Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02969

Jejak Kekerasan pada Novel Tarian Bumi Karya Oka Rusmini (Haryanti, 2017)

Cleaned OCR text (Good (0.906); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

=== [PDF page 1] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ JEJAK KEKERASAN PADA NOVEL TARIAN BUMI KARYA OKA RUSMINI Novi Diah Haryanti UIN Syarif Hidayatullah Jakarta, Indonesia novi.diah@uinjkt.ac.id Abstrak Tarian Bumi (2007) adalah salah satu novel yang memperlihatkan politik dan adat kekerasan yang jejaknya tidak bisa hilang dan dilupakan hingga saat ini. Novel ini juga bercerita tentang perjuangan perempuan Bali untuk memperoleh dan mengembalikan lagi hal yang telah hilang akibat persinggungan tokoh dengan tragedi politik’65 serta akibat dari pelanggaran adat. Tulisan ini akan mengeksplanasikan: 1) peran adat dan politik dalam melahirkan kekerasan yang bekasnya sulit dihapus dan dilupakan oleh para tokoh perempuan, dan 2) perjuangan para tokoh perempuan sebagai subaltern untuk bertahan hidup dan menyuarakan keinginannya. Penelitian kualitatif deskriptif analistik ini menggunakan perspektif pascakolonial. Berdasarkan analisis pada novel Tarian Bumi, tampak adat dan tradisi masih dipegang erat oleh masyarakat Bali. Kasta atau kelas menjadi penting untuk menentukan perempuan yang berhak berbicara dan yang seharusnya diam. Sebagai seorang Ida Ayu, Pidada merasa gagal lantaran anaknya menikahi seorang sudra. Pengalaman pahit yang dialami Luh Sekar karena status politiknya sebagai bekas anak PKI, membuatnya lebih tegar dan gigih dalam mencapai cita-citanya menjadi seorang jero atau bangsawan. Telaga mencoba memahami bahwa kebahagian hidup bukanlah dari atribut kebangsawan, tetapi justru pada cinta lelaki sudra bernama Wayan. Ulang-alik kelas ibu dan anak yang ditujukan oleh Oka Rusmini lewat sosok Kenanga dan Telaga, menunjukkan bahwa pergulatan subaltern tidaklah mudah dan pertarungannya terus berlangsung selama diskriminasi dan dominasi masih terus terjadi. Kata Kunci: Tarian Bumi, Oka Rusmini, kekerasan, Adat dan Politik, Subaltern Abstract Tarian Bumi (2007) is one of the novels that showcases the politics and customs of violence that traces can’t be lost and forgotten until now. This novel also tells the story of the struggle of Balinese women to obtain and restore the things that have been lost due to the intersection of the figures with the political tragedy'65 as well as the result of customary violations. This paper will explore: 1) the role of adat and politics in giving birth to violence that is difficult to erase and forgotten by women leaders, and 2) the struggle of women leaders as subalterns to survive and voice their desires. This descriptive analytical qualitative research uses a postcolonial perspective. Based on the analysis on the novel Tarian Bumi, it appears that customs and traditions are still held tightly by the people of Bali. Caste or class becomes important to determine the right woman to speak and who should be silent. As an Ida Ayu, Pidada feels failed because her son married a sudra. Buh Sekar's bitter experience due to his political status as a former PKI child, made him stronger and persistent in achieving his ideals of being a jero or nobleman. Telaga tries to understand that the happiness of life is not from the attributes of the noble, but it is precisely in the love of men sudra named Wayan. The mother-and-child class rounds directed by Oka Rusmini through Kenanga and Telaga 32 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 2] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ figures show that the subaltern struggle is not easy and the fight continues as long as discrimination and dominance continue. Keywords: Oka Rusmini, politics, subaltern, Tarian Bumi, violence