Penggambaran Gerwani sebagai Kumpulan Pembunuh dan Setan (Stanley, 1999)
Cleaned OCR text (Good (0.934); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
=== [PDF page 1] ===
Edi Cahyono’s Experience: [ http://www.geocities.com/edicahy ] Penggambaran Gerwani Sebagai Kumpulan Pembunuh Dan Setan (Fitnah dan Fakta Penghancuran Organisasi Perempuan Terkemuka)
Stanley1
Melihat mangsanya datang, anggota PR dan Gerwani yang sudah diindoktrinasi dengan kebencian dan kedengkian berteriak-teriak histeris. Sambil menari-nari, mengelilingi para pahlawan revolusi itu, anggota-anggota Gerwani dan Pemuda Rakyat, BTI, SOBSI dan lain-lain menyanyikan lagu-lagu revolusioner ciptaan komponis-komponis Lekra, antara lain lagu-lagu “Ganyang Kabir”, “Ganyang 3 Setan Kota” ciptaan Subroto K Atmojo dan lagu pop yang sedang menjadi top hits pada waktu itu, “Genjer- Genjer”.
Untuk memanaskan suasana, banyak di antara anggota PR dan Gerwani itu bahkan menari … tanpa busana. Itulah apa yang mereka namakan “pesta harum bunga”. Pesta harum bunga seperti ini memang sudah beberapa malam mereka lakukan dalam rangka mengakhiri masa latihan. Pada saat-saat itu batas-batas moral dianggap tidak ada lagi. Hubungan seks secara liar di antara para anggota PR dan Gerwani memang sengaja dibiarkan oleh pimpinan latihan kemiliteran, untuk memberi semangat. Seorang dokter bersama dokter Ceropeboka telah memberikan suntikansuntikan yang diduga berisi obat perangsang.
Anggota-anggota PR, Gerwani dan anggota-anggota ormas PKI lainnya yang sudah kemasukan setan itu kemudian diperintahkan untuk menyiksa para tawanan tersebut, sebelum diselesaikan.
Nyonya Jamilah yang baru berumur 17 tahu itu mengisahkan bahwa mula-mula sukarelawan-sukarelawan memukuli para korbvan yang berteriak-teriak kesakitan. Kemudian disusul Dibuat untuk keperluan seminar sehari “Tragedi Nasional 1965” yang diadakan Masyarakat Sejarawan Indonesia pada 8 September 1999 di Gedung Dewan Riset Nasional, Kompleks Puspitek, Serpong.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 2] ===
sukarelawati-sukarelawati Gerwani dan PR beraksi. Mereka yang sudah kehilangan sifat-sifat kemanusiaannya itu menusuknusukkan pisau ke tubuh para korban. Bahkan para korban yang sudah tak berpakaian itu dipotong kemaluannya dengan silet dan dimasukkan ke mulut. Ada 100 orang lebih sukarelawati yang melakukan penyiksaan di luar batas kemanusiaan itu sebelum para korban diseret ke tepi sebuah sumur tua.
B erita yang dimuat Angkatan Bersenjata dan Berita Yudha yang kemudian dikutip berbagai suratkabar, dengan sejumlah tambahan seperti mata dicungkil dan lain-lain, tersebut betul-betul membuat pembaca mual, marah, sekaligus bergidik.2 Tak ada yang bisa membayangkan bahwa ada manusia yang bias berbuat kejam di luar batas kemanusian seperti itu. Banyak di antara mereka yang membayangkan para perempuan pelaku kekejaman itu bukan manusia. Mereka lebih mirip sebagai setan perempuan yang jahat, kuntilanak (sundel bolong). 3 Apalagi belakangan, ditambah dengan pemberitaan tentang meninggalnya Ade Irma Nasution akibat berondongan peluru para pembunuh yang menyasar pimpinan Angkatan Darat, Jendral AH Nasution.
Mayjen Suharto, menanggapi berita tersebut dengan menyatakan, “Jelaslah bagi kita yang menyaksikan dengan mata kepala, betapa kejamnya aniaya yang telah dilakukan oleh petualang-petualang biadab dari apa yang dinamakan Gerakan 30 September.”4
Kutipan ini “konon” dimuat oleh berbagai media massa untuk mengutuk Gerakan G30S. Kutipan ini di kemudian hari jadi mashyur lantaran banyak penulis mengutip ulang, termasuk penggambaran adegan dalam film “Pengkianatan G 30 S/PKI” yang disutradarai Arifin C. Nur. Secara detil. kutipan ini bisa dibaca kembali pada Sugiarso Suroyo, Siapa Menabur Angin Akan Menuai Badai, Penerbit Antar Kota, Jakarta, September 1989, hal. 219 dan 228 (edisi buku saku).
Istilah kuntilanak untuk menggambarkan “kekejaman” para penyiksa dalam kepala masyarakat oleh militer ini secara tepat digunakan Hersri dalam menerjemahkan salah satu paper Dr. Saskia E. Wieringa. Lihat: Saskia (1998).
Lihat: Berita Yudha, 5 Oktober 1965. Sebagai catatan, perlu saya kemukakan di sini, bahwa hingga kini tak semua orang bias mengakses dokumen media massa pada kurun 1964-1967. Untuk mengaksesnya perlu ijin khusus danpersetujuan dari aparat intelijen. Saya sendiri tak tahu apa alasan dasar dari kebijakan yang ganjil bagi dunia akademis ini.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 3] ===
Antara Fakta dan Fiksi
Yang jadi pertanyaan, betulkah cerita itu sebuah fakta? Apa bukan sekadar fiksi “ajaib” dari sebuah imajinasi yang hebat? Yang jelas, dari sisi jurnalistik, berita tersebut bukan hanya meragukan, tapi sulit untuk dipertanggungjawabkan.5 Sejumlah kalangan menyatakan cerita tersebut lebih merupakan sebuah fiksi yang sengaja dihadirkan untuk memberi nuansa teror, sekaligus melegalisasi terror yang lebih kejam terhadap mereka yang dituduh bertanggungjawab atas pembunuhan para “Pahlawan Revolusi”. Dalam hal ini, sejumlah kalangan mensinyalir, agen intelijen Amerika (CIA) terlibat.6 Kampanye atas kekejaman itu bukan saya dibuat atas dasar kebohongan dan cerita rekaan semata, tapi memang sengaja dirancang untuk menyulut kemarahan umum terhadap kaum
Secara jurnalistik berita tersebut bertentangan dengan prinsip cover both side, balancing of reporting dan dan prinsip dasar check and recheck. Narasumber berita tersebut hanya ada dua, yaitu pengakuan Gatut Sukrisno dan seorang perempuan bernama Jamilah. Keduanya berstatus “tersangka”, yang sebelumnya mengalami proses interograsi hebat. Sama sekali tak ada nuansa jurnalisme investigative yang dilakukan para wartawan untuk melacak kembali kebenaran atas “fakta” tersebut, kecuali sumber militer berdasar integrograsi.
Ada banyak bahan yang mengungkap keterlibatan intelijen AS dalam upaya penggulingan Sukarno. Di antaranya ditulis oleh para sejarawan terkemuka tentang Indonesia seperti George Turman Mc. Kahin dan Audrey Kahin (Subversion as Foreign Policy). Juga pengakuan mantan anggota CIA, B. Hugh Tovar, “The Indonesian Crisis of 1965-1966: A Retrospective” dalam International Journal of Intteligence and Counter-Intelligence Volume 7 No 3, Fall 1994. Yang paling mutakhir, tentu saya adalah disertasi Greg Poulgrain yang menyimpulkan bahwa pemegang skenario utama penjatuhan Sukarno adalah pihak Inggris.
Lihat Greg Poulgrain, The Genesis of Konfrontasi, Crawford House Publishing Pty Ltd, NSW, Australia, 1998. Namun, khusus menyangkut penyebaran fitnah terhadap PKI dan Gerwani bisa dilihat pada Peter Dale Scott, “The United States and the Overthrow of Sukarno, 1965-1967”, tesis pada University of California, 1984. Perlu juga dibaca Geoffry Robinson, “Some Arguments Concerning U.S.
