Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02886

Kongres Wanita Indonesia ke-XII dan Pengaruhnya terhadap Gerakan Wanita (Winna Wijayanti, 2017)

Cleaned OCR text (Good (0.932); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

=== [PDF page 1] === KONGRES WANITA INDONESIA KE-XII DAN PENGARUHNYA TERHADAP GERAKAN WANITA DI INDONESIA TAHUN 1961-1964 Winna Wijayanti (12407141009) wijayawinna@ gmail.com Abstrak The Indonesian Women’s Congress showed that in the XII Kowani congress generate significantly favor of the government in a period of Demokrasi Terpimpin. The strong influence arises from a mandate given by President Sukarno in the opening of the congress. One of the messages that drive the change that the women's movement required to support any government policy. So, there was a Kowani efforts to form functional organizations while maintaining femininity. The organization carrying out its functions limited to the work program, and are increasingly turning to the realm of praxis. While on the other hand, problems which are fighting for the rights of women, such as polygamy, eradicating illiteracy of women in remote regions, assisting women workers, increasingly sidelined as the government's political plan. All these issues can not be separated from the political system prevailing in Indonesia, so the pattern of women's movement got a big influence also on the upheaval that took place when it did. The debate was not spared in Kowani, between Perwari and Gerwani. The impact is felt in the Indonesian Women’s Congress, their destination was split with each other to gather strength in each group. Keywords: Indonesian Women's Congress, Congress, Women's Movement. 555 === [PDF page 2] === Abstrak Dalam Kongres Wanita Indonesia ditunjukkan bahwa pada kongres Kowani ke-XII secara signifikan menghasilkan keberpihakan terhadap pemerintah dalam masa Demokrasi Terpimpin. Pengaruh kuat muncul dari amanat yang disampaikan oleh Presiden Sukarno dalam pembukaan kongres. Salah satu amanat yang mendorong adanya perubahan yakni gerakan wanita diwajibkan mendukung setiap kebijakan pemerintah. Maka timbullah upaya Kowani membentuk organisasi- organisasi fungsional dengan tetap menjaga sifat kewanitaan. Organisasi tersebut menjalankan fungsinya sebatas program kerja, dan semakin beralih ke ranah praksis. Sementara di sisi lain, persoalan yang bersifat memperjuangkan hak wanita, seperti poligami, upaya memberantas buta huruf kaum wanita di wilayah pelosok, pendampingan kaum buruh wanita, makin dikesampingkan karena rencana politik pemerintah. Semua persoalan tersebut tidak lepas dari sistem politik yang berlaku di Indonesia, sehingga pola gerakan wanita mendapat pengaruh besar juga dari pergolakan yang berlangsung ketika itu. Perdebatan pun tidak luput dalam Kowani, yakni antara Perwari dan Gerwani. Dampaknya terasa dalam kongres, yang mana arah tujuan mereka terpecah dengan saling mengumpulkan kekuatan di masing- masing golongan. Kata Kunci: Kongres Wanita Indonesia, Kongres ke-XII, Gerakan Wanita. 