Gerakan Wanita Indonesia (Wikipedia Indonesia, diakses 2026-10-13)
Cleaned OCR text (Good (0.94); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
Gerakan Wanita Indonesia - Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas https://id.wikipedia.org/wiki/Gerakan_Wanita_Indonesia Retrieved 2026-10-13
Gerwani
Nama lengkap Gerakan Wanita Indonesia Berdiri 4 Juni 1950
Tanggal pembubaran 12 Maret 1966 Anggota 3 juta (1965)
Afiliasi Partai Komunis Indonesia Negara Indonesia
Gerakan Wanita Indonesia (Gerwani) adalah organisasi pergerakan kaum perempuan yang berdiri pada tanggal 4 Juni 1950 di Semarang, Jawa Tengah. Pada tahun 1957, Gerwani memiliki lebih dari 650.000 anggota dan terus mengalami peningkatan jumlah anggota menjadi 1,5 juta tahun 1963 dan 3 juta tahun 1965. Gerwani lahir dari sebuah organisasi wanita bernama Gerwis (Gerakan Wanita Istri Sedar), didirikan pada bulan Juni 1950, fusi dari enam organisasi, yaitu: Rukun Putri Indonesia (Rupindo) dari Semarang, Persatuan Wanita Sadar dari Surabaya, Isteri Sedar dari Bandung, Gerakan Wanita Indonesia (Gerwindo) dari Kediri, Wanita Madura dari Madura, dan Perjuangan Putri Republik Indonesia dari Pasuruan. Kongres penyatuan enam organisasi tersebut dilaksanakan di Semarang pada tanggal 4 Juni 1950.[1] Para pendiri Gerwis berasal dari kalangan sosial yang berbeda tetapi semuanya terjun dalam gerakan nasional, bahkan, banyak diantaranya yang menjadi anggota pasukan bersenjata. Dalam pembentukan organisasi tersebut, disepakati ketua pertama Gerwis adalah Tris Metty yang pernah menjadi anggota Laskar Wanita Jawa Tengah.[2]
Walaupun Gerwis di dalam konstitusinya menyatakan diri sebagai organisasi non-politik dan tidak berafiliasi dengan partai politik manapun, kenyataannya PKI memiliki pengaruh yang sangat kuat dalam proses pembentukan hingga arah politik Gerwis kedepan. Sebagaimana yang dijelaskan Ny Chalisah, salah satu pendiri Gerwis, bahwa ‘partai meminta saya untuk membangun organisasi perempuan komunis di dalam partai’. Tetapi, keinginan para pemimpin PKI ini bukanlah satu-satunya faktor penyebab berdirinya Gerwis. Lebih besar dari itu, hasrat bersama untuk tercapainya kemerdekaan nasional dan berakhirnya praktik feodalisme adalah faktor terbesar berdirinya Gerwis.[2]
Di Surabaya, Gerwis memiliki 40 cabang dengan 6000 anggota dan pada tahun 1954, anggotanya telah meliputi 80.000 orang. Dalam masa ini pula, Gerwani aktif dalam tiga front perjuangan sekaligus. Pertama, dalam lapangan politik, mereka menghadapi elemen reaksioner, yaitu elemen yang menggerakkan peristiwa 17 Oktober 1952; kedua, dalam tataran feminisme, mereka menentang PP Nomor 19 yang mengatur masalah perkawinan tetapi dinilai diskriminatif dan untuk itu Gerwis mendukung disahkannya Undang-Undang Perkawinan yang lebih demokratis; dan ketiga, Gerwis berusaha sebisa mungkin untuk menghindari konfrontasi dengan Sukarno. Selain itu, di tingkat lokal, Gerwis ikut serta dalam kampanye BTI (Barisan Tani Indonesia) melawan tindakan pemerintah yang berusaha mengusir kaum tani dari bekas perkebunan yang telah mereka duduki.[2]
Awalsuntingsunting sumber