Influence and Complicity In the Indonesian ‘Coup’ of October 1 1965", (paper).
Tentunya sama sekali tak boleh diabaikan adalah pengakuan A. Latief soal keterlibatan Suharto dalam pledoinya pada 1975. Dalam hal ini perlu juga dibaca sejumlah tulisan Prof. Wim. F. Wertheim, di antaranya adalah ceramahnya di Amsterdam pada 23 September 199o yang kemudian diterbitkan sebagai suplemen Arah No 1 Tahun 1980 dengan judul “Sejarah Tahun 65 Yang Tersembunyi”.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 4] ===
komunis dan sekaligus menyiapkan panggung pembunuhan besarbesaran dengan alasan “dendam rakyat”.7 Gelombang pembunuhan massal yang ‘konon” merupakan aksi balas dendam “rakyat” terhadap kelompok komunis yang terjadi pada 1965-1967 sendiri sebetulnya lebih merupakan sebuah hasil manipulasi kebenaran. Sebab, faktanya operasi ini dilakukan oleh pasukan elit Angkatan Darat yang melakukan gelombang “pergerakan” dari arah Jawa Barat ke Bali. Pasukan yang dipimpin langsung oleh Sarwo Edhi ini dalam melakukan operasinya dengan mengerahkan para pemuda setempat. Ada banyak kesaksian yang menceritakan bagaimana operasi pembersihan ini dilakukan secara brutal, tanpa mengindahkan hukum dan penghormatan hak asasi, dan lebih merupakan aksi balas dendam yang tak jelas juntrungannya.8
Fiksi soal kekejaman yang dijadikan fakta itu bertahan puluhan tahun lamanya dan dikutip berulang-ulang oleh para wartawan dan kalangan sejarawan.9 Fakta dan fiksi jelas dua hal yang berbeda.
Fakta asli sebetulnya bisa diungkap melalui publikasi hasil otopsi tim medis terhadap jenasah 6 jendral dan seorang perwira yang Peter Dale Scott, op cit. Barangkali perlu juga ditelusuri sebuah studi penting tentang operasi CIA di Indonesia yang pernah dilakukan McCehee. Lihat juga Ralp McGehee, “The CIA and the White Paper on Salvador” dalam The Nation, 11 April 1981.
Kesaksian atas peristiwa dahsyat ini bisa dilihat pada Clifford Geertz, After the Fact, Harvard University Press, 1995, atau Geoffry Robinson (1995), M.R. Siregar (1995), Robert Cribb (1990), Julie Southwood & Patrick Flanagan (1983), juga sebuah tulisan Su Hok Gie yang menggunakan nama samaran Dewa. Lihat:
Dewa, “Di Sekitar Peristiwa Pembunuhan Besar-Besaran di Bali”, Mahasiswa Indonesia, Edisi Minggu II dan III, Desember 1967. Lihat juga kesaksian salah satu anggota komisi pencari fakta, Ui Cu Tat dalam Pramudya Ananta Tur & Stanley Adi Prasetyo (ed.), Memoar Ui Cu Tat, Pembantu Presiden Sukarno, Penerbit Hasta Mitra, Jakarta, 1995. Buku terakhir ini penting karena ada bagian yang bercerita bahwa tuntutan sebagaimana yang dikemudian hari dikenal sebagai Tritura telah dimulai pada Desember 1965, jauh sebelum 11 Maret 1966 dan lebnih merupakan scenario yang didukung oleh Panca Tunggal.
Hanya harian Sinar Harapan pada 13 Desember 1965 yang menyangkal hal ini dan memuat hasil visum tim dokter secara lengkap, tapi tampaknya terjadi tekanan hingga setelah itu harian ini kembali memberitakan versi yang “baik dan benar”.
Soal tanggal di sini saya tak bisa merechecknya, karena tak memiliki akses terhadap dokumentasi media massa yang masih berstatus “tertutup”. Andalan saya hanya keterangan dalam desertasi Sakia. Lihat: Saskia (1999).
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 5] ===
dikubur di Lubang Buaya di kawasan Halim. Namun fakta ini sepertinya secara sengaja disembunyikan rapat-rapat. Baru pada 1987, seorang indolog dari Universitas Cornell, Ben Anderson, mengungkapnya dan menimbulkan kehebohan.10 Dari hasil visum tim dokter yang diketuai Brigjen TNI dr Rubiono Kertapati didapati bahwa cerita soal penyayatan kelamin oleh anggota Gerwani merupakan isapan jempol belaka. Kelamin semua jenasah utuh. Malah ada sebuah jenasah yang kelaminnya belum disunat. Diduga karena almarhum memang beragama Kristen.
Tentang bola mata yang copot, hal itu dikarenakan saat dicemplungkan ke sumur posisinya adalah kepala terlebih dulu.
Tim dokter yang memeriksa keadaan jenasah merasa ketakutan dfengan adanya tekanan lewat pemberitaan tentang penyayatan penis para jendral yang sama sekali tak terbukti. Mereka mengaku menemui kesulitan dengan penyusunan laporan akhir otopsi, sebab berita yang dilansir media massa dan kemudian berkembang di masyarakat sudah terlanjur misleading.11 Fitnah Gerwani dan Lubang Buaya Menurut Sakia, yang menurut saya berhasil melacak dan merekonstruksi seluruh bangunan fiksi atas kekejaman perempuan anggota Gerwani di Lubang Buaya, ada unsur ideologis, yaitu terjadinya sebuah amuk ideologis. Di mana para perempuan pelakunya adalah kelompok komunis yang murtad. Mereka, yang konon, dengan bertelanjang menari-nari dan memotong-motong zakar para jendral itu sudah keluar dari model stereotip perempuan Indonesia yang normal, “yang baik dan benar”.
Namun demikian, dalam penelusurannya, Saskia menyimpulkan bahwa sebagai organisasi Gerwani tidak terlibat dalam putsch.
Memang benar pada saat-saat itu Gerwani sudah sangat dekat
10
Lihat, Ben Anderson, “How Did the General Die” dalam Indonesia No 43, April 1987. Lihat juga hasil lengkap hasil otopsi (visum et repertum) pada Lampiran IV buku M.R. Siregar (1995).
11
Tentang detil proses otopsi dan ketakutan yang dialami tim dokter bisa dibaca pada pengakuan mantan anggota tim dokter, Prof. Dr. Arief Budianto (dh. Liem Yu Thay) dalam wawancaranya dengan majalah D&R. Lihat: “Meluruskan Sejarah Penyiksaan Pahlawan Revolusi” dalam D&R, 3 Oktober 1998.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 6] ===
dengan PKI, 12 hingga ada garis komando langsung antara pimpinan PKI dan perseorangan anggota Gerwani, khususnya melalui para anggota PKI di dalam Gerwani. Keberadaan sejumlah anggota Gerwani di Kompleks Halim (Lubang Buaya) saat itu lebih dikarenakan adanya latihah para sukarelawan untuk mempersiapkan peningkatan konfrontasi dengan negara “boneka”
Inggris, Malaysia. Mereka adalah bagian dari 21 juta sukarelawan terdaftar di seluruh Indonesia yang memenuhi “panggilan Dwikora” sebagaimana dikeluarkan Presiden Sukarno.13 Sebagian dari mereka lebih banyak mengurusi dapur umum.
Gerwani sendiri mempunyai tempat latihan di Cipete Jakarta Selatan. Di sana sekitar 50 pemudi dilatih, dalam rangka program pendidikan resmi yang diselenggarakan Front Nasional, yaitu Pendidikan Kader Revolusi (Pekarev). Juga sejumlah organisasi perempuan lain mempunyai tempat latihan masing-masing.
