Postmemory dalam Novel Tapol Karya Ngarto Februana (Assa, 2019)
Cleaned OCR text (Good (0.908); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
=== [PDF page 1] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
POSTMEMORY DALAM NOVEL TAPOL KARYA NGARTO FEBRUANA
Anna Elfira Prabandari Assa Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Sastra UGM elfirayarko@gmail.com
Abstrak
Narasi balas dendam yang masih terus direproduksi oleh pihak-pihak yang bertikai semakin membuat rekonsiliasi tragedi ’65 berujung pada kemacetan. Kerelaan untuk saling mengakui kesalahan adalah langkah besar dalam usaha rekonsiliasi. Sayangnya, korban PKI hanya mengingat saat mereka menjadi bulan-bulanan PKI, sebelum Peristiwa G30S. Sementara itu, PKI hanya mengingat pasca-G30S, saat mereka menjadi korban genosida politik. Sebuah novel berjudul Tapol karya Ngarto Februana memotret fenomena tersebut. Pengarang yang tidak pernah mengalami langsung peristiwa ’65 membuat teori postmemory dari Marianne Hirsch cocok diaplikasikan dalam penelitian ini. Februana mendapatkan transmisi afiliatif dari saksi hidup dan buku-buku lain sebagai memori kolektif. Identifikasinya kemudian mewujud dalam tokoh dan narasi dalam novel Tapol.
Februana membedakan antara komunisme sebagai ideologi yang membela yang tertindas dan PKI sebagai partai yang berpolitik praktis. Melalui tokoh Mirah, pengarang juga mengkritisi Orde Baru sebagai rezim otoriter yang bukan hanya musuh, tetapi juga semua pihak yang berani menentangnya.
Kata Kunci: postmemory; transmisi; memori; identifikasi; PKI; Orde Baru; komunisme
Abstract
The narrative of revenge that is still being reproduced by the conflicting parties increases the stagnation of reconciliation of the '65 tragedy. The willingness to acknowledge each other's mistakes is a big step in reconciliation. Unfortunately, PKI victims only remember when they were the PKI’s targets, before the G30S. Meanwhile, the PKI only remembered the post-G30S, when they were victims of political genocide. A novel titled Tapol by Ngarto Februana captures this phenomenon. Authors who have never experienced directly on '65 tragedy make Marianne Hirsch’s postmemory suitable to be applied. Februana gets affiliative transmission from living witnesses and other books as a collective memory. His identification towards the past then manifests in characters and narratives in Tapol. Februana distinguishes between communism as an ideology that defends the oppressed and the PKI as a party that has practical politics. Through the character Mirah, the author also criticized the New Order as an authoritarian regime that was not only an enemy but also all those who dared to oppose it.
Keywords: postmemory; transmition; memory; identification; PKI; Orde Baru; communism
Pendahuluan
Dalam bukunya, Budiawan (2004) Budiawan menjelaskan tentang konstruksi menjelaskan bahwa narasi tentang PKI adalah identitas yang menentukan dan ditentukan narasi balas dendam. Karenanya, rekonsiliasi oleh memori (2004:245). Memori yang dalam keadaan demikian tidaklah berbeda menentukan identitas yang berbeda.
dimungkinkan. Mengutip Michae Ignatieff, Lawan PKI hanya ingat ketika mereka 17
=== [PDF page 2] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
menderita (dimusuhi PKI), hal ini sebelum kaum muslim yang telah dibunuh pada masa G30S. Sementara itu, PKI hanya ingat ketika sebelumnya, termasuk balas dendam karena mereka menderita, yaitu pasca-G30S. PKI dianggap ingin menguasai negara dengan Ada paling tidak dua faktor yang usaha coup-nya yang menyebabkan petinggi menguatkan kebencian terhadap PKI makin Angkatan Darat terbunuh.
menjadi menjelang tahun 1965. Pertama, Propaganda yang gencar disuarakan oleh pada tahun 1960 pemerintah menerbitkan rezim Orde Baru di bawah Suharto adalah Undang-undang Pokok Agraria. Pada tahun para korban genosida politik ini memang layak sekitar itu, PKI mengawal pelaksanaannya mendapatkan hukuman. Narasi Orde baru dengan semboyan “tanah untuk rakyat”. Yang inilah yang menggiring perspektif rakyat mereka incar selain tanah milik negara Indonesia untuk mengamini bahwa hukuman adalah tanah milik Kiai. Kondisi ini membuat terhadap PKI sebagai konsekuensi dalam usaha para kiai dengan pesantrennya merasa mempertahankan negara dari percobaan dirugikan (Kurniawan, dkk, 2014:23). Hal kudeta. Hukuman dalam segala bentuknya kedua yang menyulut kebencian terhadap terhadap para korban tragedi 1965 tidak PKI adalah secara terang-terangan PKI dianggap melanggar kemanusiaan selama Orde memasukkan kiai dan pemilik tanah sebagai Baru. Hukuman-hukuman yang didapat korban “Tujuh Setan Desa” yang harus dibasmi. Hal berupa penangkapan, pemenjaraan tanpa ini membuat konfrontasi tidak bisa dihindari pengadilan, dicopot dari jabatan, pemisahan (2014:24). Ditambah lagi, dalam melakukan dari keluarga, bahkan juga hukuman kepada aksinya, sering kali PKI dan ormas keluarga dan keturunan mereka.
pendukungnya tidak segan melakukan Dalam ranah sastra dan budaya, beberapa kekerasan. Sebut saya peristiwa Kanigoro karya sastra dan film yang muncul pada masa pada Januari 1965. Orde Baru juga membicarakan tragedi 1965.