556 === [PDF page 3] === A. PENDAHULUAN Nilai-nilai patriarki yang masih berlaku dalam masyarakat Indonesia Pendidikan diperjuangkan guna sebenarnya menggambarkan mengangkat martabat wanita, serta kedudukan wanita dalam berbagai hal berguna terhadap pembangunan yang selalu berada di bawah pria. Kondisi tidak hanya dalam peranan sebagai ibu tersebut membawa kesan rumah tangga (domestic), melainkan penomorduaan atas peran wanita. juga besar pengaruhnya terhadap Dalam kurun waktu yang panjang kemajuan wanita dalam ranah umum wanita diikat pandangan umum yang (public). Pengertian lain menyebutkan berpangkal pada peran biologisnya. bahwa tidak bisa gerak wanita sebatas Dengan kodrat biologis hamil, dinilai melawan penjajah Belanda, melahirkan, dan menyusui. Dalam akan tetapi lebih kepada posisi yang dianggap terbatas itu, pengembangan perannya. Peran yang seakan-akan wanita telah dinilai meliputi bidang agama, filsafat, termarginalkan oleh pria dengan hukum, kesusastraan dan kesenian, perantaraan adat-istiadat dan budaya ilmu pengetahuan, kesehatan, media patriarki yang melekat di masyarakat.2 massa, ekonomi dan kesejahteraan Dari nilai patriarki yang sosial.1 muncul, mulai hadir kesadaran untuk William H, Frederick dan Suri Suroto, Pemahaman Sejarah 2 Jumarwan, Laskar Putri Indonesia Sebelum dan Sesudah Indonesia, (Yogyakarta: Lembah Revolusi, (Jakarta: Pustaka LP3ES, Mana, 2010), hlm. 3. 2005), hlm. 259. 557 === [PDF page 4] === melepas belenggu dari keterikatan Menurut Kartini, jika wanita itu tersebut, di mana wanita mulai muncul berpendidikan maka mereka akan membawa gagasan-gagasan, seperti mampu mendidik anaknya, dan juga misalnya di abad ke-19 ada Raden mampu mengurus rumah tangga.5 Ajeng Kartini3 yang cukup Demikian itu akan menciptakan berpengaruh. Meskipun tidak kemajuan bangsa yang berkelanjutan mengadakan pergerakan wanita secara dimulai dari lingkup terkecil. Begitu langsung, akan tetapi surat-suratnya pula dengan pergerakan wanita6 di dengan MR. Abendanon dalam Door Indonesia yang tidak terbentuk secara Duisternis tot Lich mendapat perhatian mendadak, melainkan karena adanya umum.4 dorongan oleh kejadian-kejadian sebelumnya. Mula-mula pergerakan Raden Ajeng Kartini lahir di Kemerdekaan Jilid 1, (Yogyakarta: Jepara, 21 April 1879 dari pasangan LkiS, 2008), hlm. 307. Raden Sosroningrat dan Raden Ajeng Ngasirah. Pada usia 12 tahun, Kartini R.A Kartini, Door Duisternis lulus dari ELS dan ingin melanjutkan toot Licht, terj. Armijn Pane, Habis ke pendidikan yang lebih tinggi, Gelap Terbitlah Terang, (Jakarta: namun dalam usia itu ia harus Balai Pustaka, 2008), hlm. 20. menjalani tradisi pingitan. Tahun 1903, Kartini menikah dengan Bupati Sukarno menyebut Rembang, Adipati Joyodiningrat. “Pergerakan Wanita” dengan “Ladies Kartini menjalani poligami yang Movement” yang dalam pidatonya berlangsung dalam satu rumah tangga. pada Kongres Wanita Indonesia ke-XII Lebih lanjut lihat Riwayat Singkat R.A. ia menyatakan sifat “Ndoro Den Ayu” Kartini, (Jepara: Dinas Pariwisata masih melekat dalam “Pergerakan Kabupaten Dati II Jepara, Tanpa Wanita”. Ia menyarankan untuk Tahun Terbit), hlm. 3-18. berubah dan menyesuaikan diri secara revolusioner. Lihat Majalah Wanita, Slamet Muljana, Kesadaran “Dari Kongres Wanita Indonesia”, no. Nasional dari Kolonialisme sampai 3, Th. XIV, 15 Februari 1961. 558 === [PDF page 5] === wanita bertujuan untuk memperbaiki Tahun 1920-an terlihat posisi wanita dalam kehidupan kebangkitan nasionalisme berhasil bermasyarakat dengan memilih menghimpun kekuatan di tengah meningkatkan pendidikan sebagai masyarakat Indonesia. Di kalangan strategi dasar.7 Pergerakan itu juga wanita keinginan untuk memiliki nilai-nilai yang menjadi menyelenggarakan dan memajukan landasan pacu menjalankan organisasi persatuan di antara organisasiyang meliputi persatuan, emansipasi organisasi wanita mulai berkembang di wanita berdasarkan