Bentuk Perlawanan Perempuan melalui Penulisan dalam Album Dunia Milik Kita dan Salam Harapan (Saraswati dan Subono, 2021)
Cleaned OCR text (Good (0.938); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
=== [PDF page 1] ===
BENTUK PERLAWANAN PEREMPUAN MELALUI PENULISAN DALAM ALBUM
DUNIA MILIK KITA DAN SALAM HARAPAN
Dyah Paramita Saraswati, Nur Iman Subono, dan Friska Melani Universitas Indonesia email: saraswati.dyahparamita@gmail.com
Abstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk perlawanan perempuan yang tersirat pada lirik lagu paduan suara Dialita. Data penelitian berupa satuan lingual berupa kata, frasa, klausa di dalam teks-teks lagu. Sumber data penelitian berupa lagu dari album dari Paduan Suara Dialita yang berjudul “Dunia Milik Kita” (10 lagu) dan “Salam Harapan” (12 lagu).
Analisis data dilakukan secara deskriptif guna menganalisa isi lagu dari kedua album tersebut.
Dari hasil kajian, banyak lirik menggambarkan kisah sejarah korban penyitas tahun 1965 dari sudut pandang perempuan sebagai tahanan politik. Pengungkapan harapan para perempuan dan usaha memperbaiki citra buruk perempuan bentukan propaganda Orde baru sebagai perempuan brutal dan dikaitkan dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Lirik lagu ini juga mengungkapkan buah pikir dan suara hati perempuan melalui tulisan sebagai bentuk perlawanan baru yang dapat dilakukan oleh perempuan. Lagu-lagu itu membantu perempuan bertahan di masa-masa sulit di era tersebut. Meskipun lirik lagu membahas tentang perempuan, tokoh laki-laki tetap dihadirkan namun masih dari sudut pandang perempuan.
Kata kunci: perlawanan perempuan, penulisan, dunia milik kita, salam harapan
THE FORMS OF WOMEN’S RESISTANCE THROUGH WRITING
IN DUNIA MILIK KITA AND SALAM HARAPAN ALBUMS
Abstract
This study aimed to describe the form of women’s resistance implied in the lyrics of the Dialita choir song. The research data were in the form of lingual units in words, phrases, clauses in song texts. The data sources are songs from the album of the Dialita Choir entitled “Dunia Milik Kita” (10 songs) and “Salam Harapan” (12 songs). The contents of the songs from the two albums were then analyzed descriptively. From the study, most of the lyrics describe the historical story of 1965 survivors from the perspective of women as political prisoners. They express women’s hopes and efforts to improve the wrong image of women formed by the New Order propaganda as brutal women and associated with the Indonesian Communist Party. The lyrics of this song also express the thoughts and voices of women’s hearts through writing as a new form of resistance that women can do. The songs helped women survive through difficult times of the era. Even though the song lyrics talk about women, the male characters are still presented from a woman’s point of view.
Keywords: women’s resistance, writing, dunia milik kita, salam harapan
PENDAHULUAN perempuan dalam teks. Dalam banyak karya Pada masa lalu, menulis dianggap tulis atau teks sejarah, perempuan seringkali sebagai kegiatan yang diperuntukkan bagi tidak dimunculkan. Padahal, perempuan laki-laki. Banyaknya tulisan yang diproduksi seharusnya juga merupakan bagian dari oleh laki-laki menyebabkan keterpinggiran sejarah. Keberadaan perempuan yang terkesan
89
=== [PDF page 2] ===
Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 26, Nomor 2, April 2021: 89-104
dikesampingkan dalam teks yang ditulis pernah mencoba mengontraskan penulisan oleh laki-laki itu pada akhirnya membuat feminin dan maskulin. Hasilnya, dalam feminis aliran posmodern berpandangan penulisan maskulin, ia menemukan banyak bahwa menulis adalah salah satu cara pemilihan kata yang menampilkan oposisi perlawanan. Melalui penulisan, perempuan biner yang cenderung mengkotak-kotakkan.
dapat menyuarakan dirinya sendiri, maupun Selain itu, dalam tulisan laki-laki, perempuan menyuarakan suara perempuan lainnya, yang cenderung menjadi Liyan dan terpinggirkan.
memiliki pengalaman kebertubuhan yang Cixous pun menantang perempuan untuk berbeda tapi sekaligus memiliki kesamaan keluar dari dunia tulisan yang diciptakan lakidengan sang penulis. laki dan menulis sendiri kisah pengalaman Tong dan Priyatna dalam Feminist hidup perempuan dari sudut pandang yang Thought (2006) menyebutkan bahwa para lebih feministik. Selain itu, Tong dan feminis posmodern sebenarnya menyadari Priyatna (2006) juga menyebutkan bahwa sulitnya menentang tatanan simbolik melalui Lucy Irigaray percaya bahwa perempuan tulisan ketika kata-kata yang tersedia dalam dapat menciptakan bahasanya sendiri. Teks bahasa – untuk menentang tatanan bahasa atau karya tulis, tidak terbatas bentuknya.
yang meminggirkan perempuan – adalah kata- Karya musik berupa lagu beserta liriknya kata yang lahir dari tatanan masyarakat yang juga dapat disebut sebagai teks atau karya patriarkal. Dengan kata lain, para feminis tulis. Lirik lagu yang ditulis dalam sudut posmodern menyadari, di masa itu, bahasa pandang perempuan dan oleh perempuan yang dianggap sebagai sesuatu yang netral dapat digolongkan sebagai bentuk penulisan bukanlah benar-benar hal yang bebas nilai. perempuan. Paduan suara Dialita adalah Bahasa di masa itu, telah terhegemoni oleh contoh yang menarik untuk menggambarkan budaya patriarkal dan memiliki keberpihakan hal yang diuraikan di atas.
yang cenderung dapat melanggengkan tatanan Paduan Suara Dialita adalah kelompok tersebut. Sehingga pada dasarnya, bahasa paduan suara yang anggotanya terdiri dari juga telah menjadi alat yang meminggirkan para perempuan yang pernah menjadi keberada perempuan. Tetapi, dalam penulisan tahanan politik (tapol) karena dianggap perempuan, perempuan justru menggunakan sebagai anggota, simpatisan, atau orang bahasa tersebut sebagai alat perlawanan. yang memiliki hubungan dekat dengan Helene Cixous adalah salah satu Partai Komunis Indonesia (PKI). Pada tokoh feminis posmodern yang mengajak 1965, Indonesia mengalami masa pergantian perempuan untuk menulis sebagai bentuk politik yang terbilang besar-besaran dan dari perlawanan. Dalam The Laugh of the mengubah banyak aspek dan sendi-sendi Medusa, Cixous et al. (1976) menyerukan kehidupan masyarakatnya. PKI, sebagai perempuan haruslah menulis mengenai partai yang saat itu terbilang besar, dianggap perempuan dan kepada perempuan. Baginya, sebagai pihak yang bertanggung jawab atas melalui tulisan perempuan bisa memasukkan terjadinya peristiwa G30S. Van Doorndiri dan kisahnya dalam teks. Sebab, bagi Harder (2019) dalam artikel jurnalnya Cixous et al. (1976), sosok perempuan yang mencatat adanya perburuan, penangkapan, dihadirkan dalam penulisan yang dilakukan dan tindak kekerasan yang terjadi pada oleh laki-laki, belum tentu benar-benar dapat mereka yang dianggap sebagai bagian dari mewakili apa yang sesungguhnya dialami dan PKI. Dalam peristiwa itu, tidak sedikit dirasakan oleh perempuan. korbannya adalah perempuan.
