Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02691

Kartini, Jangan Biarkan Padam (Sulami, 2001)

Cleaned OCR text (Good (0.945); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

=== [PDF page 1] === 31 £5 sisters Perta 3323 Oleh: Sulami Pengantar: Yayasan Cut Nyak Dien === [PDF page 2] === [Photograph: portrait of a woman in Javanese dress] R.A. KARTINI === [PDF page 3] === Raden Ajeng Kartini: JANGAN BIARKAN PADAM disusun oleh SULAMI PENERBIT CIPTA LESTARI === [PDF page 4] === ASIA 126 2001 JANGAN BIARKAN PADAM Seri Kartini Penulis Sulami Kulit Buku Noor Manshur Tata Letak M. Nur Penerbit Cipta Lestari Jl. Pos Pengumben Prapatan Kelapa Dua No.2 Jakarta Barat - Telp. 924-3825 Cetakan Pertama, Maret 2001 Pengutipan tanpa izin tidak dibenarkan, kecuali untuk kepentingan keilmuan dan resensi. Memperbanyak buku ini dalam bentuk reproduksi apapun tidak diperkenankan. Hak cipta dilindungi undang-undang. All Rights Reserved === [PDF page 5] === SEPATAH KATA PENERBIT “Jangan Biarkan Padam” diambil dari sebaris kalimat di dalam puisi R.A. Kartini. Perjuangan emansipasi bagi kaum perempuan masih merupakan perjalanan panjang dan berat. Hal ini tentu saya bukan semata-mata disebabkan oleh dominasi kaum lelaki di berbagai hal dalam kehidupam berthasyarakat dan berproduksi, dan tidak pula untuk merendahkan martabat kaum perempuan. Akan tetapi sangat berkaitan dengan sebuah produk dari suatu sitem (kekuasaan) di suatu tempat kapanpun adanya. Perjuangan melawan belenggu penindasan terhadap hak-hak dan emansipasi kaum perempuan akan tumbuh dan bangkit, manakala tumbuh dan bangkitnya kesedaran dalam kebersamaan akan nasib kaum perempuan itu sendiri. Tindakan kekerasan, pelecehan seksual, poligami dan segala bentuk penindasan terhadap perempuan oleh kaum lelaki atau oleh siapapun juga yang memiliki dan merasa memiliki kekuasaan. Perlakuan sewenang-wenang terhadap buruh perempuan, terutama sekali menggunakan buruh wanita dibawah umur dengan upah yang tak layak adalah suatu tindakan yang amat kejam oleh pengusaha yang didukung oleh penguasa. Ini berarti sebuah tantangan besar dalam perjuangan kaum perempuan. ~ - Sikap dan tindakan R.A. Kartini, baik sebagai bentuk perlawanan terhadap sebuah sistem yang merendahkan martabat kaum perempuan maupun perjuangan untuk mendapatkan kebebasan dan hak-hak yang lebih luas bagi diri sendiri dan kaumnya, adalah merupakan teladan dan sekaligus perintis bagi perjuangan kaum perempuan Indonesia khususnya dan kaum perempuan pada umumnya. === [PDF page 6] === R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM Sejarah telah menunjukkan.bahwa peranan kaum perempuan dalam perjuangan revolusioner memerdekakan bangsa Indonesia ketika Revolusi Agustus 1945, adalah sangat besar. Demikian juga ketika berlangsung perang gerilya menghadapi agresi kedua oleh kolonialis Belanda. Baik kaum lelaki yang berada di garis depan dengan senjata di tangan maupun kaum perempuan yang berada di garis belakang, apakah sebagai penghubung, pencari data, bahkan bersama-sama menangani kesehatan dan logistik, mengharuskan adanya kerjasama saling bahu membahu tanpa membedakan jenis kelamin laki-laki ataupun perempuan. | Kita melihat berbagai keramaian baik di sekolahsekolah maupun kantor-kantor, tatkala memperingati Hari Kartini, bukan dalam bentuk tekad bersama untuk meneruskan nilai-nilai dan makna dari perjuangan Kartini. Akan tetapi lebih bersifat seremonial belaka dalam kegembiraan menampilkan kemampuan berhias diri. Memperjuangkan emansipasi dan hak-hak perempuan di berbagai bidang kehidupan adalah tugas bersama. Akan tetapi tercapainya kemenangan di dalam perjuangan itu, banyak tergantung pada kemampuan dan kekuatan kaum perempuan dengan secara sedar mengorganisasikan diri ke dalam sebuah barisan dan gerakan perjuangan kaum perempuan itu sendiri. Dalam kurun waktu sepertiga abad belakangan, perjuangan membela hak-hak kaum perempuan telah mengalami berbagai gempuran dan penindasan, maka adalah tugas dan kewajiban setiap patriot, khususnya kaum perempuan untuk terus mengobarkan api perjuangan. Jangan biarkan padam!: Jakarta, Maret 2001 Penerbit. === [PDF page 7] === KATA PENGANTAR Penulisan tentang Raden Ajeng Kartini dan perjuangannya telah dilakukan oleh beberapa penulis. Sebagian besar penulis mendasarkan tulisannya pada surat-surat yang ditinggalkan Kartini. Surat-surat Kartini menjadi dokumen yang penting untuk mengetahui perjuangan Kartini pada waktu itu. Sehingga orang yang tidak hidup di zaman Kartini, dapat menyimak pergolakan pemikiran dan tindakan-tindakan yang dilakukan Kartini. Semakin banyak penulisan tentang Kartini, akan semakin banyak juga pemikiran Kartini yang dapat diungkap. Tokoh Kartini menjadi penting dalam pergerakan kebangsaan Indonesia, karena Kartini tidak hanya berbicara tentang nasib kaum perempuan. Tetapi, Kartini juga mengikuti perkembangan pergerakan kaum muda bangsanya. Keluasan wawasan Kartini yang membuatnya menjadi mengerti bangsanya berada dalam cengkeraman Belanda pada akhir abad ke-19. Hal ini tidak dinampakkan dalam penulisan sejarah bangsa Indonesia. Selama ini yang diketahui oleh masyarakat, bahwa Kartini pejuang emansipasi perempuan. Hal ini tidak. salah sepenuhnya Tetapi yang harus disadari oleh mereka yang mendalami masalah