Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02261

Karena Wibawa Sang Jenderal (Mengapa Jawa Barat luput dari pembantaian)

Licensed or copyrighted source: rights remain with the author or publisher. OCR transcription for scholarly research.

Cleaned OCR text (Good (0.953); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Kepada A. Umar Said, mantan Pemimpin Redaksi Ekonomi Nasional—surat kabar yang dilarang terbit bersama Harian Rakyat, Bintang Timur, dan Suluh Indonesia pasca-G-30-S—Anderson menyampaikan cerita Ibrahim itu. Dari wawancara pada September 1996 itu, Umar memuat cerita Anderson di blog pribadinya. Umar wafat pada 7 Oktober 2011 di Paris, tempatnya bermukim sejak Oktober 1965 sebagai eksil. Pembunuhan di Jawa Barat bukan tak terjadi. Di Indramayu, misalnya, ada orang yang dituding anggota PKI jadi korban. Tapi kejadian tak meluas. Perintah Ibrahim tampaknya diikuti tentara sampai level paling bawah. "Saya tidak ingin ada pembantaian di Jawa Barat, karena merasa bagaimanapun sebagian besar adalah orang kecil. Akan mengerikan kalau mereka dibunuh," katanya. Sikap Ibrahim Ajie tak lepas dari sikap setianya kepada Sukarno. Pada 1 Oktober, presiden pertama itu mengeluarkan perintah agar semua pihak menghentikan aksi agar suasana tak runyam. Pada hari yang sama, Sukarno mengirimi Ibrahim sepucuk surat yang isinya meminta Ibrahim datang ke Pangkalan Udara Halim Perdanakusuma jika keselamatan Presiden terancam. Sehari kemudian, Pimpinan Sementara Angkatan Darat Mayor Jenderal Suharto melapor kepada Sukarno bahwa situasi dapat dikuasai. Dalam surat yang ditulis tangan pada 2 Oktober 1965, Suharto menyatakan berhasil mencegah pertumpahan darah. "Nyuwun dawuh lan nyadong deduko—bila saya bertindak lancang," ujar Suharto menutup suratnya. Belakangan terbukti Suharto berbohong. Pembantaian ribuan anggota PKI dan simpatisannya terjadi di berbagai tempat, terutama di Jawa Tengah dan Jawa Timur. Sejumlah peneliti, seperti Robert Cribb dari Universitas Nasional Australia, juga Benedict Anderson, menyatakan tindakan brutal itu terjadi di daerah-daerah yang didatangi satuan elite militer Resimen Para Komando Angkatan Darat (RPKAD). "Dalam banyak kasus, pembunuhan dimulai setelah kedatangan kesatuan elite militer, yang lalu memerintahkan dan memberi contoh tindakan kekerasan," kata Cribb dalam buku Pembantaian PKI di Jawa dan Bali 1965-1966. Jawa Barat beruntung: RPKAD tak merangsek di sana. Alhasil, kata Anderson, "Di Jawa Barat tak terjadi pembantaian." Edisi 1 Oktober 2012 Mingguan Edisi 2012-10-01 Mingguan Edisi 2012-10-01 PODCAST REKOMENDASI TEMPO MULTIMEDIA Iklan Razia Narkoba di Kelab Malam Jakarta Merayakan 53 Tahun Perjalanan Warkop DKI di Synchronize Fest Parade 43 Perahu dari Limbah Plastik Kreasi Pasukan Oranye Indonesia Girl Grup dalam Synchronize Fest 2026 Kekeringan di Bojongmangu, Kabupaten Bekasi Dari Punjab ke Medan: Perjalanan Komunitas Sikh Sampai Indonesia Cara Hanung Bramantyo Melahirkan Nyai Gowok Layar Tancap: Medium Baru Film Politik Pesta Grafiti dan Mural di Karanganyar Bagaimana Penganut Sikh Tiba di Tanjung Priok Satu Abad Lalu Razia Narkoba di Kelab Malam Jakarta Merayakan 53 Tahun Perjalanan Warkop DKI di Synchronize Fest Parade 43 Perahu dari Limbah Plastik Kreasi Pasukan Oranye Iklan TRUSTWORTHY NEWS