perikemanusiaan, tahun itu.9 Hingga masuk dalam dan kebangsaan. Pertumbuhan periode 1960-an, yakni sejak politik organisasi dalam kenyataannya pemerintah berlandaskan gagasan beraneka warna karena menyesuaikan Demokrasi Terpimpin menimbulkan dengan kebutuhan zaman serta juga keadaan politik yang saling dipengaruhi orang-orang kreatif yang bertentangan. mampu memberi pembaharuan.8 Terdapatnya dua aliran politik yang besar pengaruhnya, yaitu golongan komunis dan bukan komunis Saparinah Sadli, Berbeda Tetapi Setara: Pemikiran Tentang berdampak pula terhadap pergerakan Kajian Perempuan, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010), hlm. 106-107. wanita. Persoalan yang muncul Sukanti Suryochondro, Potret 9 Susan Blackburn, Kongres Pergerakan Wanita di Indonesia, Perempuan Indonesia Tinjauan Ulang, (Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 1984), hlm. 127-128. 2007), hlm. xxii. 559 === [PDF page 6] === mengartikan bahwa pergerakan wanita Perempuan Indonesia (KPI) akan tetapi di Indonesia makin tidak menonjol karena ada perubahan istilah yang dalam urusan memperjuangkan menyesuaikan dengan perkembangan tuntutan feminis10 disebabkan karena kebahasaan berubah menjadi Kowani. lebih fokus membantu pemerintah Selama tahun 1960- an memang terjadi dalam pembangunan nasional sesuai bermacam-macam perubahan dalam dengan nilai-nilai kebangsaan.11 kehidupan kepartaian sehingga Kongres Wanita Indonesia mempengaruhi arah pergerakan wanita. (selanjutnya disingkat Kowani) Munculnya keanggotaan yang merupakan kongres yang telah berhaluan kiri dengan mengadakan aksi berlangsung dari sejak tahun 1928. dengan nama Gerakan Massa telah Pada mulanya bernama Kongres menuduh kinerja Kowani yang lamban. Namun telah berhasil ditangkis oleh 10 Tahun 1933, kamus Oxford memasukkan kata feminisme dengan Kowani sendiri sebab lama-kelamaan arti “Pandangan dan prinsip-prinsip untuk memperluas pengakuan hak-hak Gerakan Massa tidak terdengar perempuan”. Namun pengertian itu belum cukup, terkandung dua arti yang gaungnya. sangat penting yakni kesadaran dan perjuangan, sehingga dalam prosesnya A. GERAKAN WANITA DI menjadi sebuah ideologi atau gerakan (movement). Lebih lengkapnya lihat A. INDONESIA TAHUN 1945-1960 Nunuk P. Murniati, Getar Gender Buku Pertama, (Yogyakarta: Yayasan Iklim semangat atas IKAPI dan Yayasan Indonesia Tera, 2004), hlm. xxvi-xxvii. kemerdekaan memberi pengaruh 11 Sukanti Suryochondro, terhadap wanita khususnya yang op.cit., hlm. 171. berkaitan dengan dunia politik 560 === [PDF page 7] === pergerakan maupun keluarga. ketika muncul situasi tertentu yang Perjuangan wanita pada masa ini merugikan wanita.13 memiliki kesempatan mengembangkan Namun demikian, perlu adanya jiwanya dan lebih meningkatkan pemahaman mengenai pembagian peranannya dalam keluarga dan kerja secara seksual yang pada waktu masyarakat.12 Setelah kemerdekaan, itu memang marak diperjuangkan. Kita perjuangan wanita memang mengenal yang pertama, mereka yang direpresentasikan dengan adanya mengatakan bahwa pembagian kerja organisasi-organisasi wanita baik yang seksual berlaku universal, tetapi tidak muncul setelah kemerdekaan maupun selalu berarti dominasi laki-laki. setelah kemerdekaan. Ada organisasi Sebelum kapitalisme masuk (melalui yang bergerak di bidang politik, dan proses kolonialisme dan proses ada pula yang bergerak di luar politik pembangunan zaman sekarang), seperti bidang ekonomi dan pembagian kerja seksual bersifat kemanusiaan. Keberadaan organisasi komplementer dan perempuan wanita pada masa itu memberi memegang akses ke sarana produksi pembelaan yang tegas terhadap wanita, dan posisi-posisi kunci di dalam kehidupan politik. 