Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02861

Seratus Tahun Feminisme di Indonesia (Arivia dan Subono, FES, 2018)

Cleaned OCR text (Good (0.94); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

=== [PDF page 1] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Analisis terhadap Para Aktor, Debat, dan Strategi Gadis Arivia dan Nur Iman Subono === [PDF page 2] === [Blank page] === [PDF page 3] === STUDI KASUS DI INDONESIA Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Analisis terhadap Para Aktor, Debat, dan Strategi Dr. Gadis Arivia dan Dr. Nur Iman Subono Studi ini mendalami kebangkitan feminisme di Indonesia yang dimulai satu abad lalu. Feminisme di Indonesia memiliki sejarah panjang dan telah berkontribusi pada wacana kesetaraan sebagai proyek penting yang membawa perubahan sosial. Feminisme sering kali dituduh sebagai ideologi Barat atau diadopsi dari budaya Barat. Namun studi ini menunjukkan bahwa feminisme dunia ketiga berakar dari prinsip-prinsip dan budaya sendiri. Meskipun feminisme di Indonesia telah mengalami kemajuan signifikan, masih ada penolakan keras terutama dari kelompok-kelompok fundamentalis agama, konservatif, dan populisme sayap kanan. Kelompok minoritas gender, orientasi seksual, dan agama menghadapi undang-undang dan peraturan daerah yang diskriminatif di berbagai yurisdiksi di Indonesia. Studi akademis feminis di Dunia Ketiga atau di Indonesia harus didukung untuk bisa menghasilkan, menerbitkan, menyebarkan, dan mengonsumsi ide-ide sendiri, dan digunakan sebagai instrumen analisis dan strategis untuk mengembangkan pengetahuan dan praktik gender sendiri. Studi akademis feminis di Indonesia dapat memainkan peran signifikan dalam memperkuat kesetaraan dan keadilan gender di tengah masyarakat konservatif atau wacana hegemonik Barat. === [PDF page 4] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Daftar Isi Kata Pengantar................................................................................................................................... 5 Pendahuluan...................................................................................................................................... 6 Kolonialisme dan Nasionalisme: Di Mana perempuan?........................................................................ 7 Pionir Pemikiran Feminisme................................................................................................................. 9 Perempuan dan Feminisme Pasca-Kolonialisme.................................................................................... 11 Munculnya Pemikiran Feminis Kontemporer........................................................................................ 13 Pembongkaran Wacana Seksi dan Keterlibatan Aksi......................................................................` 14 Seksualitas dan Konservatisme....................................................................................................... 19 Feminisme Negara......................................................................................................................... 21 Penutup............................................................................................................................................. 23 Daftar Pustaka.................................................................................................................................... 24 === [PDF page 5] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Kata Pengantar Friedrich-Ebert-Stiftung (FES), yayasan politik tertua di Dengan latar belakang ini, FES telah meluncurkan Jerman, berkomitmen terhadap ide-ide dan nilai-nilai sebuah proyek mengenai Feminisme Politik yang utama demokrasi sosial. Inti dari kegiatan FES di lebih bertujuan untuk membangun jembatan antara aktivisdari 100 negara adalah mendorong kesetaraan gender aktivis feminis yang telah mapan dan feminis-feminis sebagai bagian integral dari keadilan sosial, demokrasi, generasi baru, serta antara advokat setia feminisme dan perdamaian, dan solidaritas internasional. Kesetaraan mereka yang “bergeming”, dari “feminis elite” sampai gender merupakan dasar dari seluruh upaya FES untuk aktivis akar rumput yang menghimpun orang-orang menangani semua isu yang dihadapi. Upaya mencapai tanpa melihat orientasi seksual, serta identitas dan kesetaraan gender adalah sebuah pergulatan yang sangat ekspresi gender. Selain itu, FES melihat perannya dalam politis, dan FES bersedia berkecimpung di dalamnya menyediakan sarana untuk koalisi antara feminis, pemikir untuk membangun aliansi dan memberdayakan agen- progresif dan pemimpin opini, aktor-aktor masyarakat agen perubahan untuk mengatasi resistensi terhadap madani, gerakan sosial, serikat perdagangan, akademisi, akses yang sama terhadap dan penguasaan yang setara perwakilan sektor swasta, dan pembuat kebijakan. Hal atas sumber daya bagi semua anggota masyarakat. ini dapat dicapai sebagian dengan membentuk diskursus feminis yang baru dan lebih progresif di Asia yang lebih Gerakan feminis di banyak negara Asia berakar pada “menarik” untuk aktor-aktor progresif lain dan akan gerakan-gerakan berbasis hak lainnya. Untuk itu, membantu mengungkapkan sebab-sebab umum. gerakan ini cenderung mengintegrasikan narasi-narasi feminis dengan isu-isu keadilan sosial lain. Pengutamaan Studi ini akan berperan sebagai titik awal, lewat analisis pendekatan berbasis hak ini menghasilkan gerakan yang akar sejarah dan evolusi gerakan feminis maupun aktorterfragmentasi dan tidak fokus yang sering kali kekurangan aktor, debat, dan strategi di Indonesia masa kini. Tidak dimensi politik yang kuat, mengabaikan pemberdayaan hanya Indonesia, studi serupa juga telah dilakukan di politik dan ekonomi, serta mengesampingkan struktur- Bangladesh, Cina, Filipina, India, Thailand, dan Pakistan. struktur kekuasaan yang ada. Ironisnya, kendala-kendala Pada kesempatan ini kami berterima kasih kepada para utama untuk memperkuat gerakan tersebut sering kali mitra kerja sama Dr. Gadis Arivia dan Dr. Nur Iman datang dari dalam, seperti kurangnya inklusivitas dan Subono atas kerja dan upaya luar biasa mereka. Kami persatuan. Selain itu, ada interaksi yang terbatas antara harap studi ini memberikan informasi berharga dan gerakan feminis dan gerakan sosial lain, para akademisi dapat berkontribusi pada debat regional di Asia. yang tidak secara eksplisit menyebut diri feminis, sektor swasta, dan pembuat kebijakan. Akibatnya, klaim-klaim feminis sering dianggap terisolasi dan termarginalisasi. Sergio Grassi Rina Julvianty FES bermaksud mempromosikan sebuah sarana bagi Country Director, Program Officer, gerakan feminis yang lebih inklusif dan berorientasi FES Indonesia FES Indonesia masa depan di wilayah ini, sebagai basis pemeliharaan bagi tuntutan dan dorongan feminis. Akar pada gerakan keadilan sosial ini dapat digunakan untuk membangun September 2017 jembatan dan membentuk aliansi-aliansi baru antara feminis dan aktor-aktor lain dari masyarakat untuk menciptakan basis luas dalam masyarakat untuk kesetaraan gender. === [PDF page 6] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Pendahuluan Membicarakan tokoh dan gerakan feminis, serta menjadi pengetahuan dan aksi-aksi gerakan feminis. pemikiran atau pengetahuan feminisme di Indonesia, Mengutip akademisi Susan Blackburn, yang banyak sampai saat ini selalu masih menimbulkan persoalan menulis tentang gerakan perempuan di Indonesia tersendiri. Meski harus diakui bahwa dewasa ini sudah (Blackburn, 2010; 22): banyak perubahan, dalam arti sudah lebih leluasa dan terbuka untuk mendiskusikan feminisme dengan segala “Meskipun sedikit orang Indonesia yang akan isu, teori, konsep dan pro-kontranya, khususnya setelah mengklaim diri sebagai feminis, kata tersebut berakhirnya pemerintahan otoriter di bawah Presiden sah digunakan untuk sebagian besar gerakan Suharto. Salah satu alasan yang sering dikemukakan perempuan jika kita memahami feminisme secara mengenai mengapa masih ada persoalan adalah karena mendasar sebagai ‘analisis masalah perempuan’ ide-ide atau pemikiran feminisme, dan gerakan yang dan ‘bertindak untuk melawan diskriminasi mengikutinya dianggap tidak memiliki akar budaya terhadap perempuan’.” dan sosial pada masyarakat Indonesia, atau sebaliknya, ide-ide atau pemikiran tersebut berasal dari Barat atau Dengan demikian, meski banyak pihak belum memiliki konotasi Barat. menggunakan atau masih alergi memakai istilah feminisme, tapi sebetulnya apa yang umumnya menjadi Ternyata situasi seperti ini tidak hanya terjadi di lahan kajian dan arena perjuangan aktivis dan kalangan Indonesia. Di negara-negara Asia lainnya, misalnya, akademisi perempuan sama dan lekat sekali dengan ideada semacam upaya untuk membuat perbedaan antara ide atau pengetahuan feminisme. Karenanya, tulisan perempuan dan feminisme, tepatnya antara gerakan ini berupaya untuk memaparkan dan menganalisis feminis dan gerakan perempuan. Stivens (Stivens 2000: latar belakang gerakan perempuan di Indonesia, yang 31) mencatat bahwa kalangan aktivis perempuan Islam sebetulnya sudah sangat akrab dengan ide-ide atau di Malaysia lebih merasa pas menggunakan istilah pengetahuan feminisme, sejak zaman kolonialisme “womanist” dibandingkan istilah “feminist”. Bahkan dan gelombang nasionalisme hingga era pemerintahan kalangan akademisi dan peneliti Cina, lebih suka otoriter Orde Baru di bawah Presiden Suharto, dan menggunakan istilah feminology untuk membedakan perkembangannya kemudian hingga pemerintahan diri mereka dari teori-teori feminis Barat (Edwards, reformasi. Pada era Reformasi, di tengah berbagai versi 2010; 53). Kelihatannya sampai sejauh ini istilah feminis yang muncul untuk memahami apa yang sebenarnya masih dianggap “sesuatu” yang berasal dari luar diri terjadi dengan gerakan perempuan pada periode “mereka”, sehingga banyak perempuan, terutama tersebut, gerakan perempuan ada di pusat gerakan kalangan akademisi dan peneliti, lebih nyaman menjadi Reformasi, ditandai dengan demonstrasi oleh Suara Ibu bagian dari Kajian Wanita (Women’s Studies) daripada Peduli melawan ketidakadilan, mendorong demokrasi kelompok feminis. dan persamaan hak untuk perempuan. Tulisan ini mencoba mengangkat soal ide-ide atau pengetahuan Pertanyaannya kemudian, apakah memang ada feminisme