Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-03330

Perkembangan2 di-Indonesia (editorial)

Cleaned OCR text (Poor (0.722); proof-reading: whole text (Claude, Oct 2026)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered. English translation below.

Text

=== [PDF page 1] === Perkembangan-perkembangan di Indonesia PERKEMBANGAN-PERKEMBANGAN di Indonesia masih menarik hati dengan berita D. N. Aidit dikatakan memimpin pemberontakan di Jawa Tengah, Sukarno pula hendak menegakkan satu pimpinan baharu PKI yang lebih "nasionalis", dan berita persidangan anti-pangkalan perang yang dijadualkan pada hari Ahad ini. Tetapi keseluruhannya keadaan di Indonesia masih belum jelas lagi. Apa yang ternyata ialah kedudukan Angkatan Bersenjata dan PKI, yang satu memburu pihak yang lain. Angkatan Bersenjata masih menyerang PKI, memukul tanpa memberi kesempatan kepada Aidit untuk berehat mengatur semula barisannya yang kocar-kacir. Pertentangan bersenjata dari golongan tentera telah tumpas oleh penangkapan Lt. Kol. Untung dan pemimpin-pemimpin tentera yang lain. Tetapi pertentangan dari kader-kader Pemuda Rakyat dan Gerwani serta SOBSI masih berlaku. Setakat mana besarnya pertentangan itu tidak diketahui tetapi pertentangan itu tentulah secara gerila. Pemimpin-pemimpin PKI telah bersembunyi, menyorokkan diri atau mengatur perlawanan. Apakah rancangan jangka panjang mereka tidak diketahui. Mungkin mereka menunggu sikap Sukarno. Sama ada PKI akan terus melakukan perlawanan bersenjata, atau bergerak sebagai sebuah badan politik yang halal, bergantung kepada Presiden Sukarno. === [PDF page 2] === Berita bahawa Presiden Sukarno dan Jenderal Nasution telah sepakat untuk membenarkan PKI bergerak semula dengan syarat pemimpin-pemimpin PKI diganti oleh pemimpin yang "nasionalis" mungkin benar. Satu kompromi mungkin telah tercapai antara Sukarno dan pemimpin-pemimpin tentera. Sukarno dengan nafsunya untuk mengekalkan NASAKOM dan pemimpin-pemimpin tentera dengan nafsunya untuk menuntut bela dan menumpaskan sama sekali kekuatan PKI. Ucapan Presiden Sukarno dalam perhimpunan anti-pangkalan perang mungkin membayangkan perkembangan-perkembangan selanjutnya, menunjukkan sikapnya terhadap PKI dan terhadap pergolakan di Indonesia sekarang. Tetapi dalam pertemuannya dengan ketua pengarang Antara kelmarin Presiden Sukarno menyesalkan pembakaran-pembakaran terhadap pejabat-pejabat PKI. Sekurang-kurangnya jelas bahawa Sukarno mahu PKI bergerak lagi kerana ia mahu mempertahankan Nasakomnya. Hanya PKI dalam bentuk apakah yang dapat diterimanya, inilah yang menjadi soal. Angkatan Perang masih meneruskan gerakannya memberantas PKI dan selama Sukarno masih belum membuat putusannya, gerakan itu akan diteruskan. Terserah kepada Sukarno kelak untuk menerima sisa-sisa kehancuran PKI setelah Angkatan Bersenjata memenuhi tugasnya. Kelemahan PKI dengan sendirinya berartinya kelemahan Sukarno kerana kelemahan satu golongan berarti memperlemah kedudukannya untuk tawar-menawar dengan pihak yang lain. Dengan lain-lain perkataan, sekalipun Angkatan Bersenjata menerima pimpinan Sukarno, mengakuinya sebagai "Bapak Revolusi", namun hakikatnya ialah Sukarno tidak boleh bertindak sewenang-wenang seperti dahulu lagi. === [PDF page 3] === Perubahan dalam kedudukannya berarti juga perubahan dalam bidang-bidang lain, dalam bidang perhubungan Indonesia keluar negeri, dalam bidang perhubungannya dengan Cina Komunis. Setakat mana kelak perubahan-perubahan ini akan mempengaruhi konfrontasi masih belum jelas. Tetapi perubahan itu tentu ada kalau sekiranya terjadi perubahan dalam imbangan kekuatan dan tenaga-tenaga politik di Indonesia sendiri. Konfrontasi pada hakikatnya adalah cetusan dari pergolakan di Indonesia, pernyataan keluar dari masalah-masalah yang dihadapi oleh golongan-golongan politik di Indonesia. Pendorong yang kuat kepada konfrontasi ialah PKI dan Aidit. Yang demikian, ketiadaan PKI dalam pergolakan politik Indonesia atau kelemahannya dalam persaingan kekuasaan negeri itu tentulah mempengaruhi perhubungan Indonesia keluar negeri. Mungkin sekali konfrontasi tidak akan dihentikan secara mengejut atau melalui perundingan dalam masa yang singkat dihadapan. Sukarno tidak akan memulakan inisiatif itu. Tetapi tidak mustahil gelombang konfrontasi akan mulai menurun dan surut dari sekarang hingga ombaknya tidak akan ada lagi di masa yang singkat di hadapan. Bagaimanapun, ini sekadar dugaan semata-mata. Suara dari Sukarno masih meneriakkan pertentangannya terhadap nekolim dan penjajahan. Tetapi ini hanya suara sahaja. Soalnya adakah ia mempunyai kemampuan untuk mengotakan katanya itu?