Mengenai Helene Cixous, Tong dan Paduan Suara Dialita terbentuk pada Priyatna (2006) juga menjelaskan, Cixous 4 Desember 2011, berselang 13 tahun
90
=== [PDF page 3] ===
Bentuk Perlawanan Perempuan...(Saraswati, D. P., Subono, N. I., & Melani F.)
setelah reformasi yang ditandai dengan tengah menjadi tahanan politik menjadi jatuhnya Orde Baru, rezim yang melakukan penyambung asa dan penghiburan bagi penangkapan terhadap para eks tapol tanpa mereka ketika berada dalam penjara. Dalam adanya pengadilan yang mumpuni. Ide liriknya, mereka seolah memaknai masa membentuk kelompok paduan suara muncul tahanan mereka sebagai cobaan yang tidak karena, setelah bebas dari tahanan, para akan berlangsung selamanya. Hal tersebut perempuan penyitas 1965 kerap berkumpul juga diutarakan oleh salah satu anggota dan membuat bakti sosial untuk membantu Paduan Suara Dialita ketika mereka tampil sesama perempuan eks tapol yang sedang di Konser Perempuan untuk Kemanusiaan:
membutuhkan. Sambil mengumpulkan Lagu Untuk Anakku (Songs of Survivors)
donasi, mereka kerap bernyanyi bersama. yang berlangsung di Gedung Graha Bhakti Dari situ lah timbul ide untuk membuat Budaya, Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat kelompok paduan suara. Lagu-lagu yang pada 13 Desember 2017 dan festival musik dibawakan oleh Paduan Suara Dialita adalah Joyland 2019 yang berlangsung di Lapanngan lagu-lagu yang ditulis oleh para perempuan Panahan, Gelora Bung Karno, Jakarta Pusat penyintas 1965 ketika berada dalam penjara. pada Minggu, 18 Desember 2019. Mereka Saat itu, peralatan untuk membuat lagu dari mengatakan banyak mengambil tema tentang dalam penjara amat terbatas. Di tahanan, harapan di masa depan sebagai cara mereka tidak ada pensil maupun kertas yang dapat untuk merawat asa, memberikan potret digunakan untuk menulis lagu. Ada lagu mengenai kehidupan mereka di balik penjara, harus dihapal secara lisan dan baru dituliskan dan mengirimkan doa untuk keluarga dan setelah ia bebas dari dari penjara, hapalkan kerabat yang mereka rindukan tetapi tidak sebagai lagu senam irama, ada pula lagu dapat mereka jumpai.
lainnya yang ditulis di atas kertas bekas roti Sebagai contohnya, Lagu Untuk Anakku tawar dengan pensil pinjaman. yang liriknya ditulis oleh Herayani Busono Menariknya, meski ditulis ketika para dan nadanya digubah oleh Kapten Juwito.
perempuan penyintas 1965 sedang menjadi Lagu itu merupakan pesan yang diberikan tahanan politik, lagu-lagu tersebut memiliki oleh para tahanan politik untuk anak-anak tema yang tidak melulu muram. Mereka lebih mereka. Di periode itu, ada banyak anak-anak suka menuliskan harapan akan datangnya yang terpaksa harus berpisah dari orang tua hari esok yang lebih baik di tengah masa mereka karena ditangkap sebagai tahanan tahanan yang penuh dengan ketidakpastian politik, bahkan dieksekusi mati setelah (Salam Harapan, Tetap Senyum Menjelang dicurigai terlibat dalam Partai Komunis Fajar), kerinduan pada anggota keluarga Indonesia (PKI). Meskipun lagu itu memiliki (Lagu Untuk Anakku, Ibu), kekuatan diri latar belakang yang getir, lirik dari lagu di tengah cobaan (Ujian) dan optimisme tersebut justu mengumbar harapan, simak bahwa perubahan akan datang (Kabut Putih). saya lirik di bait pertama dari lagu tersebut, Ketika ada lagu yang ditulis mengenai “Lihatlah pagi cerah indah anakku // suasana penjara tempat mereka ditahan, Lihatlah mawar merah merekah sayangku // para perempuan yang saat itu menjadi Secerah pagi indah haru depanmu // Semerah tahanan politik lebih suka bercerita tentang mawar rekah harapanku.”
indahnya taman bunga yang mereka buat Lagu lainnya yang juga menggambarkan demi mempercantik penjara (Taman Bunga optimisme adalah Salam Harapan yang Plantungan). ditulis oleh Zubaedah Nungcik AR dan Ditilik dari liriknya, lagu-lagu yang Murtiningrum. Lagu itu dibuat untuk ditulis oleh para perempuan yang saat itu dinyanyikan tiap kali salah seorang tahanan
91
=== [PDF page 4] ===
Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 26, Nomor 2, April 2021: 89-104
politik sedang merayakan ulang tahun. Simak bagaimana lirik lagu milik Paduan Suara lah liriknya, “Bersama terbitnya matahari Dialita dimaknai sebagai bentuk kepenulisan pagi // Mekar mewah merekahlah melati // perempuan yang erat kaitannya dengan cara Salam harapan padamu kawan //Semoga mereka menarasikan kisah sejarah versi kau tetap sehat sentausa,” adalah lirik di bait mereka sebagai perempuan penyintas yang pertama. Kemudian, lirik dalam bait berdua suaranya kerap terpinggirkan. Artikel ini berbunyi, “Bagai gunung karang di tengah merupakan ditulis sebagai tinjauan pustaka lautan // Tetap tegak didera gelombang // untuk membedah bagaimana lirik dari lagu Lajulah laju, perahu kita laju// Pasti kan dalam album Dunia Milik Kita (2016) dan mencapai pantai cinta.” Salam Harapan (2019) dapat menjadi bentuk Dari contoh dua lirik lagu di atas, dapat perlawanan melalui penulisan perempuan.
dilihat bahwa lagu yang ditulis oleh para Untuk membahasnya, saya smenelaahnya tahanan politik perempuan dalam penjara menggunakan sejumlah tulisan karya seakan banyak menggunakan pemilihan kata Helene Cixous, Sofia Varino, Wieringa dan yang menggambarkan kekuatan dan harapan. Kacasungkana, I Gusti Agung Ayu Ratih, Lirik dari lagu tersebut tidak tulis dengan baris Charlotte Greig, Nelly van Doorn-Harden, panjang dan banyak bait, sebaliknya, lirik dan Susan McClary.
tersebut terbilang sederhana dan gamblang meski banyak menggunakan pengandaian, METODE misalnya “pagi”, “batu karang”, ataupun Penelitian ini menggunakan metode “bunga mawar”. Oleh karena itu, lirik dari tinjauan pustaka. Data penelitian berupa lagu yang ditulis oleh Paduan Suara Dialita satuan lingual berupa kata, frasa, klausa di memiliki karakteristik yang terbilang mirip dalam teks-teks lagu. Sumber data penelitian dengan puisi. Menurut Cixous et al. (1976), berupa dua buah album musik dari Paduan puisi adalah salah satu bentuk karya yang Suara Dialita yang berjudul Dunia Milik Kita dapat menggambarkan perasaan terdalam, (2016) dan Salam Harapan (2019). Paduan tetapi juga, Cixous juga memandang bahwa Suara Dialita terhitung telah merekam dua perempuan dapat membangun kekuatannya album yang menjadi kompilasi lagu-lagu melalui puisi. Karena mengeksplorasi yang dibuat dari dalam tahanan tersebut, perasaan terdalam yang letaknya ada di alam di antaranya Dunia Milik Kita (2016) dan bawah sadar, puisi kerap kali bergerak tanpa Salam Harapan (2019). Lagu-lagu yang batasan. Hal itu, bagi Cixous et al. (1976), ditulis di atas adalah karya yang ada dalam menjadi kekuatan tersendiri bagi perempuan dua album tersebut. Dua album itu dibuat yang ingin melawan melalui tulisan. dengan melibatkan sejumlah musisi lainnya, Karya dari Paduan Suara Dialita menjadi saat merilis Dunia Milik Kita (2016), Frau, penting untuk dibahas, sebab karya yang dapat Cholil Mahmud, Sisir Tanah, Lintang dipandang sebagai teks tersebut merupakan Raditya, Keroncing Agawe Santosa, Nadya perpanjangan dari tubuh mereka. Karya Hatta, dan Prihatmoko Moki turut terlibat tersebut merangkum kisah dan pengalaman dalam penggarapannya. Sementara itu, dalam yang dialami oleh para perempuan penyintas pembuatan Salam Harapan (2019), musisi 1965 ketika berada dalam tahanan. Maka yang terlibat di antara lain Sita Nursanti, karya itu pun menjadi bagian dari diri mereka Endah Widiastuti, Junior Sumantri, Bonita, yang mereka coba bagikan ke publik. Kajian Endah Laras, dan Kartika Yahya. Analisis ini membahas mengenai bagaimana lirik data dilakukan secara deskriptif guna lagu dari Paduan Suara Dialita menjadi mendeskripsikan isi lagu dari kedua album bentuk perlawanan tersendiri melalui tulisan; tersebut. Daftar lagu yang terdapat dalam dua
92
=== [PDF page 5] ===
Bentuk Perlawanan Perempuan...(Saraswati, D. P., Subono, N. I., & Melani F.)