A. Pendahuluan Pergulatan kelompok tersisih di pentas politik dan kebudayaan Bali tidak sedikit jumlahnya. Di tengah warisan hegemoni dan keindahan alam dan budaya Bali, tersisa kesaksian penuturan para subaltern yang termaginalkan, terbungkam, dan tak bersuara. Korban kekerasan pembantaian massal 1965-1966 adalah salah satu kelompok dan subjek subaltern yang terpinggirkan. Tak hanya itu, adat dan kebudayaan juga menghadirkan narasi-narasi dari para subaltern yang tersisih dan terhempas karena alasan melanggar adat. Konflik politik dan adat inilah yang membuat manusia Bali ini tersisih dan tak bersuara (Suryawan, 2009). Peristiwa sejarah G30S yang sangat penting dan menimbulkan rasa trauma tidak banyak dijadikan bahan penulisan sastra Indonesia. Jika pun ada, novel tersebut berlatar Jawa. Gambaran mengenai peristiwa G30S tampak dalam trilogi novel Ahmad Tohari yang berjudul Ronggeng Dukuh Paruk (1982), Lintang Kemukus Dini Hari (1985), dan Jentera Bianglala (1986); serta karya Umar Kayam yang berjudul Sri Sumarah (1986), Bawuk (1975), dan Para Priayi (1992). Itulah mengapa kehadiran novel Oka Rusmini menjadi penting karena mampu menggabungkan kondisi korban tragedi’65 dengan kekerasan adat yang kerap terjadi di Bali lewat tokoh Sekar. Tarian Bumi (2007) adalah salah satu novel yang memperlihatkan keadaan politik dan adat yang melahirkan kekerasan. Tak hanya itu, novel yang ditulis oleh Oka Rusmini ini juga bercerita mengenai perjuangan perempuan Bali untuk memperoleh dan mengembalikan lagi sesuatu yang telah hilang akibat persinggungan tokoh dengan tragedi politik’65 serta akibat dari melakoni apa yang disebut masyarakat sebagai “pelanggaran adat”. Perempuan Bali tidak terbiasa mengeluarkan keluhan (Rusmini, 2007). Novel Tarian Bumi bercerita mengenai tiga perempuan beda generasi yang terjebak pada adat, tradisi, dan politik sehingga ketiganya hidup dalam bingkai kekerasan. Pertama, Ida Ayu Sagra Pidada adalah perempuan Brahmana yang cantik dan kaya hingga membuatnya memiliki kedudukan lebih tinggi dan terhormat dibanding perempuan lainnya. Ida Ayu Sagra Pidada dijodohkan dengan Ida Bagus Tugur yang derajatnya 33 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 3] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ lebih rendah namun memiliki ambisi besar untuk menjadi pejabat. Dari hasil pernikahan tersebut, keduanya memiliki seorang putra bernama Ida Bagus Ngurah Pidada. Posisi Ida Ayu Sagra yang berada di atas suaminya membuat kehidupan rumah tangga keduanya tidak berjalan harmonis. Setelah menjabat sebagai lurah, Ida Bagus Tugur mulai lupa diri. Ia mulai jarang pulang bahkan terdengar desas-desus memiliki simpanan seorang penari yang sangat cantik. Tak hanya gagal dalam rumah tangga, Ida Ayu Sagra Pidada semakin kecewa lantaran anak semata wayangnya menikah dengan Luh Sekar, seorang perempuan Sudra. Pernikahan tersebut membuatnya merasa ditinggalkan oleh seluruh impiannya dan berada dalam kegagalan. Kedua, Luh Sekar adalah perempuan sudra yang hidup dengan kemiskinan dan penderitaan. Bapaknya yang terseret peristiwa’65 membuat Sekar dan keluarganya berjuang untuk hidup dalam tekanan politik dan diskriminasi. Mereka dikucilkan oleh warga kampungnya. Namun, Sekar miliki sesuatu yang tidak dimiliki oleh perempuan Sudra pada umumnya; kecantikan, bakat menjadi penari, dan keinginan kuat untuk mengubah nasibnya. Sejak awal, Sekar bercita-cita menjadi penari dan menikahi pria brahmana untuk menjadikannya seorang jero. Ketika akhirnya Sekar berhasil mewujudkan cita-citanya menjadi jero Kenanga setelah menikahi Ida Bagus Ngurah Pidada, Kenanga justru berada di posisi ambivalen dan hidup di bawah bayang-banyang sudranya. Ketiga, Ida Ayu Telaga Pidada. Anak Jero Kenanga dan Ida Bagus Ngurah Pidada yang hidup dalam kebencian