Tempat latihan Lubang Buaya itu sendiri baru diadakan mulai musim kemarau 1965. Mayor Udara Suyono memberikan latihan bagi pemuda-pemudi sukarelawan kampanye Malaysia itu.
Sekurang-kurangnya mulai Juli 1965 para anggota PKI, Pemuda Rakyat, SOBSI, BTI, Gerwani telah mengikuti latihan di sana secara bergelombang. Tempat latihan tersebut tidak hanya digunakan untuk sukarelawan dari keluarga Komunis, karena sesudah 1 Oktober juga para pemuda NU diharapkan akan datang dan mengikuti latihan di tempat itu.14
12
Kedekatan “institusional” antara Gerwani dengan PKI harus dipahami dalam konteks politik di tahun 1960-an. Terutama setelah pemerintah pada akhir 1964 mengeluarkan instruksi agar semua organisasi massa menggabungkan diri dengan salah satu partai politik. Untuk memenuhi imbauan Presiden Sukarno itu, dalam rencana kongres yang bakal digelar pada Desember 1965, pimpinan Gerwani berencana akan memutuskan secara resmi bergabung dengan PKI. Lihat Saskia (1999) Bab 9 dan juga Wim F. Wertheim (1997).
13
Selama di Lubang Buaya, selain mendapat latihan fisik dan baris-berbaris, para sukarelawan diindoktrinasi dengan sejumlah sejumlah “matakuliah” antara lain “Panca Azimat Revolusi”, “Etik Moralita dan Mentalita Prajurit” dan “Swabuana Paca yang saatg itu merupakan “doktrin” resmi negara dan Angkatan Udara. Penjelasan tentang situasi di kawasan Halim pada sekitar 30 September 1965 yang sesungguhnya dan tak seseram sebagaimana yang digambarkan dalam “sejarah resmi” bisa dibaca pada memoar mantan komandan Halim, Wisnu Jayengminardo, Kesaksian (Memoir Seorang Kelana Angkasa), Penerbit Angkasa, Bandung, 1997.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 7] ===
Selain sejumlah perempuan anggota Gerwani, juga perempuan dan pemudi dari organisasi lain berada di Halim. Mereka itu para sukarelawati dan para istri prajurit dari Divisi Cakrabirawa, ada yang anggota biasa Gerwani dan ada pula yang bukan anggota sama sekali. Sedangkan sukarelawati tersebut terdiri dari para pemudi remaja berumur 13 sampai 16 tahun, yang telah dilatih kemiliteran dalam rangka kampanye Dwikora.
Pada malam 30 September sekitar 70 perempuan, sebagian besar pemudi-pemudi dari Pemuda Rakyat, selebihnya dari SOBSI dan BTI serta beberapa lagi dari Gerwani, termasuk juga beberapa istri prajurit Cakrabirawa dikumpulkan di Lubang Buaya. Apa yang mereka lakukan?
Berikut saya kutip pengakuan salah seorang istri Cakrabirawa yang pernah hadir di sana sebagaimana diucapkan pada Saskia, Beberapa hari sebelum kup saya dijemput untuk melakukan pekerjaan ekstra di Halim. Ia tidak berterus terang, apa pekerjaan itu. Tapi seperti biasa, saya mengikutinya saya. Begitu sampai di sana, saya diminta menjahit pita warna-warni pada pakaianpakaian seragam, sebagai pembeda antara kawan dan lawan.
Pekerjaan itu banyak sekali, sehingga kami mengerjakannya sampai larut malam. Karena itu pada pagi hari 1 Oktober saya tidur nyenyak sekali, sampai kami terbangun oleh bunyi tembakan-tembakan. Di luar masih gelap, dan kami semua menjadi ketakutan. Kami lari ke lapangan, di sana kami melihat beberapa tentara menggiring jendral-jendral culikan mereka.
Suasananya ramai sekali. Karena mereka terus-menerus meneriakkan “kabir” pada jendral-jendral itu. Kata yang biasa saya sebenarnya, karena kami sudah selalu mengucapkannya.
Jendral-jendral itu dipukuli, dan akhirnya mereka ditembak mati, dan dimasukkan ke dalam sumur. Begitu marah para tentara itu, sehingga peluru dihamburkan ke tubuh korban, walau pun mereka sudah mati. Kemudian, dengan ketakutan, baru kami pun pergi ke sumur.
Belakangan mereka menyiarkan cerita-cerita tentang tari-tarian, perbuatan seks yang tidak normal, memotong kemaluan.
Semuanya itu sama sekali bohong. Jendral-jendral itu sangat ketakutan, sehingga berdiri saya mereka tidak bisa! Tapi pemudi-
14
Lihat Bagian 11.1.5. Saskia (1999) hal 498.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 8] ===
pemudi sukarelawan itu juga ketakutan. Mereka bersembunyi berdesak-desakan di sudut!
Saya tidak tahu harus berbuat apa, sesudah tentara-tentara itu pergi. Akhirnya beberapa di antara kami pergi ke kantor Gerwani, ada lagi yang lari pulang dan menyembunyikan seragam mereka. Saya juga melarikan diri, tapi beberapa minggu kemudian tertangkap, dan disiksa luar biasa. Lima kali mereka terpaksa membawa saya ke rumah sakit. Dua tahun sesudah itu sebagian tubuh saya menjadi lumpuh. Tapi saya tidak membuka mulut untuk mereka. Tidak satu nama pun saya sebut di depan mereka. Sesudah mereka menyiksa saya yang pertama kali, saya minta mereka lipstik, bedak dan sikat gigi. Kalau mereka tidak memberinya, saya bilang, saya tidak mau melihat mereka lagi. Beberapa wanita dan gadis-gadis tahanan itu mengatakan pengakuan apa saya yang mereka minta. Saya tidak.
Itu sebabnya saya tidak pernah dibawa ke pengadilan. Karena kalau dibawa ke pengadilan, semua kebohongan mereka akan terbantah. Tapi gadis-gadis itu memang disiksa luar biasa. Empat di antaranya mereka perkosa. Semuanya disabeti, botol dimasukkan ke liang vagina dengan kekerasan. Umumnya kami ditahan empat belas tahun tanpa pernah diadili.
Pengakuan menarik lainnya diberikan seorang mantan anggota Gerwani pada Saskia,
Pertama-tama kami mendengar bahwa telah terjadi sesuatu, melalui siaran radio kira-kira jam 11 pagi tanggal 1 Oktober.
Saya menjadi sangat takut. Kami diharuskan tinggal menjaga kantor, tapi di jalan banyak tentara lalu lalang. Dan dari kejauhan terdengar suara-suara tembakan. Saya bermaksud pergi dari kantor. Lama-lama kami mendengar sesuatu yang mengerikan telah terjadi. Tapi baru mulai tanggal 10 Oktober pemerintah melakukan pembersihan terhadap kami.
Gerombolan pemuda merampok rumah-rumah, menggelandang orang-orang Gerwani dan PKI dari rumah mereka, menyiksa mereka, dan membunuhi mereka. Melalui radio kisah-kisah mengerikan tentang penyiksaan seksual [terhadap jendral-jendral] disiar-siarkan. Koran-koran sarat dengan fitnah, khususnya koran Angkatan Darat Berita Yudha, Api dan koran-koran Islam. Bagaimana mungkin cerita-cerita ini dianggap benar?
Sebelum masuk Gerwani saya belajar hukum.... Ketika teman-
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 9] ===
teman saya dulu, sekarang sudah menjadi ahli-ahli hukum terkenal, mengunjungi saya di penjara, mereka bertanya:
“Bagaimana sebenarnya yang terjadi dengan pemudi-pemudi dan para jendral itu di Lubang Buaya?” Saya menjawab: “Kalian kan pernah belajar hukum? Kalau sekiranya mereka dapat membuktikannya, apa kalian pikir mereka akan menyia-nyiakan kesempatan untuk membawa gadis-gadis itu ke muka pengadilan? Alangkah bagusnya propaganda mereka itu!”
