Persatuan Total dengan Poros Nasakom: Pidato Sukarno pada Kongres IV Gerwani, 14 Desember 1961
Cleaned OCR text (Good (0.917); proof-reading: no (script-cleaned only)). Old Indonesian spelling has been converted to modern EYD. [Unreadable] marks text that could not be recovered.
Text
Sukarno. (1962). *Persatuan total dengan poros Nasakom: Amanat Presiden Sukarno pada Kongres Gerwani ke-IV di Gedung Wanita, Jakarta, 14 Desember 1961* [Total unity with Nasakom as the axis: President Sukarno's address to the Fourth Gerwani Congress] (Penerbitan Chusus No. 207). Departemen Penerangan RI. (Original speekh delivered 1961)
PDF: 01 Primary Sources/1.3 Sukarno Speekhes and Government Publications/Sukarno (1962) - Persatuan Total dengan Poros Nasakom (Speekh to Gerwani Fourth Congress, 1961).pdf PDF PAGES 1 to 14 of 14. Text from the PDF text layer where present, otherwise Tesseract OCR (ind+eng); OCR errors remain.
=== [PDF page 1] ===
PERSATUAN TOTAL
DENGAN POROS NASAKOM
DEPARTEMEN PENERANGAN RI.
TIDAK UNTUK DIJUAL BELIKAN
=== [PDF page 2] ===
INDo- 32]
PENERBITAN CHUSUS
207
PERSATUAN TOTAL
DENGAN POROS NASAKOM
Amanat Presiden Sukarno pada Kongres Gerwani ke-IV di Gedung Wanita, Jakarta, 14 Desember 1961
TIDAK UNTUK DIJUAL: BELIKAN
DEPARTEMEN PENERANGAN RI.
=== [PDF page 3] ===
Saudara-saudara sekalian,
Benar apa yang dikatakan oleh Saudara Umi, bahwa saya sedang sibuk sesibuk-sibuknya. Tetapi saya perlukan datang di Kongres Gerwani ini, oleh karena saya mengetahui bahwa Gerwani adalah salah satu kekuatan untuk mencapai cita-cita kita sekalian.
Saudara Umi tadi menyebutkan beberapa perkataan yang amat menjadi perhatian kita sekalian. Ada perkataan ”Ladies' Movement”, gerakan nDoro Den Ayu-nDoro Den Ayu. Beliau tidak menyinggung hal memuncaknya harga beras dan gula. Dan memang kalau hal yang demikian itu harus kita kupas, agar supaya perjoangan kita untuk memenuhi Amanat Penderitaan Rakyat, perjoangan kita untuk menyelesaikan Revolusi Nasional kita, perjoangan kita untuk mendirikan suatu masyarakat yang adil dan. makmur, tidak terhambat oleh karenanya.
Tetapi tahun yang lalu saya berpidato disini dihadapan Kongres Wanita Indonesia dan disitupun sudah saya sinyalir adanya Ladies” Movement” dalam gerakan wanita di Indonesia.
Dan pada waktu itu saya kupas sedapat-dapatnya dan saya ucapkan harapan, agar supaya gerakan wanita Indonesia janganlah bersifat "Ladies Movement”, jangan bersifat gerakan para nDoro Den Ayu-nDoro Den Ayu, tetapi hendaknya bersifat gerakan massa, gerakan massa wanita yang revolusioner dan radikal. Oleh karena memang sebagai saya katakan, pada waktu itu tujuan revolusi kita, baik tujuan politis, maupun tujuan ekonomis, maupun tujuan sosial, tak dapat dicapai dengan jalan "Ladies' Movement”,
Pernah saya berpidato dihadapan para pemuda dan pemudi, dan pada waktu itu saya mensitir ucapan seorang pemuda Indo-
=== [PDF page 4] ===
nesia hampir 40 tahun yang lalu. Dan ucapan pemuda Indonesia hampir 40 tahun yang Jalu itu boleh saya katakan profetis. Katanya — pada waktu itu dalam bahasa asing, nanti saya salinkan dalam bahasa Indonesia —,,Niet meer mogen wiy ons veroorloven de beliydenis van een levensphilosofie die direct of indirect onze eigen ondergang is geweest. Het modern leven cist beweging, activiteit, ‘en die dit niet eerbiedigt wordt verpletterd'in het gcdrang van mensen en volken die vekhten om het bestaan”, Arti:
‘nya:,,Bahwa kita tidak boleh menghilangkan diri lagi — ngglenggem, bahasa Jawanya — dalam menjalankan falsafah hidup secara kuno, yaitu falsafah hidup secara kuno itu, yang menyebabkan kita tenggelam. Peri-kehidupan secara moderen, secara baru menuntut gerak, menuntut-aktivitas, dan siapa tidak meng-
“indahkan ini akan hancur-lebur terhimpit, terpepet “didalam tabrakannya tenaga-tenaga daripada manusia-manusia dan bangsabangsa yang mencari hidup”. Ini adalah ucapan yang tepat sekali.
»Niet meer mogen wiy ons veroorloven de beliydenis van een levensphilosofie die direct of indirect onze eigen ondergang is geweest”. Jangan kita hidup mengikuti lagi falsafah hidup secara kuno itu, menyerta kita tenggelam. Pada- waktu itu, saudara-saudara, tanahair kita dijajah oleh imperialisme lebih dari 300 tahun lamanya. Masyarakat Indonesia menjadi kocar:
kacir, masyarakat Indonesia yang tadinya makmur, tata tentrem kerta raharja, menjadi satu masyarakat yang — lagi-lagi saya ulangi perkataan orang Belanda ini —,,een natie van kulies en een kulie onder de naties”. Jadi bahwa kita tenggelam adalah sudah satu kenyataan dan menurut pemuda ini sebabnya ialah bahwa kita menjalankan falsafah hidup yang usang.. Dan apa yang. dinamakan falsafah hidup yang usang, kecuali falsafah hidup,,nerima”, kecuali falsafah hidup yang tadi oleh Saudara Umi “Sarjono disentil dengan perkataan feodalisme..Maka falsafah itu ialah satu falsafah yang menganggap tidak perlu
adanya gerakan wanita, tidak perlu adanya massaliteit daripada gerakan wanita.