pada sang bapak yang dilihatnya sebagai lelaki tidak berguna. Hubungan antara meme (ibu) dan neneknya yang “saling benci” membuat Telaga berada di posisi serba sulit. Ketika neneknya meninggal, Telaga hidup dalam dominasi ibunya yang terobsesi menjadikannya penari dan menikahkannya dengan seorang Ida Bagus. Namun diam-diam, Telaga jatuh cinta pada Wayan Sasmitha. Rasa cinta yang besar membuat Telaga rela melepas gelar Ida Ayu yang merupakan jubah kebesarannya menjadi seorang Luh Telaga. Dari hasil pernikahan dengan Wayan, Telaga memiliki anak bernama Luh Sari. 34 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 4] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ Berikut adalah urutan tiga tokoh perempuan yang menjadi penggerak cerita dalam novel Tarian Bumi (Rusmini, 2007: 176). Ida Bagus Tugur Ida Ayu Sagra Pidada Ida Bagus Ngurah Pidada Luh Sekar (Jero Kenanga) Wayan Sasmitha Ida Ayu Telaga Pidada (Luh Telaga) Luh Sari Selain ketiga tokoh perempuan tersebut, Luh Kramben menjadi salah satu tokoh yang akan diulas dalam tulisan ini. Sebagai perempuan sudra, Kramben dipercaya memiliki taksu yang menjadikannya primadona di pangung tari. Kepiawaiannya dalam menari dan pengalaman hidupnya, membuat Luh Kramben menjadi penari Bali yang paling sering diangkat kisah hidupnya ke media cetak bahkan buku. Namun, ketenarannya itu tidak lantas membuat Luh Kramben hidup bahagia dan berlimpah harta. Kramben justru ditemukan mati membusuk di biliknya yang sangat kecil. Para feminis, mengkritik persoalan perempuan yang kerap diabaikan karena persoalan kolonial yang lebih umum. Pemikiran pascakolonial mencoba menempatkan persoalan perempuan dalam sebuah bentuk koloniasi. Ada dua alasan pokok mengapa feminisme menjadi topik penting dalam wacana pascakolonial. Pertama, baik patriarki maupun imperialisme dilihat sebagai analogi dominasi terhadap pihak yang disubordinasikan. Kedua, adanya perdebatan dalam beberapa masyarakat bekas koloni terkait persoalan gender dan tekanan kolonial yang merupakan faktor politik yang sungguh penting dalam kehidupan perempuan (Sianipar, 2004). Teori ini menawarkan perlawanan terhadap kontrol yang menentukan pemaknaan identitas diri perempuan, khususnya terkait persoalan kelas dalam masyarakat. Gayatri Chakravotry Spivak, lahir di Calcutta, Bengal Barat, India, pada 24 Februari 1942. Ia terkenal karena kontribusinya yang besar dalam membangun kajian pascakolonial secara terus-menerus. Pergulatan kritis Spivak yang terus menerus dengan Marxisme, feminisme, dekonstruksi, dan psikoanalisis ditujukan secara krusial oleh komitmen politik dan intelektualnya terhadap kelompok-kelompok yang dirampas hak 35 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 5] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ pilihnya di dunia Selatan (Morton, 2008). Spivak mencoba mengambil pemikiran Marxis dan menafsirkan ulang konsep subaltern yang diuraikan oleh Antonio Gramsci. Konsep politik Gramsci tentang subaltern tidak bisa dilepaskan dari sejarah politik negara dan kelompok dominan yang menaunginya. Kelompok inferior adalah kelompok dalam masyarakat yang menjadi subjek hegemoni kelas-kelas berkuasa. Petani, buruh, dan kelompok yang tidak memiliki akses atas kekuatan hegemonik inilah yang dalam bahasa Gramsci disebut sebagai “kelompok inferior” kemudian disebut sebagai B. Metode Penelitian Penelitian kualitatif ini menggunakan metode deskriptif analisis. Metode ini dilakukan dengan cara mendeskripsikan fakta-fakta disusul dengan analisis. Deskriptif analitik berarti menguraikan untuk memberikan pemahaman dan penjelasan (Ratna, 2007) dengan pendekatan pascakolonial. Sumber data primer yang digunakan ialah novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini terbitan PT Gramedia Pustaka Utama, cetakan pertama, Juli 