Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-03001

Hari Perempuan Tak Diperingati di Era Suharto (Historia, 2018; pratinjau)

Licensed or copyrighted source: rights remain with the author or publisher. OCR transcription for scholarly research.

Cleaned OCR text (Good (0.933); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Hari Perempuan Tak Diperingati di Era Suharto https://www.historia.id/article/hari-perempuan-tak-diperingati-di-era-suharto-vxj2o Retrieved 2026-10-13 SEJAK awal, Hari Perempuan Sedunia tak pernah mendapat sambutan antusias di Indonesia. Meski sudah sejak 1950-an, hanya sedikit kalangan yang memperingatinnya. “Hari Perempuan Sedunia secara khusus dirayakan oleh gerakan perempuan sosialis,” tulis Elisabeth Martyn dalam The Women's Movement in Postcolonial Indonesia. Gerwani mempelopori peringatan itu. Hal itu tak lepas dari kebijakan Gerwani yang menjadikan tulisan-tulisan Clara Zetkin, feminis Partai Sosialis Jerman yang mengusulkan ditetapkannya tanggal 8 Maret sebagai Hari Perempuan Sedunia, sebagai bacaan wajib bagi kader-kadernya. Ketidakpopuleran perayaan 8 Maret di kalangan organiasi perempuan membuat Gerwani mengajak banyak organisasi perempuan untuk merayakan Hari Perempuan Sedunia. Upaya tersebut berbuah ketika pada 1953 pimpinan PKI untuk pertamakalinya membahas tentang masalah perempuan pada Hari Perempuan Sedunia. Di tahun berikutnya, para perempuan menekankan tuntutan pada hak dalam perkawinan, moralitas, serta masalah lain yang dihadapi perempuan. Pada perayaan tahun 1961, Wanita Komunis (Wankom), kelompok perempuan anggota PKI (mulai disebut demikian sejak 1957), mengeluarkan pernyataan untuk memperkuat persatuan perempuan, khususnya buruh, tani, dan anti-feodal. Ingin membaca lebih lanjut? Langgani historia.id untuk terus membaca postingan eksklusif ini. Berlangganan Sekarang Tag: Perempuan Politik