yang menari nari erotis sambil menyiksa jenderal jenderal, termasuk memotong alat kelamin. Tanpa peradilan yang adil, mereka dituduh bersalah. “Padahal mereka cuma kumpulan ibu ibu yang ingin bangsanya maju,” tutur Yosep.
Cap Merah disuguhkan dengan tata panggung yang sederhana. Hanya ada sebuah kursi, dua meja, dan selembar kain persegi berwarna merah berukuran 1 x 1 meter ditempel sebagai background panggung. Di sudut kanan atas, pada kain merah penuh goresan hitam tertera dua huruf berukuran besar “ET”, singkatan dari eks tahanan politik (tapol).
Pertunjukan dibuka dengan suara pembacaan naskah proklamasi dari radio yang gelombangnya terganggu. Suara Sukarno terdengar tak sempurna, timbul tenggelam. Di atas panggung, seorang perempuan duduk tegak menghadap meja. Tujuh perempuan lain berkumpul mengelilingi meja yang lain. Beberapa di antaranya terbaring di lantai dengan kaki terangkat menyender ke meja. Perlahan lahan mereka bergerak, menari nari, diiringi lagu Genjer genjer.
Genjer genjer sejatinya bercerita tentang penderitaan rakyat di masa itu yang terpaksa mengkonsumsi genjer. Namun stigma yang menempel di lagu karangan seniman asal Banyuwangi, Muhammad Arief, yang dipopulerkan penyanyi Lilis Suryani pada 1960 an itu sama kuatnya dengan stigma yang melekat pada para anggota Gerwani.
Selama sekitar satu jam, stigma itu disampaikan Yosep lewat gerakan koreografi yang dibuat mudah dicerna. Sebuah koreografi yang ingin bercerita. Lihatlah bagaimana para penari berjalan pelan dengan tangan terbelenggu di depan dada. Berbaris berjongkok sambil berjalan; berjalan meniti meja sambil bergandengan tangan; terkadang tangan mereka membuat gerakan seperti menahan sesuatu yang menghunjam di dada. Berkali kali mereka menutup mulut dengan tangan, yang menggambarkan bagaimana sulitnya perempuan yang dilabeli sebagai Gerwani itu menyuarakan isi hati mereka.
“Semoga mereka yang menonton paham, paling tidak mereka tahu bahwa kebanyakan anggota Gerwani tidak bersalah,” kata Yosep.
Nunuy Nurhayati
Edisi 31 Januari 2011
Mingguan Edisi 2011-01-31
Mingguan Edisi 2011-01-31
PODCAST REKOMENDASI TEMPO
MULTIMEDIA
Iklan
Dongeng Kancil Indonesia di Gwangju Biennale
Ingatan-ingatan tentang Kekerasan di Gwangju Biennale
Menjelang Kelahiran Sang Peri
Luka dan Keterbatasan Bahasa dalam Sajak Khanafi
Rekomendasi Film: 'Nabi Yunus' Whalefall
Bisakah Revitalisasi Menyelamatkan Tiga Benteng Sulawesi
Pagar Kawat Berduri: Cara Unik Asrul Sani Bicara Revolusi
Mengapa Gerakan Masyarakat Sipil Kuat di Era Orde Baru
Puisi Eko Setyawan: Legiun dan Rahasia
Laut Bercerita Berlaga di Kompetisi Utama BIFF 2026
Dongeng Kancil Indonesia di Gwangju Biennale
Ingatan-ingatan tentang Kekerasan di Gwangju Biennale
Menjelang Kelahiran Sang Peri
Mengapa Novel Berlatar Sejarah Makin Digemari
Fiksi Sejarah Bergairah Lagi
Novel Intan Paramaditha jadi Finalis National Book Award
Tinggal di Gang Sempit Rumah Tetap Estetik
Rumah Cantik di Gang Sempit
Bagaimana Merencanakan Pembangunan Rumah di Gang Sempit
Jejak Pemberdayaan Perempuan Martha Tilaar
Memoar Tak Tuntas Martha Tilaar
The Hwa Hong dalam Kekerasan 1965
Rekomendasi Film: 'Nabi Yunus' Whalefall
Film Whalefall: Terjebak di Dalam Paus Sperma
Daftar Nominasi Piala Citra Festival Film Indonesia 2026
Multatuli dalam Ingatan Publik di Lebak dan Amsterdam
Merayakan 100 Tahun Saparinah Sadli
Hari-hari Saparinah Sadli di Usia 100 Tahun
Iklan
TRUSTWORTHY NEWS