Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02872

Gerakan Organisasi Perempuan Indonesia dalam Bingkai Sejarah (Mursidah, 2012)

Cleaned OCR text (Good (0.935); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

=== [PDF page 1] === GERAKAN ORGANISASI PEREMPUAN INDONESIA DALAM BINGKAI SEJARAH Mursidah Mahasiswa Program Magister Pendidikan IPS Universitas Lambung Mangkurat Banjarmasin Mursidah@gmail.com Abstract: Feminism movement comes forward in various parts of the world, including in Indonesia. This movement pictures a woman in the position of the oppressed, and sistematically subordinate and ideologically imprisoned. In order to release from the oppression, then, it has emerged in the history of some women's movement in Indonesia, in which women have moved forward and more focused in the improvement of the social position of women in marriage and family, and to improve the skills as a housewife by improving the education and the teaching as accompanied by an increase in skill. Keywords: Feminism, women's organizations, history of the movement Abstrak: Gerakan Feminisme datang ke depan di berbagai belahan dunia, termasuk di Indonesia. Gerakan ini menggambarkan seorang wanita di posisi tertindas, dan sistematis bawahan dan ideologis dipenjara. Untuk melepaskan dari penindasan, saat itu, muncul dalam sejarah gerakan beberapa perempuan di Indonesia, di mana perempuan telah bergerak maju dan lebih fokus dalam peningkatan posisi sosial perempuan dalam perkawinan dan keluarga, serta meningkatkan keterampilan sebagai ibu rumah tangga dengan meningkatkan pendidikan dan pengajaran sebagai disertai dengan peningkatan keterampilan. Kata Kunci: Feminisme, Organisasi Perempuan, sejarah gerakan Gerakan Organisasi Perempuan Indonesia dalam Bingkai Sejarah (Mursidah) | 87 === [PDF page 2] === Pendahuluan Indonesia telah berorganisasi dan Dalam perjalanan sejarahnya, ide mengadakan berbagai aksi. Gerakan feminisme ternyata muncul di berbagai perempuan Indonesia tumbuh dan penjuru dunia dan punya berbagai corak berkembang sejak masa kolonial yang masing-masing menawarkan (penjajahan) seiring dengan berdirinya analisisnya tentang sebab dan pelaku organisasi-organisasi perempuan. Dalam penindasan kaum perempuan. Meski perjalanan sejarah, perempuan pernah berbeda-beda, pada dasarnya feminisme menjadi aktor yang vokal ditengah sampai kini masih sepakat bahwa gelanggang politik dan sekaligus menjadi diperlukan perjuangan untuk mencapai ibu dan istri yang “baik” selama kesetaraan harkat perempuan dengan laki- perjuangan anti kolonial. Dua peranan ini laki, serta kebebasan perempuan untuk dapat berpadu dalam praktiknya, karena memilih dalam mengelola kehidupan dan perempuan harus memainkan peranan tubuhnya, baik di dalam maupun di luar politik justru agar supaya menjadi ibu rumah tangga. Sampai kini dikenal yang baik (dari rakyat dan bangsa beberapa aliran besar feminisme antara Indonesia), dan istri yang baik (sebagai lain feminisme Marxis, feminisme pembantu laki-laki dalam perjuangannya). Sosialis, feminisme liberal, dan Dalam sejarah Indonesia, perjuangan ekofeminisme (Nur Amin Samhuri, 2007: wanita sudah muncul sejak abad ke-19, 1). Di Indonesia pada abad 20, organisasi- seiring dengan berkembangnya gerakanorganisasi perempuan mulai dibentuk gerakan politik masyarakat dalam untuk menentang diskriminasi seksual di menghadapi kekangan kolonial. Sebut bidang politik, sosial, ekonomi, maupun saya dalam gerakan itu seperti Christina personal bagi kaum perempuan. Selain itu Martha Tiahahu dari Maluku (1817-1819); juga, reformasi hukum yang berperspektif Nyi Ageng Serang dari Jawa Tengah pada keadilan melalui desakan 30% kuota bagi sekitar pertengahan abad XIX; Cut Nyak perempuan dalam parlemen adalah Dien dan Cut Meutia di dalam perang kontribusi dari pengalaman feminis. Saat Aceh (1873-1904); dan juga RA Kartini ini, feminisme umumnya mengacu pada (1879-1904); Dewi Sartika (1884-1947); semua usaha yang mencoba untuk Maria Walenda Maramis (1872-1924), mengakhiri subordinasi. Nyi Ahmad Dahlan (1872-1936), Rasuna Catatan sejarah kita sudah Said (1901-1965). menyaksikan bagaimana perempuan 88 | MUWÂZÂH, Volume. 4, Nomor. 