Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02244

"Aku Bangga Menjadi Algojo"

Licensed or copyrighted source: rights remain with the author or publisher. OCR transcription for scholarly research.

Cleaned OCR text (Good (0.94); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Hari itu Jumat, tanggalnya aku lupa, pada bulan November tahun lalu. Aku ditunjuk menjadi algojo hukuman cambuk di Kabupaten Aceh Tamiang. Itu pengalaman pertamaku. Kepala kejaksaan sendiri yang menunjukku menjadi algojo. Aku tak pernah bertanya alasan pemilihan itu. Saat ditunjuk, aku langsung menyatakan siap. Apalagi pekerjaanku sebagai anggota Satuan Polisi Pamong Praja dan Wilayatul Hisbah mewajibkanku menjalankan amanah qanun, peraturan syariah yang khusus berlaku di Aceh. Korban pertamaku, pria yang kucambuk itu, tertangkap tangan sedang main judi. Aku tak kenal dengannya. Tapi itu tak membuatku tampil lepas. Aku grogi, meski orang tak mengenaliku karena seluruh tubuhku tertutup cadar. Hanya telapak tangan dan mataku yang terlihat. Alhamdulillah, debutku lancar. Wajah para pejabat Aceh Tamiang tampak puas. Begitu juga warga yang bertepuk tangan panjang di akhir pencambukan. Aku pun pulang dengan hati tenang. Debut ini ternyata berkesan di hati kejaksaan. Dua pekan kemudian, aku kembali diminta menjadi algojo. Akhirnya aku tahu alasan jaksa memilihku. Mereka menganggap aku memiliki pengetahuan dan ketenangan jiwa yang mumpuni. Aku memang lulusan salah satu universitas negeri di Bandung, Jawa Barat, dengan nilai memuaskan. Aku juga dianggap memiliki ilmu agama yang memadai. Apalagi aku pernah berguru kepada Profesor Al-Yasa Abubakar. Dia adalah orang yang selama ini dikenal sebagai konseptor qanun. Dari beliau juga aku belajar bagaimana menjadi algojo yang baik. Tak ada kriteria khusus menjadi algojo. Dalam buku peraturan yang aku baca, syarat menjadi algojo adalah orang yang bertakwa kepada Allah SWT dan sehat jasmani-rohani. Orang yang menjadi algojo juga harus yakin dengan tindakannya. Tidak boleh ada rasa bersalah setelah mencambuk para terpidana, meskipun yang dicambuk adalah seseorang yang ia kenal. Sebab, algojo tak boleh memilih siapa korbannya. Bagiku, menjadi algojo sama dengan menjalankan perintah Allah. Aku bangga karena hukuman ini sesuai Al-Quran dan hadis. Cambukanku memang tak menyakitkan, tapi memalukan karena ditonton orang banyak. Sudah 22 orang yang aku cambuk. Karena kasus makin banyak kini ada tim algojo yang anggotanya enam orang. Aku menjadi pelatih. Seorang algojo memang harus dilatih, karena mengayun cambuk rotan tidak mudah. Ada aturannya. Tangan algojo harus membentuk sudut 90 derajat dengan dadanya. Tak boleh ditekuk. Karena itu, tangan algojo gampang pegal saat mencambuk. Untuk melatih batin, kami rutin menggelar pengajian. Kami juga punya doa khusus yang dibacakan sesaat sebelum menggelar pencambukan. Kami diberi makanan khusus, seperti minuman energi dan makanan favorit masing-masing. Itu cukup memotivasi kami. Juga ada insentif khusus yang diberikan kepada kami. Jumlahnya lumayanlah. Sebagai algojo, kami harus menutup identitas. Pernah seorang algojo ketahuan identitasnya karena wajahnya terpantul di cermin saat melepas jubah. Ia pun cemas. Bukan tak mungkin para terpidana menyimpan dendam. Maka, selain para pejabat, tak boleh ada yang tahu identitas algojo. Aku pun begitu, merahasiakan identitasku sebagai algojo kepada siapa pun, termasuk kepada istri dan seorang putraku. Mungkin nanti suatu saat aku ungkap cerita ini kepada mereka. Saat aku tak menjadi algojo lagi. Edisi 29 Agustus 2011 Mingguan Edisi 2011-08-29 Mingguan Edisi 2011-08-29 PODCAST REKOMENDASI TEMPO MULTIMEDIA Iklan Razia Narkoba di Kelab Malam Jakarta Merayakan 53 Tahun Perjalanan Warkop DKI di Synchronize Fest Parade 43 Perahu dari Limbah Plastik Kreasi Pasukan Oranye Indonesia Girl Grup dalam Synchronize Fest 2026 Kekeringan di Bojongmangu, Kabupaten Bekasi Dari Punjab ke Medan: Perjalanan Komunitas Sikh Sampai Indonesia Cara Hanung Bramantyo Melahirkan Nyai Gowok Layar Tancap: Medium Baru Film Politik Pesta Grafiti dan Mural di Karanganyar Bagaimana Penganut Sikh Tiba di Tanjung Priok Satu Abad Lalu Razia Narkoba di Kelab Malam Jakarta Merayakan 53 Tahun Perjalanan Warkop DKI di Synchronize Fest Parade 43 Perahu dari Limbah Plastik Kreasi Pasukan Oranye Iklan TRUSTWORTHY NEWS