album dari Paduan Suara Dialita disajikan Paduan Suara Dialita tetap terbilang dalam Tabel 1 dan 2. mendominasi album. Mereka muncul menyanyikan sebagian lagu dalam album, HASIL DAN PEMBAHASAN yakni Tani Menggugah Hati, Kabut Putih, Dunia Milik Kita (2016) merupakan Relakan, Aku Percaya, dan Salam Harapan album pertama yang direkam oleh Paduan yang dibawakan bersama Bonita, Endah Suara Dialita. Dalam album itu, terdapat 10 Laras, Endah Widiastuti, Junior Sumantri, lagu yang terdiri dari Ujian, Salam Harapan, Kartika Yahya, dan Sita Nursanti yang juga Di Kaki Kaki Tangkuban Perahu, Padi mengisi lagu lainnya. Sementara itu, para Untuk India, Taman Bunga Plantungan, Viva musikus yang terlibat pun membawakan Ganefo, Lagu Untuk Anakku, Kupandang satu lagu secara utuh, yaitu Sita Nursanti Langit, Dunia Milik Kita, dan Asia Afrika yang menyanyikan Tetap Senyum Menjelang Bersatu. Lagu-lagu tersebut adalah kumpulan Fajar, Endah Widiastuti yang menyanyikan lagu yang ditulis dalam rentang waktu yang Ibu, Junior Sumantri yang menyanyikan terbilang acak. Namun, lagu-lagu dalam Mawar Merah, Bonita yang menyanyikan albumnya tidak hanya memotret pengalaman Lagu Untuk Anakku, Endah Laras yang mereka sebagai perempuan tahanan politik, menyanyikan Taman Bunga Plantungan, tetapi juga mengisahkan peristiwa sejarah dan Kartika Yahya yang menyanyikan Ujian.
yang terjadi di era lagu itu ditulis. Ideologi feminis memercayai bahwa Album Salam Harapan (2019), beberapa setiap persoalan perempuan, termasuk yang lagunya ditulis oleh perempuan penyintas berkaitan dengan kehidupan pribadi yang mantan tahanan politik yang bergabung merupakan area yang sangat privat sekalipun, sebagai anggota Paduan Suara Dialita justru adalah hal politis yang berkaitan dengan dibawakan secara satu lagu menyeluruh oleh relasi kuasa. Sayangnya, hal tersebut sulit penyanyi lain. Meski demikina, kemunculan dimengerti oleh khalayak sebab di masa lalu, Tabel 1
Daftar Lagu dalam Album Dunia Milik Kita (2016)
Judul lagu Penulis lagu Penampil dalam album Ujian Siti Juswati Jubariah (lirik), NN (lagu) Paduan Suara Dialita, Frau Salam Harapan Murtiningrum (lirik), Zubaidah Nungcik Paduan Suara Dialita, Cholil Di Kaki Kaki Tangkuban Putu Oka Sukanta (lirik), M. Karatem Paduan Suara Dialita, Frau, Sisir Perahu (lirik dan lagu) Tanah, Lintang Radittya Padi Untuk India M. Alie Paduan Suara Dialita, Sisir Tanah, Lintang Radittya
Taman Bunga Plantungan Zubaidah Nungcik A.R. (lirik dan lagu) Paduan Suara Dialita, Kroncong Agawe Santosa
Viva Ganefo Asmono Martodipuro Paduan Suara Dialita, Sisir Tanah Lagu Untuk Anakku Heryani Busono (lirik), Kapt. Juwito Paduan Suara Dialita, Cholil (lagu) Mahmud, Lintang Radittya Kupandang Langit Kusalah Subagyo Tur Paduan Suara Dialita, Frau, Lintang Radittya
Dunia Milik Kita Sudharnoto Paduan Suara Dialita, Cholil Mahmud
Asia Afrika Bersatu Sudharnoto Paduan Suara Dialita, Nadya Hatta, Prihatmiki Moki, Lintang Radittya
93
=== [PDF page 6] ===
Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 26, Nomor 2, April 2021: 89-104
Tabel 2
Daftar Lagu dalam Album Salam Harapan (2019)
Judul lagu Penulis lagu Penampil dalam album Tetap Senyum Menjelang Zubaidah Nungcik A.R. (lirik), Maasye Siti Nursanti Fajar Siwi (lagu)
Tani Menggugah Hati Zubaidah Nungcik A.R. (lirik dan lagu) Paduan Suara Dialita Indonesia Jaya Utati (lirik), S. Harti, S.H. (lagu) Paduan Suara Dialita Mawar Merah Siti Sulistyowati (lirik), Zubaidah Junior Sumantri Lagu Untuk Anakku Heryani Busono (lirik), Mayor Juwita Bonita (lagu)
Taman Bunga Plantungan Zubaidah Nungcik A.R. Endah Laras Kabut Putih Zubaidah Nungcik A.R. Paduan Suara Dialita Relakan Sudiyami (lirik), Zubaidah Nungcik Paduan Suara Dialita A.R. (lagu)
Ujian Siti Juswati Jubariah (lirik),NN (lagu) Kartika Yahya Salam Harapan Murtiningrum (lirik), Zubaidah Paduan Suara Dialita, Sita Nursanti, Nungcik A.R. (lagu) Junior Sumantri, Bonita, Endah Laras, Kartika Yahya, Endah Widiastuti
Aku Percaya Disadur dari lagu I Believe (Frankie Paduan Suara Dialita Laine) karangan Irvin Graham, Ervin Drake, Shirl Jimmy, Al Stillman
yang diproduksi dan beredar di masyarakat bagi perempuan itu yang membuat Cixous hanyalah teks dengan wacana-wacana besar berargumen, “Perempuan harus menulis yang dituliskan dalam penulisan laki-laki tentang dirinya: menulis tentang perempuan (penulisan maskulin/ masculine writing). dan membawa (sosok) perempuan ke dalam Cixous et al. dalam The Laugh of the tulisannya” (Cixous, 1976, p. 875).
Medusa (1976), yang telah disinggung Dalam pemikirannya tersebut, Cixous dalam pendahuluan menyebut, di masa yang mengutarakan perempuan harus menuliskan lalu, menulis dianggap sebagai pekerjaan tentang dirinya dalam tulisan yang ia buat yang dilakukan oleh laki-laki. Oleh karena sebab persoalan perempuan berkaitan erat itu, wacana yang tercipta pun cenderung dengan kondisi sosial yang tengah terjadi, maskulin. Maka adalah penting bagi sejarah hidup perempuan yang dituturkan perempuan untuk menulis. Atas dasar itu, dari sudut pandang paling personal sekalipun muncul lah pemikiran bahwa perempuan beririsan juga dengan sejarah dengan harus menulis untuk melawan. Perlawanan wacana besar yang terjadi di dunia. Oleh yang dimaksud tidak harus serta merta karena itu, ketika seorang menulis mengenai menjadi perlawanan dalam bentuk turun ke dirinya dan tokoh perempuan lainnya, jalan untuk melancarkan protes, melainkan ia turut memasukkan perempuan dalam mengungkapkan buah pikir dan suara hati sejarah dan pengetahuan dunia. Dengan melalui tulisan menjadi bentuk perlawanan menulis, perempuan tidak hanya menuturkan baru yang dapat dilakukan oleh perempuan. sejarahnya sendiri, tetapi juga sekaligus Kesadaran mengenai pentingnya penulisan perempuan lainnya.
94
=== [PDF page 7] ===
Bentuk Perlawanan Perempuan...(Saraswati, D. P., Subono, N. I., & Melani F.)