2007. C. Hasil dan Pembahasan Tarian Bumi merupakan novel berlatar Bali dengan memperlihatkan adat yang masih diyakini masyarakatnya. Sistem kasta yang ketat menyulitkan terjadinya mobilitas sosial dalam masyarakat Bali, terlebih jika ia perempuan, sudra, dan punya catatan politik hitam dalam kehidupan. Maka rentan bagi perempuan untuk ditindas, didiskriminasikan, dan dikucilkan. Sebagai perempuan sudra yang memiliki bapak seorang PKI, penindasan, diskriminasi, dan pengucilan itulah yang dialami Luh Sekar. Luh Sekar adalah perempuan sudra yang sejak awal bercita-cita menjadi penari jogeg. Kecantikannya dan kepiawainya menari tidak lantas membuatnya diakui sebagai penari. Sekar harus berjuang ekstra keras untuk menjadi penari jogeg karena untuk menjadi penari perlu pawisik para dewa. Dengan menjadi penari, Sekar mendapat apa yang selama ini hilang dari hidupnya, yaitu harga diri. Sebagai perempuan, Sekar tidak hanya menderita karena seorang sudra. Sekar lebih menderita karena bapaknya adalah anggota PKI, hingga label anak PKI terus melekat padanya. Hal tersebut tampak dari kutipan berikut. 36 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 6] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ (1) “Aku capek jadi perempuan miskin, Luh. Tidak ada orang yang bisa menghalangiku. Ayahku terlibat kegiatan politik, sampai kini tak jelas hidup atau matikah dia. Orang-orang mengucilkan aku. Kata mereka, aku anak penghianat. Anak PKI! Yang berbuat ayahku, yang menanggung beban aku dan keluargaku. Kadang-kadang aku sering berpikir, kalau kutemukan laki-laki itu aku akan membunuhnya” Kebencian Sekar pada ayahnya semakin menjadi setelah nasib buruk yang menimpa ibunya. Luh Dalem, ibu Sekar, harus banting tulang menghidupi keluarga setelah kehilangan suaminya. Nasib memang tidak berpihak padanya. Suatu hari, Dalem dirampok dan kedua matanya terluka sehingga menjadi buta. Tidak hanya itu, Dalem pun ditemukan telanjang setelah diperkosa oleh tiga pria sehingga menyebabkan Luh Dalem hamil dan melahirkan dua anak kembar, yaitu Luh Kerti dan Luh Kerta. Rasa kesal Sekar atas nasib baruk yang menimpa keluargnya karena ulah politik ayahnya, tampak dari kutipan berikut. (2)... Dia teringat pada laki-laki yang telah membuat lingkaran luka teramat tajam. Laki-laki yang tidak memberi kesempatan pada tiga orang perempuan di rumah untuk memilih hidupnya sendiri. Perbuatan lakilaki itu telah menghitamkan masa depan Sekar, dua orang adik perempuan, dan seorang perempuan buta. Kalau saya ayahnya tidak terlibat gerakan tidak jelas itu, orangorang desa tentu tidak akan menghukum keluarga Luh Sekar seperti ini. Dan ibunya, Luh Dalem, tidak akan sampai buta. (Rusmini, 2007: 46) Sekar sendiri tidak mengetahui nasib ayahnya. Bagi Sekar, lelaki yang dicap warga sebagai pengkhianat dan pemimpin pembantaian di desanya itu telah mati pada saat menjadi anggota PKI. Penderitaan yang membuat Sekar berusaha keras untuk mendapatkan lagi harga dirinya. Keinginan untuk naik kelas agar lebih dihargai itulah yang membuat Sekar terobsesi menikahi laki-laki brahmana. Pernikahan yang akan membuatnya menjadi seorang rabi (bangsawan) dan melepaskan jubah sudranya. Keinginan Sekar tersebut tampak dari kutipan berikut. (3)“Apa pun yang akan terjadi dengan hidupku, aku harus menjadi seorang rabi, seorang istri bangsawan. Kalau aku tak menemukan lakilaki itu, aku tak pernah mau menikah” (Rusmini, 2007: 22) Keinginan itulah yang membuat Sekar akhirnya menikahi Ida Bagus Ngurah Pidada, laki-laki yang kerap memandangnya penuh nafsu tiap kali Sekar menari. 