Tindakan Negara terkait Peristiwa G30S: Studi Makna Gadamerian pada Penyintas (Atmaja, 2012)
Cleaned OCR text (Fair (0.87); proof-reading: key passages (Claude, Oct 2026)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
=== [PDF page 1] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248
TINDAKAN NEGARA TERKAIT PERISTIWA G30S:
STUDI MAKNA GADAMERIAN
PADA PESELAMAT
Hamdan Tri Atmaja
Jurusan Sejarah, FIS Universitas Negeri Semarang atmaja.hta@gmail.com
This study aims to gain knowledge of a deep un- Tulisan ini mendeskripsikan secara mendalam derstanding of the state action related to the tindakan negara terkait peristiwa G30S. Metode G30S event. The research method used was a penelitian yang digunakan adalah penelitian qualitative research approach initiated by kualitatif dengan pendekatan hermeneutika yang Gadamer's hermeneutics. The results showed digagas Gadamer. Hasil penelitian menunjukkan that state action against survivors were to arrest, tindakan negara terhadap peselamat adalah melainvestigate, and imprison them to the island of kukan penangkapan, pemeriksaan, dan pena- Buru (for men survivors) and Plantungan (for hanan serta memenjarakan mereka ke pulau women survivors). The G30S event, by survi- Buru (untuk peselamat laki-laki) dan Plantunvors, was interpreted as a story of the assassina- gan (untuk peselamat perempuan). Peristiwa tion of the generals by Indonesian Communist G30S oleh peselamat dimaknai sebagai kisah Party (PKI), as well as the form of a political pembunuhan para jendral oleh PKI, bentuk konconspiracy for Sukarno’s power within ideologi- spirasi politik memperebutkan kekuasaan cal background. Investigation and arrest were Sukarno dengan latar belakang ideologi. Peinterpreted by them as an act of unwarranted, meriksaan dan penangkapan dimaknai peselamat political scapegoat, and a form of abuse against sebagai tindakan tidak beralasan, politik kambing them. While prison life, for survivors, was as a hitam, dan sebagai bentuk kesewenangform of forced labor, punishment to stigmatize wenangan terhadap peselamat. Kehidupan penand isolate women yara dimaknai peselamat sebagai bentuk kerja paksa, hukuman dengan menstigmatisasi dan Keywords: State Action, the G30S event, Mean- mengisolasi kaum perempuan.
ing, and Survivor.
Kata kunci: Tindakan Negara, Peristiwa G30S, Makna, dan Peselamat.
PENDAHULUAN PKI mengandung monopoli kebenaran yang selalu dipakai Orde Baru sebagai G30S/PKI, adalah istilah yang bentuk tafsir tunggal atas kebenaran lazim diwacanakan untuk menggambar- sejarah pada sekitar tahun 1965 kan peristiwa penculikan para jenderal (Notosusanto dan Saleh, 1966; Manafe, yang dipimpin Letkol Untung, pada 2008). Merujuk pada pemikiran tersebut, tanggal 1 Oktober 1965 dini hari yang maka dalam kajian penelitian ini, istilah berujung pada tewasnya enam jenderal yang akan digunakan adalah G30S. Sedan satu orang perwira. Penggunaan mentara kata peselamat yang dimaksud istilah tersebut sangat bernuansa politis dalam tulisan ini mengacu pada korban dan berbau kontroversi. Istilah G30S/ hidup (survivor) yaitu mereka yang di-
Paramita Vol. 22 No. 2 - Juli 2012 [ISSN: 0854-0039] Hlm. 198—206
=== [PDF page 2] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: Tindakan 131—248Negara terkait Peristiwa G 30 S - Hamdan Tri Atmaja
tangkap karena anggota PKI dan Or- gara memanfaatkan balik kebisuan semasnya atau yang dianggap PKI. bagai alat untuk menaklukannya. Di Makna peristiwa G30S yang sinilah negara menguasai peselamat, diproduksi dan dilestarikan negara, sehingga makna tindakan negara atas dalam perspektif kekuasaan, memperli- peristiwa G30S diproduksi dan dimohatkan kekuasaan tidak hanya berada di nopoli oleh negara.
wilayah lembaga negara, tetapi kekua- Dari serangkaian paparan tentang san merambah ke wilayah masyarakat. tindakan negara atas peristiwa G30S Kekuasaan merembes dalam kehidupan seperti tersebut di atas, menunjukkan sehari-hari dan memasuki ruang-ruang bahwa kajian tentang G30S dari perssosial yang mendefiniskan subjek, objek, pektif peselamat, sarat dengan persoadan realitas. Kekuasaan menjadi omni- lan-persoalan kesadaran bersama mepresent, hadir di m ana-mana dan ngenai humanisasi hidup. Kesadaran bermampu mengendalikan wacana, suatu sama ini akan menghasilkan sebuah kekeadaan dimana cara masyarakat me- sepekatan dialogis, bahwa manusia bisa mandang dan memahami realitas, serta hancur atau binasa jika negara memmenuturkannya di bawah kendali ke- biarkan kejahatan atas manusia. Dari kuasaan (Supelli, 2000:41; Supelli, 2005). kesadaran tersebut, perlu secara prinsip Kekuasaan juga menentukan sistem menyatakan bahwa ada tindakanmakna dan kumpulan nilai yang tindakan yang mengingkari martabat membingkai kemungkinan pemikiran manusia, dan tindakan-tindakan itu tidan ekspresinya, untuk mengeluarkan dak boleh dibiarkan, karena kehadiran setiap ketidaksetujuan. Foucoult lebih bersama manusia memunculkan kesayauh mengatakan kekuasaan ada di daran etis untuk tidak membiarkan mana-mana, bukan mencakupi segala- munculnya situasi yang akan menyegalanya, tetapi karena datang dari mana babkan kebinasaan orang lain, atau -mana, kekuasaan berfungsi sebagai un- situasi yang menyebabkan orang lain sur yang tak terhitung jumlahnya, ke- menjalani kehidupan tidak manusiawi.
kuasaan tidak hanya bersifat represif Disinilah pentingnya membangun it eta pi juga produktif da n pos itif ngatan bersama atas masa lampau me- (Foucoult, 1997: 113). lalui perdebatan-perdebatan jujur se- Situasi semacam ini, membuat hingga melahirkan historical accountabilpara peselamat kehilangan ruang publik ity. Ingatan bersama yang bersih dari untuk menuturkan pengalaman pribadi- politisasi, sehingga tidak dijadikan piyanya. Peselamat merasa bahwa penga- kan untuk mengulangi kekejaman di laman pribadinya berada di luar realitas masa yang akan datang.
yang sedang berjalan. Peselamat tidak Kajian tentang ingatan bersama mampu mengaktualisasikan pengalam- dari perspektif peselamat, pernah dilaannya ke dalam wacana yang bukan kukan oleh Urvashi Butalia seorang tomengandung pemikirannya. Ketidak- koh feminis dari India. Dengan fokus berdayaan ini menjadi keberhasilam ne- kajian tentang pembelahan India, Urgara melakukan perintah untuk bung- vashi menangkap akibat pembelahan kam, Foucoult menyebutnya sebagai India yang menimbukan kematian, arkeologi kebisuan. Kebisuan peselamat penggusuran, keterenggutan, pemerkodiyadikan sebagai garis pertahanan ter- saan, kehilangan rumah, serta kehilangdepan oleh negara, yang ampuh untuk an keluarga dan sanak saudaranya menyangkal dan menyingkirkan pese- (Butalia, 2002). Penelitian lain dilakulamat. Ketika peselamat bertutur, ne- kan oleh Jaringan Kerja Budaya (JKB).