Dengan latar belakang ini, genosida Namun, karya-karya ini memunculkan politik 1965 dengan korban PKI dan semua normalisasi kekerasan menjadi kewajaran orang yang bersinggungan dengan PKI dalam sebuah situasi konflik politik menjadi lebih mudah dipahami. Kesalahan (Herlambang, 2013:102). Bersamaan dengan PKI di masa lalu yang kemudian direproduksi itu, pemerintah Orde Baru melalui ahli sejarah oleh pemerintah Orde Baru setelah ’65, tersohor Nugroho Notosusanto menuliskan membuat mereka yang curiga dan memiliki sejarah tragedi 1965 sebagai gerakan kudeta dendam pada PKI menjadi merasa berbuat yang didalangi oleh PKI (2013:137).
benar dengan ikut serta dalam genosida Narasi dalam bentuknya yang lain baru politik tersebut. Mereka merasa membela muncul ke permukaan setelah Suharto negara dengan membalaskan dendam para lengser. Tumbangnya Orde Baru menjadi titik 18
=== [PDF page 3] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
penting dalam dinamika narasi tragedi 1965. korban genosida politik ’65, masih tersirat Setelah sekian lama narasi utama mengenai kembali ketimpangan dalam melihat peristiwa kudeta PKI pada tanggal 30 September 1965, ini. PKI masih cenderung dilihat hanya sebagai akhirnya narasi yang berlainan dengan korban. Tema ini memang marak terdapat narasi penguasa Orde Baru muncul ke dalam kajian dan karya sastra sesudah Orde permukaan. Setelah reformasi, korban yang Baru tumbang.
selama ini dikatakan pantas mendapat Padahal merujuk pada pendapat Budiawan, hukuman dari negara mulai berani bicara. rekonsiliasi hanya mungkin terjadi jika kedua Narasi-narasi alternatif tentang tragedi belah pihak mau mengakui apa yang mereka 1965 dalam dunia sastra muncul dalam lakukan terhadap lawan-lawan politik mereka.
beberapa novel. Beberapa novel yang Karena PKI bukan hanya menjadi korban, tetapi populer di antaranya Candik Ala dan Pulang. juga pernah mengorbankan pihak lain. Yang Kedua novel tersebut mewarnai diskusi bisa dilakukan korban PKI adalah melihat ke tentang tragedi 1965 karena memberi nilai depan, dan yang bisa dilakukan oleh para ekskemanusiaan terhadap korban yang dinilai tapol adalah melintas ke belakang, pada mendapatkan kekerasan kemanusiaan. praperistiwa ‘65. Mereka bisa mengakui apa Tokoh-tokoh penting dalam novel-novel itu yang pernah mereka lakukan terhadap lawanadalah korban, keluarga korban dan mereka lawan mereka saat mereka ada di bawah yang punya relasi dengan korban. Beberapa naungan politik Sukarno (2004:248)
dari mereka adalah penyintas tragedi 1965. Sebagai novel berlatar belakang peristiwa Apa yang terjadi dalam dunia sastra ’65 yang terbit pasca-Suharto tumbang didukung beberapa literasi akademis yang (2002), yang dijabarkan dalam novel Tapol muncul setelah reformasi. Tempo dengan tim tidak hanya bagaimana PKI menjadi korban jurnalisnya menerbitkan buku Pengakuan kekejaman Orde Baru. Namun, pengarang juga Algojo 1965. Selain itu Julius Pour menulis menyelipkan apa dilakukan PKI sebelum Gerakan 30 S yang berisi kumpulan tulisan peristiwa G30S (penghadiran konteks PKI yang tentang tokoh-tokoh penting seputar tragedi pernah melakukan aksi sepihak kepada para 1965. Perlu disebut juga buku berjudul Dalih tuan tanah juga penggambaran PKI yang Pembunuhan Massal karya John Roosa. menipu anggota AURI).
Situasi ini menujukkan perjuangan membela Novel Tapol menceritakan bagaimana tokoh dan menyuarakan hak korban terus Mirah, anak dari seorang prajurit AURI yang dilakukan. juga seorang tapol ’65, mencari kebenaran Meskipun tampaknya karya sastra dan tentang ayahnya. Kebenaran tentang ayahnya kajian para akademisi ini berhasil ini membuat dirinya juga mengalami menyuburkan ide pembelaan HAM bagi para kebingungan identitas karena masa lalu yang 19
=== [PDF page 4] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
ditemuinya tidak selalu bernada sama, didapat dari pihak otoritatif lain yang ‘berhak’ bahkan bertentangan. Sangat menarik untuk memberi versi sejarah yang benar, seperti diteliti apakah trauma yang dibawa oleh ayah negara atau instasi khusus lainnya.
Mirah setelah tragedi terjadi dirasakan dan Setelah mendapatkan transmisi, postdiwariskan juga kepada generasi berikutnya. generasi akan melakukan rekonstruksi. Dalam Ngarto Februana merupakan generasi melakukan rekonstruksi, memori yang sudah yang tidak mengalami peristiwa ’65, tetapi ditransmisikan kepada generasi yang tidak seolah punya hak otoritatif untuk berbicara mengalami pengalaman tersebut, termediasi mengenai peristiwa ini. Penting untuk diteliti dengan storage mereka sendiri. Dalam mediasi bagaimana pengarang mendapat transmisi inilah terjadi penambahan, kritik, atau untuk menciptakan karyanya. Hirsch mena- klasrifikasi yang dilakukan sehingga usaha post warkan jawaban atas pertanyaan itu di mana -generasi untuk memperbaiki masa lalu post-generasi membawa misi untuk memper- tersebut bisa terpenuhi.
baiki masa lalu. Di dalam post-memori, identifikasi yang Yang membedakan memori dan post- dilakukan post-generasi merupakan memori sebenarnya adalah mengenai siapa identifikasi yang menarik Diri keluar dari diri yang mengingat. Memori merupakan dan berempati kepada masa lalu (Other), bukan pengalaman yang dialami sendiri sedangkan sebaliknya. Hirsch menyetujui apa yang postmemory adalah pengalaman yang tidak Silverman pinjam dari Max Scheler, dialami langsung. Lebih khusus lagi, Hirsch heterophatic. Jika yang terjadi adalah menjelaskan bahwa post-memori adalah menginteriorisasi masa lalu (other) kepada Self, struktur ingatan lintas generasi yang me- maka identifikasi tersebut mengarah pada miliki hubungan darah. Selain itu, HIrsch rememory yang kemudian disebut identifikasi menekankan mengenai pengalaman yang idiophatic (2012:85-86). Untuk itu, ketika traumatis dan selanjutnya menekankan ten- pengarang menciptakan karya posmemori tang proses pencipaan karya estetik sebagai selalu ada usaha untuk memperbaiki masa lalu.
