Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02692

Perempuan dalam Arus Zaman (Sulami, 1995/2001)

Cleaned OCR text (Good (0.944); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

=== [PDF page 1] === [Cover:] Perempuan DALAM ARUS ZAMAN [painted portrait of a woman on a red background; small author name at foot: Sulami] === [PDF page 2] === Sulami Nitin Y LIBRAR KOKO 1924 Ws 132 095 PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN Kata Pengantar: Yayasan Cut Nyak Dien Cipta lestari G === [PDF page 3] === ASIA 12346 Say “300| PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN 00 Seri Kartini 02/VIII/2001 Penulis Sulami Kulit Buku Noor Manshur Tata Letak M. Nur Penerbit Cipta Lestari Ji. Pos Pengumben Prapatan Kelapa Dua No.2 Jakarta Barat 1150 - Telp. (021) - 549 1420 Cetakan Pertama, Agustus 2001 Pengutipan tanpa izin tidak dibenarkan, kecuali untuk kepentingan keilmuan dan resensi. Memperbanyak buku ini dalam bentuk reproduksi apapun tidak diperkenankan. Hak cipta dilindungi undang-undang. All Rights Reserved === [PDF page 4] === DARI PENERBIT Tulisan Ibu Sulami berjudul “JANGAN BIARKAN PADAM” adalah buku Seri Kartini pertama yang diterbitkan “Cipta Lestari” pada bulan Maret 2001. Perempuan merupakan masalah yang tak terpisahkan dengan berbagai persoalan dalam kehidupan bangsa. Bahkan akan selalu muncul bersamaan dengan perkembangan zaman dan kehidupan itu sendiri. Adakalanya muncul hal-hal yang kontradiktif antara perkembangan zaman dengan masalah perempuan secara kodrati maupun tuntutan zaman dimana kaum perempuan harus memenuhi panggilan melakukan tugas dan kewajiban dalam kehidupan berbangsa dan bernegara yang sederajat dengan manusia lain pada umumnya. Hingga saat ini, perjuangan kaum perempuan masih sangat membutuhkan keberanian tak mengenal lelah untuk mendapatkan hak-hak sederajat dengan kaum laki-laki dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Terutama sikap kekolotan yang masih saya diskriminatif, mempersoalkan masalah gender dalam kepemimpinan. Semangat Kartini akan terus menjiwai dalam membela hak-hak perempuan. Keberhasilan itu pada akhirnya ditentukan oleh kekuatan gerakan perempuan itu semdiri. Sudah saatnya dalam mengikuti perkembangan zaman ini, perempuan tampil dengan lebih gigih tidak hanya mnyuarakan, akan tetapi jauh dari itu merebut hak-hak perempuan, dalam berbagai bidang kehidupan. Buku Serie ke-2 Kartini tulisan Ibu Sulami masih relevan untuk diantarkan ke tengah-tengah para pembaca. Semoga berfaedah bagi kita semua. Jakarta, Agustus 2001 Penerbit. === [PDF page 5] === DAFTAR ISI DARI PENERBIT... v DAFTAR ISI............ vi Dalam Arus Zaman... 1 Daftar Pustaka......... 36 === [PDF page 6] === KATA PENGANTAR Tulisan merupakan hasil dari sebuah pikir seseorang. Melalui tulisan orang akan mengetahui apa yang diinginkan oleh seseorang. Selama ini, kita terbiasa membaca tulisantulisan yang menonjolkan peranan laki-laki dalam suatu peristiwa atau kejadian. Tetapi sedikit mengungkap suatu peristiwa berdasarkan pengamatan seorang perempuan. Tulisan yang dihasilkan tentunya hanya mewakili kepentingan kaum laki-laki, tetapi tidak mewakili suara kaum perempuan. Kaum prerempuan tentunya tidak dapat mengharapkan kaum laki-laki agar dapat mengungkap harapan dan keinginan kaum perempuan kemudian mengungkapkannya dalam bentuk tulisan. Tetapi hanya kaum perempuan yang dapat mengungkap keinginannya agar orang lain mengerti apa yang menjadi harapannya. Karena itu, tulisan dapat menjadi media yang mewakili keinginan kaum perempuan bertemu dengan para pembaca, laki-laki dan perempuan. Selama ini ada anggapan bahwa kaum perempuan terbiasa diselesaikan secara lisan. Keadaan ini, tidak terlepas dari kebiasaan masyarakat yang lebih mengutamakan untuk memberikan pendidikan kepada laki-laki. Sehingga, perempuan tertinggal dalam mencapai kemajuan karena kurang terdidik. Laki-laki sudah terbiasa menuliskan pikirannya, sementara perempuan masih berkutat pada kebiasaan-kebiasaan lisannya. Ibu Sulami sebagai salah satu aktivis perempuan yang mencoba menggebrak kebiasaan lisan kaum perempuan. Beliau mencoba menuliskan buah pikirnya melalui tulisan. Buku ini merupakan salah satu dari sekian banyak buah pikirnya melalui tulisan yang dibukukan. Usia dan rasa sakit === [PDF page 7] === yang dideritanya tidak menjadi. penghalang baginya untuk berbagi pengalaman dan pengetahuan. Rasa sakit hanya pada fisiknya, sementara jiwa dan pikirannya. cukup sehat untuk menghasilkan tulisan-tulisan lainnya. . Kita perlu banyak belajar pada Ibu Sulami. Karena semakin hari semakin sedikit.orang yang dapat berbicara tentang sejarah masa lalu kaum perempuan di Indonesia. Selama. ini.penulisan sejarah yang sering kita baca sangat menyudutkan kaum perempuan. Sehingga kita perlu menggali kebenaran berdasarkan narasumber yang selama ini mengalami kejadian tersebut di masa lalu. Ibu Sulami perlu mendapat tempat tersendiri di kalangan aktivis perempuan. Karena sudah banyak yang beliau sumbangkan bagi bangsa ini. Tulisan-tulisannya membuat layak duduk di antara pendekar perempuan Indonesia. Jakarta,:10.Agustus 2001 Yayasan Cut Nyak Dien === [PDF page 8] === Dalam Arus Zaman Kebenaran dan kejujuran Katakanlah itu mawar Bila memang itu mawar Katakanlah itu melati Bila memang itu melati Artinya itu ucap jujur Ucap benar Bukan palsu Bukan pula menipu. Tulisan ini kami mulai dari sebuah sajak” Kebenaran dan Kejujuran” Ini terkandung maksud apa adanya, yang dimengerti. Setidak-tidaknya mengutarakan apa yang dilihat. | Untuk tujuan tersebut kami kutipkan tulisan Julia I Suryakusuma dalam majalah Prisma No. 7 tahun 1981, hal. 3 bait pertama. ”Persoalan masyarakat semakin hari semakin luas dan komplek. Dalam mempelajari dan menelaah arah gerak dan dinamika masyarakat tersebut, ada kecenderungan untuk melihat permasalahannya seolah-olah sebuah jigsaw puzzle') - ada masalah industri, ada masalah pendidikan,buruh, pedesaan. Dan juga ada masalah wanita. Bila dikaitkan dengan pembangunan yang sedang dijalankan pemerintah sekarang, biasanya Jigsaw puzzle" = === [PDF page 9] === 2 SULAM! — (BERI-KARTINI 11) ditampilkan setumpuk fakta dan angka untuk menunjukkan, bahwa masalah wanita memang harus ditangani dengan seksama. Yang tidak dilakukan adalah analisa total tentang bagaimana kaitan masalah wanita ini dengan keseluruhan masyarakat, masalah wanita ini: ditangani bagaikan tempelan saya dari masalah pembangunan ini, padahal ia merupakan bagian yang mendasar dari masyarakat dan persoalan masyarakat yang lebih luas dapat ditinjau melalui keadaan wanitanya.. Struktur, fungsi ataupun esensi sebuah pohon pun tak akan dapat dipahami sekalipun kita memiliki pengetahuan yang sempurna tentang daunnya, batangnya atau pun akarnya. Masalah wanita merupakan bagian integral dari masyarakat. Tak ada emansipasi Wanita yang sejati tanpa emansipasi masyarakat itu sendiri, dan sebaliknya. Bagaimana mungkin soal wanita dipisahkan dari soal laki-laki, anak-anak, remaja dan orang tua? Para pemimpin beseru, negara tidak akan maju, kalau wanitanya tidak maju. Program yang ditujukan untuk perbaikan kwalitas hidup masyarakat seperti program-program kependudukan, kesehatan, pendidikan, banyak tergantung pada partisipasi wanita untuk keberhasilannya. Tak pernah terdengar seruan serupa yang ditujukan kepada lakilaki. Jadi bila 50 persen sisanya tidak, tidaklah mengherankan bila terjadi konflik. Begitulah memang keadaan perempuan