199
=== [PDF page 3] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248
Penelitian yang mencoba mengungkap adalah tindakan negara atas peristiwa keberagaman ingatan sosial para pese- G30S dari perspektif negara itu sendiri.
lamat atas peristiwa G30S (Rossa dkk, Dengan menggali intepretasi peselamat 2004). Saskia Elenora Wieringa, dengan tentang tindakan negara atas peristiwa mengambil topik sekitar peristiwa G30S G30S, akan didapatkan keseimbangan dan fokus kajiannya tentang Gerwani. intepretasi, sehingga akan muncul Men coba mengungkap kebena ran makna baru tentang tindakan negara tersembunyi di balik cerita-cerita ten- peristiwa G30S, sebagai antitesis atas tang perbuatan seksual yang tidak makna yang diproduksi negara selama senonoh dan kebejatan moral yang dila- ini, sehingga terbuka ruang dialog unkukan para gerwani pada saat peristiwa tuk memahami realitas tindakan negara G30S (Wieringa, 1999). atas peristiwa G30S. Melalui oral histories Penelitian lain tentang peselamat (sejarah lisan) secara spesifik, tulisan yang terkait dengan kajian tentang ini mencoba mengungkap tindakan nemakna dilakukan oleh Teria Shantall. gara terhadap peselamat terkait dengan Penelitian Teria mengungkap penga- peristiwa G30S dan bagaimana peselaman peselamat dalam sebuah tragedi lamat memaknai tindakan negara terhapolitik, dengan subjek penelitian adalah dap dirinya terkait dengan peristiwa para peselamat dalam tragedi Holou- G30S.
coust di Afrika Selatan (Shantall, 1999).
Kajian mendalam tentang makna dengan menggunakan pendekatan herme- METODE PENELITIAN neutika, dilakukan Utan Parlindungan.
Sebuah penelitian yang mempertanya- Jenis penelitian yang digunakan kan mengapa dan bagaimana genjer- dalam penelitian ini adalah penelitian genjer dijangkiti ambiguitas makna, kualitatif dengan pendekatan interpretayang di satu sisi diletakkan di aras ter- tif, yang dig a gas G a dame r y a it u hormat kultural (folksong) sebagai media fenomenologi hermeneutika. Dalam kritik terhadap penjajahan, dan di sisi fenomenologi hermeneutika, makna lain berakhir secara dramatis sebagai suatu tindakan atau fenomena bukanlah lagu manifesto PKI hingga mengalami sesuatu yang ada pada tindak itu pelarangan Orde Baru (Parlindungan, sendiri, tetapi terbuka bagi adanya 2007). Kajian tentang penjara Buru per- penafsiran baru sesuai dengan kreativinah dilakukan oleh Krisnadi (2000). Ia tas penafsir (Gadamer, 2004). Sebuah melakukan kajian terhadap tahanan fenomena yang sudah dilempar ke rupolitik di Pulau Buru pada tahun 1969- ang publik sepenuhnya menjadi milik 1979. Selain itu ada pula penuturan pe- penafsir dengan berbagai interpreselamat yang menguraikan ceritanya tasinya (Raharjo, 2008). Dalam hal ini, ketika tengah berada pada pengasingan. interprestasi bukan hanya sebatas mere- Demokrano (2006) misalnya mengi- produksi makna, tetapi juga memprosahkan kisahnya selama 11 tahun dalam duksi makna. Akhirnya makna yang penjara Orde Baru. diproduksi itu sendiri sangat terbuka Dari kajian penelitian tersebut di dengan tafsir makna baru sesuai dengan atas menginspirasi untuk melakukan perkembangan waktu dan zamannya.
penelitian, khususnya terkait dengan Subjek yang perlu didengar, ditindakan negara terkait peristiwa G30S mengerti, digali dan terus diungkap dari perspektif peselamat. Selama ini, dunia realitas di balik yang tampak, yang sudah banyak terpublikasikan agar apa yang implisit menampakkan
200
=== [PDF page 4] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: Tindakan 131—248Negara terkait Peristiwa G 30 S - Hamdan Tri Atmaja
dirinya menjadi eksplisit adalah pese- dari dalam dirinya sendiri terhadap diri lamat yang pernah di penjara di pulau masyarakat tertentu. Secara garis besar, Buru dan Plantungan atau pernah di langkah-langkah analisis data dapat tahan tetapi tidak sampai Plantungan dirumuskan sebagai berikut. Pertama, dan pulau Buru. Berdasarkan pengga- menentukan subjek penelitian. Kedua, lian data di lapangan, dapat dijaring mengumpulkan data dengan melakutuyuh peselamat sebagai subjek peneli- kan wawancara mendalam sesuai dengtian. Ketujuh peselamat tersebut pada an panduan wawancara. Ketiga, melamasa lalu tergabung dalam organisasi kukan kategorisasi atau pengelompokan sosial politik yang berbeda-beda seperti data. Keempat, setelah semua data SB Tekstil, IPPI/Lekra, PKI/PR, PGTI terkumpul dan diurutkan secara krodan CGMI, dan dua orang peselamat nologis, langkah berikutnya adalah memengaku tidak pernah ikut dalam or- reduksi data atau menyusun narasi seganisasi. Disamping itu tujuh peselamat jarah hidup pengalaman peselamat. Keyang terpilih memenuhi kriteria yang lima, melakukan telah dan pengungkapunik dan spesifik, seperti memiliki pe- an keserbamaknaan pengalaman pesengalaman khas, memiliki harapan- lamat, atau konstruksi peselamat atas harapan sendiri, yang pada intinya pengalamannya terkait dengan tindakan berusaha menemukan kedalaman negara atas peristiwa G30S.
Pengumpulan data dalam peneli- HASIL DAN PEMBAHASAN tian ini menggunakan wawancara mendalam. Dalam wawancara mendalam Peristiwa G30S dalam Perspektif Peseini, peneliti berupaya menyelam ke lamat dalam dunia psikologis dan sosial subjek penelitian. Jenis wawancara men- Peselamat perempuan berpendidalam yang dipilih adalah wawancara dikan SD dan tidak memiliki latar beseyarah hidup (life history interview), lakang politik apapun, memaknai perlu dicatat disini sejarah hidup yang peristiwa G30S sebagai pembunuhan dimaksud bukanlah otobiograsi konven- para jenderal oleh PKI, dengan imbassional ataupun fiksi, meskipun narasi nya menghukum orang-orang yang tisubyektif penulisnya mirip dengan na- dak bersalah. Pemaknaan ini dibangun rasi dan pandangan penulis dalam oto- tidak didasarkan pada analisis kritis, biografi. Sejarah hidup disini lebih tetapi hanya sebatas masuknya informemperhatikan pengalaman subjek dan m a si t e n t a n g m e n i n g g a l n y a p a ra penafsirannya atas dunia dan penga- jenderal oleh PKI. Ketidakmampuan lamannya. Artinya dengan sejarah peselamat mencerna informasi yang hidup berarti menempatkan peran, dan diperoleh mengenai peristiwa G30S, hidup peselamat sebagaimana mereka membenarkan bahwa terbunuhnya para melihatnya, bukan penafsiran orang lain jenderal memang dilakukan oleh PKI.
atau peneliti tetapi penafsirannya Pembenaran tersebut tidak menunyuksendiri. kan keberpihakan pada salah satu ke- Teknik analisis yang digunakan kuatan politik tertentu, tetapi sematadalam penelitian ini adalah teknik anali- mata karena peselamat merasa tidak sis kualitatif sejarah hidup. Teknik ini tahu apa-apa tentang peristiwa G30S.