Sebagai akibat daripada falsafah feodalisme, maka dikira oleh nDoro Den Ayu-nDoro Den Ayu bahwa bisa diadakan perobahan-perobahan didalam susunan masyarakat, bahwa bisa diadakan perobahan-perobahan didalam kedudukan politik, hanya dengan nDoro-Den-Ayu-isme saja. Ndoro Den Ayu yang sebagai satu falsafah feodalisme mengikuti apa yang dinamakan Astabrata, kewajiban daripada ksatria, kewajiban daripada nDoro Den Ayu-nDoro Den Ayu pula yang menganggap dirinya ksatria wanita.
Jadi cukup mereka yang bekerja, cukup mereka yang meladeni, cukup mereka yang berjoang. Massa daripada rakyat yang beribu-ribu, berlaksa-laksa, berketi-keti, berjuta-juta, cukup diurus, cukup disuruh mengikut.
Falsafah yang demikian ini adalah satu falsafah yang bersumber kepada feodal-ksatria-isme. Dan falsafah yang demikian ini harus kita kikis sama sekali, saudara-saudara, sebab kita sudah hidup didalam abad ke-20, hidup didalam jaman moderen, katakanlah demikian. Ciri daripada abad ke-20 adalah demokrasi, geraknya massa. Apa lagi buat kita, buat revolusi kita, yang merupakan suatu Revolusi Pancamuka yaitu:
Revolusi nasional, yang menghendaki agar supaya tanah air kita antara Sabang dan Merauke sama sekali menjadi satu bangsa yang merdeka,
Revolusi politik, yang hendak merobah sistim-sistim politik kuno dengan sistim politik yang baru, hendak merobah feodalisme menjadi demokrasi:
Revolusi ekonomi, yang hendak merobah sama sekali susunan ekonomi,
Revolusi sosial, yang hendak merobah sama sekali kemasyarakatan, kesosialan;
Revolusi kebudayaan, yang akan merobah kebudayaan Kraton, kebudayaan ndoro menjadi kebudayaan rakyat jelata.
=== [PDF page 5] ===
Demikian ini, saudara-saudara, memaksakan kita untuk hidup dikalangan massa, bergerak didalam kalangan massa. Abad ke-20 adalah abad rakyat. Abad terdahulu adalah abad kaum feodal, abad ke-20 adalah abad rakyat. Maka oleh karena itu, jikalau gerakan rakyat Indonesia ini ingin benar-benar memenuhi darmanya didalam revolusi kita ini yang Pancamuka, tidak ada lain jalan, saudara-saudara, melainkan kita sekalian, ya laki-laki, ya perempuan, harus bergerak didalam alam massaliteit.
Pada tempat ini saya peringatkan sedikit perbedaan — yang sejak tahun 1928 sudah saya tandaskan — antara gerakan massa dan gerakan massaal. Gerakan massa adalah satu gerakan yang revolusioner, gerakan massa adalah satu gerakan yang hendak merobah sama sekali susunan politik dan susunan masyarakat.
Gerakan massaal sekadar adalah satu gerakan yang beranggotakan berpuluh-puluh ribu, beratus-ratus, mungkin berjuta-juta manusia tanpa merobah susunan politik dan susunan masyarakat.
Pernah saya kemukakan sebagai contoh satu gerakan yang anggautanya berpuluh-puluh, mungkin beratus-ratus ribu, tetapi yang bukan gerakan massa tetapi satu gerakan massaal, yaitu gerakan yang tempo hari diadakan didaerah Yogyakarta dan menjalar pula kedaerah Surakarta. Ya, mula-mula ialah gerakan PKN, menjalar menjadi gerakan PKS. Namanya saja, saudarasaudara, sudah menggambarkan feodalisme, namanya saja sudah menggambarkan falsafah Astabrata, PKN:,,Pakempalan Kawula Ngayogyakarta”. Kawula Ngayogyakarta, perkumpulan hamba, hamba Yogyakarta. Menjalar ke Surakarta, lantas bernama pula disana itu PKS:,,Pakempalan Kawula Surakarta Hadiningrat”.
Pakai perkataan Jawa ngoko-pun tidak berani, saudara-saudara.
Pakempalan, nuwun inggih, Pakempalan Kawula Ngayogyakarta, Kawula Surakarta Hadiningrat. Ini adalah satu ciri daripada.
feodalisme.
Saya katakan didalam tahun 1928...... tidak...... bukan tahun 1928, tahun 1928 saya menjelaskan perbedaan perkataan
antara massa dan massaal. Saya sinyalir hal ini dalam tahun 1933, saudara-saudara. Ini adalah satu gerakan berdasarkan kepada feo:
dalisme, ini adalah satu gerakan massaal, tetapi bukan gerakan massa, Massaal oleh karena sebagai tadi saya katakan, anggautanya beribu-ribu, berpuluh ribu, beratus ribu mungkin, tetapi bukan massa oleh karena tidak hendak merobah susunan politik dan susunan masyarakat, tidak mengejar Indonesia merdeka, tidak hendak menjungkir-balikkan kapitalisme menjadi satu sistim sosialisme, tidak! Tetapi sekadar membuat agar supaya rakyat ini bersatu ngawula, pergerakan Pakempalan Kawula Ngayoyakarta. Pakempalan Kawula Surakarta Hadiningrat.
Nah, saudara-saudara, saya telah ngonceki lagi: janganlah kita pada waktu sekarang ini menjalankan ”Ladies' Movement”.
Dan sebagai tadi saya katakan, apa lagi jikalau kita mengingati akan tujuan daripada revolusi kita ini, baik yang politis, maupun yang ekonomis, maupun yang sosial, maupun yang kulturil, maupun revolusi kita ini didalam keseluruhannya.
Politik: saudara-saudara telah mengetahui bahwa pada saat sekarang ini tingkat daripada revolusi politik kita mencapai lagi satu puncak. Dulu puncaknya pergerakan revolusi politik kita ialah meledaknya proklamasi pada tanggal 17 Agustus 1945, pertempuran-pertempuran yang maha hebat sehingga kita 5 tahun lamanya menjalankan physical revolution. Kemudian daripada itu dikatakan revolusi kita agak menurun. Pada tahun 1959 kita sedar kembali dan kita -akhirnya kembali kepada UUD '45, kita mengadakan Manipol, kita mengadakan USDEK, sekarang memuncak lagi untuk memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik.