Selama ini, dalam tatanan masyarakat penulis dapat menunjukkan bahwa perempuan yang patriarkal, perempuan teralienasi adalah makhluk yang beragam dan memiliki dari diri dan tubuhnya sendiri. Perempuan banyak lapisan diri sehingga tidak dapat telah sekian lama merasakan keterpisahan digeneralisasikan dan diseragamkan dalam dari diri dan tubuhnya karena banyaknya tipe-tipe yang membelenggu dan pengkotaktuntutan yang dialamatkan padanya sebagai kotakan yang ajeg. Dengan kata lain, meski perempuan, sehingga perempuan kerap kali perempuan memang memiliki pengalaman tidak memiliki ruang untuk benar-benar yang serupa, tetapi perempuan adalah mengenal siapa dirinya. Perempuan yang individu-individu yang unik dan berbeda, berada di tengah lingkungan yang patriarkal yang memiliki pengalaman hidup, tantangan, kerap kali ‘memutilasi’ dirinya untuk dapat dan pemikiran berbeda satu sama lain.
diterima oleh sekitarnya yang mengkotak- Penulisan perempuan, sebagaimana kotakkan perempuan dalam stigma tertentu. disebutkan Cixous et al. (1976), memiliki dua Keterpisahan itu kemudian dianggap tujuan, pertama adalah untuk membongkar erat kaitannya dengan ketiadaan tulisan yang anggapan dan mitos perempuan yang memberikan potret dan kisah sejarah hidup telah lama dikonstrusikan oleh penulisan perempuan dari sudut pandang perempuan. maskulin dimana tubuh perempuan kerap Hal itu memberikan sedikit-banyak pengaruh kali ditabukan, misalnya melalui stigma terhadap keterpisahan perempuan dari dan stereotipe yang ditempalkan pada dirinya. Ketika membaca teks yang dituliskan perempuan tersebut. Tujuan pertama dari oleh laki-laki, perempuan tidak dapat penulisan perempuan itu juga sekaligus untuk menemukan dirinya secara utuh, sebab membongkar anggapan mengenai peran yang pengalaman yang dirasakan oleh diri dan dikonstruksikan untuk perempuan adalah tubuhnya tidak dapat diceritakan dengan suatu kebenaran yang absolut. Padahal, pada tepat oleh laki-laki penulis dalam tulisan kenyataannya, konstruksi dan anggapan tersebut. Maka, menulis, bagi Cixous et yang ditempelkan pada perempuan belum al. (1976), adalah salah satu jalan bagi tentu dirasakan oleh semua perempuan.
perempuan untuk lebih mengenali dirinya Sebagaimana yang telah diuraikan di atas, dan mengambil otoritas penuh terhadap perempuan memiliki begitu banyak dimensi dirinya. Terutama, apabila tulisan tersebut dan keberagaman. Kedua, perempuan penulis memotret hal personal yang erat kaitannya juga mengajak mereka yang membaca dengan masalah kebertubuhan perempuan tulisannya untuk memahami apa yang yang tentunya tidak dialami oleh laki-laki. sebelumnya tidak mereka ketahui. Sebelum Penulisan perempuan yang personal adanya penulisan perempuan, perempuan juga dimaksudkan untuk melawan pandangan tidak memiliki ruang untuk bercerita tentang yang menanggap bahwa perempuan dapat dirinya, membangun wacana mengenai dikotak-kotakan dalam jenis dan tipe. dirinya, dan melawan mitos keperempuanan Dalam banyak tulisan maskulin, perempuan yang telah sekian lama dilanggengkan dalam digambarkan dengan stereotipe dan stigma penulisan maskulin dan masyarakat yang konvensional, misalnya, perempuan harus patriakal. Dengan menulis, perempuan berlaku lemah lembut, menjadi pihak yang dapat membentuk narasinya sendiri dan penurut apabila dipimpin oleh laki-laki, dekat membantah wacana mengenai perempuan dengan pekerjaan domestik, dan berbagai yang dibentuk oleh laki-laki patriarkal dalam stigma dan strereotipe lainnya. Bagi Cixous tulisannya.
et al. (1976), penulisan perempuan yang Penulisan maskulin yang dimaksud menitikberatkan pada pengalam pribadi C i x ous ad al ah t ul i s a n ya ng ha ny a
95
=== [PDF page 8] ===
Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 26, Nomor 2, April 2021: 89-104
mengedepankan tokoh laki-laki di dalamnya. yang sudah diuraikan sebelumnya, menulis Biasanya, tulisan tersebut dibumbui oleh adalah salah satu sarana perempuan untuk kisah heroik yang dilakukan oleh tokoh meliberasi diri dari adanya penabuan dan laki-laki dan memotret persoalan dalam penyensoran atas tubuh perempuan. Dalam wacana besar, sehingga kisah keseharian, hal ini, Cixous juga menyebutkan perihal yang tidak dianggap sebagai wacana besar, suara yang juga merupakan bagian dari tubuh pun luput direkam oleh tulisan maskulin. dan diri perempuan, maka bernyanyi juga Cixous tidak melulu menganggap semua dapat diartikan sebagai ‘menulis’, sebab lagu penulisan maskulin bias gender. Meski juga dapat berfungsi sebagai karya tulisan.
demikian, karya tulis maskulin yang ditulis Adanya cerita yang keliru mengenai oleh laki-laki yang patriarkal membuat perempuan dalam tulisan maskulin, perempuan menjadi Liyan di dalamnya. menyebabkan dua hal. Pertama, tubuh Hal itu yang membuat perlunya telaah lebih perempuan dipandang sebagai sesuatu yang lanjut mengenai bagaimana sosok perempuan monstrous dan menakutkan oleh laki-laki dan direpresentasikan dalam tulisan maskulin. Itu kedua, perempuan juga menjadi tidak dapat yang mendorong anggapan bahwa sejarah memahami tubuhnya secara menyeluruh.
hidup perempuan sebaiknya memang ditulis Penyebab lain dari perasaan terpisah dan oleh perempuan itu sendiri, sebab ada hal- teralienasi juga dirasakan perempuan karena hal yang tidak dapat dirasakan oleh laki- adanya pengabaian pengalaman dan sejarah laki, misalnya merasakan memiliki rahim hidup perempuan dalam teks maskulin yang dan sistem reproduksi yang hanya dimiliki tulis oleh mereka yang masih terhegemoni oleh perempuan. Hal itu yang menyebabkan oleh pemikiran patriarkal.
tulisan tentang perempuan baiknya ditulis Pandangan tentang perempuan yang oleh, dari, dan untuk perempuan. keliru dalam tulisan laki-laki itu tidak jarang Penjelasan Helene Cixous et al. (1976) membuat perempuan merasa asing atas itu pada akhirnya berkaitan juga dengan dirinya, maka dengan menulis, perempuan adanya peran perempuan dalam sejarah. dapat memberikan ruang pada dirinya Perempuan adalah bagian dari sejarah dan maupun perempuan lainnya untuk mengenal tentunya memiliki peran di dalam berbagai tubuhnya dan memiliki otoritas daripadanya.
peristiwa sejarah, tetapi belum tertulis dalam Bagi Cixous, alasan mengapa perempuan tulisan yang hadir dari sudut pandang laki- harus menulis tentang diri dan tubuhnya laki. Dengan tulisan yang dibuat dari sudut adalah karena sudah seharusnya diri dan pandang perempuan, diharapkan dapat tubuh perempuan didengarkan. Kontruksi menyadarkan dan memberitahukan bahwa sosial yang patriarkal banyak mereduksi perempuan juga menjadi bagian dari sejarah. peran dan pemikiran perempuan. Perempuan Ketika perempuan menulis tentang terepresi dan pengalamannya diabaikan, dirinya, hal itu juga dianggap dapat menulis untuk diri sendiri juga memberikan meliberasi pemikiran perempuan karena akses bagi kekuatan diri. Dengan menulis, memberikan akses bagi perempuan untuk perempuan menjadi memiliki kuasa atas mengutarakan sudut pandangnya. Baik dirinya yang ia tuliskan.
dilakukan secara sadar maupun tidak, dalam Selain itu, bila ada satu perempuan melakukan perlawanan melalui tulisan. yang menulis, hal itu dapat membuka jalan Pertama perempuan memperjuangkan dirinya bagi perempuan lainnya untuk menulis.
sendiri. Kedua, ketika perempuan menulis, Momentum adanya satu perempuan yang selain menulis untuk dirinya sendiri, ia juga menulis, dapat menjadi kesempatan baginya menulis untuk perempuan lainnya. Seperti untuk memasukkan perempuan (yang mana
96
=== [PDF page 9] ===
Bentuk Perlawanan Perempuan...(Saraswati, D. P., Subono, N. I., & Melani F.)