Indonesia sekarang. Dalam konflik, terjerat dalam kolektif yang disadari ataupun tidak, akibat kedudukannya diantara berbagai dunia. Indonesia berada dalam suatu transisi antara === [PDF page 10] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN feodalisme dan kapitalisme. Antara masyarakat agraria dan industri. Antara tradisonalisme dan modernisme. Wanita sebagai bahagian dari masyarakat berada pula di tengah-tengah persimpangan ini. Hal ini dialami dalam bentuk yang berbeda-beda, baik itu oleh wanita desa yang hidup secara marginal dibawah garis kemiskinan, sampai kepada wanita kelas atas dengan gaya hidup jetsetnya, yang dengan enaknya berbelanja di Singapore, Paris, New York, seperti layaknya berbelanja di pasar pagi saya. Disitulah kerumitan membahas masalah perempuan Indonesia. Walaupun semuanya mempunyai karakteristik kewanitaan. Tiap wanita itu akan lebih merasa terikat pada keadaan (kedudukan sosialnya) secara khusus. Demikianlah Julia I Suryakusuma mendahului tulisannya dengan sebuah analisa umum dalam arus jaman pembangunan sekarang. Orang yang mendalami tulisan ini bisa terpaku sejenak untuk mencari kebenaran ( dan makna) dari tulisan ini. Hal ini, tentu tidak terlepas dari sifat-sifat umum. Pada hakekatnya bahwa semua karakter manusia itu ditentukan oleh kedudukan atau status sosialnya. Analisa yang tepat, bahwa perempuan Indonesia berada dalam transisi masyarakat feodalisme ke kapitalisme, juga dalam peralihan masyarakat agraria ke masyarakat industri atau dari masyarakat tradisional ke masyarakat modern. Zaman transisi artinya kehidupan masyarakat, perempuan dan laki-laki, (sedang) mengalami (proses) perubahan. Dari yang lama ke yang baru. Demikian juga semua alat produksi mengalami perubahan, tatananpun baru sesuai kehendak yang memegang tampuk kekuasaan atau pemerintahan. === [PDF page 11] === 4 SULAMI (GSERI-KARTINI 11) Bagaimanapun perubahan itu terjadi, perempuan Indonesia adalah perempuan Indonesia, yang tidak bisa di globalisasi persamaanya dengan perempuan negara manapun juga. Ada perbedaan karakter dengan perempuan negara lain. Karakter itu terbentuk oleh budaya tanah air Indonesia. Tetapi dalam kehidupan sehari-hari makin terdesak oleh pertumbuhan kapitalisme, dalam menghadapi era demokratisasi, keterbukaan, era globalisasi dan perdagangan bebas yang mendatang, yang pasti akan mempengaruhi kehidupan dan budaya Indonesia, perlu kiranya kaum perempuan Indonesia menata diri, menengok kebelakang dan sekarang ini kehidupan macam apa yang kita rasakan dan kita kembangkan bersama. Sudah barang tentu kesemua itu tanpa memudarkan apalagi menghilangkan nilainilai kepribadian budaya bangsa Indonesia. Baik kehidupan perempuan kota dari yang miskin sampai pada yang elit. Seperti kehidupan buruh, pedagang kecil, sampai asongan, yang miskin yang diburu penggusuran, yang gelandangan dan pengemis termasuk orang-orang gila yang menyusuri sepanjang lorong kota. Kemudian yang elit, pengusaha besar, menengah, bankir, pejabat tinggi termasuk yang dapat fasilitas yang membuat dirinya menjadi kaya. Dari semua golongan itu, kehidupan perempuan telah tercermin di dalamnya. Sebagai ibu rumah tangga atau sebagai perempuan karir, lebih luas lagi sebagai karyawati bar, diskotek atau yang menamakan dirinya perempuan modern dalam kehidupan malam di kota-kota besar. Pelacuran dan perempuan panggilan dari kelas menengah hingga rendahan yang makin semarak di berbagai lokasi. Belum lagi yang gelandangan di pasar-pasar dan makin beraninya penjahat melakukan kekerasan === [PDF page 12] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN terhadap mereka yang lemah tak kuasa melawan perkosaan, perampokan, Peti Usia, dan penganiayaan lainnya. Meskipun aparat Pemerintah telah bekerja keras untuk menanggulangi, nampaknya mereka seperti rumput liar, di bersihkan disini, tumbuh di tempat lain. Rakyat kecil dimana saya mengalami kehidupan yang perih, takut dan ragu-ragu. Terlebih lagi yang dirugikan karena penggusuran, sementara itu tempat baru belum didapat. Hidup yang tidak pasti membuat si kecil ini menjadi pesimis, sinis, tanpa harapan. Tambah habis akalnya bila melihat di sisi mereka ada kehidupan lain yang serba mewah. Usaha Pemerintah memang ada, tetapi belum.mencakup semuanya. Seperti program Pemerintah untuk mengentaskan kemiskinan yang menurut Pemerintah, penduduk yang miskin kurang lebih masih 25 juta tersebar diseluruh pelosok negeri. Tetapi angka ini tidak meyakinkan. Tentunya apabila program berhasil akan menjadi alas baik dalam menghadapi era globalisasi dan perdagangan bebas pada tahun 2000 sampai tahun 2010, mengingat bahwa soal kependudukan menjadi faktor penting. Masalah kependudukan di era globalisasi dan pasar bebas, Kompas pada tanggal 28 Nopember 1995 telah menyajikan tulisan dari seminar tentang penduduk peluang usaha dan globalisasi. Yang diadakan Ikatan Peminat dan Ahli Demografi Indonesia (IPADI) bekerjasama dengan Kantor Menteri Negara Kependudukan. Dalam tulisan itu disebutkan, bahwa dengan tekhnologi yang makin canggih, batas negara juga makin tak berarti. Apa yang terjadi di satu belahan === [PDF page 13] === 6 SULAMI (SERI-KARTING II) dunia dapat dengan segera diketahui, bahkan reaksinya dapat dirasakan di belahan dunia lainnya. Revolusi teknologi informasi memungkinkan semua itu terjadi. Aspek ekonomi pun seolah-olah menjadi tema sentral percakapan globalisasi itu. Sebab pasar bebas semakin identik dengan globalisasi. Satu negara dengan negara lainnya makin saling tergantung dan membutuhkan satu sama lain di bidang ekonomi dan perdagangan. | Berbicara soal pasar bebas, Indonesia berpenduduk 195 juta jiwa, bisa dibilang sebagai suatu pasar yang sangat potensial. Demikianlah kompas menulis. Saat yang ditunggu itu tahun 2000 tingigat lima tahun, sedang tahun 2010 dari sekarang tinggal 15 tahun lagi. Waktu 15 tahun relatif singkat dan berarti pula usia para pembuat proyek (proyek maker) telah pula bertambah usia. Sebagian besar sudah akan berusia kira-kira 85 tahun lebih. Tentu saya hal ini telah diperhitungkan para pembuat program.. Saya tidak akan menulis tentang aspek ekonomi politik yang muluk-muluk. Yang kami kemukakan yang praktis realistis yang menyentuh soal kehidupan sosial sehari-hari. Dikemukakan juga oleh tulisan dalam Kompas tersebut bahwa penduduk Indonesia berjumlah 195 juta jiwa, oleh karena itu apa yang terjadi pada tahun 2000-2010 itu akan menyangkut nasib 195 juta jiwa lebih. Perubahan gaya hidup di perkotaan dan pedesaan akan terlihat lebih maju tentunya. . Perkotaan akan lebih bebas dan modern, termasuk kebebasan sex, yang sekarang sudah menggejala berat. Cenderung keruntuhan moral. Sedang === [PDF page 14] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN 7 pedesaan akan hanya meniru gaya kota yang norak, sehingga akan menepiskan gaya hidup yang berkepribadian budaya Indonesia. Gejalanyapun sudah terlihat dalam kehidupan masyarakat. Kaum muda di pedesaan sudah ada yang mengatakan “malu” apabila melihat pertunjukan ketoprak di desanya. Penetrasi budaya luar akan menjenuhkan. Mengkhawatirkan bagi budaya Bangsa Indonesia. Tulisan Kompas itu juga menunjukkan angkaangka demografi tentang angkatan kerja-kesempatan kerja dan pengangguran, pendapatan perkapita, kelahiran bayi, lanjut usia, penduduk miskin dan penduduk kota. Dalam hal ini tidak kami kutip sepenuhnya. Hanya akan kami sajikan perumusannya. Menteri Kependudukan Haryono Suyono mengatakan antara lain