Tadi Saudara Nyonya Mudigdo berkata kepada saya, bahwa sebetulnya Kongres ini sebaiknya dibuka sesudah tanggal 19, sebab pada tanggal 19 Presiden akan mengucapkan Komando kepada rakyat. Yah, sebenarnya demikian, saudara-saudara, tetapi ya, ya sudah, nasi sudah menjadi bubur......... Kongres dibuka sekarang. Cukup saya sekarang memperingatkan, bahwa revolusi
=== [PDF page 6] ===
"NI nyes LIep yeue enp yeyepe elureuogos ‘tur mur) eae3ou ueyeyey eles uel ede undnew yereq Ip Buel yreq ‘Tur uexeres enpay emyeq YYeSueul eyny esZuTyos ‘eyapIoUl Ure] ereZou-viesau ‘exapIaul BIPUY “EYOPIOU BISYUOPUY [Unreadable]
NYT CYLIYY Uep eIsy IP yerngung.Exew ‘auistrerredut yNyTHod uryueye(pusw urSuap Susryeadun ueyueref(pusu swseadur euarey Yayo ued “Ny! ousceydey epedey Sueyueuau “owsyelIad “wi epedey sueyueuew Suefl ueyelo3-ueye1o3 emd “yerungum)
‘Tur yey epediiep sisoy yeqrye reSeqes uep ‘eresSuas-eded ‘urystu suel yefyer-yelyer tpefpuaw nyt eyliyy-eisy Ip yelyer-yelyer yeng “Wau EYLIYV UeP ISY Tp yelyer sepuluaUt ‘eyLITY oy ‘eIsy oy Suey eq ‘eylioury uep edoig epediiep yereep urepp resed uep yuou -ysaauT yeduia} Trelyuou esyedIa) “Susryeyidey 1yodouow rpefpusu yepns 'emd Sueyeu nyeyla) yepnS eudIey Tur dusrreyidey "erunp epedurep urey Ue13eg-ur1Segrp Uep EYLIYUY Ip 'edoag Ip ynang wney Urye1o8 yeyingut) Tur uedesry3uod epedriep sto] Isyeor reSegas e33uryas elpasyad eZeusy-eZeua, destysgueut ‘eressuas Tpefpusu yning WneY yengwsw LITpuas Yedeg erunpTp tur duSiye)
“Idey '6I-2y pege werepip yefyunwaw yngwny g1-9Y pege urerep yexeg erunprp ousieyidey yeaeg erunprp owsiyepdey efumguny nyel “emd erunp usawouayd nyes epedraep yeseadg BUdIEY Yyolo YEYEI zngt nyes epediiep yeue enp ueyeyzey eles qeqas edy
"EXLIYV Uep eISy Ip dusrIeuoIseU IdUOISNYOASI UeyeIO3 Yeyet ISEY XLUL NyES "YEUL NYES TU sf[etsos eiegeu-eseseu efurpefpaoy Ueye1oy ‘Tur eyunp eped -lep elureSeqas uley-urey Uep eyloury “edoag erunpIp Yyisoa3oad Ueye1a3 'SCEISOS Ueye1a3 'yning wney ueye1o3 yeyer nyes Yuef yeuy:yeue enp nqt nyyeg "2IPEI) yes IIep 'ucreng nyes epediaep Ienyey TOT ueyeres enp tAyeg Owsyeyidey uep dusreadur neduoyog Iep Larp ueysedoyow yepuoy Buef eyrayV Ip Yeuoseu Ur yeYo3-ueye1o3 efuyngwm) ‘exLyy Uep CISY Ip eyopadw erefau
-ereZou efurpe(pis} ‘eyliyy uep eIsy IP IYUOISNYOADI ueyeres efaynquiny uep ‘tur 0z-21 pege werep usawousyd nyes yeyepe ‘sreisos eiegeu-eregou efuynquiny ‘sceIsos ueyesas-ueyeses elu -Gnquiny eayeq ‘se8a} uesuap uexeyey eles NT CVONSGS IP efes oyepid wepeplq — ‘CVOMSAS euleuseq Suereyas ‘Cyyss efa -euleu ning — ‘yeleq ueyeysuy opuewmoy YEYS YEYOYaS Ip '3unp “ued IP CVOMSAS IP oyeprdiaq efes nye] Buel ey edesrsqeg “NYT 0-2 pege ureyeptp UoT)nyoAd1 aruroye efurpelpse} yeret esroy ify, ‘sceisos ereZou-esesou yeler enpey WILL ‘exLyy-eIsy eresou-ereFou Tpeyos eureznso} ‘Teuorseu eaesou-eresou efurpe(pse} yeyer eweziod ify, Tur ueyeyey efes suem-Zuemseg til} e81 telundweu ‘nyeyey ‘0z-0% peqy "yqndey ueesenyey yelepim weyyepey yereg uel] ueyyNsewoul ey UeyeraSied epedoy Heduttsseq Suef aurst-oropu ByURM Ep MEPI) 'EPE AEPII, 'SITEISOS EYIURM “Yisoxdo1d equepy gangndoy Uueesenyay yeferm Weyepox yereg uely ueyyns “EUIOUI E)IY UeSueofpasd epeday yedunsIag Suef [euolseurezur ETUNp WEYEPIP BULU eYIUeA Ue13eg YEyTI UEG "TEWOIseuIayur eyunp WEYepIp EYIUEM-eYIUBA epedraep nyedurs Yedepudu 'errea)sny Nep uearey efuof[N yayo ueydefmrp ripe} reseqes ‘Tor yTqndey ueesenyoy yeleyIM Welepay Yereg Wel] UexYNseweU uesueofpred eayeq yesursueur eyry neyeyl{p ‘erepnes-erepnes ‘eredy “eyes ewes ueyyessun
BPY SNILY OUISI-, YUBTUAAOY] SoIpe'T,, ‘[e}0} UeNyesiad ueyepesuau yepuoy ey neypey{{p ueq ‘woyesenN so1od urSuop yeyo) uenyes “1g ‘WoyrsenN soiod ueZuep reyo) uenyesaad deya} ‘uenqesred efpes ueynq -eyeyaog eles Suereyas ‘erepnes-erepnes ‘Sues -eyos ‘woytsen so1od urYuop uenyzesiod:ueyeyey eles efusrqu eYuat nyepos vfes ‘uaayuaw euesyer rut aqiq efund efes efurpe;
Neeyt(p ‘erepnes-viepnes yepry “owst-,yUewaaoy Sorpey,, nee AUIS|-O1OpU Iepeyas UeZuep Tur eyesn epedey Suequmfuaw esiq ApH eyuem yqndoy ueesenyoy yeleyiar wepepay yereg ueny ueyynsew39ut Ynyun uep '13ey yefyunwaw yur Suexeyos e3ry yNTOd
=== [PDF page 7] ===
Maka oleh karena itu saudara-saudara, saya selalu berkata:
Ae oro aa »Kenapa kita di Indonesia sini yang sebenarnya harus mengenal, bahwa gerakan sana dan gerakan sini itu ibunya satu, kok kita menderita komunistophobi, takut kepada momok komunis; takut kepada momok sosialis; triophobi yaitu takut kepada ketiga-tiga ini, gabungan daripada tiga itu yaitu Nasakom”.