adalah dirinya) dalam catatan sejarah. Dia terhadap perempuan melalui bahasa. Hal tidak hanya mewakili dirinya sendiri, tetapi itu disebabkan oleh kata-kata yang tersedia juga menjadi representasi bagi perempuan dalam suatu bahasa pun kebanyakan telah secara umum. Dengan menulis, perempuan terhegemoni oleh budaya patriarki. Gaya berarti menulis dari, untuk, dan oleh penulisan akhirnya dapat menjadi salah satu perempuan karena lewat karyanya ia bersuara pilihan politis. Puisi (dalam hal ini bisa juga dan memecah keterbungkaman. Hal itu diterapkan pada lagu, karena lagu dan puisi yang membuat, apabila seorang perempuan memiliki banyak kesamaan) menurutnya menulis, ia tidak hanya menulis tentang memiliki kekuatan untuk menyuarakan haldirinya, tetapi juga menulis untuk perempuan hal yang ada di alam bawah sadar. Apa yang lainnya. Meski tidak dapat dimungkiri, tidak dituliskan dalam puisi bisa menjadi metafora semua karya dari perempuan berperspektif tanpa batas yang menjadi wadah bagi mereka adil gender (adapula perempuan yang telah yang tertindas untuk menyintas ketertindasan terhegemoni oleh adanya konstruksi dan mereka dan bersuara.
norma yang langgengkan budaya patriarkal). Varino (2018), dalam jurnal artikel Cixous et al. (1976) menolak mem- yang ditulisnya mengenai Helene Cixous, berikan definisi dan kriteria yang saklek beranggapan bahwa apa yang dimaksud mengenai bagaimana penulisan perempuan oleh Cixous dalam konsep penulisan seharusnya ditulis dan bagaimana karak- perempuan atau feminine writing adalah teristiknya. Baginya, penulisan perempuan untuk menemukan bentuk baru dari teks adalah karya apapun yang tidak memiliki yang meminggirkan perempuan. Dalam karakteristik penulisan maskulin, misalnya teks yang dibuatnya sendiri, Varino (2018)
cenderung membicarakan wacana besar, memandang Cixous mengajak perempuan mengabaikan isu personal, kaku. Mencoba untuk merayakan keberagaman dan perbedaan menjadi kebalikan dari penulisan maskulin, yang mereka miliki dan membuat diri mereka, Cixous et al. (1976) pun pada akhirnya yang selama ini terpinggirkan, tetap hidup enggan memberikan kriteria kaku menganai dalam teks itu. Keputusan Cixous untuk bagaimana rumusan dari penulisan perempuan. menulis secara puitis, baik dalam teks esai Menurutnya, penulisan perempuan tidak maupun naskah fiksi, dinilai Varino (2018)
dapat dimasukkan begitu saya dalam kotak juga sebagai keputusan yang politis. Lewat rumusan; bagaimana penjelasannya dan teks, Cixous mencoba melawan oposisi biner bagaimana sebaiknya dipraktikkan. Akan dalam bahasa. Biner yang ada dalam bahasa tetapi penulisan perempuan, baginya, tersebut, rupanya memiliki andil yang besar akan selalu memberikan pemahaman dan dalam pemisahan laki-laki dan perempuan, wacana baru, atau setidaknya lain, mengenai serta maskulin dan feminin. Sebagai seseorang subordinasi perempuan yang didominasi oleh yang tinggal di Prancis, Cixous mengenal kultur yang sangat laki-laki dan patriarkal bahasa Prancis yang memiliki jenis kelamin (Cixous et al., 1976, p. 883). Cixous et al. untuk kata-kata benda yang ada dalam bahasa (1976) juga membahas mengenai penulisan tersebut, misalnya matahari dianggap sebagai individual atau personal perempuan sebagai sesuatu yang maskulin dan bulan dianggap bentuk lain dari tulisan maskulin yang feminine. Dengan menggunakan kalimat menampilkan narasi yang seolah-olah yang puitis, Cixous merasa dapat merombak berkelompok dan abai pada keberagaman dan ‘mempermainkan’ oposisi biner dalam dan perbedaan individu. bahasa.
Dalam pemikirannya, Cixous et al. Penulisan perempuan, baginya haruslah (1976) menyadari sulitnya melawan opresi secair mungkin. Tidak ada definisi yang
97
=== [PDF page 10] ===
Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 26, Nomor 2, April 2021: 89-104
ajeg untuk menggambarkan sesuatu sebagai nestapa yang mereka rasakan lewat lagu.
penulisan perempuan karena perbedaan Lagu-lagu tersebut, pada mulaya hanya bentuk tulisan bukan menjadi masalah. diperdengarkan pada sesama perempuan Perbedaan pengalaman perempuan satu tahanan politik, untuk sarana penghiburan dengan lainnya memungkinkan tulisan dan saling menguatkan. Lagu-lagu itu yang yang dihasilkan pun berbeda. Anggapan itu membuat mereka bertahan sebagai penyintas turut menunjukkan bahwa memang benar di masa-masa sulit.
bahwa teks dan tulisan, bisa saya menjadi Sebagai contohnya, misalnya lagu perpanjangan tubuh perempuan. Taman Bunga Plantungan yang berkisah Tema-tema dari lagu yang ditulis oleh tentang kondisi dalam penjara Plantungan, perempuan eks tapol dan dinyanyikan oleh Jawa Tengah. Saat itu, para perempuan Paduan Suara Dialita terbilang beragam. tahanan politik yang ditahan di penjara Namun, bukan hanya sekadar temanya saya Plantungan mencoba membuat taman yang berbeda, gaya penulisan lagu mereka bunga dan menghias tempat yang mereka pun berbeda. Lagu-lagu tersebut memiliki tinggali itu. Sebab, penjara Plantungan struktur yang berbeda antara satu sama lain. yang terletak di kaki gunung Prau, Kendal, Boleh jadi, perbedaan tersebut dikarenakan Jawa Tengah merupakan bekas rumah sakit lagu-lagu yang dinyanyikan oleh Paduan lepra yang terbengkalai dan telah dibangun Suara Dialita ditulis oleh sosok yang berbeda sejak zaman penjajahan Belanda. Saat itu, pula. ada banyak kalajengking, ular berbisa, dan Bila biasanya lagu-lagu populer ditulis lintah di tempat itu karena ada semak belukar, dengan struktur lagu yang berisikan song pohon, dan alang-alang yang terbeng- 1, song 2, dilanjutkan dengan refrain kalai. Para perempuan tahanan politik pun atau chorus, lalu song 3 dan seterus, atau bergotong royong memotong semak belukar terkadang ada bagian bridge yang menjadi dengan tangan mereka dan menanami bunga jembatan antara refrain dengan song 3, seadanya untuk membuat penjara Plantungan lagu-lagu yang ditulis oleh para perempuan menjadi tempat yang lebih nyaman untuk penyintas 1965 ketika masih berada di mereka tinggali. Taman yang mereka buat dalam penjara sebagai tahanan politik justru itu akhirnya menjadi kebanggaan ibu-ibu memiliki formula yang berbeda. Lagu-lagu di Plantungan. Zubaidah Ngungcik pun mereka cenderung memiliki bait yang sedikit, akhirnya membuatkan lagu Taman Bunga tidak ada susunan bagan lagu layaknya bagan Plantungan sebagai bentuk apresiasi dan yang dimiliki lagu-lagu pop. rasa cintanya pada rekan-rekan sesama Antarsatu lagu dengan lagu lainnya pun perempuan tahanan politik.
diisi oleh baris yang tak tentu, bait pertama Taman Bunga Plantungan adalah lagu bisa saya diisi oleh tiga baris kalimat pendek, yang terdiri dari tiga bait. Bait pertama diisi lalu bait berikutnya diisi oleh dua baris oleh tiga baris yang menjadi awalan dari namun berisikan tulisan panjang. Akan tetapi, lagu yang memperkenalkan taman bunga hal itu justru menggambarkan bahwa penulis di penjara Plantungan sebagai taman yang lagu tersebut bukan lah seorang musisi yang menjadi ‘rumah’ untuk bunga-bunga yang terbiasa menulis lagu dengan aturan tertentu. beraneka warna. Bait kedua diisi oleh Mereka adalah para perempuan penyintas empat baris, yang semakin menunjukkan sebuah peristiwa politik yang ketika itu, keindahan taman tersebut, sebab dalam tengah menjadi tahanan politik. Ada sejumlah liriknya, digambarkan tanaman dan bunga kemalangan dan kepahitan yang harus yang terdapat di dalamnya tertiup angin dan mereka lalui, mereka memilih menuangkan melambai. Di bait yang sama, pada baris
98
=== [PDF page 11] ===
Bentuk Perlawanan Perempuan...(Saraswati, D. P., Subono, N. I., & Melani F.)