mampu untuk melihat reaksi, tangga- Peselamat perempuan, yang pan, intepretasi, pandangan individu memiliki latar belakang komunis,
201
=== [PDF page 5] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248
seperti aktif dalam ormas IPPI dan meskipun tidak semuanya terlibat Lekra, memaknai peristiwa G30S seba- dalam dunia politik praktis, tetapi gai pembunuhan para jenderal oleh PKI. mereka telah menunjukkan ideologi Akan tetapi, tidak semua orang PKI ter- politik ayang dianutnya. Keberagaman libat dalam peristiwa tersebut. Pe- tersebut ditunujukan dengan adanya maknaan ini didasarkan pada apa yang silang pendapat sebagai berikut: G30S dialami dan dirasakan pada waktu itu. sebagai persoalan persaingan antara Ketika G30S itu meletus, peristiwa itu TNI-AD dan PKI, persoalan G30S merubenar-benar membingungkan bagi dir- pakan konspirasi politik yang meneminya. Menurutnya, semua informasi ten- patkan PKI dan Amerika sebagai bagian tang peristiwa G30S justru didapatkan perebutan kekuasaan, dan peristiwa dari isu yang berkembang di masyara- G30S sebagai perebutan kekuasaan kat. Hampir semua orang menyimpul- Sukarno dengan latar belakang kan PKI adalah dalang dan pelaku ideologi.
dalam peristiwa G30S dan kesimpulan ini diperoleh secara berulang-ulang mu- Penangkapan dan Pemeriksaan Peselai dari sebelum masuk penjara, ada lamat dalam penjara, sampai dengan keluar dari penjara. Ruang politik seperti ke- Pasca-peristiwa G30S, negara seluarga yang berhaluan komunis, justru cara represif melakukan penangkapan tidak banyak memberi informasi apa- terhadap orang-orang yang diduga apa tentang peristiwa G30S. menjadi anggota PKI atau menjadi ang- Peristiwa G30S dimaknai pula se- gota ormas PKI, tanpa ada sedikit pun bagai perebutan kekuasaan antar-elite celah untuk membela dirinya. Hasil politik, hal ini menunjukkan adanya penelitian ini, menunjukkan bahwa para elite politik yang bertikai mem- penangkapan terhadap mereka dilakuperebutkan kekuasaaan. Elite politik kan langsung oleh petugas dengan cara mana yang bertikai memperebutkan ke- mendatangi rumah peselamat. Secara kuasaan, dalam perspektif peselamat garis besar aktivitas penangkapan dan memunculkan berbagai keragaman pen- pemeriksaan terhadap peselamat dapat dapat. Keberagaman pendapat ini digambarkan pada tabel 1.
menunjukkan adanya keberpihakan Dari tabel tersebut dapat diyelaspada ideologi politik tertentu pada pese- kan bahwa tahun penangkapan pada lamat sesuai dengan keyakinan ideologi peselamat berbeda-beda. Empat orang yang dianutnya. Ini dapat disadari, peselamat ditangkap beberapa bulan mengingat mereka para peselamat setelah peristiwa G30S, sehingga masih
Tabel 1 Penangkapan dan Pemeriksaan Terhadap Peselamat No. Peselamat Tahun Tempat Waktu Kekerasan Pelecehean Ditangkap Penangkapan Tangkap Fisik Seksual 1 Kustini 1965 Rumah Siang x - 2 Sunari 1967 Rumah Malam x - 3 Sariatun 1965 Perjalanan Malam x x 4 Sumito 1967 Rumah Malam x - 5 Suparno 1965 Sekolah Siang x - 6 Abdullah 1969 Rumah Siang x - 7 Wiratmo 1965 Rumah Siang x -
202
=== [PDF page 6] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: Tindakan 131—248Negara terkait Peristiwa G 30 S - Hamdan Tri Atmaja
di tahun 1965, dimana suhu politik ma- kuensi, orang-orang PKI atau mereka sih cukup memanas. Tiga orang pese- yang ada di ormasnya, ditangkap dan lamat ditangkap setelah tahun 1965, diperiksa. Padahal, tidak semua orang setelah terjadi pergantian kekuasaan PKI atau yang ada di ormasnya mengedari Sukarno ke Suharto. Waktu tahui soal pembunuhan para jenderal.
penangkapan terjadi pada siang dan Para peselamat yang memaknai penangmalam hari, hampir seluruh peselamat kapan dan pemeriksaan sebagai politik mengalami penyiksaan fisik saat pe- kambing-hitam, dibangun oleh dua pemeriksaan, dan salah seorang peselamat selamat yang berlatar belakang sebagai mengalami pelecehan seksual pada saat pegawai. Sebagai pegawai negeri, sepemeriksaan. benarnya mereka tidak terlibat dalam Peselamat perempuan yang tidak dunia politik, hanya secara kebetulan merasa menjadi anggota Gerwani, me- mereka bergabung dalam organisasi maknai penangkapan terhadap dirinya profesi seperti PGTI. Bahkan Peselamat sebagai tindakan tidak beralasan atau lain yang berstatus sebagai pegawai mengada-ada. Dengan menggunakan Jawatan Pertanian tdak pernah menjadi kata “Gerwani” maka semua aktivitas anggota PKI ataupun Ormas PKI, hanya perempuan berhaluan kiri disebut deng- secara kebetulan pernah ikut kursus an Gerwani. Kata “Gerwani” dilekatkan Kader Calon PKI, tetapi mereka tetap pada semua kaum perempuan yang di- ditangkap dan di buang ke pulau Buru.
tangkap, sehingga semua perempuan Penangkapan dan pemeriksaan yang ditangkap tuduhannya sama seba- oleh peselamat dimaknai juga sebagai gai Gerwani. Padahal, dua peselamat bentuk kesewenang-wenangan terhadap yang dalam pengakuannya hanya men- orang-orang yang memiliki keterkaitan jadi anggota Serikat Buruh Tekstil dan dengan PKI baik secara langsung atau- Lekra tidak pernah merasa menjadi ang- pun tidak langsung dengan tujuan ungota Gerwani. Dalam pemeriksaan, pe- tuk menghancurkan paham komunis di selamat terus dipojokkan dengan tudu- Indonesia. Ketika penangkapan dan pehan sebagai anggota Gerwani yang per- meriksaan dimaknai sebagai kesewenah ke Lubang Buaya, membunuh, dan nang-wenangan, maka semua orang menyiksa para jenderal. Menjawab seju- yang bersentuhan dengan paham komuyurnya dengan mengatakan “bukan Ger- nis, baik dalam bentuk aktivitas politik, wani”, tidak berarti dibebaskan dari se- budaya, ekonomi, maupun sosial, mua tuduhan, tetapi justru sebaliknya adalah orang-orang yang dianggap terlimendapat penyiksaan. bat dalam peristiwa G30S. Mereka yang Penangkapan dan pemeriksaan pernah bersentuhan dengan PKI dan terhadap orang-orang PKI atau mereka ormasnya dalam pandangan negara yang ada dalam ormas PKI, dimaknai adalah orang-orang yang berbahaya, pula sebagai politik kambing-hitam un- yang dimungkinkan dapat menumtuk meligitimasi kekuasaan. Kambing- buhkan benih-benih paham komunis. Di hitam yang dimaksud di sini adalah samping itu, negara menganggapnya PKI. Ini menunjukkan pembunuhan sebagai orang yang bersalah, yang panpara jenderal di Jakarta merupakan tas untuk mendapat hukuman. Keseweperebutan antar elit kekuasaan, ke- nang-wenangan itu ditunjukkan dengan mudian digeneralisasikan bahwa semua tidak adanya parameter yang jelas orang PKI atau mereka yang ada di Or- dalam proses penangkapan. Satumas PKI sebagai orang yang terlibat dan satunya parameter yang digunakan bertanggung jawab. Sebagai konse- adalah keterkaitan seseorang dengan
203
=== [PDF page 7] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248
PKI, baik secara langsung ataupun tidak garis besar keberadaan peselamat dalam langsung. penjara dapat digambarkan pada tabel Pemaknaaan penangkapan dan 2.