Kita tidak harus takut kepada Nasakom, kita tidak harus takut kepada apa yang dinamakan momok komunis. Tidak, saudara-saudara. Malahan sekarang ini kita harus mengadakan satu persatuan total, persatuan total yang tetap berporos Nasakom itu.
Apalagi didalam jaman sekarang ini, didalam saat-saat sekarang ini yang kita mengadakan konfrontasi total-totalan terhadap imperialisme Belanda di Irian Barat. Kok masih kita belum bisa mengadakan persatuan yang total itu. Gerwani jawab:
ne. Aja melu-melu, jangan ikut-ikut yang demikian itu....”
dan saya tahu bahwa Gerwani tidak pernah ikut-ikut dengan phobi-phobian, tidak pernah ikut. Oleh karena itu juga kepada Gerwani saya berkata:,,Dudu sanak dudu kadang, nanging nek mati aku melu kelangan”. Malahan saya berkata seperti dalam Kongres PKI dulu itu bahwa bukan:,.Dudu sanak dudu kadang”..... tetapi:,,Ya sanak ya kadang, nek mati malah aku melu kelangan”.
Saudara-saudara, sejarah perjoangan kita memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik, sudah saudara kenal, sudah saudara-saudara baca dalam surat-surat kabar.
Cuma ada satu yang ingin saya onceki disini sedikit, agar supaya saudari-saudari kita ini yang dari luar negeri lantas ada lagi dari RRT, ada lagi dari mana tadi.... Sovyet.... yang, meskipun sudah mengerti, supaya lebih mengerti lagi, sebab didalam dunia internasional sekarang ini banyak orang yang terpikat oleh perkataan ”self-determination” yang dikemukakan oleh pihak Belanda.
Sampai, saya terus terang, pada waktu Saudara Subandrio di PBB beberapa minggu yang lalu memperjoangkan gagalnya usul
10
Belanda, ada negara sahabat kita yang datang kepada Saudara Subandrio dan berkata:,,....Saya tidak mengerti Indonesia itu.
Kenapa tidak mau menerima “self-determination”?.... Usul Belanda ini kan baik, "self-determination”. "Why don't you accept self-determination?”..... Kenapa tidak mau terima selfdetermination itu?”....Kalau ucapan yang demikian ini diucapkan oleh satu negara yang memang negara imperialis, wah kami mengerti. Tapi ini ada utusan dari negara sahabat menanya kepada Saudara Subandrio: ”....Why don't you accept selfdetermination? Itu kan baik!....” Nah, terpaksa Saudara Subandrio memberi penerangan bahwa ”self-determination” yang dikemukakan oleh Luns itu adalah ”self-determination” gadungan.
”Self-determination”, hak menentukan nasib sendiri itu memang satu prinsip yang baik sekali, saudara-saudara. Tetapi yang bisa kita terima dan yang baik ialah "internal self-determination”, artinya self-determination didalam kalangan kita sendiri, diselenggarakan oleh kita sendiri. Tetapi yang dikehendaki oleh Belanda, yang diusulkan oleh Luns adalah "external selfdetermination”, dan Luns mengatakan juga hal yang demikian itu. Tetapi kita mengerti bahwa yang dikemukakan oleh Luns yalah "external self-determination”, yaitu zoogenaamd self-determination yang oleh Belanda diselenggarakan, bahkan juga Yengan paksa, itu yang tidak bisa kita terima.
Bisakah kita terima, saudara-saudara, umpamanya, jikalau diadakan "external self-determination”, supaya diselidiki apakah rakyat Bali mau berdiri sendiri, apakah tetap dalam Republik, apakah masuk dalam susunan negara lain? Sudah barang tentu kita tidak bisa menerima. Katakanlah misalnya Bangka, Bangka itu adalah satu "tin producing island”, satu pulau yang menghasilkan timah banyak sekali. Lantas Bangka berpendirian seperti Tsombe di Katanga. Tsombe berkata:,,.... Hooo, Katanga adalah bagian yang terkaya daripada Kongo, dus Katanga harus berdiri sendiri....” Apakah saudara akan menyetujui kalau diadakan
11
=== [PDF page 8] ===
"external self-determination” di Bangka, lantas rakyat Bangka harus menentukan apakah masuk didalam Republik ataukah keluar daripada Republik? Tidak bisa, saudara-saudara.
Dan terus terang saja, pada waktu saya berpidato di Hari Brimob, — Brimob, Brigade Mobil, dulu namanya Mobrig, Mobiele Brigade. Susunan itu adalah susunan asing, Mobicle Brigade. Ya dalam bahasa Inggerisnya "Mobile Brigade”, tapi masih susunan asing, lantas saya bilang, jangan bilang Mobiele Brigade atau "Mobile Brigade”, tetapi katakanlah Brigade Mobil, susunan kata Indonesia. Singkatnya Brimob — pada waktu Hari Brimob itu saya berkata bahwa jikalau umpamanya diadakan "self-determination” di Puerto Rico — Puerto Rico itu satu pulau, negara-bagian daripada United States of America — apakah Amerika akan menyetujuinya? Atau Hawaii, yang ibukotanya Honolulu. Jikalau di Hawaii yang juga satu negarabagian daripada United States of America, diadakan "self-determination policy”, "external self-determination”, apakah Amerika mau terima? Didalam percakapan dengan seorang Amerika kemudian, saya tambahkan: jikalau di Texas diadakan "external selfdetermination” — Texas itu kadang-kadang memang, saudarasaudara, gronjal-gronjalan, tidak senang didalam United States of America — jikalau di Texas diadakan ”self-determination”, dengan cara plebisit, apakah bisa diterima? Tidak!