perwujudan identifikasi. Hirsch dalam teorinya memang Hirsch menggarisbawahi hubungan darah menekankan garis keturunan sebagai salah karena dia membedakan antara transmisi satu kunci transmisi memori, tetapi jika hal termemori yang bersifat familial dan tidak sebut dibawa dalam konteks peristiwa ’65 di familial. Transimisi familial adalah pewarisan Indonesia, bisa jadi sulit dilakukan. Belum ingatan yang didasarkan pada hubungan adanya penulis yang secara terang-terangan darah antar generasi. Sementara itu, trans- menyatakan bahwa mereka adalah keturunan misi afiliatif adalah pewarisan ingatan yang dari mereka yang terlibat (baik sebagai korban didapat selain dari hubungan keluarga, bisa atau pelaku) membuat penelitian postmemory 20
=== [PDF page 5] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
yang ketat menjadi sulit dilakukan di Indone- orang tua tersebut kemudian mulai jujur bahwa sia. mereka adalah mantan tahanan politik peristi- Berangkat dari uraian di atas, maka wa ‘65. Dua orang dari mereka mengaku dupenelitian yang merupakan bagian dari tesis lunya adalah anggota Angkatan Udara. Tiga ini akan menguraikan bagaimana transmisi orang yang mengaku pemulung dan pengamen memori terjadi di dalam novel Tapol dan inilah yang ternyata menjadi sumber Februana dalam proses penulisan novel tersebut, menyusun novelnya.
bagaimana proses rekonstruksi dilakukan Februana kemudian melakukan historical pengarang novel Tapol, dan bagaimana research untuk melengkapi transmisi yang tak proses identifikasi post-memori tokoh dan lengkap dari tiga orang mantan tapol tersebut.
pengarang dalam dan melalui novel Tapol. Buku Menyingkap Kabut Halim dan Pledoi Omar Adapun metode yang digunakan dalam Dani menjadi sumber transmisi afiliatif yang penelitian ini adalah studi pustaka dan wa- penting karena membantunya menyusun wancara yang dilakukan kepada pengarang. rekonstruksi karya post-memori. Transmisi Studi pustaka dilakukan untuk mendapatkan dari sumber afiliatif ini menyempurnakan gamdata transmisi dari dalam novel melalui in- barannya tentang rangkaian peritiwa ‘65 teruteraksi tokoh orang tua kepada anak, se- tama peristiwa Gestok. Sementara itu, buku dangkan metode wawancara dilakukan untuk Landreform dan Gerakan Protes Petani Klaten menyelidiki transmisi memori yang terjadi mentransmisikan memori tentang bagaimana kepada pengarang. Setelah mendapatkan da- PKI pernah melakukan aksi sepihak pada lawan ta transmisi tersebut, dilakukan studi -lawan politiknya.
pustaka kembali untuk memahami proses Transmisi memori kepada pengarang rekonstruksi dan identifikasi post-memori menghasilkan beberapa jenis memori, yaitu PKI yang dilakukan pengarang melalui pencip- yang melakukan manipulasi dan PKI yang ketaan tokoh-tokoh dalam novel. jam. PKI manipulatif karena mempengaruhi anggotanya (Mayor Udara Suyono) untuk Transmisi kepada Pengarang melakukan hal di luar garis komando AURI, ya- Pada akhir 80an, terjadi penangkapan dua itu menyelewengkan tujuan pelatihan PPP. Semahasiswa UGM dan satu karyawan UGM mentara itu, PKI yang kejam karena pernah dengan tuduhan menyebarkan marxisme- melakukan juga kekerasan pada lawan polileninisme. Februana tergabung dalam aksi tiknya sebelum peristiwa G30S. Dari transmisi solidaritas mahasiswa terhadap mereka. afiliatif ini muncul juga memori tentang detail Ketika sedang melakukan aksi tersebut, ada peristiwa G30S menurut versi AURI dan adanya tiga orang tua yang mendatangi mereka. korban pembersihan Orde Baru selain PKI.
Dari obrolan yang semakin dalam, tiga 21
=== [PDF page 6] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
Transmisi kepada Tokoh Mirah aktivisnya. Mirah yang bergaul dengan ke- Mirah telah mencoba mencari tahu ten- lompok aktivis memiliki banyak akses yang tertang ayahnya, tetapi ibunya tak kunjung buka buka pada cerita versi yang lain yang berbeda mulut mengenai hal itu. Karena transmisi dengan versi pemerintah.
yang didapat dari ibunya tidak memuaskan, Transmisi yang didapatkannya tidak hanya Mirah mencari tahu sendiri tentang apa yang soal korban, tetapi juga tentang gerakan mahateryadi pada ayahnya. Dari berbagai buku dia siswa saat itu. Mahasiswa di tahun 1966 juga mengetahui apa yang terjadi pada tahun bergerak untuk menuntut pemerintah Sukar- 1965. Dari situ, gambaran tentang ayahnya no melakukan perubahan. Saat itu, keadaan suyang hilang perlahan mulai terlihat lebih lit dan genting ketika inflasi mencapai ratusan jelas. persen. Mahasiswa merasa harus ikut berjuang Tanpa tahu ayahnya benar anggota PKI juga. Namun, dalam transmisi kepada Mirah atau bukan, Mirah memilih untuk menghu- diketahui mahasiswa yang ikut berdemo bungkan ayahnya dengan peristiwa ’65. Dia menentang Sukarno ternyata ditunggangi mimemilih percaya ayah adalah seorang PKI. liter. Hal ini kemudian yang membuat Mirah Kebenaran sepihak inilah yang dipegangnya mengidentifikasi dirinya dengan ajaran terus hingga ibunya mau buka suara tentang komunisme.
ayahnya. Sementara itu, Mirah terus berse- Di sisi lain, Lastri, Ibu dari Mirah sudah memangat mencari kebenaran tentang se- nyimpan kecurigaan dan ketidaksukaan kepada jarahnya. Hal itu membawanya pada PKI. Di tahun 1964, Lastri mendengar dari suapenemuan tentang sejarah negrinya yang minya tentang Pemuda Rakyat yang garang dan lebih besar. suka menebar teror. Pemuda Rakyat adalah ke- Dari pembacaannya, Mirah menemukan lompok pemuda yang berafiliasi kepada PKI.
