Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-02996

Dilema Gerwani Hadapi Poligami Soekarno (Merdeka.com, 2012)

Cleaned OCR text (Good (0.897); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Dilema Gerwani hadapi poligami Sukarno - merdeka.com https://www.merdeka.com/peristiwa/read/6412149/dilema-gerwani-hadapi-poligami-sukarno Retrieved 2026-10-13 Home News Dilema Gerwani hadapi poligami Sukarno Gerwani antipoligami, tapi harus mendukung Sukarno. Saat itu Sukarno punya banyak istri. Bagaimana ini? Oleh Ramadhian Fadillah - Reporter Diperbaharui 24 September 2012, 07:05 WIB Diterbitkan: 24 September 2012, 07:05 WIB Copy Link sukarno dewi. ©2012 Merdeka.com/istimewa Sejak awal berdiri Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) memperjuangkan undang-undang perkawinan yang melarang poligami. Bahkan sejak Gerwani masih bernama Gerwis atau Gerakan Wanita Sadar Sedar tahun 1950, mereka sudah memperjuangkan wanita agar tak mau dimadu.Saat itu Gerwani berang melihat wanita yang terus jadi korban dalam perkawinan. Banyak wanita yang menjadi korban suami yang hobi kawin cerai. Gerwani pun mengeluarkan aturan tegas. Anggota Gerwani yang mau dipoligami harus dikeluarkan dari organisasi.Tapi tahun 1960an, saat demokrasi terpimpin, dan Sukarno berada di puncak kekuasaannya, Gerwani menghadapi dilema. Saat itu Sukarno melakukan poligami. Dia menikahi Hartini, Ratna Sari Dewi dan Yurike Singer.Masalahnya saat itu Partai Komunis Indonesia (PKI), termasuk Gerwani sedang mesra-mesranya dengan Sukarno. Jargon Nasionalis Agama dan Komunis (Nasakom) yang diusung Sukarno benar-benar menguntungkan PKI kala itu. PKI lebih leluasa menjalankan program-program dan propaganda. Maka mengkritik Sukarno hanya akan membuka perseteruan dengan pemimpin besar revolusi tersebut. PKI menilai hal itu tak ada gunanya. Karena itu juga Gerwani kemudian mengesampingkan masalah poligami.Garis perjuangan Gerwani kemudian banyak mengikuti PKI. Arah gerakannya pun lebih pada garis massa dan politik. Perjuangan feminisme menjadi perkara nomor sekian.Ketua Gerwani Umi Sarjono pernah berpidato tahun 1960 saat ultah ke-10 Gerwani. Pidato itu dimuat dalam Harian Rakyat. Intinya perjuangan Gerwani menjadi lebih luas."Perjuangan untuk emansipasi pada saat ini harus sejalan dengan jalannya sejarah. Sekarang bukan lagi saatnya untuk feminisme sempit, khususnya untuk menjadi gerakan jahit menjahit, sulam menyulam dan soal-soal rumahtangga belaka, jika tidak ingin melihat nasib berjuta-juta kaum wanita yang menderita," demikian Umi Sarjono.Seorang pengurus Gerwani Jawa Timur, Lestari (82), mengenang saat itu memang tidak ada kebijakan PKI atau Gerwani untuk mengkritisi poligami Sukarno. Terkesan Gerwani melunak."Tidak ada-ada. Dikembalikan masing-masing saya. Hanya memang kenapa wanita mau dipoligami. Kan yang rugi wanita," kata Lestari saat ditemui merdeka.com di Panti Waluya Sejati Abadi, Jakarta, pekan lalu.Maka periode 1960an isu-isu seperti ganyang neo kolonialisme, lawan kapitalis dan anti-imperialis menjadi lebih sering terdengar dari isu perkawinan dan poligami. Apalagi saat itu Sukarno sedang menggelorakan Trikora untuk merebut Irian Barat dan Dwikora saat konfrontasi dengan Malaysia. Sejumlah anggota Gerwani pun ikut latihan perang. Hubungan Gerwani dan PKI makin erat.Hingga akhirnya tragedi Oktober 1965 menceraiberaikan organisasi wanita yang beranggotakan lebih dari 1,5 juta orang itu. Mengantarkan para aktivisnya ke penjara atau kubur. Tragis. Halaman Berikutnya Prabowo Ingin Tambah, Berapa Jumlah Polisi Hutan di Indonesia? Bagikan Copy Link Tim Redaksi Ramadhian Fadillah writer Ramadhian Fadillah editor Komunisme Poligami Sukarno Konten ini adalah Iklan dari Platform MGID. Merdeka.com tidak terkait dengan materi konten ini. Rekomendasi Prabowo Ingin Tambah, Berapa Jumlah Polisi Hutan di Indonesia? News 32 menit yang lalu Kabut Asap Karhutla Lintas Negara, Udara Singapura dan Malaysia Tidak Sehat News 43 menit yang lalu Kasus Penyerangan Aktivis BEM UI, Polisi Dalami Rekaman 26 Titik CCTV News 2 jam yang lalu Karhutla Meluas, Kualitas Udara Sumatra-Kalimantan Masuk Kategori Berbahaya News 2 jam yang lalu Fakta di Balik Pemuda di Bondowoso Bikin Video Penistaan Alquran News 2 jam yang lalu Dikira Sampo dan Produk Perawatan, Botol Bawaan Bule Ini Ternyata Kokain News 3 jam yang lalu Terpopuler WhatsApp Siapkan Fitur Pesan Terjadwal, Tetap Terkirim Meski Offline 4 menit yang lalu Cek Fakta: Hoaks Link Pendaftaran Lowongan Kerja BPJS Kesehatan 1 menit yang lalu Prabowo Ingin Tambah, Berapa Jumlah Polisi Hutan di Indonesia? 8 menit yang lalu 16 Cara Meredakan Batuk Kering di Rumah dengan Tanaman Herbal 10 menit yang lalu Kabut Asap Karhutla Lintas Negara, Udara Singapura dan Malaysia Tidak Sehat 19 menit yang lalu Harga Emas Antam Paling Murah Hari Ini Rp1,3 Juta, Cek Rinciannya 27 menit yang lalu Alasan Menarik Kenapa Harus Nonton Film Heartman: Rock and Love di Vidio 31 menit yang lalu 10 Mobil Terlaris September 2026: BYD Atto 1 Geser Avanza 31 menit yang lalu Bocoran Strategi Pertamina Bawa UMKM Tembus Pasar Global 34 menit yang lalu 5 Tips Mengeringkan Keset Tebal agar Bagian Dalamnya Tidak Lembap dan Bebas Bau Apek 26 menit yang lalu Selengkapnya Advertisement Advertisement Berita Terkini 32 menit yang lalu Prabowo Ingin Tambah, Berapa Jumlah Polisi Hutan di Indonesia? 43 menit yang lalu Kabut Asap Karhutla Lintas Negara, Udara Singapura dan Malaysia Tidak Sehat 2 jam yang lalu Kasus Penyerangan Aktivis BEM UI, Polisi Dalami Rekaman 26 Titik CCTV 2 jam yang lalu Karhutla Meluas, Kualitas Udara Sumatra-Kalimantan Masuk Kategori Berbahaya 2 jam yang lalu Fakta di Balik Pemuda di Bondowoso Bikin Video Penistaan Alquran Selengkapnya