Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02266

Mengambil Jatah di Daerah Merah (Boyolali dan Klaten)

Licensed or copyrighted source: rights remain with the author or publisher. OCR transcription for scholarly research.

Cleaned OCR text (Good (0.927); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Di kantor itu, Supomo—kini 67 tahun—diinterogasi soal pemilikan senjata dan tuduhan pembunuhan. Meski tak terbukti, dia tetap disiksa. "Dua hari dua malam, telinga dan betis dibabat pedang samurai, kepala dipukul popor senjata, punggung dicambuki dengan karet besar ukuran 5-6 sentimeter sepanjang 60 sentimeter," ujar pria yang kini menjadi Ketua Yayasan Penelitian Korban Pembunuhan 1965 itu. Geger peristiwa G-30-S rupanya telah membuat tentara dan massa bergerak di daerah Boyolali, Klaten, Solo, dan sekitarnya. Wilayah Jawa Tengah saat itu disebut daerah merah, yang dikuasai Partai Komunis Indonesia dan afiliasinya. Dia menyebutkan operasi penumpasan PKI oleh Resimen Para Komando Angkatan Darat dan pasukan Komando Daerah Militer VII/Diponegoro mulai berlangsung sejak 22 Oktober 1965. Supomo diciduk lantaran aktif sebagai anggota pengurus Pemuda Rakyat Kabupaten Boyolali. Dia mengaku sebelumnya sempat menjadi target pembunuhan, tapi selalu berhasil menghindar berkat bantuan teman-temannya. Namun akhirnya dia ditangkap, ditahan di beberapa kamp, dan bekerja paksa bertahun-tahun. Hampir 50 tahun berlalu, Supomo kini bergiat dalam advokasi korban peristiwa itu. Dia bersama seorang saksi yang masih hidup mendata tempat-tempat pembantaian dan penguburan, termasuk yang di Sonolayu. Tempat itu tak jauh dari Taman Makam Pahlawan di Kabupaten Boyolali di kaki Gunung Merapi. "Di sanalah ratusan orang dibantai," ucapnya. Sekarang tanah kebun ini dita-nami ketela pohon dan pepaya. Beberapa nisan dan batu penanda diletakkan keluarga yang peduli peristiwa itu. Ladang pembantaian lain adalah di Lapangan Kaligentong, Kecamatan Ampel; Lawang, Kelurahan Jurug; Ketaon, Kecamatan Banyudono; dan jurang Porong di perbatasan Kecamatan Musuk-Klaten. Kuburan ratusan korban juga ditemukan di Kecamatan Susukan, Kabupaten Semarang. Lokasinya ada di daerah Gunung Butak—sebuah bukit kecil—di jalan yang menghubungkan Kecamatan Sruwen, Semarang, dan Kecamatan Karanggede, Boyolali. Tempat lain, menurut penelitian Singgih Nugroho dari Yayasan Persemaian Cinta Kemanusiaan (Percik) Salatiga, ada di Alas Kopen, Kecamatan Bringin, dan Lapangan Skeep Tengaran. Operasi penumpasan aktivis PKI juga bergerak ke selatan, menuju daerah Tulung, perbatasan Boyolali-Klaten. Gito Sudarmo, 82 tahun, salah satu Komandan Peleton Gerakan Masyarakat di Kecamatan Teras, Boyolali, menceritakan, mereka diminta membantu tentara Batalion E Cila-cap menangkap dan menelanjangi korban. "Salah satunya di bekas gudang gula Belanda yang sekarang menjadi gedung badminton di sebelah barat Pasar Cokro, Tulung," ujarnya. Gito bersama 30 pemuda biasanya bertugas "mengambil jatah"—menangkap orang yang diduga anggota PKI. Biasanya, tiga orang yang ditangkap tentara dikawal lima anggota peleton Gito. Kebanyakan tertangkap dalam kondisi babak-belur. Beberapa bahkan tewas lantaran ramai-ramai dipukuli. Mereka membawa tawanan ke lokasi eksekusi. "Di lokasi tersebut sudah ada lubang untuk menguburkan mayat. Siapa yang menggali, saya tidak tahu," ucap Gito. Pria sepuh ini mengatakan mereka tak pernah mengeksekusi tawanan di tempat yang sama. Gito juga mengaku hanya mengawasi dan tak ikut mengeksekusi. Beberapa kali mereka kesulitan saat mengeksekusi karena korban kebal senjata tajam. "Kami geledah, kalau perlu ditelanjangi sampai ketemu jimat. Kekebalan mereka hilang," katanya. Edisi 1 Oktober 2012 Mingguan Edisi 2012-10-01 Mingguan Edisi 2012-10-01 PODCAST REKOMENDASI TEMPO MULTIMEDIA Iklan Razia Narkoba di Kelab Malam Jakarta Merayakan 53 Tahun Perjalanan Warkop DKI di Synchronize Fest Parade 43 Perahu dari Limbah Plastik Kreasi Pasukan Oranye Indonesia Girl Grup dalam Synchronize Fest 2026 Kekeringan di Bojongmangu, Kabupaten Bekasi Dari Punjab ke Medan: Perjalanan Komunitas Sikh Sampai Indonesia Cara Hanung Bramantyo Melahirkan Nyai Gowok Layar Tancap: Medium Baru Film Politik Pesta Grafiti dan Mural di Karanganyar Bagaimana Penganut Sikh Tiba di Tanjung Priok Satu Abad Lalu Razia Narkoba di Kelab Malam Jakarta Merayakan 53 Tahun Perjalanan Warkop DKI di Synchronize Fest Parade 43 Perahu dari Limbah Plastik Kreasi Pasukan Oranye Iklan TRUSTWORTHY NEWS