Maka oleh karena itulah saudara-saudara, kita juga tidak mau menerima, bahwa di Irian Barat juga diadakan "external self-determination”, oleh karena Irian Barat adalah satu bagian daripada Republik Indonesia. Irian Barat adalah satu bagian daripada wilayah Republik Indonesia.
Didalam UUD kita tertulis dengan tegas bahwa Republik Indonesia wilayahnya ialah Indonesia, dan Indonesia tak lain tak bukan ialah kepulauan diantara Sabang dan Merauke. Itu yang dinamakan Indonesia. Itu yang jaman dahulu dinamakan Nederlands-Indie dan yang kedaulatannya dioperkan kepada kita ialah Nederlands-Indis ini, saudara-saudara.
12
Ada pernah saya berhadapan pula dengan orang dari negeri asing, pokoknya dia berkata:,,..... Kenapa Presiden Sukarno kok ngongso-ongso —ngongso-ongso itu waaah.... keranjingan sekali — memasukkan Irian Barat kedalam wilayah Republik.. ”
— Dia tidak berkata wilayah kekuasaan Republik, tetapi wilayah Republik...... —,Kan orang Irian Barat itu "raskundig” lain daripada orang Jawa, orang Sumatra, orang Bali dan lain-lain sebagainya. Kan itu sama sekali satu bangsa lain! Kulitnya hitam, rambutnya kriting”. Coba lihat kulitnya Pak Aidit itu, mana mbringin, mana rambutnya itu ombak-ombak. Sedang kalau dari Irian Barat kulitnya hitam, rambutnya kriting, itu kan ”raskundig” lain......
Kebetulan yang tanya kepada saya pada waktu itu yaitu seorang Amerika, saudara-saudara. Dan saya tanya kepadanyia:
» «Lho, kok saudara bertanya yang demikian. Apakah rakyaf Amerika, the American Nationality itu semuanya putih? Banyak disana Negro, orang kulit hitam, tetapi disebut orang Amerika.
Ralph Bunkh dari United Nations, dari PBB, apa dia kulit putih?
Tidak! Tetapi dia dinamakan dan menamakan dirinya sendiri orang Amerika”. Ambil misalnya orang lain. Booker Washington, seorang ahli pendidik, Booker Washington. Kalau kulitnya dibandingkan dengan rambut saya ini, saudara-saudara, barangkali kulit Booker Washington lebih hitam daripada rambut saya ini.
Toh dia orang Amerika. Lho, kalau di Amerika boleh, ada yang putih, ada yang hitam, ada yang kuning, kenapa di Indonesia kita dipersalahkan jikalau hendak memasukkan orang Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik?
Sebaliknya saya berkata, sebaliknya saya berkata:,,... Kalau mencari persamaan ras, persamaan warna kulit, Kalimantan Utara itu satu ras dengan kita, satu warna kulit dengan kita, sama-sama dengan apa yang tuan katakan bangsa Melayu. Jadi jikalau umpamanya kita hendak memasukkan Kalimantan Utara kedalam Republik Indonesia, tuan harus setuju. Setuju apa
13
=== [PDF page 9] ===
-ICISOS ueyepesuew ynyun efuseroy-seroyas Burn) Buyurgupw Suepes eyry “1ngnday ueesenyoy yelera WerepoN YEIeg UeLIT ueyynsewsw ‘yTtod isnyoaer efund ey yefyunweu Tur Sue -cyas yees eped ueqereut ey ‘Tesayes wmyaq snyoAer efund ey ywoyesen epedoy sorodszoq [e}0) Buel uenyesiod ueyepesuour eyTy yepaeyy:18e] Texas ‘erepnes-erepnes ‘nyt eusrey yao exe ‘orapueqng eiepneg yao seo, ueSuep ueyeynweyIp wy yo '''* int yereg UeII] Wep eyorou Isn3uew eyefpues ueseioyey uesuep ynyun yey refunduaw undefseuopuy es8ueq ey eyeU Yereg ueriy pImpnpudu ryefpuas ueyenyay uesuop epueyag Suei0 emgeq uvyieuaquew gqd neyexrf{p ‘Tesart eaelyas epueyag yeytd yayo pinpnprp Buel ey yeferim yerepe yeaeg Ueriy yeyeped “epuerag yeyid yoyo uese1aydy vIefyas YeIeg UeliY ueympnpuod ueyIruag wu qq@d efanse ‘gad Yolo ueyreuaqIp nyr Yereg ueyiy IP ep -uryog Xeyrid yoyo Yeaeg Ueriy ULynpnpuad nereyifa “cepey -Iaq sega} ueduep ggd Suepis wieyeprip orspueqng erepneg ae yur epanpip undede viegau ueguep yeqeyesioq ‘tur erunpIp eisnuew ynanyas uvduap Yeqeyesiog Yepuay yeyeur ‘EY uesuep yeqeyesiog ‘Tuy yefaog viegou ueZuap yeqeyesiaq wey nereyi[p turey yeyyeres "ygndoy uersenyoy yeferrm werepoy yeieg uclIy ueyyns wu Ynyun CI NYuegwdW Tur Syngndoy ueesenyay ycferw Ureyep2Y Yeleg UeriY UeyYnsewIduI ynyun TWey Cyesn Yuryudud ueng, 4ngnday ueesenyoy yeferm werepoy yedeg Ueliy ueyyns -emdUI EYIY UryIeUagLIdUI TUI Syiygndoy ueesenyoy yeferra urep -ep2X Ueyynseurp yeleg Ueldy Ynyunudul yurey ueyyeyesaodurdur ueny, "CYIX epedoy nyuegwdul TuY “Yeyuoaogwrad nyuegwdw yepns ueng, efurping YisiaAgns YSYe Uryepedudu yero) ueny, efupyng "reny Yuef eisauopuy yiyandoy uenyesay eAr3ON Nyes ueyepesuow ENI Mus ueng, “"“nfpnyas TU "" nfpnyas yepy Ueng,""""
‘eIsouopuy esdueq ueyNyesiodwow vyy nfpnyos uy eyarow ‘nyt eylyy uep esy Tp [euoIscu ueyesod uesuop your nyes
duel steisos eregou-eregou ‘syunwoy wney ‘syeysos wey nyref