12 Marwati Suwindi, Sejarah 13 Perjuangan Wanita dalam Muhajir Darwin, “Gerakan Pembangunan di Indonesia dan Dunia, Perempuan di Indonesia dari Masa ke (Jakarta: Kantor Menteri Negara Masa”, dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Urusan Wanita, 1997), hlm. 13. Ilmu Politik (Vol. 7, No. 3, 2004), hlm. 287. 561 === [PDF page 8] === Akan tetapi, seiring dengan Ketiga, ada pula yang mengatakan masuknya kapitalisme, posisi bahwa posisi perempuan selalu perempuan semakin digeser oleh laki- tersubordinasi baik pada zaman feodal, laki. Pandangan ini terutama zaman kolonial, maupun zaman dicanangkan oleh Eleanor Leacock, pascakolonial, tetapi bentuk seorang ahli antropologi yang subordinasinya berbeda-beda sesuai berperspektif historis-materialis, dengan sistem yang ada saat itu. walaupun tak semua ahli dari Keempat, ada yang mengatakan bahwa perspektif ini mempunyai pandangan subordinasi ada saat perempuan yang sama dengannya.14 terkungkung dalam lingkup domestik Perspektif pembagian kerja dalam sistem feodal yang patriarkal.15 yang kedua menurut Ester Boserup, Pada umumnya pendekaryang mengatakan bahwa posisi pendekar perjuangan wanita di perempuan secara tradisional tidak Indonesia menunjuk pada adat sebagai tersubordinasi, tetapi dengan pengekang kemajuan wanita. Adat kolonialisme menjadi termarginalisasi. ditanggapi sebagai kekuatan yang Proses pembangunan bisa menempatkan wanita dalam kedudukan memperbaiki posisi mereka kembali. yang kurang terhormat dan tidak banyak memberikan peluang untuk 14 Ratna Saptari dan Brigitte Holener, Perempuan, Kerja, dan memungkinkan pengembangan Perubahan Sosial Sebuah Pengantar Studi Perempuan, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti dan Yayasan 15 Ibid. Kalyanamitra, 1997), hlm. 91. 562 === [PDF page 9] === daya dan kemampuan wanita. Adat Perkumpulan Perempuan digambarkan sebagai sumber segala Indonesia, Isteri Sedar, Fujinkai, dan ketidakadilan, pengekangan kebebasan Kongres Wanita Indonesia, seolahdan kejahatan, terutama berkenaan olah hanya dalam bidang-bidang dengan wanita.16 Dalam konteks kegiatan inilah wanita dapat penilaian terhadap kaum wanita yang mengembangkan peranannya.17 memiliki peran ganda di masyarakat, Persoalan di atas sebenarnya yakni publik dan domestik. makin dikuatkan dengan yang Hal yang perlu disayangkan, disampaikan oleh Sujatin Kartowijono. dalam perjuangan wanita cenderung Ia memaparkan bahwa wanita yang diberi arti yang terbatas. Pada berjuang dalam ranah politik umumnya hanya diartikan sebagai: jumlahnya tidak sedikit. Beberapa di pertama, perjuangan melawan antaranya keluar masuk penjara, penjajah. Kedua, perjuangan bahkan ada yang sampai melewati mengembangkan ranah pendidikan masa pembuangan ke Boven Digul seperti yang dilakukan Kartini, Nyai oleh Belanda. Nama-nama tersebut Ahmad Dahlan, Dewi Sartika, antara lain Rasuna Said, Sri Kardinah, dan Rahmah El Yunusiyah. Panggihan, Ny. Ali Archam dan Ketiga, perjuangan politik yang Trimurti. dilakukan seperti Perserikatan 17 William H. Frederick dan 16 William H. Frederick dan Suri Suroto, op.cit., hlm. 260. Suri Suroto, op.cit., hlm. 254. 