perempuan dan tentunya pemerhati sejarah Indonesia, adalah terjadinya penyembunyian fakta sejarah bahwa sebenarnya Kartini juga memperhatikan nasib bangsanya. Penyembunyian fakta sejarah ini tidak terlepas dari kepentingan politik si penulis sejarah, yang sebagian besar didominasi oleh sejarawan laki-laki. Akibatnya, ide-ide Kartini yang cukup maju pada saat itu, tiodak sampai pada | Peierasi muda pada tahun-tahun berikutnya. Keunggulan Kartini dibandingkan para aktivis perempuan pada zamannya terletak pada surat-surat yang ditinggalkannya. Dokumen tertulis tersebut sangat punting, karena dapat membawa pemerhati dan aktivis perempuan memahami vii === [PDF page 8] === perjaangan panjang yang dilakukan Kartini hingga ajal menjemputnya. Melalui surat-surat tersebut, Kartini dapat berbicara banyak tentang keprihatinannya pada nasib kaumnya maupun bangsanya. Tulisan Kartini ternyata membuat khawatir pemerintah Hindia Belanda. Sehingga keinginannya untuk melanjutkamn pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, digagalkan oleh pemerintah. Surat-surat tersebut juga berbicara kepada kita tentang penderitaan, rintangan yang dialaminya dan semangatnya untuk membela nasib bangsanya. Pendapat dan pengalaman Kartini sangat menyemangati kaum perempuan generasi selanjutnya. Hal ini diakui oleh Kongres Perempuan Indonesia pada tahun 1928. Tulisan Kartini menggugah kaum perempuan (khususnya di Jawa) untuk bekerja-sama dalam wadah Kongres Perempuan Indonesia. Belajar dari pengalaman Kartini, sudah waktunya perempuan berbicara tentang hal-hal yang terjadi padanya. Dengan demikian, perempuan dapat melepas keterbungkaman “suara” nya denganbanyak menuliskan ide, pengalaman dan pendapatnya sendiri. Kaum perempuan tidak membutuhkan corong dari pihak lain yang dapat menyembunyikan ‘suara’ perempuan demi kepentingan-kepentingan tertentu. Ibu Sulami sebagai salah satu pelaku sejarah telah menuliskan pendapatnya tentang Kartini. Besok atau lusa mungkin kita yang akan berbicara tentang pendapat dan pengalaman kita agar suara perempuan semakin nyaring terdengar dan menggugah semangat kaum perempuan untuk semakin giat membela hak-hak perempuan. Semakin banyak perempuan yang bersuara, akan semakin banyak juga fakta-fakta sejarah perempuan yang dapat digali: Jakarta, 1 April 2001 Yayasan Cut Nyak Dien Vili === [PDF page 9] === DAFTAR ISI SEPATAH KATA PENERBIT - v PENGANTAR - vii DAFTAR ISI - ix PENDAHULUAN - 1 ARUS ZAMAN -3 PERIODE AWAL KEMERDEKAAN -17 KEMBALI KE KOTA -21 === [PDF page 10] === Rukmi i- Kardinah tin : Kar Tiga serangka » Te pena 4 Tin. GERI, A. Kart. Makam R === [PDF page 11] === PENDAHULUAN Sebuah catatan dari suatu perjalanan Gerakan Perempuan Indonesia selama 50 tahun Indonesia Merdeka. Catatan ini serba singkat, setidak-tidaknya bisa dijadikan bahan renungan. Untuk sampai pada zaman kemerdekaan, dimulai dari perjalanan singkat kehidupan R. A. Kartini yang telah banyak diketahui buat perjuangan untuk memajukan kaum perempuan dan bangsanya. Dari tengah tembok feodalisme itulah api emansipasi dinyalakan. Meskipun hanya sebatas puteri kelas menengah. Percikan nasionalisme telah berpijar-pijar. Seolah-olah memberi lentera pada bangsanya yang masih terlelap, untuk bangkit berjuang melawan penjajah. Kartini yang lahir pada tanggal. 21 April 1879 dalam usia dewasanya telah banyak membaca buku-buku dari Eropa. Salah satu diantaranya adalah karya tokoh perjuangan buruh August Bebel yang berjudul “Die Frau und der Sosialismus”. Bertahun-tahun Kartini membaca dan mempelajarinya, mengendapkan dan menyimpulkan menjadi ide cemerlang. Dari pengalaman pribadi, pendidikan, membaca bukubuku, surat kabar luar negeri serta hubungan suratmenyurat dengan teman-temannya, maka konsepsinyapun menjadi matang, untuk membela kaumnya yang menderita. Ingin membebaskan kaumnya dan dirinya sendiri dari belenggu feodalisme. Sebenarnya hal ini telah tersebar dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang”, - akan tetapi belumlah terserap ke seluruh kaum Perempuan Indonesia. Sudah banyak yang mengerti, tetapi belum banyak yang mau menekankan “Kartini dan Sosialisme”. Meskipun Kartini baru bisa mendirikan Sekolah Kartini di Jepara dan Rembang, tetapi ide-idenya yang bersumber pada sosialisme telah merambah ke seluruh Jawa, melalui pikiran dan tulisan-tulisannya. Fikiran-fikiran Kartini itulah yang mengantar kaum Perempuan Indonesia ke kancah perjuangan emansipasi === [PDF page 12] === 2 R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM dan sarat dengan muatan Nasionalisme dan Kemerdekaan. Catatan 50 tahun dalam arus zaman Kemerdekaan dan pembangunan ini mengemukakan periode Kartini dimana pijar-pijar kebangkitan Nasionalisme mulai tampak dati periode dimana perempuan Indonesia tegak mandiri berjuang bersama-sama kaum lelaki untuk merebut kemerdekaan Nasional. Tegak mandiri dan ikut serta mengisi Kemerdekaan itu. Yaitu periode awal kemerdekaan. Kemudian sampai pada Orde Baru, bagaimana kaum perempuan diterpa arus zaman dan terseret hanyut di dalamnya. Zaman modernisasi, zaman iptek, zaman pembangunan, zaman elit, yang serba gebyar sampai pedesaan tak luput dari erosi arus zaman sekarang. Meskipun serba singkat, bahkan mungkin juga serba dangkal, tulisan ini diharapkan dapat memberikan