pemeriksaan sebagai bentuk kesewe- Berdasarkan pada sebaran data nang-wenangan, dibangun oleh pese- tersebut, enam peselamat digolongkan lamat yang menjadi anggota PKI. Pese- dalam klasifikasi B, dengan penjara teralamat merasa tidak terlibat dan tidak khir untuk laki-laki pulau Buru, dan unbersalah atas pembunuhan para tuk wanita Plantungan, serta satu peseyenderal. Memang benar dirinya ang- lamat digolongkan dalam klasifikasi C gota PKI, tetapi walaupun anggota PKI dipenjarakan di LP. Aktivitas inti yang tidak berarti tahu tentang skenario pem- dilakukan untuk tiga peselamat laki-laki bunuhan para jenderal. Peselamat bertani, dua peselamat lainnya ditugasi meyakini kalau pembunuhan para untuk bidang administrasi. Untuk peseyenderal hanya dilakukan oleh elit-elite lamat wanita aktivitas utama yang dilapolitik PKI, bukan merupakan kebijakan kukan membuat kerajinan, seperti partai. Maka sudah seharusnya mereka menyulam, menjahit, membuat kristik elite politik yang dihukum, bukan se- dan sebagainya disamping aktivitasmua orang PKI dihukum. Pemaknaan aktivitas lainnya. Lamanya waktu di ini dibangun pula oleh Peselamat yang penjara bagi mereka yang dikirim ke merasa tidak pernah menjadi anggota Plantungan atau Pulau Buru rata-rata PKI dan tidak pernah terjun dalam lebih dari sepuluh tahun, empat pesepolitik praktis, bahwa penangkapan dan lamat menjalani hidup di penjara di atas pemeriksaan yang menimpa dirinya me- sepuluh tahun, dua peselamat sepuluh rupakan tindakan kesewenang- tahun, dan satu peselamat yang dipenwenangan. jarakan LP, menjalani hidup di penjara selama dua tahun.
Kehidupan penjara dimaknai se- Kehidupan Penjara dalam Pandangan bagai kerja paksa. Peselamat diposisikan Peselamat sebagai sumber daya manusia, yang tenaganya dieksploitasi untuk kepentin- Setelah dilakukan penangkapan, gan kerja tertentu. Ini artinya, penempemeriksaan, dan penahanan, langkah patan tahanan politik PKI di Pulau Buru berikutnya adalah negara memenjara- dalam kacamata peselamat bukanlah kan peselamat. Perjalanan menuju pen- proyek rehabilitasi mental, tetapi sebayara secara permanen cukup panjang, gai proyek membuka Pulau Buru, untuk dan masing-masing peselamat memiliki kepentingan ekonomi. Pemaknaan ini pengalaman yang berbeda-beda. Secara dibangun peselamat yang ditahan
Tabel 2 Keberadaan Peselamat dalam Penjara No. Peselamat Gol. Penjara Terakhir Aktivitas Lama di Penjara 1 Kustini B Plantungan Membuat Kerajinan 13 tahun 2 Sunari B Buru Bertani 11 tahun 3 Sariatun B Plantungan Membuat Kerajian 14 tahun 4 Sumito B Buru Administrasi 10 tahun 5 Suparno C LP Adminstrasi 2 tahun 6 Abdullla B Buru Bertani 10 tahun 7 Wiratmo B Buru Bertani 13 tahun
204
=== [PDF page 8] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: Tindakan 131—248Negara terkait Peristiwa G 30 S - Hamdan Tri Atmaja
karena melindungi orang-orang dari selamat perempuan. Negara mengangpengeyaran petugas dan massa. Pe- gap peselamat perempuan sebagai Germaknaan ini tidak jauh berbeda dengan wani yang berbahaya dan tidak beryang dialami peselamat yang ditahan moral, sehingga perlu disingkirkan dari karena dirinya menjadi anggota PKI. kehidupan keluarga, seperti suami dan Menurutnya, memang benar kehidupan anak pada khususnya, serta kehidupun dipenjara seperti kerja paksa. Tahanan masyarakat pada umumnya.
diperintahkan untuk kerja, kemudian diawasi secara ketat, dan tahanan merasakan hanya punya waktu longgar SIMPULAN saat istirahat siang dan tidur. Pengalamannya di pulau Buru memperkuat ar- Berdasarkan temuan dalam gumentasinya, bahwa peselamat di pu- penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa lau Buru bukanlah melakukan rehabili- tindakan yang dilakukan negara terhatasi mental, tetapi lebih tepat kerja dap peselamat adalah melakukan paksa. penangkapan, pemeriksaan, dan pena- Peselamat juga memaknai ke- hanan serta memenjarakan mereka ke hidupan penjara sebagai pembuangan pulau Buru (untuk peselamat laki-laki)
peselamat dengan tujuan menying- dan Plantungan (untuk peselamat perkirkan dari kehidupan masyarakat. empuan). Semua ini dilakukan negara Dalam perspektif ini, negara memposisi- dengan anggapan, bahwa mereka yang kan orang-orang PKI menjadi orang pernah bersentuhan dengan paham koyang memiliki kemungkinan dapat munis terlibat dalam peristiwa G30S.
meracuni dan menyebarkan ideologi Karena itu, negara melakukan penangkomunis di tengah-tengah masyarakat. kapan terhadap mereka yang pernah Pemaknaan ini dikonstruksikan oleh menjadi anggota ormas PKI dan mereka peselamat yang kebetulan berlatar be- yang secara langsung menjadi anggota lakang pegawai negeri dan pernah ikut PKI.
Kursus Kader PKI, dan peselamat yang Keberagaman makna tentang anggota PKI serta peselamat yang per- peristiwa G30S yang dibangun pesenah menjadi anggota CGMI. Semua lamat menunjukkan titik persamaaan atribut yang menempel pada diri pese- yang dirasakan oleh seluruh peselamat, lamat, baik sebagai anggota PKI atau bahwa peselamat merasa tidak menjadi ormas PKI, menjadi keyakinan pada pe- bagian dalam peristiwa tersebut atau selamat, bahwa dirinya memang harus dengan kata lain peselamat tidak terlidibuang ke Pulau Buru, dalam rangka bat dalam peristiwa G30S. Baik pesemembersihkan PKI sampai ke akar- lamat yang menjadi anggota PKI, angakarnya. gota ormas PKI, simpati pada figur Dalam perspektif peselamat per- Sukarno dan yang tidak berlatar beempuan, kehidupan di penjara di- lakang ideologi apapun tidak merasa maknai sebagai bentuk hukuman deng- dirinya terlibat dalam peristiwa G30S.
an menstigmatisasi dan mengisolasi Peristiwa G30S benar-benar persoalan kaum perempuan dari kehidupan para elite politik. Kalau memang benar masyarakat. Pada konteks ini, perem- PKI dianggap terlibat dalam peristiwa puan yang berhaluan komunis dibunuh tersebut, itu secara resmi bukan kebiyasecara sistematis jatidiri dan karak- kan partai, tetapi kebijakan para elite ternya. Stigmatisasi Gerwani yang politik PKI.
berkonotasi negatif dilekatkan pada pe- Berkaitan dengan keberagaman
205
=== [PDF page 9] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248
makna tentang penangkapan dan pe- Demokrano, A. Gumelar. 2006. Dari Kalong meriksan menunjukkan adanya per- sampai Pulau Buru, 11 tahun dalam spektif yang sama pada peselamat, Sekapan, Penjara, Pembuangan, Dan Kerja Rodi. Yogyakarta: Pusat Sejarah bahwa semua tuduhan yang ditujukan dan Etika Politik.