563 === [PDF page 10] === Dalam kondisi masa Undang-Undang Dasar Republik pendudukan Jepang, seperti Indonesia yang barulahir itu (1945), pembentukan Fujinkai mengharuskan kaum wanita dijamin hak-hak hukum istri-istri pembesar Indonesia ikut serta dan politiknya sama seperti kaum lakidalam usaha-usaha yang ditetapkan laki. Kaum wanitapun kemudian turut oleh Tentara Jepang. Langkah yang berhimpun menyokong cita-cita ditempuh oleh mereka misalnya perjuangan nasional.19 menanam kapas dan lain-lain. Mereka B. PERKEMBANGAN KONGRES WANITA INDONESIA turun ke lapangan bawah dan (KOWANI) TAHUN 1945-1960 mendekati rakyat wanita. Penderitaan Kelangsungan Kowani hanya bangsa Indonesia, termasuk kaum terputus oleh zaman pendudukan wanita sangat dirasakan sekali.18 Jepang selama tiga setengah tahun Sesudah Belanda kalah pada yakni memang dilarang oleh penguasa tahun 1949, seperti dalam kebanyakan untuk mengadakan kegiatan dalam perjuangan kemerdekaan nasional, para bentuk perkumpulan yang tidak laki-laki pemimpin nasional giat berhubungan dengan usaha mencari dukungan dari kalangan membentuk Asia Timur Raya. Akan wanita. Lalu timbullah perhatian pada tetapi segera setelah Proklamasi masalah-masalah wanita yang belum Kemerdekaan diselenggarakan 19 pernah terjadi sebelumnya. Di dalam Saskia Wieringa, Kuntilanak Wangi: Organisasi-Organisasi Perempuan Indonesia Sesudah 1950, 18 (Jakarta: Kalyanamitra, 1998), hlm. Sujatin Kartowijono, op.cit., 564 === [PDF page 11] === kongres, yaitu tanggal 15-17 Desember emansipasi berdasarkan kemanusiaan, 1945. dan terakhir kebangsaan.20 Sebab-sebab mengapa federasi Kembali ke nilai yang telah organisasi-organisasi wanita itu disepakati dalam Kowani, masingbertahan selama ini dapat dicari dalam masing nilai tersebut memiliki nilai-nilai yang menjadi dasar dari pemaknaan sejalan dengan proses yang segala sikap dan perbuatannya. Nilai- sudah dilalui oleh organisasi. Dapat nilai ini adakalanya secara eksplisitt dikatakan bahwa dalam nilai persatuan dirumuskan dalam pasal dari Anggaran nampaknya ada tarikan antara Dasarnya dan seringkali hanya kecenderungan untuk mempertahankan terkandung dalam tujuan yang kebebasan dalam masyarakat dinyatakan. Nilai-nilai ini mendasari Indonesia yang demokratis. Ada juga keberadaan organisasi, sehingga ada kemungkinan bahwa timbulnya hubungan yang erat antara nilai, asas, perkumpulan-perkumpulan baru dan tujuan, serta kegiatan. Sebelum sedangkan sesungguhnya telah kemerdekaan, asas KPI tahun 1938, disediakan perkumpulan yang antara lain: kebangsaan; kesosialan, mempunyai asas dan tujuan karena yakni gagasan untuk memperbaiki kurangnya komunikasi. Kendatipun masyarakat; sikap untuk saling persatuan itu merupakan nilai yang menghargai; dan keperempuanan atau kuat, masyarakat Indonesia masih emansipasi. Akan tetapi yang paling 20 Ibid., hlm. 97. menonjol ada tiga yaitu persatuan, 565 === [PDF page 12] === merupakan suatu multigroup society yang menyinggung prinsip tetapi perlu selama masih ada kebebasan untuk ditangani. berserikat.21 Ada pula mengenai emansipasi Dalam usaha untuk berdasarkan kemanusiaan, hal tersebut mempertahankan persatuan maka telah berulangkali ditegaskan dalam Kowani selalu berikhtiar melayani anggaran dasar. Dalam kongres tahun semua pihak sehingga peraturan- 1930 yang merupakan kongres penting peraturan diadakan sangat umum. yakni diletakkan dasar-dasar idiil dari Persoalan yang dapat menimbulkan Kowani yang menyatakan: “Perikatan perpecahan dihindari, maka perbedaan Perkumpulan Istri Indonesia (PPII) paham atau sikap yang dapat harus menjunjung keperempuanannya, menyinggung perasaan mengenai