Kebingungan memang melanda orang-orang yang dengan cepat sekali disudutkan sebagai “orang yang terlibat” atau “pelaku”
Peristiwa Lubang Buaya. Mereka yang pada tahun-tahun 1965 merasa dekat dengan ide Manipol Presiden Sukarno tiba-tiba menjumpai dirinya sebagai seorang komunis “sejati”. Sebuah predikat yang sekonyong-konyong berarti sebagai manusia anti- Tuhan, berbahaya, pembunuh, keji dan sebaginya. Banyak di antara mereka yang membayangkan bakal terulangnya kembali sejarah “pemutar-balikan” fakta Peristiwa Madiun 1948.15 Sementara itu, pihak Angkatan Darat dengan bersusah payah akhirnya berhasil menyusun seluruh mozaik fiksi yang hendak dibangun. Saksi-saksi “dikutip”, dan foto-foto dicetak di korankoran. Siaran tv dan radio sengaja disusun guna mengungkapkan kengerian yang konon terjadi di Lubang Buaya. Namun, para saksi mata menyatakan semuanya itu adalah hasil rekayasa.
Seorang sukarelawati yang hadir di Lubang Buaya bercerita, “Ketika itu umur saya enam belas tahun, dan saya anggota Pemuda Rakyat.
Saya pernah ikut latihan di Cipete, dan berkali-kali mengikuti latihan Dwikora. Sehingga waktu diminta untuk ikut ke Lubang Buaya, tentu saya saya berangkat. Saya melihat bagaimana tentaratentara itu membunuh jendral-jendral, dan kemudian saya lari pulang. Pagi-pagi jam sembilan saya ditangkap, dan ditahan dua minggu. Saya dipukuli dan diinterogasi. Mereka memaksa kami membuka pakaian, dan menari-nari telanjang di depan mereka, sementara yang lain mengambil foto kami. Lalu foto-foto itu disiarkan. Tak lama kemudian saya ditangkap lagi, dan dilepas lagi. Seluruhnya saya pernah lima kali ditangkap dan dilepas, sebelum akhirnya mereka putuskan untuk memenjarakan saya.
Itu waktu permulaan November 1965. Dan saya dilepas bulan 15
Lihat: Sulami (1999).
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 10] ===
Desember 1982.”16
Seperti halnya sukarelawati lainnya, gadis tersebut disiksa luar biasa selama di penjara Bukit Duri bersama-sama dengan gadis-gadis sesamanya. Sejumlah anggota Gerwani yang sudah lebih tua berusaha melindungi anak-anak itu. Tapi akibatnya, mereka lalu dipindah ke tempat lain, di sana diinterogasi dan dikembalikan ke Bukit Duri sesudah dipukuli dan luka-luka memar.17 Beberapa orang yang juga mempunyai kesaksian tentang para gadis tahanan yang ditelanjangi, diambil potret mereka, dan kemudian disiarkan seakan-akan diambil di Lubang Buaya. Tapi bukan begitu saya cara mereka menyusun dan menyiarkan kabar bohong.
Berbagai cerita lain disiarkan, sejumlah kesaksian lain pun dipalsukan. Hanya sesudah tahanan-tahanan Gerwani itu dibebaskan, mereka yang masih hidup bisa mengumpulkan berbagai cerita yang didengar dari sesama perempuan tahanan.
Dari semuanya itu bisa diketahui, bagaimana pihak militer menyusun “kesaksian” yang mereka gunakan untuk mendukung kampanye teror mereka.
Cerita fiksi kekejaman Gerwani kian lengkap ketika pihak militer mendengar ada 3 perempuan dewasa ikut di Lubang Buaya, yaitu Saina, Emmy dan Atikah. Agen intelijen dan militer segera melakukan pengejaran. Kebetulan di kawasan Halim, sebagaimana umumnya pangkalan militer, ada banyak tempat pelacuran. Di tempat tersebut, ada dua orang yang bernama Saina dan Emmy.
Dua perempuan ini ditangkap dan disiksa hebat. Para pelacur ini tidak segera dibebaskan. Sementara itu Atikah pun tidak pernah tertangkap, ia mengganti namanya dengan Jamilah. Tapi Angkatan Darat tahu, Atikah alias Jamilah ini berasal dari daerah Senen.
Pengejaran intensif mulai dilakukan di sana, sampai mereka berhasil menangkap dua perempuan, seorang Atikah dan seorang Jamilah.
Keduanya disiksa hebat. “Jamilah”, “Saina”, dan “Emmy” ternyata menjadi sangat berjasa buat tentara dalam membangun plot fiksi kekejaman anggota Gerwani.
16
Sejumlah pengakuan yang saya cuplik di sini saya ambil dari hasil wawancara Saskia dengan para korban dan saksi mata yang berhasil ditemuinya. Lihat Saskia (1999) hal 506.
17
Lihat Saskia (1999) hal 507. Juga memoar Carmel Budiarjo (1996).
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 11] ===
Pelacur Emmy dibebaskan dari blok tahanan kriminil Bukit Duri pada Agustus 1965. Hukuman itu sendiri dijalaninya atas dasar tuduhan melacur. Sesudah dibebaskan ia segera kembali ke pekerjaannya di Halim. Pada Oktober 1965 ia kembali lagi dimasukkan ke Bukit Duri, tetapi kali ini di blok tahanan politik.
Ia buta huruf dan belum pernah mendengar apa pun tentang Gerwani. Ia disiksa hebat. Tapi akhirnya kepadanya dijanjikan akan dibebaskan dan diberi uang sebanyak satu juta dua ratus ribu rupiah, yang baginya terdengar mustahil, jika ia mau menandatangani sebuah surat pernyataan. Ia tidak tahu tentang apa pernyataaan itu, tetapi ia merasa lega karena penyiksaan berhenti, dan surat itu pun ditandatanganinya.
Ternyata surat itu berupa pernyataan, bahwa dirinya sebagai Ketua Gerwani cabang Jakarta dan telah ikut ambil bagian dalam penyiksaan kelamin terhadap para jendral di Lubang Buaya. Mereka memberinya uang dua ratus rupiah, dan sisanya konon akan mereka bayar pada saatnya di kemudian hari. Sebanyak dua juta rupiah uang itu, masih mereka utang kepadanya. Ia baru dibebaskan pada 1979. Di penjara ia diajar membaca dan menulis oleh para tahanan Gerwani, dan juga diberi penjelasan tentang Gerwani.18
Fakta penyiksaan dalam rangka mengangun “fiksi” kekejaman itu, menurut sejumlah kalangan, dilakukan dengan cara yang tak kalah kejamnya. Gagang pecut ditusuk-tusukkan ke dalam lubang vagina perempuan yang dipaksa mengaku dirinya sebagai anggota Gerwani yang kejam. Bahkan tali pengikat kerbau diikatkan di lehernya. Ia kemudian ditarik berjalan telanjang di depan para tahanan laki-laki. Sorang narasumber menceritakan tentang tahanan muda-mudi yang dipaksa bersetubuh, sementara itu arus listrik disengatkan ke alat kelamin mereka.19 Pola Kampanye Kekejaman Gerwani Petunjuk pertama tentang cara-cara pemanipulasian dengan baik dan tajam diungkap Saskia.20 akan dimanipulasikannya pedalaman 18
Lihat wawancara detil Saskia dengan sejumlah korban dalam Saskia (1999).
19
Lihat Saskia (1999) hal 508.
20
Op cit, hal 516.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 12] ===
iman keislaman orang Jawa, muncul pada 11 Oktober melalui sebuah artikel pendek dalam AB yang diawali dengan kata-kata “hantu-hantu di siang bolong”. Kata yang dipakai untuk menyebut hantu itu ialah kuntilanak, roh perempuan yang mati pada saat persalinan, dan menjelma sebagai perempuan cantik yang berlubang pada punggungnya. Ruh yang sangat menakutkan ini bergentayangan pada malam hari.