Konres pertama Gerwis dilakukan pada Desember 1951. Dalam masa ini, Gerwis berada dalam kondisi yang sulit. Para utusan Gerwis dari daerah-daerah banyak yang masih berada dipenjara. Ketika itu, parlemen yang dipimpin Masyumi adalah pemerintahan yang reaksioner dan para utusan Gerwis tersebut adalam korban dari politik yang reaksioner ini. Untuk itu, Aidit, sebagai pemimpin PKI kala itu, menginstruksikan Gerwis untuk menghentikan sementara kritik terhadap pemerintah dan lebih memfokuskan pada gerakan bawah tanah.[2]
Perubahan Gerwis menjadi Gerwani terjadi saat pelaksanaan Kongres Gerwis ke-2 tahun 1954. Pada kongres ini disepakati untuk menghilangkan kata "Sedar" pada nama organisasi dan mengubahnya menjadi Gerakan Wanita Indonesia atau Gerwani. Perubahan nama organisasi dari Gerwis menjadi Gerwani telah menyebabkan keanggotaan organisasi ini lebih bersifat terbuka bagi semua perempuan di Indonesia. Organisasi Gerwani bersifat independen yang memiliki ideologi feminisme, sosialisme, dan nasionalisme. Gerwani bertujuan memperjuangkan hak-hak perempuan, hak anak, perdamaian dan kemerdekaan. Oleh karena itu, mereka aktif memberikan pendidikan dan penyuluhan kepada perempuan di berbagai daerah tentang hak-hak perempuan dalam perkawinan.
Perubahan Gerwani dari organisasi kader menjadi organisasi massa ini salah satunya dilakukan dengan cara menawarkan kepada kaum perempuan untuk menjadi pemimpin tanpa memandang latar-belakang sosial. Perwari (Persatuan Wanita Republik Indonesia) misalnya, para pemimpinnya hanya berasal dari keluarga pamong praja, atau memiliki pendidikan yang cukup tinggi. Strategi ini berhasil merekrut banyak kader, karena perempuan yang bergabung menilai Gerwani sebagai satu-satunya pihak yang sudi membantu memecahkan persoalan mereka sehari-hari. Selain itu, Gerwani juga dinilai sebagai organisasi alternatif di luar organisasi perempuan yang sudah ada dan menawarkan solusi konkret atas permasalahan yang terjadi sehari hari.[2]
Menjelang Pemilu 1955, Gerwani mulai berafiliasi dengan Partai Komunis Indonesia (PKI). Berkat dukungan Gerwani, PKI memperoleh banyak suara perempuan dan berhasil menduduki peringkat keempat. Hal ini secara tidak langsung memberikan keuntungan kepada Gerwani karena berhasil menempatkan enam orang anggotanya di DPR. Mereka adalah Suharti Suwarno, Salawati Daud, Suwardiningsih, Maemunah, Umi Sarjono dan Nyonya Mudigdo.[3]
Pada kongres ke-IV bulan April 1961, Gerwani mengeluarkan resolusi yang memperlihatkan kedekatannya dengan garis perjuangan PKI dan Sukarno. Gerwani mendukung perjuangan mempertahankan Irian Barat, membantu pelaksanaan Land Reform, Undang-Undang Perkawinan yang demokratis, keamanan nasional dan penurunan harga. Perjuangan Gerwani di tahun 1960-an lebih fokus pada persoalan-persoalan politik nasional.[4]
Ideologi Gerwanisuntingsunting sumber
Secara ideologis, Gerwani memiliki kedekatan dengan PKI melalui orientasi sosialis-Marxis yang menempatkan persoalan perempuan dalam kerangka ketimpangan kelas dan relasi kuasa. Idealisme ini tercermin dalam perjuangannya mereformasi Undang-Undang Perkawinan untuk menghapus diskriminasi terhadap perempuan, terutama praktik poligami dan pengabaian tanggung jawab suami terhadap istri serta anak-anak. Dalam perspektif tersebut, penindasan perempuan di ranah domestik tidak semata-mata dipandang sebagai persoalan privat, melainkan bagian dari struktur sosial yang menempatkan perempuan dalam posisi subordinat. [5]
