Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-03021

Gerwani dan Kuntilanak Wangi (Historia, pratinjau)

Cleaned OCR text (Good (0.913); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Gerwani dan Kuntilanak Wangi https://www.historia.id/article/gerwani-dan-kuntilanak-wangi Retrieved 2026-10-13 Politik Gerwani dan Kuntilanak Wangi Setelah menghancurkan Gerwani pasca peristiwa G30S 1965, rezim Orde Baru menggunakan istilah kuntilanak untuk membatasi gerakan perempuan progresif. 1 Okt 2026 Martin Sitompul Paduan suara Dialita, sebagian di antara personelnya merupakan eks tahanan politik 1965. (Martin Sitompul/Historia.ID). KUNTILANAK merupakan dedemit berkelamin perempuan dalam khazanah lelembut Nusantara. Ia digambarkan sebagai wanita menyeramkan yang suka mengambil anak kecil atau mengganggu wanita baru melahirkan. Tak hanya perawakannya, suara kuntilanak juga menakutkan dan bikin orang merinding ngeri. Namun, di era Orde Baru, kuntilanak dimaknai secara politis. Istilah “kuntilanak wangi” kerap dipakai untuk memasung gerakan-gerakan organisasi wanita. Dengan label itu, gerakan perempuan didomestifikasi agar tidak mengulang sejarah gemilang Gerakan Wanita (Gerwani) yang progresif. “Di dalam masyarakat Indonesia banyak perempuan aktivis yang betul-betul berjuang untuk hak-hak perempuan, tentang seksualitas, tentang perkawinan, dan tentang hal apa saya yang terjadi, mereka disebut Gerwani baru, seolah-olah itu sesuatu yang jelek dan buruk,” kata Saskia Wieringa dalam diskusi bukunya Kuntilanak Wangi The Nighmare Parfume di Rumah ICW, Jakarta Selatan, 23 September 2026. [PAYWALL: remainder for subscribers only]