ada perbedaan versi tentang peristiwa ’65. Lastri sendiri tidak tahu banyak tentang Misalnya, buku dan film versi pemerintah komunis. Namun, rasa curiga semakin menyaditentang penyiksaan yang dialami para jen- jadi sejak suaminya diminta untuk ikut melatih deral Angkatan Darat sebelum dimasukkan hansip Angkatan Udara. Ternyata yang dilatih ke sumur tua. Hal itu berbeda dengan yang kebanyakan adalah simpatisan komunis. Selain Mirah temui di buku-buku sejarah alternatif itu, isu agamapun menjadi alasan Lastri tidak yang mengungkapkan hasil otopsi dokter menyukai komunis. (Februana, 2002:42-43).
yang diungkap buku dan film versi Keikutsertaan Karjono dalam pelatihan pemerintah (Februana, 2002:8). PPP membawa petaka bagi keluarganya.
Selain mendapat transmisi afiliatif dari Setelah peristiwa 1 Oktober 1965 terjadi, buku-buku yang dibacanya Mirah juga me- semua pihak yang dicurigai mendukung PKI ngalami transmisi afiliatif dari teman-teman ditangkap, tak terkecuali anggota Angkatan 22
=== [PDF page 7] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
Udara yang ikut melatih simpatisan PKI ter- Ingatan Lastri tentang PKI berawal dari sebut. Karjono ikut ditangkap kemudian cerita-cerita tentang orang komunis yang Lastri mendapat kabar mengejutkan lain bah- “garang dan suka menebar teror”, serta yang wa suaminya sudah mati. Peristiwa-peristiwa “tak beragama dan memusuhi Islam”. Setelah itulah yang membuat Lastri menutup masa suaminya ditangkap, dengan tuduhan terlibat lalunya rapat-rapat. Kehilangan keluarganya PKI, memorinya akan PKI semakin mengarah karena disangkutpautkan dengan PKI mem- menjadi kebencian (termasuk PKI menyebuat Lastri berhati-hati dalam berbicara ten- lewengkan tujuan pelatihan PPP). Setelah suatang suaminya. Kepada Mirah, ia tak pernah minya hilang bertahun-tahun, Lastri harus bercerita yang sesungguhnya. hidup susah dengan menanggung anggapan Ibunya memang tidak pernah membuka bahwa tapol ’65 dan keluarganya memang mulut tentang sang ayah. Trauma memang sungguh bersalah. Pengalaman dan memori ini mewujud tidak hanya dalam kata-kata, tetapi yang diteruskannya kepada Mirah.
juga bahasa tubuh. Ketika berbicara soal Hal senada terjadi kepada Karjono ayah komunis, ibunya selalu menunjukkan bahasa Mirah. Jon adalah seorang anggota AURI yang tubuh yang ‘lain’, seperti terdiam, matanya tidak anti-PKI pada awalnya. Karena bukan PKI, menujukkan kesedihan. Mirah menduga dia merasa sangat terpukul dan sedih karena ibunya trauma. Dari bahasa tubuh ibunya dia ikut ditangkap dan disiksa dalam penjara.
yang selalu berubah ketika bicara tentang Dia dipenjara selama sepuluh tahun dia dan komunisme, Mirah menyusun kepingan- bebas tahun 1975 (Februana, 2002:83).
kepingan ingatan itu menjadi cerita yang Pandangan Jon tentang PKI berubah ketika utuh. Dari ibunya, dia mengetahui bahwa dia mengalami penyiksaan berat dalam penjara ayahnya diculik dan dibunuh. Dari pertan- dan kehilangan keluarganya setalah keluar dari yaan-pertanyaan ibunya, Mirah pun merasa- penjara. Jon yang tadinya ‘biasa’ saya kepada kan kegelisahannya soal komunis. PKI berubah mengutuk PKI. Dia merasa PKI-lah Bagi Lastri, partai, politik, dan komunis sumber penderitaannya. Hal itu terungkap dari merupakan hal mencemaskan. Berulang kali pembicaraan dengan kawannya Subekti yang dengan cara halus, dia selalu mengarahkan memang memuja PKI.
Mirah agar tidak terlibat dengan hal-hal itu. Jon sebagai prajurit tentu saya dididik un- Di akhir ceritanya, Lastri masih tetap men- tuk selalu mematuhi perintah komandannya.
trasmisikan memorinya tentang politik, Namun, penderitaan yang dialaminya karena komunis, dan demonstrasi. Lastri berkata peristiwa ini sangatlah besar. Dia mengaku mebahwa demostran dan komunis bisa nyesal patuh pada atasannya. Namun, dia disamakan dengan risiko ditangkap dan di- menyalahkan PKI yang dianggapnya memepenyara. ngaruhi komandannya.
23
=== [PDF page 8] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
Ketika akhirnya berhasil menemukan komunisme yang tidak akan bertahan di Indokeluarganya kembali, memori traumatis dan nesia karena akan dibasmi. Jon yang sudah kebenciannya pada PKI-lah yang ditransmisi- mengalami penderitaan dan penjara karena kan kepada anaknya. Kepada anak-anak dan disangka simpatisan PKI, tidak mau anaknya isterinya, Jon bercerita tentang alasannya mengalami nasib yang sama.