sumbangan pemikiran bagi perjuangan ke masa depan kaum Perempuan Indonesia. Selain itu saya sajikan sebuah tulisan yang meskipun sudah empat belas tahun silam, ternyata saya kira masih memiliki relevansi dengan keadaan sekarang. Tulisan tersebut adalah karya Yulia I Suryakusuma yang dimuat di dalam majalah Prisma No. 7 th. 1981. Kami lengkapi dengan siaran R.C.T.I. tanggal 8 Juli 1995 tentang pulau terpencil di N.T.T. — yang rakyatnya terbiasa mandi hanya empat kali dalam satu bulan. Selain itu pula, ada racikan singkat dari seminar sehari tentang “Perempuan dan Kemerdekaan” — Dialog sehari tentang perkosaan: Yang diprakarsai oleh Kalyana Mitra, seminar yang diadakan oleh Ikatan Peminat dan Ahli Demografi — bekerjasama dengan Kantor Menteri Negara Kependudukan — (dimuat Kompas tgl. 28-11-1995). Masalah perkosaan dilengkapi dengan berita-berita dalam Kompas. Dan hasil pengamatan di sebuah warung nasi selama tiga tahun, catatan sementara setelah terjaring 40 problem hidup, dan pandangan awam kaum lelaki tentang emansipasi. Mudah-mudahan tulisan ini ada guna bagi kita kaum Perempuan. Penulis === [PDF page 13] === R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM ARUS ZAMAN FEODALISME DAN PENJAJAHAN. Kartini dengan penanya menuangkan pikiranpikirannya. R. A. Kartini menghendaki kaumnya berkata: “Tidak!”, bila mereka tidak mau. R. A. Kartini menyerukan semboyan dua patah kata: “Hanya dua patah kata. Tetapi telah mendukungku”. Juga dalam sajaknya yang termuat di dalam buku “Habis Gelap Terbitlah Terang” — berseru: Maju terus! Yang tidak berarti Tidak menang Menerjang tiada gentar! Maju terus! Berani menangani Dan, orang-orang yang berani Akan menguasai”. Itulah Kartini yang besar jiwanya dan jernih pikirannya. Kata-kata tajam indah untuk pondasi membangun masa depan. Ikutilah lantunan kata-kata indah ini terus mengalir dalam KARTINI MEMBANGUN BANGSANYA. === [PDF page 14] === 4, R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM Sebagaimana telah kami utarakan terdahulu, hampir seluruh bangsa Indonesia, laki-laki dan perempuan sudah mengetahui riwayat R. A. Kartini, tetapi makna dan isi dari kata-kata Kartini yang ditulis pasti belum semua mengerti, baik yang di kota maupun yang di desa. Khususnya bagi kaum Perempuan sendiri, oleh karena itu tidak ada salahnya bila hal itu kami tulis disini, walau serba singkat. Mengulangi tulisan dan mengulang baca riwayat seorang pahlawan besar, tidak jelek dan tidak pula rugi. Kita sudah sama-sama mengerti, bahwa R. A. Kartini seorang puteri bangsawan pada zaman Belanda, ialah puteri R.M. Adipati Arya Sastraningrat, Bupati Jepara, Jawa tengah. Dilahirkan pada tangga 21 April 1879, di desa Mayong Jepara. | « Zaman penjajahan Belanda merupakan zaman gelap gulita bagi kaum bumi putera, bangsa Indonesia. Kehidupan rakyat amatlah sengsara. Ditindas dan diperas melalui kerja-paksa, bayar upeti, upah kerja yang tidak memadai, penarikan pajak yang berat, rakyat menjadi miskin dan kemaksiatan merajalela. Adat kolonial membelenggu dengan melaksanakan peraturan-peraturan yang membedakan antara bangsa kulit putih — Belanda — dengan bangsa kulit coklat, orang-orang bumi putera bangsa Indonesia. Di lapangan pendidikan orang-orang bumi putera tidak boleh masuk ke sekolah-sekolah bersama bangsa kulit putih, bila orang tuanya tidak berpenghasilan tinggi atau mendapat izin dari Gubernur Jenderal Hindia Belanda. Di lapangan kepegawaian bangsa kulit putih mendapat upah lebih besar daripada orang-orang bumi putera dan bangsa bumi putera dilarang keras menggunakan bahasa Belanda dalam pekerjaannya. Di lapangan politik orang-orang bumi putera tidak mempunyai hak memilih dan dipilih untuk duduk di dalam dewan-dewan perwakilan atau perkumpulan-perkumpulan. === [PDF page 15] === R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM 5 Dalam keadaan gelap dan kejam inilah R. A. Kartini dilahirkan. R. A. Kartini puteri seorang Bupati zaman Hindia Belanda, yang mempunyai pandangan luas dan maju, maka semua putera dan puterinya dimasukkan sekolah Belanda di Jepara. Pada masa kanak-kanaknya sampai R. A. Kartini berusia duabelas tahun merasa sangat berbahagia, karena dapat mengenyam pendidikan sekolah seperti saudarasaudara laki-lakinya. Hal ini bukanlah hal yang biasa, karena pada zaman itu, sekolah buat wanita masih tabu. Terra incognita!!! Tetapi betapa sedih dan hancur R. A. Kartini, tatkala tiba-tiba ia harus berpisah dengan teman-teman sekolah dan gurunya. Karena R. A. Kartini harus masuk dalam pingitan atas perintah ayahandanya yang tercinta dan sangat dimuliakannya. Adat kuno tak dapat ditawar-tawar. Laksana mutiara, putih berkilau air mata gadis remaja itu berderai membawahi pipi halus mulus cantik jelita. Raden Ajeng Kartini dipingit semasa pikirannya mulai berkembang. Tatkala daya penglihatannya yang tajam merekah, menghayati kehidupan lingkungannya. R. A. Kartini dirantai oleh pingitan feodal dan dibelenggu oleh kolonial. Memang Kartini tak berdaya di dalam sangkar gedung Kabupaten yang megah. Itu secara badaniah. Tetapi, jiwanya apinya, semangatnya tidak dapat dibelenggu. Suatu anugerah Ilahi telah menjelma pada izin ayahnya, yang memperkenankan puteri pingitan itu untuk membaca buku apa saya, dan menulis kepada temantemannya baik di dalam negeri maupun