37 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 7] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ Penikahan tersebut berhasil membuat Luh Sekar naik kelas dan mengganti namanya menjadi Jero Kenanga. Dengan gelar Jero, Sekar bukan lagi seorang sudra. Dengan naik kelasnya Sekar berarti melepaskan keluarganya. Ada pembatas atau aturan yang tidak bisa ditembus antara Kenanga yang pindah ke griya dengan keluarganya. Kenanga tak boleh lagi bersembanyang di pura keluargannya. Bahkan kini ibunya pun harus menghormati Kenangan karena derajat yang tidak sama. Namun, sebagai perempuan yang kenyang menderita, Luh Dalem mengiklaskan anaknya untuk pergi. Hal itu tampak dari kutipan berikut. (4)“... Pergilah! Kau jangan menangis. Jadilah perempuan baru. Perempuan yang memiliki harga diri, kekuasaan, dan impian besar. Jangan menangis! Aku tak pernah mendidikmu jadi perempuan cengeng!” (Rusmini, 2007: 58) Jika Luh Sekar atau Jero Kenanga kini merasa kehidupan berpihak padanya, Ida Ayu Sagra Pidada merasa semua mimpinya hilang setelah anak laki-laki satu-satunya menikahi perempuan sudra. Sewaktu muda, Ida Ayu Sagra Pidada adalah perempuan tercantik di desa. Pidada sangat menghormati orang lain dan tidak sombong. Itulah yang membuatnya digilai laki-laki di griya. Walau demikian, Pidada sangat mengagungkan nilai kebangsawanan. Itulah yang membuat Pidada tidak bisa menerima ketika anak semata wayangnya menikahi perempuan sudra. Masyarakat Bali memiliki tradisi kasta atau yang dikenal dengan istilah wangsa dan dikonseptualisasikan sebagai masyarakat yang memiliki struktur kelas ketat. Struktur kelas yang ketat ini berlaku pada masa kerajaan Hindu di Bali. Masyarakat dibedakan dalam dua tingkat. Pertama, secara kolektif disebut triwangsa, yang terdiri dari brahmana, satria, dan wesia. Kedua adalah kasta keempat, yang disebut sebagai sudra. Kelompok pertama disebut sebagai wong jero (orang dalam), dan kelompok kedua disebut wong jaba /jabawangsa (orang luar). Sebagai Ida Ayu atau kasta brahmana, Pidada menempati hieraki tertinggi dalam struktur masyarakat Bali. Pidada adalah kelas yang berkuasa, mendominasi, dan mempunyai hak untuk bersuara. Hak yang tidak dimiliki oleh kelas sudra yang berada pada lapis terendah masyarakat Bali. Hubungan keduanya digambarkan sebagai hubungan majikan dan budak karena kaum sudra hidup untuk melayani para brahmana. Hieraki itulah yang membuat Ida Ayu Sagra Pidada tidak pernah menganggap Kenanga sebagai bangsawan sejati. Kenanga adalah benalu yang memanfaatkan anaknya untuk 38 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 8] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ menaikkan derajatnya. Walau orang kebanyakan telah menganggap Kenanga sebagai jero, Pidada tetap melihatnya sebagai sudra. Hal itulah yang membuat jika Kenanga melakukan sedikit saya kesalahan yang melanggar aturan maka akan langsung dihina. Hal tersebut, tampak dari kutipan berikut. (5) Telaga tidak pernah paham, berapa aturan lagi yang harus dipelajari Ibu agar diterima sebagai bangsawan sejati. Hampir dua puluh tahun tidak ada habis-habisnya! (Rusmini, 2007: 63) Telaga adalah saksi hidup Kenanga dalam banyang-bayang kesudraan di depan Pidada. Hal itulah yang melahirkan ambivelensi dalam diri Kenanga karena di satu sisi menikmati status kebangsawanannya, sedangkan di sisi lain tertekan karena tetap dipandang sudra. Bahkan Kenanga merasa terbuang. Kenanga sudah tidak diakui sebagai anak karena derajatnya kini lebih tinggi dari Telaga. Di Griya, ibu mertua tetap menganggapnya sebagai perempuan sudra. Rasa kehilangan dan terbuang Kenanga tampak dari kutipan berikut. (6) Sekarang derajat Luh Sekar lebih tinggi dari derajat perempuan yang telah bersusah payah mengandung dan membesarkannya. Pada saat itu ia merasa tak lagi memiliki siapapun. Tidak keluarga, tidak juga ibunya. Perempuan tua itu telah berubah pula. Ada jarak yang tidak bisa diterjemahkan lewat kata-kata. (Rusmini, 2007: 60) Perjuangan sulbaltern lainnya tampak dari tokoh Luh Kambren, penari profesional