ikut melatih sukarelawan yang ternyata Setelah mendapat transmisi langsung tenorang komunis itu. Jon menegaskan ia ha- tang PKI dari ayahnya, Mirah kembali menjadi nya patuh pada perintah atasannya. Namun, gamang. Dari transmisi afiliatif yang dia dapatpenangkapan setelah peristiwa G30S me- kan, Mirah cenderung bersikap membela mang tidak pandang bulu. Mereka yang tidak komunisme bahkan sempat mengidentifikasitahu menahu tentang gerakan juga terciduk. kan dirinya dengan komunis dan percaya bah- Sepuluh tahun dihabiskan Jon dipenjara wa komunisme adalah cara terbaik metanpa pengadilan. Setelah bebaspun, ia ke- nyelesaikan masalah negeri. Namun, hal yang hilangan keluarganya. berbeda Mirah dapatkan melalui transmisi fa- Dalam ceritanya kepada Mirah pun, milial dari ibunya. Ibu selalu mewanti-wanti berkali-kali Jon menyalahkan PKI. Sama agar Mirah menjauhi komunisme. Transmisi seperti yang sering diungkapkannya kepada dari ayahnyapun bernada sama; jangan sekali- Subekti. Berulang kali ditegaskannya dia han- kali menganut komunisme. Reaksi Mirah meya ikut perintah atasan. Sebagai bintara yang nanggapi memori yang ditransmisikan kepabaik tentu ia harus patuh perintah koman- danya mewujud dalam identifikasinya kepada dannya. Transmisi tentang PKI juga dis- cerita ayah dan ibunya.
inggung Jon ketika Jon dan Mirah berdiskusi tetang kegiatan Mirah sebagai aktivis. Rekonstruksi Novel Tapol Dalam transmisinya, Jon tidak seketat is- Transmisi yang didapat oleh posgenerasi terinya yang melarang Mirah menjadi aktivis, sering kali hanya senyisakan potonganhanya Jon tetap menegaskan ketidak- potongan gambar yang tak utuh. Karena memosetuyuannya jika Mirah menganut ri yang akan dituturkannya bukanlah miliknya komunisme. sendiri, adanya krisis merupakan hal lumrah.
Menurut Jon, komunisme tidak cocok Krisis diri ini biasanya membawa para seniman untuk Indonesia. Dia memberi penjelasan post-generasi melakukan return journey. Peryabahwa dalam negara komunis, rakyat tidak lanan kembali selain bisa diartikan sebagai namemiliki hak atas hidupnya sendiri dan bah- pak tilas, bisa juga berarti historical research.
wa kecurigaan bisa terjadi karena rakyat Riset sejarah perlu dilakukan agar gambaran dikotak-kotakkan. Selain itu, transmisi Jon yang didapatnya semakin utuh.
kepada Mirah tentang komunisme adalah Repetisi yang dilakukan Februana misalnya, 24
=== [PDF page 9] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
menceritakan kembali pengalaman Suyono komunisme sebagai ideologi. Yang mencoba yang hampir tidak pernah bisa melihat ma- dikritisi Februana adalah apakah PKI bisa tahari dalam penjara. Hal ini diceritakannya disamakan dengan ideologi komunisme. Februkembali dalam novel melalui tokoh Jon Jon ana melalui tokoh Mirah melihat lebih jauh tenmenggambarkan keadaan dalam penjara tang ide komunisme yang membela pihak terbagaikan berada dalam zulmat atau kegela- tindas. Kemudian dia mempertanyakan jika pan (Februana, 2002:152). idenya demikian mulia, mengapa mereka dilen- Selain repetisi, dalam rekonstruksi karya yapkan oleh Orde Baru.
pengarang juga melakukan seleksi atas memori. Pengarang juga berhak melakukan Identifikasi Pengarang seleksi dari memori kolektif yang bisa di- Transmisi yang didapatkan dari tiga orang masukkan ke dalam karya. Dalam penelitian pemulung yang bekas tapol tentu menyisakan ini pengarang memasukkan Pelatihan PPP di banyak ruang kosong. Dengan melengkapinya Lubang Buaya. Sama seperti yang ada dalam dengan transmisi dari dua buku sejarah alterfakta sejarah bahwa Pelatihan PPP dilakukan natif, setidaknya gambaran tentang keadaaan sekitar bulan Juli 1965. waktu itu menjadi lebih lengkap. Ada tema Mediasi juga menjadi hal yang penting yang sama yang digunakan Februana untuk bagi para postgeneration untuk melakukan memperkaya karya postmemory-nya. Februana rekonstruksi. Mediasi adalah mendialogkan melakukan repetisi untuk membentuk identifimemori yang didapatnya dengan pengalaman kasinya dan pandangan diri pengarang. Mediasi Imagetext dari buku MKH menggambarkan dengan pengalaman sendiri juga merupakan pelatihan yang dilakukan PPP memang hal yang sering terjadi dalam menciptakan sungguh nyata ada. Pelatihan tersebut dilaksakarya. Dalam novel Tapol, mediasi antara kanan oleh Mayor Udara Suyono pada bulan post-memori dengan pengalaman pengarang Juli 1965. Dalam novel Tapol, tema tentang bertautan dan membentuk suara pengarang. pelatihan ini direkonstruksi kembali dengan Suara pengarang yang terungkap adalah beberapa tambahan dan seleksi. Februana yang adanya kesadaran untuk mengkritisi Orde bertemu dengan tapol yang mantan pilot AURI Baru. menciptakan tokoh Karjono yang merupakan Selain repetisi, seleksi, dan mediasi, ge- anggota resimen PPP di bawah pimpinan nerasi kedua atau ketiga biasanya memiliki Mayor Udara Suyono. Seleksi yang dilakukan keinginan untuk memperbaiki masa lalu. pengarang di antaranya mengubah nama Oleh karena itu, kritik dan klarifikasi juga pelatihan tersebut menjadi Nadahanrev mesmenyadi dasar dalam melakuka rekonstruksi. kipun dengan kepajangan yang sama.
