Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02301

Suara Lantang Dialita (Penghargaan Akademi Jakarta)

Licensed or copyrighted source: rights remain with the author or publisher. OCR transcription for scholarly research.

Cleaned OCR text (Good (0.949); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Kedua lagu itu adalah ciptaan tahanan politik 1965. “Salam Harapan” diciptakan Murtiningrum dan dinotasikan Zubaidah Nugcik R.A. Lagu itu tercipta di penjara Bukit Duri, Jakarta, pada 1967. Adapun lirik lagu “Ujian” dibuat oleh Siti Jus Jubariah, juga sebagai penyemangat ketika mereka ditahan di penjara Bukit Duri. Iklan Berkebaya merah dan berkain, mereka menyanyi di hadapan para undangan yang memenuhi ruangan. Panggung itu menjadi saksi torehan tinta emas prestasi para ibu anggota Dialita. Kelompok paduan suara yang berdiri pada 4 Desember 2011 ini meraih penghargaan Akademi Jakarta 2022 dalam kategori kelompok/komunitas atas sumbangsih pada dunia seni dan kemanusiaan. “Dialita adalah suara perempuan yang melantangkan ingatan dan peringatan agar bangsa Indonesia belajar dari masa lalu untuk lebih bijak mengelola perbedaan, dan berhenti melakukan kekerasan atas tubuh pertiwi,” ujar Melani Budianta, anggota Akademi Jakarta, saat membacakan narasi penghargaan, Rabu, 16 November lalu. Seno Gumira Ajidarma, Ketua Akademi Jakarta, menyerahkan penghargaan itu. Melalui nyanyian, mereka melakukan upaya rekonsiliasi atas peristiwa 1965 yang dilalui oleh mereka atau keluarga mereka dengan pedih. Sebagian harus dipenjara tanpa pengadilan. Ada juga yang keluarganya tercerai-berai, bahkan kehilangan orang-orang tercinta. “Bagi kami, bernyanyi itu upaya memulihkan luka batin, bermusik itu menguatkan, menyanyikan lagu-lagu karya dari balik jeruji besi sebagai penghormatan dan cinta kasih kepada orang tua kami,” ucap Uchikowati, ketua kelompok Dialita, saat menerima penghargaan. Mereka gembira mendapat penghargaan pertama dari lembaga di Indonesia. Upaya pemulihan dan perdamaian dengan masa lalu lewat nyanyian ini pula yang mengantar mereka meraih The Special Prize Winner of the 2019 Gwangju Prize for Human Rights dari May 18 Memorial Foundation, Korea Selatan, pada 2019. Yayasan ini menilai aksi saling dukung itu bukan sekadar upaya menyembuhkan diri. Lagu-lagu mereka juga menyampaikan pesan damai dan solidaritas serta harapan sehingga bisa mendidik bangsa ini, khususnya kaum muda, tentang masa lalu yang dilupakan. Dialita, yang merupakan akronim Di Atas Lima Puluh Tahun, bermula dari sekadar kegiatan penggalangan dana oleh anak-anak perempuan mantan tahanan politik yang sudah berusia 50 tahun ke atas. Saat berkumpul dan berkegiatan, biasanya mereka bernyanyi. Kebiasaan itulah yang mendorong mereka membentuk kelompok paduan suara yang mulanya hanya beranggotakan 11 orang. Mereka mengajak Martin Lapanguli, lulusan sekolah musik di Yogyakarta yang pernah dibuang ke Pulau Buru, Maluku. Kebersamaan mereka disatukan oleh nasib sebagai penyintas dan korban peristiwa 1965. Dua anggota Dialita, Utati dan Mujiati, pernah merasakan dinginnya penjara Bukit Duri sebelum dipindahkan ke kamp Plantungan di Kendal, Jawa Tengah. Anggota lain adalah anak-anak eks tapol yang mendapat stigma dan diskriminasi serta kehilangan orang tua. Selain itu, ada mantan anggota Ansambel Gembira yang terkenal pada 1960-an dan sering diundang ke Istana Negara, seperti Elly Runtu, Tuti Martoyo, dan Hartinah. Awalnya mereka menyanyikan lagu populer dan nasional. Tapi kemudian Utati, Mujiati, dan Sudiyami mengumpulkan lagu-lagu yang diciptakan saat berada di tahanan. Di antaranya “Salam Harapan”, “Indonesia Jaya”, “Tetap Senyum Menjelang Fajar”, “Ibu", “Ujian”, “Buruh Wanita”, dan “Relakan” yang diciptakan di penjara Bukit Duri. Dari Plantungan tercipta lagu “Taman Bunga Plantungan”, “Kabut Putih”, “Tanu Menggugah Hati”, dan “Aku Percaya”. Ada pula lagu yang tercipta dari penjara laki-laki di Salemba, Jakarta; dan Pulau Buru. Seiring dengan perjalanan lebih dari satu dasawarsa, Dialita telah menciptakan dua album, yaitu Dunia Milik Kita (2016) dan Harapan Kita (2020). Perjalanan paduan suara Dialita juga tertuang dalam film dokumenter Bangkit dari Bisu karya Shalahuddin Siregar pada 2016 dan Lagu-lagu untuk Anakku pada 2022. Dalam acara penyerahan penghargaan itu, mereka menghadiahkan dua album kepada Akademi Jakarta yang diterima Ratna Riantiarno. PIKRI RAMADHAN Dian Yuliastuti Memulai karier jurnalistik di Tempo sebagai koresponden di Semarang. Alumnus Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Diponegoro dan pascasarjarna Universitas Paramadina. Peserta program pelatihan Environmental Reporting IIJ/InWent di Berlin pada 2009. Kini mengelola des seni dan budaya