sebagai berikut; “Bahwa demografi bukan lagi sekedar. penyajian analisis tentang ciri kependudukan dan pertumbuhannya, tetapi apa dan bagaimana dibalik angka-angka kependudukan itu yang harus lebih dikedepankan, menjadi sangat relevan”. Yang ditulis secara garis besar. Menteri Haryono Suyono mengemukakan bahwa era globalisasi dan perdagangan bebas yang melahirkan banyak peluang usaha itu bisa dibagi menjadi tiga variabel. Singkatnya sebagai berikut: Pertama, kondisi penduduk dan kemampuan penduduk sangat erat terkait dengan tumbuh dan perkembangan usaha ekonomi, penduduk disatu sisi bisa menjadi pelaku sumber daya bagi faktor produksi. Di sisi lain penduduk bisa menjadi sasaran konsumen bagi produk yang dihasilkan. Faktor lain dikemukakan bahwa pengetahuan === [PDF page 15] === 8 BULAMI (BERI-KARTINI 11) tentang struktur penduduk dan kondisi sosial di wilayah tertentu akan banyak bermanfaat untuk memperhitungkan kemampuan dan kebutuhan pasar dan produksi. Kedua dikemukakan tentang potensi penduduk erat kaitannya dengan ketangguhan bangsa dalam mengarungi era globalisasi dan pasar bebas. Besarnya jumlah penduduk dan kekuatan ekonomi masyarakat menjadi potensi, sekaligus sasaran pembangunan, baik untuk skala nasional maupun Internasional. Dinyatakan pembangunan _ produksi nasional dan regional sangat perlu supaya laris dikonsumsi di dalam negeri. Usaha supaya mempunyai daya saing yang tinggi. Selanjutnya variabel yang ketiga, dinyatakan bahwa globalisasi dan perdagangan bebas mengandung implikasi peluang usaha yang sangat luas. Dalam era tersebut, hubungan perdagangan antar negara akan makin meluas dan mencakup sasaran produksi dengan segmentasi yang sangat bervariasi. Negara-negara maju menanamkan investasi dan melakukan relokasi industri ke negara berkembang. Demikian pula mereka membuka cabang usaha jasa yang semakin meluas. Harus dipersiapkan agar kita tidak hanya akan menjadi agen jasa dan produksi dari negara asing, tetapi juga mampu menjadi pemrakarsa dan pemain dengan mutu produksi yang handal. Selanjutnya dinyatakan, bahwa ketiga aspek itu hanya bisa diterjemahkan dengan bahasa demografi yang kian berdimensi luas, baik dari segi politis, ekonomis, maupun sosial budaya. Globalisasi dan pasar bebas memang membentangkan peluang usaha, tetapi itu hanya === [PDF page 16] === PEREMPUAN. DALAM ARUS ZAMAN? dapat dilaksanakan oleh sumber daya manusia yang handal, yang hidup dalam lingkungan keluarga sejahtera. Disini persoalan yang menentukan berhasil atau tidaknya pekerjaan yang maha besar dalam era globalisasi dan pasar bebas yang akan datang itu adalah pelaksanaannya harus ditangani oleh orangorang yang berkualitas tinggi yang dinyatakan sebagai “Sumber Daya Manusia yang handal dan yang hidup dalam lingkungan sejahtera”. Dalam mengartikan sumber daya manusia yang handal perinciannya tentu ada unsur-unsur kejujuran, tidak pandai berkelit dan munafik, mendengarkan saran orang lain, tidak bersifat cari benar sendiri suka menyalahkan orang lain, tidak melakukan sistem keluarga, tidak bersikap yang cenderung dekadensi dan arogan politik. Itu yang dinamakan berkualitas tinggi, punya tanggung jawab dan membela rakyat yang 195 juta jiwa, inklusif kaum perempuan. Dalam masa pembangunan yang belum final saya pemerintah telah berulang kali kebobolan dana, karena korupsi besar-besaran seperti Bapindo yang dimulai dari “Surat Sakti”, belum yang kecil-kecil tak terhitung. Dan sebaiknya pemerintah mulai waspada terhadap pilihannya, agar betul-betul mendapat pelaksana yang handal. Banyak orang-orang yang berusaha dalam masa pembangunan selama 30 tahun yang semula tak memiliki apa-apa kemudian sekarang memiliki bertrilyun-trilyun uang kapital, dan tanah-tanah perkebunan, pabrik yang tersebar di daerah-daerah surplus Indonesia. Tak usah disebut nama, rakyat kecilpun tahu, ini pabrik gula siapa dan itu tanah siapa, rakyat === [PDF page 17] === 10 SULAMI (GERI-KARTINI II) sudah tahu. Inilah yang harus dituntaskan penyelesaian hukumnya. Memang di Indonesia tidak ada undang-undang yang melarang orang menumpuk kekayaan tetapi kalau perbedaan menyolok bisa menimbulkan iri, sakit hati dan rasa kecewa, yang selanjutnya menjadi kerawanan sosial berkepanjangan. Kami menulis apa adanya yang bersumber dari pendengaran dan pengalaman. Antara lain yang kami dengar dari orang-orang awam yang menjadi langganan warung nasi masakan jawa. Kebetulan warung nasi itu milik keluarga sendiri yang menekuni usahanya sudah delapan tahun. Pelanggannya dari semua golongan rendahan. Dari pegawai negeri,pabrik, pegawai toko, bank, pejalan kaki, sopir bis malam dan truk. Masingmasing membawa problemnya sendiri, dan problem hangat yang sedang dihebohkan oleh koran, surat kabar dan masyarakat. Jadi problem aktual yang dialami sehari-hari. Seperti pembunuhan, perkosaan, perampokan, pelacuran, penyelewengan rumah tangga, korupsi Bapindo dsb. Penyimpangan dalam aturan main, penggusuran rumah yang kena proyek, rumah kumuh, pembersihan pasar dan kaki lima serta asongan, tentang berdirinya pabrik-pabrik baru, buruh mogok, mahasiswa demonstrasi, penangkapan dan pengadilan dari yang unjuk rasa, LSM, LBH membelanya. Tentang mudahnya orang kawin cerai, tentang banjir bandang, gunung meletus, tentang bulu tangkis, sepak bola luar dan dalam negeri, - mereka yang kesal bertanya: kok PBSI kalah melulu?. Senang bulu tangkis menang, Bosnia kok perang terus bagaimana hidup rakyatnya, peranan Indonesia di gelanggang internasional, artis A kok cerai, artis === [PDF page 18] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN B cantik-cantik kok mati tabrakan, mengapa kok di tembak dsb. dsb. Yang kami tidak tahan mendengar, adalah katakata yang meremehkan atau merendahkan kaum perempuan: “Isteri-isteri kalau sudah diberi uang belanja diam, dimadu pun diam”. Habis menempeleng isteri diceritakan di warung. Menurut ceritanya isterinya diam, karena hidupnya tergantung suami. Itulah cerita orang-orang dari kampung. Janda-janda bahenol menjadi buah bibir, sopir truk dengan bangga menceritakan sudah tahu dimana rumah pelacuran seluruh kota, sehingga mereka lupa akan bahaya maut, AIDS, penyakit yang mematikan. Ada yang berbicara dimana-mana berdiri supermarket, mall, plaza, lapangan golf. Bahkan lebih politis lagi soal hutang negara. Tidak lupa bicara soal anak-anak Three in one, acara dan iklan TV. Setiap hari kami berdialog dengan orang-orang itu, yang ternyata mereka juga cerita tentang kebenaran. Kami merenung bagaimana menjelaskan, supaya mereka mengerti, sebab musababnya penderitaan, tidak adanya keadilan serta berkuasanya keserakahan.. Mekanisme yang ada ternyata belum bisa menjangkau. Kalau dipresentasi, kira-kira hanya lima persen yang mengerti tentang demokrasi, kedaulatan Rakyat dan kapitalisme yang makin berkembang secara mengglobal, serta arti globalisasi itu sendiri. Para orang tua yang berpandangan luas, merasa was-was, karena takut anaknya yang nanti akan memasuki usia remaja terbawa arus zaman kehidupan gaya baru yang dekadensi, narkoba dan obat bius dalam arus zaman globalisasi. Menurut tulisan Kompas yang sama Menteri Haryono Suyono menjelaskan, bahwa kelahiran bayi === [PDF page 19] === 12 SULAMI (SERI-KARTINI 11) tahun 1995 jumlahnya sekitar 4,5 juta jiwa. Berarti tahun 2010 akan berusia 15 tahun.Baik perempuan maupun laki-laki sudah memasuki bangku sekolah. Bangku sekolah menengah, SMP. Kalau sekarang saya murid SMP sudah mengenal pil extasi