Artikel Angkatan Bersenjata itu menuliskan, “seperti diberitakan, bahwa orang-orang kalap (yaitu kerasukan ruh jahat) dari Pemuda Rakyat dan Gerwani, organisasi-organisasi payung PKI-Aidit, dengan giat melakukan perbuatan-perbuatan teror. Perempuanperempuan tak dikenal mendatangi rumah-rumah para Pahlawan kita, dengan memakai mukena seakan-akan mereka orang-orang Muslim. Gerak-gerik mereka menimbulkan kecurigaan, karena jelas mereka itu orang-orang Gerwani. Untungnya rencana jahat mereka itu telah terbongkar, sebelum sempat melakukan perbuatan jahat terhadap keluarga para Pahlawan Revolusi. Kita harus waspada.”21
Tak kalah sadisnya, “cerita” tentang Letnan Tendean diungkap Angkatan Bersenjata dengan lebih gila lagi. “… cerita ini membuktikan tentang kebinatangan Gestapu... Sesudah tertangkap ia disiksa dengan sangat kejam, karena para penculik itu mengira ia Jendral Nasution. Ia kemudian diserahkan kepada sukarelawan-sukarelawan Gerwani. lalu dengan tangan dan kaki terikat, Tendean menjadi permainan cabul setan-setan perempuan Gerwani, yang perbuatan mereka merendahkan martabat wanita Indonesia.”
Koran yang tak kalah “hebatnya” yang perlu disebut adalah Api Pancasila (kerap disebut Api saya). Koran ini mengobarkan api kebencian ke masyarakat dengan cara melemparkan kebingungan.
“Bagaimana kita harus menceritakan pada anak-anak perempuan kita?” tanya Api, khususnya sesudah memberitakan “cerita” yang sama tersebut di atas.22 Sehari sebelumnya, Api juga menyiarkan 21
Angkatan Bersenjata, 11/10/65. Catatan: kutipan Koran yang saya gunakan beserta identifikasi tanggal penerbitannya yang saya gunakan di sdini sepenuhnya saya ambil dari desertasi Saskia. Bukan tak mungkin, bila akses informasi dibuka oleh pihak Perpustakaan Nasional, eksplorasi terhadap wacana aksi kampenye ini bias lebih kaya. Lihat: Saskia (1999) hal 517.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 13] ===
tuntutan Aisyah tentang pelarangan Gerwani, karena keterlibatannya dalam Gestapu yang mengakibatkan “ternodainya martabat wanita Indonesia”.
Angkatan Bersenjata menambah bobot fiksi menyeramkan tentang Gerwani dengan menyatakan bahwa “sukarelawan-sukarelawan Gerwani telah bermain-main dengan para jendral, dengan menggosok-gosokkan kemaluan mereka ke kemaluan sendiri”.23 Berita Yudha Minggu tanggal yang sama memberitakan bahwa tubuh-tubuh para jendral itu telah dirusak: “mata dicungkil, dan sementara itu ada yang dipotong kemaluan mereka.24 Koran lain juga membuat kampanye yang sama. Dikabarkan bahwa Dewan Gereja Indonesia (DGI) menyatakan perasaan kesedihannya yang mendalam, karena “sungguh hampir tidak bisa dipercaya, bahwa orang-orang tertentu di negara kita yang ber-Pancasila bisa melakukan perbuatan-perbuatan, seperti perkosaan, yang di luar batas-batas kemanusiaan”.25 Harian Duta Masyarakat milik NU lain lagi. Harian ini memuat sebuah karangan pendek berjudul “Gerwani Bermoral Bejat”, yang mengulangi tuduhan AB, yaitu bahwa orang-orang Gerwani bermain-main kemaluan para jendral, sambil memperlihatkan kemaluan mereka sendiri. “... Bahkan, menurut sumber yang dapat dipercaya, orang-orang Gerwani menari-nari telanjang di depan korban-korban mereka, tingkah laku mereka mengingatkan kita pada upacara kanibalisme yang dilakukan suku-suku primitif berabad-abad yang lalu. Marilah kita serahkan pada kaum wanita untuk mengadili moral kewanitaan orang-orang Gerwani, yang bermoral bejat lebih buruk dari binatang,” tulis Duta Masyarakat.26 Semua pemberitaan itu sepertinya memang dibuat untuk menyiapkan sebuah aksi balas dendam yang masif. Pada 12 Oktober semua kantor Gerwani dibakar para demonstran sambil meneriakkan “bubarkan PKI!” dan “hidup Bung Karno!”
22
Api, 12/10/65. Op cit.
23
Angkatan Bersenjata, 11/10/65. Op cit.
24
Berita Yudha Minggu, 11/10/65. Op cit.
25
25. Sinar Harapan, 9/10/65. Op cit.
26
Duta Masyarakat, 12/10/65. Op cit, hal. 518.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 14] ===
Belakangan Angkatan Bersenjata memberitakan, bahwa dari penggeledahan di semua kantor Gerwani diperoleh sejumlah dokumen Gerwani, yang “membuktikan” bahwa Gerwani telah merencanakan untuk “melakukan tindakan teror menyabot perekonomian, perdagangan dan produksi”.27 Sebagai hasil pencarian “bukti” tentang kekejaman dan kebejatan moral, serta perbuatan-perbuatan tak kenal peri kemanusiaan yang mereka nyatakan itu, Angkatan Darat memperlihatkan sebuah peti berisi enam puluh clurit, yang dikatakannya sebagai kepunyaan Pemuda Rakyat. Dikatakan, berdasar pengakuan seorang tersangka (yang tentunya didapat dari hasil penyiksaan), bahwa clurit tersebut akan digunakan untuk mencungkili mata “mereka yang harus dibunuh”.
Foto dan berita seperti itu dikuatkannya lagi berbagai bentuk jurnalisme, misalnya sebuah kartun politik dalam Angkatan Bersenjata yang menyampaikan “suara rakyat” dengan menuliskan antara lain, “Siapa akan mengira bahwa latihan-latihan di Lubang Buaya itu akan menghasilkan buaya-buaya dan bukan Srikandi- Srikandi sejati, yang akan berjuang bahu membahu dengan kaum laki-laki untuk Revolusi kita?... Pemudi-pemudi kita dewasa ini harus diajar agar menjadi revolusioner yang cakap, berani, beradab dan rendah hati dan selalu menjaga sopan-santun istimewa kewanitaan mereka.”28 (AB 16 Oktober 1965)
Nada kampanye menjadi semakin garang. Gerwani harus dibubarkan, dan “penjahat-penjahatnya” digantung di depan umum! “Mereka itu pelacur!” Tercatat ada empat semboyan pokok dipakai dalam kampanye saat itu: “Ganyang PKI!”, “Gantung Aidit!”, “Aidit Setan Dajal!”, dan “Gerwani Lonte!”
Hujatan atas “pri-kebinatangan” Gerwani kian lengkap ketika janda salah seorang jendral yang terbunuh mengatakan, “Tidakkah Gerwani telah mengkhianati keluarga, bangsa, rakyat Indonesia dan Revolusi Indonesia?”29
27
Angkatan Bersenjata, 14/10/65. Op cit.
28
Angkatan Bersenjata, 16/10/65. Op cit, hal 519.
29
Angkatan Bersenjata, 28/10/65. Op cit.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 15] ===
Yang lebih hebat lagi adalah berita fiksi yang dijadikan fakta.