luar negeri. Sangat terpuja rahmat dari Tuhan Yang Maha Esa! Sungguh luar biasa! . Dalam perjalanan hidupnya, selama empat tahun di dalam pingitan, R. A. Kartini dengan daya pikir yang sangat cerdas, tajam, hidup dan dengan pengetahuan berbahasa Belanda-berhasil mereguk dan menepisi buku- === [PDF page 16] === 6 R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM buku ilmu pengetahuan, novel, roman, puisi, ulasan tentang pergerakan wanita, bahkan juga buku-buku mengenai kemajuan wanita Eropa. Seri buku Multatuli yang tidak kurang dari 40 jilid-pun telah dilahapnya. Bahkan karya seorang pemimpin buruh August Bebel yang berjudul “Die Frau und der Sosialismus” dibacanya. Ilmu pengetahuan yang didapatkannya dari buku-buku dan dari surat-surat dengan teman-temannya bangsa Eropa senantiasa dipadukan dengan kehidupan bangsanya yang sengsara dan tertindas. Kemajuan wanita Eropa selalu dibanding-bandingkan dengan kehidupan wanita bangsanya yang masih terbelakang, terjerat oleh adat kolot, terbelenggu oleh kemiskinan, kebodohan dan ketakutan. Wanita (Jawa lapisan atas) bangsanya yang tak berani beranjak, tak dapat bangkit dan berdiri sendiri. Wanita bangsanya yang pasrah dan menyerah untuk dijadikan benda hiasan dalam sistim perkawinan poligami yang semakin merajalela. R. A. Kartini menentang poligami. R. A. Kartini menentang kebodohan, kepasrahan, keterbelakangan dan ketergantungan. Swarga nunut, neraka katuf!/! (ke surga turut, ke neraka ikut) R. A. Kartini menghendaki kaumnya maju, berpendidikan, terampil dan berdiri sendiri tanpa menggantungkan nasibnya pada orang lain. R.A. Kartini menghendaki kaumnya berani berkata: “Tidak!!!” bila mereka tidak mau..... Raden Ajeng Kartini menyerukan semboyan duapatah kata Hanya dua.patah kata. Tetapi telah mendukung. Melampaui kesulitan bergunung-gunung. Dua patah kata. Saya mau! === [PDF page 17] === R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN. PADAM 7 Telah mendorong semangatku Mencapai puncak gunung berapi Kobarkan api itu! Jangan biarkan padam! Melalui gending ginonjing Dari pendapa Kabupaten Jepara Tetapi jerit tangisnya Bangsaku, rakyatku yang ketakutan Suara yang suci bersih Membawaku ke udara biru tipis membuih Menarik ke awan lepas Dengan bintang-bintang cemerlang Kemudian memasuki Lembah gelap jurang dalam menganga Kemudian rimba belantara Yang tak terlalui olehku Kartini Membangun. Jangan, jangan berkata: “Saya tidak dapat” — Itu perkataan yang mematahkan semangat. Berkatalah “saya mau”.: Dengan perkataan “Saya mau”-terkandung di dalamnya suatu tekad untuk berjuang mencapai cita-cita. “Berjuang sampai menang” Semangat membangun R. A. Kartini dinyatakan di dalam surat-suratnya. Telah diikutinya Pameran Nasional Karya Wanita di Negeri Belanda dengan mengirimkan barang-barang kerajinan tangan, ukiran Jepara, anyaman, batik dan sulaman. Ditulisnya mengenai batik, kesenian dan kehidupan wanita Indonesia yang masih dijajah. Terus belajar melukis, menggambar, mengukir, menyulam, merenda memasak === [PDF page 18] === 8 R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM dan menginnginkan sekali sekolah guru dengan tujuan untuk disebar luaskan kepada kaumnya. Beliau katakan, bahwa pekerjaan segala macam seni adalah merupakan puisi kehidupan suatu bangsa. R. A. Kartini menyatakan bahwa “kerja” adalah nafasnya. Untuk kemajuan bangsanya Raden Ajeng Kartini menyatakan: “Hendaknya mendapat pendidikan, tetapi bagaimana mungkin dapat mendidik bila anak-anaknya 25?!” - Pernyataan ini berarti beliau telah memikirkan Keluarga Berencana. Beliaupun menentang semboyan: “Ana nyawa, ana upa” — “ada nyawa ada rejeki”. Karena beliau berpikir, bahwa tanpa pendidikan tidak akan dapat mencapai cita-cita. Menjadi bangsa Indonesia yang maju. Tentang kekuasaan R. A. Kartini menjawab pertanyaan temannya: “Banyakkah kekuasaan ayahmu?”. Dijawabnya: “apakah arti kekuasaan itu sebenarnya?. Pengaruh besar memang ada pada Ayah, tetapi kekuasaan sesungguhnya ada pada yang menjajah”. Betapa jernih pandangan Kartini yang hidup dalam peralihan abad ke sembilan belas ke abad dua puluh, tentang Belanda yang menjajah dan rakyat Indonesia yang dijajah. Sungguh lantang seruan R. A. Kartini. “Maju terus! Yang tidak berani Tidak menang. Menerjang tiada gentar” berani menangani dan, orang-orang yang berani akan menguasai” Surat-surat Kartini membawa pembacanya ke dunia perjuangan. Batin seorang anak perempuan muda yang === [PDF page 19] === R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM 9 gairah hidup dan cita-cita mulia. Runtuhnya tembok pingitan membuat hidup Kartini jatuh bangun dalam sangkar emasnya. Bila badai menerjang, ombak pantai Jepara menggulung, Kartini jatuh terhentak karenanya. Ayahandanya berkata: “Tidak — berarti Kartini bersama Rukmini, adiknya, tak dapat dilanjutkan ke sekolahnya. Angin sejuk dengan lembut menyapu wajah sayu. Mengiba dan menjerit memohon pertolongan “Selamatkan aku. Kobarkan api semangatku, Stella: Ibu! Ibu Abendanon! Ibu Mies! Ya, Tuhanku “. Semangat baru merayapi sanubarinya. Berkilat-kilat bagai emas smulia. Bangun, tegak kembali. Sebuah nota yang menggetarkan tersusun rapi dengan bahasa Belanda yang tanpa cela dihinggapkan-ke hadapan Gubernur Jenderal Pemerintah Hindia Belanda. Dua orang gadis bangsawan, Kartini