dan di Jawa Tengah mengenal pil koplo dan sebangsanya yang berbau narkotika dan perkelahian fisik dan bahkan yang bandel terhadap guru maka dikhawatirkan pada tahun 2010 akan lebih parah. Jumlah penduduk yang usia 14 tahun, pada tahun 1995 ada 69,7 juta jiwa. Berarti usia anak-anak sampai pada taun 2010 berusia 15 tahun sampai 30 tahun ada 68,7 juta jiwa. Kalau anak-anak dan penduduk usia muda ini terkena dekadensi arus jaman globalisasi dan pasar bebas akan lebih parah, karena jumlahnya yang besar. Menurut catatan kependudukan, jumlah penduduk Indonesia pada tahun 2010 akan berjumlah 254,2 juta jiwa. Tentulah tidak mudah mengendalikan jumlah penduduk yang besar dalam kehidupan tahun 2010. Kelahiran bayi dinyatakan menurun pada tahun 1995, angka kelahiran 4,5 juta jiwa, sedang tahun 2020 nanti turun menjadi 3,5 juta jiwa, tentu tambahan kelahiran bayi baru tersebut angkanya mudah masuk dalam hitungan di atas. Usia lanjut tidak luput dari perkalian menghadapi kehidupan tahun 2000-2010. Dinyatakan sebagai beikut: Tahun 1995 berjumlah 8,93 juta, tahun 2020 akan menjadi 18,24 juta jiwa orang lanjut usia. Jadi secara garis besar tahun 2000 akan menjadi 10 juta, tahun 2010 menjadi 14 juta dan tahun 2020 akan menjadi 18 juta lebih. Belum ada angka kematian atau perkiraan susut angka. === [PDF page 20] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN 13 Dinyatakan juga kebutuhan selimut akan meningkat, hingga timbul kelakar akan bergegas mendirikan pabrik selimut. — Karena kekayaan penduduk belum merata, masih ada yang kaya dan lebih banyak yang miskin pada tahun 2000 nanti, sedang yang lanjut usia itu terdapat merata, ada digolongan kaya ada di golongan miskin. Bagi golongan kaya no problem, tetapi bagi golongan miskin selimut dengan kain batik yang sudah tidak terlihat batikannya (capnya). Selimut termasuk barang yang lux. Kecuali kalau ada pembagian dari pemerintah atau swasta dengan cuma-cuma yang diartikan sebagai penghargaan kepada orang usia lanjut di saat hari menjelang ajal. Ini sebuah alternatif dimana negara kita belum mampu memberi pensiun atau tunjangan bagi rakyatnya yang sudah usia lanjut. Sebagaimana dilakukan oleh negara-negara lain yang tatanan kehidupannya lebih maju dan lebih kaya. Walau hanya soal selimut bagi orang tua, tetapi menimbulkan aspek sosial yang lain. Hal ini di beri sub judul “cobaan berat” sesudah menuliskan bahwa pemerintah harus menyediakan sarana-sarana bagi usia angkatan kerja yang berjumlah: Tahun 1994: jumlah angkatan kerja 83,70 juta. Tahun 2000; jumlah kesempatan kerja 72,34 juta. Tahun 2010; jumlah angkatan kerja | 125,71 juta. Tahun 2010: jumlah kesempatan kerja 117,14 juta. Berarti masih ada pengangguran jutaan orang. Memberi kesempatan kerja yang lebih luas dan === [PDF page 21] === 14 BULAM! (SERI-KARTINI II) mengembangkan keterampilannya, juga investasi pendidikan menjadi penting untuk meningkatkan sumber daya manusia. Sedang makin mengurangnya rakyat yang miskin, berarti akan meningkatkan daya beli masyarakat. Angka ahli demografi menunjukkan kepada kita program Pemerintah telah disiapkan untuk menghadapi era globalisasi dan pasar bebas. Tinggal lima tahun lagi akan dibuktikan dalam lapangan kerja. Terhadap program tersebut, ada dua kelompok pendapat. Kami akan berbicara jujur, apa adanya dari apa yang kami dengar. Ada dua sisi, optimis dan pesimis. Yang optimis mengatakan, program pasti terlasksana, karena orde baru telah teruji kemampuannya. Penghalang-penghalang bisa dibersihkan, sehingga pemerintah dan program bisa berjalan mulus. Soal korupsi dalam pembangunan, perbankan,. Pemerintahan bisa diatasi. Kebandelan pengusahapengusaha sudah di tepis dengan peraturan dan himbauan. Soal besarnya hutang luar negeri pasti bisa di lunasi, Rakyat tidak usah khawatir, demikian kata Presiden Suharto (ketika itu). Kelompok pendapat yang pesimis mengatakan, bahwa masa pesimis dilandasi oleh kenyataan yang terjadi di lapangan kerja. Ada beberapa kekurangan, kejadian-kejadian yang merugikan masyarakat masih luput dari pengawasan. Umpamanya yang menyangkut tenaga kerja, hingga menimbulkan konflik yang mengakibatkan adanya pemogokan. Persoalan tanah di desa-desa dan di kota-kota terjadi penipuan hak atas tanah, perintah pembongkaran rumah yang tidak melalui proses yang adil. Umpamanya soal tanah sebagian kaum tani yang === [PDF page 22] === 15 PEREMPUAN - DALAM ARUS ZAMAN tidak setuju, kurang adil dan bijak cara menyelesaikan konflik tersebut, penggunaan tanah petani. Pembakaran rumah-rumah hunian rakyat sebagai cara pengusiran di kota-kota, dlsb. Semua konflik yang timbul di kota dan di desa karena kurang pendekatan, musyawarah sampai tuntas di abaikan. Soal penarikan PBB yang naik sampai 300 persen tanpa penyelesaian, sehingga menimbulkan keresahan penduduk pedesaan dan perkotaan. Keamanan kurang memuaskan, hingga timbul kejahatan kekerasan, pembunuhan, perkosaan di mana-mana, termasuk: kenakalan remaja yang melanda kota-kota. Penduduk tidak berani mengatakan rasa kurang puasnya. Rakyat kota-kota besar terutama yang miskin di perkampungan kumuh khawatir penggusuran berjalan terus, sehingga sampai tahun 2000-2010 akan menghabiskan rumah rakyat kecil terutama di jakarta, sehingga Jakarta di penuhi supermarket dari segala kelas dunia, apartemen, kantor-kantor bisnis, hotel-hotel dan lain-lain yang bertarap kelasnya. Semua yang serba mewah yang tidak terjangkau oleh rakyat kecil. Disamping pembangunan industri besar, kecilkecil yang menembus ke daerah-daerah, tempat wisata memenuhi pantai-pantai, usaha bisnis besar untuk mencapai peran penting dalam era globalisasi dan pasar-pasar bebas bagi semua negara sedunia. Terjadi persaingan bebas negara. Semua mencari untung besar, sesuai dengan watak kapitalis yang mencari untung sebesarbesarnya dalam bersaing. Bagi negara kita meleset sedikit saya dari perhitungan ekonomi moneter bisa tersandung. === [PDF page 23] === 16 SULAMI (BERI-KARTING 11) Sehingga dalam keadaan demikian bisa-bisa hutang negara akan menanjak angkanya secara tak terkendali. Hal ini hanya ahli ekonomi politik atau pelaksana yang jujur dari semua golongan yang bisa memecahkan. Mengingat akibat dari semua kejadian seluk beluk ekonomi politik moneter akan menimpa seluruh Rakyat, seluruh bangsa. Jadi pendapat-pendapat dari semua golongan hendaknya bisa di terima dengan lapang dada, sebagai bahan masukan. Kaum perempuan mulai was-was terhadap masa depan itu. Mengingat landasannya sekarang tidaklah sekokoh sebagaimana di cita-citakan oleh R.A. Kartini. Kaum perempuan perlu mandiri menurut kehendak dan cita-citanya. Sebab terlihat bahwa gerak kaum perempuan sekarang menuruti jalur yang sudah di tentukan. Soal terpenting mengenai persamaan hak dalam realita tidak tersentuh. Padahal dalam kehidupan sehari-hari problem pelecehan perempuan tak hentihentinya terjadi, baik pelecehan seksual, periganiayaan dan tekanan mental, serta perkosaan sampai mati, hingga kini belum ada tindakan nyata. Menteri Urusan Peranan Wanita pernah pada tanggal. 27 juli 1995 (di muat dalam kompas) menyuarakan dengan berapi-api pada waktu terjadi pemerkosaan biadab, supaya pemerkosa di hukum mati. Declare itu bagai angin lalu, sesudahnya tak ada pengaruh apa-apa, terbukti terjadi kejadian semacam terjadi di mana-mana. Antara lain di: 1. Binjai 19 orang pemuda memperkosa 2 oran gadis. Terjadi tanggal 31 juli 1995. === [PDF page 24] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN 17 2. Jakarta 3 gadis di perkosa 4 preman (Kompas 4 agustus 1995) 3. Takut di perkosa rampok, 40 juta di gasak rampok. (Kompas 31 juli 1995). 