Arsip Langka Seniman Lekra Mia Bustam (Pameran Tunggal Biennale Jogja)
Licensed or copyrighted source: rights remain with the author or publisher. OCR transcription for scholarly research.
Cleaned OCR text (Good (0.943); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
Keenamnya terlihat kompak dan semringah dalam acara pembukaan pameran tunggal Mia Bustam. “Kami selama ini hanya melihatnya sebagai ibu. Ternyata sosoknya istimewa di mata banyak orang,” kata Sri Nasti Rukmawati, anak kedua Mia.
Iklan
Pada saat pembukaan pameran, ruang pamer karya Mia itu paling banyak disinggahi pengunjung. Mereka juga mengikuti acara diskusi yang menghadirkan enam anak Mia sebelum pameran dibuka.
Mia Bustam terlahir sebagai Sasmiati dan menikah dengan perupa S. Sujoyono, yang dijuluki Bapak Seni Rupa Modern Indonesia, hingga 1959. Sebagai anggota Lembaga Kebudayaan Rakyat atau Lekra, Mia pun menjadi korban tragedi 1965.
Ia mendekam di penjara Benteng Vredeburg sebagai tahanan politik dan kemudian di penjara Wirogunan, Yogyakarta; lembaga pemasyarakatan Bulu, Semarang; dan kamp Plantungan, Kendal, Jawa Tengah. Setelah hampir 14 tahun dibui, Mia bebas pada 27 Juli 1978. Ia menuliskan pengalamannya dipenjara itu dalam memoar Dari Kamp ke Kamp.
Potret keluarga karya Mia Bustam di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, 6 Oktober 2025. Tempo/Shinta Maharani
Biennale Yogya tahun ini secara khusus menyoroti sosok Mia. Kurator memperkenalkannya melalui berbagai arsip, foto, dan tulisan tangannya. Mereka juga memajang karya-karya Mia yang tersisa, seperti lukisan, sketsa, dan sulaman.
Presentasi ini bertolak dari tesis Astrid Reza di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, dengan topik “Memoar Mia Bustam: Melampaui Melankolia Kaum Kiri” (2025). Tim riset Biennale juga mengajak lima seniman Yogyakarta untuk merespons karya Mia.
Tesis Astrid membahas trilogi memoar Mia sebagai subyek utama penelitian. Ia menelitinya sejak 2019, yang ia mulai dengan menerjemahkan memoar Mia dari bahasa Indonesia ke bahasa Inggris. Direktur Yayasan Biennale Yogyakarta Alia Swastika lalu memintanya menjadikan tesisnya sebagai pijakan dalam pameran Mia Bustam.
Menurut Astrid, majalah Api Kartini edisi 10 tahun 1960 menggambarkan bahwa cita-cita Mia Bustam adalah mengadakan pameran tunggal. Sayangnya, impian itu tak pernah terwujud selama ia hidup. Ia diciduk pada 23 November 1965 di hadapan anak-anaknya dan kemudian dipenjara tanpa proses pengadilan hingga dibebaskan.
Dari situlah tim riset dan pameran yang terdiri atas Astrid Reza, Dyah Sumarno, Sylvie Tanaga, Alfian Widi, dan Balqis Nabila menggagas pameran tunggal Mia Bustam di bawah payung Biennale Yogya yang dikuratori Alia Swastika.
Tim memilih pendekatan rekonstruksi dan interpretasi atas arsip-arsip yang ada. Selain itu, mereka mereproduksi dokumen karya yang tersisa dan menggali narasi biografis serta sejarah personal Mia.
Astrid sering bertemu dengan anggota keluarga Mia selama melakukan riset. “Mia Bustam tahanan politik perempuan yang paling lengkap. Arsip dan tulisannya banyak,” ucap peneliti Ruang Arsip dan Sejarah Perempuan yang diinisiasi Ita Fatia Nadia itu.
Astrid mengungkapkan, tim riset menggodok pameran itu sebagai inisiatif solidaritas antar-generasi lintas disiplin untuk menghadirkan narasi seniman masa lalu dan menemukan konteksnya pada generasi hari ini. Mereka berkolaborasi dengan lima seniman Yogyakarta, yakni Awanda B. Destia, Kemala Hayati, Nadya Hatta, Nessa Theo, dan Chandra Rosselinni, untuk merespons karya Mia.