1, Juli 2012 === [PDF page 3] === Gerakan perempuan yang terjadi Hal itu antara lain karena tidak adanya pada akhir abad ke-18 sampai awal abad lagi musuh bersama, sehingga laki-laki ke-20 banyak memusatkan perhatiannya cenderung mengklaim bidang politik pada upaya memperoleh ruang publik sebagai bidang mereka sendiri, dan yang lebih luas dengan keterlibatan perempuan lebih diposisikan untuk perempuan di dalam wilayah politik dan berperan di bidang sosial. Gerakan ekonomi, maka belakangan ini tuntutan perempuan seperti gerakan feminisme yang memuncak dan meluas adalah memandang perempuan sampai saat ini penghilangan batasan wilayah publik dan selalu dalam posisi tertindas, subordinat pribadi dalam masalah perempuan. secara sistem dan terpenjara secara Gerakan perempuan yang terjadi saat ini ideologis. Kelahiran gerakan pembebasan lebih kritis memandang asal-usul perempuan merefleksikan perubahan munculnya penindasan terhadap mereka. struktural dalam kehidupan sebagian besar Menurut Syahfitri Anita dalam artikelnya perempuan. Gerakan feminis berhasil yang berjudul ”Gerakan Perempuan: membangun karakter sosial atas situasi Kajian Teoritis”, wacana gerakan kaum perempuan dan mendapatkan perempuan yang dihadirkan sejak awalnya pengakuan gender perempuan. Gerakan merupakan suatu usaha untuk mengangkat pembebasan perempuan merupakan posisi perempuan. Ini berangkat dari gerakan yang heterogen dengan berbagai asumsi bahwa peran perempuan dalam teori dan pandangan politik yang berbeda kehidupan masyarakat atau ranah (Ernawaty Sasongko, 2001:41-42). kebijakan publik di berbagai belahan Berdasarkan uraian diatas, maka penulis dunia dari waktu ke waktu terus tertarik untuk menelaah dan mengkaji berkembang, khususnya di Indonesia. bagaimanakah sejarah perkembangan Perkembangan ini tentunya mengarah gerakan organisasi perempuan di kepada terciptanya ruang yang Indonesia sebagai gerakan feminisme? memberikan kesetaraan bagi perempuan baik secara individual maupun perempuan Pembahasan sebagai komponen masyarakat (Syahfitri Sejarah perjuangan kemerdekaan Anita, 2006: 3 ). Indonesia menceritakan beberapa nama Hubungan politik antara perempuan perempuan yang disebutkan sebagai dan laki-laki menjadi berubah secara tokoh-tokoh perempuan yang ikut mendasar ketika Indonesia telah merdeka. berjuang bersama rakyat dalam Gerakan Organisasi Perempuan Indonesia dalam Bingkai Sejarah (Mursidah) | 89 === [PDF page 4] === memperjuangkan dan merebut titik tolak kemerdekaan perempuan kemerdekaan kita dari tangan bukanlah dengan melihat perempuan kolonialisme. R. A Kartini umumnya sebagai sosok mandiri yang terpisah dari disebut-sebut sebagai tokoh perempuan lingkungannya, melainkan sebagai pribadi pada zamannya, dan yang paling terkenal. yang terkait dengan kemajuan Kartini (1897-1904) dinilai sebagai salah masyarakatnya. Kartini menulis: satu perintis kemerdekaan Indonesia, ''Kecerdasan pikiran penduduk bumiputera karena pemikirannya untuk melawan tidak akan maju pesat bila perempuan kolonialisme Belanda yang dianggapnya ketinggalan dalam usaha itu, (yaitu) sebagai sumber penderitaan rakyat. perempuan jadi pembawa peradaban'' (Dri Selama hidupnya, Kartini dikenal sebagai Arbaningsih, 2005: 35). Kartini menjadi seorang tokoh yang berjuang memajukan simbol gerakan perempuan Indonesia dan kaum perempuan (Dri Arbaningsih, 2005: hari lahirnya, 21 April selalu dirayakan 33). Namun, jauh sebelum tokoh oleh organisasi-organisasi perempuan emansipasi Kartini berjuang, telah muncul dewasa ini. Selain Kartini dan beberapa usaha untuk memikirkan pendidikan untuk tokoh perempuan lainnya, tercatat perempuan. Tetapi usaha awal ini berasal beberapa organisasi perempuan yang juga dari lingkung individu dan dari golongan hadir pada masa sebelum kemerdekaan bangsawan. Misalnya usaha dari keluarga Indonesia. Organisasi-organisasi Keraton Pakualam di Yogyakarta yang perempuan itu bergelut mencari upaya mendidik gadis-gadisnya untuk belajar di untuk memperbaiki keadaan kaum sekolah Belanda dengan tujuan agar perempuan dan mengubah tatanan yang mereka dapat bekerja di berbagai menyebabkan kaum perempuan tertindas. lapangan (Sukanti Suryocondro, 1984: Sebut saya misalnya Putri Mardika, 80). organisasi perempuan pertama di masa kolonial, yang berdiri pada tahun 1912 Pemikiran Kartini banyak (Saskia E. Wieringa, 1998: 3). Organisasi mengilhami gerakan perjuangan ini sangat dekat dengan Budi Utomo perempuan sesudahnya. Kartini karena tujuannya yang paling menonjol mempunyai cita-cita untuk membebaskan yaitu keterlibatan dalam usaha perempuan dari keterbelakangan dan pemerdekaan bangsa. Putri Mardika kemiskinan. Ia melihat pendidikan memusatkan perhatiannya terhadap perempuan adalah jalan untuk perjuangan terhadap akses pendidikan pembebasan itu. Namun menurut Kartini, 90 | MUWÂZÂH, Volume. 4, Nomor. 