4. Bekasi; Ibu dan dua puterinya di perkosa. Peristiwa Acan. (Kompas 29 juli 1995). 5. Dialog tentang perkosaan di Jakarta menyebut perkosaan lain di Pasar Minggu dan Lampung. Yayasan Kalyana Mitra memberi angka-angka, dalam tahun 1994 terjadi 204 korban dari 185 kasus perkosaan. Dalam kurun waktu sampai juli 1995 tercatat 103 korban perkosaan dan jumlah pemerkosa lebih banyak. (Dialog tgl. 22 agustus 1995). 1. Surabaya, gadis 14 tahun di perkosa sampai tewas. (Kompas tgl. 10 agustus 1995). 2. Tangerang siswi SLTA di sekap selama tiga hari dan di perkosa berkali-kali. (Kompas 7 Agustus 1995). 3. Seorang siswi sekolah menengah Tulungagung jadi korban perkosaan. (Kompas 1 Agustus 1995). | Dengan deretan fakta-fakta itu, jeritan Menteri Urusan Peranan Wanita hanya merupakan jeritan kedunguan. Tak terdengar oleh yang ada di sekitar. Sadisme seksual merajalela di seluruh negeri, desa dan kota. Belum lagi kejadian lain mengerikan umpamanya suami mencekik istri sampai mati, atau pembunuhanpembunuhan lainnya. Yang lebih hebat lagi tentang pelacuran anak-anak yang di temukan di komplek pelacuran secara terbuka (bahan dari Kompas tgl. 23 Juli 1995) Artikel "Jakarta menangis”, (Kompas tgl. 26 Juli 1995), tentunya tidak hanya di tujukan pada satu peristiwa, tetapi soal keseluruhannya. === [PDF page 25] === 18 SULAMI (SERI-KARTINI 11) Dipertanyakan, semua kejadian itu tanggung jawab siapa-siapa tentu pertama-tama tanggung jawab bersama. Pemerintah dan Rakyat termasuk kaum perempuannya. Sebaiknya masing-masing meneliti, sudah sampai dimana peduli kita. Soalnya sangat kompleks, erat kaitannya dengan kesadaran Rakyat dalam pimpinan Orde Baru ini. Rakyat tidak berdiri sendiri. Banyak segi menyangkut kepemimpinan negara. Sebelum lebih parah, atau hujan lebat kita sedia payung untuk menghadapi tahun 2000 dan 2010. Untuk itulah salah satu upaya, tentu tidak akan berhenti disitu. Pada tanggal 22 Agustus 1995 atas kerjasamanya beberapa LSM diadakan dialog satu hari di Jakarta. Tema tunggal soal perkosaan. Yang hadir memadati gedung terdiri dari berbagai unsur. Ibu-ibu rumah tangga, murid-murid SMA, Peragawati, Mahasiswa, Sarjana-sarjana Hukum, Jaksa, Hakim, Wanita-wanita karier dari bermacam bidang. Wakil-wakil LSM, Wartawan, TV, Juga penulis. Dipandu oleh wakil Kalyana Mitra, dan Nursyahbani Kacasungkana, SH. Para pembicara saling memperdebatkan soal pelecehan dan hak-hak emansifasi sampai hak-hak azasi manusia. Anak-anak SMA merasa ngeri dan minta pejabat memberi hukuman berat terhadap pemerkosa. Kalau hanya 6 tahun dihukum itu ringan. Kalau di perkosa sampai di bunuh, sebaiknya hukuman mati. Meskipun masih ada bapak-bapak menentang salah satu pembicara yang di terima sebagai tidak mendidik, tetapi pada intinya menghargai usaha === [PDF page 26] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN 19 kaum perempuan itu. Sebaiknya perempuan jangan mengenakan pakaian yang menantang terbuka. Seharusnya organisasi ibu-ibu tidak ketinggalan dalam membela setiap kejadian yang menyengsarakan perempuan. Tidak hanya di kota, tetapi juga di desa-desa yang menghadapi pelanggaran serius. Umpamanya soal TKW. yang di terima oleh calo-calo yang banyak menjadi korban. Gadis-gadis, janda muda dari desadesa sekarang sedang terbius menjadi TKW, atau cari pekerjaan ke Jakarta. Penyuluhan yang benar di desa-desa tidak ada. Setidaknya bila ada penjelasan atau pak Lurah tidak memberi surat jalan tentu mereka akan ragu-ragu. Tetapi kalau terbujuk oleh calo-calo tanpa surat-surat lurahpun pergi. Peranan ibu-ibu di kelurahan sangat penting dalam mengatasi hal ini. Program sosial lainnya. Karena sudah terbius kehidupan kota yang kemilau mereka tidak menghiraukan nasibnya di hari esok. Kalau kita merasa tidak puas terhadap perempuan sekarang, memang dasarnya kami merasakan adanya kelenggangan. Sebab mekanisasinya terputus. Contohnya, apakah problemnya perempuan sedunia yang di kongreskan baru-baru ini di Beijing dapat di mengerti oleh wanita di daerah? — Tidak -— Pada hal isinya menyangkut mereka. Contoh terdekat, soal beras impor dari luar negeri. Mereka bertanya-tanya sendiri, mengapa mendatangkan beras luar negeri?, sedang kaum tani sudah bisa panen tiga kali setahun, apa masih kurang? Uneg-uneg tidak bisa di tanyakan kepada siapasiapa, meskipun pada Bu Lurah yang PKK, sebab mau bertanya takut. === [PDF page 27] === 20 BULAMI (SERI-KARTING 11) Perempuan Indonesia sudah lebih maju. Sampai negara sedunia mengerti. Banyak yang sarjana dan pintar. Dokter, Doktor ahli hukum, astronom meskipun belum menembus ruang angkasa. Ahli segala ilmu ada. Pintar di segala bidang. Dan para pemimpin perempuan yang tugasnya sudah mapan di tempatnya masing-masing. Yang ilmuan kiprah di bidangnya. Yang mendampingi suami cukup sibuk dengan tugas kenegaraan dari pusat sampai daerah. Ini sudah benar menurut jalur-jalurnya sesuai arus jaman Orde Baru. Tetapi kalau menurut pandang RA. Kartini, tentu masih perlu dipertanyakan. Mekanisasi yang lengang yang perlu di riset ini bersambungnya ke arah orang awam. Bagaimana supaya sadar. Kalau kaum perempuan yang awam ini tidak memiliki kesadaran sebagai warga yang haknya tidak berbeda dengan laki-laki, yang akan nrimo di madu, nrimo dipukuli, nrimo dicaci-maki, nrimo dilecehkan. Kesadaran di mulai dari pendidikan awal. Tentang ilmu kemasyarakatan, tentang dananya, tentang kewajibannya aparat desa dan pemerintah, tentang perlunya kesehatan - kebersihan dan tentang pendidikan anak-anaknya supaya tidak ketinggalan dalam menghadapi era globalisasi dan pasar bebas, dalam suasana aturan demokratis dan keterbukaan. Silahkan riset ke desa - obyeknya, ibu-ibu dan gadis desa. Jumlah kaum perempuan kira-kira separuh jumlah penduduk. Ini merupakan kekuatan produksi yang terpenting, apabila bisa di kerahkan dalam pembangunan masyarakat. Dalam hal ini Julia I. Suryakusuma menulis dalam artikel yang sama dengan yang tersebut terdahulu berjudul sebagai berikut: === [PDF page 28] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN 21 “Masyarakat yang lebih egaliter.” “Bila wanita dibicarakan, seolah-olah wanitanyalah yang menjadi masalah. Pada zaman modern ini wanita banyak menghadapi tantangan. Laki-laki juga, tetapi pergerakan laki-laki itu memang searah dengan nilai-nilai dominan dalam masyarakat. | Jika wanita berusaha mengekspresikan diri secara manusiawi, berusaha menghadapi tantangan hidup seperti halnya laki-laki di katakan tidak feminin. Padahal. konsep “feminitas” juga dalam kontek ketimuran yang menjadi kebaggaan juga di tentukan oleh tradisi adat, kebudayaan, ideologi bahkan mode. Kesemua konsep ini hanyalah bagian dari keseluruhan norma dan nilai dalam masyarakat. Dalam masyarakat yang patriarkat yang tak mengenal azas egaliter, bila wanita “tiba-tiba” meminta persamaan hak, maka kaum lelakinya akan kaget dan merasa kedudukan mereka terancam. Bukan hanya kepada ego mereka, tetapi terhadap seluruh status quo. Sebenarnya hubungan antara wanita dan pria adalah salah satu hubungan antara manusia yang paling wajar, paling alami. Akan tetapi karena konstruksi sosialnya menghasilkan streotipe dan hirarki yang kaku — membantu, maka jarang orang dapat berbicara mengenai hal ini dengan jujur. Orang terperangkap oleh kemunafikan yang sangat menghambat keterbukaan dan pengertian yang lebih