Lukisan Nessa Theo yang berjudul The Other Side of Melancholia, misalnya, menggambarkan sosok Mia yang dikelilingi delapan bocah. Adapun Chandra Rosselinni menampilkan proyeksi sosok Mia Bustam di balik tembok penjara pada gambarnya.
Karya itu terinspirasi dari memoar Mia, Dari Kamp ke Kamp. Chandra menggambarkan perempuan yang hanya terlihat separuh wajah penuh kerutan dan satu bola mata dari balik penjara. Adapun Kemala Hayati menciptakan rajutan untuk membaca ulang jejak perempuan dalam ruang seni dan kehidupan sehari-hari.
Suasana pameran tunggal seniman Mia Bustam di Benteng Vredeburg, Yogyakarta, 6 Oktober 2025. Tempo/Shinta Maharani
Selain menyajikan sulaman dan sketsa-sketsa sulam Mia, pameran itu memajang lukisan Mia yang berukuran besar yang menampilkan wajahnya di tengah wajah anak-anaknya dan Sujoyono. Lukisan itu tidak selesai karena Mia keburu ditangkap pada 1965.
Masih ada tiga bundaran kosong, yang dia rencanakan berisi wajah ibunda Sujoyono; anak sulungnya, Tejabayu; dan pelukis murid Sujoyono, Marah Jibal. Lukisan itu selama ini disimpan Sri Nasti di rumahnya di Depok, Jawa Barat.
Karya penting Mia lain adalah lukisan potret diri yang dibuat pada 1959. Dalam lukisan itu, Mia tampak mengenakan kebaya hitam dan rambut hitamnya disanggul. Bukit hijau, pohon, dan rumah menjadi latar belakangnya. Lukisan itu diciptakan Mia untuk membuat ulang lukisan potret dirinya yang hilang.
Lukisan yang raib itu pernah Lekra ikutkan dalam pameran keliling di Eropa Timur sebelum 1965. Menurut Astrid, saat pameran selesai, lukisan itu ditaruh di kantor sekretariat Lekra di Jakarta. Saat kekacauan 1965 terjadi, sekretariat Lekra digerebek dan lukisan itu hilang.
Dalam pameran ini, pengunjung juga bisa menyaksikan berbagai aktivitas Mia Bustam, seperti saat dia mengikuti Kongres Nasional Lekra pertama di Taman Sriwedari, Solo, Jawa Tengah. Mia juga pernah menulis surat kepada Kartika (Saptohudoyo) yang diterbitkan Harian Rakyat pada 27 Februari pada 1960 tentang usahanya mengumpulkan perempuan seniman.
Selama ditahan, Mia merawat tanaman untuk obat sebagai jamu buat para tahanan. Di ruang pamer itu ada foto Mia yang berkebaya sedang mengurus tanaman di kamp Plantungan. Ia menjadi juru taman di kamp itu.
Alia Swastika mengatakan karya Mia dan berbagai arsip itu menggambarkan Mia yang merasakan kehilangan karena keluarganya tercerai-berai akibat peristiwa 1965. Mia lalu menjadi penyokong utama keluarga dengan menjadi seniman, penyulam, penulis, dan penerjemah.
Masalahnya, dalam sejarah seni rupa di Indonesia yang maskulin, nama Mia Bustam, ujar Alia, sering kali tenggelam di bawah kebesaran nama Sujoyono, mantan suami Mia. Padahal Mia menjalankan berbagai kerja perawatan dalam kerja kolektif seni rupa. Dia juga menjadi ibu tunggal bagi delapan anak setelah berpisah dengan Sujoyono pada 1959.
Mia, Alia menjelaskan, punya peran penting dalam mendukung seniman muda dalam gerakan internasionalisme. Seniman-seniman itu ikut berpameran ke Cina dan negara-negara di Eropa Timur.
Majalah Api Kartini menulis bahwa Mia terdaftar sebagai anggota Badan Hubungan Kebudayaan Indonesia dan Uni Soviet. “Mia seorang perempuan Jawa yang visioner dan sangat kosmopolitan,” tutur Alia. ●
Shinta Maharani
Lulus dari Jurusan Ilmu Hubungan Internasional UPN Yogyakarta. Menjadi Koresponden Tempo untuk wilayah Yogyakarta sejak 2014. Meminati isu gender, keberagaman, kelompok minoritas, dan hak asasi manusia