meneguhkan imannya, dan agama atau mengenai aliran politik mendalamkan kebatinannya.” dijauhkan. Sikap ini memang Kemudian dalam kongres tahun 1938, menyebabkan bahwa Kowani dapat ini ditegaskan lagi dalam rumusan: bertahan ataupun kalau perlu menjadi “Dalam penuntutan persamaan hak dan non-aktif sebentar, akan tetapi di lain penghargaan kaum laki-laki, dasar pihak cara tersebut dianggap kurang keahlian, kelurusan hati, rasa efektif untuk memecahkan hal-hal tanggungawab dan kebenaran harus dipegang seteguh-teguhnya.”22 21 Ibid., hlm. 99. 22 Ibid., hlm. 102-103. 566 === [PDF page 13] === Sebelumnya, pada 1930, PPII rencana pembunuhan terhadap kedua berhasil mendirikan satu Badan utusan ini. Sementara di Madiun Pemberantasan Perdagangan dan dibentuk suatu panitia yang Anak-Anak (BPPPA) yang diketuai mengadakan rapat wanita untuk oleh Ny. Sukemi. Praktik Cina memprotes kejahatan itu juga yang Mindering yang meminjamkan uang dipimpin oleh Ibu Sudiro.23 kepada petani dengan bunga yang Perhatian pergerakan wanita di sangat tinggi, hingga tidak dapat Indonesia dicurahkan di segala bidang, dikembalikan oleh petani, mendapat tidak hanya meningkatkan perhatian perkumpulan ini. Sebab kesejahteraan keluarga, melainkan kerapkali gadis anak petani dijadikan juga di bidang pendidikan mulai dari penebusan dari pada hutang-piutang pemberantasan buta huruf, itu. penyelenggaraan sekolah taman kanak- Ada juga laporan dr. Angelino kanak, dan seterusnya. Kemudian tentang kejahatan dalam perusahaan dalam bidang ekonomi diadakan batik (de misdrijven in het batikbedrijf) koperasi dan pembangunan masyarakat mendapat perhatian PPII, yang desa. Untuk bidang perburuhan ada mengadakan rapat umum di Lasem perbaikan nasib buruh wanita. untuk memberi kesadaran pada wanita Sementara lambat-laun permasalahan pembatik di situ. Harjodiningrat dan Sujatin dikirim ke Lasem dengan 23 Sujatin Kartowijono, op.cit., hlm. 6 penjagaan ketat, sebab dikabarkan ada 567 === [PDF page 14] === merambah ke arah masyarakat umum dan Front Nasional dengan payung seperti kependudukan, Keluarga kepercayaan Nasionalis, Agama, dan Berencana (KB), dan narkotika.24 Komunis atau kita kenal dengan C. PENGARUH KONGRES Nasakom. Manipol Usdek ditetapkan TERHADAP GERAKAN WANITA sebagai Garis Besar Haluan Negara TAHUN 1961-1964 (GBHN). Pada kenyataannya, Dekrit Perkembangan pergerakan Presiden adalah pengambil-alihan wanita dalam masa Demokrasi seluruh wewenang pemerintah dan Terpimpin sangat dipengaruhi oleh pemusatan kekuasaan dalam satu situasi politik negara bila tangan.25 dibandingkan dengan masa-masa Suasana ketegangan sudah sebelumnya. Pada masa ini diawali mulai mempengaruhi pergerakan dengan Dekrit Presiden Sukarno wanita sejak Gerwani berhasil duduk tanggal 5 Juli 1959. Dibentuk dalam Pimpinan Kongres Wanita lembaga-lembaga baru Majelis Indonesia pada tahun 1957. Pengaruh Permusyawarakatan Rakyat Sementara Gerwani menjadi tambah besar, sejak (MPRS), Dewan Perwakilan Rakyat struktur Kowani diubah pada Kongres Gotong Royong (DPRGR), Dewan ke-XII tahun 1961 di Jakarta. Pada Pertimbangan Agung (DPA), Dewan Perancang Nasional (DAPERNAS) 25 Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia, 24 Sukanti Suryochondro, (Jakarta: Balai Pustaka, 1978), hlm. op.cit., hlm. 106-107. 139. 