Poin yang diusung pengarang adalah tentang Selain menganai pelatihan PPP tersebut, im- 25
=== [PDF page 10] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
agetext lain yang juga ada dalam cerita ada- musnahkan OrBa), bisa melakukan penipuan lah mengenai pembersihan yang dilakukan (yang menyelewengkan tujuan pelatihan AURI)
dalam tubuh AURI. Imagetext tersebut juga dan pernah melakukan kejahatan (yang memmendasari Februana menyusun cerita ten- bunuh orang-orang muslim).
tang Karjono yang dibawa pesawat Dakota Di dalam novel digambarkan bagaimana dari PAU Husein ke PAU Margahayu kemudi- Jon sebagai tokoh AURI tidak mau dihuan ke Biak dan kembali lagi ke Jakarta. Yang bungkan dengan komunisme. Karena PKI lah, menarik dari penggambaran Februana terse- AURI mendapat citra negatif. Hal ini ditunjukan but adalah adanya perbedaan mengenai ter- dengan kata-kata yang dipilih Februana untuk laksananya Operasi Kalong. Dalam buku mendekripsikn PKI, terutama yang berhub- MKH, Operasi Kalong baru dimulai pada bu- ungan dengan AURI. Hal ini menunjukkan bahlan Agustus 1966. Sementara dalam cerita di wa AURI disusupi oleh PKI. Beberapa anggota novelnya, Karjono ditangkap dalam Operasi AURI dipengaruhi komunisme. PKI dianggap Kalong yang hanya berjarak beberapa hari sebagai suatu yang jahat yang kemudian mesaya dari peristiwa Gestok. nyusupi tubuh AURI. Bukti bahwa beberapa Tema lain tentang memori kolektif AURI anggota AURI terlibat dalam G30S membuat, yang diadopsi pengarang adalah tentang AURI sebagai kesatuan ikut disalahkan.
bagaimana AURI mengalami penghinaan ka- Melalui tokoh Lastri, Februana juga menrena tuduhan terlibat G30S. Misalnya tentang gidentifikasi kekerasan PKI melalui narasi tennasib para isteri perwira AURI setelah pe- tang peristiwa Kanigoro. Peristiwa Kanigoro ristiwa Gestok dan tentang mobil WARA yang adalah peristiwa ketika BTI dan Pemuda dirusak. Berikut adalah kutipan dari buku Rakyat menggeruduk kegiatan Mental Training MKH yeng berisi wawancara Omar Dani, “... (Matra) yang dilakukan oleh Pelajar Islam Indo- AURI dihina, mobil-mobil WARA ditabrakki, nesia pada bulan Januari 1965 ibu-ibu AU di pasar diludahi, dan lain- (www.tirtoadi.com, diakses 22 Januari 2019 pk lain” (Katoppo, 1999:253). Februana selan- 04.51). Identifikasi tersebut menunjukkan bahyutnya merekonstruksi memori tersebut wa Februana tidak hanya mengidentifikasi PKI menjadi post-memorinya yang terungkap da- sebagai korban rezim otoriter Orde Baru, tetapi lam penuturan natator yang menceritakan juga mengingat PKI sebagi pihak yang pernah keadaan Lastri. mengorbankan orang lain.
Meskipun Februana ada dalam ranah Memori tentang masa lalu kemudian dimeyang seolah membela PKI sebagai korban diasi dengan pengalaman pengarang sendiri.
Orde Baru, pada beberapa bagian Februana Itu sebabnya, dalam novel juga muncul kritik menggambarkan komunis yang adalah sum- Februana terhadap Orde baru. Kritik terhadap ber penderitaan (karena pasti akan di- Orde Baru membuat Februana menggam- 26
=== [PDF page 11] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
barkan ketidakadilan yang dilakukan Orde kini sehingga bagaimana Mirah mengingat Baru. (Februana, 2002:20). Mirah sebagai komunisme sangat dipengaruhi oleh pengalasimbol pengarang diceritakan aktif dalam un- mannya di masa sekarang di mana dia samayuk rasa perampasan tanah di Kedung Ombo. sama merasa menjadi korban.
Katanya dalam novel, “Ketika anggota Ingatan Mirah mengenai komunisme yang Palagan aktif dalam solidaritas korban pem- didapatnya dari teman-teman seperyuangannbangunan Waduk Kedungombo, aku ya, bukanlah ingatan tentang komunisme yang ikut” (2002:36). Mirah juga digambarkan menderita. Memori tentang komunisme yang peduli kepada masyarakat kota yang terping- diingatnya adalah komunisme sebagai jawaban girkan, para pemulung. (Februana, permasalahan negeri. Komunisme yang diiden- 2002:120). tifikasi Mirah adalah komunisme yang mem- Februana menunjukkan bahwa perjuangkan hak-hak orang tertindas.
mengkritik Suharto yang otoriter tidak Hal tersebut berkebalikan dengan yang lantas berarti membela PKI hanya karena PKI ditransmisikan oleh ayah dan ibunya, yaitu adalah korban Orde Baru. Ini menunjukkan komunisme sebagai sumber penderitaan merebahwa pengarang melalui tokoh Jon tidak ka. PKI yang membuat mereka tercerai hingga hanya mengidentifikasi diri terhadap PKI se- puluhan tahun. PKI-lah yang membuat ayahnya bagai korban, tetapi juga PKI yang manipu- dipenjara dan hidup menggelandang.
latif dan pernah mengorbankan orang lain. Kebencian dan dendam Jon terhadap PKI itulah memori yang diwariskan Jon kepada Identifikasi Tokoh Mirah Mirah. Celakanya, memori ini bertentangan Tidak bisa dipungkiri bahwa identifikasi dengan memori tentang komunisme yang pengarang terhadap masa lalu salah satunya didapat bahkan dianut Mirah selama ini. Mirah ditunjukkan dengan menciptakan tokoh mulai ragu pada paham yang dipelajarinya apa- Mirah. Melalui tokoh Mirah, Februana lagi jika harus dipertentangkan dengan keluarmenyatakan sikap dan pandangannya ter- ga. Kerinduannya akan sosok ayah membuhadap masa lalu. atnya rela mengorbankan apa saya demi selalu Dengan membaca sejarah yang berbeda dekat dengan ayahnya.