1, Juli 2012 === [PDF page 5] === bagi perempuan dan reformasi adalah organisasi perempuan yang aktif perkawinan. dalam perjuangan politik. Dalam Setelah berdirinya Putri Mardika, kongresnya tahun 1932, Isteri Sedar dalam tahun-tahun berikutnya berbagai menyatakan diri ingin meningkatkan organisasi ataupun perkumpulan status perempuan Indonesia melalui bermunculan baik yang didukung oleh perjuangan kemerdekaan. Ide dasarnya organisasi laki-laki maupun yang adalah bahwa tidak akan ada persamaan terbentuk secara mandiri oleh perempuan hak antara laki-laki dan perempuan bila sendiri. Misalnya, Pawiyatan Wanito tidak ada kemerdekaan, “Hanya Indonesia (Magelang, 1915), Percintaan Ibu Kepada yang merdeka oleh usaha besar-besaran Anak Temurun - PIKAT (Manado, 1917), kaum laki-laki dan perempuan yang Purborini (Tegal, 1917), Aisyiyah atas bersatu padu yang akan sanggup bantuan Muhammadiyah (Yogyakarta, memberikan persamaan hak dan tindakan 1917), Wanito Susilo (Pemalang, 1918), kepada rakyat Indonesia”(Gadis Arivia, Wanito Hadi (Jepara, 1919), Poteri Budi 2000: 2-3). Sejati (Surabaya, 1919), Wanito Utomo Pada masa pendudukan Jepang di dan Wanito Mulyo (Yogyakarta, 1920), Indonesia tahun 1942, semua organisasi Serikat Kaum Ibu Sumatra (Bukit perempuan dilarang kecuali Fujinkai. Tinggi, 1920), Wanito Katolik Organisasi bentukan Jepang ini (Yogyakarta, 1924) (Saskia E. Wieringa, beranggotakan istri pegawai negeri dan 1998: 3-4). Secara keseluruhan memiliki kemiripan dengan Dharma organisasi-organisasi ini masih bersifat Wanita (organisasi-organisasi istri para kedaerahan. Namun, pada intinya setiap pejabat sipil). Kegiatan yang dilakukan organisasi perempuan saat itu bertujuan oleh Fujinkai yaitu kegiatan sosial salah untuk dapat memperbaiki posisi satunya dibidang pemberantasan buta perempuan dalam kehidupan huruf (Saskia E. Wieringa, 1998: 5). Pasca bermasyarakat dengan meningkatkan kemerdekaan, berbagai organisasi pendidikan perempuan sebagai sebuah perempuan tumbuh, selain juga ada yang strategi dasar (Ani Widyawani Sucipto, merupakan kelanjutan dari organisasi 2005: 22). perempuan di masa kolonial dan menjadi Selanjutnya, ada Isteri Sedar yang berkembang sesudahnya. Diantaranya didirikan pada tahun 1930 di Bandung Wanita Marhaen yang menjadi sayap oleh Suwarni Pringgodigdo. Isteri Sedar perempuan Partai Nasionalis Indonesia, Gerakan Organisasi Perempuan Indonesia dalam Bingkai Sejarah (Mursidah) | 91 === [PDF page 6] === dan ada Gerakan Wanita Sedar miskin, penindasan dan penghisapan (GERWIS) (Saskia E. Wieringa, 1999: kaum buruh, dan berbagai bentuk 28). GERWIS berdiri pada 1950, kekerasan oleh aparat sipil maupun kemudian tahun 1954 GERWIS berganti militer. Gerakan perempuan yang kritis di nama menjadi Gerakan Wanita Indonesia Indonesia, tidak berkembang pada zaman (GERWANI) (Saskia E. Wieringa, 1998: orde baru ini. Mitos yang dikembangkan 5). Gerwani adalah organisasi perempuan rezim orde baru saat itu mengarahkan yang paling besar dan paling berpengaruh peningkatan kualitas perempuan hanya dalam sejarah Indonesia oleh karena itu sebagai istri. Ini ditunjukkan oleh berbagai organisasi ini sering dikait-kaitkan dengan organisasi perempuan bentukan Partai Komunis Indonesia (PKI). Sejak pemerintah saat itu seperti PKK awal berdirinya, GERWANI banyak (Pembinaan Kesejahteraan Keluarga), melakukan kegiatan-kegiatan untuk Dharma Wanita bagi istri pegawai negeri peningkatan kesadaran kaum perempuan dan Dharma Pertiwi bagi istri yang dalam memperjuangkan hak-hak mereka suaminya bekerja di salah satu cabang baik secara ekonomi maupun politik. Para angkatan bersenjata (A. E. Priyono, anggota GERWANI pada umumnya Stanley Adi Prasetyo dan Olle Tornqist, berpendidikan tinggi dan berkesadaran 2003: 391). Sebagian besar organisasi politik. Gerwani, menuntut tempat perempuan di masa orde baru lahir ditengah gelanggang politik bagi kaum sebagai tanggapan atas hegemoni dan perempuan. dominasi negara terhadap perempuan. Sejarah yang panjang tentang Karena dalam prakteknya seluruh perjuangan gerakan perempuan terputus organisasi perempuan yang ada diawasi sejak 1 Oktober 1965 yang menandai awal dengan ketat, dan mutlak harus berdirinya rezim orde baru. Rezim ini menjalankan politik pemerintah. melakukan pemberangusan dan Banyak usaha yang telah dilakukan pelumpuhan terhadap organisasi- untuk mengangkat posisi perempuan, organisasi perempuan beserta seluruh salah satunya melalui organisasi sosial organisasi independen lainnya. Rezim perempuan sebagai gerakan perempuan Orde Baru mendukung kapitalisme yang untuk pembebasannya dari segala berkembang dengan cara-cara yang sangat ketertindasan dan ketidakadilan. Dengan kejam, penuh dengan perampasan tanah membangun organisasi perempuan di petani, penggusuran pemukiman kaum semua teritori, diharapkan perempuan dari 92 | MUWÂZÂH, Volume. 4, Nomor. 