dan Rukmini menanda tangani. Suara nota telah memperdengarkan diri bahwa, “Hampir tidak ada surat kabar atau majalah yang tidak memuat sesuatu tentang Hindia Belanda. Tanah yang kaya, tanah orang Jawa, yang berhak akan kekayaan Tanah-airnya”. Kedua puteri meminta diadakan pengajaran untuk anakanak dan perempuan bumi putera. Kartini berkata: “Sekarang saya diuji. Saya ini dapat berbuat apa? Tidak ada sesuatu yang terlalu pahit, terlalu berat, terlalu keras bagi kami, apabila kami dengan perbuatan itu dapat membantu sekelumit pembangunan tugu peringatan yang indah, yaitu: “kebahagiaan bangsa”. Suara rakyat adalah suara Tuhan”. Kewajiban berat yang saya hadapi adalah benar-benar berat. Tetapi jika dapat saya laksanakan dengan baik, maka saya telah berbuat kebajikan. Hendaknya menjadi rahmat, menjadi pohon besar yang rindang, tempat orang banyak berlindung. Demikian harapan orang-orang tua yang === [PDF page 20] === 10 R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM segala yang baru. Ingatlah, bahwa semua yang sekarang sudah tua juga pernah baru. Perjalanan hidup bagaikan air mengalir. “Habis Gelap Terbitlah Terang”. Bila nasib celaka tak terelakkan. Pasti! Sesudah itu ‘ Tak boleh tidak Akan dating kemenangan!”. Menderu bagaikan laut Selatan berita perkawinan R. A. Kartini pada tanggal 8 Nopember 1903. Raden Adipati Jaya Adiningrat, Bupati Rembang telah menjadi suami sepaham, secita-cita untuk memajukan bangsasnya. Karenanya, “Betapa bahagia hidup ini, sayap saya tidak akan dipotong, bahkan sebaliknya akan menjadi lebih besar dan kuat, sehingga dapat saya kembangkan lebih lebar”. Karena kekecewaan dalam jalan hidup mengejar citacita, maka Kartini telah mengakhirinya dengan perkawinan atas pertimbangan suami yang sepaham akan dapat mendukung cita-citanya. Ibarat pepatah jangan sampai “harapkan burung terbang tinggi, punai ditangan dilepaskan”. Kebahagiaan yang teramat indah dalam hidup akan dating. Tepat pada tanggal 13 September 1904, seorang bayi laki-laki lahir. Namun, empat hari kemudian, dengan tiba-tiba Raden Ajeng Kartini dipanggil kehadapan Tuhan Yang Maha Kuasa. Raden Ajeng Kartini telah wafat meninggalkan semua yang dicintainya. R. A. Kartini telah tiada. Wafat dalam usia 25 tahun. Dalam sejarah hidupnya yang singkat, R. A. Kartini telah melaksanakan tugasnya dengan senjata penanya yang ampuh. Beliau telah menjadi juru bicara sesamanya melalui === [PDF page 21] === R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM 11 penanya. Harta benda yang paling disayanginya, sebagai telah dikatakan olehnya: “Rampaslah semua harta benda saya, asalkan jangan. pena saya!”, Kartini tidak menyesal tidak berumur panjang, karena Ia telah memeras seluruh hidupnya untuk menyatakan semangat zamannya. Telah berhasil merintis berdirinya sekolah wanita bangsanya. Kartini meninggal dengan bahagia seperti yang sebelumnya telah ditulisnya kepada Nyonya Abendanon: “Walaupun saya tidak beruntung sampai ke ujung jalan itu, walaupun saya akan patah di tengah jalan, saya akan mati dengan bahagia. Jalan telah terbuka dan saya telah turut merintis jalan yang menuju kebebasan dan kemerdekaan Perempuan Bumiputera!”. .Setelah Kartini wafat, ternyata bukan hanya impian emas juwita belaka, tetapi menjadi kenyataan. Belum sampai duapuluh tahun, berangsur-angsur melalui perjuangan Nasionalisme yang kuat, Bangsa Indonesia mengalami kebangkitan. Pejuang-pejuang anti fasis bergerak melawan tentara pendudukan Jepang. Dengan tekad bulat seluruh rakyat Indonesia melawan penjajah. Tentara pendudukan Jepang dan penjajah Kolonial Belanda. Bangsa Indonesia telah berhasil. memproklamasikan Kemerdekaan Indonesia pada tangga 17 Agustus 1945. Rawe-rawe rantas, malang-malang putung, meletus Revolusi Agustus 1945. Lahir Negara Republik Indonesia, dengan Undang-undang Dasar 1945 berdasarkan Pancasila. Berkibarlah sang Saka Merah-putih di seluruh pelosok Nusantara.. Patahlah semua rantai penjajah selam 350 tahun. ‘ Kehendak zaman telah menghapus habis jasad Kartini, tetapi semangat Kartini tetap menjiwai kaum perempuan Indonesia, masa kini dan masa mendatang untuk maju di semua bidang. Membangun negara dan bangsa Indonesia. Menciptakan masyarakat yang adil dan makmur. === [PDF page 22] === R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM 12 joadiningra Adipati Joy inya (R R.A. Kartini bersama suam === [PDF page 23] === 13 Periode Awal Kemerdekaan. Bagai kuda lepas dari kandangnya, bangsa Indonesia merasa bebas dari belenggu baja. Seluruh rakyat, kota desa, lelaki dan perempuan berjuang untuk kemerdekaan. Pekik “Merdeka” berkumandang di seluruh pelosok tanah air. Tiap pemuda, bila bertemu dengan temannya meneriakkan pekik “Merdeka!” sambil mengepalkan tangannya. Menghadapi serangan Belanda yang berusaha menjajah Indonesia kembali merupakan lapangan perjuangan bersenjata rakyat Indonesia. Front terdepan yang terkenal adalah Bandung, Surabaya, Semarang, Jakarta sebagai pusat persenjataan dan pemicu perjuangan melawan Belanda — Inggeris dan Amerika. Agresi Ke-I dan Ke-II mnertipaka puncak kebiadaban penjajah. Namun pemerintah Republik Indonesia yang dipimpin Bung Karno dan Bung Hatta tidak jatuh ke dalam jerat penjajah. Rakyat Indonesia melanjutkan perlawanan dengan taktik perang gerilya. Rakyat pedesaan