Tamasya Taman Bunga: Mencari Mia Bustam (zine, 2025)
Cleaned OCR text (Fair; proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
Title: Bersemai Sekebun (2025) - Tamasya Taman Bunga, Mencari Mia Bustam (zine) [archive.org] Source: Internet Archive, https://archive.org/details/tamasya-taman-bunga-mencari-mia-bustam Date retrieved: 2026-10-19 OCR text (_jvu.txt)
AMASYa
Taman
— - a 131
3; 4 Sig
MENCARI MIA-BUSTAM
Buklet Tamasya Taman Bunga “Mencari Mia Bustam”
2025
kontributor: i
ALVIN HIDAYAT
| EFFENDI AZHARI
| PUJO NUGROHO
arsip berita
MUCHAMAD FATAH AKROM
IHSANUDDIN
gambar sampul
HANANINGSIH WIDHIASRI
| fotografi
| RAFI ARIF LEKSONO
desain dan tata letak
@semogabarokahwerk di Studio Berbahagya
diproduksi oleh
Bersemai Sekebun dan Lauk Buku
Mencari Mia Bustam,
Sebuah Pengantar
PUJO NUGROHO
Mia Bustam, dan para seniman perempuan lain, namanya memang tidak sepopuler seniman laki-laki seangkatannya.
Setidaknya, ada tiga lapisan alasan mengapa situasi itu berlangsung. Alasan pertama adalah karena ia adalah perempuan. Realitas masyarakat Indonesia yang masih patriakis dan cenderung feodal, selalu menempatkan perempuan di belakang laki-laki. Sehingga seniman
| perempuan dan karya-karya selalu
dianggap sebagai pelengkap dalam narasi kesenian yang didominasi laki-laki.
Seringkali, Mia Bustam diingat hanya sebagai istri pertama dari Sujoyono yang dinobatkan sebagai bapak seni rupa
modern Indonesia.
TAMASYA TAMAN BUNGA
Alasan kedua, karena Mia Bustam pernah menjadi tokoh Lekra (Lembaga Kebudayaan Rakyat) bahkan menjadi ketua Lekra cabang Yogyakarta. Hingga hari ini, dalam wacana kebudayaan, eksistensi Lekra seringkali dianggap hanya sebagai mesin propoganda partai komunis. Sehingga praktik-praktik yang dilakukan Lekra sering dilihat hanya sebagai “tugas partai” dan karya-karya yang a 4 diproduksi dimaknai hanya sebegai “pesanan partai.”
Mutu seni Lekra tak jarang masih diperdebatkan. Tokoh dan karya-karya tidak sedikit yang diletakkan sebagai “pertukangan.” Alasan kedua ini yang akan membentuk alasan ketiga, lapis paling tebal yang membuat seniman sebernas Mia Bustam hamanya sangat sedikit muncul dalam sejarah Indonesia.
Dan yang ketiga adalah karena Mia Bustam adalah seorang tahanan politik Orde Baru. Pada November 1965, ia ditangkap oleh tentara. Selama lebih dari tiga belas tahun dipaksa mengembara dari tempat penahanan satu ke penjara yang lain. Mulai dari Benteng Vredeburg, Penjara Wirogunan, Kamp Plantungan, hingga Lembaga Pemasyarakatan (LP) Bulu pernah menjadi saksi kekejaman rezim militeristik Orde Baru yang turut menimpanya.
Politik Orde Baru dibangun atas penghancuran kelompok Kiri dan loyalis Sukarno. Banyak sekali intelektual politik dan budaya yang dihilangkan dan kontribusinya dihapuskan hanya karena ‘mereka Kiri. Produk dan praktik pengetahuan yang dikerjakan oleh mereka
dilabeli terlarang. Padahal kalau mau
MENCARI MIA BUSTAM
sedikit merendah hati, cukup banyak sumbangan intelektual para tokoh-tokoh | progresif tersebut dalam upaya lepas | dari kolonialisme dan pembentukan identitas kebangsaan.:
Ketiga uraian di atas menjadi penyebab mengapa nama Mia Bustam seakan _ tenggelam. Politik amnesia itulah yang | membuat namanya dan rekan-rekannya di Lekra seolah lenyap begitu saya dari ingatan publik, dan baru muncul kembali
pada tahun 2006 setelah menerbitkan memoar pertama Sujoyono dan Aku.
Padahal jika kita mau mengakui dan dengan sabar mulai membaca keempat
memoar yang telah ditulisnya, akan segera kita ketahui bahwa alasan-alasan di atas adalah sesuatu yang dibuat-buat.
Kejahatan kemanusian 1965, tidak hanya telah mencerai-berikan Mia Bustam dengan keluargannya. Namun telah mengubah seluruh aspek kehidupan di Indonesia, termasuk mengontrol siapa yang harus dikenal dan tidak.
Di Semarang
Perkenalan penulis dengan Mia Bustam mungkin bisa dibilang belum terlalu lama. Pada tahun 2019, penulis terlibat festival Tengok Bustaman yang diselenggarakan oleh Kolektif Hysteria. Festival dua tahunan ini merespon Kampung Bustaman sebagai situs spesifik yang direspon oleh beberapa seniman dan partisipan
| TAMASYA TAMAN BUNGA
| festival. Kala itu, Mia Bustam menjadi salah satu nama
| tokoh yang digarap oleh kelompok seniman dari
| Surabaya, Popcorn. Karya tersebut mencoba menangkap
| ingatan dan pengetahuan warga Kampung Bustaman akan sosok Mia Bustam meski sebenarnya ia tidak pernah
| tinggal di kampung tersebut. E
Kelak penulis tahu bahwa hubungan Mia Bustam dengan Kota Semarang tidak hanya tentang Kampung Bustaman.
Banyak lokasi yang pernah menjadi bagian hidup seorang Mia Bustam. Mulai dari rumah kerabatnya di Baterman yang pernah ia singgahi sesaat akan menikah, makam ayah dan trah Kertoboso di Bergota, Penjara Bulu tempat beliau pernah ditahan, hingga rumahnya yang ada di Jrakah yang menjadi ruang: pemulihannya. Semarang adalah ruang di mana naik-turun kehidupan Mia Bustam menjadi sejarah yang ia tuliskan sendiri.
| Semenjak itu, penulis mengulik tentang hubungan Mia
| Bustam dan kawasan Semarang melalui penelurusan pada memoar dan dalam beberapa waktu terakhir melalui penuturan Sri Nasti Rukmawati, anak kedua Mia Bustam yang juga sempat tinggal di Semarang dalam beberapa waktu. Berikut adalah beberapa lokasi-lokasi di Semarang yang akan membantu kita memahami kehidupan
| seorang Mia Bustam. Mulai dari memaknai kepriyayian
diri dengan penelusuran nenek moyang; merayakan
butterfly era setelah pernikahan; menjadi tahanan
politik Orde Baru; hingga masa-masa ia menyembuhkan
diri dan memulai kehidupan baru. Semarang menjadi
| saksi lokasi seorang Mia Bustam pernah mengalami
| | pasang surut kehidupan seorang manusia.
ESE ell
MENCARI MIA BUSTAM
Kampung Bustaman
Kampung Bustaman merupakan sebuah kampung lama yang terletak di Kelurahan Purwodinatan, Semarang Tengah.
Nama Bustaman berasal dari Kyai Kertoboso Bustam (1681-1759), seorang juru tulis yang membantu memediasi Perjanjian Giyanti. Selain Mia Bustam, pelukis Raden Saleh juga merupakan keturunan Kyai Kertoboso Bustam. Kini, Kampung Bustaman dikenal luas dengan kuliner khas olahan daging kambing yang disebut Gule Bustaman, serta tradisi perayaan menjelang Ramadhan yang ikonik, Gebyuran Bustaman.
“ Salah satu yang telah menurunkan diriku adalah Kiai Bustam. Beliau seorang jaksa di Semarang dan merupakan juru bicara dan penerjemah bagi Belanda pada Perjanjian Giyanti 1755.
Aku sering menyesali Kiai Bustam itu, mengapa dia tidak patriotik seperti Pangeran Diponegoro, Untung
Suropati, atau Trunojoyo. Mengapa justru menjadi jaksa di Semarang. Aku tidak tahu, apa kerjanya sebagai jaksa itu, dan tidak ingin tahu. Yanganyangan malah tambah kecewa lagi.
(Mutiara Kisah Masa Lalu, hlm. 5)
TAMASYA TAMAN BUNGA
Pemakaman Bergota Krajan
Lokasi ini adalah komplek pemakaman yang telah berusia cukup lama di Semarang. Banyak sekali tokoh-tokoh bangsawan yang dimakamkan di lokasi tersebut, termasuk para bupati Semarang yang beberapa di antaranya adalah kerabat jauh Mia Bustam. Di salah satu lokasi di puncak Bukit Bergota terebut, ayah Mia Bustam, Sasmojo diistirahatkan.
Bapak dikebumikan di Bergota, di samping makam Yang Kakung yang telah meninggal pada tahun 1956. Kelak pada tahun 1968, Yang Yi dikebumikan di samping Bapak. Jadi Bapak diapit oleh kedua mertuanya.
~ Karena Bapak meninggal di Semarang, maka Pemakaman Bergota adalah tempat peristirahatan Bapak yang terakhir. Berkumpul bersama keluarga Bustaman.
(Mutiara Kisah Masa Lalu, hlm. 76)
Kalau kebetulan singgah di Semarang, bisa berziarah ke makam Bergota, tempat pemakaman beberapa leluhur kami. Aku kurang tahu di mana letak makam Mbah Bustam. Apakah juga di Bergota atau di tempat lain di Semarang? Juga makam Kiai Terbaya yang kau tidak pernah tahu letak makam beliau.
(Mutiara Kisah Masa Lalu, hlm. 93)
71 7 p
| TAMASYA TAMAN BUNGA
Kampung Baterman
| Kampung Baterman juga salah satu kampung tua di
| Semarang yang letaknya ada di salah satu gang di Jalan Depok, Semarang Tengah. Nama kampung ini diambil dari nama seorang Belanda, Waterman, yang mula-mula tinggal di kawasan tersebut. Di kampung ini, salah satu kerabat Mia Bustam, Eyang pernah tinggal.
Di Semarang kuajak Mas Jon sowan Eyang Panji Putri Pratiktomijoyo di Kampung Baterman. Beliau ini kakak Eyang Kakung. Kami sowan sekadar memenuhi adat Jawa. Mohon doa restu dan sekalian mohon diri ke Jakarta. Kemudian ternyata itulah pertemuan terakhir kali dengan Eyang Panji.
(Sujoyono dan Aku, hlm. 18)
Lembaga Pemasyarakatan (LP) Wanita Bulu LP ini merupakan salah satu penjara yang sudah ada sejak zaman kolonial. Hampir semua perempuan yang menjadi tahanan politik 1965 yang pernah menghuni Kamp Plantungan, harus melalui masa transisi di penjara ini sebelum dipulangkan. Mia Bustam menghuni LP ini selama | kurang lebih 2 tahun. Ia mendapat sebuah ruang khusus untuk menjalankan ritual sebagai penganut “agama Buddha.”
“ Di Bulu, seperti halnya di Plantungan, kami pun pada hari-hari tertentu didatangi pembimbingpembimbing mental dari luar, entah itu rohaniawan Islma maupun Kristen, seorang dari Kepolisian atau Kodam.
(Dari Kamp ke Kamp, hlm. 330)
mama
| TAMASYA TAMAN BUNGA
| | Rumah pribadi di Jrakah Rumah ini merupakan rumah pribadi Mia Bustam yang dibelinya setelah menjual aset yang ada di Yogyakarta.
Rumah ini ia tinggali hingga tahun 1985 sebelum akhirnya ia tinggal bersama Sri Nasti Rukmawati di Depok hingga meninggal pada tahun 2011.
| Setelah selama lima tahun lebih tinggal di Noroyono | bersama Atik dan Nasti, akhirnya aku ingin punya
i rumah sendiri. Tahanku ada di Kecamatan Tugu, seluas 1.200 m2, tetapi uang tidak ada.
(Kelinda Asa dan Kenyataan, hlm. 91)
Selama 14 tahun tinggal di rumah itu, aku merasa bahagia sekali. Aku bisa menikmati semua buahbuahan, mengamati burung gereja makan, minum, dan mandi sambil duduk di atas tangga pintu belakang.
(Kelinda Asa dan Kenyataan, hlm. 104)
Tentu masih ada banyak lagi tempat-tempat di Semarang | yang pernah dikunjungi Mia Bustam. Mulai dari Pasar | Johar, rumah anak-anaknya di Semarang Barat, Klenteng | Sam Po Kong, lokasi bedah buku pertamanya di Rumah Seni Yaitu, dan masih banyak lagi tempat yang dapat ditelurusi dari keempat memoarnya.
mm aa
Membaca Keadaan Politik melalui Karya Tulis
Mia Bustam
ALVIN HIDAYAT
Tulisan ini berawal dari sebuah diskusi kecil tentang Mia Bustam di kedai kopi Munasiah yang terletak di belakang Stadion Diponegoro, Semarang. Dalam forum sederhana itu, saya duduk seperti orang bodoh, mendengarkan nama yang asing di telinga, padahal diucapkan dengan hormat oleh mereka yang paham sejarah pergerakan dan sastra Indonesia.
Malam itu saya menyadari betapa sempit pengetahuan saya tentang salah satu sosok perempuan yang menulis di tengah gelombang politik yang keras dan menakutkan. Sejak saat itu, saya mulai mencari dan membeli buku-buku karya Mia Bustam. Saya ingin memahami mengapa kisahnya penting bukan hanya bagi sejarah sastra, tetapi juga bagi mahasiswa politik seperti saya yang sedang belajar membaca kekuasaan dan negara melalui kata.
TAMASYA TAMAN BUNGA
Pengalaman membaca Mia Bustam membuat saya
menyadari bahwa politik bukan hanya soal
pemerintahan atau lembaga formal, tetapi juga
tentang manuver, strategi, dan perjuangan individu
maupun kelompok untuk mendapatkan hak, pengakuan,
dan ruang dalam masyarakat. Oleh karenanya, keadaan
politik dapat dipahami sebagai gambaran nyata
tentang bagaimana kekuasaan, aturan, dan hubungan
antarindividu atau kelompok dijalankan dalam
Mi masyarakat pada suatu waktu tertentu. Ia
| mencerminkan tidak hanya siapa yang memegang
kendali dan membuat keputusan, tetapi juga
| bagaimana norma sosial, kebiasaan, dan praktik
| sehari-hari membentuk interaksi sosial serta menentukan siapa yang memiliki akses dan pengaruh.
| Hal inilah yang terlihat jelas dalam tulisantulisan Mia, di mana ia merekam pengalaman pribadi dan kolektif perempuan di tengah tekanan politik,
| | norma sosial yang mengekang, dan kekerasan
struktural yang berlangsung pada masanya.
Setelah membaca beberapa tulisan tentang Mia Bustam, saya semakin percaya bahwa ia bukan sekadar nama di pinggiran sejarah sastra Indonesia. Ia adalah suara yang muncul dari dalam ruang yang tidak sederhana: seorang seniman dan penyintas yang menulis tentang kegelapan sejarah tanpa perlu menuding. Lahir di Purwodadi, Jawa Tengah, pada 1920, Mia tumbuh di
| || tengah perubahan sosial besar: dari
kolonialisme Belanda, Revolusi
MENCARI MIA BUSTAM
Kemerdekaan, hingga kekerasan politik 1965 yang menelan ribuan jiwa dan menghancurkan banyak kehidupan pribadi. Dalam pusaran itu, ia tidak hanya menjadi saksi, tetapi juga korban. Melalui tulisannya, terutama Dari Kamp ke Kamp (2008) dan Kelindan Asa dan Kenyataan (2022), ia memotret secara intim bagaimana politik bisa menembus ruang paling privat: rumah, tubuh, dan kenangan.
Karya Dari Kamp ke Kamp adalah memoar, tetapi ia menolak bentuk memoar konvensional yang penuh kronologi dan kepastian. Justru sebaliknya, ia menyusun serpihan ingatan dengan nada getir:
“ Aku tak tahu kapan semua ini dimulai. Tahu-tahu dunia menjadi hitam. Nama kami disebut musuh, padahal aku hanya ingin hidup tenang.
Dalam kalimat ini, pembaca segera dihadapkan pada absurditas kekuasaan yang menuduh tanpa bukti. Kesaksian Mia adalah suara dari yang tak diberi hak bersuara. Seperti dijelaskan Michel Foucault bahwa kekuasaan bekerja bukan hanya dengan
penindasan, melainkan melalui
i TAMASYA TAMAN BUNGA
pengaturan wacana menentukan siapa yang boleh | berbicara dan siapa yang dibungkam (Discipline and Hi} Punish, 1995). Maka, menulis bagi Mia adalah tindakan politik, bukan sekadar ungkapan pribadi. Ia menulis untuk mengisi ruang hening yang dipaksakan oleh rezim | | Orde Baru.
Selama bertahun-tahun di penjara Plantungan, Mia | mengalami berbagai bentuk kontrol sosial terhadap
| perempuan tahanan. la menulis masih dengan nada yang ri sama:
| “Kami diajari menjahit dan menyanyi, seolah-olah kesalahan kami bisa ditebus dengan kerja yang sopan.
Pernyataan ini menyentil kebijakan simbolik Orde Baru terhadap perempuan yang disebut “re-edukasi.
Julia Suryakusuma (2011) menjelaskan bahwa rezim Suharto menundukkan perempuan melalui ideologi domestikasi perempuan diposisikan sebagai ibu rumah tangga dan pelengkap laki-laki. Maka, praktik “pendidikan moral” di penjara adalah bentuk lain dari represi: negara menata kembali tubuh perempuan sesuai moralitas yang diciptakannya sendiri. Di sini, tubuh menjadi arena politik, dan narasi Mia mengungkap bagaimana represi ideologis menjelma dalam kerja harian yang tampak remeh: menjahit, bernyanyi,
| Namun, Dari Kamp ke Kamp tidak berhenti sebagai | catatan penderitaan. Ia menolak menjadi teks korban.
Ia adalah teks penyintas yang menulis bukan untuk
MENCARI MIA BUSTAM
menuntut balas, tetapi untuk merebut kembali hak atas sejarah.
Dalam satu bagian, Mia menulis:
Aku tidak ingin membalas siapa pun. Aku hanya ingin menulis agar anak cucuku tahu, bahwa sejarah juga pernah salah.
Kutipan ini mencerminkan posisi moral yang khas dalam kesusastraan pasca-tragedi 1965. Ia tidak menggunakan nada dendam, tetapi nada peringatan. Ia menulis agar kebenaran personal dapat menembus tembok narasi resmi negara. Dalam pandangan Walter Benjamin (Theses on the Philosophy of History, 1969), sejarah yang diceritakan oleh pemenang selalu mengubur suara yang kalah. Karya Mia adalah upaya menggali puing-puing itu menulis sejarah dari bawah, dari sisa-sisa yang ditinggalkan oleh kekuasaan.
Membaca Keadaan Politik dalam Karya Mia Bustam
Memoar Kelindan Asa dan Kenyataan diterbitkan pada 2022, beberapa tahun setelah Dari Kamp ke Kamp diterbitkan. Bila karya sebelumnya bernuansa kesaksian, maka buku ini lebih reflektif, mencoba memahami kembali makna hidup setelah kehancuran. Dalam salah satu bagiannya, Mia menulis:
TAMASYA TAMAN BUNGA
Yang paling menyakitkan bukan penjara, tapi ketika orang yang dulu mengaku kawan berpaling seolah tak pernah mengenal.
Kalimat ini memperlihatkan pergeseran dari trauma menuju pemahaman sosial. Kekuasaan Orde Baru tidak hanya menindas secara fisik, tetapi juga menghancurkan jaringan kepercayaan antarwarga. Politik menjadi kekuatan yang mengatur bahkan cara manusia bersahabat.
Merujuk istilah Hannah Arendt (The Origins of Totalitarianism, 1951), kekuasaan totalitarian menciptakan keterasingan massal, membuat individu tak percaya satu sama lain. Narasi Mia adalah bukti kecil dari gejala besar itu.
Pendekatan historis-politik memungkinkan pembacaan karya Mia sebagai dokumen sosial, bukan hanya karya sastra. Setiap fragmen pengalamannya membuka pintu menuju realitas politik yang lebih luas. Ketika ia menulis tentang pekerjaan menjahit, kita membaca upaya rezim untuk mendomestifikasi perempuan. Ketika ia menulis tentang lapar, kita membaca bagaimana negara mengatur kebutuhan dasar manusia sebagai alat kontrol.
Bahkan ketika ia menulis tentang keheningan malam di kamp, kita membaca kehadiran kekuasaan yang diam
tapi mencekam.
Benedict Anderson dalam State and
Civil Society in Indonesia (1998)
menjelaskan bahwa pasca-1965,
negara menciptakan “monopoli
interpretasi” terhadap sejarah yang
menempatkan seluruh oposisi sebagai: ancaman terhadap stabilitas
E AAA
MENCARI MIA BUSTAM
nasional. Narasi seperti milik Mia adalah antitesis terhadap monopoli itu. la memperlihatkan bahwa di balik narasi “stabilitas nasional,”
terdapat ribuan kehidupan yang hancur, keluarga yang, tercerai, dan perempuan yang dihapus dari sejarah.
Dengan menulis, Mia menegaskan kembali posisi perempuan sebagai subjek politik. Ia menyadari bahwa “perempuan yang diam” adalah bagian dari proyek kekuasaan. Karenanya, ia menggunakan pena sebagai alat pembebasan. Dalam konteks ini, karya Mia dapat dibaca melalui teori posmemori Marianne Hirsch (The Generation of Postmemory, 2012):
tulisan pasca-trauma yang berfungsi mentransmisikan pengalaman sejarah kepada generasi berikutnya. Ia menulis bukan untuk dirinya, tetapi untuk anak cucu bangsa agar tidak melupakan bagaimana kekuasaan bisa membutakan nurani.
Mia menulis tentang kehilangan yang paling sunyi atas keluarga, cinta, dan identitas perempuan. Dalam salah satu bagian, ia mengenang anak-anaknya yang jauh:
“ Aku menatap langit setiap malam, berharap mereka juga menatap langit yang sama.
MENCARI MIA BUSTAM
Di sini, karya Mia tidak hanya menjadi arsip sejarah, tetapi juga arsip emosional bangsa. la merekam bagaimana kekuasaan bisa merampas hubungan manusia dengan sesamanya, dan bagaimana menulis menjadi satu- | satunya cara untuk tetap menjadi manusia.
| Tulisan Mia Bustam dalam suratnya kepada Kartika
| Saptohudojo yang dimuat di Harian Rakyat pada 27 Februari 1969, “Haruskah Seniwati Memisahkan Diri dari Seniman?,” merekam keadaan sosial-politik zamannya:
“ Sekali lagi, Tika, ide itu pada hakekatnya memang bagus. Tapi apakah benar, kalau kita mau menandingi kaum lelaki, untuk berkelompok bergerak hanya di kalangan sendiri saya? Saya kira,
| perkembangan kita akan terlalu
| eenzydig, terlalu condong ke satu
| sisi saya. Menurut pendapat saya, dalam bidang kesenian tak ada sexe (editor: gender), tak ada wanita atau pria, karena seni sendiri tak kenal sexe. Seni lahir dari jiwa yang berseni, tidak peduli apakah dia itu wanita atau pria. Dan dia adalah benar yang bisa menuang dalam keseniannya, segala yang bergetar dan bergejolak dalam zamannya, maupun dalam jiwanya. Dan kebesaran ini pun tak kenal
TAMASYA TAMAN BUNGA
Kutipan ini tidak hanya bicara tentang seni, tetapi juga merefleksikan kondisi sosial-politik perempuan pada zamannya. Pada periode tersebut, perempuan sering dibatasi ruangnya, baik dalam ranah publik, politik, maupun kesenian, dan masih menghadapi tekanan patriarkal yang kuat. Dengan menekankan bahwa seni “tidak kenal sexe,” Mia Bustam sehenarnya menantang norma sosial yang membedakan kemampuan berdasarkan gender. Ia menyuarakan bahwa kualitas dan kebesaran karya lahir dari jiwa yang berseni, bukan dari identitas biologis atau status sosial, sekaligus menegaskan hak perempuan untuk bersuara dan berpartisipasi dalam ranah publik.
Selain itu, kritiknya terhadap isolasi kelompok perempuan bergerak “hanya di kalangan sendiri"
menunjukkan kesadaran politik: segregasi gender bisa membatasi pengaruh dan perkembangan perempuan. Dalam konteks sejarah politik Indonesia, ini mencerminkan perjuangan perempuan menembus dominasi patriarkal, di mana pergerakan sosial, budaya, dan intelektual mereka sering dipinggirkan. Pernyataan Mia menjadi suara yang memperjuangkan ruang bagi perempuan untuk berkreasi, bersuara, dan berkontribusi terhadap perubahan sosialpolitik tanpa dibatasi norma gender.
Karya Mia bukan hanya memoar personal, melainkan dokumen politik yang mengungkap cara negara membentuk, menghancurkan, lalu dilawan oleh individu. Kekuatan tulisan Mia terletak pada kejujurannya yang nyaris tanpa pretensi. Ia tidak berusaha membangun mitologi baru tentang korban. Ia menulis dengan bahasa yang tenang, namun tajam. Bahasa yang seperti batu kecil di
MENCARI MIA BUSTAM
tepi sungai sejarah besar: tampak kecil, tapi menjadi tanda bahwa sungai itu pernah mengalir di sana.
Dalam satu kalimat yang saya sukai, dan menjadi penutup dalam tulisan ini, Mia Bustam menulis:
“ Macam-macam saya yang akan jadi halangan bagi kita. Lebih baik kita bertekad dalam hati: asal kita bersungguh-sungguh kerja dan keluar dengan hasil yang nyata, dengan sendirinya kita akan dihargai dan dianggap setara dan takkan ada lelaki yang bisa senyum-senyum pada usaha kita.”
Kalimat ini dapat dibaca sebagai deklarasi etis sekaligus politis: bahwa kesetaraan tidak diberikan begitu saya, tetapi diperoleh melalui kerja keras dan keteguhan hati, dan bahwa perjuangan perempuan untuk diakui adalah bentuk keberanian yang nyata di tengah struktur sosial patriarkal.
kek
TAMASYA TAMAN BUNGA
Daftar Bacaan
Anderson, Benedict R. 0'G. State and Civil Society in Indonesia. Ithaca: Cornell University Press, 1990.
Arendt, Hannah. The Origins of Totalitarianism. New York: Harcourt, Brace & Company, 1951.
Benjamin, Walter. Theses on the Philosophy of History.
In Illuminations, ed. Hannah Arendt. New York: 7 Schocken Books, 1968.
Bustam, M. (1968, 27 Februari). Haruskah Seniwati Memisahkan Diri dari Seniman? (Surat Kepada Kartika Saptohudojo). Harian Rakyat. |
Bustam, Mia. Dari Kamp ke Kamp. Jakarta: Spasi & VHR Book, 2008.
Bustam, Mia. Kelindan Asa dan Kenyataan. Bandung:
Ultimus, 2022.
Foucault, Michel. Discipline and Punish: The Birth of the Prison. New York: Vintage Books, 1977.
Hirsch, Marianne. The Generation of Postmemory: Writing and Visual Culture After the Holocaust. New York:
Columbia University Press, 2012.
Suryakusuma, Julia. State Ibuism: The Social Construction of Womanhood in New Order Indonesia.
Jakarta: Komunitas Bambu, 2811.
“IT A
¡€ XA ne ee
Mempelajari Hidup
Berlembar-lembar
EFFENDI AZHARI
Perkenalan saya dengan Mia Bustam barangkali adalah ketidaksengajaan.
Di akhir tahun 2022 saya diajak oleh teman untuk membuat pemutaran film Lagu Untuk Anakku karya Shalahuddin Siregar dan bertemu langsung dengan Ibu-Ibu Dialita.
Waktu itu saya berpikir bahwa inilah pertama kali saya bertemu penyintas kejahatan kemanusiaan 1965 dalam hidup Saya. Sebelumnya saya sudah mengetahui mengenai 1965 namun belum cukup aktif untuk mencari tahu lebih lanjut mengenai peristiwa kejahatan kemanusiaan itu. Setelah acara pemutaran tersebut, barulah saya bertanya kepada ayah saya mengenai sejarah keluarga yang ternyata memiliki hubungan dengan tragedi tersebut.
Dari cerita di malam tersebut saya akhirnya mendapati bahwa kakek saya pernah ditangkap dan dipenjara selama 3 tahun karena dianggap terlibat dengan PKI.
aa uu
TAMASYA TAMAN BUNGA
Berbekal dari keterhubungan saya secara keluarga terhadap peristiwa 1965-66, saya mencari tahu lebih lanjut mengenai peristiwa tersebut. Tentu saya membeli buku adalah salah satu upaya minimal untuk mengetahui suatu hal. Namun, saya tak secara langsung membeli buku yang menjelaskan tentang peristiwa 1965. Saya memilih salah satu buku berjudul Marx, Kapital, dan Antropologi, yang merupakan suntingan Dede Mulyanto.
Maklum sebagai mahasiswa baru yang ingin tahu mengenai ‘ideologis’ maka Marxisme menjadi seksi dalam memantik ketertarikan saya, apalagi selain kejahatan kemanusiaan dan genosida yang terjadi di tahun 1965-66 saya pikir sejarah Marxisme di Indonesia pun turut hilang bersamaan dengan hancurnya intelektual di tahun itu.
Namun bersamaan dengan itu, saya melakukan check out buku berjudul Dari Kamp ke Kamp, memoar kedua Mia Bustam dengan tanpa tahu sama sekali siapa penulis buku ini. saya hanya tertarik dengan judul besarnya yang menggunakan kata ‘kamp’ dan juga saya sedang menggemari genre buku memoar. Bahkan saya tak memerhatikan bahwa buku ini adalah seri kedua yang seri pertamanya pun belum pernah saya baca. Namun buku tersebut malah membawa saya jauh mempelajari hidup dan kegigihan melebihi bayangan saya sewaktu memutuskan untuk membeli buku ini.
Agak susah memahami halaman awal dari Dari Kamp ke Kamp bagi saya karena terputus konteks dan cerita dari memoar sebelumnya, Sujoyono
' dan Aku. Saya bahkan tak tahu siapa
MENCARI MIA BUSTAM
sosok ‘Mas Jon’ yang dimaksud dalam beberapa bagian awal.
Sebegitu kosongnya saya dalam pengetahuan sejarah seni rupa dan segala perihal kebudayaan. Namun saya mulai mengrenyutkan dahi dan memicingkan mata ketika bab keempat “Lomba Kebersihan dan Keindahan.”
Mia Bustam menceritakan pengalamannya ketika ditunjuk menjadi juri kebersihan kota dan mengunjungi beberapa kota salah satunya adalah Salatiga, kota saya.
Meskipun tidak banyak yang ia ceritakan mengenai Salatiga, namun catatan Mia Bustam sangat penting.
“ Sesudah Magelang, kota berikutnya adalah Salatiga. Aku pun tak ingat apa saya yang kami | nilai, di antara penduduk | Salatiga dan sekitarnya banyak | berpendirian kiri, walikotanya | pun adalah anggota PKI, dan kelak, pada Tragedi 1965, | dibunuh bersama dalang wanita yang antara lain menggubah lagu “Blonjo Warung”. Suaminya juga dibunuh.
Paragraf ini menjadi titik awal saya menelisik dan mencari tahu mengenai hubungan lebih detail kota saya Salatiga dengan peristiwa 1965 yang sungguh luar biasa
te O ee ne
TAMASYA TAMAN BUNGA
saya temukan di kemudian hari. Saya bahkan menemukan kembali lagu Blonjo Wurung (sepertinya Mia atau tim editor salah ketik) dan juga informasi mengenai penciptanya bernama Sujud dan istrinya. Catatan ini sungguh sangat penting.
Ketertarikan saya makin tergugah pada bab-bab Dari Kamp ke Kamp selanjutnya. Cerita-cerita kesederhanaan yang ditulis begitu membawa saya sangat dekat dengan kehidupan Mia. Saya belajar mengenai ketelitian Mia dalam melakukan setiap hal. Sebagai Ibu yang juga aktif dalam organisasi SIM ataupun Lekra, saya melihat hidup yang begitu terampil. Mia bahkan menuliskan segala perasaannya dengan jujur, satu hal yang seolah sangat susah sekali saya lakukan waktu itu.
Makin lagi ketika saya membaca cerita ketika Mia dipenjara mulai dari penangkapan hingga berpindahpindah, Mia masih mempertahankan ketegaran, kegigihan, dan tetap menjunjung keadilan meski dalam kondisi seperti apapun. Ia bahkan masih tetap melukis dan melakukan kegiatan-kegiatan yang menjadi ketertarikannya seperti merajut, menanam, dan sebagainya. Bukannya meromantisasi keadaan penjara namun saya pikir ketika saya berada dalam posisi Mia mungkin saya hanya akan terpuruk dan tak memiliki angan lain agar tetap merawat hidup.
MENCARI MIA BUSTAM
Saya tak kuasa menahan tangis ketika membaca bab 48 “Bayi-Bayi dalam Tahanan” karena ini sangat tak terbayangkan oleh saya menyaksikan balita yang bertumbuh di penjara. Hingga saya kemudian menemui salah saty penyintas yang dirinya juga lahir di dalam penjara Salatiga karena ibunya ditangkap sewaktu mengandungnya. Ia bernama Pak Kuncoro karena lahir di dalam penjara sehingga dinamai demikian.
Betapa kejinya Suharto hingga bayipun menjadi korban dari kejahatan terstruktur negara. Dari dalam Penjara Wirogunan, Mia menceritakan kehidupan bayi-bayi ini, saya terenyuh ketika mereka kaget melihat benda yang asing bagi mereka karena tidak pernah ada di dalam penjara,
“ Kelucuan-kelucuan anak-anak itu mampu menghibur kami orang-orang dewasa. Namun demikian, penjara bukanlah tempat yang baik untuk membesarkan anak. Meskipun balita-balita itu cukup cerdas, tetapi mentalnya tidak akan bisa berkembang dengan normal. Misalnya, waktu seorang petugas mengembangkan payung, mereka kaget setengah mati, dan ketika seekor ayam jago tersasar ke Blok F dan berkokok-kokok ribut sambil terbang ke sana kemari mereka menangis menyericerit ketakutan. Tambahan lagi mereka bisa membahayakan kami dalam hal-hal tertentu.
AA th AM ANN ee-.an
vall
TAMASYA TAMAN BUNGA
Saya mungkin tak dapat membayangkan suatu kehidupan yang begitu menggugah untuk dijalani disaat keadaan hidup di titik tak layak diperjuangkan tanpa membaca Mia. Dengan gigih mencatat, mengingat, memperjuangkan, merawat, mencintai segala hal yang ia temui. Jauh dari bayangan ketika saya membeli dua.„buku ini untuk memahami Marxisme yang seringkali memampangkan wajah maskulinitasnya. Yang malah jarang membuat saya jujur dengan perasaan dan menyisihkan hal-hal remeh sederhana. Justru memepertahankan hal-hal remeh sederhana seperti merawat, menyanyangi, dan sebagainya inilah yang sangat susah.
Mia Bustam-lah yang mengajarkan kepada saya atas pentingnya kerja-kerja perawatan alih-alih mempercayai misi mulia megah menuju masa depan yang sering ditawarkan ideologi-ideologi besar. Tentu tidak salah untuk menganut ideologi ‘besar’ tersebut. Namun alihalih memusatkan hidup pada ideologi dan manifesto, melakukan hal-hal sederhana yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari seringkali lebih menghargai dan memanusiakan diri kita. Seperti Mia yang dengan telaten menyemai dan merawat biji bunga matahari agar bertumbuh di Taman Bunga Plantungan.
Memanen Benih,
Menyemai Solidaritas
BERSEMAI SEKEBUN
xdiolah dari formulir pre dan pos-tes yang dibagikan ke partisipan.
Di Indonesia, sejarah kekerasan negara tidak pernah benar-benar berakhir. Ia hanya berganti bentuk:
dari penangkapan massal menjadi pembungkaman, dari penghilangan paksa menjadi penghapusan ingatan.
Kejahatan kemanusiaan1965 adalah salah satu contoh paling jelas bagaimana negara tidak hanya melakukan kekerasan fisik, tetapi juga kekerasan epistemik yaitu dengan menentukan siapa yang boleh diingat dan siapa yang harus dilupakan.
Dalam konteks inilah Tamasya Taman Bunga “Mencari Mia Bustam” menjadi relevan. Ia bukan sekadar kegiatan edukasi sejarah, melainkan praktik merawat ingatan sekaligus membuka ruang bagi keadilan dan pengungkapan kebenaran yang selama ini mandek.
MENCARI MIA BUSTAM
Sejak saat itu, Mia Bustam muncul bukan sebagai “pelengkap” narasi besar tokoh laki-laki, tetapi sebagai subjek politik: seorang pelukis, penerjemah dan penulis perempuan yang sayangnya hidupnya harus diremukkan oleh kebijakan negara, stigma ideologis, dan ketidakadilan hukum.
Setelah menyusuri situs-situs terkait Mia Bustam di Semarang, mulai dari kampung lelulurnya di Bustaman dan Baterman, makan ayahnya di Bergota, Penjara Bulu tempat beliau pernah ditahan, hingga rumahnya yang ada di Jrakah.
Refleksi peserta menunjukkan pergeseran sikap kritis. Banyak yang mulai memahami bahwa tragedi kemanusiaan 1965 bukan sekadar masa lalu, melainkan fondasi dari impunitas yang masih berlangsung hingga hari ini. Ketidakadilan terhadap korban tidak berhenti pada tahun-tahun awal Orde Baru; ia diwariskan melalui penyangkalan, pembiaran, dan absennya mekanisme pemulihan.
Dalam obrolan bersama Sri Nasti Rukmawati dan Astrid Reza pada sesi setelah tur juga membuka cerita baru
mengenai dimensi feminis dalam pelanggaran HAM.
MENCARI MIA BUSTAM
Sejak saat itu, Mia Bustam muncul bukan sebagai “pelengkap” narasi besar tokoh laki-laki, tetapi sebagai subjek politik: seorang pelukis, penerjemah dan penulis perempuan yang sayangnya hidupnya harus diremukkan oleh kebijakan negara, stigma ideologis, dan ketidakadilan hukum.
Setelah menyusuri situs-situs terkait Mia Bustam di Semarang, mulai dari kampung lelulurnya di Bustaman dan Baterman, makan ayahnya di Bergota, Penjara Bulu tempat beliau pernah ditahan, hingga rumahnya yang ada di Jrakah.
Refleksi peserta menunjukkan pergeseran sikap kritis. Banyak yang mulai memahami bahwa tragedi kemanusiaan 1965 bukan sekadar masa lalu, melainkan fondasi dari impunitas yang masih berlangsung hingga hari ini. Ketidakadilan terhadap korban tidak berhenti pada tahun-tahun awal Orde Baru; ia diwariskan melalui penyangkalan, pembiaran, dan absennya mekanisme pemulihan.
Dalam obrolan bersama Sri Nasti Rukmawati dan Astrid
Reza pada sesi setelah tur juga membuka cerita baru
mengenai dimensi feminis dalam pelanggaran HAM.
MENCARI MIA BUSTAM
Pengalaman perempuan korban 1965 sering kali terpinggirkan, baik dalam narasi sejarah maupun dalam agenda pemulihan. Dengan menempatkan Mia sebagai pusat cerita, kegiatan ini menantang maskulinitas narasi sejarah dan memperlihatkan bagaimana kekerasan negara bekerja secara berlapis secara ideologis, gender, maupun dalam ruang-ruang domestik.
Tanpa menunggu pengadilan HAM atau kebijakan negara yang tak kunjung hadir, Tamasya Taman Bunga merupakan praktik memulihkan sebagian hak korban atas pengakuan | dan ingatan. Ia menciptakan ruang aman untuk mendengar kesaksian, merasakan dampak kekerasan, dan menghubungkannya dengan tanggung jawab politik masa kini. Melalui pendekatan afektif dan kontekstual, peserta tidak hanya belajar tentang pelanggaran HAM, tetapi diajak menyadari posisi mereka sendiri dalam relasi kuasa, sejarah, dan kewargaan. Kesadaran ini penting, karena advokasi HAM tidak lahir dari empati abstrak, melainkan seharusnya dari keterlibatan emosional dan etis.
TAMASYA TAMAN BUNGA
A eet E
Salah satu peserta yang berprofesi sebagai guru pengetahuan sosial memberikan testimoni:
Setelah mengikuti rangkaian kegiatan Tamasya "Taman Bunga "Mencari Mia Bustam", saya menceritakan dan mengabarkan pengalaman tersebut kepada murid-murid saya di sekolah.
Murid saya menunjukkan ketertarikan terhadap sosok Ibu Mia Bustam, sehingga saya merasa penting untuk mengenalkan lebih jauh tentang keberanian, karya, dan perjalanan hidup beliau melalui buku-buku memoar Ibu Mia.
Negara boleh terus menunda pengakuan dan pemulihan, tetapi warga memiliki peran strategis untuk merawat ingatan, mendidik generasi baru, dan menjaga tuntutan keadilan tetap hidup. “Mencari Mia Bustam” bukan hanya tentang menemukan kembali satu nama yang dihapus. Ia
adalah upaya untuk merawat cara kita mengingat dengan lebih terbuka. Karena ingatan bukan hanya soal masa | lalu, melainkan tentang bagaimana kita memilih untuk
kita diwariskan.
| hidup di masa kini, dan sejarah seperti apa yang ingin
kkk
Tamasya “Mencari Mia
Bustam” di Semarang,
Mengenang Jejak Seniman dan Penyintas 1965
MUCHAMAD FATAH AKROM, IHSANUDDIN
https: //regional.kompas.com/read/2025/11/21/153 439078/tamasya-mencari-mia-bustam-di-semarangmengenang-jejak-seniman-dan?page=all
SEMARANG, KOMPAS.com - Sore gerimis mulai menguyur kawasan Semarang saat Komunitas Bersemai Sekebun mengadakan program Tamasya Taman Bunga “Mencari Mia Bustam” pada Senin (17/11/2025). Tur ini berfokus menjelajahi situs-situs yang berkaitan dengan kehidupan, pemikiran, dan kiprah seniman sekaligus penyintas kejahatan kemanusiaan 1965, Mia Bustam.
xdiambil dari berita di laman Kompas,
| Perjalanan Hidup dan Kiprah Mia Bustam
Mia Bustam, lahir pada 4 Juni 1920
di Purwodadi dan meninggal pada 2
Januari 2011, dikenal sebagai
seniman perempuan Indonesia dan aktivis, sekaligus istri pelukis dan politisi S. Sujoyono.
TAMASYA TAMAN BUNGA
la menempuh pendidikan di Europeesche Lagere School dan Van Deventer School Surakarta, serta aktif di organisasi seni seperti Seniman Indonesia Muda dan Lekra di Yogyakarta.
Ia menjadi tahanan politik yang dipenjara selama 13 tahun tanpa pengadilan sejak 1965 karena keterlibatannya dalam Lekra.
Kegiatan tamasya ini dirancang bukan hanya sebagai tur sejarah, tetapi juga ruang belajar bersama yang menghadirkan hubungan dialogis antara generasi muda dan mereka yang bersinggungan langsung dengan narasi masa lalu dan pelanggaran HAM yang belum diselesaikan.
Peserta didorong untuk bertanya, merefleksikan pengalaman, dan memahami bahwa memori merupakan proses yang terus bergerak.
Kenangan Putri Mia Bustam
Sri Nasti Rukmawati (78), anak kedua Mia Bustam, mengingat kembali masa-masa keluarganya di Semarang.
“Ini adalah salah satu tur napak tilas yang menarik.
Karena meski saya pernah tinggal cukup lama di Semarang. Baru kali ini Saya mengunjungi Kampung Bustaman dan Baterman sebagai tempat di mana leluhur dan kerabatnya pernah tinggal,” kenang Nasti.
Ia menuturkan bahwa setelah pembebasan pada 1978, Mia Bustam sempat tinggal lima tahun di rumah di Jalan Noroyono sebelum akhirnya membeli rumah sendiri di Jrakah.
MENCARI MIA BUSTAM
“Di rumah di Jrakah itulah seorang Mia Bustam kembali menulis dan membuat pesanan karya terutama sulaman dan jahit menjahit,”
tambahnya.
Mia menulis sejumlah 'memoar yang merekam perjalanan hidupnya, baik sebagai istri Sujoyono maupun sebagai penyintas penahanan politik.
Menapaki Lokasi-Lokasi Penting Jejak Mia Bustam
Dalam kegiatan ini, peserta diajak menapaki sejumlah lokasi penting yang menjadi bagian dari perjalanan hidup Mia Bustam-mulai dari jejak leluhur di Kampung Bustaman hingga fase pemulihan dirinya di Jrakah.
Setiap perhentian menjadi ruang Untuk membaca ulang fragmen sejarah melalui kisah-kisah dalam keempat memoarnya: Sujoyono dan Aku (2022), Dari Kamp ke Kamp (2022), Kelindan Asa dan Kenyataan (2022), dan Mutiara Kisah Masa Lalu (2024).
Dalam hujan yang kian deras, peserta yang berada di kereta odong-odong juga diajak mendiskusikan ruang perempuan dalam seni, keberanian
menyampaikan pengalaman pribadi di
reir
TAMASYA TAMAN BUNGA
tengah kontrol negara, serta bagaimana ingatan dapat menjadi ruang perawatan dan perlawanan.
Inspirasi dari Praktik Merawat ala Mia Bustam Menurut Pujo Nugroho, koordinator komunitas, Mia Bustam memberikan inspirasi mengenai cara menyikapi hidup.
Acara Tamasya Taman Bunga sendiri terinspirasi oleh praktik yang dilakukan oleh Mia Bustam selama menghuni Kamp Plantungan.
"Di sana beliau membuat taman dan merawatnya setiap hari. Aktivitas ini tidak hanya tentang pekerjaan fisik belaka, namun salah satu cara untuk menumbuhkan sekaligus menyembuhkan diri dari situasi yang menderanya. Di saat yang bersamaan aktivitas merawat tanaman adalah cara untuk bersolidaritas sesama tahanan politik perempuan di sana, ” ujarnya.
Tamasya dimulai dari Kampung Bustaman, lalu kompleks pemakaman Bergota Krajan, sebelum menuju rumah Mia Bustam di Jrakah.
Hari yang kian sore dan hujan yang tak reda membuat rombongan hanya melakukan swafoto dari dalam kereta odong-odong di dua titik terakhir: Lembaga Pemasyarakatan Wanita Bulu dan Kampung Baterman.
Belajar dari Keteguhan Perempuan
Acha (22), salah satu peserta, menjelaskan bahwa diskusi sepanjang perjalanan tidak hanya membahas isi buku-buku Mia Bustam, namun membicarakan bagaimana
a a ee
TAMASYA TAMAN BUNGA
kekuatan terus disemai. i
“Kami diajak melihat apa yang telah dilakukan negara dari sudut paling sunyi yang tertuang dari karyanya.
Tulisan dan karya Mia Bustam yang kami diskusikan adalah penguat bagi perempuan yang menolak diam tunduk pada kuasa.”
Komunitas Bersemai Sekebun berharap kegiatan ini dapat memperluas perhatian publik terhadap peran tokoh-tokoh penting-khususnya perempuan-yang disingkirkan dari narasi sejarah Indonesia, termasuk mereka yang mengalami represi politik tetapi tetap melahirkan karya dan gagasan.
Dengan menjejaki jejak Mia Bustam melalui ruang kota, | tamasya ini menjadi upaya kecil untuk mendekatkan i kembali ingatan yang tersebar, sekaligus mengajak masyarakat melihat bahwa sejarah selalu hadir di sekitar kita, menunggu untuk ditemukan, dirawat, dan diteruskan.
kkk
MENCARI MIA BUSTAM
Be e ar ie ile eee re ee a
“Biji bunga matahari yang telah kusemai, setelah cukup besar kami tanam ditengah, sekitar pohon palem, dan tumbuh subur lebih tinggi dari diriku”
MIA BUSTAM
Dari Kamp ke Kamp, hlm. 231 (Ultimus, 2022)