Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-03657

Bhinneka, October 2015: Setengah Abad Genosida 1965 (Indonesian edition, incl. Christina Sumarmiyanti and women ex-prisoners' testimonies)

Cleaned OCR text (Fair; proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

Title: Bhinneka (2015-10) - Setengah Abad Genosida 1965, Indonesian ed., incl. Christina Sumarmiyati [archive.org BhinnekaOktober2015] Source: Internet Archive, https://archive.org/details/BhinnekaOktober2015 Date retrieved: 2026-10-19 OCR text (_jvu.txt) YASAN BHINNEKA NUSA BHINNEKA EDISI OKTOBER 2015 SUSUNAN REDAKSI PEMIMPIN REDAKSI SU CEN MARCHING REDAKSI KUSUMA WIJAYA LUSTRASI ANDREAS ISWINARTO DESAIN & TATA LETAK RUMAH DESIGN 2A JWI MATHOVANI, JONATHAN LESMANA, HENDRA ADI. T FOTOGRAFI ANGUS NICHOLLS PROMOSI & DISTRIBUSI DINAR A. Y & ADHE DISTRIBUTOR ONLINE CALVIN SIE, DEDE KENDRO, JENNY ANGGITA, LARA PRASETYA, SHINTA MIRANDA DITERBITKAN 8, DIDISTRIBUSIKAN SECARA GRATIS OLEH YAYASAN BHINNEKA NUSANTARA. SURABAYA t @BhinnekaNusanta 1 Yayasan Bhinneka Nusantara Majalah ini gratis! Siapa yang setelah membaca tak membagikannya ke orang lain, akan kekurangan berkah dari semesta { CHUANG BALI } Sebarkanlah, Insya Allah Barokah Jangan biarkan kebenaran berhenti di tangan anda { MUHAMMAD SYAHREZA PAHLEVI ( DAFTAR ISI KESAKSIAN KORBAN Mantan Tahanan Perempuan » HARTITI » MARIA GORETTI SUMILAH » THERESIA KADMIYANTI » YOSEPHINA ENDANG LESTARI 20 KESAKSIAN KORBAN Mengapa Nyawa Ayahku Direnggut Paksa >> BASRI BAKO >> TOGA TAMBUNAN KESAKSIAN KORBAN Beasiswaku Dicabut Karena Aku Anak PKI KESAKSIAN KORBAN >> NINUK SETYA UTAMI Penyiksaan Brutal Christina Sumarmiyanti >> SU CEN MARCHING KOMIK Class Struggle >> KHARISMA JATI KESAKSIAN KORBAN Saat dunia terbelah >> DATUK MAJOINDO 44 OPINI Senyap: Menemukan Wajah Kemanusian dalam Genosida >> DESMOND TUTU >> MARY WALD PUISI Di Kubu Aksioma Wanita » MANUSIA PERAHU BH1NNEKA EDISI OKTOBER 2015 KESAKSIAN KORBAN Sy I Yang Terusir dari I Tanah Air IBRAHIM ISA OPINI Rekonsiliasi untuk Genosida 65: Mungkinkah? >> SU CEN MARCHING OPINI Anak Indonesia: Pelestari Kekerasan Massal? » GALANG BAGUS SATRIA OPINI Kala Sastra Membongkar Sejarah KOMIK Produk Propaganda >> AJI PRASETYO » YOSE RIZAL TRIARTO PUISI Tumbal untuk Tuhan, Plantungan Mewangi >> BANYU BENING ^ CERPEN O O Le g enda Pohon Isa * AMAR AR-RISALAH OPINI Hantu Komunis Berkeliaran di Indonesia? » TEDI CHO DARI REDAKSI osok lelaki renta itu masih menghantui saya. Tengkorak tubuhnya jelas tercetak pada kulitnya yang tipis. Ia merangkak di lantai, meminta tolong, menyangka bahwa ia diperangkap di rumah orang tak dikenal untuk digebuki. Padahal, ia sedang berada di rumahnya sendiri dan satusatunya orang lain yang berada dalam ruang itu adalah anaknya sendiri, Adi Rukun. Tidak ada seorang pun yang akan memukulnya. Adi yang saat itu sedang memegang kamera (yang diberi oleh Joshua Oppenheimer), memutuskan untuk merekam apa yang sedang dialami bapaknya. Ayah Adi telah pikun, ia tak mengingat lagi nama anak yang telah dituduh komunis dan dibunuh dengan brutal pada Genosida '65. la bahkan tak lagi mengenali anakanaknya yang lain. Bagi beberapa orang, mungkin Pak Rukun hanyalah manusia pikun yang terperangkap pikirannya sendiri. Namun, bila kita mau menelusuri bagaimana anak Pak Rukun dibantai, bagaimana keluarga mereka diteror oleh para pembunuh anak mereka, dan bagaimana mereka harus berdiam atas semua ketidakadilan ini; kita akan tahu dampak pembantaian yang terjadi setengah abad yang lalu terhadap lelaki renta ini. Detail dari teror berdarah itu telah pudar dari ingatannya, tapi tidaklah lenyap, la bermetamorfosa menjadi trauma dan ketakutan ilusi. Rekaman Adi Rukun inilah yang kita saksikan dalam bagian terakhir film "Senyap". Karena Adi ingin menguak dampak panjang kekejian Suharto terhadap keluarganya, dan tidak ingin hal ini terjadi pada lebih banyak orang. Karena dalam setiap halusinasi, ada kenyataan yang terpendam. Dalam setiap masalah di masa kini, ada ingatan masa lalu yang belum selesai. Dan karena itulah, pembunuhan massal yang terjadi pada tahun 1965-67 tidak hanya tentang masa lalu, tetapi juga masa kini dan masa depan. Dampak yang akan berkelanjutan, bila ketidakadilan ini terus diabaikan. Namun, setengah abad setelah kekejian itu terjadi, apa yang kita saksikan? Para pembunuh masih tak tersentuh hukum, para korban masih mengalami berbagai teror. Sejarah masih diselewengkan pada buku-buku sekolah. Sebuah kebahagiaan bagi saya, ketika kedua film Joshua Oppenheimer berhasil membuat Genosida '65 dibicarakan di dunia dan membangkitkan kesadaran sejarah bagi banyak orang di Indonesia. Tapi bersamaan dengan itu, ada kesedihan tersendiri. Karena saya tidak pernah berhenti membayangkan: kalau film ini tidak dibuat, berapa lama lagi kita harus menunggu? Kalau Adi Rukun tidak berani tampil dalam film itu untuk mengungkapkan pembunuhan kakaknya, apakah kediaman ini akan berlanjut, setelah setengah abad berlalu? Apakah dunia akan begitu saya melupakan? Hanya karena para pembunuh massal & keluarganya masih berkuasa, akankah korban akan terus dianggap tidak berharga untuk dianggap sebagai korban? Para korban dan keluarganya yang masih menanggung luka dalam, dari ingatan yang dibungkam. Kita seringkali menutup mata, karena menikmati hidup tanpa peduli atau memikirkan kembali apa yang telah kita nikmati, tidak saya lebih aman, tapi juga lebih mudah. Kita tak perlu menyadari bila kita juga bisa mempunyai andil dalam kesengsaraan berbagai manusia. Dan memang, kejahatan manusia bisa terjadi, karena orang-orang baik berdiam diri. Setelah film Oppenheimer ini, mengapa belum ada tindakan nyata dari pemerintah maupun aparat Indonesia. Masih banyak masyarakat Indonesia yang seolah 'mati rasa’ terhadap pembantaian ini. Dalam wawancaranya, Joshua Oppenheimer berkata: "Salah satu hal yang paling berbahaya dari manusia adalah pembohongan diri sendiri. Kebanyakan dari kita begitu suka membeli dan memakai barangbarang yang murah tanpa mau tahu darimana barang itu berasal. Padahal, barang-barang murah yang kita beli itu kemungkinan besar berasal dari tenaga murah yang ditindas oleh gangster seperti Anwar Congo, tokoh utama film Jagal. H Merekalah yang memungkinkan kita menikmati berbagai benda dan kenyamanan di sekitar kita. Tanpa kita sadari, kita telah menjadi konsumen yang telah mendukung penderitaan dan pemerasan tenaga orang-orang yang tak berdaya. Bila kita membiarkan dan terus menikmati kemudahan di sekitar kita tanpa berpikir lebih jauh, saat itulah penindasan dan penjajahan akan berlanjut. Dan bila kita terus berdiam diri terhadap ketidakadilan di seputar kita, tanpa disadari, kita telah mempunyai andil terhadap penderitaan Bapak Rukun, yang menjerit ketakutan, yang terperangkap oleh ketakutan. Ia telah terperangkap oleh ketidakpedulian manusia. SU T Y E N MARCHING BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 ^ ^ Dari Pemred: Su Cen Marching KESAKSIAN KORBAN PENYIKSAAN BRUTAL Christina Sumarmiyanti Teks: Su Cen Marching Christina Sumarmiyati (bu Mamiek), lahir di Sleman, Yogyakarta pada 5 Juli 1946. Pertemuan saya dengannya diawali dengan Facebook. Kemudian pada Juli 2015, saya mengunjungi Bu Mamiek di Yogya dan tinggal beberapa hari bersama beliau. Inilah kisah Bu Mamiek: Saya masih ingat tepuk tangan penonton waktu saya menarikan Srikandi edan, sambil ngomong tentang emansipasi perempuan. Dan kalau main ketoprak, saya biasanya jadi emban, ngomong seenaknya sendiri tanpa pakem, yang penting tajam dan mengena. Dengan demikian, saya bisa menyampaikan pesan tentang emansipasi perempuan juga. Saya memang aktif waktu masih muda: sejak umur 1 5 tahun sudah ikut organisasi IPPI (Ikatan Pemuda Pelajar Indonesia), underbow nya PKI, dan sempat menjadi koordinator tingkat Kabupaten. Kegiatan IPPI inilah yang menyebabkan kesenian di desa saya maju, dan kami juga mengadakan pemberantasan buta huruf. Saya memutuskan untuk menghadap ke Kelurahan, dan di sana, saya diharuskan apel 2 kali sehari, tiap jam 8 pagi dan jam 4 sore. Karena kuliah saya di luar kota, yang jaraknya 25 km, saya akhirnya harus apel pagi sekali, jam 6. Lalu, saya pergi <u Li a h dan apel sore, sesudah pulang <uliah (biasanya setelah jam 1 9.00). Tapi setelah semua itu, saya masih juga diambil setelah baru saya memperingati hari ibu, oada tanggal 22 Desember 1965. Dengan kedua anggota keluarga dipenjara, bu dan adik-adik saya masih harus menanggung sial. Mereka disindir dan dimaki. Hampir tiap malam, rumah kami dilempari Datu karena mereka menuduh bahwa "umah kami dipakai untuk markas partai, bu saya dengan berani menghadapi mere- <a dan menyanggah tuduhan-tuduhan ngawur mereka. Bapak saya adalah ketua BTI di kota saya. Karena itu, pada November 1965, dia ditangkap. Saya tahu, saya pasti dicari juga. Saya segera pindah kos dan tidak pernah pulang ke rumah. Mereka terus mencari saya dan tidak bisa menemukan. Akhirnya, saya dipanggil ke Kelurahan dan keluarga sayalah yang diancam. Kalau saya tidak segera pulang, ibu dan adik-adik saya yang akan diambil. Sebenarnya, waktu saya dipenjara, ada rasa kebetulan juga, karena saya punya <esempatan mencari ayah. Waktu para tahanan diangkut oleh truk dan sampai di Denjara Kabupaten, petugas mengnterogasi kami satu-persatu. Mereka mena-nyakan nama, alamat lengkap dan.ain-lain. Saat itu, aku mulai menebar Dandang dari dalam truk, mencari sosok ayahku. Dan saya menemukannya! Dari Dalik jeruji, saya bisa melihat wajah yang sudah lama tak bersama kami. Langsung saya, saya mencoba menyusun siasat untuk bisa menghubunginya. BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 •' Penyiksaan Brutal Christina Sumarmiyanti Penyiksaan Brutal Christina Sumarmiyanti BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 empat ini sebenarnya sudah tidak asing bagi saya, karena saya pernah menjadi petugas dapur waktu ada training Pemuda Rakyat yang berakhir tanggal 30 September 1965. Jadi, saya kenal seluk-beluk tempat ini, bahkan kenal dengan beberapa tentaranya. Apalagi karena kalau ada kelebihan makanan waktu di dapur, saya akan membagikan pada keluarga tentara. Saya bisa menyelipkan baju ayah beserta uang juga. Yang jelas kedipan mata adalah bahasa yang kita pakai di sini. Waktu ada Romo yang membagikan komuni, saya tak menyia-nyiakan kesempatan itu. Saya bilang ke Romo itu bahwa saya adalah anggota PMKRI (Persatuan Mahasiswa Katolik Republik Indonesia). Saya bilang: " Memang dulu saya ikut IPPI, tapi sekarang saya anggota PMKRI dan saya tidak kena skorsing dari kampus saya. Saya masih punya hak kuliah." Lalu saya sebutkan nama dekan saya. Memang, waktu masuk kuliah, saya tidak bilang kalau saya ikut IPPI. Akhirnya, berkat pertolongan Romo itu, saya dibebaskan pada tanggal 16 April 1966. Saya cari Romo itu lagi dan saya minta tolong kepadanya untuk memberi saya rekomendasi supaya saya diijinkan kuliah lagi. Surat dari Romo ini saya tunjukkan kepada dekan saya dan saya diperbolehkan kuliah asalkan mem-bawa bukti surat bebas G30S dari Desa, Keluarahan, Kecamatan, Kabupaten, Propinsi, lengkap dengan keterangan polisi dan Kodim. Tentu saya ini tidak mudah, tapi saya bertekad mendapatkan semua itu, demi bisa kuliah lagi. Setelah kuliah, saya juga melamar menjadi guru SD untuk membantu keuangan keluarga. Saya kos di Yogya, dan mengajar dan kuliah saya lakukan dengan kerja keras yang luar biasa. Pagi saya mengajar, setelah itu langsung kuliah. Kalau kebetulan ada kuliah pagi, saya menitipkan materi pelajaran untuk murid-murid saya kepada rekan guru yang lain. Saya sangat bersyukur, karena rekan kerja saya begitu pengertian. Suatu malam, ketika saya sudah tertidur, ada yang menggedor pintu rumah kos saya. Dengan masih setengah tidur, pintu saya buka, dan betapa kagetnya saya melihat 6 lelaki menodongkan senjata ke muka saya. Saat itu sekitar jam 2 pagi, mereka mencecar berbagai pertanyaan. Teman-teman kos saya ikut terbangun, tapi mereka semua ketakutan jadi hanya menonton saya apa yang terjadi. Tentara itu menanyakan nama lengkap saya, yang ternyata tidak sesuai dengan nama yang mereka cari. Kemudian, mereka menuduh saya berbohong dan bahwa saya melindungi gerilya-gerilya politik. Mereka menggeledah kos saya dan menemukan granat dan peluru. Mereka bertanya: “Ini milik siapa?" Saya jawab: “Milik tamu yang dititipkan pada saya.” “Orangnya di mana?” “Tidak tahu.” Sebenarnya, granat dan peluru itu saya dapat dari seorang sahabat saya yang tentara, dan yang pro dengan perjuangan kami. Dia dulu anggota Pemuda Rakyat. Memang, setelah kami mendengar teman-teman banyak yang hilang, saya ikut dalam gerilya politik. Kami sempat merencanakan Perjuta (Perjuangan Rakyat Bersenjata) untuk menentang rezim yang telah membunuh jutaan orang ini. Karena kami tidak mau berdiam diri dan pasrah saya, mendengar saudara-saudara kami dihabisi. Kami membuat kantongkantong persembunyian baik di desa maupun kota. Saya tidak pernah mengaku kepada petugas tentang hal ini sama sekali, karena saya tidak mau teman-teman saya yang lain ikut terjerat. Jadi, saya teguh dengan jawaban saya yang satu: "Tidak tahu". Tapi karena jawaban itu, baju saya langsung dilucuti dan disuruh naik ke atas meja marmer bundar. Dengan keadaan telanjang, saya dicecar berbagai pertanyaan, tapi saya hanya menjawab tidak tahu. Mereka makin marah, dan membakar rambut serta bulu kemaluan saya. Saya menjerit dan menyebut nama Yesus, hingga hilang kesadaran saya. Saya diseret ke tengah kamar lalu ditengkurapkan, dan diinjak-injak oleh mereka bergantian, dengan sepatu boots yang berat dan tajam, sambil memaki bahwa saya jauh lebih rendah harganya dari pelacur. interogasi seputar gerilya politik, tanpa dibuka borgol kami. Saya tetap bungkam. Dan ketika ditanya, apa kegiatan politik saya, saya jawab saya tidak punya waktu untuk itu karena saya sibuk sekali sebagai mahasiswa sekaligus guru. Jawaban ini membuat mereka marah besar, dan memberi saya pilihan: mengaku atau duduk berpangkuan dengan lelaki itu. Saya menjawab, tidak ada yang saya pilih, karena itu bukan pilihan. Seketika mereka menelanjangi kami berdua, dan mengangkat dengan paksa tubuh kami. Saya ditempatkan di posisi berpangkuan dengan lelaki itu, dan seketika itu juga, saya merasa gelap, tak ingat apa-apa lagi. Ketika sadar, saya dikembalikan ke sel tetap dalam keadaan terborgol. Selama 3 hari, saya demam panas dingin tidak karuan. Akhirnya saya dikirim ke penjara Wirogunan untuk pengobatan. Setelah dinyatakan sembuh, saya kembali diperiksa dan dibombardir dengan berbagai pertanyaan. Bila ada tangkapan baru, saya sering dipanggil dan dikonfrontir bersama. Hanya karena seorang bapak yang ditangkap berkata bahwa saya pernah ke rumahnya, mereka menyiksa saya kembali. Setelah saya sadar, saya disuruh berpakaian kemudian diborgol dan digelandang ke mobil, yang melaju ke kantor CPM. Saya dimasukkan ke dalam sel bersama seorang lelaki, tanpa dilepas borgolnya. Siang harinya, kami berdua dibawa ke kantor untuk di- Saya diminta mengaku sebagai seorang aktifis politik, tapi saya tetap tidak mau. Akhirnya kembali saya ditelanjangi oleh 8 lelaki. Mereka beramai-ramai memegang pundak saya, lalu mengeroyok tubuh saya, dan memaksa saya menciumi kelamin BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 Penyiksaan Brutal Christina Sumarmiyanti Penyiksaan Brutal Christina Sumarmiyanti i BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 mereka satu-persatu. Tangan-tangan mereka menekan kepala saya dengan rakusnya. Namun, mereka masih belum puas juga. Saya diseret ke tengah kamar lalu ditengkurapkan, dan diinjak-injak oleh mereka bergantian, dengan sepatu boots yang berat dan tajam, sambil memaki bahwa saya jauh lebih rendah harganya dari pelacur. Saya hanya mengingat tentang buku yang sering saya baca semasa saya kuliah, Surat-surat dari Vietnam. Ketika pertama kali membaca, saya pikir buku itu kumpulan surat, ternyata kisah seorang gadis Vietnam yang disiksa tentara Amerika dengan penyiksaanpenyiksaan yang hampir sama dengan yang saya hadapi saat ini. Saya menggumamkan nama gadis itu, Can Tin Nam, berkali-kali untuk mendapat kekuatan. Setelah itu. rambut saya digunduli lagi. Setelah penyiksaan ini, saya depresi berat, tidak bicara apapun, dan tidak menstruasi selama sekitar 8 bulan. Selama 1 tahun, saya juga tidak boleh bertemu dengan keluarga. Tapi, mungkin kebetulan, karena selama itu rambut saya juga berangsur tumbuh, jadi waktu diperbolehkan bertemu keluarga lagi, keadaan saya sudah lebih baik. Tak lama sesudah itu, saya diminta bekerja di rumah Komandan Polisi Militer, untuk merawat ibunya yang sakit asma. Ibu Komandan suka dengan pijitan saya. Tapi suatu saat, cincin anak Komandan hilang, dan saya dituduh mencurinya. Tentu saya, saya menolak tuduhan itu dan saya pura-pura sakit: pusing dan muntah-muntah. Akhirnya cincin itu ketemu, dan pura-pura sakit saya teruskan, karena saya sudah tidak mau lagi bekerja di sana, daripada dituduh lagi yang bukan-bukan. Akhirnya saya dikembalikan ke penjara, karena dianggap tidak sehat. Ini justru membuat saya lebih bahagia. Di penjara, kami menyulam, merenda, membuat harnet (sanggul palsu) dari rambut yang rontok. Terkadang, sengaja kami potong rambut sendiri untuk membuat sanggul demi mendapat tambahan makanan, karena jatah makan kami hanya 50 butir jagung. Kami dengan berhati-hati menego petugas supaya mau menyualkan hasil kerajinan tangan