English translation

=== [Page 1] === Developments in Indonesia [editorial] DEVELOPMENTS in Indonesia are still compelling, with news that D. N. Aidit is said to be leading a rebellion in Central Java, that Sukarno wants to set up a new, more 'nationalist' PKI leadership, and news of the anti-military-bases conference scheduled for this Sunday. But on the whole the situation in Indonesia is still not clear. What is evident is the position of the Armed Forces and the PKI, each hunting the other. The armed forces are still attacking the PKI, striking without giving Aidit a chance to rest and reorganise his scattered ranks. The armed opposition from army elements has been crushed by the arrest of Lt. Col. Untung and other military leaders. But opposition from cadres of Pemuda Rakyat and Gerwani as well as SOBSI is still going on. How large this opposition is, is not known, but it is surely guerrilla in form. PKI leaders have gone underground, hidden themselves or are organising resistance. What their long-term plans are is not known. Perhaps they are waiting for Sukarno's stance. Whether the PKI will continue armed resistance, or operate as a legal political body, depends on President Sukarno. === [Page 2] === The news that President Sukarno and General Nasution have agreed to allow the PKI to operate again on condition that PKI leaders are replaced by 'nationalist' leaders may be true. A compromise may have been reached between Sukarno and the army leaders – Sukarno with his desire to preserve NASAKOM and the army leaders with their desire to take revenge and completely crush the strength of the PKI. President Sukarno's speech at the anti-military-bases rally may foreshadow further developments, showing his attitude towards the PKI and towards the present turmoil in Indonesia. But in his meeting with the chief editor of Antara the day before yesterday, President Sukarno regretted the burning of PKI offices. At least it is clear that Sukarno wants the PKI to operate again because he wants to defend his Nasakom. Only what form of PKI he can accept – that is the question. The armed forces are still continuing their campaign to eradicate the PKI, and as long as Sukarno has not made his decision the campaign will continue. It will be up to Sukarno later to accept the remnants of the shattered PKI after the Armed Forces have fulfilled their task. The weakness of the PKI in itself means Sukarno's weakness, because the weakness of one group weakens his position to bargain with the other side. In other words, even if the Armed Forces accept Sukarno's leadership and acknowledge him as 'Father of the Revolution', the reality is that Sukarno can no longer act arbitrarily as before. === [Page 3] === The change in his position also means changes in other fields – in Indonesia's foreign relations, in its relations with Communist China. How far these changes will affect confrontation is not yet clear. But change will surely come if there is a change in the balance of power and political forces within Indonesia itself. Confrontation is in essence an outburst of the turmoil in Indonesia, an outward expression of the problems facing political groups in Indonesia. The strong driving force behind confrontation was the PKI and Aidit. Hence the absence of the PKI from Indonesian political life, or its weakness in the power struggle in that country, will certainly affect Indonesia's foreign relations. Most probably confrontation will not be stopped abruptly or through negotiations in the short term ahead. Sukarno will not take that initiative. But it is not impossible that the wave of confrontation will begin to decline and recede from now on until it disappears in the near future. However, this is only speculation. Sukarno's voice still shouts his opposition to neocolonialism and imperialism. But this is only a voice. The question is whether he has the ability to put his words into action.