berikutnya, dijelaskan pula bahwa bebatuan Dialita memiliki lagu yang di dalamnya gunung yang ada turut menjadi hiasan yang terdapat tokoh laki-laki, misalnya Mawar elok. Pada bait ketiga, ditutup dengan cerita Merah. Lagu itu bercerita tentang kisah cinta bahwa taman bunga itu dirawat dan ditata seorang tahanan politik perempuan di Bukit oleh “tangan ahli” yang mana adalah para Duri pada seorang tahanan politik laki-laki perempuan tahanan politik yang berada di yang ditahan di Salemba. Tahanan politik situ saat itu. laki-laki seringkali datang ke penjara Bukit Struktur dan pendekatan yang berbeda Duri untuk melakukan perbaikan. Suatu hari, digunakan dalam lagu Ibu. Lagu itu hanya tapol laki-laki itu memberikan mawar merah terdiri dari satu bait berisikan enam baris. Ibu untuk seorang tapol perempuan. Sayangnya, merupakan lagu yang mengenai kerinduan karena pada masa itu tahanan politik kerap akan sosok ibu yang ditulis dari sudut dipindah dari satu penjara ke penjara lainnya, pandang anak. Ada kisah di balik ditulisnya kisah cinta mereka pun kandas. Dalam lagu lagu itu, Lagu itu ditulis Utati Kusalah itu, tokoh laki-laki memang dihadirkan, ketika telah mendekam di penjara Bukit Duri tetapi lagu tetap ditulis dari sudut pandang selama setahun. Saat itu, hatinya dihinggapi perempuan.
kerinduan pada ibunya. Ia pun memikirkan “Dari balik jeruji besi hatiku diuji // apakah ibunya sudah mengetahui dirinya Apa aku emas sejati atau imitasi // Tiap aku mendekam di penjara, karena pada saat itu, menempa diri jadi kader teladan // Yang dia tidak bisa menelepon maupun berkirim tahan angin, tahan hujan // Tahan musim surat. Untuk menuangkan rasa rindunya, ia dan badai” adalah penggalan dari lagu Ujian pun menulis lagu. Hanya saya, pada saat itu yang ditulis oleh Siti Juwastu Jabariah tidak ada alat tulis yang bisa ia gunakan. dari penjara Bukit Duri, Jakarta. Lagu itu Maka ia pun melantunkannya setiap hari ditulis dalam tiga bait. Bait pertama terdiri agar selalu ingat pada nada dan lirik dari dari lima baris, bait kedua terdiri dari dua lagu tersebut. baris, dan bait ketiga diisi oleh tiga baris.
Akhirnya, Utati memperoleh kertas Ujian menjadi penyemangat bagi dirinya dan bekas dari bungkus roti tawar dan pensil perempuan tahanan politik lainnya dalam pinjaman hingga akhirnya ia menuliskan menjalani segala ketidakpastian saat berada lagu tersebut. Alat tulis merupakan satu dalam tahanan. Ketika menjalani masa hal yang langka di penjara saat itu. Sebelas tahanan, para perempuan tapol tidak hanya tahun kemudian, Utati baru dapat bertemu terputus dari dunia luar, mereka juga kerap ibunya. Setelah bebas, ia pulang kampung ke mengalami intimidasi dan dipaksa untuk Purworejo dan bertemu ibunya yang mengira mengaku bahwa mereka adalah anggota anak perempuannya itu sudah meninggal Partai Komunis Indonesia (PKI) ataupun dunia. organisasi yang berhubungan tersebut.
Hal lainnya yang membuat lirik lagu dari Padahal tidak semua dari mereka yang Paduan Suara Dialita begitu terasa sebagai ditahan sebagai tapol adalah benar anggota salah satu produk penulisan perempuan PKI. Lagu itu memberikan pendengarnya adalah karena lagu-lagunya menggambarkan gambaran mengenai kehidupan sehari-hari keterpisahan para perempuan penyintas 1965 para perempuan penyintas 1965 yang mereka dari dunia luar saat mereka menjadi tahanan lalui ketika menjadi tahanan politik.
politik. Hanya saya, kisah yang dituangkan Lagu lainnya yang menggambarkan dalam lagu bertemakan khas keseharian kondisi para perempuan tahanan politik perempuan dan dituturkan melalui sudut di dalam penjara adalah Relakan. Lagu pandang perempuan. Memang Paduan Suara itu dibuat dari puisi yang ditulis oleh
99
=== [PDF page 12] ===
Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 26, Nomor 2, April 2021: 89-104
perempuan tapol bernama Sudiyami. Relakan bagaimana sejarah menjadi imajinasi yang memiliki empat bait. Saat menulis puisi ada di kepala kita. Oleh karena itu, narasi yang kemudian digubah menjadi lagu oleh ada yang dipercayai dalam sejarah juga Zubaidah Ngungcik AR itu, Sudiyami amat bergantung pada bagaimana cerita itu hendak dipindahkan dari penjara Bukit Duri dituturkan dan diimajinasikan (Ratih, 2009, ke penjara lainnya yang belum ia ketahui. p. 12).
Puisi itu adalah kenang-kenangan untuk Padahal, Perempuan kerap kali bergulat tahanan politik lainnya yang telah berbagi untuk merumuskan hal-hal yang berkaitan suka dan duka bersamanya dalam penjara. dengan politik di keseharian mereka. Tidak Lagu itu kemudian dinyanyikan melepas hanya menjadi pelaku sejarah, perempuan kepergian Sudiyami. Penggalan liriknya juga kerap menjadi korban ataupun penyintas adalah, “Entah kemana daku pergi, kemana dalam suatu peristiwa sejarah. Akan tetapi, // Relakan, relakan // Demi satu cita kita pasti deretan peristiwa yang menimpa dan berjumpa // Di alam bebas merdeka”. melibatkan perempuan di dalamnya, baik Penggambaran cara perempuan tahanan peristiwa itu maupun perempuan sangat politik menghabiskan waktunya saat berada jarang menjadi perbincangan serius dalam dalam penjara juga tergambar dalam Taman sejarah arus utama. Perempuan juga bukan Bunga Plantungan yang sempat dibahas pada tidak mungkin mengalami peminggiran bagian sebelumnya. Lagu itu mengisahkan berlapis dalam wacana sejarah. Selain bagaimana para tahanan politik yang peminggiran sebagai perempuan secara mendiami penjara Plantungan mencoba umum, kisah perempuan akan semakin membuat penjara itu menjadi lebih nyaman lenyap apabila ia berada di pihak yang untuk ditinggali dengan bergotong royong ‘kalah’ karena sejarah kerap kali dimiliki membuat taman bunga sederhana. oleh pihak yang ‘menang’, salah satu Kisah yang terdapat dalam lagu-lagu contohnya adalah pada pergantian politik tersebut adalah cerita yang mungkin luput di Indonesia setelah peristiwa 1965 terjadi.
dan sulit ditemui dalam teks-teks sejarah Van Doorn-Harden (2019) menyebutkan arus utama ketika menyoroti peristiwa bahwa dalam pembantaian orang-orang pergantian kekuasaan politik di 1965. Ratih yang dianggap ‘kiri’ dan memiliki hubungan (2009) menjelaskan bahwa ketidakadaan dengan PKI, baik langsung maupun tidak, kisah perempuan, terlebih mereka yang perempuan memiliki posisi yang lebih rentan.
termarjinalkan, dalam sejarah adalah salah Para perempuan yang yang berhubungan satunya disebabkan oleh adanya pemikiran dengan PKI dianggap sebagai ‘pencemar’ konvensional yang menganggap sejarah negara sehingga mereka kerap mendapatkan adalah kisah kepahlawanan para pejuang perlakuan tidak menyenangkan, termasuk sehingga nyaris tidak ada tempat untuk kekerasan seksual hingga pemerkosaan menuturkan sejarah dari sudut pandang (Van Doorn-Harden, 2019, p. 302). Fitnah korban. Selain itu, peminggiran perempuan pada para perempuan yang saat itu dianggap dalam sejarah juga berpangkal pada anggapan terlibat dalam peristiwa 30 September 1965 bahwa persoalan perempuan semata-mata itu tumbuh subur dan dilanggengkan oleh adalah persoalan pribadi, bukan persoalan adanya film garapan Pengkhianatan G30S/ publik. Maka kisah korban perempuan PKI (1984) yang disutradarai oleh Arifin C.
