Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02272

Sebuah Kamp di Tengah Sungai (Pulau Kemaro, Palembang)

Licensed or copyrighted source: rights remain with the author or publisher. OCR transcription for scholarly research.

Cleaned OCR text (Good (0.951); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Di dekat dermaganya terdapat sebuah pagoda besar, Kelenteng Hok Cing Rio, dan makam Siti Fatimah. Menurut legenda, pulau itu menjadi saksi bisu kisah cinta Tan Bun An, seorang saudagar Tionghoa, dengan Siti Fatimah, seorang putri raya, yang meninggal dengan tragis di sungai itu. Pulau Kemaro kini jadi tempat wisata dan ziarah umat Buddha. Tapi, pada 1960-an dan 1970-an, pulau itu adalah kamp konsentrasi yang mengerikan bagi orang-orang PKI dan yang disangka komunis. Tim Ad Hoc Peristiwa 1965-1966 Komisi Nasional Hak Asasi Manusia mendapat kesaksian bahwa sekitar 30 ribu orang telah dibunuh dan hilang di provinsi itu, termasuk di pulau tersebut. Para korban dibiarkan mati kelaparan di kamp atau dibuang ke sungai. Menurut Suwandi, bekas guru di Bengkulu yang 12 tahun ditahan tanpa pengadilan di sana, pulau itu dulu dikelilingi pagar kawat berduri dan dijaga polisi militer. Dia ditangkap karena dituduh sebagai anggota PKI. Di dalam pagar itu berdiri beberapa barak dengan ruang-ruang seluas kamar mandi yang diisi banyak tahanan dari berbagai daerah di Sumatera, seperti Palembang, Jambi, dan Lampung. Penyiksaan oleh militer pada masa pemberantasan PKI tak hanya terjadi di Kemaro, tapi juga sejak para tahanan disekap di Pomdam Sriwijaya. Mochtar Effendy, bekas perwira Kodam IV Sriwijaya, disekap di sana selama belasan tahun karena dituduh komunis. "Saya lihat sendiri banyak tahanan yang diseret, disiksa, sebelum diangkut menuju Sungai Musi," kata kakek 84 tahun ini kepada Tempo, 17 September lalu. Dia kini mengelola Yayasan Rumah Sakit Islam Siti Khadijah di Palembang. "Katanya PKI itu tak bertuhan. Tapi, yang saya heran, mereka sendiri memperlakukan tahanan semaunya," ujar Mochtar, yang merekam pengalamannya selama ditahan dalam buku Perjuangan Mencari Ridha Tuhan: Catatan Tiga Zaman dari Balik Terali Penjara Rezim Tirani Suharto. Di buku itu dia menggambarkan bagaimana dirinya disiksa satuan tugas intel pada 1972, yang terdiri atas Capa Siahaan, Sersan Tindaon, dan seorang tentara lagi. "Akhirnya, dengan jawaban yang tidak mau mengikuti kehendaknya, Capa Siahaan marah. Dia dengan dua temannya mengeroyok aku dengan pukulan karate, dengan kayu, dengan karet, dengan kursi, setiap dia berbicara. Darah segar sudah memenuhi mukaku dan kepalaku," tulis Mochtar. Beberapa korban yang selamat dari penyekapan di Pulau Kemaro menyatakan pembunuhan besar-besaran terjadi pada akhir September dan awal Oktober 1966. Dalam tiga malam jumlah tawanan di sana berkurang dari ratusan orang menjadi 17 orang. Mayat-mayat itu diangkut dengan kapal motor dan dibuang di tengah sungai. Suwandi termasuk yang dapat bertahan hidup, tapi tawanan lain, "Ada yang dilaparkan. Ada juga yang disiksa sampai mati," ujar lelaki 71 tahun yang kini jadi tukang cukur di samping kantor Wali Kota Palembang itu, Rabu dua pekan lalu. Kini kamp-kamp itu telah lenyap. Semua bangunan sudah diratakan dengan tanah dan ditumbuhi semak belukar. "Di dekat pohon besar itu dulu ada bangunan bekas penjara, tapi sudah lama rusak ketika kami masih kecil," ujar Zulkifli, lelaki separuh baya yang bermukim di sana, seraya menunjuk sebuah pohon yang paling besar di pulau itu. Zulkifli hidup dengan bekerja mencari barang rongsokan di dasar sungai. Selain dia, ada beberapa keluarga lain yang tinggal dan menggarap beberapa petak sawah di sana. Edisi 1 Oktober 2012 Mingguan Edisi 2012-10-01 Mingguan Edisi 2012-10-01 PODCAST REKOMENDASI TEMPO MULTIMEDIA Iklan Razia Narkoba di Kelab Malam Jakarta Merayakan 53 Tahun Perjalanan Warkop DKI di Synchronize Fest Parade 43 Perahu dari Limbah Plastik Kreasi Pasukan Oranye Indonesia Girl Grup dalam Synchronize Fest 2026 Kekeringan di Bojongmangu, Kabupaten Bekasi Dari Punjab ke Medan: Perjalanan Komunitas Sikh Sampai Indonesia Cara Hanung Bramantyo Melahirkan Nyai Gowok Layar Tancap: Medium Baru Film Politik Pesta Grafiti dan Mural di Karanganyar Bagaimana Penganut Sikh Tiba di Tanjung Priok Satu Abad Lalu Razia Narkoba di Kelab Malam Jakarta Merayakan 53 Tahun Perjalanan Warkop DKI di Synchronize Fest Parade 43 Perahu dari Limbah Plastik Kreasi Pasukan Oranye Iklan TRUSTWORTHY NEWS