568 === [PDF page 15] === mulanya pimpinan dinamakan Tambunan Maulani dan Ny. Mulyati. Sekretariat, kini berubah menjadi Dibentuk pula tim Steering Committee Dewan Pimpinan (DP) yang terdiri (SC) dengan tugas menyusun acara dari 9 organisasi yang akan memimpin kongres, rencana perubahan Anggaran secara bergilir dengan didampingi oleh Dasar Kongres Wanita Indonesia, tata seorang Ketua Koordinator. Intimidasi tertib kongres, dan tata cara pemilihan. dan tekanan mulai dijalankan terhadap Sebagai catatan, organisasi wanita pemimpin-pemimpin organisasi wanita Muslimat Masyumi pada bulan yang anti komunis. Agustus 1960 membubarkan diri, Kongres Wanita Indonesia ke- sehingga keanggotaannya dalam XII pada awalnya direncanakan akan Kowani terhenti. dilaksanakan di Yogyakarta, tetapi Gedung yang digunakan kemudian batal dan dilangsungkan di selama kongres adalah Gedung Jakarta pada tanggal 6-9 Februari Wanita, Jalan Diponegoro Nomor 26, 1961. Terdapat usulan kepada Jakarta. Sebagai pimpinan tercatat lima pimpinan Angkatan Darat agar pimpinan yaitu Ny. Maria Ulfah, S.H., membentuk Panitia Penasehat Ny. Memet Tanumijaya, Ny. Burdah Kesatuan Wanita Angkatan Darat serta Yusupadi, Ny. Mahmudah Mawardi, pengangkatan 2 orang calon dari dan Ny. Dr. Hurustiati Subandrio. Kongres Wanita untuk Tenaga Inti Kesatuan Wanita Angkatan Darat (KOWAD) yaitu Ny. Kartimi 569 === [PDF page 16] === Dengan dihadiri oleh sebanyak 40 petimbangan bahwa fakta tersebut organisasi wanita.26 sejalan dengan konteks zaman pada Dalam kelangsungan kongres periode tersebut. Penting untuk sangat menerima dan menghargai diketahui bahwa dalam kisaran tahun setinggi-tingginya amanah Pemimpin 1961-1964 telah diadakan kongres Besar Revolusi Indonesia sebagai sebanyak 2 kali, yakni kongres ke-XII pedoman perjuangan wanita. Oleh dan kongres yang ke-XIII. karenanya, kaum wanita Indonesia Kedua kongres tersebut juga sesuai dengan kodratnya, harus dilangsungkan di Jakarta dengan melaksanakan perjuangan bersama- keputusan yang tidak jauh berbeda. sama kaum laki-laki dalam Tetapi yang perlu dicatat adalah pada menyelesaikan Revolusi Nasional, kongres tahun 1964, persoalan wanita yakni menciptakan masyarakat sosialis sudah tidak disinggung lagi. Dalam Indonesia yang adil dan makmur. kenyataannya, perjuangan pergerakan Pengaruh yang tercatat wanita Indonesia untuk mempertinggi pascakongres maupun dalam situasi derajat wanita justru menjadi kabur kongres yang sedang berlangung karena merosotnya penghargaan merupakan pengaruh yang bersifat terhadap wanita oleh pemimpin multidimensi. Sifat tersebut membawa negara. Seolah-olah wanita dianggap pada kesimpulan nisbi sesuai data-data merupakan barang pameran dan hiasan yang telah melewati verifikasi dengan saya. Dalam penyambutan pembesar- 26 Ibid., hlm. 144. pembesar negara selalu ditampilkan 570 === [PDF page 17] === “Barisan Bhinneka Tunggal Ika” yang Organisasi wanita menentang keras terdiri dari gadis-gadis muda dan adanya poligami yang memosisikan cantik. Krisis akhlak merajalela di wanita dalam garis subordinasi. Upaya lapisan atas.27 tersebut menuntut adanya campur D. KESIMPULAN tangan pemerintah perihal aturan Pada kenyatannya, sejarah hukum yang dirasa akan melindungi wanita di Indonesia semakin ke sini derajat kaum wanita. semakin mengalami reduksi dengan Organisasi-organisasi tersebut pertanda bahwa permulaan itu terwadahi dalam satu lembaga yang bernama R.A. Kartini, tanpa ada terintegrasi seluruh Indonesia, yakni persinggungan secara mendalam Kongres Wanita Indonesia (Kowani). terkait tokoh perjuangan sebelumnya. Landasan dari organisasi secara Kondisinya sama dengan penulisan keseluruhan adalah satu nafas: samaseyarah pergerakan wanita di sama memperjuangkan kemajuan Indonesia. Acuan tertinggi sebagai kaum wanita. Meski dalam praktiknya cita-cita utama adalah mendapatkan menjumpai ragam persoalan karena hak pendidikan bagi kaum wanita mereka juga berangkat dari partaisecara merata, dan itu sudah tercapai. partai bersayap yang memiliki Kemudian tuntutan berlanjut ke arah organisasi wanita tersendiri, sambil privat, yakni masalah perkawinan. lalu memang menuai pro-kontra. 