Jasad Terapung sampai Jauh (Jembatan Bacem, Bengawan Solo)
Licensed or copyrighted source: rights remain with the author or publisher. OCR transcription for scholarly research.
Cleaned OCR text (Good (0.962); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
Setelah September 1965, dari rumahnya yang berjarak 100 meter dari Jembatan Bacem tersebut, ia kerap mendengar suara tembakan. "Lalu ada suara seperti benda jatuh ke sungai," kata perempuan yang terlahir bernama Suyek ini, Sabtu dua pekan lalu. Suara itu datang dari jasad yang tercebur ke sungai.
Pada saat itu, selama enam bulan, tiap 2-3 hari sekali ada eksekusi terhadap aktivis PKI. Jika bunyi dor senjata api menyalak, penduduk sekitar jembatan memilih mengunci pintu. "Kalau ada di luar rumah takut dituduh PKI," katanya. Penduduk baru berani ke luar rumah ketika pagi menjelang. Kerap, pada pagi hari, ia menyaksikan mayat terdampar di tepi Bengawan Solo. Lalu beberapa orang menggeser mayat bergelimpangan itu ke tengah sungai agar terbawa arus.
Jembatan yang berjarak 4 kilometer dari jantung Kota Solo itu memang merupakan salah satu tempat favorit eksekusi. Sejarawan Universitas Negeri Sebelas Maret Surakarta, Sudharmono, mengatakan eksekusi mati orang-orang PKI di atas Jembatan Bacem terjadi pada sekitar Oktober 1965. Akibat pembantaian itu, air Bengawan Solo berwarna darah. Kadang penduduk mendapati jari manusia di perut ikan. Ketika terjadi banjir besar pada 1966, bekas eksekusi di Bengawan Solo hilang. "Sungai kembali jernih," kata Sudharmono.
Bibit, yang pernah ditahan di Komando Distrik Militer Solo karena dituding sebagai PKI, menghitung ada 144 tahanan yang satu per satu diangkut ke tempat pembantaian. Dari banyak orang, ia mendengar para tahanan itu dieksekusi di Jembatan Bacem. Tempat itu, kata dia, juga jadi ladang membunuh tahanan dari tempat lain.
Bibit menyatakan hal ini ketika Paguyuban Korban Orde Baru berziarah ke lokasi pembantaian itu pada 2005. Testimoni Bibit ini dimuat di situs pribadi Umar Said, wartawan Indonesia yang hidup sebagai eksil di Paris. Umar meninggal hampir setahun lalu. Bibit juga mendengar kisah, beberapa hari setelah pembantaian, aparat keamanan memerintahkan masyarakat setempat untuk membersihkan bekas darah yang menempel pada besi pembatas jembatan.
Menurut Supeno, Koordinator Paguyuban, selain militer, yang mengeksekusi orang PKI di Jembatan Bacem adalah Barisan Ansor Serbaguna (Banser), yang berafiliasi ke Nahdlatul Ulama. "Yang saya dengar, Banser ikut menembaki PKI," katanya Sabtu dua pekan lalu.
Tapi sesepuh NU Solo, Kiai Haji Abdul Rozaq Shofawi, membantah anggapan bahwa Banser NU ikut membantai. Menurut dia, Banser hanya bertugas menjaga pesantren dari ancaman orang-orang PKI. Mereka bersiaga karena belum ada militer yang masuk ke Solo. "Waktu itu ada kabar PKI akan membunuh kiai-kiai NU," katanya.
Supeno, kini 82 tahun, masuk penjara milik tentara pada November 1965 dengan tudingan terlibat PKI. Menurut dia, eksekusi di Jembatan Bacem dilakukan setidaknya 71 kali. Eksekusi selalu dilakukan sembunyi-sembunyi pada malam hari. Untuk mengenang mereka yang jadi korban, Supeno, yang punya enam anak, setahun sekali berziarah ke Jembatan Bacem. Ia nyekar bersama kawan senasib dan keluarga korban.
Edisi 1 Oktober 2012
Mingguan Edisi 2012-10-01
Mingguan Edisi 2012-10-01
PODCAST REKOMENDASI TEMPO
MULTIMEDIA
Iklan
Razia Narkoba di Kelab Malam Jakarta
Merayakan 53 Tahun Perjalanan Warkop DKI di Synchronize Fest
Parade 43 Perahu dari Limbah Plastik Kreasi Pasukan Oranye
Indonesia Girl Grup dalam Synchronize Fest 2026
Kekeringan di Bojongmangu, Kabupaten Bekasi
Dari Punjab ke Medan: Perjalanan Komunitas Sikh Sampai Indonesia
Cara Hanung Bramantyo Melahirkan Nyai Gowok
Layar Tancap: Medium Baru Film Politik
Pesta Grafiti dan Mural di Karanganyar
Bagaimana Penganut Sikh Tiba di Tanjung Priok Satu Abad Lalu
Razia Narkoba di Kelab Malam Jakarta
Merayakan 53 Tahun Perjalanan Warkop DKI di Synchronize Fest
Parade 43 Perahu dari Limbah Plastik Kreasi Pasukan Oranye
Iklan
TRUSTWORTHY NEWS