versi dengan pemerintah, Mirah paham bah- Trauma ayahnya pada partai dan ideologi wa pemerintah saat itu menyembunyikan komunisme membuat Mirah juga goyah. Traubanyak hal. Identifikasinya terhadap ayahnya ma ayahnya pada PKI dan paham komunis yang (dipikirnya) PKI bercampur dengan membuat Mirah bimbang. Dua hal yang mempengalamannya sendiri menghadapi buatnya menganut komunisme, yang pertama pemerintah yang represif. Memori akan karena menganut PKI adalah salah satu cara ayahnya dimediasi dengan pengalamannya Mirah mengidentifikasi diri pada ayahnya yang 27
=== [PDF page 12] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
dulu. Yang kedua, lebih jauh lagi, karena dia bah menjadi kepada rakyat tertindas yang menpercaya komunisme adalah jalan jadi korban rezim otoriter. Dalam keputusan meyelesaikan masalah negeri. Namun ter- akhirnya Mirah berkata, “Membela rakyat ternyata, menganut komunisme bagi Mirah ha- tindas bukan monopoli kaum nyalah jalan untuk menuju identifikasi penuh komunis” (Februana, 2002:172)
pada sang ayah. Ketika pada kenyataannya, Dalam bagian ini, ditunjukkan bagaimana sang ayah bukanlah komunis dan malah se- Februana melalui tokoh Mirah, mengidentifibaliknya membenci komunisme, Mirah pun kasi komunisme sebagai jawaban atas masalah mengikuti ayahnya dan melepas komunisme. negeri (karena membela kaum tertindas). Na- Bagaimanapun, pertentangan antara mun juga, terlihat bagaimana Februana transmisi familial dan afiliatif membuat melakukan identifikasi terhadap PKI yang Mirah yang pada awalnya percaya pada pernah menganiaya, bisa menipu, dan komunisme, mengalami kebigungan ketika menghadirkan trauma (karena akan dihancurdisodori kenyataa bahwa ayahya adalah anti- kan negara) melalui tokoh Jon dan Lastri.
komunis. Mirah adalah generasi kedua yang Selanjutnya, Februana menghadirkan suara mengalami krisis karena perbedaan trans- yang mengkritisi Suharto sebagai rezim misi antara memori familial dan afiliatif. Dia otoriter melalui mediasi memori dengan peharus memilih ketika dihadapkan dengan ngalamannya. Karena dia juga merupakan identifikasi. Mirah pada akhirnya, tidak mem- seorang aktivis pro-demokrasi, muncul pula ilih sekaligus memilih keduanya, antara suara-suara korban ketidakadilan rezim Orde memuja dan membenci komunis. Hal ini Baru lainnya, bukan hanya PKI. Hal ini dihadirdisebabkan, identifikasi yang dilakukan kan melalui suara narator dan Mirah yang Mirah tidak hanya kepada komunis maupun menggambarkan banyak ketidakadilan yang ayahnya, Mirah melakukan identifikasi kepa- dilakukan Orde Baru.
da korban rezim yang otoriter secara lebih luas. Dalam identifikasinya ini, Mirah bisa Kesinambungan Identifikasi menjembatani keterbelahan pilihan identifi- Dari identifikasi yang sudah dipaparkan kasi yang sebelumnya dialaminya. sebelumnya, kira-kira ada dua poin besar yang Pada akhirnya menurut Mirah, korban ’65 bisa digarisbawahi, yaitu mengenai posthanya sedikit saya dari daftar korban Orde memori tentang komunisme sebagai cita-cita Baru. Jadi identifikasi yang lebih terbuka di- yang mulia dan post-memori tentang PKI selakukan Mirah terhadap masa lalu. Identifi- bagai pihak yang manipulatif dan juga pernah kasinya bukan lagi kepada komunisme seper- mengorbankan orang lain. Perbedaan identifiti yang dilakukannya sebelum bertemu kasi ini terjadi karena adanya perbedaan transdengan ayahnya, tetapi identifikasinya beru- misi kepada post-generasi.
28
=== [PDF page 13] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
Kedua hal yang kontradiktif ini mewujud komunisme. Sementara itu, ‘yang buruk’ dalam tokoh Mirah ketika dihadapkan mengacu pada pemerintahan yang otoriter.
dengan dua transmisi yang berbeda. Perbe- Komunisme dan membela rakyat kecil diasodaan transmisi yang berujung pada perbe- siasikan dengan PKI sebagai korban Orde Baru, daan identifikasi ini bisa didamaikan dengan PKI setelah peristiwa ‘65. Sebaliknya, Orde Ba- Mirah yang memilih keduanya. Melalui tokoh ru yang represif dan menindas rakyat kecil bisa Mirah, Februana bersikap “mengambil yang disamakan dengan apa yang dilakukan PKI baik dan membuang yang jelek”. Pada identif- sebelum peristiwa ’65.
ikasi terhadap transmisi familial dia memilih untuk tidak komunis karena PKI bukan hanya Kesimpulan pernah teraniaya, tetapi juga pernah men- Dalam penelitian tentang novel Tapol ini, ganiaya. Pada transmisi afiliatif, yang terjadi baik tokoh maupun pengarang menunjukkan adalah komunisme adalah cita-cita mulia. Jadi kecenderungan melakukan identifikasi heter- Mirah memilih untuk tidak komunis namun ophatic, dan sekaligus idiophatic. Disebut idenmembela yang tertindas. tifikasi idiophatic karena baik tokoh maupun Identifikasi yang dilakukan tokoh Mirah pengarang sama-sama terserap sepenuhnya ke ini dilanjutkan dengan kritik pengarang ter- masa lalu. Sementara itu, disebut identifikasi hadap rezim Orde Baru. Februana memilih heteropahtic karena masa lalu yang diserap ini identifikasinya sebagai pihak yang tidak tunggal. Namun, identifikasi heterophatic mengkritik otoritarianisme, baik itu dalam dalam novel ini tidak berhubungan dengan dibentuk Orde Baru maupun dalam bentuk PKI. mensi waktu—antara masa lalu dan masa ki- Hal itu membuat apa yang ditentangnya tidak ni—tetapi mengarah pada kejamakan masa lamelulu mengenai pemusnahan komunisme, lu, masa lalu yang tidak tunggal.
tapi juga kesewenang-wenangan, perampa- Kejamakan masa lalu ini ditentukan oleh san, serta pembungkaman hak bicara. Katan- transmisi yang berbeda. Transmisi afiliatif dan ya melalui tokoh Anto, “… yang namanya dik- transmisi familial yang dialami Mirah membatatur entah proletariat atau borjuis adalah wa memori tentang masa lalu yang bertensuatu bentuk tirani” (Februana, 2002: 39). tangan. Yang satu adalah komunisme sebagai Melalui sikap Mirah “mengambil yang korban dan yang kemudian adalah PKI sebagai baik dan membuang yang buruk” dapat di- sumber penderitaan. Cita-cita mulia jelaskan juga hubungan antara PKI-Orde Ba- komunisme adalah memperjuangkan rakyat ru dan komunisme-membela rakyat tertin- tertindas. Sementara itu, PKI dalam novel ini das. Dalam sikap Mirah, yang dimaksud tidak hanya dilihat sebagai yang teraniaya, tetadengan ‘yang baik’ adalah ‘membela rakyat pi juga yang menganiaya. Perbedaan hasil tertindas’. Ini mengacu pada sari pati transmisi ini membuat Mirah, generasi kedua, 29
=== [PDF page 14] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
mengalami kebingungan. Post-generasi Simpang dan Titik Temu. Yogyakarta: Penerbit Ombak dihadapkan pada pilihan identifikasi yang Februana, Ngarto. 2002. Tapol. Yogyakarta: Meberbeda. dia Pressindo.
