Kisah Pelarian Tiga Gerwani dari Penjara Bukit Duri (Merdeka.com, 2012)
Cleaned OCR text (Good (0.944); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
Kisah pelarian tiga Gerwani dari penjara Bukit Duri – YPKP 1965 https://ypkp1965.org/blog/2017/09/24/kisah-pelarian-tiga-gerwani-dari-penjara-bukit-duri/ Retrieved 2026-10-13
BeritaKisah TapolKliping
Kisah pelarian tiga Gerwani dari penjara Bukit Duri Redaksi September 24, 2017 (Last updated: Oktober 22, 2017) 3 minutes read 0 comments
ilustrasi penjara. sxc.hu
Senin, 24 September 2012 07:31 | Reporter: Ramadhian Fadillah
Truk dan motor lalu lalang di Komplek Ruko Bukit Duri Plaza, Jakarta Selatan. Jejeran ruko yang tampak kuno berdiri berderet. Beberapa kuli membongkar barang-barang untuk dimasukkan ke gudang. Sama sekali tak ada bekas-bekas sebuah penjara besar pernah berdiri di sana.
Sejak tahun 1984, Penjara Wanita Bukit Duri sudah dibongkar. Penjara ini dulu pernah sesak dengan tahanan politik tahun 1968 hingga 1979. Para anggota Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) dan tokoh-tokoh PKI pernah dipenjara di sini.
Lokasi di dekat Kampung Melayu dulu merupakan benteng pertahanan kolonial Belanda tahun 1600an. Pagar berduri dibangun di sepanjang tepi sungai Ciliwung. Letak benteng itu memang agak tinggi sehingga menyerupai sebuah bukit kecil jika dilihat dari seberang sungai. Inilah asal nama Bukit Duri.
Kini, bangunan penjara sudah berganti dengan Ruko Bukit Duri Plaza. Sementara bengkel senjata di sampingnya menjadi Komplek Bukit Duri Permai. Wartawan merdeka.com, Ramadhian Fadillah dan Islahudin mendatangi lokasi ini pekan lalu.
“Dulu di sini seram. Rumah saya dekat sekali dengan penjara itu. Sering ada teriakan-teriakan. Kata orang tua saya itu penjaga lagi menyiksa tahanan,” cerita Indra (57), seorang warga yang kini menjadi sekuriti di Komplek Ruko Bukit Duri Plaza.
Warga lain, Jayadi (55) menceritakan peristiwa yang tidak pernah akan dilupakannya. Sekitar tahun 1975, Jayadi bekerja sebagai tukang becak. Pada suatu hari, menjelang siang. Tiba-tiba orang-orang dikejutkan tiga tahanan wanita yang mencoba melarikan diri dengan menyeberangi Sungai Ciliwung. Teriakan-teriakan penjaga yang mengejar terdengar keras. Rupanya ada tiga orang Gerwani yang melarikan diri.
“Saya ingat mereka cuma pakai pakaian dalam. Lari menyeberang sungai, tapi dikejar dan tertangkap. Saya lihat mereka dipukuli penjaga. Warga hanya diam saya, tak ada yang berani (membela). Kasihan mereka,” kata dia.
Sri Sulistyawati (71), adalah seorang wartawati Warta Buana yang sebelas tahun dipenjara di Bukit Duri. Sri menjadi tahanan politik karena dianggap pembela Sukarno. Alasan lain, Sri pernah membantu mendirikan Gerwani cabang Jakarta. Selain itu suami Sri adalah Ketua Pemuda Rakyat Sukatno yang menjadi underbouw PKI. Tanpa pengadilan Sri dijebloskan ke penjara.
“Di sana saya makan dengan pinset karena nasinya dicampur dengan beling dan pasir. Mereka (Pemerintah Suharto) ingin kita mati pelan-pelan,” jelas Sri kepada merdeka.com.
Sri menjelaskan umumnya tahanan tidak disiksa di Penjara Bukit Duri. Tapi dibawa ke tempat lain. Istilahnya dibon, atau dipinjam. Nasib tahanan pun bergantung ke tempat mana dia dibon.
“Banyak yang tidak kembali lagi ke tahanan. Mungkin dieksekusi,” kata Sri yang mengalami siksaan di lokasi Gang Buntu, Kebayoran Lama.
Ketika napi wanita lain dikirim ke Plantungan, Sri tetap ditahan di Bukit Duri. Oleh pemerintah Orde Baru dia memang dikategorikan tahanan politik kelas A bersama para tokoh PKI yang lari ke Blitar Selatan. Kelas A adalah kategori tapol yang dianggap paling berbahaya.
Penjara Bukit Duri kini sudah runtuh. Tapi sejarah kelam mereka yang ditahan tanpa pengadilan tak akan pernah dilupakan warga dan mantan tahanan penjara wanita Bukit Duri. [ian]
Sumber: Merdeka.Com
About the Author
Redaksi
Administrator
Website resmi YPKP 65 Pusat Dikelola oleh Divisi Humas & Media
Visit Website
View All Posts
Post navigation
Previous:
Pecahan Kaca di YLBHI: Serangan terhadap Pencari Keadilan Next:
FPI Buat Bendera PKI, FPI Pula yang Bikin Rame Tinggalkan Balasan
Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *
Komentar *
Nama *
Email *
Situs Web
Simpan nama, email, dan situs web saya pada peramban ini untuk komentar saya berikutnya.
Related Stories
Kisah Tapol
Kerja Paksa Tapol 1965 di Banten: Dari Jalan Lintas Kabupaten, Irigasi Cirata, GOR Maulana Yusuf Serang, Kawasan Wisata Karang Bolong Hingga Proyek Sawah Luhur Redaksi Agustus 4, 2026
ArtikelKisah TapolMemorialisasi
TAPOL 65 PAHLAWAN YANG DIHINAKAN DI BALIK ARSITEKTUR GOR MAULANA YUSUF SERANG, BANTEN
Redaksi Juli 21, 2026
Kisah TapolUncategorized
Kisah Siksa, Kerja Paksa dan Lagu Cinta Tapol 65 dari Penjara (Rumah Tahanan Chusus) Tangerang Redaksi Juli 16, 2026