mempunya andil yang besar. Mereka bersedia menampung para pengungsi penduduk kota dan siap siaga membantu Tentara Gerilya yang bermarkas di desa-desa. Dalam perjuangan nasional ini kaum perempuan tidak ketinggalan. Ternyata perjuangan ini tidak mengenal jenis kelamin. Yang ada hanya pembagian kerja dan kemampuan, Baik kemampuan fisik maupun kemampuan berpikir. Tidak ada persaingan === [PDF page 24] === 14 R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM dan tidak ada perbedaan atau diskriminasi. Yang ada hanya pikiran bagaimana bisa bekerja-sama yang baik untuk menggempur musuh. Seolah-olah ikatan adat feodal, ikatan yang mengekang kaum perempuan sudah tidak ada. Masyarakat sibuk mengurus hidupnya sendiri di tengah perjuangan. Seolah-oleh kaum perempuan bisa merasakan kebebasan bergerak, kebebasan menentukan nasih sendiri. Tumbuh rasa mandiri. Berani mengatakan “Tidak”, bila memang tidak setuju. Inilah bibit yang tumbuh di hati sanubari perempuan pejuang. Tegak, mandiri, berani menentukan nasib sendiri. Dengan sadar mengerti akan makna perjuangan emansipasi. Mengerti bahwa kaum perempuan adalah bagian dari kekuatan masyarakat yang berarti. Jadi bukan sekedar “embel-embel”, atau warga negara nomor dua setelah kaum lelaki. Sebagai sesama kekuatan masyarakat tentu sama derajat antara kaum lelaki dan kaum prempuan. Dengan demikian perjuangan kaum prempuan untuk emansipasi itu, bukan berarti perjuangan kaum perempuan melawan kaum laki-laki. Yang diperjuangkan kaum perempuan adalah kemerdekaan nasional. Hapusnya penindasan kaum feodal dan kaum kolonial, kapitalis. Yang ini harus dilakukan oleh kekuatan seluruh rakyat, termasuk kaum perempuan. Sebenarnya, yang menciptakan diskriminasi antara perempuan dan laki-laki sebagai kekuatan nasional itu adalah feodal, kolonial dan kapitalis. Tatanan masyarakatnya atau cara produksinya masyarakat feodal, kolonial dan kapitalis sangat merendahkan, menghinakan martabat kaum perempuan, terbukti dengan merebaknya pelacuran alias perdagangan seks lengkap disiapkannya lokasi resmi dan bordil-bordil tidak resmi. Seperti perdagangan makanan, siapa lapar, mungkin kelaparan boleh beli dan makan sekenyangnya. Cocok sekali dengan === [PDF page 25] === R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM 15 teori “segelas air” — A. Kollontay. Pada awal kemerdekaaan itu Bung Karno telah menulis buku tentang hal ikhwal gerakan perempuan berjudul “Sarinah”. Meskipun ada yang tidak menyetujui “Sarinah”, paling tidak penulis telah memberi wawasan kepada kaum perempuan yang baru saya bebas dari belenggu penjajahan. Karena perempuan yang belum mengerti tentang gerakan perempuan sedunia telah diperkenalkan dengan tokoh perempuan sedunia. Gerakan Feminis di Eropa yang hanya menentang dominasi kaum laki-laki: dan diharapkan kaum perempuan tidak mencontoh gerakan feminis sedunia. Revolusi Agustus 1945 telah memberi pelajaran maha besar, bahwa hakekat perjuangan kaum perempuan Indonesia adalah tidak berbeda dengan.kaum laki-laki, ialah untuk pembebasan rakyat seluruh negeri. -— Bagi perempuan sendiri perjuangan itu belum selesai, karena masih dibelenggu oleh diskriminasi antara hak-hak perempuan, masih banyak terdapat dominasi kekuasaan kaum laki-laki di dalam rumah tangga dan masyarakat. Walaupun UUD. 45 telah menyatakan persamaan hak kaum perempuan dan laki-l,aki, tetapi dalam kenyataannya masih ada paham dan praktek yang menganggap perempuan lebih rendah, dan memakunya dengan “kodrat” ' sebagai alasan. Hal ini masih memerlukan perjuangan. Perjuangan kaum perempuan ini memerlukan adanya organisasi sebagai alat perjuangan. Organisasi perempuan sudah berdiri tegak sejak masih pemerintahan Belanda, sebagaimana ditunjukkan dengan berlangsungnya Kongres Perempuanpada tangga 22 Desember 1927. Sejakitu sudah menganut politik Nasionalisme, dan salah satunya Kongres Perempuan menyokong perjuangan politik oleh partaipartai politik yang dipimpin oleh kaum laki-laki. Jadi organisasi kaum perempuan sudah berpolitik, meskipun dilarang oleh pemerintah Hindia Belanda. Sesudah serdadu Jepang menduduki Indonesia dan === [PDF page 26] === 16 R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM mengalahkan Pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1942, semua partai politik dilarang, termasuk organisasiorganisasi wanitanya. Sementara padam. Tetapi tidak berarti mati, karena para pejuang lelaki, perempuan dengan menyamar bergabung ke dalam gerakan anti Fasis Jepang. Perjuangan berlanjut. Sesudah kemerdekaan tumbuhlah organisasi-organisasi perempuan. Semua organisasi mempunyai tekad yang sama untuk menegakkan pemerintah R.I. Sebagian berjuang di garis depan, sebagian lagi di garis belakang dan perjuanga itu dilaksanakan bersama-sama dengan kaum laki-laki, hingga perang gerilya selesai pada tahun 1950. more ee 2 5 Ek > Larter Yang berdiri: R.A. Kartini dan R. Adipati Jaya Adiningrat (suami) Yang duduk: R.A. Kartinah, R.A. Rukmini dan R.A. Sumantri (Gambar bersama di Rembang, tgl. 21-11-1903, setelah pernikahan) === [PDF page 27] === R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM 17 Kembali Ke Kota Pemerintah dengan susah payah karena tidak mempunyai dana, tapi harus membangun pemerintahan Pusat sampai Daerah-daerah. Untuk melengkapi pengetahuan