{UT eyareyW ‘vIsouopuy yelyer UeyNyesradwaw rurey nfpnyas xepI)
ueny,****‘:eyexsoq Tey ‘scetiaduy epe nyt euesrp yeyo-yeroos ‘euesoy yn{punuew wey ‘LY uesuep yeqeyesioq Tuey ueY -yeresiaduow Zuel ‘tun yafaog uesuap yeqeyesioq wey ueyYyeyes -zedwou Buef senodur wney epe nyt euesrp yeyo-yeyoos nyrel ‘Treulgeul 'seWodur wney epedoy yn{punuaur uesueg,.2Luy ueSuep yeqeqessaq eisouopuy neyext[p yeyyeres grup yelaog uesu -ap yeqeyesiag vlseuopuy neyexif[p YENYETeS “ regeyaag eles “EISOUOpPUY-IUN Yofaog uvyeqeyesieg Yeseq yeder nyes UreyepIp “eaepnes-erepnes “MOYSOM IP Ny npIew eped gemefpuau efes
ueyeureurp Buef ngref “tur etunprp ueersnueuray-rIod ynangas 1yel -e[IMoul yepusy scetodwy eseFou ‘stunwoy Weyargafudw SIYerl -odut eregou nyer greseqie} Buel stperradut exegau nyes yeyes yerepe Tun yafaog eMyeq ‘ouseyng uopiserg yeynyey, ‘oust -[eysodwy-yue ueMryyeg Yepepe oureyNg uapisetg isyerweduy ueyeyentp 'TUN yefaog epedey reyes ewe -10} ‘NYT syfeisos vaeZau-ereSau epedoy deya} ‘efpes elsouopuy epedoy ueytioqrp ueyng syerroduit def) eayeq ‘oyeprdsoq yeused ufes MovSOyy IP UryereW "sireraodur uryeyeNrp “Yngndoy ueeseny OY YUlepAr weyepoy yeseg uclily uLyxYNsewayy “erepnes-esepnes ‘yeyedip yeyos Suysos nyyy siypeyredwy ueeyeysad Suewosyy ‘scetrodwiy Tur eyry eyoro eyey ‘quqndoy yefeyrm wepepoy siZnyiog uerseq YoWTy, UeyyNseuEU UP neypey Wqndoy yefepya werepoy vieiQ ueyuewlypesy ueyyns “WOU UY Nupex ‘ey nNvpey syperroduy yur vy ueyeypeyg "EIupNeS-CIEpNES "UDMYOS
-UOX NCPIL "Uexyuresaddrp eyIy 'ersdwopuy ueesenyaY YyefeyrA Werepoy Yuleg Ueriy BurIo weyynsewWdW Yepudy EN NET ‘efuytqeqos ydvyo} ‘ser nyes [eyepeg “siewadur qepepe Tur ENY vAYeg ULyeeyTp ‘yIQndoy uevsenyoy yefepa weyepay tur sues [Unreadable]
“WN VIFF Nepey ‘s~Fny10g uepFeq sow, uexyNsewouw nezy
=== [PDF page 10] ===
isme. Kita membanting tulang sekeras-kerasnya untuk mengadakan satu masyarakat yang adil dan makmur. Sebab ini semuanya adalah memaksakan kita, mengharuskan kita dan kita harus menjalankan hal itu dengan kegembiraan untuk mengadakan persatuan nasional yang sebulat-bulatnya, yang setotal-totalnya.
Saudara-saudara, ya kaum wanita, saya mengerti bahwa kaum wanita itu..... memikirkan beras, saya mengerti bahwa kaum wanita memikirkan gula, saya mengerti. Memang orang Yaki itu cuma tahu makan beras (nasi), tahu makan gula, tetapi yang pusing kepalanya kalau kurang beras, pusing kepalanya kalau kurang gula ialah kaum wanita. Ya, kami akui hal itu, malahan soal beras ini, soal sandang-pangan dalam umumnya sudah saya bawa kesidang Dewan Pertimbangan Agung, sidang DPA, dan didalam sidang DPA hal ini sudah dikupas sedalam-dalamnya. Dan DPA pun telah memasukkan pertimbangannya kepada Pemerintah agar supaya didalam waktu yang singkat kita dapat nanggulangi persoalan beras, persoalan sandang-pangan pada umumnya.
Tetapi ada satu hal yang saya peringatkan, bukan didalam DPA, tidak, tetapi dilain tempat, yaitu tatkala saya membicarakan soal gula didalam pidato kemarin dulu. Kemarin dulu di Istana Negara ada Konperensi Gula, Konperensi-Musyawarah Gula, mengenai caranya bagaimana agar supaya produksi gula bisa naik. Didalam pidato saya itu saya tegaskan dengan tandas, jangan sampai persoalan gula ini menimbulkan didada rasa d€faitisme terhadap kepada perjoangan kita memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik. Défaitisme yaitu
satu rasa.....putus asa..... Begini: Kalau orang berkata:
ms. Hai, mau memasukkan Irian Barat kedalam wilayah kekuasaan Republik?....”,,....Setuju!....”,,Tapi jikalau
menjalankan politik konfrontasi-konfrontasian: apakah pada saat sekarang ini sudah tepat waktunya, bahwa kita menjalankan politik konfrontasi? Apakah sekarang ini sudah bijaksana jikalau kita mengadakan politik sehebat-hebatnya terhadap kepada imperialisme Belanda? Padahal dibelakang ini,
16
barisan belakang difront belakang, harga beras begitu tinggi, kita hidup susah, harga gula masih tinggi, kita hidup susah.
Apakah bijaksana jikalau kita pada waktu sekarang ini menjalankan konfrontasi politik yang sehebat-hebatnya terhadap kepada imperialisme Belanda?” Nah itu yang dinamakan d€faitisme.
»Jangan sekarang, tidak baik!”,,Ulah ayeuna tahade” (— jangan sekarang, tidak baik — red.). Ini adalah defaitisme, saudara-saudara. Dan saya menghendaki agar supaya kita sekalian, bukan kaum wanita saja — meskipun kaum wanitalah yang terutama sekali terganggu pikirannya dengan harga beras yang tinggi dan harga gula yang tinggi — jangan sampai didalam dada kita ini timbul défaitisme.