mendalam mengenai laki-laki dan wanita sebagai manusia seutuhnya, dan hubungan yang terdapat di antara mereka. Laki-laki harus lebih terbuka pada realita “dunia” dan hidup wanita, sedang wanitanya Jangan hanya nrimo saya, terbius oleh pendewi-totolan. Kenyataan bahwa kita itu manusia seharusnya lebih penting daripada segala perbedaan yang === [PDF page 29] === 22 SULAMI (SERI-KARTING 11) memisahkan satu manusia dengan yang lainnya, termasuk jenis kelamin. Perbedaan itu akan selalu ada, tetapi apabila kita dapat menerima pula adagium “persamaan dan perbedaan” — seharusnya kita dapat pula menerima perbedaan dalam persamaan, karena hanya lembaga-lembagalah yang ingin menciptakan uniformalitas. Mengenai “peran wanita” itu, apalagi dalam konteks pembangunan sudah sering dibicarakan dan tidak disangsikan lagi besarnya peran wanita itu. Akan tetapi yang lebih hakiki adalah apabila kita tidak sekedar berbicara mengenai peningkatan “perananperanan” dalam suatu status guo, tapi pengembangan konsep dan status wanita oleh wanita itu sendiri. Yang tak banyak disadari oleh banyak orang adalah bahwa emansipasi atau “pembebasan” wanita itu sebenarnya juga pembebasan laki-laki, bahkan pembebasan seluruh masyarakat. Emansipasi yang sebenarnya itu sama sekali bukan anti laki-laki, walaupun di Barat ada feminisme yang memakai cap demikian. Sebaliknya malah emansipasi wanita itu mengajak laki-laki untuk menciptakan suatu masyarakat yang egaliter, yang lebih baik dan lebih adil. Dalam retorik kesadaran masyarakat di Indonesia tentang emansipasi sudah cukup tinggi, tetapi dalam prakteknya masih jauh. Dalam hal ini cukup dapat difahami. Untuk mengubah hal-hal yang sudah mendarah daging, berakar mendalam memerlukan waktu-proses yang pasti mengandung hal-hal yang pahit, yang menyakitkan, tetapi itulah namanya perjuangan. Apa yang pasti adalah bahwa terlalu lama kemungkinankemungkinan yang bisa diperoleh dari wanita untuk kemanusiaan itu tertekan dan hilang. Sekarang sudah === [PDF page 30] === 23 PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN waktunya wanita menjadi kekuatan yang progresif — untuk intersinya sendiri, dari perbaikan yang mendasar dan kepentingan seluruh masyarakat”. Demikianlah tulisan Juli I Suryakusuma sudah berusia 14 tahun, ternyata isi dan artinya masih relevan dengan keadaan sekarang. Kenyataannya perjuangan kaum perempuan atau hak-haknya belum berhasil sepenuhnya. Memang kesempatan telah digelar dan disahkan oleh Undang-undang Dasar 1945, bahwa semua warga negara laki-laki atau perempuan mempunyai hak dan kewajiban yang sama yang tepatnya berbunyi sebagai berikut: 1. Segala warga negara bersama kedudukannya di dalam hukum dan pemerintahan dan wajib menjunjung hukum dan pemerintahan itu dengan tidak ada kecualinya. 2. Tiap-tiap warga negara berhak atas pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan. Selanjutnya dari Kementerian Negara Urusan Peranan Wanita merumuskan, tentunya sebagai penjelasan sebagai berikut: “Prinsip egaliter dan non diskriminatif yang terkandung dalam dasar falsafah dan konstitusi tadi merupakan konteks yang positif bagi lahirnya paragraf tentang persamaan status, kedudukan, hak kewajiban dan tanggung jawab antara pria dan wanita di dalam memainkan peranannya di dalam kehidupan berbangsa dan bernegara”. Tetapi dalam praktek tidak semudatu membaca kitab Undang-undang bagi kaum perempuan. Segala usaha untuk mencapai masyarakat yang egaliter, yang jujur, dan ikhlas terhadap perempuan kaum perempuan dalam jenjang lebih tinggi sangat sulit. Perjuangan untuk mendapatkan perlakuan yang === [PDF page 31] === 24 SULAMI (SERI-KARTINI ID adil, pengertian sesama warga negara yang wajar tidak merendahkan balikan penghinaan yang kasar terhadap perempuan masih sulit dan berat. Terutama bagi yang awam. Pandangan yang di dasarkan “kodrat kaum perempuan” masih kuat. Dalam masyarakat perempuan terbagi-bagi ada yang menjadi mahasiswa, dukun bayi, tukang pijat, dokter, perawat, karyawan pabrik, pedagang, pengusaha, petani, TKW, isteri, Pegawai, guru dan lain-lain. Dan diperkirakan berpendidikan SMA dan setingkatnya berjumlah kurang lebih sepertiga dari yang awam. Yang belum pengalaman, pendidikan, keterampilan dan sarana cukup memerlukan sekali bimbingan dan bantuan. Mereka itu tersebar di pedesaan, dipinggiran kota-kota besar, dan pulau-pulau kecil yang terpencil, yang diluar jangkauan. Salah satu contoh, pada tanggal 4 Desember 1995 di Bulettin Siang RCTI menyiarkan sebuah berita pulau kecil bernama Falue wilayah NTT yang hidup rakyatnya sangat menyedihkan. Karena mahalnya air, orang mandi dalam satu bulan 4-5 kali. Air minum dan masak mereka dapatkan dari gundukan tanah gamping yang tetes demi tetes ditadah dengan bambu pendel yang disalurkan ke tempat air. Untuk masak saya tidak cukup, apalagi untuk mandi. Kadangkala mandi air laut, maka penyakit kulit bahkan lepra tidak terhindari. Penemuan RCTI yang disiarkan sangat penting dan menggugah hati kita untuk berfikir lebih jauh. Kami percaya, bahwa masih terdapat pulau-pulau kecil terpencil lainnya yang belum terambah penelitian semacam itu. Tugas ini bisa ditangani oleh tangantangan kaum perempuan, LSM-LSM, yang === [PDF page 32] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN 25 mengkhususkan mengurusi kaum perempuan sudah ada yang mulai menyibak hutan kesengsaraan di pulau-pulau meskipun belum mendekati tuntas, tetapi sudah ada yang mulai. Program pengentasan kemiskinan tidak bisa dihitung secara matematis. Karena kenyataan di lapangan, desa-desa terpencil dan pedesaan pegunungan yang jauh dari kota yang hidup dibawah kemiskinan lebih banyak dari yang kecukupan. Memang kaum perempuan yang kreatif dan bergerak belum puas dengan gerakan perempuan yang berkesan glamour dan mewah, sebab dibawah di desa-desa, di pulau-pulau nan jauh umumnya masih hidup ketinggalan jaman, agraris. kebudayaannya rendah, pendidikan tidak ada, sengsara, menderita, miskin, makan satu hari satu kali, mandi sebulan hanya 4-5 kali. Soal kesehatan keluarga jangan di pertanyakan, kalau kondisi hidupnya demikian, sudah 50 tahun Indonesia merdeka masih ada penduduk yang hidup demikian, ini menjadi tanggung jawab kita bersama, terutama Pemerintah. Dalam upayanya untuk peduli pada nasib kaum perempuan, tanggal 8 Juli 1995, pagi dalam acara “Polah wanita”, RCTI telah berhasil menyiarkan soal wanita yang menarik dengan mendatangkan orangorang yang terlibat secara itu. “Soal janda dengan masalahnya”. | Secara pokok akan kami ulang tulis disini, faktanya adalah sebagai berikut: » Perceraian ini terjadi sesudah terpaksa karena penderitaan batin dan fisik. Pada umumnya karena kesia-siaan suami terhadap istrinya. Tidak kecocokan yang berlarut. » Masyarakat menilai kadang tidak adil antara === [PDF page 33] === 26 nilai-nilai kaum perempuan dan laki-laki. Pertama yang dipandang salah dan jelek adalah perempuannya, tanpa peduli kenyataan. » Janda muda lebih disoroti, utamanya bila si janda genit. Kecemburuan sosial segera saya menuduh jelek. Terutama janda kembang. » Soal anak menjadi problem. Kebanyakan ditanggung oleh perempuan karena si ibu tidak tega melepas anaknya. Terutama usia balita. » Suami habis cerai tak membawa beban, terutama beban moral, karena masyarakat memandang wajar-wajar saya. » Isteri membawa beban moral dan ekonomi. Ini mendorong janda-janda berani mandiri. Mengatasi problem hidupnya sendiri, yang tentu saya dengan dukungan orang tua, itu