pada peselamat tidak benar. Kalau Foucoult, Michel. 1997. Sex dan Kekuasaan:
dalam pemeriksaan peselamat harus Sejarah Sexualitas. Penerjemah Rahayu mengakui semua tuduhan tersebut, hal S. Hidayat.Jakarta: Gramedia.
itu disebabkan faktor keterpaksaan, Gadamer, Hans-Georg. 2004. Kebenaran dan karena peselamat merasa tidak mampu Metode. Pengantar Filsafat Hermemenahan siksaaan demi siksaan. Semen- neutika. Penerjemah Ahmad Sahidah.
tara itu, keberagaman makna dalam ke- Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
hidupan penjara, menunjukkan adanya Krisnadi, G. 2000. Tahanan Politik Pulau Buru pengalaman yang sama dari seluruh 1969-1979. Jakarta: LP3S.
peselamat, bahwa kehidupan penjara Manafe, Aco. 2008. Teperpu, Mengungkap Pengkhianatan PKI Pada Tahun 1965 merupakan kerja paksa dan upaya ne- Dan Proses Hukum Bagi Para Pelakunya.
gara menjauhkan peselamat dari ke- Jakarta: PT Pustaka Sinar Harapan.
hidupan masyarakat serta stigmatisasi Notosusanto, Nugroho dan Saleh, Ismail.
terhadap peselamat sebagai tahanan 1966. The Coup Attempt of the September politik. 30 Movement in Indonesia. Jakarta:
Dari seluruh pemaknaan yang di- Pembimbing Massa.
bangun peselamat, ada konsistensi pe- Parlindungan, Utan. 2007. Musik dan Politik:
maknaan, yakni konsistensi bahwa se- Genjer-Genjer, Kuasa dan Kontestasi luruh tindakan negara terkait dengan Makna. Yogyakarta: Laboraorium Jurusan Ilmu Pemerintahan Fisipol peristiwa G30S, sebagai negativitas ke-
UGM.
kuasaan. Negativitas tersebut menyang- Raharjo, Mujia. 2008. Dasar-Dasar Hermkut sikap atau perilaku negara yang neutika Antara Intensionalisme dan dirasakan peselamat, seperti stigma- Gadamerian, Yogyakarta: Ar-Ruzz Metisasi, prasangka, trauma, teror atau an- dia.
caman, politik kambing hitam, dan Rossa, John dkk. 2004. Tahun Yang Tak Perhiperpobia. Keberagaman pemaknaan nah Berakhir: Memahami Pengalamam yang dibangun juga menunjukkan Korban. Jakarta: Elsam.
penyingkapan “Ada” pada diri pese- Shantall, Teria. 1999. “The Experience Meaning In Suffering Among Holocoust lamat yang merasa dirinya sebagai Survivors. Journal of Humanistic Psykorban, dan penyingkapan “Ada” nekhology, vol 39 No. 3 Summer 1999.
gara, yang menganggap peselamat seba- Sparringa, Daniel T. 2000. Kumpulan Bahan gai “Yang lain”. Ketika peselamat di Mata Ajaran Metode Penelitian Kualitapandang “Yang Lain” oleh negara, tif. Surabaya: FISIP UNAIR.
maka “Yang Lain” dianggap berbeda Supelli, Karlina. 2001. “Kisah Dialektika dan bukan anggota kelompok. Oleh Kaum Korban”. Kompas, Februari karena itu “Yang Lain” bisa dianggap 2001.
sebagai ancaman. --------. 2005. “Mendengarkan Suara Kesunyian”. Dalam Mochtar Buchori dan Frans Magnis-Suseno (ed). Etika Politik Dalam Konteks Indonesia. Yogya-
DAFTAR PUSTAKA karta: Kanisius.
Wieringa, Saskia Eleonora. 1999. Penghan- Butalia, Urvashi. 2002. Sisi Balik Senyap;
curan Gerakan Perempuan di Indonesia.
Suara-Suara Dari Pemisahan India. Alih Penerjemah Hesri Setiawan. Jakarta:
Bahasa Landung R Simatupang. Ma- Garba Budaya.
gelang: Indonesia Tera.
206
=== CORRECTED KEY PASSAGES (proof-read by Claude, Oct 2026) ===
--- [page ] ---
Source PDF: 02 Secondary Sources/2.2 1965 Violence, Sexual Slander, Memory and Historiography/Atmaja (2012) - Tindakan Negara terkait Peristiwa G30S, Studi Makna Gadamerian pada Peselamat.pdf Text extracted Oct 2026 (pdftotext; scanned pages OCR'd with Tesseract eng — Indonesian/Dutch OCR errors remain).
=== [PDF page 1] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248
TINDAKAN NEGARA TERKAIT PERISTIWA G30S: STUDI MAKNA GADAMERIAN PADA PESELAMAT
Hamdan Tri Atmaja
Jurusan Sejarah, FIS Universitas Negeri Semarang
atmaja.hta@gmail.com
[English abstract:] This study aims to gain knowledge of a deep understanding of the state action related to the G30S event. The research method used was a qualitative research approach initiated by Gadamer's hermeneutics. The results showed state action against survivors were to arrest, investigate, and imprison them to the island of Buru (for men survivors) and Plantungan (for women survivors). The G30S event, by survivors, was interpreted as a story of the assassination of the generals by Indonesian Communist Party (PKI), as well as the form of a political conspiracy for Sukarno's power within ideological background. Investigation and arrest were interpreted by them as an act of unwarranted, political scapegoat, and a form of abuse against them. While prison life, for survivors, was as a form of forced labor, punishment to stigmatize and isolate women
Keywords: State Action, the G30S event, Meaning, and Survivor.
[Indonesian abstract:] Tulisan ini mendeskripsikan secara mendalam tindakan negara terkait peristiwa G30S. Metode penelitian yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan hermeneutika yang digagas Gadamer. Hasil penelitian menunjukkan tindakan negara terhadap peselamat adalah melakukan penangkapan, pemeriksaan, dan penahanan serta memenjarakan mereka ke pulau Buru (untuk peselamat laki-laki) dan Plantungan (untuk peselamat perempuan). Peristiwa G30S oleh peselamat dimaknai sebagai kisah pembunuhan para jenderal oleh PKI, bentuk konspirasi politik memperebutkan kekuasaan Sukarno dengan latar belakang ideologi. Pemeriksaan dan penangkapan dimaknai peselamat sebagai tindakan tidak beralasan, politik kambing hitam, dan sebagai bentuk kesewenang-wenangan terhadap peselamat. Kehidupan penjara dimaknai peselamat sebagai bentuk kerja paksa, hukuman dengan menstigmatisasi dan mengisolasi kaum perempuan.
Kata kunci: Tindakan Negara, Peristiwa G30S, Makna, dan Peselamat.
PENDAHULUAN
G30S/PKI adalah istilah yang lazim diwacanakan untuk menggambarkan peristiwa penculikan para jenderal yang dipimpin Letkol Untung, pada tanggal 1 Oktober 1965 dini hari yang berujung pada tewasnya enam jenderal dan satu orang perwira. Penggunaan istilah tersebut sangat bernuansa politis dan berbau kontroversi. Istilah G30S/PKI mengandung monopoli kebenaran yang selalu dipakai Orde Baru sebagai bentuk tafsir tunggal atas kebenaran sejarah pada sekitar tahun 1965 (Notosusanto dan Saleh, 1966; Manafe, 2008). Merujuk pada pemikiran tersebut, maka dalam kajian penelitian ini, istilah yang akan digunakan adalah G30S. Sementara kata peselamat yang dimaksud dalam tulisan ini mengacu pada korban hidup (survivor) yaitu mereka yang di-
--- [page 2] ---
[Unreadable] kuasaan tidak hanya bersifat represif tetapi juga produktif dan positif (Foucoult, 1997: 113).