Orientasi sosialis-Marxis Gerwani juga tampak dalam tuntutan kesetaraan upah bagi buruh perempuan, termasuk buruh tani, yang menerima upah lebih rendah meskipun menanggung beban kerja yang setara dengan laki-laki. Bersama Barisan Tani Indonesia (BTI), Gerwani turut memperjuangkan reformasi agraria melalui tuntutan pelaksanaan land reform untuk mengakhiri ketimpangan penguasaan tanah. Perjuangan tersebut kemudian diwujudkan melalui aksi-aksi sepihak terhadap tuan tanah, yang dalam kerangka ideologi mereka dipandang sebagai bagian dari perlawanan terhadap struktur agraria yang eksploitatif. [5]
Dengan demikian, idealisme sosialis-Marxis Gerwani tidak hanya berorientasi pada pembebasan perempuan dari diskriminasi berbasis gender, tetapi juga pada perubahan struktur ekonomi dan sosial yang melanggengkan ketimpangan kelas, baik dalam rumah tangga, dunia kerja, maupun penguasaan sumber daya agraria.
Kejatuhansuntingsunting sumber
Afiliasi Gerwani terhadap PKI menyebabkan organisasi ini dianggap terlibat dalam peristiwa Gerakan 30 September 1965. Mereka dituduh melakukan kekerasan dan tindakan asusila terhadap para Jenderal yang menjadi korban Gerakan 30 September 1965. Hal ini menimbulkan stigma negatif pada Gerwani dan tuntutan terhadap pembubaran Gerwani. Sampai tahun 1967, ribuan anggota Gerwani ditangkap dan dipenjarakan, termasuk ketua Gerwani Umi Sarjono dan Sesyen Gerwani Kartinah. Orde Baru mengklasifikasikan anggota Gerwani sebagai tahanan politik golongan B.
Lihat jugasuntingsunting sumber Sejarah Indonesia
Gerakan 30 September/Gerakan 1 Oktober Bacaansuntingsunting sumber Blackburn, Susan (2004). Women and the State in Modern Indonesia. Cambridge: Cambridge University Press. ISBN 0-521-84225-5 Wieringa, Saskia. (2002) Sexual politics in Indonesia. The Hague: Institute of Social Studies. ISBN 0-333-98718-7.
Pranala luarsuntingsunting sumber Wikimedia Commons memiliki media mengenai Gerwani.
(Indonesia) Kolektif Info Coup d'état 65 Diarsipkan 2023-05-10 di Wayback Machine (Inggris) Gerwani @ Answers.com Diarsipkan 2017-10-23 di Wayback Machine (Indonesia) Jalan Panjang dan Terjal Korban Tragedi 1965 Diarsipkan 2007-09-28 di Wayback Machine Referensisuntingsunting sumber Sari, Ratna Mustika (2007). GERWANI: Stigmatisasi dan Orde Baru. Yogyakarta: Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. hlm. 20.
"Gerwani dan Perjuangan Politik Perempuan". IndoPROGRESS. 2013-10-16. Diakses tanggal 2026-10-11.
Lestariningsih, Amurwani Dewi (2011). Gerwani: Kisah Tapol Wanita di Kamp Plantungan. Jakarta: Penerbit Buku Kompas.
Sari, Ratna Mustika (2007). GERWANI: Stigmatisasi dan Orde Baru. Yogyakarta: Laboratorium Jurusan Ilmu Pemerintahan Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik. hlm. 28.
"Gerwani: Pelopor Gerakan Perempuan Feminis-Sosialis di Indonesia". Jurnal Perempuan (dalam bahasa Inggris). Diakses tanggal 2026-10-11.
Basis data pengawasan otoritas
Nasional
Republik CekoIsrael
Orang
Trove