kontemporer yang muncul dan berkembang perbedaan yang “hitam-putih” antara perempuan, dalam kaitannya dengan aktivitas dan praktik politik khususnya aktivis dan akademisi, di Indonesia dengan kelompok perempuan. kalangan feminis di Barat? Sampai sekarang masih banyak perempuan di Indonesia, baik sebagai aktivis maupun akademisi-peneliti, masih belum nyaman dengan label feminis. Padahal apa yang mereka diskusikan maupun praktik politik mereka, dalam banyak hal, sangat sejalan atau searah dengan apa yang sudah === [PDF page 7] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Kolonialisme dan Nasionalisme: Di Mana Perempuan? Sebagaimana tercatat dalam buku-buku sejarah, menjadi bagian dari gelombang pengungsi bersama Indonesia mengalami kolonialisme terpanjang di bawah anak-anak karena tempat tinggalnya sudah tidak aman kekuasaan Belanda. Bisa dikatakan semuanya berawal lagi atau bahkan sudah luluh lantak akibat serangan pada Abad 18 saat Pemerintah Belanda mendirikan VOC pasukan kolonial? Literatur sejarah Indonesia pada (Verenigde Oost-Indische Compagnie – Persekutuan umumnya jarang sekali, jika tidak mau dikatakan tidak Dagang India Timur) pada 1602. Sejak saat itu juga ada, mencatat soal perempuan, baik pemikiran, aktivitas, VOC melakukan ekspansinya ke berbagai wilayah di maupun perjuangannya. Sedikitnya ada dua hal yang Nusantara (baca: Indonesia saat ini), baik melalui cara sering kali diangkat dari ketidakhadiran perempuan perdagangan, penaklukan, perampasan, dan politik adu di dalam literatur sejarah. Pertama, perempuan dalam domba (divide et impera). Ini berlangsung terus hingga perjuangan nasional bukanlah mereka yang berada akhir Abad 18 dengan berakhirnya riwayat VOC sendiri. dalam posisi pengambil keputusan atau menentukan Tapi proses kolonialisme Belanda sendiri masih terus dalam proses-proses politik yang berlangsung. Kedua, berjalan hingga masa kemerdekaan Indonesia yang dalam perjuangan nasional, perkumpulan perempuan secara politik diproklamasikan oleh Sukarno-Hatta terlihat, baik langsung atau tidak langsung, mengalah pada 17 Agustus 1945. “untuk tidak menonjolkan diri di lingkup perkumpulan laki-laki”. Terlihat sekali pemahaman seperti ini yang Pada masa-masa penjajahan tersebut ada berbagai sangat mengartikan kata “sejarah” diterjemahkan gerakan perlawanan, baik dengan senjata maupun dalam bahasa Inggris sebagai history, bukannya jalur diplomasi terhadap kekuasaan pemerintah Hindia herstory, atau our story. Tentu saya ini tidak benar karena Belanda yang dianggap sebagai penjajah. Kedua cara ini, kemudian sejarawan juga mencatat adanya perempuandengan berbagai bentuknya, pada dasarnya merupakan perempuan luar biasa yang ikut menjadi bagian dari bagian dari gelombang nasionalisme menentang perjuangan bersenjata menentang penjajahan. Kita kolonialisme dan imperialisme, dan yang juga terjadi di bisa menyebutkan misalnya perempuan seperti Cut negara-negara Asia lainnya seperti Vietnam dan Filipina. Nyak Dien dan Cut Meutia dari Aceh; Roro Gusik dan Ada berbagai organisasi kebangsaan yang muncul di suaminya Untung Suropati yang memberontak di Jawa; masa ini baik dengan nuansa agama maupun etnis. Sebut Martha Christina Tiahahu yang menjadi bagian dari saya misalnya organisasi kebangsaan yang bernuansa revolusi yang dipimpin Pattimura di Maluku; dan juga etnis, Budi Utomo pada 1908 atau yang bernuansa Emmy Saelan yang sangat aktif di balik pemberontakan keagamaan (Islam) seperti Muhammadiyah yang berdiri pimpinan Wolter Monginsidi di Sulawesi Selatan (Saskia, pada 1917. Dengan caranya masing-masing, mereka 1988; 71). menentang kekuasaan penjajah Belanda. Di samping itu, ada banyak lagi organisasi yang bergaris keras dengan Pada awalnya, sepak terjang perkumpulan perempuan ideologi komunisme, sosialisme dan lainnya, atau yang atau gerakan perempuan Indonesia umumnya bermula memilih cara gerilyawan dan gerakan bawah tanah. dari aktivitas mereka yang berada dalam perkumpulan yang beranggotakan laki-laki dan perempuan. Pertanyaan yang muncul kemudian adalah, di Perempuan yang memiliki kesempatan mendapatkan mana perempuan dalam seluruh proses perjuangan pendidikan sekolah dasar atau menengah umumnya menentang penjajahan tersebut? Apakah mereka bergabung dalam perkumpulan seperti kegiatan “hanya” digambarkan sebagai bagian dari dapur kepanduan atau perkumpulan dengan nuansa umum di balik perjuangan bersenjata kaum laki-laki-laki kedaerahan seperti Jong Java, Jong Sumatera, dan Hanya bertindak sebagai kurir atau menyediakan kopi Jong Ambon. Melalui saluran perkumpulan seperti ini, dan makanan kecil di balik rapat-rapat politik kaum perempuan terlibat dalam ranah publik dan bahkan pergerakan yang umumnya laki-laki? Atau hanya kemudian menjadi bagian dari ikrar Kongres Sumpah === [PDF page 8] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Pemuda yang dicetuskan pada 28 Oktober 1928. Kolonialisme Jepang yang hanya berlangsung tiga Catatan sejarah juga mengungkapkan ada beberapa setengah tahun (1942-1945) di Indonesia, menimbulkan organisasi perempuan yang sangat berpengaruh dan dampak yang sangat buruk terhadap organisasimemiliki peran dalam revolusi Indonesia. Salah satunya organisasi kebangsaan atau pergerakan yang ada, yang terpenting adalah organisasi perempuan pertama termasuk terhadap organisasi-organisasi perempuan. di Indonesia yang bergaris nasionalis, yaitu Putri Mardika Pemerintahan kolonial Jepang membubarkan dan yang berdiri pada 1912, dan memiliki kaitan erat dengan sekaligus melarang semua organisasi perempuan. gerakan nasionalis pertama Budi Utomo. Pada 1920 Mereka hanya mengizinkan berdirinya organisasi muncul Aisyiyah, organisasi sayap perempuan bergaris perempuan bernama Fujinkai (perkumpulan perempuan) Islam dari organisasi Muhammadiyah. Dalam masa yang aktivitasnya diawasi dan diatur oleh pemerintah penjajahan tersebut, selain perempuan yang memanggul Jepang. Perkumpulan ini bertujuan memerangi buta senjata bersama-sama laki-laki untuk bertempur huruf, menjalankan dapur umum, dan ikut serta dalam melawan Belanda, ada juga yang berani menuntut pekerjaan sosial (Vreede-De Stuers, 2008;175). Ini terus dan mengajukan berbagai resolusi ke pemerintahan berlangsung sampai akhirnya pemerintah Jepang kalah kolonial seperti yang terkenal dengan Resolusi Indonesia dalam Perang Dunia II, dan Indonesia memproklamasikan Berparlemen pada 1938, dengan melakukan aksi kemerdekaannya pada 17 Agustus 1945. dan mendorong adanya hak memilih dan hak dipilih. Pemerintah Hindia Belanda kemudian meresponsnya Memang bergabungnya perjuangan perempuan dengan dengan memberikan tempat bagi perempuan pribumi gelombang nasionalisme Indonesia saat itu melahirkan untuk dipilih dan duduk sebagai wakil perempuan pisau bermata dua yang bisa menghambat dan sekaligus Indonesia di Gemeenteraad (DPRD Tingkat II). Tersebut membebaskan bagi perempuan Indonesia (Blackburn, nama-nama seperti Emma Puradireja di Bandung, 2010; 22-23). Di satu sisi, kalangan aktivis perempuan Sri Umiyati di Cirebon, Sunaryo Mangunpuspito di tampaknya harus berhati-hati atau bersiasat dengan Semarang, dan Siti Sundari Sudirman di Surabaya ide-ide, pengetahuan, dan gerakan feminisme yang (Suwandi, 1993; 89). berkembang di Barat. Ini sangat berkaitan dengan gerakan nasionalis saat itu yang selalu mencurigai ide- Yang tak kalah pentingnya untuk dicatat berkaitan ide atau pemikiran asing atau dari luar, apalagi kalau itu dengan kiprah perempuan dalam ranah publik dalam memiliki dampak langsung terhadap perempuan yang era kolonialisme adalah, sekitar awal abad 20, tepatnya selalu dipandang sebagai pemikul nilai-nilai kebaikan 22 hingga 25 Desember 1928, organisasi perempuan dan keharmonisan dalam tradisi masyarakat Indonesia. menyelenggarakan Kongres Perempuan Pertama, Di sisi lain, menjadi bagian dari gerakan nasionalis hanya satu setengah bulan setelah Kongres Sumpah juga akan membebaskan perempuan, karena hal ini Pemuda pada 28 Oktober 1928. Dihadiri sekitar 1.000 merupakan legitimasi untuk bisa terlibat aktif dalam peserta dan 30 organisasi perempuan, berbagai isu-isu kehidupan politik publik, belajar mempersiapkan pidato, perempuan diangkat dalam kongres tersebut. Kongres dan berpartisipasi dalam organisasi bersama-sama tersebut pada akhirnya mengidentifikasi tiga tantangan dengan laki-laki, juga di dalam kelompok perempuan yang dihadapi perempuan saat itu yakni soal perkawinan, sendiri. poligami, dan akses ke pendidikan. Tapi semangat yang sangat terlihat mendasari kongres tersebut, di tengah gelombang nasionalisme pada saat itu, adalah upaya mengatasi berbagai ideologi dan kepentingan yang ada dengan tujuan utama membebaskan diri dari kolonialisme Belanda (Aripurnami, 2013; 13-14). Kongres Perempuan selanjutnya antara lain diadakan di Jakarta (1935), Bandung (1938), dan Semarang (1941). Tanggal 22 Desember sendiri kemudian disepakati sebagai Hari Ibu yang diperingati secara nasional setiap tahunnya. === [PDF page 9] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Pionir Pemikiran Feminisme Dalam masa kolonialisme tersebut, khususnya menjelang surat-surat yang ditulis oleh R.A. Kartini yang ditujukan akhir abad 19 dan pada awal abad 20, selain kalangan kepada teman-temannya yang berkebangsaan Belanda perempuan yang ikut memanggul senjata atau berada (seperti Ny. Abendanon, Stella, Ny. Ovink-Sur, dll). dalam politik formal, ada beberapa tokoh perempuan Kompilasi dari surat-surat itu kemudian dibukukan yang sangat menonjol dalam memperjuangkan dengan judul Door Duisternis Tot Licht (1911). Buku ini kesempatan bagi perempuan untuk mendapatkan menjadi sangat mengemuka di kalangan perempuan pendidikan. Tersebut nama-nama seperti Maria Walanda Indonesia saat Armijn Pane, pujangga angkatan Balai Maramis (1827-1924) dari Sulawesi Utara, Dewi Sartika Pustaka, menerjemahkan dan memberinya judul (1884-1947) dari Jawa Barat, dan Nyi H. Achmad Dahlan Habis Gelap Terbitlah Terang. Kelihatannya buku ini dari Yogyakarta. dianggap menginspirasi perempuan di Indonesia untuk memperjuangkan harkat dan martabatnya agar sejajar Perlu dicatat juga di sini nama Rohana Kudus dengan laki-laki, atau disebut sebagai “emansipasi (1884-1972), wartawan perempuan pertama dari perempuan”. Kartini sendiri kemudian disebut sebagai Minangkabau, Sumatra