27 Kendati pun tujuan awal sudah sejalan, Kongres Wanita Indonesia (Kowani), op.cit., hlm. 141. 571 === [PDF page 18] === berhubung ideologi yang dianut oleh Indonesia, gerakan wanita sampai masing-masing partai di Indonesia masa setelah kemerdekaan melahirkan bermacam-macam maka dampak kelompok Islamis, Komunis, dan terhadap gerakan wanita juga sangat Militer. Meski saling menjunjung terasa. kewanitaan, tetapi upaya mereka Tidak bisa dipungkiri bahwa menggunakan cara yang berbeda-beda. kongres yang telah dijalankan selama kurun waktu sejak Indonesia belum merdeka hingga sesudah merdeka, mampu menghadirkan catatan historis yang khusus melihat pola kerja yang dilakukan wanita di dalamnya. Sedikit banyak tentu memberikan kesan bahwa tuntutan-tuntutan yang diperjuangkan juga menjadi bagian dari proses keberlangsungan suatu negara. Dalam hal ini kita menilai sebagai keberpihakkan yang sudah dimunculkan oleh organisasiorganisasi terkait. Penilaian itu bisa berupa ideologi yang dianut oleh masing-masing gerakan, dan di 572 === [PDF page 19] === DAFTAR PUSTAKA Arsip ANRI, Amanat Presiden Sukarno di Hadapan Kongres Wanita Indonesia di Gedung Wanita, Jakarta, 6 Februari 1961, No. 270. A. Buku A. Nunuk P. Murniati, Getar Gender Buku Pertama, (Yogyakarta: Yayasan IKAPI dan Yayasan Indonesia Tera, 2004). Jumarwan, Laskar Putri Indonesia, (Yogyakarta: Lembah Mana, 2010). Kongres Wanita Indonesia (Kowani), Sejarah Setengah Abad Pergerakan Wanita Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1978). Marwati Suwindi, Sejarah Perjuangan Wanita dalam Pembangunan di Indonesia dan Dunia, (Jakarta: Kantor Menteri Negara Urusan Wanita, 1997). Muhajir Darwin, “Gerakan Perempuan di Indonesia dari Masa ke Masa”, dalam Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (Vol. 7, No. 3, 2004). R.A Kartini, Door Duisternis toot Licht, terj. Armijn Pane, Habis Gelap Terbitlah Terang, (Jakarta: Balai Pustaka, 2008). Ratna Saptari dan Brigitte Holener, Perempuan, Kerja, dan Perubahan Sosial Sebuah Pengantar Studi Perempuan, (Jakarta: Pustaka Utama Grafiti dan Yayasan Kalyanamitra, 1997). Riwayat Singkat R.A. Kartini, (Jepara: Dinas Pariwisata Kabupaten Dati II Jepara, Tanpa Tahun Terbit). Saparinah Sadli, Berbeda Tetapi Setara: Pemikiran Tentang Kajian Perempuan, (Jakarta: Penerbit Buku Kompas, 2010). Saskia Wieringa, Kuntilanak Wangi: Organisasi-Organisasi Perempuan Indonesia Sesudah 1950, (Jakarta: Kalyanamitra, 1998). Slamet Muljana, Kesadaran Nasional dari Kolonialisme sampai Kemerdekaan Jilid 1, (Yogyakarta: LkiS, 2008). 573 === [PDF page 20] === Sukanti Suryochondro, Potret Pergerakan Wanita di Indonesia, (Jakarta: Yayasan Ilmu-Ilmu Sosial, 1984). Susan Blackburn, Kongres Perempuan Indonesia Tinjauan Ulang, (Jakarta: Yayasan Obor Indonesia, 2007). William H. Frederick dan Suri Suroto, Pemahaman Sejarah Indonesia Sebelum dan Sesudah Revolusi, (Jakarta: Pustaka LP3ES, 2005). Majalah Majalah Wanita, “Dari Kongres Wanita Indonesia”, no. 3, Th. XIV, 15 Februari 1961. 574