Pemerintah — sebagai yang diusulkan didalam DPA — akan membanting tulang agar supaya persoalan beras dan gula dan sandang dan pangan bisa tertumponi dan saya sendiri, saudarasaudara, insya Allah SWT, pun akan membanting tulang agar supaya apa yang saya katakan dua setengah tahun yang lalu, bahwa tri-program Pemerintah sesudah 3 tahun akan saya bawa kehadapan rakyat Indonesia, nah, apakah tri-program Pemerintah ditumponi apa tidak. Tentu saja saya sendiripun — tinggal setengah tahun lagi, saudara-saudara — sayapun membanting tulang untuk mencoba memecahkan hal ini. Dan sebagai sudah diumumkan oleh Pak Leimena didalam sidang DPA yang lalu, memang Pemerintah akan mencoba memasuki jalan-jalan baru untuk memecahkan persoalan beras dan gula dan sandang dan pangan pada umumnya.
Tetapi sekali lagi, jangan sampai ada rasa défaitisme, dan jikalau nanti, insya Allah SWT, pada tanggal 19 Desember yang akan datang Komando Presiden telah diucapkan, maka saya menghendaki agar supaya seluruh rakyat, laki-perempuan, tuamuda, organisasi-organisasi, semuanya bergerak bersatu-padu didalam satu persatuan total agar supaya kita benar-benar bisa memasukkan Irian Barat kedalam kekuasaan kita.
Ini, saudara-saudara, saya-harap saudara sekalian mendengar-
17
=== [PDF page 11] ===
kan nanti pada tanggal 19 Desember yang akan datang akan Komando saya itu. Sudah barang tentu saya belum bisa memberi Komando pada saat sekarang ini kepada saudara-saudara, meskipun saudara-saudara itu wanita. Biasanya, kalau wanita itu kadang-kadang saya dahulukan, tetapi ini kali,....no...., ini kali saya akan tetap berkata: saya akan memberikan Komando itu insya Allah pada tangal 19 Desember jam 9 pagi di Aloonaloon Lor di Yogyakarta.
Kita, saudara-saudara, sebagai sudah saudara rasakan scndiri pada saat sekarang ini, betul-betul mengalami satu keadaankeadaan yang saya tidak katakan genting, tetapi keadaan-keadaan yang lain daripada lain, lain daripada yang dulu-dulu. Kita menjalankan satu politik konfrontasi yang sehebat-hebatnya. Hanya dengan jalan politik konfrontasi inilah kita bisa mencapai sesuatu.
Ada orang datang kepada saya:,,.... Bung Karno, mbok ya sedikit sabar....”,,.... Kenapa? Kita sudah 11 tahun sabar ini....”,....ya mbok ya sedikit sabar,....sebab dalam sikap
Belanda ini sudah ada satu kemajuan. Bandingkan sikap Belanda dalam tahun 1961 ini dengan sikap Belanda dalam tahun 1959, sikap Belanda dalam tahun 1960: saudara akan melihat bahwa sudah ada kemajuan. Nah ini, saudara nanti akan melihat bahwa mungkin, mungkin, akan maju lagi, maju lagi sehingga akhirnya griwil, tanpa ini dan itu, Irian Barat masuk didalam wilayah kekuasaan Republik”,:
Saya berkata:,,.... Pernahkah saudara pikirkan apa sebab ada-kemajuan didalam alam pikiran Belanda? Apa sebab didalam alam pikiran mereka, apa sebab mereka sekarang bicara tentang dekolonisasi, apa sebab mereka sekarang bicara tentang ”self-determination?” Apa sebab? Tak lain tak bukan ialah oleh karena kita menunjukkan kekuatan kita. Oleh karena kita menjalankan politik”.,,.... Kita bukan, yah, politik-politikan, tetap!
kita menjalankan politik....”
Apakah yang dinamakan politik?
18
1 epee i te
Dalam tahun 1927 saya sudah berkata, bahwa politik adalah — pada waktu itu kita memakai ucapan bahasa asing dulu — »makhtsvorming” dan,,makhtsaanwending”. Politik ialah menyusun kekuatan, menyusun tenaga, menghimpun kekuatan dan tenaga, dan mempergunakan tenaga yang telah tersusun itu untuk mendesakkan kepada musuh, kalau perlu untuk menggempur kepada musuh. Itu adalah politik.
Belanda menunjukkan kemajuan didalam alam pikirannya mengenai Irian Barat, ialah oleh karena kita sekarang ini tertampak didalam mata Belanda dan didalam mata dunia internasional sudah lebih kuat, bahwa kita punya tenaga makin lama makin meningkat: bahwa Indonesia didalam tahun 1961 ini bukan lagi Indonesia yang boleh dimain-mainkan, bahwa Indonesia ini sekarang makin lama makin kuat menjadi satu tenaga yang besar, sebagai pernah diucapkan oleh salah seorang tamu agung Presiden di Indonesia sini. Didalam satu jamuan makan
beliau berkata: ”....I am sure, that within a very short space of time, Indonesia will become one of the strongest countries in the world.....” Artinya bahwa beliau yakin, bahwa didalam
waktu singkat Indonesia ini akan menjadi salah satu negara yang terkuat didunia ini.
Nah, sekarang itu dilihat pula oleh imperialis, dilihat oleh dunia internasional, dilihat oleh pihak Belanda: wah Indonesia ini bukan main-mainan. Dan mereka melihat bahwa kita ini betulbetul serieus, sungguh-sungguh, sebagai yang saya katakan didalam pidato saya dirapat-rapat Hari Pahlawan di Semarang tempo hari. Kita ini bukan main-main, kita ini betul-betul, sungguhsungguh, kita menjalankan konfrontasi politik,,,met volle inzet”
daripada segala apa yang kita miliki, saudara-saudara. Baik tenaga materiil maupun tenaga spirituil. Bukan main-mainan.
Nah, ini dilihat oleh mereka, maka oleh karena itu jawab saya kepada saudara yang mengatakan kepada saya:,,...mBok ya sabar sedikit....” Saya berkata:,,Inilah, saudara-saudara, kita harus tahu dan mengerti bahwa pihak sana merobah ia punya
19
=== [PDF page 12] ===
sikap karena kita menjalankan,,makhtsvorming” dan,,makhtsaanwending”, bahwa kita punya tenaga sekarang sudah makin besar daripada yang dulu-dulu".