yang berasal dari kasta sudra. Sebagai penari, Lum Kambren disukai tidak hanya oleh para lelaki Bali, tetapi juga oleh orang luar negeri. Luh Kambren membongkar orang Barat yang memanfaatkan eksotisme Timur dan menjualnya sebagai barang dagangan mahal, sekaligus memperlihatkan superiorioritas Barat dan inferioritas Timur. Hal tersebut tampak dari kutipan dialog antara Luh Kambren dan teman perempuannya yang berasal dari Belanda berikut ini. (7) “Kau sama saya dengan semua orang Barat yang tinggal di Bali ini. Di satu sisi mereka memandang kami sebagai manusia-manusia paling tolol. Manusia yang layak untuk dibodohi dan dibohongi. Tetapi di sisi lain kaummu juga mengakui diam-diam, bahwa bangsa kami memiliki kebudayaan yang luar biasa dibandingkan bangsamu yang katamu kalau bicara selalu memakai logika itu!” (Rusmini, 2007: 99) Pandangan sinis Luh Kambren terhadap bangsa asing terjadi karena sahabat sekaligus saingannya Luh Dampar mati gantung diri di studio lukis suaminya yang berkebangsaan Jerman. Studio lukis yang sangat luas, unik, dan bernuansa etnik Bali 39 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 9] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ tersebut diberi nama Galeri Dampar dengan tujuannya agar laki-laki Jerman pemiliknya tidak kena pajak terlalu tinggi dan memudahkan segala urusan administrasi. Kematian Luh Dampar semakin tragis ketika Kambren melihat begitu banyak foto, slide, dan rekaman Luh Dampar dalam keadaan telanjang. Bahkan kemudian foto telanjangnya dibuat dalam ukuran kartu pos. Hal yang terjadi pada Luh Dampar seakan menegaskan ungkapan para penari lain padanya bahwa laki-laki Barat hanya akan menggunakannya sebagai model lukisan yang akan dijual ke luar negeri. Sebagai penari profesional, Kambren sering diundang untuk menari ke luar negeri. Ia juga mendapat banyak piagam dari pemerintah. Hal itu membuatnya sering diwawancara oleh media. Bahkan kisahnya masuk dalam buku sejarah kesenian. Namun, Kambren tak pernah merasakan hasil yang pantas dari pengabdiannya. Kambren tetap hidup di bilik yang bau dan tidak terawat. Penderitaan dan kemiskinan yang melahirkan sesal karena ternyata piagam-piagam yang dimilikinya tidak mampu membuatnya bertahan hidup. Kambren ditemukan mati membusuk di bilik sempitnya. Penyesalan dan keinginan Luh Kambren tampak dari kutipan berikut. (8) “...Tiang tidak pernah ingin jadi sejarah atau dicatat sebagai manusia yang kehidupannya mampu memberi sinar di tanah Bali ini...” “Lalu apa yang Meme cari?” “Tiang ingin orang menghargai apa yang telah tiang perbuat untuk tanah ini.” Sebagai subaltern usahanya untuk melakukan perlawanan dan menyuarakan keinginan terhenti karena kematian tragis Lu Kambren. Kematian yang turut menandakan kekalahannya melawan sistem yang ada. Kekalahan itu tampak dari dialog antara Luh Kramben dan Telaga yang memperlihatkan keinginan Luh Krambren untuk ‘dihargai’. Maksud dari kata dihargai adalah mendapatkan materi (uang) yang layak dari apa yang sudah dilakukan, bukan hanya penghargaan kosong yang tidak bisa menyelamatkannya dari kemiskinan, penderitaan, dan penindasan. Tiga hal – penindasan, kemiskinan, dan penderitaan –yang membuatnya terus menjadi subaltern walaupun Kambren telah tercatat dalam buku sejarah kesenian. Dalam masyarakat Bali, tradisi kasta cenderung tidak dapat ditembus dan sangat memengaruhi kuatnya budaya patriarki. Hal ini terlihat pada perkawinan yang hanya dapat dilangsungkan oleh kasta yang sama. Kalaupun terjadi perkawinan antarkasta yang berbeda, itu pun hanya berlaku satu arah. Artinya laki-laki dari kasta yang tinggi 40 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 10] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ dapat menikah dengan perempuan dari kasta yang rendah. Namun tidak berlaku sebaliknya, perempuan