Barat, yang mengasuh surat salah seorang tokoh perempuan feminis dari jamannya. kabar Sunting Melayu pada 1912. Surat kabar tersebut pada masa itu sudah sangat progresif dan kritis karena Kartini (1879-1904) adalah anak kedua dari seorang mengangkat isu-isu sensitif seperti masalah adat yang priayi Jawa yang memiliki kedudukan sebagai Bupati tidak ramah perempuan, poligami, perlunya pendidikan Jepara. Ia sendiri yang awalnya tinggal di Jepara dan keterampilan buat perempuan, dan sebagainya. kemudian pindah ke Rembang, Jawa Tengah. Dalam Isu-isu yang diangkat melampaui zamannya saat itu. surat-suratnya, Kartini banyak menceritakan soal nilai- Setahun sebelumnya, pada 1911, Rohana mendirikan nilai tradisi yang membelenggu perempuan, menjadikan Sekolah Kerajinan Amal Setya untuk pemberdayaan perempuan sangat bergantung pada laki-laki, sehingga perempuan secara ekonomi. Ia adalah seorang mereka menjadi tidak berdaya baik secara ekonomi, perempuan yang mempunyai komitmen yang kuat sosial, dan budaya. Kartini melakukan analisis terhadap untuk pendidikan terutama untuk kaum perempuan. situasi ini, dan dia menyimpulkan bahwa sistem Pada zamannya, Rohana termasuk salah satu dari budaya masyarakatnya adalah biang keladi di balik segelintir perempuan yang percaya bahwa diskriminasi terbelenggunya perempuan. Secara ringkasnya, merujuk terhadap perempuan, termasuk kesempatan untuk pada Profesor Saskia Wieringa (Wieringa, 1998; 6) mendapat pendidikan adalah tindakan semena-mena dari Institute of Social Studies di Belanda, ide-ide atau dan harus dilawan. Walaupun Rohana tidak bisa gagasan-gagasan utama Kartini adalah (a) pendidikan mendapat pendidikan secara formal namun ia rajin bagi perempuan sebagai salah satu syarat penting untuk belajar dengan ayahnya, seorang pegawai pemerintah memajukan rakyat, karena ibu yang terpelajar bisa Belanda, dan seorang pejabat Belanda atasan ayahnya diharapkan kemampuannya dalam mendidik anak-anak yang selalu membawakan Rohana bahan bacaan lebih baik; (b) tidak hanya perempuan kalangan miskin, dari kantor. Keinginan dan semangat belajarnya yang perempuan kalangan atas pun harus diberi kesempatan tinggi membuat Rohana cepat menguasai materi yang menjadi pencari nafkah sendiri, dan mencari pekerjaan diajarkan ayahnya. Dengan kecerdasan, keberanian, yang cocok bagi mereka, misalnya menjadi perawat, pengorbanan, serta perjuangannya, Rohana melawan bidan, dan guru; dan (c) poligini harus dihapuskan ketidakadilan untuk perubahan nasib kaum perempuan. karena merendahkan martabat kaum perempuan. Meski demikian, aktivitas atau gerakan perempuan di Meskipun demikian, seluruh ide atau pemikiran feminis Indonesia, secara langsung maupun tidak langsung, Kartini ini sempat menimbulkan polemik karena semakin mengemuka karena tulisan dalam bentuk keputusannya pada 1903 untuk menikah dengan Bupati === [PDF page 10] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Rembang yang sudah memiliki banyak istri dan sekian citanya? Apakah ia berkorban demi strateginya, karena banyak anak. Kita tahu bahwa ia sering membicarakan posisi suaminya, untuk bisa membantu perempuandengan nuansa sangat benci dan marah penghinaan perempuan Jawa dalam pendidikan? Apakah ia pada terhadap kaum perempuan yang tanpa bisa memilih akhirnya menganggap bahwa ide-ide feminisme yang ia atau tanpa daya harus menjalani perkawinan permaduan kenal melalui bacaan dan korespondensi dengan kawan (poligini). Apakah ia telah berkorban bersedia dimadu Belandanya tidak terlalu baik dibandingkan dengan nilaikarena penghormatannya terhadap orang tuanya yang nilai harmonisasi Jawa? Masih banyak lagi pertanyaan sangat dihormati? Apakah ia menerima perkawinan mengenai ini semua, namun dengan segala polemik ini dengan asumsi bahwa peran dan posisinya sebagai yang ada, Kartini tetap merupakan ikon perjuangan “istri permaisuri” karena status dan posisi keluarga perempuan yang menonjol pada zamannya, meski bukan ayahnya yang lebih tinggi dalam masyarakat Jawa satu-satunya, dan pada 1969, di bawah pemerintahan akan menguntungkannya dalam merealisasikan cita- Suharto, Kartini dijadikan sebagai Pahlawan Nasional. 10 === [PDF page 11] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Perempuan dan Feminisme di Indonesia Pasca-Kolonialisme Meski semakin banyak organisasi perempuan Orde Baru, dengan pilihan politik dan operasi militernya, bermunculan, berikut ide-ide yang diusung serta tokoh- menentang dan menghancurkan semua organisasi tokoh perempuan baru yang tampil, banyak catatan yang berupaya untuk memobilisasi masyarakat di sejarah yang menunjukkan bahwa gerakan perempuan tingkat “akar rumput” di Indonesia. Lebih tepatnya, yang sangat kuat, progresif, dan memiliki anggota seluruh kekuatan politik saat itu yang bergaris komunis, serta simpatisan yang besar adalah, Gerakan Wanita Sukarnois, dan “kiri” menjadi target dari penghancuran Indonesia (Gerwani). Keberadaan dan peranannya begitu rezim Orde Baru, baik secara militer maupun sosialmengemuka secara sosial dan politik dalam dua periode politik. Sudah pasti PKI (Partai Komunis Indonesia), di demokrasi di Indonesia sejak akhir 1940an hingga mana Gerwani dianggap memiliki kedekatan secara 1965, yakni selama periode pertama dari demokrasi ideologis, masuk daftar utama untuk dihancurkan. Ini konstitusional (demokrasi liberal) dan demokrasi bersama-sama juga dengan organisasi-organisasi yang terpimpin (di bawah kekuasaan otoriter Sukarno). berafiliasi seperti Sentral Organisasi Buruh Seluruh Indonesia (SOBSI), Pemuda Rakyat, Barisan Tani Indonesia Gerwani pada mulanya bernama Gerwis (Gerakan (BTI), Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra), Corp Gerakan Wanita Sedar), yang didirikan pada 1950, yang kemudian Mahasiswa Indonesia (CGMI), Ikatan Pemuda Pelajar dalam literatur sering dirujuk sebagai gerakan feminis Indonesia (IPPI), dan Himpunan Sarjana Indonesia (HSI). sosialis, hanya memiliki anggota 500 perempuan yang Penangkapan, penahanan, penculikan, pembunuhan, umumnya berpendidikan tinggi dan memiliki kesadaran dan juga penghakiman massa terhadap mereka yang politik yang lebih maju dibandingkan perempuan pada dianggap komunis atau berhaluan “kiri” hampir tiap umumnya. Bisa dikatakan bahwa saat itu, organisasi hari terjadi di berbagai wilayah di Indonesia seperti Jawa tersebut merupakan organisasi kader dengan anggota- Timur, Jawa Tengah, Bali, Sumatra, dan Aceh. Militer, anggotanya yang memang pilihan. Namun pada tahun terutama Komando Cadangan Strategis Angkatan Darat 1954, di saat anggotanya sudah mencapai 80.000 (Kostrad) dan Resimen Pasukan Komando Angkatan perempuan, Gerwis, melalui perdebatan internal Darat (RPKAD), yang berada di balik gerakan-gerakan yang keras memutuskan untuk memperluas basis anti-komunis di banyak daerah Indonesia, baik yang konstituennya dengan mencakup perempuan dari datang dari kalangan agama maupun sekuler. kalangan massa atau akar rumput. Mereka begitu peduli dengan keadaan kehidupan dan kondisi kerja dari pekerja Sejak saat itu, organisasi perempuan yang progresif, perempuan yang menjadi buruh urban dan petani yang beroperasi umumnya di “akar rumput” secara menjadi mayoritas pendukung dan simpatisannya. independen, militan, dan memiliki anggota serta Mereka juga sangat terlibat aktivitas politik formal dalam simpatisan yang masif, praktis lenyap dalam peta politik ikut serta berkampanye untuk pemilihan parlemen, dan gerakan perempuan di Indonesia. Saat itu juga kita sukses menempatkan empat orang anggotanya terpilih mengenal satu-satunya organisasi perempuan yang dalam Pemilu 1955 (Wieringa, 1998; 19-20). beroperasi di desa-desa, bentukan pemerintah Orde Baru, yang disebut dengan nama Pendidikan Kesejahteraan Politik Indonesia dengan segala aktor dan institusinya Keluarga (PKK). Organisasi ini dibentuk dengan misi segera mengalami perubahan secara drastis menyusul untuk mendukung dan menjalankan pembangunan terjadinya peristiwa yang dikenal dengan sebutan nasional, terutama menyukseskan program keluarga Gerakan 30 September. Gerwani, yang dalam masa- berencana untuk mengontrol laju kelahiran bayi masa terakhirnya memiliki anggota 1,5 juta perempuan, (Suryakusuma, 2011). Sudah jelas organisasi seperti kemudian menjadi target penghancuran dari kekuatan ini tidak bisa disebut sebagai organisasi feminis atau militer di bawah Jenderal Suharto pada saat pergantian memiliki ide-ide dan praktik feminis, mengingat seluruh (baca: perebutan) kekuasaan pada 1965. Pemerintahan kiprahnya merupakan subordinasi dari kekuasaan negara 11 === [PDF page 12] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia yang didominasi oleh laki-laki, seperti terefleksikan Dharma Wanita (asosiasi istri pegawai negeri Republik di dalam struktur dan kepemimpinannya yang harus Indonesia), berpasangan dengan Korpri (Korps Pegawai istri-istri dari pejabat pemerintah. Demikian jupulaga Republik Indonesia), yang memiliki struktur hierarki dengan organisasi-organisasi perempuan lainnya yang pararel dengan hierarki jabatan suami. sangat dikontrol oleh negara, dan yang menonjol adalah Dharma Pertiwi (asosiasi istri perwira militer) dan 12 === [PDF page 13] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Munculnya Pemikiran Feminis Kontemporer Setelah pemerintahan otoriter Orde Baru di bawah memahami kejadian-kejadian tertentu yang menjadi Suharto berakhir, bagaimana dan seperti apa ide-ide bagian dari penindasan sosial atas dasar jenis kelamin atau pemikiran feminis yang berkembang di kalangan dan bukan karena perempuan itu kurang beruntung? akademisi maupun aktivis gerakan perempuan di Bagaimana perempuan dapat menolak penindasan Indonesia? Meski sudah berkembang di zaman Orde dan bagaimana kita dapat mengubah keadaan? Teori Baru, walaupun sangat terbatas di kalangan perguruan feminis dengan demikian harus terkait dengan politik. tinggi maupun LSM, pemikiran atau ide-ide feminisme Artinya, sejak awal kita harus menyadari bahwa ada mulai kembali menjadi wacana yang mengemuka keterhubungan antara teori dan praktik politik dalam setelah berakhirnya pemerintahan Suharto. melihat seluruh proses ketidakadilan dan ketidaksetaraan gender tersebut (McCann et al, 2003:2). Pemikiran feminis kontemporer mulai terasa semakin menguat menjelang era Reformasi yaitu di pertengahan