Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02313

Saskia Wieringa: Diskriminasi LGBT Warisan Kolonialisme

Licensed or copyrighted source: rights remain with the author or publisher. OCR transcription for scholarly research.

Cleaned OCR text (Good (0.922); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Dalam struktur Koalisi Perempuan Indonesia, terdapat 15 sektor yang diakui. Bidang paling akhir dialokasikan untuk kelompok minoritas gender dan seksual. Keputusan itu muncul setelah melewati perdebatan internal yang serius antara kelompok feminis progresif dan organisasi perempuan konservatif. Pengakuan tersebut juga menjadi tonggak bersatunya isu feminisme dengan keragaman gender dan seksualitas. Iklan Perjalanan gerakan lesbian, biseksual, dan transeksual atau LGBT ini diulas lengkap oleh Saskia Eleonora Wieringa. Profesor emeritus hubungan sesama jenis lintas budaya di Universiteit van Amsterdam, Belanda, itu menulis buku A Political Biography of the Indonesian Lesbian, Bisexual and Trans Movement yang terbit pada 2024. Kini karya itu tersedia dalam bahasa Indonesia dengan judul Lesbian, Biseksual, Trans: Sejarah Gerakan Politik di Indonesia. Buku tersebut bisa dipesan di penerbit Komunitas Bambu hingga 3 Januari 2026. Tempo menggelar wawancara daring bersama Wieringa, yang memiliki izin tinggal permanen dan tinggal di Pasuruan, Jawa Timur. Dia menjelaskan sejarah panjang gerakan gender dan seksualitas hingga sebelum masa penjajahan. Berikut ini petikannya. Penulis buku "Lesbian, Biseksual, dan Trans: Riwayat Gerakan Politik di Indonesia", Saskia Eleonora Wieringa, di Yogyakarta, 8 November 2025. Tempo/Shinta Maharani Hubungan sesama jenis dan keragaman gender sangat diterima di beberapa tempat di Indonesia sebelum era kolonial. Ini berarti terjadi postcolonial amnesia. Orang melupakan adat tentang gender dan seksualitas sebelum Belanda atau Portugis masuk ke Indonesia membawa homofobia. Razia pertama terhadap gay dilakukan oleh kolonial Belanda. Saat Portugis menjajah Indonesia pada abad XVI, seseorang bisa ditangkap dan dibakar jika terlibat hubungan sesama jenis di Portugal. Di Belanda, gay dan lesbian bisa dipenjara atau dihukum mati. Belanda masuk dengan moralitas borjuis ke sejumlah pulau dan komunitas di Indonesia, yang di dalamnya ada pendeta trans yang sangat dihargai kelompoknya. Itu membuat orang Belanda berpikir perlu ada kristenisasi. Pada zaman Sukarno ada keterbukaan sedikit terhadap gay dan lesbian. Waria diterima. Ada beberapa organisasi waria, terutama di Jakarta. Sesudah 1965, terjadi fitnah terhadap Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani—organisasi perempuan di bawah Partai Komunis Indonesia. Fitnah itu sangat seksual. Katanya, mereka memotong kemaluan para jenderal yang dibunuh di Gerakan 30 September sambil menari erotis. Itu adalah the first sexual moral panic. Semua aliran progresif dilarang. Orangnya dibunuh, dipenjara, dan dipecat. Keterbukaan soal seksualitas juga dihentikan. Pada 1980-an, beberapa kelompok mulai bangkit lagi. Ada kelompok lesbian pertama. Persatuan Lesbian Indonesia Perlesin didirikan pada 1983 di Jakarta. Mereka organisasi kecil, tapi berani. Dari Perlesin, muncul kelompok-kelompok lain, seperti Swara Srikandi dan Chandra Kirana. Mereka belajar tentang diri mereka, mencari bantuan psikologis, dan saling bantu dalam mencari pekerjaan. Pada Desember 