dari kasta yang tinggi tidak dapat menikah dengan laki-laki dari kasta yang rendah. Dalam novel Tarian Bumi, larangan untuk menikahi perempuan Brahmana bagi laki-laki sudra tampak dari kutipan berikut. (9) “...seorang laki-laki sudra dilarang meminang perempuan brahmana. Akan sial jadinya bila Wayan mengambil Telaga sebagai istri...di mana otakmu. Kau akan mengambil junjunganmu sendiri? Orang yang seharusnya kita lindungi dan hormati.” (Rusmini, 2007: 137) Kutipan tersebut menunjukkan sikap Luh Gumbreg, ibu Wayan yang merupakan perempuan sudra melarang anak lelakinya untuk menikahi Telaga. Ada kepercayaan yang melekat bahwa kehidupan akan sial bila laki-laki sudra meminang perempuan brahmana. Hal itulah yang membuat Luh Gumbreg beranggapan kematian Wayan setelah enam tahun menikah dengan Telaga, merupakan kutukan dan kesialan yang ditanggung keluarganya karena menikahi perempuan brahmana. Larangan untuk menikahi lelaki sudra juga muncul dalam kehidupan Telaga. Sejak awal, Kenanga telah berpesan pada Telaga untuk mencari dan menikahi seorang Ida Bagus. Bagi Telaga, pesan tersebut di telinganya terdengar lebih mirip paksaan karena sang ibu turut campur mencarikan Ida Bagus yang menurutnya layak mendampingi Telaga. Jika Telaga menolak melakoni apa yang ibunya minta, maka Kenanga akan mengungkit-ngungkit perjuangannya membesarkan Telaga dan perjuangannya untuk bisa menjadi brahmana Sikap memaksa dan mendominasi yang dilakukan Kenanga inilah yang membuat pada mulanya Telaga menjaga jarak dan diamdiam semakin mencintai Wayan. Akan tetapi rasa cinta yang telah dipeliharannya sejak berumur sepuluh tahun itu, membuat Telaga berjuang untuk mendapatkan cintanya. Telaga rela melepas gelar bangsawan dan keluar dari griya yang sejak kecil ditempatinya sebagai hukuman karena menikahi Wayan lelaki sudra. Pernikahan yang terjadi antara Telaga dan Wayan menjadi antiklimaks dari perjuangan Kenanga untuk menjadi bangsawan sesungguhnya. Kenanga perempuan sudra yang juga seorang anak PKI, harus menikah dan hidup dalam banyang-banyang lelaki yang tidak dicintainya demi menjadi seorang bangsawan dan terlepas dari kemiskinan. Sedang Telaga, yang sejak kecil selalu hidup dalam kemewahan dalam griya, memilih untuk melepaskan gelar kebangsawanan demi 41 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 11] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ mendapatkan cintanya. Kejadian yang dialami Kenanga dan Telaga memperlihatkan siklus: sudra-brahmana-brahmana-sudra. Telaga tidak pernah menyesali nasib menjadi perempuan sudra karena menikahi Wayan. Pada akhirnya Wayan mati muda karena penyakit jantung dan keluarganya terus menyalahkan Telaga atas kematian itu. Fenomena itu dipercaya terjadi karena Telaga dan Wayan melanggar ketentuan adat. Walaupun demikian, Telaga tetap merasa bahagia. Salah satu pesan penting yang terdapat dalam novel ini tampak pada kutipan berikut ini. (10) “Begitu banyak orang yang mersa lebih bangsawan daripada bangsawan yang sesungguhnya.” (Rusmini, 2007: 174) Untuk menghilangkan kesialan yang mengikutinya dan melengkapi prosesi kesudraannya, Telaga harus menjalani upacara Pattiwangi. Telaga membiarkan mertuanya mencuci kaki di ubun-ubunnya sebagai tanda penjelmaan sebagai perempuan sudra. Pada saat pamit dengan ibunya, Telaga mendapat sebuah tusuk konde. Benda yang dulu diberikan oleh Luh Dalem pada Kenanga pada saat ia memutuskan menikah dengan lelaki brahmana dan menjadi bagian dari griya. Tusuk konde yang memberi getaran aneh bagi penerimanya, yang menurut ibunya mampu menolong Kenanga melewati berbagai masalah. Kini, tusuk konde itu ada di tangan Telaga. Sebagai seorang sudra, ia sudah tak dapat lagi bertemu, berbincang, serta menganggap Kenanga sebagai ibunya. Adanya jarak yang terjadi karena sistem kasta, membuat