dalam peristiwa sejarah yang muncul Nur yang menjadi film wajib untuk diputar dianggap sebatas upaya penegakan HAM tiap tahunnya di Hari Kesaktian Pancasila.
belaka. Cerita yang kerap dipercaya sebagai Dalam film itu, tokoh perempuan Gerwani kebenaran juga erat kaitannya dengan (Gerakan Wanita Indonesia, organisasi
100
=== [PDF page 13] ===
Bentuk Perlawanan Perempuan...(Saraswati, D. P., Subono, N. I., & Melani F.)
perempuan yang memiliki hubungan dengan akan keluarga dan mencoba merawat harapan PKI) digambarkan sebagai perempuan keji, dari hal-hal kecil yang mereka temui dalam monstrous, dan asusila yang menari ketika tahanan. Oleh karena itu, lagu-lagu dari para jenderal sedang disiksa. Tentunya fitnah Paduan Suara Dialita dapat digunakan untuk itu semakin meminggirkan para perempuan melawan fitnah sejarah yang ditimpakan pada penyintas 1965 di masyarakat. para perempuan penyintas 1965.
Wieringa dan Kacasungkana (2019) Kisah perempuan yang ditampilkan menjelaskan bahwa fitnah terhadap dalam lirik-lirik lagu misalnya Taman Bunga perempuan Gerwani termasuk dalam agenda Plantungan yang menggambarkan bagaimana propaganda Orde Baru. Padahal sebenarnya, para perempuan penyintas merawat harapan Gerwani adalah organisasi feminis yang selayaknya merawat bunga atau lirik lagu berdiri pada 1950. Organisasi itu adalah yang berisikan penghiburan dan asa misalnya wadah mandiri (independen) berisikan Salam dan Harapan dan Tetap Senyum perempuan progresif. Hanya saya memang Menjelang Fajar tentunya menjadi kebalikan benar bahwa Gerwani memiliki hubungan dari citra perempuan menyeramkan yang dan keterkaitan erat dengan PKI. Ada dua dibentuk oleh propaganda Orde Baru dan hal yang diperjuangkan Gerwani, yakni ditempelkan dalam pada para perempuan pemberdayaan perempuan dan makanan yang penyintas.
terjangkau untuk semua kalangan. Menjelang Memaknai musik sebagai sesuatu 1965, Wieringa dan Kacasungkana (2019) yang bergender dan bukan semata-mata mencatat adanya pertarungan dalam tubuh merupakan sesuatu yang bebas nilai dan Gerwani. Ada dua kubu dalam organisasi bebas bias dapat dimulai dengan kesadaran itu, kubu feminis dan kubu komunis. Pada bahwa musik pun bisa menjadi medium akhirnya, kubu komunis menjadi yang untuk melakukan penulisan perempuan dominan dalam Gerwani (Wieringa & sebagai bentuk perlawanan yang digunakan Kacasungkana, 2019, p. 106). Adanya fitnah oleh perempuan. Greig dalam Female tersebut menyebabkan yang disebut Wieringa Identity and the Woman Songwriter (1997), dan Kacasungkana (2019) sebagai sexual meski memiliki tema yang sama, pemilihan moral panic. Meski sepenuhnya kebohongan, kata yang digunakan perempuan dalam fitnah tersebut berhasil dipercaya dari tahun lagunya kerap kali berbeda dengan yang ke tahun. Hal itu membuat para perempuan digunakan laki-laki. Sebagai contoh, ia yang dianggap terhubung dengan PKI, baik menyoroti bagaimana lagu cinta kerap anggota Gerwani maupun bukan, dinilai diidentikan dengan perempuan, padahal sebagai perempuan ‘jalang’. Kondisi tersebut cinta adalah tema yang juga kerap diangkat makin membungkam dan menyudutkan para dalam lagu-lagu yang dinyanyikan oleh perempuan penyintas 1965. laki-laki. Baginya, pada banyak kesempatan, Narasi sejarah keliru yang mengesankan perempuan dan laki-laki menulis topik yang perempuan penyintas 1965 itu sebagai sebenarnya sama hanya saya menggunakan perempuan yang brutal, jalang, dan pendekatan yang berbeda. Akan tetapi, monstrous ternyata berbanding terbalik Greig (1997) menambahkan bahwa memang dengan kisah yang mereka tuliskan dalam ada tema yang hanya dapat dikuasai dan lagu-lagu Paduan Suara Dialita. Lagu-lagu dituliskan perempuan – dan tidak akan sama mereka yang bertemakan harapan, kerinduan berhasilnya bila dituliskan laki-laki – yaitu akan keluarga, alam, dan keseharian telah tema mengenai sistem seks dan gender serta membumikan sosok mereka, bahwa mereka fungsi reproduksi yang hanya dapat dialami adalah perempuan yang memiliki rasa rindu oleh perempuan.
101
=== [PDF page 14] ===
Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 26, Nomor 2, April 2021: 89-104
Ha m i l, m e l ah ir ka n, m e nga l am i lewat musik, pendengar diajak merasakan menstruasi adalah tema khas perempuan emosi, keinginan, pemikiran, bahkan mengenai pengalaman kebertubuhannya. pengalaman kebertubuhan dari seseorang Hanya saya, Greig (1997) menyayangkan yang ada dalam lagu. Salah satu bukti bahwa tema itu jarang tampil dalam berbagai bahwa musik memiliki hubungan erat lagu pop. Greig (1997) menilai keabsenan dengan bagaimana gender dan seksualitas munculnya permasalahan khas perempuan dikonstruksikan terlihat dari banyaknya lagu dalam lagu disebabkan oleh adanya konstruksi yang menjadi penggambaran dari konstruksi dalam dunia musik yang menempatkan tokoh gender dan seksualitas, baik penggambaran protagonis perempuan dalam lagu seolah- itu meliberasi maupun penggambaran yang olah tidak pernah mengalami hal-hal tersebut. seksis dan mengopresi. Ada beragam ekspresi Namun, pada perkembangannya, Greig seksual yang juga hadir melalui musik, (1997) mengamati bahwa ruang kosong itu baik yang membebaskan maupun yang mulai terisi. Penulisan lagu oleh perempuan yang mendukung konstruksi gender yang pada dasarnya mengalami perkembangan misoginis. Musik pun sebenarnya tidak hanya sebagaimana penulisan perempuan. Bila dapat dilihat semata-mata sebagai sarana di masa lalu kisah perempuan ditabukan hiburan untuk mengisi waktu luang belaka, dan tidak dituliskan sehingga perempuan lebih dari itu, musik juga merupakan salah merasa terasing dengan dirinya, begitu pula satu aspek fundamental dalam kontestasi dengan yang terjadi di dunia musik ketika dan negosiasi formasi hubungan sosial lagu-lagu yang ada jarang membawa kisah antarmanusiaOleh karena itu, musik juga perempuan dari sudut pandang yang berbeda menjadi medium paling efektif yang dapat dan khas. Namun, lambat laun hal itu mulai digunakan perempuan dalam melakukan berubah. Perempuan mulai dapat menuliskan perlawanan lewat penulisan perempuan.
tentang dirinya, termasuk pengalaman Yang dilakukan oleh para perempuan kebertubuhannya yang khas hanya dirasakan penyintas 1965 yang menjadi anggota oleh perempuan ke dalam suatu karya yang Paduan Suara Dialita adalah salah satu ia ciptakan. contoh penulisan perempuan yang melakukan McClary dalam Sexual Politics in per l awa nan ben tuk m e la l ui m us i k.