Situasi semacam ini, membuat para peselamat kehilangan ruang publik untuk menuturkan pengalaman pribadinya. Peselamat merasa bahwa pengalaman pribadinya berada di luar realitas yang sedang berjalan. Peselamat tidak mampu mengaktualisasikan pengalamannya ke dalam wacana yang bukan mengandung pemikirannya. Ketidakberdayaan ini menjadi keberhasilan negara melakukan perintah untuk bungkam, Foucoult menyebutnya sebagai arkeologi kebisuan. Kebisuan peselamat dijadikan sebagai garis pertahanan terdepan oleh negara, yang ampuh untuk menyangkal dan menyingkirkan peselamat. Ketika peselamat bertutur, ne-
Disinilah pentingnya membangun ingatan bersama atas masa lampau melalui perdebatan-perdebatan jujur sehingga melahirkan historical accountability. Ingatan bersama yang bersih dari politisasi, sehingga tidak dijadikan pijakan untuk mengulangi kekejaman di masa yang akan datang.
Kajian tentang ingatan bersama dari perspektif peselamat, pernah dilakukan oleh Urvashi Butalia seorang tokoh feminis dari India. Dengan fokus kajian tentang pembelahan India, Urvashi menangkap akibat pembelahan India yang menimbulkan kematian, penggusuran, keterenggutan, pemerkosaan, kehilangan rumah, serta kehilangan keluarga dan sanak saudaranya (Butalia, 2002). Penelitian lain dilakukan oleh Jaringan Kerja Budaya (JKB).
199
=== [PDF page 3] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248
Penelitian yang mencoba mengungkap keberagaman ingatan sosial para peselamat atas peristiwa G30S (Rossa dkk, 2004). Saskia Eleonora Wieringa, dengan mengambil topik sekitar peristiwa G30S dan fokus kajiannya tentang Gerwani. Mencoba mengungkap kebenaran tersembunyi di balik cerita-cerita tentang perbuatan seksual yang tidak senonoh dan kebejatan moral yang dilakukan para gerwani pada saat peristiwa G30S (Wieringa, 1999).
Penelitian lain tentang peselamat yang terkait dengan kajian tentang makna dilakukan oleh Teria Shantall. Penelitian Teria mengungkap pengalaman peselamat dalam sebuah tragedi politik, dengan subjek penelitian adalah para peselamat dalam tragedi Holocoust di Afrika Selatan (Shantall, 1999).
Kajian mendalam tentang makna dengan menggunakan pendekatan hermeneutika, dilakukan Utan Parlindungan. Sebuah penelitian yang mempertanyakan mengapa dan bagaimana genjer-genjer dijangkiti ambiguitas makna, yang di satu sisi diletakkan di aras terhormat kultural (folksong) sebagai media kritik terhadap penjajahan, dan di sisi lain berakhir secara dramatis sebagai lagu manifesto PKI hingga mengalami pelarangan Orde Baru (Parlindungan, 2007). Kajian tentang penjara Buru pernah dilakukan oleh Krisnadi (2000). Ia melakukan kajian terhadap tahanan politik di Pulau Buru pada tahun 1969-1979. Selain itu ada pula penuturan peselamat yang menguraikan ceritanya ketika tengah berada pada pengasingan. Demokrano (2006) misalnya mengisahkan kisahnya selama 11 tahun dalam penjara Orde Baru.
Dari kajian penelitian tersebut di atas menginspirasi untuk melakukan penelitian, khususnya terkait dengan tindakan negara terkait peristiwa G30S dari perspektif peselamat. Selama ini, yang sudah banyak terpublikasikan adalah tindakan negara atas peristiwa G30S dari perspektif negara itu sendiri. Dengan menggali interpretasi peselamat tentang tindakan negara atas peristiwa G30S, akan didapatkan keseimbangan interpretasi, sehingga akan muncul makna baru tentang tindakan negara peristiwa G30S, sebagai antitesis atas makna yang diproduksi negara selama ini, sehingga terbuka ruang dialog untuk memahami realitas tindakan negara atas peristiwa G30S. Melalui oral histories (sejarah lisan) secara spesifik, tulisan ini mencoba mengungkap tindakan negara terhadap peselamat terkait dengan peristiwa G30S dan bagaimana peselamat memaknai tindakan negara terhadap dirinya terkait dengan peristiwa G30S.
METODE PENELITIAN
Jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif dengan pendekatan interpretatif, yang digagas Gadamer yaitu fenomenologi hermeneutika. Dalam fenomenologi hermeneutika, makna suatu tindakan atau fenomena bukanlah sesuatu yang ada pada tindak itu sendiri, tetapi terbuka bagi adanya penafsiran baru sesuai dengan kreativitas penafsir (Gadamer, 2004). Sebuah fenomena yang sudah dilempar ke ruang publik sepenuhnya menjadi milik penafsir dengan berbagai interpretasinya (Raharjo, 2008). Dalam hal ini, interpretasi bukan hanya sebatas mereproduksi makna, tetapi juga memproduksi makna. Akhirnya makna yang diproduksi itu sendiri sangat terbuka dengan tafsir makna baru sesuai dengan perkembangan waktu dan zamannya.
Subjek yang perlu didengar, dimengerti, digali dan terus diungkap realitas di balik yang tampak, agar apa yang implisit menampakkan
200
=== [PDF page 4] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248 Tindakan Negara terkait Peristiwa G30S - Hamdan Tri Atmaja
dirinya menjadi eksplisit adalah peselamat yang pernah dipenjara di pulau Buru dan Plantungan atau pernah ditahan tetapi tidak sampai Plantungan dan pulau Buru. Berdasarkan penggalian data di lapangan, dapat dijaring tujuh peselamat sebagai subjek penelitian. Ketujuh peselamat tersebut pada masa lalu tergabung dalam organisasi sosial politik yang berbeda-beda seperti SB Tekstil, IPPI/Lekra, PKI/PR, PGTI dan CGMI, dan dua orang peselamat mengaku tidak pernah ikut dalam organisasi. Disamping itu tujuh peselamat yang terpilih memenuhi kriteria yang unik dan spesifik, seperti memiliki pengalaman khas, memiliki harapan-harapan sendiri, yang pada intinya berusaha menemukan kedalaman dari dalam dirinya sendiri terhadap diri masyarakat tertentu.
Secara garis besar, langkah-langkah analisis data dapat dirumuskan sebagai berikut. Pertama, menentukan subjek penelitian. Kedua, mengumpulkan data dengan melakukan wawancara mendalam sesuai dengan panduan wawancara. Ketiga, melakukan kategorisasi atau pengelompokan data. Keempat, setelah semua data terkumpul dan diurutkan secara kronologis, langkah berikutnya adalah mereduksi data atau menyusun narasi sejarah hidup pengalaman peselamat. Kelima, melakukan telaah dan pengungkapan keserbamaknaan pengalaman peselamat, atau konstruksi peselamat atas pengalamannya terkait dengan tindakan negara atas peristiwa G30S.
Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan wawancara mendalam. Dalam wawancara mendalam ini, peneliti berupaya menyelam ke dalam dunia psikologis dan sosial subjek penelitian. Jenis wawancara mendalam yang dipilih adalah wawancara sejarah hidup (life history interview), perlu dicatat di sini sejarah hidup yang dimaksud bukanlah otobiografi konvensional ataupun fiksi, meskipun narasi subjektif penulisnya mirip dengan narasi dan pandangan penulis dalam otobiografi. Sejarah hidup di sini lebih memperhatikan pengalaman subjek dan penafsirannya atas dunia dan pengalamannya. Artinya dengan sejarah hidup berarti menempatkan peran, dan hidup peselamat sebagaimana mereka melihatnya, bukan penafsiran orang lain.