Misalnya, di Karang Asem di Jawa Tengah, sumber-sumber ABRI melaporkan 97 orang telah dibunuh orang Komunis. “Menurut sebuah keterangan yang disebarkan kepada Rakyat Karang Asem, dengan bantuan Pemuda Rakyat dan Gerwani para pengacau PKI menyerukan kata-kata suci “Allahu Akbar”, lalu melempar debu ke mata penduduk desa. Tapi cara-cara licik dan primitif ini akhirnya terbuka kedoknya, karena gerombolan PKI itu menggunakan cara-cara yang sangat mudah dikenali: mereka tidak berpakaian selembar pun.”30 Tak ayal, akibat semua fiksi yang difaktakan itu kemudian terjadilah aksi balas dendam. Aksi pembersihan dalam arti sebenarnya yang disertai “upacara pencucian” kemudian dilakukan masyarakat dengan dukungan penuh pasukan pimpinan Sarwo Edhie.
Kebanyakan dari mereka di ambil oleh barisan pemuda pada malam hari. Mereka dibawa dengan kedua jempol mereka terikat ke belakang. Dengan iringan obor, mereka digiring ke pinggir sungai dan dieksekusi secara bergantian oleh angggota sejumlah ormas pemuda yang telah menunggu di tempat itu. Banyak di antara mayat mereka ditemukan penduduk dalam keadaan mengambang pada keesokan harinya. Celakanya lagi, foto-foto para korban yang kemudian diedarkan pihak Angkatan Darat itu sengaja disebut sebagai foto “para korban” keganasan PKI.
Fakta Atas Pengakuan Fiktif31 Dalam bulan November berbagai koran memberitakan konperensi pers pertama, di mana para tahanan “memberikan kesaksian”
tentang pengalaman mereka. Harian Angkatan Bersenjata 3 November 1965 memuat potret dua gadis remaja yang tampak ketakutan, dengan pernyataan seorang anggota Pemuda Rakyat laki-laki yang menyebut bahwa ia melihat “tiga puluh orang Gerwani berteriak-teriak, menyiksa, dan bermain-main dengan Jendral Yani yang sudah dalam keadaan pingsan”.
Hari berikutnya Berita Yudha memuat sebuah cerita tentang
30
Sinar Harapan, 2/11/65. Op cit.
31
Khusus bagian ini, saya ambil sepenuhnya dari desertasi Saskia E. Wieringa.
Lihat: Saskia (1999), hal 521.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 16] ===
sejumlah anggota Gerwani yang cantik, yang mendapat perintah untuk menjual diri. Berita itu mengatakan: “Dokumen-dokumen membuktikan adanya gerombolan “Kucing Hitam” yang mendapat tugas membakar rumah orang-orang non-Komunis, juga hutanhutan, dan merusak berbagai instalasi vital. Bekerja sama dengan mereka adalah gerombolan yang disebut “Kancing Hitam”, yang terdiri dari orang-orang Gerwani berparas cantik yang telah melacurkan diri dan mendekati pemimpin-pemimpin partai lain untuk membujuk mereka agar mendukung program PKI”.32 Tiga hari kemudian koran yang sama melukiskan tokoh baru “Pak Harto” (Jendral Suharto) sebagai orang yang sederhana, berbudi, yang hobinya memancing dan berburu.33 Semua koran menyiarkan sebuah “pengakuan jujur” dari seorang perempuan lima belas tahun, hamil tiga bulan, bernama Jamilah, yang bernama julukan “Srikandi Lubang Buaya”. Diberitakan bahwa baik dirinya maupun suaminya anggota Pemuda Rakyat Tanjung Priok. Pada tanggal 29 September ia dijemput salah seorang pimpinan PKI untuk mengikuti latihan di Cililitan.
Hari itu dan hari berikutnya kami latihan... dan kira-kira jam tiga malam kami dibangunkan... diperintahkan untuk mengganyang kabir dan Nekolim. Ada sekitar 500 orang berkumpul di sana, 100 orang di antaranya wanita. Kepada anggota-anggota Gerwani, termasuk Jamilah, dibagikan pisaupisau lipat dan silet... Dari jauh kami melihat seseorang gemuk pendek datang; ia memakai piama berpotongan Ganefo. Kedua tangannya diikat dengan kain merah. Juga matanya ditutup dengan kain merah. Dan Ton pimpinan kami memberi perintah supaya kami memukul orang itu, lalu mulailah dengan pisau lipat itu mereka menikam kemaluannya. Yang pertama kali, menurut penglihatan kami, memukul dan menikam kemaluan orang itu ketua Gerwani Tanjung Priok yang bernama S., dan Ny. Sas. Lalu teman-temannya mengikuti... kemudian kami juga ikut menyiksa orang itu. Kami semuanya 100 orang yang melakukan perbuatan itu... Lalu orang itu diseret ke sebuah sumur oleh seorang laki-laki berseragam... tapi ia masih belum mati. Lalu seorang berseragam memerintahkan Gerwani supaya meneruskan. Dan orang-orang Gerwani meneruskan seperti yang sudah, menikam dan memicis kemaluannya dan seluruh
32
Berita Yudha, 4/11/65.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 17] ===
tubuhnya sampai ia mati.
Kata-kata yang tepat sama setidaknya terbaca dalam empat pemberitaan tentang cerita tersebut; yaitu Angkatan Bersenjata 5 November, Duta Masyarakat dan Sinar Harapan 6 November, dan Berita Yudha 7 November 1965. Dua suratkabar memasang potret Jamilah, yang juga sama. Ini memberi kesan kuat, bahwa kepada pers dibagikan teks dan potret yang sudah disiapkan. Sumber berita yang diumumkan ialah ABRI, yang tampaknya tidak dapat cukup mempercayai “pengakuan jujur” Jamilah untuk berbicara sendiri kepada pers. Berita ini sangat bernada menghasut, dan menjadi tersebar luas di kalangan masyarakat. Sesudah diumumkannya cerita ini termasuk sebagai slogan para mahasiswa dan kelompok demonstran lainnya ialah “Gerwani Cabo”, “Gantung Gerwani”, Sementara itu Kesatuan Aksi telah membentuk apa yang mereka namakan Badan Koordinasi Kesatuan Aksi Pengganyangan Gestapu Pusat; dan Seksi Wanitanya dibentuk pada 5 November 1965. Dalam Seksi Wanita ini termasuk Muslimat NU, Wanita Marhaen, Gerwapsii, Aisyiah, Wanita Perti, Wanita Katolik, PII dan HMI (BY 8 November 1965). Mereka mengorganisasi satu demonstrasi massa yang diikuti 25 ormas, khususnya para pelajar dan mahasiswa. Mereka diterima oleh Mayjen Suharto dan Brigjen Juhartono. Sebuah resolusi yang telah disiapkan seksi ini dibacakan Ny. Aruji Kartawinata. Resolusi “mengutuk perbuatan Gerwani, yang telah menjatuhkan derajat kaum wanita, dan mendesak kepada Presiden agar segera menyatakan pelarangannya terhadap PKI, Gerwani, dan ormas-ormasnya yang lain, demi
33
Berita Yudha, 7/11/65.
34
Soal aksi corat-coret dan julukan ini pernah diceritakan dengan menarik oleh Su Hok Gie. Su Hok Gie berceraita bahwa suatu hari ia dan sejumlah pimpinan mahasiswa dipanggil menghadap Presiden Sukarno. Dalam pertemuan Sukarno marah-marah gara-gara di tembok rumah istrinya, Hartini, ditemukan ada tulisan “Lonte Agung”. Para mahasiswa yang bingung kemudian mencoba menyelidiki siapa gerangan pelakunya. Usut punya usut ternyata pelakunya adalah putra sulung Sukarno sendiri, yaitu Guntur Sukarnoputra, yang saat itu adalah mahasiswa ITB Bandung. Guntur rupanya kesal dfengan kelakuan bapaknya yang mengawini Hartini dan membuat ibunya, Fatmawati, terpaksa pindah rumah dari Istana ke Jl. Fatmawati. Lihat: Su Hok Gie, Catatan Seorang Demonstran, LP3ES, Jakarta, 1983.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 18] ===
menyelamatkan generasi muda dari pengaruh dekaden dan kekejaman yang dilakukan organisasi itu”.35 Kepada 30.000 massa perempuan yang hadir Mayjen Suharto mengatakan, bahwa tanpa kaum wanita keselamatan bangsa tidak dapat dijamin. Tapi ia memperingatkan agar kaum wanita jangan meniru perbuatan orang-orang Gerwani, yang telah meninggalkan kepribadian kita yang istimewa, karena mereka telah merusak kepribadian kaum wanita Indonesia... dan karena kaum wanita sebagai ibu mempunyai peranan khusus untuk pendidikan anakanak, generasi muda kita harus diselamatkan agar tidak ikut terjerumus ke dalam penyelewengan moral kaum kontra revolusioner; mereka harus dididik agar menjadi patriot-patriot Indonesia yang taat kepada Tuhan.36 Jelas bahwa Suharto bermaksud mengatakan, bahwa orang-orang Gerwani telah menggoyahkan sendi-sendi bangsa Indonesia, dengan tidak bertingkah-laku sebagaimana layaknya kaum perempuan. Juga ia ingin menegaskan agar kaum perempuan menjadi “ibu yang baik”, dan dengan demikian memulihkan stabilitas bangsa Indonesia yang bersandar pada tabiat kaum perempuan sebagaimana layaknya. Tetapi Suharto tidak menyebut dengan jelas, bagaimana perbuatan orang-orang Gerwani yang dikatakannya sebagai tak layak itu.
Kesatuan Aksi semakin meningkatkan kegiatannya. Sebuah rapat umum diadakan di Lapangan Banteng Jakarta, yang dikabarkan dihadiri 1,5 juta pengunjung. Tema rapat umum ini kesetiaan pada Presiden Sukarno dan kebijakan-kebijakannya, menuntut pelarangan PKI dan ormas-ormasnya, dan menuntut agar mereka yang terlibat dalam Gestapu dibawa ke pengadilan (BY 10 November 1965). Potret demonstrasi yang disiarkan memperlihatkan sebuah spanduk dengan kata-kata “Gerwani haram di Indonesia”.
Kata “haram” yang digunakan berarti terlarang menurut agama Islam.
Dongengan tentang tuduhan Gerwani menggunakan pisau lipat dan silet menjadi begitu tersiar luas, sehingga timbul kelakar
35
Angkatan Bersenjata, 9/11/65. Op cit, hal 523.
36
Berita Yudha, 9/11/65. Op cit, hal 524.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 19] ===
tentang organisasi yang “super” mengerikan itu. Berita Yudha (10/ 11/65) menulis sebuah berita sebagai berikut, “Seorang anak muda sedang menunggu bis di Harmoni, dan mencolek temannya: “hei, lihat... gadis di sana itu. Cakep, ye!?” Temannya memandang melotot, lalu sahutnya: “husy, lihat dulu “nyong, siapa tahu dia bawa silet!”
Gencarnya pemberitaan cerita-cerita tentang perbuatan “durjana”, yang konon telah diperbuat oleh orang-orang Komunis “kafir”
itu, telah menimbulkan psikosis ketakutan. Menurut pers tabloid, masyarakat secara psikologis dibikin siap untuk membunuh atau orang lain siapa saya, yang dianggap tergolong orang PKI atau salah satu ormasnya.
Para pemimpin agama kemudian mulai memicu aksi pembunuhan massal. Seruan perang sabil ini selanjutnya didengung-dengungkan banyak pemimpin Muslim, yang memberikan pembenaran mereka bahwa pembunuhan terhadap kaum Komunis merupakan “kehendak Allah”.
ABRI sendiri terus berusaha mengorek “pengakuan” dari orangorang Gerwani tentang dosa-dosa mereka yang mengerikan itu.
Untuk mengetahui lebih jauh tentang “kebejatan moral” para pemberontak, beberapa wartawan diajak masuk ke penjara.
Anggota militer yang mengantar menjelaskan, “Di sini, anggotaanggota ormas yang dahulu militan, “yang bersuara lebih garang dari suara harimau, sekarang tinggal ratap tangis saya.”
Para wartawan pun sekali lagi melukiskan anggota Gerwani dilukiskan dengan secara khusus. “Melihat mereka kita kadangkadang merasa jijik, tapi kadang-kadang juga merasa kasihan.
Karena banyak di antara mereka yang hanya mengerang-erang saya, sedang sementara yang lain lagi berpakaian dan berperilaku begitu rupa, yang tidak enak bagi orang-orang yang sopan. Ini bukannya karena mereka disiksa. Sama sekali tidak! Perwira Humas menjelaskan kepada kita, bahwa mereka diperlakukan menurut norma-norma yang berdasarkan atas Pancasila. Tidak karena itu.
Tapi karena mereka diliputi ketakutan oleh perbuatan-perbuatan hina yang pernah mereka lakukan, dan karena jiwa mereka kosong, baik dari norma-norma agama maupun dari moralnya yang
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 20] ===
cabul.37
Sementara itu Presiden Sukarno berusaha menahan arus pasang gontok-gontokan. Ia memutuskan untuk menerbitkan hasil otopsi mayat para jendral yang menunjukkan bahwa semua berita tentang pemotongan kemaluan dan pencukilan mata, semuanya itu bohong. Ia mengundang para wartawan untuk setia kepada kenyataan dan menghindari penyebaran berita-berita bohong.
Hanya satu suratkabar menerbitkan pernyataan ini (SH 13 Desember 1965).Tetapi itu pun tak ada faedahnya. Karena beberapa hari sesudah itu koran ini pun ikut memuat “pengakuan”
Saina. Gadis 17 tahun ini mengoceh, anggota Gerwani... dengan seorang anak dan suami menceritakan kepada tim pemeriksa, bahwa telah beberapa kali disuntik selama latihan enam setengah bulan di Lubang Buaya, sesudah diinjeksi itu ia merasa nafsu syahwatnya menjadi liar. Menurut Kepala Tim Interogasi Pepelrada Jawa Barat, Mayor A. Danamiharjo SH, selama enam setengah bulan latihan Saina harus bersaing dengan 199 orang anggota Gerwani lainnya dalam melayani birahi 400 orang laki-laki, yang juga dilatih di sana, dengan harapan bisa merebut “Hadiah Kuda Emas” yang pernah dijanjikan D.N.Aidit kepada mereka. Suntikansuntikan itu... telah mendorongnya untuk melakukan perbuatanperbuatan cabul tersebut.... Dikatakannya kepada tim bahwa Aidit pernah pidato di barak latihan, bahwa sukarelawan PKI tidak perlu merasa terkekang oleh aturan-aturan agama, sebaliknya seharusnyalah mereka melakukan hubungan jenis satu sama lain secara bebas... ia bisa melakukan perbuatan semacam itu seperti... sesudah mendengar pidato Aidit, yang mengatakan bahwa perempuan harus sama berani seperti laki-laki.38 Berita Yudha memuat cerita yang sama, dan memasang potret seorang perempuan bernama “Saina”. Koran tentara yang lain, Angkatan Bersenjata, membumbui cerita Saina lebih pedas lagi.
Menurut koran ini Saina mengaku kepada tim pemeriksa, bahwa ia ikut ambil bagian dalam tarian yang cabul, mesum, “Tarian Harum Bunga” yang setiap hari dipertunjukkan dengan telanjang bulat, baik pada waktu siang maupun malam hari. Laki-laki 400 37
Berita Yudha Minggu, 21/11/65. Op cit, hal 529.
38
Sinar Harapan, 8/12/65. Op cit, hal 532.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 21] ===
orang yang ada menonton 200 orang perempuan, kemudian dilanjutkan dengan hubungan kelamin secara bebas, yang kadangkadang seorang perempuan harus melayani 3 atau 4 orang lakilaki.39 Menarik untuk diperhatikan, bahwa sesudah perempuanperempuan itu memberikan “pengakuan”, tidak seorang pun dari mereka yang benar-benar hadir di Lubang Buaya dan yang sudah ditahan juga, pernah diajukan ke pengadilan.
Seorang wartawan Berita Yudha mengunjungi penjara, di mana beberapa tahanan perempuan disekap. Ia membantah dugaan tentang perlakuan kejam terhadap para tahanan, dan tentang berlakunya “teror dibalas dengan teror”. Sebaliknya, tulis wartawan ini, para pengawal “berlaku sopan dan simpatik” terhadap mereka.
Ketua Gerwani Umi Sarjono mengatakan pada wartawan ini, bahwa ia tidak tahu apa-apa tentang apa yang terjadi di Lubang Buaya. Tapi wartawan ini mempunyai kesan, para perempuan itu “tampak sangat mencurigakan”, dan hanya mau menjawab pertanyaan yang diajukannya sesudah mereka diperlakukan dengan “sangat halus dan sopan”.
Sejumlah dongengan tentang ketidak-senonohan seksual yang konon telah terjadi di Lubang Buaya, kemudian diberitakan meluas dari apa yang sudah terjadi pada malam istimewa itu. Seorang gadis bernama Julie yang “sambil menangis mengaku bahwa, sekitar 40 orang wanita telah ikut latihan di Lubang Buaya dalam bulan September. Tapi ia ditipu, karena di sana ia diperkosa oleh para anggota Pemuda Rakyat”.40
Aspek lain tentang “latihan”, yang konon telah diberikan pada orang-orang perempuan di Lubang Buaya itu, telah “dibeberkan”
seorang perempuan yang mengaku bernama Sakinah. Kepada wartawan ia katakan, “Selain melayani seks anggota-anggota Pemuda Rakyat, mereka diajar juga tentang cara memotong alat kelamin kucing. Kemudian mereka mendapat tugas memotong dua orang tentara dari Divisi Diponegoro dan dua orang pedagang dari Tegal, yang mula-mula mereka pikat dengan berpura-pura
39
Angkatan Bersenjata, 13/12/65. Op cit, hal 533.
40
Berita Yudha, 30/11/65. Op cit, hal 534.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 22] ===
sebagai pelacur.”41
Penutup: Membangun Orde Ketertiban Bagaimana akhir dari fiksi yang berubah jadi fakta tersebut? Kita semua tahu, bukan hanya Gerwani dan sejumlah ormas dan partai yang dilarang, tapi juga Sukartno didongkel dan dikenai tahanan rumah hingga akhir hayatnya. Bagian dari masa lalu yang berhubungan dengan Sukarno dimaknai sebagai “Orde Lama”
dengan cara memproklamirkan rejim baru, “Orde Baru”.
Seluruh fakta dan fiksi yang tumpang-tindih itu dimaknai sebagai sebuah orde yang penuh dengan kekacauan, gontok-gontokan, anti-ketertiban, penuh dengan revolusi, pengkianatan, pembunuhan dan seterusnya. Sementara “Orde Baru”
mengidentikkan diri sebagai sebuah tatanan baru yang penuh dengan kedamaian, ketertiban, setia dan konsekuen pada UUD 45 dan Pancasila secara konsekuen dan seterusnya. Orde Baru juga mengganti revolusi dengan pembangunan, sebuah hal yang lebih berkonotasi memiliki efek manfaat, praktis dan efisien.
Sejarah panjang organisasi Gerakan Wanita Indonesia ditutup dengan cara menjadikannya sebagai bagian epilog dari Pengkianatan G-30-S/PKI yang juga sering disebut sebagai Gestapu.42 Sebuah julukan yang sengaja dibuat Jendral Sugandhi untuk mengingatkan orang akan kekejaman Nazi Hitler, meski sebetulnya tak cocok dengan struktur bahasa Indonesia.
Sejarah Gerwani yang pernah jadi pembela kaum perempuan dan anak-anak itu kini hanya jadi gambaran kaum sundal di dinding 41
Angkatan Bersenjata, 15/12/65. Op cit.
42
Soal sejarah Gerwani berikut semua aktivitasnya secara lengkap bias dibaca pada Saskia (1999) juga MPb Manus, Nana Nurliana, N. Yenny Malik dan Tri Wahyuning, “Penyusupan PKI ke Dalam Tubuh Gerwani” dalam Persepsi, Edisi Khusus, Tahun VIII, Desember 1989. Bahan yang terakhir ini sungguh menarik untuk dikaji. Sebab dari awal hingga akhir, sekitar 90 persen, isinya lebih merupakan sanjungan terhadap Gerwani sebagai organisasi perempuan yang cukup berhasil dalam merealisasikan cita-citanya membela hak perempuan dan anak-anak. Hanya pada bagian kesimpulan, yang cara metodologis penyimpulannya aneh, Gerwani dianggap bersalah dengan cara divonis sebagai organisasi komunis. Tentang sebutan Gestapu, Sukarno lebih suka menyebutnya sebagai Gestok (Gerakan Satu Oktober) yang lebih sesuai dengan fakta bahwa Gerakan Untung dkk dilakukan pada dinihari tanggal 1 Oktober 1965.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 23] ===
relief Museum Pengkhianatan G-30-S/PKI dan film karya Arifin C. Nur serta sejumlah buku sejarah. Sesakali, minimal setahun sekali, penguasa mengingatkan kembali masyarakat akan gambaran kekejaman para perempuan sundal di masa lalu.43 Dalam pemutar-balikan antara fakta dan fiksi yang terjadi, pers pada awal Orde Baru memiliki peran yang tak sedikit. Barangkali, karena itulah, akses untuk menelusuri kembali pemberitaan mediamassa, yang secara jurnbalistik berkualitas rendah itu, hingga kini tak bias dilakukan secara terbuka.*** Acuan Utama:
Carmel Budiarjo (1997), Bertahan Hidup di Gulag Indonesia, Wirakarya, Kuala Lumpur.
Forum Asia (1995), Stability & Unity On A Culture of Fear, Asian Forum For Human Rights and Develompment, Bangkok
Geoffrey Robinson (19950, The Dark Side of Paradise: Political Violence in Bali, Cornell University Press
Julie Southwood & Patrick Flanagan (1983), Indonesia: Law, Propaganda and Terror, Zed Press, London
M.R. Siregar (1995), Tragedi Manusia dan Kemanusiaan: Kasus Indonesia Sebuah Holokaus Yang Diterima Sesudah Perang Dunia Kedua, Tapol, Amsterdam (cetakan ke dua)
Robert Cribb (ed.) (1991), The Indonesia Killings 1965 - 1966: Studies from Java and Bali, Centre os Southeast Asian Studies Monash University, Victoria, 1991
Saskia Eleonora Wieringa (1998), Kuntilanak Wangi: Organisasi- Organisasi Perempuan Indonesia Sesudah 1950, Kalyanamitra ———— (1999), Penghancuran Gerakan Perempuan di Indonesia, Garba Budaya dan Kalyanamitra, Jakarta, (ket: buku ini adalah terjemahan dari desertasi sang penulis yang dipertahankan di Universitas Amsterdam pada 6 Oktober 1995)
43
Tercatat pada November 1972, Kodam Diponegoro menyatakan pada sejumlah wartawan bahwa pihaknya menagkap seorang anggota Gerwani yang kedapatan tengah menyebarkan narkotika. Lihat: Janwar, Mengungkap Pengkhianatan Pemberontakan G30S-PKI!, Penerbit CV Yreme, Bandung 1986.
Edi Cahyono’s experiencE
=== [PDF page 24] ===
Sulami (1999), Perempuan-Kebenaran dan Penjara, Penerbit Cipta Lestari, Jakarta
Wim F Wertheim (1997), “Kebenaran Tentang Gerwani: Aspek Gender Rezim Suharto” dalam Arena N’23 Edisi Khusus.
Modified & Authorised by: Edi Cahyono, Webmaster Disclaimer & Copyright Notice © 2005 Edi Cahyono’s Experience Edi Cahyono’s experiencE