1, Juli 2012 === [PDF page 7] === berbagai kalangan masyarakat dapat dikonstruksikan, dilembagakan dan memahami ataupun menyadari penyebab disosialisasikan lewat institusi-institusi ketertindasannya kemudian ikut serta yang terlibat sehari-hari dalam kehidupan memperjuangkan hak-haknya. Dalam seperti keluarga, sekolah, masyarakat, masyarakat selama ini perempuan agama, tempat kerja sampai kebijakan dipandang sebagai yang kedua ”The negara. Second Sex” dimana peran utama Secara keseluruhan kaum perempuan adalah dilingkungan rumah perempuan baik kalangan mahasiswa atau tangga (domestic sphere), sedangkan intelektual, buruh dan petani mengalami peran utama pria adalah diluar rumah dampak dari budaya patriarki yang (public sphere) sebagai pencari nafkah dilanggengkan melalui institusi yang utama. Ini merupakan bentukan budaya bernama keluarga. Rumah adalah tempat patriarki (Siti Musidah Mulia dan Anik dimana sosialisasi awal konstruksi Farida, 2005: 31). Ideologi patriarki patriarki itu terjadi. Dalam beberapa hal merupakan salah satu basis penindasan sebetulnya laki-laki juga dirugikan oleh perempuan karena menciptakan dan patriarki. Dalam berbagai sistem memperkuat pembatasan ruang gerak kebudayaan, seperti juga yang dialami perempuan antara privat dan publik. Privat perempuan, mereka didesak ke berbagai bermuara pada wilayah rumah tangga, macam stereotipe, dipaksa menjalankan yang dianggap sebagai daerah awal utama peranan tertentu, diharuskan bersikap kekuasaan laki-laki atas perempuan. menurut suatu cara tertentu, terlepas Sedangkan publik menempati wilayah- mereka suka atau tidak. Mereka juga wilayah seperti lapangan pekerjaan dan diwajibkan untuk menjalankan tugasnegara. Patriarki menurut Kamla Bhasin tugas sosial dan lainnya yang adalah ”Sistem yang selama ini meletakan mengharuskan mereka berfungsi dalam kaum perempuan terdominasi dan cara tertentu. Laki-laki yang sopan dan tersubordinasi (patriarki). Hubungan tidak agresif dilecehkan dan diledek antara perempuan dan laki-laki bersifat sebagai banci; laki-laki yang hierarkis, yakni laki-laki berada pada memperlakukan istrinya secara sederajat kedudukan dominan sedangkan dicap "takut istri". perempuan subordinat (laki-laki Frederick Engels, seorang pionir menentukan, perempuan ditentukan)” feminisme dalam ajaran Marxisme, (Nuraini Yuliastuti, 2000: 4). Patriarki melalui bukunya yang berjudul ”The Gerakan Organisasi Perempuan Indonesia dalam Bingkai Sejarah (Mursidah) | 93 === [PDF page 8] === Origin of Family, State and Private subsidi, tidak lain, adalah paket-paket Property” (Asal–Usul Keluarga: Negara untuk membuat agar pemodal asing bisa dan Kepemilikan Pribadi) menjelaskan mengeruk sebesar-besarnya kekayaan inti permasalahan dari melemahnya posisi yang ada di negara-negara miskin, bisa perempuan adalah, mereka disingkirkan dengan leluasa menanamkan modal dari akses ekonominya dan hanya mereka, sehingga bisa berkembang biak, difungsikan sebagai medium untuk bisa bertambah kaya. melanjutkan keturunan klan yang berarti Di Indonesia, tahun 2006 adalah penerus kekayaan (Frederick Engels, masa panen kesengsaraan bagi kaum 2004: 81). Perempuan disingkirkan dari perempuan. Secara ekonomi kaum kegiatan produksi dan diposisikan hanya perempuan Indonesia menjadi korban sebagai aset yang dimiliki, dan berfungsi terbesar dari kemiskinan dan kehancuran untuk melayani. Posisi kaum perempuan tenaga produktif akibat kebijakan Neolib. hanya untuk melangsungkan keturunan Dari 108 juta rakyat miskin yang hidup dan pekerjaan rumah tangga yang dibawah upah Rp. 19.000/hari, kaum dianggap tidak menghasilkan untuk perempuan menempati lebih dari perekonomian. setengahnya. PHK sepihak oleh berbagai Jika patriarki merupakan akar industri manufaktur yang bangkrut penindasan perempuan dalam hal budaya, mengorbankan angkatan kerja perempuan maka Neoliberalisme juga merupakan lebih banyak daripada laki-laki. Tingginya akar penindasan perempuan dalam hal angka pengangguran perempuan juga ekonomi dan politik (kebijakan). dimanfaatkan oleh bisnis prostitusi dan Neoliberalisme adalah cara baru untuk pornografi, termasuk peningkatan jumlah penguasaan secara langsung sumberdaya pelacur. Jumlah pelacur anak saya di negara terbelakang oleh penguasa- mencapai 30%, dan setiap tahun 100.000 penguasa modal di negara-negara maju. anak diperdagangkan (Dokumen Resmi Ini berarti membuat yang kaya semakin Komite Persiapan Partai Persatuan kaya, yang miskin semakin miskin (Materi Pembebasan Nasional (KP PAPERNAS), Pendidikan Liga Mahasiswa Nasional 2006: 7-8). Untuk Demokratik (LMND) 2007: 2). Selain itu juga pendidikan dan Paket-paket kebijakan yang dibawa oleh kesehatan yang merupakan landasan bagi Neoliberalisme seperti perdagangan kemajuan sumber daya manusia dan bebas, swastanisasi dan pemotongan kemajuan suatu bangsa, semakin tak 94 | MUWÂZÂH, Volume. 4, Nomor. 