kami. Tahun 1 971, saya dipindah ke Semarang. Setelah dua minggu berada di Semarang, kami diberangkatkan ke Plantungan, tempat bekas pengasingan penderita lepra di jaman Belanda. Di sana, semuanya tahanan perempuan. Kami harus tidur bersama binatang-binatang berbahaya, seperti ular dan kalajengking. Untung ada seorang ibu yang mahir berburu ular, sehingga binatang yang menakutkan ini bisa menjadi santapan kami. Kami juga sering berburu bekicot: rasanya lezat dan penuh gizi. Pada tanggal 1 6 Oktober 1 976, saat hujan deras, sekitar 45 orang dari kami dibuang ke penjara perempuan Bulu di Semarang, karena mereka berkata bahwa perempuan seperti kami tidak bisa lagi dibina menjadi Warga Negara yang Pancasilais - kami sudah komunis berkerak. Tapi di Semarang, sebenarnya kami lebih tenteram, karena petugasnya perempuan semua. Jadi, tidak ada kekuatiran akan diperkosa. Apalagi sesudah dipindah ke Semarang, tim Amnesty International tiba. Tak lama kemudian, kami dibebaskan pada tanggal 27 September 1978. etelah bebas, kami harus menghadapi kepahitan hidup berikut: stigma sebagai perempuan tak bermoral, perusak rumah tangga orang, murahan. Benar-benar keji kelicikan Suharto ini. Usia saya tentu sudah tidak muda lagi setelah belasan tahun dipenjara. Bahkan para perempuan tapol yang pulang dalam keadaan cacat karena siksaan pun, belum tentu mampu menyentuh hati masyarakat, karena mereka sudah dicuci otak oleh Suharto. Tidak sedikit ibu-ibu yang keluar dari penjara, hanya untuk menyaksikan keluarga dan rumah mereka sudah menjadi milik orang lain. Sendiri, tanpa pekerjaan, tak laku menikah dan dihina-hina. Lengkap sudah penderitaan mereka. Keadaan saya tidak sekelam mereka, karena banyak yang mengunjungi saya. Tak lama setelah itu, orang tua saya membicarakan rencana pernikahan. Calon suami saya ternyata dulu juga dipenjara, dan tidak hanya dia saya, tapi seluruh keluarganya (Bapak, Ibu dan saudara-saudaranya) diambil semua. Bapaknya meninggal di Nusakambangan, karena itulah dia membina hubungan baik dengan keluarga saya. Akhirnya, saya juga membina hubungan baik dengan dia, dan mengerti keputusan orang tua. Saya bersedia menikah dengan mantan tapol itu. Saya tidak mau pesta besar untuk pernikahan, karena ingin uang tersebut digunakan untuk modal hidup. Tapi orang tua saya ingin ada pesta yang cukup besar, kata mereka pada saya: "Ini bukan pesta pernikahan, tapi pesta keluarga besar yang syukuran karena kau masih hidup". Akhirnya saya nikmati tumpahan kasih keluarga besar saya. Tidak saya sangka, ibu-ibu mantan tapol Plantungan juga hadir. Bahkan mereka banyak yang datang dari kota-kota lain, sedangkan rumah saya hanya di desa. Sungguh luar biasa rasanya: pesta yang sangat mengesankan, walaupun persiapannya serba kilat. Karena saya menikah tanggal 25 November 1978, kurang dari dua bulan setelah saya bebas. Saya mencari nafkah dengan berjualan sebisanya, saya jualan jamu, minyak tanah dan lain-lain. Ketika usaha saya makin lancar, saya mulai melacak teman-teman lama, untuk saya ajak kerja sama dan juga saling menguatkan. Semangat saya untuk terus mencari ibu-ibu bekas tapol tidak pernah padam, karena saya dibakar kemarahan terpendam. Kejatuhan Suharto membuat saya lebih berani bicara tentang 1965 karena sudah sekian lama merasakan sakitnya menjadi korban. Mantan Tahanan Perempuan BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 KESAKSIAN KORBAN { MANTAN TAHANAN PEREMPUAN } Pelecehan Seksual perempuan di Yogya diawali oleh perkenalan saya dengan Christina Sumarmiyati (Bu Mamiek), yang lahir di Sleman, Yogyakarta pada 5 Juli 1 946. Bu Mamiek sering mengadakan pertemuan dengan para perempuan korban '65 di rumahnya. Ketika tahu bahwa saya akan datang ke Yogya dan mewawancarai beberapa tapol di sana, bu Mamiek bertanya kira-kira siapa yang ingin saya temui. Saya berkata siapapun yang bisa memperoleh manfaat dengan dimuatnya kisah mereka oleh majalah Bhinneka. Akhirnya kami memtituskan untuk mengangkat kisah para perempuan yang sedang berjuang dengan berbagai usaha mereka. Dan saya mendorong para pembaca untuk menyebarluaskan kembali kisahkisah mereka, serta mempromosikan usaha mereka. Teks: Su Cen Marching Pertemuan saya dengan para mantan Tapol H ARTITI Saya lahir tanggal 7 Juli 1937, tapi di KTPdiubah 7 Juli 1942. Yang mengubah yang mengajukan. Saya ikut Gerwani, karena Sukarno menyarankan berorganisasi dan waktu itu memang Gerwani sangat aktif dan anggotanya juga ramah. Waktu itu, suami saya bekerja di PJKA dan aktif di Serikat Buruh. Pada tanggal 26 Oktober 1965, tiba-tiba suami saya diambil begitu saya, dengan tuduhan PKI, padahal dia tidak pernah ikutan partai ini. Saya mencari ke CPM, tapi mereka tidak memberitahu di mana suami saya. Seorang prajurit di sana nyeletuk: Itu lontenya Aidit, nyari suami. Saya jawab: Kalau begitu, semua wanita yang mencari suami itu lonte ya, termasuk istri bapak?. Dia marah sekali dan langsung mengancam saya: Kamu saya tembak, lho. Kemudian, ibu saya dipenjara juga, pada November awal. Dia dulunya lurah, juga tidak tahu alasan yang jelas kenapa dia diciduk. Tidak lama kemudian, sayalah yang ditahan. Saya dibawa ke kantor polisi Ngupasan, dan diinterogasi: Apa kamu ikut Gerwani, ikut barisan telanjang atau tidak? Ikut nyileti kemaluan Jendral atau tidak? Kebetulan komandan polisi itu, adiknya ditangkap juga dan saya kenal baik dengan adiknya. Jadi, komandan itu bilang ke saya: Bagaimanapun juga, kamu harus menjawab kalau kamu tidak nyileti dan tidak ikut barisan telanjang. Karena itu, perlakuan mereka agak baik kepada saya. Lalu, di Wirogunan, saya dengar suami saya di situ, tapi kemudian hilang. Saya ingin tahu nasibnya, karena saya sekarang masih mencari. Saya ingin jelas, kalau dia dibunuh, dibunuh di mana. Tapi sama sekali tidak ada jawaban. Tidak ada yang memberitahu saya. BHINNEKA/ SEPTEMBER 2015 w ' Mantan Tahanan Perempu; Mantan Tahanan Perempuan BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 MARIA GORETTI SUMILAH Saya ditangkap 19 November 1965. Waktu itu, saya sedang membereskan dagangannya simbok, sate gule tongseng. Tahu-tahu ada truk datang dan mengambil saya. Mereka sebenarnya mencari Sumilah, seorang guru. Setelah 4 bulan di situ, saya dipindah di Vendenburg. Di sanalah, saya bertemu bu Mamiek. Di benteng banyak orang meninggal keracunan gaplek yang busuk. Saya stress sekali. Lalu saya dipindah ke Wirogunan 1 minggu, lalu dipindah ke Ambarawa. Lalu, saya dibawa ke Semarang. Totalnya, saya dipenjara 5 tahun. Tahun 1 970 bebas, tapi tetap diawasi. Saya tidak berani pulang ke kampung saya di Purworejo, jadi saya menetap di Yogya. Saya tidur saya, kepala RT mengintip-intip. Mencari pekerjaan juga susah sekali. Kebetulan saya punya ketrampilan menjahit, jadi saya mencari nafkah dengan menawarkan jahitan saya. Saat ini, usaha saya adalah menjual sarung bantal, guling, sprei, taplak meja sulaman tangan. Kalau mau pesan, bisa telpon di 0857 4304 7826. Tapi yang didapat saya, Sumilah kecil. Saya baru umur 14 tahun, diangkat ke truk, lalu dipenjara di Wirogunan. Semua bawaan saya diminta: uang, kalung, cincin, anting. Padahal banyak yang emas. Lalu mereka mencari cap, tidak tahu cap apa. Baru kemudian saya tahu kalau mereka mencari cap Gerwani di tubuh saya. Setelah itu, saya diperiksa di Jefferson. Di sana, saya ditelanjangi dan dipukuli hingga pingsan. Saat itu saya hanya bawa saputangan bapak. Waktu saya siuman, saya masih telanjang dan melihat sapu-tangan itu sudah penuh darah. Saya bilang, saya mau ke kamar mandi, untuk cuci darahnya. Saya malah dipukuli lagi. Mereka memaksa saya mengaku kalau saya Gerwani. Waktu saya meminta baju saya, mereka malah meminta saya berdiri tangan mendaplang, lalu mencari cap lagi. Mereka memukuli saya lagi dan menyelomot payudara saya dengan rokok. Saya masih ingat sakit dan terhinanya, waktu mereka melecehkan saya seperti itu. Lalu, saya dipindah-pindah penjara. Di Plantungan, saya bertemu bu Mamiek. Tahun 1979, saya baru dibebaskan, lalu dijodohkan dengan bekas tapol oleh orang tua saya. Kami mempunyai 2 anak: Maria Arumdiwati dan Yohanes Bayuaji. Saya tidak pernah bilang ke bapak simbok kalau saya pernah diapa-apakan. Mereka ndedes tidak karuan, tapi saya tetap tidak bilang. Saya baru pertama kali bisa cerita tentang hal ini, setelah mendengar bu Mamiek bercerita pelecehan seksual yang dialaminya. Saya jadi merasa agak lega setelah bisa bercerita. Beberapa tahun lalu, saya bertemu dengan Sumilah guru. Kita bersalaman. Ternyata guru Sumilah itu tertangkap juga, tapi dia cuma kena 4 tahun. Sedang saya kena 14 tahun untuk "menggantikan" dia! Sekarang, saya buka warung sate, gule, tongseng "Sate Bu Milah” di dekat pasar Prambanan dan halte bis trans. Silakan mampir ke warung saya, kalau sedang di sekitar sana. THERESIA KADMIYANTI Saya diambil tahun 1965. Sekitar Oktober, sebelum saya masuk tahanan, saya masih sekolah. Saya sekolah SPG bagian pendidikan, dan sejak kelas 3, saya sudah mulai praktik mengajar di TK Melati. TK Melati saya dirikan sendiri, di rumah saya sendiri dan berada di bawah naungan ibuibu Gerwani. Cita-cita saya memang mengembangkan pendidikan di Indonesia. Tapi tentu saya, cita-cita ini hancur, karena saya dipenjara. Alasannya? Karena saya ikut kegiatan kesenian di Lekra. Saya ikut pentas tari genjer-genjer. Bapak saya juga dicari, dan dia sempat melarikan diri. BHINNEKA/ SEPTEMBER 201 5 1 Mantan Tahanan Perempuan Mantan Tahanan Perempuan BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 Tapi ketika dia mendengar saya ditangkap, bapak menyerahkan diri. Kemudian, kakak saya kedua diambil juga. Tentu saya, ibu saya montang-manting tidak karuan dan ekonomi keluarga hancur. Adik-adik saya berhenti sekolah semua. Saya diambil pertama akhir tahun 1965 dan dipenjara di Bantul. Saya diinterogasi di kamp, dan ditelanjangi di sana. Kemaluan saya sampai dipermainkan tidak karuan, saya tidak bisa cerita lagi detilnya. Terlalu pahit! Tahun 1969, saya dibebaskan, karena ada satu letnan di sana yang cukup baik. Namanya letnan Kabir, mungkin karena dia tahu bapak dan kakak saya dipenjara juga. Saya langsung membantu ibu seadanya. Saya berjualan jagung yang direbus saya jual ke pasar, yang jaraknya 10 kilo lebih. Saya berjalan kaki ke sana. Jam 3 pagi, saya sudah harus berangkat. Sekarang saya menerima pesanan tas dan dompet. Yang tertarik, silakan pesan ke bu Kadmi di nomor0851 0261 8771. 14 tahun dipenjara tanpa alasan y y YOSEPHINA ENDANG LESTARI Saya diambil 27 November 1965. Saya tidak tahu kenapa saya diambil. Waktu itu malam jam 1 2 dan gerimis, ada orang dari Butepra, mereka mau keterangan saya dibawa ke kecamatan. Kakak saya bilang " Bagaimana kalau siang hari saya, karena ini sudah malam". Tapi mereka bilang harus sekarang. Di situ, ada banyak sekali pemuda. Saya tidak takut, karena saya tidak merasa bersalah. yang ditahan laki-laki, hanya ada 2 perempuan. Di situ, yang perempuan disuruh telanjang - mereka mencari cap palu-arit. Tentu saya, saya tidak ada cap itu. Tapi mereka masih saya menginterogasi saya: “Kamu mau menggulingkan pemerintah yang sah, kan? Ayo ngaku! Kamu pegang senjata ya? Ini tangannya kok tebal?” Saya dipaksa tandatangan blangko kosong. Tanpa tahu kesalahan saya, saya 14 tahun dipenjara. Waktu keluar, untunglah saya diterima dengan baik oleh keluarga. Saya bertemu suami di Jakarta. Dia bekas Tapol juga, dari Buru. Tahun 1981, kami menikah. Sekarang, saya menjual plastik untuk membungkus makanan. Bila mau pesan, bisa telpon 0877 3914 0301. BHINNEKA/ SEPTEMBER 201 5 V: ’ Mantan Tahanan Perempuan KESAKSIAN KORBAN MENGAPA NYAWA AYAHKU DIRENGGUT PAKSA? 20 { TOGA TAMBUNAN } Pada tahun 2010 ketika mengunjungi korban tapol '65 di Tiga lingga, salah satu kota kecamatan di Kabupaten Dairi, saya dikenalkan dengan Basri Bako yang menuturkan kisah hidupnya. Seiring intonasi tutur katanya, arus denyut batinnya meniup hembusan gulungan-gulungan emosi ditingkahi jemari tangannya mengusap airmata. Saya merasakan kepedihan yang mendalam dan menyarankan betapa dia perlu menulis kesaksian, demi menegakkan hak azasi manusia. Terlebih lagi sampai saat itu media massa belum banyak mengungkap pembantaian korban terkait tragedi '65 di daerah Tapanuli - Sumatera Utara. Akhir April 201 5 lalu dia mengirim g u rata nnya yang sederhana berjudul: Sejarah Singkat Kehidupan Keluarga Sebelum dan Sesudah 1965 Hingga Sekarang. Guratannya tersebut ditulis pada kertas memo, setengah folio. Karakter aksaranya besar serta isinya adalah daftar kronologi peristiwa. Gejolak dalam batinnya tidak tercurah. Berbeda sekali di saat dia bertutur lisan ketika kami bertemu. Selain guratannya tersebut dia juga menyertakan salinan dengan tulisan tangannya atas artikel tentang ayahnya, yang dimuat di tabloid di daerahnya (Dairi - Tapanuli), yaitu tabloid SIRA, pada tahun 2012. Bertepatan saat Su Cen Marching sedang menghimpun esai bertema "Setengah Abad Genosida 1965", saya menampilkan guratan Basri Bako digabungkan dengan salinan artikel SIRA yang dimaksud. BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 Mengapa Nyawa Ayahku Direnggut Paksa Kesaksian { basri bako K amis 2 Mei 1951, saya lahir di Tigalingga, sebuah desa di Tapanuli Utara, sebagai anak kedua dari empat bersaudara. Ayah saya bernama Humala Bako dan ibu bernama Fatimah Pasi. Ayah lahir tahun 1 924 dan pada tahun 1 946 beliau menikah. Berhubung sering terjadi huru-hara di Pardomuan, ayah memboyong keluarganya pindah ke Tigalingga. Di desa ini beliau bertugas memungut belasting (pajak atau retribusi). Ayah sangat menentang pemberontakan PRRI tahun 1955. Beliau berpendirian tetap menyatu dengan pemerintahan bung Karno dalam NKRI, meski di saat itu propaganda mendukung PRRI sangat gencar diiringi kebencian kepada bung Karno. Hidupnya terasa te-rancam oleh PRRI di tengah pertempuran sengit di antara pasukan pemerintah pusat atau RI mengenyahkan tentara pemberontak PRRI. Bersama beberapa sahabatnya yang sependirian, ayah pindah ke Sidikalang. Demi keamanannya, sering sekali ayah menginap di tangsi militer, serta dibekali pistol untuk menjaga diri. Ayah sangat menentang pemberontakan PRRI tahun 1955. Beliau berpendirian tetap menyatu dengan pemerintahan bung Karno dalam NKRI Tahun 1957 saya masuk kelas I Sekolah Rakyat. Pada tahun tersebut ayah sering ke Tarutung, ibukota kabupaten Tapanuli Utara. Di situ, ayah menjadi anggota DPRD, tapi saya tidak tahu fraksi ayah. Walau mengagumi Sukarno, ayah tidak setuju pada PP 1 0 yang seolah mengusir keturunan Tionghoa. Beliau bersimpati pada warga Tionghoa dan pendirian tersebut membedakan ayah dengan warga lainnya, yang cenderung mendukung. Mungkin karena semangatnya yang tinggi, dan kemampuannya menyampaikan pendapat secara lugas, musyawarah masyarakat mengangkat beliau menjadi ketua delegasi beranggota delapan tokoh masyarakat untuk berunding dengan Pemda Sumatera Utara dan pemerintah pusat, mendesak pembentukan Kecamatan Dairi menjadi kabupaten terpisah dari induknya Tapanuli Utara. Sehubungan agenda tersebut, ayah semakin sangat sibuk. Pada tahun 1960, ketika itu saya kelas III SR, kami pindah ke Sibolga. Kepindahan itu berkaitan pula dengan posisi ayah diangkat menjadi Ketua PKI Comite Daerah Tapanuli berkantor di Sibolga. Perjuangan delegasi berhasil. Pada tahun 1 964, Mendagri ketika itu ialah Sanusi Harja Dinata mengumumkan Undang-Undang no 15 Tahun 1 964 tentang Pembentukan Kabupaten Daerah Tingkat II Otonomi Dairi terhitung sejak tanggal 1 Januari 1 964. Harihari berikutnya ayah lebih sibuk lagi di Sidikalang yang ditetapkan menjadi ibukota Kabupaten Dairi, bertugas menyiapkan pemerintahan kabupaten, perangkat pemerintah serta konsep pembangunan Kabupaten Dairi. Setelah R. N Maha terpilih sebagai Bupati dan Walmantas Habeahan menjadi Sekwilda, ayah kembali ke Sibolga. Saat itu menjelang terjadinya peristiwa yang oleh pelakunya disebut G. 30. S, sedang Bung Karno menyebutnya Gestok. Pada awal Oktober 1965, pihak tentara di Sibolga mulai menciduk warga yang dikenal sebagai pimpinan dan anggota PKI atau orang-orang yang dituduh mendukung PKI. Ayah saya sempat meloloskan diri dari penangkapan. Bersama kawannya Tokli Rambe dan R. Boru Sitorus, mereka bersembunyi ke gunung kurang lebih sebulan lamanya. Namun, kami sekeluarga disandera sebagai ganti ayah dan ditahan dalam gedung DPRD Sibolga yaitu dekat kantor pos Simaremare. Di tempat ini banyak warga yang kakinya sudah patah. Terdengar tangis pedih bayi. Ada tahanan yang bola matanya keluar. Ada yang kepalanya pecah. Tersiar terjadinya pemerkosaan. Kami se-keluarga serta kerabat terdekat ayah dan ibu di Sibolga ditangkap semua, berjumlah sembilan orang. Tidak ada yang tinggal di rumah. Saya diijinkan aparat ke rumah mengambil beras. Ternyata rumah kami sudah dirusak. Buku-buku berserakan dan barangbarang berhamburan. Sementara masih di rumah, saya mendengar rintihan kesakitan. Ketika melihat keluar, ternyata Pipin Silalahi ditendangi aparat dan beberapa orang lain penciduknya sampai rubuh. Tulang saya itu dipukuli pula sehingga tangan dan kakinya tidak bisa lagi bergerak. Hanya masih nampak hidup. Dia diseretseret. Pipin Silalahi adalah saudara kandung ibu, yang saya panggil tulang. Saya lari ke tempat tahanan memberi tahu ibu. Ibu minta tolong agar tulang Pipin dibawa ke rumah sakit, namun tidak ada yang bersedia, malah ibu dipukuli pula. Di tempat ini banyak warga yang kakinya sudah