1998, ada Kongres Nasional I yang digelar Koalisi Perempuan Indonesia. Sekretaris jenderal dijabat oleh Nursyahbani Kacasungkana. Di sana, gerakan feminis menerima lesbian sebagai Sektor 15 yang diakui. Ini momen penting. Feminis secara terbuka mengatakan lesbian masuk gerakan feminis. Itu membuat hubungan lebih dekat antara feminis dan lesbian. Selama lima sampai enam tahun mereka tumbuh. Aku ikut memberi ceramah, seminar, serta workshop tentang teori gender dan seksualitas. Kelompok feminis jelas menentang patriarki. Lesbian melihat patriarki dan heteronormativitas—keyakinan bahwa heteroseksualitas sebagai satu-satunya orientasi seksual—sebagai musuh yang sama. Kelompok gay tidak selalu mengaitkan perjuangan mereka dengan perjuangan feminis melawan patriarki. Karena itu hubungan feminis-lesbian lebih gampang terjadi. Hingga 2010, mereka membangun jaringan nasional dan internasional, seperti International Lesbian, Gay, Bisexual, Trans, and Intersex Association (ILGA) serta Asian Lesbian Network (ALN). Beberapa orang pergi luar negeri bertemu dengan lesbian negara lain. Mereka mulai memahami bahwa seks dan gender itu cair, bukan biner. Prosesnya panjang dan sulit. Dulu banyak dikotomi butch and femme—peran maskulin dan feminin pada pasangan lesbian—sekarang generasi baru lebih cair. Ada yang androgini, tidak berlabel. Saskia Eleonora Wieringa Tempat dan Taggal Lahir: Kewarganegaraan: Pekerjaan: Karya tulis, di antaranya: Pada 2010, ada penolakan dari Front Pembela Islam (FPI) terhadap pertemuan ILGA di Surabaya, Jawa Timur. Setelah itu, ruang gerak lebih sempit. Mulai akhir 2015 timbul the second sexual moral panic. Isinya, kampanye politik-religius homofobik. Banyak organisasi LGBT harus menjual kantor mereka. Layanan seperti safe house dan konseling terhenti. Mereka masih eksis di media sosial, tapi sangat sulit bertemu fisik. Itu pertanyaan untuk ulama-ulama. Saya sendiri seorang muslim. Islam yang saya kenal itu progresif dan penuh kasih sayang. Ada kelompok seperti Gusdurian dan tokoh seperti Musdah Mulia yang mendukung LGBT serta melihat seksualitas dan gender itu cair. Namun itu masih minoritas. Negara cuma bisa maju kalau semua orang bebas berkembang tanpa diskriminasi. Banyak talenta terpendam karena takut diidentifikasi sebagai gay atau lesbian. Buka kembali diskusi terbuka, termasuk dialog dengan aktivis hak asasi manusia, serikat buruh, gerakan feminis, dan kelompok LGBT di universitas. Pengertian sangat penting untuk membangun solidaritas melawan opresi. Penting juga belajar dari sejarah bahwa keragaman gender dan perkawinan sejenis pernah diterima di Nusantara. Homoseksualitas bukan budaya impor. Kita perlu mengakui itu sebagai bagian dari sejarah kita. Saya berharap buku ini bisa kembali membuka diskusi. Diskusi dan solidaritas penting karena diskriminasi terhadap satu kelompok bisa meluas ke kelompok lain. Rasialisme, homofobia, dan semua ekspresi kebencian harus dilawan. Indonesia harus menegakkan Bhinneka Tunggal Ika, termasuk dalam urusan keragaman gender dan seksualitas. ● Savero Aristia Wienanto Bergabung dengan Tempo sejak 2023. Alumnus Fakultas Hukum Universitas Gajah Mada ini meneliti keragaman gender dan seksualitas. Ia juga menaruh minat dalam kajian filsafat Barat, antropologi, serta biologi evolusioner. Pernah menjadi penulis tamu di Universitas Islam Indonesia pada 2025. Aktif bermusik di sela liputan.