bagaiama caranya mencari dana yang diperlukan, sejak pemerintah Pusat di Yogya dapat dibaca sebuah buku karangan Ktut Tantri (seorang perempuan Amerika) berjudul “Nusa Penida”......... | Organisasi-organisasi perempuan berkiprah dengan programnya masing-masing sampai ke desa-desa. Bagaimana kaum perempuan membela hak-haknya yang dilecehkan secara sewenang-wenang. Pembelaan perkosaan, penganiayaan, poligami yang semena-mena, membasmi-menyalurk an dan menyadarkan pelacurpelacur yang merusak keamanan rumah tangga. Mendirikan biro-biro konsultasi perkawinan, -poliklinik, taman kanak-kanak, penitipan anak di pasar-pasar, dan usaha lain yang meringankan beban wanita sampai ke desadesa. Semangat mandiri menggelora dalam dada. Tidak tergantung pada suami, bahkan dapat membantu memecahkan kesulitan. Kegiatan ini tidak hanya sampai ke desa-desa, tetapi hingga menjangkau ke dusun-dusun. Para pengurusnya membimbing kerapihan pekerjaan rumah tangga, membaca dan menulis, cara menambah pendapatan yang berarti meringankan beban suami. === [PDF page 28] === 18 R.A. KARTINI! JANGAN BIARKAN PADAM Kebersihan, memlihara anak dan kesehatan, bahkan sampai memimpin rapat dan cara-cara berorganisasi. Kegiatan kaum perempuan bagai taman bunga yang sedang merebak, mekar. Kemajuan ini pun diakui oleh dunia internasional, Unesco, WHO, PBB, yang membicarakan Woman Right pun Indonesia terwakili. Juga delegasi-delegasi kenegaraan terwakili. Tetapi tidak seimbang dengan bobot kader-kader perempuan yang ada, serta perkembangannya. Hal ini Yulia I Suryakusuma dalam majalah Prisma No.7 th. 1981 menulis panjang lebar mengenai masalah kaum perempuan Indonesia dari segala aspek dan problemnya. Antara lain sebagai berikut: “Persahabatan politik yang terjalin antara perempuan dan pria yang merupakan salah satu ciri khas perjuangan antara tahun 1945 — 1949, dan tahun-tahun Republik yang baru, diambil oleh kepentingan diri dari kaum laki-lakisedikit demi sedikit, laki-laki memonopoli posisi-posisi kepemimpinan politik dan menutup kesempatan buat perempuan. Jelas sekali kecenderungan yang tampak: Jumlah wanita dalam posisi politik yang penting semakin lama semakin berkurang. Contoh: Sejak kemerdekaan ada empat Menteri Kabinet, tetapi sejak tahun. 1966, tak satupun tempat wanita memegang posisi sebagai Deputy Menteri, Sekjen, Dirjen dan Inspektur Jenderal Departemen (halaman 12 alinea pertama).” Kemajuan yang dicapai oleh kaum perempuan sebagai tersebut diatas, sebenarnya masih dihambat oleh system masyarakat dalam berkarya dan berproduksi. Dalam hal ini Yulia I Suryakusuma menulis dalam artikel yang sama sebagai berikut: “Salah satu yang menghambat hak-hak wanita yang dijamin oleh Undang-undang itu, mungkin bukanlah adat atau agama, melainkan tradisi dan sifat masyarakat yang mendorong wanita untuk cepat menikah. Kebiasaan itu === [PDF page 29] === R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM 19 membantu melembagakan perbedaaan antara wanita dan laki-laki. Setelah menikah dengan sendirinya kebiasaan wanita menjadi lebih terbatas antara melahirkan, mengurus anak dan berbagai kewajiban rumah tangga lainnya. Status sosial wanita yang sudah menikah termasuk janda dianggap lebih tinggi dari seorang gadis. Sikap masyarakat: inilah yang mendorong wanita untuk mencari dan mengembangkan identitas mereka sendiri dan yang membuat mereka lebih senang mendompleng di belakang suami.: Memang salah satu ciri masyarakat Indonesia adalah universalitas dari perkawinan, tetapi angka perceraian tinggi. Poligami tampaknya menurun sekarang ini hanya 8% dari semua perkawinan itu berpoligami. Tentunya angka 8% yang berpoligami itu yang resmi tercatat. Yang tidak tercatat, siapa yang bisa menjamin kebenarannya. Hidup di awal kemerdekaan memang ekonomi serba susah. Isteri pegawai pemerintah harus hidup pas-pasan, bahkan kurang. Demikian pula kaum buruh perempuan dan keluarganya lebih parah. Keluarga penduduk kota yang tidak bisa berdagang lebih susah. Yang hidup makmur hanya orang-orang yang bisa korupsi atau tukang tadah rejeki samping, dan orang-orang kaya lainnya. Di pedesaan, kaum tani yang tak mempunyai tanah, hanya memburuh juga miskin adanya. Yang kecukupan adalah tuan tanah dan antek-anteknya, yang bisa memeras kaum tani, itupun sudah banyak disumbangkan untuk perang gerilya. Serba susah memang, tetapi rakyat maklum dengan keadaan yang demikian itu. Mengemudikan pemerintahan yang berawal tanpa dana. Dengan pinjaman dana + 2 '4 milyar dollar Amerika untuk bekal, perjuangan merebut === [PDF page 30] === 20 R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM kembali Irian Barat dan memerangi pemberontakan di dalam negeri. Pampasan Jepang untuk membangun Hotel Indonesia, Senayan, Tugu Monas yang menjulang tinggi berkerucut emas 36 kg. Yang berkilau melambangkan obor api kerdekaan yang terus menyala. Demikianlah hitungan dari seorang awam yang kurang pengetahuan, tetapi sadar akan tanggung jawab dan kewajiban sebagai rakyat yang baru merdeka. Dalam perjalanan sampai ujung tahun 1965, gerakan perempuan yang sudah menembus desa-desa di seluruh kepulauan, ikut serta membangun negeri dan bangsanya dengan pekerjaan sosial, politik dan pendidikan itu mengalami musibah. Telah terjadinya banjir tangis dan darah yang mengerikan di seluruh negeri.