Didalam hal yang demikian ini, saudara-saudara, tidak ada lain jalan bagi kita dari pada meneruskan,,makhtsvorming”
dan,,makhtsaanwending” ini. Tidak ada lain jalan untuk benarbenar lebih menambah lagi potensi tenaga kita. Hanya dengan jalan demikianlah;,,dat is de enige taal die de Nederlanders begriypen”, atau lebih tegas:,.dat is de enige taal die het Nederlandse imperialisme kan begriypen”. Satu-satunya bahasa yang bisa dimengerti oleh pihak imperialisme Belanda, ialah bahasanya kekuatan. Dan itu kita susun, saudara-saudara.
Belanda bicara, bahwa mereka sekarang ini mau berunding.
Saya belum menjawab apa-apa tentang mau berunding apa tidak.
Saya belum mengadakan statement apa-apa, mau berunding apa tidak. Tidak, saya cuma berkata: saya meneruskan, rakyat Indonesia seluruhnya meneruskan konfrontasi politik, meneruskan menyusun kita punya tenaga, konfrontasi dilapangan politik, konfrontasi dilapangan ekonomi, konfrontasi dilapangan militer yikalau perlu, itu kita teruskan. Berunding atau tidak, entah, itu kemudian hari.
Dan saya harap, saudara-saudara, agar supaya segenap kaum wanita mengetahui itu, dan agar supaya segenap kaum Wanita hidup dan bertindak didalam alam baru ini.
Dekat daripada sini ada satu lapangan, saudara-saudara, dimuka gedung Badan Pekerja Depernas. Dilapangan itu tidak lama lagi akan didirikan Patung Ibu Kartini. Ibu Kartini, patung.
Dimuka Ibu Kartini ada seorang pekerja, semacam buruh, dibelakang Ibu Kartini seorang pekerja, wanita semuanya, petani.
Patung-patung ini menimbulkan persatuan antara Ibu Kartini, intelek, buruh dan tani, persatuan total yang dulu digambarkan, saudara-saudara.
Kaum wanita menghormat benar kepada Ibu Kartini, dan itu adalah benar, menghormat kepada Ibu Kartini. Tetapi keta-
20
pama
huilah,. yakinkanlah, sadarkanlah,' -camkanlah -didalam- hati saudara-saudara sekalian, |bahwa. Ibu:Kartini: adalah -sekadar pucuk, adalah sekadar: pelopor, bahwa Ibu Kartini adalah putri, "daughter”, daripada waktunya, daripada jamannya, daripada periode-nya.. Ibu Kartini dilahirkan didalam abad ke-19. Kita hidup didalam abad ke-20. Kita hidup didalam alam demokrasi, kita hidup didalam abad kerakyatan, kita hidup didalam alamnya massa aksi, kita hidup didalam alamnya perjoangan politik yang sepenuh-penuhnya, kita hidup didalam alam perjoangan mengadakan satu masyarakat yang adil dan makmur. Kita hidup didalam satu alam menghilangkan penindasan dan penghisapan, kita hidup untuk mengadakan sosialisme.
Ibu Kartini, saudara-saudara, adalah sekadar pucuk, pucuk.
Maka jikalau saudara-saudara menghormati Ibu Kartini, garis ini harus saudara terus tarik, jangan mandek, kataku, jangan mandek kepada apa yang dikatakan oleh Ibu Kartini. Ibu Kartini memegang obor, sebagai kukatakan berulang-ulang, Ibu Kartini memegang obor: Ibu Kartini sudah meninggal, Ibu Kartini meninggal sebagai satu warisan. Warisilah api daripada obor itu dan bukan obor kayunya, bukan abu daripada obor itu. Apinya harus ditarik terus, saudara-saudara. Api ini yang harus menjalar seterusnya. Api ini harus ditarik terus sepanjang sejarah.
Tatkala aku membuat pidato Re-So-Pim, aku telah berkata, sambil menciteer tulisan dimuseum di Mexico City, "We leave the museum, but not history, because history is a continuity”.
Kita meninggalkan, kita keluar daripada museum ini — demikian ditulis ditembok dimuseum itu, ditembok dipintu keluarnya — kita meninggalkan museum ini, tetapi kita tidak meninggalkan sejarah, sebab sejarah adalah satu continuity. Sejarah berjalan terus, sejarah tidak bisa ditinggalkan, kita tidak bisa meninggalkan sejarah, kita diajak oleh sejarah, kita hidup didalam sejarah itu.
Demikian pula, saudara-saudara, apa yang dicetuskan oleh Ibu Kartini beberapa -puluh tahun yang lalu sekadar adalah satu ”spark”, satu percikan api, dan api ini harus kita pegang terus
21
=== [PDF page 13] ===
dan kita tarik terus sepanjang sejarah. Satu garis terus dan garis terus ini tak bisa lain daripada — sebagai tadi pada permulaan-pidato saya berkata — ya dulu alamnya Astabrata, dulu alamnya feodalisme, dulu alamnya ndoro-isme. Tarik terus, tarik terus, tarik terus, meningkat, meningkat, meningkat, meningkat, meningkat, meningkat, akhirnya datang kepada tingkatan kita sekarang, ialah revolusi yang penuh dengan dinamika, revolusioner dinamika, revolusioner radikalisme, revolusi untuk mengadakan satu masyarakat yang adil dan makmur yang sebagai dikatakan oleh Saudara Umi tadi itu, bebas merdeka rahayu.
Demikianlah, saudara-saudara, amanat saya kepada Kongres Gerwani sekarang ini. Saya doakan agar supaya Kongres Gerwani ini benar-benar bisa menelorkan keputusan-keputusan yang bisa menjadi sumbangan kepada sumbangan kita yang maha besar ini. Saudara-saudara ketahui bahwa saya, jam 12 nanti, harus memimpin Dewan Pertahanan Nasional, sehingga saya harus menyudahi pidato saya ini dengar. doa agar supaya Allah SWT memberkati Kongres saudara-saudara sekalian.:
Terima kasih.
22
=== [PDF page 14] ===
_ Percetakan Negara d/h De Unie — 982-5-'62 (5000 buku)