Classical Music (2002) berpendapat Sebagaimana telah dijelaskan pada subbab sebagaimana halnya seni visual maupun sebelumnya, para perempuan anggota Paduan karya sastra, musik adalah salah satu Suara Dialita adalah mantan tahanan politik medium yang menjadi perpanjangan yang tersubordinasi dan keberadaannya tangan dari konstruksi gender yang ada di kerap kali terlupakan. Akan tetapi, melalui masyarakat. Musik bisa saya mempertajam lagu, mereka menceritakan kisah keseharian dan melanggengkan konstruksi gender yang mereka dari sudut pandang mereka. Salah timpang dalam masyarakat, tetapi sekaligus satu hal yang membuat cerita yang dituturkan bisa juga menjadi sarana perlawanan atas oleh dan dari sudut pandang para perempuan hal tersebut. Hal itu memungkinkan karena penyintas ini menjadi sesuatu yang penting ketika sebuah karya musik didengar, musik adalah karena keberadaan mereka kerap memiliki kemampuan untuk mengakses kali tidak dituliskan dalam sejarah versi perasaan paling privat dalam diri manusia. arus utama. Keberadaan mereka kerap kali Musik dapat menjangkau perasaan paling tidak disebutkan dan hal itu seolah-oleh personal bagi orang yang mendengarkannya. membungkam mereka. Lewat lagu, mereka Musik adalah sesuatu yang dapat menolak untuk bungkam dan mulai bercerita.
bertemu dengan perasaan terdalam, sebab Hal itu pun menunjukkan bahwa perlawanan
102
=== [PDF page 15] ===
Bentuk Perlawanan Perempuan...(Saraswati, D. P., Subono, N. I., & Melani F.)
melalui musik tidak harus selalu dilakukan oleh para perempuan penyintas 1965 dengan lirik yang berisikan amarah, melaikan pada akhirnya menjadi tubuh sosial yang dengan menyuarakan kisah dari mereka yang mereka bagi pada publik, sebab kisah terpinggirkan pun itu juga merupakan suatu yang terdapat dalam lirik lagu tersebut bentuk perlawanan. merangkum pengalaman yang mereka alami Melalui uraian di atas, makalah ini selama berada dalam tahanan dan apa yang menemukan beberapa hal. Pertama, lirik lagu dirasakan oleh tubuh dan diri mereka. Meski yang ditulis oleh para perempuan penyintas pada saat teks itu dibuat, para perempuan 1965, yang dibawakan oleh Paduan Suara tahanan politik yang menuliskan lagu-lagu Dialita dalam album Dunia Milik Kita (2016) tersebut belum tentu menuliskannya untuk dan Salam Harapan (2019) adalah benar menjadikannya potret dari apa yang terjadi merupakan bentuk dari penulisan perempuan. dan mereka alami, tetapi ketika lagu itu Hal itu jelas terlihat, bukan hanya karena dinyanyikan, lagu tersebut berbicara lebih teks beruapa lirik lagu itu diciptakan oleh dari sekadar sebagai produk musik. Lagu perempuan, tetapi juga karena kisah yang itu pada akhirnya memiliki fungsi lainnya diangkat di dalamnya adalah kisah dari ketika telah dapat dibawakan di depan umum para perempuan. Kemudian, meski lirik oleh Paduan Suara Dialita. Lagu-lagu itu lagu itu ditulis sebagai sarana penghiburan berbicara, mereka memberikan akses pada dan mekanisme pertahanan dari para masyarakat untuk mendapatkan gambaran perempuan penyintas 1965 selama berada dan cerita yang dituturkan dari versi para dalam tahanan, lagu-lagu mereka kemudian perempuan penyintas.
mendokumentasikan sejarah hidup mereka Jika Cixous et al. (1976) mengatakan yang tidak terbahas oleh sejarah versi arus bahwa perempuan harus menulis tentang utama. Pada akhirnya, hal itu memberikan dirinya dan membawa sosoknya dan/atau lirik lagu dari Paduan Suara Dialita sebuah beserta perempuan lainnya dalam tulisnnya, fungsi lain, yakni sebagai narasi alternatif maka itulah yang dilakukan oleh perempuan yang menampilkan kisah sejarah dari versi tahanan politik dengan lirik lagu Paduan perempuan. Suara Dialita. Dalam lagu yang ditulisnya, Yang dilakukan oleh perempuan perempuan tapol membagi pengalaman penyintas dalam lirik lagu Paduan Saura hidupnya yang begitu personal. Di saat yang Dialita menjadi sesuatu yang penting sebab, sama, dengan lagu, para perempuan tersebut sebagaimana yang dijelaskan oleh Ratih – baik disengaja atau tidak -- juga melakukan (2009) bahwa sejarah kerap kali ditulis perlawanan dengan menampilkan narasi oleh dan tentang pihak yang dianggap berbeda dari citra perempuan menyeramkan sebagai ‘pahlawan’ dan ‘menang’, kisah dan monstrous yang ditampilkan oleh narasa keseharian yang ditulis dalam lirik lagu sejarah versi Orde Baru. Ketika perempuan Paduan Suara Dialita justru ditulis dari sudut menulis tentang dirinya, di saat yang sama pandang korban. Para perempuan penulis mereka melawan keterpinggiran mereka lirik lagu mengalami keterpinggiran ganda, dengan memasukkan kisah dari sudut yakni sebagai perempuan dalam tatanan pandang perempuan dalam sejarah dan masyarakat yang patriarkal maupun sebagai pengetahuan (Cixous et al., 1976, p. 880).
pihak yang dituding ‘bersalah’ dalam sebuah peristiwa sejarah. SIMPULAN Pada akhirnya teks berupa lirik lagu Pada akhirnya, melalui uraian yang Paduan Suara Dialita menjadi perpanjangan dijabarkan dalam makalah ini, dapat atas tubuh mereka. Lirik lagu yang ditulis disimpulkan bahwa lirik lagu Paduan Suara
103
=== [PDF page 16] ===
Jurnal Penelitian Humaniora, Volume 26, Nomor 2, April 2021: 89-104
Dialita adalah bentuk perlawanan melalui McClary, S. (2002). Feminine endings:
penulisan perempuan. Teks tersebut berhasil Music, gender, and sexuality. University menampilkan narasi berbeda dari apa narasi of Minnesota Press.
dominan yang beredar dan ditulis dari sudut Paduan Suara Dialita, Bonita Adi, Kartika pandang perempuan tahanan politik yang Yahya, Endah Laras,Sita Nursanti, memiliki keterpinggiran ganda. Melalui Endah Widiastuti, Junior Sumantri.
lagu, pada akhirnya suara mereka dapat (2017). Konser Perempuan untuk menemukan pendengarnya tersendiri dan ada Kemanusiaan: Lagu Unuk Anakku kisah sejarah yang dituturkan melalui sudut (Songs for Survivors). Gedung Graha pandang mereka. Penulisan perempuan yang Bhakti Budaya, Taman Ismail Marzuki, dilakukan oleh para perempuan penyintas Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia.
1965 itu disampaikan melalui lagu yang Ratih, I. G. A. A. (2009). Jejak-jejak kemudian dinyanyikan oleh Paduan Suara perbincangan perempuan dalam sejarah.
Dialita. Lagu-lagu tersebut kemudian Dalam Jurnal perempuan 63: Catatan menjadi narasi alternatif yang berbeda dari perjuangan politik perempuan (pp. 11apa yang selama ini dibentuk oleh sejarah 28). Yayasan Jurnal Perempuan.
arus utama versi Orde Baru dan menjadi Tong, R. P., & Priyatna, A. (2006).
bentuk perlawanan tersendiri. Feminist Thought: Pengantar Paling komprehensif kepada arus utama DAFTAR PUSTAKA pemikiran feminis. Jalasutra.
Cixous, H., Cohen, K., & Cohen, P. (1976). Van Doorn-Harder, N. (2019). Purifying The laugh of the Medusa. Signs, 1(4), Indonesia, purifying women: The 857-893. national comission for women’s rights Dialita, P. S. (2016). Dunia milik kita. and the 1965-1968 anti-communist Indonesia. violence. Cross Currents, 69(3), 301- Dialita, P. S. (2019). Joyland festival 2017. 318.
Lapangan Panahan, Gelora Bung Karno, Varino, S. (2018). Liminal politics:
Jakarta Pusat, DKI Jakarta, Indonesia. Performing feminine difference with Dialita, P. S. (2019). Salam harapan. Helene Cixous. European Journal of Indonesia. Women’s Studies, 25(3), 293-309.
Greig, C. (1997). Female identity and the Wieringa, S. E., & Kacasungkana, N.
women songwriter. Dalam S. Whiteley, (2019). Propaganda and the genocide Sexing the groove (pp. 168-177). in Indonesia: Imagined evil. Routledge.
Routledge.
104