1, Juli 2012 === [PDF page 9] === menjangkau perempuan. Semakin sulit harus mampu mengembangkan peran bagi mayoritas kaum ibu untuk gerakan perempuan ke dalam gerakan mendapatkan pelayanan kesehatan sosial lainnya artinya gerakan perempuan berkualitas yang murah, karena rumah- yang giat dikalangan rakyat jelata” (Vivi rumah sakit besar yang berteknologi Widyawaty, 2006: 3). Karena itu tinggi mayoritas dimiliki asing dan tidak membangkitkan kembali gerakan bisa diakses oleh rumah tangga miskin. perempuan yang sudah mengalami pasang Perempuan juga merupakan lapisan surut melalui pembangunan organisasimasyarakat dengan tingkat melek huruf organisasi perempuan di semua sektor dan rata-rata sekolah yang paling rendah. adalah sebuah langkah kedepan untuk Pendidikan berkualitas hanya menjadi menghadapi persoalan-persoalan milik rumah tangga-rumah tangga kaya. ketertindasan rakyat dan juga perjuangan Sehingga masuk akal jika perempuan yang lebih luas pada penegakkan terjerumus ke dalam pekerjaan-pekerjaan demokrasi dan keadilan. Dita Indah Sari yang rentan eksploitasi, kekerasan, seorang aktivis buruh melontarkan pelecehan seksual, termasuk rela pandangan kritis terhadap gerakan dipoligami karena tergantung secara perempuan: Gerakan perempuan tidak ekonomi. Ini semua ditimbulkan oleh bisa eksklusif, melainkan harus inklusif Neoliberalisme yang diterapkan di bekerja sama dengan gerakan-gerakan Indonesia. Atas dasar inilah berbagai lain seperti gerakan buruh,,gerakan tani, alternatif solusi terus dikembangkan dan gerakan prodemokrasi, dan gerakandiwacanakan oleh aktivis perempuan yang gerakan masyarakat lain untuk bersamadari berbagai organisasi, termasuk dari sama memperjuangkan masyarakat yang kalangan akademisi untuk mempertajam lebih berkeadilan dan sejahtera. Juga persoalan-persoalan perempuan dan membangun organisasi di akar rumput membicarakan metode pengorganisiran dengan mengaitkan persoalan sehari-hari massa perempuan dengan satu prinsip, dengan sistem politik seperti kekerasan tidak memisahkan pengorganisiran dengan sistem pemerintahan yang perempuan dengan massa lainnya. militeristik, kenaikan harga kebutuhan Menurut Vivi Widyawaty, aktivis pokok dan banyaknya orang miskin perempuan dari Jaringan Nasional dengan ketidakmampuan mengelola Perempuan Mahardika menyatakan: ekonomi, serta tidak berjalannya sistem “organisasi-organisasi perempuan saat ini hukum (Kompas 2004: 3). Sedangkan Ayu Gerakan Organisasi Perempuan Indonesia dalam Bingkai Sejarah (Mursidah) | 95 === [PDF page 10] === Ratih mendefenisikan gerakan perempuan berdasarkan posisi mereka secara historis sebagai usaha untuk menerobos batasan dalam sistem produksi sosial, oleh yang memisahkan persoalan ketertindasan relasi/hubungan mereka dengan alat-alat perempuan dan ketertindasan manusia produksi, oleh peran mereka dalam secara keseluruhan. Ini berarti gerakan organisasi kerja secara sosial dan sebagai perempuan harus menyusun strategi konsekuensinya, adalah hilangnya tentang bagaimana memberi warna kemampuan untuk mendapatkan jatah perempuan pada setiap gerakan kekayaan sosial dan cara untuk pembebasan yang bertujuan untuk memperolehnya (V.I. Lenin, 1964menghapuskan segala 1970:421). Perjuangan seputar penindasan bentukMdiskriminasi dan ketidaksetaraan perempuan memerlukan keterlibatan dalam tata hubungan antar manusia yang perempuan dari latar belakang sosial beradab (Ayu Ratih, Tt: 6). berbeda. Feminisme Marxis sebagai Basis teori dari gerakan sebuah gerakan menggunakan analisis pembebasan perempuan sesungguhnya kelas dalam memahami penindasan adalah feminisme. Gerakan feminisme perempuan. Aliran ini memandang melihat terjadi penindasan terhadap kaum masalah penindasan perempuan perempuan. Penindasan bersifat tidak adil. bersumber dari kapitalisme. Dan pembebasan, mewujudkan Bell Hooks seorang filsuf Amerika pembatasan atas penindasan. Penindasan yang mewacanakan dan dan pembebasan tidak hanya mengkampanyekan feminisme, memperkenalkan terminologi politik baru, mengemukakan mengenai feminisme. namun sebuah perspektif baru dalam Feminisme menurutnya adalah gerakan dunia politik, pandangan ini dipengaruhi untuk mengakhiri seksisme, eksploitasi oleh ide Marxis dari perlawanan kelas (J. dan penindasan. Feminisme, sebagai roh Indra Wisudha, 2014: 2). Menurut Marxis, gerakan perempuan, dapat diberi semua perempuan tertindas sebagai pengertian sebagai “Suatu kesadaran akan perempuan, tetapi dampak penindasan itu penindasan dan pemerasan terhadap berbeda bagi perempuan pada kelas yang perempuan dalam masyarakat, di tempat berbeda. Kelas sosial dalam konsepsi kerja, dan dalam keluarga, serta tindakan Marxisme yaitu sebagai segolongan besar sadar oleh perempuan maupun lelaki masyarakat yang dibedakan dengan untuk mengubah keadaan tersebut”. segolongan masyarakat lainnya Menurut definisi ini, seseorang yang 96 | MUWÂZÂH, Volume. 