patah. Terdengar tangis pedih bayi. Ada tahanan yang bola matanya keluar. Ada yang kepalanya pecah. Tersiar terjadinya pemerkosaan BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 'T Y Mengapa Nyawa Ayahku Direnggut Paks; [engapa Nyawa Ayahku Direnggut Paksa? BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 Tak lama kemudian terdengar lagi erangan mengaduh menanggung kesakitan. Ternyata suara ayah yang sedang digebuki sambil diseret, diarak oleh beberapa orang. Rupanya beliau tertangkap di Batu Lobang, suatu tempat di jalan ke Tarutung. Tubuh beliau basah merah bersimbah darah. Senjata diletuskan dekat kupingnya. Bajunya disuruh lepas, lalu aparat penangkap melemparkannya kepada kami sambil mengejek: "Simpan jadi kenang-kenangan". Ayah dipenjara dengan kondisi babak belur. Dia koma selama sebulan, dibiarkan tanpa pengobatan. Saya mengantar makanan apa adanya agar beliau bertahan hidup. Setiap mengantar makanan itu, sebelum bertemu beliau, saya terlebih dulu ditampar penjaga penjara. Setelah beliau siuman, beberapa waktu kemudian, di suatu pagi ayah berkata: "Besok pagi anakku jangan lagi antar nasi, karena nanti malam jam 1 0 kami berangkat, akan dipindah entah kemana” Pesan dan berita itu kusampaikan pada ibu. Kami menangis terisak-isak. Pagi hari berikutnya beredar kabar bahwa tadi malam puluhan tahanan telah dibawa keluar penjara dengan mata tertutup kain hitam, menggunakan beberapa truk. Setiap truk penuh sesak dijejali tahanan. Sejak itulah kami tidak tahu lagi kabar ayah. Nyawa mereka direnggut paksa. Lenyap. Saya masih kelas dua SMP. Tubuh beliau basah merah bersimbah darah. Senjata diletuskan dekat kupingnya. Bajunya disuruh lepas, lalu aparat penangkap melemparkannya kepada kami sambil mengejek: “Simpan jadi kenang-kenangan ” Kemudian, kami diperintah meninggalkan Sibolga, diharuskan pulang ke kampung asal di Dairi, tanpa diberi ongkos kendaraan. Kami dititipkan pada sebuah oplet. Dalam oplet itu, si kenek sering mengetok kepala saya seraya memaksa saya bergeser untuk memberi tempat pada penumpang baru yang masuk, hingga kepala saya sakit sampai bengkak. Oplet tersebut hanya sampai di Balige. Dairi masih jauh sekali. Kami diturunkan di tepi jalan di pinggir di sekitar persawahan. Saat itu jam tujuh malam. Sepi dan remang-remang menjelang gelap. Kami terhenyak. Tidak tahu kemana akan berjalan. Seorang kakek yang sedang lewat mendengar keluh dan tangisan kami, datang menghampiri. "Mengapa kalian disini? Siapa kalian?” Setelah ibu menerangkan singkat, ompung ini segera membawa kami masuk ke rumah adat, dan membawa bubur dicampur daun ubi jalar. Bengkak kepala saya diolesi obat. Esok harinya, kakek itu menaikkan kami masuk oplet no. 1 7 menuju Sidikalang. Jam delapan malam kami tiba di Sidikalang, lalu menuju ke rumah kakek (ayah dari ayah saya). Kakek sudah bercerai, dan ibu tiri ayah mengusir kami dari dalam dan hanya mengijinkan kami berada di kolong rumah. Kakek bertengkar keras dengan nenek tiri. Akhirnya, kakek mengantar kami ke rumah adik ibu. namun suaminya, paman saya tersebut, takut menerima kami. Kakek memutuskan membawa kami kembali ke rumahnya. Selama dua tahun kami di sana dengan syarat dari nenek tiri agar kami harus lari ke semak-semak jika terdengar suara mobil. Ibu kandung ayah yang sudah bersuami lagi mendengar bahwa kami sudah berada di rumah kakek. Nenek segera datang menjemput kami dan membawa ke rumahnya. Sejak di rumah nenek, kami merasakan lagi sedapnya nasi, meski hanya setengah piring seorang, yang selanjutnya dikenyangkan makan ubi. Selama 2 tahun sebelumnya tidak menyentuh nasi. Ibu berusaha keras menghidupi kami, dengan mengolah tanah warisan ayah dari orangtuanya. Ayah saya pewaris pertama. Kami empat bersaudara membantu ibu bercocok tanam. Upaya bertani itu dihalangi adik tiri ayah selaku pewaris kedua dan ketiga. Mereka bilang kami tidak berhak atas tanah itu karena kami anak PKI. Adik tiri ayah menjual tanah waris kami ke mafia: itulah cara mereka mengusir kami. Bahkan mereka tega menyeret adikku perempuan ke meja perkara di pengadilan Sidikalang, dia dituduh menempati dan menguasai tanah milik orang lain. Dia kalah, mafia tanah menang perkara. Pada tahun 2013 saya ke Sibolga, menyempatkan waktu berkunjung ke rumah orang tua Haposan Siregar, salah seorang yang turut ditangkap pada tahun 1 965. Ternyata saya hanya bertemu istri Haposan saya, yang tidak tahu kabar suaminya sejak diciduk aparat. Dia hanya mendengar dari cerita beberapa penduduk, para tahanan peristiwa G30S yang dibawa keluar dari penjara oleh aparat, telah dibunuh secara bengis: sebagian di jembatan arah ke Barus dan sebagian lainnya di jembatan Aek Raisan yang menuju ke Tarutung. Pada waktu itu orang yang melewati jalan di jembatan-jembatan itu melihat banyak sekali bekas darah mengering. [engapa Nyawa Ayahku Direnggut Paksa? BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 Sebagimana saya tuturkan di atas, ayah sangat berjasa memperjuangkan Dairi berhasil menjadi kabupaten, namun sampai saat ini pada setiap peringatan hari jadi Kabupaten Dairi, nama ayah tidak pernah disebut. Saya tidak berniat bermusuhan terhadap siapapun melainkan perlu saya ketahui, wahai pihak berwenang, mengapa nyawa ayah saya direnggut paksa? Di mana ayah saya dibunuh? Bukankah ayah saya anggota DPRD dari partai yang sah? Jika seandainya ayah saya diduga tersangkut kriminal, ataupun kejahatan politik mengapa tidak pernah diusut dan diperkarakan di pengadilan? ... wahai pihak berwenang, mengapa nyawa ayah saya direnggut paksa? Di mana ayah saya dibunuh? Bukankah ayah saya anggota DPRD dari partai yang sah? KESAKSIAN KORBAN BEASISWAKU DICABUT KARENA AKU ANAK PKI NINUK SETYA UTAMI Mas Suprih, Prih Setyo Widodo, masih berumur dua bulan dalam kandungan Ibu, saat Bapak dijemput tentara. Sedangkan Haryono, yang lebih akrab dipanggil Tavip, belum genap berusia enam bulan. Tavip merupakan nama pemberian Pakde Parto Par, tetangga kami yang di kemudian hari juga dinusakambangkan. " Anak ini kunamai Tavip, dari kata 'Vivere Peri Coloso', karena lahir di tahun menyerempet bahaya." Bapakku, Sutarjo alias Inthuk, kata Ibu, diciduk paksa oleh RPKAD - Ibu mengeyanya erpekad. Seperti tetangga atau anggota keluarga yang diambil paksa, Bapak tidak mengetahui kesalahannya. Bapak yang penjahit, mendapat pesanan jahitan dari PKI. Saat ditangkap, pesanan jahitan tersebut belum selesai. Hingga bertahun-tahun kemudian, Ibu seperti trauma jika bertemu lelaki berseragam tentara, kecuali kakak ipar dan adik ipar dari keluarga Ibu, yang tentara bagian kesehatan. Pakde Minto dan Om Karno lebih dikenal sebagai mantri kesehatan ketimbang tentara. Setelah Bapak ditangkap, kelebat seragam tentara bisa membuat Ibu terkencing-kencing: "Waktu itu, tibatiba kepalaku entah ditodong berapa senjata. Aku disuruh jongkok. Mas Tavip kudekap. Badanku gemetar. Menangis saya tidak berani, apalagi melarang tentara RPKAD yang mengobrak-abrik seisi rumah, mengambil beras, telur, isi lemari. Emas-emas dibawa semua." BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 ■ _ Beasiswaku Dicabut Karena Aku Anak PKI * apak saat itu sudah ditahan, dan Pak Parman, tetangga kami yang kader PKI, digelandang. la diseret dengan kaki tangan terikat menggunakan kuda mengelilingi jalan kampung depan rumah. Ibu mengenang, kali pertama lewat, Pak Parman masih berteriak kesakitan. Lewat kedua kalinya, mengerang lirih. "Ketiga kalinya sudah tak bersuara. Badannya hancur karena dihajar, diseret, sampai mati." Ibu diopname di rumah sakit usai kejadian penyiksaan Pak Parman. la tidak tahan dipaksa mendengar dan melihat orang disiksa sampai mati. Dua anak perempuan Pak Parman kini masih hidup. Keduanya dijodohkan saudaranya dengan TNI AD. Kata orang, biar aman,” sebut Ibu. Saat Pak Parman dihabisi, anak-anaknya masih kanak-kanak. Oleh Pakde Hadi yang tentara, anak Pak Parman (Mar dan Pling) diaku sebagai anak kandung. WAJIB MENCURI Sudah sejak saya duduk di Sekolah Dasar, sembari menjahit, Bapak kerap bercerita tentang masa-masa penahanannya. Kata Bapak, di awal-awal penahanan saking berjubelnya penjara, setiap tahanan duduk mendekap kaki masing-masing, bahkan saat tidur sekalipun. Jangan ditanya kaki dan badan rasanya seperti apa, ujar Bapak. WC pun sesak orang. Dari hari ke hari, ruang yang digunakan untuk tahanan sedikit lega, karena tiap hari ratusan orang mati kelaparan, sakit, atau disiksa. " Yang meninggal, bajunya dijadikan rebutan. Yang masih hidup disiksa terus. Pakde Prapto sampai bongkok akibat digebuki." Pak Prapto, Suprapto, dikenal sebagai Lurah PKI di Desa Talang, Kecamatan Grogol, Kabupaten Sukoharjo. Kakak kandung Bapak ini juga disebut-sebut dalam buku Kidung untuk Korban, karya sastrawan Hersri Setiawan. Dari tiga bersaudara, hanya Pakde Harto yang merupakan kakak sulung, aman tidak ikut ditahan. Pakde Harto segera pindah dari Desa Talang ke Baron, Kecamatan Laweyan, Surakarta, ketika marak penangkapan pada orang-orang yang diduga terlibat G30S. Seorang kawan Bapak sesama eks tapol yang di masa tuanya menjadi loper Koran (saya tidak ingat namanya), kerap juga bercerita pada saya saat mampir ke rumah, bagaimana para tahanan biasa makan cicak, kadal, kecoa, belalang, dan binatang lain yang ditemui demi mengisi perut. "Luih nyus tikus bakar yo, Yo? Ning yo lueh enak meneh yen pas maling pitik ora konangan (Lebih enak tikus bakar, ya. Tapi paling enak lagi ketika mencuri ayam, kalau tidak ketahuan)," kata kawan Bapak yang kemana-mana bersepeda itu. Beasiswaku Dicabut Karena Aku Anak PKI BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 Mencuri "diwajibkan" bagi tahanan untuk mengatasi rasa laparnya. Bapak menceritakannya begini. Mereka bahkan harus mencuri tanaman yang ditanam mereka sendiri, demi mempertahankan nyawa. Beberapa kawan yang ketahuan, dipopor senjata, diinjak-injak, dipukuli, atau apa saya yang dikehendaki sipir. Seorang tahanan yang sudah sakit dan ingin bunuh diri, akhirnya sengaja mencuri agar ketahuan. Malangnya, sebelum mati, ia disiksa habis-habisan. Dalam surat perintah untuk membebaskan dari penahanan sementara, disebutkan nomor foto Bapak adalah 8887/A7/Jateng. Saya menduga itu adalah nomor tahanan Bapak. Dalam surat itu juga disebutkan tanggal penahanan saat mulai ditempatkan di Nusa Kambangan, 20 Nopember 1 965. Tapi ada beberapa info yang tidak disebutkan dalam surat itu. juga tidak disebutkan bahwa Bapak pernah dikirim ke Pulau Buru. "Kemungkinan salah orang. Aku dikirim ke Pulau Buru tidak lama, kemudian dikirim balik ke Nusakambangan." Memang, ada banyak sekali kekacauan administrasi saat itu, padahal menyangkut nyawa orang. Luih nyus tikus bakar yo, Yo? Ningyo lueh enak meneh y en pas maling pitik ora konangan MELACUR Ibu dan Bapak kerap bercerita tentang tetangga atau saudara yang juga disiksa sampai mati. Salah satunya Pak Atmo Ledung. la ditembak mati di Jembatan Bacem. Istrinya, Mbokde Atmo Ledung yang menjanda, menghidupi anakanaknya dengan menjadi tukang pijat. Sekali saat kumintai tolong memijit, kutanyai mengenai suaminya. Perempuan berkain jarik itu mendesah, lalu menangis. Ibumu luih bejo, Nduk (Ibumu lebih beruntung)." Dari kisah Ibu, ketika para suami mereka ditahan, beberapa kerabat dekat kami terpaksa menjual diri demi menghidupi diri sendiri dan anak-anak. "Si A itu bukan anak Paklik X. Bulik X terpaksa mau dinikahi Y yang tentara agar anakanaknya bisa makan. Lahirlah A. Mbokde S terpaksa melacur setelah Pakde S diciduk, la tidak biasa bekerja, tidak ada yang menafkahi setelah Pakde S ditahan. Yu XX itu nasibnya juga sama, terpaksa melacur." Kalau nekat mencoblos PDI atau PPP, ya masuk sel lagi. Makanya Golkar selalu menang setiap pemilu. KARENA KAMU ANAK PKI Bapak dibebaskan sementara pada tanggal 30 Juli 1971. Hingga Presiden Suharto dipaksa turun jabatan, KTP milik Bapak masih bertanda khusus, ET. Sayang, KTP bersejarah itu tidak saya temukan lagi. Berkat KTP ET, setiap pemilu, Bapak dan kawan-kawan sesama eks tapol 65 diwajibkan memilih Partai Golkar. Kata Bapak, kartu pemilih untuk eks tapol berbeda dengan kartu pemilih lain. "Kalau nekat mencoblos PDI atau PPP, ya masuk sel lagi. Makanya Golkar selalu menang setiap pemilu." Saya masih SMP ketika sepuluhan tentara mendatangi rumah. Saya mengingat-ingat, itu terjadi di tahun 1 991 atau 1 992. Mereka semua membawa senjata laras panjang. Ibu, saya, dan beberapa saudara saya disuruh duduk jongkok. Salah seorang dari mereka menanyai Bapak. Lainnya membuka lemari, lalu mengobrak-abrik, memeriksa setiap sudut yang dicurigai. Fotokopian buku Pramudya Ananta Tur, Memoar Uy Cu Tat, termasuk buku pelajaran sekolah milik saya, dikeluarkan dari rumah. Buku-buku tersebut dibakar. Kami diperingatkan Bapak untuk tak mengingat-ingat lagi peristiwa itu. Ternyata peristiwa itu bukan peristiwa akhir dari teror Orde Baru. Suatu hari, beasiswa yang diumumkan sebelumnya di sekolah dicabut begitu saya. Saya yang dipanggil maju ke depan kelas membelakangi papan tulis hitam, sempat bertanya mengapa. "Karena kamu anak PKI," tukas guru saya. Beberapa tahun setelah peristiwa itu, kata "beasiswa” yang terdengar atau terbaca dalam tulisan, membuat saya merasa merana. "Ninuk anak PKI," lontaran kawan-kawan sekelas yang mendahului saya bersepeda saat pulang sekolah, kerap terdengar. Cap anak PKI menempel entah hingga kapan. Salah satu kakak saya mengikuti ujian masuk di salah satu sekolah tinggi milik Negara, la dinyatakan lulus. Saking gembiranya, Ibu membuat bancakan (nasi tumpeng dikelilingi sayuran dan telur rebus) untuk mensyukuri kelulusan ujian masuk tersebut. Naas, hanya selang beberapa hari kemudian, datang surat ke rumah. Isinya mencabut hasil pengumuman dengan alasan, "orang tua yang bersangkutan adalah eks tapol '65”. Bapak memperingatkan lagi, "Wes lalekke wae (Sudah, lupakan saya).” KOMIK Pak Guru dan tonan-tctnamya, yang telah mengajari kami baca tulis, dtgiHrg paksa ke dalam truk dan dibawa pergi entak ke mana. 11 5e]ak zaman Belanda, bekm veritak begitu banyak orang di n-gara mi mati atau kek larian kebebasannya-. *mlfp persetan dengan terpaan 'prasangka, tuduhan- Konflik & kebencian Tecri konspirasi/ infiltrasi & perang urat syaraf. UhSk. Kami tidak terlalu peduli **■* Siapa yang terlibat, abau siapa yang ditunggargt Cl A. Z7i*i Kepedulian kami ada pada sahabat terpercaya yang tergah berjuang- Bagi kami, kulup adalak membela Segala kal yang kami percayai SAAT DUNIA TERBELAH Salah seorang tokoh penggerak dunia ketiga adalah Presiden Republik Indonesia, Sukarno Situasi nasional Indonesia yang diistilahkan merah jambu ketika itu memang menakutkan pihak Nekolim (Neo Kolonialis I m peria l). Bung Karno dan pendukungnya hampir berhasil memisahkan lawan dan kawan secara nasional. Kaum kepala batu selalu dapat dideteksi dan dipukul mundur. Ketika itulah Marshall Green ditugaskan sebagai Duta Besar AS di Jakarta. Britania adalah negara sekutu Amerika yang paling terusik ketika itu, karena aksi perang terbuka melawan Malaysia, yang oleh Sukarno disebut sebagai antek Nekolim, hampir meledak. Pada meletusnya peristiwa Gestok, dapat kita saksikan bagaimana TNI yang dikirim untuk tugas Ganyang Malaysia ini dibunuh dan sebagian dipenjarakan tanpa diadili. Namun, poros Peking, Hanoi dan Jakarta juga membuat USSR ketika itu kebakaran jenggot. Uni Soviet tidak senang ketika Sukarno semakin dekat dengan Peking, karena Soviet dan Tiongkok telah bersengketa, yang membawa dua raksasa komunis itu ke perang perbatasan. Penggambaran situasi nasional ketika itu dimaksudkan untuk memperjelas peran inteligen Amerika-lnggris dan Rusia, pemicu terjadinya peristiwa Gestok di pagi Oktober 1965 itu. SAKSI ATAU PELAKU Ketika peristiwa Oktober 1965 terjadi, penulis adalah anggota Pemuda Rakyat. Saat terjadi pemberontakan PRRI/Permesta, kami para pendukung Bung Karno telah merasakan kekejaman luar biasa dan tidak manusiawi dari tentara pemberontak. Di Nagari Situjuh, Sumatera Barat sekarang, sekitar 150 orang anggota dan simpatisan PKI yang ditahan dalam sebuah sekolah dibakar hidup-hidup dan yang sempat lari, ditembak mati. Peristiwa ini menimbulkan ekses negatif setelah TNI dapat menggagalkan pemberontakan itu. Balas dendam memang diharamkan oleh organisasi, tapi akan mustahil dapat mengontrolnya secara individu. Melihat perkembangan yang kurang sehat, penulis sebagai pimpinan adat (kepala suku) dan juga anggota Pemuda Rakyat, menyimpulkan untuk menghindar dengan meminta mutasi ke organisasi dan pindah ke Medan pada tahun 1960. MIMPI BURUK 1 OKTOBER 1965 i Comite Daerah Besar Sumatera ingkat (CDB) tentu tidak terlepas nyakit partai yang kemudian gkap pada pledoi pembelaan Sudisman, di mana feodalis dan nepotisme harus diterima dan tak seorang pun berani mengkritiknya. Justru itu kader pindahan dari daerah lain akan sulit mendapatkan perlakuan yang seharusnya diterima seperti promosi untuk pimpinan, umpamanya. Sejak bergabung 1960 di Sumut, penulis hanya kebagian sebagai satuan pengaman karena memiliki seni beladiri. Pada peritiwa 1965, penulis dipercaya sebagai ketua tim penyelamatan inventaris dan kader partai. Situasi nasional yang sudah dinilai CIA sebagai merah jambu memanglah kenyataan obyektif, di mana PKI yang mengikuti sistem parlementer telah muncul sebagai satusatunya partai yang sangat disiplin dan rapi. Kondisi revolusioner terlihat sejak peringatan hari buruh Internasional dan warna merah spanduk-spanduk