Kenanga merasa harus menjaga Telaga dalam bentuk yang lain, yaitu tusuk konde. Tusuk konde ini mewakili Kenanga menjaga dan menolong Telaga, sebagaimana dilakukan oleh ibunya (Luh Dalem) dulu terhadapnya. D. Simpulan Berdasarkan analisis terlihat jejak kekerasan dalam novel Tarian Bumi muncul setelah persinggungan tokoh bapak dengan peristiwa 65. Memiliki bapak anggota PKI membuat Sekar dan Ibunya (Luh Dalem) hidup menderita dan dikucilkan oleh masyarakat. Perampokan dan perkosaan yang dialami ibunya, seolah hukuman yang wajar karena menjadi istri anggota PKI. Itulah yang membuat Sekar kemudian bertekat mengubah nasibnya dengan menikahi laki-laki brahmana. Namun, meski sudah 42 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 12] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ menikah dengan laki-laki brahmana dan menjadi bangsawan Jero Kenanga, hidupnya tetap dalam bayang-bayang kasta sudra di depan Ida Ayu Sagra Pidada (mertuanya). Bagi Ida Ayu Sagra Pidada, Kenanga tetaplah seorang sudra, sedangkan bagi Luh Dalem (Ibunya) Sekar bukan lagi anaknya karena dengan menjadi Jero Kenanga. Sekar kini derajatnya lebih tinggi dari dirinya. Hal tersebut membuat Sekar atau Kenanga merasa terbuang dan disisihkan. Perjuangan perempuan sudra lainnya muncul lewat tokoh Luh Kambren. Keahliannya menari tidak membuat hidupnya lebih baik. Perjuangannya melawan penderitaan, harus terhenti karena kematian Luh Kambren yang tragis. Kematian tersebut turut menandakan kekalahannya melawan sistem yang ada. Kekalahan itu tampak dari keinginan Luh Kramben untuk dihargai dan mendapatkan materi (uang) yang layak dari keahliannya menari. Namun selama ini yang didapatnya hanyalah penghargaan kosong yang tidak bisa menyelamatkannya dari kemiskinan, penderitaan, dan penindasan. Ketiga hal tersebut terus membuatnya menjadi kelompok subaltern, meski ia telah tercatat dalam buku sejarah kesenian. Berbeda dengan Luh Sekar (Kenanga) dan Luh Kambren yang terlahir sebagai sudra, Telaga adalah brahmana yang memilih hidup sebagai sudra. Baginya, hidup bukan sekadar mencari harta dan nama besar tapi kebahagiaan yang hanya didapatnya dari cinta. Pernikahannya antara Telaga dan Wayan (sudra), menjadi antiklimaks dari perjuangan Kenanga untuk menjadi bangsawan yang sesungguhnya. Kehidupan kenanga dan telaga, memperlihatkan siklus kehidupan: sudra-brahmana-brahmanasudra. Ulang-alik kelas ibu dan anak yang ditujukan oleh Oka Rusmini lewat sosok Kenanga dan Telaga, menunjukkan bahwa pergulatan subaltern tidaklah mudah dan pertarungannya terus berlangsung selama diskriminasi dan dominasi masih terus terjadi. Daftar Pustaka Budiati, Ariani Ratna. 2009. Kuasa Perempuan Bali dalam Ritual keagamaan dan Politik. Makalah dalam International Graduate Students Conference Sekolah Pascasarjana Universitas Gajah Mada Morton, Stephen. 2008. Gayatri Spivak: Etika Subaltern, dan Kritik Penalaran Poskolonial. Terj. Wiwin Indiarti. Yogyakarta: Pararaton. Ratna, Nyoman Kutha. 2007. Teori, Metode, dan Teknik Penelitian Sastra. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. 43 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379 === [PDF page 13] === Journal Indonesian Language Education and Literature Vol. 3, No. 1, Desember 2017 http://www.syekhnurjati.ac.id/jurnal/index.php/jeill/ Rusmini, Oka. 2007. Tarian Bumi. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama Said, Edward W. 1978. Orientalisme. terj. Asep Hikmat. Bandung: Pustaka. Suryawan, I Ngurah. 2009. Bali Pascakolonial: Jejak Kekerasan dan Sikap Kajian Budaya. Yogyakarta: Kepel Press. Sianipar, Gading. 2004. “Mendefinisikan Pacakolonialisme?” dalam Muji Sutrisno dan Hendar Putranto (ed) Hermeneutika Pascakolonial: Soal Identitas. Yogyakarta: Penerbit Kanisius. 44 DOI:http://dx.doi.org/10.24235/ileal.v3i1.1379