kalau . masih adaorang tua. Kadang-kadang orangtua si perempuan malahan ikut menyalahkan anaknya. » Perempuan karier yang tidak kawin tidak luput dari sorotan masyarakat. Pandangannya negatif. Pandangan orang-orang yang maju positif-positif saya. » Faham orang-orang tua cenderung meremehkan janda. Melarang anak laki-lakinya bila menikah dengan janda. > Menurut agama cerai tidak salah apabila untuk menghindari penderitaan. » Artis-artis disoroti masyarakat cenderung mudah kawin dan mudah cerai. Itu semua tergantung orangnya. » Keadaan masyarakat sekarang, suami-suami cenderung suka marah, suka memukul, suka menyeleweng sampai isteri minta cerai karena tidak tahan perlakuannya. === [PDF page 34] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN 27 » Ada perempuan cenderung menjaga status sebagai perempuan terpandang, membiarkan dirinya menderita. Menghindari perceraian atau terus berkorban demi anak-anaknya. » Penderitaan kaum perempuan dalam bentuk diskriminasi diciptakan oleh sistem feodal dan kapitalis yang ada. Demikian cara menarik yang telah disuguhkan pada kita, tidak hanya bagi perempuan, tetapi juga laki-laki. Lebih lanjut oleh para tokoh cendikiawan, bekas pejuang, aktivis-aktivis perempuan diadakan seminar satu hari bertema “PEREMPUAN DAN KEMERDEKAAN”. Yang diprakarsai oleh Prof. Saparinah Sadli, Mely G. Tandan Carla. Biarpun alasannya mengapa diadakan seminar itu? Karena perempuan dalam perjuangan kemerdekaan selalu aktif berpartisifasi; peran sertanya dalam karya Pembangunan perlu lebih ditampilkan, visi kedepan perlu diungkapkan. Pembicara adalah para pelaku aktif dalam perjuangan, dalam pembangunan sekarang, kaum muda dari usianya, tentang peran perempuan dalam pembangunan bangsa dan negara. Banyak nama tampil dalam seminar dan mendapat sambutan baik, Seperti perempuan tampil dalam perjuangan bangsa berdasarkan pengalaman pribadi, disampaikan oleh Suwarni Salyo, Mursia Zafril Ilyas dan Abdurrachman Wahid. Dikomentari oleh Prof. Saparinah Sadli. Peran serta perempuan dalam pembangunan pribadi, disampaikan oleh Syamsiah Achmad, Nafsiah Boi, Rukmini dan Marwah Daud. Tentang visi ke depan, berbicara Rita Serena Kalibongso mengenai Hukum, Tati Krisnawati soal === [PDF page 35] === 28 SULAM! (SERI-KARTINI 11) Solidaritas dan Didin Safrudin soal visi laki-laki. Menarik sekali apa yang dibicarakan, mencakup soal kehidupan tentunya. Krisnawati berbicara soal buruh perempuan dan perjuangannya dengan judul “Menggalang Solidaritas “Membebaskan Perempuan tertindas”. Antara lain menyatakan bahwa: 1. Bingkai masalah kesenjangan di sekitar kita. Dinyatakan tak layak suatu negara dikatakan merdeka jika kaum perempuannya belum merdeka. Hal ini menunjuk perempuan yang jumlahnya separuh dari warga negara masih mengalami penindasan. Diskriminasi, hidup dibawah garis kemiskinan. Yang hidup dilapisan ekonomi atas dan mencapai jenjang yang tinggi, tetapi masih sedikit, sedang yang hidup di lapisan bawah masih banyak. 2. Fokus kita pembangunan yang kapitalistis dan nilai-nilai patriarchal. Dinyatakan bahwa kesenjangan memang bukan fenomena baru, ia telah muncul sejak jaman feodal, dilanjutkan masa kolonial awal kemerdekaan dan juga masa pembangunan. Orde baru menerapkan pembangunan yang mengundang modal besar. Baik pinjaman antara pemerintah maupun investasi. Pertumbuhan ekonomi diharapkan mampu menetes ke bawah setelah 30 tahun, apa yang diharapkan Indonesia mencapai tingkat pertumbuhan ekonomi yang yang diharapkan GNP meningkat menjadi 650 US $. Standar hiduppun secara umum meningkat (seperti usia harapan hidup, tingkat kematian bayi, === [PDF page 36] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN 29 taraf pendidikan dll). Sayangnya hasil pembangunan tidak menetes ke bawah sebagaimana yang dicita-citakan Orde baru. Gambaran umum tentang hal ini, antara lain, ditunjukkan oleh laporan Bank Dunia yang menyebutkan kemiskinan dan Indonesia bergerak antara 17-27? atau ada sekitar 30-40 juta penduduk yang hidup di bawah garis kemiskinan. Data yang dikumpulkan Depnaker menunjukkan, bahwa antara tahun 1984-1988 terjadi peningkatan kemiskinan di daerah perkotaan. Jika kita membandingkan indikator sosial yang dicapai Indonesia dalam pembangunan dengan indikator sosial negara-negara Asia, tampak bahwa Indonesia yang terendah. Upaya Indonesia untuk memerangi kemiskinan menghadapi kembali masalah rumit dari paradigma dan politik pembangunan itu sendiri. Pembangunan yang ditopang oleh modal besar (kapitalis asing) memaksa Indonesia untuk tunduk pada aturan main yang ditentukan negara-negara kaya dan lembaga-lembaga keuangan Internasional seperti IMF dan World Bank. Instansi asing mau masuk Indonesia dengan persyaratan adanya infrastruktur yang memadai (seperti pembangkit tenaga listrik, jalan-jalan, telekomunikasi, sumber air dan lain sebagainya), buruh murah dan kestabilan. Infrastruktur dibangun dari dana pinjaman. Hutang Indonesia kini telah mencapai 78 milyar US $. Proyek-proyek skala besar dilakukan, meskipun tidak efektif bagi kepentingan rakyat atau bahkan mengorbankan rakyat (lihat antara lain kasus pembangunan bendungan Kedung Ombo, penggusuran-penggusuran untuk jalan tol, === [PDF page 37] === 30 BULAMI — (SERI-KARTINI 1) gudang peti kemas, lapangan golf dan lain-lain). Demi modal asing upah buruh Indonesia ditekan sedemikian rupa. Stabilisasi pun dilakukan dengan segala cara. Mulai dari paket undang-undang, politik di Indonesia hingga pembatasan pers, pengendalian organisasi massa, pengebirian organisasi buruh, ketidak pastian hukum bahkan teror phsykologis. Pemaksaan program Keluarga berencana juga dapat diletakkan dalam kerangka pengendalian stabilitas. Kesemuanya ini adalah konsekwensi dari perangkap kepentingan negara-negara kaya, metode baru dari eksploitasi kolonialisme dan imperialisme. Dalam situasi ini yang paling dirugikan adalah perempuan dari lapisan bawah atau yang secara budaya terlumpuhkan. Hal ini berkaitan dengan penerapan ideologi patriarkhi dalam pembangunan yang kapitalistis. Ideologi patriarkhi yang sudah ada dalam masyarakat di perkokoh oleh pandangan negara yang antara lain terumuskan dalam G.B.H.N. dan Undangundang perkawinan serta disosialisasikan lewat organisasi-organisasi perempuan yang mensubordinasikan kedudukan perempuan. Ideologi patriarkhi memandang perempuan lebih rendah dari pada laki-laki, sehingga harus patuh terhadap lakilaki, melayani keluarga, selalu harus bersikap manis, lemah lembut- penyabar, toleran dan tidak melawan. Steoreotype yang di paksakan dalam kerangka hubungan yang tidak egaliter ini berdampak jauh bagi perempuan. Revolusi hijau di pedesaan bukan saya menghapus habis orientasi budaya petani (perempuan dan lakilaki) yang di bangun berabad-abad untuk kelestarian dan kesejahteraan hidup petani sebagai pemrakarsa, mengebiri keteramilan para petani, tetapi juga === [PDF page 38] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN 31 mengubah predikat petani perempuan menjadi sekedar isteri petani. Perubahan predikat yang didasari oleh pandangan patriarkhi ini dalam kerangka pembangunan di pedesaan menurunkan perempuan ke dalam kondisi yang lebih buruk dari petani laki-laki. Mereka di jauhkan dari akses informasi, suara mereka tidak dihitung dalam musyawarah pembangunan, juga dalam penyelesaian konflik. Lebih buruk lagi mereka dianggap sebagai perempuan yang kurang “kerjaan”. Lalu mereka di . bebani program-program P.K.K. (yang biasa di kota) untuk meningkatkan keterampilan tersebut tidak relevan dalam kehidupan nyata mereka. Marginalisasi petani perempuan dari sumber daya ekonomi pedesaan secara umum dapat di lihat dari meningkatnya jumlah penganggur perempuan desa yang berbondong-bondong mengais untung di negara orang, bekerja sebagai buruh migran (T.K.W.). Mayoritas buruh migran perempuan Indonesia bekerja sebagai pembantu rumah tangga dengan kondisi yang tidak menentu (bahkan cenderung tidak menentu dan rawan atas tindakan kekerasan termasuk jam kerja panjang, pemerasan, penipuan dan pelecehan dan perkosaan), status di rendahkan dan jauh dari perlindungan. Pandangan patriarkhi yang menganggap perempuan bukan pencari nafkah (kalaupun mencari nafkah hanya sebagai nafkah tambahan) telah menurunkan buruh perempuan menjadi kelompok yang mendapatkan upah lebih rendah jauh di bawah standar upah minimum. dan lebih rendah dari upah rata-rata buruh laki-laki. === [PDF page 39] === 32 Laporan ILO terakhir (1995) menunjukkan bahwa upah rata-rata buruh Indonesia merupakan salah satu yang terendah di Asia... dan terendah di kawasan Asia Tenggara. Marsinah adalah salah satu dari ratusan ribu buruh perempuan Indonesia yang menerima upah di bawah standar upah minimum. Kita semua tahu, ia harus menghadapi kenyataan yang paling pahit dan keji manakala bersama kawan-kawannya memperjuangkan kenaikan upah. Daftar contoh lain yang menggambarkan dilemahkannya posisi perempuan dalam proses pembangunan masih bisa kita perpanjang. Menghilangnya profesi dukun bayi, tergusurnya para pedagang kecil, tidak adanya perlindungan hukum bagi pembantu rumah tangga dan lainlain. Meskipun Indonesia telah meratifikasi Konvensi Penghapusan segala bentuk diskriminasi terhadap perempuan, perangkat hukum yang ada belum sepenuhnya menjamin hak-hak perempuan bahkan beberapa diantaranya mengandung bias yang merugikan perempuan. Cita.cita tuhur kemerdekaan Indonesia adalah terbentuknya negara Indonesia yang melindungi segenap Bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia,memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi, dan keadilan sosial. Cita-cita ini kini dihadapkan pada realitas penjajahan baru, dan sebagian perempuan === [PDF page 40] === PEREMPUAN DALAM ARUS ZAMAN 33 termasuk dalam kelompok yang paling dirugikan. Mencari jalan keluar atas persoalan ini merupakan pekerjaan raksasa. Upaya-upaya memajukan perempuan baik yang dilakukan pemerintah, organisasi non pemerintah (L.S.M.), organisasi perempuan maupun pengurus tinggi sering terjebak hanya pada konsep dasar pembangunan yang ekonomis “dan cenderung terbatas pada upaya perbaikan kondisi, tidak merubah posisi cecara mendasar. Posisi subordinat perempuan justru ada kecenderungan di langgengkan. Persoalan memang tidak sederhana Permasalahan penindasan perempuan berada di tengah-tengah persoalan ketimpangan struktural dalam lingkup nasional dan internasional. Kepentingan negara-negara maju yang manifestasinya dalam kebijakan lembaga-lembaga keuangan Internasional mewujudkan posisi tawar negara seperti Indonesia. Proses depolitisasi masa didalam negeri telah menyumbat sarana perjuangan politik rakyat, pendekatan keamanan telah mencekam daya kritis dan keberanian rakyat bahkan menimbulkan ketakutan yang berlebihan. Pandangan tentang kemajuan pun terbatas pada kemajuan fisik semata. Pasar bebas, perkembangan teknologi, kemajuan informasi dan sarana komunikasi di satu sisi mempermudah kehidupan namun di sisi lain telah menggiring masyarakat untuk lebih menjadi konsumen dari pada produsen. Individualistis, dan memupuk kekayaan. Jurang antara yang kaya dan yang miskin, yang kuat dan yang di lemahkan === [PDF page 41] === 34 SULAMI (SERI-KARTINI II) semakin lebar. Atas dasar prinsip human dignity, martabat manusia, maka semua pihak bertanggung jawab, berhak dan sekaligus berkewajiban lewat bidangnya masing-masing, untuk melakukan sesuatu mengubah kondisi dan. posisi, mencapai kemajuan yang sejati, adil dan merata. Dalam kerangka itu, perempuan tertindas mempunyai hak untuk mengubah sendiri posisinya, lewat saluran politik yang mereka kuasai. Kita perlu menggalang solidaritas agar perjuangan perempuan tertindas berhasil. Agar Indonesia benar-benar “merdeka”. Demikian salah satu makalah yang kami kemukakan disini. Adapun yang lain-lain tidak kurang menariknya, beragam persoalan dan pengalaman, ramuan masalah perempuan yang perlu di kaji. Mudah-mudahan dalam tulisan yang akan datang kami dapat meracik secara singkat bahan renungan menghadapi masa depan dimana perempuan dihadapkan suasana kebebasan yang lebih terbuka sebagai akibat logis dari pasar bebas dan globalisasi tahun 2000 dan 2010. Tulisan ini akan kami akhiri di sini, dengan harapan tiap memperingati Hari Ibu dan Hari Kartini dapat lebih jauh wawasannya, dan mempunyai rangsangan lebih luas untuk menjangkau pedesaan, kepulauan dan perkotaan sebagai lapangan kerja terdepan untuk mematahkan belenggu penderitaan dan kaum perempuan, kesengsaraan, penghinaan, sasaran kebuasan seksual, iklan yang cenderung porno, pelacuran dan lokasinya, hantu penyakit HIV — dan AIDS, sisa adat feodal. Selain kerendahan martabat lainnya. Kita tahu bahwa semuanya bersumber pada tatanan === [PDF page 42] === PEREMPUAN DALAM. ARUS ZAMAN 35 masyarakat yang feodalistis dan kapitalistis. Untuk ingat kembali pada UUD 1945 pasal 33 ada muatan disini dialog antar perempuan. Semoga tulisan ini dapat menambah bahan renungan bagi kaum perempuan yang menginginkan berjuang terus untuk mencapai cita-cita kebebasan dan keadilan bagi kaum perempuan. Sehingga wanita bisa hidup mandiri, tidak tergantung dalam menjalankan tugas kewajiban perjuangan untuk ketentraman, dan persamaan dalam keadilan dalam rumah tangga. Selamat membaca. Jakarta, 22 Desember 1995 Penulis, Sulami M === [PDF page 43] === DAFTAR PUSTAKA Buku Kartini “HABIS GELAP TERBITLAH TERANG” terjemahan Armyn Pane Majalah PRISMA terbitan th. 1981 - no. 7. tulisan Julia I Suryakusuma KOMPAS Tgl. 4 April 1995 KOMPAS Tgl. 31 Mei 1995 KOMPAS Tgl. 26 Juli 1995 KOMPAS Tgl. 29 Juli 1995 KOMPAS Tgl. 31 Juli 1995 KOMPAS Tgl. 1 Agustus 1995 KOMPAS Tgl. 7 Agustus 1995 KOMPAS Tgl. 10 Agustus 1995 KOMPAS Tgl. 23 Agustus 1995 KOMPAS Tgl. 28 Nopember 1995 Seminar Sehari Tentang Perempuan dan Kemerdekaan Penyelenggara; Saparinah Sadli, Mely G. Tan, Carla Buanpun. Pada tgl. 22 Agustus 1995 di Jakarta. Dialog sehari tentang Perkosaan yang diadakan oleh LSM/ Kalyana Mitra tgl. 22 Agustus 1995 di Jakarta. R.C.T.I. Acara: “Polah Wanita”, tgl. 8 Juli 1995 dan “Soal Pulau Terpencil”, siaran tgl. 4 Desember 1995. KOMPAS tgl. 28 Nopember 1995 tentang hasil Seminar yamg diselenggarakan oleh Ikaran Peminat dan Ahli Demografi dan Kantor Menteri Negara Kependudukan. Pengamatan di Warung Nasi selama tiga tahun yang berhasil menjaring 40 Problem Hidup. === [PDF page 44] === | Pe Ae lie | | = * Pada tahun: 1900 R.A. Kartini telah menyerukan anti poligami dan anti penderitaan * Hingga tahun 2001 Kenyataan yang dialami kaum perempuan, masih adanya poligami, diskriminasi terhadap perempuan baik di dalam sistim produksi (khususnya buruh perempuan) maupun di berbagai kehidupan sosial, ekonomi, politik dan lain sebagainya. Demikian halnya tindak berbagai tindak kekerasan dan perlakuan sewenang-wenang terhadap kaum perempuan. * Sampai kapankah itu berakhir? * Tantangan perjuangan emansipasi kaum perempuan AM 0128576 Code I-2002-349834 02 CORNELL UNIVERSITY LYBRARIES