Fernanda, Andri. 2017. Transmisi Trauma da- Tokoh Mirah sebagai simbol suara lam Mother Land Karya Dmetri Kakmi:
pengarang menyelesaikannya dengan mem- Kajian Postmemory. Tesis. Yogyakarta:
Universitas Gajah Mada.
ilih dan tak memilih keduanya. Pengarang Hartutik dan Sukirno. 2018. “Gerakan Protes tidak ingin terjebak dengan komunis dan anti Petani Klaten: Aksi Sepihak dalam Kurun Waktu Antara Tahun 1960-1965”. Seuneu- -komunis, tetapi mengarahkannya kepada bok Lada: Jurnal Ilmu-ilmu Sejarah, Sosial, semangat “mengambil yang baik dan membu- dan Kependidikan: 95-105 Herlambang, Wijaya. 2013. Kekerasan Budaya ang yang buruk”. Pengarang tidak lantas Pasca 1965. Jakarta: Majin Kiri membalikkan 180 derajat narasi yang ditulis Hirsch, Marianne. 2012. The Generation of Postmemory: Writing and Visual Culture oleh Orde Baru, yaitu pelaku di pihak yang After the Holocaust. New York: Columbia benar, sementara korban di pihak yang salah. University Press Hirsch, Marianne. 2012b. Family Frames: Pho- Di sini Februana menawarkan semangat tography, Narrative, and Postmemory.
Rekonsiliasi Peristiwa ‘65 di mana kedua be- Cambridge, Massachussets: Harvard University Press lah pihak, korban dan pelaku, sama-sama Katoppo, Aristides dkk. 1999. Menyingkap mengakui kesalahan mereka masing-masing. Kabut Halim 1965. Jakarta: Sinar Harapan.
Kumalasari, Isti. 2016. The Book Thief: Sebuah Tokoh Mirah adalah simbol rekonsiliasi di Kajian Postmemory. Tesis. Yogyakarta:
mana ketika dia harus memilih antara Universitas Gajah Mada.
Kurniawan, dkk, 2014. Pengakuan Algojo 1965:
komunisme dan ayahnya, dia tetap memilih Investigasi Tempo Perihal Pembantaian menjadi keduanya dan tidak memilih men- 1965. Jakarta: Tempo Publishing.
Padmo, Sugiyanto. 1969. Landreform dan jadi keduanya. Dari keduanya dia mengambil gerakan Protes di Daerah Kabupaten apa yang baik dan membuang yang buruk. Klaten, Jawa Tengah 1959-1965. Skripsi.
Yogyakarta. Universitas Gajah Mada Dia memilih membela orang tertindas, tetapi Pour, Julius. 2010. Gerakan 30 September:
dengan tidak menjadi komunis. Membela Pelaku, Pahlawan, dan Petualang. Jakarta:
Penerbit Buku Kompas.
orang tertindas dilakukannya sebagai kritik Pusat Pendidikan Kehakiman Angkatan Darat.
terhadap rezim Orde Baru yang otoriter dan 1966. Gerakan 30 September di Hadapan Mahmillub I: Perkara Njono. Jakarta: Pusat kritik terhadap sikap PKI sebelum peristiwa Pendidikan Kehakiman Angkatan Darat ‘65. Putra, Jalu Norva Illa. 2018. Konstruksi Bima dan Ekalaya dalan Novel Pulang Karya Leila S. Chudori. Tesis. Yogyakarta: Uni- Daftar Pustaka versitas Gajah Mada.
Roosa, John. 2008. Dalih Pembunuhan Massal:
Budiawan. 2004. Mematahkan Pewarisan In- Gerakan 30 September dan Kudeta Suhargatan: Wacana Anti-Komunis dan Politik to. Penerbit Nobodycorp.
Rekonsiliasi Pasca-Suharto. Jakarta:
Salam, Aprinus dan Ramayda Akmal. 2014. Pah-
ELSAM lawan dan Pecundang Militer dalam Novel Budiawan. 2013. Sejarah dan Memori: Titik Indonesia. Yogyakarta: Gajah Mada Uni- 30
=== [PDF page 15] ===
Putika: Jurnal Ilmu Sastra DOI 10.22146/putika.43130 Vol. VII No. 1, Juli 2019 ISSN 2338-5383 (print); 2503-464 (online)
versity Press. “Geraka Protes Petani Klaten”, https:// Subandrio. 2001. Kesaksianku tentang G30S. ejurnalunsam.id/index.php/jsnbl/article/ Jakarta: Forum Pendukung Reformasi view/613/459 Total Diakses 22 Januari 2019 pk 03.01 Surojo, Benedikta A. dan JMV. Suparno.
2001. Tuhan, Pergunakanlah Hati, Wawancara Pikiran, dan Tanganku: Pledoi Omar Da- Wawancara Ngarto Februana, Melalui aplikasi ni. Jakarta: ISAI. whatsapp. Yogyakarta—Jakarta, 12, 13, Taum, Yohanes Yapi. 2015. Sastra dan Politik. dan 17 Desember 2018 Yogyakarta: USD Press
Pustaka Laman
“Peristiwa Kanigoro: Teror PKI kepada aktivis Islam”, https://tirto.id/peristiwakanigoro-teror-pki-kepada-aktivisislam-cCYH Diakses 22 Januari 2019 pk 04.51
31