-Akibat peristiwa G-30.S. rezim Suharto telah menindasnya. Tragedi Nasional telah terjadi. Organisasi dilarang. Hampir 3 juta anggotanya bubar. Taman kanak-kanak, poliklinik, dan semua usahanya bersama ranting di ribuan desa, cabang di tiap kabupaten. DPD di tiap propinsi hancur, termasuk semua prabotannya. Rumah, alat-alat kantor dan harta benda hilang. Menyerah tak berdaya, aktivis diburu, dibunuh, ditangkap dimasukkan penjara dan kamp konsentrasi termasuk simpatisan atau korban-korban fitnah. Itulah nasib pejuang perempuan yang tergabung di dalam organisasi Gerwani. Mereka yang telah ikut serta berjuang melawan penjajah sejak jaman Hindia Belanda, melawan Fasis Jepang, perang kemerdekaan dan ikut membangun memajukan kaumnya dan mengisi kemerdekaan sia-sia belaka. Tidak kurang dari 3 juta orang menjadi korban, mati dibunuh. Yang lepas dari penjara tambah menyedihkan. Hari tua yang kelam bersama keluarga, bagi yang mempunyai keluarga. Bagi yang tidak tergantung, uluran tangan gereja === [PDF page 31] === R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM 21 Katolik/ Protestan yang telah membantu sejak masih berada di dalam kamp-kamp atau penjara, serta Palang Merah Internasional. Badan-badan sosial untuk bantuan orang-orang tahanan seperti YSS (Yayasan Sosial Subagiopranoto), Yayasan Hidup Baru yang masih terus membantu hingga sekarang. Karena hingga tahun 1997 masih ada yang dipenjara. Meskipun sudah tua. Terima kasih kami tidak terhingga atas bantuan itu. Tentu sebagai bangsa Indonesia yang berpancasila dan berdasarkan prikemanusiaan yang diagungkan, kejadian itu tidak dikehendaki oleh siapapun. Tidak manusiawi. Oleh karena itu betapa mulianya jika mereka itu dientaskan dari _ deritanya, baik secara hukum maupun sosial politiknya. Lebih terdorong lagi mengingat mereka itu masih sebangsa dan setanah air yang sudah-tua-tua umumnya usianya sudah lebih dari 70 tahun. | Sebuah buku berbahasa Inggeris berjudul............. dan berbahasa Indonesia yang ditulis oleh Saskia Wieringa dari negeri Belanda. Buku itu menyebutkan betapa kejamnya Suharto penguasa orde baru menggunakan kebohongan mengenai gender untuk menghabisi gerakan wanita yang berani menentang kepincangan masyarakat, ketidak adilan _ dan emansipasi. Sesudah Gerwani dihabisi dengan kekerasan senjata dan penjara dibentuklah organbisasi. wanita Orde Baru yang manut miturut (patuh setia) sebagai mitra kerja kaum lelaki. Dengan terbitnya buku yang membuka rahasia dihancurkannya organisasi perempuan Gerwani, oleh rezim Suharto, Rakyat Indonesia, terutama kaum perempuan akan semakin mengerti sebab musababnya, mengapa organisasi perjuangan itu dihancurkan dan. dianiaya. Kami semua sangat berterima kasih dan sangat menghargai pada jerih payah yang telah dicurahkan dan mengagumi keberanian penulis buku tersebut, Dr. Saskia === [PDF page 32] === 22 R.A. KARTINI: JANGAN BIARKAN PADAM Wieringa yang melawan arus kekejian rezim Suharto yang menindas rakyat Indonesia, yang tidak menyukai rezim Orde Baru. Demikianlah arus zaman telah melanda seluruh bangsa Indonesia termasuk Perempuan. kkkkk Catatan P enulis: * Pada tahun 1900 R.A. Lartini telah menyerukan anti poligami dan anti penderitaan. * Hingga tahun 2001 Kenyataan yang dialami kaum perempuan, masih adanya poligami, diskriminasi terhadap perempuan baik di dalam sistim produksi (khususnya buruh perempuan) maupun di berbagai kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Demikian halnya tindak berbagai tindak kekerasan dan perlakuan sewenang-wenang terhadap kaum perempuan | # Sampai kapankah semua itu berakhir? * Tantangan perjuangan emansipasi kaum perempuan | === [PDF page 33] === Tahun 1951 Sulami masuk Gerwis (Gerakan Wanita Sedar) di Surabaya, cikal-bakal Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) yang bersemboyan “Organisasi Perjuangan dan Pendidikan”. Sebagai anggota pengurus Gerwani: Jawa Timur, tahun 1954 ia terpilih: mengikuti Festival Pemuda dan Pelajar: Sedunia di Bukares, Rumania. Tahun 1957 terpilih menjadi Wakil II Sekj en DPP Gerwani. Tahun 1958 mengikuti Kongres Wanita Sedunia di Wina, lalu langsung ke Berlin Timur mewakili Gerwani dalam Women International Democratic Federation (Gabungan Wanita Demokratis Sedunia). Sejak itu Sulami sangat sibuk dalam kegiatan internasional. Kemudian tahun 1964 aktif kembali di kepengurusan Gerwani yang akan menyelenggarakan Kongres ke-V tanggal 22-29 Desember 1965. Dengan terjadinya peristiwa Gerakan 30 September, Sulami dipaksa meninggalkan kantor yang menjadi tempat tinggalnya, tanpa bekal apapun. Sejak itu ia hidup berpindah-pindah tempat tinggal, sampai akhirnya ia ditangkap pada tanggal 6 Oktober 1967. Tahun 1975 Sulami diajukan ke Pengadilan Negeri Jakarta Pusat. Sulami dijatuhi hukuman penjara 20 tahun potong masa tahanan, ia dituduh makar/subversi. Tahun 1980 ia ditahan di Penjara Bukit Duri, kemudian tahun 1984 dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Tangerang. Tahun 1984 dibebaskan bersyarat dan wajib lapor ke Kejaksaaan sampai tahun 1986. Dalam keadaan bebas bersyarat tersebut, untuk menghidupi dirinya Sulami bekerja pada sebuah perusahaan katering dengan gaji 40.000 rupiah per bulan. Sekarang Sulami memimpin Yayasan Penelitian KorbanPembunuhan 1965/1966 (YPKP). ***