menghiasi semua kota-kota besar. Dalam memperingati hari buruh itu, CDB Sumut dapat menghadirkan Menteri Luar Negeri Subandrio yang kebetulan sedang berkunjung di daerah. Pagi itu, kantor CDB Sumut yang berada di depan taman Makam Pahlawan Medan masih seperti biasa, tapi Harian Rakyat tidak masuk dari Jakarta. Berita terakhir secara nasional kami terima tanggal 2 Oktober 1965, yang memberitakan adanya pembunuhan 6 Jenderal oleh sebuah gerakan Dewan Revolusi. Hanya itu yang secara formal, sampai datangnya beberapa utusan partai yang membawa berita buruk. Sementara situasi kota Medan semakin mencekam dengan munculnya beberapa gerakan Kesatuan Aksi Ganyang G30S PKI yang kemudian mendapat dukungan militer. Korban pertama jatuh. Kawan Zakir Sobo sebagai Sekretaris Dua Pimpinan PKI Kota Medan gugur ditusuk bambu runcing oleh aksi brutal. Nasibnya buruk, namun jauh lebih buruk lagi dengan nasib mereka yang dibunuh tanpa diketahui kuburnya, sementara Bung Zakir masih kami kuburkan dengan upacara partai. Keadaan semakin memburuk, perintah melawan yang dinantikan secara organisasi tidak muncul, karena kami semua menunggu pidato Bung Karno. Apakah informasi ini secara sentral atau tidak, semua samar. Yang pasti, Pemuda Pancasila yang terbentuk atas instruksi Jendral A. H. Nasution, semakin brutal karena dibantu militer. Tanggal 14 Oktober 1965, semua kantor partai dan organisasinya telah diduduki militer dan rumah-rumah pimpinan PKI dibakar. Tanggal 10 Oktober saya masih tidur di kantor CDB Sumut dengan beberapa kawan, salah seorang di antaranya adalah kawan Ibrahim, Comite Sektor PKI Kabupaten Aceh Utara. Kami masih mendiskusikan tentang perubahan situasi apa yang sebenarnya terjadi. Dari analisis terhadap kondisi itu, saya berkeyakinan bahwa tidak ada rencana PKI untuk mengadakan pemberontakan. Akhirnya, pada tanggal 16 Oktober saya mendapat perintah untuk membawa beberapa kawan Tionghoa menyingkir dari kota Medan, karena semua pimpinan sudah keluar kota dan beberapa orang sudah tertangkap. Korban pembunuhan brutal dan perampokan harta benda tak terkira, di area Pajak Ikan Medan, kawan-kawan Tionghoa yang berjualan ikan habis dibantai oleh Pemuda Pancasila. Demikian juga toko yang dimiliki oleh Baperki, sebuah organisasi Tionghoa yang di PKI-kan, hartanya dirampas dan orangnya dibunuh. Beberapa bulan selanjutnya, saya berkurung di rumah kawan-kawan sampai semuanya ditangkapi dan setelah itu menumpang di rumah keluarga, kadang hidup sebagai buruh tani, kadang tukang becak yang beroperasi di pinggiran kota. Saat sangat genting di kota Medan ketika Sarwo Edi menjadi Panglima Kodam Bukit Barisan. erbagai isu untuk menghabisi orang-orang PKI muncul, seperti isu PKI malam, peristiwa Pasar Miring di mana diisukan tentara dibunuh oleh eks PKI, dan lain sebagainya, sehingga dibentuklah operasi pagar betis. Ketika itu penulis tertangkap dan dipukuli oleh massa, namun berhasil diselamatkan oleh goresan luka di dada yang membuat mereka lari ketakutan karena menyangka sudah mati. Sejujurnya, entah siapa yang menolong saya ketika itu, namun pada malam yang mulai larut itu, terlihat seseorang membantu menaikkan saya ke becak untuk dibawa ke rumah sakit. BERTUALANG DI HUTAN ACEH Dunia yang terbelah. Tidak seorang manusia pun mau bersaudara dengan orang PKI, walaupun seibu dan seayah. Sebagai seorang pemuda yang ketika itu berusia menjelang 26 tahun, diri ini sudah tidak punya harapan kecuali dapat lolos dari lubang jarum yang mungkin masih tersisa. Berita terakhir secara intern organisasi, saya dapatkan ketika mengunjungi tahanan di mana puluhan kawan ditempatkan. "Tunggu pidato Bung Karno”. Sejujurnya, ketika itu saya tidak lagi dapat menerima angin surga yang dihembuskan. Semua pimpinan partai sudah menyerah dan Aidit telah mati ditembak. Hampir semua kawan-kawan dekat saya telah hilang entah kemana, semua sungai besar penuh mayat. Akhirnya seorang saudara mau membawa saya ke Aceh, dan dia seorang geucik, setingkat kepala kampung. Di kampungnya dia seorang yang disegani, dan di Aceh hal-hal mengenai PKI sudah tidak lagi dibicarakan karena semua anggota dan simpatisan PKI telah terbunuh, tidak ada orang yang KTPnya pakai kode ET. Aceh bersih dari unsur PKI walaupun masih banyak simpatisannya yang tersisa. Saudara yang membawa saya itu seorang pengusaha hasil hutan, seperti mengolah kayu, mengumpulkan damar dan rotan, yang pasar utamanya Medan. Dia membawa saya untuk membantu dalam hal administrasi karena Korban pembunuhan brutal dan perampokan harta benda tak terkira, di area Pajak Ikan Medan, kawan-kawan Tionghoa yang berjualan ikan habis dibantai oleh Pemuda Pancasila. dirinya buta huruf latin, tetapi mahir menulis dan membaca huruf Arab. Desa di pinggir hutan, di situlah saya ditempatkan, menerima hasil hutan dari pekerja bebas, ada tukang gergaji yang mengolah kayu menjadi balok tem yang bisa ditarik dengan kerbau ke pinggir sungai. Di sungai itu kumpulan kayu dibuat rakit dan berhanyutlah menuju kilang papan tempat kayu-kayu dirajang menjadi bahan bangunan. Ketakutan adalah hantu yang sangat kejam, karenanya saya yang trauma dengan kondisi minta berhenti dengan alasan masuk akal. Mulailah saya bekerja sebagai pemotong kayu di hutan, belajar menggergaji, karena belum ada mesin pemotong dan pembelah kayu-kayu besar ketika itu. Sejak itu hubungan dengan kerja otak terputus, menulis akan menimbulkan kecurigaan teman sekerja yang kebetulan orang-orang buta huruf. Selain kerja mengolah kayu, saya belajar bahasa Aceh dengan berbagai cara, membaca sastra lisan Aceh yang sudah dibukukan dalam huruf Arab gundul, mencatat kata-kata yang sulit, serta mengasah kefasihan lidah dalam pengucapan. Beberapa bulan saya hidup bersama para buruh kayu itu, saya sudah mahir bahasa Aceh. Setelah menguasai bahasa Aceh dengan baik, barulah saya tahu bahwa kampung di pinggir hutan itu basis PKI/BTI yang tersisa. M. Y anyak sekali pengalaman hidup sebagai eks PKI yang menjadi buron politik tak resmi di negerinya sendiri. Tulisan ini hanya sebagian kecil yang mudah saya ingat, setidaknya untuk memperjelas bahwa PKI tidak bersalah dalam peristiwa Gestok 1965 itu. GESTOK merupakan konspirasi politik neo liberal (Neolib) dalam menyingkirkan Bung Karno dan menghijaukan Indonesia yang sudah merah jambu. Suharto dan kawan-kawannya yang dicap Bung Karno sebagai antek Nekolim, mereka yang akhirnya menikmati hasil kemerdekaan untuk kepentingan individu. Senyap: Menemukan Wajah Kemanusiaan dalam Genosida H BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 OPIN SENYAP; Menemukan Wajah Kemanusiaan dalam Genosida { DESMOND TUTU DAN MARY WALD } Joshua Oppenheimer telah merilis dua film yang sangat berani dalam kurun waktu tiga tahun terakhir. Kedua film ini berani bukan hanya karena menyorot topik mengerikan yang telah disembunyikan selama 50 tahun, yaitu genosida lebih dari satu juta orang di Indonesia pada tahun 1965 dan 1966, tetapi juga karena sang sutradara ini berani meyakini bahwa orang akan peduli akan kematian sekelompok "komunis" di belahan dunia lain, ini tidak mudah untuk ditonton. Film pertama, Y A G A L, mengikuti pemimpin pembunuhan massal di Sumatera, yang disponsori oleh Negara, saat mereka melakukan pementasan kembali (dengan gaya Hollywood): menyiksa dan menyembelih ribuan "tersangka komunis," termasuk penulis, cendekiawan, anggota serikat buruh, dan etnis Tionghoa. Film kedua, SENYAP, baru-baru ini dirilis di Amerika Serikat, menyoroti Adi Rukun, yang melacak orang-orang yang bertanggung jawab atas terbunuhnya sang kakak. Dalam kedua film, pelaku pembunuhan mengungkap hal-hal yang akan menghantui pemirsa, lama setelah layar tertutup. Algojo secara terbuka menyombongkan diri bagaimana mereka telah mencekik, menyiksa, mengebiri, memenggal dan banyak lagi, tanpa penyesalan dan tanpa sedikit pun menunjukkan niat untuk meminta maaf. Sayangnya, itu adalah cerita yang telah berulang, Rwanda dan Kosovo mungkin menjadi dua contoh yang paling mudah untuk diingat. Sebuah kebrutalan dengan kurun waktu yang lebih panjang (selama berpuluh tahun), terjadi di Sudan dan telah membunuh lebih dari dua setengah juta jiwa. Indonesia dan Sudan memang sedikit berbeda, namun dalam keduanya, pembunuh tetap berkuasa, baik di tingkat nasional maupun di desadesa yang terkena dampak ini. Para korban yang bertahan hidup, harus menderita dua kali. Pertama, dengan hilangnya secara brutal orang-orang yang dikasihi, dan setelahnya, mereka harus hidup dengan pelaku sebagai tetangga pelaku yang masih berkuasa, yang bisa saya melakukan kekejian serupa karena mereka masih memiliki kekebalan hukum. Para seniman dan penulis terampil dapat menempatkan fakta-fakta kebrutalan dalam bentuk yang lebih bisa disajikan dan disaksikan. Tapi, tidak ada hal yang lebih memualkan daripada seorang pria mengiris penis lelaki lain dan meninggalkan dia mati kehabisan darah, atau seseorang menggambarkan bagaimana ia membakar sesamanya hidup-hidup. BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 __ Senyap: Menemukan Wajah Kemanusiaan dalam Genosida Puji Tuhan, kita belum mati rasa. Saat kita dipenuhi dengan perasaan muak, kita juga terilhami dan terdorong untuk mengajukan pertanyaan, mencari kebenaran, dan bertindak saat kita bisa. Sementara jalan untuk menghentikan kegilaan massal di dunia ini akan menjadi jalan yang panjang, mengajukan pertanyaan-pertanyaan akan meletakkan kaki kita pada jalan itu. Harapannya, pertanyaan kita mencakup pertanyaan mengenai seberapa jauh negara kita - negara-negara selain Indonesia - terlibat dalam, mendukung, atau secara politis atau ekonomis mengambil keuntungan dari perbuatan keji semacam ini. Genosida dan pembunuhan massal seperti yang telah kita lihat di Republik Demokratik Kongo, Sierra Leone, Liberia, dan Timor Leste, tidak muncul begitu saya dari tanah. Semua itu hasil rekayasa. Setidaknya beberapa kelompok telah mendapat keuntungan berlimpah, dari penjualan senjata yang digunakan untuk membunuh manusia lainnya. Bila ada pemerintah asing di belakang layar, hal ini akan memperburuk keadaan, karena mereka menyediakan senjata, peralatan dan bahkan pelatihan, melindungi pelaku, dan menerima modal politik atau akses ke sumber daya alam sebagai imbalan. Kemualan kami juga harus berfungsi sebagai pengingat, bahwa sementara kita telah terpesona dengan kemajuan teknologi dan jaringan komunikasi digital instan di seluruh dunia, kita tidak memiliki alasan untuk menjadi congkak. Fakta bahwa beberapa negara di Barat bahkan menyadari apa yang terjadi di Indonesia namun tidak dapat belajar dari itu, dan fakta bahwa genosida yang terjadi di bawah hidung kita di Sudan, juga seharusnya menjadi peringatan serius bahwa prestasi teknologi ini belum diimbangi dengan moralitas yang sama. Kecerdasan teknologi dapat menjulang, tapi perawakan moral kita sangat kerdil. Kita tak bisa bersolek terlalu banyak, dengan lebih mengembangkan teknologi pengenalan wajah atau kecerdasan buatan, pada saat anakanak sedang diperkosa dan dibunuh di bawah hidung kita sementara kita menatap layar komputer. Untungnya, sementara kita mungkin memiliki kapasitas yang luar biasa untuk kejahatan, kita juga masih memiliki kapasitas untuk kebaikan. Dalam hampir semua sejarah genosida, kita telah menemukan contoh indah akan berbagai kebajikan, keberanian, kemurahan hati, dan kepedulian yang tak terlupakan. Untuk setiap Hitler, akan ada Schindler. Dan akan ada penulis serta pembuat film yang mengingatkan kita, bahwa kita punya pilihan, untuk mengenali dan bertindak atas dasar kemanusiaan, atau untuk memalingkan wajah kita. Pada akhirnya, mereka yang bertanggung jawab atas kekejaman seperti genosida Indonesia ini, akan menemui batunya. Jika keadilan tidak datang dalam kehidupan mereka, sejarah akan menguaknya: Hitler, Idi Amin, Pinochet dan sejenisnya dikenang sebagai tukang jagal. Pada akhirnya, dunia akan menghormati mereka yang punya rasa kemanusiaan. Tantangan kita saat ini adalah untuk memanfaatkan kebaikan dalam diri kita sendiri, untuk menjadi lebih manusiawi, lebih peduli, untuk memperlakukan setiap manusia di muka bumi ini sebagai insan yang sangat berharga. Teknologi memberi kita akses ke pelosok dunia, sehingga kita bisa menjangkau jauh sekali, kepada pria atau wanita di Sumatera yang kini harus hidup berdekatan dengan jagal yang menyiksa dan membunuh orang-orang yang mereka cintai, seperti juga kita melihatnya pada tetangga di sebelah rumah kita. Ketika adanya kekejaman seperti ini menginspirasi kita untuk bertindak, untuk mengajukan pertanyaan yang tepat, untuk mencapai seluruh dunia dan mencoba untuk mencoba menghentikan penderitaan atau pembunuhan, dunia akan menjadi lebih baik. Hanya dengan demikian, kita dapat berharap untuk menghadang kembalinya gelombang pasang genosida. * Versi bahasa Inggris artikel ini telah diterbitkan di Huffington Post. Diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia dan diterbitkan di majalah Bhinneka atas ijin Desmond Tutu. D E S M O N D TUTU Uskup dari Afrika Selatan, penerima penghargaan Nobel Perdamaian pada tahun 1 984 M A R Y WALD Pendiri Community.com BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 ^ Senyap: Menemukan Wajah Kemanusiaan dalam Genosida Puisi: Di Kubu Aksioma Wanita 1 BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 PUISI di kubu aksioma wanita. senja itu; mereka menabur bunga di rusuk peta senja itu mereka beriringan menabur bebunga di rusuk peta tempat nenek mempersunting gelisah, gelinjang debu beterbangan menjalin petani dan buruh menangkap cemara pinggir jalan, mereka beranjak dari rel berkarat melewati lorong stasiun penindasan. “kami menolak sebab hak datang dari muara hati” mereka ingin nenek menatap udara yang mulai lindap di ujung tiang, memahami teriakan pecah, luruh dedaunan di halaman istana, telunjuk menikam daging, mereka adalah revolusi pagi merogoh bersama hening embun, memancar ke sela-sela kelam tanpa sumbu cahaya, limbung menerpa kabut tajam, seperti belati menusuk nurani melebur ke bagian hasrat paling dalam, padahal nenek belum selesai mempelajari mimpi dan jalan. di kubu aksioma wanita nenek adalah ladang kerontang, mereka menanam biji-bijian, menyuburkan kasih penuh bakti, mengeja helai aksara, perlahan mengejewantahkan ombak di dada “ kami iklim sunyi nek, mengantarmu ke istina yang kau buat puluhan tahun lalu” nenek adalah rumah sesak asap, mereka mengepul asma, memintal batuk dari lubang tenggorokan. mereka segera keluar membawa nenek dari jerat asap, namun mereka melemah sebelum senja memenggal malam. di kubu aksioma wanita kesetaraan dan keadilan bukan sungai terbelah, mereka mencari wajah di muka nenek, menunggangi pamplet yang dilipat pesawat kertas, mereka terbang bersama nenek dan anak-anak perempuannya, tanpa angin mendesis dan lagu mendayu, mereka ada semata demi keselamatan ulang tahun nenek. malam petang; mereka menyelit tubuh kedap darah di sini, malam petang membungkus mata, mereka membusuk, mereka airmata, mereka mayat di sebuah plaza, mereka menyelit tubuh di sepanjang tepi sungai ciliwung. beberapa pantulan teriakan membentur gedung, monas dan pancasila “kami bukan pembunuh dan penyayat kemaluan para jenderal” malam semakin petang menyulut kekejiaan. mereka mendengus tanpa kepala dan kelamin, mereka tumbal beringas di rumah nenek. siapa yang membawa kabar tak beralinea itu? siapa yang menyiram pedih pada peringi tahun lalu? ketika semuanya menjelma buta, ketika wanitawanita bernaung mendung, ketika purnama tak berkedip malam itu. “ini adalah tuduhan nyasar dari kantong plastik yang tidak pernah kami lakukan” mereka batu bagi lumut menempel, mereka lumpur dalam hak. mereka nafsu bagi kuda-kuda penunggang durjana, kini kalender nenek semakin usang, membunuh dedanging keadilan. Sapeken, Agustus 201 3 manusia perahu, asma pena dari SUDIANTO. Puisi-puisinya bertebaran di berbagai media dan kerap mendapatkan penghargaan dalam lomba kepenulisan puisi. Selain itu, karya lelaki pelaut ini juga terkumpul dalam beberapa antologi bersama seperti AMARAH (2013), EMOSI MANUSIA (201 2). Antologi tunggalnya MATE BADI' diterbitkan pada 201 2. YANG TERUSIR DARI TANAH AIR Foto saya dimuat di koran Y K Angkatan Bersenjata dan Berita Yuda, dengan huruf- > huruf besar di bawahnya: f~T f GANTUNG IBRAHIM ISA. ), engingat tanggai 30 September, membawa pikiran saya ke situasi sekitar setengah abad yang lalu... ketika paspor kami dinyatakan tidak berlaku lagi oleh penguasa di Jakarta (pada Januari 1966). Pasalnya, kami dituduh sebagai agen G30S di luar negeri, serta melakukan subversi. Foto saya dimuat di koran Angkatan Bersenjata dan Berita Yuda, dengan huruf-huruf besar di bawahnya: GANTUNG IBRAHIM ISA. Penguasa militer di Jakarta ketika itu amat marah dan geram. Tapi apa alasannya? PADA MULANYA... Sebelum Getok, profesi saya adalah wakil Indonesia di Sekretariat Tetap AAPSO (Afro- Asian People's Solidarity Organization) di Kairo, Mesir, sejak tahun 1960. Sekretariat Tetap AAPSO adalah sebuah Badan Pimpinan Harian dari AAPSO. Dalam Sekretariat Tetap ini terdapat juga wakil-wakil dari Mesir, RRT, Jepang, India, Indonesia, Vietnam Selatan, Tanzania, Aljazair, Guinea, dan Kamerun. AAPSO, didirikan pada tahun 1957 sesudah Konferensi Pertama Setiakawan Rakyat- Rakyat Asia Afrika di Kairo, Mesir. Sebagai Sekretaris Komite Perdamaian Indonesia, kami beberapa kali mewakili Indonesia di berbagai konferensi internasional untuk perdamaian. Pada awal musim panas 1965, sebagai salah satu persiapan Indonesia menyelenggarakan Konferensi Bandung ke-2, saya ambil bagian dalam Misi Safari Berdikari Pemerintah Republik Indonesia, mengunjungi 14 negerinegeri Afrika dan Timur Tengah, dalam kapasitas sebagai Penasihat Menlu RI Subandrio. Ketika saya berada di Jakarta pada Oktober 1965, saya melihat keadaan jungkir balik di Indonesia. Saat itu, sudah ada undangan untuk menghadiri Konferensi Solidaritas Asia-Afrika- Amerika Latin di Havana. Saya sudah memperhitungkan, pasti pemerintah Indonesia tidak akan mengirimkan delegasi yang saya pimpin, sebab ini delegasi rakyat, yang isinya banyak simpatisan kiri dan sudah banyak di antaranya yang ditangkap atau hilang. Kami tidak akan mendapat dukungan sama sekali dari tanah air. Yang Terusir dari Tanah Air, ' BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 ada Desember 1965, saya menjelaskan kepada panitia organisasi bahwa di Indonesia terjadi pergolakan, sehingga tidak akan mampu mengirim orang ke IHavana. Lalu, panitia mengatakan, kalau begitu Bung Isa saya yang mewakili karena Bung mewakili Indonesia di Kairo untuk Gerakan Asia-Afrika. Saya jawab, saya tidak bisa sendiri, mesti bersama-sama dengan yang lain. Kebetulan banyak teman lain yang ada di luar negeri. Saya meminta kepada mereka, akhirnya ada tujuh atau delapan orang membentuk delegasi Indonesia, dan berangkatlah kami ke Havana. DUA DELEGASI Dilemanya, Latief adalah teman saya, la anggota parlemen komisi luar negeri, mewakili PNI (Partai Nasional Indonesia), tapi masih jenderal. Secara hirarkis, ia di bawah Suharto. Ketika ketemu Pak Latief, saya bertanya apa yang mau dibicarakannya dalam konferensi. Dia bilang: "Saya garis PNI, garis Presiden Sukarno, anti imperialisme, ganyang." Saya tahu, dia tidak jujur dengan penjelasan ini. Karena itu saya jawab, panitia di Havana tidak mau dengar tentang itu. Mereka tahu ada pergolakan di Jakarta dan mereka ingin tahu bagaimana Presiden Sukarno. Sebab Presiden Sukarno diketahui sebagai tokoh yang mendukung gerakan kemerdekaan. Karena dia bilang tidak bisa menjelaskan hal itu, saya bilang saya yang akan menjelaskan. Tapi dia bilang tidak bisa. Tidak tercapai sepakat, maka diajukanlah ke komite. Komite akhirnya memutuskan untuk menerima perwakilan yang dipimpin oleh saya. Di Havana, tiba-tiba datang delegasi lain dari Indonesia, diketuai oleh Brigjen Latief Hendraningrat. Saya melihat komposisi delegasi ini, ketuanya jenderal, salah satu orang terpenting Letkol, yang lain-lain saya tidak kenal. Saya jelaskan pada panitia, bahwa itu bukan delegasi rakyat, tapi dikontrol militer. Selanjutnya, sebagai Ketua Delegasi Indonesia dalam Konferensi Trikontinental, Havana, saya berpidato di depan kurang lebih 1000 hadirin yang terdiri dari para delegasi organisasi pejuang kemerdekaan anti kolonialisme, neo-kolonialisme dan imperialisme, dan wartawan internasional. Saya mengungkapkan apa yang sesungguhnya terjadi di Indonesia, yaitu naik panggungnya suatu kekuasaan militer di bawah Jendral Suharto, yang mulai menggerogoti Presiden Sukarno. Kontan saya, Jakarta marah sekali. Di Jakarta hanya ada dua koran, Berita Yuda dan Angkatan Bersenjata. Di situ dimuat bahwa Isa ini adalah orangnya G30S yang berada di luar negeri, melakukan subversi, menjelek-jelekkan Indonesia, dan sebagainya. Itulah yang menyebabkan paspor saya dan temanteman dicabut tanpa proses, tanpa ditanya. Getir, karena paspor saya dicabut, dibatalkan. Pada permulaan Januari 1 966, di Havana, berlangsung konferensi internasional untuk rakyat bangsa-bangsa Amerika Latin. Konferensi penting yang diselenggarakan oleh berbagai organisasi, termasuk organisasi kami di Kairo, di mana saya duduk sebagai wakil Indonesia. Tapi, saya menerima berita duka. Namun, kemudian ada penghiburan juga bagi kami, karena tiba-tiba Presiden Fidel Castro memerlukan mengunjungi teman-teman Delegasi Indonesia, di kamar kami di Hotel Habana Libre. Kunjungan ini merupakan suatu pernyataan politik penting Presiden Castro untuk menunjukkan bahwa Kuba berada di pihak Rakyat Indonesia. Fidel Castro menawarkan fasilitas dan memberikan kami paspor Kuba, setelah mengetahui bahwa paspor kami dicabut oleh rezim militer Jakarta. Apakah saya menyesal? lidak. Saya tidak menyesal. Kalau kita berbuat demi cita-cita yang kita anggap benar, adil, dan mulia, itu pasti ada risikonya. Sekitar setahun kemudian, atas undangan Tiongkok, saya pindah ke Beijing dan bekerja pada sebuah Lambaga Riset Asia- Afrika di sana. Selama di RRT kegiatan utama saya adalah mengadakan penerbitan mingguan Suara Rakyat Indonesia dan OISRAA Bulletin dalam bahasa Inggris. OISRAA adalah Organisasi Indonesia Untuk Setiakawan Rakyat Asia- Afrika. Penerbitan tersebut memberikan informasi mengenai perkembangan politik Indonesia, mengkritik rezim Orde Baru, dan mendukung Presiden Sukarno. Pada akhir 1 986, saya pindah ke Belanda dengan mengajukan permintaan suaka politik, yang diterima oleh pemerintah Belanda. Bersama kawan-kawan lainnya, kami mendirikan Yayasan Asia Studies. Apakah saya menyesal? Tidak. Saya tidak menyesal. Kalau kita berbuat demi cita-cita yang kita anggap benar, adil, dan mulia, itu pasti ada risikonya. Ini saya anggap sebagai risiko yang harus dihadapi. IBRAHIM ISA, Telah menulis tiga buku yang diterbitkan di Jakarta (Suara Seorang Eksil, Bui Tanpa Jerajak Besi dan Kabar dari Seberang). BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 < 1 Yang Terusir dari Tanah Air Rekonsiliasi untuk Genosida 1965: Mungkinkah? BHINNEKA/ SEPTEMBER 2015 OPINI Rekonsiliasi untuk Genosida 1 965; mungkinkah? { SU T Y E N MARCHING } A cT 7 Tidak semua kebenaran itu baik, " kata Adi Zulkadry, salah satu pembunuh massal ditampilkan dalam film dokumenter Joshua Oppenheimer, The Act of Killing. 'Ada kebenaran yang tidak baik, antara lain kebenaran yang mengungkit persoalan.... Kalau cerita lama mau dibongkar-bongkar kembali, itu namanya mengajak kembali perang, " kata Adi. oordinator dan pendukung International People's Tribunal (IPT) 1965 menghadapi reaksi serupa, dengan komentar seperti " Mengapa kalian ingin membangunkan macan tidur? Apakah kalian ingin mengaduk luka lama? Apakah kalian ingin mengganggu perdamaian? " IPT 1 965 adalah pengadilan internasional atas prakarsa rakyat jelata, yang akan menghadirkan hakim-hakim professional yang akan mengusut pembunuhan massal 1 965. Salah satu tujuan utama dari IPT 1 965 ini adalah untuk mengungkap kebenaran dan keadilan bagi korban anti-komunis 1965. Vonis tidak akan mengikat secara hukum, tetapi akan mendesak pemerintah Indonesia yang sejauh ini telah gagal untuk mengambil tindakan yang adil bagi korban. Namun, banyak yang tetap enggan untuk mendengar kebenaran, terutama karena hal ini mungkin akan menimbulkan amarah beberapa pihak penguasa. Jika risikonya begitu tinggi, mengapa harus repot-repot? Memang, mengungkapkan fakta tidak selalu diikuti dengan rekonsiliasi dan kedamaian, apalagi mengingat besarnya kejahatan dari banyak individu berkuasa, yang terdapat dalam kasus 1965 ini. Cukup mudah untuk bagi para penguasa ini untuk menghasut dan menciptakan masalah, terutama ketika mereka memiliki pengaruh besar pada media massa dan memiliki kroni-kroni yang mempunyai jabatan strategis di pemerintahan. Jadi, perhitungan untuk menghindari risiko, secara sadar maupun, telah menyebabkan banyak orang percaya bahwa mendiamkan pelanggaran hak asasi manusia yang dilakukan oleh para penguasa adalah hal yang dapat diterima untuk menjaga perdamaian dalam masyarakat. Perdamaian dan rekonsiliasi memang memiliki gaung yang indah - orang macam apa yang akan menentang kedua hal ini? Tentunya hanya para pembuat onar? Namun, bagaimanapun juga, bagi mereka yang mempunyai rasa keadilan, kedua kata ini tidak akan berarti banyak tanpa adanya penguakan kebenaran. Bisakah kita berbicara tentang perdamaian dan rekonsiliasi secara menyeluruh, ketika korban masih tertindas? Apa gunanya perdamaian dan rekonsiliasi jika kelompok yang marginal terus menderita? BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 Rekonsiliasi untuk Genosida 1965: Mungkinkah? Perdamaian yang bertahan hanya karena ketidakadilan terus dipertahankan (dalam hal ini stigma para korban dan keluarga mereka), hanyalah damai bagi mereka yang berkuasa. Kedamaian seperti ini hanyalah sungguh-sungguh dinikmati sebagian orang saya, suatu damai yang manipulatif. Dan salah satu bahayanya adalah bahwa situasi ini akan menumbuhkan kepercayaan bahwa perdamaian hanya bisa terjadi jika kita memuaskan orang yang berkuasa dan jika kita menenangkan mereka sehingga mereka tidak akan menunjukkan amarah. Dengan kata lain, ini adalah damai berdasarkan ancaman dan ketakutan. Fakta, terutama ketika berhubungan dengan mengekspos penipuan selama beberapa dekade, akan meningkatkan momok konflik, karena berbagai pihak akan membuat kampanye propaganda untuk menyangkal kebenaran yang akan menyakitkan mereka. Dalam situasi seperti ini, siapa sebenarnya yang bertanggung jawab memicu masalah dan yang mengganggu perdamaian? Jelas bukan kebenaran itu sendiri. Juga bukan korban yang telah dirugikan. Namun, kemarahan dari orang yang berkuasa yang terkena dampak pengungkapan fakta inilah, yang harus dituding. Penguakan manipulasi memang seringkali menghadapi tantangan yang menyakitkan. Bahkan salah seorang pelopor kampanye tanpa kekerasan, Mahatma Gandhi, sempat dicap sebagai pengacau oleh penguasa kolonial Inggris di India. Winston Churchill, yang dianggap sebagai salah satu pahlawan Inggris terbesar sepanjang masa, mengatakan bahwa Gandhi tak lebih adalah manusia memuakkan yang berpakaian mirip fakir, dan tanpa malunya melangkah dengan setengah telanjang di Istana Kerajaan. Gandhi digambarkan hanya sebagai provokator yang rendah - bukanlah pejuang PIAM dan tokoh pendukung perdamaian yang kita kenal saat ini. Perlu diingat juga, bahwa Suharto menuding siapa saya yang berani mengkritik dia sebagai pengkhianat bangsa yang membahayakan stabilitas Negara. Seolah-olah menentang Suharto berarti mengkhianati seluruh rakyat di Indonesia. Perlu diingat juga, bahwa Suharto menuding siapa saya yang berani mengkritik dia sebagai pengkhianat bangsa yang membahayakan stabilitas Negara. Seolah-olah menentang Suharto berarti mengkhianati seluruh rakyat di Indonesia. w Musuh-musuh kebenaran adalah mereka yang manipulasinya akan segera terungkap, dan untuk alasan ini, mereka melihat setiap upaya penguakan fakta sebagai hal yang tercela. Jadi berhati-hatilah ketika orang mengklaim bahwa upaya memperjuangkan fakta hanya akan membahayakan perdamaian Semakin kita percaya pernyataan semacam ini, semakin kita mendukung orang-orang yang telah mendapatkan manfaat dari kebohongan dan kejahatan mereka. Semakin kita membiarkan keyakinan ini beredar, semakin banyak orang akan diseret ke dalam manipulasi yang berlapis-lapis. Dan semakin kita bungkam dan membutakan diri terhadap fakta - terutama jika berkaitan dengar pelanggaran hak asasi manusia - semakin kita membiarkan kekuatan yang zalim merajalela. Dan hal ini akan menegaskan klaim Adi Zulkadry dalam film Oppenheimer: “Definisi-definisi kejahatan perang adalah buatan orang yang menang. Saya pemenang, jadi saya mesti membuat definisi kejahatan perang." (Versi Bahasa Inggris Artikel initelah dimuat di The Jakarta Globe, 8 Juni 2015) Anak Indonesia: Pelestari Kekerasan Massal? BHINNEKA/ SEPTEMBER 2015 OPINI Anak Indonesia; PELESTARI KEKERASAN MASSAL? { GALANG BAGUS SATRIA } lllustrasi dari komik Produk Propaganda karya Aji Prasetyo aya teringat waktu sekolah, diajarkan kalau PKI adalah dalang kejahatan HAM karena membunuh para pahlawan revolusi. Tidak usah ditutupi fakta bahwa pelajaran itu kemudian memancing semangat nasionalisme kita (setidaknya saya, saat itu); karena ada musuh yang dengan nekatnya menghalangi negara ini memperoleh keutuhan. Sekarang, lewat beberapa sumber, penjelasan sejarah semacam di atas tidak lagi memuaskan. Teringat ucapan von Ranke yang mengaku sempat tersulut emosi mendengarkan nasib buruk seorang bangsawan; betapa ia mengambil hati oleh suatu kejadian di masa lalu. 1 Namun seiring waktu, von Ranke dan kita jadi malu sendiri - suatu propaganda sejarah dapat lebih menggerakkan hati kita daripada roman Pane bersaudara. erbicara mengenai genosida 1965 serta stigma negatif pada berbagai korban, tidak bisa dipisahkan dari konteks sejarah yang melatarbelakanginya yaitu Gerakan 30 September. Persisnya ketika kita ingin berbicara (baca:spekulasi) mengenai posisi pemerintah atasnya sekarang, kita harus memperhatikan perspektifnya terhadap peristiwa 1 Oktober 1965 itu sendiri. Di mana perspektif itu dapat ditemukan guna dianalisis? Salah satunya adalah pada buku teks sejarah yang sampai sekarang masih diedarkan untuk kebutuhan sekolah. 2 Sedikit keraguan kalau pemerintah punya andil dalam presentasi materi sejarah di sekolah. Misalnya, mengenai peristiwa '65 tidak diizinkan pemisahan embel-embel PKI pada nama Gerakan 30 September (menjadi G30S-PKI) di buku-buku sejarah. Padanya dirujuk sumber-sumber: Sejarah Nasional Indonesia atau dokumen yang dirilis Sekretariat Negara. Tidak menaatinya berarti ikut membenarkan paham komunis yang dapat mengacaukan ketertiban negara. Bisa disimpulkan, bahwa relasi pemerintah dengan masa lalu adalah instrumentasi media tertentu untuk menaburkan suatu pandangan dan memperkuat posisi politisnya. 3 Bagaimana pandangan itu diutarakan pada buku teks sekolah? Pada Matroji, penjelasan sejarah organisasi PKI sepertinya juga diterakan stigma sebagaimana dipraktikkan dalam wacana anti-komunis sehari-hari. Pada bab periode pergerakan organisasi nasional, peran organisasi PKI pra-kemerdekaan agak timpang dibanding PNI, Serikat Islam, atau Indische Partij. Organisasi non-PKI disebutkan memiliki kontribusi di bidang sosial dan ekonomi, sementara PKI tidak. Salah satu penjelasannya adalah "...lupa diri karena membawa PKI pada keputusan untuk menggalang pemberontakan [pada pemerintah kolonial..." 11 Oleh penulis yang sama di materi ajar kelas IX, pemosisian PKI pada kancah sejarah pasca-kemerdekaan tidak kurang antagonisnya. Disebutkan bahwa PKI menjelang peristiwa 30 September melancarkan provokasi kepada masyarakat, di mana pada bagian selanjutnya peran Angkatan Darat dijelaskan dalam sub-bab penanggulangan provokasi PKI Deskripsi PKI karenanya menyerupai penyakit atau hama yang tumbuh di luar kendali hingga harus dibasmi atau dicegah supaya tidak muncul kembali. Beberapa hal bisa disimpulkan. Pertama, deskripsi PKI sebagai grup yang seolah punya karakter tunggal dan diserang dengan moralitas individu. Ketika PKI dideskripsikan lupa diri dan senang memberontak, maka moralitas individu dianggap memiliki asumsi yang memadai dalam menjelaskan dinamika sejarah politik bahkan mengenai korpus pemikiran yang kompleks (dalam hal ini Marxisme). Sejarah politik dan pemikiran direduksi menjadi penilaian moral individual. Sejarah tentang khilafnya PKI karena melanggar moralitas bangsa, dibentuk sedemikian rupa, sehingga berujung karma buruk. Apa-apa yang menjadi atribut dari PKI tak lebih untuk segera didaftarkan pada hal-hal sesat dan menyeleweng dari pembentukan identitas Indonesia yang mengaku santun dan toleran. Dalam hal ini, ditanamkan moralitas dalam budaya dengan mengajarkan lapang dada dan tenggang rasa pada pembersihan, bahkan kekejaman yang ditujukan kepada orang-orang yang dituduh PKI. Kedua, jukstaposisi Angkatan Darat dalam dikotominya pada PKI. Jika PKI adalah masalah negara, Angkatan Darat adalah paket solusinya. Keduanya mengambil relasi antitesis di mana segala yang menjadi kebobrokan moral ala PKI yang gemar membisikkan bibitbibit kekacauan, dipulihkan Angkatan Darat dengan resep kesaktian Pancasila. Dengan menempatkan Angkatan Darat seperti pahlawan, dibentuk suatu tipe narasi akan heroisme tentara yang berhasil menyelamatkan bangsa dari cengkraman kejahatan radikal. Ada implikasi sejarah akan suatu keniscayaan yang paralel dengan Ratu Adil. Periode panjang kolonialisme tampak memiliki konklusi katarsisnya pada pemusnahan PKI yang tampil sebagai lawan terakhir negara sebelum benar-benar meraih kemerdekaannya. Dengan narasi berpola demikian, sejarah yang coba diupayakan menjadi lebih mirip fiksi moralis. pa sebenarnya yang coba diraih dengan adanya logika di atas itu? Tidak ada interpretasi tunggal. Tapi pembacaan bisa diarahkan kepada soal justifikasi rezim yang sekarang berdiri. Kita berbicara tidak hanya mengenai relasi dalam teks melainkan relasi dari logika internal teks dengan masyarakatnya. Pada relasi inilah dapat dijelaskan mengapa keterangan tentang pembunuhan massal pasca 30 September tetap bisu dalam teks dan kesadaran kita. Jadi, relasi itu terjalin - dalam buku teks sejarah yang penulis rujuk - pada tidak disebutnya genosida itu; hanya disebut ulah P K I yang kemudian memicu kerusuhan sosial politik. Pengantar penelitian Tahun yang tak Pernah Berakhir menuliskan, absennya genosida ini dalam kesadaran kita disebut sebagai hasil rekonstruksi ingatan sosial. 4 Ingatan sosial kita tentang kejadian berdarah itu diolah oleh Orde Baru lewat berbagai cara: pendirian monumen, museum, upacara, film, serta buku teks dengan mengingat gerakan 30 September namun melupakan yang terjadi sesudahnya; pembunuhan tujuh perwira lebih diingat daripada pembunuhan keji berjuta manusia yang dituduh komunis. Genosida komunis dianggap layak dan wajar karena ingatan dialihkan kepada rasa nasionalisme dalam menjunjung pahlawan yang berkorban demi negara. Justifikasi demikian menyangkal tindakan pembunuhan - karena yang dikorbankan adalah manusia yang berlawanan dengan moral. Memparafrasekan Hardiman, kebisingan rezim Orde Baru adalah kebungkaman pelaku yang lahir melalui upaya menyembunyikan kesalahan, dusta dan rahasia, serta pelupaan. 7 Inilah relasi teks sejarah dengan masyarakatnya; ia mencoba memborgol semua warga negara dalam suatu rantai dosa besar yang dilakukan bersama-sama melalui serangkaian bentuk justifikasi - sehingga beban bisa dibagi, supaya pembunuhan massal memiliki suara bulat, dan rahasia umum semakin dijaga. Peran pemerintah adalah membagikan dosa bersama ini sebanyak mungkin kepada anakanak yang diharapkan terus membisu. Anak Indonesia: Pelestari Kekerasan Massal? BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 Nietzsche menjelaskan relasi ini sebagai ekses pemikiran masa lalu yang monumental. 8 Awalnya, bagi Nietzsche, pemikiran monumental dibutuhkan sebagai cara manusia yang tak bisa menemukan model di antara kontemporernya dan mencarinya ke masa lalu. Tetapi, ekses darinya berakibat pada pelupaan banyak fakta masa lalu demi reproduksi suatu efek tunggal yang monumental di masa sekarang; seperti pelupaan pembunuhan massal demi penghadiran rasa kebenaran akan genosida 1965. Rekonstruksi masa lalu menjadi dalih bagi banyak manusia Indonesia untuk tidak lagi peduli pada kekejaman yang terjadi terhadap jutaan manusia tak berdosa. Keberlimpahan ritual dan 'monumen-monumen' dosa masa lalu justru memenuhi horizon pemikiran anak-anak Indonesia - ekses sejarah yang memberatkan langkah anak-anak. Sejarah ini selalu memainkan generalisasi, dan membuat yang tak sama menjadi sama - misalnya, klaim bahwa komunis adalah ateis. Sejarah monumental yang ekses juga meniadakan perbedaan motif dan instigasi supaya efek yang monumental dapat ditunjukkan - tak mampu mempertimbangkan perbedaan keterlibatan PKI dan kelompok Gerakan 30 September, serta representasi motif PKI yang dibaca secara tunggal sebagai konspirator ulung. 9 Apa yang kita lakukan pada upacara dengan bendera setengah tiang serta kunjungan pada Monumen Pahlawan Revolusi - yang diperingati tahunan - disebut oleh Nietzsche sebagai bentuk konkrit koleksi efek-efek pada dirinya; transmisi beban yang memastikan setiap generasi baru tidak lepas dari dosa generasi pendahulunya yang melakukan genosida; melalui edukasi sejarah yang repetitif, membelokkannya (baca: distorsi) lewat pesan moral dan ternarasikan dalam epos kepahlawanan; rasionalisasi puitisheroik masaker. Melalui monumentalisasi ini, Orde Baru pun memungkinkan praktik stigmatisasi korban dan legitimasi kekerasan yang sampai sekarang masih kita rasakan dampaknya. 10 Praktik pewacanaan anti-komunis tersebut awet pada wilayah yang krusial bagi hegemoni pemerintah: pendidikan. Pemerintah mencoba mendapatkan dukungan potensial dari anak-anak dan karena dimulai sejak mereka muda, hal ini begitu mudah ditanamkan ke dalam otak mereka. Penerima manfaat sebenarnya dari buku-buku pedagogis bukanlah generasi baru, melainkan pemerintah itu sendiri; peran pemerintah dalam pendidikan adalah mempertahankan otoritas politik berikut kemapanan bahasanya sendiri. Jika anakanak mendapatkan pelajaran yang sama sekali tidak dirumuskan demi anak itu sendiri, maka sejarah yang demikian harus ditimbang secara serius. Karena pada akhirnya, anak-anak hanyalah dipakai sebagai alat pemerintah saya: mereka akan kekurangan apa yang sesungguhnya mereka butuhkan. Keberlimpahan ritual dan 'monumen-monumen' dosa masa lalu justru memenuhi horizon pemikiran anak-anak Indonesia - ekses sejarah yang memberatkan langkah anak-anak. Sejarah seharusnya mendorong mereka mempromosikan kehidupan dan bukan sebaliknya menjadi instrumen pelestarian momen pembenaran: di mana masa lalu justru akan mengubur mereka di masa depan melalui praktik kekerasan antar sesamanya. 1 John H. Arnold, History: A Very Short Introduction (New York: Oxford University Press, 2000), 35. Michael Wood, Official History in Modern Indonesia: New Order Perceptions and Counterviews (Leiden: Brill, 2005), 6. Ada tiga media di mana pandangan pemerintah pada masa lalu dapat dilokasikan: industri sejarah, situs bersejarah, dan buku teks sekolah. 3 Ibid. ^ Matroji, Sejarah untuk SMP Kelas VIII 3 Matroji, Sejarah untuk SMP Kelas IX ^ John Roosa, Ayu Ratih, & Hilmar Farid, Tahun yang tak Pernah Berakhir: Memahami Pengalaman Korban 65-Esai Sejarah Lisan (Jakarta: Elsam, ISSI, TRuK, 2004), 1 2. F. Budi Hardiman, Massa, Teror, dan Trauma (Yogyakarta: penerbit Lamalera, 201 1). Friedrich Nietzsche, "On The Uses and Disadvantages of History for Life," dalam Untimely Meditations, (New York: Cambridge University Press, 2007), 59. Benedict Anderson & Ruth McVey, A Preliminary Analysis of the October 7, 1965 Coup in Indonesia (Singapore: Equinox Publishing, 2009). Lih. Tri Guntur Narwaya, Kuasa Stigma dan Represi Ingatan (Yogyakarta: Resist Book, 2010) atau Wijaya Herlambang, Kekerasan Budaya Pasca-1965 (Serpong: Marjin Kiri, 201 3) mengenai tinjauan praktik tersebut. N\ASA teCIUAJ SAH6AT INDAH Tidak seperti anak 3AMAN SEKAOK G y ITO -p^R-MAINAN VAK G UK\ BAKfeET BUA-r Kami SAAT ITU APOUH.. ASALAH TOKTONAH TCfcSAltC VA, VOLTU^y N\fcNfcHA>i2- PO&&T 3EY2AHWAN / (SAW- NONTIM OANUPKHJNlNfc/ PAK UA32-TO OjAKTU MlUPA SA6AH BECANl/ PE2AN6 MELAWAN PEN3A>M// aV A MOMEMT PAUNgS MEMENANGKAN PA4' KAMI APALAH SAAT APA P'UM PET-pet-0UAH6AH YAHfe SAP.U P'P'US. SEKOLAH AKAN P'L'BOPKAN PAN PAPA (SUPLO MEH6A>k KAKI KE G>ED\jWfc ^VOSKO? TEEPEKAT. KAPENA 'F'LM?EPO'YAN6 aN VUAD'B PVT&NTON OLEH SELUCU M MOPIP gA/AN6KAN / PBU^PAH plU&UlPKAN, X?vSvi^2Y0VA NbKTDH WDAH > 'jiiKfc KUKfc'AVK £Am\ UJPA'AAM, "PAK» KEMBEMTOis: F\UAT612-0UAW6AM YAHfc SATU IK\( AHEVl. S^A^ANAMYA MENC&AAM, HUAAAA U" SEFASOW TENTARA fAENCULIK- 5E30KLAV4 I^EMoLAK. LAH&SOKb t>\BONUM yANG HIDUP, DIBAWA IAE... 1 / SEfcOAU T5M?4T.. Sirfii p MEReVA DARAH PI MAHA~ MAHA// SECteAUG IkANIIA MEN6AM&IUSILET.. MENyAyATl WA3AH $EO?ANG 3EHDERAL / TAEHAHCA? PALAM IH&ATAU Wl p\mn\ 'bavon^t, DNBUAN6 v, DALAM GOMOP { kgtf^ WSWlS, tANyAV^yAHG MENANGIS, fcAvJV^N TEE'AEHCmS SEPAvlGpAM pAPATEHyi^A ITV,?£\A1>AW WAtA HA, ^ERQ0 GET GSMB'Ra Y*i4\ NAASlM TE^IAU V^BCIL HyA/.. FlUA?ENUH P412AH yAHe MEMgPAT V^ANN ONTPk- ke huh^iakan PAN <SEPujANI W)NWNi$ rtv TiPAt APALAH WANITA kE£T\0PAU / TA£ SE'R-pEE-y ?£\ APALAH q c le HEMANOSlAAU, JALANG, -&INAL, Dan «gekaiz 6B*VM?VLAN (Y ?EK^ONPH KEN CINCANG y A y \ manusia. SEPULANG PA^A C-EDuMt SA0S*=0^ \TU KAS I H KEKSa/aNGA H\NG6A IpEOLDfelHYA 44apjjsp\sepanta; ?EHG\^OTNyA V-VAV-US tUfENjA** Pl ?V>LAVJ 'VSWeHCA L, Veru^AiHANNyA \-VA£OS ‘DNAC,^PA\ ^luv\ HOM-Ofc ITC piputap ti4p TETAP IN64T TEWAIA, 65 /4H6 SELAMA V Hl SAMfcAT SALAH V^A?PAH f)r- O A k | f r\i v I f 1 1 I 'C*£OLO&\ AHlAftA- ’&UOlp. &A2AT rtKANb UIN6IN v$ TimoP, al\a$ LISEPAUS VSi^0HUNI$ AAFENA \HDONES\A APALAI-I NP&APAYAW&PAYA AfcAM 5UMSEP PAYA ALAM, ?AE£\P6M Y4M£ GAP 5UP1 OOALAM ASET NEGARA / P \ A^\A PAM Amw YAmG tep\h<;?u2a9 ol^v4 0NlPP''&B1ZP>\p4pl INTE12-V&MSI ASIK6. fPIHSlp 3UMGIWN0 /AM6 5ANW- PKI ITS MOTGCOD / P^asa^afa\aa BIWNGUAtAUPAT/ ^ POU4AT2-US Y P\SlNGPlpPAN, I TBpMA^WPbL -AM6PIP4LAUM1NG AOAPI P HA UNTup paian\ piua doLjmentea YesryAp'O «y&D^lTHyA 'PJOUH l'AUl O SAH A?OAgUNUHAN TSppAP&F ^N6 fcA?NO P tTENPAAl VA12-1 VVHMFOA (oFANAT,. pWAOp.TlR/.. p\SETZAM€?A^E f ESAWAT TEKPOP,.. /" (jMATWSOS V^SlKPOLANHyA- Ue$\n gampang- M&WgONUP -pfcESlPEN ..rruT^^PBH \AO\t 'AA64IA MATI 3064 Se4AL\TEM^ UAN&SUN4 MATI I Uli Y So SioP VB NVg>£^ TC3MPlENPE^2ALTEp.^A\^ A"D Sb L&tM, 'vewot* SA, T-E2MM. 'SoHATO HANYA M£Nfet^Ny«aM F6m£*JACA $£fcA£A\ S4TU-SATUKyA l^$e]WAk| -tOJUAMKyA APALAH V^UDETft, men GAhAB \t /IMK AUH'HEVAiASMN/ gUN6 \ SAMBAT PEHAT APAlNPW^ASi tbp-u^at PALAKv. <S 30 S - /BUNt £E£ IMBUHAN: £>UN6 'fAAT-Nb 1EE-U&AT <£6PA1=AN MEN6>R>PETA 6A64L?AHAM.. TAPI M&MAKfe TgEifclTULAH, SAAT >TU l P\K(-4(M SEPA6AI PALAN6 IfTZOfA&AKPA H\Ep\A MASSA TUN P»MA\NHAM ?AT4£\ GiM?AT\SAN P^l VlgUIZU, PITEN^AEA ATAU P\‘&AHTA\ 1AHTA fBH(^P\LAN SOO. OO0 y SohA3Ef2- TAHTA V^TvrpAN^ANfo ASLAC 0IL/V' jutaan opahg p\2ahta\ den&an cay&y/Mb jangat SEARTI rtU0U64 PEMAHAMANKU UN&SUKfc $ETZ-u£AtA VERtliAMA PKI apalah FEMW1AI iAU(? kedah /L A — r K i VEKIIMI I PKI telah DIBANTAI P£N£AN KEDAH LAKTA 5,... ^ASA^MANA PEKCaH CET-cet- ^TZ, TENTAN g UANTO 3AL4H& yAH6> 6erAAt2. MENYAYATI WA>H ^ENpEPAL PAN MEMOTONG PENIS N/A? lNPONE$lA) APALAH CF-MAS YZN6 POA>G PADA PEKgEC-PAAAN OJANITA PAN VfeNDlpiAAfl W/AT (SEFWANl MEMEJZANGi TPCSTlMl, P4ASA DAN KP RT. p( MA17\ SEfcWWI, UJANHA HA12.0C, WODUATtP PAN ^£|2.MAPTAgAT MAFEAA MENplplH&NSEFoLAH PAN KEtOWOA B-ELA-yAF GFATI5 gAAf PAA/AT HIGVHN. £€1ZUjAN \ BUFAN EENCAANNYA ppU. Wl \PEOLOfe! AG-PuAN/A punya banyak AESA^AAN. -tE^UTANM TENTAn 4, TERAAN 6AN SEtAlN (SEILJAjAMt, APApOUA UEJCpA Clemvga Kesenian T&W&r), &t\ C &Afr $AN TANI INPOMECtA) / 'DAN f^OMLAJ-) OVJAACj LA\N VANG ANfc^OTANyA TUPJjT p\gANTA( tfAfcIS ME£-&£A T 1P A^TAW U APA-APA SOAL BANYAVA yANt DIPEBNC54 SEBEUJM p\80N0W se-lama p\tauahau paw - n paktamu nehata nvep-ena WAT^SWBUKvjH 1995, SAAT PtEPTAMA pAU AEU>MASU*CDl MUSEUM gpAWl^AyA £OTA MALAKA UMfnjfc N\ENGHANOJRAaN BATDE KEPALA SE0I2ANS TDICOH Ecqo NAYATNIVa APAUl SEBELAH PAMS/AT /A? T+AUSAPIS PAN mpnOGi^nan MEM64N6&A&AN 30~tAUUK uesm m P\P0P^T2AN &AH\WA ^OMON\$ vtu atHeis yaka KEHAKCAF HJAT \?l OTAAV^HA. SfeHlNfefeA V^ALAU fcciTZ PICAp AltA CUMA MAU PIS^oSl l=i lm "Samin vs Semen " PAN "ALAlNEMDAlVE" A-UUAU A34 y AK5 12A01H I K£A?A\N KGUT-kgut-oS\ AONEU A PE1AN! PAK MELAIN NA9lg> fcUfcUm? S^AUTlAU'tlEU PKl? 1 M5l‘Z.OI$> PEAANAT E\A UNIBTA&W KALANG MEMSuSAe'CAN ACAEA K\ArtASl$luANyA tAK?A AUASAW 3ELAS. ^EPE^TIKYA MBAE AA t \P A ^c Cp'fA y<A MA^^luANyA TBPTA1Z-\\c VADA FEAM4SAIAAAH 'AElAS /l pETUE.L>NAN?Hl / MEMANFAAT Y iSOHA^UMTUt UGAPA»M?EPUU\ 'fOM&MTAtA Seorang, FAPETZ Yemupa vancaSiu pl ACAP-A KAUI4VJ Fm'SENyAp" PeSEMEERvow T?\ VMNTOlz. F APP I 7 PETANI?UN OUGASAUrt/ VAP-ENA SEHP2AL. PAK V I MATA WOFUM, fUK 306A g ITU IMO CAPA GAMPANG MEMAHAMI HA M Y FOM ENTA12. KU p\ ACAPAYAN6 SAMA. OlAA V4A3V M15BAOA APALAH 'T^sonw 3L64 TENOoNjONS N\IA\ ISLAhA, LAWA5 £ENA?A PVM N^StH DUpENTUiHAN ATHHlS? 3 KA V¥AS\L \Y ISO K?APA 3EKD^2AL.Tfe?HyAlAT\PA^ NOHT0U p\LW\ HEnG>E£-\AA^ VTO 7 <3&>A KECIL HANU plC&£oKl KEPALSUAN UJAHAI Wa PeSAINEK PpofA&AHPA, V^AUIAK ^ET-et-HuiAK& KE&ENApAN papa Kama. ^LAPKAN AANM ^SLASAP- PAA-V SEJARAH H\TA^ KALIAN TELAH I'AENONOKE-NKAN TV^OH PEPLOiPA YANfe;)AP\ KOI 2 -£aN MEMAPA JUTAAN KOPIAN LAIN MASiH kalian <3en\elnyikaN7 KALA SASTRA MEMBONGKAR SEJARAH { YOSE RIZAL TRIARTO } Peristiwa tragis tahun 65 seperti tak pernah kering untuk dijadikan latar sebuah cerita — termasuk novel. Apalagi sejarah kelabu itu tak saya menimbulkan "kontroversi " hingga sekarang, melainkan juga masih meninggalkan kenangan dan pengalaman pahit bagi banyak orang. Dari peristiwa "tragis " itu, pengarang bisa melakukan rekonstruksi bahkan memberi "tafsir ulang" atas fakta di masa lalu. Dan justru dengan ini, para pembaca bisa mengetahui lebih dalam akan sejarah brutal yang selama ini ditutupi pemerintah. LASMI, MENANGGUNG TAKDIR DARI PILIHAN HIDUP Novel Lasmi (2009) — karya Nusya Kuswantin yang mengangkat tokoh Lasmi, korban dari peristiwa tragis 1965 lantaran dia menjadi anggota Gerwani — tidak saya menjadi bahan renungan, melainkan melengkapi deretan kisah novel yang mengungkap "fragmen sejarah" buram bangsa Indonesia tahun 1 965. Meskipun novel Lasmi ini bisa dikata tidak memiliki pretensi untuk mengungkap fakta baru di balik peristiwa kelabu 1965 itu, duka lara yang menyelimuti kisah Lasmi (tokoh utama dalam novel ini) bisa memantik kesadaran pembaca untuk merenungkan sejarah kelabu di masa lalu. Sebab, Lasmi telah menjadi korban dari peristiwa sejarah yang buram. asmi, adalah sosok wanita kampung di sebuah desa, di Malang (Jawa Timur). Meski tinggal di desa, dia memiliki jiwa moderat. Dia yang dianugerahi pengetahuan dan kebetulan lahir dari keluarga terpandang kemudian ingin membantu orang kampung dengan membangun sekolah (untuk orang tua dan anak-anak). Bersuamikan Sutikno, seorang guru -- cita-cita Lasmi itu tidak menemui jalan buntu bahkan bisa berjalan dengan mulus. Mungkin, satu hal yang membuatnya terbebani, ia tak bisa menggaji guru yang ikut mengajar di sekolah. Hingga suatu hari, ia yang sedang membutuhkan guru menjahit bertemu dengan Mbak Sum. Kedatangan Mbak Sum ternyata mengubah jalan hidup Lasmi. Untuk memajukan sekolah, atas saran Mbak Sum, Lasmi ikut up-grading. Habis itu Lasmi memutuskan menggabungkan Taman Kanak-kanak Melati (yang ia dirikan susah payah itu) ke dalam yayasan Melati. Konsekuensi dari pilihan itu, Lasmi tercatat sebagai anggota Gerwani. Pilihan itu diambil, karena ia merasa terbebas dari beban memikirkan gaji. Tapi, sejak itu ia mulai sibuk dengan aktivitas dan rapat, bahkan tak lama kemudian menjadi ketua Gerwani tingkat desa. Tapi peristiwa tragis 1965 membuat Lasmi harus menjadi korban, la pun harus menanggung takdir dari pilihan hidup yang telah ia jalani, la bersama Sutikno (dan anaknya Gong) lalu melarikan diri untuk cari selamat. Deretan penderitaan harus ia alami bersama keluarga, lari dari satu desa ke desa lain, tidak lain untuk sembunyi. Tapi, pelarian itu kemudian menemui takdir akhir — sebuah endirtg yang nyaris tidak bisa ditebak atas apa yang dipilih Lasmi, penderitaan Gong dan akhir kisah Sutikno. Harus diakui, tak sedikit pengarang di negeri ini yang menggarap novel dengan sandaran setting peristiwa tragis 1 965 dalam sebuah novel, termasuk Lasmi ini. Tapi, dalam novel ini nyaris tidak ada terobosan yang digemakan. Pertama, sejarah tragis 1965 seperti hanya dijadikan tempelan sehingga nyaris tak memberikan nuansa baru, kecuali keberadaan tokoh dengan pernik permasalahan dan setting cerita (di sebuah desa di Malang). Kedua, novel sejarah sebenarnya bisa dijadikan sebuah rekonstruksi. Tetapi, dalam novel ini hampir tak ada fakta baru yang disuguhkan pengarang. PKI tetap sebagai tertuduh dan Lasmi tidak lebih sebagai korban. Kekuatan novel memang terletak pada kekuatan narasi. Tetapi dalam menulis novel, dikenal cara menggambarkan bukan menceritakan. Pada aras inilah, Nusya Kuswantin kerap berlaku menceritakan dan lemah dalam penggambaran. Tidak salah, novel ini pun serasa kering dan mirip catatan diary Sutikno (tokoh "aku") untuk mengenang keberadaan Lasmi, istrinya yang mati dieksekusi karena menjadi korban. Capaian estetis yang dielaborasi pengarang pun 'tak mendedahkan teknik baru’. Maka, cerita pun berjalan dengan datar, tidak berpilin dan tidak njelimet. Bahkan kering dialog. Padahal, keberadaan dialog bisa membangun kekuatan sebuah alur. eski demikian, novel ini tetap tidak bisa dikatakan sebagai sebuah novel yang gagal atau tidak berhasil. Pengarang berhasil membangun karakter Lasmi dengan kuat. Pada akhir kisah bahkan pengarang meneguhkan bahwa pilihan Lasmi menjalani eksekusi itu sebagai bentuk tanggung jawab sekaligus protes secara masif —menggugah orang untuk memikirkan tragedi pembantaian massal yang terjadi di negeri ini. Tidak salah, kalau pengorbanan Lasmi itu sebagai bentuk anti-kekerasan. Selain itu, dalam hubungan antara suami dan istri dalam rumah tangga, novel ini terasa kuat menggelorakan emasipasi wanita --persamaan derajat. LUBANG BUAYA DAN KALATIDHA, MENGUAK SEJARAH KELAM INDONESIA Dalam pengantar novel Lubang Buaya (2003), Saskia Wieringa, novelis itu menulis, banyak sejarawan masa kini berpendapat bahwa semua sejarah adalah fiksi. "Tidak ada fakta, hanya discourse yang selalu berubah dan dipengaruhi kekuasaan," kata novelis yang juga antropolog itu. Kalau sejarah adalah fiksi, apakah fiksi juga berarti sejarah? Saya tidak ingin terjebak dalam labirin telur ayam: mana yang lebih dulu di antara keduanya. Yang jelas, sedikit berbeda dengan Saskia, saya berpendapat bahwa sebuah karya sastra yang baik senantiasa merekam denyut nadi masyarakat tempat karya sastra itu dilahirkan. Sastrawan sebagai representasi masyarakatnya merekam dengan baik pikiran dan perasaan masyarakat sezamannya. ebih lanjut, Saskia Wieringa mengakui bahwa novel Lubang Buaya berangkat dari hasil penelitiannya pada 1980-an mengenai kekerasan yang dialami perempuan-perempuan Gerwani. Hasil penelitian itu pun sudah dibukukan dalam Penghancuran Gerakan Wanita di Indonesia (1999). Tidak mengherankan jika ada fragmen dalam novel itu yang terbaca dengan jelas sama dengan pengakuan Yanti dalam buku SPKT 65. Yang cukup mengherankan adalah adanya kesamaan fragmen dalam Kalatidha karya Seno Gumira Ajidarma (2007) dengan pengakuan Darmi dalam buku SPKT 65. Dalam novel Seno itu, seorang gadis kecil menyaksikan pembakaran rumahnya dan pembunuhan seluruh keluarganya, termasuk saudara kembarnya, hanya karena ayahnya dituduh sebagai simpatisan Partai Komunis Indonesia (PKI). Karena gadis kecil itu tidak bisa menerima kenyataan yang dilihatnya, dan tidak mampu memahami peristiwa itu dengan akal sehatnya, akhirnya ia menjadi gila. Berangkat dari sinilah cerita Seno bergulir hingga menarik pembaca untuk segera menuntaskan pembacaan atas novel setebal 234 halaman itu. Sementara dalam SPKT 65, Darmi yang saat itu menjadi penari istana di zaman Sukarno, tidak saya menyaksikan suami dan kedua mertuanya dibunuh dan rumahnya dibakar, melainkan ia mengalami penyiksaan mental yang luar biasa, la bukan anggota Gerwani, ia hanya penari, tapi suaminya anggota PKI. Gara-gara itulah ia diarak oleh orang banyak yang anti-PKI dalam keadaan telanjang bulat, berjalan kaki mengelilingi desa, dan begitu sampai pada tahap pemeriksaan di pos tentara, ia disuruh menari di atas meja dalam keadaan telanjang bulat. Dan, jika ia menolak menari dan menolak diperlakukan tidak senonoh, maka tawanan lain akan dijadikan sasaran penganiayaan. Selama 30 tahun di masa pemerintahan rezim Suharto, setiap mendengar gamelan Bali, Darmi mi trauma yang sa. Ia merasa bahwa tari adalah jiwanya, dan bunyi gamelan selalu memanggil-manggilnya untuk menari. mengala luar bia. dan Seno tersebut memperlihatkan bahwa sastra bisa menjadi strategi untuk mengungkap kabut politik yang terjadi di negeri ini, termasuk peristiwa pembunuhan massal 1965/1966 dan peristiwa perkosaan massal pada Mei 1998. Selama 30 tahun di masa pemerintahan rezim Suharto, setiap mendengar gamelan Bali, Darmi mengalami trauma yang luar biasa, la merasa bahwa tari adalah jiwanya, dan bunyi gamelan selalu memanggilmanggilnya untuk menari. Namun, bersamaan dengan bunyi gamelan itu, saat itu pula ia merasa takut dan membencinya. Ini akibat penganiayaan yang terjadi pasca 30 September 1965 yang dialaminya di Bali. Dengan demikian, fakta yang terbaca dalam SPKT 65 lebih mengguncang nurani pembacanya dibandingkan dengan cerita dalam novel Lubang Buaya dan Kalatidha. Meskipun begitu, apa yang dihasilkan Saskia Dalam diskusi novel Kalatidha di Fakultas Ilmu Pengetahuan Budaya Universitas Indonesia (FIB UI) pada Selasa, 8 April 2008, sejarawan Flilmar Farid mengatakan bahwa dalam menggambarkan korban kekejaman 1 965/1 966, Seno sengaja menggunakan tokoh aku yang gila untuk menembus keterbatasan ekspresi dalam mengungkap kekerasan dan menembus keterbatasan hukum untuk mengungkap fakta. BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 Kala Sastra Membongkar Sejarah atas antara fakta dan fiksi menjadi hilang, kadang-kadang tokoh aku dalam Kalatidha menggambarkan kenyataan, kadang-kadang berada dalam dunia kabut yang tak terumuskan. Dalam pembacaan Hilmar Farid, sastra bisa menjadi medium untuk mengungkap fakta, kenyataan, dan kebenaran. Sementara Melani Budianta, Guru Besar FIB UI yang juga tampil sebagai pembicara dalam diskusi tersebut, menambahkan bahwa fiksi seperti yang ditulis Seno tersebut berpeluang untuk menyembuhkan luka yang terjadi di masa lalu. Tokoh perempuan kembar dalam Kalatidha dibaca Melani sebagai metafora yang digunakan Seno untuk menggambarkan peristiwa 1965/1966. Tokoh yang satu mati terbunuh, yang menyimbolkan masa lalu yang penuh kekerasan. Tokoh yang satu lagi menjadi gila karena tak mampu melihat kekerasan, yang menyimbolkan masa kini yang masih gagap melihat seyarahnya sendiri. Dilihat dari tataran mental psikologi, novel Kalatidha menampung atmosfer refleksi, kegilaan, perasaan marah dan dendam, bangkitnya belas kasih, pemulihan dari luka, dan transendensi. "Semuanya ada dalam novel itu," kata Melani. Meskipun dalam diskusi tersebut Seno mengakui bahwa Kalatidha merupakan novel pesanan, karena ada pihak yang memesannya untuk menuliskan peristiwa kekerasan itu, saya tetap menganggap bahwa Kalatidha merupakan novel Indonesia modern yang penting, yang menurut saya menjadi novel terbaik pada 2007, karena merefleksikan sebuah peristiwa yang tidak mungkin terlupakan oleh bangsa Indonesia: pembunuhan massal 1 965/1966. Tapi, bukan hanya karena itu novel ini menjadi novel terbaik. Novel Kalatidha mengajak pembacanya untuk mengungkap kabut politik yang menyelimuti sejarah nasional Indonesia. » Yose Rizal Triarto, pemerhati masalah pendidikan, ekonomi, sosial, dan politik. Buku solo pertamanya berjudul Bumi dan Manusia (Kumpulan Puisi, Esay, dan Opini Pilihan). LASMI Penulis Penerbit Cetakan Tebal Nusya Kuswantin Kakilangit Kencana 2009 232 Halaman LUBANG BUAYA Penulis: Saskia E. Wieringa Penerbit: Metafor Publishing Cetakan: 201 3 Tebal: 381 Halaman BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 X.. Kala Sastra Membongkar Sejarah tumbal untuk tuhan genjer genjer nang kedhok an pating kleler... intronya sudah terdengar berputar-putar di kepalaku pilu, namun buram latarnya jika ada yang memupuk lupa pastilah anda-anda yang pernah panggul senjata gagah berani semai genosida parang kelewang ikut bicara kini takut jadi tersangka lalu pupuk lupa atas luka lama jika ada yang melawan lupa pastilah anda-anda yang ditelanjangi rasa takut sepanjang malam dijilati siang oleh merah pemandangan namun bungkam menahan nyawa yang sudah sampai di kerongkongan, atau pastilah anda-anda yang selalu dibuai dongeng ke peraduan tentang duka nestapa kematian tanpa judul apalagi sampul di sini aku hanya melawan kebodohan meski jelas dibodohkan dengan macam-macam pembodohan karena, bagaimanakah akan melawan lupa jika ternyata tak tahu apa-apa? di antara helai-helai yang mampu bicara aku berkelana mencari cahaya aku melihat airmata darah, gelimpang raga-raga tak bertuan yang menyisa tanya mengapa dilepas nyawa aku mendengar teriak yang dicekat “tumbal-tumbal untuk tuhan!" katanya Padang, 12 Januari 2014 plantungan mewangi tangan itu katanya lebih tajam dari sembilu wajah itu katanya seseram hantu hati itu katanya sekeras batu dalam ketersesatan mereka pada asap pekat tuduhan bermandikan radiasi matahari yang diberi nama sundal abadi keliaran yang terlanjur terpatri rapi ngeri mereka datang ke dalam barak kawat berduri dikelilingi warga yang ketakutan tak beralasan yang menguapkan kebencian gerwani merasuki kepala bagai api yang menakutkan namun mereka tumbuh, mekar dan harum plantungan mewangi ketakutan dan kebencian beranak cinta tangan tangan yang katanya "perempuan sundal" itu yang menjadi penyambung nyawa penyakit disembuhkan kesehatan dikembalikan dan kebenaran mulai bermunculan meski datang satu satu sebesar titik titik kabut Malang, Februari 201 5 banyu bening adalah nama pena dari Agustina, S.lp (reyna.agusti@gmail.com). Puisi di atas juga bisa ditemukan dalam Antologi Puisinya, KEBAYA KOYAK. BHINNEKA/ SEPTEMBER 201 5 Puisi: Plantungan Mewangi LEGENDA POHON ISA AMAR AR-RISALAH Kalau kau jeli, di televisi sekarang sering terdengar berita tentang sebatang pohon besar, beribu-ribu meter tingginya, yang muncul dari tengah-tengah penjara bekas kamp-kamp tapol Gerakan Satu Oktober, seperti di Plantungan, Bukit Duri, dan sebagainya, orang Jawa bilang Pohon Hayat; sebab ada miripnya dengan gunungan wayang pohon hayat, tetapi kita lebih mengenalnya dengan Pohon Kebenaran. Orang-orang korban Gestok 1 965 suka memanjatnya, dan tak pernah kembali. Entah kemana. P ohon Kebenaran, akarnya besar dan luas sekali, ia meriap ke rumah-rumah reot dan tersembunyi di seluruh negeri, ia menguatkan hati orang-orang yang masih yakin ada harapan dan kebenaran yang bisa dicari. Daunnya sanggup menerangi malam hari negeri, setelah berlembar-lembar kasus muncul tanpa sempat terselesaikan. Kasus-kasus itu memalamkan langit, dan orang-orang gelisah karenanya. Pohon Kebenaran kini sudah menjamah ruang-ruang pengadilan. Akar-akarnya yang suci, merambahi hati hakim-hakim, sehingga pelan-pelan kasus hukum bisa selesai. Seperti cendawan, tunas-tunas kecilnya mulai ditanam di sekolah-sekolah menengah, di spanduk-spanduk, di iklan-iklan televisi, buku-buku putih sejarah, juga di setiap perselisihan keluarga di penjuru negeri ini. Pohon itu tinggi sekali, seperti kebenaran. Beribu-ribu meter tingginya, berlingkarlingkar rangkulan tangan besarnya. Menembus awan dan kekakuan sejarah yang terlanjur diyakini sebagai kebenaran. Kalau kau mau tahu asalnya, Pohon Kebenaran ditanam oleh Isa Al-Masih di dalam sebuah penjara. Isa yang lahir tanpa ayah, tanpa kebenaran dari ayahnya. Yang selalu disembunyikan sejarah kelam bangsa-bangsa dan kota-kota. Kau saksikanlah kabarnya, dan biarkan Maryam, Ibunda Isa, bercerita tentang asal mula Kebenaran ditanamkan, dan menjadi Pohon yang luarbiasa. •k ie ’k ie Sore itu, 2 Oktober 1965, lewat radio saya mendengar bahwa PKI memberontak, dan banyak jenderal-dewan jenderal-yang dibunuh. Bapak saya yang anggota LEKRA cabang kota, mendadak pulang buru-buru dan bilang: mana semua bukubuku bapak, bapak mau timbun di halaman belakang. Clara, maksudnya Clara itu dia manggil saya, dia bilang Clara, kamu bakar semua bendera PKI dan cari baju-baju kaos yang merah dan ada lambang PKInya itu! Saya cuma diam, tapi ndak tahu kenapa merasa ada yang ndak beres. Bapak berkeringat sekali, seperti panik. Saya laksanakan perintahnya. Saya cari semua kaus, sampai dapat belasan lembar. Ada yang betul-betul gambar Pak Karno. Bapak langsung menggali tanah, dia pendam semua bukunya, setelah dibungkus karung tiga lapis. Baju-bajunya dibakar semua. Selesai azan maghrib bapak bilang, kami se-keluarga, saya, Ibu, dan adik laki-laki disuruh mengungsi ke atas gunung, rumah kami di sana memang dekat gunung. Tetapi gunung itu alas tutupan, orang-orang bilang tempatnya dedemit dan jagal manak^. Kami ndak tahu kenapa. Tapi ibu sepertinya paham sesuatu, waktu saya tanya, dia Cuma bilang “Ssst, saru 2 urusan orang tua...” % aya diam. Menjelang tengah malam, saya takut sekali, kami naik ke gunung dengan membawa bekal makan. Bapak kami tinggal, katanya mau ngurusi sesuatu. Kurang lebih jam tiga pagi, saya ndak bisa tun-tun lantaran takut sekali. Hutannya sangat gelap dan seram, memang ndak ada warga berani kesana dari dulu. Jam tiga itu terdengar suara tembakan, banyak orang teriak-teriak dari bawah, saya bisa lihat; tiba-tiba ada api, asalnya dari arah rumah saya. Saya cuma berdoa dan bertanya sama Ibu. Akhirnya dijelaskan, bahwa jenderal TNI ada yang dibunuh oleh PKI dan pemerintah sekarang mencari-cari seluruh anggota PKI dan termasuk LEKRA serta GERWANI. Ibu saya pengajar di TK Melati 4 di tengah kota. Pagi, kira-kira jam lima, sebab langit sudah biru tua, kami turun dan sempat melihat rumah, tapi saya lihat ada bercak darah dan sisa-sisa hangus di pintu. Tiba-tiba ada lima tentara menyeret Ibu. “Kamu istrinya Karto, kan i Kamu perkosa jenderal-jenderal kami!” ibu ketakutan, tentara itu bawa senjata. Kami diseret paksa. Ada dua truk dan kami terpisah. Sejak itu, sampai sekarang saya ndak pernah lihat Ibu dan adik saya lakilaki lagi, mungkin sudah “ Game ” 5. Di truk itu, sependengaran saya, karena mata saya ditutup kencang sekali, saya merasa kok ini seperti ada agresi Belanda lagi di cerita-cerita Bapak. Kira-kira tiga jam, waktu itu hampir sore, saya sampai ke bangunan pemerintahan, kayak penjara gitu, lantas diturunkan dan disuruh jalan sambil merangkak. Mata tetap ditutup. Saya rasa ada banyak sekali, ada yang laki-laki ada yang perempuan, sekitar empatpuluh orang. Ada satu perempuan yang teriak-teriak "Tolong-tolong, saya bukan PKI, saya guru saya!” tapi dijawab, kamu kalau mau hidup turuti perintah saya. Akhirnya kami disuruh berdiri dan berjalan biasa. Ketika mata saya dibuka lagi, saya ada di ruangan besar seperti aula, dan kami berdiri berjajar, laki-laki disuruh pergi ke ruangan lain, ditendangi. Yang perempuan tetap disuruh berbaris. Kami ditanyai satu-satu, berapa umur, siapa nama. Di sana saya menunggu sampai malam, ndak diberi minum, dan ndak dijelaskan apa-apa, yang jelas banyak tentara. Sampai kemudian, kelompok besar perempuan itu-sekitar limabelasan-dibawa lagi ke sebuah tempat. Belakangan saya baru sadar kalau itu bagian dari sebuah penjara, kami saling menguatkan dan bilang “Nyebut, nyebut... negara lagi kisruh... "Sampai di penjara, kami masuk sel tahanan dan diperlakukan dengan kasar, kami menunggu beberapa hari disana tanpa kejelasan, makannya hanya nasi sangat sedikit dan sayur hampir basi. Itupun diberinya cuma sekali saat siang. Satu malam, saya diajak, masih diikat, ke ruang interogasi. Saya lewat di sebuah aula, remangremang lampu, semua orang tengkurap dan telanjang, semuanya laki-laki. Saya nunduk dan nangis saya. Mereka dicambuk pakai rotan. Ada yang anusnya disudu, ditusuk pakai tongkat rotan itu dan disuruh ngaku bahwa mereka anggota partai. Punggungnya berdarah-darah. Saya ndak tega melihatnya; lalu saya sampai di ruang interogasi. Ada tiga orang tentara, yang satu, mungkin pimpinannya karena pakaiannya beda sendiri. Ini terasa seperti penyiksaan mental buat yang melihat agar mudah mengaku. BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 Cerpen: Legenda Pohon Isa Sampai diruang itu, penerangannya cuma lampu oncor. Saya ditanya. Umur, nama lengkap, dan riwayat oganisasi. Saya memang pernah ikut jadi penulis kampus, tapi ndak tahu apa-apa soal PKI. Dia sepertinya ndak dapat jawaban yang dia mau, saya disuruh buka baju. Saya nurut, wong takut sekali. Akhirnya cuma pakai celana dalam dan kutang. Saat saya begitu malu dan terhina, tentara yang lain tertawa senang, saya menangis saya, diam sesegukan. Dia bilang kalau kamu ndak mau ngaku saya bisa melakukan lebih. Saya ditunjukkan beberapa foto-foto, beberapa saya kenal. Saya sebut nama orang di foto itu satu-satu. Ada Pak Aidit, ada Pak Karno. Ada juga aktivis-aktivis Gerwani kota saya. Saya sebut. Lantas dia teriak, berarti kamu anggota! Padahal kenal, hanya karena memang tetangga saya. Beberapa teman bapak. S aya ndak mau ngaku. Tetap ndak mau ngaku, akhirnya disiram, airnya dingin sekali, menggigil, cuma menggumam gusti... gusti... gitu. Saya menangis, kenapa kok jadi begini. Saya terbayang bagaimana ibu apa dibeginikan juga. Ternyata belum selesai sampai disana. Malam itu saya kira sudah selesai, saya dibebaskan, tetapi ternyata paginya dibawa lagi pindah ke penjara yang lebih kecil. Masih satu komplek. Malamnya lagi lagi saya diinterogasi, tapi orangnya beda. Saya menangis lagi, disuruh buka celana dalam dan kutang, saya telanjang bulat. Saya malu sekali, dan merasa sangat-sangat terhina, marah, lemah, campur jadi satu. Dia nanya terus, kamu yang bunuh jenderal kan? Jenderal-jenderal kami bukan mainan, dasar musang PKI. Kamu hina, kamu itu pengkhianat bangsa! Musang Gerwani! Ada tentara bilang, saya bisa pakai senjata buat mempercepat kamu ngaku, sambil nunjuk-nunjuk kemaluannya sendiri. Saya nangis, tapi tetap ndak bersuara. Dia bilang lagi, bagaimana, sudah mau ngaku? Saya takut sekali. Saya ditendang sampai jatuh, lalu digulingkan ke atas meja, ada senapan lantas disodok-sodok ke anus saya, perih sekali. Ia memaksa saya ngaku. Saya benar-benar bingung, akhirnya saya teriak ngaku apa? Kamu lonte Gerwani, kan? Musang PKI kan? Yang perkosa Jenderal kami kan? Saya kira dengan ngaku, akan selesai malam itu, ternyata setelah ngaku, saya ditelentangkan, lalu kemaluan saya ditekan-tekan pakai tangannya, tangan dan kaki saya sendiri dicengkeram, ndak bisa berontak. Duh Gusti, duh Gusti., saya terus teriak-teriak begitu sambil menangis. Tangan dia nekan-nekan terus sampai kayaknya saya orgasme, lalu tangan dia yang ada lendirnya itu diusapusapkan ke muka saya, saya nangis, sampai sedih dan terhina sekali, saya merasa dilecehkan, seumur-umur kenapa begini, belum pernah saya rasakan. Seorang tentara membuka celananya, dan bilang, yang halus jangan pakai gigi, terus dia memasukkan kemaluannya ke mulut saya. Saya menangis, dan keluar cairan di mulut saya lalu saya muntah. Saya mual sekali. Yang satu tetap menekan-nekan vagina saya sampai rasanya sakit sekali, ada darah keluar dan dilapkan lagi muka saya. Saya lihat tangannya, ibu jarinya dia paksakan masuk ke vagina saya, rasanya perih sekali, lalu saya lemah. Kehabisan tenaga. Seorang mengambil kawat setrum, lalu memasukkannya ke-Gusti-vagina saya... Ada satu lagi dililit ke ibu jari dan payudara saya. Mendadak pintu dibuka, dan ada seorang wanita, saya ingat dia seorang kader Gerwani yang sepertinya punya posisi, saya lihat dia waktu ruwatan Balaidesa. Dia ditanya, lihat, lihat, yang ini namanya apa? Lalu saya disetrum sampai loncat, dan pingsan. Waktu itu rasanya saya hina sekali. Paginya, saya ada di pojok ruangan, masih telanjang, dan vagina saya bengkak serta berdarah. Ibu jari saya juga berdarah. Lalu ada tentara masuk memberi kain sarung dan nasi segelas kecil. Saya memakai sarung itu dan menangis lagi, ada apa ini, kok saya mendadak begini, mending dibunuh saya kalau begini. Saya digiring lagi ke ruangan, kali ini ramai, ada sekitar duapuluh wanita. Ada yang SMP, SMU, tapi seingat saya ndak ada yang sangat tua. Ada yang mukanya berdarah, ada yang bengkak biru tangannya, tapi ada satu yang kemaluannya membekasi darah. Cuma saya yang diperkosa kayaknya. Mereka semua menangis. Ada yang terus nyebut-nyebut, sementara saya syok berat. Glinjfi. Seperti linglung, ndak tahu mau berbuat apa. Menjelang maghrib ada tentara beri makan kami pakai tampah. Nasinya agak banyak, saya perhatikan baikbaik nasinya kok meling-meling, kayak ada plastiknya, dilihat teliti ternyata beling halus-halus, kayak pasir. Ternyata tujuannya agar kami makan maghrib, agar ndak lihat ada beling. Kami ternyata disuruh mati pelan-pelan sama Pak Harto. Gusti, padahal ternyata ada yang lebih jahat, kenapa kami yang disiksa. Kami makan pakai tangan, memisahkan dulu belingnya, sampai berdarah. Yang bisa dimakan sedikit sekali. ndak sampai sesendok satu orang. Saya begitu terus sampai tiga tahunan. Setiap kali ada yang masuk, pasti telanjang, dan vaginanya berdarah atau biru, dan sampai dalam baru dikasih sarung, dan giliran kami seperti menyemangati. Ada yang membacakan shalawat atau bacaan-bacaan keagamaan lain. Tiap malam ada saya yang teriakteriak dari ruang diatas atau di seberang, dan sering bau amis darah. B elakangan saya paham bahwa itu penyiksaan psikis buat kami. Agar kami mengaku. Saya berpikir, apa ini neraka, juga ada yang mulai mencoba bunuh diri. Menjedot-jedotkan kepala, tapi dibiarkan saya oleh tentara, sampai dia pingsan dan kepalanya bengkak berair. Dia entah dibawa kemana tapi ndak pernah kembali. Penyiksaan yang ndak pernah juga saya bayangkan ada. Setiap minggu ada saya yang dapat giliran dibon, istilahnya disiksa, dan dipindahkan. Saya dengar dari yang baru masuk, mending jika di dalam penjara. Dia bilang di luar dia dikejar-kejar oleh ormas keagamaan tertentu yang pakai sorban, dan dia sudah lihat temannya dikoyak di jalan besar, sambil membawa bayi, dan bayinya tergeletak begitu saya, ditinggalkan. Untung ndak dibunuh, begitu setiap malam katanya. Jadi lebih baik di dalam penjara, aman. Rakyat lagi mengamuk dipanas-panasi Kodim. Disuruh cari GERWANI, LEKRA, PR, pokoknya yang berhubungan dengan PKL Katanya tiap sore belasan orang terpenggal atau dibakar di lembah, ladang tebu sana. Salah satu teman saya dalam penjara akhirnya ada yang hamil, dia memang lumayan cantik. Perutnya semakin membengkak. Ia bilang, saya ndak tahu siapa bapaknya, karena banyak yang mempermalukannya. Makin hari, perutnya makin besar, dan tibalah bulan-bulan tua. Saya teriak suruh tentara bawa ke rumah sakit, ndak digubris. Akhirnya, satu malam, ketika kami yang dipenjara itu tidur, semuanya dikagetkan dengan tangisan bayi BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 ' — ^ Cerpen: Legenda Pohon Isa yang sangat keras, dan benar saya, rekan kami itu melahirkan. Kami terkejut, dan terhenyak, sebab di dekat bayi itu, mendadak ada sebuah pohon, yang mirip sekali pohon kurma, dan bayi itu seperti diliputi cahaya terang, sampai satu ruangan bisa saling melihat. Bayi itu menangis, tapi setelah kami dekati, ia malah seperti tertawa manis. Dia sudah bersih, entah kenapa. Kami cari-cari mana ibunya, ndak ada, kami takjub, jangan-jangan ibunya berubah jadi pohon itu. bayinya seperti sudah dimandikan dan dibungkus kain putih yang agak harum. Saya timang bayi itu, saya ciumi. Ndak tahu kenapa perasaan saya kok damai sekali. Seperti lupa penyiksaan-penyiksaan. Kami semua terpesona oleh bayi ghaib itu, dan ndak sadar kok kami mulai namai dia dengan aneh, seperti ada bisikan yang aneh, Isa, Isa, dan bayinya seperti mengerti, ia tertawa setiap kali kami bilang Isa, Isa, kami namai bayi itu Isa. Ia kami anggap Gusti, karena ajaib sekali, karena damai sekali. Gusti, bayi ini ajaib sekali. Kami yang ada dalam ruang penyiksaan tahanan itu menangis dan baru kali ini, rasanya kok menangis bahagia. Setelah bertahun-tahun, air mata kami rasanya hangat sekali. Karena Isa, karena Isa. Sementara pohonnya, di kegelapan penjara itu, muncul dan berakar begitu saya. Tentara-tentara pada subuh itu terkejut, dan memburu ke ruang tahanan kami. Mereka terkejut, seperti menyadari sesuatu dan merampas bayi itu, Isa, sambil teriak, sini! Ini urusan besar! Saya ndak dengar apa-apa di media massa, tapi ada teman yang mulai berbisik-bisik. Isa sudah lahir, dia yang menjadi penolong kita, meski kita tetap akan mati. Isa. Isa. Besoknya saya melihat seorang pria, umur 30-an bersih sekali seperti habis mandi, harum, pakai jubah putih kayak pastur tapi juga kayak kiai, berjalan ke depan ruang tahanan saya. BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 Cerpen: Legenda Pohon Isa Cerpen: Legenda Pohon Isa BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 Rambutnya panjang sebahu, kayak bukan orang asli Indonesia. Saya kaget, kok ndak ada yang ngawal? Apa sampeyan ini pejabat Provinsi? Tolong kami, kami ndak tahu ada apa. Dia hanya bilang sejarah ndak bisa diubah, sejarah itu suci dan di luar kemampuan dia. B eberapa belas tahun, beberapa puluh tahun, setelah akhirnya Pak Harto mundur dan meninggal, dan generasi kami menjadi tua dan menyimpan kenangan-kenangan 1965 dalam hati, dan masih merasakan sakit yang luar biasa, kami, mantan tahanan kamp itu, melihat banyak Isa-Isa muncul ke publik dan menyalibkan dirinya agar kisahkisah sejarah yang asli terkuak. Sementara Pohon yang tumbuh di kamar penjara itu, semakin tinggi dan raksasa saya. Kami namai pohon itu Pohon Kebenaran, sebab ia selalu mengingatkan kami tentang kebenaran sejarah yang saya ceritakan tadi. Di pinggir jalan, anda yang bermata tajam-teliti-akan melihat banyak sekali kayu salib yang tidak dinamai, yang asalnya dari anakanak-Isa-hasil perkosaan Gestok yang tak pernah diketahui siapa bapaknya. Sementara Pohon Kebenaran, makin besar dan makin kuat. Ia menerobos atap penjara, lantai demi lantai, dan menghancurkan bangunan penjara itu sepenuhnya. Akarnya merangsek, cepat sekali, menuju yalanyalan raya, dan menembus penjara-penjara lain. Di Plantungan, Wonodadi, Purwodadi, Bukit Duri, Bulu, semuanya, akar Pohon Isa itu menembus dan menumbuhkan thukulan pohon-pohon baru yang juga meruntuhkan penjara itu dan membebaskan tahanan-tahanan wanita di dalamnya, ribuan kilometer ke seluruh negeri. Akar-akarnya juga menembusi gedung pengadilan dan menumbuhkan perdu. Ia juga menembus Istana-Istana negara. Ia meyakinkan agar para penegak hukum membebaskan dan memproses secara hukum, apa yang sebenarnya terjadi. Seluruh kamp, sebagian besarnya, tempat saya dipenjara dan malam kelahiran Isa, sudah hancur, dan dipendam akar Pohon Kebenaran yang menjulang indah sekali. Bekas-bekas tahanan yang diperkosa itu, suka memanjati pohonnya dan tak kembali. Orang-orang yang lahir paska peristiwa 1965 itu takjub, dan mulai menguak-nguak misteri sejarah, membuka apa yang terjadi. Perempuan-perempuan yang tak kembali dari pohon itu dianggap sebagai saksi mati. Mereka korban, dan yang dijadikan bukti adalah Isa-Isa yang lahir dari rahim mereka selama di penjara, dengan misterius. Saya sendiri belum tahu kenapa saya dipenjara, entah golongan apa. Bapak sama Ibu saya, adik saya, sudah saya ikhlaskan, pasti tidak selamat. Sampai kini, Isa sering melintas, dan terlihat di jendela-jendela rumah dan penjara korban penyiksaan 1965... Sampai belakangan ini, saya sering berpapasan dengan Isa di pasar-pasar, di gereja, di masjid, di pinggirpinggir jalan, dan saya yakin hanya perempuan korban nista kejahatan 1965 yang bisa melihatnya, dan kalau ditanya, dia pasti menjawab: “ayahku adalah sejarah, yang menjadi daging. Ibuku Maryam, yang diperkosa zamannya, agar zaman ini ada.... "Sebelum pergi lagi, dia selalu bilang, "Tidak ada sejarah yang putih, tetapi semua sejarah itu suci..." dan d imikianlah, setiap korban penyiksaan Gestok yang hamil lalu melahirkan, pasti anaknya bernama Isa. Isa. Dia bilang, ayahnya Tuhan, dan tentara-tentara itu cuma media. Agar ibu-ibu mereka bisa hamil, dan Isa dilahirkan untuk bercerita kepada kita tentang kejamnya 1965. Dan hari ini, ketika saya coba melihatlihat kembali ke reruntuhan penjara tempat dulu Isa dilahirkan, pohon-Ibunya-sudah sangat tinggi. Beribu-ribu meter tingginya. Ia menghunjam langit, dan bisa dilihat masyarakat dari mana saya, tu Isa yang merawatnya. Karena pohon itulah, orangorang sekarang mulai berpikir kembali tentang pengadilan, keadilan, buat kami para korban kekerasan 1965. Siapa yang salah dan apa yang terjadi. A khirnya dibuatlah pengaduan. Dibuatlah Komisi Kebenaran, sebagai buah da/i Pohon Kebenaran Isa itu. saya akan terus menjaga pohon itu, ag * senantiasa orang-orang mengingat per stiwa dulu. Agar jangan lagi sejarah ditutup-tutupi. Kini banyak sekali pejabat publik yang berkunjung ke pohon itu dan turut memberikan perawatan. Di balik sejarah kelamnya, kita sama-sama mendengar, di Bali, limapuluh ribu. Di Jawa Timur, jujuhpuluh ribu. Di Jakarta, Jawa Barat, Yogyakarta, dan yang terkuak serta dengan tegas dicatat di Puncak Pohon Kebenaran, korban sesungguhnya mencapai sejuta orang perempuan dan laki-laki. Wakil jmenteri, menteri, komisi-komisi, dan panglimapanglima ABRI akhirnya bertekad membuka sejarah ini. Manak; berkembang biak, bahasa Jawa Saru; tidak sopan, bahasa Jawa Turu; Tidur, bahasa Jawa TK Melati; Taman kanak-kanak yang didirikan secara sukarela oleh unsur GERWANI dan lainlain, untuk melayani kebutuhan lidikan dini sebagai bentuk Y sosial organisasi tersebut, flahnya ribuan, tersebar di eluruh Indonesia pada kala itu. tetapi, paska Gestok, oleh pemerintah dianggap alat PKI. Maka TK-TK itu diruntuhkan dan dibubarkan Game; istilah para tentara untuk tahanan yang sudah dibunuh pada masa pencekalan paska 1 965. Gling; kena gangguan jiwa. BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 ^ ^ Cerpen: Legenda Pohon Isa HANTU KOMUNIS BERKELIARAN DI INDONESIA TEOI CHO Ada hantu berkeliaran di Eropa, hantu Komunisme. Semua kekuasaan di Eropa lama telah menyatukan diri dalam suatu persekutuan keramat untuk mengusir hantu ini: Paus dan Tsar, Metternich & Guizot, kaum Radikal Perancis dan mata-mata polisi Jerman - Kari Marx dan Frederick Engels. tulah paragraf pertama dari manifesto komunis yang ditulis oleh Kari Marx dan Frederick Engels. Dua guru besar dalam ilmu Sosialisme itu nampaknya telah memprediksi bahwa dimanapun, komunisme akan menjadi hantu. Tentu saya, hantu yang menakutkan bagi para penguasa yang beroposisi dengan faham tersebut. Namun, bukan soal munculnya komunisme yang akan kemudian dibahas. Terlebih lagi masalah hantu serta tahayul lainnya. Kebencian semua penguasa akan komunisme yang menjadikannya bak setan yang harus dibasmi, dengan cara apapun. Termasuk dengan membantai semua orang yang memperyuangkannya secara langsung (dengan membentuk partai), juga mereka yang sekedar mengimaninya (tertuduh). Di Indonesia, pembantaian itu terjadi 50 tahun yang lalu. Jutaan orang, bahkan Jenderal Sarwo Edhi Wibowo sempat dengan cukup bangga menyatakan, bahwa tak kurang dari 3 juta orang dibantai atas nama negara. Yang perempuan diperkosa, disiksa secara kejam, kemudian dibunuh secara sadis. Adapula yang hanya dipenjara tanpa proses pengadilan bagi mereka yang tertuduh. BHINNEKA / SEPTEMBER 2015 Hantu Komunis Berkeliaran di Indonesia? eristiwa yang sering disebut sebagai G30S itu memang menjadi sejarah hitam bagi sejarah. Sebuah genosida yang patut disandingkan dengan Holocaust ala Nazi di Jerman. Dari banyaknya darah yang tumpah itu lahirlah rezim orde baru: sebuah juru selamat palsu, yang berhasil menaklukkan sang hantu. Tak hanya nyawa yang hilang seiring jatuhnya Presiden Sukarno kala itu. Seperti kata John Roosa, identitas bangsa Indonesia berubah total sesudah tahun 1965. Citacita Indonesia yang demokratis, menjunjung tinggi perikemanusiaan dan perikeadilan, meniscayakan Bhinneka Tunggal Ika ikut terkubur bersama jutaan bangkai manusia sebangsa. Semua itu hanya demi menegakkan sebuah rezim yang pro-kapitalisme. Orde baru. Sistem kapitalistik yang berhasil memabukkan Indonesia itu akhirnya bertahan hingga sekarang. Orde baru berhasil membawa Indonesia menuju gerbang kehancuran dan negara tak tahu arah perjuangan. Melupakan kawan dan membungkuk terhadap lawan. Adalah Suharto yang yang memimpin rezim tersebut selama 32 tahun, la memang lihai menggunakan negara untuk membentuk sebuah bangsa anti dan phobia terhadap komunisme. Upaya yang The Smiling General lakukan misalnya dengan pembuatan film sejarah yang jauh dari kenyataan, membredel buku, memblokir buku, dan tindakan refresif lainnya. Tak hanya itu, terbit pula TAP MPR XXV/1 966 yang melarang penyebaran ajaran komunisme/marxime/leninisme. TAP ini berfungsi sebagai senjata yang ampuh untuk melumpuhkan manusia-manusia yang sudah dituduh sebagai komunis. Pembersihan PKI bukan tanpa sebab. Horst Henry Geerken dalam bukunya yang berjudul A Magic Gecko mencatat, ada peran Amerika Serikat (AS) lewat CIA di balik tragedi kemanusiaan dan penumbangan Presiden Sukarno tersebut. Pernyataan seorang Jerman ini didukung pula oleh sebuah video berjudul The Shadow Play (CIA roles in Indonesian Killings of 1 965-1 966). Apa tujuannya? Agar PKI tidak berhasil menanamkan ideologinya di negara terbesar se-Asia Tenggara ini. Lebih jauh, semangat sosialisme Indonesia kala itu sangat mengancam keadidayaan negara Paman Sam tersebut. Itulah titik awal bergesernya ideologi bangsa Indonesia hingga dewasa ini. Tumbangnya orde lama dan tegaknya orde baru akhirnya diserahkan kembali kepada sang sponsor. Setahun paska, Sukarno jatuh, lahirlah UU Penanaman Modal Asing (PMA). UU itu menjadi karpet merah bagi imperialis yang berhasil diusir oleh para pejuang revolusi. Mereka kembali datang untuk menjarah hasil bumi bangsa Indonesia. Kata-kata 'Go to hell with your aids' tak lagi keluar dan tertempel di pojok-pojok Indonesia. Bahkan, Indonesia seperti menjadi negara pengemis yang selalu meminta bantuan kepada negara lain. Semua itu menenggelamkan cita-cita Trisakti Bung Karno untuk menjadikan Indonesia negara yang berdaulat dalam ekonomi. Cengkeraman imperialisme itu bertahan hingga hari ini. Berbanding lurus dengan stigma negatif yang menempel di jidat keluarga korban pembantaian. Indonesia menjadi negara miskin secara ekonomi karena kekayaannya dirampas asing, tapi kaya akan kasus-kasus pelanggaran Hak Azazi Manusia (HAM) yang tak terselesaikan. Di tengah permasalahan yang tengah dihadapi Indonesia, muncullah Presiden baru. Joko Widodo. Setidaknya ada dua janji yang berkait kelindan dengan tulisan ini yang dia sampaikan pada masa kampanye capres lalu. Pertama, janji mengembalikan kembali cita-cita Trisakti yang dicetuskan Bung Karno. Entah itu hanya bualan di siang bolong atau hanya lips Service seorang pejabat yang tengah membutuhkan suara saat pemilu, yang jelas segenap rakyat menanti janji tersebut. Dan semua janji akan ditagih. Kedua, perihal peristiwa pelanggaran Hak Azazi Manusia (HAM) itu sendiri. Presiden yang akrab disapa Jokowi itu bahkan pernah berjanji akan mencabut TAP MPR XXV/1 966 jika terpilih menjadi presiden. Sayang, hampir setahun ia memimpin, belum nampak upaya dari pemerintah untuk merealisasikan ucapannya tersebut. Pun begitu pengentasan pelanggaran HAM 1 965. Belum nampak ‘hilal' penyelesaiannya. ragedi kemanusiaan 1 965 ini bisa diselesaikan secara yudisial dan non yudisial. Dalam bahasa lain, dengan rekonsiliasi nasional yang dibarengi dengan penegakan hukum. Rekonsiliasi tersebut bertujuan agar adanya rasa saling memaafkan antara korban dan pelaku. Termasuk negara yang meminta maaf dan mengakui adanya pemutarbalikan sejarah selama ini. Sementara upaya yudisial bisa dilakukan dengan membentuk Pengadilan HAM ad hoc. Ini bertujuan untuk melakukan penyelidikan, penyidikan hingga memberikan hukum yang jelas bagi para pelaku yang terbukti bersalah dalam kasus ini. Sehingga, kejadian serupa tidak terjadi lagi di masa yang akan datang. Cengkeraman imperialisme itu bertahan hingga hari ini. Berbanding lurus dengan stigma negatif yang menempel di jidat keluarga korban pembantaian. Indonesia menjadi negara miskin secara ekonomi karena kekayaannya dirampas asing, tapi kaya akan kasuskasus pelanggaran Hak Azazi Manusia (HAM) yang tak terselesaikan. Kenapa permasalahan ini sangat urgen untuk diselesaikan? Menurut Koordinator Kontras Haris Azhar, sekali peristiwa pelanggaran HAM terjadi dan tidak dikoreksi, maka negara akan mengulangi lagi. Negara akan merasa kebal. Pertanyaannya kalau tidak sekarang, kapan lagi ketidakadilan ini bisa dihapuskan? Jangan biarkan luka dan dosa itu gentayangan. Deklarasi Universal of Human Rights United Nations bagi para korban Genosida 1965 dan keluarganya, sangatlah jauh dari jangkauan dan sama sekali diabaikan di Indonesia. Ternyata bukan hantu komunis yang berkeliaran di Negara ini, tapi hantu Suharto dan Orde Barulah yang masih gentayangan sehingga sedikit keadilan bagi korban begitu sukarnya didapatkan. » TEDI CHO, Jurnalis dan Aktivis di Partai Rakyat Demokratik (PRD). BHINNEKA / SEPTEMBER 201 5 Hantu Komunis Berkeliaran di Indonesia? AWA TIMUR Surabaya (Pusat) Ongko Wijoyo (Kusuma Wijaya) Bhinneka Surabaya Malang Aji Prasetyo & itiz Mawon f Bhinneka Malang Tuban Kwang Yen Lie (085733361666) f Bhinneka Tuban KOORDINATOI Kediri Ockie Aryanto Genegus f Bhinneka Kediri Gresik Syafii Adnan Bhinneka Gresik Lamongan Yok's Kalacharaka Bhinneka Lamongan Madiun Marsiswo Dirgantoro f Bhinneka Madiun AWA TENGAH Solo Vika Klaretha Dyahsasanti f Bhinneka Solo Yogya Valentina Wiji f Bhinneka Yogya Salatiga U| Susi Erawati f Bhinneka Salatiga Semarang Wei Yank f Bhinneka Semarang AWA BARAT Jakarta Dede Dyandoko Kendro, Vie Kimchi, Vida Semito Bhinneka Jakarta Bandung Issaiah Fanny S Alam, Difa Kusumadewi f Bhinneka Bandung YAYASAN BHINNEKA NUSANTARA BALI Bali Lara Prasetya E3 Bhinneka Bali SULAWESI Makassar Ino Van Daanu f Bhinneka Makassar Kendari Rachman Kine f Bhinneka Kendari KALIMANTAN Balikpapan SkI Helga Worotican Dua Full f Bhinneka Balikpapan Samarinda Pebrianto Sarita Bhinneka Samarinda Pontianak GusTomGusTom f Bhinneka Pontianak SUMATERA Medan Dini Usman f Bhinneka Medan Bukittinggi T Ivans Haykel Bhinneka Bukittinggi Lampung : Sari Marlina Bhinneka Lampung Belitung Kie Guevara f Bhinneka Belitung Edward Soitcountry, Diah Wahyuningsih Naat f Bhinneka Batam Yayasan ini didirikan oleh Su Cen Marching pada bulan Juli 201 5. Berpusat di Surabaya dan saat ini memiliki cabang-cabang di: