Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02314

Oka Rusmini: Merekam Luka Perempuan Penyintas Peristiwa 1965

Licensed or copyrighted source: rights remain with the author or publisher. OCR transcription for scholarly research.

Cleaned OCR text (Good (0.942); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Bermula dari cara pandang tersebut, Oka menggarap buku puisi tentang tragedi 65 dengan berfokus pada penyintas perempuan. Buku puisi tersebut dikerjakan selama enam tahun sebelum dirilis pada 28 Agustus 2026. Oka, alumnus Fakultas Sastra Universitas Udayana, memberi judul bukunya Kembang. “Bunga identik dengan keindahan, kelembutan, dan kerentanan yang ringkih,” katanya. Iklan Oka menuturkan buku setebal 140 halaman itu terinspirasi dari film dokumenter You and I (2020) karya sutradara Fanny Chotimah. Film tersebut merekam keseharian dua penyintas peristiwa 1965, yakni Kusdalini dan Karminah. Mereka menua bersama di Solo, Jawa Tengah. Keduanya telah meninggal pada 2017 dan 2018. Untuk membedah sisi retak sejarah perempuan penyintas tragedi 1965, Oka juga merujuk pada film dokumenter lain berjudul A Secret Love karya Chris Bolan. Ia juga menjadikan buku foto berjudul Pemenang Kehidupan karya Adrian Mulya dan Lilik H.S. sebagai rujukan. Ia mengatakan peristiwa 1965 merupakan kekerasan brutal yang terjadi dalam ruang-ruang privat. Selama satu jam, Oka bercerita di balik penggarapan buku terbarunya. Ia juga menjelaskan perbedaan dalam menulis kisah penyintas perempuan dan penyintas laki-laki. Menurut Oka, penyintas perempuan menghadapi trauma berlapis, yakni penyiksaan fisik sekaligus kekerasan seksual. Berikut ini petikan wawancaranya. Penulisan naskah bertumpu pada dialog batin mendalam dalam menyimak narasi lisan para perempuan penyintas yang kehidupannya direbut oleh stigma politik. Pengalaman pahit tersebut kemudian saya resapi menjadi kesadaran puitis. Sehingga, luka kolektif tidak hadir sebagai dokumentasi sejarah yang dingin, melainkan pergolakan rasa yang intim. ​ ​Pendekatan ini sengaja dipilih untuk menghindari sensasionalisme dan eksploitasi penderitaan yang vulgar. Sehingga, kekerasan masa lalu disublimasikan menjadi bahasa yang tenang, kontemplatif, sekaligus berdaya gigit. Saya mencoba mengeksplorasi tubuh dan ruang domestik ditempatkan sebagai medan kesadaran politik. Ingatan yang paling membekas bukan hanya jejak kekerasan fisik yang kasatmata, melainkan juga perampasan hak atas tubuh, reputasi, dan ruang hidup perempuan yang diselimuti oleh keheningan bertahun-tahun. Secara khusus, ada beberapa lapis ingatan trauma yang terasa sangat dalam bagi saya. Pertama, soal stigma dan penghancuran martabat. Ingatan tentang bagaimana tubuh perempuan dijadikan sasaran penghukuman sosial dan politik. Stigma yang ditempelkan Orde Baru tidak hanya menghancurkan kehidupan mereka pada masa lalu, tapi juga mengikat ruang gerak mereka hingga ke masa tua dalam keterasingan. Kedua, soal keheningan dan rumah sebagai medan tempur. Penyintas harus menanggung trauma hebat di balik tembok rumah yang sunyi, tempat mereka dipaksa diam tanpa ada ruang untuk membela diri atau menceritakan kebenaran. Tubuh perempuan dalam tragedi 1965 bukan sekadar saksi yang melihat kekerasan, melainkan medan tempur utama tempat kekuasaan, penindasan, dan stigma dituliskan secara paksa. Penggalian trauma yang berpusat pada tubuh perempuan dalam buku Kembang bertumpu pada beberapa alasan mendasar, yakni tubuh sebagai perekam ingatan paling jujur, ketika sejarah formal dan narasi penguasa bisa dimanipulasi, dihapus, atau dibungkam. Kemudian rasa sakit, kehamilan yang tidak diinginkan akibat kekerasan, rasa takut, hingga bekas luka fisik dan psikologis terpatri secara permanen dalam memori biologis serta kesadaran seorang perempuan. Bunga menyimpan simbolisme yang berlapis tentang keberadaan perempuan. Bunga sering diidentikkan dengan keindahan, kelembutan, dan kerentanan yang ringkih. Di balik keindahan yang tampak, kembang juga memuat daya tahan yang luar biasa. Dalam antologi ini, kembang menjadi metafora bagi perempuan penyintas yang, meski dipaksa patah dan dibungkam oleh stigma, tetap menolak punah dan terus merawat ingatan. Iya, saya semacam berhadapan dengan manusia nyata. Ia adalah Kusdalini dan Karminah, tokoh dalam film dokumenter You and I karya sutradara Fanny Chotimah. Film ini merekam keseharian dua penyintas peristiwa 1965, Kusdalini dan Karminah, yang menua bersama dalam kesahajaan di Solo. Memang saya sekadar meminjam tafsirnya. Tapi kita sendiri, sebenarnya tidak tahu bahwa masih banyak perempuan penyintas peristiwa 1965. Oka Rusmini Tempat dan tanggal lahir: Pendidikan: Penghargaan: Buku: Berkali-kali. Bahkan, saya menghubungi Fanny selaku sutradara film untuk meminta foto-fotonya. Saya juga terinspirasi dari foto berjudul Pemenang Kehidupan karya Adrian Mulya dan Lilik H.S. Tantangan terbesar adalah bagaimana aku membuat puisi ini benar-benar seirama. Saya berhati-hati dalam memilih judul. Jadi banyak peribahasa yang saya tanam di sana untuk mewakili perasaan mereka. Saya membutuhkan waktu yang panjang, dari 2020 atau sekitar enam tahun untuk merampungkan buku tersebut. ​Saya mengaburkan mereka dalam tiga sekuel: Tembang, Mambang, dan Sulang. Judul-judul tersebut sengaja dibuat dengan diftong (gabungan dua huruf vokal yang diucapkan bersamaan) /ng. Pembaca bebas menafsirkan mana yang Kusdalini dan mana yang Kaminah. Dalam judul puisi, seperti Tedung, Tulang, dan Kecundang, saya tidak lagi sekadar menulis: saya sedang berkabung. Saya membiarkan diri hancur bersama raga mereka agar bisa melahirkan narasi yang jujur. Dalam sejarah kelam sebuah bangsa, tragedi kemanusiaan menghantam laki-laki dan perempuan memiliki kedalaman luka yang berbeda. Perbedaan dalam menuliskannya bertumpu pada luka, stigma sosial, dan medan perlawanan melingkupi pengalaman hidup mereka. Menulis tentang penyintas laki-laki sering berhadapan dengan narasi kekerasan fisik, penahanan politik, atau pembunuhan massal di ranah publik. Sebaliknya, menulis tentang penyintas perempuan menuntut pemaknaan atas penghancuran martabat dan kontrol atas tubuh. Luka perempuan tidak berhenti pada fisik, tapi menjalar menjadi serangan seksual, perampasan hak reproduksi, hingga tempelan stigma moral. Dalam sajak berjudul Rengginang, saya mencoba merespons bagaimana penyintas perempuan dipermalukan seumur hidup: ah/kau begitu muda/kenapa ada di jeruji dingin ini/apakah kau ikut membunuh para jenderal/menari telanjang. Ketika sejarah hanya dibaca melalui narasi besar kekuasaan dan ideologi, yang terhapus adalah kemanusiaan di ruang domestik. Sehingga, tragedi 65 tampak steril dari penderitaan nyata. Padahal kekerasan paling brutal justru bekerja paling senyap dalam ruang-ruang yang lebih privat. Bangsa tersebut sedang melestarikan budaya impunitas dan mengkhianati masa depannya sendiri. Sebab, peradaban yang besar hanya bisa dibangun di atas fondasi kejujuran dan keadilan. Bukan di atas tumpukan amnesia kolektif yang merawat ketakutan secara turun-temurun. Generasi muda hari ini perlu membaca dan membicarakan tragedi 1965 bukan untuk mengenang dendam, melainkan agar mereka tidak tumbuh menjadi warga negara yang abai terhadap penindasan. Amnesia sejarah hanya akan melahirkan masyarakat yang mudah dikendalikan oleh ketakutan dan lupa cara merawat kemanusiaan. ● Yosea Arga Lulus dari Fakultas Ilmu Budaya Universitas Jenderal Sudirman, Purwokerto, Jawa Tengah pada 2017. Bergabung dengan Tempo pada Februari 2023 di desk gaya hidup. Kini menulis untuk desk wawancara dan investigasi. Chapbook puisinya berjudul yang papa dalam 35mm diterbitkan Penerbit Ramu pada Oktober 2024.