HASIL DAN PEMBAHASAN
Peristiwa G30S dalam Perspektif Peselamat
Peselamat perempuan berpendidikan SD dan tidak memiliki latar belakang politik apapun, memaknai peristiwa G30S sebagai pembunuhan para jenderal oleh PKI, dengan imbasnya menghukum orang-orang yang tidak bersalah. Pemaknaan ini dibangun tidak didasarkan pada analisis kritis, tetapi hanya sebatas masuknya informasi tentang meninggalnya para jenderal oleh PKI. Ketidakmampuan peselamat mencerna informasi yang diperoleh mengenai peristiwa G30S, membenarkan bahwa terbunuhnya para jenderal memang dilakukan oleh PKI.
--- [page 5] ---
[Unreadable] menunjukkan adanya keberpihakan pada ideologi politik tertentu pada peselamat sesuai dengan keyakinan ideologi yang dianutnya. Ini dapat disadari, mengingat mereka para peselamat
Dari tabel tersebut dapat dijelaskan bahwa tahun penangkapan pada peselamat berbeda-beda. Empat orang peselamat ditangkap beberapa bulan setelah peristiwa G30S, sehingga masih
Tabel 1. Penangkapan dan Pemeriksaan Terhadap Peselamat
(Kolom: No. | Peselamat | Tahun Ditangkap | Tempat Penangkapan | Waktu Tangkap | Kekerasan Fisik | Pelecehan Seksual)
1 | Kustini | 1965 | Rumah | Siang | x | -
2 | Sunari | 1967 | Rumah | Malam | x | -
3 | Sariatun | 1965 | Perjalanan | Malam | x | x
4 | Sumito | 1967 | Rumah | Malam | x | -
5 | Suparno | 1965 | Sekolah | Siang | x | -
6 | Abdullah | 1969 | Rumah | Siang | x | -
7 | Wiratmo | 1965 | Rumah | Siang | x | -
202
=== [PDF page 6] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248 Tindakan Negara terkait Peristiwa G30S - Hamdan Tri Atmaja
di tahun 1965, dimana suhu politik masih cukup memanas. Tiga orang peselamat ditangkap setelah tahun 1965, setelah terjadi pergantian kekuasaan dari Sukarno ke Suharto. Waktu penangkapan terjadi pada siang dan malam hari, hampir seluruh peselamat mengalami penyiksaan fisik saat pemeriksaan, dan salah seorang peselamat mengalami pelecehan seksual pada saat pemeriksaan.
Peselamat perempuan yang tidak merasa menjadi anggota Gerwani, memaknai penangkapan terhadap dirinya sebagai tindakan tidak beralasan atau mengada-ada. Dengan menggunakan kata "Gerwani" maka semua aktivitas perempuan berhaluan kiri disebut dengan Gerwani. Kata "Gerwani" dilekatkan pada semua kaum perempuan yang ditangkap, sehingga semua perempuan yang ditangkap tuduhannya sama sebagai Gerwani. Padahal, dua peselamat yang dalam pengakuannya hanya menjadi anggota Serikat Buruh Tekstil dan Lekra tidak pernah merasa menjadi anggota Gerwani. Dalam pemeriksaan, peselamat terus dipojokkan dengan tuduhan sebagai anggota Gerwani yang pergi ke Lubang Buaya, membunuh, dan menyiksa para jenderal. Menjawab sejujurnya dengan mengatakan "bukan Gerwani", tidak berarti dibebaskan dari semua tuduhan, tetapi justru sebaliknya mendapat penyiksaan.
Penangkapan dan pemeriksaan terhadap orang-orang PKI atau mereka yang ada dalam ormas PKI, dimaknai pula sebagai politik kambing-hitam untuk melegitimasi kekuasaan. Kambing-hitam yang dimaksud di sini adalah PKI. Ini menunjukkan pembunuhan para jenderal di Jakarta merupakan perebutan antar elit kekuasaan, kemudian digeneralisasikan bahwa semua orang PKI atau mereka yang ada di Ormas PKI sebagai orang yang terlibat dan bertanggung jawab. Sebagai konsekuensi, orang-orang PKI atau mereka yang ada di ormasnya, ditangkap dan diperiksa. Padahal, tidak semua orang PKI atau yang ada di ormasnya mengetahui soal pembunuhan para jenderal.
Para peselamat yang memaknai penangkapan dan pemeriksaan sebagai politik kambing-hitam, dibangun oleh dua peselamat yang berlatar belakang sebagai pegawai. Sebagai pegawai negeri, sebenarnya mereka tidak terlibat dalam dunia politik, hanya secara kebetulan mereka bergabung dalam organisasi profesi seperti PGTI. Bahkan peselamat lain yang berstatus sebagai pegawai Jawatan Pertanian tidak pernah menjadi anggota PKI ataupun Ormas PKI, hanya secara kebetulan pernah ikut kursus Kader Calon PKI, tetapi mereka tetap ditangkap dan dibuang ke pulau Buru.
Penangkapan dan pemeriksaan oleh peselamat dimaknai juga sebagai bentuk kesewenang-wenangan terhadap orang-orang yang memiliki keterkaitan dengan PKI baik secara langsung ataupun tidak langsung dengan tujuan untuk menghancurkan paham komunis di Indonesia. Ketika penangkapan dan pemeriksaan dimaknai sebagai kesewenang-wenangan, maka semua orang yang bersentuhan dengan paham komunis, baik dalam bentuk aktivitas politik, budaya, ekonomi, maupun sosial, adalah orang-orang yang dianggap terlibat dalam peristiwa G30S. Mereka yang pernah bersentuhan dengan PKI dan ormasnya dalam pandangan negara adalah orang-orang yang berbahaya, yang dimungkinkan dapat menumbuhkan benih-benih paham komunis. Di samping itu, negara menganggapnya sebagai orang yang bersalah, yang pantas untuk mendapat hukuman. Kesewenang-wenangan itu ditunjukkan dengan tidak adanya parameter yang jelas dalam proses penangkapan. Satu-satunya parameter yang digunakan adalah keterkaitan seseorang dengan
203
=== [PDF page 7] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248
PKI, baik secara langsung ataupun tidak langsung.
Pemaknaan penangkapan dan pemeriksaan sebagai bentuk kesewenang-wenangan, dibangun oleh peselamat yang menjadi anggota PKI. Peselamat merasa tidak terlibat dan tidak bersalah atas pembunuhan para jenderal. Memang benar dirinya anggota PKI, tetapi walaupun anggota PKI tidak berarti tahu tentang skenario pembunuhan para jenderal. Peselamat meyakini kalau pembunuhan para jenderal hanya dilakukan oleh elit-elite politik PKI, bukan merupakan kebijakan partai. Maka sudah seharusnya elite politik yang dihukum, bukan semua orang PKI dihukum. Pemaknaan ini dibangun pula oleh Peselamat yang merasa tidak pernah menjadi anggota PKI dan tidak pernah terjun dalam politik praktis, bahwa penangkapan dan pemeriksaan yang menimpa dirinya merupakan tindakan kesewenang-wenangan.
Kehidupan Penjara dalam Pandangan Peselamat
Setelah dilakukan penangkapan, pemeriksaan, dan penahanan, langkah berikutnya adalah negara memenjarakan peselamat. Perjalanan menuju penjara secara permanen cukup panjang, dan masing-masing peselamat memiliki pengalaman yang berbeda-beda. Secara garis besar keberadaan peselamat dalam penjara dapat digambarkan pada tabel 2.
Berdasarkan pada sebaran data tersebut, enam peselamat digolongkan dalam klasifikasi B, dengan penjara terakhir untuk laki-laki pulau Buru, dan untuk wanita Plantungan, serta satu peselamat digolongkan dalam klasifikasi C dipenjarakan di LP. Aktivitas inti yang dilakukan untuk tiga peselamat laki-laki bertani, dua peselamat lainnya ditugasi untuk bidang administrasi. Untuk peselamat wanita aktivitas utama yang dilakukan membuat kerajinan, seperti menyulam, menjahit, membuat kristik dan sebagainya disamping aktivitas-aktivitas lainnya. Lamanya waktu di penjara bagi mereka yang dikirim ke Plantungan atau Pulau Buru rata-rata lebih dari sepuluh tahun, empat peselamat menjalani hidup di penjara di atas sepuluh tahun, dua peselamat sepuluh tahun, dan satu peselamat yang dipenjarakan LP, menjalani hidup di penjara selama dua tahun.
Kehidupan penjara dimaknai sebagai kerja paksa. Peselamat diposisikan sebagai sumber daya manusia, yang tenaganya dieksploitasi untuk kepentingan kerja tertentu. Ini artinya, penempatan tahanan politik PKI di Pulau Buru dalam kacamata peselamat bukanlah proyek rehabilitasi mental, tetapi sebagai proyek membuka Pulau Buru, untuk kepentingan ekonomi. Pemaknaan ini dibangun peselamat yang ditahan
Tabel 2. Keberadaan Peselamat dalam Penjara
(Kolom: No. | Peselamat | Gol. | Penjara Terakhir | Aktivitas | Lama di Penjara)
1 | Kustini | B | Plantungan | Membuat Kerajinan | 13 tahun
2 | Sunari | B | Buru | Bertani | 11 tahun
3 | Sariatun | B | Plantungan | Membuat Kerajinan | 14 tahun
4 | Sumito | B | Buru | Administrasi | 10 tahun
5 | Suparno | C | LP | Administrasi | 2 tahun
6 | Abdullah | B | Buru | Bertani | 10 tahun
7 | Wiratmo | B | Buru | Bertani | 13 tahun
204
=== [PDF page 8] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248 Tindakan Negara terkait Peristiwa G30S - Hamdan Tri Atmaja
karena melindungi orang-orang dari pengejaran petugas dan massa. Pemaknaan ini tidak jauh berbeda dengan yang dialami peselamat yang ditahan karena dirinya menjadi anggota PKI. Menurutnya, memang benar kehidupan di penjara seperti kerja paksa. Tahanan diperintahkan untuk kerja, kemudian diawasi secara ketat, dan tahanan merasakan hanya punya waktu longgar saat istirahat siang dan tidur. Pengalamannya di pulau Buru memperkuat argumentasinya, bahwa peselamat di pulau Buru bukanlah melakukan rehabilitasi mental, tetapi lebih tepat kerja paksa.
Peselamat juga memaknai kehidupan penjara sebagai pembuangan peselamat dengan tujuan menyingkirkan dari kehidupan masyarakat. Dalam perspektif ini, negara memposisikan orang-orang PKI menjadi orang yang memiliki kemungkinan dapat meracuni dan menyebarkan ideologi komunis di tengah-tengah masyarakat. Pemaknaan ini dikonstruksikan oleh peselamat yang kebetulan berlatar belakang pegawai negeri dan pernah ikut Kursus Kader PKI, dan peselamat yang pernah menjadi anggota CGMI. Semua atribut yang menempel pada diri peselamat, baik sebagai anggota PKI atau ormas PKI, menjadi keyakinan pada peselamat, bahwa dirinya memang harus dibuang ke Pulau Buru, dalam rangka membersihkan PKI sampai ke akar-akarnya.
Dalam perspektif peselamat perempuan, kehidupan di penjara dimaknai sebagai bentuk hukuman dengan menstigmatisasi dan mengisolasi kaum perempuan dari kehidupan masyarakat. Pada konteks ini, perempuan yang berhaluan komunis dibunuh secara sistematis jati diri dan karakternya. Stigmatisasi Gerwani yang berkonotasi negatif dilekatkan pada peselamat perempuan. Negara menganggap peselamat perempuan sebagai Gerwani yang berbahaya dan tidak bermoral, sehingga perlu disingkirkan dari kehidupan keluarga, seperti suami dan anak pada khususnya, serta kehidupan masyarakat pada umumnya.
SIMPULAN
Berdasarkan temuan dalam penelitian ini, dapat disimpulkan bahwa tindakan yang dilakukan negara terhadap peselamat adalah melakukan penangkapan, pemeriksaan, dan penahanan serta memenjarakan mereka ke pulau Buru (untuk peselamat laki-laki) dan Plantungan (untuk peselamat perempuan). Semua ini dilakukan negara dengan anggapan, bahwa mereka yang pernah bersentuhan dengan paham komunis terlibat dalam peristiwa G30S. Karena itu, negara melakukan penangkapan terhadap mereka yang pernah menjadi anggota ormas PKI dan mereka yang secara langsung menjadi anggota PKI.
Keberagaman makna tentang peristiwa G30S yang dibangun peselamat menunjukkan titik persamaan yang dirasakan oleh seluruh peselamat, bahwa peselamat merasa tidak menjadi bagian dalam peristiwa tersebut atau dengan kata lain peselamat tidak terlibat dalam peristiwa G30S. Baik peselamat yang menjadi anggota PKI, anggota ormas PKI, simpati pada figur Sukarno dan yang tidak berlatar belakang ideologi apapun tidak merasa dirinya terlibat dalam peristiwa G30S. Peristiwa G30S benar-benar persoalan para elite politik. Kalau memang benar PKI dianggap terlibat dalam peristiwa tersebut, itu secara resmi bukan kebijakan partai, tetapi kebijakan para elite politik PKI.
205
=== [PDF page 9] ===
Paramita Vol. 22, No. 2 - Juli 2012: 131—248
Berkaitan dengan keberagaman makna tentang penangkapan dan pemeriksaan menunjukkan adanya perspektif yang sama pada peselamat, bahwa semua tuduhan yang ditujukan pada peselamat tidak benar. Kalau dalam pemeriksaan peselamat harus mengakui semua tuduhan tersebut, hal itu disebabkan faktor keterpaksaan, karena peselamat merasa tidak mampu menahan siksaan demi siksaan. Sementara itu, keberagaman makna dalam kehidupan penjara, menunjukkan adanya pengalaman yang sama dari seluruh peselamat, bahwa kehidupan penjara merupakan kerja paksa dan upaya negara menjauhkan peselamat dari kehidupan masyarakat serta stigmatisasi terhadap peselamat sebagai tahanan politik.
[Daftar pustaka:]
Demokrano, A. Gumelar. 2006. Dari Kalong sampai Pulau Buru, 11 tahun dalam Sekapan, Penjara, Pembuangan, Dan Kerja Rodi. Yogyakarta: Pusat Sejarah dan Etika Politik.
Foucoult, Michel. 1997. Sex dan Kekuasaan: Sejarah Sexualitas. Penerjemah Rahayu S. Hidayat. Jakarta: Gramedia.
Gadamer, Hans-Georg. 2004. Kebenaran dan Metode. Pengantar Filsafat Hermeneutika. Penerjemah Ahmad Sahidah. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.
Krisnadi, G. 2000. Tahanan Politik Pulau Buru 1969-1979. Jakarta: LP3S.
Manafe, Aco. 2008. Teperpu, Mengungkap Pengkhianatan PKI Pada Tahun 1965 Dan Proses Hukum Bagi Para Pelakunya. Jakarta: PT Pustaka Sinar Harapan.
Notosusanto, Nugroho dan Saleh, Ismail. 1966. The Coup Attempt of the September 30 Movement in Indonesia. Jakarta: