Gerwani Archive
Researcher log in

← GA-00010

Maju Terus untuk Pengintegrasian Total Gerwani dengan Wanita Buruh Tani dan Tani Miskin (Laporan Umum Umi Sardjono, 1964)

Cleaned OCR text (Good (0.94); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.

Text

MAJU TERUS UNTUK PENGINTEGRASIAN TOTAL GERWANI DENGAN WANITA BURUH TANI DAN TANI MISKIN (Laporan Umum Ketua DPP Gerwani, Ny. Umi Sarjono kepada Sidang Pleno Ke-III DPP Gerwani) Alih teks dan anotasi oleh Nathanael Pribady (Versi pertama, apabila ada kesalahan bisa menghubungi np2903@tc.columbia.edu) Para Saudara yang tercinta. Atas nama Dewan Harian DPP Gerwani, saya mengucapkan selamat tahun baru 1964 dan selamat bertemu dalam Sidang Pleno ke-III ini. Kali ini DH [Dewan Harian] telah memenuhi permintaan daerah-daerah untuk melangsungkan Sidang Pleno ke-III ini tidak di ibu kota Jakarta Raya, tetapi di Bandung. Bandung selain terkenal sebagai kota kembang juga terkenal sebagai kota juang, kota “cinta damai tapi lebih cinta kemerdekaan”. Selama satu tahun yang lalu kita telah bekerja melaksanakan tugas kita masing-masing, melaksanakan putusan-putusan Pleno yang lalu yang tersimpul dalam judul Laporan Umum: “Untuk demokrasi, sandang pangan dan emansipasi”. Sidang Pleno ke-III yang berlangsung sekarang ini selain bertujuan untuk meletakkan program kerja memasuki tahun ketiga dari Kongres ke-IV, juga untuk memperkuat front persatuan mengganyang “Malaysia”, untuk melaksanakan land reform secara konsekuen sebagai jalan keluar mengatasi kesulitan sandang pangan. Sehabis Kongres hingga sekarang, dari tahun ke tahun, dari Pleno ke Pleno, pekerjaan kita telah mencapai kemajuan-kemajuan pesat dan sukses-sukses baru, berkat kesanggupan dan pengorbanan kader-kader kita yang bekerja keras. Di samping itu, kita tidak dapat melupakan bahwa ada juga mata rencana yang belum terpenuhi dalam tahun yang lampau. Kita meyakini bahwa bekerja untuk Gerwani adalah bekerja untuk tugas-tugas revolusioner. Karena itu, kita harus menghargai jerih payah dan pengorbanan setiap kader kita. Kita bangga karena kita adalah suatu barisan ormas wanita revolusioner yang sudah menjadi besar dan mempunyai peranan penting baik di dalam negeri maupun di luar negeri. Dalam memasuki tahun 1964, yaitu tahun kerja ke-III melaksanakan keputusan-keputusan Kongres terakhir, hendaknya Sidang Pleno ini selain menggali pengalaman-pengalaman serta meneliti perkembangan Gerwani selama satu tahun yang lalu, juga dengan saksama menetapkan garis plan nasional dalam susunan jadwal tahun 1964 di bidang aksi dan organisasi. Tugas kita ialah menyukseskan plan untuk menjadikan Gerwani suatu ormas yang meluas, merata dan dinamis, berakar dalam massa, memiliki badan-badan pimpinan dari pusat sampai ke daerah yang dipersenjatai dengan metode memimpin yang tepat. Ini berarti Gerwani yang bekerja lebih tekun untuk menciptakan kader-kader yang berani, cakap, berkebudayaan dan berkepribadian 3 baik: baik bekerja, baik belajar dan baik moral. Saudara-saudara, Perkembangan situasi dalam negeri selama satu tahun yang lalu telah ditandai oleh kemenangan-kemenangan baru dalam perjuangan nasional untuk pembebasan Irian Barat dan menanjaknya gelombang perjuangan revolusioner mengganyang imperialisme dan proyek neokolonialisme “Malaysia”. Perjuangan mengganyang “Malaysia” telah meningkat sampai pada taraf konfrontasi total di segala bidang. Sebagai akibat tindakan konfrontasi total di bidang ekonomi, kehidupan ekonomi Singapura dan Malaya telah mengalami berbagai kesulitan. Kaum kolonialis dan bonekanya berusaha keras menusukkan duri subversinya dalam jantung Rakyat Indonesia, mulai gerakan rasialis mensabotase beras sampai percobaan membunuh Presiden Sukarno. Teror menjadi program jangka pendek mereka. Tetapi mereka selalu gagal dan tertangkap basah seperti maling kesiangan. Pada akhir-akhir ini imperialis Inggris telah melakukan tindakan sangat nekad dengan menyita kapal-kapal kita di Hongkong, melakukan provokasi-provokasi, pelanggaran wilayah berulang kali, dan melarang pengiriman spare-parts dari Hongkong ke Indonesia. Tindakan bermusuhan terhadap Rakyat Indonesia tersebut haruslah diberikan balasan yang setimpal. Kita mendukung sepenuhnya tindakan gagah perwira kaum buruh yang telah mengambil alih Perkebunan P&T dan perkebunan-perkebunan lainnya, perusahaan-perusahaan BAT dan Unilever, perusahaan-perusahaan minyak Inggris dan perusahaan milik modal Inggris lainnya. Sekarang kaum imperialis Inggris disokong terang-terangan oleh imperialis AS dengan gerakan armada ke-VII AS yang akan meluaskan daerah operasinya sampai ke Samudra Indonesia. Armada ke-VII AS bertujuan menambah kekeruhan di sebagian dunia ini dan bertujuan untuk menindas Rakyat yang sedang melancarkan perjuangan gigih melawan imperialisme. Dalam menghadapi intimidasi armada ke-VII AS kita sepenuhnya mendukung pidato Presiden Sukarno yang menandaskan agar kita tidak gentar. Kita sama sekali tidak gentar dan kita bertekad terus berjuang agar armada ke-VII AS diusir dari perairan kita. Apabila AS membandel kita pasti akan melaksanakan pemboikotan pemutaran film-film AS dan mengambil alih perusahaan-perusahaan minyak milik modal AS. Untuk menggerakkan setia kawan internasional dalam Sidang Biro GWDS yang baru lalu, Gerwani dan organisasi-organisasi wanita berbagai negeri telah memperjuangkan sebuah resolusi mendukung perjuangan kita mengganyang proyek neo-kolonialisme “Malaysia”. Dan sebagaimana sudah diberitahu dalam Sidang Biro GWDS di Berlin itu kita telah menyetujui resolusi tersebut. Suksesnya perjuangan pembebasan Irian Barat yang memaksa kaum imperialis Belanda angkat kaki dari wilayah RI dan bendera PBB diturunkan diganti dengan berkibarnya Sang Merah-Putih, adalah sekali lagi membuktikan bahwa jika dilawan kaum imperialis pasti mundur. Pengalaman menunjukkan bahwa cara mengusir imperialis yang paling tepat ialah dengan perjuangan bersenjata. Perundingan hanyalah kelanjutan daripada perjuangan bersenjata yang sudah dimenangkan. Setelah kolonialis Belanda terdepak keluar barulah ada kemungkinan untuk mulai membangun Irian Barat. Sumbangan Gerwani ialah mengirimkan kader-kadernya, antara lain kader-kader TC Gerwani untuk bekerja sebagai sukarelawati di Irian Barat. Mereka sebagai anggota rombongan Front Nasional telah bekerja keras membantu perjuangan Rakyat dan khusus wanita Irian Barat. Sebagai kelanjutan dari perjuangan Irian Barat tugas kita antara lain adalah memperjuangkan penghapusan segera peraturan karantina politik agar hak-hak demokrasi bagi rakyat terjamin dan agar di Irian Barat tidak diperlukan sama sekali plebisit. Kita menyambut gembira kebijaksanaan Presiden yang telah memenuhi tuntutan rakyat, yaitu menjatuhkan berlakunya UUKB di seluruh wilayah Indonesia, sejak tanggal 1 Mei 1963. Akan tetapi perlu disesalkan bahwa hingga sekarang di beberapa daerah masih terjadi praktik SOB tanpa SOB, seperti rapat-rapat masih harus minta izin, tidak cukup hanya memberi tahu, dan bermacam-macam usaha lain yang hakikatnya membatasi hak-hak demokrasi bagi rakyat. Peristiwa penting lainnya dalam tahun 1963 ialah terjadinya noda sejarah yang dilakukan oleh gerakan rasialis “10 Mei 1963” yang terang-terangan didalangi oleh kaum kontra-revolusioner. Sebagaimana disinyalir oleh Presiden Sukarno, tokoh-tokoh partai terlarang Masyumi-PSI adalah dalang teror rasialis itu. Hal ini dibuktikan oleh hasil pemeriksaan pengadilan negeri di berbagai tempat di waktu-waktu belakangan ini. DPP Gerwani telah mengutuk perbuatan keji kaum rasialis itu dan menuntut agar biang keladinya dihukum setimpal dengan perbuatannya serta menyerukan kepada segenap anggota Gerwani supaya lebih waspada dan mencegah anak-anak Indonesia digunakan untuk tujuan-tujuan keji itu serta membantu para korban kontrarevolusi tersebut. Dari peristiwa itu dapat ditarik kesimpulan bahwa dalam rangka memperkokoh persatuan bangsa menindas rasialisme, kita perlu bekerja lebih erat lagi dengan saudara-saudara warga negara Indonesia keturunan Tionghoa dan lebih membuka pintu untuk masuknya mereka ke dalam organisasi massa revolusioner, termasuk Gerwani, agar tercapai pengintegrasian mereka dengan gerakan revolusioner di tanah air kita. Satu peristiwa besar yang menggembirakan dalam tahun 1963 yang lalu ialah berlangsungnya Ganefo yang diikuti oleh 51 negeri. Dalam Ganefo tidak hanya telah dipecahkan rekor-rekor dunia baru, tetapi yang lebih menggembirakan ialah Ganefo telah membantu memperkuat persatuan nasional dan telah menaikkan martabat Indonesia di mata dunia internasional. Ganefo telah dilaksanakan dengan sukses sehingga memperkuat front Nefo di bidang olahraga dan kebudayaan. Di samping itu juga Indonesia telah membuktikan kemampuannya menghadapi segala tantangan dan menerobos rintangan-rintangan kawat berduri dan ranjau-ranjau kamu Oldefo berupa IOC yang didominasi imperialis dan yang disayang seribu sayang oleh kaum revisionis. Kita menyambut hangat sukses Ganefo dan menyatakan penghargaan yang setinggi-tingginya terutama kepada olahragawati-olahragawati Indonesia yang aktif ambil bagian dalam memeriahkan dan menyukseskan Ganefo. Setelah Ganefo selesai dengan sukses besar maka tugas Gerwani antara lain ialah mengembangkan hubungan persahabatan antara wanita-wanita Nefo, yaitu wanita-wanita dari negeri-negeri Nefo, terutama negeri yang dengan gigih melawan imperialisme, kolonialisme dan nekolonialisme di benua AAA. Kontak-kontak dan tukar-menukar lektur maupun surat hendaknya dikembangkan, saling mempelajari hasil perjuangannya untuk lebih mempererat persahabatan. Demikianlah berbagai segi di bidang politik dalam tahun 1963. Di balik sukses-sukses di bidang politik, maka di bidang ekonomi belum pernah terjadi penyelewengan seperti tahun yang lalu, di mana seluruh potensi produksi dan tenaga produktif hampir menjadi lumpuh karena teror ganas peraturan ekonomi “26 Mei 1963”. Dikeluarkannya Dekon sebagai Manipolnya ekonomi nasional kita sambut dengan penuh harapan. Karena dalam Dekonlah digariskan secara tegas pembangunan ekonomi yang harus ditempuh. Tetapi alangkah tercelanya kaum Manipolis munafik yang telah secara gegabah menjungkirbalikkan pelaksanaan Dekon dengan mengeluarkan peraturan “26 Mei”. Kita mengutuk peraturan tersebut dan bersama-sama dengan Panitia Aksi Pembela Dekon segera mengadakan gerakan menuntut dicabutnya peraturan “26 Mei” dan kita juga mendukung sepenuhnya putusan Sidang Pleno PB Front Nasional tanggal 5–6 September 1963 yang mendesak kepada Pemerintah untuk mengubah peraturan tersebut. Sebagai pengganti peraturan “26 Mei” haruslah segera diambil tindakan radikal menurunkan harga sandang pangan, khususnya beras dan tarif-tarif, mencabut HPN serta melaksanakan dengan konsekuen UU Pokok Agraria dan UU Perjanjian Bagi Hasil. Dalam hal ini kita menyambut keterangan Pemerintah yang secara terus terang mengemukakan buruknya peraturan “26 Mei” serta menyatakan kesediaan untuk mengganti peraturan tersebut, mengatasi soal beras yang sudah menjadi gawat dan mengikutsertakan Rakyat dalam memecahkan kesulitan-kesulitan ekonomi. Janji baik harus dituntut pelaksanaannya. Kita menyambut regrouping kabinet dengan Triprogramnya, yaitu: sandang pangan, mengganyang “Malaysia”, dan pembangunan. Dan sebagaimana sudah berkali-kali kita kemukakan, bahwa yang terpenting untuk melaksanakan program aksinya, Kabinet Gaya Baru harus berani dengan semangat banteng mengadakan retooling aparat-aparat negara. Program aksi yang revolusioner tak mungkin dilaksanakan oleh aparat yang mlempem dan reaksioner. Oleh karena itu sekali lagi untuk menjamin terlaksananya program aksi Kabinet seharusnya dibentuk Kabinet Gotong Royong berporoskan NASAKOM, bukan besok, bukan lusa, tetapi sekarang juga. Peristiwa-peristiwa penting memang banyak terjadi selama 1963. Bagi Gerwani yang terpenting sekarang ialah menengok pelaksanaan jadwal pekerjaan-pekerjaan Gerwani dalam tahun 1963 untuk diteliti apakah sesuai dengan keputusan Sidang Pleno yang lalu. Mengenai hal ini ternyata bahwa pekerjaan untuk mengintensifkan pendidikan kanak-kanak telah mencapai sukses besar. Perayaan Hari Kanak-Kanak Internasional di Jakarta diikuti oleh hampir 50.000 anak-anak. Di tempat-tempat lain juga sukses. Dalam bulan September 1963 kita telah dapat melangsungkan Konferensi Nasional Pendidikan Kanak-Kanak yang diikuti oleh kurang lebih 200 peserta mewakili 1374 TK Melati di seluruh tanah air dan ratusan Taman Minggu Melati. Dalam Konferensi ini telah dibahas pelaksanaan sistem pendidikan Pancacinta dan Pancawhardana untuk menjadikan anak-anak kita kelak patriot-patriot paripurna, yaitu anak-anak yang patriot dan internasionalis sekaligus. Juga telah dibahas pengorganisasian TK-TK Melati dan Taman Minggu Melati yang sudah berkembang baik sebagai badan penampungan pendidikan anak-anak di luar sekolah. Dalam usaha mempelajari serta memperdalam pengetahuan tentang menggunakan boneka sebagai alat pendidikan anak-anak telah diundang rombongan teater boneka dari Cekoslowakia, Uni Soviet dan RRT. Tetapi yang dapat memenuhi undangan tersebut hanya dari RRT dengan rombongan wayang boneka Fujian. Rombongan tamu kita ini selain mengajar kader-kader kita, juga telah mengadakan pertunjukan keliling ke daerah-daerah. Mereka telah memberi pertunjukan sebanyak 43 kali di hadapan kira-kira lebih dari 45.000 penonton. Kunjungan tamu-tamu kita itu telah mempererat persahabatan antara Rakyat Indonesia dan RRT. Sekarang kewajiban kita ialah menyusun rencana kerja pelaksanaan keputusan Konferensi Pendidikan Anak-Anak dan meneruskan rencana latihan dan mempelajari pertunjukan wayang boneka tersebut untuk mengkonsolidasi pekerjaan kita di bidang pendidikan anak-anak. Di lapangan gerakan emansipasi wanita dalam tahun 1963 kita telah memperingati Hari Ibu pada tanggal 22 Desember yang genap 25 tahun. Bertepatan dengan hari tersebut, diperingati Hari Persatuan Gerakan Wanita Indonesia genap 35 tahun. Dalam memperingati hari bersejarah ini Gerwani telah mengeluarkan petunjuk ke daerah-daerah agar bersama-sama dengan organisasi-organisasi wanita lainnya memperingati hari tersebut dengan semangat persatuan dan kewaspadaan nasional yang tinggi untuk meningkatkan gerakan emansipasi wanita dalam ikut serta menyelesaikan tugas-tugas revolusioner sekarang. Pengertian kewaspadaan ini adalah dalam rangka memenuhi seruan-seruan Presiden di depan peringatan Hari Ibu di Istana Negara yang menegaskan bahwa ada usaha-usaha subversif yang menggunakan gerakan wanita untuk melemahkan front perjuangan mengganyang neo-kolonialisme. Ternyata duri-duri bisnis kaum subversif dan kontra-revolusioner sedang menyusupi lingkungan-lingkungan gerakan wanita untuk memecah persatuan wanita dan mencoba meretakkan front persatuan nasional. Dengan maksud menggalang kerja sama yang lebih erat dengan tokoh-tokoh dan organisasi-organisasi wanita lain, dan oleh karena Gerwani tidak mau hanya karena soal “ibu agung” harus menghadapi perpecahan, maka pada tanggal 17 Desember 1963 DPP Gerwani telah mengeluarkan pernyataan yang menjelaskan sikap Gerwani bahwa Gerwani tidak ikut serta dalam soal “ibu agung”. Sikap tersebut didasarkan atas fakta-fakta bahwa di samping ada pihak-pihak yang mungkin memang tidak bermaksud jahat, ada pula usaha-usaha dari golongan kontra-revolusioner dan kaum manipolis munafik yang sengaja menggunakan persoalan “ibu agung” untuk tujuan-tujuan jahat menyerang pribadi Presiden, justru pada saat kita sedang menghadapi konfrontasi mengganyang “Malaysia” dan mengganyang kaum Manipolis munafik. Kita berpendapat bahwa pemberian gelar kepada seseorang harus didasarkan pada jasanya terhadap perjuangan Rakyat dan revolusi. Oleh karena itu untuk menyongsong Kongres KWI yang akan datang, tugas kita ialah mendorong badan ini untuk lebih tegas melaksanakan amanat Presiden agar gerakan emansipasi wanita Indonesia membersihkan diri dari anasir-anasir kontra-revolusioner, menyesuaikan diri dengan tingkat perjuangan nasional, menyelesaikan tuntutan revolusi nasional-demokratis dan dengan semangat berani meninggalkan tradisi feodal yang menindas dan menghina kaum wanita. Diharapkan agar sukses dari perjuangan wanita tahun silam menjiwai Hari Wanita Internasional 8 Maret tahun ini dapat dirayakan bersama-sama dengan KWI sesuai dengan seruan Presiden Sukarno untuk lebih mempererat dan memperkuat semangat persahabatan serta setia kawan internasional anti-imperialis antara wanita-wanita seluruh dunia. Berjuang Terus dengan Semangat Berani untuk Mengakhiri Penyelewengan Dekon dan Meningkatkan Produksi. Dalam laporan Pleno yang lalu telah dikupas situasi penghidupan yang sangat merosot, di mana harga 19 macam bahan sandang pangan Rakyat naik sampai 4–9 kali dibandingkan dengan tahun 1962. Dalam tahun 1963 taraf hidup Rakyat ternyata lebih merosot lagi. Kenaikan harga menumpuk jauh lebih tinggi daripada perhitungan para pencipta “26 Mei”. Peraturan “26 Mei” adalah biang keladi dari teror harga yang menyebabkan harga-harga sandang pangan melonjak sangat tinggi. Dibanding dengan indeks 1962 ada barang harganya yang melonjak sampai 30 kali; tarif angkutan naik 600%. Semua ini menyebabkan jutaan Rakyat menderita kelaparan dengan hongerudim yang merajalela dan urbanisasi yang menjadi-jadi, yaitu mengalirnya penduduk desa ke kota akibat serangan paceklik dan kesulitan kehidupan di desa. Kaum Dekonis munafik telah mempergunakan dalil atas nama Dekon untuk menyelewengkan dan membahayakan Dekon. Penyelewengan “26 Mei” itu ialah: Peraturan di bidang impor dan ekspor yang terkenal dengan sistem perangsang dalam devisa, bagi kaum eksportir dan menaikkan pemungutan atas barang-barang impor dalam bentuk MPN T, HPN C. Peraturan yang meliberalkan harga yang sebagaimana kita ketahui kepada PDN-PDN diberi izin untuk menaikkan harga barang sandang pangan berkejar-kejaran dengan harga pasaran bebas. Peraturan kenaikan tarif, termasuk tarif angkutan dan transport, sandang pangan yang sewenang-wenang. Ini semua adalah tindakan yang menyebabkan kenaikan harga sandang pangan melonjak setinggi angkasa luar seperti sekarang. Masalah beras sangat gawat dan harganya ada yang naik sampai lebih dari 600% dibanding dengan harga pada tahun 1962. Sedangkan upah buruh hanya cukup untuk hidup layak 3–5 hari saya. Oleh karena itu, kaum penerima upah hidupnya di bawah layak. Sejak diumumkan peraturan “26 Mei” kita sudah mengeluarkan sikap menentang, menolak tindakan penyelewengan ini. Meskipun pada waktu itu pembela dan konseptor “26 Mei” mengatakan bahwa perbuatannya adalah untuk “stabilisasi”. Ya, untuk stabilisasi pengaruh ekonomi imperialis AS atas kehidupan negeri dan Rakyat Indonesia, tertipu oleh iming-imingan “bantuan” 400 juta dolar AS yang tidak kunjung tiba. Kini belum satu tahun usia peraturan tersebut, ternyata keadaan harga sandang pangan terus naik tinggi dan produksi terus merosot. Rencana “stabilisasi” gagal total dan Pemerintah sendiri menjadi korban karena defisit AS tahun 1963 yang semula dipastikan akan berjumlah 30 miliar, ternyata tidak tanggung-tanggung naiknya menjadi berlipat ganda daripada itu. Latar belakang dari skandal “26 Mei” ini sekarang sudah dibuka oleh Pemerintah sendiri, yaitu bahwa penyelewengan “26 Mei” ini gagal dalam menantikan mengalirnya tetesan bantuan AS sebanyak 400 juta dolar. Ini adalah suatu bukti bahwa para konseptor ekonomi “26 Mei” mempertaruhkan nasib Rakyat Indonesia dan menjeratkan leher kita pada kaum imperialis AS. Selagi kita dengan teguh menjalankan konfrontasi total dengan “Malaysia”, kaum imperialis berusaha tidak hanya mengadakan intimidasi di bidang politik, tetapi juga menghamburkan uang bermiliar-miliar rupiah untuk menyabotase dan mengganggu perekonomian kita. Selain peraturan-peraturan yang memberatkan Rakyat, kaum tani juga mengalami bencana kegagalan panennya karena mengamuknya hama tikus. Menurut perkiraan akibat serangan tikus ini sedikitnya 20% dari produksi nasional akan berkurang. Sudah barang tentu akibat dari mahalnya harga beras dan macetnya distribusi beras, banyak Rakyat pekerja di daerah-daerah Jawa Timur (Pacitan, Trenggalek, Tulungagung, Bojonegoro), juga di Jawa Barat (Kabupaten Kuningan dan Subang) menderita penyakit busung lapar dan kira-kira 150.000 Rakyat di daerah Jawa Tengah diancam bahaya kelaparan sampai-sampai terjadi sementara kaum ibu yang terpaksa menjual anaknya karena mereka tidak mampu memberikan makan. Bahaya busung lapar juga menyerang Rakyat Bali karena akibat bencana letusan Gunung Agung. Kita mendesak agar segera ada tindakan dengan segala jalan untuk mengatasi kesulitan beras ini dan harga beras distribusi Pemerintah supaya diturunkan harganya sehingga terbeli oleh Rakyat pekerja. Pleno ini hendaknya juga mengusulkan kepada Pemerintah agar ada langkah-langkah radikal penurunan harga sandang pangan dan tarif-tarif. Untuk menaikkan produksi supaya harga barang-barang baku dan penolong ditekan rendah. Distribusi beras dan bahan-bahan supaya jangan dikurangi, mengingat bertambah memuncaknya harga di pasar bebas. Syarat untuk itu semuanya, supaya retooling aparatur di bidang distribusi segera direalisasi. Dewan produksi dan dewan distribusi hendaknya segera dibentuk untuk menjamin adanya pengintegrasian antara Pemerintah dan Rakyat, dan agar terjamin adanya kontrol sosial dan dukungan sosial. Terhadap pelanggaran-pelanggaran dan penghambatan-penghambatan pelaksanaan land reform harus diambil tindakan yang tegas dan berani. Oleh karena itu kita mendukung tuntutan dibentuknya Pengadilan Land Reform. Panitia-panitia land reform yang macet supaya diaktifkan dengan mengikutsertakan kaum tani dalam badan-badan tersebut. Menurut pengumuman statistik Pemerintah tanah-tanah surplus yang harus dibagikan kurang lebih 1 juta hektar dan yang terdaftar baru 20%. Sedang sampai sekarang artinya selesai 2 tahun, yang sudah dibagikan baru 9% dari jumlah tanah yang terdaftar tersebut. Selama UUPA dan UUPBH belum dilaksanakan dengan sungguh-sungguh, maka sejak sekarang sudah dapat dipastikan, bahwa kenaikan produksi pangan tidak akan tercapai. Dalam hal menaikkan produksi pangan, khususnya beras, maka wanita tani, yang merupakan separuh jumlah kaum tani, memainkan peranan yang penting. Mengabaikan peranan kaum tani termasuk wanita tani, berarti mengabaikan tenaga pokok revolusi, dan ini bertentangan dengan Manipol. Revolusi Indonesia hakikatnya adalah revolusi tani. Setiap pimpinan dan aktivis Gerwani harus meyakini mutlak perlunya kaum tani aktif ikut serta dalam perjuangan memenangkan revolusi nasional-demokratis kita. Oleh karena itu kita berkewajiban memperkuat gerakan tani, terutama berjuang untuk kepentingan kaum wanita tani. Syaratnya ialah sebagai berikut: Memahami keadaan dan tuntutan-tuntutan kaum tani, terutama buruh tani dan tani miskin, teristimewa kaum wanitanya. Memahami dan meyakini pentingnya bekerja di desa sebagai sumber bahan makanan, sumber prajurit, pangkalan untuk bertahan dan menyerang kaum imperialis dan kaum kontrarevolusi. Mempelajari dan menguasai UUPA dan UUPBH dan mengambil bagian aktif dalam perjuangan melaksanakan UU tersebut. Lakukan pembelaan terhadap kepentingan kaum wanita buruh tani dan tani miskin. Mempererat kerja sama dengan BTI untuk melaksanakan aksi-aksi 6 baik: (1) menurunkan sewa, terutama dalam rangka pelaksanaan UUPBH; (2) menurunkan bunga pinjaman; (3) menaikkan upah buruh tani; (4) menaikkan produksi pertanian, termasuk gerakan 1001 dan mengganyang tikus; (5) menaikkan tingkat kebudayaan kaum tani; dan (6) menaikkan tingkat kesadaran politik kaum tani. Melaksanakan keputusan Seminar Wanita Tani dan ikut serta aktif mempersiapkan akan dilangsungkannya Konferensi Wanita Tani. Melaksanakan keputusan turun ke bawah dan melakukan penelitian sesuai dengan petunjuk DPP untuk membela hak-hak wanita buruh tani dan tani miskin untuk mematahkan segala bentuk reaksi. Dengan melaksanakan ketentuan-ketentuan tersebut, pengintegrasian Gerwani dengan wanita tani akan dapat diwujudkan dalam perbuatan, tidak hanya dalam pikiran, tetapi sungguh-sungguh dalam tindakan-tindakan konkret. Untuk menaikkan produksi sesuai dengan putusan Kongres yang lalu Sidang Pleno sekarang perlu menetapkan ketentuan-ketentuan mengintensifkan pekerjaan di bidang koperasi dan produksi. Pelaksanaan putusan Seminar Wanita Tani harus kita tinjau kembali. Dan tugas kita dalam tahun 1964 ialah kecuali memperhebat aksi-aksi kaum tani dan pengintegrasian total dengan wanita buruh tani dan tani miskin, juga harus menyukseskan gerakan 1001 dengan mengadakan eksperimen-eksperimen, mengadakan TC produksi untuk peternakan, pemeliharaan ulat sutra, kerajinan tangan, mengawetkan makanan rakyat dll. Kegiatan koperasi hendaknya menjadi kegiatan seluruh daerah yang direncanakan dengan plan tertentu. Selalu harus menjadi peringatan bagi kita, bahwa setan-setan kontra-revolusi yang berangkai 4 yaitu kaum imperialis, kapitalis komprador, kapitalis birokrat, dan kaum tuan tanah haruslah dihancurkan secara konsekuen, lebih tegas dan lebih berani lagi. Dengan semangat berani persatuan harus lebih diperkokoh untuk mensukseskan pelaksanaan Dekon dan pembentukan Kabinet Gotong Royong berporoskan NASAKOM. Menegakkan Panji Emansipasi Revolusioner dalam Gerakan Wanita Internasional Setelah mengetengahkan peristiwa dalam negeri yang hangat sekarang, saya hendak menyajikan perkembangan situasi internasional. Ciri utama keadaan sekarang ini ialah: Pertama: Front internasional anti-imperialis makin lama makin luas. Ini dibuktikan dengan makin naiknya gelombang pasang perjuangan rakyat-rakyat di Asia-Afrika-Amerika Latin dalam melawan imperialisme, kolonialisme dan neokolonialisme. Di samping itu perkembangan persahabatan dan setia kawan internasional di kalangan rakyat-rakyat Nefo makin meningkat. Kedua: Asia Tenggara sekarang adalah salah satu daerah titik pusat kontradiksi pokok di dunia, satu daerah perjuangan rakyat yang sengit melawan berbagai bentuk kekuatan dan teror imperialis, kolonialis dan neokolonialis. Sebagai gerakan wanita yang berkedudukan di Asia Tenggara, Gerwani berkewajiban meningkatkan kegiatannya dalam memenangkan revolusi Rakyat-rakyat di Asia Tenggara. Anggota-anggota Gerwani harus dapat menangkap perkembangan maju situasi internasional sekarang ini secara tepat. Kekejaman imperialis AS berupa agresi dan teror kian hari kian tertelanjangi. Di berbagai negeri Amerika Latin, Korea, Jepang dan Vietnam Selatan, imperialisme AS telah muncul dengan tangan-tangan berdarahnya merusak kehormatan dan menindas ribuan wanita serta meneror Rakyat negeri-negeri tersebut. Jika di Vietnam Selatan imperialis AS terkenal terornya dengan penyebaran racun-racun di ladang-ladang kaum tani serta membunuh tawanan-tawanan, di Korea Selatan kekejaman imperialis AS didemonstrasikan oleh peristiwa 26-1-1963 yang menjadikan kaum tani sebagai kelinci percobaan untuk sasaran meriam-meriam nuklirnya, sehingga 9 orang telah tewas menjadi korban. Kita mengutuk perbuatan keji dan tindakan-tindakan agresi imperialis AS. Pergolakan di Terusan Panama adalah suatu manifestasi dari kebangkitan rakyat Panama yang berjuang untuk kemerdekaannya, untuk mengusir imperialis AS dari Terusan Panama. Kita mendukung tuntutan yang adil dari rakyat Panama. Terusan Panama harus bebas dari belenggu imperialis AS, harus menjadi milik sepenuhnya rakyat Panama. Kita mendukung perjuangan rakyat Venezuela yang sedang bangkit melawan penindasan pemerintah reaksioner Batancourt yang didalangi oleh imperialis AS. Kita yakin bahwa rakyat Venezuela akan mencapai kemenangannya. Sekalipun AS sudah mengeluarkan bermiliar-miliar dolar untuk membiayai subversinya dan mempertahankan pendudukannya, bukan rahasia lagi bahwa sesungguhnya politik AS telah mengalami kegagalan di mana-mana. Campur tangan, subversi, teror dan agresi dari kaum imperialis AS telah menyebabkan kebangkitan Rakyat di mana-mana dan imperialis AS dikenal dan telah menelanjangi dirinya sendiri sebagai musuh nomor satu dan paling berbahaya dari rakyat-rakyat sedunia. Kehidupan telah membuktikan bahwa rakyat Indonesia, termasuk kaum wanita Indonesia sepenuhnya mendukung perjuangan kaum wanita Kuba, Jepang, Korea, Laos, Kamboja dan Vietnam Selatan yang dengan gigih pantang mundur melawan imperialis AS. Sebagai pernyataan setia kawan dan tanda hormat kepada mereka DPP Gerwani dalam tahun yang lalu telah menyelenggarakan pertemuan-pertemuan persahabatan mempopulerkan perjuangan heroik rakyat-rakyat Kuba, Korea dan Vietnam. Di daerah-daerah diselenggarakan ceramah-ceramah tentang hasil-hasil penindasan ke berbagai negeri oleh para anggota delegasi kita yang mengunjungi Uni Soviet, Korea, RRT dan Kuba, dan hasil-hasil Kongres Wanita Sedunia. Untuk menghormati misi Front Nasional untuk pembebasan Vietnam Selatan yang dipimpin oleh Prof. Nguyen Thin Binh telah diadakan penyambutan meriah oleh Gerwani. Gerwani telah ambil bagian aktif dalam persiapan-persiapan untuk Kongres GWDS ke-IV di Moskow pada bulan Juni 1963, baik sebagai anggota panitia persiapan internasional maupun sebagai pendorong untuk menyusun delegasi Indonesia yang luas. Bersama-sama dengan Panitia 8 Maret, Gerwani telah memberangkatkan delegasi besar dengan susunan luas sebanyak 30 orang, terdiri dari wakil berbagai organisasi massa wanita dan tokoh-tokoh wanita terkemuka. Ini adalah delegasi yang besar dan didukung oleh massa wanita yang luas. Mengenai penilaian kita tentang Kongres itu sendiri sebagaimana sudah dinyatakan dalam keterangan-keterangan pers oleh saya sendiri dan Sdr. Maasye Siwi, maka untuk pertama kalinya Kongres Wanita Sedunia yang dilangsungkan di negeri sosialis, di Uni Soviet tanah airnya Krupskaya, dikunjungi oleh kurang lebih 2000 utusan yang cukup luas dari 13 negeri. Ini adalah peristiwa bersejarah. Tetapi segi negatif Kongres ini ialah bahwa untuk pertama kalinya dalam sejarah sejak berdirinya GWDS, telah terjadi putusan-putusan diambil dengan suara tidak bulat, karena putusan-putusan itu tidak memenuhi aspirasi wanita yang mau bebas dari belenggu imperialisme dan feodalisme. Juga insiden yang memalukan telah terjadi selama Kongres itu. Delegasi kita telah menyatakan penyesalannya terhadap pimpinan Kongres yang tidak bijaksana dan tidak demokratis sehingga menyebabkan terjadinya insiden tersebut. Delegasi Indonesia menyatakan sikap setuju terhadap hasil Komisi Kemerdekaan Nasional, menolak hasil Komisi Anak-Anak, abstain terhadap hasil Komisi-Komisi Hak-Hak Wanita dan Perdamaian. Selain itu delegasi Gerwani tidak menyetujui program GWDS, karena program tersebut tidak mencerminkan tuntutan kaum wanita di semua benua, yang berjuang anti-imperialis dan anti-feodal. Tapi terdorong oleh rasa hormat kepada persatuan massa wanita pejuang sedunia, maka meskipun kita menolak program, kita tidak keluar dari GWDS. Dokumen-dokumen yang kita setujui, yaitu tentang kemerdekaan nasional dan seruan umum, ialah dokumen-dokumen yang memuat usul-usul kita sendiri yang bersifat penyempurnaan. Dalam rangka penyempurnaan pimpinan GWDS Gerwani tetap menuntut agar badan-badan pimpinan termasuk Sekretariat GWDS mencerminkan kebangkitan dan perkembangan perjuangan revolusioner kaum wanita di A-A-A dengan memberi tempat yang wajar dan layak kepada organisasi-organisasi nasional yang sudah nyata pengaruh serta militansinya di negerinya masing-masing. GWDS yang selama ini kita dukung dan kita bina supaya tetap setia pada tradisi perjuangannya yang revolusioner, demokratis, anti-fasis dan anti-imperialis, tetap teguh sebagai penerus cita-cita mulia Clara Zetkin. Tetapi secara terus terang amat disayangkan bahwa akhir-akhir ini kerja sama dalam GWDS sangat terganggu oleh kecenderungan revisionisme yang hendak mengubah watak GWDS dari organisasi wanita internasional yang revolusioner demokratis, anti-fasis dan anti-imperialis menjadi sekadar organisasi feminis dan pasifis. Konsep mereka yang kita tolak ialah bahwa mereka selalu menonjol-nonjolkan sikap “non-alignment”, doktrin netral, tidak memihak yang pada hakikatnya bertentangan dengan maksud-maksud mendirikan GWDS. Kita tidak bisa bersikap netral dalam perjuangan anti-imperialis dan untuk perdamaian yang konkret. Gerakan Rakyat sedunia maju dengan pesat, tapi GWDS mau ditarik mundur ke belakang. Mereka menghindari dengan 1001 alasan untuk membicarakan perjuangan anti-imperialis dan hanya menitikberatkan perjuangan kaum wanita untuk perdamaian abstrak berdasarkan prinsip “damai untuk damai”. Padahal tak mungkin perdamaian tercapai selama imperialisme masih ada, masih membunuh patriot-patriot kemerdekaan, masih merupakan sumber bahaya perang. Tidak, kita harus senantiasa gandrung kepada semboyan militan: “kita cinta damai, tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Mereka, yang mau menaruh GWDS ke belakang itu, sering mengatakan, supaya kita bicara dengan “bahasa wanita”, maksudnya ialah supaya tidak bicara tentang politik, cukup bicara tentang dapur, anak-anak, rumah tangga saya, dsb. Padahal kepentingan wanita itu tidak bisa dipisah-pisahkan dengan kepentingan perjuangan politik, perjuangan untuk menghancurkan sebab musabab penderitaan wanita, terutama imperialisme dan feodalisme. Jadi bicara dengan “bahasa wanita”, pada hakikatnya adalah emoh kepada revolusi dan semuhun kepada imperialisme. Pengaruh revisionisme yang berkejamuk dalam gerakan wanita internasional, karena merusak dan melemahkan gerakan emansipasi revolusioner harus dilawan dengan keras. Sambil melawan revisionisme dalam gerakan wanita kita harus memelihara dan mengeratkan hubungan persahabatan antara Rakyat-rakyat seluruh negeri. Justru sebaliknya, persahabatan militan antara rakyat-rakyat hanya mungkin jika disertai perjuangan melawan revisionisme. Dalam tahun yang lalu kita telah memenuhi undangan-undangan untuk mengirim delegasi-delegasi keluar negeri, seperti ke Uni Soviet, RRT, Bulgaria, Kuba dan RDRK. Bersamaan dengan itu, Gerwani turut serta aktif menyambut kedatangan delegasi-delegasi wanita tamu Kongres Wanita Indonesia dari Uni Soviet, Cekoslowakia dan Hongaria. Saling mengirimkan delegasi tersebut telah mempererat hubungan persahabatan antara kaum wanita Indonesia dengan kaum wanita di negeri-negeri tersebut, untuk saling mendorong dalam perjuangan mengganyang imperialisme dan bukannya menyerah di hadapan kaum imperialis. Dalam memperjuangkan dan mempertahankan perdamaian, kita selalu ikut dalam usaha-usaha gerakan perdamaian konkret untuk menentang politik perang dari kaum imperialis. Mengenai persoalan senjata nuklir dan perjanjian Tiga Negara Moskow, prinsip yang kita ambil ialah selama masih ada imperialisme, perdamaian sejati tidak mungkin diciptakan. Gerwani sekali lagi mengemban semboyan nasional “cinta damai tetapi lebih cinta kemerdekaan”. Berdasarkan keyakinan semboyan militan itu, Gerwani sejak semula menjangkaukan dan meragukan kegunaan perjanjian Tiga Negara Moskow itu. Apalagi sekarang setelah terbukti Amerika Serikat makin nekad mengagresi dan meneruskan percobaan-percobaan nuklir di bawah tanah sampai 21 kali sesudah perjanjian Tiga Negara Moskow, maka tentang persenjataan nuklir yang paling tepat ialah penghancuran senjata nuklir secara total, dan dilarang secara total pula pembuatan, penyimpanan, penggunaan dan percobaan-percobaan nuklir di mana saya. Dengan perjanjian Tiga Negara Moskow, percobaan nuklir di bawah tanah menjadi diperbolehkan, padahal sebelum perjanjian Tiga Negara Moskow tidak ada satu pun percobaan nuklir yang diperbolehkan. Oleh karena itulah, yang tepat ialah perjanjian Tiga Negara Moskow sebaiknya tidak ada sama sekali, karena adanya telah terbukti merugikan gerakan perdamaian. Seiring dengan makin baiknya situasi internasional dan pentingnya posisi Indonesia di Asia Tenggara, maka Gerwani harus juga meningkatkan peranannya dalam gelanggang kerja sama dan setia kawan rakyat-rakyat di Asia Tenggara. Pada saat sekarang ini di Jakarta sedang berlangsung konferensi internasional yang diselenggarakan oleh GPDS untuk setia kawan terhadap perjuangan rakyat Kalimantan Utara. Kita menyambut dan mengharapkan sukses kepada Konferense Solidaritas Kalimantan Utara. Kita mengharap agar para delegasi lebih meyakini tentang tekad bulat rakyat Kalimantan Utara dan rakyat Indonesia dalam mengganyang proyek neokolonialis Inggris “Malaysia”. Jelaslah bahwa dalam tahun 1964 ini kita harus berjuang lebih ulet dan bekerja lebih keras untuk persahabatan, menyukseskan perjuangan dengan memperkuat front internasional anti-imperalis, mengembangkan persatuan dan setia kawan wanita Nefo, dan terus melawan pengaruh revisionisme dalam skala dunia di kalangan gerakan wanita internasional. Panji emansipasi revolusioner haruslah ditegakkan tinggi-tinggi untuk memenangkan perjuangan anti-imperialisme, anti-kolonialisme, dan anti-neokolonialisme dan untuk perdamaian sejati. Setelah meninjau apa yang telah kita kerjakan dalam melaksanakan putusan pleno yang lalu, baik dalam kegiatan nasional maupun internasional, maka dalam memasuki tahun 1964, tahun kerja ke-3 pelaksanaan kongres terakhir, kita harus bekerja keras untuk menyelesaikan tugas: Ikut serta dalam aktivitas menyukseskan Bandung ke-2 dan persiapan Konferensi Wanita AA ke-2. Menyusun kembali usul-usul kita menghadapi sidang council GWDS Menyambut dan ikut serta dalam kegiatan menyukseskan KBAA pertama di Indonesia. Memperluas kontak dan aksi-aksi setia kawan, tukar-menukar pengalaman dengan wanita-wanita Nefo yang berjuang melawan imperialisme terutama dengan gerakan wanita Asia Tenggara. Dan tugas-tugas kita di dalam negeri ialah: Menyukseskan peringatan Hari 8 Maret, Hari Wanita Internasional tahun 1964 dalam forum yang lebih luas, menjadikan hari tersebut sebagai hari kesatuan aksi dan kebulatan tekad untuk mengembangkan solidaritas wanita internasional dalam Nefo untuk mengganyang “Malaysia” dan armada ke-VII AS. Merayakan Hari Kartini bersama-sama dengan organisasi lain dan Front Nasional sebagai hari kebangkitan wanita dan menjadikan hari itu untuk suksesnya plan pendidikan dan PBH Gerwani. Terus berjuang untuk sandang pangan, untuk pengintegrasian total Gerwani dengan kaum wanita buruh tani dan tani miskin untuk terbentuknya Kabinet Gotong Royong berporoskan NASAKOM. Kembangkan Terus Organisasi untuk Suksesnya Plan 3 Tahun di Segenap Bidang Kegiatan Gerwani. Saudara-saudara yang tercinta. Pleno ke-II kita setahun yang lalu telah menggariskan dua tugas besar untuk dilaksanakan dalam tahun 1963, ialah terselenggaranya Konferensi Nasional Pendidikan Anak-Anak dan Seminar Wanita Rumah Tangga. Dari dua tugas besar ini satu telah dapat kita selesaikan dengan sukses ialah Konferensi Pendidikan Anak-Anak dalam bulan September 1963. Karena waktu penyelenggaraan Konferensi ini diundurkan, maka rencana Seminar Wanita Rumah Tangga belum dapat dilaksanakan dalam tahun yang telah silam. Konferensi Nasional Pendidikan Anak-Anak. Konferensi ini telah berhasil mengambil keputusan-keputusan penting mengenai pengorganisasian TK-TK Melati serta perluasannya, mengenai mempertinggi mutu pendidikan di dalam TK Melati dan pembentukan serta pengembangan Taman-Taman Minggu Melati. Satu hal yang ingin saya tekankan di sini ialah bahwa Konferensi Nasional tersebut telah berhasil untuk mengatasi dua kecenderungan. Pertama, kecenderungan beralihnya Gerwani menjadi badan pendidikan karena para aktivis kita menjadi terlalu terlibat dalam urusan TK Melati. Kedua, kecenderungan pengurusan TK-TK Melati yang kurang sempurna disebabkan kita kurang mempunyai aktivis-aktivis untuk TK-TK. Dengan pesatnya perkembangan TK-TK Melati itu ada kalanya tugas-tugas lain yang bercabang-cabang banyak tersisihkan. Guna mengatasi kecenderungan-kecenderungan negatif ini, konferensi tersebut telah mengambil keputusan untuk mengadakan pengkhususan dalam pengurusan TK-TK Melati dengan jalan mendirikan satu badan bernama Yayasan Pendidikan Taman Kanak-Kanak Melati. Sesuai dengan petunjuk yang telah dikeluarkan, DPP Gerwani mendirikan Yayasan ini di tingkat Pusat, sedangkan di daerah-daerah tingkat I dan II membentuk Cabang-Cabang Yayasan tersebut berdasarkan pedoman salinan akta notaris dari Pusat. Tugas Yayasan ini dititikberatkan pada soal-soal pendidikan dan pengorganisasian TK-TK Melati. Dengan adanya Yayasan Pendidikan Taman Kanak-Kanak Melati, diharapkan agar pengurusan TK-TK itu menjadi lebih intensif dan tertib. Kalau pada Sidang Pleno yang lalu kita mencatat jumlah TK Melati sebanyak 824 buah, maka sekarang dapat dilaporkan bahwa Gerwani telah mempunyai 1378 TK Melati yang tersebar di seluruh tanah air. Keputusan-keputusan lain yang tidak kurang pentingnya antara lain tentang usaha-usaha mendirikan dan mengembangkan Taman-Taman Minggu Melati, menyelenggarakan kursus-kursus membuat boneka dan kursus-kursus dalang permainan boneka, mempertinggi mutu pendidikan TK Melati dengan mengembangkan Pancacinta yang bersumber pada Pancawhardana sebagai dasar pendidikan Nasional. Persiapan Seminar Wanita Rumah Tangga. Hasil penelitian tentang wanita rumah tangga, sebagaimana diputuskan dalam Sidang Pleno kita yang lalu hingga saat ini masih banyak yang belum masuk. Meskipun demikian, DPP Gerwani percaya bahwa daerah-daerah sudah atau sedang menjalankan penelitian itu, hanya saya mungkin hasilnya belum disimpulkan. Menurut rencana semula pada Sidang Pleno ini DPP ingin menyimpulkan hasil pelaksanaan penelitian tersebut, tetapi oleh karena ternyata hasilnya belum semua masuk, DPP Harian mengusulkan untuk menunda Seminar Nasional Wanita Rumah Tangga itu sampai pada pertengahan tahun 1964 dengan didahului oleh Seminar-Seminar Daerah. Perlu dilaporkan di sini bahwa di antara 21 DPD baru ada 3 yang telah menyelenggarakan Seminar Wanita Rumah Tangga tingkat daerah I yaitu Sumatera Barat, Riau dan Sumatera Selatan. Menurut pengalaman yang telah disampaikan kepada DPP dari 3 daerah ini, ternyata penting sekali untuk mendahului penyelenggaraan seminar tersebut dengan pekerjaan penelitian yang seluas mungkin, agar kita dapat lebih tepat memilih tema dan menetapkan peranan wanita rumah tangga. Dalam hubungan dengan definisi tentang wanita rumah tangga, sebagaimana telah disimpulkan dalam Sidang Pleno yang lalu, DPP Harian ingin mengajukan tambahan, yaitu tentang wanita desa yang juga mempunyai fungsi sebagai wanita rumah tangga. Wanita buruh tani dan tani miskin di desa yang juga mengambil bagian dalam proses produksi, tetapi tidak terus-menerus, harus kita masukkan dalam objek penelitian. Mengenai tema Seminar Wanita Rumah Tangga, DPP ingin sekali lagi menekankan bahwa selain persoalan hak-hak wanita, hendaknya persoalan sosial-ekonomi yang banyak mempengaruhi penghidupan wanita rumah tangga mendapat sorotan yang cukup. Di samping soal sandang pangan, maka juga kesehatan, pendidikan dan kebudayaan merupakan soal-soal yang meliputi penghidupan wanita rumah tangga. Wanita Tani Sesudah terselenggaranya Seminar Wanita Tani yang berhasil dengan sukses itu, setiap Sidang Pleno memperingatkan kepada kita akan pentingnya pelaksanaan kesimpulan-kesimpulan seminar tersebut. Sesuai dengan apa yang telah diuraikan di atas, maka kita harus lebih dari yang sudah-sudah menggiatkan pelaksanaan kesimpulan-kesimpulan seminar tersebut dan kita harus memadukannya dengan usaha-usaha peningkatan aksi-aksi wanita tani untuk pelaksanaan UUPBH dan UUPA guna menaikkan martabat dan tingkat penghidupan kaum wanita buruh tani dan tani miskin sebagai massa pokok kaum wanita serta sebagai landasan pokok pula dari gerakan revolusioner. Tugas kita dalam Sidang Pleno ini adalah untuk mengumpulkan bahan-bahan dan mengkonkretkan rencana pekerjaan kita dalam bidang pengintegrasian total Gerwani dengan kaum wanita buruh tani dan tani miskin. Sehubungan dengan ini kita harus melakukan gerakan turun ke bawah yang lebih teratur dan berencana dengan menjalankan tiga sama. Tidaklah cukup pada kesempatan-kesempatan demikian itu, kita hanya mengadakan tanya jawab tentang kehidupan wanita buruh tani dan tani miskin saya. Yang lebih penting adalah untuk benar-benar mengintegrasikan Gerwani secara total dengan massa wanita buruh tani dan tani miskin. Gerwani harus benar-benar mengerti perasaan dan pikiran mereka, memperjuangkan kepentingan-kepentingan dan tuntutan-tuntutan kaum wanita buruh tani dan tani miskin dan berbuat sesuatu yang sesuai dengan hasrat dan tuntutan-tuntutan mereka. Meluaskan dan Mengkonsolidasi Aksi Pembelaan Hak-Hak Wanita. Aksi-aksi pembelaan hak-hak wanita sudah cukup banyak memberi pengalaman pada kita, tetapi salah satu kekurangan yang perlu segera diatasi ialah bahwa kita belum menyimpulkan pengalaman-pengalaman itu secara tepat. Penyimpulan pengalaman ini sangat penting untuk dijadikan landasan bagi usaha-usaha peningkatan selanjutnya. Umpamanya, rencana kita untuk menyimpulkan pengalaman petugas-petugas kita dalam BP4 (Badan Penyelesaian Perselisihan Perkawinan dan Perceraian) atau P5 (Panitia Penyelesaian Perselisihan Perkawinan dan Perceraian) dengan mengadakan seminar petugas-petugas BP4, hingga sekarang belum terlaksana. Kursus pembelaan hak-hak wanita dan kursus hukum baru dapat diadakan oleh DPP bersama dengan DPD Jakarta Raya sebagai eksperimen. Tugas kita yang akan datang sebagaimana juga dicantumkan dalam Plan 3 tahun, adalah untuk melaksanakan kursus pusat pembelaan hak-hak wanita dan kursus hukum yang kemudian akan diluaskan sampai ke daerah-daerah dan suatu seminar nasional petugas-petugas BP4/P5, yang didahului oleh seminar-seminar daerah. Antara dua Sidang Pleno, DPP telah pula mengadakan eksperimen dengan membuka Biro Konsultasi pembelaan Hak-Hak Wanita. Pengalaman-pengalaman kita menunjukkan bahwa inisiatif ini cukup mendapat sambutan dari kaum wanita yang mengalami penindasan sewenang-wenang dalam keluarganya, baik mengenai perceraian, pemaduan, maupun hak waris dan pelanggaran-pelanggaran atas soal-soal tunjangan keluarga. Sejak dibukanya Biro Konsultasi ini, kita telah menerima dan menyelesaikan masalah-masalah yang rumit sekali dilihat dari segi hukum sehingga tidak dapat dibereskan oleh Cabang-Cabang yang bersangkutan. Dalam kegiatan-kegiatan itu DPP mendapat bantuan dari para Sarjana Hukum Wanita. Gerwani telah ambil bagian yang aktif dalam sebuah seminar hukum yang diselenggarakan dalam bulan Maret 1963 oleh Panitia Pembelaan Hukum Nasional bertempat di ibu kota. Salah satu kesimpulan dari Seminar tersebut, yaitu mengenai Undang-Undang Perkawinan dan Hak Waris, telah mendapat dukungan sepenuhnya dari Gerwani. Dengan berpedoman pada konsepsi Gerwani sendiri serta kesimpulan seminar tersebut, kita harus menggerakkan aksi-aksi lagi untuk menuntut segera dikeluarkannya suatu Undang-Undang Perkawinan yang nasional dan demokratis. Pendidikan, Penerangan dan Kebudayaan. Setelah Pleno ke-II, DPD-DPD terus melaksanakan putusan-putusan Kongres ke-IV mengenai penyelenggaraan kursus-kursus kader. Karena kurangnya laporan-laporan yang masuk, DPP sulit menilai apakah kursus-kursus kader tingkat Cabang berjalan dengan lancar. Di semua tingkat organisasi terutama di basis, PBH dan Kursus-Kursus Rakyat tetap merupakan kegiatan Gerwani yang pokok. Namun untuk lebih mengintegrasikan Gerwani dengan massa wanita buruh tani dan tani miskin, kita perlu sekali lebih mengintensifkan kursus-kursus PBH dan Kursus-Kursus Rakyat sebagai salah satu senjata yang ampuh pula dalam membantu wanita tani membebaskan dirinya dari belenggu tradisi-tradisi feodal dan kegelapan zaman kuno. Memenuhi anjuran Sidang Pleno yang lalu mengenai meningkatkan pengetahuan umum terutama bagi anggota-anggota pengurus, maka di semua tingkat organisasi telah dapat dibangkitkan semangat belajar yang tinggi. Di Pusat hampir semua anggota pengurus telah memasuki pendidikan tingkat Akademi/Universitas. Oleh sementara Cabang telah dilaporkan bahwa pengurusnya hampir semuanya memasuki UNRA yang diselenggarakan malam hari. Kader-kader bawahan supaya berusaha memasuki Balai Pengetahuan Rakyat (Bapera), Panti Pengetahuan Rakyat (Panpera) atau lain-lainnya, sesuai dengan taraf pendidikan masing-masing. Salah satu kesukaran yang belum bisa diatasi sepenuhnya ialah bagaimana memadukan dengan baik tugas organisasi, tugas belajar dan tugas mengurus rumah tangga. Tapi, biarpun bagaimana soal ini harus dapat dipecahkan oleh pimpinan yang bersangkutan. Mengingat luasnya plan Gerwani yang akan datang, di bidang kebudayaan hendaknya hal ini mendapat pembahasan pula dalam Sidang Pleno ini. Di antara dua Sidang Pleno kita, Gerwani telah mulai lebih aktif bergerak di bidang kebudayaan, baik di bidang sastra, tari, musik dll. Di bidang olahraga sudah ada sementara cabang yang mengadakan pertandingan badminton dan lomba gerak jalan. Gerwani juga tidak ketinggalan dalam memberikan perhatiannya kepada soal-soal di sekitar film dengan menghadiri Konferensi Lembaga Film Indonesia yang baru-baru ini diselenggarakan di ibu kota, dan memberi dorongan untuk adanya film-film yang bertemakan perjuangan wanita dan film-film untuk anak-anak. Dalam bulan September 1963 telah dapat diterbitkan kembali Berita Gerwani sebagai organ organisasi. Penerbitan-penerbitan lain yang telah diselesaikan dalam tahun yang lalu adalah laporan DPP di hadapan Kongres ke-IV, Peraturan Dasar dan Program Gerwani. Bidang Sosial Ekonomi Kegiatan-kegiatan di bidang ini dalam masa antara dua Sidang Pleno telah menunjukkan lebih banyak aksi-aksi dan usaha-usaha konkret. Hal ini adalah disebabkan oleh keadaan ekonomi yang makin memburuk dan mencekik leher rakyat pekerja. Dari hampir semua daerah telah masuk laporan-laporan mengenai giat dan berkembangnya aksi-aksi menuntut penurunan harga dan pembatalan Peraturan “26 Mei”. Aksi-aksi ini telah banyak membantu memperkuat front persatuan wanita, kerja sama antara organisasi-organisasi wanita yang demokratis dan revolusioner. Usaha-usaha konkret berupa koperasi-koperasi walaupun belum merata diusahakan oleh cabang-cabang bawah, telah mulai berjalan agak lancar. Tetapi kemudian menjadi macet karena penyelewengan “26 Mei” yang jahat itu. Menarik pengalaman di Jakarta Raya, maka penting kiranya memperbanyak peninjauan-peninjauan ke objek-objek pertanian untuk belajar tentang cara-cara meninggikan produksi. Salah satu tugas di bidang ini ialah untuk dengan tekun meneruskan pelaksanaan gerakan 1001. Untuk menyempurnakan gerakan ini bisa diadakan TC-TC Produksi. Perluasan Anggota dan Organisasi Sejalan dengan makin meningkatnya perjuangan kaum wanita untuk pembelaan hak-haknya, untuk mengatasi kesulitan sandang pangan, melawan imperialisme, feodalisme dan neokolonialisme, maka berdasarkan aksi-aksi di sekitar masalah ini, perkembangan organisasi mencatat angka yang meningkat dari perspektifnya baik. Pengalaman-pengalaman menunjukkan bahwa jika kesempatan-kesempatan yang ada dipergunakan dengan sungguh-sungguh maka perluasan organisasi dan anggota dapat berjalan dengan lancar. Pada umumnya perluasan organisasi memang masih berjalan lebih cepat dari perluasan anggota. Hal ini disebabkan karena hasil-hasil yang sudah dicapai kurang dikonsolidasi. Di Ranting-Ranting baru masih kurang diberikan kesibukan kepada anggota-anggotanya. Setelah terjadi aksi-aksi yang diikuti oleh kaum wanita yang luas, kurang cukup baik digunakan aksi-aksi yang sukses itu untuk memperkuat keanggotaan Gerwani. Kehidupan Kolektif Badan Pimpinan Adanya kehidupan kolektif dari badan pimpinan semua tingkat organisasi adalah kunci bagi kelancaran semua tugas. Sedangkan kesatuan pikiran dan hati serta kesatuan tujuan merupakan syarat mutlak yang harus senantiasa dipupuk dan dibina. Pada umumnya hal ini sudah dapat dimengerti oleh para kader dan aktivis, oleh para anggota. Tetapi dalam praktik masih memerlukan perjuangan untuk pelaksanaannya dengan baik. Mengingat kedudukan Anak Cabang yang langsung berhubungan dengan organisasi basis, maka Anak Cabang perlu mendapat prioritas dari pimpinan atasan untuk mendapatkan bimbingan dan bantuan sesuai dengan keadaan dan perkembangan setempat. Hal-hal yang dapat merintangi dan mengganggu kehidupan kolektif harus segera dipecahkan dengan pengurusan yang cepat, tepat, bijaksana dan luwes, tapi berprinsip, sehingga tidak berlarut-larut. Untuk mengatasi semua ini rapat-rapat periodik menurut Peraturan Dasar dan ketentuan-ketentuan kolektif masing-masing harus dipegang teguh. Gerakan Turun ke Bawah Soal gerakan turun ke bawah adalah usaha untuk membantu menghidupkan organisasi bawahan dalam mensukseskan plan dan melaksanakan tugas-tugas organisasi lainnya. Tapi di lain pihak, merupakan sekolah dan latihan pula untuk menarik pelajaran sebanyak-banyaknya dalam memperbaiki metode memimpin. Gerakan turun ke bawah ini sudah merata dilaksanakan di seluruh daerah, sekalipun daerah yang satu lebih intensif daripada daerah yang lain. Soalnya sekarang adalah untuk diusahakan supaya gerakan turun ke bawah tidak hanya merupakan gerakan musiman, tetapi suatu kegiatan yang berencana, teratur, merata dan meningkat. Saudara-saudara sekalian. Jika kita simpulkan tugas-tugas organisasi kita dalam tahun ini, adalah sebagai berikut: Melaksanakan putusan Pleno ke-II antara lain tentang pembentukan Komisi Verifikasi dan mengaktifkan kembali Komisi Front Persatuan Wanita. Lebih giat lagi mensukseskan Plan Nasional kita dan mengejar mata rencana yang masih ketinggalan, terutama mengenai kebudayaan dan pendidikan. Melaksanakan Seminar Wanita Rumah Tangga pada pertengahan tahun 1964. Kemungkinan penyelenggaraan TC kader produksi. Para Saudara. Sekianlah uraian saya. Dengan penuh harapan akan suksesnya Pleno kita ini, saya tutup uraian saya ini dengan seruan: Majulah terus Gerwani dengan semangat berani mengganyang kesulitan pangan, mengganyang “Malaysia” dan Armada ke-VII Amerika Serikat! Majulah terus Gerwani dengan tekad bulat untuk mengintegrasikan diri dengan wanita buruh tani dan tani miskin! Hidup Gerwani! Hidup Wanita Indonesia! Laksanakan Tritugas Kita: Front Persatuan Wanita “Pembangunan Organisasi” “Menyelesaikan Tuntutan-Tuntutan Revolusi Agustus ’45 Sampai ke Akar-Akarnya”