Sejak pertengahan kekuasaan Orde Baru hingga 1998, tahun 1990-an dan sangat terasa sejak 1998. Ada kita melihat beberapa organisasi perempuan yang dua pemikiran yang berkembang menjelang dan sangat peduli dengan keadaan Indonesia yang mulai masuk era Reformasi. Pertama, dekonstruksi wacana memperlihatkan adanya “jurang” (gap) antara “the seksis menegakkan pengetahuan feminis dengan haves” dan “the have-nots” yang semakin melebar, mengembangkan kegiatan-kegiatan jurnal, publikasi dan kemiskinan yang terus memburuk. Meski di sisi buku, penelitian serta sastra (literatur). Kedua, penekanan lain, Indonesia selalu digambarkan, oleh berbagai pada wacana pluralisme, kesetaraan, dan transnasional. lembaga internasional seperti IMF (Dana Moneter Dua pemikiran ini memengaruhi bagaimana isu-isu Internasional) dan Bank Dunia, sebagai model sukses perempuan diwarnai dengan perspektif feminisme. dari pembangunan nasional yang ditunjukkan dengan Perspektif feminisme di era kontemporer berbeda derasnya modal asing dan pertumbuhan ekonomi dengan di era sebelumnya. Di era kontemporer, teori- yang tinggi. Kalangan perempuan pada umumnya, teori feminisme berperan, basis intelektual feminisme terutama di desa-desa, merupakan pihak yang paling sangat terasa di dalam pergerakannya. Penggunaan dirugikan dengan model pembangunan nasional perspektif feminisme menajamkan isu-isu yang seperti ini. Sejumlah LSM menaruh perhatian untuk diusung di era kontemporer, misalnya isu kekerasan membantu perempuan bisa berdaya dan lepas dari terhadap perempuan, trafficking, seksualitas, poligami, kemiskinan tersebut dengan program-program seperti pembangunan, demokrasi dan hak asasi manusia. skema mikrokredit. Tapi sejumlah lainnya mulai melihat bahwa ini bukan hanya masalah kemiskinan semata, Teori-teori feminisme berkembang pesat di organisasi- namun berkaitan dengan persoalan seksualitas, yang organisasi perempuan dan juga di universitas-universitas. mendorong beberapa LSM perempuan untuk melakukan Teori-teori feminis memberikan peralatan intelektual kampanye menentang pemerkosaan, pelecehan, dan yang memungkinkan pelaku (agen) dapat memeriksa berbagai bentuk kekerasan terhadap perempuan. Hal ketidakadilan yang mereka hadapi, dan dapat ini dimulai tahun 1983 dengan berdirinya Yayasan membangun pengetahuan tentang penindasan terhadap Anisa Swasti (Yasanti) di Yogyakarta yang bertujuan perempuan, dan atas dasar pengetahuan tersebut memperkuat hak-hak buruh perempuan dan perempuan membangun strategi-strategi menolak subordinasi dan yang bekerja di industri batik sebagai penjual di tokomemperbaiki kehidupan perempuan (McCann et. al, toko. Kecenderungan seperti ini kemudian diikuti juga 2003:1). Sebagaimana yang diungkapkan oleh McCann, oleh organisasi-organisasi yang sejenis di kota-kota teori-teori feminisme menjawab berbagai pertanyaan- lainnya seperti Kalyanamitra di Jakarta, yang sangat pertanyaan yang mengemuka seperti, mengapa dan peduli pada masalah-masalah yang dihadapi buruh bagaimana perempuan tertindas? Bagaimana kita dengan memberikan informasi tentang hak-hak buruh. 13 === [PDF page 14] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Organisasi ini sejak awalnya sudah sangat berpihak pada adalah Peristiwa 27 Juli 1996, yang dikenal sebagai perempuan seperti buruh, petani, nelayan, dan pekerja Peristiwa Kudatuli (Kerusuhan Dua Puluh Tujuh Juli) atau sektor informal (Aripurnami, 2013; 25). Peristiwa Sabtu Kelabu (karena memang terjadi pada hari Sabtu), yakni pengambilalihan secara paksa kantor Munculnya berbagai LSM pada tahun-tahun tersebut Dewan Pimpinan Pusat Partai Demokrasi Indonesia (PDI) sangat berkaitan dengan kasus-kasus pelanggaran di Jalan Diponegoro Nomor 58, Jakarta Pusat. Kantor hak asasi manusia yang dialami kelompok-kelompok tersebut saat itu dikuasai oleh pendukung Megawati masyarakat. Semua kasus ini, baik langsung maupun Sukarnoputri yang terpilih sebagai Ketua Umum tapi tidak, merupakan akibat dari sistem kekuasaan tidak diakui pemerintah. Sementara itu penyerbuan pemerintah Orde Baru yang otoriter yang berkolusi dilakukan oleh pendukung Suryadi, ketua umum versi dengan modal asing atau kalangan kapitalis yang hanya Kongres PDI di Medan yang mendapat dukungan penuh peduli dengan stabilitas politik dan pembangunan pemerintah (baca: aparat kepolisian dan TNI). Akibat dari ekonomi (baca: pertumbuhan ekonomi) tanpa peduli itu semua, merujuk laporan Komisi Nasional Hak Asasi adanya proses eksploitasi dan pelanggaran hak-hak dari Manusia (Komnas HAM), lima orang meninggal dunia, kalangan masyarakat bawah umumnya. Di era Orde Baru 149 orang (sipil maupun aparat) luka-luka, dan 136 ini, ada banyak catatan pelanggaran hak asasi manusia, orang ditahan. Komnas HAM juga membuat kesimpulan dan untuk kasus-kasus yang dialami perempuan, klimaks yang tegas bahwa telah terjadi pelanggaran hak asasi politiknya antara lain dengan kasus Marsinah. Pada 8 manusia. Pemerintah menuduh aktivis Partai Rakyat Mei 1993, seorang perempuan aktivis buruh bernama Demokratik (PRD) sebagai dalang di balik kerusuhan Marsinah (lahir di Nglundo 10 April 1969) yang bekerja tersebut, dan ini diikuti dengan pemburuan dan di pabrik PT Catur Putra Surya (CPS) Porong, Sidoarjo, penangkapan sejumlah aktivis PRD untuk dijebloskan ke Jawa Tengah, ditemukan meninggal dalam keadaan yang dalam penjara. Budiman Sujatmiko, sebagai pimpinan mengenaskan setelah dinyatakan hilang selama tiga hari PRD saat itu mendapat hukuman terberat yakni 13 oleh kawan-kawannya. Jenazahnya sendiri ditemukan tahun penjara. di hutan di Dusun Jegong, Desa Wilangan, dengan tanda-tanda bekas penyiksaan berat sesuai dengan hasil autopsi. Ia diduga diculik, diperkosa, disiksa, dan kemudian dibunuh. Kasus Marsinah yang menyeramkan Pembongkaran Wacana Seksis dan dan menghebohkan karena diberitakan banyak media Keterlibatan Aksi massa, baik dalam maupun luar negeri, menjadi catatan Organisasi Buruh Internasional (ILO), dikenal sebagai Atas berbagai peristiwa pelanggaran hak asasi manusia Kasus 1773. Marsinah memperoleh Penghargaan tersebut, beberapa organisasi feminis, baik langsung Yap Thiam Hien pada tahun yang sama sebagai maupun tidak langsung, mulai melakukan berbagai siasat penghormatan atas jasa, keberanian, dan konsistensinya dan gerakan politik anti Orde Baru. Salah satunya adalah memperjuangkan hak dasar buruh sampai berkorban organisasi Yayasan Jurnal Perempuan (YJP) yang didirikan kehilangan nyawanya. Ada dugaan beberapa aparat TNI pada tahun 1996 dan kuat dalam penerbitan jurnal terlibat dalam kasus Marsinah. Tidak mengherankan jika yaitu Jurnal Perempuan (JP), dengan visi pemberdayaan kasus ini justru semakin memperkuat dan memperluas perempuan melalui pengetahuan. JP merupakan jurnal antipati masyarakat pada militer yang merupakan tulang feminis pertama di Indonesia. Melihat rezim Orde Baru punggung pemerintahan Orde Baru. yang semakin otoriter, JP berinisiatif mengadakan rapat-rapat internal yang intens sejak November Dalam tahun-tahun terakhir menjelang turunnya 1997 untuk mendiskusikan berbagai teori yang dapat Suharto sebagai presiden pemerintahan Orde Baru, membantu menerangkan bagaimana atau dengan semakin banyak pelanggaran hak asasi manusia yang cara apa kekuatan masyarakat madani, khususnya terjadi di berbagai wilayah di Indonesia, dan sangat gerakan perempuan, mampu mendelegitimasikan atau berkaitan dengan gerakan perlawanan, baik individu menjatuhkan sebuah rezim otoriter. Pada saat itu JP maupun kelompok, yang semakin mengemuka dan juga sedang intens mengampanyekan gerakan antiterbuka kepada otoritas kekuasaan. Salah satu puncaknya kekerasan terhadap perempuan, bekerja sama dengan 14 === [PDF page 15] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia United Nation Development for Women (UNIFEM) dan Untuk mewujudkan kamuflase “ibu-ibu”, maka JP melihat bagaimana implikasinya terhadap demokrasi menggunakan strategi yang kemudian disebut “politik dan hak-hak perempuan. susu”. Strategi ini dibutuhkan agar tampak bahwa JP sangat prihatin dengan nasib para ibu yang tidak Pada tahun 1997, pelanggaran hak-hak asasi mampu membeli susu untuk anak-anaknya karena manusia memburuk. Ada sejumlah laporan mengenai krisis ekonomi. Pembagian kotak susu di kantor JP penculikan mahasiswa dan sampai sekarang kasus- dimaksudkan untuk memperlihatkan adanya krisis kasus penghilangan tersebut tidak terpecahkan. Pada ekonomi yang berdampak pada ibu-ibu. Pada 20 akhir 1997, JP mendapatkan inspirasi dari Asociación Februari 1998, JP mengadakan rapat kedua. Malam Madres de Plaza de Mayo, yang merupakan asosiasi itu lebih banyak lagi orang berkumpul, dengan wajah ibu-ibu Argentina yang anak-anaknya “hilang” baru seperti Prof. Dr. Tuti Heraty (salah satu pendiri selama “Perang Kotor” (Dirty War) oleh pemerintahan Jurnal Perempuan dan dosen filsafat UI), Gayatri (aktivis diktator militer sejak 1976 hingga 1983. Para ibu lesbian, gay, biseksual, transgender/LGBT), Dina (LSM ini melakukan demonstrasi damai untuk anak-anak lingkungan hidup Walhi), Agung Putri (Lembaga Studi mereka yang hilang, di depan Casa Rosada, Istana dan Advokasi Masyarakat, Elsam), dan Dr. Kartini Syahrir Kepresidenan, di Buenos Aires, Argentina. Mereka (Antropolog UI). Malam itu Bundaran Hotel Indonesia hanya mempertanyakan sebagai sekumpulan ibu-ibu di pusat kota ditetapkan sebagai lokasi demonstrasi, yang peduli atas anak-anaknya yang tidak kembali ke dengan menggunakan strategi ibu-ibu dan menonjolkan rumah. Namun di saat yang bersamaan, gerakan ini kata susu sebagai tanda untuk menjatuhkan Suharto. sebetulnya merupakan simbol perlawanan terhadap Ini merupakan strategi politik yang mempromosikan rezim militer untuk bertahan lebih lama di negara permainan diksi “susu” dan “Suharto”. Aksi tersebut mereka. Kasus ini dibahas dengan beberapa dosen disepakati diberi nama Suara Ibu Peduli (SIP) dan pada Universitas Indonesia yang berlatar belakang filsafat dan malam itu para feminis yang hadir dituntut komitmennya politik (antara lain Nur Iman Subono dan Rocky Gerung), untuk berdemonstrasi pada 23 Februari 1998. Saat itu yang juga merupakan bagian dari JP. Sampai suatu saat, situasi politik begitu mencekam terkait krisis ekonomi pemimpin JP (Gadis Arivia) dan orang-orang terdekatnya dan perintah Siaga Satu menjelang Sidang Umum MPR mengambil keputusan untuk melakukan demonstrasi. RI, yang artinya penembakan terhadap upaya-upaya Demonstrasi ini dimaksudkan untuk “memecahkan yang mengganggu jalannya sidang umum mendapat kebisuan” masyarakat kelas menengah agar peduli pembenaran secara hukum. Aksi penjualan susu murah pada persoalan bangsa dan mau bersatu melawan di kantor JP yang dimaksudkan sebagai kamuflase rezim otoriter. Diputuskan bahwa yang paling efektif politik ternyata melahirkan kejadian yang tidak kondusif melawan rezim otoriter adalah dengan melakukan dengan kesepakatan aksi. Banyaknya orang yang pergerakan perempuan dan menggunakan simbol figur mengantre untuk membeli susu murah menyebabkan “ibu” agar masyarakat bersimpati. Pada Januari 1998, insiden dorong-mendorong di antara mereka, sampai rencana menjatuhkan rezim Orde Baru semakin mantap kaca kantor JP pecah berantakan. Meski mungkin dan dibicarakan kepada Karlina Leksono (dosen filsafat tidak berkaitan langsung, insiden tersebut dan suasana Universitas Indonesia dan anggota tim redaksi JP) dan politik yang sudah mencekam di mana-mana membuat Eun Sook, mahasiswa asal Korea yang sedang magang sebagian besar peserta yang ikut rapat-rapat di kantor di JP). Pada 13 Februari 1998, JP mengadakan rapat YJP sebelumnya urung ikut berdemonstrasi. Bahkan pertama mengundang berbagai aktivis perempuan ada beberapa dari mereka yang walk out sebagai untuk mendiskusikan rencana demonstrasi. Sekitar 15 bentuk ketidaksetujuan atas keputusan berdemonstrasi orang hadir termasuk staf JP dan para anggota organisasi tersebut. Namun pada hari Minggu, 22 Februari 1998, seperti Solidaritas Perempuan dan LBH APIK (Lembaga tim JP mengadakan rapat kecil dan memutuskan untuk Bantuan Hukum Asosiasi Perempuan Indonesia untuk tetap berdemonstrasi pada 23 Februari 1998, meski Keadilan), serta beberapa individu seperti Myra Diarsi, aktivis feminis yang terlibat sedikit tapi ada dukungan Tati Krisnawati, Julia Suryakusuma dan Robin Bush tim LBH (Lembaga Bantuan Hukum) yang berada di luar (mahasiswa asal Amerika Serikat yang sedang menulis ring demonstrasi untuk membantu jika terjadi persoalan disertasi). hukum. 15 === [PDF page 16] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Aksi demonstrasi dengan kamuflase pelabelan dan menggambarkan aksi tersebut sebagai aksi “ibuibu-ibu menggunakan nama SIP, dengan kegiatan ibu” yang tidak memiliki kepentingan apa-apa (sesuai menyanyikan lagu, membagikan bunga, dan membaca dengan strategi yang dibicarakan di kantor JP). Namun puisi berlangsung begitu cepat dan berakhir dengan anggapan yang diangkat oleh media masa saat itu tidak penangkapan Gadis Arivia (JP), Karlina Leksono (JP), dan tepat karena aksi demonstrasi yang terjadi sepenuhnya Wilasih Nophiana (aktivis dari Salatiga yang berpura-pura dilakukan oleh aktivis feminis. Pada saat bersamaan, menjadi ibu-ibu biasa). Penahanan dilakukan selama kantor JP menjadi tempat pusat pengorganisasian 24 jam dan majelis hakim sidang pengadilan pada 4 nasi bungkus untuk mendukung demonstrasi dan 9 Maret 1998 memvonis ketiga orang tersebut gerakan mahasiswa pada Mei 1998. Laporan bersalah. Mereka diwajibkan membayar denda karena pertanggungjawaban JP untuk para donatur mencatat telah mengganggu ketertiban umum. Ruang pengadilan 70.576 nasi bungkus dan dana yang dikumpulkan dari penuh sesak dengan pengunjung dari berbagai kalangan masyarakat sebesar Rp1.120.541.865,-. Dana tersebut elite Indonesia, kelas menengah, dan masyarakat pada digunakan untuk berbagai aktivitas, seperti biaya umumnya, dan mereka kemudian menyumbang uang transportasi, kaos bertuliskan “Reformasi Total”, dan denda tersebut. penerbitan buletin propaganda mahasiswa “Bergerak”. Pada akhirnya Presiden Suharto yang telah kehilangan Pada pembacaan pledoi dalam sidang, Gadis Arivia jelas legitimasi dan dukungan dari para pembantu dekatnya mengindikasikan bahwa SIP adalah sebuah gerakan menyatakan berhenti pada tanggal 21 Mei 1998 feminis dengan ide-ide feminis, meskipun pernyataan (Subono, 1999). pembelaan itu tidak menyebutkan kata feminisme dan mengindikasikan bahwa kata “ibu” hanyalah sebuah Setelah Presiden Suharto jatuh, ternyata ikon SIP telah strategi mengingat Indonesia dikuasai oleh kediktatoran. melahirkan dukungan dan juga partisipasi dari ibu-ibu “sungguhan” untuk mengembangkan SIP di tempat- “Ibu Hakim Ketua dan Pengadilan yang kami tempat tinggal mereka. Padahal kita tahu bahwa hormati, ikon SIP tersebut merupakan kamuflase politik dari tindakan gerakan feminis dunia ketiga dalam melawan Memiliki pendapat adalah ciri antropologis pemerintahan otoriter. Di sini terlihat bahwa ikon SIP yang paling unik dari manusia. ‘Berpendapat’ telah dipahami secara salah oleh banyak masyarakat dan ‘menjadi manusia’, adalah dua hal yang termasuk media masa dan ibu-ibu pada umumnya. identik. Dialog memerlukan keterbukaan. Dan Meskipun demikian JP mengakomodasi keinginan ibuketerbukaan memerlukan kejujuran. Berpendapat ibu tersebut, meski pada akhirnya JP memutuskan untuk berarti juga “berbeda pendapat”, karena hanya tidak terlibat lebih jauh karena strategi politik SIP adalah dengan itu kemanusiaan bisa dimajukan. Dengan proyek subversif menjatuhkan rezim Suharto dan saat berbeda pendapat, terbuka dialog. Dengan itu dianggap sudah berhasil. berdialog, tercapai kemajuan... Bagi kami, persoalannya bukan ketentuan pidana apa yang “Sedikit sekali yang sampai pada konklusi kami langgar, melainkan apakah pemberlakuan bahwa ‘politik susu’ SIP sebenarnya adalah ketentuan pidana itu sejalan dengan upaya politik perempuan dunia ketiga yang sangat menjamin kebebasan berpendapat... Bukan besar strategis. Mulai dari pemilihan nama ‘ibu’ kecilnya kesalahan yang mungkin dituduhkan yang dipikirkan secara matang di kantor Jurnal pada kami, yang kami prihatinkan, melainkan Perempuan menunjukkan kecerdasan permainan apakah pengadilan tentang kasus semacam ini politik yang luar biasa dalam iklim negara sedang menghormati hak-hak asasi manusia, yang represif. Para aktivis perempuan sadar atau sebaliknya.” (Pengadilan Jakarta Pusat, 9 bahwa dalam iklim represif sebenarnya banyak Maret 1998) dipengaruhi oleh peran dominasi laki-laki. Para aktivis dan akademisi perempuan paham bahwa Kasus SIP memberikan dampak yang luar biasa. Media mengeksploitasi unsur-unsur tradisional demi massa bereaksi dengan membeli pelabelan “ibu-ibu” merebut demokrasi dapat dilakukan. Dan inilah 16 === [PDF page 17] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia yang dilakukan dengan proyek SIP.” (Gadis Arivia, Gambaran yang kurang lebih sama diungkapkan oleh 2006:208) Susan Blackburn (2006), seorang akademisi dari Australia dengan kalimat-kalimat sebagai berikut: Sangat disayangkan bahwa di dalam buku sejarah perebutan ruang Reformasi, peranan feminis dalam “Pada 23 Februari 1998, di tengah krisis proyek SIP tidak dimasukkan sebagai pemain politik yang keuangan Asia, sekitar 50 perempuan yang sangat menentukan dalam terjadinya transisi demokrasi. mengidentifikasi diri mereka sebagai ‘ibu rumah Padahal aksi 23 Februari 1998 yang menggunakan tangga dan ibu’ (beberapa juga merupakan nama SIP merupakan strategi cemerlang. Sayangnya, SIP intelektual ternama) melakukan demonstrasi di dimasukkan dalam “kotak” kegiatan ibu-ibu yang tidak tempat yang mencolok di Jakarta dengan nama dihubungkan dengan feminisme dan organisasi JP. Ikon Suara Ibu Peduli (SIP). Tujuan demonstrasi ‘doa SIP telah digambarkan sebagai kasus ketidakmampuan untuk susu’ itu adalah untuk menarik perhatian para ibu dalam membeli susu untuk anaknya karena terhadap kegagalan negara dalam menyediakan krisis moneter. Paling jauh SIP digambarkan sebagai kebutuhan warga negara, terutama ibu dan upaya pemberdayaan ibu-ibu. Para akademisi dan anak...” intelektual berbagai universitas dalam maupun luar negeri ternyata juga luput dalam melihat fenomena Ternyata persepsi itu tidak hanya berhenti pada Kathryn SIP sebagai gerakan strategis dunia ketiga. Beberapa Robinson dan Susan Blackburn. Bahkan akademisi dari buku yang keluar dan dijadikan referensi seperti buku Indonesia seperti Melani Budianta (2003), seorang Kathryn Robinson (2009), Gender, Islam and Democracy profesor dari Fakultas Ilmu Budaya di Universitas in Indonesia, melihat demonstrasi SIP di bulan Februari Indonesia, juga menggambarkan aksi SIP pada tanggal 23 1998 sebagai berikut: Februari 1998 sebagai aksi perempuan kelas menengah dan tidak melihatnya sebagai aksi feminis dengan “Pada Februari 1998, ‘hari-hari terakhir’ rezim tujuan menentang negara yang otoriter. Sebagian besar otoriter Presiden Suharto, sekelompok perempuan penjelasan dalam artikelnya mengelaborasi aksi SIP menduduki bundaran di luar Hotel Indonesia (HI), sebagai upaya pemberdayaan dan inspirasi bagi ibu-ibu. sebuah persimpangan jalan yang ruwet di salah satu Padahal, sebagaimana sudah dijelaskan sebelumnya, aksi daerah tersibuk di Jakarta. Para pengendara yang SIP adalah aksi politis dengan niat menjatuhkan Presiden jalurnya terhambat mendapatkan bunga mawar, Suharto. Semua penggambarannya sesederhana itu paket susu bubuk, dan pamflet bertuliskan protes tanpa melihat lebih jauh lagi cerita di balik perjalanan terhadap naiknya harga-harga sembako akibat SIP tersebut. krisis moneter Asia. Para demonstran menghadapi perempuan-perempuan dalam memenuhi Mengapa seluruh analisis tentang SIP, terutama dari kebutuhan dasar keluarga untuk keluarga- para akademisi asing, selalu menempelkan SIP pada aksi keluarga mereka. Kelompok yang mengorganisir “ibu-ibu” semata dan bukan pada gerakan feminis? demonstrasi ini menyebut diri mereka Suara Ibu Kenyataannya, sebagian besar perempuan yang Peduli (SIP)... Dua dari perempuan yang ditahan, berdemonstrasi adalah feminis, termasuk mereka yang Karlina Leksono dan Gadis Arivia, termasuk yang ditangkap (Karlina Leksono, Gadis Arivia dan Wilasih). mengorganisir demonstrasi tersebut, namun Apakah ada keengganan, ketidaksudian untuk mengakui, perempuan ketiga, Wilasih, adalah warga yang atau bahkan resistensi untuk melihat bahwa para feminis secara spontan bergabung dengan protes itu. di Indonesia berperan dalam menjatuhkan Suharto dan Aksinya menyimbolkan daya tarik luar biasa dan memiliki peran juga dalam mendorong proses reformasi? langsung dari demonstrasi tersebut terhadap Apakah mereka sebagai kalangan akademisi, sadar atau kalangan perempuan Indonesia secara luas, dan tidak, lebih nyaman mengimajinasikan perempuan keterkaitannya yang kuat dengan simbolisme Indonesia sebagai “ibu-ibu” yang menjadi korban krisis perempuan sebagai ibu yang merupakan bagian ekonomi? Jadi tidak terlalu salah kalau kita mengatakan dari ideologi hegemonik Orde Baru.” (Robinson, bahwa ada keengganan mengakui bahwa perempuan 2009:2) Asia (kulit coklat) juga paham feminisme, datang dari 17 === [PDF page 18] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia latar belakang intelektual, menerbitkan jurnal feminis, Buku tersebut hadir saat pembahasan tentang Gerwani dan mampu melakukan tindakan politik menentang dan PKI masih dianggap tabu. Keputusan Kalyanamitra rezim otoriter. Kenyataannya sejauh ini, politik imajinasi untuk menerbitkannya merupakan sebuah keberanian. “ibu-ibu” yang lebih mendominasi dalam kajian atau Selain itu, buku ini menyumbangkan pemikiran kritis analisa akademisi Barat, dan menafikan sama sekali yang sempat terhenti di zaman Orde Baru. Memahami kemampuan feminis Indonesia dalam melawan dan sejarah perempuan Indonesia sangat diperlukan untuk membongkar politik otoriter yang represif. Mereka mengubah cara berpikir patriarkal yang selama ini dalam hanya dilihat sebagai “korban” (objek) dan bukan sejarah pergerakan perempuan Indonesia tidak dilihat sebagai “agen” (subjek). Sebagai catatan penting, perlu sebagai yang politis tapi hanya seremonial belaka. Kerja juga diungkapkan bahwa ada kalangan laki-laki, untuk sama Kalyanamitra dengan Wieringa, seorang akademisi mudahnya disebut sebagai male feminist yang ikut aktif dari Belanda, membuahkan hasil yang baik. Upaya terlibat dalam pergerakan SIP tersebut. Mereka sangat untuk mendapatkan keadilan bagi anggota Gerwani, sadar sejak awal bahwa mereka bagian dari gerakan yang selama puluhan tahun diberlakukan dengan feminis, dan merupakan kelompok pendukung yang kejam, terus berlangsung. Ini merupakan kejatuhan tidak memiliki kecenderungan atau kepentingan untuk terhadap kemanusian yang mewarnai perjalanan sejarah mendominasi atau mengambil alih, apalagi membuat gerakan perempuan di Indonesia. Ini juga salah satu organisasi tersendiri. alasan utama yang kemudian membawa Wieringa dan Nursyahbani Kacasungkana, seorang pengacara hak Maka fase pergerakan perempuan di era Reformasi bisa asasi manusia, bersama pegiat HAM lainnya serta para dikatakan sangat sarat dengan pemikiran-pemikiran penyintas sebagai saksi yang masih hidup, mengajukan yang kritis dan berasal dari kalangan perempuan dan kasus 1965 ke International People’s Tribunal di Den laki-laki. Mereka fasih berbicara teori-teori feminisme. Haag, Belanda pada 10-13 November 2015. Kita juga harus menyebut Kalyanamitra, organisasi perempuan yang didirikan secara independen pada masa Penerbitan yang kritis menghasilkan pemikiran yang Orde Baru tahun 1985, menyusul berdirinya Yayasan kritis. Di era Reformasi, pengetahuan memainkan Annisa Swasti (Yasanti) di Yogyakarta. Pada awalnya peranan yang penting dalam pemberdayaan perempuan. Kalyanamitra berfokus pada persoalan buruh, namun Selain Jurnal Perempuan sebagai jurnal feminis pertama kemudian berkonsentrasi pada pengumpulan data-data di Indonesia yang terbit pada 1996, juga terdapat mengenai berbagai aspek perempuan sehingga menjadi jurnal Afirmasi yang diterbitkan oleh WRI (Women’s organisasi pusat komunikasi dan informasi perempuan Research Institute) tahun 2002. WRI bergerak di bidang (Kalyanamitra.or.id). Pembentukan pengetahuan feminis penelitian dan pelatihan, termasuk mengenai kesehatan yang dilakukan oleh Kalyanamitra sangat berkontribusi reproduksi dan pengembangan metodologi feminis. LSM bagi kemajuan dan diskusi feminisme di Indonesia. yang juga bergerak di bidang pendidikan dan berbasis Salah satu kontribusinya adalah penerbitan buku pengetahuan feminis adalah Institut Kapal Perempuan Saskia Wieringa, Fakta Sejarah Penghancuran Gerakan yang didirikan pada tahun 2000. LSM ini memiliki misi Perempuan Indonesia yang terbit pada 1999. Buku ini khusus untuk mengembangkan pendidikan kritis feminis merupakan disertasi dari penelitian yang berlangsung pada mengenai berbagai isu strategis yang ditujukan kepada 1982-1985 tentang Gerwani (Gerakan Wanita Indonesia) masyarakat. Kapal Perempuan juga mengembangkan yang pada peristiwa 1965 dijadikan korban politik oleh metodologi, penelitian, penyusunan publikasi dan rezim Orde Baru. Penguasa rezim menggunakan simbol laporan hasil penelitian, serta bacaan-bacaan yang kritis. seksualitas perempuan (Gerwani) untuk menghancurkan Tentu masih banyak lagi organisasi-organisasi feminis gerakan PKI (Partai Komunis Indonesia) yang dianggap yang muncul kemudian dalam era menjelang dan melakukan makar. Wieringa mengungkapkan fakta masuk era Reformasi, yang semakin memperkaya dan bahwa Gerwani, organisasi perempuan terkemuka di memperkuat keterkaitan antara teori feminis dan praktik Indonesia pada saat itu, telah difitnah dan anggotanya politik dalam perjuangan gerakan perempuan saat ini mengalami penangkapan, penyiksaan, pemerkosaan, dan masa-masa mendatang. dan bahkan banyak dari mereka yang kemudian dibunuh tanpa diketahui di mana mereka dikuburkan. 18 === [PDF page 19] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Seksualitas dan Konservatisme penisnya. Ia mengatakan kalau saya mengadaada. Bahkan ketika saya menjelaskan bahwa saya Pemikiran kontemporer feminis di Indonesia tidak bisa bisa mengingat kejadian demi kejadian waktu dilepaskan dari munculnya novel-novel feminis yang masih bayi, ia malah menghajar saya dengan mendekonstruksi budaya patriarki. Pada 1998, Ayu sabuknya dan membenturkan kepala saya yang Utami menerbitkan novel pertamanya, Saman, yang mewarisi pikiran-pikiran kotor almarhumah ibu. membawa diskursus seks. Novel ini memenangkan Salah satu sifat yang sangat dibenci ayah atas ibu. berbagai penghargaan termasuk juara I pada sayembara “Ibumu itu pelacur! Untung ia lekas pergi. Kalau tahunan Dewan Kesenian Jakarta dan diterjemahkan ke tidak aura mesum ibumu bisa memengaruhimu.” berbagai bahasa asing. Selain Ayu, satu lagi yang bisa (Jenar Ayu, 2001:49). disebut sebagai penulis cerita fiksi feminis adalah Jenar Maesa Ayu, lewat cerita pendek Menyusu Ayah (2001). Dalam cuplikan terebut terlihat bahwa penindasan Kedua penulis ini memberikan perspektif feminis yang perempuan tertimbun dalam sistem seks/gender luar biasa tentang seks dan tubuh perempuan. Karya- patriarki. Taufik Ismail berargumen bahwa seks sangat karya mereka mampu membongkar tabu seksualitas di tabu untuk dibahas, namun tidak demikian dengan masyarakat. Bukan hanya itu, karya-karya mereka juga Jenar. Ia justru memperlihatkan bahwa hubungan antara mampu untuk membongkar gambaran perempuan perempuan dan laki-laki memiliki paradigma hubungan yang submisif. Gambaran perempuan yang mereka kekuasaan. Laki-laki mengontrol dunia privat maupun tampilkan adalah perempuan yang percaya diri, mampu publik, sehingga untuk membongkar penindasan yang memutuskan kehidupannya sendiri, dan individu yang dilakukan oleh laki-laki, dunia privat harus ditunjukkan kuat. bahwa ini merupakan dominasi budaya patriarki. Seks dengan demikian adalah politis (Millet, 2000). Banyak kritik yang dilontarkan kepada para penulis perempuan yang memiliki visi feminisme ini. Mereka Hal lain yang kental dalam novel maupun cerpen dilabeli sebagai penulis “sastra wangi” karena berasal berhaluan feminis dari Ayu dan Jenar adalah bagaimana dari latar belakang kelas menengah dan hidup di kota cerita-cerita mereka selalu berangkat dari pengalaman besar, serta memiliki pengalaman hidup yang luas dan mereka sendiri. Jenar mengisahkan pengalaman global. Baik Ayu maupun Jenar menolak pelabelan hidupnya sebagai berikut: tersebut yang dianggap seksis dan diskriminatif. Salah satu pengkritik frontal terhadap karya-karya “Saya punya teman yang vaginanya dimasukkan mereka adalah sastrawan Taufik Ismail yang keberatan kayu dan sampai sekarang tidak bisa punya anak. dengan kegamblangan pembahasan seks dalam karya- Dari kejadian itu, saya merasa orang tua saya karya mereka. Taufik menyebutnya sebagai “sastra selama ini tidak membiarkan saya menjadi bodoh. selangkangan” atau “sastra syahwat” (Arimbi, 2009). Mereka tidak melakukan kesalahan besar. Saya merasa orang tua yang tidak terbuka dalam hal Ada persoalan pemahaman yang tidak tepat, atau seks pada anak perempuannya adalah kesalahan bahkan bisa disebut gagal, dalam membaca karya- besar. Karena berkat orang tua saya, saya jadi karya feminis. Bagi sebagian sastrawan laki-laki, tulisan tahu betul apa yang harus saya lakukan dengan Ayu dan Jenar hanyalah seks semata padahal lewat organ reproduksi saya. Ketika berhubungan pembahasan seksualitas, Jenar terutama berhasil seksual, saya sudah banyak dibekali oleh orang mengaitkan tulisannya pada soal hak-hak reproduksi dan tua tentang risikonya. Ketika menginjak usia juga kekerasan terhadap perempuan. Simak kekuatan 18 tahun, hidup saya sudah begitu bebas dan penulisan Jenar dalam kalimat-kalimat berikut ini: justru kebebasan itu membuat saya bertanggung jawab dan tidak bodoh pada diri sendiri. Semua “Saya heran, kenapa Ayah tidak pernah saya sadari sehingga saya tidak rugi seperti menyusui lagi. Padahal saya sudah haus. Padahal kebanyakan perempuan, tidak mati di tangan saya sudah rindu. Tapi Ayah malah menyangkal. dukun, atau merasa menyesal berkepanjangan. Katanya ia tidak pernah menyusui saya dengan Andaikan saya harus aborsi pun, saya harus tahu 19 === [PDF page 20] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia untuk apa kepentingannya, bahwa itu bukan Islam yang begitu alergi dengan kata-kata kesetaraan menjadi sesuatu yang saya sesalkan karena saya dan keadilan gender (JP, No. 86, 2015). Sri Danty MA, tahu semua itu.” (Wawancara dengan Jenar Sekretaris Meneg PPPA saat itu, menyatakan sebagai Maesa Ayu di JP, No. 41, 2005) berikut: Kritik, dan bahkan kecaman serta makian terhadap “... ketakutan terhadap istilah kesetaraan gender, novel dan cerpen karya feminis juga tumbuh pesat di ketakutan nanti itu perempuan melebihi lakiera reformasi. Keterbukaan bukan hanya mendukung laki. Ini asumsi kami. Ketakutan bahwa nanti demokrasi tapi juga mengusung kelompok-kelompok perempuan lupa kodratnya.” (Wawancara yang anti terhadap isu-isu gender, demokrasi, dan HAM. dengan Sri Danti, JP, No.86, 2015) Bila kelompok pro-demokrasi mendasarkan argumentasi mereka pada ayat-ayat konstitusi, kelompok konservatif Bukan hanya RUU Kesetaraan dan Keadilan Gender mendasarkan argumentasi mereka pada ayat-ayat suci yang tertunda, RUU Penghapusan Kekerasan Seksual agama. Contohnya adalah Rancangan Undang-Undang juga tertunda untuk disahkan di DPR. Rocky Gerung Anti-Pornografi dan Pornoaksi. yang menjadi tim advokasi Komisi Nasional Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (Komnas Perempuan) Pada 2006, para feminis menolak RUU Pornografi dari kalangan akademisi untuk RUU Kekerasan Seksual yang diluncurkan oleh DPR tersebut karena dianggap berpendapat: membatasi kebebasan berekspresi kelompok minoritas. Mereka mengorganisir demonstrasi besar di Bundaran “RUU ini dianggap tidak urgen karena hanya Hotel Indonesia, yang diikuti 6.000 orang. Demonstrasi menyangkut ‘soal perempuan’. Jadi pemahaman tersebut berjalan meriah dengan musik dan tari dari legislatif masih konservatif dalam memandang berbagai tradisi, yang menunjukkan keragaman budaya jenis-jenis kejahatan.” (Wawancara dengan Indonesia. Tokoh-tokoh terkemuka seperti Ibu Negara Rocky Gerung, 11 Desember 2015) Sinta Nuriah Abdurrahman Wahid dan penyanyi dangdut Inul bergabung dalam protes tersebut. Konservatisme dalam banyak kasus juga diusung, atau Sayangnya, protes ini tidak dapat menghentikan minimal direstui oleh pemerintah daerah. Ini terlihat dari pengesahan RUU tersebut. Namun sebagian masyarakat perda (peraturan daerah) diskriminatif yang mencapai Indonesia saat itu mengirimkan pesan yang jelas untuk 342 perda pada 2013. Perda-perda ini mengatur melawan fundamentalisme dan mendukung kebebasan berbagai hal tentang perempuan termasuk cara berekspresi, kesetaraan hak, dan pluralisme. berpakaian perempuan atas nama agama dan moralitas, menurut Andy Yentriani, mantan Komisioner Komnas Gerakan konservatisme meningkat di Indonesia, Perempuan (Andy Yentriani, VOA: 23 Agustus 2013). terlihat nyata dari bagaimana kelompok-kelompok ini Perda-perda diskriminatif ini meningkat dari 282 pada mendapatkan dukungan, baik langsung maupun tidak 2012 dan 207 pada 2011. Dari 265 kebijakan tersebut, langsung, dari mereka yang duduk dalam parlemen, 76 kebijakan mengatur cara berpakaian berdasarkan seperti salah satu kekuatan politik Islam, PKS (Partai interpretasi tunggal ajaran agama Islam; 124 tentang Keadilan Sejahtera). Tapi umumnya partai-partai prostitusi dan pornografi; 27 tentang pemisahan lakiberbasis Islam memang menolak isu-isu seksualitas, hak- laki dan perempuan di ruang publik; 19 menggunakan hak reproduksi, dan kesetaraan perempuan. Kata-kata istilah khalwat atau mesum; dan 35 kebijakan kesetaraan dan keadilan gender masih menjadi masalah membatasi perempuan keluar malam. Daerah yang terutama terlihat di dalam upaya Menteri Negara banyak mengeluarkan kebijakan diskriminatif adalah Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Jawa Barat, Sumatra Barat, Sulawesi Selatan, Aceh, (Meneg PPPA) memperjuangkan Rancangan Undang- Kalimantan Selatan, Sumatra Selatan, dan Jawa Timur. undang Kesetaraan dan Keadilan Gender (RUUKKG). Hingga saat ini RUU tersebut masih ditunda karena Memang di bawah pemerintahan Presiden Joko adanya penolakan yang hebat dari partai-partai berbasis Widodo, 3.143 perda dicabut. Namun perda-perda ini 20 === [PDF page 21] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia bukanlah aturan yang diskriminatif, melainkan terkait Perempuan bukan fasilitator dan lembaga yang pajak, retribusi, atau birokrasi bisnis. Perda-perda terkait memiliki mandat untuk memproduksi konsep-konsep gender dan intoleransi agama masih bertahan dan kuat. atau pengetahuan feminisme. Oleh sebab itu, Komnas Perempuan perlu berkolaborasi dengan LSM feminis untuk mendapatkan kedalaman konsep dan teori, bahkan data-data yang memiliki analisis mendalam Feminisme Negara menggunakan perspektif feminisme. Era Reformasi telah mendorong lahirnya Komnas Sangat sedikit femokrat yang unggul dalam memajukan Perempuan yang berhaluan feminis karena pendirinya hak-hak perempuan. Komnas Perempuan sering adalah tokoh-tokoh feminis di Indonesia. Komisi ini menganggap diri sebagai lembaga yang independen, didirikan sebagai lembaga negara yang bertujuan tetapi tidak bisa dimungkiri bahwa sebagian dana untuk menguatkan hak asasi perempuan. Lembaga ini operasionalnya dibiayai oleh negara melalui Anggaran disahkan melalui Peraturan Presiden (Perpres) Nomor Pendapatan dan Belanja Negara (APBN). Femokrat yang 181 Tahun 1998 dan dikuatkan melalui Perpres Nomor benar-benar berada di dalam pemerintahan mengalami 65 Tahun 2005. berbagai kendala. Salah satu yang patut dicatat sebagai femokrat dan berhasil mempromosikan kebijakan- Komnas Perempuan lahir berkat upaya gigih para kebijakan yang sensitif gender adalah Sri Mulyani, feminis, antara lain Prof. Saparinah Sadli yang ketika Menteri Keuangan pada 2005-2010. Sebelum menjabat itu juga merupakan ketua Kajian Wanita UI. Selain sebagai menteri keuangan, ia menjabat Ketua Badan Saparinah ada nama-nama seperti Ita F. Nadia, Sinta Perencanaan Pembangunan Nasional (BAPPENAS) yang Nuriyah Abdurrahman Wahid, Kuraisin Sumhadi, berhasil menggulirkan Rencana Perencanaan Jangka Mayling Uy, Mely G. Tan, Kamala Chandrakirana, Panjang Nasional (RPJPN) 2005-2025 yang menekankan dan Smita Notosusanto. Nama-nama ini sudah tidak kebijakan pemberdayaan perempuan yaitu: asing lagi di dalam gerakan perempuan. Di era Komnas Perempuan inilah dapat dikatakan terdapat agen 1. Memperbaiki kualitas hidup dan peran perempuan kebijakan perempuan di pemerintahan/negara atau dalam sektor-sektor pembangunan; yang disebut sebagai state feminism atau femokrat. 2. Mengurangi angka kekerasan, eksploitasi dan Mereka adalah para feminis yang bekerja dari dalam diskriminasi perempuan; aparatus negara untuk memajukan hak-hak perempuan, 3. Penguatan jaringan kelembagaan pengarusutakebiyakan pro-perempuan, dan representasi politik maan gender. itu sendiri (Lovenduski, 2005:3-4). State feminism tidak terbayangkan ada pada saat Orde Baru karena kecurigaan yang besar terhadap negara yang ingin Peranan besar Menteri Keuangan saat itu adalah pada membungkam hak-hak perempuan. keluarnya Peraturan Menteri Keuangan (PMK) Nomor 119 Tahun 2009 tentang Instruksi Persiapan dan Evaluasi Hannah Pitkin (1967) mengidentifikasi empat tipe Rencana Kerja dan Anggaran dari Menteri-Menteri representasi politik: otoritatif-representatif, yang Negara. Selain memperjuangkan penganggaran yang diberikan hak untuk bertindak atas nama negara responsif gender, Sri Mulyani menerapkan affirmative karena kedudukan legal; deskriptif-representatif, yang action untuk mempromosikan perempuan-perempuan di karena ada kesamaan karakteristik seperti kesamaan tingkat eselon 1 (JP, No.72, 2012). Ia memiliki keyakinan ras, gender, etnis, atau asal/tempat tinggal; simbolik- bahwa penyelenggara negara sudah sepatutnya representatif dari ide-ide (ideologi) nasional; dan memiliki perspektif gender agar program pemerintah substantif-representatif yang memajukan kepentingan yang dipromosikan dapat efektif, apalagi bila programdan kebijakan perempuan. Komnas Perempuan berhasil program tersebut untuk menanggulangi kemiskinan. bekerja untuk memajukan hak-hak perempuan dan Simak pernyataannya dalam wawancara dengan Jurnal merepresentasikan gerakan feminis. Namun Komnas Perempuan sebagai berikut: 21 === [PDF page 22] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia “Apa yang disebut konsep gender di dalam oleh para pensiunan polisi wanita), memperjuangkan governance memang belum ada, kecuali Ruang Pelayanan Khusus (RPK) untuk menangani lebih bersifat stereotyping, misalnya, bahwa pengaduan perempuan yang mengalami kejahatan. perempuan dalam memimpin lebih rapi, teliti, Irawati juga menuturkan betapa sulit untuk memajukan berpikir jangka panjang. Tapi, sebetulnya ide-ide feminisme di dalam kerangka kerja birokrat. Idegovernance yang memperhitungkan konsep ide feminisme dalam birokrasi sering kali terwujud dari gender itu. Contohnya begini, di dalam concrete jejaring personal. Irawati menggunakan pertemanannya solution harus nyata, misalnya, design crash dengan Ibu Rusmanhadi, istri Kapolri pada saat itu untuk transfer untuk orang-orang miskin itu harus dapat mewujudkan RPK. Menarik apa yang dikatakan dipikirkan rancangannya. Saya sewaktu di Irawati dalam wawancaranya dengan Jurnal Perempuan Bappenas mengatakan, penerima uang harus berikut ini: perempuan, tidak boleh suaminya karena sudah banyak studi yang mengatakan bahwa kalau “Kapolresnya ditelepon oleh Kapolda, Kapolda perempuan mengelola uangnya, akan lebih baik ditelepon oleh Kapolri, dan Kapolri dibujuk dan akan digunakan untuk anaknya. Dengan oleh Bu Kapolri…”(Wawancara dengan Irawati memahami konsep pendekatan gender ini, maka Harsono di JP, No. 49, 2006). program akan efektif. Mungkin kalau menterinya tidak memahami pendekatan gender, maka Meski ada beberapa sosok di pemerintahan yang rancangannya tidak akan memperhatikan hal-hal memiliki komitmen terhadap feminisme dan berusaha ini.” (Wawancara Sri Mulyani di JP, No.72, 2012) membuat kebijakan-kebijakan yang pro-gender, namun ide-ide feminisme tidak terstruktur atau memiliki pakem Sayangnya, femokrat di pemerintahan bersifat individual, di dalam pemerintahan ataupun di DPR. Kebiyakantidak konsisten, dan tergantung dari figur. Sangat sedikit kebijakan yang feminis hanya dapat lahir dan bertahan perempuan di birokrat yang menggandeng kelompok bila ada jaringan dan konsep feminisme yang kuat perempuan sebagai mitra kerja apalagi menggeluti isu- antara feminis yang aktivis, akademis, femokrat, dan isu feminisme. Beberapa organisasi perempuan telah ikut yang berada di DPR. dalam menguatkan program-program pemerintah tapi menekankan wawasan gender, misalnya dalam bidang ekonomi dan kesehatan. Organisasi-organisasi tersebut adalah Hapsari, Pesadar, dan ASPPUK, serta JPRP yang bergerak di bidang air bersih. Terkadang organisasiorganisasi ini sulit menembus pemerintah sehingga mereka bekerja dengan perusahaan melalui program Tanggung Jawab Sosial Perusahaan (CSR) meski dengan aksi mencak-mencak. Seperti yang diutarakan Yati dari JPRP: “…tentang kendala air bersih, pemerintah tidak menganggarkan. Kemudian kita mengejar CSR dari Bank Lampung. Kita sempat mencakmencak, mendatangkan 30 orang ibu-ibu ke wali kota.” (Wawancara WRI, 14 Mei 2012). Di bidang penegakan hukum, sosok seperti perwira Kepolisian Republik Indonesia Irawati Harsono dan hakim Maria Farida Indarti (hakim perempuan pertama terpilih di Mahkamah Konstitusi) patut diapresiasi. Irawati mendirikan DERAP-WARAPSARI (LSM yang didirikan 22 === [PDF page 23] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Penutup Ada tiga fase dalam perkembangan pemikiran- dan pemaksaan doktrin P4 (Pedoman Penghayatan dan pemikiran feminis di Indonesia. Pertama, fase kolonial Pengamalan Pancasila), yang intinya adalah menjauhkan atau fase liberal feminis, dengan berkembangnya ide-ide universitas dari politik. Di sinilah justru berlangsungnya mengenai hukum perkawinan dan hak atas pendidikan, penguatan ide-ide feminis sebagai kritik terhadap politik serta organisasi akar rumput yang kuat di era Sukarno negara yang patriarkal tersebut. Memang ada upaya (feminisme Sosialis/Marxist). Pada fase kedua, feminisme memperkenalkan perspektif perempuan dalam beberapa lumpuh akibat dominasi negara (rezim Orde Baru), dan mata kuliah universitas, tetapi itu pun adalah semacam diskursus mengenai feminisme diproduksi oleh negara. upaya “subversif” dari beberapa akademisi yang sudah Fase ketiga, fase kontemporer, diwarnai oleh beragam terlebih dahulu terlibat dengan “politik feminis” di luar diskursus dan penelitian kritis yang diproduksi oleh universitas. organisasi-organisasi perempuan. Penting untuk dipahami bahwa perspektif feminis Khusus pada fase ketiga, yaitu fase pemikiran feminism kontemporer di Indonesia memang hanya beredar dalam kontemporer, akademisi yang masuk di dalam organisasi- ruang lingkup yang terbatas karena ia tidak berbasis organisasi perempuan dan beberapa diantara mereka di universitas-universitas. Feminisme adalah aktivitas menjadi femokrat, mengembangkan perspektif teoretis akademis yang memerlukan pengetahuan teoretis, sendiri melalui berbagai forum di luar universitas. sementara gerakan perempuan lebih menekankan Sumber energi awal feminisme di Indonesia memang penanganan isu-isu nyata mengenai ketidakadilan politik tidak berasal dari universitas-universitas atau lembaga- dan ketimpangan gender. Tetapi yang menyatukan dua lembaga penelitian. Kalangan akademisi yang masuk di aktivitas ini (akademis dan politik) adalah volunterisme dalam organisasi-organisasi perempuan, dan banyak juga di antara para akademisi dan aktivis gerakan perempuan di antara mereka yang masuk institusi-institusi negara yang menemukan “musuh bersama”, yaitu negara dan birokrasi, menjadi femokrat, mengembangkan otoriter dan kultur patriarkal dan fundamentalisme perspektif teoretis sendiri melalui berbagai forum di luar agama dalam masyarakat. Inilah yang menjelaskan universitas. Pertemuan-pertemuan internasional justru mengapa pelatihan-pelatihan gerakan perempuan juga menjadi forum yang mengasah kepekaan teoretis dari memasukkan sesi-sesi tentang pemikiran feminis dalam banyak aktivis feminis pada era 1980 hingga 1990-an. kurikulum latihannya. Sejumlah teori yang diperoleh dari jurnal dan buku-buku yang serba terbatas ketika itu, dipelajari secara otodidak Jadi, dapat disimpulkan bahwa kerja sama antara oleh para akademisi di luar kurikulum universitas. akademisi feminis dan aktivis gerakan perempuan di Fenomena ini berbeda dari negara Barat di mana pada Indonesia, sejak awal Reformasi telah tumbuh bersama tahun 1970-an, para akademisi feminis berperan di dalam upaya memberi kritik pada negara dan birokrasi. universitas untuk memproduksi wacana kritis agar Kekeliruan beberapa pengamat baik di Indonesia dan kemudian dapat dipakai dalam berbagai aktivitas dalam Barat adalah sekedar melihat pertumbuhan feminisme di gerakan-gerakan “akar rumput” (McDermot, 1994:2-3). Indonesia sebagai aktivitas perempuan kelas menengah atau meromantisasinya sebagai reaksi ketertindasan Kita harus menerangkan kondisi ini dengan memahami perempuan. Studi ini telah memperlihatkan bahwa sistem universitas di Indonesia ketika itu sebagai gerakan feminis kontemporer di Indonesia, sejak awal perpanjangan tangan dari kepentingan negara. telah bercorak kajian teoretis dan politik sekaligus Kurikulum universitas diatur langsung oleh negara dan menggunakan perspektif feminis lokal dan global. diawasi secara ketat agar tidak--dalam bahasa politik ketika itu--“mengganggu stabilitas nasional”. Era itu dikenal sebagai era NKK (Normalisasi Kehidupan Kampus) 23 === [PDF page 24] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Daftar Pustaka Arimbi, Diah Ariani, Reading Contemporary Indonesian Muslim Women Writers. Amsterdam: Amsterdam University Press, 2009 Arivia, Gadis, Feminisme Sebuah Kata Hati. Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2006 Ayu, Jenar Maesa, Jangan Main-Main (dengan Kelaminmu), Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2007 Aripurnami et all, Sita, Indonesian Women’s Movement: Making Democracy Gender Responsive.Women Research Institute, 2013 Blackburn, Susan, Women and the State in Modern Indonesia. Cambridge, UK: Cambridge University Press, 2004 Blackburn, Susan, Kongres Perempuan Pertama: Tinjauan Ulang. Yayasan Obor Indonesia, 2007 Budianta, Melani, “The Blessed Tragedy: The Making of Women’s Activism during Reformasi Years” in Ariel Heryanto and Sumit K. Mandal (eds), Challenging Authoritarianism in Southeast Asia: Comparing Indonesia and Malaysia New York: Routledge, 2003. KOWANI, Derap Langkah Pergerakan Organisasi Perempuan Indonesia, 2009. Jakarta: PT Pustaka Sinar Harapan. Lovenduski, Joni, State Feminism and Political Representation, NY:Cambridge University Press, 2005 McCann et all, 2003. Feminist Theory Reader: Local and Global Perspectives. Routledge. McDermott, Patrice, Politics and Scholarship. Chicago: University of Illinois Press, 1994 Millett, Kate, Sexual Politics. Urbana and Chicago: University of Illinois Press, 2000 Pitkin, Hanna Fenichel, The Concept of Representation, Berkeley: University of California Press, 1967 Pane, Armijn, Habis Gelap Terbitlah Terang, cetakan 21, Balai Pustaka, 2004. Rijal et all, Fauzie, Dinamika Gerakan Perempuan di Indonesia. Yogyakarta: PT Tiara Wacana, 1993. Robinson, Kathryn and Sharon Besell, Women in Indonesia, Gender, Equity and Development. Singapore: ISEAS, 2002. Robinson, Kathryn, Gender, Islam and Democracy in Indonesia. Routledge, 2009 Roces, Mina and Louise Edwards, Women’s Movements in Asia: Feminism and Transnational Activism. London and New York: Routledge. 2010 Subono, Nur Iman (ed), Catatan Perjalanan Suara Ibu Peduli, Jakarta: Yayasan Jurnal Perempuan, 1999 24 === [PDF page 25] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia Suyakusuma, Julia, State Ibuism: The Social Construction of Womenhood n New Order Indonesia. Komunitas Bambu, 2011 Vreedee-De Stuers, Cora, Sejarah Perempuan Indonesia: Gerakan dan Pencapaian, Indonesian translation edition. Komunitas Bambu, 2008. Voice of America (VOA), KOMNAS Perempuan ada 342 Perda diskriminatif di Indonesia, 25 Agustus 2013. Wieringa, Saskia Eleonora, Ed, Women’s Struggle and Strategies, Gower Publishing Company Limited, 1988 Wieringa, Saskia Eleonora, Kuntilanak Wangi: Organisasi-organisasi Perempuan Indonesia Sesudah 1950, Indonesian translation edition. Kalyanamitra, 1998 Wieringa, Saskia Eleonora, Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Indonesian translation edition. Garba Budaya dan Kalyanamitra, 1999. Wawancara JP, N0.41, 2005. Wawancara dengan Jenar Maesa Ayu. JP, No. 49, 2006. Wawancara dengan Irawati Harsono. JP, No.72, 2012. Wawancara dengan Sri Mulyani. JP, No.86, 2015. Wawancara dengan Sri Danty. 25 === [PDF page 26] === Seratus Tahun Feminisme di Indonesia 26 === [PDF page 27] === [Blank page] === [PDF page 28] === Tentang Penulis: Imprint © 2018 Friedrich-Ebert-Stiftung Dr. Gadis Arivia adalah pengajar senior di Departemen Indonesia Office Filsafat, Fakultas Ilmu dan Bahasa, dan Program Magister Jalan Kemang Selatan II No. 2A, Kajian Gender Universitas Indonesia. Ia dikenal sebagai Jakarta 12730, Indonesia seorang filsuf feminis dan pendiri Jurnal Perempuan, jurnal feminis pertama di Indonesia. Ia pun telah menulis Penanggung Jawab: sejumlah karya ilmiah tentang feminisme dan filsafat Sergio Grassi l Country Director baik untuk forum nasional dan internasional, dan juga Rina Julvianty l Program Officer sejumlah buku dan jurnal berkaitan dengan gender, feminisme, etika, dan filsafat. Telepon: +62-21-7193711 Fax: +62-21-71791358 Dr. Nur Iman Subono mengajar di Departemen Politik, Website: www.fes.or.id Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik, dan Program Magister Kajian Gender Universitas Indonesia. Ia menaruh Untuk mendapatkan publikasi ini, silakan menghubungi: perhatian besar terhadap isu-isu politik, perempuan info@fes.or.id dan politik, feminisme dan gender, masyarakat sipil, demokrasi, hak asasi manusia, dan globalisasi. Materi publikasi yang diterbitkan oleh Friedrich-Ebert- Stiftung tidak dapat dipergunakan untuk tujuan komersil tanpa persetujuan tertulis dari FES. Pandangan dalam tulisan ini tidak mencerminkan pendapat dari Friedrich-Ebert-Stiftung. Diselaraskan dengan publikasi versi Bahasa Inggris berjudul: “A Hundred Years of Feminism in Indonesia – An Analysis of Actors, Debates and Strategies”. Friedrich-Ebert-Stiftung (FES) adalah yayasan politik tertua di Jerman. Adapun namanya diambil dari presiden Jerman pertama yang dipilih secara demokratis: Friedrich Ebert. Program Regional di Asia melengkapi kegiatan-kegiatan dan proyek-proyek FES di tingkat global dan nasional. Pendekatan dan fokusnya melampaui tingkat nasional dengan merespon tren globalisasi, mobilitas tenaga kerja, integrasi regional dan konektifitas di seluruh area kehidupan. Proyek-proyeknya dilaksanakan dengan kerangka tujuan untuk membangun jaringan transnasional dan koalisi antara individu dan organisasi dan mempromosikan perubahan untuk meningkatkan keadilan sosial, perdamaian dan pembangunan ekonomi berkelanjutan di Asia. www.fes-asia.org