4, Nomor. 1, Juli 2012 === [PDF page 11] === mengenali adanya sexisme (diskriminasi ini, Wieringa telah memberikan atas dasar jenis kelamin), dominasi lelaki, sumbangan yang besar untuk keperluan serta sistem patriarki dan melakukan membangun gerakan perempuan di sesuatu tindakan untuk menentangnya, Indonesia, juga terhadap khazanah adalah seorang feminis (Nur Amin penelitian sejarah perempuan yang selama Samhuri, 2012: 10). Karena itu cukup ini terabaikan. Bagi gerakan perempuan, menarik untuk meneliti organisasi ia menyajikan rujukan mengenai perempuan sebagai sebuah gerakan bagi perjuangan kaum perempuan yang telah perjuangan pembebasan perempuan. menentukan jalannya sejarah gerakan- Saskia Eleonora Wieringa salah seorang gerakan pembebasan pasca kemerdekaan. yang pernah meneliti “Gerakan Organisasi Gerwani yang oleh rezim Orde Perempuan dan Organisasi Kaum Baru dikatakan pelacur bejat moral Perempuan dalam Perspektif Sejarah, ternyata adalah organisasi massa (Saskia E. Wieringa, 1982-1985: 25-28) perempuan yang suaranya sangat keras melalui penelitiannya tentang Wieringa dalam membela hak-hak perempuan dan mencoba menguak fakta sejarah Gerwani anak-anak sesuai dengan keadaan (Gerakan Wanita Indonesia) yang selama zamannya. Musuh ideologi Gerwani ini disusun oleh Orde Baru apakah “fiksi” adalah berbagai pandangan yang menjadi atau “kebenaran”. Untuk menjawabnya, penyebab berlangsungnya diskriminasi Wieringa menggunakan gender sebagai terhadap perempuan, yang bersumber konsep analitis. Konsep ini digunakan pada feodalisme, imperialisme dan untuk mengeksplorasi bagaimana fungsi kolonialisme. Gerwani sebagai organisasi gender dalam hubungan-hubungannya massa perempuan bukan hanya aktif dengan umat manusia dan bagaimana memperjuangkan kepentingan kaum gender dimanipulasi didalam hubungan perempuan tetapi juga giat dalam usaha ekonomi, politik, dan social (Saskia E. pemberantasan buta huruf dan banyak Wieringa, 1982-1985: 29). bekerjasama dengan organisasi massa Dalam perspektif penelitian lainnya seperti SOBSI dalam Wieringa, Gerwani ditempatkan sebagai memperjuangkan nasib buruh perempuan “korban” peristiwa politik Oktober 1965 (Saskia E. Wieringa, 1982-1985: 55). dan hal ini tidak akan terungkap tanpa Penelitian Wieringa terhadap menggunakan metode penelitian yang Gerwani sebagai gerakan perempuan berperspektif feminis. Melalui penelitian dipupuk oleh meningkatnya penelitian Gerakan Organisasi Perempuan Indonesia dalam Bingkai Sejarah (Mursidah) | 97 === [PDF page 12] === terhadap perempuan yang terjadi sejak ini, seperti upah buruh tani perempuan awal 1980-an. Gerwani turut membangun yang lebih rendah dibanding buruh tani sejarah perempuan di Indonesia. Ini laki-laki. Selain itu, di daerah pedesaan berarti Gerwani telah membangkitkan dengan taraf ekonomi rendah, petani kembali Gerakan Perempuan di Indonesia perempuan mendapat perlakuan semenadan juga telah memberikan sumbangan mena. Secara individu mereka tidak besar terhadap cita-cita organisasi- memiliki hak-hak sosial dan hukum dan organisasi perempuan masa kini untuk kadang tidak diperlakukan secara membangun masyarakat Indonesia baru manusiawi. Secara total hidup mereka yang nasional demokratis dan menjunjung berada dibawah dominasi laki-laki dalam tinggi Hak Asasi Manusia dan keluarganya (Soliper Kinasih, 2012: 1-2). berkeadilan. Penelitian yang dilakukan Petani perempuan mempunyai peran yang oleh Wieringa ini kemudian dapat menentukan dalam ekonomi. Bukan hanya menambah catatan baru bahwa sama karena jam kerja yang panjang baik di seperti organisasi sosial dan organisasi rumah maupun di ladang, tapi karena kemasyarakatan lainnya, keberadaan perempuan menghasilkan anak dan ikut organisasi perempuan adalah sebagai agen memikul beban ekonomi. dalam melakukan perubahan-perubahan Bronstain (1982) menjelaskan sosial di Indonesia. Sebuah perubahan bagaimana perempuan dari keluarga yang menciptakan tatanan masyarakat miskin di pedesaan acapkali harus demokratis yang adil dan damai bagi menderita karena perjuangan rangkap tiga semua lapisan masyarakat terutama bagi yang menindihnya, yakni bahwa kaum perempuan. Karena itu membangun perempuan itu sebagai warga negara yang organisasi perempuan yang program terbelakang, perempuan sebagai petani perjuangannya tidak terpisah dari yang tinggal didaerah yang sangat miskin perjuangan gerakan sosial masyarakat dan perempuan yang hidupnya ditengahlainnya adalah jalan keluarnya. tengah masyarakat laki-laki. Perempuan dari semua lapisan Padakenyataannya, perempuan sering masyarakat jelas mengalami ditinggalkan dalam upaya pengembangan ketertindasan, baik oleh budaya patriarki ekonomi dan ilmu pengetahuan karena dan Neoliberalisme. Seperti halnya dalam perempuan dianggap bertempat dirumah dunia pertanian. Perempuan menghadapi dan perannya sebagai pengasuh dan diskriminasi yang luar biasa dalam area pemelihara rumah tangga (V. Aida, 1995: 98 | MUWÂZÂH, Volume. 4, Nomor. 1, Juli 2012 === [PDF page 13] === 18). Kekerasan, subordinasi dan berbagai Perempuan di Indonesia. Teori feminisme bentuk ketidakadilan yang dialami kaum beranjak dari asumsi bahwa gender perempuan di pedesaan seperti petani merupakan konstruksi yang meskipun perempuan adalah persoalan yang bermanfaat, tetapi didominasi oleh bias bersumber dari sisa-sisa bentukan budaya laki-laki dan cenderung opresif terhadap feodalisme yang kemudian tertanam kuat perempuan. Teori feminis berupaya (terkonstruksi) dalam sistem sosial menentang asumsi-asumsi gender yang masyarakat Indonesia sampai saat ini. hidup dalam masyarakat dan mencapai Disadari atau tidak ini adalah bentuk cara yang lebih membebaskan kaum penindasan terhadap perempuan yang perempuan (Mansour Fakih, 2003: 86). secara perlahan tapi pasti merendahkan Dalam menganalisis persoalan posisi perempuan ditengah-tengah ketidakadilan yang dialami oleh masyarakat (Rustam Ependi, dkk, 2002: perempuan, hendaknya tidak melihat 21-22). Untuk merubah penindasan dan bahwa laki-laki sebagai musuh penghisapan yang dialami kaum perempuan, melainkan patriarki sebagai perempuan baik secara ekonomi, sosial, salah satu bentuk penindasan perempuan budaya mau pun politik diperlukan yang dilanggengkan oleh sistem kesadaran perempuan untuk melakukan kapitalisme yang sesungguhnya perjuangan beserta seluruh rakyat demi merupakan akar permasalahannya. Ini tegaknya kesetaraan, keadilan dan berangkat dari analisis feminis Marxis dan demokrasi. Suatu keharusan untuk feminis sosialis yang melihat bahwa membangun pondasi kekuatan dengan kepemilikan alat-alat produksi yang hanya persatuan kaum perempuan yang berada dikuasai oleh segelintir orang (minoritas) di organisasi tani maupun buruh atau telah menimbulkan kelas (Mansour organisasi-organisasi lainnya untuk Fakih, 2003: 88-89). Sehingga perempuan bersama-sama dan bersatu padu yang juga dan laki-laki sebagai kelas pekerja harus didukung oleh kaum laki-laki. sesungguhnya mengalami penindasan Keberadaan gerakan perempuan secara bersamaan untuk keuntungan harus mampu berperan strategis dalam minoritas (pemodal). Dan demi menguatkan gerakan petani di Indonesia. terbebasnya masyarakat dari penindasan Seperti halnya Saskia E. Wieringa yang ini, sistem kapitalis harus diganti dengan menggunakan perspektif feminis dalam sistem masyarakat sosialis. menemukan fakta sejarah Gerakan Gerakan Organisasi Perempuan Indonesia dalam Bingkai Sejarah (Mursidah) | 99 === [PDF page 14] === Gerakan feminisme ini telah (Magelang, 1915), Percintaan Ibu Kepada mempopulerkan analisis gender dalam Anak Temurun-PIKAT (Manado, 1917), mengamati berbagai fenomena sosial. Purborini (Tegal, 1917), Aisyiyah Upaya membebaskan kaum perempuan (Yogyakarta, 1917), Wanito Susilo dari ketidakadilan merupakan perjuangan (Pemalang, 1918), Wanito Hadi (Jepara, untuk menciptakan tatanan masyarakat 1919), Poteri Budi Sejati (Surabaya, yang lebih demokratis dan egaliter. 1919), Wanito Utomo dan Wanito Sebab, hak-hak politik, sosial, dan Mulyo (Yogyakarta, 1920), Serikat ekonomi perempuan adalah bagian yang Kaum Ibu Sumatra (Bukit Tinggi, tidak dapat dipisahkan dari seluruh 1920), Wanito Katolik (Yogyakarta, kerangka hak asasi manusia. Dengan 1924), Isteri Sedar (Bandung, 1930). demikian gerakan perempuan dapat Namun, secara keseluruhan organisasiberperan strategis untuk menguatkan organisasi ini masih bersifat kedaerahan. gerakan- gerakan perlawanan (gerakan Organisasi-organisasi perempuan itu sosial) masyarakat, sebagai agen untuk bergelut mencari upaya untuk memperjuangkan hak-hak demokratis, memperbaiki keadaan kaum perempuan keadilan dan pembebasan rakyat. dan mengubah tatanan yang menyebabkan Demikian pula halnya dalam gerakan tani, kaum perempuan tertindas. Pasca gerakan perempuan adalah sebagai salah kemerdekaan, berbagai organisasi satu elemen penggerak perjuangan rakyat perempuan tumbuh, selain juga ada yang (petani dan buruh tani) dalam merupakan kelanjutan dari organisasi memperjuangkan hak-hak mereka. perempuan di masa kolonial dan menjadi berkembang sesudahnya. Kartini mempunyai cita-cita untuk mempopulerkan analisis gender dalam membebaskan perempuan dari mengamati berbagai fenomena sosial. keterbelakangan dan kemiskinan. Upaya membebaskan kaum perempuan Pemikiran Kartini ini banyak mengilhami dari ketidakadilan merupakan perjuangan gerakan perjuangan perempuan untuk menciptakan tatanan masyarakat sesudahnya. Tercatat beberapa organisasi yang lebih demokratis dan egaliter. perempuan yang hadir pada masa sebelum Sebab, hak-hak politik, sosial, dan kemerdekaan Indonesia, antara lain Putri ekonomi perempuan adalah bagian yang Mardika (1912), Pawiyatan Wanito tidak dapat dipisahkan dari seluruh 100 | MUWÂZÂH, Volume. 4, Nomor. 1, Juli 2012 === [PDF page 15] === kerangka hak asasi manusia, sehingga Bangsa Versus Kepentingan gerakan perempuan dapat berperan Perempuan, Jakarta strategis untuk menguatkan gerakan- Dokumen Resmi Komite Persiapan Partai gerakan perlawanan (gerakan sosial) Persatuan Pembebasan Nasional masyarakat, sebagai agen untuk (KP PAPERNAS),, 2006, memperjuangkan hak-hak demokratis, Catatan Akhir Tahun 2006: keadilan dan pembebasan rakyat. Dalam “Demokrasi Politik untuk menganalisis persoalan ketidakadilan Memperkokoh Jalannya yang dialami oleh perempuan, hendaknya Penghisapan (Modal) Asing”, tidak melihat bahwa laki-laki sebagai Jakarta musuh perempuan, melainkan akar Engels, Frederick, 2004, The Origin of permasalahannya.adalah patriarki sebagai Family, State and Private salah satu bentuk penindasan perempuan Property: Asal-usul Keluarga, yang dilanggengkan oleh sistem Kepemilikan Pribadi, dan Negara, Ependi, Rustam dkk, 2002, Gender dan DAFTAR PUSTAKA Komunitas Perempuan Pedesaan: Kondisi Nyata Yang Terjadi di Aida, V., 1995, Dilema Ekonomi Wanita Lapangan, Medan: BITRA Pedesaan dalam Dinamika Wanita Indonesia Indonesia, Jakarta: Penerbit PPSW Fakih, Mansour, 2003, Analisis Anita, Syahfitri, 2006, Gerakan Gender dan Transformasi Sosial, Perempuan: Tinjauan Sejarah Jakarta: Pustaka Pelajar, (Sebagai Pengantar Diskusi Lenin, V.I., Collected Works, jilid 29, Lingkar Studi Perempuan), Moscow: Progress Publisher 1964-1970. Jakarta, Jumat 7 April 2006. Materi Pendidikan Liga Mahasiswa Arbaningsih, Dri, 2005, Kartini dari Sisi Nasional Untuk Demokratik Lain: Melacak Pemikiran Kartini (LMND), 2007, tentang Emansipasi Bangsa, Alam,Neoliberalisme dan Jakarta: PT. Kompas Media Pembangunan Berkelanjutan: Arivia, Gadis, 2000, Sukarno dan Jakarta. Gerakan Perempuan: Kepentingan Gerakan Organisasi Perempuan Indonesia dalam Bingkai Sejarah (Mursidah) | 101 === [PDF page 16] === Mulia, Siti Musidah dan Anik Farida, POKJA (Kelompok Kerja) 2005, Perempuan dan Politik, Perempuan Mahardika, Jakarta, Jakarta: PT. Gramedia Pustaka Senin, 14 Agustus 2006. Priyono, A. E., 2003, Stanley Adi Perempuan dan Organisasi Kaum Prasetyo, Olle Tornqist, Gerakan Perempuan Indonesia”, Disertasi Pro Demokrasi di Indonesia Pasca dalam rangka proyek penelitian Suharto, Jakarta: DEMOS “The Politization of Gender Ratih, Ayu, tt, Perempuan: Mata Rantai Relations in Indonesia- Gerakan Yang Hilang Dalam Pemberadaban dan Organisasi Perempuan Samhuri, Nur Amin, “Feminisme Sosialis: Sejarah, diterjemahkan oleh Hesri Apa, Bagaimana, dan Mengapa Setiawan dan kemudian diterbitkan Kita Harus Menolak Feminisme oleh Garba Budaya dan Borjuis?”, (Materi Pendidikan Kalyanamitra), Jakarta, Desember Politik Perempuan yang 1982-1985. dibawakan dalam DIKPOL _______, Saskia E., Kuntilanak Wangi: Perempuan Mahardika), Medan, 5 Organisasi-Organisasi Perempuan Januari 2007. Indonesia Sesudah 1950, Jakarta: Sasongko, Ernawaty, 2001, Feminisme Kalyanamitra, 1998. dan Sosialisme (diterjemahkan _______, Saskia E., Penghancuran dari tulisan Lisa Mcdonald Gerakan Perempuan di Indonesia, ”Feminism and socialism: Putting Jakarta: Garba Budaya, 1999. The Pieces Together”), Adelaide: Resistance Book Sucipto, Ani Widyawani, 2005, Politik Internet: Perempuan Bukan Gerhana, Jakarta: KOMPAS, http://kunci.or.id/esai/nws/08/macho.htm./ Suryocondro, Sukanti, 1984, Potret 2012/04/15,Nuraini Yuliastuti, Pergerakan Wanita di Indonesia, Kebudayaan yang Maskulin, Macho, Jakarta: C.V. Rajawali, Jantan, dan Gagah, Newsletter KUNCI, 8 Widyawaty, Vivi, 2006, Laporan September 2000. Konferensi Nasional Perempuan II 102 | MUWÂZÂH, Volume. 4, Nomor. 1, Juli 2012 === [PDF page 17] === http://situs.kesrepro.info/gendervaw/2012/ http://kinasih.org/portal/2012/04/12/,Solip 04/12/,Pelangi Gerakan Perempuan er Kinasih, Memahami Akar Indonesia, KOMPAS, Senin, 19 Januari Permasalahan Kaum Perempuan. 2004. http://rumahkiri.net/2012/04/15/Nur Amin http://pembebasan.wordpress.com/2014/0 Samhuri: Feminisme Sosialis 4/12/, J. Indra Wisudha, Feminisme- http://kinasih.org/portal/2012/04/12/ Marxis. Soliper Kinasih: Memahami Akar http://rumahkiri.net/2012/04/15/, Nur Permasalahan Kaum Perempuan, Amin Samhuri, Feminisme Sosialis. hal. 1-2. Gerakan Organisasi Perempuan Indonesia dalam Bingkai Sejarah (Mursidah) | 103